1 Komentar

Deklarasi Budaya dari Ancol : Temu Akbar II Mufakat Budaya Indonesia

Deklarasi Budaya dari Ancol oleh: Pandita Mpu Jaya Prema Ananda

DARI Taman Impian Jaya Ancol Jakarta, tak hanya ada berita mengenai hiburan, juga ada berita budaya. Hari Minggu kemarin sejumlah budayawan yang berkumpul sejak Jumat sebelumnya mengeluarkan apa yang disebut Deklarasi Teluk Jakarta. Deklarasi ini adalah pernyataan sikap ratusan budayawan yang menyoroti masalah yang dihadapi bangsa dari sisi budaya. Pertemuan ratusan lebih budayawan dari berbagai daerah ini adalah yang kedua dalam wadah yang disebut Temu Akbar Mufakat Budaya. Temu Akbar pertama terjadi lima tahun lalu yang berhasil merumuskan sikap yang disebut Deklarasi Cikini. Sekarang menyusul Deklarasi Teluk Jakarta sesuai dengan tempat dilangsungkannya pertemuan itu di Ancol. Saya menjadi salah satu pembicara kunci dalam pertemuan yang dibuka Mendikbud Anies Baswedan ini. Pembicara kunci yang lain adalah Ishak Ngljaratan, pengajar tamu pada Universitas La Trobe Melbourne, Australia dan mantan Mendikbud Daud Yusuf.

Sesuai dengan pembidangan saya menyoroti dari sudut budaya agama. Poin penting yang saya soroti adalah kebijakan pemerintah untuk memilah-milah agama. Ada agama yang diakui atau kadang disebut agama yang resmi, ada yang tidak diakui.

Ada 6 agama yang diakui: Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha dan Konghucu. Agama yang lain tidak resmi, karena keyakinan itu tidak dianggap agama. Penghayat Kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa atau lazim disebut aliran kepercayaan (nama ini diberikan oleh pemerintah), tidak pernah diakui oleh pemerintah sebagai agama.

Pemilahan 6 agama ini adalah warisan dari UU No. 1 Tahun 1965 di era orde lama yang lazim dikenal sebagai UU Penodaan Agama. Itu pun tertera pada penjelasan pasalnya, tidak tersirat di dalam pasal. Tetapi sejatinya apa kriteria agama itu, belum jelas. Katakanlah pemerintah menyebut harus ada kitab suci dan ada penerima wahyu, selain tentu saja pengikut.

Kalau aliran kepercayaan itu punya buku pedoman dan mereka mengakui ajaran dalam buku pedoman itu berdasarkan “pewisik”, dan mereka menerapkan ajaran itu dengan tenang dan damai, apakah kitab itu tak bisa disebut kitab suci dan “penerima pewisik” sebagai penerima wahyu? Bukankah mereka yang lebih tahu? Kenapa orang lain yang harus repot memikirkan istilah yang ada dalam keyakinan mereka? Kenapa harus repot untuk dicari bukti bahwa “sang pembisik” itu adalah Tuhan atau setengah Tuhan setengah Dewa atau apa? Biarkan saja mereka tentram dan damai dengan keyakinannya, kalau mereka merusak tatanan masyarakat dan berbuat tindak pidana baru dihukum.

Keyakinan mereka harus dihormati dan tak bisa keyakinan diadili, perbuatan yang bisa diadili. Lebih sedih lagi, pemerintah sampai saat ini melihat aliran kepercayaan itu sebagai sesuatu yang menyimpang, sesuatu yang sesat, dan perlu diselidiki terus-menerus.

Karena itu kalau agama yang diakui diayomi di Kemenag, aliran kepercayaan didaftarkan di Kejaksaan. Ini bukan saja diskriminatif tetapi penghinaan karena keyakinan yang dianut sekelompok warga itu rupanya harus perlu diselidiki terus-menerus oleh instansi penyidik. Masyarakat sekitar komunitas aliran kepercayaan itu saja tak pernah main selidik, mereka hidup damai berdampingan.

