1 Komentar

MEMAHAMI PERADABAN KEPULAUAN INDONESIA

MEMAHAMI PERADABAN KEPULAUAN INDONESIA[1]

Oleh : Dr. Daud Aris Tanudirjo

Jurusan Arkeologi Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta

Bukti-bukti arkeologi dan sejarah memberikan petunjuk yang sangat meyakinkan bahwa Kepulauan Nusantara pernah menjadi pusat peradaban maritim dunia. Pengelana, pelaut, dan pedagang Nusantara menjelajahi, bergaul, dan mendiami lebih dari separuh dunia.

  • Kondisi alam Nusantara yang terdiri dari ribuan pulau besar dan kecil serta berada di antara dua samudra menjadi lingkungan yang memungkinkan munculnya peradaban maritim (the cradle of maritime civilization)
  • Perkembangan peradaban maritim yang pesat di Nusantara dipicu oleh diaspora penutur bahasa proto-Austronesia dari Taiwan dan Cina Tenggara sekitar 5.000 tahun lalu. Mereka lalu tersebar dan mendiami kawasan mulai dari Mikronesia di Utara, New Zealand di selatan, Madagaskar di barat, dan Pulau Paskah di timur. Mereka mampu beradaptasi di lingkungan kepulauan dengan memadukan budaya laut dan darat sesuai dengan kondisi khas yang dihadapi, sehingga menciptakan keragaman budaya yang berakar tunggal, Bhinneka Tunggal Ika.

  • Pada kurun waktu antara 3.000 – 1.000 tahun lalu, kapal-kapal besar Nusantara telah melayari jalur perdagangan antara India – Nusantara – Cina. Bahkan, poros pelayaran telah terbentang hingga ke pantai timur Afrika di barat, Kepulauan Melanesia di timur, serta Vietnam dan Cina Selatan di Utara. Mereka membawa hasil unggulan Nusantara, seperti bulu burung, rempah rempah, kayu harum, cula badak, mutiara, kemenyan, dan kapur barus untuk dipertukarkan terutama dengan keramik, sutera (dari Cina), senjata, perhiasan, dan nekara perunggu (dari Vietnam), manik-manik, kain katun, bahan besi, arca logam (dari India), bejana gelas, parfum, perhiasan, dan batu mulia (dari Asia Barat). Pertukaran itu dimungkinkan jika setiap kawasan yang dilalui kapal-kapal itu mempunyai komoditas unggulan. Kapal Nusantara disebut Kunlun po oleh orang Cina, tidak saja mengangkut barang, tetapi juga penumpang. Aktivitas mereka telah memicu semacam proses globalisasi
  • Peradaban maritim Nusantara kemudian perkembangannya berlanjut dalam naungan sistem pemerintahan kerajaan-kerajaan yang tumbuh di wilayah ini. Dua kerajaan utama yang seringkali dianggap sebagai model kerajaan berbasis maritim adalah Kerajaan Sriwijaya (abad ke-7 hingga ke-13) dan Majapahit (abad ke-13 hingga awal abad ke-16). Berbagai kajian tentang kedua kerajaan ini memang berhasil memunculkan sisi-sisi kekuatan maritim yang menopang keduanya, meskipun tentu masih banyak aspek kehidupan maritim yang juga tetap belum terungkap. Dari sejumlah aspek yang sudah terungkap tentu kita dapat mengambil pelajaran berguna bagi kehidupan bangsa Indonesia yang sedang menggeliat untuk menoleh kembali pada peradaban maritim untuk dijadikan dasar pembangunan bangsa dan negara dalam beberapa dasawarsa ke depan. Harapannya, peradaban maritim yang pernah begitu berkembang di bumi Nusantara berabad-abad lalu akan kembali membesarkan bangsa dan negara ini hingga mampu mencapai kehidupan yang adil, makmur, dan sentosa.

Untuk mengembalikan peradaban maritim sebagai pijakan dalam membangun bangsa, setelah sekian lama hampir dilupakan, tentu bukan pekerjaan mudah. Penggeseran cara pikir (paradigm shift) dari budaya berkiblat ke daratan (terrestrial) menuju budaya berkiblat pada kelautan (maritime) tidak mungkin terjadi secara cepat, karena ada beberapa perbedaan mendasar. Perbedaan dua cara pikir itu dapat dirisalahkan sebagai berikut :

Aspek Cara pikir berkiblat daratan Cara pikir berkiblat kelautan
kosmologi Laut dan daratan sebagai entitas sendiri Laut tidak dapat lepas dari darat dan sebaliknya (archipelagic)
Penguasaan Teritori (wilayah) Tatakelola (manajerial)
Sumberdaya Sumberdaya laut tak-terbatas Sumberdaya laut tidak tak-terbatas
Tata laksana Birokratik Keleluasaan
Produk Barang Komoditas Penyediaan Jasa
Cara pandang Ke dalam (inward looking)Cenderung tertutup (eksklusif) Ke luar (outward looking)Cenderung terbuka (inklusif)

Dalam proses pergeseran paradigm ini, memang ada baiknya kita menengok apa yang telah terjadi di masa lampau. Namun, dalam konteks ini, gambaran kejayaan peradaban maritim di masa lampau hendaknya tidak terlalu menyilaukan bangsa ini, sehingga menganggap mudah proses peralihan paradigm yang akan terjadi. Kejayaan masa lampau tidak dapat semata-mata dibanggakan dan dikagumi (nostalgik), tetapi harus menjadi ilham (inspirasi) dan rujukan (referensi).

  • Inspirasi berarti menggugah pikir untuk menciptakan sesuatu yang baru dari pemahaman tentang masa lampau. Di sini, terkandung unsur konstekstualisasi pada situasi yang ada pada saat ini, bukan sekedar meniru atau ingin mengulangi apa yang ada di masa lampau.
  • Referensi berarti mengambil pokok-pokok yang bernilai baik untuk memperkuat maupun untuk menjadi dasar pengembangan sesuai dengan kebutuhan di masa kini.

Dengan cara pikir ini, ada beberapa butir pelajaran (lessons learnt) dari masa lampau yang barangkali akan memberikan pemahaman  yang lebih komprehensif tentang peradaban maritim.

  • Jangan lupa daratan.

Pemahaman terhadap peradaban maritim seringkali menjadi bias ketika orang menganggap laut sebagai entitas tersendiri yang lepas dari daratan. Cara pandang yang bias ini menganggap seolah-olah peradaban maritim dapat dibangun berlandaskan pada sumberdaya laut saja. Padahal, sejarah membuktikan bahwa keberhasilan peradaban maritim sesungguhnya juga bertumpu pada kemampuan mengelola secara terpadu dan proporsional sumberdaya laut dan darat. Keberhasilan yang dicapai baik oleh Kerajaan Sriwijaya maupun Kerajaan Majapahit sebenarnya tidak hanya karena penguasaan di lautan, tetapi kemampuan mengelola kuasa di daratan dan di laut.

Kejayaan Kerajaan Sriwijaya tidak banyak mempunyai komoditas yang menguntungkan, kecuali emas dan sejumlah hasil hutan. Karena itu, kerajaan ini lebih memanfaatkan posisinya yang strategis untuk menjadi persinggahan bagi kapal dari India, Arab, Cina, dan Nusantara. Penguasa Sriwijaya menyediakan jasa pelabuhan yang ramah, nyaman, aman, dan pluralistik sehingga para pendatang dapat melakukan aktivitasnya dengan baik. Bahkan, perguruan agama Budha, yang sedang marak dianut pada waktu itu, didirikan untuk memfasilitasi para peziarah sebelum mereka pergi ke India. Jadi, pada dasarnya mereka tidak meninggalkan atau mengabaikan basis mereka di daratan. Meskipun demikian, mereka memadukannya dengan pengusaaan di laut. Kerajaan ini juga memiliki armada kapal yang hebat untuk mengamankan laut maupun transportasi komoditas dan orang. Keberhasilan Sriwijaya justru lebih banyak ditopang oleh keberhasilannya mengumpulkan berbagai pajak dan penyediaan jasa. Pola pengelolaan seperti itu juga menjadi dasar keberhasilan Malaka dan Singapura di masa kemudian.

Keberhasilan Kerajaan Majapahit (abad ke-13 hingga ke-15) sebagai pemersatu Nusantara sebenarnya juga mengikuti pola yang tidak jauh berbeda. Hanya saja, kerajaan ini menjadi semakin kuat karena mampu memadukan dua kekuatan sekaligus : maritim dan agraris. Bagaimana pun juga, posisi masyarakat pesisir dan pulau lebih banyak sebagai pedagang perantara, sehingga keberhasilan mereka pun tergantung pada keberhasilan di daratan. Komoditas yang mereka pertukarkan atau perdagangkan lebih banyak hasil rekayasa teknologi berbasis daratan atau hasil pengolahan pertanian dan hutan yang ada di darat juga. Hasil olahan dari sumberdaya laut justru jauh lebih sedikit. Karena itu, dengan melakukan sinergi antara pelaut-pedagang dengan penghasil komoditas di darat, Majapahit semakin jaya.

Mengingat sifat-sifat sinergi itu, sesungguhnya istilah yang lebih tepat untuk menyebutkan budaya tersebut adalah peradaban kepulauan (archipelagic civilization) daripada peradaban maritim. Dalam konsep peradaban kepulauan, seperti tersirat dalam Deklarasi Djuanda 13 Desember 1957, terkandung arti “kesatuan laut dan daratan”. Keduanya menjadi satu dan bukan entitas yang terpisah.

 

  • Pola Distribusi Dendritik

Sinergi darat – laut seperti yang diterapkan Sriwijaya dan Majapahit menghasilkan pola distribusi dendritik, dari hulu ke hilir dan akhirnya bermuara pada jalur distribusi laut utama, dan tentunya juga sebaliknya. Pola distribusi ini tentu melibatkan peran serta masyarakat secara luas. Bukti adanya pola distribusi dendridik seperti itu tergambar pula pada relief-relief di Candi Borobudur (abad ke-8) yang menunjukkan aktivitas para pelaut pedagang sedang melakukan bongkar muat barang dari perahu sungai/pantai ke perahu yang lebih besar di laut. Apabila pola distribusi dendritic ini diterapkan, maka keterlibatan masyarakat dalam kegiatan ekonomi maritim cukup luas, distribusi kesejahteraan tentu akan lebih merata. Untuk itu, pembangunan maritim akan berkelanjutan jika diimbangi dengan pembangunan di darat juga.

Selain itu, pola distribusi dendritik ini sangat berpotensi untuk pemerataan kesejahteraan, jika mengutamakan peran serta masyarakat di berbagai wilayah, sektor, dan tingkat sosial. Karena itu, harus ada pengaturan agar jejaring ini tidak dikuasai oleh investor besar saja, apalagi asing. Penguasaan pola distribusi dendritik oleh investor besar asing hanya akan membawa kembali bangsa ini dalam situasi terjajah. Dari bukti sejarah telah terungkap bahwa kehancuran peradaban kepulauan Nusantara disebabkan oleh jejaring distribusi dendritik ini dikuasai dan dimonopoli oleh bangsa asing, khususnya Belanda.

 

  • Jiwa Merdeka

Dalam peradaban kepulauan, masyarakat pesisir dan pulau-pulau kecil menduduki tempat yang penting. Mereka lebih banyak berperan sebagai perantara interaksi atau fasilitator pergerakan manusia, barang, dan budaya. Suku Bajau atau orang laut yang hidupnya lebih banyak di laut merupakan contoh yang tersisa dari komunitas pengelana laut (sea-nomad) yang dulu berperan penting dalam menunjang peradaban kepulauan. Mobilitasnya yang tinggi dan pergaulannya yang luas dengan berbagai bangsa dan budaya menyebabkan komunitas semacam ini menjadi bersifat egalitarian, toleran, penuh inisiatif, progresif, serta berjiwa merdeka. Mereka juga dikenal memiliki solidaritas tinggi dan amat loyal terhadap penguasa yang diseganinya. Di satu sisi, watak seperti ini merupakan modal budaya yang positif. Di sisi lain komunitas berwatak seperti ini tidak mudah tunduk dan dikendalikan dengan berbagai aturan. Hal ini terbukti dari kenyataan bahwa sejarah panjang peradaban kepulauan selalu ditandai dengan kisah keberadaan para “perompak”, “bajak laut” atau “lanun”. Mereka belum tentu orang jahat. Seringkali sebutan itu diberikan secara bias oleh penguasa bagi komunitas pelaut yang tidak ingin terikat pada aturan formal atau ketentuan yang membatasi. Bahkan, tidak jarang mereka sebenarnya adalah “social bandits” atau “penjahat” pembela kepentingan masyarakat.

Budaya maupun watak komunitas pesisir dan pulau dapat dilihat sebagai potensi sekaligus kendala pembangunan. Faktor budaya dan watak komunitas ini harus diperhitungkan dalam merumuskan kebijakan sehingga tidak justru menimbulkan persoalan nantinya.

  • Utamakan Layanan

Kesadaran akan posisinya sebagai perantara menyebabkan masyarakat pesisir menjadi lebih terbuka, cenderung menjadi fasilitator, berupaya menyediakan jasa (service) yang baik, serta menjamin keamanan wilayahnya. Mereka menjadi perantara yang menghubungkan antara para penghasil komoditas di daratan dengan pedagang asing yang mencari komoditas yang dibutuhkan. Mereka menawarkan jasa pelabuhan yang baik, jalur pelayaran yang aman, dan penyaluran komoditas hingga ke tempat-tempat yang membutuhkannya. Bahkan, mereka juga menawarkan berbagai fasilitas tambahan lainnya bagi para pelaut-pedagang asing yang menunggu angin untuk berlayar kembali. Biasanya, masyarakat yang seperti itu cenderung menghindari birokrasi yang rumit dan terlalu prosedural. Mereka lebih merasa nyaman melaksanakan kegiatan dalam tatalaksana yang lebih luwes cendrrung leluasa, tetapi tetap tegas dan adil. Hubungan persaudaraan menjadi lebih penting dan menentukan dalam pergaulan di antara mereka.

  • Wawasan multikultural

Sifat-sifat masyarakat pesisir dan pelaut yang dijelaskan di atas membawa konsekuensi pada cara mereka bergaul dan menghargai orang. Interaksi yang luas dengan berbagai kelompok etnis atau komunitas membentuk mereka tumbuh menjadi masyarakat yang multikultural. Di sejumlah pelabuhan Sriwijaya hidup berbagai komunitas dengan latar belakang agama yang berbeda, baik Budha, Hindu, Kristen, dan Islam. Mereka berasal dari berbagai negara di Asia dan bahkan juga Afrika. Suasana kosmopolitan seperti itu juga terbukti ada pada Jaman Majapahit. Laporan sejumlah pengelana asing, sumber sejarah local, maupun bukti arkeologis menyebutkan keberadaan berbagai kelompok etnis dan agama yang hidup bersama-sama dengan damai di Majapahit.

  • Pahami sifat sumberdaya maritim

Bangsa Indonesia selama ini selalu menganggap sumberdaya laut begitu melimpah dan seakan tidak ada batasanya. Seakan jika sumberdaya menipis di suatu wilayah, akan dapat diperoleh di wilayah lain. Mitos yang berkembang memberikan gambaran seakan lautan adalah ruang yang bebas diakses (no man’s territory). Mitos itu muncul karena selama ini pemanfaatan sumberdaya laut masyarakat kita masih bersifat subsisten atau sekedar memenuhi kebutuhan hidup. Olehkarena itu, sumberdaya laut terasa masih berlimpah. Pada kenyataannya tentu tidak seperti itu. Apalagi di masa kini, wilayah laut yang dapat dikelola suatu komunitas selalu dibatasi. Di tengah situasi menguatnya otonomi daerah, anggapan bahwa laut tidak berbatas justru berpotensi menimbulkan konflik. Kondisi ini jarang dipahami.

Selain itu, mitos berlimpahnya sumberdaya laut yang seakan tak terbatas merupakan salah paham yang dapat menjerumuskan. Ironinya, selama ini cara-cara berpikir seperti itu masih juga menjadi dasar kebijakan pemerintah. Karena itu, ketika hasil tangkapan nelayan menurun, yang ditunjuk sebagai penyebab adalah prasarana (peralatan) dan cara (teknologi) yang kurang memadai. Padahal, kenyataannya saat ini sumberdaya laut Nusantara terbukti memang makin berkurang. Ada sejumlah faktor penyebabnya, di antaranya karena eksplorasi berlebihan, pencurian, dan kerusakan lingkungan yang menghambat regenerasi sumberdaya. Apalagi, banyak di antara sumberdaya laut seringkali bersifat musiman dan rentan terhadap perubahan iklim yang kini semakin sulit diramalkan. Karena itu, bangsa Indonesia harus waspada dan tetap menyadari adanya keterbatasan sumberdaya laut. Menghadapi itu, pemanfaatan laut yang selama ini bersifat “mengumpulkan” (collecting) semata, harus diubah menjadi bersifat mengelola dan menghasilkan (producing). Cara pemanfaatan ini tentu disertai pula dengan pelestarian sumberdaya dan lingkungan melalui pengembangan dan penerapan teknologi adaptif, strategi keamanan Laut (maritime safety strategy), maupun diversifikasi usaha kreatif (misalnya : wisata kelautan)

  • Kuasa Mengelola (Managerial power)

Menghadapi berbagai sifat dan kondisi kepulauan tersebut di atas, strategi yang terbukti berhasil menghantar pada kejayaan peradaban kepulauan bukanlah pada kuasa atas wilayah (territorial power), tetapi pada kuasa mengelola (managerial power). Pengembangan terpadu darat-laut tidak lagi dapat dibatasi oleh cara pandang kewilayahan. Pengembangan berbasis cara pandang ini justru berpotensi menyulut konflik karena akan terjadi “pengkaplingan” wilayah. Sebaliknya, kekuataan pengelolaan akan memberikan keleluasaan wilayah. Artinya, batas-batas administrasi tidak boleh menjadi penghalang pengelolaan yang lebih terpadu. Strategi ini akan berhasil jika didukung dengan kemampuan berbagi sumberdaya (shared-resources) diimbangi dengan berbagi tanggungjawab (shared responsibility). Dengan cara ini, semua pihak akan mendapatkan keuntungan secara seimbang (mutual benefits).

Untuk menjamin pelaksanaan kuasa mengelola, memang diperlukan dukungan kekuatan lain sebagai penunjang, yaitu kuasa pengamanan (police power) dan kuasa pertahanan (military power). Kuasa pengamanan meliputi antara lain penegakan aturan dan perlindungan internal sistem melalui kebijakan yang tepat, pemberlakuan hukum, dan penegakan hukum. Kuasa pertahanan adalah kemampuan untuk mempertahankan diri dari ancaman dan gangguan dari luar. Aspek yang terakhir ini tidak dapat lepas dari sistem pertahanan negara yang lengkap dan terpadu.

Epilog

Keunggulan budaya kepulauan Nusantara pernah membawa bangsa Indonesia sebagai kekuatan yang amat berpengaruh, setidaknya di belahan bumi timur. Para pelaut-pedagang-pengelana dari Nusantara terbukti mampu memicu tumbuhnya jejaring interaksi budaya antar komunitas yang tinggal di wilayah-wilayah penting Asia. Tentu, ada banyak hal yang semestinya dapat menjadi inspirasi dan referensi bagi perwujudan cita-cita mengembalikan kejayaan peradaban kepulauan di masa kini. Intinya, sejarah mengajarkan pada kita bahwa peradaban kepulauan harus dibangun secara semesta berbasis masyarakat (holistic community-based maritime development). Dalam konteks ini, ada beberapa kondisi yang diperlukan untuk menyangga pembangunan peradaban kepulauan ini, antara lain adalah sebagai berikut.

  1. Pembangunan jaringan utama perhubungan laut (“poros laut”) sebaiknya dilaksanakan dengan mengikuti pola hubungan dendritik dua arah yang dapat memadukan potensi daratan – perairan (laut, sungai, danau) dengan mengutamakan keterlibatan masyarakat secara luas dari hulu ke hilir. Dengan cara ini, pemerataan kesejahteraan akan lebih mudah tercapai. Untuk itu, perlu didukung oleh (a) pengembangan produk unggulan di setiap kawasan (regional) sehingga terjadi arus pertukaran yang seimbang, (b) pemberdayaan (capacity building) masyarakat yang terlibat, (c) kebijakan kemitraan yang adil antara pemodal besar, menengah, dan kecil, serta (d) menghindarkan monopoli dan dominasi pemodal besar, terutama asing. Yang disebut terakhir ini, berpotensi mengembalikan penjajahan ke Nusantara.
  2. Pembangunan armada maritim yang tangguh, baik sebagai fungsi transportasi, distribusi, maupun pertahanan-keamanan (police and military powers)
  3. Pembangunan pelabuhan di lokasi-lokasi strategis, untuk menghubungkan jalur-jalur laut utama, dengan didukung fasilitas yang memadai, layanan yang prima, serta suasana yang nyaman, aman, pluralistik, dan berwawasan kelestarian lingkungan.
  4. Pembangunan teknologi kelautan yang mampu mendukung kemandirian armada dan pelabuhan Indonesia (atau setidaknya mengurangi ketergantungan pada pihak asing), serta mampu menciptakan inovasi dalam budidaya sumberdaya laut
  5. Pembangunan pendidikan yang mampu menyediakan SDM kelautan yang handal, tidak hanya dalam ketrampilan mengumpulkan (collecting) sumberdaya, tetapi memliliki kemampuan pembudidayaan (producing) dan pengelolaan sumberdaya laut, serta berwawasan kelestarian lingkungan untuk menjamin keberlanjutan (sustainability)
  6. Pembangunan sistem hukum yang mampu menjamin keamanan, mengatur wilayah perairan, mencegah konflik, dan membangun sinergi dengan mengedepankan rasa keadilan dan keberpihakan pada masyarakat luas.

Semoga dengan belajar dari masa lalu, kita mampu mengembangkan peradaban kepulauan yang benar-benar membawa pemerataan kesejahteraan bagi seluruh bangsa Indonesia.

[1] Butir-butir pemikiran disampaikan dalam Temu Akbar II 2014 Mufakat Budaya Indonesia di Jakarta, 28 – 30 November 2014, sesi : Komprehensi Kebudayaan Nasional Indonesia yang Berbasis Realitas Bahari/Maritim.

One comment on “MEMAHAMI PERADABAN KEPULAUAN INDONESIA

  1. salam,
    kebudayaan kita dari jaman dahulu memanglah sangat mengagumkan.sampai sekarangpun kita masih selalu kagum dengan kebudayaan leluhur kita tersebut!.yang jadi pertanyaan kita sekarang adalah,kebudayaan kita yang kita banggakan sekarang ini apa?.atau pertanyaannya kita balik,mengapa kebudayaan jaman dahulu lebih mengagumkan daripada jaman sekarang?mungkin jawaban saya sbb :
    kebudayaan jaman dahulu :
    1 .konsepnya jelas.tujuan jangka pendeknya :
    1.1.pemenuhan kebutuhan pangan berkualitas tinggi untuk setiap individu.
    1.2.kemampuan mempertahankan level kesehatan untuk setiap individu.
    1.3.pembagian tanggung jawab yang sangat jelas untuk setiap individu.
    2 .tujuan jangka menengah
    2.1.terbentuk keluarga yang mandiri dan kuat
    2.2.beberapa kelompok keluarga membentuk koloni yang kuat (suku)mendiami suatu tempat dan bertanggung jawab secara bersama sama memelihara dan mengembangkan kawasan tersebut
    3 . tujuan jangka panjang dan lebih panjang lagi
    3.1.semua suku berinteraksi untuk memadukan kebudayaan mereka (kita sebut “bangsa”) tanpa menghilangkan kebudayaan mereka berasal.kebudayaan asal yang hilang menunjukkan bahwa suku tersebut adalah suku yang sangat lemah.mengapa demikian?,karena perpaduan ini akan menghasilkan kebudayaan baru yang sanggup menjawab tantangan jaman dari waktu ke waktu.apabila kebudayaan asal telah hilang maka kehancuran bangsa tersebut tidak akan lebih dari 3 generasi saja!.
    3.2.tujuan jangka panjang dan lebih panjang laginya adalah menyatukan semua pulau pulau di nusantara ini menjadi tidak lebih dari 2 pulau saja.
    mungkin anda tidaklah akan percaya pada pendapat saya ini,saya tidaklah menyalahkan anda,silahkan pelajari referensi,buku buku,kitab kitab kuno,telitilah semua hasil kebudayaan yang lampau,nanti setelah anda menjadi profesor yang terkenal,raga sudah melemah,semangat sudah hampir padam,nanti anda akan punya kesimpulan seperti kesimpulan saya tersebut.sedangkan pada saat itu anda akan berdiri di posisi saya sebagai orang yang di remehkan.
    wasalam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

sembrani

bertukar ide, melampaui mimpi bersama

Nurul Wirda

Semerbak Mawar yang dengan senang hati memancarkan Cahayanya

aawanto

The greatest WordPress.com site in all the land!

Covert Geopolitics

Beyond the Smoke & Mirrors

Catatan Harta Amanah Soekarno

as good as possible for as many as possible

Women Terrace

to say something that i never talk before

Kanzunqalam's Blog

AKAL tanpa WAHYU, akan berbuah, IMAN tanpa ILMU

Cahayapelangi

Cakrawala, menapaki kehidupan nusantara & dunia

religiku

hacking the religion

SANGKAN PARANING DUMADI

Just another WordPress.com site

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

%d blogger menyukai ini: