Tinggalkan komentar

Taprobana adalah Kalimantan, bukan Sri Lanka atau Sumatera

SELASA 13 OKTOBER 2015 01:05 WIB

DIBACA (468)
KOMENTAR (0)

Oleh Dhani Irwanto, 12 Oktober 2015indonesiana-Dhani Irwanto

Daftar Isi

 

Latar Belakang

HeadingTaprobana (Yunani Kuno: Ταπροβανα) atau Taprobane (Ταπροβανη) adalah sebuah nama bersejarah untuk sebuah pulau di Samudera Hindia. Onesicritus (ca 360 SM – ca 290 SM) adalah penulis pertama yang menyebutkan pulau Taprobana. Nama itu juga dilaporkan di Eropa oleh Megasthenes, seorang geografer Yunani, sekitar tahun 290 SM, dan kemudian digunakan oleh Ptolemy dalam risalah geografisnya untuk mengidentifikasi sebuah pulau yang relatif besar di sebelah selatan benua Asia. Meskipun lokasi yang tepat untuk nama tersebut masih belum jelas, beberapa ilmuwan menganggapnya sebagai penafsiran yang kurang jelas tentang beberapa pulau, termasuk Sumatera dan Sri Lanka.

Pulau ini menjadi perhatian di Eropa selama penaklukan Alexander Agung. Kedua laksamananya, Nearchus dan Onesicritus, menyebutkan nama Taprobana dalam laporan mereka kepada Alexander. Nearchus yang telah berlayar melewati ujung selatan India, menggambarkan telah mencium bau kayu manis yang menguar dari sebuah pulau dalam perjalanannya. Megasthenes, duta Seleucus untuk istana Chandragupta Maurya, melaporkan lebih rinci lagi. Beberapa kartografer dan sejarawan Romawi mempertentangkan mengenai ukuran, bentuk dan posisi Taprobana sebelum Claudius Ptolemy menggambarkannya sebagai sebuah pulau besar “Taprobana” dalam Geographia, yang ditulis sekitar tahun 150 M, ukurannya enam kali sub-benua India dan mengangkangi khatulistiwa.

Setelah jatuhnya Romawi, pengetahuan geografi Eropa memasuki Zaman Kegelapan yang lebih mendalam daripada kebanyakan disiplin ilmu lainnya. Seperti banyak buku-buku dan karya-karya ilmiah kuno, terutama yang terdapat di Perpustakaan Alexandria, karya Ptolemy hilang selama lebih dari seribu tahun di kalangan para ilmuwan Barat. Pada akhir tahun 1400-an, setelah para ilmuwan Renaisans mempelajari tulisan-tulisan para ilmuwan Muslim yang telah menyimpan banyak pengetahuan klasik yang telah hilang di kalangan Barat, karyanya ditemukan kembali dan diterjemahkan kedalam bahasa Latin, bahasa para ilmuwan Barat yang lebih umum digunakan pada saat itu. Geographia menjadi populer sekali lagi dan telah dicetak lebih dari 40 edisi.

Dalam Geographia, Ptolemy menjelaskan dan mengumpulkan semua pengetahuan tentang dunia geografi di Kekaisaran Romawi dari abad ke-2 Masehi. Sebuah usaha besar dalam kalangan para ilmuwan pada masa itu, Geographia ditulis dalam delapan jilid. Bagian pertama membahas masalah proyeksi, yaitu menggambarkan bumi yang bulat pada kertas yang datar. Bagian kedua meliputi tujuh jilid dan seluruhnya terdiri dari atlas.

Satu masalah yang ditemui oleh para sejarawan modern ketika meneliti karya Ptolemy adalah bahwa karya-karyanya semua disalin dengan tangan dan kemudian didistribusikan. Banyak dari peta-petanya tidak digambar ulang ketika menyalin dan kebanyakan salinannya tanpa melampirkan gambar-gambarnya; bahkan buku-buku dan peta-peta yang dibuat berabad-abad kemudian hanya berdasarkan deskripsi atau peta yang sudah hilang. Salah satu sumber yang menunjukkan masalah ini adalah al-Mas’udi, seorang ilmuwan Arab, yang menulis sekitar tahun 956 M dan menyebutkan bahwa Geographia-nya Ptolemy meliputi peta-peta berwarna yang menyantumkan lebih dari 4.530 kota dan lebih dari 200 gunung. Dalam peta dunia Ptolemy, ia mengidentifikasi banyak wilayah geografis termasuk Taprobana dan Aurea Chersoneus.

Taprobana telah menjadi subyek perdebatan. Genenerasi-generasi berikutnya dalam membaca deskripsi yang samar mengenai pulau tersebut kemudian berselisih atas apa yang dimaksudkan oleh pendahulu mereka. Para ilmuwan pada abad ke-18 dan ke-19 mulai menganalisis bahwa Ptolemy telah mengalami kerancuan dalam menyebutkan Sri Lanka dan Sumatera, atau bahkan ujung selatan semenanjung India. Pada akhirnya, selama berabad-abad tidak berhasil untuk menetapkan satu tempat dengan label “Taprobana”.

Nama Taprobana telah diterapkan kepada Sumatera dari abad ke-15 dan seterusnya, setelah kesalahpahaman oleh penjelajah Italia Nicolo di Conti. Conti adalah wisatawan Eropa pertama yang membedakan Sri Lanka dari Taprobana dan mengidentifikasikannya sebagai Sumatera, dengan penekanannya bahwa pulau itu mengangkangi khatulistiwa. Selanjutnya, geografer, sejarawan, kosmografer dan pemikir lainnya menjadi terlibat dalam kontroversi mengenai identifikasi persisnya. Kebingungan mulai timbul, apakah Taprobana yang digambarkan oleh Mappaemundi pada Atlas Hereford, Ebstrof dan Catalan serta Planisfer Fra Mauro dan Bola Dunia Martin Behaim adalah Sri Lanka atau Sumatera. Peta-peta seperti “Cantino”, “Caverio” dan “Contarini” telah menyesatkan pembaca kontemporer yang selanjutnya meneruskan kebingungan ini baik melalui diskusi secara implisit kasual atau bahkan menggambarkan secara eksplisit pada peta, yang kemudian menyebarkannya secara naif, dengan tingkat ketelitian yang sama dengan sumbernya dan memproduksinya untuk pengguna langsung.

Keganjilan-keganjilan geografis Taprobana telah menarik perhatian tokoh-tokoh terkemuka sejarah Barat, yaitu Ramusio, Gossellin, Kant dan Cassini yang tertarik dengan dilemma diatas, dan berusaha untuk menyelesaikan masalah Taprobana dengan mengidentifikasi kawasan-kawasan mulai dari Sumatera sampai ke Madagaskar. Geografer, sejarawan dan budayawan Fenesia Ramusio dengan mengandalkan keterangan dari anonim Portugis dan berdasarkan data geografi dan astronomi berusaha untuk mencocokkan lokasi dan dimensi Sumatera dengan posisi dan ukuran pulau yang diklaim telah ditemukan oleh Iambulus, seorang pedagang Yunani. Kesimpulannya adalah bahwa  Taprobana yang disebutkan oleh penulis klasik adalah Sumatera.

Taprobana juga tergambar pada peta Sebastian Munster pada tahun 1580 dengan judulSumatera Ein Grosser Insel (“Sumatera, sebuah pulau besar”). Perdebatan sebelumnya telah menetapkan dan mendukung Sri Lanka, namun tampilan peta Munster yang lebih baru tersebut menghidupkan kembali perdebatan tersebut. Peta Munster adalah suatu “contoh yang baik” tentang kesulitan para pembuat peta Renaisans dalam menempatkan benua-benua pada peta dunia. Hal ini menunjukkan kebingungan para kartografi Eropa dalam memahami geografi Asia.

Yang masih membingungkan semua orang adalah tentang ukuran Taprobana oleh Ptolemy yang benar-benar berlebihan apabila yang dimaksudkan adalah Sri Lanka. Sebaliknya, sub-benua India yang terlihat pada peta digambarkan jauh lebih kecil dari yang sebenarnya. Padahal Sri Lanka pada zaman Ptolemy adalah sebuah pulau terkenal yang terletak di Samudera Hindia, dan India dan produk-produknya juga sama-sama sudah dikenal dari era pra-Kristen, dimulai dengan pendudukan Persia di wilayah itu sampai ke Sungai Sind dan berikutnya penaklukan oleh Alexander melalui perdagangan laut.

Sebaliknya, Taprobana, meskipun ukurannya yang menakjubkan, telah disebutkan oleh Ptolemy dengan perdagangan gajah dan rempah-rempah bermutu tinggi. Sri Lanka dan Sumatera keduanya dikenal dengan dua komoditas ini; Sumatera lebih dikenal dengan rempah-rempahnya tetapi Sri Lanka memiliki catatan sejarah tentang gajah yang lebih baik. Kecerdasan yang dimiliki oleh gajah Sri Lanka dan kemudahannya untuk digunakan sebagai transportasi di seluruh sub-benua India mungkin yang menjadikan preferensi untuk memilih Sri Lanka. Gajah Sri Lanka mulai dimanfaatkan secara besar-besaran hanya setelah gajah Afrika Timur menyusut populasinya.

Kembali ke Daftar Isi

Sejarah Perdagangan dengan Asia Tenggara

Di bawah hegemoni Kekaisaran Mongolia atas Asia (Mongolica Pax, atau Perdamaian Mongolia), Eropa telah lama menikmati jalan darat yang aman, Jalan Sutera ke India (Hindia, wilayah yang jauh lebih besar dari India modern) dan Tiongkok, yang memiliki sumber barang berharga seperti rempah-rempah dan sutera.

Pada awal abad Masehi, India dan Barat menyebut Asia Tenggara sebagai “Golden Khersonese” (“Tanah Emas”), dan tidak lama setelah itu kawasan ini menjadi terkenal karena lada dan produk-produk hutan tropisnya; awalnya berupa kayu dan resin yang aromatik, dan kemudian termasuk pula rempah-rempah yang terbaik dan paling langka. Dari abad ketujuh sampai kesepuluh, orang Arab dan Tiongkok berfikir tentang emas di Asia Tenggara, serta rempah-rempah. Para pelaut dari pelabuhan di Samudera Atlantik pada abad kelimabelas, berusaha berlayar melalui lautan yang tidak diketahui pada belahan bumi yang berlawanan untuk menemukan Kepulauan Rempah-rempah ini. Mereka semua tahu bahwa Asia Tenggara adalah pusatnya rempah-rempah di dunia. Dari sekitar 1000 M sampai dengan ‘era industri’ abad kesembilanbelas, semua perdagangan dunia kurang lebih diatur oleh pasang surut dan aliran rempah-rempah yang keluar dari Asia Tenggara.

Sepanjang abad ini, wilayah dan produk-produknya tidak pernah kehilangan kualitas unggulnya. Pohon kelapa, pantai-pantai yang panjang, lereng gunung yang curam dan ditutupi vegetasi subur, burung dan bunga dengan warna cemerlang, serta matahari tropis yang terbenam berwarna oranye dan emas telah mempesonakan para pengunjung serta masyarakatnya sendiri selama berabad-abad. Dikabarkan bahwa pada tahun-tahun terakhir abad keenam belas kapal Belanda pertama kali tiba di salah satu pulau di kepulauan Indonesia, seluruh kru turun dari kapal, dan kapten mereka butuh dua tahun untuk mengumpulkannya demi perjalanan pulang ke Belanda.

Dalam perdagangan internasional melalui darat dan laut, beberapa kerajaan besar telah terlibat. Pada ujung barat Rute Kafilah (darat) dan laut (terkenal dengan istilah “Jalan Sutera”) adalah Kekaisaran Romawi, yang pada saat itu termasuk wilayah-wilayah di seluruh Mediterania, Mesir, Levant dan Saudi. Dari sana rute perdagangan bergerak kearah timur melalui kerajaan Partia dan Kushan di Asia Tengah dan India utara, melalui tanah Shaka (Indo-Scythia) dan Shatavahana di India utara dan tengah, sampai dengan kerajaan-kerajaan di India Selatan seperti Cheras, Pandya dan Chola, dan terus melalui Sri Lanka dan Teluk Benggala, sampai ke Funan di Vietnam Selatan sekarang dan ke Tiongkok, di ujung timur Jalan Sutera. Dinasti Han di Tiongkok berdagang secara tidak langsung dengan Romawi, baik itu pada Rute Kafilah yang melalui Asia Tengah ke India, Teluk Persia dan akhirnya ke Mediterania timur, ataupun pada Rute Maritim, dari Laut Tiongkok Selatan, Samudera Hindia, Teluk Persia, Laut Arab dan Laut Merah sejauh Alexandria dan Roma. Kepulauan Asia Tenggara dengan obat-obatan, rempah-rempah dan zat yang aromatik, kayu berharga dan cangkang kura-kuranya adalah merupakan penghubung yang penting dalam jaringan perdagangan dan interkoneksi benua yang luas.

Dengan jatuhnya Konstantinopel ke Turki Ottoman pada tahun 1453, jalur darat ke Asia menjadi jauh lebih sulit dan berbahaya. Navigator Portugis mencoba untuk menemukan jalan laut ke Asia. Pada tahun 1470, astronomer Florentine, Paolo dal Pozzo Toscanelli, mengusulkan kepada Raja Portugal Afonso V bahwa berlayar ke barat akan menjadi cara yang lebih cepat untuk mencapai Kepulauan Rempah-rempah, Cathay (Tiongkok) dan Cipangu (Jepang) daripada rute yang mengitari Afrika. Afonso menolak usulan tersebut. Penjelajah Portugis, di bawah kepemimpinan Raja John II, kemudian merintis jalan menuju Asia dengan berlayar mengitari Afrika. Kemajuan besar dalam perintisan ini dicapai pada tahun 1488, ketika Bartolomeu Dias mencapai Tanjung Harapan, suatu tempat yang sekarang adalah Afrika Selatan. Sementara itu, pada sekitar tahun 1480, Columbus bersaudara memutuskan untuk memilih usulan Toscanelli dan mengusulkan rencana untuk mencapai Hindia (kemudian ditafsirkan meliputi semua wilayah Asia selatan dan timur) dengan berlayar ke barat melintasi “Samudera Laut”, yaitu Atlantik. Selama pelayaran pertamanya pada tahun 1492, mereka bukannya tiba di Jepang seperti yang dimaksudkan, Columbus malahan mencapai Dunia Baru, mendarat di sebuah pulau di kepulauan Bahama yang ia beri nama “San Salvador”. Pada tiga perjalanan berikutnya, Columbus telah mencapai kepulauan Antilles Besar dan Kecil, serta pantai-pantai Laut Karibia di Venezuela dan Amerika Tengah, mengklaim semua itu sebagai Mahkota Castile.

Portugal adalah kekuatan Eropa pertama yang membuka rute perdagangan maritim Asia Tenggara yang menguntungkan, dengan penaklukan Kesultanan Malaka pada tahun 1511. Belanda dan Spanyol mengikutinya dan segera menggantikan Portugal sebagai kekuatan Eropa utama di wilayah tersebut. Pada tahun 1599, Spanyol mulai menjajah Filipina. Pada tahun 1619, bertindak melalui East India Company (VOC), Belanda menguasai kota Sunda Kelapa dan menamainya Batavia (sekarang Jakarta) sebagai basis perdagangan dan ekspansi ke daerah lain di Jawa dan wilayah sekitarnya. Pada tahun 1641, Belanda mengambil alih Malaka dari Portugis. Peluang ekonomi membuat pelaut Tiongkok tertarik datang ke wilayah tersebut dalam jumlah yang besar. Pada tahun 1775, Republik Lanfang, mungkin republik pertama di wilayah ini, didirikan di Kalimantan Barat sebagai negara sungai dibawah Kekaisaran Qing. Republik ini berlangsung sampai tahun 1884, setelah jatuh dibawah pendudukan Belanda dan pengaruh Kekaisaran Qing memudar.

Orang Inggris, berkedok sebagai Honourable East India Company yang dipimpin oleh Josiah Child, kurang berminat atau kurang berpengaruh di wilayah tersebut, dan secara efektif diusir setelah kalah dalam perang Siam-Inggris pada tahun 1687. Inggris, dalam kedok British East India Company, mengalihkan perhatian mereka ke Teluk Benggala setelah mengadakan perjanjian perdamaian dengan Perancis dan Spanyol pada tahun 1783. Selama konflik, Inggris memiliki keunggulan angkatan laut diatas Perancis, dan memerlukan pelabuhan yang layak. Pulau Penang telah berada dalam wilayah Pemerintah India dibawah Francis Light. Pada tahun 1786, pemukiman dibentuk dibawah pemerintahan Sir John Macpherson, yang secara resmi memulai ekspansi Inggris ke wilayah-wilayah Melayu di Asia Tenggara.

Inggris juga secara sementara memiliki wilayah Belanda selama Perang Napoleon; dan wilayah Spanyol dalam Perang Tujuh Tahun. Pada tahun 1819, Stamford Raffles mendirikan Singapura sebagai sebuah pos perdagangan utama bagi Inggris dalam persaingan dengan Belanda. Namun, persaingan mereka mendingin pada tahun 1824 ketika perjanjian Inggris-Belanda merumuskan batas-batas kekuasaan mereka di Asia Tenggara. Kekuasaan Inggris di Burma dimulai setelah kemenangannya dalam perang dengan Burma (1824 – 1826).

Kembali ke Daftar Isi

Pemetaan Kuno Dunia

Jauh sebelum era global positioning satellite dan orto-fotografi multi-spektrum, kartografer kuno sering harus bergantung pada informasi dari mulut ke mulut untuk menggambarkan tempat-tempat yang jauh. Kadang-kadang, mereka menggambar monster laut pada peta untuk mengisi ruang-ruang kosongnya. Pada saat lain, mereka memperbesar ukuran suatu tempat pada peta setelah mendengar yang lebih lengkap, dan menambahkan rinciannya sendiri.

Ketika pembuat peta zaman awal melukiskan permukaan bumi pada peta, mereka hanya menggambar fitur geografis berdasarkan yang mereka lihat atau yang diceritakan oleh wisatawan dan penjelajah. Karena begitu sedikit yang diketahui tentang dunia, informasi yang ditampilkan pada peta agak jarang dan sulit untuk mengevaluasi kualitas atau akurasi peta. Bahkan, sebagian besar peta yang dibuat sebelum Renaisans Eropa adalah begitu umum dan tidak akurat, bahwa pembuat peta mengasumsikan kita hidup di bumi yang datar dan hampir tidak ada perbedaan dalam hal kegunaannya.

Hecataeus, seorang ilmuwan dari Miletus, mungkin yang menyusun tulisan pertama tentang geografi di sekitar tahun 500 SM. Satu generasi kemudian, Herodotus mengembangkannya dari studi dan perjalanan yang lebih luas. Sebagai seorang sejarawan dengan kecenderungan geografis, Herodotus antara lain mencatat pengitaran awal benua Afrika oleh bangsa Fenisia. Ia juga memperbaiki penggambaran bentuk dan luas daerah di dunia yang dikenal kemudian, dan ia juga menyatakan bahwa Kaspia adalah sebuah laut pedalaman, menentang pandangan yang berlaku pada saat itu yang merupakan bagian dari “Lautan Utara”.

Hecataeus

Gambar 1.  Rekonstruksi peta dunia menurut Hecataeus (ca 500 SM)

Meskipun Hecataeus menganggap Bumi sebagai piringan datar yang dikelilingi oleh laut, Herodotus dan pengikutnya mempertanyakan konsep tersebut dan mengusulkan sejumlah bentuk lain yang mungkin. Sebetulnya, para filsuf dan ilmuwan pada waktu itu tampaknya telah sibuk selama beberapa tahun dengan diskusi tentang sifat dan luas dunia. Beberapa ilmuwan modern memberikan atribut tentang hipotesis pertama bentuk bulat Bumi kepada Pythagoras (abad 6 SM) atau Parmenides (abad ke-5). Gagasan tersebut secara bertahap berkembang menjadi konsensus setelah berjalan bertahun-tahun. Secara umum pada pertengahan abad ke-4 teori tentang bumi bulat telah diterima dengan baik di kalangan ilmuwan Yunani, dan sekitar tahun 350 SM Aristoteles merumuskan enam argumen untuk membuktikan bahwa bumi itu sebenarnya berbentuk sebuah bola. Sejak saat itu, gagasan tentang bumi bulat telah diterima secara umum di kalangan geografer dan ilmuwan lainnya.

Herodotus

Gambar 2.  Rekonstruksi peta dunia menurut Herodotus (ca 430 SM)

Sekitar tahun 300 SM, Dicaearchus, seorang murid Aristoteles, menempatkan garis orientasi pada peta dunia, berarah timur dan barat melalui Gibraltar dan Rhodes. Eratosthenes, Marinus Tirus dan Ptolemy berturut-turut mengembangkan prinsip garis referensi sampai dengan sistem paralel dan meridian yang cukup komprehensif, serta metode memproyeksikannya.

Dicaearchus

Gambar 3.  Rekonstruksi peta dunia menurut Dicaearchus (ca 300 SM)

Eratosthenes (276 – 194 SM) menggambarkan peta dunia dengan lebih baik, dengan menggabungkan informasi dari kampanye Alexander Agung dan para penerusnya. Asia menjadi lebih luas, mencerminkan pemahaman baru mengenai ukuran yang sebenarnya. Eratosthenes adalah juga ilmuwan geografi pertama yang menggabungkan paralel dan meridian dalam penggambaran kartografinya, membuktikan pemahamannya tentang sifat bumi yang bulat.

Eratosthenes

Gambar 4.  Rekonstruksi peta Eratosthenes pada tahun 1883

Karya Posidonius (ca 150 – 130 SM) “tentang laut dan daerah sekitarnya” adalah merupakan diskusi geografis umum, menunjukkan bagaimana semua kekuatan memiliki dampak pada satu sama lain dan diterapkan juga untuk kehidupan manusia. Ia mengukur lingkar bumi dengan mengacu pada posisi bintang Canopus. Ukurannya adalah 240.000 stadia yang diterjemahkan ke 24.000 mil, mendekati lingkar sebenarnya yaitu 24.901 mil. Ia mengambil pendekatan tersebut dari Eratosthenes, yang satu abad sebelumnya menggunakan ketinggian Matahari di lintang-lintang yang berbeda. Panjang keliling bumi oleh kedua orang tersebut adalah luar biasa akurat, karena masing-masing saling mengkompensasi kesalahan dalam pengukurannya. Namun, versi perhitungan Posidonius yang dipopulerkan oleh Strabo direvisi dengan memperbaiki jarak antara Rhodes dan Alexandria menjadi 3.750 stadia, mengakibatkan panjang lingkarnya menjadi 180.000 stadia, atau 18.000 mil. Ptolemy membahas dan menyukai ukuran Posidonius yang direvisi daripada Eratosthenes dalamGeographia, dan ilmuwan selama Abad Pertengahan terbagi kedalam dua kubu mengenai keliling Bumi, satu sisi mengidentifikasi dari perhitungan Eratosthenes dan yang lainnya dengan ukuran Posidonius yaitu 180.000 stadia. Tergantung pada nilai stadia yang digunakan, mungkin benar bahwa Posidonius, dalam usaha untuk memperbaiki Eratosthenes, memperkirakan ukuran bumi lebih kecil, selanjutnya disalin oleh Ptolemy, dan kemudian tersebar ke Renaisans Eropa.

Posidonius

Gambar 5.  Rekonstruksi pada tahun 1628 mengenai gagasan Posidonius tentang posisi benua

Strabo (ca 64 SM – 24 M) terkenal dengan karya besarnya berjudul Geographica yang terdiri dari 17 jilid, menyajikan sejarah deskriptif orang dan tempat dari berbagai daerah di dunia yang dikenal pada jamannya. Geographica pertama kali muncul di Eropa Barat di Roma yaitu terjemahan Latin yang diterbitkan sekitar tahun 1469. Meskipun Strabo mengacu kepada para astronom Yunani kuno Eratosthenes dan Hipparchus, dan mengakui upaya astronomi dan matematika mereka terhadap geografi, ia mengklaim bahwa pendekatan deskriptif adalah lebih praktis. Geographica menyediakan sumber informasi yang berharga tentang dunia kuno, terutama ketika informasi ini dikuatkan oleh sumber-sumber lain. Dalam bukuGeographica tedapat peta Eropa. Peta dunia secara keseluruhan menurut Strabo dapat direkonstruksi dari teks tertulis itu.

Strabo

Gambar 6.  Rekonstruksi peta dunia menurut Strabo pada tahun 1815

Pomponius Mela (ca 43 AD) adalah unik di antara geografer kuno yang lain, dengan membagi bumi menjadi lima zona, hanya dua yang dihuni. Ia menegaskan keberadaanantichthones, masyarakat yang mendiami zona beriklim panas di selatan yang tidak dapat diakses oleh masyarakat dari daerah beriklim panas di utara karena tidak dapat menahan panas dari rintangan sabuk panas terik. Pada bagian dan batas-batas Eropa, Asia dan Afrika, ia mengulangi Eratosthenes; seperti semua geografer klasik pada masa Alexander Agung (kecuali Ptolemy) ia menganggap Laut Kaspia sebagai inlet “Lautan Utara”, seperti halnya teluk-teluk di Persia (Teluk Persia) dan Arab (Laut Merah) di selatan.

Pomponius Mela

Gambar 7.  Rekonstruksi pandangan Pomponius Mela tentang Dunia pada tahun 1898

Sosok terbesar dunia kuno dalam kemajuan geografi dan kartografi adalah Claudius Ptolemaeus (Ptolemy; 90 – 168 AD). Sebagai seorang astronom dan ahli matematika, ia menghabiskan bertahun-tahun belajar di perpustakaan di Alexandria, sebuah repositori terbesar pengetahuan ilmiah pada waktu itu. Ia mempelopori penggunaan meridian melengkung paralel dan konvergen pada peta. Peta Ptolemy adalah “spesifik Mediterania”, sangat umum, dan hampir sepenuhnya mengabaikan belahan bumi selatan. Namun, hal itu adalah langkah maju yang signifikan dalam pembuatan peta dan lebih maju pada masa itu, dapat digunakan dengan baik pada masa Renaisans.

Ptolemy

Gambar 8.  Peta dunia Ptolemy oleh Johane Schnitzer (Ulm: Leinhart Holle, 1482). Peta asli telah hilang.

Seorang geografer Arab, Muhammad Al-Idrisi (1154 AD), memasukkan pengetahuan tentang Afrika, Samudera Hindia dan Timur Jauh yang dikumpulkan oleh pedagang dan penjelajah Arab dengan informasi yang diwariskan oleh geografi klasik untuk membuat peta dunia yang paling akurat pada waktu itu. Peta tersebut menjadi peta dunia yang paling akurat untuk tiga abad berikutnya. Tabula Rogeriana digambar oleh Al-Idrisi pada tahun 1154 untuk Raja Normandy, Roger II dari Sisilia, setelah tinggal delapan belas tahun di istana, dimana ia mengerjakan komentar-komentar dan ilustrasi peta. Peta yang ditulis dalam bahasa Arab tersebut menunjukkan benua Eurasia secara keseluruhan, tetapi hanya menunjukkan bagian utara benua Afrika.

Al-Idrisi

Gambar 9.  Tabula Rogeriana, digambar oleh Al-Idrisi untuk Roger II dari Sisilia pada tahun 1154

Peta dunia oleh Henricus Martellus Germanus (Heinrich Hammer), ca 1490, adalah sangat mirip dengan bola dunia terestrial yang dibuat kemudian oleh Martin Behaim pada tahun 1492, Erdapfel. Keduanya menunjukkan pengaruh kuat Ptolemy, dan keduanya mungkin berasal dari peta yang dibuat sekitar 1485 di Lisbon oleh Bartolomeo Columbus. Meskipun Martellus diyakini telah lahir di Nuremberg, kota asal Behaim, ia tinggal dan bekerja di Florence pada 1480 – 1496.

Martellus

Gambar 10.  Peta dunia Martellus (1490)

Cantino planisphere adalah peta paling awal yang masih ada, yang menunjukkan penemuan geografis Portugis di timur dan barat. Peta ini dinamai dari Alberto Cantino, seorang agen untuk Duke of Ferrara, yang berhasil menyelundup dari Portugal ke Italia pada tahun 1502. Peta itu sangat penting dalam menggambarkan catatan fragmentaris pantai Brasil, ditemukan pada tahun 1500 oleh penjelajah Portugis Pedro Álvares Cabral, dan dalam menggambarkan pantai Afrika sisi-sisi Samudra Atlantik dan India dengan akurasi yang luar biasa dan detail. Peta tersebut bermanfaat pada awal abad keenam belas karena menunjukkan informasi strategis yang rinci dan mutakhir pada saat pengetahuan geografis dunia tumbuh dengan cepat. Informasi tersebut juga penting pada saat ini karena mengandung informasi sejarah unik yang sangat menarik tentang eksplorasi maritim dan evolusi kartografi laut dalam masa itu. Cantino planisphere adalah peta nautikal awal yang masih ada dimana tempat-tempat (di Afrika dan bagian Brasil dan India) telah digambarkan sesuai dengan pengamatan garis lintang astronomi.

Cantino

Gambar 11.  Cantino planisphere (1502), Biblioteca Estense, Modena, Italia

Peta Caverio, juga dikenal sebagai peta Caveri atau peta Canerio, adalah peta yang digambar oleh Nicolay de Caveri, sekitar tahun 1505. Peta ini digambar tangan pada perkamen dan berwarna, yang terdiri dari sepuluh bagian atau panel, berukuran 2,25 kali 1,15 meter (7,4 kali 3,8 kaki). Sejarawan percaya bahwa peta yang tidak bertanggal dan ditandai dengan tulisan “Nicolay de Caveri Januensis” adalah diselesaikan pada tahun 1504 – 1505. Peta ini mungkin dibuat di Lisbon oleh Genoa Canveri, atau disalinnya di Genoa dari peta yang sangat mirip Cantino. Peta ini menunjukkan pantai timur Amerika Utara dengan rincian yang mengejutkan, jika pantai timur Amerika Utara dibandingkan dengan peta modern, kita akan segera heran dengan adanya kesamaan dengan garis pantai yang membentang dari Florida ke Delaware atau Sungai Hudson, apabila kita mengacu pada pandangan umum bahwa Eropa tidak pernah melihat atau menginjakkan kaki di pantai selatan negara-negara bagian Amerika Serikat sekarang. Peta ini adalah salah satu sumber utama yang digunakan untuk membuat peta Waldseemüller pada tahun 1507. Peta Caverio saat ini berada di Bibliotheque Nationale de France di Paris.

Caverio

Gambar 12.  Peta Caverio (ca 1505), Bibliothèque Nationale de France, Paris

Cerita tentang sekelompok kecil intelektual Renaisans yang bekerja di San Die, sebuah kota kecil di Alzace (Perancis) dari tahun 1500 dan seterusnya adalah cukup terkenal. Tim ini dibiayai oleh Duc Rene II de Lorraine, yang diwakili dalam tim oleh Walter Ludd. Martin Ringmann adalah penulisnya dan Martin Waldseemüller adalah geografernya. Mereka mengatur diri mereka sendiri untuk menganalisis informasi geografis baru yang diperoleh dari penemuan dalam pelayaran sebelumnya dan mengintegrasikan informasi tersebut kedalam peta dan atlas yang ada. Upaya tersebut menghasilkan sebuah publikasi buklet yang cukup penting, Universalis Cosmographia (1507); salah satu peta dinding dunia yang paling penting dan pernah diterbitkan, dan bola dunia yang diterbitkan pada tahun yang sama. Dari revolusi kartografi ini, barisan baru edisi Geographia Ptolemy telah lahir (1513; 1520; 1522; 1535; 1541) yang membawa pengetahuan dunia kuno bersama-sama dengan yang baru.

Peta dunia besar Waldseemüller adalah produk yang paling menarik dari upaya penelitian tersebut, dan meliputi data yang dikumpulkan selama pelayaran Amerigo Vespucci ke Dunia Baru pada tahun 1501 – 1502. Waldseemüller menamai sebuah daratan sebagai “Amerika” untuk mengakui pemahaman Vespucci mengenai benua baru yang telah ditemukan sebagai hasil pelayaran Columbus dan penjelajah lainnya pada akhir abad kelimabelas. Peta ini adalah salinan yang masih ada dan hanya terdiri dari edisi cetak pertama, yang diyakini terdiri dari 1.000 eksemplar.

Peta Waldseemüller ini mendukung konsep revolusioner Vespucci dengan menggambarkan Dunia Baru sebagai benua yang terpisah, yang sampai saat itu tidak diketahui oleh orang Eropa. Peta pertama, baik yang dicetak atau naskahnya, menggambarkan jelas belahan bumi Barat secara terpisah, dengan Pasifik sebagai samudera yang terpisah. Peta ini merupakan sebuah lompatan besar dalam ilmu pengetahuan, mengakui daratan Amerika yang baru ditemukan dan selamanya mengubah pemahaman Eropa bahwa dunia hanya dibagi menjadi tiga bagian – Eropa, Asia dan Afrika.

Waldseemüller

Gambar 13.  Universalis Cosmographia, peta dinding Waldseemüller, 1507

Lorenz Fries (ca 1490 – 1531) adalah seorang dokter, peramal dan geografer yang mungkin paling dikenal sebagai penyusun peta yang merupakan pengerjaan ulang peta Martin Waldseemüller dengan Geographia-nya Ptolemy. Karrow menunjukkan dalam Pembuat Peta Abad Ke-enambelas dan Peta-petanya bahwa Fries pernah belajar di Wina, Montpellier, Piacenza dan Pavia sebelum bekerja di Schlettstadt, Colmar, Fribourg dan Strasbourg. Publikasi awal Fries adalah terkait dengan obat-obatan dan ia telah mendapatkan beberapa keberhasilan dalam bidang tersebut. Penerbitnya adalah Gruninger di Strasbourg, yang juga diketahui telah bekerjasama dengan Waldseemuller dalam Chronica Mundi, sebuah kosmografi yang direncanakan untuk dipublikasikan. Nampaknya volume kecil ini adalah merupakan keterlibatan yang cukup besar Fries dalam peta Waldseemüller. Yang pertama dikerjakan oleh Fries dalam mengerjakan ulang peta Waldseemüller, dan juga dikerjakan oleh Peter Apian, adalah Tipus Orbis Universalis pada tahun 1520, yang didasarkan pada peta dunia Waldseemüller tahun 1507.

Lorenz Fries and Peter Apian

Gambar 14.  Tipus Orbis Universalis, peta Waldseemüller yang dikerjakan ulang oleh Lorenz Fries dan Peter Alpian, 1520

Pada saat yang sama dengan peta dunia yang sedang diterbitkan, Fries juga mengerjakan edisi Ptolemy “Geographia”. Chronica Mundi yang disebutkan diatas tidak mencapai publikasi, mungkin karena meninggalnya Waldseemüller pada tahun 1518, dan Gruninger, penerbitnya, memutuskan agar Fries mengerjakan sebuah edisi Ptolemy menggunakan peta yang mungkin telah dimasukkan dalam Chronica Mundi. Dengan demikian, edisi pertama peta Ptolemy Waldseemüller oleh Fries telah terbit di Strasbourg pada tahun 1522 – sangat mirip dengan peta versi Waldseemüller tahun 1513 meskipun Fries memotong petanya pada ukuran yang sedikit berkurang. Diterbitkan tiga peta baru pada edisi ini (meskipun didasarkan pada peta Waldseemüller tahun 1507), yaitu Dunia, Asia Tenggara dan Asia Timur (menyebutkan Tiongkok dan Tartary). Peta papan kayunya Fries digunakan lagi dalam tiga edisi berikutnya pada tahun 1525, yang diterbitkan di Strasbourg dan diedit oleh Willibald Pirkheimer pada tahun 1535, yang diterbitkan di Lyons dan diedit oleh Michael Servetus pada tahun 1541, juga diterbitkan di Lyons – cetak ulang dari edisi tahun 1535.

Geographia, edited by Lorenz Fries

Gambar 15.  Peta dunia Ptolemy, Geographia, diedit oleh Lorenz Fries, 1522

Abraham Ortelius (1527 – 1598) secara konvensional diakui sebagai pencipta atlas modern pertama. Pada tahun 1564 ia menerbitkan peta pertamanya, Typus Orbis Terrarum, peta dinding dunia delapan daun, dimana ia mengidentifikasi Regio Patalis dengan Locach sebagai perpanjangan kearah utara Terra Australis, mencapai sejauh Nugini. Banyak peta-peta atlasnya didasarkan pada sumber yang tidak lagi ada atau sangat jarang. Ortelius menambahkan daftar sumber yang unik (Katalog Auctorum), yang mengidentifikasi nama-nama kartografer kontemporer, beberapa di antaranya sudah tidak diketahui.

Abraham Ortelius

Gambar 16.  Typus Orbis Terrarum oleh Abraham Ortelius (1564)

Kembali ke Daftar Isi

Peta Dunia Ptolemy

Claudius Ptolemaeus, lebih dikenal sebagai Ptolemy (ca 90 – 168 M) memberikan banyak kontribusi penting dalam ilmu geografi dan spasial. Seorang keturunan Yunani, ia berasal dari Alexandria di Mesir, dan dikenal sebagai orang yang paling bijaksana dan terpelajar pada zamannya. Meskipun sedikit yang diketahui tentang kehidupannya, ia menulis tentang banyak topik, termasuk geografi, astrologi, teori musik, optik, fisika dan astronomi.

Tulisan Ptolemy mencapai Italia dari Konstantinopel pada sekitar tahun 1400 dan diterjemahkan kedalam bahasa Latin oleh Jacobus Angelus dari Scarperia sekitar tahun 1406. Edisi cetak pertama yang disertai peta diterbitkan pada tahun 1477 di Bologna, juga merupakan buku pertama yang dicetak dengan ilustrasi ukiran. Banyak edisi berikutnya (lebih sering menggunakan ukiran kayu di masa-masa awal), beberapa berikut versi peta tradisional, dan yang lainnya dengan perbaruan. Sebuah edisi cetak di Ulm pada tahun 1482 adalah yang pertama dicetak di utara Pegunungan Alpen. Juga pada tahun 1482, Francesco Berlinghieri mencetak edisi pertama dalam bahasa Italia.

Karya Ptolemy dalam astronomi dan geografi telah membuatnya terkenal selama berabad-abad, meskipun faktanya bahwa banyak teori-teorinya pada abad-abad berikutnya terbukti salah atau berubah. Ptolemy mengumpulkan, menganalisis dan menyajikan pengetahuan geografisnya sehingga dapat diteruskan dan disempurnakan oleh generasi berikutnya. Gagasan-gagasannya meliputi pengungkapan lokasi dalam bentuk bujur dan lintang, yang mewakili bola bumi pada permukaan yang datar, dan pengembangan yang pertama kali proyeksi peta dengan luasan yang sama. Kecakapan Ptolemy mencerminkan pemahamannya tentang hubungan spasial antara tempat-tempat di bumi dan hubungan spasial bumi dengan benda-benda langit lainnya.

Kontribusi terbesar Ptolemy bukanlah petanya itu sendiri, tetapi konsep di balik peta tersebut.Geographia, sebuah karya tujuh jilid, merupakan buku teks geografi standar sampai abad ke-15, menyumbangkan sejumlah besar detail topografi kepada para ilmuwan Renaisans, dan mempengaruhi konsepsi mereka yang mendalam tentang dunia. Berisi instruksi dalam menggambar peta untuk seluruh oikoumenè (dunia yang dihuni), Geographia adalah apa yang sekarang kita sebut atlas. Karyanya ini meliputi sebuah peta dunia, 26 peta kawasan dan 67 peta daerah yang lebih kecil.

Ia menyampaikan tiga metode yang berbeda dalam memproyeksikan permukaan bumi pada peta (proyeksi luasan yang sama, proyeksi stereografi dan proyeksi kerucut), dan perhitungan koordinat lokasi untuk kurang lebih delapan ribu tempat di Bumi. Ia menemukan konsep lintang dan bujur, sistem pemetaan yang masih umum digunakan sampai saat ini. Lintang diukur secara horizontal dari khatulistiwa, tetapi Ptolemy lebih suka mengungkapkannya sebagai lamanya siang terpanjang daripada derajat busur (lama siang pada pertengahan musim panas meningkat dari 12 jam sampai 24 jam apabila berjalan dari khatulistiwa menuju lingkaran kutub), sedangkan bujur diukur dari daratan barat yang dikenal pada saat ini dengan El Hierro, salah satu pulau di Kepulauan Canary di lepas pantai Spanyol. Melalui publikasinya, Ptolemy mendominasi kartografi Eropa selama hampir satu milenium dan menginspirasi para penjelajah seperti Christopher Columbus untuk menguji batas-batas spasial dunia. Ptolemy sangat menyadari bahwa ia hanya mengetahui seperempat wilayah dunia.

Ptolemy telah memetakan seluruh dunia dari Fortunatae insulae (Cape Verde atau Kepulauan Canary) ke arah timur sampai pantai timur Magnus Sinus. Sebagian dunia yang dikenal tersebut terdiri dari 180 derajat bujur. Pada ekstrim timur Ptolemy menempatkan Serica (Tanah Sutera), Sinarum Situs (Pelabuhan Sinae), dan emporium Cattigara. Pada tahun 1489, pada peta dunia oleh Henricus Martellus, yang didasarkan pada peta Ptolemy, Asia diakhiri di titik paling tenggara pada sebuah semenanjung, Tanjung Cattigara. Cattigara yang dipahami oleh Ptolemy adalah merupakan sebuah pelabuhan pada Sinus Magnus, atau Teluk Besar, yang sebenarnya Teluk Thailand, pada delapan setengah derajat utara Khatulistiwa, di pantai Kamboja, dimana ia menempatkannya sebagai tempat suci dan kota terkenal. Kota tersebut adalah pelabuhan paling timur yang dapat dicapai melalui perdagangan laut dari Yunani-Romawi menuju Timur Jauh.

Kemampuannya untuk mengambil dan memahami sejumlah informasi yang luar biasa, yang dikembangkan sebelum masa hidupnya, menambahkannya, dan mensintesis menjadi peta atau buku mengubah cara orang memahami, melihat dan menggambarkan dunia. Salinan dan cetak ulang peta dunia Ptolemy menjadikan peta navigasi dan faktual yang mayoritas selama berabad-abad berikutnya, memberikan informasi dasar bagi penjelajah awal Eropa. Ptolemy juga menstandarkan orientasi peta, dengan Utara di sebelah atas dan Timur di sebelah kanan, menempatkan peta global di kiri atas, adalah standar yang tetap digunakan sampai sekarang.

Geographia meliputi daftar nama-nama sekitar 8.000an tempat serta perkiraan lintang dan bujurnya. Kecuali beberapa yang disusun melalui pengamatan, sebagian besar lokasi-lokasi tersebut diambil dari peta kuno sebelumnya, dengan perkiraan jarak dan arah yang diperoleh dari para penjelajah lain. Diluar pemetaan yang lebih akurat oleh Philo dan Josephus 100 tahun sebelumnya, Ptolemy tetap melanjutkan tradisi panjang geografi Yunani (Strabo, Eratosthenes, Herodotus, Hesiod dan Hecataeus).

Kita tidak banyak tahu tentang kehidupan Ptolemy. Ia melakukan pengamatan astronomi di Alexandria di Mesir selama tahun 127 – 141 M. Pengamatan pertama yang dilakukan oleh Ptolemy dan didapatkan tanggal persisnya adalah pada tanggal 26 Maret 127 sementara yang terakhir dilakukan adalah pada tanggal 2 Februari 141. Bahkan tidak ada bukti bahwa Ptolemy pernah ke tempat lain selain Alexandria.

Tidak mengherankan bahwa peta yang disusun oleh Ptolemy adalah tidak akurat di banyak tempat karena ia tidak bisa melakukan lebih dari menggunakan data yang tersedia sehingga kualitasnya menjadi sangat buruk untuk semua yang berada diluar Romawi, dan bahkan sebagian wilayah Kekaisaran Romawi juga sangat terdistorsi. Salah satu kesalahan mendasar yang dilakukan oleh Ptolemy dan memiliki efek meluas adalah dalam hal lebih kecilnya ukuran Bumi. Ia menunjukkan Eropa dan Asia membentang lebih dari setengah dunia, yang sebenarnya hanya 130 derajat. Demikian pula, rentang Mediterania terbukti lebih kecil 20 derajat dari perkiraan Ptolemy. Pengaruh kesalahan Ptolemy adalah berlarut-larut sampai 13 abad kemudian ketika Christopher Columbus salah memperkirakan jarak menuju Tiongkok dan Hindia yang merupakan sebagian dari rekapitulasi kesalahan mendasar ini.

Metode yang digunakan dalam pemetaan pada zaman kuno adalah dengan peta topologi perjalanan dan indeks geografi yang dimanfaatkan oleh pengguna sebagai panduan perjalanan yang terbaik. Kebutuhan utama bagi kebanyakan penjelajah adalah pengetahuan tentang rute yang pasti dan yang relatif tak berbahaya. Gagasan tentang suatu peta dunia yang menempatkan suatu tempat relatif terhadap kerangka spasial independen, tentu adalah keingintahuan ilmiah yang menarik, adalah sangat tidak akurat dan tidak informatif (medan, angin, arus laut, dll) untuk digunakan secara praktis. Ptolemy sepenuhnya menyadari bahwa menyalin peta visual akan mengakibatkan sejumlah besar kesalahan. Hal ini cukup jelas mengapa upaya untuk mengkorelasikan peta Ptolemy dengan lokasi yang dikenal sekarang adalah hampir tidak mungkin. Untuk mengurangi masalah penyampaian itu, Geographiadipisahkan menjadi dua bagian. Pertama, selain metodologi, dijelaskan cara menggambar peta sesuai dengan dua proyeksi yang berbeda. Yang kedua adalah katalog lokasi, daftar kota dan fitur geografis yang diketahui dengan perkiraan lintang dan bujurnya.

Benua-benua yang ditampilkan adalah Eropa, Asia dan Libya (Afrika). Lautan Dunia (Samudera Atlantik) hanya terlihat kearah barat. Pada peta terdapat dua laut besar yang tertutup: Mediterania dan India (Indicum Pelagus). Karena kesalahan Marinus dan Ptolemy dalam mengukur lingkar bumi, Laut Mediterania menjadi terlalu panjang dalam hal derajat busur. Karena mengacu kepada Hipparchus, mereka telah keliru menutup Lautan Hindia dengan pantai timur dan daratan selatan yang tidak diketahui, sehingga tidak dapat mengidentifikasi pantai barat Lautan Dunia. India diapit oleh Sungai Indus dan Gangga, namun dengan semenanjung yang pendek. Semenanjung Melayu dinyatakan dengan Semenanjung Emas bukan yang sebelumnya “Daratan Emas”, yang diperoleh dari pengetahuan India terhadap tambang di Sumatera (atau Kalimantan). Di luar Semenanjung Emas, Teluk Besar (Magnus Sinus) membentuk kombinasi Teluk Thailand dan Laut Tiongkok Selatan yang diapit oleh daratan yang tidak diketahui yang dikiranya sebagai penutup Samudera Hindia. Tiongkok dibagi menjadi dua wilayah – Qin (Sinae) dan Tanah Sutera (Serica) – karena diperoleh dari dua informasi Jalan Sutera yang berbeda yaitu Rute Kafilah dan Rute Maritim.

Kembali ke Daftar Isi

Definisi India

Di Eropa abad pertengahan, konsep “tiga India” telah beredar umum. India Besar adalah bagian selatan Asia Selatan, India Kecil adalah bagian utara Asia Selatan, dan India Tengah adalah wilayah sekitar Ethiopia. Istilah India Besar (Portugis: India Maior) digunakan setidaknya dari pertengahan abad ke-15. Istilah tersebut, yang tampaknya telah digunakan dengan presisi yang bervariasi, kadang-kadang berarti hanya sub-benua India; Eropa menggunakan berbagai istilah yang terkait dengan Asia Selatan untuk menunjuk semenanjung Asia Selatan, termasuk India Atas, India Besar, India Luar dan India Aquosa.

Namun, dalam beberapa pengertian pelayaran laut Eropa, India Besar (atau India Mayor) diperpanjang dari Pantai Malabar (sekarang Kerala) sampai ke India Extra Gangem (“India yang melampaui Gangga”, dan secara umum adalah Hindia atau Indies, yaitu kepulauan Asia Tenggara sekarang) dan India Kecil dari Malabar ke Sind. Selanjutnya, India kadang-kadang meliputi semua Asia Tenggara sekarang ini dan kadang-kadang hanya bagian daratan saja.

Pada geografi akhir abad ke-19, “India Besar” disebut sebagai Hindustan (Sub-benua Baratlaut) yang meliputi Punjab, Himalaya dan diperpanjang ke arah timur sampai ke Indochina (termasuk Burma), sebagian Indonesia (yaitu Kepulauan Sunda, Kalimantan dan Sulawesi) dan Filipina. Atlas Jerman kadang-kadang membedakan Vorder-Indien (Anterior India) sebagai semenanjung Asia Selatan dan Hinter-Indien sebagai Asia Tenggara.

Kembali ke Daftar Isi

Pulau Taprobana

Taprobana, dibawah nama “Daratan Antichthones” atau “Tanah-Seberang”, sudah lama dipandang sebagai dunia lain. Nama tersebut sepenuhnya tidak dikenal di Eropa sebelum Alexander Agung menyerang India pada tahun 327 SM. Para penulis yang berbicara tentang Taprobana adalah Onesicritus, Eratosthenes, Megasthenes, Hipparchus, Strabo, dan Pliny.

Ada dua periode yang berbeda dimana Taprobana disebutkan; dan periode ketiga ketika tempat itu, termasuk namanya, telah benar-benar dilupakan. Periode pertama adalah oleh penulis masa awal dan kuno dari zaman Alexander Agung sampai Kaisar Claudius. Periode ini meliputi pemberitaan oleh Onesicritus, Megasthenes dan Pliny. Mereka semua tidak menggunakan nama lain selain Taprobana. Periode kedua mencakup masa dari Ptolemy sampai dengan Cosmas Indicopleustes.

Sekitar dua puluh tahun setelah wafatnya Alexander, Megasthenes dikirim sebagai duta besar oleh Kaisar Seleucus Nicator untuk Sandracottus (Chandragupta Maurya) pada tahun 302 SM. Dari informasi yang diperoleh di istana Sandracottus, Megasthenes menjelaskan Taprobana sebagai pulau yang sangat subur terbagi oleh sebuah sungai. Bagian yang satu dipenuhi oleh binatang buas dan gajah, dan yang lainnya dihuni oleh kolonis Prachii, menghasilkan emas dan permata.

Eratosthenes juga telah memberitakan dimensi pulau ini, yaitu 7.000 stadia panjangnya dan 5.000 stadi lebarnya. Ia menyatakan juga bahwa tidak ada kota, tapi desa dengan jumlah 700. Pulau itu terletak di Laut Timur dan letaknya jauh di seberang India [Besar], sisi timur dan barat. Pulau ini dulunya dapat dilayari 20 hari dari negara Prasii, pada saat navigasinya terbatas pada kapal yang terbuat dari papirus untuk mengarungi Sungai Nil, tetapi di kemudian hari, dapat dilayari tidak lebih dari 7 hari pelayaran, mengacu pada kecepatan yang bisa dicapai dengan konstruksi kapal mereka.

Menurut Pliny, pada masa pemerintahan Claudius (41 – 54 M), seorang budak yang telah bebas, Annius Plocamus, yang bertani untuk kas pendapatan Laut Merah, saat berlayar di sekitar Arabia terbawa oleh angin kencang dari sebelah utara Carmania. Dalam 15 hari ia terdampar di Hippuri, sebuah pelabuhan di Taprobana, dimana ia dapat diterima secara manusiawi dan dengan hormat disambut oleh raja, dan memerlukan waktu enam bulan untuk mempelajari bahasa mereka. Terlebih lagi, raja tersebut sangat terkesan dengan karakter bangsa Romawi, seperti yang ditunjukkan oleh fakta bahwa dinar yang dimiliki oleh budak bebas tersebut semua bobotnya sama, meskipun gambar-gambarnya yang jelas berbeda menunjukkan bahwa telah mengalami pemerintahan beberapa kaisar. Ia tetap tinggal disana beberapa waktu lebih lama, kemudian mengajak beberapa orang untuk berkenalan dengan pemerintahnya. Ia akhirnya membawa utusan untuk dikirim ke Romawi, yang terdiri dari 4 orang dan dipimpin oleh Rachia.

Strabo mengumpulkan banyak informasi terinci dari utusan tersebut. Di Taprobana terdapat 500 kota dan desa, ada pelabuhan yang menghadap ke selatan, dan berbatasan dengan kota Palaesimundus, salah satu dari 10 kota yang paling terkenal di pulau tersebut, tempat raja tinggal, dan memiliki populasi 200.000 orang. Ada sebuah danau di pedalaman yang disebut Megisba, kelilingnya 375 mil, tempat asalnya sungai yang disebut Palaesimundus, mengalir melalui kota dengan nama yang sama, terdiri dari 3 saluran, yang tersempit 5 stadia lebarnya, yang terlebar 15; dan yang lainnya, namanya Cydara, ke utara menuju pantai India [Besar]. Ada karang, mutiara dan batu mulia; tanahnya subur; orangnya berumur panjang lebih dari seratus tahun; ada perdagangan dengan China daratan. Rajanya memakai kostum seperti Bapa Liber. Festival mereka dirayakan dengan perburuan, olahraga yang paling populer adalah berburu macan dan gajah. Tanahnya digarap dengan cermat; anggur tidak dibudidayakan disana, tapi buah-buahan lain sangat berlimpah. Mereka sangat gemar memancing, dan terutama dalam menangkap kura-kura; saking besarnya sehingga dibawah cangkangnya dapat menjadi tempat tinggal seluruh keluarga. Modus perdagangan dan barter antara penduduk sendiri adalah aneh, yang dilakukan pada malam hari. Negara dan orang-orangnya adalah maritim dan sangat komersial. Utusan tersebut membuat suatu pernyataan bahwa negaranya mengalami dua musim panas dan dua musim dingin, yang jelas menunjukkan bahwa negara tersebut mengangkangi kedua sisi khatulistiwa.

Penduduk, yang hidup seratus tahun, menghabiskan sebagian besar waktu mereka dalam berburu harimau dan gajah, dan memancing, terutama menangkap kura-kura, yang cangkangnya begitu besar digunakan sebagai tempat tinggal mereka. Para utusan membuat pernyataan yang mengejutkan bahwa mereka dapat melihat bintang-bintang utara, dan matahari terbit di sebelah kiri dan tenggelam di sebelah kanan. Titik terdekat dari pantai India [Besar] adalah sebuah semenanjung yang dikenal sebagai Coliacum, berjarak pelayaran 4 hari, dan di tengah-tengah antara mereka terdapat “Pulau Matahari”; lautnya berwarna kehijauan, memiliki banyak pohon (karang) yang tumbuh di dasarnya, dimana kemudi kapal dapat tersangkut apabila mengenainya ketika berlayar di atasnya.

Laut yang terletak diantara pulau dan daratan banyak yang dangkal, tidak lebih dari 6 langkah dalamnya; tetapi pada tempat tertentu kedalamannya luar biasa sehingga tidak ada angkur yang dapat mencapai dasarnya. Dengan alasan tersebut, kapal-kapalnya dibuat dengan haluan pada kedua ujungnya; sehingga tidak akan kandas saat melalui saluran ini, yang sangat sempit. Tonase kapal ini adalah 3.000 amphorae. Dalam melintasi laut mereka, orang-orang dari Taprobana tidak mengamati bintang-bintang, dan memang mereka tidak melihat bintang Beruang Besar; tapi mereka membawa burung ke laut, yang mereka biarkan terbang dari waktu ke waktu, dan mengikutinya saja karena mereka akan menuju ke daratan. Mereka hanya menggunakan waktu 4 bulan dalam setahun untuk kegiatan pelayaran, dan sangat berhati-hati serta tidak percaya diri di laut selama 100 hari ke depan setelah matahari musim panas berbalik, yaitu saat laut itu berada pada waktu tengah musim dingin.

Ptolemy, mengenai Taprobana, menyatakan bahwa namanya telah diubah menjadi Salike. Sementara Pliny memberikan beberapa nama-nama tempat di Taprobana, sedangkan Ptolemy, sebaliknya, memberikan informasi yang jauh lebih banyak perihal pulau tersebut, yang mengejutkan karena saking banyaknya, tidak hanya daftar nama-nama pantai dan pelabuhan yang lengkap, tetapi termasuk nama-nama tanjung, sungai dan kota-kota pelabuhan, juga nama-nama banyak kota dan suku-suku di pedalaman.

Taprobana

Gambar 17.  Taprobana oleh Ptolemy yang diterbitkan dalam Cosmographia Claudii Ptolomaei Alexandrini, 1535

Periplus Maris Erythraei (atau “Pelayaran Sekitar Laut Merah”), karya anonim pada sekitar pertengahan abad pertama Masehi ditulis oleh seorang pedagang Mesir yang berbicara bahasa Yunani, menunjukkan bahwa menuju kearah timur, membentang di laut yang menghadap ke barat adalah pulau Palaesimundu, yang dulu disebut orang dengan Taprobana. Bagian utaranya memerlukan perjalanan satu hari, bagian selatannya secara bertahap cenderung kearah barat, dan hampir menyentuh muara Azania. Pulau ini menghasilkan mutiara, batu transparan, kain kasa dan cangkang kura-kura.

Cosmas Indicopleustes (“Cosmas Pelayar India”), yang menulis The Christian Topografipada awal abad ke-6, beberapa kali menekankan untuk mengesankan pembacanya bahwa pulau yang disebut Serendib oleh India adalah yang sebelumnya disebut Taprobana oleh Yunani. Pada masa Cosmas nama Taprobana telah menghilang.

Kembali ke Daftar Isi

Hipotesis Kalimantan untuk Taprobana

Dari SM sampai Abad Pertengahan diikuti dengan Dunia Baru, berbagai peta dunia telah diciptakan dan dapat diamati, yang menunjukkan perkembangan pengetahuan Barat tentang seluruh bumi, dari yang sederhana sampai yang hampir mutakhir. Perkembangan ini didorong oleh kebutuhan untuk peta yang lebih akurat tentang rute perdagangan menuju dunia di timur, yang dikenal sebagai Jalan Sutera, yaitu dari Laut Mediterania, diikuti oleh Laut Merah, Laut Erythraean, Samudera Hindia , dan berakhir di Tiongkok. Pada awal abad, hanya itulah rute perdagangan yang paling banyak dikenal, sementara di luar daerah-daerah tersebut hanya sedikit informasi yang diperoleh dari pelaut yang telah mengunjunginya. Pulau Kalimantan adalah diluar rute tersebut sehingga lokasi itu tidak dikenal, atau mungkin sengaja disimpan secara rahasia karena pulau ini memiliki sumber daya yang menguntungkan dengan kualitas unggul yang sangat memikat untuk komoditas perdagangan. Hal ini menjadi subyek penulis untuk berhipotesis bahwa Taprobana adalah sebenarnya Kalimantan.

Kembali ke Daftar Isi

Perkembangan Peta Dunia

Pulau Taprobana ditampilkan pada peta-peta Dicaearchus (300 SM), Eratothenes (220 SM), Strabo (18 M), Pomponius Mela (43 M), Ptolemy (150 M), Al-Idrisi (1154 M), Martellus (1490 M) , Cantino (1502 M), Caverio (1505 M), Waldseemüller (1507 M), Lorenz Fries/Peter Alpian (1520 M) dan Ptolemy teredit oleh Lorenz Fries (1522 M), sedangkan peta Abad Pertengahan oleh Abraham Ortelius (1570 M) dan setelahnya sudah tidak menampilkan.

Peta-peta yang dibuat sebelum Ptolemy adalah tanpa pengetahuan geografi dan kartografi yang lebih maju, sehingga informasi yang disajikan pada peta agak jarang, bersifat umum dan tidak akurat. Fitur-fitur geografi digambarkan dari apa yang mereka lihat, dengar atau berdasarkan informasi dari wisatawan dan penjelajah. Dimulai oleh Dicaearchus pada abad ke-3 atau ke-4 SM, Taprobana telah ditampilkan pada peta dunia, berdasarkan apa yang mereka dengar, lihat atau informasi dari penjelajah lain, di Samudera Hindia tanpa mengetahui posisi yang tepat, di selatan, barat atau jauh ke barat dari semenanjung India.

Peta Ptolemy menampilkan seluruh dunia dari Fortunatae Insulae kearah timur sampai ke Tiongkok, membentang sekitar 180 derajat bujur dan 80 derajat lintang. Didalam bukunya,Geographia, terdapat daftar nama-nama kurang lebih 8.000 tempat beserta perkiraan garis lintang dan bujurnya. Sebagian besar tempat-tempat tersebut ditentukan berdasarkan peta kuno (Strabo, Eratosthenes, Herodotus, Hesiod dan Hecataeus), dengan perkiraan jarak dan arah yang diperoleh dari penjelajah lain dan pemetaan yang lebih akurat oleh Philo dan Josephus 100 tahun sebelumnya, kecuali beberapa yang dibuat melalui pengamatan langsung. Ptolemy sangat menyadari bahwa ia hanya mengetahui seperempat bagian dunia dan tidak bisa berbuat lebih banyak karena data yang tersedia adalah kualitasnya sangat buruk terutama yang diluar Kekaisaran Romawi. Hal ini menyebabkan peta dan data yang disusun oleh Ptolemy adalah tidak akurat di banyak tempat. Jika kita melihat peta dunianya dan membandingkannya dengan peta modern, kita dapat dengan jelas melihat penyimpangan yang luar biasa, sebagian besar pada bagian Asia. Kesalahannya dalam memperkirakan ukuran Bumi juga memberikan kontribusi lain dalam hal ketidakakuratan tersebut.

Ptolemy juga menyediakan 26 peta wilayah dan 67 peta daerah yang lebih kecil. Peta-peta tersebut sebagian besar berada di dan sekitar Kekaisaran Romawi, dan hanya sedikit yang berada di India Besar dan Tiongkok, diantaranya adalah Taprobana. Peta wilayah dan daerah yang lebih kecil tersebut memiliki akurasi yang lebih baik, apakah diperoleh dari pengamatan atau data dari wisatawan atau penjelajah lain. Meletakkan peta wilayah dan daerah tersebut pada peta dunia yang sama sekali tidak akurat yang berasal dari peta kuno menimbulkan kebingungan untuk mencari posisi tepatnya. Diduga, ia meletakkan Taprobana berdasarkan peta yang lebih tua apakah dari Eratothenes atau Strabo, yang sebenarnya tidak ada pulau di posisi tersebut, atau ia sengaja meletakkannya di tempat yang salah atau mengaburkan lokasinya sehingga tidak semua orang bisa sampai di sana. Namun, sejauh ini, peta tersebut dapat digunakan dengan baik pada masa Renaisans sampai 13 abad kemudian Christopher Columbus salah memperkirakan jarak ke Tiongkok dan India.

Dengan jatuhnya Konstantinopel ke Turki Ottoman pada tahun 1453, jalur darat ke Asia menjadi jauh lebih sulit dan berbahaya. Hal ini mengakibatkan kurangnya informasi di daerah yang meliputi Samudera Hindia, sampai penjelajah Portugis merintis jalan menuju ke Asia dengan berlayar mengitari Afrika dan dengan penaklukan Kesultanan Malaka pada tahun 1511. Dengan demikian, porsi Asia pada peta dunia setelah Ptolemy masih terus mengandalkan informasi yang diperoleh dari Geographia, dan menggabungkan pengetahuan yang diperoleh dari penjelajah Arab dan sumber yang tidak diketahui, seperti yang ditunjukkan pada peta Al-Idrisi, Martellus, Cantino, Caverio, Waldseemüller, Fries dan Alpian. Al-Idrisi memasukkan pengetahuan tentang Afrika, Samudera Hindia dan Timur Jauh yang dikumpulkan oleh pedagang dan penjelajah Arab. Peta Martellus menunjukkan pengaruh kuat Ptolemy tetapi Afrika telah dimasukkan. Peta Cantino menggambarkan pantai Brasil dan pantai Afrika sisi-sisi Atlantik dan Samudra India dengan akurasi yang luar biasa dan detail. Peta Caverio menunjukkan pantai timur Amerika Utara dengan rincian yang mengejutkan dimana sumbernya masih misteri. Peta Waldseemüller adalah rangkaian baru edisi Ptolemy Geographia dengan mengintegrasikan informasi geografis baru yang diperoleh dari pelayaran sebelumnya. Peta Fries dan Alpian adalah kerja-ulang peta Waldseemüller tersebut. Sebagian besar peta ini meletakkan Taprobana kurang lebih pada posisi yang sama seperti pada peta Ptolemy, kecuali peta Cantino dan Caverio yang menggambarkannya sebagai Sumatera.

Dengan mengamati dan membandingkan peta Ptolemy dan Martellus, kita dapat dengan jelas melihat bahwa ada kebingungan dalam memetakan Semenanjung India. Ptolemy menggambarkan dua wilayah utama, India Intra Gangem di sebelah barat dimana semenanjungnya tidak menjorok (dimana terdapat Laricae Ariasa dan Lymirca), dan India Extra Gangem di sebelah timur dimana semenanjungnya sangat menjorok (dimana terdapat Aurrea Chersonenus). Ia memetakan Indus dan Gangga masing-masing di bagian barat dan timur India Intra Gangem, dan Sinus Magnus di sebelah timur India Extra Gangem. Martellus menambahkan semenanjung lain di sebelah timurnya (dimana terdapat Catigara) berdasarkan data Ptolemy, sedangkan daerah lain masih menyerupai Ptolemy. Semenanjung ini seharusnya adalah Semenanjung Malaka sehingga Semenanjung India harusnya India Extra Gangem-nya Ptolemy. Peta-peta sesudahnya yang dibuat oleh Cantino, Caverio, Waldseemüller, Fries dan Alpian telah mengkonfirmasi hal ini.

Clarified Ptolemy’s map

Gambar 18.  Peta Ptolemy yang diperjelas

Clarified Martellus’ map

Gambar 19.  Peta Martellus yang diperjelas

Pada peta-peta Cantino dan Caverio terdapat dua buah pulau yang masing-masing menggambarkan Ceylam (Sri Lanka) dan Taprobana (Sumatera). Pada peta-peta Waldseemüller, Fries dan Alpian terdapat Seyla atau Seylam (Sri Lanka) dan Iava Minor (Sumatera) bersama dengan Taprobana tapi jauh lebih ke barat. Hal ini menjadi indikasi bahwa Taprobrana bukanlah Sri Lanka atau Sumatera, dan diduga bahwa pulau ini sengaja diletakkan di tempat yang salah atau dikaburkan lokasinya untuk merahasiakannya. Diperkirakan para pelaut mencoba untuk menuju pulau Taprobana menggunakan petanya Ptolemy namun tidak bisa menemukannya di lokasi tersebut tetapi kemudian berlayar lebih jauh dan akhirnya menemukan Sumatera yang dianggapnya Taprobana.

Peta Abraham Ortelius adalah atlas modern pertama yang mencakup hampir semua pulau-pulau besar dan tempat-tempat utama di India Besar. Selain menampilkan Zeilan (Sri Lanka) dan Sumatera, Taprobana menghilang dan Burneo (Kalimantan) serta pulau-pulau lain di Nusantara ditambahkan. Dengan demikian, hal itu menunjukkan pengetahuan kartografer yang sangat meningkat pada waktu itu.

Kembali ke Daftar Isi

Kondisi Geografi Taprobana

Eratosthenes menyebutkan bahwa Taprobana terletak di Laut Timur, jauh di seberang India Besar. Ia memberikan rincian dimensi pulau, yaitu 7.000 stadia (≈ 1.300 km) panjangnya, dan 5.000 stadia (≈ 925 km) lebarnya. Apabila kita mengukur Pulau Kalimantan, kita dapat menemukan bahwa dimensi ini sangat akurat. Utusan yang dikirim ke Roma, seperti yang ditulis oleh Pliny dan Strabo, membuat satu pernyataan bahwa daerahnya mengalami dua musim panas dan dua musim dingin, yang jelas menunjukkan bahwa daerahnya mengangkangi kedua sisi khatulistiwa. Hal ini menjadi bukti bahwa Eratosthenes, Pliny dan Strabo adalah benar bahwa mereka merujuk Kalimantan sebagai Taprobana.

Pliny dan Strabo menyatakan bahwa titik terdekat dari pantai India Besar adalah sebuah semenanjung yang dikenal dengan Coliacum, berlayar selama 4 hari, dan di tengah-tengahnya terdapat “Pulau Matahari”. Lautnya berwarna kehijauan, terdapat banyak karang di dasarnya, yang kemudi kapal-kapal dapat tersangkut apabila mengenainya ketika berlayar di atasnya. Semenanjung Coliacum yang dimaksud kemungkinan adalah Semenanjung Malaka, mereka memberi nama ini mengacu dari nama Kelantan atau yang lebih tua Kalantan yang terletak di pantai timur semenanjung itu. Kelantan memiliki sejarah paling awal berupa jejak pemukiman manusia yang kurun waktunya kembali ke zaman prasejarah, dan menjadi pusat perdagangan yang utama pada akhir abad ke-15.

Antara Kalimantan dan Semenanjung Malaka terdapat Selat Karimata, airnya dangkal dan berupa daratan pada Zaman Es. Hampir seratus pulau dan terumbu karang terdapat di selat ini – secara administratif berada dibawah Provinsi Kepulauan Riau dan Bangka-Belitung, Indonesia – dengan pulau-pulau utamanya adalah Natuna, Anambas, Bintan, Lingga, Bangka dan Belitung. Masyarakat di pulau-pulau ini terkenal dengan kepercayaan pemuja matahari. Laut dangkal dan karang yang terdapat di dasarnya menyebabkan warnanya kehijauan.

Ada beberapa pulau di sekitar Pulau Kalimantan. Mereka terdapat di Laut Jawa dan Selat Karimata, yang memiliki kedalaman yang dangkal sekitar 20 sampai 50 meter saja, berupa campuran pulau nyata dan terumbu karang. Antara pulau-pulau atau terumbu karang, kedalamannya bahkan lebih dangkal sehingga kapal harus berhati-hati dan siap dengan kondisi tersebut. Hal ini juga mengkonfirmasi pernyataan Pliny dan Strabo.

Sundaland - Taprobana

Gambar 20.  Pulau Kalimantan dan sekitarnya

Orang-orang Dayak yang mendiami Pulau Kalimantan sebagian besar adalah pemburu dan petani. Pemimpin mereka memakai pakaian dan aksesoris seperti Bapa Liber, seperti apa yang Pliny dan Strabo katakan. Mereka juga memiliki tradisi tato yang paling kuno. Hewannya berlimpah dan tanahnya subur. Pulau ini juga kaya mineral logam seperti emas, perak dan tembaga, serta segala macam batu mulia. Tiram penghasil mutiara dibudidayakan di laut-laut sekitar pulau, sekarang menjadi 40% pemasuk mutiara dunia.

Gajah, macan dan kura-kura adalah dulunya berlimpah di pulau tersebut seperti yang digambarkan dalam tradisi, bahasa dan legenda suku Dayak tentang bagaimana mereka menyadari habitat dan kebiasaan hewan-hewan ini, tetapi karena tradisi mereka dalam berburu binatang, populasinya saat ini menyusut atau punah. Indonesia adalah tempatnya Stegodon kuno, suatu binatang seperti gajah dengan ukuran yang besar. Analisis DNA menunjukkan bahwa gajah Asia adalah asli Kalimantan (Fernando et al, 2003). Gajah kerdil Kalimantan (Elephas maximus borneensis) yang sekarang terancam punah adalah yang tersisa di Kalimantan saat ini, spesies yang sama di Jawa sudah punah sekitar 200 tahun yang lalu. Kalimantan, serta Sumatera, adalah habitatnya kura-kura raksasa (Orlitia borneensis) dan macan tutul (Neofelis nebulosa). Fakta-fakta ini mengkonfirmasi pernyataan Pliny, Strabo dan Ptolemy.

Dalam kehidupan sehari-hari, burung enggang (Rhinoplax vigil) dipuja oleh masyarakat Dayak di Kalimantan, sebagai pelajaran bagi masyarakat agar dapat belajar dari perilaku spesies ini. Terdapat banyak nama yang berbeda untuk menyebut burung ini, masyarakat Dayak memiliki banyak mitos dan legenda bahwa burung enggang adalah utusan para dewa dengan tugas menyampaikan pesan suci. Dalam keyakinan mereka, burung-burung tersebut memberikan contoh kehidupan dalam hal kesetiaan pasangan suami-istri dan tanggungjawabnya dalam keluarga. Masyarakat Dayak mengajarkan anak-anak mereka untuk tidak menyakiti atau membunuh burung suci tersebut. Perbuatan tersebut dianggap tabu. Pliny dan Strabo mengatakan bahwa dalam hal melaut, masyarakat Taprobana tidak mengamati bintang, tetapi mereka membawa burung ke laut, yang dibiarkan terbang dari waktu ke waktu, dan tinggal mengikutinya saja karena pasti kembali ke daratan asalnya. Burung-burung ini rupanya adalah burung enggang yang dipuja oleh masyarakat Dayak.

Pliny dan Strabo menyatakan bahwa pulau tersebut memiliki pelabuhan di pantai selatan, berbatasan dengan kota Palaesimundus. Ada sebuah danau besar bernama Megisba dimana Sungai Palaesimundus berasal terdiri dari 3 saluran masing-masing memiliki lebar antara 5 dan 15 stadia (sekitar 925 dan 2.775 meter), dan Sungai Cydara berada di sebelah utara danau. Ketiga sungai tersebut diperkirakan adalah Sungai Barito, Kapuas-Murung dan Kahayan. Sungai Barito lebarnya hampir 3 kilometer, Sungai Kapuas-Murung lebarnya sekitar 1 kilometer dan Sungai Kahayan lebarnya sekitar 1,5 kilometer pada bagian-bagian didekat laut, sesuai dengan yang disebutkan oleh Pliny dan Strabo. Sebuah danau besar mungkin saja dapat terbentuk pada daerah dataran karena terjadinya banjir besar dari pegunungan dengan kecepatan aliran yang lebih tinggi yang dapat mengikis bagian atas dataran, tetapi bagian bawah adalah datar dan rata sehingga kecepatannya jauh berkurang dan bahan yang terkikis mengendap di tempat tersebut membentuk tanggul dan danau. Sebuah danau dangkal pada daratan yang datar dapat lenyap hanya dalam beberapa ratus tahun. Kondisi wilayah yang ada sekarang adalah rawa-rawa yang luas.

Menurut peta kuno, terdapat kota Tanjungpura yang terletak di pantai selatan Kalimantan merupakan kota terkemuka. Beberapa naskah kuno menyebutkan juga nama ini. Arti harfiahnya adalah “kota (pura) pohon tanjung”. Pohon tanjung (Mimusops elengi) adalah pohon berukuran sedang yang ditemukan di hutan tropis di Asia Selatan, Asia Tenggara dan Australia bagian utara. Nama Sansekertanya adalah “Bakula” sehingga sebuah naskah kuno dari Kerajaan Singasari di Jawa mengacu kota tersebut sebagai Bakulapura. “Tanjung” juga bisa berarti daratan yang menjorok ke laut seperti yang digunakan pada beberapa nama tempat, tetapi bukan halnya untuk kasus ini.

Dalam catatan sejarah, terdapat sebuah komunitas di dekat kota Tanjung sekarang yang bernama Tanjungpuri. Salah satu peninggalannya adalah Candi Agung yang terletak di Desa Sungaimalang, Kecamatan Amuntai Tengah, Kabupaten Hulu Sungai Utara, Provinsi Kalimantan Selatan. Uji karbon terhadap salah satu artefak menunjukkan usia sekitar 200 SM. Tanjungpuri mungkin adalah awal mula Tanjungpura. Pelabuhan Hippuri yang disebutkan oleh Pliny kemungkinan adalah Tanjungpuri.

Pada awalnya, penduduk asli Kalimantan tidak menerapkan sistem kerajaan. Kehidupan sosial mereka didasarkan pada adat istiadat dan kepercayaan yang dikembangkan dan diturunkan dari generasi ke generasi. Komunitas ini pada mulanya dibentuk dari sejumlah kecil orang dan jumlah lahan yang diperlukan untuk hidup dan bertani. Dalam perjalanan waktu, mereka berkembang menjadi komunitas yang lebih besar yang membuat adat istiadat mereka lebih kompleks, dan membutuhkan lebih banyak lahan juga. Membuka lahan baru akan menciptakan sebuah komunitas baru sehingga dari waktu ke waktu beberapa komunitas telah terbentuk tetapi mengikuti kebiasaan yang sama dan menghuni daerah yang sama. Mereka menyebut seluruh masyarakat yang memiliki kebiasaan sosial budaya yang sama dan menghuni suatu wilayah sebagai “banua”, yang berarti “dunia”, mirip dengan “mundus” dalam bahasa Latin. Masyarakat di Kalimantan masih dengan kuat menganut konsep “banua” tersebut hingga saat ini.

Pemimpin sosial mereka disebut “raja” atau “rajah”. Nama pemimpin utusan ke Romawi seperti yang dinyatakan oleh Pliny adalah Rachia, mungkin ini adalah seorang “rajah”. James Brooke juga diangkat sebagai “rajah”, yang berkuasa di seluruh wilayah barat Sarawak pada abad ke-19.

Kerajaan diperkenalkan kedalam adat mereka oleh imigran Melayu dari Sumatera sekitar abad ke-4 atau ke-5. Tanjungpura adalah mungkin sebuah “banua” di abad-abad awal dan SM, sehingga nama panjangnya menjadi “Banua Tanjungpura”. Beberapa peta kuno menyebutkannya sebagai “Taiopuro”, yang kemungkinan oleh orang Eropa kemudian disebut dengan nama panjang “Taiopuro Banua”. Untuk menjadikan empat konsonan dalam sebuah nama, kemudian disingkat menjadi “Taprobana” yang juga menjadi nama untuk seluruh pulau, artinya sama dengan “Banua Tanjungpura”.

Tentang nama “Salike” yang diberikan oleh Ptolemy, ada sebuah kata Austronesia “salaka” yang berarti “logam berwarna putih”. Logam ini mungkin adalah campuran emas dan perak, atau “elektrum” dalam bahasa Yunani. Logam ini dapat ditemukan secara alami di wilayah Kalimantan bagian selatan sebagai produk sampingan pertambangan emas. Kata ini sekarang digunakan untuk nama sebuah tanjung, yaitu Tanjung Salaka, yang terletak di pantai selatan Kalimantan yang lokasinya hampir di sekitar lokasi Tanjungpura pada peta kuno.

Budak bebas Annius Plocamus kemungkinan terdampar di sekitar Banjarmasin sekarang, sesuai dengan yang ia sebutkan yaitu di pantai selatan Taprobana. Disebutkan juga bahwa wilayahnya dibagi menjadi dua bagian yang dipisahkan oleh sebuah sungai. Bagian yang satu dipenuhi oleh binatang buas dan gajah, dan yang lainnya dihuni oleh kolonis Prachii, menghasilkan emas dan permata. Sungai tersebut adalah kemungkinan Sungai Barito yang sekarang dan kolonis Prachii adalah suku Banjar yang memang bersifat kolonis di beberapa pulau di Indonesia. Pada peta-peta kuno, suku Banjar disebutkan sebagai Paco, Bancy, Biajo, Bander dan Banjar, dan oleh Ptolemy sebagai Bacchi. Banjarmasin oleh Odoric dari Pordenone (seorang misionaris Fransiskan Italia) disebutkan sebagai Thalamasyn. Banjarmasin oleh lidah Romawi berubah menjadi Palaesimundus.

Alexander Agung dan Kekaisaran Romawi mungkin sengaja menyimpan nama sebenarnya secara rahasia dan dikaburkan dengan nama lain karena pulau ini memiliki sumberdaya yang menguntungkan dengan kualitas unggul yang sangat memikat untuk komoditas perdagangan.

Selain beberapa nama klasik lain, Kalimantan pernah disebut denga nama Nusakencana, secara harfiah berarti “pulau emas”, sebagaimana dinyatakan dalam Ramalan Jayabaya dari Kerajaan Kadiri di Jawa pada abad ke-12. Prasasti Muarakaman ditemukan di daerah hulu Sungai Mahakam di Kalimantan timur tertanggal abad ke-4 juga membuktikan bahwa raja Mulawarman mengadakan amalan banyak emas. Kata “nusakencana” adalah bahasa Austronesia; terjemahannya dalam bahasa Sansekerta adalah “suwarnadwipa”. Suwarnadwipa secara luas dikenal sebagai pulau Sumatera oleh sejarawan tetapi tidak ada prasasti yang secara jelas merujuknya sebagai nama pulau Sumatera, sehingga alternatif lain dari Suwarnadwipa adalah Kalimantan karena pulau ini lebih berlimpah dengan emas daripada Sumatera. Selain itu, Cosmas Indico-pleustes menyebutkan bahwa “Serendip”, lidah Eropa untuk “Suwarnadwipa”, adalah pulau Taprobana.

Kembali ke Daftar Isi

Peta-peta Kuno Kalimantan

Peta-peta di bawah ini menunjukkan perkembangan peta Kalimantan dari abad ke-16 sampai ke-19, dimulai dari peta Abraham Ortelius, yang merupakan atlas modern pertama. Peta Taprobana oleh Ptolemy juga disertakan. Kita bisa melihat dari peta ini bahwa pulau Kalimantan memperoleh bentuk nyata diatas peta baru pada pertengahan abad ke-19.

Para Kartografer peta-peta tersebut semestinya tahu bahwa Kalimantan sebenarnya adalah Taprobana, terlihat pada sangat banyaknya kesamaan nama geographis, tata letak, lokasi, fitur dan deskripsi pulau dan sekitarnya, antara peta Ptolemeus dan peta-peta mereka.

150 Ptolemy

Gambar 21. Ptolemy, Taprobana, 150 M

1570 Abraham Ortelius

Gambar 22. Abraham Ortelius, 1570 M

1572 Abraham Ortelius

Gambar 23. Abraham Ortelius, 1572 M

1594 Petrus Plancius

Gambar 24. Petrus Plancius, 1594 M

1598 Petrus Plancius

Gambar 25. Petrus Plancius, 1598 M

1606 Hondius Jodocus

Gambar 26. Hondius Jodocus, 1606 M

1616 Petrus Bertius

Gambar 27. Petrus Bertius, 1616 M

1619 Gerard Mercator

Gambar 28. Gerard Mercator, 1619 M

1627 Bertius

Gambar 29. Bertius, 1627 M

1630 Ioão Teixeira

Gambar 30. Ioão Teixeira, 1630 M

1632 Johannes Cloppenburgh

Gambar 31. Johannes Cloppenburgh, 1632 M

1638 Joan Janssonius

Gambar 32. Joan Janssonius, 1638 M

1650 Willem Blaeu

Gambar 33. Willem Blaeu, 1650 M

1662 Frederik de Wit

Gambar 34. Frederik de Wit, 1662 M

1680 Pierre Duval

Gambar 35. Pierre Duval, 1680 M

1683 Alain Manesson Mallet

Gambar 36. Alain Manesson Mallet, 1683 M

1687 Giovanni Giacomo De Rossi

Gambar 37. Giovanni Giacomo De Rossi, 1687 M

1688 Robert Morden

Gambar 38. Robert Morden, 1688 M

1689 Vincenzo Maria Coronelli

Gambar 39. Vincenzo Maria Coronelli, 1689 M