Negeri ini akan masih karut-marut kalau pemerintah terlalu bernafsu untuk mengurusi hal-hal pribadi, sampai hubungan manusia dengan Tuhan pun mau diatur, dan kemudian diresmikan atau tidak. Kalau hubungan manusia dengan Tuhan tak sesuai dengan kehendak pemerintah, maka mereka tak boleh dapat surat perkawinan, tak boleh dapat akte kelahiran, dan sejenisnya. Wewenang pemerintah ini melebihi wewenang Tuhan yang menciptakan manusia berjenis-jenis, berbeda warna, berbeda suku, berbeda bahasa dan berbeda keyakinan agar mereka saling mengenal. Jangan-jangan di mata pemerintah Tuhan itu ada banyak, ada Tuhan yang resmi dan diakui, ada Tuhan yang tak resmi atau setengah resmi sehingga tidak diakui.

Lima tahun lalu, Mufakat Budaya sudah melahirkan Deklarasi Cikini. Kalimat pertama Mukadimah Deklarasi Cikini itu sudah mengingatkan pemerintah dengan bahasa yang lugas. Bunyinya: “Apa yang terjadi di Indonesia masa kini, adalah kebingungan dan kekeliruan yang akut di semua level dan elemen kehidupan kita. Hal itu diakibatkan oleh peran negara, cq pemerintah, yang terlampau dominan dan menafikan publik dalam semua proses pengambilan keputusan.”

Dan kini setelah lima tahun apa yang terjadi? Bukannya tambah baik, malah kebingungan dan kekeliruan itu semakin akut dalam semua kehidupan kita. Kekerasan atas nama agama terjadi, dan ini bukan saja yang mengatasnamakan Islam juga bibit-bibitnya ada di agama lain. Bagaimana kita bisa bertutur kepada anak cucu kita yang masih kecil bahwa agama itu adalah pembawa kedamaian. Ormas-ormas garis keras dibiarkan dan seolah dipelihara pemerintah. Dan ini menular ke daerah-daerah, karena keteladanan yang buruk rupanya lebih mudah ditiru, karena televisi kita sangat berjasa dalam hal ini. Di Bali pun muncul ormas-ormas yang tak jelas untuk apa, dan balihonya bertebaran di setiap tikungan jalan. Foto pengurus ormas itu dipampangkan dengan gaya pesilat dan bannernya: Menjaga Keamanan Bali. Dan sejak itu orang Bali merasa tidak aman, sudah beberapa kali antar ormas itu bentrok.

Deklarasi Cikini tetap relevan untuk dikumandangkan dan tak ada kemajuan apa pun yang dilakukan negara setelah deklarasi itu dikeluarkan. Kini menyusul Deklarasi Teluk Jakarta. Poin pentingnya adalah tetap meminta pemerintah untuk tidak merecoki ruang privat. Mana yang bisa diatur oleh pemerintah dan mana yang dibiarkan saja berkembang dalam kearifan lokal. Pemerintah diminta tidak diskriminatif dalam menangani berbagai persoalan yang ada di dalam masyarakat Dalam masalah pendidikan, bahasa Indonesia hendaknya dijaga kemurniannya dari pengaruh bahasa asing dan bahasa daerah sebagai bahasa ibu tetap diajarkan di sekolah-sekolah karena merupakan basis kebudayaan. Deklarasi ini juga menyinggung peran televisi sebagai lembaga penyiaran milik publik yang tak semestinya dijadikan alat untuk kepentingan kelompok apalagi partai politik. Deklarasi ini segera dikirim ke Presiden Joko Widodo. (*) http://posbali.com/deklarasi-budaya-dari-ancol/

Deklarasi Teluk Jakarta 2014

Mufakat Budaya Indonesia

Studi-studi sejarah dan arkeologi memberikan petunjuk bahwa kepulauan Indonesia pernah menjadi salah satu pusat peradaban bahari dunia. Indonesia perlu merevitalisasi peradaban kepulauan sebagai dasar kebudayaan bangsa. Peradaban kepulauan mengandung arti kesatuan laut dan darat. Laut dan darat adalah kesatuan yang tidak dipisahkan. Memadukan budaya laut dan pulau melahirkan budaya Bhinneka Tunggal Ika. Pembangunan Indonesia ke depan semestinya memperhatikan keseimbangan laut dan darat; orientasi kelautan harus diarusutamakan dalam setiap kebijakan publik. Kebudayaan Indonesia adalah pertemuan ratusan suku bangsa serta asal daerah, agama dan kepercayaan yang harus diperlakukan setara. Kebudayaan adalah strategi menjawab tantangan zaman. Identitas dibentuk melalui perubahan. Publik, negara, dan masyarakat harus memberi ruang untuk menumbuhkan keanekaragaman. Yang diperlukan adalah upaya meluaskan interaksi di ruang budaya majemuk. Karena itu, konsep kebudayaan nasional harus dipahami sebagai jejaring dari berbagai kebudayaan daerah dan kebudayaan Indonesia yang terus berkembang. Kini kita menghadapi krisis peran intelektual. Elite mengedepankan sikap materialistis. Kita kurang memelihara ingatan pada tradisi intelektual yang kaya sehingga tidak menampakan mata rantai kesinambungan dalam prestasi intelektual. Produk elite politik hanya menghasilkan penumpulan hukum, intoleransi terhadap perbedaan dan kompetisi kekuasaan yang menghamba pada kepentingan para komprador, baik dalam dan luar negeri. Budaya cangkokan yang diarahkan oleh kepentingan asing menimbulkan eksploitasi pada kekayaan alam dan budaya Indonesia, tidak berpihak pada nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan, malah justru memperluas pelanggaran HAM. Rekomendasi 1. Kita harus memperjuangkan lahirnya budaya integratif yang bersifat merangkul, setara, menerima perbedaan, untuk memadu kerjasama. Untuk mengatasi agresivitas dan kekerasan, baik struktural maupun kultural, dalam interaksi sosial, perlu mengaktualisasikan kembali peran kearifan lokal sebagai solusi konflik. 2. Restorasi kebudayaan harus menempatkan kembali pelajaran menulis, mengekspresikan bahasa, termasuk bahasa dan seni lokal, sebagai alat penghalusan budi pekerti, kesantunan dan pendalaman akal budi. Bahasa Indonesia harus dirawat di tengah kecenderungan kontaminasi bahasa asing. Bahasa Indonesia harus diberdayakan sebagai medium untuk memperkaya prestasi kultural. 3. Menumbuhkan peran masyarakat dalam proses pengambilan kebijakan publik melalui pemberdayaan lembaga-lembaga penyiaran, seperti radio, televisi dan media cetak serta lembaga penyiaran komunitas agar tidak dihela pasar semata, namun justru menyampaikan aspirasi kekinian publik, nilai-nilai kearifan lokal dan Pancasila. 4. Penyelenggara negara harus hadir sebagai penjamin utama bagi seluruh proses restorasi kebudayaan dan membangkitkan kembali peradaban kepulauan Indonesia, karena ketidakhadiran peran negara merupakan pengkhianatan terhadap sejarah, konstitusi dan amanah yang telah diberikan oleh rakyat. Teluk Jakarta, 30 November 2014 Peserta Temu Akbar II Mufakat Budaya Indonesia Tim Perumus: 1. Riza Damanik 2. Dr. Benny Johanes 3. Dr. Tamrin Amal Tamagola 4. Dolorosa Sinaga 5. Prof. Dr. Edi Sedyawati 6. Ishak Ngeljaratan 7. Radhar Panca Dahana

One comment on “Deklarasi Budaya dari Ancol : Temu Akbar II Mufakat Budaya Indonesia

  1. salam,
    1 .budayawan=seseorang yang bergelut terus menerus(aktif dan secara langsung)dalam budaya.
    2 .budaya=buah dari budi dan daya.
    2.a.budi=keseimbangan hati dan pikiran.
    2.b.daya=kekuatan /energi yang suci dan luhur.
    2.b.a.energi yang suci=energi yang berasal dari budi.
    2.b.b.luhur=menuju ke atas tanpa melupakan yang bawah.
    kalau sudah begini,saya (‘bingung”) mau memulai dari mana!
    wasalam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

sembrani

bertukar ide, melampaui mimpi bersama

Nurul Wirda

Semerbak Mawar yang dengan senang hati memancarkan Cahayanya

aawanto

The greatest WordPress.com site in all the land!

Covert Geopolitics

Beyond the Smoke & Mirrors

Catatan Harta Amanah Soekarno

as good as possible for as many as possible

Women Terrace

to say something that i never talk before

Kanzunqalam's Blog

AKAL tanpa WAHYU, akan berbuah, IMAN tanpa ILMU

Cahayapelangi

Cakrawala, menapaki kehidupan nusantara & dunia

religiku

hacking the religion

SANGKAN PARANING DUMADI

Just another WordPress.com site

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

%d blogger menyukai ini: