1 Komentar

Membincangkan Manusia sebagai Strategi Deradikalisasi Pemahaman Agama

Refleksi Aktual Menjelang Konferensi Internasional THuSI 18-19 Nov. 2015
Membincangkan Manusia sebagai Strategi Deradikalisasi Pemahaman Agama
 
Husain Heriyanto
Ketua SC IC-THuSI
 
Di satu sisi, ruang imajinasi publik/umat sudah dijejali oleh penanda (signifier) dan ikon-ikon keagamaan yang dangkal, cetek, dan penuh amarah murka tanpa visi kemanusiaan sedikitpun, dan di lain sisi publik pun sudah terlalu sering mendengar lagu dan khutbah indah tentang Islam bahwa “Islam adalah agama yang memuliakan manusia”, bahwa “Islam adalah rahmatan lil’alamin”, dan seterusnya.  Akan tetapi, kedua sisi ini kerapkali sama-sama bermain dalam dunia penanda yang miskin petanda (signified) sehingga lebih banyak berhenti dalam jargon dan simbol tanpa menggali makna.

 Persepsi yang pertama telah berhasil memproduksi sementara generasi muda Islam yang mengidap penyakit TBC postmodern, yaitu Takfiri, Bodoh, Culas (pemahaman keagamaan yang enteng sekali mengkafirkan kelompok lain yang berbeda hanya semata karena kebodohan dan didorong oleh keculasan).  Takfiri, Bodoh dan Culas masing-masing merupakan dimensi teologis, epistemologis, dan aksiologis. Takfiri merupakan pandangan dan sikap ekstrimisme yang menuhankan pemahaman diri sendiri/kelompok. Bodoh merupakan kualitas jiwa yang menolak penggunaan nalar sehat dan argumen rasional. Culas adalah perilaku yang menghalalkan segala cara “demi tujuan dakwah” termasuk kebohongan, fitnah, dan hasutan adu domba. Ketiga elemen TBC ini benar-benar telah memporakparandakan umat centang perenang dalam keterpurukan moral, sosial, intelektual, spiritual, dan keberadaban.
Adapun persepsi kedua adalah antitesis dari pemahaman agama TBC posmo, yang tentu saja dalam pandangan pendukung, lebih tepatnya disebut sebagai tesis asli ajaran Islam itu sendiri. Justru pemahaman agama TBC lah yang sesungguhnya antitesis atau bertentangan dengan prinsip-prinsip Islam. Kita sangat bersyukur bahwa masih banyak umat, dengan bimbingan ulama yang berakar pada tradisi Islam dan intelektual Muslim yang saleh dan visioner, yang meyakini dan menyuarakan bahwa Islam merupakan agama yang dihadirkan untuk penyempurnaan proses menjadi manusia; bahwa Islam lahir untuk kemanusiaan; Islam adalah peradaban.
Namun, rasa syukur ini mestinya mendorong hati dan nalar kita bekerja bagaimana membangun INFRASTRUKTUR PEMAHAMAN AGAMA ISLAM-HUMANIS tersebut secara sungguh-sungguh, yakni dikerjakan dengan komitmen tinggi secara cerdas dan ilmiah melalui pelbagai aktivitas keilmuan dan riset. Dengan kata lain, pemahaman Islam yang kita yakini sebagai metode penyempurnaan manusia secara moral intelektul dan spiritual ini, harus ditegakkan dengan kerangka kerja epistemologis dan metodologis sedemikian rupa sehingga ia menjadi “air” bagi umat yang haus, “pangan” bagi umat yang lapar, “energi” bagi umat yang hendak bekerja, “jalan” bagi umat yang bergerak”, “transportasi” bagi umat yang berpindah, “irigasi” bagi umat yang bertani, dan “rumah” bagi umat yang hendak istirahat. Sayangnya, seperti pembangunan nasional kita sejak Orde Baru yang gegap gempita dalam hirup pikuk pembangunan suprastruktur (mall, kendaraan, impor barang-barang konsumtif dan mewah) tetapi amburadul dalam pembangunan infrastruktur (air, listrik, jalan, rumah, irigasi, transportasi publik), demikian pula praksis keagamaan Islam di Indonesia pada umumnya, yang hingar bingar dalam khutbah di masjid atau heboh tausiyah di media massa, cetak dan elektronik, tetapi teramat sepi dalam aktivitas keilmuan dan spiritualitas yang mendayagunakan nalar dan nurani secara sungguh-sungguh.
Salah satu pintu gerbang membangun “infrastruktur pemahaman Islam-humanis-transenden” itu adalah dengan memasukkan studi tentang manusia sebagai bagian integral dari studi Islam. Maksudnya, pengenalan diri sebagai manusia dengan segenap karakteristiknya harus dipandang sebagai ajaran esensial Islam, bukan hanya atribut aksidental atau tambahan pelengkap seperti yang terjadi selama ini hampir di seluruh dunia Islam. Mereka yang dijuluki ahli agama umumnya hanya dikaitkan keahlian dalam fiqh(hukum Islam) atau kalam (teologi) atau hapal Al-Qur’an atau ahli hadis atau cakap berbahasa Arab atau berjubah dan pelihara jenggot. Sebaliknya, hampir tidak ada tokoh yang mendalam pemahamannya tentang jati diri manusia atau pegiat kemanusiaan yang sungguh-sungguh (yang otentik) yang dikategorikan sebagai “seorang yang agamawan”.   Yang lebih layak disebut agamawan itu adalah yang bertitel haji meskipun korupsi atau tamatan Ngruki atau Makkah atau Kairo atau Qum meskipun siang malam sibuk menghasut umat dan mengelabui publik. Itulah kenyataan yang kita lihat di dunia Islam pada umumnya hari ini.
Peradaban Islam sesungguhnya memiliki tradisi yang kuat dan kaya dalam studi kemanusiaan, yaitu melalui filsafat (hikmah) dan tasawwuf (‘irfan). Dalam studi filsafat dan ‘irfan lah kita temukan karya-karya yang membahas manusia secara mendalam dan menukik tajam ke akar eksistensi dan esensi manusia itu sendiri. Ibn Sina mendefinisikan filsafat sebagai jalan penyempurnaan jiwa manusia (takamul al-nafs). Ibn al-‘Arabi dan al-Jilli mengemukakan doktrin “manusia sempurna” (insan kamil); ada pula Jalaluddin Rumi yang banyak berbicara tentang cinta dan menjuluki manusia tidak saja sebagai mikrokosmos tetapi bahkan makrokosmos. Banyak filsuf Muslim dan sufi lain yang membincangkan manusia secara hakiki dan esoteris serta sangat inspiratif, yang bukan konteksnya sekarang saya menguraikan hal ini.
Akan tetapi, karena kedua anak kandung peradaban Islam itu – filsafat dan ‘irfan – sering dihujat sebagai anak haram atau dianggap sebagai heterodoks atau hasil perselingkuhan dengan ajaran asing, maka kedua studi  ini – yang masing-masing merupakan representasi tradisi intelektual dan spiritual – tidak lagi hidup dan berkembang di dunia Islam umumnya, bahkan hampir padam (sebagaimana yang dikeluhkan oleh Jamaluddin al-Afghani). Dengan kondisi seperti itu, padamnya sumbu intelektual dan spiritual Islam, bagaimana kita bisa berharap umat Islam membangun peradaban; tanpa kedua kapasitas khas kemanusiaan ini, hanya kebiadaban yang akan muncul, bukan peradaban.
Di samping itu, kita juga harus mengakui bahwa sarjana Muslim sendiri termasuk pengkaji filsafat dan ‘irfan pada umumnya terjebak dalam sentimen apologetik yang ahistoris dan  logosentris yang menyebabkan mereka kurang peduli dengan dinamika realitas yang seharusnya direspons secara kreatif. Akibatnya, tidak seperti di dunia Barat di mana para filsufnya menjadi sokoguru kelahiran dan perkembangan ilmu-ilmu sosial humaniora (antropologi, sosiologi, psikologi, politik, ekonomi, pendidikan), para sarjana Muslim lebih banyak berkutat menyelami teks-teks klasik tanpa minat dan kemampuan menerjemahkan dan mengelaborasinya lebih lanjut untuk memahami persoalan dan tantangan umat dan kemanusiaan hari ini.
Nah, dalam konteks dan latar belakang yang digambarkan di muka itulah sebuah pertemuan sarjana dunia yang berminat dengan studi manusia dalam perspektif Islam digelar; itulah IC-THuSI, singkatan dari International Conference – Thoughts on Human Sciences in Islam. Diorganisir oleh Sadra International Institute-Jakarta, tahun ini adalah konferensi yang kedua setelah sukses pada konferensi pertama tahun lalu 2014 menghadirkan 70-an sarjana dari 15 negara.  Pertemuan ilmiah ini adalah salah satu medium untuk mendorong para sarjana Muslim (pengkai filsafat, ‘irfan, studi Islam, sosiologi, psikologi, antropologi, politik, ekonomi) untuk melakukan penelitian, permenungan, dan penelitian lanjutan lagi dalam mengembangkan ilmu-ilmu manusia (sosial humaniora) yang lebih sesuai dengan realitas kemanusiaan (fitrah) dan sejalan dengan dimensi transendensi dan keruhanian Islam, yang pada gilirannya lebih mampu menjawab permasalahan kemanusiaan hari ini yang amat kompleks dan multidimensional. 
Dalam konferensi THuSI 18-19 November mendatang, ada seorang sarjana Amerika Serikat, Dr. Syu’aib Eric Winkel, yang akan mempresentasikan papernya “Ibn ‘Arabi’s Love and Socio-cultural Implications”. Peneliti yang telah menerjemahkan ribuan halaman karya-karya Syaikh Akbar ini berusaha menjelaskan pengertian cinta dan Tuhan sebagai Pencinta lalu relevansinya atau implikasi pandangan ini secara sosial-kultural dalam konteks kehidupan sehari-hari. Dari dalam negeri tampil Dr. Haidar Bagir yang akan mengekplorasi perspektif ‘irfani dalam memahami isu relasi Islam dan budaya lokal termasuk di dalamnya akan menyinggung gagasan populer “Islam Nusantara”.
Dari Iran, negeri yang banyak mencetak filsuf dan sufi, ada Prof. Dr. Hujjatul Islam Hamid Parsania – penulis buku Spiritual Anthropology– yang akan mengulas karakteristik epistemologi Islam dan relevansinya dengan pengembangan paradigma baru ilmu-ilmu manusia yang holistik. Sementara dari Malaysia, tampil Prof. Dr. Azila Ahmad Sarkawi – yang mengirim tiga paper bersama timnya dari International Islamic University of Malaysia (IIUM)- akan banyak mendeskripsikan apa yang disebutnya sebagai “Islamization of human knowledge” dalam konteks institusi IIUM. Akan hadir pula pengajar Qatar University, Dr. Edwar Omar Moad, yang akan membahas konsep “Islamic State” secara historis dan kritis-analitik dengan merujuk kepada pemikiran Wael Hallaq. Sementara Dr. Syed Mehboob Hasan Bukhori (Karachi University, Pakistan) akan menyuguhkan pandangan kritisnya terhadap agenda “Islamization of science” dengan menyebutnya sebagai bentuk pengukuhan identitas yang melahirkan problem “sense of the other”.  Melanjutkan kontribusinya tahun lalu, Prof. Dr. Masudul Alam Choudhury, salah seorang dedengkot sarjana ekonomi Islam yang aktif di Kanada, juga akan menyampaikan paper “Interrelations between the Principles of Tawhid, Al-Wasatiyyah, and Maqasid al-Shariah”.  Dan masih banyak lagi sarjana tanah air dan beberapa negara lainnya yang telah turut menyumbang pemikiran ilmiah mereka (terhitung 87 judul paper/abstrak).
Penyampaian hasil penelitian dan kajian para sarjana ini merupakan bagian penting dari apa yang saya sebutkan di muka, yaitu “membangun infrastruktur pemahaman Islam-humanis-transenden” melalui serangkaian aktivitas ilmiah dalam ilmu-ilmu manusia. Dengan memulai tradisi kajian filosofis dan metodologis terhadap ilmu-ilmu manusia dalam perspektif Islam ini, diharapkan dan ditargetkan bahwa studi manusia menjadi terkait secara organis-integratif dengan studi-studi keislaman. Jika hal itu tercapai secara ilmiah dan metodologis (tidak hanya jargon teologis), maka secara dini di dunia pendidikan Islam para pelajar kita akan dididik untuk memiliki pandangan yang humanistik-transenden yang bertemali dan satu napas dengan pemahaman keagamaan dan pengalaman keruhanian mereka.  Dan itu berarti program deradikalisasi telah berjalan secara mendasar, alami, dan menyeluruh.
Jadwal Acara Conferens:

One comment on “Membincangkan Manusia sebagai Strategi Deradikalisasi Pemahaman Agama

  1. Salam,
    Pada suatu hari,iseng saja saya membuka AL QURAN.saya terkejut dengan sindiran tuhan.dikatakan bahwa menghadapi hari akhir,manusia seakan akan anai anai(laron)yang beterbangan.
    Laron adalah binatang yang sangat rapuh.kurang bisa hidup di atas permukaan tanah,dan juga kurang bisa hidup di dalam tanah.
    Hal ini disebabkan karena level energinya hanya 64 sekala alam(SA)**.
    Seperti kita ketahui bahwa tempat terpanas di permukaan bumi berenergi 33 SA,dan tempat terdingin di permukaan bumi berenergi 193 SA
    Sedangkan manusia hampir bisa merasakan kehidupan pada kisaran energi 32 sampai128 SA.
    Bila manusia seperti laron,berarti tubuhnya hanya bisa memproduksi dan reproduksi energi dalam kisaran yang sangat sempit dan dalam skala yang sangat kecil.maka manusia akan mempunyai sifat sebagai berikut:
    1 .tidak mudah beradaptasi terhadap lingkungan dengan baik.
    2 .tidak bisa berfikir dengan jernih.
    3 .mengerjakan sesuatu selalu dengan tergesa gesa.
    4 .selalu memburu angan angannya tanpa didukung dengan pengertian yang baik.
    5 .pada akhirnya bila ada yang tidak sesuai dengan harapannya,orang lain yang di salahkan.
    6 .cita cita setinggi langit,tetapi usaha minimal.
    7 .tidak punya pendirian yang kuat.
    Wassalam.
    **)SA! Satuan Alam,adalah skala energi sesuai dengan pedoman cakra.perhitungannya berdasar koordinat benda terhadap pusat cakra,dimensi benda,phase(sudut)dan anatomi dasarnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

sembrani

bertukar ide, melampaui mimpi bersama

Nurul Wirda

Semerbak Mawar yang dengan senang hati memancarkan Cahayanya

aawanto

The greatest WordPress.com site in all the land!

Covert Geopolitics

Beyond the Smoke & Mirrors

Catatan Harta Amanah Soekarno

as good as possible for as many as possible

Women Terrace

to say something that i never talk before

Kanzunqalam's Blog

AKAL tanpa WAHYU, akan berbuah, IMAN tanpa ILMU

Cahayapelangi

Cakrawala, menapaki kehidupan nusantara & dunia

religiku

hacking the religion

SANGKAN PARANING DUMADI

Just another WordPress.com site

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

%d blogger menyukai ini: