Tinggalkan komentar

Yth. Bapak/ Ibu, Kolega dan Para Sahabat dalam Kafilah Peradaban Religius-Humanistik
 
Assalamu’alaikum wr wb,
Dengan hormat.
Berikut saya teruskan email dari Ketua SC IC-THuSI 2015 Dr. Husain Heriyanto mengenai Countdown-FirstReflection IC-THuSI.

Terimakasih.

 
Rintis Mulya 
Kepala Sekretariat IC-THuSI

Sadra Interantional Insttute, Jakarta 

———- Forwarded message ———-
From: Husain Heriyanto <husain_heri@yahoo.com>
Date: 2015-04-08 16:23 GMT+07:00
Subject:
To:

Bismillahi, wa billahi wa-l-hamdulillah
Yth. Bapak/Ibu Dewan Pakar IC-THuSI
Assalamu’alaikum wr wb
Hari ini, Rabu/ 8 April 2015, adalah tepat pekan ke-33 hitung mundur menjelang penyelenggaraan IC-THuSI pada 18-19 November 2015 mendatang.
Izinkan saya untuk memulai tradisi “Contemplation and Action” (judul sebuah buku terjemahan karya Nasiruddin Al-Thusi Sayr wa Suluk) melalui refleksi mingguan untuk membahas isu-isu aktual yang relevan dengan tema IC-THuSI. Saya mengundang Bapak/Ibu untuk turut berbagi gagasan dan pemikiran (berkisar 300-500 kata) melalui temu ilmiah maya ini. Selain efisien karena tak membutuhkan dana dan waktu banyak sebagaimana halnya diskusi/pertemuan secara fisik, aktivitas ini juga efektif, karena insya Allah kami akan menyebarluaskan gagasan  Bapak/Ibu melalui jaringan website, buletin, dan pelbagai media sosial yang kami kelola. Terima kasih banyak atas waktu dan pemikiran yang Bapak/Ibu curahkan dalam aktivitas ilmiah ini, yang meski tak populer, tapi amat dibutuhkan oleh umat Islam dan dunia pada umumnya.
Agenda ini pun selaras dengan visi kami untuk membangun IC-THuSI sebagai salah satu pusat ilmu-ilmu sosial-humaniora dalam perspetif Islam di tanah air dan Asia Tenggara. Seperti yang pernah saya katakan, kita ini hanyalah perintis dengan harapan murid-murid Bapak/Ibu nantinya yang selanjutnya akan mengembangkan pusat studi yang masih langka ini. Saya teringat sekaligus termotivasi –di tengah-tengah kepenatan mengelola konferensi pertama yang lalu- oleh pernyataan Prof. Amin Abdullah, “mestinya kampus-kampus lain di negeri ini turut mengembangkan apa yang sudah dirintis oleh Sadra Institute ini”.
Refleksi 1
Klarifikasi pengertian “Islam” dalam frase-frase  “Islamic Human Sciences” dan “the Islamic Perspective
Izinkan saya mulai dengan melakukan klarifikasi penggunaan istilah “Islam” dalam sejumlah kata yang digunakan dalam deskripsi visi dan misi IC-THuSI, seperti frase “Islamic Human Sciences”, “ilmu-ilmu manusia Islami”, “perspektif Islam”, dst. Klarifikasi dan penjelasan eksposisional ini dirasa perlu agar setidaknya terjadi kejernihan pemahaman tentang pelekatan Islam yang bersifat predikatif terhadap ilmu-ilmu sosial humaniora (human sciences). Hal ini sekaligus merupakan tanggapan terhadap sejumlah pertanyaan dan diskusi yang terjadi di antara kita sebelumnya (baik dalam pertemuan ataupun via japri).
Hal pertama dan terpenting yang perlu digarisbawahi di sini adalah bahwa penggunaan nama Islam atau pelekatan predikatif Islam terhadap entitas ilmu-ilmu sosial humaniora ini sama sekali bebas dari jargon “Bucaillisme” berupa ayatisasi atau upaya mencocok-cocokkan temuan ilmiah dengan ayat-ayat suci Al-Quran dan Hadits. Selain tidak ilmiah, fenomena “Bucaillisme” juga sangat tidak kreatif dan produktif dalam upaya pengembangan ilmu pengetahuan, apapun bidang ilmunya. Sejalan dengan sikap ini, maka kita pun menghindari istilah-istilah seperti “Islamisasi” atau “pengislaman”, yang seakan memosisikan Islam berada pada satu kutub dan pengetahuan pada kutub lain sehingga Islam difungsikan sebagai stempel atau simbol semata.
Implikasi lebih lanjut, sebagai konsekuensi logis dan epistemologis, penyebutan Islam pada khasanah IC-THuSI juga sama sekali tidak bersifat sektarian intra (mazhab Islam tertentu), sektarian inter (Islam vis-a-vis non-Islam), ideologis (baca: ideologi tertutup dengan slogan “right or wrong is my country”), eksklusif, dan propaganda politik. Visi dan misi IC-THuSI tidak hanya berbeda dengan atribut-atribut seperti ini, tetapi juga menentang sepenuhnya mencampurbaurkan aktivitas ilmiah dengan kepentingan-kepentingan ideologis dan politis sektarian.
Lalu, pengertian Islam yang bagaimanakah yang dimaksudkan oleh IC-THuSI?
Izinkan saya untuk menjawabnya tidak secara naratif utuh (lebih cepat dipahami oleh pembaca dan juga ditulis oleh penulis..) melainkan bersifat kategoris dengan penjelasan yang cukup.
1.     Merujuk kepada istilah Prof. Kuntowijoyo, Islam yang kita bincangkan dalam konteks keilmuan adalah Islam secara epistemologis, bukan ideologis. Maksudnya, Islam sebagai agama dan sekaligus peradaban memiliki cara pandang dan interpretasi tertentu dalam memahami dunia, manusia, masyarakat, dan sejarah. Oleh karena berperan sebagai epistemologi, maka dengan sendirinya Islam yang dimaksud bersifat terbuka dan siap diuji menurut kaidah-kaidah keilmuan (ilmiah dan filosofis).
2.      Mengacu kepada ulasan Dr. Ali Mesbah Yazdi, yang dikirimkan via email menjelang konferensi lalu dan ditaruh pada cover belakang Buletin IC-THuSI No. 3, Islam adalah sebuah perspektif yang berpijak pada realitas dalam mencari, menapaki dan merengkuh kebenaran. Dalam konteks ilmu-ilmu sosial humaniora, maka yang dimaksud dengan ilmu-ilmu sosial humaniora perspektif Islam adalah ilmu-ilmu yang berpijak pada fitrah kemanusiaan itu sendiri yang dipahami secara holistik dan mendalam. Hal inipun dinyatakan oleh Prof. Ali Akbar Rashad –narasumber pleno hari kedua konferensi IC-THuSI lalu- bahwa ilmu-ilmu sosial humaniora seharusnya berpusat pada fitrah kemanusiaan itu sendiri yang hanief, cenderung kepada kebaikan (dikutip oleh Harian Kompas, 21 November 2014).
3.     Merujuk kepada kedua penjelasan di muka, maka penggunaan Islam dalam setiap deskripsi dan eksplanasi IC-THuSI adalah sebuah cara pandang yang mengacu kepada prinsip-prinsip realitas (ontologis), kaidah-kaidah keilmuan (epistemologis), dan kecendrungan kepada kebaikan universal (etis).
4.     Implikasinya adalah pengertian Islam yang digunakan oleh IC-THuSI adalah Islam yang bersifat ilmiah, terbuka, rasional, universal dan humanistik.  Dalam bahasa sehari-hari, kita menyebutnya sebagai  “Islam rahmatan lil’alamin”.
Nah, persoalannya adalah jika memang bersifat terbuka, rasional, ilmiah, universal, maka mengapa masih memakai istilah Islam. Kenapa tidak cukup dikatakan sebagai ilmu-ilmu sosial humaniora saja tanpa embel-embel Islam? Atau untuk membedakan dengan ilmu-ilmu sosial humaniora kontemporer mainstream, yang bercorak positivistik-mekanistik, kenapa tidak disebutkan dengan “ilmu-ilmu manusia yang non-posivistik” tanpa harus dipredikasi dengan perspektif Islam?
Saya akan menjawab pertanyaan kritis tersebut pada refleksi-refleksi mendatang. Setidaknya terdapat tiga jawaban dipandang dari sudut pandang:
1.     Filsafat Ilmu
2.     Hermeneutik
3.     Cultural Studies
Terima kasih.
Wassalam
Husain Heriyanto
Ketua Steering Committee IC-THuSI
Sadra International Institute, Jakarta
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Atlantis in the Java Sea

A scientific effort to match Plato’s narrative location for Atlantis

sembrani

bertukar ide, melampaui mimpi bersama

Nurul Wirda

Semerbak Mawar yang dengan senang hati memancarkan Cahayanya

aawanto

The greatest WordPress.com site in all the land!

Covert Geopolitics

Beyond the Smoke & Mirrors

Catatan Harta Amanah Soekarno

as good as possible for as many as possible

Women Terrace

to say something that i never talk before

Kanzunqalam's Blog

AKAL tanpa WAHYU, akan berbuah, IMAN tanpa ILMU

Cahayapelangi

Cakrawala, menapaki kehidupan nusantara & dunia

religiku

hacking the religion

SANGKAN PARANING DUMADI

Just another WordPress.com site

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

%d blogger menyukai ini: