1 Komentar

Tahukah Anda: “Sumatra Telah Dikenal Sejak Zaman Rasulullah”

 Monday, February 02, 2015 04:48 WIB

Benarkah pulau Sumatra telah dikenal oleh Rasulullah SAW semasa hidup, serta telah dilalui dan disinggahi para pedagang dan pelaut Arab di masa itu? Pernyataan ini diungkap Prof. Dr. Muhammad Syed Naquib al-Attas di buku terbarunya “Historical Fact and Fiction” yang di seminarkan November 2011 lalu.

Syed Muhammad al Naquib al Attas lahir di Bogor, 5 September 1931 adalah seorang cendekiawan dan filsuf muslim saat ini dari Malaysia. Ia menguasai teologi, filsafat, metafisika, sejarah, dan literatur.

Syed Muhammad al Naquib al Attas
Muhammad al Naquib al Attas

Ia juga menulis berbagai buku di bidang pemikiran dan peradaban Islam, khususnya tentang sufisme, kosmologi, filsafat, dan literatur Malaysia.

Sumber Wikipedia menyebutkan, tahun 1962 Al-Attas menyelesaikan studi pasca sarjana di Institute of Islamic Studies di McGill University, Montreal, Kanada, dengan thesis Raniri and the Wujudiyyah of 17th Century Acheh.

Al-Attas kemudian melanjutkan studi ke School of Oriental and African Studies, University of London di bawah bimbingan Professor A. J. Arberry dari Cambridge dan Dr. Martin Lings. Thesis doktornya (1962) adalah studi tentang dunia mistik Hamzah Fansuri.

Pada 1987, Al-Attas mendirikan sebuah institusi pendidikan tinggi bernama International Institute of Islamic Thought and Civilization (ISTAC) di Kuala Lumpur. Melalui institusi ini Al-Attas bersama sejumlah kolega dan mahasiswanya melakukan kajian dan penelitian mengenai Pemikiran dan Peradaban Islam, ia terkenal kritis terhadap Peradaban Barat.

Kesimpulan Al-Attas ini berdasarkan inductive methode of reasoning. Metode ini, ungkap al-Attas, bisa digunakan para pengkaji sejarah ketika sumber-sumber sejarah yang tersedia dalam jumlah yang sedikit atau sulit ditemukan, lebih khusus lagi sumber-sumber sejarah Islam dan penyebaran Islam di Nusantara memang kurang.

Ada dua fakta yang al-Attas gunakan untuk sampai pada kesimpulan di atas.

Pertama, bukti sejarah Hikayat Raja-Raja Pasai yang di dalamnya terdapat sebuah hadits yang menyebutkan Rasulullah saw menyuruh para sahabat untuk berdakwah di suatu tempat bernama Samudra, yang akan terjadi tidak lama lagi di kemudian hari. Hikayat Raja-raja Pasai antara lain menyebutkan sebagai berikut:

…Pada zaman Nabi Muhammad Rasul Allah salla’llahu ‘alaihi wassalama tatkala lagi hajat hadhrat yang maha mulia itu, maka sabda ia pada sahabat baginda di Mekkah, demikian sabda baginda“Bahwa sepeninggalku ada sebuah negeri di atas angin Samudera namanya. Apabila ada didengar khabar negeri itu maka kami suruh engkau (sediakan) sebuah kapal membawa perkakas dan kamu bawa orang dalam negeri (itu) masuk Islam serta mengucapkan dua kalimah syahadat. Syahdan, (lagi) akan dijadikan Allah Subhanahu wa ta’ala dalam negeri itu terbanyak daripada segala Wali Allah jadi dalam negeri itu”

Dasarnya tentu sangat kuat baik secara teologis maupun secara antropologis. Menurutnya, Hamzah Fansuri, Nurruddin Ar-Raniry, Syamsuddin As-Sumatrani, Syech Abdurrauf As-singkili yang terkenal dengan nama Syeikh di Kuala atau Syiah Kuala adalah sekian diantara ulama besar Aceh yang pernah ada di zaman keemasan kesultanan Pasai dan Kerajaan Aceh Darussalam.

Bahkan, sekian diantara Wali Songo memiliki garis hubungan pendidikan atau lulusan (alumni) yang berguru di Samudera Pasai sebagai pusat peradaban Islam Asia tenggara kala itu. Bahkan beberapa diantaranya ada yang memiliki hubungan keturunan dengan Aceh penyebar Islam di tanah Jawa.

Sumber wikipedia menyebutkan, bahwa asal-usul penamaan pulau “Sumatra” sendiri berasal dari keberadaaan sebuah kerajaan benama Samudera Pasai (terletak di pantai pesisir timur Aceh). Diawali dengan kunjungan Ibnu Batutah, petualang asal Maroko ke negeri tersebut pada tahun 1345, dia melafalkan kata Samudera menjadi Samatrah, dan kemudian menjadi Sumatra atau Sumatera, selanjutnya nama ini tercantum dalam peta-peta abad ke-16 buatan Portugis, untuk dirujuk pada pulau ini, sehingga kemudian dikenal meluas sampai sekarang. (Nicholaas Johannes Krom, De Naam Sumatra, BKI, 100, 1941.)

Kedua, berupa terma “kāfūr” yang terdapat di dalam Al-Qur’an. Kata ini berasal dari kata dasar “kafara” yang berarti menutupi. Kata “kāfūr” juga merupakan nama yang digunakan bangsa Arab untuk menyebut sebuah produk alam yang dalam Bahasa Inggris disebut camphor, atau dalam Bahasa Melayu disebut dengan kapur barus.

Masyarakat Arab menyebutnya dengan nama tersebut karena bahan produk tersebut tertutup dan tersembunyi di dalam batang pohon kapur barus/pohon karas (cinnamomum camphora) dan juga karena “menutupi” bau jenazah sebelum dikubur.

Produk kapur barus yang terbaik adalah dari Fansur (Barus) sebuah kecamatan di Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, yang terletak di pantai barat Sumatra.

Dengan demikian tidak diragukan wilayah Nusantara lebih khusus lagi Sumatra telah dikenal oleh Rasulullah dari para pedagang dan pelaut yang kembali dengan membawa produk-produk dari wilayah tersebut (pasai) dan dari laporan tentang apa yang telah mereka lihat dan dengar tentang tempat-tempat yang telah mereka singgahi.

Prof. Dr. Muhammad Syed Naquib al-Attas

Menurut berita-berita luar yang juga diceritakan dalam Hikayat Raja-raja Pasai (Pase) kerajaan ini letaknya di kawasan Selat Melaka pada jalur hubungan laut yang ramai antara dunia Arab, India dan Cina. Disebutkan pula bahwa kerajaan ini pada abad ke XIII sudah terkenal sebagai pusat perdagangan di kawasan itu.

Kembali menurut Al-Attas, ia menyebutkan, ada empat faktor penyebab minimnya sumber dan kajian sejarah Islam dan sejarah penyebaran Islam di Nusantara.

Pertama, sumber dan karya ilmiah sejarah Islam yang ditulis dalam huruf Jawi/Pego (Arab latin) oleh masyarakat Nusantara tidak begitu terkenal di kalangan ilmuwan Barat karena tidak banyak dari mereka yang pandai membaca tulisan Jawi.

Kedua, banyak sumber sejarah yang hilang atau tidak diketahui keberadaannya pada zaman penjajahan.

Ketiga, biasanya sumber-sumber sejarah yang ditulis masyarakat Nusantara dianggap oleh orientalis sebagai artifak sastra, sebagai karya dongeng atau legenda, yang hanya bisa dipelajari dari sudut filologi atau linguistik, dan tidak bisa diterima sebagai sumber sejarah yang sempurna dan benar.

Keempat, karena minimnya sumber dan kajian sejarah Islam Nusantara membuat para ilmuwan Barat hanya menggunakan sumber, kajian dan tulisan dari luar Nusantara termasuk dari Barat. Mereka tidak memperhatikan atau mungkin tidak tahu adanya bahan-bahan dan informasi yang terdapat dalam berbagai sumber sejarah Islam termasuk sumber-sumber sejarah dari wilayah Nusantara.

Prof. Dr. Abdul Rahman Tang, Akademis dan dosen pasca sarjana di Departemen Sejarah dan Peradaban, Kulliyyah of Islamic Revealed Knowledge and Human Sciences di International Islamic University Malaysia, selaku pembanding menyatakan kajian sejarah Islam Nusantara yang dilakukan al-Attas dalam buku tersebut sebagian besar bersifat spekulatif.

Salah satu fakta spekulatif tersebut adalah hadits yang terdapat dalam Hikayat Raja Raja Pasai.

Menurutnya, fakta-fakta tersebut bisa valid jika telah menjalani proses “verification of fact”. Namun Al-Attas tidak melakukan proses ini terhadap hadits yang disebutkan di dalam hikayat raja-raja pasai tersebut.

Historical Fact and Fiction

Muslim China warga Malaysia ini mempertanyakan tentang hadits ini dan mengkhwatirkan implikasinya terhadap pemikiran masyarakat Nusantara. Menurutnya, al-Attas melakukan inductive methode of reasoning secara tidak konstruktif. Sedang Dr. Syamsuddin Arif, dosen IIUM asal Jakarta, selaku pembicara kedua dalam acara bedah buku tersebut mengungkapkan kesimpulan al-Attas di atas logis dan sesuai dengan fakta.

Hal ini berdasarkan perjalanan pelaut dan pedagang Arab pada masa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam  yang pergi ke China. Untuk mencapai negeri China melalui laut tak ada rute lain kecuali melalui dan singgah wilayah Nusantara.
Lebih lanjut Arif mengemukakan berbagai teori dan pendapat tentang kapan, dari mana, oleh siapa, dan untuk apa penyebaran Islam di Nusantara beserta bukti-bukti dan fakta-fakta yang digunakan untuk mendukung pendapat-pendapat tersebut. Arif juga menjelaskan ilmuwan siapa saja yang memegang dan yang menentang pendapat-pendapat tersebut.
Di akhir makalahnya, Arif mempertanyakan pendapat J.C. Van Leur yang pertama kali menyatakan bahwa penyebaran Islam di Nusantara dimotivasi oleh kepentingan ekonomi dan politik para pelakunya.

Van Leur dalam bukunya “Indonesian Trade and Society” berpendapat, sejalan dengan melemahnya kerajaan-kerajaan Hindu-Budha di Sumatera dan khususnya di Jawa, para pedagang Muslim beserta muballigh lebih berkesempatan mendapatkan keuntungan dagang dan politik.

Dia juga menyimpulan adanya hubungan saling menguntungkan antara para pedagang Muslim dan para penguasa lokal.

Pihak yang satu memberikan bantuan dan dukungan materiil, dan pihak kedua memberikan kebebasan dan perlindungan kepada pihak pertama.

Menurutnya, dengan adanya konflik antara keluarga bangsawan dengan penguasa Majapahit serta ambisi sebagian dari mereka untuk berkuasa, maka islamisasi merupakan alat politik yang ampuh untuk merebut pengaruh hingga menghimpun kekuataan.

Menurut catatan M. Yunus Jamil, bahwa pejabat-pejabat Kerajaan Islam Samudera Pasai terdiri dari orang-orang alim dan bijaksana. Adapun nama-nama dan jabatan-jabatan mereka adalah sebagai berikut:

1. Seri Kaya Saiyid Ghiyasyuddin, sebagai Perdana Menteri.
2. Saiyid Ali bin Ali Al Makaarani, sebagai Syaikhul Islam.
3. Bawa Kayu Ali Hisamuddin Al Malabari, sebagai Menteri Luar Negeri.

Dari catatan-catatan, nama-nama dan lembaga-lembaga seperti tersebut di atas, Prof. A. Hasjmy berkesimpulan bahwa, sistem pemerintahan dalam Kerajaan Islam Samudera Pasai sudah teratur baik, dan berpola sama dengan sistem pemerintahan Daulah Abbasiyah di bawah Sultan Jalaluddin Daulah (416-435 H).

Nama Samudera dan Pasai sudah populer disebut-sebut baik oleh sumber-sumber Cina, Arab dan Barat maupun oleh sumber-sumber dalam negeri seperti Negara Kertagama (karya Mpu Prapanca, 1365) pada abad ke 13 dan ke-14 Masehi. Dan tentang asal usul nama kerajaan ini ada berbagai pendapat.

Menurut J.L. Moens, kata Pasai berasal dari istilah Parsi yang diucapkan menurut logat setempat sebagai Pa’Se. Dengan catatan bahwa sudah semenjak abad ke VII M, saudagar-saudagar bangsa Arab dan Parsi sudah datang berdagang dan berkediaman di daerah yang kemudian terkenal sebagai Kerajaan Islam Samudera Pasai .

Mohammad Said, salah seorang wartawan dan cendikiawan Indonesia pengarang buku ACEH SEPANJANG ABAD yang berkecimpung dengan penelitiannya tentang kerajaan ini dan kerajaan Aceh, dalam prasarannya yang berjudul “Mentjari Kepastian Tentang Daerah Mula dan Cara Masuknya Agama Islam ke Indonesia”, berkesimpulan bahwa istilah PO SE yang populer digunakan pada pertengahan abad ke VIII M seperti terdapat dalam laporan-laporan Cina, adalah identik atau mirip sekali dengan Pase atau Pasai.
Pendapat ini adalah sesuai dengan apa yang telah dikemukakan oleh Prof. Gabriel Ferrand dalam karyanya (L’Empire, 1922, hal.52-162), dan pendapat Prof. Paul Wheatley dalam (The Golden Khersonese, 1961, hal.216), yang didasarkan pada keterangan para musafir Arab tentang Asia Tenggara. Kedua sarjana ini menyebutkan bahwa sudah sejak abad ke-7 Masehi, pelabuhan-pelabuhan yang terkenal di Asia Tenggara pada masa itu, telah ramai dikunjungi oleh para pedagang dan musafir-musafir Arab. Bahkan pada setiap kota-kota dagang itu telah terdapat fondachi-fondachi atau permukiman-permukiman dari pedagang-pedagang yang beragama Islam. Wallahu’alam bissawab..

Referensi:

Readmore: http://www.atjehcyber.net/2012/05/tahukah-anda-sumatra-telah-dikenal.html#ixzz3iSoRT1Zm
Sumber: @atjehcyber | fb.com/atjehcyberID

Iklan

One comment on “Tahukah Anda: “Sumatra Telah Dikenal Sejak Zaman Rasulullah”

  1. ALTER PADA BUDAYA NUSANTARA KU.
    Untuk dapat menikmati suatu kebanggaan, yang ingin kurasakan sebagai masyarakat bani jawi, kucoba menelusuri kepustakaan yang ada di Google, dimulai planet kita terbentuk 4.600 juta tahun yang lalu, sedangkan informasi bahwa proto homonoid yang merupakan pra-manusia adalah suatu bentuk manusia purbakala, yang sudah ada semenjak satu juta tahun yang lalu, tapi ada juga yang menyebut 400 juta yang lalu, dan berkembang secara evolusi tentunya bukan menurut dogma agama. Penelitian selanjutnya akan diulas secara akademis bahwa manusia diperkirakan bermula sejak 44.000 tahun yang lalu, dan mereka sudah dianggap manusia modern (homo sapiens) sekitar 11.000 tahun yang lalu. Sekarang marilah coba bayangkan dan bandingkan dengan masyarakat yang hidup di sekitar Gunung Padang Cianjur yang dihebohkan akhir-akhir ini, dimana masyarakat bani jawi sudah berbudaya sejak 25.000 tahun yang lalu (terbukti hasil pengeboran kedalaman 5 sampai 12 meter telah berusia 14.500 sampai 25.000 tahun), luar biasa bukan dan tentunya sangat membanggakan, bukan untuk diriku tapi semua bani jawi, diantarnya sunda, jawa, sumantra, sulawasi, kalimantan, malayasia, muangthai, myanmar, dan lainlain itu memperlihatkan suatu produk peradaban tinggi, dan dapat dikatakan suatu mahakarya arsitektur dari jaman pra-sejarah. Fenomena ini tidaklah mengherankan kalau diteliti secara keilmuan, sebab Pithecanthropus Erectus (manusia Jawa) merupakan manusia purba Nusantara yang hidup sekitar dua juta hingga 200.000 tahun yang lalu. Dengan demikian perkembangan kebudayaan mereka telah menelan waktu 175.000 tahun guna mencapai peradaban dan budaya yang dipertunjukan dan terpatri di situs reruntuhan arkeologi Gunung Padang. Dan rasa bangga nya lagi bahwa ternyata masyarakat Sunda Kuno mempunyai keyakinan yang dikenal sebagai agama sunda wiwitan, disamping suku jawa dengan ‘sangkan paraning dumadi’ adalah memiliki suatu kepercayaan monotheisme, suatu keyakinan bahwa Allah Yang Maha Kuasa yang dilambangkan dalam bahasa sunda sebagai ‘nu ngersakeun, dan itulah sebabnya disebut juga Sang Hyang Keresa, dengan demikian bahwa bani jawi yang melalang buana ke manca negara pada saat pra sejarah itu dengan mengendarai perahu layar purba seperti terpahat di dinding candi Borobudur, mereka dengan berbekal ajaran monotheisme, dan yang nantinya akan berintergrasi dengan keyakinan nabi Ibrahim AS.
    Sudah ditakdirkan bahwa bani jawi mempunyai kemampuan alter hebat, terbukti dijaman sekarang terdapat seorang berkemampuan spiritual, juga katanya seorang guru besar, begitu mampu menganyam/menyusun puzzle sejarah bangsa nusantara yang hilang semenjak kehidupan seputar Gunung Padang (missing link). Beliau bercerita bahwa: sebelum Kerajaan Tarumanegara ataupun Kutai berkuasa di Nusantara ini adalah terdapat kerajaan besar yang tidak tercatat dalam sejarah Nusantara, yaitu Kerajaan Caringin Kurung yang berada di Puncak Manik, Gunung Handalus yang sekarang dikenal sebagai Gunung Salak, Bogor yaitu daerah dekan Cianjur.
    2
    Inilah nenek moyang sejati dari bangsa Indonesia, tidak berasal dari luar seperti diceritakan dalam sejarah, tapi justru berasal dari dirinya yaitu nusantara. Ternyata Raja Mulawarman dari Kerajaan Lunggai (sekarang disebut Kutai) adalah keturunan dari Raja Caringin Kurung ke-4 dan dia adalah mertua dari Raja Purnawarman dari Tarumanegara. Era Kerajaan Caringin Kurung ini merentang sejak Raja Caringin Kurung ke-I sampai XIII, dari abad 4 sebelum Masehi sampai abad 2 sesudah M, dan bagi masyarakat sunda salah satu rajanya yang terkenal adalah Prabu Siliwangi yang selalu memegang inti ajaran bani jawi cukup sederhana, tapi sukar dilaksanakan yaitu adil paramarta, hambeg lakutama, berbudhi bawaleksana yang dikenal sebagai senjata pegangannya yaitu trisula weda, ditambah lagi dengan pedang katresnan yang sangat tajam, berupa niat suci, dengan penuh kasih sayang, dan dibawah payung kebenaran (hehheee baca deh sendiri di google).
    Nabi Ibrahim yang telah terpapar oleh spiritual istrinya bernama Ken Turah yang berasal dari masyarakat bani jawi yang mengembara ke timur tengah sampai ke mesir berjualan kemenyan dan kapur barus, dan disaat beliau menyadari bakal meninggal dunia, pada anaknya Isak dan Ismail diberikan warisan, sedangkan pada anaknya yang berasal dari istri ketiga Ken Turah ini, yang mempunyai 6 anak laki, beliau memberikan wasiat yang sangat berharga yaitu suatu serpihan puzzle berbentuk kunci rahasiah yaitu ketimur, gunung, keris, dan alter yang harus dicari untuk mendapatkan asal usul dari sang ibunya, mungkin juga ujungujungnya harta karun emas yang ada dalam perut bumi. Adalah sekelumit riwayat Keturah dalam teks Yahudi kuno yang berarti kemenyan ataupun wewangian yang biasa dapat digunakan dalam upacara ritual, disisi lain kita teringat bahwa masyakat purba kita yang melalang buana sebagai pelaut ulung itu keseluruh manca negara yang salah satunya menuju kearah ke timur tengah itu (kerajaan Fir’aun), seperti terlihat dari pahatan perahu di dinding candi Borobudur itu dalam upaya berniaga menjual kemenyan, kapur barus, emas dan tembaga, yang keberangkatan mereka dari pelabuhan Baros Sumantra, maupun dari pantai utara pulau jawa.
    Kita masih ingat hapalan sejarah nusantara, bahwa Ken Arok si anak bengal dan penjudi dari anak haram seorang brahmana dapat mencapai kedudukan sebagai seorang raja di Tumampel, selanjutnya dikenal sebagai kerajaan Singosari setelah menang dari pasukan kerajaan Kediri yang rajanya bernama Kertajaya, sehingga akhirnya Ken Arok bergelar Sri Rajasa Batara Sang Amurwabhumi. Dari kisah selanjutnya Ken Arok dan Ken Dedes lah akan menurunkan wangsa yang dikemudian hari merupakan cikal bakal raja di tanah jawa. Dan juga jangan lupa bahwa sejarah nusantara diantaranya dibangun oleh kisah keris Mpu Gandring yang bertuah, yang mengandung kutukan, telah memakan korban 7 para raja dari kalangan elit Singosari tewas diujung keris mpu Gandring, suatu kerajaan megah berdiri di daerah sejuk Malang, Jawa Timur.
    Dari informasi di atas maka dapat diambil kesimpulan bahwa sudah terjawablah puzzle keris, dan alter wasiat Nabi Ibrahim AS kepada anaknya yang harus mencari leluhurnya yaitu melalui keris, dan pengertian alter yang dipunyai oleh mpu Gandring, yang terbukti kutukan keris yang belum sempurna itu setelah ditikamkan pada dirinya (mpu Gandring) akan meminta korban lagi sebanyak enam kali.
    Kemampuan alter lain bisa kita ambil dari sejarah kerajaan Kediri, dimana Maharaja Jayabhaya seorang raja kerajaan Kadiri yang memerintah dari tahun 1135 sampai tahun 1157 dengan gelar Sri Maharaja Sang
    3
    Mapanji Jayabhaya Sri Warmeswara Madhusudana Awataranindita Suhtrisingha Parakrama Uttunggadewa.
    Alkisah sang prabu diinformasikan oleh staf kerajaan akan kedatangan tamu ‘terhormat’, seorang pandita dari kerajaan Rum yang bernama Sultan Maolana yang mengakuaku sebagai cucu rasul, dikenal dari sastra jawa sebagai Ngali Samsujen. Sebagai orang timur yang beradab berbudi luhur maka sang prabu tentunya menerima tamu tersebut dengan penuh kehormatan tinggi. Akan tetapi sebenarnya siapakah Sultan Maolana tersebut. Di dalam kepustakaan google, terungkap bahwa yang dimaksud Rum adalah kekaisaran Seljuk Raya yang dikenal juga sebagai kekaisaran Seljuk Agung adalah imperium Islam Sunni. Pada saat itu dinegaranya sedang terjadi gonjang ganjing perebutan kekuasaan antara islam sunni dengan islam syi’ah. Tentunya dengan demikian Sultan Maolana diperkirakan berpaham syi’ah yang telah meninggalkan negrinya untuk menghindari dari kejaran kaum sunni, menuju ke arah timur sesuai dengan wasiat nabi Ibrahim SA, dan bermaksud sowan pada leluhurnya dan mencari pengaruh, dan beliau menuju ke sebuah bukit atau gunung yang masyarakatnya mempunyai keyakinan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, dan alhamdulilah dia sampai ke daerah Cianjur tempat spiritual yang hebat bani jawi yaitu Gunung Padang.
    Perlu diingat bahwa kemungkinan kekaisaran Seljuk Raya saat itu dipimpin oleh seorang khalifah bernama Abu Harits Sanjar (1117 – 1128 M) yang merupakan khalifah terakhir, itulah sebabnya sultan Maolana berlayar meninggalkan negerinya, dan sampai di nusantara dengan mengaku-ngaku sebagai cucu rasul wkwkwk apa mungkin ?.
    Pertemuan dengan Joyoboyo tentunya banyak manfaatnya bagi sang sultan Maolana, dan setelah berdiskusi dan saling menimba ilmu, sang sultan pamit diri, maka selanjutnya kemampuan diri sang prabu akan dikenal oleh masyarakat bani jawi sebagai seorang yang mempunyai daya kemampuan alter yang tinggi, terbukti dengan produk ramalan/jangka, yang dikenal dan dapat dibuktikan merupakan bentuk alter Joyoboyo tingkat tinggi.
    Sang Prabu memanggil anak lakinya, diajak sang bapak guna menemaninya ke Gunung Padang dengan perjalanan membutuhkan waktu satu bulan, untuk menemui Ajar Subrata seorang petapa yang tengah menjaga kelestarian agama Sunda Wiwitan. Tentunya Ajar Subrata menyambutnya dengan penuh hormat karena sang Prabu merupakan titisan Betara Wisnu. Dua orang tersebut mempunyai daya linuwih tinggi/alter/ilmu hakikat beradu kesaktian dalam bernubuat, dan dikisahkan Ajar Subrata menghidangkan bermacam hidangan ataukah itu bentuk simbol nubuat, dan ternyata dapat dijawab dengan baik oleh sang Prabu. Pada akhirnya sang Prabu mencabut keris dan menikamkan ke tubuh sang Ajar Subrata sehingga putranya terkesima bagaimana ayahnya membunuh Ajar. Dan pada akhirnya dikesempatan yang baik di istana raja, sang Prabu menceritakan pada anaknya, mengapa melakukan pembunuhan itu, dan dijelaskan bahwa semua kejadian itu disebabkan atas permintaan Sultan Maolana yang tersinggung kalah debat dengan Ajar Subrata. Dan memohon pada sang Prabu dengan cara provokasi/munafik tentunya untuk dapat membalas dendamnya, dengan meminta membunuh Ajar.
    Disini tercerminkan bahwa bagaimanapun budaja jawi lebih luhur itu diciderain oleh kebohongan dari budaya arab, dan bagaimana munafiknya sang sultan berbohong dengan menafsirkan suatu kejadian menurut budaya arabnya. Dan berbanggalah wahai masyarakat jawi, hargailah budaya sendiri, coba pakai pikiran jernih masa nabi Ibrahim AS yang hidup 3000 tahun yang lalu begitu menghargai budaya bani Jawi dengan memberikan wasiat pada anaknya dari ibunya Ken Turah (masih ada baubau dengan Ken
    4
    Arok, Ken Dedes, maupun Ken Umang), dan harus dilaksanakan berupa puzzle: ke arah timur, menuju bukit (bukit padang), keris (keris empu Gandring), dan alter bagaimana Joyoboyo membuat jangka atau ramalan yang terbukti kebenarannya, sedangkan disisi lain kalian masyarakat jawi sangat menyedihkan dengan mengacuhkan dan melupakan budaya luhur bani jawi, dan anehnya justru mereka itu terkesima dengan mengikuti budaya arab yang dikenal sebagai pembohong/jahiliah hehhehheee.
    Ingatlah bahwa kebanyakan mereka itu menggunakan agama untuk kepentingan politik, kedudukan, dan duit seperti contoh yang dikemukakan bpk Sarlito:
    • Betul, intinya adalah “Pemerasan hanya dilakukan oleh orang yang punya kekuatan, dan kebetulan, kekuatan itu saat ini dilambangkan dengan simbol-simbol agama”.
    • Kalau kita lihat sejarah, hampir tidak ada bukti bahwa kembali kepada ortodoksisme akan membawa kita sampai kepada kemajuan.
    • Tesis nya Sarlito: intinya sebetulnya terletak pada peran media masa.
    Kondisi mental dan psikologi umat Islam Indonesia setelah zaman reformasi belum kunjung berubah. Perasaan terus terkepung (siege mentality) oleh pelbagai isu, masih saja terus menghantui. Padahal, Islam tetap terus berkembang dengan wajar, baik di Indonesia bahkan di banyak belahan dunia.
    Asumsi cerita di atas ini hanyalah sebagai keinginan untuk mendapatkan suatu rasa bangga, yang dianyam indah dari arkeologi yang terdapat di Nusantara ini, dan dalam menyaksikan kehidupan beragama umat dunia, yang seharusnya hidup berdampingan secara damai, seperti dianjurkan dan tertuang dalam Qs. Al A’raf:176 yang berbunyi: “…………..maka ceritakanlah kisah-kisah agar mereka berpikir”.
    Wassalam
    Bandung 04 Agustus 2014
    H. Bebey

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

Atlantis in the Java Sea

A scientific effort to match Plato’s narrative location for Atlantis

Sembrani

Berbagi Ide, Saling Cinta

Nurul Wirda

0812-8267-9182

aawanto

The greatest WordPress.com site in all the land!

Covert Geopolitics

Beyond the Smoke & Mirrors

Catatan Harta Amanah Soekarno

as good as possible for as many as possible

Modesty - Women Terrace

My Mind in Words and Pictures

Kanzunqalam's Blog

AKAL tanpa WAHYU, akan berbuah, IMAN tanpa ILMU

Cahayapelangi

Cakrawala, menapaki kehidupan nusantara & dunia

religiku

hacking the religion

SANGKAN PARANING DUMADI

Just another WordPress.com site

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

%d blogger menyukai ini: