1 Komentar

Foto Kamal Sasmita.
Kamal Sasmita

SAMPURASUN dalam Legitimasi dan Kajian Akademik Berdasarkan Tesis tentang Filosopis dan Symbolis KUJANG, Kajian Kosmologi Sunda, Aris Kurniawan, ITB, 2011 Halaman : 113 -114

1. Kabuyutan

Kata “kabuyutan” berasal dari kata “Buyut” yang bermakna leluhur, yang diberi imbuhan “Ka”, yang menunjukan tempat dan akhiran “An” yang berarti jamak. Kabuyutan secara keseluruhan bermakna tempat para leluhur dan sekaligus bermakna sebagai eksistensi nagara purba atau kedaulatan nagara yang dijunjung tinggi (disakralkan). Banyak simbol-simbol ajaran yang berasal dari gunung, seperti contoh: Simbol gunungan pada seni pertunjukan wayang.

Hal ini mengisyaratkan bahwa ajaran “kebajikan” dan “kebijakan” berasal dari gunung. Gunung bermakna Guru Nu Agung, yang berarti manusia yang sudah mencapai tingkat tertinggi dalam ilmu keilahian (spiritual), seperti tercantum dalam pantun; “Jut turun ti Galunggung”, yang berarti Jati Turun ti Galuh Hyang Agung. Jati bermakna turun atau lahir dari manusia yang agung. Maksud dari manusia yang agung ini adalah manu atau manusia yang sudah sampai pada tingkat “sampurna“ atau “purna” dalam tekad (niat/alam pikir), perkataan dan perbuatan (tekad, ucap jeung lampah dalam bahasa Sunda) dalam kehidupannya.

Manusia sampurna lahir ke dunia mempunyai tugas sebagai penyelamat alam semesta atau marcapada (buwana larang). Kebajikam / ajaran manusia sampurna tersebut dijadikan “salam” oleh para pengikutnya dengan ucapan “Sampurasun” dan di jawab dengan “Rampes” atau “Rampesan”. Kata sampurasun bermakna sampurna rasa ingsun, Rampes atau rampesan berarti nu sampurna, yaitu bentuk kebenaran yang disampaikan oleh manusia sampurna. Karena nilai kebenaran adalah perwujudan (manifestasi) dari nilai ke-Tuhan-an, maka suara kebenaran adalah bentuk suara ke-Tuhan-an pula. Hal ini dapat disimak dari pernnyataan “Sabda ing Pandita, sabda ing Pangersa” yang merupakan bentuk metafora dari pernyataan diatas.

Pemahaman dan penghayatan nilai kabuyutan mengandung makna sebagai sumber daya yang dapat memberikan tuntunan dan menjadi panutan ke arah keselamatan hidup. Paham atau ajaran tersebut senantiasa mengandung unsur-unsur yang tersurat dan tersirat. Unsur yang tersurat adalah apa yang secara jelas dinyatakan sebagai pola hidup yang harus dijalani, sedangkan yang tersirat adalah pemahaman yang komprehensif atas ajaran tersebut.

Ajaran Sunda Buhun (adab Sunda) pada dasarnya berangkat dari dua prinsip, yaitu Cara Ciri Manusia dan Cara Ciri Bangsa. Cara ciri manusia adalah unsur-unsur dasar yang ada di dalam kehidupan manusia. Ada lima unsur yang termasuk di dalamnya:
Welas asih bermakna cinta kasih
Undak-usuk bermakna tatanan dalam kekeluargaan
Tata krama bermakna tatanan perilaku
Budi bahasa dan budaya
Wiwaha Yudha Naradha bermakna sifat dasar manusia yang selalu memerangi segala sesuatu sebelum melakukannya

Apabila satu saja cara ciri manusia yang lain tidak sesuai dengan hal tersebut di atas, dapat dipastikan manusia Sunda tidak akan melakukannya. Prinsip yang kedua adalah Cara-Ciri Bangsa. Secara universal, semua manusia memiliki kesamaan di dalam hal Cara- Ciri Manusia. Namun, ada hal-hal tertentu yang membedakan antara manusia satu dengan yang lainnya. Dalam adab Sunda, perbedaan antar manusia tersebut didasarkan pada Cara-Ciri Bangsa yang terdiri dari:
Rupa
Adat
Bahasa
Aksara
Budaya

Kedua prinsip ini tidak secara pasti tersurat di dalam Kitab Siksa Kanda-ng Karesian. Namun secara mendasar, manusia sebenarnya justru menjalani hidupnya dari apa yang tersirat. Apa yang tersurat akan selalu dapat dibaca dan dihafalkan. Hal tersebut tidak memberi jaminan bahwa manusia akan menjalani hidupnya dari apa yang tersurat itu. Justru, apa yang tersiratlah yang bisa menjadi penuntun manusia di dalam kehidupan.

Kujang yang mewakili karakteristik budaya pegunungan atau girang disimbolkan dengan kujang Ciung dan Badak. Kujang Ciung melambangkan ajaran Sunda atau adab Sunda. Kujang Badak melambangkan ajaran Sunda atau adab Sunda yang kemudian menjadi Sundayana atau Galuh, sebagai bentuk implementasi ajaran yang diterapkan ke dalam sistem kanagaraan-tata nagara atau Nagara Kartagama (negara yang dilandasi nilai-nilai luhur agama).

Komentar
Nata Nagara Sumantri
Nata Nagara Sumantri AGAMA kata urang Sundamah Aturan Gawe Manusa. Kata “agama” bahasa Sanskerta, āgama yang berarti “tradisi” atau “A” berarti tidak; “GAMA” berarti kacau. Sehingga agama berarti tidak kacau !! Tanah Sunda ( Tanah leluhur Parahyangan ) itu lebih beradab buLihat Selengkapnya

Suka · Balas · 4 · 10 jam
Nata Nagara Sumantri
Nata Nagara Sumantri Kadang wargi sadaya mugi carincing pageuh kancing saringset pageuh iket, kenging info…saurna dinten senen payun bakal aya pergerakan FPI di payuneun gedong Sate…selebaran bewara ulemana dugi ka Jakarta sareng ka bogor saurna atas nami Asep Syarifudin ( aliansi pergerakan islam )…dina eusi eta ulemana ngipasan nyeuneuan kabencian !!…waspaos ulah ka pancing !

Suka · Balas · 3 · 10 jam
Denda Alamsyah
Denda Alamsyah SAMPURASUN!!!
Waspada Permana Tinggal mah tetap kedah diperhatoskeun ku Ki Dulur. Tapi omat miheulaan mah ulah. Manehna geus teu wani ngalawan tapi terus provokasi karna sacara kasus geus kapojok. Mun urang nu anarki ti heula manehna bakal meunang dinaLihat Selengkapnya

Suka · Balas · 2 · 7 jam
Nata Nagara Sumantri membalas · 1 balasan
Iklan

One comment on “

  1. Salam,
    Sayang artikel dan komentarnya berbahasa sunda,saya agak kurang paham,memang pada hakikatnya,guru yang sejati sebetulnya adalah alam.
    Gunung,dataran,lembah,sungai,dan samudra adalah siklus energi yang sangat penting.tanpa keseimbangan salah satunya,maka bumi ini akan bergoncang.yang namanya bangsa manusia adalah pengemban amanat tertinggi sebagai penjaga keseimbangan tersebut.
    Kita berbeda beda suku,bahasa,,warna kulit,ketrampilan,dan tersebar merata di permukaan bumi yang berbeda beda sebetulnya dalam rangka menjaga keseimbangan tersebut.
    Bila permukaan bumi kesemuanya berupa gunung,atau dataran,atau lembah,atau sungai,atau samudra,maka hal itu adalah kemustahilan,karena keseimbangan energi tidak akan tercapai.
    Maka sangat egois bila kita mengharapkan keseluruhan umat manusia harus berkarakter sama,pemikiran sama,berkepercayaan sama,dan melakukan aktifitas yang sama.ini ibarat kita mengharap permukaan bumi hanya berupa gunung,atau dataran,atau lembah,atau sungai,atau samudra saja.
    Oleh karena itu sudah sewajarnya apabila ada bangsa berkarakter gunung,ada yang berkarakter dataran,ada yang berkarakter lembah,ada yang berkarakter sungai,dan yang berkarakter samudra.kesemuanya akan bisa hidup berdampingan,saling membutuhkan,saling melengkapi.dan jalan inilah sebenarnya fitrah manusia .
    Wassalam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Atlantis in the Java Sea

A scientific effort to match Plato’s narrative location for Atlantis

sembrani

bertukar ide, melampaui mimpi bersama

Nurul Wirda

Semerbak Mawar yang dengan senang hati memancarkan Cahayanya

aawanto

The greatest WordPress.com site in all the land!

Covert Geopolitics

Beyond the Smoke & Mirrors

Catatan Harta Amanah Soekarno

as good as possible for as many as possible

Women Terrace

to say something that i never talk before

Kanzunqalam's Blog

AKAL tanpa WAHYU, akan berbuah, IMAN tanpa ILMU

Cahayapelangi

Cakrawala, menapaki kehidupan nusantara & dunia

religiku

hacking the religion

SANGKAN PARANING DUMADI

Just another WordPress.com site

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

%d blogger menyukai ini: