Tinggalkan komentar

JOKOWI BIKIN RAME MEDIA MALAYSIA

Menjelang bulan suci ramadhan, tarif tol di Malaysia resmi dinaikkan. Sementara kebijakan terbalik terjadi di Indonesia dimana menjelang lebaran tarif tol diturunkan.

Presiden Jokowi menjadi buah bibir dan sedang hangat di media mainstream dan sosial di negara tetangga. Alasan kebijakan menurunkan tarif tol untuk meringankan beban rakyat membuat beberapa teman semakin tertarik dengan Presiden ke tujuh Indonesia dan sistem demokrasi yang di mata mereka sudah berhasil.

Saat baru dilantik beliau memang sudah menghiasi kolom headline di banyak koran nasional mereka. Cerita seorang Presiden yang lahir bukan dari kalangan konglomerat dan anak pejabat rupanya sangat menarik di mata masyarakat negara tetangga, Singapore dan Malaysia.

Soal Presiden yang menaiki pesawat komersil ke Singapore saat menghadiri wisuda anaknya juga menarik perhatian dua negara tetangga. Sempat beberapa teman bertemu antar sesama rakyat Malaysia, sebagian oposisi dengan PM Najib. Kalimat menarik yang sampai saat ini saya ingat adalah “kalaupun Presiden Jokowi hanya akting (pencitraan), saya ingin lihat Najib bisa apa tidak? Tidak susah kan?”

Saya hanya diam mendengar dan memperhatikan mereka berdebat lucu. Kesimpulan teman-teman oposisi itu adalah sekalipun Presiden Jokowi melakukan pencitraan, tetap saja pencitraan yang tidak bisa dilakukan oleh Perdana Menteri mereka. Lebih baik pencitraan setiap hari daripada tanpa malu berfoya-foya.

Memang media Malaysia sempat memberitakan negatif soal Presiden Jokowi soal penenggalaman kapal Malaysia di perairan Indonesia. Isu sensitif tentang pergesekan Indonesia dan Malaysia kembali dihembuskan. Teman-teman pendukung Najib melancarkan sindiran terstruktur. Malaysia yang dalam sepuluh tahun terakhir selalu arogan terhadap Indonesia, pada kesempatan kasus penenggelaman kapal ini tak ada respon yang memuaskan dari pemerintah setempat.

Justru Presiden Jokowi beruntung karena politisi pendukung pemerintah di Malaysia terpancing dan ikut ‘mengipasi’ emosi rakyat yang kemudian malah menjadi bumerang bagi pemerintah Malaysia. “Pencuri kok mau dibela? Biasanya yang membela pencuri adalah bapaknya pencuri” begitu kira-kira kalimat lelucon yang mereka imbuhi dengan tawa.

Sekarang, pamor Presiden Jokowi juga menemukan kebetulan yang menguntungkan. Tarif tol menjadi isu cukup hangat karena Malaysia pada Mei lalu sudah menerapkan GST (Goods and Services Tax) yang bahkan roti, mie instan dan keju pun dikenakan tax yang dibebankan langsung pada pembeli. Belum sampai sebulan, BBM juga dinaikkan. Dan kini tol juga dinaikkan.

Tapi mungkin kita bertanya-tanya seberapa besar pengaruh tol di Malaysia terhadap masyarakat? Jika di bayangan kita tarif tol tak terlalu penting karena tidak harus selalu masuk tol, sebaiknya lupakan prediksi seperti itu.

Tol di Malaysia cukup menjadi momok yang menakutkan dan menguras kantong rakyat. Jika disurvey, mungkin yang paling banyak dikeluhkan masyarakat Malaysia adalah tol. Untuk sampai di suatu tempat, kita harus berkali-kali keluar masuk tol. Dan buruknya tol tersebut tidak sekali jalan, tapi keluar masuk, bayar dan bayar lagi. Panjang tol nya pun tak terlalu panjang. Sambung menyambung.

Salah satu kalimat yang sedang banyak dituliskan dalam versi dan gaya bahasa mereka masing-masing adalah “seorang Presiden yang tak pernah merasakan susah, tidak akan pengerti penderitaan rakyatnya.”

Di sosial media kalimat tersebut diamini oleh banyak orang. Mereka mengatakan kalimat yang sama. Pada momen (berita Jokowi menurunkan tarif tol) seperti inilah biasanya saya melihat-lihat komunitas yang punya postingan all genre (lucu, serius, haru) namun selalu mengundang komentator menggemaskan.

Ada banyak komentar lucu mulai dari panda, suami takut istri, sapi, koala dan sebagainya yang ditujukan pada kebijakan-kebijakan absurd pemerintah Malaysia. Namun dari sekian banyak komentar itu ada beberapa akun orang Indonesia yang malah menghujat Presiden Jokowi dan….selanjutnya kalian bisa lihat sendiri di gambar.

Kesimpulannya, rupanya rakyat Indonesia yang tidak suka dengan Jokowi secara personal tidak hanya mencaci dan menjelek-jelekkan beliau di tingkat nasional, namun sudah go internasional dan terus menyebar berita bohong penuh kebencian. Buruknya lagi mereka berlindung di balik agama islam.

Namun mungkin hikmah dari hal ini adalah tidak akan ada lagi gesekan dan isu sensitif Malaysia dan Indonesia seperti sebelumnya. Pembenci Jokowi yang juga rakyat Indonesia itu mungkin akan ‘membantu’ kebencian rakyat Malaysia terhadap Indonesia.

Sementara pendukung Jokowi juga akan ‘dibantu’ oleh rakyat Malaysia yang sangat mengidamkan sosok seperti beliau menjadi pemimpin. Meski lucunya adalah rakyat yang tidak suka dengan Jokowi tidak mengidamkan pemimpin seperti Perdana Menteri Malaysia dan sebenarnya mereka juga tidak tau sosok seperti siapa yang mereka inginkan.

Satu hal yang mungkin tidak diketahui oleh banyak masyarakat Indonesia adalah: rakyat Malaysia dan Singapore sangat mengikuti sepak terjang Presiden Jokowi. Mereka tau sebelumnya pemerintah menurunkan Ongkos Naik Haji.

Mereka juga kagum saat menikahkan putranya, Presiden Jokowi melibatkan rakyatnya, menyewa tukang beca, membeli semua warug di sekitarnya untuk layani tamu, dan bahkan mereka juga tau bahwa acaranya berlangsung seperti pernikahan putra rakyat biasa, bukan pernikahan putra Presiden lebih dari 250 juta jiwa.

Saya tidak tau sampai kapan pesona Jokowi akan terus menghiasi media mainstream dan sosial media di kalangan negara tetangga. Namun jujur saya turut bangga dan lega, karena kini citra negatif TKI sedikit demi sedikit mulai berkurang.

Saya juga dengar cerita dari bibi yang majikannya mulai sering bercanda soal Jokowi. “Baik-baik sama mereka, nanti Jokowi jemput pakai pesawat, habis lah kita ga punya pekerja.” Ini adalah efek karena pemerintah sempat menjemput pemulangan warga Indonesia di Malaysia dengan pesawat TNI.

Tambahan, ada sedikit virus Jokowi di kalangan pejabat dan politisi di Malaysia. Mereka juga ikut blusukan. Bahkan Perdana Menteri Najib sempat menjawab tantangan netizen agar beliau tidak hanya duduk di istananya. PM Najib tertangkap kamera sedang ikut membersihkan lokasi banjir. Namun entahlah, respon masyarakat Malaysia masih tetap negatif. Mungkin karena tidak original dan juga hanya sekali itu saja (entah karena alasan tidak kuat fisik atau yang lainnya) Hahaha.

Terakhir, ada satu hal yang sangat membedakan rakyat Malaysia dan Indonesia soal politik. Di Malaysia, PM Najib tidak akan diterima di daerah wilayah oposisi. Rakyat yang mengkritik di sosial media benar-benar berani bertindak secara nyata dan mempertanggung jawabkan keoposisiannya.

Sementara Presiden Jokowi bebas wara-wiri ke seluruh pelosok negeri tanpa perlu memetakan wilayah dukungan dan yang terpenting tidak membawa embel-embel partai seperti yang dilakukan oleh PM Malaysia.

Nah bagaimana, ada yang kaget soal ini? Saya yakin sebagian kalian terhenyak ala mantan SBY setelah membaca tulisan saya. Hihihi semoga hati kita semua menjadi “nyessss.”
JOKOWI BIKIN RAME MEDIA MALAYSIA

Menjelang bulan suci ramadhan, tarif tol di Malaysia resmi dinaikkan. Sementara kebijakan terbalik terjadi di Indonesia dimana menjelang lebaran tarif tol diturunkan.

Presiden Jokowi menjadi buah bibir dan sedang hangat di media mainstream dan sosial di negara tetangga. Alasan kebijakan menurunkan tarif tol untuk meringankan beban rakyat membuat beberapa teman semakin tertarik dengan Presiden ke tujuh Indonesia dan sistem demokrasi yang di mata mereka sudah berhasil.

Saat baru dilantik beliau memang sudah menghiasi kolom headline di banyak koran nasional mereka. Cerita seorang Presiden yang lahir bukan dari kalangan konglomerat dan anak pejabat rupanya sangat menarik di mata masyarakat negara tetangga, Singapore dan Malaysia.

Soal Presiden yang menaiki pesawat komersil ke Singapore saat menghadiri wisuda anaknya juga menarik perhatian dua negara tetangga. Sempat beberapa teman bertemu antar sesama rakyat Malaysia, sebagian oposisi dengan PM Najib. Kalimat menarik yang sampai saat ini saya ingat adalah “kalaupun Presiden Jokowi hanya akting (pencitraan), saya ingin lihat Najib bisa apa tidak? Tidak susah kan?”

Saya hanya diam mendengar dan memperhatikan mereka berdebat lucu. Kesimpulan teman-teman oposisi itu adalah sekalipun Presiden Jokowi melakukan pencitraan, tetap saja pencitraan yang tidak bisa dilakukan oleh Perdana Menteri mereka. Lebih baik pencitraan setiap hari daripada tanpa malu berfoya-foya.

Memang media Malaysia sempat memberitakan negatif soal Presiden Jokowi soal penenggalaman kapal Malaysia di perairan Indonesia. Isu sensitif tentang pergesekan Indonesia dan Malaysia kembali dihembuskan. Teman-teman pendukung Najib melancarkan sindiran terstruktur. Malaysia yang dalam sepuluh tahun terakhir selalu arogan terhadap Indonesia, pada kesempatan kasus penenggelaman kapal ini tak ada respon yang memuaskan dari pemerintah setempat.

Justru Presiden Jokowi beruntung karena politisi pendukung pemerintah di Malaysia terpancing dan ikut ‘mengipasi’ emosi rakyat yang kemudian malah menjadi bumerang bagi pemerintah Malaysia. “Pencuri kok mau dibela? Biasanya yang membela pencuri adalah bapaknya pencuri” begitu kira-kira kalimat lelucon yang mereka imbuhi dengan tawa.

Sekarang, pamor Presiden Jokowi juga menemukan kebetulan yang menguntungkan. Tarif tol menjadi isu cukup hangat karena Malaysia pada Mei lalu sudah menerapkan GST (Goods and Services Tax) yang bahkan roti, mie instan dan keju pun dikenakan tax yang dibebankan langsung pada pembeli. Belum sampai sebulan, BBM juga dinaikkan. Dan kini tol juga dinaikkan.

Tapi mungkin kita bertanya-tanya seberapa besar pengaruh tol di Malaysia terhadap masyarakat? Jika di bayangan kita tarif tol tak terlalu penting karena tidak harus selalu masuk tol, sebaiknya lupakan prediksi seperti itu.

Tol di Malaysia cukup menjadi momok yang menakutkan dan menguras kantong rakyat. Jika disurvey, mungkin yang paling banyak dikeluhkan masyarakat Malaysia adalah tol. Untuk sampai di suatu tempat, kita harus berkali-kali keluar masuk tol. Dan buruknya tol tersebut tidak sekali jalan, tapi keluar masuk, bayar dan bayar lagi. Panjang tol nya pun tak terlalu panjang. Sambung menyambung.

Salah satu kalimat yang sedang banyak dituliskan dalam versi dan gaya bahasa mereka masing-masing adalah “seorang Presiden yang tak pernah merasakan susah, tidak akan pengerti penderitaan rakyatnya.”

Di sosial media kalimat tersebut diamini oleh banyak orang. Mereka mengatakan kalimat yang sama. Pada momen (berita Jokowi menurunkan tarif tol) seperti inilah biasanya saya melihat-lihat komunitas yang punya postingan all genre (lucu, serius, haru) namun selalu mengundang komentator menggemaskan.

Ada banyak komentar lucu mulai dari panda, suami takut istri, sapi, koala dan sebagainya yang ditujukan pada kebijakan-kebijakan absurd pemerintah Malaysia. Namun dari sekian banyak komentar itu ada beberapa akun orang Indonesia yang malah menghujat Presiden Jokowi dan….selanjutnya kalian bisa lihat sendiri di gambar.

Kesimpulannya, rupanya rakyat Indonesia yang tidak suka dengan Jokowi secara personal tidak hanya mencaci dan menjelek-jelekkan beliau di tingkat nasional, namun sudah go internasional dan terus menyebar berita bohong penuh kebencian. Buruknya lagi mereka berlindung di balik agama islam.

Namun mungkin hikmah dari hal ini adalah tidak akan ada lagi gesekan dan isu sensitif Malaysia dan Indonesia seperti sebelumnya. Pembenci Jokowi yang juga rakyat Indonesia itu mungkin akan ‘membantu’ kebencian rakyat Malaysia terhadap Indonesia.

Sementara pendukung Jokowi juga akan ‘dibantu’ oleh rakyat Malaysia yang sangat mengidamkan sosok seperti beliau menjadi pemimpin. Meski lucunya adalah rakyat yang tidak suka dengan Jokowi tidak mengidamkan pemimpin seperti Perdana Menteri Malaysia dan sebenarnya mereka juga tidak tau sosok seperti siapa yang mereka inginkan.

Satu hal yang mungkin tidak diketahui oleh banyak masyarakat Indonesia adalah: rakyat Malaysia dan Singapore sangat mengikuti sepak terjang Presiden Jokowi. Mereka tau sebelumnya pemerintah menurunkan Ongkos Naik Haji.

Mereka juga kagum saat menikahkan putranya, Presiden Jokowi melibatkan rakyatnya, menyewa tukang beca, membeli semua warug di sekitarnya untuk layani tamu, dan bahkan mereka juga tau bahwa acaranya berlangsung seperti pernikahan putra rakyat biasa, bukan pernikahan putra Presiden lebih dari 250 juta jiwa.

Saya tidak tau sampai kapan pesona Jokowi akan terus menghiasi media mainstream dan sosial media di kalangan negara tetangga. Namun jujur saya turut bangga dan lega, karena kini citra negatif TKI sedikit demi sedikit mulai berkurang.

Saya juga dengar cerita dari bibi yang majikannya mulai sering bercanda soal Jokowi. “Baik-baik sama mereka, nanti Jokowi jemput pakai pesawat, habis lah kita ga punya pekerja.” Ini adalah efek karena pemerintah sempat menjemput pemulangan warga Indonesia di Malaysia dengan pesawat TNI.

Tambahan, ada sedikit virus Jokowi di kalangan pejabat dan politisi di Malaysia. Mereka juga ikut blusukan. Bahkan Perdana Menteri Najib sempat menjawab tantangan netizen agar beliau tidak hanya duduk di istananya. PM Najib tertangkap kamera sedang ikut membersihkan lokasi banjir. Namun entahlah, respon masyarakat Malaysia masih tetap negatif. Mungkin karena tidak original dan juga hanya sekali itu saja (entah karena alasan tidak kuat fisik atau yang lainnya) Hahaha.

Terakhir, ada satu hal yang sangat membedakan rakyat Malaysia dan Indonesia soal politik. Di Malaysia, PM Najib tidak akan diterima di daerah wilayah oposisi. Rakyat yang mengkritik di sosial media benar-benar berani bertindak secara nyata dan mempertanggung jawabkan keoposisiannya.

Sementara Presiden Jokowi bebas wara-wiri ke seluruh pelosok negeri tanpa perlu memetakan wilayah dukungan dan yang terpenting tidak membawa embel-embel partai seperti yang dilakukan oleh PM Malaysia.

Nah bagaimana, ada yang kaget soal ini? Saya yakin sebagian kalian terhenyak ala mantan SBY setelah membaca tulisan saya. Hihihi semoga hati kita semua menjadi “nyessss.”

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Atlantis in the Java Sea

A scientific effort to match Plato’s narrative location for Atlantis

sembrani

bertukar ide, melampaui mimpi bersama

Nurul Wirda

0812-8267-9182

aawanto

The greatest WordPress.com site in all the land!

Covert Geopolitics

Beyond the Smoke & Mirrors

Catatan Harta Amanah Soekarno

as good as possible for as many as possible

Women Terrace

to say something that i never talk before

Kanzunqalam's Blog

AKAL tanpa WAHYU, akan berbuah, IMAN tanpa ILMU

Cahayapelangi

Cakrawala, menapaki kehidupan nusantara & dunia

religiku

hacking the religion

SANGKAN PARANING DUMADI

Just another WordPress.com site

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

%d blogger menyukai ini: