Tinggalkan komentar

TEMU AKBAR II MUSYAWARAH MUFAKAT BUDAYA : SAINS, TEKNOLOGI & BUDAYA DALAM PEMBANGUNAN

Jakarta, 28 – 30November 2014 Latar Belakang            

Perkembangan Sains dan Teknologi di abad 21 ini mengalami suatu lompatan pencapaian yang belum pernah ada dalam sejarah. Sains dan teknologi telah merubah jalannya dunia. Manusia kini hidup dalam realitas baru dengan berbagai kemudahannya, di sisi lain pula laju perubahan yang sangat pesat itu membawa dampak kegagapan-kegagapan dan berbagai krisis modernitas.

Dalam kontek sini, maka seharusnya umat manusia dan bangsa-bangsa perlu mempersiapkan diri baik secara mental maupun secara budaya. Khususnya dalam konsteks Indonesia, perkembangan sains dan teknologi itu sendiri seharusnya dapat dibangun beriringan dan berdasarkan kebutuhan riil serta kerangka landasan kearifan budaya lokal yang telah ada. Pendekatan ini diharapkan dapat mengantisipasi dan mengurangi dampak negative dari modernism seperti kerusakan lingkungan, tercerabutkan budaya dan peradaban lokal nasional, tersisihnya “unskilled labour”, meningkatnya konflik sosial-politik dan ekonomi, dan lain-lain.

Sebagai elemen paling mendasar dalam pembangunan suatu bangsa, kebudayaan menjadi fondasi daribangunanelemen lainnya. Kebudayaan merupakan proses yang terus menjadi di dalamdiri manusia, dibentuk dari cara dia mengelola kehidupannya. Karena manusia menjadi actor utamanya lengkap dengan kecenderungan alamiahnya positif maupun negative kebudayaan betapapun berusaha menciptakan keluhuran, tak terelakkan juga menghasilkan keburukan, sengaja atau tidak.

Karena itu tugas mulia kebudayaan adalah memproduksi karya-karya yang luhur bukan hanya untuk memuliakan manusia sebagai subyeknya, tapi juga mampu mengantisipasi, mencegah atau menanggulangi produk-produk buruk dari kebudayaan itu sendiri. Dalam realitas kontemporernya, Indonesia tampak kewalahan mengatasi hasil-hasil kebudayaan negatifnya yang destruktif, alih-alih menumbuhkan sisi baik/luhur dari potensi kulturalnya yang ada.

Menyadari pentingnya hal ini, MUFAKAT BUDAYA menyambut baik ajakan Dirjen Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI untuk berpartisipasi dalam WORLD CULTURAL FORUM 2015.

Para budayawan melalui Forum MUFAKAT BUDAYA INDONESIA, akan hadir memberikan sumbangsih pemikirannya, baikdalamtataranvisimaupun program-program kongrit, Untuk itulah Mufakat Budaya menyelenggarakan Temu Akbar II, setelah Temu Akbar I diselenggarakan lima tahun lalu.

Urgensi Temu Akbar Mufakat Budaya II ini bukan hanya masalah-masalah terkini bangsa yang kian kompleks dan menggiriskan, tapi juga mengartikulasikan secara lebih kuat dan kualitatif hasil-hasil yang diperoleh dari Temu Akbar I seperti terbaca pada “Deklarasi Cikini” dalam lampiran. Paradigma peradaban Bahariadalah kata kunci dimana kebudayaan diposisikan sebagai solusi bagi persoalan-persoalan Indonesia, masa kini maupun masa depan.

Tujuan

  1. Mencapai consensus tentang sifat/karakter kebaharian dari kebudayaan nasional kita, lengkap dengan definisi, ciri-ciri, potensi maupun peluang-peluangnya.
  2. Merumuskan strategi integrasi kebudayaan, sains dan teknologi sebagai landasan atau basis pembangunan peradaban Indonesia dalam segala dimensinya, dalam rangka peneguhan eksistensi dan pemutakhiran kearifan lokal dan nasional yang ada.
  3. Merumuskan ide-ide dasarbagisebuahstrategikebudayaan, sainsdanteknologidalamkaitannyadenganpengembangansainsdanteknologiyang harus diupayakan oleh penyelenggara negara.
  4. Mencapai consensus tentang nilai, etik, atau moralitas kebudayaan yang dapat menjadi acuan perilaku dalam kehidupan praktis masyarakat pada umumnya, termasuk dalam hal pengembangan sains dan teknologi.

Bentuk Kegiatan

Temu Akbar II Mufakat Budaya Indonesia mempertemukan antara 200-300 ilmuwan, cendekiawan, sastrawan terkemuka Indonesia dalamsatu forum dimana mereka dapat saling bertukar pikiran, gagasan, wawasan dan pengalamannya untuk membahas dan mencapai persetujuan (Mufakat) tentang  hal-hal yang ditetapkan.

Nama Acara         :    TEMU AKBAR II: MUFAKAT BUDAYA INDONESIA

Tema                     :   “ Sains-Teknologi dan Kebudayaan dalam Pembangunan Peradaban Bangsa ”

Waktu                   :    Jum’at-Minggu, 28 30 November 2014 

Tempat                 :    Hotel Mercure, Ancol, Jakarta Utara

PROFIL PENGAGAS DAN PEMRASARAN

Radhar Panca Dahana (Pengagas)

Radhar Panca Dahana merupakan sastrawan Indonesia. Pria kelahiran Jakarta, 26 Maret 1965 ini mengawali karirnya dalam bidang sastra sejak kecil. Sedari dulu ia gemar menulis, cerpen pertamanya “Tamu Tak Diundang” dimuat di Kompas saat usianya menginjak 10 tahun.  Perjuangannya dalam menunjukkan ‘eksistensinya’ dalam dunia tulis menulis dan sastra pada orang tuanya banyak menemui jalan terjal. Sampai akhirnya, namanya banyak dikenal orang dan membuatnya meraih penghargaan Paramadina Award pada tahun 2005.    

Drs. Ishak Ngeljaratan M.A ( KEYNOTE SPEAKER 1 )

Ishak Ngeljaratan, lahir pada tanggal 27 September 1936 di Tanimbar,  Sebelum jadi visiting lecturer di La Trobe University(Melbourne,  (Australia), pada tahun 1990 mengajar tetang perkembangan politik di Indonesia dengan mengacu pada perkembangan tema-tema literer dalam puisi dan fiksi Sastra Indsonesia. Dia mengkuti kajian bahasa-bahasa Asean di RELC, Singapura, 1989. Selain di Unhas, dia mengajar di STT Intim (Sekolah Tingg Teologi Indonesia Timur), Sekolah Tinggi calon Pastor CICM, dan berceramah di sejumlah universitas lain di Makassar, Palu, Ambon, Manado, dan Samarinda. Sangat disibukkan juga oleh seminar-seminar di daerah dan nasional.

Ida Pandita Mpu Jaya Prema Nanda  ( KEYNOTE SPEAKER 3 )

Ida Pandita Mpu Jaya Prema Ananda memiliki nama lahir Putu Setia. Pada saat berkecimpung di era Brahmacari dan Grahasta Ia bekerja di Majalah TEMPO (1974-2006) dan pensiun sebagai Redaktur Senior. Sampai saat ini pun Ia masih menulis di Kelompok Media Tempo karena darahnya adalah wartawan sementara jiwanya adalah pendeta. Tulisan yang rutin bisa dibaca di Koran Tempo edisi Minggu.  

Dr. Daud Aris Tanudirjo ( PEMRASARAN 1)

Dr. Daud Aris Tanudirjo seorang Arkeolog terkemuka Indonesia, memperoleh gelar sastra di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gajahmada, kemudian ia mengambil gelar Master di The Australian National University , Australia, Januari 1989 – Januari 1991. Kemudian menempuah Gelar Doktoral di The Australian National University Januari 2000 – Januari 2002. Saat ini ia bekerja sebagai dosen di Departemen Arkeologi, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gajahmada.

Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri ( PEMRASARAN 3)

Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri, adalah  Menteri Kelautan dan Perikanan Periode 2001-2004, Dia memperoleh gelar Magister  Sains dari Program Pasca Sarjana di bidang Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan, kemudian memperoleh gelar Doktor di bidang Ilmu Ekologi dan Pengelolaan Sumberdaya Wilayah Pesisir dan Lautan dari School for Resources and Environmental Studies, Dalhousie University, Halifax, Nova Scotia, Canada pada tahun 1991.

Prof.Ir. Wiendu Nuryanti, M.Arch.,Ph.D. ( PEMRASARAN 5 )

Prof.Ir. Wiendu Nuryanti, M.Arch.,Ph.D. adalah Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia bidang kebudayaan periode 2011 sampai 2014. Beliau menempuh pendidikan sarjana di Departemen Arsitektur dan Perencanaan , Fakultas Teknik Universitas Gajahmada. Ia memperoleh gelar Magister of Arch dari University of Winconsin, kemudian memperoleh gelar Doctor dalam bidang Tourism and Regional Development dari The University of Surrey & Bournemouth, United Kingdom.

Prof. Dr. Franz Magnis Suseno

Prof. Dr. Franz Magnis Suseno adalah seorang tokoh Katolik dan budayawan Indonesia. Ia berasal dari sebuah keluarga bangsawan. Magnis-Suseno juga dikenal sebagai seorang Direktur Program Pasca Sarjana Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Tulisan-tulisannya telah dipublikasikan dalam bentuk buku dan artikel. Buku “Etika Jawa” dituliskan setelah ia menjalani sabbatical year di Paroki Hati Kudus Yesus di Sukoharjo Jawa Tengah. Buku lain yang sangat berpengaruh adalah “Etika politik” yang menjadi acuan pokok bagi mahasiswa filsafat dan ilmu politik di Indonesia.

Azyumardi Azra, CBE

Azyumardi Azra, CBE adalah akademisi Muslim asal IndonesiaIa juga dikenal sebagai cendekiawan muslim. Azyumardi terpilih sebagai Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta pada 1998 dan mengakhirinya pada 2006.[2]. Pada tahun 2010, dia memperoleh titel Commander of the Order of British Empire, sebuah gelar kehormatan dari Kerajaan Inggris. Dengan gelar ini, maka Azyumardi adalah orang pertama di luar warga negara anggota Persemakmuran yang boleh mengenakan Sir di depan namanya.  

Dr. Bona Beding ( MODERATOR 1)

Bona Beding, anak seorang lamafa (juru tikam ikan paus) yang juga direktur Penerbit Lamalera. Ia memimpin masyarakat Lamalera di Pulau Lembata, NTT, menolak rencana konservasi Laut Sawu  yang akan berujung pada pelarangan terhadap tradisi penangkapan ikan paus secara tradisional dan  menentang intervensi pihak luar, termasuk oleh lembaga swadaya masyarakat (LSM) lingkungan, seperti WWF dan Photovoices, yang dinilai telah menghasut dan berpotensi memicu konflik di masyarakat.

SYAIFURROCHMAN (MODERATOR 3)

Saifur Rohman bekerja sebagai pengajar tetap bidang filsafat pada Program Doktor Ilmu Pendidikan di Universitas Negeri Jakarta. Mengajar Program Doktor Universitas Tanjungpura, Pontianak, Program Pascasarjana Fakultas Psikologi Unika Semarang, dan sejumlah program pascasarjana di Indonesia dan luar negeri. Pengalaman dua tahun terakhir adalah konsultan bidang bahasa dan filsafat di Pusat Pengembangan Tenaga Kependidikan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (sejak 2011 sampai sekarang). Tim ahli bidang filsafat untuk penyusunan perundang-undangan tentang kebudayaan oleh lembaga legislatif (sejak 2011 sampai sekarang).  

Teuku Kemal Fasya, S.Ag., M.Hum. (MODERATOR 4)

Teuku Kemal Fasya bekerja sebagai Dosen Antropologi FISIP Universitas Malikussaleh, aktif sebagai ketua Komunitas Peradaban Aceh,  Pembicara, fasilitator, dan peneliti di beragam seminar, training, dan workshop, terutama untuk tema-tema Aceh, gender, demokrasi, nasionalisme, kajian budaya, dan resolusi konflik.

RIZA DAMANIK (MODERATOR 5)

Riza Damanik memperoleh gelar sarjana Ilmu Kelautan dari Universitas Hasanuddin, Makassar (1998) dan selesai di Universitas Diponegoro, Semarang (2002).  Sejak 2012 aktif sebagai Ketua Dewan Pembina Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI); (2013-2014) Anggota Delegasi RI dalam perundingan instrumen internasional perlindungan nelayan/VGSSF di FAO, Roma Italia; (2013-sekarang) Direktur Eksekutif Indonesia for Global Justice.    

DEKLARASI CIKINI 2009 Mukadimah

Apa yang terjadi di Indonesia masa kini, adalah kebingungan dan kekeliruan yang akut di semua level dan elemen kehidupan kita. Hal ini diakibatkan oleh peran negara, cq pemerintah, yang terlampau dominan dan menafikan publik dalam semua proses pengambilan keputusan. Praksis kekuasaan seperti itu merupakan produk dari sebuah pendekatan kebudayaan yang dilandasi oleh cara berpikir yang agraris, orientasi kedaratan atau kontinental.

Orientasi dan tradisi berpikir semacam ini sesungguhnya adalah hasil kolonialisme sejak abad 17 oleh bangsa-bangsa Eropa, lebih tepat lagi mulai masa kolonialisme purba, yang dilakukan India (bangsa Arya) sejak permulaan Masehi. Kolonialisme itu melakukan satu proses pembudayaan melalui cara mencangkokkan (transplantasi kultural) khasanah simbolik dan sistem nilai pihak kolonial pada penduduk setempat.

Satu proses yang membuat semua perangkat kehidupan –eg. politik, hukum, ekonomi, agama, pendidikan, sains, dan sebagainya ditempatkan dan dimanfaatkan untuk melayani kepentingan kekuasaan semata. Semua hal tersebut jelas mengingkari bukan hanya fakta historis bahwa bangsa-bangsa di nusantara ini berjaya dan disegani dunia karena budaya maritim sejak lebih dari 5.000 tahun SM, tapi juga daya hidup tradisinya yang memiliki kemampuan teruji untuk tetap berkembang, melakukan proses pertukaran budaya yang konstruktif dan mutualistis, dengan karakter dasarnya yang toleran, terbuka dan egaliter.

Karena itu, kami yang tergabung dalam Temu Akbar Mufakat Budaya Indonesia yang bersidang dan berbincang, mufakat mendeklarasikan hal-hal berikut: (1). Menolak (dan mendesak dihentikannya) proses-proses berkebudayaan – dengan implikasinya dalam kehidupan hukum, politik ekonomi dan seterusnya—yang dilakukan dengan cara mencangkokkan begitu saja sistem nilai asing ke dalam kehidupan rakyat Indonesia di semua dimensinya. (2).  Mengembalikan cara-cara kita bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, termasuk di dalamnya tradisi kekuasaan serta praksis politik, pada kearifan bangsa-bangsa di kepulauan ini yang telah berkembang dan teruji lebih dari 5.000 tahun. (3). Keberadaan adab modern yang dipenetrasi kolonialime dan globalisme hingga di tingkat kognitif, memori hingga kemampuan imajinatif kita –termasuk sains dan teknologi– tidak lebih untuk memperkaya, Mempertinggi nilai tambah, dan mengakselerasi kekuatan kultural negeri ini.

Semua itu harus berlangsung lewat kearifan dan tradisi sebagaimana dimaksud di atas. (4). Dengan tradisi dan kearifan itulah kebudayaan nasional kita dibangun sebagai mosaik yang terus menjadi dari seluruh elemen sub etnik di nusantara ini, dan seharusnya tumbuh secara alamiah bersama interaksinya dengan kenyataan mutakhir hingga dapat menjadi sebuah identitas bernama: Indonesia.

Manusia, sebagai pelaku terpenting dari proses itu, merupakan entitas yang kongruen dengan jati diri bangsanya, yakni: makhluk budaya yang secara personal maupun komunal memiliki hak setara dengan institusi apa pun dalam berkontribusi bagi gerak pembangunan yang ada. (5). Untuk tugas-tugas kebangsaan itu, rakyat secara menyeluruh harus difasilitasi ruang gerak maupun ekspresinya untuk dapat menemukan sebuah imajinasi kolektif yang baru, di mana Indonesia sesungguhnya mendapat fondasi keberadaannya yang sejati.

Cikini, Jakarta, 28 Oktober 2009.

Penandatangan:

Abu Hamid. Ade Armando. Agus Pambagyo. Arbi Sanit. Aspar Paturusi. Bambang Pranowo. Bambang Widodo Umar. Bustami Rahman. Deddy Gumelar. Dolorosa Sinaga. Donny Gahral Adian. Edwin Partogi. Edy Utama. Eko Budiharjo. Ferdinand Marisan. Heryadi, Mayjen. Imelda Sari. Jaleswari Pramowardhani. Jansen H. Sinamo. Mochtar Naim. Nungky Nirmala. Pontjo Sutowo. Radhar Panca Dahana. Rahman Arge. Ratih Sang. Ray Sahetapy. Rizaldi Siagian. Rocky Gerung. Rosihan Anwar (alm). Setyanto P. Santosa. Soegeng Sarjadi. Sri Adiningsih. Sukardi Rinakit. Sys NS. Taufik Abdullah. Taufik Hidayat. Teuku Kemal Fasya. Tisna Sanjaya. Tubagus Andre. Tjia May On. Yasraf Amir Piliang. Yockie Soeryoprayogo. Yudi Latif.

TATA TERTIB

  1. Peserta Sidang Musyawarah Temu Akbar II Mufakat Budaya, adalah semua orang yang telah diundang oleh panitia penyelenggara Temu Akbar II Mufakat Budaya 2014
  2. Panitia adalah semua anggota panitia yang telah mempersiapkan penyelengaraan dan yang bertanggungjawab mengelola jalannya Acara Temu Akbar II MufakatBudaya 2014
  3. Partisipan adalah tamu pengamat yang dianggap perlu untuk diperkenankan menjadi peninjau acara, tapi tak diijinkan terlibat aktif sebagai peserta siding dan tak punya hak suara baik dalam sidang Pleno, maupun dalam sidang komisi.
  4. Sidang Pleno adalah sidang yang diikuti oleh semua pesertaTemu Akbar MufakatBudaya II 2014
  5. Sidang Komisi adalah sidang yang diikutioleh peserta yang telah dibagi dalam kelompok-kelompok berdasarkan tema yang akan dibahas dan didiskusikan bersama masing anggota sidang komisi dengan dipimpin oleh moderator yang telah ditunjuk oleh panitia.
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Atlantis in the Java Sea

A scientific effort to match Plato’s narrative location for Atlantis

sembrani

bertukar ide, melampaui mimpi bersama

Nurul Wirda

0812-8267-9182

aawanto

The greatest WordPress.com site in all the land!

Covert Geopolitics

Beyond the Smoke & Mirrors

Catatan Harta Amanah Soekarno

as good as possible for as many as possible

Women Terrace

to say something that i never talk before

Kanzunqalam's Blog

AKAL tanpa WAHYU, akan berbuah, IMAN tanpa ILMU

Cahayapelangi

Cakrawala, menapaki kehidupan nusantara & dunia

religiku

hacking the religion

SANGKAN PARANING DUMADI

Just another WordPress.com site

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

%d blogger menyukai ini: