Tinggalkan komentar

Seri 1 Falsafah India

Perbincangan Pertama

LINTASAN SEJARAH

 Prof.Dr. Abdul Hadi WM

Sumber paling awal dari falsafah India ialah Veda.  Kitab  kuna ini  telah mulai disusun sekitar abad ahun 1500 SM dan rampung penulisannya sekitar tahun 600 SM.  Ditulis dalam bahasa Sanskerta,  Veda sebagai kitab suci orang Hindu dan sekaligus sumber renungan falsafah, berasal dari pemikiran maharesi dan resi-resi orang Arya yang bijak dan piawai. Mereka telah mendiami wilayah lembah Indus sejak lebih kurang tahun 3000 SM, atau mungkin lebih kemudian dari tarikh tersebut. Sebelum datangnya orang Arya, India telah lama didiami orang-orang Dravidia. Orang Arya berkulit terang kemudian berhasil mendesak orang Dravidia yang berkukit gelap, dan berhasil mempengaruhi pemikiran keagamaan dan tradisi intelektualnya..

Asal-usul orang Dravidia tidak diketahui dengan pasti, tetapi dari warisan peradaban dan kebudayaan yang ditinggalkan oleh nenek moyang mereka membuktikan bahwa orang-orang Dravidia itu satu rumpun dengan penduduk Sumeria, sebuah pusat peradaban kuna di Iraq. Aksara dan bahasa yang mereka gunakan menunjukkan pertautan dengan aksara dan bahasa yang digunakan orang-orang Sumeria sekitar tahun 6000 SM. Mula-mula-orang Darvidia mendiami wilayah Dekkhan sekitar tahun 6000 sebelum Masehi. Tetapi dalam abad-abad berikutnya mereka didesak ke selatan oleh orang Arya yang mendominasi India utara.

Sebelum datangnya orang Arya, orang Dravidia telah memiliki tingkat kehidupan eknomi dan peradaban yang tinggi. Bukti-buktinya dapat dilihat pada peninggalan kebudayaan yang dijumpai di bekas puing-puing bangunan bangunan kota kuna Mohenyo Daro dan Harappa di lembah Indus, sekarang

 Pakistan. Dua kota ini dibangun sekitar tahun 6000 tahun sebelum Masehi dan musnah ditelan banjir besar sekitar tahun 5000 SM.  Sisa-sisa kebudayaan dan peradaban kuno yang dijumpai dari puing-puing dua kota kuna itu ialah tatanan kota dan bangunan pelabuhan yang modern. Di bidang keagamaan, Mohenjo Daro dan Harappa mewariskan pemujaan ‘lingga’ yang merepresentasikan phallus dan merupakan lambang dari  energi yang melahirkan dinamika kehidupan. Pasangan lingga disebut ‘yoni’ atau alat vital wanita dan merupakan lambang dari bumi atau kesuburan. Pemujaan lingga dikaitkan dengan Syiwa, dewa tertinggi penganut mazab Syaiwa dalam agama Hindu.

Meskipun mereka didesak ke selatan oleh orang-orang Arya yang datang

lebih kemudian, namun dalam perkembangan selanjutnya  mereka tetap berkembang sebagai komponen utama penduduk India.  Pada abad ke-3 SM mereka mendirikan kemaharajaan Andhra yang membentang dari lembah Dekkhan hingga ke arah timur dan barat. Tidak lama kemudian, pada permulaan abad ke-2 SM mereka mendirikan kerajaan lain di India selatan, yaitu kerajaan Pandyan dengan  ibukotanya Kortai. Wilayah ini sekarang disebut Tamil Nadu.  Pada masa dua kerajaan ini kesusuastraan, musik, drama dan seni rupa berkembang pesat di kalangan orang-orang Dravidia. Tingkat kehidupan ekonomi mereka juga sangat tinggi. Pedagang-pedagang mereka berlayar ke Afrika dan kepulauan Nusantara untuk membeli barang-barang komoditi yang penting dalam perdagangan ketika itu.

            Nama India berasal dari kata-kata Sanskerta sindhu, yang artinya sungai deras. Nama itu berkaitan dengan kedatangan orang Arya mulai berduyun-duyun pindah ke India sekitar tahun 3000 SM. Kata-kata tersebut kemudian dikenakan oleh orang-orang Arya pada lembah yang dialiri oleh sungai deras di tempat mereka tinggal untuk pertama kalinya di India, yaitu Punjab, India Utara. Wlayah ini terkenal subur karena merupakan hulu lima sungai besar yang mengalir di India. Orang Persia, rumpun lain dari ras Arya, kemudian menyebut wilayah itu sebagai Hindustan, artinya negeri Hindu atau tanah tempat mengalirnya sungai yang deras dan subur. Orang Yunani menyebut Indos, dan dalam bahasa Latin disebut Indus. Berdasarkan hal ini orang-orang Eropa kemudian memberi nama India.

            Kitab Veda menyebut wilayah Hindustan sebagai Sapta-sindhavas, (Tujuh sungai deras). Daerah yang disebut Sapta-sindhavas ini sekarang dikenal sebagai Punjab yang artinya “lima sumber mata air, tempat mengalirnya lima sungai besar”. Kelima sungai ini ialah Gangga, Mahanadi, Godavari, Kistna dan Kaweri. Sungai lainnya yang mengalir di India ialah Jamuna. Orang Buddha menyebut Jambudvipa, karena asal-usl agama ini berada di daerah aliran sungai Jamuna.

Sekitar tahun 1500 SM kelompok-kelompok orang Arya yang tinggal di seluruh anak benua India semakin hari semakin besar jumlahnya, bahkan melampui orang-orang Dravidia yang telah lebih dahulu mendiami negeri itu. Kecuali itu mereka semakin mendominasi perkembangan kebudayaan dan peradaban di Asia Selatan. Mereka mempengaruhi hampir semua aspek dan lapangan kehidupan sosial, terutama kehidupan keagamaan dan pemikiran.

            Tidak banyak diketahui asal-usul nama Arya. Max Muller, seorang sarjana Jerman abad ke-19, menyatakan bahwa mereka merupakan bagian dari rumpun bangsa yang berasal dari Herat, Afghanistan sekarang, dan lazim disebut Ariana atau orang-orang Arya. Herat adalah tempat tidak jauh dari utara Hindu-kush. Nama kota itu berasal dari kata Arya juga. Kata-kata Arya sendiri berasal dari kata ar dalam bahasa Sanskerta, sama artinya dengan  kata Latin aro dan arvum, atau kata Inggeris arable (tanah yang baik untuk ditanami). Dengan begitu orang Arya berarti orang yang tinggal di negeri yang tanahnya subur. Teapi bagaimana pun sebutan ini diberikan kepada orang-orang yang berkembang cepat dari kehidupan mengembara (nomaden) menjadi masyarakat yang pandai bercocok tanam dan mengolah daerah pertanian. Tidak lama setelah menjadi masyarakat agraris feudal mereka pun menjelma menjadi masyarakat yang mampu mendirikan negara karena mengenal tradizsi baca tulis dengan baik.

            Cepatnya perkembangan orang Arya menjadi bangsa yang berkebudayaan dan berperadaban tinggi dapat dilihat dalam sejarahnya. Kitab Veda, yang merupakan sumber awal falsafah India, telah mulai ditulis sekitar tahun 1500 SM. Setelah itu mereka segera pula mampu membentuk masyarakat dengan tatanan yang mapan dan mendirikan kerajaan-kerajaan yang makmur dan tangguh sistem pemerintahannya. Pada abad ke-7 SM orang-orang Arya di Hindu-kush mendirikan kemaharajaan besar dengan munculnya Dinasti Saisunaga dan Nanda (642 – 320 SM). Pada masa inilah kitab Veda, Upanishad dan Brahmana rampung penulisannya dan dengan itu falsafah pun berkembang dengan suburnya. Raja-raja dari dua dinasti ini memerintah di Magadha dan dengan tampilnya dua kerajaan ini kaum Brahmana, yang sebelumnya merupakan penguasa tunggal kehidupan keagamaan orang-orang Arya mulai mendapat saingan dari kasta Ksatrya. Kasta ini tumbuh dari kalangan perajurit dan pahlawan-pahlawan di medan pertempuran.

Dinasti Saisunaga didirikan oleh Bimbisara. Ia membangun kembali kota Rajragrha menjadi kota yang megah dengan bangunan-bangunan yang menakjubkan dan menetapkan kota tersebut sebagai ikubota kerajaan Magadha. Penggantinya Ajasatru (Kunika) membindahkan ibukota kerejaan ke Pataliputra, sebuah kota baru yang dibangun lebih medah lagi dari Rajrgrha.  Pada masa pemerintahan Bimbisara dan Ajasatru inilah hidup dua tokoh besar keagamaan yaitu Mahavira, pengasas Jainisme, dan Siddharta Gautama dari Kapilavastu, pengasas Buddhisme.

            Telah dikemukakan bahwa pada masa pemerintahan dua raja inilah kitab Veda, Brahmana dan Upanishad telah rampung penyusunannya. Pada masa ini pulalah kitab-kitab sutra yang memuat ajaran etika, politik dan pemerintahan juga mulai ditulis. Kesusastraan berkembang pesat. Kisah-kisah binatang atau fable, yang biasa disebut jataka, banyak sekali dihasilkan pada masa ini. Suburnya penulisan jataka terjadi karena pesan-pesan moral keagamaan dapat disalurkan dan disampaikan secara menarik, sehingga tidak mengherankan jika penyebar-penyebar agama Hindu dan Buddha menggunakan jataka sebagai media dakwah mereka.

            Di antara kisah-kisah binatang terkenal ialah Pancatantera karangan Baidaba pada abad ke-2 SM. Kitab ini disadur ke dalam bahasa Pahlewi menjadi Sukaptati pada abad ke-5 M. Pada abad ke-8 M, Sukasaptati disadur kembali ke dalam bahasa Arab menjadi Khalilah wa Dimnah oleh Ibn al-Muqaffa`. Melalui sadurannya ke dalam bahasa Arab inilah kitab ini menjadi masyhur di seluruh dunia. Ditulis dalam bentuk cerita berbingkai, Pancatantera dan sadurannya itu memuat pemikiran tentang politik dan kemasyarakatan. Pada abad ke-13 M salah satu versi dari Pancatantera disadur ke dalam bahasa Jawa Kuno menjadi Cerita Tantri.

            Berkembangnya kesusastraan, falsafah dan seni ini menunjukkan bahwa orang-orang Arya telah membawa peradaban yang tinggi ke wilayah ini. Tingginya tingkat peradaban dan berkembang pesatnya kebudayaan pada zaman Dinasti Saisunaga ini dikemukakan pula dalam kitab Veda. Kitab Veda misalnya menceriterakan bahwa tehnik pengolahan logam seperti timah, perak, emas, tembaga, besi putih dan kuningan telah berkembang pesat ketika itu. Veda juga juga memberitahu bahwa orang-orang  India telah mampu membuat kain bermutu tinggi dari bahan kapas, linen, sutra dan wol. Tetapi sayang pada abad ke-6 M maharaja Darius dari Persia merebut sebagian wilayah lembah Indus, sehingga wilayah kekuasaan orang Arya di India menjadi berkurang. Pada abad ke-3 M raja Macedonia Alexandre Agung juga menyerbu dan menaklukkan India. Kebudayaan mengalami kemunduran untuk sementara waktu. Sejak itu pula Opunjab dan Sindi menjadi tapal batas resmi antara kerajaan-kerajaan India dan kemeharajaan Persia.

            India berhasil membebaskan diri dari kekuasaan Macedonia pada awal abad ke-12 M setelah hampir 100 tahun menduduki wilayah ini. Ketika itu di wilayah lain orang-orang Arya mendirikan kerajaan baru di bawah pemerintahan Dinasti Maurya (320 – 185 SM). Di ibukota kerajaan Maurya inilah traisi intelektual dan kebudayaan orang Arya dipelihara dan dikembangkan kembali. Salah seorang raja dari Dinasti Maurya yang terkenal ialah Asoka 272 – 232 SM). Ia mula-mula menganut mazab Brahmanisme, kemudian menjadi penganut Jainisme dan akhirnya memeluk agama agama Buddha. D bawah kekuasaannya itulah agama Buddha dan pemikirannya berkembang di India. Pada zamannya sastra dan kesenian berkembang pesat.

            Dinasti orang-orang Arya berikutnya yang terkenal ialah Dinasti Kusana (50 – 320 M). Tetapi kebudayaan Arya mengalami puncak kegemilangannya kembali pada zaman Dinasti Gupta (320 – 600 M), sejaman dengan pemerintahan Dinasti Sassan di Persia. Raja kedua dari dinasti ini, Vikramaditya alias Chandragupta II berhasil memperluas wilayah kerajaan orang-orang Arya. Ia menaklukkan Malwa dan Ujjain,, serta menyerbu Ayodya dan mengammbil alih  kota yang dianggap sebagai tempat lahirnya  Rama, tokoh utama epos Ramayana, yang dipercaya sebagai titisan dari Wisnu.

            Arti penting zaman Gupta bagi sejarah intelektual India ialah suburnya perkembangan sastra secular, puisi-puisi keagamaan dan penulisan sutra, yaitu tafsir dan penjelasan aliran-aliran falsafah yang disampaikan melalui uraian-uraian ringkas dalam bentuk aforisma. Aliran-aliran utama falsafah Hindu seperti Nyaya, Vaiseshika, Samkhya, Yoga, Uttara Mimamsa dan Vedanta, mendapat rumusan yang mantap karena suburnya penulisan sutra yang dilakukan oleh para filosof terkemuka pada zaman ini. Suburnya penulisan sutra ini menyebabkan aliran-aliran pemikiran menentang otoritas Veda dapat dikurangi pengaruhnya, khususnya Jainisme dan Buddhisme. Hingga masa yang kemudian Jainisme hanya memperoleh pengikut kecil di India, sedangkan Buddhisme pada akhirnya harus kehilangan pengaruh di India disebabkan kerasnya sikap raja-raja Dinasti Gupta yang fanatik terhadap agama Hindu. Mulai abad ke—3 M penyebar-penyebar agama Buddha lebih memusatkan perhatian mereka ke luar India dalam menyebarkan agamanya, sedangkan di India sendiri agama ini tidak begitu mendapatkan tempat disebabkan hegemoni Hinduisme.

            Persoalan penting yang dihadapi para pengkaji falsafah India, khususnya perkembangan falsafah Hindu, ialah bagaimana menjelaskan periode-periode perkembangannya. Sejarah falsafah Hindu berbeda dari sejarah falsafah Yunani atau Cina, yang babakan sejarahnya dapat dijelaskan lebih mudah disebabkan tersedianya sumber-sumber mengenai kronologi perkembangannya, termasuk riwayat hidup tokoh-tokohnya, secara rinci. Sarparelli Radhakrishnan (1957) mengatakan bahwa sukarnya membuat garis perkembangan sejarah falsafah India secara rinci disebabkan lamanya dan kompleksnya perkembangan falsafah India. Kecuali itu dapat dikatakan bahwa falsafah India tidak memiliki kronologi perkembangan yang jelas disebabkan banyaknya dokumen yang hilang, termasuk catatan tentang kehidupan tokoh-tokohnya. Namun demikian garis besar sejarah falsafah India dapat dituls sejauh berkenaan dengan munculnya sejumlah tokoh yang mengembangkan aliran falsafah yang berbeda-beda. Secara garis para sarjana membagi perkembangan falsafah India menjadi empat babakan, seperti berikut:

  1. Babakan Veda, berlangsung pada tahun 1500 – 600 SM. Meskipun kabur , namun dapat dikatakan bahwa babakan ini bermula semenjak orang-orang Arya tinggal di India dan mengembangkan kebudayaan dan tradisi keagamaannya dengan mantapnya. Babakan ini agak sukar disebut babakan pemikiran falsafah dalam arti yang sebenarnya. Alasannya karena agama, falsafah, sastra, legenda dan masalah-masalah lain seperti mitos dan adat istiadat bercampur baur dan saling dikaitkan satu dengan yang lain. Pada babakan ini 4 Veda (Rg Veda, Yajur Veda, Sama Veda dan Atharva Veda), kitab Brahmana, Aranyaka dan Upanishad telah tersusun secara lengkap. Rg Veda merupakan sumber paling awal falsafah Oindia, berisi nyanyian pujaan kepada dewa-dewa orang Arya yang kelihatannya merupakan penjelmaan dari kekuatan-kekuatan alam. Corak ketunananya bersifat polytheistis. Ini berbeda dengan kandungan Upanishad yang mengajarkan faham monisme pantheistis (advaita). Kitab Brahmana lebih merupakan dokumen keagamaan, khususnya tafsir tentang upacara keagamaan dan makna dari upacara-upacara yang diselenggarakan, terutama upacara korban. Tetapi sekalipun tidak bercorak filosofis seperti Upanishad, uraian-uraian dalam kitab Brahmana merangsang bagi timbulnya renungan filosofis. Aranyaka mengajarkan praktek meditasi dan tapabarata, ditulis oleh ahli-ahli yoga. Sedangkan nyanyian-nyanyian dalam kitab itu ditulis oleh para penyar. Jika kitab Brahmana merupakan karya para pendeta dan merupakan pedoman bagi pemimpin upacara keagamaan, Upanishad ditulis oleh para spiritualis yang memiliki kecenderungan filosofis. Pada masa akhir periode in muncul aliran-aliran pemikiran yang menolak otoritas Veda sebagai sumber kearifan (darsana), yaitu Carvaka (materialisme), Jainisme dan Buddhisme. Kecuali Carvaka, Jainisme dan Buddhisme kemudian tumbuh menjadi agama tersendiri yang berbeda dari agama Hindu.
  2. Babakan Viracarita atau Epos, berlangsung sekitar tahun 500 hingga 200 SM. Pada kurun ini perkembangan falsafah India ditandai dengan penyajian gagasan secara tidak lansng melalui karya sastra seperti fable dan viracarita (cerita kepahlawanan). Viracarita paling masyhur yang syarat dengan ajaran falsafah dan moral ialah Mahabharata karangan Rsi Vyasa dan Ramayana karangan Rsi Valmiki. Suburnya viracarita menandakan kian besarnya peranan golongan Ksatrya dalam masyarakat mendampingi peranan golongan Brahmana. Pada masa inilah Bhagavad Gita (Nyanyian Ketuhanan) muncul. Pada mulanya ia merupakan bagian dari kitab Mahabharata, namun kemudian dikembangkan menjadi renungan filosofis tersendiri dan dianggap sebagai salah satu kitab suci orang Hindu.  Aliran-aliran falsafah yang menolak otoritas Veda mencapai perumusan yang kitan mantap. Aliran-aliran falsafah ortodoks India yang jumlahnya enam (Sad Darsana Samgraha) seperti Nyaya, Vaishesika, Samkhya, Yoga, Purva Mimamsa dan Vedantara dirumuskan pada abad ke-4 dan 3 SM, disusul dengan penyusunan Bhagavad Gita sebagai kitab yang benar-benar terpisah dari Mahabharata. Pada babakan kedua ini falsafah berkembang dengan suburnya di India sebagaimana di Yunani, Cina dan Persia. Pada kurun ini mulai muncul aliran-aliran seperti materialisme, skeptisisme, naturalisme. Aliran-aliran ini berkembang bersama berkembangnya sistem-sistem heredoks dari Buddhisme dan Jainisme.  Pada masa ini pula banyak sekali muncul kitab-kitab yang menguraikan masalah etika dan kemasyarakatan yang disebut Dharmasastra.
  3. Babakan Sutra, berlangsung abad ke-2 – 12 M. Uraian mengenai berbagai mazab falsafah mulai disusun secara lebih sistematik dan giat diperdebatkan sehingga dari masing-masing mazab tumbuh aliran-aliran pemikiran yang lebh kecil yang merupakan cabang-cabang dari mazab besar. Tidak jarang terjadi sinthesa antara aliran yang satu dengan yang lain, mazab yang satu dengan nmazab yang lain. Pada umumnya uraian-uraian falsafah ortodoks seperti Nyaya (realisme logis), Vaishesika (pluralisme ralistis), Sam,khya (dualisme evoluioner), Yoya (disiplin meditasi), Purva Mimamsa (penelitian terhadap Veda secara interpretative, khususnya berkenaan dengan amal perbuiatan) dan Vedanta (penelitian ebih mendalam tentang ajaran dalam kitab Veda) disajikan dalam bentuk sutra atau ungkapan-ungkapan ringkas (aforisme). Tidak jarang sutra juga berperan untuk mengingatkan pembaca pada rincian falsafah yang menjadi induk sebuah aliran. Karena dinyatakan dalam bentuk sutra, maka kitab-kitab falsafah itu perlu ditafsirkan secara hermeneutik. Masing-masing sistem falsafah ortodoks memiliki sutra yang berbeda. Pada abad ke-12 M falsafah India mengalami kemunduran.
  4. Babakan Kaum Terpelajar, berlangsung pada akhir abad ke-13 – 19 M. Pada kurun ini kita temui kaum terpelajar yang giat menulis tafsir terhadap ktab sutra. Muncul para flosof besar seperti Sridharta, Ramanuja, Madhva, Sankara, Vacaspati, Udayana, Bhaskara, Jayanta, Kumarila Batta, Vijnanabhiksu, Taghunata dan lain-lain. Tiga aliran utama dari Vedanta dirumuskan oleh filosof besar seperti Sankara, Ramanuja dan Madhva. Pada masa ini Islam telah berkembang di India dan mengembangkan tradisi pemikiran ftersendiri. Ada abad ke-19 Inggris menguasai India dan menyebabkan tertanamnya pengaruh pemikiran Barat di kalangan sarjana dan kaum intelektual India. Pada akhir abad ke-19 muncul gerakan pembaruan pemikiran Hinduyang dianjurkan oleh Brahjma Samoj dan Arya Samoj, dua gerakan pembaru yang penting dan berpengaruh hingga abad ke-20. Dari gerakan iini lahir para filosof terkemuka abad ke-20 seperti Tagore, Sri Aurobindo, Svami Vivekananda, Radhakrishnan, A. K. Komaraswamy dan lain-lain. Dari kalangan Islam muncul tokoh-tokoh seperti Mir Damad, Sayyid Ahmad Khan, Muhammad Iqbal dan lain-lain.
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Atlantis in the Java Sea

A scientific effort to match Plato’s narrative location for Atlantis

sembrani

bertukar ide, melampaui mimpi bersama

Nurul Wirda

Semerbak Mawar yang dengan senang hati memancarkan Cahayanya

aawanto

The greatest WordPress.com site in all the land!

Covert Geopolitics

Beyond the Smoke & Mirrors

Catatan Harta Amanah Soekarno

as good as possible for as many as possible

Women Terrace

to say something that i never talk before

Kanzunqalam's Blog

AKAL tanpa WAHYU, akan berbuah, IMAN tanpa ILMU

Cahayapelangi

Cakrawala, menapaki kehidupan nusantara & dunia

religiku

hacking the religion

SANGKAN PARANING DUMADI

Just another WordPress.com site

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

%d blogger menyukai ini: