Tinggalkan komentar

Kabut Misteri Surat Perintah Sebelas Maret

Kabut Misteri Surat Perintah Sebelas Maret
Supersemar di Arsip Nasional Republik Indonesia (Foto: MerahPutih/Noer Ardiansjah)

MerahPutih Nasional – Serangkaian peristiwa yang terjadi sebelum dan sesudah bangsa ini merdeka laksana kisah “epic” Mahabharata, di mana menyematkan segala lakon baik maupun jahat.

Berkenaan dengan sejarah, seperti yang diucapkan oleh Sang Proklamator Ir Soekarno agar sekiranya sebagai generasi bangsa, haram untuk sekali-kali melupakan sejarah atau yang mungkin lebih dikenal dengan istilah “Jas Merah”.

Ironisnya, rangkaian peristiwa bersejarah itu seolah menjadi saksi bisu yang tersembunyi di dalam sebuah catatan rahasia para penguasa yang tak ternilai harganya, seperti peristiwa Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar).

Surat yang saat ini berada di Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI), menurut salah seorang sejarawan sekaligus penulis beberapa buku tentang Nusantara merupakan catatan sejarah yang penuh dengan misteri dan juga tipu daya.

“Supersemar yang disimpan di ANRI adalah palsu. Supersemar yang disimpan di etalase arsip negara itu ada tiga versi,” kata Ahmad Yanuana Samantho, sejarawan sekaligus penulis kepada merahputih.com, Selasa (8/3).

Keyakinan ia terhadap ketidakotentikan surat tersebut, sama seperti yang dikatakan oleh mantan Kepala ANRI, M Asichin.

Ahmad Samantho, yang mengutip perkataan M Asichin menegaskan bahwa lazimnya surat kepresidenan, sudah semestinya pada bagian kop surat berlambang bintang, padi, dan kapas. Bukannya Burung Garuda, apalagi polosan seperti yang terakhir.

Belum lagi, kata Ahmad, kontroversi terkait empat jenderal yang menghadap Bung Karno sebelum peristiwa Supersemar terjadi.

“Inilah yang masih misterius. Besar kemungkinan issue empat orang ini (jenderal) benar adanya. Akan tetapi, yang satu tidak masuk ke dalam istana Bogor menemui Bung Karno, melainkan menunggu di mobil di luar pagar istana Bogor,” kata Ahmad.

“Versi lain, menurut Letnan Satu (Lettu) Sukardjo Wilardjito, pengawal presiden yang berjaga malam itu berjumlah 4 orang; Basuki Rachmat, yang ditemani Brigjen Amir Machmud, Brigjen M Jusuf, dan M Panggabean. Mungkin itu, Jenderal Suharto sendiri yang keempatnya. Atau mungkin, dia menunggu di ruangan bersama tentara pengawal di Istana Bogor yang menyaksikan bagaimana Supersemar itu dibuat atau diketik secara dadakan,” paparnya. (Ard)

Sumber:  http://news.merahputih.com/draft/kabut-misteri-surat-perintah-sebelas-maret

MerahPutih Nasional – Terhitung mundur pada 50 tahun yang lalu, tepatnya hari Jumat tanggal 11 Maret 1966, lembaran sejarah baru bangsa tertoreh dalam balutan kabut misterius yang belum juga terungkap hingga detik ini, Supersemar.

Supersemar atau Surat Perintah Sebelas Maret adalah waktu di mana Republik Indonesia mengalami sebuah transisi besar dalam tampuk kekuasaan bangsa Nusantara. Surat mandat tersebut, konon merupakan titah kepada Soeharto yang pada saat itu menjabat sebagai Panglima Komando Operasi Keamanan dan Ketertiban (Pangkopkamtib) untuk mengambil segala tindakan guna mengatasi situasi keamanan.

Alhasil, menurut beberapa sumber yang ada bahwa Supersemar itu seolah menjadi jalan pembuka bagi Soeharto untuk meraih takhta presidensial Ir Soekarno.

“Faktanya menurut Sejarawan Asvi Varman Adam, Soekarno memberi surat lanjutan bahwa Supersemar bersifat teknis/administratif semata, bukan politis,” kata Ahmad Yanuana Samantho kepada merahputih.com, Selasa (8/3).

Tak ayal, lanjut Ahmad, ihwal tersebut menimbulkan kontroversi Supersemar yang tidak hanya seputar keberadaan (fisik) surat itu, namun juga soal isinya. Adapun tiga versi Supersemar yang disimpan di Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) secara isi memang sama, yakni perintah untuk mengamankan negara. Namun, bagaimana tafsir atas isi surat tersebut?

Seperti yang dikatakan oleh Mantan Kepala ANRI M Asichin, Ahmad Samantho juga mengatakan bahwa ketiga surat tersebut adalah palsu. Supersemar yang disimpan di etalase Arsip Negara itu kini ada tiga versi.

Adapun ketiga versi tersebut menurut Ahmad Samantho sebagai berikut:

Versi pertama, yakni surat yang berasal dari Sekretariat Negara. Surat itu terdiri dari dua lembar, berkop Burung Garuda, diketik rapi dan di bawahnya tertera tanda tangan beserta nama Sukarno.

Versi Kedua, berasal dari Pusat Penerangan TNI AD. Surat tersebut terdiri dari satu lembar dan juga berkop Burung Garuda. Ketikan surat versi kedua ini tampak tidak serapi pertama, bahkan terkesan amatiran. Jika versi pertama tertulis nama Sukarno, versi kedua tertulis nama Soekarno

Versi Ketiga, lebih aneh lagi. Surat yang terakhir diterima ANRI itu terdiri dari satu lembar, tidak berkop dan hanya berupa salinan. Tanda tangan Soekarno di versi ketiga ini juga tampak berbeda dari versi pertama dan kedua.

“Saya setuju dengan Kepala ANRI (Arsip Nasional Republik Indonesia), M Asichin, memastikan ketiga surat itu adalah Supersemar palsu,” kata dia.

Sementara itu, Benedict Anderson selaku pakar sejarah Indonesia asal Amerika Serikat, pernah mengatakan Supersemar asli sengaja dihilangkan. Hal itu didapatkan Anderson dari pengakuan seorang tentara yang bertugas di Istana Bogor, tempat Supersemar dibuat. Tanpa menyebut nama dan pangkat tentara tersebut, Anderson mengatakan, Supersemar asli berkop surat Markas Besar Angkatan Darat (MBAD). Bukan kop surat dengan lambang Burung Garuda seperti yang ada sekarang.

Lebih dalam sejarawan yang juga penulis tentang perjalanan Nusantara itu mengatakan bahwa seperti diketahui, Supersemar telah dijadikan alat pembenaran bagi Soeharto, si penerima, untuk memberangus Partai Komunis Indonesia (PKI), menangkap 15 menteri yang dianggap beraliran kiri dan loyal terhadap Presiden Soekarno serta mengawasi pemberitaan di media massa saat itu.

Ditambah, peran tentara guna menggerakkan oknum massa rakyat (yang telah terprovokasi AD waktu itu) untuk melakukan dan penangkapan, pemenjaraan, dan pembunuhan terhadap siapa saja yang dituduh PKI atau simpatisan Soekarno yang daftarnya disediakan oleh Agen CIA.

“Melihat langkah Soeharto itu, Soekarno segera mengeluarkan surat lanjutan dua hari berikutnya atau 13 Maret 1966 (Wisnu: 2010). Surat yang berisi tiga poin penting ini dibawa oleh Wakil Perdana Menteri II, Dr J Leimena, dan diserahkan kepada Soeharto,” tambahnya.

Surat itu pada intinya mengingatkan Soeharto bahwa pertama, Supersemar bersifat teknis/administratif semata, bukan politis. Surat semata-mata berisi perintah untuk mengamankan rakyat, pemerintah dan presiden. Kedua, surat juga mengingatkan pembubaran partai politik harus atas seizin presiden. Ketiga, Soeharto diminta datang menghadap presiden untuk memberikan laporan.

“Surat yang tidak banyak diketahui publik ini akhirnya tak digubris Soeharto. Semua tahu bahwa setahun setelah penyerahan Supersemar atau 12 Maret 1967, Soeharto diangkat sebagai Presiden menggantikan Soekarno tanpa proses pemilu,” pungkasnya. (Ard)

Sumber:

http://news.merahputih.com/nasional/2016/03/10/ini-dia-3-versi-surat-perintah-sebelas-maret/39110/

Salah satu Supersemar yang Palsu

 

From :  ay_samantho,

Bismillahirahmanirrahim,

  1. Bagaimana tanggapan Pak Ahmad terkait Supersemar?

Supersemar yang disimpan di ANRI adalah palsu. Supersemar yang disimpan di etalase arsip negara itu kini ada tiga versi versi.

Saya setuju dengan Kepala ANRI (Arsip Nasional Republik Indonesia), M Asichin, memastikan ketiga surat itu adalah Supersemar palsu. “Sebab, lazimnya surat kepresidenan, seharusnya kop surat Supersemar berlambang bintang, padi dan kapas. Bukannya Burung Garuda. Apalagi yang polosan seperti yang terakhir,” kata Asichin di Jakarta, Sabtu (10/3/2012)

  1. Apa komentar Pak Ahmad terkait kontroversi Supersemar yang menyebutkan ada empat jenderal yang menemui Soekarno, bukan tiga?

Nah inilah yang masih misterius, besar kemungkinan issue 4 orang ini benar adanya, tapi yang satu tidak masuk ke dalam istana Bogor menemui Bung Karno, melainkan menunggu di mobil di luar pagar istana Bogor. atau mungkin dia menunggu di ruangan bersama tentara pengawal di Istana Bogor yang menyaksikan bagaimana Supersemar itu dibuat/diketik secara dadakan.

Versi lain, menurut Letnan Satu (lettu) Sukardjo Wilardjito, pengawal presiden yang berjaga malam itu : 4 orang itu: Basuki Rachmat, yang ditemani Brigjen Amirmachmud, Brigjen M Jusuf dan M Panggabean.

  1. Pasalnya ada tiga versi Supersemar, bukan satu. Mantan Kepala ANRI, M Asichin menyatakan bahwa yang ketiganya adalah palsu. Bagaimana pandangan Pak Ahmad?

Supersemar yang disimpan di ANRI adalah palsu. Supersemar yang disimpan di etalase arsip negara itu kini ada tiga versi versi:

Versi Pertama, yakni surat yang berasal dari Sekretariat Negara. Surat itu terdiri dari dua lembar, berkop Burung Garuda, diketik rapi dan di bawahnya tertera tanda tangan beserta nama Sukarno.

Versi Kedua, berasal dari Pusat Penerangan TNI AD. Surat ini terdiri dari satu lembar dan juga berkop Burung Garuda. Ketikan surat versi kedua ini tampak tidak serapi pertama, bahkan terkesan amatiran. Jika versi pertama tertulis nama Sukarno, versi kedua tertulis nama Soekarno.

Versi Ketiga, lebih aneh lagi. Surat yang terakhir diterima ANRI itu terdiri dari satu lembar, tidak berkop dan hanya berupa salinan. Tanda tangan Soekarno di versi ketiga ini juga tampak berbeda dari versi pertama dan kedua.

Saya setuju dengan Kepala ANRI (Arsip Nasional Republik Indonesia), M Asichin, memastikan ketiga surat itu adalah Supersemar palsu. “Sebab, lazimnya surat kepresidenan, seharusnya kop surat Supersemar berlambang bintang, padi dan kapas. Bukannya Burung Garuda. Apalagi yang polosan seperti yang terakhir,” kata Asichin di Jakarta, Sabtu (10/3/2012).

Benedict Anderson, pakar sejarah Indonesia asal Amerika Serikat, pernah mengatakan Supersemar asli sengaja dihilangkan. Hal itu didapatkan Anderson dari pengakuan seorang tentara yang bertugas di Istana Bogor, tempat Supersemar dibuat. Tanpa menyebut nama dan pangkat tentara tersebut, Anderson mengatakan, Supersemar asli berkop surat Markas Besar Angkatan Darat (MBAD). Bukan kop surat dengan lambang Burung Garuda seperti yang ada sekarang.

  1. Apa saja sih, rentetan kontroversi atau kejanggalan dalam Supersemar yang menyebutkan bahwa Soekarno merasa ditipu? Beliau menyebut SP 11 Maret adalah tindakan pengamanan keadaan bukan pelengseran dirinya.

Faktanya menurut Sejarawan Asvi Varman Adam,  Soekarno memberi surat lanjutan bahwa Supersemar bersifat teknis/administratif semata, bukan politis.

Kontroversi Surat Perintah 11 Maret 1966 (Supersemar) tidak hanya seputar keberadaan (fisik) surat itu, namun juga soal isinya. Tiga versi Supersemar yang disimpan di Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) secara isi memang sama, yakni perintah untuk mengamankan negara. Namun, bagaimana tafsir atas isi surat tersebut?

Seperti diketahui, Supersemar telah dijadikan alat pembenaran bagi Soeharto, si penerima, untuk memberangus Partai Komunis Indonesia (PKI), menangkap 15 menteri yang dianggap beraliran kiri dan loyal terhadap Presiden Soekarno serta mengawasi pemberitaan di media massa saat itu, serta tentara serta menggerakkan oknum massa rakyat (yang telah terprovokasi AD waktu tu,)  untuk  melakukan dan penangkapan, pemenjaraan dan pembunuhan terhadap siapa saja yang dituduh PKI atau simpatisan Sukarno yang daftarnya disediakan oleh Agen CIA.

Melihat langkah Soeharto itu, Soekarno segera mengeluarkan surat lanjutan dua hari berikutnya atau 13 Maret 1966 (Wisnu: 2010). Surat yang berisi tiga poin penting ini dibawa oleh Wakil Perdana Menteri II, Dr J Leimena, dan diserahkan kepada Soeharto.

Surat itu pada intinya mengingatkan Soeharto bahwa:

Pertama, Supersemar bersifat teknis/administratif semata, bukan politis. Surat semata-mata berisi perintah untuk mengamankan rakyat, pemerintah dan presiden.

Kedua, surat juga mengingatkan pembubaran partai politik harus atas seizin presiden.

Ketiga, Soeharto diminta datang menghadap presiden untuk memberikan laporan.

Surat yang tidak banyak diketahui publik ini akhirya tak digubris Soeharto. Semua tahu bahwa setahun setelah penyerahan Supersemar atau 12 Maret 1967, Soeharto diangkat sebagai Presiden menggantikan Soekarno tanpa proses pemilu.

Sejarawan Asvi Warman Adam (2009) menilai Supersemar seperti blanko cek kosong yang bisa diisi semaunya oleh Soeharto. Hal ini terlihat dalam frasa “mengambil tindakan yang dianggap perlu” dalam poin perintah pertama surat itu.

Supersemar, kata Asvi, akhirnya ditafsirkan bukan hanya sebagai perintah pengamanan, namun juga pemindahan kekuasaan (transfer of authority). Brigjen Amir Machmud, salah satu orang dekat Soeharto, setelah melihat surat itu menilai surat itu bernada penyerahan kekuasaan.

Jelas saja, kalau kemudian Bung Karno merasa terjebak dan tertipu oleh Jendral Soeharto dan konspirasi CIA-nya.  Karena yang terjadi kemudian, faktanya Presiden Soekarno telah dikudeta, kemudian beliau menjadi tahanan Rezim Orde Baru Suharto serta dibuat sakit parah, bahkan hanya disediakan dokter hewan untuk menangani Bung Karno di tahanan Istana Bogor dan Wisma Yasso Jakarta, sampai akhir hayatnya.

Padahal Presiden Soekarno hanya memerintahkan Jendral Soeharto untuk mengamankan chaos, (yang sebenarnya adalaah rekayasa intelejen CIA dan beberapa gelintir oknum jendral TNI-AD. Sayangnya Rekayasa ideology-social-politik-keamanan dan budaya nasional oleh agen-agen Amerika (CIA) dan Mossad serta antek-antek dalam negerinya, telah berhasil sedemikian rupa menciptakan system kemasyarakatan dan kenegaraan yang sangat menguntungkan Amerika lebih dari 35 tahun (sampai sekarang) dan merugikan NKRI, bahkan mengorbankan ratusan ribu sampai jutaaan nyawa dan nasib para pendukung, fans dan simpatisan Bung Karno, serta keluarga Bung Karno.

  1. Adakah indikasi, kalau Supersemar ini merupakan konspirasi intelijen CIA?

Ya sangat Jelas sekali, Ini konspirasi CIA dan para Pengusaha Pertambangan Yahudi Amerika-Israel, sebagaimana sudah saya katakan di atas. Untuk lebih jelasnya silah Anda/pemirsa semua bisa baca di blog saya, di:

https://ahmadsamantho.wordpress.com/2015/09/17/sejarah-tahun-1965-yang-tersembunyi/

https://ahmadsamantho.wordpress.com/2015/12/14/konspirasi-hebat-antara-freemasonry-lluminati-cia-dan-suharto-dan-freeport-versus-john-f-kennedy-dan-sukarno/

https://ahmadsamantho.wordpress.com/2014/06/11/soemitro-djojohadikusumo-the-hidden-story-of-freeport/

https://ahmadsamantho.wordpress.com/2011/10/27/jfk-cia-dan-freeport-indonesia/

https://ahmadsamantho.wordpress.com/2015/12/14/konspirasi-hebat-antara-freemasonry-lluminati-cia-dan-suharto-dan-freeport-versus-john-f-kennedy-dan-sukarno/

https://ahmadsamantho.wordpress.com/2011/12/23/ford-country-membangun-elite-untuk-indonesia/

https://ahmadsamantho.wordpress.com/2013/02/23/mafia-berkeley-dan-pembunuhan-massal-di-indonesia/

  1. Kalau seandainya iya, siapakah tokoh yang dijadikan wayang dalam peristiwa tersebut?

Banyak sekali wayangnya. Yang paling Utama Peran wayangnya adalah Suharto sendiri, bersama beberapa kroninya di Angkatan Darat. Dalangnya adalah Konspirasi Pengusaha Amerika Jaringan Illuminati-Fremasonry yang Merngusaai Pemerintahan dan Militer USA (Amerika).

Akhir tahun 1996, sebuah tulisan bagus oleh Lisa Pease yang dimuat dalam majalah Probe. Tulisan ini juga disimpan dalam National Archive di Washington DC. Judul tulisan tersebut adalah “JFK, Indonesia, CIA and Freeport.”

Lisa Pease,  mendapatkan data jika pada Maret 1965, Augustus C.Long terpilih sebagai Direktur Chemical Bank, salah satu perusahaan Rockefeller. Augustus 1965, Long diangkat menjadi anggota dewan penasehat intelejen kepresidenan AS untuk masalah luar negeri. Badan ini memiliki pengaruh sangat besar untuk menentukan operasi rahasia AS di Negara-negara tertentu. Long diyakini salah satu tokoh yang merancang kudeta terhadap Soekarno, yang dilakukan AS dengan menggerakkan sejumlah perwira Angkatan Darat yang disebutnya sebagai Our Local Army Friend.

Salah satu bukti sebuah telegram rahasia Cinpac 342, 21 Januari 1965, pukul 21.48, yang menyatakan jika kelompok Jendral Suharto akan mendesak angkatan darat agar mengambil-alih kekuasaan tanpa menunggu Soekarno berhalangan. Mantan pejabat CIA Ralph Mc Gehee juga pernah bersaksi jika hal itu benar adanya.

Lisa Pease mendapatkan jawabannya. Para petinggi Freeport ternyata sudah mempunyai kontak dengan tokoh penting di dalam lingkaran elit Indonesia. Mereka adalah Menteri Pertambangan dan Perminyakan Ibnu Soetowo dan Julius Tahija. Orang yang terakhir ini berperan sebagai penghubung antara Ibnu Soetowo dengan Freeport. Ibnu Soetowo sendiri sangat berpengaruh di dalam angkatan darat karena dialah yang menutup seluruh anggaran operasional mereka.

  1. Pertanyaan terakhir, apakah Supersemar itu ada?

Ada, karena faktanya ada Kudeta atau ada peralhan kekuasaan Negara RI tahun 1965,  yang itu terjadi dengan paksa dan menumpahkan banyak darah. Bahkan korbannya (yang dituduh anggota PKI atau Simpatisan PKI) sampai sekitar 3 juta orang, kata Jendral Sarwo Edi.

Tapi yang aslinya disembunyikan oleh rezim Suharto, yaitu yang berkop MBAD. Mungkin jendral M. Yusuf yang menyimpan arsip/salinannya, tapi karena pertimbangan keamanan diri dan keluarganya, M.Yusuf tak berani membuka rahasianya. Takut terancam oleh kaki tangan Rezim Suharto dan Agen CIA. (AYS/BHIn-Tu-Ika.com)

Supersemar, Alat Kudeta Halus Soeharto terhadap Sukarno?

Nasional / Jumat, 11 Maret 2016 21:35 WIB (MP/bro)

MerahPutih Peristiwa – Hari ini Jumat, (11/3) tepat 50 tahun peringatan Surat Perintah Sebelas Maret atau Supersemar. Sejak dikeluarkan tanggal 11 Maret 1966, keberadaan Supersemar yang asli masih menjadi misteri terbesar dalam sejarah Indonesia.

Selain dari keberadaan dari naskah asli Supersemar, kontroversi lain lahir darinya yaitu cara Supersemar itu didapatkan. Supersemar dipandang desakan terhadap Presiden Sukarno untuk berikan kekuasaan lebih kepada Soeharto. Selain itu, interprestasi Soeharto terhadap Supersemar sehingga membuatnya melakukan aksi-aksi di luar kendali Presiden Sukarno.

Pada 11 Maret 1966,  MC Ricklefs menyebut, permainan manuver halus antara Sukarno dan Soeharto-yang menghasilkan kekerasan berdarah di Ibu Kota-berakhir dengan meyakinkan untuk kemenangan Soeharto.

“Dengan kekuasaan Supersemar yang diperolehnya, Soeharto dan para pendukungnya kini menghancurkan sisa-sisa demokrasi terpimpin di hadapan Sukarno yang marah tapi tak mampu berbuat apa-apa,” demikian MC Ricklefs dalam buku Sejarah Indonesia Modern 1200-2004.

Supersemar yang tersimpan di etalase arsip negara ada tiga versi. Itu yang membuat kontroversi terkait Supersemar dan menimbulkan pertanyaan keberadaan naskah asli. Versi itu menyebut surat dari Presiden Soekano untuk menunjuk Soeharto memulihkan ketertiban dan keamanan (tidak lebih dari itu), kedua menunjuk Soeharto untuk membubarkan PKI dan membersihkan sisa-sisanya, ketiga bahwa surat tersebut untuk mengalihan kekuasaan.

Ricklefs menyebut setelah Supersemar itu diterima Jenderal Soeharto, tanggal 12 Maret, PKI dan organisasi masa dilarang. Kemudian tanggal 18 Maret, Subandrio, Chaerul Saleh, Imam Syafei, dan sebelas menteri kabinet lainnya ditahan. Soeharto membersihkan sisa-sisa demokrasi terpimpin dan membuatnya semakin kuat.

Sekira 180 anggota MPRS berkurang akibat penahanan. Dalam situasi seperti itu, sentimen anti-Sukarno meninggkat di kalangan anggota MPRS. Soeharto kemudian mengundang MPRS untuk bersidang pada Juni-Juli 1966. MPRS meratifikasi Supersemar, melarang PKI, mengharamkan Marxisme sebagai doktrin politik, menuntut pemilu diadakan pada 1968, dan mendesak Sukarno beri penjelasan tetnagn pelanggaran susila, korupsi, dan mismanajemen ekonomi yang dilakukan pemerintahan demokrasi terpimpin dan tentang peran Sukarno sendiri dalam usaha kudeta pada 1965.

“Gelar ‘Presiden Seumur Hidup’ yang dianugerahkan MPRS pada bulan Mei 1963 ditanggalkan. Sukarno juga dilarang untuk mengeluarkan keputusan presiden,” demikian Ricklefs.

Soeharto kemudian menunjuk anggota baru parleman yang kosong akibat penahanan. Soeharto kemudian mendesak agar dilangsungkan sidang pada Maret 1967.

Suharto memiliki kekuatan sangat besar, yaitu dengan bertambannya sentimen terhadap Presiden Sukarno, penyingkiran terhadap para pendukung Sukarno dalam pemerintahan dan MPRS. Sementara itu, Presiden Sukarno semakin lemah. Tawaran dari sebagian angkatan bersenjata untuk melakukan perlawanan ditolak oleh Presiden Sukarno. Sukarno menghindari perang saudara.

Pada 12 Maret MPRS menanggalkan semua kekuasan dan gelar Sukarno serta mengangkat Soeharto sebagai pejabat presiden. Saat itu, Presiden pertama Indonesia secara de facto pensiun dengan status tahanan rumah dan diisolasi di Istana Bogor. Sukarno tetap berada di sana hinggga wafatnya pada bulan Juni 1970.

Sumber: http://news.merahputih.com/nasional/2016/03/11/supersemar-alat-kudeta-halus-soeharto-terhadap-sukarno/39167/

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Atlantis in the Java Sea

A scientific effort to match Plato’s narrative location for Atlantis

sembrani

bertukar ide, melampaui mimpi bersama

Nurul Wirda

Semerbak Mawar yang dengan senang hati memancarkan Cahayanya

aawanto

The greatest WordPress.com site in all the land!

Covert Geopolitics

Beyond the Smoke & Mirrors

Catatan Harta Amanah Soekarno

as good as possible for as many as possible

Women Terrace

to say something that i never talk before

Kanzunqalam's Blog

AKAL tanpa WAHYU, akan berbuah, IMAN tanpa ILMU

Cahayapelangi

Cakrawala, menapaki kehidupan nusantara & dunia

religiku

hacking the religion

SANGKAN PARANING DUMADI

Just another WordPress.com site

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

%d blogger menyukai ini: