1 Komentar

Sundaland – Shindu – Sunda/Nusantara….

Posted by on Mei 18th, 2015

Adakah, kaitan hubungannya dengan situs Batu jaya di karawang Jawa Barat, bila melihat ada kesamaan cara membangun struktur bangunannnya?

Sumber: slideshare.net

Mohenjo daro salah satu propinsi di Pakistan saat ini. Di tempat tersebut dijumpai peninggalan yang sangat luar biasa. Suatu peradaban yang bisa dikatakan modern. Baik jalan yang lebar, saluran pembuangan air yang tertata rapi. Bahkan jika dibandingkan dengan Jakarta yang katanya kota metropolitan, tata kota yang berusia 4600 tahun yang lalu lebih baik.

Reruntuhan Mohen-jo-Daro

Peninggalan yang ditemukan pada tahun 1921 oleh Alexander Cunningham diindikasi bahwa Peradaban Mohen-jo-Daro telah ada sejak 4000 tahun yang lalu. Diperkirakan 2600 – 1900 BC.

Dari hasil temuan ada sesuatu yang menakjubkan. Para arkeolog tidak menemukan satupun bangunan yang memberikan tanda bahwa bangunan tersebut merupakan tempat untuk ritual agama atau keyakinan/kepercayaan tertentu.

Hal lain adalah bahwa reruntuhan yang ada tidak membuktikan adanya suatu kerajaan. Artinya bahwa masyarakat saat itu hidup dalam suatu tingkatan yang sama. Mungkin ada seorang yang dituakan karena dianggap bijak. Bijak dalam arti adalah mereka yang sudah bebas dari kegelisahan diri karena nafsu duniawi. Merekalah yang sudah bisa hidup selaras dengan sifat alam semesta. Mereka juga sadar bahwa hidup manusia bergantung pada alam.

Inilah sebabnya pada reruntuhan Peradaban Shindu bangunan di Mohen-Jo-Daro ditemukan kanal lebar untuk pembuangan air membuktikan bahwa mereka sadar bahwa dari alam kembali ke alam. Dan tidak ada genangan yang membuktikan bahwa mereka sadar akan bahaya genangan terhadap kesehatan. Air perlu diberikan jalan sehingga mengurangi bahaya banjir yang pada umumnya mengakibatkan penyakit.

Cikal bakal Peradaban Sindhu

Dari manakah asal penduduk Mohenjo daro yang telah memiliki peradaban unggu pada 400 tahunan yang lalu? Untuk itu kita mesti memahami hubungan antara Sudaland atau daratan besar tanah Sunda, yaitu yang disebut nusantara saat ini.

Peta tersebut di bawah ini bisa memberikan gambaran tentang tanah Sunda besar:

Sumber: jayzigelji.blogspot.com

Kalimantan, Sumatra, dan Jawa dahulunya satu daratan. karena terjadi banjir besar, maka terpisahkanlah jadi pulau Jawa, Sumatra, dan Kalimantan seperti sekarang ini. Inilah sebabnya laut Jawa saat ini hanya memiliki kedalaman paling dalam 100 meter.

Dan daratan yang ada saat ini dahulunya daerah pegunungan sehingga terselamatkan dari banjir besar. Kita tahu bahwa daerah yang biasa di huni sebagai pusat pemerintahan dan hunian masyarakat pada umumnya di sekitar sungai atau di dataran rendah. Hal ini menjadi satu kemungkinan besar hilangnya banyak peninggalan hilang. Banyak peninggalan kerajaan atau wilayah hunian hilang terendam air bah.

Untuk menyelamatkan diri, sebagian penduduk melakukan migrasi. Ada 3 kali gelombang migrasi akibat bencana banjir. Migrasi paling awal dan paling besar adalah:

‘Gelombang migrasi pertama berkisar 14.000 tahun yang lalu menuju anak benua India. Mereka sedemikian traumanya terhadap banjir di Paparan Sunda sehingga mereka terus bergerak ke utara sampai dihadang sungai besar bagaikan laut, Indus yang megah, atau Sindhu.

Sebetulnya juga Sindhu dalam bahasa Sansakerta berarti “laut”. Sungai besar ini merupakan gabungan dari Sungai Sengge dan Gar yang berhulu di Himalaya Tibet mengalir melalui India dan Pakistan, bermuara di Laut Arab.

Rombongan para filsuf, ahli kitab, dan pemikir tersebut memilih satu tempat aman di pinggir sungai dan menamakan sungai itu Saraswati untuk merayakan Dewi pembimbing mereka, Dewi Ilmu Pengetahuan, Seni dan Musik.

Di pinggir Sindhu Saraswati mereka merenungkan apa yang mereka bawa yang merupakan warisan kuno nenek moyang mereka, yang kemudian warisan ini semakin diperkaya dengan inspirasi-inspirasi segar. Jauh di kemudian hari, sejumlah besar ilmu pengetahuan, seni dan musik ini kemudian disistematisasi oleh Begawan Vyasa dalam Kisah Mahabharata, yang juga dikenal sebagai Kitab-kitab Weda (Kebijaksanaan Utama).

Jadi sebetulnya, yang mengawali Peradaban Lembah Indus, atau Sindhu adalah orang-orang Tatar Sunda, dimana reruntuhannya di Mohen-jo-Daro, Pakistan, dan beberapa tempat di India masih sedang diteliti oleh arkeolog dan antropolog dari seluruh dunia. (Wisdom of Sundaland by Anand Krishna)

Sumber:

http://www.marhento.com/ayur-hypnotherapist/hipno-terapi/kesehatan/meditasi/sundaland-shindu-sundanusantara.html

link terkait:

http://id.wikipedia.org/wiki/Mohenjo-daro

http://en.wikipedia.org/wiki/Mohenjo-daro

Mohenjo-daro

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Reruntuhan arkeologis Moenjodaro
Mohenjo-daro
Situs Warisan Dunia UNESCO
Negara  Pakistan
Tipe Kultural
Kriteria ii, iii
Nomor identifikasi 138
Kawasan UNESCO Asia-Pasifik
Tahun pengukuhan 1980 (sesi Ke-4)

Mohenjo-daro bahasa Urdu: موئن جودڑو, bahasa Sindhi : موئن جو دڙو, Bahasa Hindi : मोहन जोदड़ो adalah salah satu situs dari sisa-sisa permukiman terbesar dari Kebudayaan Lembah Sungai Indus, yang terletak di provinsi Sind, Pakistan. Dibangun pada sekitar tahun 2600 SM, kota ini adalah salah satu permukiman kota pertama di dunia, bersamaan dengan peradaban Mesir Kuno, Mesopotamia dan Yunani Kuno. Reruntuhan bersejarah ini dimasukkan oleh UNESCO ke dalam Situs Warisan Dunia. Arti dari Mohenjo-daro adalah “bukit orang mati”. Seringkali kota tua ini disebut dengan “Metropolis Kuno di Lembah Indus”.[1]

Penemuan kembali dan penggalian[sunting sumber]

Lokasi Mohenjo-daro di LembahSungai Indus

Mohenjo-daro dibangun sekitar tahun 2600 SM, tetapi dikosongkan sekitar tahun 1500 SM. Pada tahun 1922, kota ini ditemukan kembali oleh Rakhaldas Bandyopadhyay[2] dari Archaeological Survey of India. Ia dibawa ke sebuah gundukan oleh seorang biksu Budha yang mempercayai bahwa gundukan tersebut adalah sebuah stupa. Pada 1930-an, penggalian besar-besaran dilakukan di bawah pimpinanJohn Marshall, K. N. Dikshit, Ernest Mackay, dan lain-lain.[3] Mobil John Marshall yang digunakan oleh para direktur situs masih berada di museum Mohenjo-daro sebagai tanda untuk memperingati perjuangan dan dedikasi mereka terhadap Mohenjo-daro. Penggalian selanjutnya dilakukan oleh Ahmad Hasan Dani dan Mortimer Wheeler pada tahun 1945.

Penggalian besar terakhir di Mohenjo-daro dipimpin oleh Dr. G. F. Dales pada tahun 1964-65. Setelah itu, kerja penggalian di situ dilarang karena kerusakan yang dialami oleh struktur-struktur yang rentan akibat kondisi cuaca. Sejak tahun 1965, hanya proyek penggalian penyelamatan, pengawasan permukaan, dan konservasi yang diperbolehkan di situ. Meskipun proyek arkeologi besar dilarang, namun pada 1980-an, tim-tim peninjau dari Jerman dan Italia yang dipimpin oleh Dr. Michael Jansen dan Dr. Maurizio Tosi, menggabungkan teknik-teknik seperti dokumentasi arsitektur, tinjauan permukaan, dan penyelidikan permukaan, untuk menentukan bayangan selanjutnya mengenai peradaban kuno tersebut.[4]

Lokasi[sunting sumber]

Mohenjo-daro terletak di Sindh, Pakistan di sebuah bubungan zaman Pleistosen di tengah-tengah dataran banjir Sungai Sindhu. Bubungan tersebut kini terkubur oleh pembanjiran dataran tersebut, tetapi sangat penting pada zaman Peradaban Lembah Indus. Bubungan tersebut memungkinkan kota Mohenjo-daro berdiri di atas dataran sekelilingnya. Situs tersebut terletak di tengah-tengah jurang di antara lembah Sungai Sindhu di barat dan Ghaggar-Hakra di timur. Sungai Sindhu masih mengalir ke timur situs itu, tetapi dasar sungai Ghaggar-Hakra kini sudah kering.[5]

Pembangunan antropogenik selama bertahun-tahun dipercepat oleh kebutuhan memperluas tempat. Bubungan tersebut diluaskan melalui platform bata lumpur raksasa. Akhirnya, penempatan tersebut meluas begitu besar sehingga ada bangunan yang mencapai 12 meter di atas permukaan dataran masa kini.[6]

Kepentingan[sunting sumber]

Pada zaman dahulu, Mohenjo-daro merupakan salah satu pusat administratif Peradaban Lembah Indus kuno.[7] Pada puncak kejayaannya, Mohenjo-daro adalah kota yang paling terbangun dan maju di Asia Selatan, dan mungkin juga di dunia. Perencanaan dan tekniknya menunjukkan kepentingan kota ini terhadap masyarakat lembah Indus.[8]

Peradaban Lembah Indus (c. 3300-1700 SM, f. 2600-1900 SM) adalah sebuah peradaban sungai kuno yang berkembah di lembah sungai Indus di India Kuno (kini di Pakistandan India Barat Laut). Peradaban ini juga dikenal sebagai “Peradaban Harappa.”

Kebudayaan Indus berkembang berabad-abad lamanya, lalu mengalami kebangkitan sekitar tahun 3000 SM. Peradaban tersebut menjangkau wilayah yang kini diduduki negaraPakistan dan India Utara, tetapi tiba-tiba mengalami kemerosotan sekitar tahun 1900 SM. Pemukiman Peradaban Indus tersebar sejauh pantai Laut Arab di Gujarat di selatan, perbatasan Iran di barat, dengan kota perbatasan di Bactria. Di antara permukiman-permukiman itu, pusat kota utama berada di Harappa dan Mohenjo-daro, dan juga Lothal.

Puing-puing Mohenjo-daro adalah salah satu pusat utama dalam masyarakat kuno ini. Beberapa arkeolog berpendapat bahwa Peradaban Indus mencapai jumlah lima juta penduduk pada puncaknya.

Saat ini, lebih dari seribu kota dan permukiman telah ditemukan, terutama di lembah Sungai Sindhu di Pakistan dan India barat laut.

Arsitektur dan prasarana kota[sunting sumber]


Mohenjo-daro, 25 km di barat dayaLarkana, adalah pusat Peradaban Lembah Indus 2600 SM1900 SM

Mohenjo-daro memiliki bangunan yang luar biasa, karena memiliki tata letak terencana yang berbasis grid jalanan yang tersusun menurut pola yang sempurna. Pada puncak kejayaannya, kota ini dihuni sekitar 35.000 orang. Bangunan-bangunan di kota ini begitu maju, dengan struktur-struktur yang terdiri dari batu-bata buatan lumpur dan kayu bakar terjemur matahari yang merata ukurannya.

Bangunan-bangunan publik di kota ini adalah lambang masyarakat yang sangat terencana. Bangunan yang bergelar Lumbung Besar di Mohenjo-daro menurut interpretasi Sir Mortimer Wheeler pada tahun 1950 dirancang dengan ruang-ruang untuk menyambut gerobak yang mengirim hasil tanaman dari desa, dan juga ada saluran-saluran pendistribusian udara untuk mengeringkannya. Akan tetapi, Jonathan Mark Kenoyer memperhatikan bahwa tidak ada catatan mengenai keberadaan hasil panen dalam lumbung ini. Maka dari itu, Kenoyer mengatakan lebih tepat untuk menjulukinya sebagai “Balai Besar”.

Di dekat lumbung tersebut ada sebuah bangunan publik yang pernah berfungsi sebagai permandian umum besar, dengan tangga yang turun ke arah kolam berlapis bata di dalam lapangan berderetan tiang. Wilayah permandian berhias ini dibangun dengan baik, dengan lapisan tar alami yang menghambat kebocoran, di samping kolam di tengah-tengah. Kolam yang berukuran 12m x 7m, dengan kedalaman 2.4m ini mungkin digunakan untuk upacara keagamaan atau kerohanian.

Di dalam kota, air dari sumur disalurkan ke rumah-rumah. Beberapa rumah ini dilengkapi kamar yang terlihat ditetapkan untuk mandi. Air buangan disalurkan ke selokan tertutup yang membarisi jalan-jalan utama. Pintu masuk rumah hanya menghadap lapangan dalam dan lorong-lorong kecil. Ada berbagai bangunan yang hanya setinggi satu dua tingkat.

Sebagai kota pertanian, Mohenjo-daro juga bercirikan sumur besar dan pasar pusat. Kota ini juga memiliki sebuah bangunan yang memiliki hypocaust, yang kemungkinan digunakan untuk pemanasan air mandi.

Mohenjo-daro adalah sebuah kota yang cukup terlindungi. Walau tak ada tembok, namun terdapat menara di sebelah barat pemukiman utama, dan benteng pertahanan di selatan. Perbentengan tersebut, dan struktur kota-kota lain di Lembah Indus seperti Harappa, menimbulkan pertanyaan apakah Mohenjo-daro memang pusat administrasi. Harappa dan Mohenjo-daro memiliki arsitektur yang mirip, dan tidak berbenteng kuat seperti situs-situs lain di Lembah Indus. Jelas sekali dari tata ruang di semua situs-situs Indus, bahwa ada suatu pusat politik atau administrasi, hanya saja tidak jelas lagi sejauh mana jangkauan dan fungsi pusat administrasi tersebut.

Mohenjo-daro telah dimusnahkan dan dibangun kembali setidaknya tujuh kali. Setiap kali, kota baru dibangun terus di atas kota lama. Banjir dari Sungai Indus diduga menjadi penyebab utama kerusakan.

Kota ini terbagi atas dua bagian, yaitu benteng kota dan kota hilir. Kebanyakan wilayah kota hilir masih belum ditemukan. Di benteng kota terdapat sebuah permandian umum, struktur perumahan besar yang dirancang untuk menempatkan 5.000 warga, dan dua buah dewan perhimpunan besar.

Mohenjo-daro, Harappa dan peradaban masing-masing, lenyap tanpa jejak dari sejarah sampai ditemukan kembali pada 1920-an. Penggalian besar-besaran dilakukan di situ pada 1920-an, namun tidak ada penggalian secara mendalam yang dilakukan lagi sejak tahun 1960-an.

Artefak “gadis menari” yang ditemukan di Mohenjo-daro

Patung “raja pendeta”

Masyarakat[sunting sumber]

Orang-orang Dravida yang diperkirakan merupakan pendiri kota kuno ini sendiri menjadi tanda tanya bagi para arkeolog. Riwayat mereka tak dapat ditelusuri hingga sekarang. Bahasa dan aksara yang mereka gunakan dalam artefak-artefak yang ditemukan di sana masih belum dapat dipecahkan hingga sekarang. Uniknya di kota tersebut tidak ditemukan bangunan untuk kegiatan religius dan tanda-tanda sistem kasta. Hal ini mengakibatkan para peneliti berspekulasi kalau masyarakat Mohenjo Daro dan Harappa merupakan peradaban yang hidup bergantung sepenuhnya pada ilmu pengetahuan (sudah meninggalkan praktek keagamaan) dan memiliki filosofi hidup yang tinggi (terlihat dari ketiadaan sistem kasta dalam hierarki sosial).[9]

Artefak[sunting sumber]

Patung “gadis menari” yang ditemukan di Mohenjo-daro adalah sebuah artefak yang berusia sekitar 4500 tahun. Patung perunggu dengan panjang 10,8 cm ini ditemukan di sebuah rumah di Mohenjo-daro pada tahun 1926. Patung kecil ini adalah patung favorit arkeolog InggrisMortimer Wheeler, seperti yang dipetik dari sebuah acara televisi tahun 1973:

“Muka kecilnya gaya Balochi dengan bibir yang cemberut dan paras yang terlihat tidak sopan. Saya rasa umurnya tak lebih lima belas tahun, tetapi tidak memakai apa-apa selain gelang di lengan. Seorang gadis yang benar-benar percaya diri terhadap dirinya dan dunianya. Saya rasa patung ini tidak ada duanya di dunia ini. “

John Marshall, salah seorang penggali di Mohenjo-daro, menggambarkan gadis tersebut sebagai kesan jelas seorang gadis muda, berpostur kurang sopan dengan sebelah tangan mencekak pinggul, sambil mengikuti rentak musik dengan tangan dan kaki.[10]

Sebuah patung lelaki duduk dengan tinggi 17,5 cm yang bergelar “Raja Pendeta” (walaupun tiada bukti pendeta atau raja memerintah kota ini), adalah satu lagi artefak yang menjadi lambang peradaban lembah Indus. Patung ini ditemukan oleh para arkeolog di Kota Hilir Mohenjo-daro pada tahun 1927. Patung tersebut ditemukan di sebuah rumah yang arsitektur batanya berhias dan berceruk dinding, terlantar di antara dinding dasar bata yang pernah menampung tingkat rumah. Patung berjanggut ini memakai pita rambut, lilitan lengan, dan mantel berhias pola trefoilyang aslinya berisi pigmen merah.

Status UNESCO[sunting sumber]

Pemeliharaan Mohenjo-daro ditunda pada Desember 1996 setelah berhentinya pendanaan dari pemerintah dan organisasi internasional. Pada April 1997, Organisasi Pendidikan, Sains dan Kebudayaan PBB (UNESCO) membiayai proyek $10 juta untuk perlindungan situs dan struktur-struktur yang masih bertahan dari banjir selama 20 tahun.

Lihat pula[sunting sumber]

Referensi[sunting sumber]

  1. ^ Mohenjo-Daro An Ancient Indus Valley Metropolis
  2. ^ Ancientindia.co.uk
  3. ^ “Mohenjo-Daro: An Ancient Indus Valley Metropolis”. Diakses 2008-05-19.
  4. ^ “Mohenjo-Daro: An Ancient Indus Valley Metropolis”. Diakses 2008-05-19.
  5. ^ “Mohenjo-Daro”.
  6. ^ “Mohenjo-Daro”.
  7. ^ Beck, Roger B.; Linda Black, Larry S. Krieger, Phillip C. Naylor, Dahia Ibo Shabaka, (1999). World History: Patterns of Interaction. Evanston, IL: McDougal Littell. ISBN 0-395-87274-X.
  8. ^ A H Dani (1992), Critical Assessment of Recent Evidence on Mohenjodaro, Second International Symposium on Mohenjodaro, 24–27 Februari.
  9. ^ Kota kuno Mohenjo Daro dan Harappa, India
  10. ^ Possehl, Gregory (2002). The Indus Civilization: A Contemporary Perspective. AltaMira Press. hlm. 113. ISBN 978-0759101722.

Pranala luar[sunting sumber]

Kesalahan dalam belajar sejarah….

Posted by on Juni 2nd, 2014 with 0 Comments

Teknologi begitu cepat berkembang. Menurut informasi, i-phone 5 saat ini menggunakan teknologi virtual. Sejenis hologram. Nukilr sudah dikenal sebagai alat membunuh juga untuk digunakan di bidang kedokteran, pertanian dan lain-lain. Semua bidang perkembangannya begitu pesat teknologinya. Pertanyaannya, “Apakah dulu belum ada?”

Jawabannya sangat sederhana. Dulu bahkan sudah lebih maju dari teknologi yang sekarang ‘tampaknya’ modern.

Buktinya sangat banyak. Di Bagdad, ibukota Irak pernah ditemukan daerah atau wilayah yang masih mengandung radiasi nuklir. Fakta ini pernah diungkapkan pada National Geographic. Kemudian, hasil penelitian ahli dari ITB, puncak stupa Borobudur tersebut merupakan jarum penunjuk waktu sesuai dengan pergerakan matahari. Artinya pembuatan Borobudur sudah memeperhitungakan dengan teliti geografisnya. Pernahkah terpikirkan oleh kita, bagaimana memotong batu piramida? Apakah dengan tangan? Jika betul, apakah bisa presisinya sedemikian sempurna dan halus. Hanya dengan teknologi maju pekerjaan pemotongan batu seperti ini bisa dilakukan. Dan juga hanya teknologi maju yang bisa mengangkat batu seberat puluhan, ratusan bahkan ada yang mencapai ribuan ton bisa dipindah dan disusun dengan rapi…

Dari pelajaran ini, kita maknai bawa sesungguhnya teknologi leluhur atau kakek moyang kita sudah sangat maju. Artinya, dahulu kala telah ada peradaban yang sangat maju dan kemudian terjadi bencana atau peperangan sehingga punah. Dan sebagaimana digambarkan dalam film yang sering kita tonton, terdapat anak kecil yang terselamatkan, kemudian baru mulai belajar membuat api dan berbutru untuk mencari makan. Karena yang ada di sekitarnya hanya batu dan kayu, mereka mulai peradaban dari batu.

Semua hanya pengulangan. Nothing is new under the sun, kata nabi Sulaeman…

Apa yang kita banggakan? Sebagai manusia yang memahami bahwa semua hanya pengulangan, jangan-jangan keberadaan kita pun hanya pengulangan masa lalu. Who knows? Tetapi sesungguhnya jika kita mau belajar dari sejarah, kita bisa saja menghindar dari kejadian buruk yang bisa saja menimpa diri kita.

Sejarah adalah pelajaran yang baik. Ada pepatah:

‘Barang siapa yang tidak mau belajar dari sejarah, ia akan dimusnahkan oleh  sejarah itu’

Pepatah ini sangat benar. Mengapa?

Selama ini kita tidak tahu mempelajari sejarah. Sejarah yang kita pelajari hanya tahun kejadian. Tetapi tidak pernah menyinggung makna pelajaran yang bisa ditarik dari sejarah. Misalnya suatu kejadian. Kita hanya disuruh menghapal tahun kejadian dan tempat. Tidak satu pun buku sejarah yang mengulas akar permasalahan kejadian dan kemudian kita gunakan untuk mengantisipasi kejadian yang sangat besar kemungvkinan terjadi di masa akan datang. Sekali lagi semua kejadian hanya pengulangan. Karena sesungguhnya sifat dasar manusia masih sama. Serakah dan irihati.

Dua sifat ini yang menjadi akar permasalahan kejadian-kejadian di sekitar kita. So,sesungguhnya kita mesti belajar sejarah untuk mengantisipasi kejadian buruk yang bakal menimpa kita.

Anand Krishna melalui E-Learning atau Distance Learning mengulas tentang The Ancient History and Culture, http://www.booksindonesia.com. Dalam materi ini akan disuguhi sesuatu nya membuat diri takjub dan bangga terhadap leluhur kita. Sobats, kita bukan bangsa tempe sebagaimana dihembuskan orang. Kita adalah cikal bakal budaya dunia…

Bangga jadi Orang Indonesia!!!!!

Mari kita belajar sejarah benar dan tepat untuk kebaikan diri sendiri.

Iklan

One comment on “Sundaland – Shindu – Sunda/Nusantara….

  1. waah bener banget pak sya setuju dengan anda

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Atlantis in the Java Sea

A scientific effort to match Plato’s narrative location for Atlantis

sembrani

bertukar ide, melampaui mimpi bersama

Nurul Wirda

0812-8267-9182

aawanto

The greatest WordPress.com site in all the land!

Covert Geopolitics

Beyond the Smoke & Mirrors

Catatan Harta Amanah Soekarno

as good as possible for as many as possible

Women Terrace

to say something that i never talk before

Kanzunqalam's Blog

AKAL tanpa WAHYU, akan berbuah, IMAN tanpa ILMU

Cahayapelangi

Cakrawala, menapaki kehidupan nusantara & dunia

religiku

hacking the religion

SANGKAN PARANING DUMADI

Just another WordPress.com site

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

%d blogger menyukai ini: