Tinggalkan komentar

Macan Ali Simbol Perjuangan Orang Cirebon Posted by Ahmad Yanuana Samantho on September 25, 2013at Bayt al-Hikmah Institute, http://www.ahmadsamantho.wordpress.com

Melacak Jejak Imam Ali Melalui Bendera Macan Ali

 “Apa arti macan putih bagi orang Cirebon? Sepertinya saya melihat begitu banyak patung serupa di sini.” Pertanyaan tersebut dilontarkan oleh seorang teman asal kota gudeg Yogyakarta. Sebagai orang Cirebon sekaligus tuan rumah dari teman saya tersebut, saya menjawab: “Oh itu Macan Ali, Lambangnya Keraton Cireb
on.”

Hanya itulah  jawaban yang bisa saya berikan saat itu. Teman saya hanya mengangguk pelan dan pembicaraan kami pun berganti ke tema lain. Tapi bagi saya pertanyaan tersebut tetap harus dijawab. Pencarian  jawaban saya mulai dari Keraton Kasepuhan, sebagai keraton tertua di Cirebon. Di sana saya temukan sebuah lukisan kaligrafi Arab berbentuk seekor macan. “Ini adalah Singha Barwang atau biasa disebut Macan Ali, lukisan kaligrafi berbentuk macan yang menjadi lambang kebesaran Kerajaan atau Kasultanan Cirebon.” Jelas Pak Satu, seorang abdi dalem di Keraton Kasepuhan yang menemaniku berkeliling di kompleks keraton. Menurut Pak Satu, Kaligrafi bertuliskan kalimat syahadat itu merujuk kepada kepahlawanan Sayidina Ali dalam memperjuangkan agama Islam.

IMG-20151129-WA0045 (1)Dalam literatur lain juga dikemukakan bahwa sebelum Cirebon, ada beberapa negara lain yang juga menggunakan Macan Ali sebagai lambang kebesaran negaranya. Seperti kerajaan Indraprahasta, Wanagiri dan Singhapura. Dijadikannya Macan Ali sebagai lambang kebesaran Kesultanan Cirebon juga untuk membuktikan tekad dan eksistensi Cirebon dalam menyiarkan Agama Islam di Bumi Nusantara.

Bendera Macan Ali juga pernah berkibar, mengiringi keperkasaan Pasukan Kesultanan Cirebon dalam beberapa perang besar melawan penjajahan. Seperti perang melawan Tentara Portugis (1512-1526) yang diprakarsai oleh Kesultanan Demak di bawah pimpinan Raden Patah. Dalam perang tersebut bala tentara Cirebon turut bertempur bersama bala tentara Demak dalam melawan Portugis. Bendera Macan Ali juga pernah berkibar dalam perang Kedongdong (1793-1808), yaitu perang yang dipicu oleh pemberontakkan para santri Melawan tentara Belanda yang diperkuat oleh bala tentara Portugis.

Menurut kisah, kebesaran dan keberanian pasukan Cirebon saat itu, dipengaruhi juga oleh kharisma Bendera Macan Ali yang juga dijadikan sebagai panji perang Kasultanan Cirebon. Karena dalam Bendera Macan Ali Banyak terkandung nilai-nilai filosofis, seperti:

  1. Tulisan Basmallah dan Asmaul Husna yang melambangkan kebesaran Allah.
  2. Dua bintang bersisi delapan yang melambangkan Nabi Muhammad dan Fatimah.
  3. Singa Kecil dan besar serta dua buah pedang yang menyilang,  melambangkan Pedang  Zulfikar milik  Imam Ali.
  4. Asadullah, yaitu Singa besar atau singa Allah yang disebut  sebagai Macan Ali
  5. Lima orang manusia suci yang melambangkan tiang agama sebagai sumber hidayah.

Saat ini, walaupun kasultanan/keraton-keraton di Cirebon sudah tidak lagi berada dalam masa keemasannya, Macan Ali masih menjadi lambang kebesaran yang sangat dihargai oleh masyarakatnya. Keberadaan Macan Ali sebagai simbol pun belakangan ini semakin dikenal orang, dengan semakin maraknya kaligrafi Macan Ali bermunculan di beberapa media, seperti sticker, kalender maupun kaos. Semoga dengan bangkitnya kembali Macan Ali sebagai simbol masyarakat Cirebon, dapat menghantarkan kembali Cirebon ke masa kejayaannya seperti dulu.(ysg)

Sumber:

http://cirebonis.blogspot.com/2011/04/macan-ali-simbol-perjuangan-orang.html?m=1

Melacak Jejak Imam Ali Melalui Bendera Macan Ali 

Posted by Ahmad Yanuana Samantho on November 23, 2015 in HikmahIbrah SejarahSejarah Islam di Jawa Barat

Cirebon adalah kota di tepi pantai utara Jawa bagian barat.  Tome Pires dalam kunjungannya ke Cirebon pada tahun 1513 Masehi mencatat bahwa Cirebon adalah kota yang memiliki pelabuhan yang mutakhir. Kemudahan akses menuju Cirebon dari wilayah laut, mungkin menjadi salah satu sebab mengapa kota ini menjadi tempat awal bersemainya ajaran Islam dan menjadi jembatan bagi tersebarnya ajaran Islam ke wilayah pedalaman Jawa Barat.Salah satu watak dari penyebaran Islam di Nusantara adalah menguatnya keberadaan figur-figur tokoh yang mengarah pada terbentuknya komunitas-komunitas, yang kemudian disempurnakan dengan berdirinya lembaga kesultanan. Menurut penelitian Prof. Dr. Ahmad Mansur Suryanegara, para penyebar agama Islam di Nusantara telah berhasil membangun kekuasaan Islam dengan mendirikan sekitar 40 kesultanan Islam yang tersebar di berbagai wilayah, termasuk Cirebon (Irianto, 2012:2-3).

Perintis kesultanan Cirebon adalah Pangeran Walangsungsang Cakrabuana dan adiknya, Nyimas Ratu Rarasantang. Atas perintah guru mereka, Syekh Nurjati, mereka pergi ke Mekah untuk menunaikan ibadah haji. Di Mekah, Nyimas Ratu Rarasantang yang setelah berhaji diberi gelar Hajjah Syarifah Mudaim, dinikahi oleh Raja Mesir keturunan Bani Hashim, bernama Syarif Abdullah (bergelar Sultan Mahmud). Dari pernikahan ini, lahirlah putra bernama Syarif Hidayatullah pada tahun 1448 M. Syarif Hidayatullah dibesarkan di Mesir, namun kemudian menuntut ilmu-ilmu agama dan tasawuf di Mekah dan Baghdad. Setelah itu, dia memilih pergi ke Cirebon untuk mensyiarkan ajaran Islam di tanah air ibunya.

Syarif Hidayatullah kemudian berdakwah di Jawa dan diberi gelar Sunan Gunung Jati. Keilmuan dan kewaliannya sedemikian cemerlang, sehingga akhirnya Sunan Gunung Jati diserahi tampuk kepemimpinan kesultanan Cirebon  dengan helar Susuhunan Jati. Di bawah kepemimpinannya, Cirebon menjadi sebuah negara yang merdeka dan berdaulat. Sebagaimana umumnya kerajaan atau negara, Cirebon memiliki sebuah bendera kenegaraan, yang disebut Bendera Macan Ali. Bendera ini pernah dibawa dalam medan perang di Sunda Kelapa. Saat itu, pasukan Cirebon yang dipimpin Falatehan (menantu Sunan Gunung Jati) bersama pasukan Kesultanan Demak dan Banten, bahu-membahu mengusir Portugis yang hendak menguasai Sunda Kelapa (Irianto, 2012:3-4).

Saat ini, Bendera Macan Ali kuno disimpan di Museum Tekstil Jakarta, namun yang ditampilkan untuk publik adalah bendera tiruannya. Bendera Macan Ali dibuat dengan teknik batik tulis dan bertanda tahun 1776. Bendera ini menyimpan jejak sejarah yang sangat kaya, sehingga perlu dipelajari dengan seksama oleh bangsa Indonesia, khususnya generasi muda.  Atas dasar itulah, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Jawa Barat, Balai Pengelolaan Museum Negeri Sri Baduga, pada tanggal 11 September 2013 lalu mengadakan Seminar Bedah Naskah Bendera Kesultanan Cirebon.

Dalam seminar ini, hadir tiga pakar naskah kuno, Prof.DR. H.A. Sobana Harjasaputra, Drs Tawalinuddin Haris, MS, dan drh. Bambang Irianto, B.A. Dalam paparannya, Prof. Sobana menyatakan bahwa bendera Macan Ali sudah cukup dikenal oleh masyarakat Cirebon. Namun, bagaimana asal-usul dan penggunaan bendera itu, belum terungkap jelas. Oleh karenanya, yang bisa dilakukan oleh peneliti adalah memaknai berbagai tulisan dan simbol yang ada di bendera tersebut dan mengaitkannya dengan data-data yang tersedia mengenai sejarah Kesultanan  Cirebon.  Bendera Kesultanan Cirebon ini berbentuk segi panjang bersudut lima berujung lancip, seperti tanda penunjuk arah. Warna dasar bendera itu adalah biru kehitaman. Di bagian tengah bendera terdapat gambar pedang cagak (pedang bermata dua); gambar pedang ini terinspirasi dari pedang Dzulfiqar yang dihadiahkan Rasulullah kepada Sayyidina Ali.

Selain itu, ada kaligrafi berbentuk? Macan Ali’ yang berjumlah tiga buah, dan di sekelilingnya dipenuhi tulisan berhuruf Arab berupa kalimat-kalimat dari Al Quran. Pada sisi kanan adalah kalimat basmalah, pada sisi atas adalah Surah Al Ikhlas, pada sisi bawah Surah Al An’am ayat 103, yang berarti ?Dia tidak dapat dicapai oleh pengelihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala yang keliahatan, dan Dia-lah yang Maha Halus lagi Maha Mengetahui’. Gambar pedang cagak sendiri melambangkan huruf lam-alif, yaitu huruf pertama dari kalimah syahadat. Menurut Prof Sobana, dituliskannya ayat-ayat Al Quran dalam bendera itu menunjukkan bahwa bendera itu dibuat seiring dnegan penyebaran agama Islam di Jawa Barat. Diduga kuat, ayat-ayat itulah yang banyak digunakan para pendakwah Islam masa itu dalam mengajarkan ketauhidan dan keberserahdirian kepada Allah SWT.

Sementara itu, Bambang Irianto, yang juga penulis buku Bendera Cirebon, Ajaran Kesempurnaan Hidup (Terbitan Museum Tekstil Jakarta, 2012) memaparkan berbagai makna tasawuf dari bendera Macan Ali ini, dengan berlandaskan hasil penelitiannya terhadap naskah-naskah kuno Cirebon. Antara lain, bentuk bendera yang berbentuk penunjuk arah, melambangkan petunjuk hidup di dunia. Bingkai bendera yang berwarna kuning menunjukkan upaya mencapai kebahagiaan dan cita-cita yang tinggi. Kalimat Basmalah menunjukkan adanya tekad kuat dalam memulai segala sesuatu. Surah Al Ikhlas menunjukkan keikhlasan rububiyah sebagai landasan untuk melakukan keikhlasan amaliah. Surah Al Anam:103 menunjukkan bahwa manusia harus selalu berbuat benar dan sabar karena selalu dimonitor oleh Allah SWT.

Menurut Irianto, berdasarkan hasil penelusurannya di naskah milik Kraton Keprabonan, pedang cagak disebut juga sebagai pedang Dzulfaqor dan Dzulfikar. Dzulfaqor memiliki makna? yang mempunyai harapan’, sedangkan Dzulfikar bermakna? yang mempunyai pikiran. Maksudnya adalah setiap amal dan perbuatan hendaknya selalu direncanakan dengan pemikiran berganda (berulang-ulang). Gambar macan besar yang berada di ujung pedang melambangkan pemimpin besar yang memandu rakyatnya dengan kalimat syahadat, karena pemimpin kelak akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat, atas kepemimpinannya. Letak kaligrafi berbentuk macan itu berada persis di depan pedang cagak menandai bahwa seorang pemimpin harus sangat berhati-hati karena bila tidak, dirinya dan bangsanya akan mudah diserang oleh musuh.

Pernyataan menarik muncul dari Tawalinuddin Haris. Dia menyebut bahwa nama bendera Macan Ali sama sekali tidak ada hubungannya dengan Ali Bin Abi Thalib. Menurutnya, kata? Ali’ bermakna  yang tinggi/luhur’, bukan mengacu pada Imam Ali. Namun kemudian salah satu peserta seminar mengkritisi pendapat ini dengan menyebut bahwa dalam kultur Cirebon dikenal tarekat-tarekat yang di dalam ritual-ritual mereka disebut-sebut nama Sayyidina Ali. Selain itu, dalam kisah-kisah sastra Sunda kuno juga disebut-sebut nama Sayyidina Ali. Ditambah lagi, ayat-ayat yang ditulis dalam bendera itu adalah ayat-ayat yang sufistik dan biasa dilafazkan dalam ritual tarekat-tarekat di Cirebon. Pernyataan ini disetujui oleh Drh. Bambang Irianto yang asli Cirebon dan ternyata juga pengikut tarekat Sattariah. Menurutnya, memang banyak ilmu-ilmu sufistik yang diajarkan dalam tarekat itu yang dinisbahkan kepada Sayyidina Ali.

Meskipun begitu, dalam makalahnya, Haris juga menyebutkan bahwa kaligrafi berbentuk macan itu kemungkinan merupakan adaptasi pengaruh budaya Persia. Di Persia, kalimat-kalimat yang mengacu pada pengagungan Sayyidina Ali dibentuk dalam wujud singa, sedangkan dalam kesenian Cirebon, kaligrafi kalimat syahadat dibentuk membentuk figur macan. Dasar pemikiran Haris adalah bahwa masuknya Islam ke Indonesia memang tidak langsung dari Arab melainkan melalui Iran atau India. Dalam kultur Cirebon, kaligrafi Macan Ali mendapat penghormatan yang tinggi dan digantung di masjid-masjid. (IRIB Indonesia)

Cirebon Kuno dan Kini (1980);

Bendera Kerajaan Cirebon

04/Jul/15 – 10:13

-dok Erick North/NMN

TAK ada satu negara pun di dunia ini yang tidak memiliki bendera.  Bendera merupakan lambang suatu negara dan merupakan identitas dari negara itu sendiri.  Sejak masa sebelum masehi (SM) bendera dan umbul-umbul selalu diikutsertakan dalam berbagai peperangan. Bendera ini pun diperebutkan, siapa yang mampu merebutnya, maka dialah yang dianggap sebagai pemenang. Sebaliknya menurunkan bendera yang berkibar dari tiangnya dengan cara-cara paksa dipastikan sebagai penghinaan terhadap lambang negara.

Bagaimana bendera Negara Cirebon pada masa lalu ? Menurut penelitian drh.H. R. Bambang Irianto (2012), bendera Cirebon menurut fungsinya merupakan simbol kenegaraan bagi Caruban Nagari saat itu. Bendera tersebut menurut sumber lisan, dibawa Fatahillah  ketika menyerang Sunda Kelapa pada 1527 M.

Penggunaan bendera Cirebon, menurut Bambang sebagai pendukung bendera utama/bendera kebesaran Kesultanan Demak. Mengutip tradisi lisan, bendera kebesaran Kesultanan Demak berupa   bendera gula kelapa, yaitu cikal bakal sang saka merah putih, bendera Kebangsaan Republik Indonesia. Bahkan bendera tersebut pernah digunakan pada zaman Majapahit.

Makna simbolik dari bendera “gula kelapa” ini adalah keberanian yang dilandaskan pada kesucian. “Kesucian berarti keikhlasan beramal yang berasal dari ikhlasrububiyah/ikhlas berketuhanan yang Maha Esa menuju cita-cita yang harus diraih dengan usaha yang penuh keberanian, yaitu nasrumminallah wa fathun qarib, yang berujung pada kegembiraan atau kejayaan yang sempurna bagi orang-orang yang beriman. Di  Cirebon, bendera Cirebon merupakan “Aji Jaya Sampurna”.

Namun di Kesultanan Kanoman, bendera kerajaan yang dimilikinya berupa lambang “Macan Ali” dari kaligrafi Arab bergambar macan dan dua pedang dengan dasar kain berwarna hijau. “Macan  Ali” merupakan simbol keberanian dari sahabat nabi,  Ali bin Abi Thalib. Diduga simbol ini diciptakan Sunan Kalijaga yang bermazhab Syiah.

Bendera kebesaran tersebut dikibarkan setahun sekali pada “malam pelal” maulid tanggal 12 Robiulawal. Dikawal puluhan sentana dan prajurit tradisional.  Mereka membawa obor dan tombak-tombak kerajaan masa lalu.

Bendera Cirebon bertuliskan kalimat yang sempurna, kata Bambang lagi, berupa kalimat toyyibah, sebagai tanda ke-Islmanan, yaitu Laillaha illallah Muhammadur rasulullah,yang artinya “tidak ada Tuhan selain Allah,  Muhhamad utusan Allah”. Bendera Cirebon bersama  umbul-umbul waring mencerminkan kebanggaan jati diri Cirebon. Dalam bendera tersebut terdapat unsur-unsur antara lain, tiga buah kaligrafi harimau, yang dalam tradisi lisan disebut “Macan Ali” atau “Singa Barwang”.

Unsur lainnya adalah pedang berbilah dua yang biasa disebut “golong cawang”,  serta kaligrafi dari Al-Quran antara lain berupa bacaan Basmalah, surat Al-Ikhlas dan Al-An’am ayat 103, bintang Sulaiman,  rajah-rajah serta kaligrafi lain. Mengutip budayawan T.D. Sudjana (almarhum).kerabat Keraton Kanoman di Cirebon, yang bertugas merawat bendera tersebut. Bendera itu kemudian diserahkan kepada Keraton Mangkunegaran,  Surakarta. Alasannya sebagai tolak bala untuk menyembuhkan sakit Raja Mangkunagera dengan cara menyelimuti bendera itu saat tidur. (NMN)***

Nurdin M Noer, Pemerhati Kebudayaan Lokal

“BENDERA TAUHID” KASULTANAN CIREBON DAN YOGYAKARTA

Posted: 8:25 am, October 2, 2014 by susiyanto

Susiyanto, M.Ag.

Keberadaan bendera[1] kenegaraan bercorak Islam dengan kelengkapan berupa kalimat tauhid dan petikan ayat Al Quran telah menjadi bagian dari warisan sejarah dan kebudayaan Islam di Indonesia. Dengan mengaca pada sejarah masa lalu bangsa Indonesia, hal ini dapat dilacak kembali jejaknya. Catatan ini akan berupaya membahas tentang 2 (dua) bendera pusaka yang berasal dari Kasultanan Yogyakarta danKasultanan Cirebon.

BENDERA KASULTANAN CIREBON

Kunjungan penulis ke Cirebon pada 28 Nopember 2010 rasanya adalah yang paling berkesan. Ini bukan saja kunjungan penulis yang pertama namun juga disertai misi untuk menelusuri seluk-beluk Cirebon mulai dari perjalanan sejarah sejak awal hingga perkembangan dakwah beserta tantangan yang terjadi di sana. Boleh dikatakan kunjungan-kunjungan selanjutnya ke kota wali tersebut adalah untuk menggenapi rangkaian data yang dibutuhkan.

Selama di Cirebon, penulis menyaksikan dan melakukan banyak hal. Mengelilingi Keraton Cirebon, melaksanakan shalat di Masjid Agung “Ciptarasa” Pakungwati, menikmati nasi Jamblang, dan lain-lain. Hal yang paling menarik adalah ketika drh. Bambang Irianto memperlihatkan wujud bendera Kesultanan Cirebon. Memang bukan bentuk aslinya karena hanya melalui foto saja. Meskipun demikian hal ini tidak mengurangi ketertarikan penulis untuk mempelajari bentuk dan makna bendera tersebut. Apalagi yang memberikan penjelasan adalah drh. Bambang Irianto sendiri. Beliau adalah Ketua Pusat Konservasi dan Pemanfaatan Naskah Klasik Cirebon dan sekaligus Penata Budaya Keraton Cirebon. Pak Bambang ini rupanya juga memiliki darah biru di Kasultanan Cirebon. Meskipun tidak menampakkan gelar bangsawannya, akhirnya terungkap bahwa beliau adalah pemilik nama Raden Padmanegara.

Bendera Kasultanan Cirebon berbentuk persegi panjang dengan ujung yang lancip dan memiliki warna dasar biru tua. Menurut sejumlah sumber klasik Cirebon, bendera ini memiliki sebutan “Kad lalancana Singa Barwang Dwajalullah”. Kata “dwajalullah” di atas secara meyakinkan menunjukkan bahwa benda pusaka yang dimaksud merupakan bendera dari sebuah kerajaan (baca: negara) Islam. Kata ini merupakan gabungan antara kata dari Bahasa Sansekerta “dwaja” yang diserap ke dalam Bahasa Kawi dan nama Illah umat Islam yakni Allah. “Dwaja” sendiri artinya “bendera”.[2]Dengan demikian “dwajalullah” bisa dimaknai sebagai “bendera Allah”. Jadi secara keseluruhan nama bendera di atas bisa diterjemahkan sebagai “bendera (milik) Allah dengan lambang (berlencana) singa barong”.

Bagian pangkal bendera bertuliskan bacaan basmallah yang menjadi pangkal tolak semua tindakan. Bagian atas bendera ini bertuliskan Surat Al Ikhlas ayat 1 sampai 4. Hal ini menunjukkan bahwa Kesultanan Cirebon merupakan sebuah kerajaan yang berpayung ajaran tauhid.

‘Katakanlah: “Dia-lah Allah, yang Maha Esa. Allah adalah Illah yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan, dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia.” (QS. Al-Ikhlash: 1-4)

Sedangkan dalam bendera bagian bawah terdapat sebaris kutipan dari Surat Al An’aam ayat 103: “laa tudrikuhul abshaaru wa huwa yudrikul abshaara wa huwallathiiful khabiir” yang artinya ”Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala yang kelihatan; dan Dialah yang Maha Halus lagi Maha mengetahui”. Penggunaan ayat tersebut menunjukkan sifat kerajaan yang merasakan adanya pengawasan Allah. Ayat tersebut menunjukkan lemahnya penglihatan manusia dibandingkan kesempurnaan penglihatan Allah. Tiada sesuatu pun yang dapat melihat-Nya, sedangkan Dia melihat semua makhluk. Menurut tafsir Ibnu Katsir ayat tersebut bukan berarti menafikan bahwa manusia dapat melihat Allah di hari kiamat kelak. Di akhir zaman Allah akan memperlihatkan diri kepada kaum mukminin menurut apa yang dikehendaki-Nya. Adapun keagungan dan kebesaran-Nya, sesuai dengan zat-Nya Yang Maha tinggi lagi Maha suci serta Maha bersih, tidak dapat dicapai oleh pandangan mata.

Bagian pangkal bendera bertuliskan bacaan “Bismillahirrahmanirrahim” menunjukkan bahwa kesultanan Cirebon adalah sebuah kesultanan Islam yang senantiasa mendasarkan segala pemikiran, tindakan, dan memulai segala sesuatu berdasarkan atas nama Allah. Sedangkan bagian ujung terdapat kutipan dari Al Quran Surat Ash Shaaf ayat 13 yang menunjukkan tujuan utama dari kerajaan Cirebon untuk memperoleh karunia pertolongan dan kemenangan dari Allah: “nashru minallah wa fathan qariib“ (pertolongan dari Allah dan kemenangan yang dekat)”. Tafsir Ibnu Katsir menjelaskan bahwa pertolongan dari Allah dan kemenangan yang nyata ini bisa diperoleh dengan mentaati Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan-Nya serta menolong agama-Nya.

Keberadaan golok bercabang dan lambang singa memiliki sejumlah penafsiran. Menurut drh. Bambang Irianto, Singa barwang atau macan Ali menunjukkan sifat keberanian dan keperwiraan.  Sedangkan pedang bermata dua atau golok cabang merupakan simbol dari pedang dzulfaqar. Motif mirip golok cabang, sebagaimana terdapat dalam bendera Kasultanan Cirebon, nampaknya merupakan simbol yang secara umum juga dimiliki oleh sejumlah Kasultanan Islam di Nusantara. Kasultanan Yogyakarta memiliki lambang serupa dalam bendera kerajaan yang disebut Kanjeng Kyai Tunggul Wulung. Stempel resmi milik Sultan Abdul Qadir Muhyiddin (1768-1807), raja Kasultanan Tanette – Sulawesi, diketahui juga menggunakan simbol pedang bermata dua yang bertuliskan aksara bugis: “Ca’na arunge ri Tanette ri asenge Abedollo Kadere Muheudini to mapesonangengngi ri Alla taala sininagauna” (Cap raja Tanette bernama Abdul Qadir Muhyiddin, yang mempercayakan semua pekerjaannya kepada Allah yang Maha Tinggi).[3]

Dalam sejumlah karya sastra klasik Cirebon, penafsiran terhadap keberadaan simbol singa dan golok bercabang dua tersebut juga dapat ditemukan. Dalam pengajaran Syaikh Nurjati kepada Somadullah (Pangeran Walang Sungsang, Putra Prabu Siliwangi) digambarkan keterangan sebagai berikut:

“ … Lalu engkau diberi pula golok cabang yang dapat berbicara dan dapat terbang. Dapat mengalahkan singa, dapat menghancurkan gunung yang gagah perkasa, dan dapat pula mengeringkan air laut yang sedang meluap-luap. Nama golok cabang itu berasal dari perkataan khuliqa lisab’ati asyyaa-a”, artinya dijadikan untuk tujuh perkara. Maksudnya jika engkau menghendaki mendapatkan apa yang engkau kehendaki, engkau harus menghadapi ketetapan anggota badan yang tujuh, ialah anggota sujud. Jelasnya, jika engkau ingin mencapai segala sesuatu, hendaknya engkau tunduk sujud kepada Allah.”[4]

Babad Tanah Sunda – Babad Cirebon versi Sulaeman Sulendraningrat justru menyediakan pemaknaan bersifat mistik terhadap keberadaan golok cabang. Tersirat pernyataan bahwa golok inilah yang mampu mengeliminasi superioritas dan kuasa para dewa dalam pantheon Hinduisme. Nampaknya pemaknaan secara luas terhadap golok cabang ini memang semestinya diarahkan sebagai representasi kehadiran Islam itu sendiri di tanah Cirebon. Babad yang dimaksud bercerita demikian: “Ini golok cabang pusaka para leluhur terimalah. Ini golok bisa bicara bahasa manusia dan bisa terbang dan bisa keluar api, tiap yang terkena niscaya lebur, walaupun dewa tidak tahan, gunung ambruk dan laut kering”.[5]

Sedangkan lambang singa (sebenarnya: harimau) sebelum masuknya Islam di tanah Cirebon sering diidentikkan dengan simbol kerajaan Pajajaran, sebuah kerajaan Hindhu dan Budha. Kesenian Genjring memposisikan simbol singa sebagai perwujudan Bathari Durga, dewi kejahatan dalam Hindu yang kemudian berhasil diislamkan. Tubuh singa dalam bendera tersebut menunjukkan kecenderungan penafsiran dengan makna ini. Menurut tradisi tutur yang berkembang, singa barwang dalam bendera ini berhiaskan ornamen kaligrafi kalimat tauhid “Laa ilaha illallah” (Tiada illah selain Allah). Dengan mengikuti tradisi ini maka lambang Singa dan Golok Cabang itu melambangkan Islam yang mampu menaklukkan anasir Hinduisme.

 Dakwah awal di Cirebon memang tidak bisa tidak harus dihubungkan dengan runtuhnya supremasi Hinduisme di lingkungan Praja Pajajaran. Proses itu menurut tradisi dimulai ketika keturunan Prabu Siliwangi mulai menerima Islam. Syaikh Nurjati merupakan salah satu perintis dakwah di Cirebon. Nama kecilnya adalah Datul Kahfi bin Syaikh Ahmad. Ia pernah menuntut ilmu di Makkah dan bermukim di Baghdad. Selanjutnya ia melakukan perjalanan ke Jawa dan menetap di sebuah bukit kecil bernama Giri Amparan Jati. Dari sinilah dakwahnya dimulai dan secara berangsur-angsur memperoleh murid. Di antara murid yang pernah berguru kepadanya adalah dua orang putra-putri Prabu Siliwangi, yaitu Raden Walang Sungsang dan Nyai Rarasantang.[6]

Raden Walang Sungsang yang kemudian dikenal sebutan Cakrabumidan Cakrabuana  inilah yang telah mengembangkan Cirebon sehingga menjadi sebuah pust penyebaran agama Islam di Jawa. Ketika masih menimba ilmu sebagai murid Syaikh Nur Jati dirinya diberi namaSomadullah yang dalam sejumlah babad diidentifikasi sebagai pemilik golok cabang.

BENDERA KASULTANAN YOGYAKARTA

Sejak awal Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat merupakan pewaris dan penerus Kesultanan Mataram Islam, yang memegang nilai-nilai kepemimpinan berdasarkan syari’at Islam. Nilai-nilai syari’at Islam itu kemudian diaktualisasikan dalam bungkus budaya Jawa. A. Adaby Darban memperlihatkan bukti bahwa dalam ihwal ilmu pemerintahan dan ketatanegaraan, etika pemerintahan raja digambarkan dengan mengupas sejumlah sifat yang dihubungkan dengan Allah seperti jalalullah,jamalullah,kamalullah, kaharullah, qudrat, iradat, khayat, sama’,bashar, kalam, danwahdaniyat. Tema-tema ini terangkum secara jelas dalam kitab bernama Kanjeng Kyai Surya Raja.[7]

Kraton Kasultanan Ngayogyakarta memiliki bendera pusaka yang dikenal dengan namaKanjeng Kyai Tunggul Wulung. Nama ini nampaknya mengacu pada kainnya yang berwarna hitam bersemu biru tua atau dalam istilah Jawa disebut warna wulung. Bendera berbentuk persegi ini dibuat dari potongan kain kiswah (selubung penutup Ka’bah) sebagai hadiah seorang Sayid besar di Makkah saat penobatan Pangeran Harya Mangkubumi sebagai Susuhunan Paku Buwana Senapati Mataram (gelar ini berbeda dengan gelar Sunan Pakubuwana di Surakarta) atau Susuhunan Kabanaran(karena penobatan dilakukan di Banaran, sekarang termasuk wilayah Kabupaten Kulon Progo) tanggal 1 Sura tahun Alif 1675 atau 11 Desember 1749. Kain ini lantas dibuat menjadi bendera atau panji kerajaan pada masa Pangeran Mangkubumi bertahta di Ngayogyakarta dengan gelar Sultan Hamengkubuwana I.[8]

Bagi sebagian masyarakat Nusantara, kepemilikan terhadap potongan kain kiswah semacam ini seringkali dihubungkan dengan suatu keyakinan spiritual tertentu. Maka tidak mengherankan jika ada dari jama’ah haji Indonesia yang bersedia membeli potongan-potongan kiswah yang sudah tidak terpakai.[9] Atas alasan itu pula, maka sebuah bendera yang dibuat dari potongan kiswah dianggap memiliki nilai spiritual yang tinggi oleh masyarakat.

Motif yang ada dalam bendera ini adalah sebentuk pedang bermata dua. Bentuk pedang ini mirip dengan lambang golok cabang yang sama terpampang dibendera Kasultanan Cirebon maupun dalam stempel Sultan Abdul Qadir Muhyiddin (1768-1807) dari Kasultanan Tanette di Sulawesi. Pedang bercabang ini menurut salah satu tafsir merupakan hasil stilisasi dari huruf lam alif, huruf pertama dari kalimat tauhid “laa ilaaha illallah”.

 Di bilah pedang tersebut terdapat tulisan Arabic antara lain dua kalimat syahadat sebagai tanda persaksian atas keesaan Allah dan kerasulan Nabi Muhammad, beberapa nama Allah yang berasal dari Asmaul Husna, dan Surat Al-Kautsar. Surat Alkautsar sendiri adalah salah satu surat dalam Al Quran yang memerintahkan manusia untuk mengerjakan shalat dan berkurban sebagai tanda rasa syukur kepada Allah atas nikmat yang telah dianugerahkan.

“Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkurbanlah. Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus.” (QS. Alkautsar: 1-3)

Bendera ini biasanya dikeluarkan oleh Kraton dalam upacara-upacara tertentu sepertiGrebeg Mulud atau upacara tolak balak. Diantaranya saat Yogyakarta mengalami wabah influenza, bendera Kyai Tunggul Wulung pernah dikeluarkan di Malam Jum’at Kliwon 2 Mulud Tahun Wawu 1849 atau 6 Desember 1918. Juga pernah dikeluarkan dalam upacara yang sama pada Malam Jumat Kliwon 22 Januari 1932, dan terakhir kali pada tahun 1948.[10]

Bendera yang sekarang sering dipakai Keraton Yogyakarta dalam upacara adalah bendera Putran(tiruan) yang dibuat pada masa Sultan Hamengkubuwana VII. Proses pembuatannya dimulai pada hari Jum’at Kliwon 12 Besar Tahun Jimakir 1834 atau 17 Februari 1905 dan selesai pembuatannya pada hari Kamis Pon 25 Besar Jimakir 1834 atau 2 Maret 1905. Bendera ini dibuat mirip dengan aslinya dan diberi nama Kanjeng Kyai Santri. Sedangkan tongkat benderanya diberi nama Kyai Duda namun kemudian lebih dikenal dengan nama Kyai Slamet. Sebelumnya pada masa Sultan Hamengkubuwana V juga telah dibuat bendera pusaka yang disebut Kanjeng Kyai Pare Anom. Bendera yang disebut terakhir ini kemudian juga dibuat tiruannya mulai hari Jum’at Wage 26  Besar Jimakir 1834 atau 3 Maret 1905 dan diselesaikan pada hari Jumat Kliwon 22 Sapar Alif 1825 atau 28 April 1905. Selanjutnya bendera-bendera itu, baik asli maupun putran, ditempatkan di Gedhong Hinggil, yang terletak di sebelah barat Masjid Panepen.[11]

Awalnya bendera-bendera pusaka ini dikeluarkan dalam upacara penting semacam Grebeg Mulud untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad. Dari Gedhong Hinggilpusaka ini dibawa ke Bangsal Witana berdekatan dengan Sultan yang sedang dihadap para abdi dalem dalam Pasewakan. Bendera ini lantas dibawa keluar ke serambi masjid agung. Namun sekarang bendera tersebut hanya dikeluarkan di Bangsal Kencana saja. Hal ini dilakukan mengingat usia bendera tersebut yang sudah semakin menua. [Susiyanto]

FOOTNOTE

  1. [1]Kata “bendera” pertama kali masuk ke dalam Bahasa Indonesia sebagai pengaruh dari penjajahan bangsa Spanyol dan Portugis. Dalam Bahasa Italia, yang termasuk rumpun Bahasa Romawi, kata ini berbunyi “bandiera”. Kata benderaini selanjutnya menjadi kata yang populer di kalangan masyarakat Indonesia dibanding sebutan dalam bahasa setempat untuk benda yang sama diantaranya tunggul, panji, merawal, dwaja,pataka, dan lain sebagainya. Dalam Bahasa Jawa kata “bendera” diserap menjadi “bandera” atau “gendera”. Lihat: Mr. Muhammad Yamin, 6000 Tahun Sang Mérah-Putih, Jakarta: Penerbitan Siguntang, 1951, hlm. 42
  2. [2]Lihat: Mr. Muhammad Yamin, 6000 Tahun …, hlm. 42; C.F. Winter Sr. dan R. Ng. Ranggawarsita, Kamus Kawi-Jawa, Cetakan XVIII, Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 2003, hlm. 43; Sabari, Kamus Basa Jawi, Surakarta: Seti-Aji, 2005, hlm. 50
  3. [3]Stempel ini secara resmi digunakan dalam surat menyurat yang dilakukan oleh Sultan Abdul Qadir Muhyiddin. Surat-surat sultan dari Tanette tersebut didokumentasikan dalam: Mu’jizah, Iluminasi dalam Surat-surat Melayu Abad ke-18 dan ke-19, Jakarta: Gramedia, 2009, hlm. 136-143
  4. [4]Lihat: drh. H. Bambang Irianto dan Siti Fatimah, M. Hum, Syekh Nurjati (Syaikh Datul Kahfi): Perintis Dakwah dan Pendidikan. Cirebon: STAIN Press, 2009, hlm. 22-23
  5. [5]Lihat: P.S. Sulendraningrat, Babad Tanah Sunda-Babad Cirebon, Cirebon: TP, 1984, hlm. 9
  6. [6] Bambang Irianto, Syekh Nurjati (Syaikh Datul Kahfi): Perintis Dakwah dan Pendidikan. Cirebon: STAIN Press, 2009, hlm. 1-15; Lihat juga: Dr. Muhaimin Ag, Islam dalam Bingkai Budaya Lokal: Potret dari Cirebon, Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 2001, hlm. 235-237; Kedua putra Prabu Siliwangi tersebut merupakan anak dari pasangannya yang bernama Nyai Subang Krancang atau Nyai Subang Larang. Suatu ketika Raden Jayadewata atau Pamanah Rasa, yaitu nama Prabu Siliwangi muda, memenangkan sayembara berhasil memenangkan sayembara pertarungan untuk bisa melamar Nyai Subang Karancang (Larang) yang menjadi murid Syekh Quro. Raden Pamanah Rasa diberi juga syarat agar mencari Kartika kertiyang berjumlah seratusbiji. (maksudnya tasbih). Prabu Siliwangi kemudian diceritakan masuk Islam meskipun tidak untuk seterusnya. Setelah sang istri wafat ia lantas kembali kepada keyakinan lamanya. Dari hasil perkawinan dengan Nyai Subang Larang Prabu Siliwangi memiliki 3 putra yaitu Raden Walang Sungsang (lahir 1423) dan Nyai Lara atau Rara Santang (lahir 1426), dan Raja Sengara lahir 1428. Lihat: Prof. Dr. H. Rokhmin Dahuri, MS, Drh. Bambang Irianto, BA, dan Eva Nur Arovah, Sag. Mhum, Budaya Bahari: Sebuah Apresiasi, Jakarta: Perum Percetakan Negara Republik Indonesia, 2004, hlm. 56
  7. [7]Lihat: Kanjeng Kyai Suryaraja: Kitab Pusaka Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Yogyakarta: IAIN Sunan Kalijaga, 2002, hlm. 40
  8. [8]Hugo M. Satyapara, Ngawekani Pageblug Kanthi Miyose Kangjeng Kyai Tunggul Wulung, dalam Panjebar Semangat No. 25 / 19 Juni 2010, Surabaya, hlm. 8
  9. [9] Dr. H. Aboebakar Aceh, Sejarah Ka’bah dan Manasik Haji, Cetakan IV, Surakarta: Ramadhani, 1984, hlm. 116
  10. [10]Hugo M. Satyapara, Ngawekani Pageblug …, 9
  11. [11]Hugo M. Satyapara, Ngawekani Pageblug …, 8-9
  12. Sumber:
  13. http://susiyanto.com/bendera-tauhid-kasultanan-cirebon-dan-yogyakarta/

SYEH SITI JENAR

Posted by Ahmad Yanuana Samantho on Juni 7, 2013 in Ibrah SejarahIrfanSejarah Islam di Jawa BaratSejarah Wali Songo dan Waliyullah lainnya di NusantaraTolenransi Bhineka Tunggal Ika

By Husein Assegaff

Nama asli Syekh Siti Jenar adalah Sayyid Hasan ’Ali Al-Husaini, dilahirkan di Persia, Iran. Kemudian setelah dewasa mendapat gelar Syaikh Abdul Jalil. Dan ketika datang untuk berdakwah ke Caruban, sebelah tenggara Cirebon. Dia mendapat gelar Syaikh Siti Jenar atau Syaikh Lemah Abang atau Syaikh Lemah Brit.

Syaikh Siti Jenar adalah seorang sayyid atau habib keturunan dari Rasulullah Saw. Nasab lengkapnya adalah Syekh Siti Jenar [Sayyid Hasan ’Ali] bin Sayyid Shalih bin Sayyid ’Isa ’Alawi bin Sayyid Ahmad Syah Jalaluddin bin Sayyid ’Abdullah Khan bin Sayyid Abdul Malik Azmat Khan bin Sayyid ‘Alwi ‘Ammil Faqih bin Sayyid Muhammad Shohib Mirbath bin Sayyid ‘Ali Khali Qasam bin Sayyid ‘Alwi Shohib Baiti Jubair bin Sayyid Muhammad Maula Ash-Shaouma’ah bin Sayyid ‘Alwi al-Mubtakir bin Sayyid ‘Ubaidillah bin Sayyid Ahmad Al-Muhajir bin Sayyid ‘Isa An-Naqib bin Sayyid Muhammad An-Naqib bin Sayyid ‘Ali Al-‘Uraidhi bin Imam Ja’far Ash-Shadiq bin Imam Muhammad al-Baqir bin Imam ‘Ali Zainal ‘Abidin bin Imam Husain Asy-Syahid bin Sayyidah Fathimah Az-Zahra binti Nabi Muhammad Rasulullah Saw.

Syaikh Siti Jenar lahir sekitar tahun 1404 M di Persia, Iran. Sejak kecil ia berguru kepada ayahnya Sayyid Shalih dibidang Al-Qur’an dan Tafsirnya. Dan Syaikh Siti Jenar kecil berhasil menghafal Al-Qur’an usia 12 tahun.

Kemudian ketika Syaikh Siti Jenar berusia 17 tahun, maka ia bersama ayahnya berdakwah dan berdagang ke Malaka. Tiba di Malaka ayahnya, yaitu Sayyid Shalih, diangkat menjadi Mufti Malaka oleh Kesultanan Malaka dibawah pimpinan Sultan Muhammad Iskandar Syah. Saat itu. Kesultanan Malaka adalah di bawah komando Khalifah Muhammad 1, Kekhalifahan Turki Utsmani. Akhirnya Syaikh Siti Jenar dan ayahnya bermukim di Malaka.

Kemudian pada tahun 1424 M, Ada perpindahan kekuasaan antara Sultan Muhammad Iskandar Syah kepada Sultan Mudzaffar Syah. Sekaligus pergantian mufti baru dari Sayyid Sholih [ayah Siti Jenar] kepada Syaikh Syamsuddin Ahmad.Pada akhir tahun 1425 M. Sayyid Shalih beserta anak dan istrinya pindah ke Cirebon. Di Cirebon Sayyid Shalih menemui sepupunya yaitu Sayyid Kahfi bin Sayyid Ahmad.

Posisi Sayyid Kahfi di Cirebon adalah sebagai Mursyid Thariqah Al-Mu’tabarah Al-Ahadiyyah dari sanad Utsman bin ’Affan. Sekaligus Penasehat Agama Islam Kesultanan Cirebon. Sayyid Kahfi kemudian mengajarkan ilmu Ma’rifatullah kepada Siti Jenar yang pada waktu itu berusia 20 tahun. Pada saat itu Mursyid Al-Thariqah Al-Mu’tabarah Al-Ahadiyah ada 4 orang, yaitu:1. Maulana Malik Ibrahim, sebagai Mursyid Thariqah al-Mu’tabarah al-Ahadiyyah, dari sanad sayyidina Abu Bakar ash-Shiddiq, untuk wilayah Jawa Timur, Jawa Tengah, Bali, Sulawesi, Kalimantan, Nusa Tenggara, Maluku, dan sekitarnya2. Sayyid Ahmad Faruqi Sirhindi, dari sanad Sayyidina ’Umar bin Khattab, untuk wilayah Turki, Afrika Selatan, Mesir dan sekitarnya,3. Sayyid Kahfi, dari sanad Sayyidina Utsman bin ’Affan, untuk wilayah Jawa Barat, Banten, Sumatera, Champa, dan Asia tenggara4. Sayyid Abu Abdullah Muhammad bin Ali bin Ja’far al-Bilali, dari sanad Imam ’Ali bin Abi Thalib, untuk wilayah Makkah, Madinah, Persia, Iraq, Pakistan, India, Yaman.

Kitab-Kitab yang dipelajari oleh Siti Jenar muda kepada Sayyid Kahfi adalah Kitab Fusus Al-Hikam karya Ibnu ’Arabi, Kitab Insan Kamil karya Abdul Karim al-Jilli, Ihya’ Ulumuddin karya Al-Ghazali, Risalah Qushairiyah karya Imam al-Qushairi, Tafsir Ma’rifatullah karya Ruzbihan Baqli, Kitab At-Thawasin karya Al-Hallaj, Kitab At-Tajalli karya Abu Yazid Al-Busthamiy. Dan Quth al-Qulub karya Abu Thalib al-Makkiy.Sedangkan dalam ilmu Fiqih Islam, Siti Jenar muda berguru kepada Sunan Ampel selama 8 tahun. Dan belajar ilmu ushuluddin kepada Sunan Gunung Jati selama 2 tahun.Setelah wafatnya Sayyid Kahfi, Siti Jenar diberi amanat untuk menggantikannya sebagai Mursyid Thariqah Al-Mu’tabarah Al-Ahadiyyah dengan sanad Utsman bin ’Affan. Di antara murid-murid Syaikh Siti Jenar adalah: Muhammad Abdullah Burhanpuri, Ali Fansuri, Hamzah Fansuri, Syamsuddin Pasai, Abdul Ra’uf Sinkiliy, dan lain-lain.

KESALAHAN SEJARAH TENTANG SYAIKH SITI JENAR YANG MENJADI FITNAH adalah:

  1. Menganggap bahwa Syaikh Siti Jenar berasal dari cacing. Sejarah ini bertentangan dengan akal sehat manusia dan Syari’at Islam. Tidak ada bukti referensi yang kuat bahwa Syaikh Siti Jenar berasal dari cacing. Ini adalah sejarah bohong. Dalam sebuah naskah klasik, Serat Candhakipun Riwayat jati ; Alih aksara; Perpustakaan Daerah Propinsi Jawa Tengah, 2002, hlm. 1, cerita yg masih sangat populer tersebut dibantah secara tegas, “Wondene kacariyos yen Lemahbang punika asal saking cacing, punika ded, sajatosipun inggih pancen manungsa darah alit kemawon, griya ing dhusun Lemahbang.” [Adapun diceritakan kalau Lemahbang (Syekh Siti Jenar) itu berasal dari cacing, itu salah. Sebenarnya ia memang manusia yang akrab dengan rakyat jelata, bertempat tinggal di desa Lemah Abang]….
  2. “Ajaran Manunggaling Kawulo Gusti” yang diidentikkan kepada Syaikh Siti Jenar oleh beberapa penulis sejarah Syaikh Siti Jenar adalah bohong, tidak berdasar alias ngawur. Istilah itu berasal dari Kitab-kitab Primbon Jawa. Padahal dalam Suluk Syaikh Siti Jenar, beliau menggunakan kalimat “Fana’ wal Baqa’. Fana’ Wal Baqa’ sangat berbeda penafsirannya dengan Manunggaling Kawulo Gusti. Istilah Fana’ Wal Baqa’ merupakan ajaran tauhid, yang merujuk pada Firman Allah: ”Kullu syai’in Haalikun Illa Wajhahu”, artinya “Segala sesuatu itu akan rusak dan binasa kecuali Dzat Allah”. Syaikh Siti Jenar adalah penganut ajaran Tauhid Sejati, Tauhid Fana’ wal Baqa’, Tauhid Qur’ani dan Tauhid Syar’iy.
  3. Dalam beberapa buku diceritakan bahwa Syaikh Siti Jenar meninggalkan Sholat, Puasa Ramadhan, Sholat Jum’at, Haji dsb. Syaikh Burhanpuri dalam Risalah Burhanpuri halaman 19 membantahnya, ia berkata, “Saya berguru kepada Syaikh Siti Jenar selama 9 tahun, saya melihat dengan mata kepala saya sendiri, bahwa dia adalah pengamal Syari’at Islam Sejati, bahkan sholat sunnah yang dilakukan Syaikh Siti Jenar adalah lebih banyak dari pada manusia biasa. Tidak pernah bibirnya berhenti berdzikir “Allah..Allah..Allah” dan membaca Shalawat nabi, tidak pernah ia putus puasa Daud, Senin-Kamis, puasa Yaumul Bidh, dan tidak pernah saya melihat dia meninggalkan sholat Jum’at”.
  4. Beberapa penulis telah menulis bahwa kematian Syaikh Siti Jenar, dibunuh oleh Wali Songo, dan mayatnya berubah menjadi anjing. Bantahan saya: “Ini suatu penghinaan kepada seorang Waliyullah, seorang cucu Rasulullah. Sungguh amat keji dan biadab, seseorang yang menyebut Syaikh Siti Jenar lahir dari cacing dan meninggal jadi anjing. Jika ada penulis menuliskan seperti itu. Berarti dia tidak bisa berfikir jernih. Dalam teori Antropologi atau Biologi Quantum sekalipun.Manusia lahir dari manusia dan akan wafat sebagai manusia. Maka saya meluruskan riwayat ini berdasarkan riwayat para habaib, ulama’, kyai dan ajengan yang terpercaya kewara’annya. Mereka berkata bahwa Syaikh Siti Jenar meninggal dalam kondisi sedang bersujud di Pengimaman Masjid Agung Cirebon. Setelah sholat Tahajjud. Dan para santri baru mengetahuinya saat akan melaksanakan sholat shubuh.“
  5. Cerita bahwa Syaikh Siti Jenar dibunuh oleh Sembilan Wali adalah bohong. Tidak memiliki literatur primer. Cerita itu hanyalah cerita fiktif yang ditambah-tambahi, agar kelihatan dahsyat, dan laku bila dijadikan film atau sinetron. Bantahan saya: “Wali Songo adalah penegak Syari’at Islam di tanah Jawa. Padahal dalam Maqaashidus syarii’ah diajarkan bahwa Islam itu memelihara kehidupan [Hifzhun Nasal wal Hayaah]. Tidak boleh membunuh seorang jiwa yang mukmin yang di dalam hatinya ada Iman kepada Allah. Tidaklah mungkin 9 waliyullah yang suci dari keturunan Nabi Muhammad akan membunuh waliyullah dari keturunan yang sama. Tidak bisa diterima akal sehat.”Penghancuran sejarah ini, menurut ahli Sejarah Islam Indonesia (Azyumardi Azra) adalah ulah Penjajah Belanda, untuk memecah belah umat Islam agar selalu bertikai antara Sunni dengan Syi’ah, antara Ulama’ Syari’at dengan Ulama’ Hakikat. Bahkan Penjajah Belanda telah mengklasifikasikan umat Islam Indonesia dengan Politik Devide et Empera [Politik Pecah Belah] dengan 3 kelas:
  6. 1). Kelas Santri [diidentikkan dengan 9 Wali].
    2). Kelas Priyayi [diidentikkan dengan Raden Fattah, Sultan Demak].
    3). Kelas Abangan [diidentikkan dengan Syaikh Siti Jenar].
    Wahai kaum muslimin melihat fenomena seperti ini, maka kita harus waspada terhadap upaya para kolonialist, imprealis, zionis, freemasonry yang berkedok orientalis terhadap penulisan sejarah Islam. Hati-hati jangan mau kita diadu dengan sesama umat Islam. Jangan mau umat Islam ini pecah. Ulama’nya pecah. Mari kita bersatu dalam naungan Islam untuk kejayaan Islam dan umat Islam.

Jejak Syiah di Nusantara:

Studi Historis-Etnografis

Posted by Ahmad Yanuana Samantho on Agustus 14, 2015

Menurut A. Hasmy (1995) dan Ambary (1993), berdasarkan studi filologis atas Kitab Idrahul-Haq Fi Mamlakah Ferlak, penetrasi Syiah terjadi sejak awal perkembangan Islam ketika pada 172 H/764 M, karena tekanan politik penguasa Bani Abbasiyah, kelompok yang terdiri dari orang-orang Persian, Arab dan India bermigrasi ke Nusantara yang kemudian mendirikan Kesultanan Islam Peureulak di Aceh /840 dengan Sayyid Maulana Abdul Aziz Syah sebagai sultannya yang pertama.

Geneologi lengkapnya menurut MUI Kabupaten Aceh Timur adalah Sayyid Abdul Aziz bin Sayyid Ali bin Sayyid Muhammad al-Diba’ bin Imam Ja’far al-Shadiq bin Imam Muhammad al-Baqir bin Imam Ali Zaenal Abidin bin Imam Husein bin Imam Ali dan Fatimah binti Muhammad Rasulullah.

Dimasti sayyid tersebut berkuasa hanya sampai lima generasi, karena pada tahun 306/918 kaum sunni berhasil menumbangkan Kesultanan Syi’ah Peureulak dan mengangkat Alaidin Malik Abdulkadir Syah Johan Berdaulat sebagai sultan dari Dinasti Makhdum, yakni keturunan bangsawan penduduk pribumi, hingga pada masa Sultan Makhdum Alaidin Abdulmalik Syah Johan Berdaulat yang memerintah pada tahun 334-361/946-973.

Kaum syi’ah bangkit kembali melakukan pemberontakan yang apada akhirnya wilayalahKesultanan Peureulak dibagi dua, yakni: Peureulak Pesisir dengan ibukotanya bandar Peurelak dan Sultannya Alaidin Sayyid Maulana Mahmud Syah (365-377/976-988); dan Peurelak Pedalaman untuk kaum sunni dengan ibukotanya bandar Khalifah dan sultannnya makhdum Alaidin malik Ibrahim Syah Johan Berdaulat (365-402/976-1012).

Pada 375/986 Kerajaan Sriwijaya menyerang Kesultanan Peureulak dan dalam peperangan tersebut Sayyid Maulanan Mahmud Syah syahid, sehingga dengan demikian Sultan Makhdum Alaidin Malik Ibrahim Syah Berdaulat dari kaum Sunni menjadi penguasa tunggal Kesultanan Peureulak hingga generasi ke-14. Pada akhirnya Kesultanan Peureulak digabungkan ke dalam Kesultanan Samudra Pasai (1285-1478 M) dengan Malik al-Saleh sebagai sultannya yang pertama. Setelah runtuhnya Kesultanan Samudra Pasai, kemudian berdiri Kesultanan Aceh Darrussalam.

Proses difusi Islam di Nusantara secara massif terjadi sejak abad ke-12 M. Islam berangsur-angsur melampaui daerah pantai Sumatra dan Semenanjung Melayu, ke pantai utara pulau Jawa dan beberapa pulau di bagian Timur nusantara, hingga pada abad ke-16 sampai ke-18 berdiri kesulatan Demak, Mataram, Banten, Makassar dan Ternate Tidore. Para sufi -terutama keturunan Ahlul-bayt Nabi memainkan peranan yang signifikan dalam proses Islamisasi Nusantara.

Para sufi di Jawa pada abad ke-15 sampai ke-16 dikenal sebagai Wali Songo. Kesembilan Wali tersebut -kecuali Sunan Kalijaga dan Sunan Muria- secara geneologis adalah keturunan Ahlul-Bayt Nabi yang dikenal sebgai Sayyid Hadrami (berasal dari Hadramaut, Yaman).

Menurut Bruinessen (1995) dan al-Baqir (1998), semua sayyid Hadrami, adalah keturunan dari Imam Syiah keenam, Imam Ja’far as-Shadiq, melalui cicitnya Ahmad Muhajir, keturunan Nabi yang menetap di Hadramaut. Sayyid Ahmad Muhajir berasal dari Kota Basrah (Irak), karena tekanan politik rezim Bani Abbasiah, ia bersama kelaurga dan pengikutnya bermigrasi ke Hadramaut pada paruh pertama abad ke-4 H/10M.

Di Hadramaut, Ahmad Muhajir berhadapan dengan kaum khawarij yang ekstrim dan membenci Syiah sehingga ia melakukan taqiyah dengan mengikuti mazhab syafi’i.

Proses adaftasi kultural (taqiyyah) tersebut dalam perkembangannya sejarahnya membentuk tradisi keagaman sinkretik anata faham syiah dengan faham sunni mazhab syafi’i, hingga pada abad ke 7 H / 13 M. para sayyyid Hadrami lebih berorientasi kepada mistisme Islam (tassawuf).

JUMADI KUSUMA, alumni Antropologi FISIP Universitas Padjajaran Bandung

Rujukan:
1. Hasmy, A. 1995 Aceh: Kerajan Islam Pertama di Asia Tenggara. Dalam Lima puluh tahun Aceh membangun. banda Aceh: Majelis Ulama Indonesia Provinsi Istimewa Aceh.
2. 1983. Syiah dan ahlussunah saling rebut pengaruh dan kekuasan sejak awal sejarah Islam di kepulauan Nusantara.
3. Al-Baqir, M. 1986. Pengantar tentang kaum alawiyyin. Dalam A.S.A. haddad, Thariqah menuju kebahagiaan, bandung:Mizan.
4. Bruinessen, M.V. 1995.Kitab Kuning, peantren, dan tarekat; Tradisi-tradisi Islam di Indonesia. bandung:Mizan.

Ternyata Syiah Adalah Madzab Tertua di Indonesia

Posted by Ahmad Yanuana Samantho on Januari 16, 2014 in Uncategorized

May122013

Foto: “Sejarah Syiah nusantara dalam International Conference on Historical and Cultural Presence of Shias in Southeast Asia, di Universitas Gajah Mada Yogyakarta pada 21 Februari 2013”

Jogjakarta– Mazhab Syiah ternyata memberikan pengaruh yang tidak sedikit pada perkembangan Islam dan kebudayaan di Tanah Air. Doktor Muhammad Zafar Iqbal dalam buku Kafilah Budaya meruntut fakta tentang pengaruh- pengaruh itu. Persisnya, pengaruh Syiah di Ranah Minang, dari perayaan tabut hingga berbagai istilah di bidang pelayaran.

Dalam buku Kafilah Budaya, di samping ulama, para pedagang dan mubaligh Iran juga memiliki andil yang cukup besar dalam perkembangan Islam di Tanah Melayu. Lewat merekalah agama yang diturunkan melalui Nabi Muhammad SAW ini dikenal di Indonesia.

Untuk diketahui, Kerajaan Islam Perlak di Sumatra adalah kerajaan Islam pertama di Indonesia dan Asia Tenggara. Kerajaan ini didirikan oleh Sultan Alauddin Said Maulana Abdul Aziz Syah pada 225 Hijriah atau 840 Masehi. Syahdan, Raja Malaka Sultan Alauddin Syah mengangkat putranya sebagai penguasa di wilayah Pelabuhan Pariaman.

Sang putra kemudian mengembangkan ajaran Syiah di daerah tersebut. Dalam buku itu disebutkan juga, bahwa pasukan Dinasti Fatimiyah Mesir adalah yang membawa ajaran Syiah ke Minangkabau. Di daerah tersebut, mereka berkuasa lebih dari 200 tahun. Pada masa itu, Minangkabau merupakan Kerajaan Islam Syiah yang sangat kaya.

Menurut Arkeolog Islam Uka Tjandrasasmita, Islam yang dibawa oleh orang-orang Persia atau Iran ke Indonesia sudah berlangsung sejak abad ke-7 Masehi. Namun, masuknya pedagang-pedagang muslim dari Arab Saudi dan Iran ke daerah bagian Barat Indonesia melalui Selat Malaka baru terjadi abad ke-7.

Para pedagang Iran juga memperkenalkan Islam ke Jawa Tengah. Raden Fatah, raja Islam di Jawa saat itu, dikenal dengan Syah Alam Akbar. Kenyataan tersebut menjelaskan, bahwa pengaruh Iran melebihi daripada sebelumnya. Sementara itu, para sultan di Maluku juga berasal dari keturunan Ahlulbayt Rasulullah SAW.

Pengaruh Iran terhadap Indonesia kebanyakan dalam bidang kebudayaan, kesusastraan, pemikiran, dan tasawuf. Melalui tasawuf dan kebudayaan Islam, kecintaan tersebut menyebar ke negeri- negeri Islam lainnya dan karena itulah kebudayaan Iran pun dikenal. Mengenai Ahlulbait, orang-orang Iran memiliki cara khusus untuk mengenang peristiwa pembantaian Imam Husain AS pada bulan Muharram.

Peristiwa yang dikenal sebagai Tragedi Karbala ini merupakan sebuah pentas kepahlawanan dunia yang telah mempengaruhi kebudayaan bangsa- bangsa nonmuslim. Meski mayoritas muslim di Tanah Air bermazhab Syafii, hasil penelitian menunjukkan bahwa kecintaan muslim Indonesia kepada Ahlulbayt karena pengaruh orang- orang Iran.

Ongan Parlindungan dalam bukunya Tuanku Rao menulis bahwa orang-orang Syiah dari aliran Qaramitah telah memerintah di Minangkabau selama 300 tahun. Namun, pemerintahan ini tumbang akibat adanya gerakan Wahabi. Kelompok ini melakukan perlawanan yang dikenal Perang Padri pada awal abad ke-19 Masehi.

Dilaporkan, bahwa Kesultanan Pagaruyung di Minangkabau dikuasai para penganut Syiah Qaramitah. Adapun Kerajaan yang menguasai seluruh daerah Minangkabau berlangsung antara 1513 sampai 1804 Masehi. Di Kota Ulakan, orang-orang Syiah mendirikan sebuah perguruan tinggi di bawah binaan Tuanku Laksamana Syah Bandar Burhanuddin Awal yang datang dari Aceh. Di perguruan tinggi ini, sekitar 1.800 orang pintar Syiah Qaramitah melangsungkan kegiatan belajar-mengajar.

Masih menurut Parlindungan, keberadaan mazhab Syiah semakin kuat di Minangkabau. Ini karena pengaruh pelaksanaan kegiatan ritual Tabut pada setiap bulan Muharram guna mengenang Imam Husain AS. Selain itu ada ritual Basafar, yakni ziarah ke makam Syekh Burhanuddin Ulakan di setiap Rabu terakhir Bulan Shafar. Ini sebagaimana orang- orang Syiah yang berziarah ke Imam Maula Ali AS di Najaf dan ke Karbala guna berziarah ke Imam Husaian AS dan para Imam dari kalangan Ahlulbayt lainnya.

Berkat usaha Syekh Burhanuddin Awal Tuanku Ulakan dan masuknya Sultan Minangkabau ke dalam Islam pada akhir abad ke-16 masehi, ajaran Islam dari mazhab Syiah telah tersebar di seluruh Minangkabau. Menurut Budayawan MinangWisran Hadi, mudahnya tersebarnya mazhab Syiah di Minangkabau karena tidak berbenturan dengan ajaran lainnya, Sunni misalnya. Meski berbeda kata Wisran, perbedaan tersebut dijadikan bagian dari kehidupan. Apalagi konsep perbedaan itu dikekalkan hingga kini. “Semuanya jalan sampai sekarang,” kata Wisran.

Pengaruh Syiah juga terlihat pada ritual pembacaan doa untuk terhindar dari musibah atau tolak bala yang disebut dengan jampi Mantra dan pada tradisi pembacaan doa ratib. Masyarakat Melayu, misalnya, agar terhindar dari wabah penyakit membaca doa:

li khamsatun uthfi biha harral waba-i al-khatimah al- musthafa, wa al- murthada, wa ibnahuma, wa al- fatimah.

Artinya: Aku mempunyai Lima pegangan, yang dengannya kupadamkan penyakit-penyakit, yaitu Nabi (al- musthafa) yang terpilih, Ali (al- murtadha) yang diridhoi dan kedua anak mereka, al- Hasan, al-Husain dan Fatimah.

Syiah hadir di Nusantara sejak ribuan tahun lampau. Jejak sejarahnya bisa digunakan untuk meredam konflik Sunni-Syiah.

KETIDAKTAHUAN masyarakat terhadap sejarah dan ajaran Syiah dinilai berperan dalam menyulut bara konflik Sunni-Syiah di Indonesia hingga sekarang. Karena itu, bangsa ini mudah labil dalam menyikapi perbedaan dua aliran besar dalam Islam itu. Demikian dikatakan Husain Heriyanto,staf pengajar Universitas Indonesia, dalam International Conference on Historical and Cultural Presence of Shias in Southeast Asia, di Universitas Gajah Mada Yogyakarta pada 21 Februari 2013.

Ketidaktahuan itu tak hanya menimpa khalayak awam, tetapi juga pemuka agama. Kala budayawan Agus Sunyoto duduk di bangku pesantren, gurunya berpesan agar menjauhi ajaran Syiah. “Menurutnya Syiah itu anti-maulid, anti-wiridan, dan anti-ziarah. Padahal itu Wahabi,” kata Agus, penulis buku Atlas Wali Songo. “Keberadaan dan pengaruh Syiah telah mengakar di beberapa wilayah Nusantara sejak 1400 tahun lampau.”

Di Maluku Tengah, pengaruh ini terejawantah dalam bentuk tarian Ma’atenu. Tarian ini diperkenalkan masyarakat Hatuhaha. “Mereka komunitas muslim tertua di Maluku yang terbentuk sejak abad ke-8. Pemimpin mereka beroleh nasab dari Ali bin Abi Thalib. Karena itu, tarian ini ditujukan sebagai bentuk pujian untuk Nabi Muhammad, Ali, dan keturunannya.”[deleteisrael]

Sumber: Ensiklopedi Indonesia http://archive.is/ok5WH

 

 

 

Syair BAHTERA KESELAMATAN

oleh KH Abdullah bin Nuh

Ahlulbait Nubuwwah pengemban wasiat sepanjang zaman
Bahtera kehidupan dan bahtera keselamatan
Selagi bintang-bintang belum berguguran
Mereka tempat manusia menumpu harapan

Kesucian mereka terpatri kukuh dalam al-Qur’an
Diuraikan sabda Nabi di dalam Shahihan1
Tentera sebagai amanat dalam Hadith Tsaqalain2
Tiada kalimat meragukan orang beriman

Mereka bahtera penyelamat kemanusiaan
Dari taufan dan badai keduniaan
Mereka bintang-bintang pemandu jalan
Bagi setiap musafir ke alam kelanggengan

Betapa pun dahsyat gelombang kemunafikan
Hendak membenamkan mereka ke dasar lautan…
Betapa pun ganasnya muntahan lahar kedzaliman
Hendak menghanguskan mereka menjadi debu berserakan…

Dengan lindungan Ilahi mereka tegak tak terpunahkan
Dengan kebenaran Rasul-Nya mereka tangguh tak tergoyahkan
Dengan kecintaan ummatnya mereka tak tersingkirkan
Dengan kesucian darahnya mereka tak tercemarkan

Seandainya dahulu ada seribu Karbala dan Dzil Jausyan3
Bahtera ahlulbait tak akan karam dan bintang pun tak suram
Selagi Allah menghendaki kelestarian insan
Pengemban amanat kebenaran dan penentang kebatilan

Kemulian mereka titisan suci darah Rasulur-Rahman
Terpadu dengan kalam Ilahi di setiap dada beriman
Dalam Surah Al-Ahzab dan Aali Imran4
Hingga semua kembali ke Haud di Yaumil-Mizan5

Beruntunglah orang yang melaju dalam bahtera keselamatan
Mengikuti cahaya bintang di tengah samudra kehidupan
Celakalah orang yang enggan berlayar menyeberang laut
Memejamkan mata terhadap beribu bintang bertaburan

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Atlantis in the Java Sea

A scientific effort to match Plato’s narrative location for Atlantis

sembrani

bertukar ide, melampaui mimpi bersama

Nurul Wirda

Semerbak Mawar yang dengan senang hati memancarkan Cahayanya

aawanto

The greatest WordPress.com site in all the land!

Covert Geopolitics

Beyond the Smoke & Mirrors

Catatan Harta Amanah Soekarno

as good as possible for as many as possible

Women Terrace

to say something that i never talk before

Kanzunqalam's Blog

AKAL tanpa WAHYU, akan berbuah, IMAN tanpa ILMU

Cahayapelangi

Cakrawala, menapaki kehidupan nusantara & dunia

religiku

hacking the religion

SANGKAN PARANING DUMADI

Just another WordPress.com site

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

%d blogger menyukai ini: