Tinggalkan komentar

ABDUL HADI WM: MENEROKA SUFISME

9 jam ·

ABDUL HADI WM: MENEROKA SUFISME
Pidato Kebudayaan Ulang Tahun ke-69 Abdul Hadi WM, Jakarta: Universitas Paramadina

 Hadiah ulang tahun ke-69 untuk Abdul Hadi WM

Maman S Mahayana

Hadiah ulang tahun ke-69 untuk Abdul Hadi WM

ABDUL HADI WM: MENEROKA SUFISME

Pidato Kebudayaan Ulang Tahun ke-69 Abdul Hadi WM, Jakarta: Universitas Paramadina Mulya, 25 Juni 2015

Maman S Mahayana

Jagat tasawuf bagaikan kisah para aulia yang berada di alam gaib nun jauh di sana di dunia entah-berantah; eksklusif dan konon, cuma segelintir makhluk manusia yang dapat memasukinya. Kaum sufi dalam kehidupan kesehariannya yang zuhud, berada setingkat di bawah malaikat, dan tujuh tingkat di atas manusia biasa yang masih bergulat dengan urusan syahwat duniawi. Kehidupan kaum sufi adalah kisah para pertapa, jagat asketisisme yang cuma mengurusi perkara menyiapkan bekal untuk akhirat.

Begitulah pandangan masyarakat awam tentang tasawuf dan kehidupan kaum sufi. Setidak-tidaknya, pandangan itulah yang bergaung di kalangan teman-teman seangkatan saya dan beberapa sastrawan yang mulai berkiprah awal tahun 1980-an.

Tambahan pula, ada pemeo begini: “Janganlah belajar tasawuf tanpa guru. Sebab, jika begitu, gurunya tidak lain adalah setan.” Maka, makin terasinglah dunia tasawuf dan kehidupan kaum sufi sebagai sebuah pengetahuan yang dapat dipelajari dengan gembira. Tasawuf dan kehidupan kaum sufi bertambah jauh rasanya dari jangkauan; terpencil sendiri berada di dunia yang senyap, tetapi riuh dengan doa-doa pemujaan dan kerinduan jumpa dengan Sang Khalik. Kami yang ketika itu merasa masih mualaf dan hidup dalam kubangan nafsu duniawi, laksana manusia kotor yang tak pantas mempelajari tasawuf, apalagi coba memasukinya.
***
Sebuah koran medioker yang menyediakan ruang sastra pada hari Minggu, muncul dengan artikel-artikel sastranya yang segar, merangsang, dan bernuansa polemis. Koran itu bernama Berita Buana. Pengasuh rubrik sastranya bernama Abdul Hadi WM, sastrawan angkatan 70-an. Selain memuat puisi dan cerpen, esai-esai sastra di suratkabar itu menawarkan cara pandang yang agak tak lazim dan membuka perspektif baru, khususnya tema-tema yang berkaitan dengan kesusastraan Indonesia.

Dari sana, tema-temanya merambat, lalu meluas, meneroka, membuka cakrawala pengetahuan dunia tasawuf dan kehidupan kaum sufi. Dari perbalahan yang terjadi di Berita Buana itulah –sejauh pengetahuan saya—awal munculnya kesemarakan penggunaan istilah-istilah sastra Islam, sastra sufistik, sastra transendental, sastra profetik, dan segala konsep atau istilah yang berkaitan dengan dunia tasawuf.

Simpang-siur sejumlah konsep dan peristilahan itu, bukanlah sekadar kegandrungan atas fenomena baru yang muncul semarak ketika itu. Mereka, istilah-istilah itu, tidak menjelma ‘minyak dalam air’. Mereka menyatu dalam kesadaran. Nah, dalam perkara itu, kita tidak dapat mengabaikan peranan Abdul Hadi WM. Selaku redaktur budaya suratkabar itu, lewat esai-esainya, ia coba menjelaskan segalanya menjadi kontekstual dan mencantel pada perkembangan kesusastraan Indonesia waktu itu yang semarak dengan berbagai usaha eksperimentasi. Konsep absurditas dan absurdisme yang diadopsi dari drama kontemporer Eropa dan kisahan yang disebut arus kesadaran (stream of consciousness) yang –juga dari Barat— dan diperkenalkan Iwan Simatupang, Kuntowijoyo, dan Putu Wijaya, dijelaskan Abdul Hadi WM dalam konteks tradisi kultural yang melatarbelakangi sastrawannya. Maka, Kapai-Kapai (Arifin C. Noer), tidak dapat melepaskan diri dari kacerbonannya; Dag-Dig-Dug (Putu Wijaya), tidak menanggalkan kebaliannya; atau Khotbah di Atas Bukit (Kuntowijoyo) tetap menunjukkan spirit Islam wong Jawa.

Semuanya ditempatkan dalam kerangka konsep “Kembali ke Akar, Kembali ke Sumber”.

Cerpen-cerpen Fudoli Zaini, Kuntowijoyo, Muhammad Diponegoro, Danarto, serta puisi-puisi Sutardji Calzoum Bachri, Emha Ainun Najib, Mustofa Bisri, Zawawi Imron, Ikranegara, dan entah siapa lagi, menjadi teks yang hidup yang dijiwai spirit Islam. Abdul Hadi menarik karya-karya itu lebih jauh sebagai representasi penggalian tradisi Islam yang memang begitu kaya simbolisme. Itulah sastra transendental! Itulah sastra dengan spirit sufistik! Itulah sastra Indonesia yang sesungguhnya mengisyaratkan simbol-simbol dunia tasawuf yang khas Indonesia. Mereka tidak dapat melepaskan diri dari ibu budayanya yang bernama kebudayaan Nusantara yang dibangun lewat tiga pilar peradaban agungnya: Hinduisme, Buddhisme, dan Islamisme. Ketiganya berkelindan dengan tradisi dan sistem kepercayaan yang sudah tumbuh dan berkembang di masyarakat Nusantara. Maka, ketiga pilar peradaban itu seketika dinusantarakan.

Sementara itu, nama-nama Fariduddin ‘Attar, Rabiah Al-Adawiyyah, Ibn ‘Arabi, Jalaluddin Rumi, Mansur Al-Hallaj, Muhammad Iqbal sampai ke Hamzah Fansuri, Syekh Siti Jenar, Yosodipura dan Ronggowarsito, yang semula begitu asing dan senyap terbungkus bayang-bayang pemberhalaan teori-teori Barat, mendadak menjadi daya pemikat sastrawan kita untuk memburu dan menyelami karya para pujangga sufi. Kegigihan Abdul Hadi WM menerjemahkan sejumlah besar karya mereka dan mengantarkannya dalam uraian yang luas dan mendalam, telah menjadikan puisi-puisi sufistik, tidak lagi berada nun jauh di sana. Karya-karya para aulia itu menjadi bacaan yang memberi inspirasi pada sejumlah besar penyair Angkatan 70-an. Dengan begitu, ikut memprovokasi masyarakat pada umumnya, dan sekaligus mengikis keangkeran dunia tasawuf dan mistisisme. Diskusi-diskusi tentang dunia tasawuf dan kehidupan kaum sufi yang terjadi di kampus-kampus atau komunitas sastra, makin semarak dan bukan hal aneh lagi.
***
Sebermula berangkat dari pencermatan Abdul Hadi WM atas kecenderungan yang terjadi dalam perkembangan sastra Indonesia tahun 1970-an, lalu menukik lebih tajam dan melebar lebih luas mengungkapkan konsep estetik sastrawan Indonesia tahun 1970-an. Gagasan itu menjadi semacam penegasan, bahwa sastrawan—bahkan juga seniman Indonesia, pada dasarnya punya kekayaan kultural berupa tradisi yang ditanamkan para pujangga masa lalu yang kemudian diperlakukan sebagai sumber untuk menghidupkan kreativitas mereka. Esai Abdul Hadi WM tentang sastra sufi dan konsep estetik sastrawan Indonesia tahun 1970-an, melahirkan polemik riuh, bernas, dan memberangsangkan. Beberapa media massa ketika itu, termasuk majalah sastra Horison, ikut meramaikan wacana itu sebagai kecenderungan baru dalam sastra Indonesia.

Muncul pula esai lain yang mendukung, menolak, atau melebarkan perbincangannya. Di sana, terungkap gagasan Sutardji Calzoum Bachri, Danarto, Ahmadun Yosi Herfanda, Ahmad Nurullah, Fudoli Zaini, Taufiq Ismail, Kuntowijoyo, Arifin C. Noer, dan entah siapa lagi. Saya mengkliping esai-esai itu, menikmatinya sambil minum kopi. Tetapi, semakin esai-esai itu dipelajari agak serius, semakin besar pula rasa penasaran untuk masuk dan menukik lebih mendalam. Maka terhamparlah karya-karya para aulia, meski hadir dalam bentuk terjemahan.
Tidak lama setelah hiruk-pikuk esai-esai di Berita Buana, muncul pula rubrik Khazanah di harian Pelita. Pengisi paling rajin rubrik itu, tidak lain adalah Abdul Hadi WM. Kembali, kami mengkliping esai-esai itu dan mempelajarinya sampai ke sumbernya yang terdalam. Dari sanalah perbincangan tentang sastra Islam, tasawuf, dan puisi-puisi sufistik menjadi topik yang entah mengapa, menjadi semacam kebanggaan ketika kami mendiskusikannya.

Dunia tasawuf dan kehidupan kaum sufi seketika menjadi kisah yang inspiring. Puisi-puisi karya para aulia itu menjadi semacam trending topic yang asyik dan kita bangga menyuarakannya di depan publik.

Majalah sastra Horison, juga tidak ketinggalan mengangkat topik itu. Abdul Hadi WM, Taufiq Ismail, Fudoli Zaini, Ali Audah, Sutardji Calzoum Bachri, Hamid Jabbar, Danarto, dan entah siapa lagi, tidak hanya menyuarakan gagasannya, tetapi juga menunjukkannya dalam sejumlah karya. Amir Hamzah yang diangkat H.B. Jassin sebagai Raja Penyair Pujangga Baru, ditelisik lewat perspektif lain. Jika kajian Jassin cenderung memusatkan perhatiannya pada kata-kata arkaik yang dimanfaatkan Amir Hamzah, Abdul Hadi WM melihatnya sebagai kerinduan ilahiah, yang dikatakannya sebagai spirit apokaliptik. Percintaan yang memabukkan manakala si aku lirik hanyut dalam hasrat jumpa dengan Tuhan.

Bukan cuma itu. Karya-karya Hamzah Fansuri yang nyaris terkubur dan berada di tempat yang lapuk, statis, beku, dan membelenggu, sebagaimana yang terus-menerus dipropagandakan Sutan Takdir Alisjahbana, seketika menjelma syair-syair simbolik. Esai-esai Abdul Hadi WM tentang Hamzah Fansuri dan transliterasi atas puisi-puisinya laksana panduan untuk memahami posisi Hamzah Fansuri dan bagaimana usaha menafsirkan simbol-simbol yang bertaburan dalam puisi-puisinya. Puisi-puisi Hamzah Fansuri dan dunia tasawuf yang mendekam dalam karya-karyanya tidak lagi menjadi artefak tanpa makna, beku dan membelenggu, melainkan sebuah teks sastra (puisi) yang hanya dapat dipahami jika kita tidak melepaskannya dari konteks historis dan filosofis.

Dikatakan Abdul Hadi WM: “Syekh telah berhasil meletakkan dasar-dasar puitika dan estetika Melayu yang mantap dan kukuh. Pengaruh estetika dan puitika yang diasaskan oleh Syekh Hamzah Fansuri di dalam kesusastraan Indonesia dan Melayu masih kelihatan sampai abad ke-20, khususnya di dalam karya penyair Pujangga Baru seperti Sanusi Pane dan Amir Hamzah. Sastrawan-sastrawan Indonesia Angkatan 70-an seperti Danarto dan Sutardji Calzoum Bachri berada di dalam satu jalur estetik dengan Syekh Hamzah Fansuri.”

Belakangan, A. Teeuw, tegas mengatakan posisi Hamzah Fansuri sebagai “Sang Pemula Puisi Indonesia.” Jika kita mencermati karya G.W.J. Drewes dan L.P. Brakel, The Poems of Hamzah Fansuri, yang mengupas syair Asrar al-Arifin, maka dalam hampir setiap halaman pembahasannya, kita kerap menemukan rujukan pada pemikiran ‘Ibn Arabi, Al-Hallaj, dan para penyair Persia lainnya. Dalam pandangan Abdul Hadi, Hamzah Fansuri tidak berhenti sebagai perintis perpuisian Melayu, tetapi juga sebagai Bapak Bahasa Melayu, sebab di tangan Hamzah Fansuri, bahasa Melayu bergolak menjadi bahasa ilmu pengetahuan dan bahasa sastrawi.

Penerokaan Abdul Hadi atas dunia sufisme mendorongnya untuk melihat lebih holistik dan komprehensif tentang para pujangga agung dan kaum intelektual Nusantara. Maka, dua sosok waliallah, Sunan Kalijaga dan Sunan Bonang, berdasarkan kiprah dan karya keduanya, diposisikan tidak sekadar pendakwah agama Islam, melainkan juga sebagai seniman besar ‘pencipta’ wayang, gamelan, dan suluk. Dengan begitu, tidak boleh pula kita melupakan Raja Ali Haji sebagai Bapak Tatabahasa dan Perkamusan Melayu atau Yosodipura dan Ronggowarsito sebagai pujangga besar keraton yang tidak lalai pada situasi kemasyarakatan yang terjadi pada zamannya.

Semangat Abdul Hadi WM menghancurkan gerakan pembonsaian peranan ulama, secara konsisten terus disuarakan lewat esai-esainya yang mendalam dan meluas. Jaringan ulama di kepulauan Nusantara yang dikatakan Azyumardi Azra sebagai akar pembaruan Islam Indonesia, bagi Abdul Hadi tidak lain adalah jaringan kaum intelektual Nusantara. Abdus Samad al-Palimbani (Palembang), Syaikh Muhammad Nawawi al-Jawi al-Bantani (Banten), Syaikh Juned al-Batawi (Betawi), Syaikh Muhammad Arsyad al-Banjari (Banjarmasin) adalah intelektual mumpuni dengan sejumlah karyanya yang berkaitan dengan fikih dan tauhid, bahkan juga dengan antropologi, sosiologi, filsafat, dan geografi. Apakah lantaran karya-karya para ulama besar itu ditulis dalam bahasa Arab, lalu mereka tidak pantas disebut intelektual? Apakah lantaran karya-karya mereka ditulis dalam bahasa Arab—Melayu, lalu semuanya cuma berkaitan dengan urusan akhirat dan doa-doa?

Abdul Hadi sudah mengingatkan, bahwa para ulama agung itu telah memainkan peranannya sebagai intelektual, mengapa pula stigma dan pembonsaian kiprah mereka tidak coba direvitalisasi dan ditempatkan kembali secara proporsional sebagai tokoh-tokoh intelektual Nusantara dalam sejarah bangsa ini? Dalam konteks itulah, pesan Abdul Hadi, “Kembali ke Akar, Kembali ke Sumber,” sangat relevan dan penting ketika kebudayaan tidak dijadikan pilar pembangunan bangsa dan ketika arus globalisasi sebagai keniscayaan yang tidak dapat dihindari.
***
“Kembali ke Akar, Kembali ke Sumber” bukanlah projek nostalgia yang dalam semangat Surat Kepercayaan Gelanggang dinyatakan sebagai: “… me-laplap hasil kebudayaan lama sampai berkilat dan untuk dibanggakan, tetapi kami memikirkan suatu penghidupan kebudayaan baru yang sehat.” Jadi, bagi saya, konsepsi “Kembali ke Akar, Kembali ke Sumber” tidaklah dimaksudkan sebagai “… me-laplap hasil kebudayaan lama sampai berkilat dan untuk dibanggakan …” tetapi menempatkan akar dan sumber sebagai semangat baru, sebagai renaissance agar bangsa ini tidak tunasejarah, tidak tercerabut dari ibu budaya yang melahirkan dan membesarkannya, dan tidak silau pada gerakan pembaratan yang cenderung menempatkannya sebagai berhala.

Bangsa Indonesia, kini dan yang akan datang, tidak dapat menolak berbagai pengaruh dari mana pun datangnya. Dan sejak awalnya, bangsa ini memang dikenal sebagai bangsa yang selalu menjadi tuan rumah yang baik, selalu “Selamat Datang” bagi siapa pun dari bangsa mana pun; inklusivisme dibarengi dengan sikap berbaik sangka, menempatkannya dalam kerangka silaturahim, menjalin persaudaraan, dan diyakini bakal mendatangkan rezeki. Maka, bangsa mana pun yang datang di Nusantara, diterima dengan semangat baik-baik saja. Uniknya, apa pun yang diterima sebagai sesuatu yang baik, tidaklah membuat yang lama harus diapkir. Yang lama atau yang baru, dinusantarakan lewat pengolahan yang kreatif. Itulah kekayaan paling berharga yang melekat pada sikap bangsa ini.
Dengan kesadaran itu, maka gagasan “Kembali ke Akar, Kembali ke Sumber” yang dilontarkan Abdul Hadi WM lebih dari seperempat abad yang lalu, nyatanya masih sangat relevan dengan situasi dan kondisi kehidupan bangsa Indonesia dewasa ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

sembrani

bertukar ide, melampaui mimpi bersama

Nurul Wirda

Semerbak Mawar yang dengan senang hati memancarkan Cahayanya

aawanto

The greatest WordPress.com site in all the land!

Covert Geopolitics

Beyond the Smoke & Mirrors

Catatan Harta Amanah Soekarno

as good as possible for as many as possible

Women Terrace

to say something that i never talk before

Kanzunqalam's Blog

AKAL tanpa WAHYU, akan berbuah, IMAN tanpa ILMU

Cahayapelangi

Cakrawala, menapaki kehidupan nusantara & dunia

religiku

hacking the religion

SANGKAN PARANING DUMADI

Just another WordPress.com site

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

%d blogger menyukai ini: