Tinggalkan komentar

WAHABI KACAUKAN INDONESIA MELALUI MILYARAN DOLLAR DANA AS-ISRAEL-SAUDI ARABIA

10547648_10204207082407168_4948625370960487162_n (1)Milyaran Dollar dana Wahabi mengalir ke Indonesia untuk hancurkan NU dan Syi’ah !! Gerakan anti Iran juga dilakukan di berbagai negara lain

Hamzah al-Hasan, aktivis Saudi mengungkap kenakalan Riyadh terhadap Tehran dengan membuka kantor-kantor perwakilan untuk kelompok oposisi Republik Islam di Kairo, Mesir

Fars News (15/2) melaporkan, Hamzah menilai undangan Riyadh kepada tokoh-tokoh anti-Iran yang tinggal di luar negeri dalam sebuah festival warisan budaya Arab Saudi sebagai langkah pendahuluan agar pihak-pihak lain juga melakukan hal yang sama.

Rezim al-Saud juga tengah mengupayakan sanksi terhadap Republik Islam Iran khususnya di sektor minyak dan menurut Hamzah, “Tampaknya Arab Saudi sangat mengkhawatirkan peningkatan popularitas Iran dan sambutan masyarakat r9786027689800egional terhadap perspektif revolusi Iran dan mereka beranggapan dengan mendukung kelompok oposisi, mereka dapat melemahkan posisi Republik Islam, akan tetapi mereka tidak sadar bahwa langkah-langkah tersebut justru sangat membayahakan Saudi.”

Aktivis Saudi itu kemudian menyinggung perluasan aksi demo dan protes warga di Timur Arab Saudi serta menujukan pernyataannya kepada para pemimpin negara ini dengan mengatakan, “Berhati-hatilah dengan dinding kaca rumah kalian, jangan kalian melempar batu ke arah dinding rumah pihak lain, karena sekali saja batu terlempar ke arah kalian, maka tidak akan tersisa rumah kalian.”

Menyinggung watak esktrim para pejabat Arab Saudi yang berusaha mencari gara-gara dengan Iran, Hamzah mengatakan, “Meski semua pejabat al-Saud berwatak ekstrim, akan tetapi sebagian mereka lebih ekstrim dan menuntut konfrontasi politik, ekonomi, dan bahkan keamanan dengan Iran, dan menurut saya dukungan terhadap kelompok-kelompok anti-Republik Islam hanya salah satu dari langkah mereka.”

Hamzah juga mengungkap pembukaan kantor perwakilan kelompok anti-Republik Islam di Kairo, Mesir, dengan dukungan finansial dari Arab Saudi dan mengatakan, “Dukungan dana Riyadh kepada kelompok oposisi anti-Republik Islam sebenarnya bukan masalah baru karena sudah sejak lama rezim Saudi mendukung aktivitas kelompok-kelompok oposisi anti-Republik Islam di Iran.”

Kemenangan Revolusi Islami Iran pada tahun 1979 menarik perhatian masyarakat dunia dan menunjukkan kepada mereka bagaimana Iran yang dengan tangan kosong dapat memenangkan revolusi berdarah. Dengan menangnya revolusi itu, Al-Qur’an dan sunah Rasul serta Ahlul Baitnya berhasil dijadikan pondasi utama undang-undang negeri ini.

Revolusi agung Iran mendorong para cendikiawan dunia untuk semakin mengenal Iran lebih jauh, khususnya tentang mazhab Syiah; mereka semakin ingin menyentuh fakta yang ada dengan jiwa dan raga mereka. Mazhab Syiah adalah mazhab pecinta Ahlul Bait yang sering disebutkan dalam Al-Qur’an, begitu pula pujian-pujian serta hak-haknya yang istimewa.

Fenomena ini begitu menakutkan bagi Barat dan musuh utama Islam, yaitu Israel. Mereka khawatir Iran dapat memberi pengaruh bagi negara-ngera lain yang mana hal itu pasti membahayakan kepentingan mereka. Oleh karena itu mereka berusaha menciptakan “kelompok-kelompok minoritas agama” yang sebelumnya sama sekali tidak ada, dengan tujuan terciptanya perpecahan dan ikhtilaf di antara umat Islam. Sehingga dengan demikian mazhab Ahlul Bait menemukan kendala dalam menyebarkan pemikirannya.

Di antara kelompok-kelompok minoritas yang ada, adalah kelompok Wahabi. Kelompok ini lebih menonjol ketimbang yang lainnya karena selalu difasilitasi secara luar biasa baik dari segi finansial maupun dukungan lainnya. Yang jelas, tak lama setelah kemenangan Revolusi Islam Iran, dengan gencar Wahabi menulis buku, menyiarkan program-program televisi, radio, dan lain sebagainya, yang berisikan pertanyaan-pertanyaan kritis terhadap mazhab Syiah; dengan tujuan menciptakan citra bahwa Syiah tidak rasional dan perlu dijauhi oleh kita semua.

Dalam sejarah mazhab-mazhab tidak ada yang melebihi Wahabi dalam hal dukungan finansial yang mereka dapat. Hanya sebuah buku yang berjudul Asy -Syiah va At-Tashih (buku yang mengkritik Syiah) ini saja dicetak sebanyak delapan juta eksemplar di kota Khartoum, ibukota Sudan, dan dua juta eksemplar di kota-kota lain negeri itu lantaran banyak penduduk Sudan yang tertarik dengan mazhab Ahlul Bait.

Banyak yang mengamati fenomena ini dan sampai ada yang menyatakan bahwa ada sekitar 40.000 website yang menyerukan pertentangannya terhadap Syiah. Ada kurang lebih 10.000 judul buku yang ditulis untuk mencela mazhab ini. Namun, anehnya usaha mereka semakin membuat banyak orang bertanya-tanya penasaran, memangnya ada apa dengan mazhab itu? Akhirnya mereka malah mencari tahu dan berusaha menyaksikan dengan mata kepala sendiri seperti apakah Syiah yang dipojokkan itu?

Banyak sekali para pencari kebenaran yang berdatangan ke Iran dan berhubungan langsung dengan para ulama setempat. Lalu mereka menyadari bahwa segala yang pernah ia dengar sebelumnya hanyalah omong kosong. Akhirnya mereka justru memeluk mazab ini. Sebagaimana firman Allah Swt yang berbunyi:

“…dan mereka memeluk agama Allah secara berkelompok-berkelompok.”

Dengan demikian tanpa ada upaya serta langkah apapun dari pihak ulama Syiah, dengan sendirinya banyak sekali dan bahkan terus bertambah orang yang berminat untuk mempelajari mazhab ini; sebagaimana halnya yang kita saksikan di Mesir, Jordania, dan tanah Arab lainnya. Tak hanya di Arab saja! Bahkan Amerika dan Eropa juga mulai mengikuti arus yang ada.

Sungguh menajubkan sekali, sejarah telah terulang. Vatikan juga pernah melakukan usaha yang sama demi merusak citra Islam sehingga muncul Islamophobia. Namun ternyata hasil yang didapat terbalik, justru gencar gerakan pro Islam kita saksikan akhir-akhir ini di Amerika dan Eropa. Dengan izin Allah, Eropa yang kini mayoritas beragama Kristen kelak akan memeluk Islam, Insya Allah.

Wahabi, yang lebih tepatnya Wahabiah adalah aliran yang muncul pada abad ke 8 yang disebarkan dan dikembangkan oleh Muhammad bin Abdul Wahab. Tujuannya adalah menciptakan perpecahan antar umat Islam. Mereka mengkafirkan semua orang selain penganut alirannya sendiri.

Wahabiah dicetuskan oleh Ibnu Taimiyah Harani pada abad ke 8. Ia bertentangan dengan sunah Rasulullah saw.; misalnya sama sekali tidak mau menikah. Karena pemikiran-pemikirannya yang menyeleweng, sesuai keputusan ulama setempat waktu itu ia sampai dipenjara sebanyak empat kali. Ibnu Taimiyah mendapat banyak kritikan pedas dari ulama Ahlu Sunah dan juga dicap kafir. Sebagian ulama Ahlu Sunah yang telah mengkafirkannya seperti:

  1. Taqiuddin As-Sabki, salah seorang pembesar mazhab Syafi’iyah.[1]
  2. Muhammad bin Ahmad bin Utsman Ad-Dzahabi, ahli sejarah dan ilmu Rijal yang diakui di kalangan Ahlu Sunah, yang mana ia dulu juga murid Ibnu Taimiyah. Ia mengkritik Ibnu Taimiyah dalam tulisannya yang berjudul Bayanu Zughlil Ilm wal Thalab.[2]
  3. Ibnu Hajar Haitami, orang yang mengakui bahwa Ibnu Taimiah adalah hamba yang telah dihinakan Tuhan yang menjadi tuli dan dibutakan oleh-Nya.
  4. Qadhi Tajuddin As-Sabki, yang menyatakan bahwa Ibnu Taimiyah adalah orang yang membahayakan ulama. Ia pernah menulis dalam salah satu bukunya: “Ia telah menggiring murid-muridnya ke jurang neraka.”[3]
  5. Allamah Taqiuddin Al-Hishni, menyebutkan bahwa Ibnu Taimiyah adalah orang yang hatinya dipenuhi dengan penyakit. Ia orang yang sesat dan suka mengumbar fitnah.
  6. Ibnu Hajar Al-Asqalani, penulis syarah Sahih Bukharidan dikenal dengan sebutan Amir Al-Hadits. Ia begitu membenci Ibnu Taimiyah karena dikenal sebagai orang yang suka mencela dan tidak menerima hadits-hadits sahih. Ibnu Hajar menulis: “Ia selalu menolak hadits-hadits sahih dan sering mencela orang-orang (seperti Allamah Al-Hilli yang sezaman dengannya yang mana beliau disebut Ibnu Taimiyah dengan sebutan Ibnu Mutanajjis atau “anak orang yang najis”). Ia sangat berlebihan dalam hal itu sampai-sampai ia sempat pernah mencela Ali bin Abi Thalib.[4]
  7. Alusi, penulis tafsir yang terkenal juga termasuk orang-orang yang telah mengkafirkannya. Ia juga sependapat dengan Ibnu Hajar dengan berkata, “Ia memang terkenal dengan caciannya dan perkataan kotornya.”[5]
  8. Sayid Hasan As Saqaf, termasuk orang yang sezaman dengan kita, begitu juga Zahid AL-Kautsari serta sekelompok ulama lain berkata bahwa ia orang yang mengikuti Muawiyah dan selalu menyerang serta memojokkan Imam Ali as juga mencari aib-aibnya, orang seperti itu disebut oleh penganut Wahabi sebagai Syaikh Al-Islam dan pemikiran-pemikirannya dianggap sebagai wahyu yang turun dari langit.

Pemikiran Ibnu Taimiyah sempat redup pada suatu dekade dalam sejarah, namun tak lama kemudian dihidupkan kembali dan disebarluaskan oleh Muhammad bin Abdul Wahab. Tujuan pencetus dan penyebar aliran ini hanyalah terciptanya perpecahan di antara umat Islam dan mengkafirkan kelompok-kelompok selain kelompoknya sendiri.

Kebijakan diskriminasi yang diterapkan rezim Al Saud menyebabkan meluasnya protes rakyat di Arab Saudi. Anehnya, Amerika Serikat selalu mendukung kebijakan Riyadh dan bersikap bungkam terhadap pelanggaran Hak Asasi Manusia yang semakin tak terkendalikan di Saudi.

Gelombang protes rakyat terhadap kebijakan diskriminatif rezim Al Saud telah memasuki tahap baru. Sikap Riyadh yang membatasi penggunaan fasilitas umum dan mengkhususkan miliaran dolar hasil ekspor minyak negara kepada keluarga kerajaan membuat kondisi semakin tidak dapat ditolerir rakyat.

Dari 22 juta penduduk Saudi, sekitar 2,5 -3 juta warga bermazhab Syiah (12 Imam, Zaidi, dan Ismailiyah). Pemerintah Riyadh memperlakukan mereka seperti warga tingkat kedua atau orang asing. Warga Syiah sama sekali tidak mempunyai peran dan pengaruh di pemerintahan Saudi. Mereka merasa seakan-akan bukan warga Saudi karena pemerintah kerajaan menganggap mereka seperti warga asing dan menempatkannya di tingkat sosial yang terendah.

Mayoritas warga Syiah Saudi tinggal di wilayah timur negara ini yang kaya minyak. Menurut laporan, jumlah warga Syiah Saudi antara 10 hingga 15 persen dari 22 juta penduduk negara itu. Namun warga Syiah meragukan kebenaran data tersebut. Mereka meyakini kebanyakan umat Syiah menyembunyikan mazhab mereka. Hal itu disebabkan tekanan dan diskriminasi pemerintah.

Pandangan Syiah bahwa setiap penguasa tidak dinilai sebagai “Wali Amr” dan penentangan terhadap penguasa zalim adalah kewajiban syariat, dianggap sebagai bahaya besar bagi rezim Saudi. Para pejabat Riyadh menyadari akan hal itu, oleh karena itu mereka mengambil langkah antisipasi dengan cara mengurangi jumlah warga Syiah yang bekerja di bidang-bidang yang dianggap sensitif.

Para pejabat Saudi rata-rata bermazhab Wahabi, di mana dalam pemikiran mereka ingin menghidupkan prinsip dan norma-norma umat Islam sesuai dengan pandangan mereka. Mereka menilai semua umat Islam yang bermazhab selain Wahabi dianggap kafir dan mengkafirkan lembaga-lembaga lain, bahkan untuk memberantas para oposisi, mereka menggunakan istilah “Takfiri” atau pengkafiran.

Selama abad 20, pemerintah Riyadh dan Wahabi telah memberlakukan tiga diskriminasi; mazhab, ekonomi dan politik terhadap warga Syiah, bahkan hingga kini sikap diskriminasi itu tetap subur di Saudi. Rezim Al Saud juga membatasi aktivitas-aktivitas keagamaan warga Syiah, termasuk pembangunan Husainiyyah, masjid, berpakaian khusus seperti pakaian hitam di hari Asyura.

Selain adanya diskriminasi mazhab dan keyakinan , warga Syiah juga menjadi kelompok paling teraniaya di Saudi. Provinsi timur Saudi yang merupakan wilayah berpenduduk Syiah adalah wilayah yang tidak pernah mendapat perhatian serius dari pemerintah kerajaan. Pemerintah Riyadh memperlakukan berbeda terhadap wilayah ini, misalnya dalam hal pendidikan, kesehatan dan pembangunan jalan. Warga Syiah juga tidak mendapat posisi penting dalam pemerintahan. Jabatan-jabatan penting, seperti bagian keamanan, negara, militer dan polisi diserahkan kepada keluarga kerajaan dan kelompok Wahabi. Bahkan warga Syiah di provinsi timur negara ini tidak pernah mendapat pekerjaan penting. Manajemen dan pengelolaan sekolah, universitas, dan lembaga-lembaga lain di wilayah itu diserahkan kepada warga non-Syiah.

Menurut koran Inggris Independent, pada dekade terakhir ini, warga Syiah Saudi menjadi korban diskriminasi dan perlakuan buruk dari para pejabat Riyadh. Koran tersebut menilai kebijakan rezim Al Saud terhadap warga Syiah seperti sikap rezim Apartheidterhadap warga kulit hitam di Afrika Selatan.

Mantan Duta Besar Mesir untuk Riyadh, Fathi al-Shazli menegaskan bahwa rezim Saudi terang-terangan telah melanggar hak-hak warga Syiah negara ini. Ditambahkannya, kezaliman dan diskriminasi Al Saud terhadap wilayah timur Saudi yang berpenduduk Syiah tampak jelas, sehingga tak seorangpun dapat mengingkarinya.

Menurutnya, kebijakan anti-warga Syiah oleh pemerintah Saudi disebabkan ketakutan mereka terhadap ideologi Syiah. Mereka mengangap warga Syiah sebagai ancaman. Oleh sebab itu, pemerintah Wahabi tidak ingin memenuhi hak-hak warga Syiah.

Dalam laporan tahunan lembaga-lembaga pembela HAM tentang kondisi HAM di Arab Saudi menyebutkan bahwa diskriminasi terhadap warga Syiah semakin meningkat. Menurut laporan tersebut, para pejabat keagamaan Saudi tidak mengizinkan warga Syiah melakukan aktivitas keyakinannya, jika hal itu dilanggar maka mereka diancam akan ditangkap. Hal itu tampak jelas di kota Mekah dan Madinah. Gelombang protes warga Saudi terhadap diskriminasi itu memaksa pemerintah Riyadh secara lahiriyah mengurangi tekanannya terhadap warga Syiah.

Bungkamnya negara-negara Barat khususnya Amerika terhadap pelanggaran HAM di Saudi dan mengambil sikap keras terhadap pelanggaran HAM di negara-negara lain membuat para aktivis sipil Barat protes. Mereka menyebut langkah pemerintah Presiden AS Barack Obama sebagai langkah yang hanya berbau pamer dan disesuaikan dengan kepentingannya.

Pengamat bidang strategi Arab Saudi, Fuad Ibrahim menandaskan, tujuan rezim al-Saud melakukan rangkaian kejahatan di wilayah Qatif, timur negara ini adalah untuk mematahkan tekad rakyat.

“Ulah pasukan keamanan Arab Saudi pada hari Kamis lalu membantai rakyat Qatif kembali menunjukkan niat busuk rezim yang anti warga Syiah,” ungkap Fuad Ibrahim Jum’at (10/2) saat diwawancarai al-Alam.

Seraya mengisyaratkan bahwa tidak ada peluang untuk berdialog dengan pembunuh yang menumpahkan darah rakyatnya sendiri, Fuad Ibrahim mengatakan, dialog dengan rezim al-Saud sama halnya dengan ikut serta dalam kejahatan Riyadh.

“Rezim al-Saud khawatir meluasnya kebangkitan Islam di Arab Saudi khususnya di wilayah yang dihuni warga Syiah dan mereka mengirim pasukannya untuk menumpas aksi demo warga demi mempertahankan kekuasaannya,” tandas Fuad Ibrahim.

Pengamat bidang strategi Arab Saudi ini menekankan, meski adanya dukungan penuh negara Barat khususnya Amerika Serikat terhadap rezim al-Saud, namun kehancuran rezim ini dalam waktu dekat dapat dipastikan terjadi.

Menteri Pertahanan dan Dukungan Angkatan Bersenjata Republik Islam Iran, Brigjen Ahmad Vahidi, kembali menekankan kemampuan para ahli Republik Islam Iran dan menyatakan bahwa saat ini tengah digulirkan sejumlah program dalam proyek produksi pesawat tempur dan militer.

IRNA melaporkan, hal itu dikemukakan Vahidi Senin (19/2) dalam Konferensi Organisasi Antariksa di Fakultas Penerbangan Shahid Sattari. Dikatakannya, Republik Islam Iran saat ini sudah mencapai kemajuan pesat dalam produksi berbagai pesawat militer, tempur, dan sipil.

“Ini menunjukkan kepercayaan diri dan kemampuan para ahli dalam negeri,” tegas Vahidi seraya menyatakan bahwa di sektor penerbangan telah dicapai terobosan-terobosan penting. Salah satunya adalah pesawat tempur Saeqeh yang kini telah bergabung dengan armada Angkatan Udara Republik Islam Iran.

Vahidi menjelaskan, “Banyak negara dunia yang memproduksi berbagai jenis pesawat akan tetapi di bawah lisensi negara tertentu atau proyeknya dilakukan secara kolektif. Akan tetapi kini Iran mampu memproduksi pesawat sendiri.”

Vahidi menegaskan, “Republik Islam Iran juga memiliki pusat reparasi terbesar untuk berbagai jenis mesin pesawat tempur maupun sipil.”

Salah satu di antara bukti keberhasilan Republik Islam Iran di bidang penerbangan adalah pesawat Iran-140 yang dapat digunakan untuk sektor militer maupun sipil.

Menyinggung kemampuan Iran di bidang rudal, Vahidi menjelaskan bahwa tingkat kemampuan ilmiah Iran di bidang produksi rudal telah diakui dan saat ini Republik Islam termasuk dalam jajaran 10 besar negara dunia dalam produksi rudal. Apalagi ditambah dengan nilai unggul dari fakta bahwa rudal-rudal tersebut merupakan produksi dalam negeri dan hasil kerja keras para ahli pribumi

[1] Pengantar buku Al-Radd Al-Mudhi’ah Ala Ibn Taimiyah.

[2] Sebagian orang mengingkari bahwa tulisan tersebut milik Dzahabi. Namun orang-orang seperti Hafidz Sahawi dalam kitabnya Al-I’lan bit Taubikh hlm. 77 menulis bahwa itu milik Dzzahabi.

[3] Thabaqat Asy Syafi’iyah, jld. 4, hlm. 76, nomor 759.

[4] Lisan Al-Mizan, jld. 6, hlm. 319.

[5] Ruh Al-Ma’ani, jld. 1, hlm. 18-19

Sumber: http://syiahali.wordpress.com/2012/04/28/wahabi-kacaukan-indonesia-melalui-milyaran-dollar-dana-as-israel-saudi/

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Atlantis in the Java Sea

A scientific effort to match Plato’s narrative location for Atlantis

sembrani

bertukar ide, melampaui mimpi bersama

Nurul Wirda

Semerbak Mawar yang dengan senang hati memancarkan Cahayanya

aawanto

The greatest WordPress.com site in all the land!

Covert Geopolitics

Beyond the Smoke & Mirrors

Catatan Harta Amanah Soekarno

as good as possible for as many as possible

Women Terrace

to say something that i never talk before

Kanzunqalam's Blog

AKAL tanpa WAHYU, akan berbuah, IMAN tanpa ILMU

Cahayapelangi

Cakrawala, menapaki kehidupan nusantara & dunia

religiku

hacking the religion

SANGKAN PARANING DUMADI

Just another WordPress.com site

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

%d blogger menyukai ini: