Tinggalkan komentar

Undang Seminar Riset Situs Gunung Padang dan Situs Goblegi Tepe Turki

1_leaflet_eng

Seminar 24 Maret 2015 di Gd.10 Kampus LIPI Jl.Sangkuriang Bandung Bukti Kebudayaan Hilang dari Zaman Es Terakhir: Studi Banding Situs Gobekli Tepe, Turki dan Gunung Padang Jawa Barat: Pelajaran apa yang dapat kita petik?

Pendahuluan

Situs Gunung Padang walaupun sudah diketahui sejak tahun 1800-an dan mulai diteliti dan dipugar dalam masa pemerintah Indonesia sejak tahun 1980, namun baru sejak empat tahun terakhir menjadi situs cagar budaya yang paling mendapat perhatian dari berbagai kalangan masyarakat Indonesia dan internasional.

Pengunjung wisata yang sebelumnya sedikit, hanya puluhan orang setiap minggu, tiba-tiba membludak menjadi ribuan, bahkan bisa melebihi jumlah pengunjung yang datang ke Candi Borobudur, ikon budaya Indonesia yang paling terkenal.

Perubahan drastis ini terjadi setelah sekelompok peneliti yang tergabung di Tim Terpadu Riset Mandiri (TTRM) memulai survey-nya di tahun 2011 dan ‘membocorkan’ hasilnya secara bertahap kepada masyarakat umum bahwa situs megalitik ini tidak sesederhana yang dipercayai sebelumnya tapi jauh lebih kompleks, megah dan besar berdasarkan berbagai survey pemindaian bawah permukaan dan pengambilan sampel bor yang memperlihatkan sebagian besar badan bangunan situs ternyata tertimbun di bawah tanah dan/atau tersembunyikan dibalik pohon-pohon dan semak belukar yang menutup bukit.

Lebih heboh lagi, setelah dilakukan uji penentuan umur lapisan bangunan batu ternyata perkiraan umurnya sangat fantastis bahwa bangunan situs Gunung Padang dibangun sejak Zaman Es dan kemudian dibangun kembali beberapakali selama Zaman Holocene.

Ide ini bertentangan dengan keyakinan orang selama puluhan tahun bahwa pada Zaman Es budaya manusia masih sangat primitif, hidup hanya dari berburu belum mengenal bertani, beternak, dan bermasyarakat, apalagi mempunyai kemampuan untuk membuat bangunan besar yang tidak sederhana. Dogma ini bukan hanya berlaku di Indonesia yang baru mengenal sejarah tulisan setelah 400 tahun Masehi tapi juga di seluruh dunia, karena peradaban maju tertua yang diketahui dunia baru muncul sejak 9000 tahun lalu (7000 tahun SM), yaitu Bangsa Sumeria di Mesopotamia.

10922420_321562201366289_4171680221430727428_nOleh karena itu temuan baru di Gunung Padang bisa menjadi terobosan dalam sejarah manusia dan ilmu pengetahuan yang akan merubah cara pandang kita tentang masa silam. Apabila benar bahwa peradaban maju sudah mulai ada sejak Zaman Es maka pertanyaan selanjutnya: tidak mungkin jejaknya hanya di Gunung Padang. Perlu dilakukan penelusuran lebih lanjut dan studi banding tidak hanya di Indonesia tapi di seluruh dunia.

Situs bangunan besar lain dari Zaman Es yang sudah diakui oleh dunia ilmu pengetahuan “mainstream” adalah Situs Göbekli Tepe di Anatolia Selatan, Turki. Göbekli Tepe yang lokasinya berada di dekat kelahiran Nabi Ibrahim dibangun 11.600 tahun lalu.

Seperti kasus Gunung Padang, fakta ini juga menjadi enigma yang sukar dijelaskan oleh ilmu pengetahuan kita tentang sejarah peradaban manusia. Oleh karena itu sangat menarik dan berguna apabila kasus Gunung Padang dibahas bersama-sama dengan Göbekli Tepe untuk melihat persamaan, perbedaan, dan kemungkinan keterkaitannya dalam berbagai hal.

Apresiasi dan pengakuan pemerintah serta masyarakat terlihat dari banyaknya kunjungan dari berbagai kalangan peneliti, akademisi, para pemerhati, masyarakat umum, dan para pejabat pemerintah terkait mulai dari para pemimpin pemerintah daerah, para menteri, kalangan Pimpinan TNI RI, dan Presiden SBY sendiri yang berkunjung pada tanggal 27 Februari 2014. Pengakuan legal terlihat dari dikeluarkannya Keputusan Gubernur Jawa Barat Nomor 430.05/Kep.1578- Disparbud/2013 dan 430.05/Kep.1579-Disparbud/2013 dan revisinya, yaitu: Keputusan Gubernur Jawa Barat Nomor 430.05/Kep.302-Disparbud/2014 dan 430.05/Kep.303-Disparbud/2014; Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 023/M/2014 pada bulan Februari 2014 yang menaikkan status Gunung Padang menjadi Situs Cagar Budaya Nasional dan menjadikan luas bangunan situs yang tadinya hanya 1/3 ha menjadi seluas 29 ha;

Dibentuk Tim Nasional Pelestarian dan Pengelolaan Situs Gunung Padang yang ditetapkan oleh Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No.225/P/2014 pada tanggal 8 Agustus 2014 yang anggautanya adalah TTRM ditambah para ahli dari berbagai institusi dari seluruh Indonesia; dan terakhir adalah Peraturan Presiden No.148 Tahun 2014 tentang Pengembangan, Pelindungan, Penelitian, Pemanfaatan, Dan Pengelolaan Situs Gunung Padang yang ditetapkan pada tanggal 17 Oktober 2014. Jelas bahwa Situs Gunung Padang sudah menjadi aset Indonesia dan Dunia yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Göbekli Tepe, Monumen Kuil Besar Berumur 11600 tahun (9600 SM) Oleh Andrew Collins Kemunculan tiba-tiba dari sebuah bangunan besar tempat pemujaan di pusat keagamaan seperti Göbekli Tepe di Anatolia tenggara kemungkinan besar merupakan respon terhadap sebuah bencana katastrofi yang kelihatannya diakibatkan oleh tumbukan komet yang terjadi sekitar 10.900 tahun SM – membuat dunia hancur selama ratusan tahun, dan memicu terjadinya zaman es kembali selama 1.300 tahun, dikenal sebagai perioda Younger Dryas.

Apakah Göbekli Tepe dibangun oleh penduduk setempat dengan bantuan dari elit kekuasaan yang datang dengan maksud agar para pendeta dapat mencegah kekuatan supranatural yang dianggap bertanggung jawab atas terjadinya bencana katastrofi tersebut? Apakah struktur situs yang mempunyai pola-pola arah kesejajaran yang presisi terhadap bintang-bintang utama dan jalur besar pemekaran dari Galaxy kita (“the Milky Way”) dimaksudkan agar mendapat akses cepat ke alam angkasa raya untuk tujuan ini? Apabila ide ini benar, apa yang dapat diceritakan tentang peranan Göbekli Tepe dalam sejarah kehidupan manusia, dan apakah ada hubungannya dengan Situs Gunung Padang yang kelihatannya dibangun pada masa yang sama? Pembicara juga menelusuri kemungkinan hubungan antara Gunung Padang dan kebudayaan obsidian Paleolithic-Mesolithic di wilayah cekungan Bandung, dan juga keyakinan asli setempat, seperti mitos bahwa penduduk pertama di Jawa turun dari langit, dikenal sebagai sang Dewi Tenun dan Dewa Anjing Merah. Tradisi keyakinan ini masih kuat sampai sekarang dalam komunitas orang Kalang yang banyak tersebar di Jawa Tengah dan Jawa Timur meskipun pada mulanya mereka hidup di tempat yang dekat dengan Gunung Padang di wilayah Bandung, Jawa Barat.

Apakah tradisi kuno ini menyiratkan kunci untuk memahami keyakinan dan karya-karya dari masyarakat kuno yang bertanggung jawab terhadap penciptaan monumen Gunung Padang, dan apakah dapat membantu menjelaskan pola kelurusan arah situs terhadap bagian timur kaldera Gunung Gede-Pangrango? Gunung Padang, Piramida Sundaland Oleh: Danny Hilman Natawidjaja Sejak 2011 ahli geologi Dr. Danny Hilman Natawidjaja dan tim (=Tim Katastrofi purba yang kemudian berkembang menjadi Tim Terpadu Riset Mandiri – TTRM) menduga bahwa bukit Gunung Padang merupakan bukit buatan manusia dan mulai melakukan eksplorasi dengan teknologi pemindaian mutakhir dalam bidang geologi dan geofisika termasuk metoda “Ground Penetrating radar (GPR) atau georadar, tomografi seismik, survey struktur resistivitas dan juga banyak penggalian langsung dan pengambilan sampel mata bor yang dalam. Survey yang intensif dan komprehensif memperlihatkan bahwa Gunung Padang adalah bangunan sangat besar dengan multi-lapisan artifisial dari blok-blok batu andesit, yang tidak hanya menempati bagian puncaknya saja tapi seluruh badan bukit; juga tidak hanya dipermukaan tapi sampai jauh di bawah permukaan; Terlihat juga bukti-bukti kuat dari keberadaan lorong dan ruang-ruang di bawah tanah.

Hasil studi penentuan umur absolut dengan metoda analisa umur karbon yang terkandung dalam tanah-tanah yang berada pada lapisan-lapisan batuan artifisial tersebut menunjukkan bahwa bangunan megalit ini jauh lebih tua dari yang diperkirakan sebelumnya. Struktur megalit termuda yang menempati permukaannya saja berumur sekitar 2500-3500 tahun. Analisa karbon dari Lapisan artifisial ke-dua yang hanya tertimbun satu sampai beberapa meter di bawah tanah memberikan perkiraan umur 6700 sampai 7000 tahun lalu (4700 sampai 5000 tahun SM).

Penentuan umur dari Lapisan ketiga pada kedalaman 5 sampai 15 meter memberikan umur lebih tua dari 9500 tahun lalu, namun hasil karbon dating dari beberapa sampel tanah diantara Lapisan ketiga masih mempunyai ketidakpastian besar yang berkisar dari 10000 sampai 28000 tahun lalu. Walaupun demikian, sudah dapat dikatakan bahwa Gunung Padang mulai dibangun sejak Zaman Es dimana leluhur kita diyakini masih primitif, hidup dengan berburu yang tentunya dianggap tidak mempunyai kemampuan teknis untuk membuat bangunan maju berskala besar.

Oleh karena dapat dipahami apabila temuan ini dianggap sebagai ‘ajaran sesat’ oleh kalangan umum ahli arkeologi. Pembicara juga akan mendiskusikan kasus Gunung Padang dari kacamata geologi, khususnya mengenai sebuah konsep baru bahwa bencana katastropik global dapat menghancurkan dan me“re-start” perkembangan populasi dan budaya manusia.

Fokus pembahasan adalah sejarah bumi sejak 20000 tahun terakhir, yaitu sejak puncak Zaman Es, ketika kemudian suhu bumi mulai memanas dan es mencair, menyebabkan muka air laut naik sekitar 130 meter sampai Mid Holosen (sekitar 7000 tahun lalu). Bencana katastrofi global diindikasikan kuat terjadi ketika masa Younger Dryas (YD) dari 12900 sampai 11600 tahun lalu. YD ditandai oleh turunnya suhu bumi secara drastis yang membuat bumi kembali membeku selama 1300 tahun, dan kemudian diakhiri oleh naiknya kembali suhu bumi secara tiba-tiba, melelehkan Es besar-besaran dan menaikkan airlaut dengan serentak sehingga membanjiri daratan. YD menandai akhir Zaman Pleistosen dan awal Holosen. ‘Sangat kebetulan’ menurut sejarah, awal perkembangan populasi dan peradaban manusia seperti yang kita kenal sekarang dimulai sejak awal Holosen alias setelah YD berakhir.

Jadi, misteri besarnya: Apakah peradaban dunia yang kita kenal sekarang adalah satu-satunya peradaban sejak munculnya manusia modern sekitar 195000 tahun lalu? Atau, Apakah lebih masuk akal untuk mencurigai bahwa populasi manusia dan budayanya pernah hampir musnah ketika YD dan kemudian mulai lagi berkembang? Apabila ide ini benar, apakah peristiwa ini berkaitan dengan sejarah nabi Nuh seperti diceritakan oleh kitab-kitab suci dari agama-agama besar di dunia? Dan apakah peristiwa ini juga yang dimaksud oleh banyak mitos-mitos diberbagai tempat diseluruh dunia tentang bencana katastrofi banjir besar? Dan terakhir, mungkinkah bencana ini juga yang memusnahkan Kerajaan Besar Atlantis yang dikisahkan oleh naskah Critias-nya Plato sudah hancur dan tenggelam oleh banjir besar sekitar 11600 tahun (9600 SM) ?

Budaya Megalitik dan Perkakas Obsidian di Kawasan Danau Bandung Purba dan Manusia Gua Pawon Oleh: Johan Arief Disekitar Danau Bandung pernah ada suatu masyarakat yang hidup pada jaman peralihan Mesolitik-Neolitik, sekitar 2500-1000 SM. Pada saat itu Danau bandung masih ada dan sedang menuju kepada kepunahannya. Bukti-bukti kehidupan mereka diwakili oleh temuan rangka manusia di Gua Pawon dan temuan-temuan artefak antara lain obsidian dan bangunan megalitik seperti menhir dan batu temu-gelang. Ras manusia Pawon diduga mirip dengan manusia Wajak dari Jawa timur yaitu campuran antara ras Mongoloid dan (proto) Australomelanesoid. Mereka adalah masyarakat pemburu-pemungut. Mereka tinggal di guha-guha untuk sementara waktu saja, selama mereka dalam pengembaraan mencari makanan. Dari segi religi ada kemungkinan mereka mempunyai konsep monoteisme, seperti yang diperlihatkan adanya penguburan rangka terlipat (flexed) dan disekitar rangka terdapat benda-benda kubur.

Sebaliknya, di luar kawasan mereka (manusia Pawon), hidup masyarakat lainnya dengan melakukan aktivitas pertanian secara sederhana tanpa sistim irigasi (mungkin berladang) dan salah satu tanaman yang mungkin mereka budi-dayakan adalah pisang. Bukti dari aktivitas pertanian mereka adalah temuan pecahan obsidian yang mana sumber dari obsidian tersebut kemungkinan berasal dari gunung Kendan, Cicalengka. Dari segi religi, mereka tampaknya menganut konsep paganisme yaitu dengan melakukan pemujaan terhadap benda-benda mati seperti batu dan matahari. BIOGRAFI PEMBICARA Pembicara Kunci, Bapak Dedy Mizwar adalah Wakil Gubernur Jawa Barat sejak tahun 2013 sampai sekarang. Sebelumnya produser, sutradara, dan aktor senior yang sangat kondang. Memperoleh banyak penghargaan dari FFI, diantaranya untuk Pemeran Utama dalam Film Sunan Kalijaga (1984), Naga Bonar (1987) dan Naga Bonar Jadi Dua (2007).

Pembicara Kunci, Bapak Dipo Alam adalah Mantan Sekretaris Kabinet (seskab) Republik Indonesia 2009-1014. Sebelumnya Mantan Ketua Mikro Ekonomi ini dipercaya oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sebagai Sekretaris Jenderal Organisasi negara-negara berkembang (Developing Countries) 8 atau D-8 pada tahun 2006, yang bermarkas di Istanbul, Turki.

Pendidikannya antara lain lulus Sarjana Kimia, Fakultas MIPA, Universitas Indonesia (1978), Master of Engineering Management, The George Washington University, USA (1983), Professional Degree, Industrial and Engineering Management The George Washington University, USA (1984), Doctor of Science, The George Washington University, USA (1989). Pembicara, Andrew Collins, adalah seorang wartawan dan penulis sejarah di Inggris.

Dia sudah menulis selusin buku yang menantang persepsi umum tentang masa lalu, diantaranya buku “The Ashes of Angels (1996)”, “Gateway to Atlantis (2000), “The Cygnus Mistery (2006), dan buku teranyarnya yaitu “Göbekli Tepe : Genesis of the Gods” (2014). Dia sekarang meneliti tentang peranan perkawinan hibrid antara populasi manusia “archaic” dan populasi manusia modern terhadap kemunculan peradaban pada Zaman Paleolithic Atas. Andrew adalah salah satu dari peneliti Göbekli Tepe kelas dunia. Pembicara, Danny Hilman Natawidjaja, adalah ahli geologi kondang di LIPI, terkenal di dunia atas kepiawaiannya dalam riset gempa dan tsunami dan mitigasi bencana pada umumnya di Indonesia. Lulus sarjana dari ITB, M.Sc dari University of Auckland New Zealand, dan Ph.D dari California Institute of Technology (Caltech). Dia adalah penerima penghargaan Sarwono Prawirohardjo Award tahun 2005, sebuah penghargaan tertinggi dari LIPI untuk prestasi dalam dunia ilmiah dan kontribusi besar dalam diseminasi pengetahuan ilmiah untuk kepentingan masyarakat umum.

Baru-baru ini, dia terseleksi dalam 10 besar ranking atas ilmuwan Indonesia berdasarkan survey “Google scholar citations” yang dilakukan oleh Project ACUMEN of European Commission 7th Framework Programme, Capacities, Science in Society. Dalam empat tahun terakhir, dia memimpin tim penelitian arkeogeologi dan geofisika di Gunung Padang. Dia ketua survey Tim Katastrofi Purba dan kemudian menjadi TTRM. Dia juga Wakil Ketua Tim Penelitian Cagar Budaya Situs Gunung Padang yang dibentuk oleh Keputusan Gubernur Jawa Barat pada Bulan Desember 2013.

Kemudian dia menjadi Wakil Ketua (bidang geologi) dari Tim Nasional untuk Pengelolaan dan Pelestarian Gunung Padang yang dibentuk oleh Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan pada bulan Agustus 2014. Dia pengarang buku ‘Plato Tidak Bohong: Atlantis ada di Indonesia’.

Pembicara Johan Arief adalah Staf Pengajar di program studi (prodi) Teknik Geologi, Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian (FITB), Institut Teknologi Bandung (ITB) sejak tahun 1988. S-1 dan S-2 ditempuhnya di jurusan Teknik Geologi, Institut Teknologi Bandung (ITB), dan gelar Doktor diraih dari Universitas Kyoto, Jepang. Dari Tahun 2001 sd 2004 menjadi dosen di Pusat Penyelidikan Arkeologi Malaysia, Universitas Sain Malaysia di Penang. Aktivitas pasca-doktoral dilakukan dari tahun 2006 sd 2012 di Jepang, Jerman, Belanda dan Amerika. Bidang spesialisasinya bio-anthropologi dan arkeo-geologi (geoarkeologi). Menikah dengan Munafiataun Muniroh, dikarunia 4 orang anak. Saat ini aktif di Kelompok Keahlian (KK) Geologi Terapan, Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian (FITB) dan di Fakultas Seni Rupa dan Disain (FSRD), Institut Teknologi Bandung (ITB). Selain itu merupakan anggota inti dari Kelompok Riset Cekungan Bandung (KRCB).

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Atlantis in the Java Sea

A scientific effort to match Plato’s narrative location for Atlantis

sembrani

bertukar ide, melampaui mimpi bersama

Nurul Wirda

0812-8267-9182

aawanto

The greatest WordPress.com site in all the land!

Covert Geopolitics

Beyond the Smoke & Mirrors

Catatan Harta Amanah Soekarno

as good as possible for as many as possible

Women Terrace

to say something that i never talk before

Kanzunqalam's Blog

AKAL tanpa WAHYU, akan berbuah, IMAN tanpa ILMU

Cahayapelangi

Cakrawala, menapaki kehidupan nusantara & dunia

religiku

hacking the religion

SANGKAN PARANING DUMADI

Just another WordPress.com site

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

%d blogger menyukai ini: