7 Komentar

Salah tafsir thd Revolusi Mental Jokowi,

Oleh: Radhar Panca Dahana

Sejujurnya sangat menjenuhkan—bahkan menggelikan—untuk berpikir atau menulis mengenai hal yang hari-hari ini menjadi tren atau semacam trending topic dalam media sosial.

Sebuah kecenderungan yang menyuburkan tumbuhnya fashioned atau fad intellectual. Semacam pemikir atau pengamat yang menggunakan kelincahan literer dan pelisanan, bukan pikirannya, sekadar sebagai gincu untuk mengikuti isu publik seperti kita tergiur oleh busana dan gadget terbaru hanya karena renda-renda atau fitur tambahan yang lucu.

Namun, itulah yang harus saya lakukan, sekali lagi, membahas sebuah frasa pendek “revolusi mental”, produk politik yang bagi saya lebih menghebohkan, lebih besar, bahkan berpeluang lebih mampu menciptakan perubahan fundamental, ketimbang kursi kekuasaan (kepresidenan) yang akhirnya dimenangi seseorang lewat proses yang melodramatik dan sarat preseden. Kedua hal itu berhulu kepada seorang pengusaha mebel yang tidak punya latar elitis atau kelas penguasa dalam dimensi apa pun, seorang dengan kesederhanaan begawan: Joko Widodo (Jokowi).

Peluang menciptakan perubahan fundamental, satu bentuk perubahan yang secara instingtif diharapkan masyarakat banyak, itulah yang menurut saya perlu dikawal, jika dapat dibantu secara maksimal, sekurangnya menghindarinya dari pendangkalan makna, reduksi dari tujuan-tujuan idealnya, bahkan penyelewengan dari intensi dasarnya. Hal ini menjadi urgen ketika ternyata banyak salah tafsir terjadi pada ide itu, berangkat dari salah tafsir tentang empunya ide itu sendiri, Jokowi. Impresi, harapan palsu, hingga ilusi terhadap sosok Jokowilah harus dicegah karena tidak saja merugikan Jokowi sendiri, pada gilirannya ia akan merugikan signifikansi hingga implementasi dari “revolusi mental” yang menjadi tag line kekuasaan yang kini digenggamnya.

Kecerdasan tradisional

Hal pertama dan utama adalah pencitraan stigmatik yang menganggap Jokowi memiliki kecerdasan—katakanlah—sebagaimana yang kita bayangkan ada pada Obama atau tokoh dunia lain. Bahkan juga apabila dibandingkan dengan seorang direktur atau eksekutif sebuah organisasi/perusahaan pun, performa Jokowi sesungguhnya di bawah standar atau kategori-kategori canggih manajemen-performatif modern. Karena itu, Anda akan merugi jika mengharapkan, misalnya, Jokowi dapat mempresentasi konsep atau ide-ide (kenegaraan atau pemerintahannya) laiknya seorang eksekutif andal.

Pelisanan atau retorikanya sungguh tak cakap, diksinya miskin, bahasa tubuh kaku, paralingual tak mampu dimainkan untuk memperkuat pernyataannya sendiri, bahasa Inggris tak fasih, bicara simbol atau visual display tidak mahir, dan seterusnya. Kualitas mediokratik presentasinya mungkin ada pada tingkatan middle-manager. Jokowi tentu saja tidak sama sekali tak cerdas. Dalam standar atau paham kecerdasan yang, misalnya, kita dapatkan dari seorang Habibie, Gus Dur, apalagi Soekarno, bahkan ahli-ahli retorika yang silih ganti tampil di layar datar televisi. Namun, mengapa ia begitu hebat? Mengapa ia bisa menaklukkan lebih dari separuh rakyat negeri ini, dan menjadi seorang pemimpin tertinggi, menumbangkan begitu banyak tokoh cerdas, berpengalaman, bermodal besar, berjaringan luas, dan sebagainya?

Jawabannya cuma satu: Jokowi “cerdas”. Bukan cerdas dalam pengertian modern yang akademik, saintifikal, atau berbasis pada rasionalisme-materialistik atau logosentrisme oksidental, sebagaimana tokoh-tokoh kita sejak masa pergerakan awal dulu. Jokowi “hanyalah” sarjana strata satu kehutanan, tidak lebih. Apa yang dimiliki Jokowi adalah semacam ”kecerdasan” tradisional, bisa juga primordial, yang dia dapatkan semata dari penghayatannya yang tulen pada sumber pengetahuan yang ada di dalam nature atau alam bawah sadarnya sebagai bagian organik dari suku Jawa. Inilah satu bentuk kecerdasan yang tak pernah dan mungkin tak bisa dipetakan, disistematisasi, difalsifikasi atau diteorisasikan oleh pelbagai bentuk epistemologi yang ada saat ini.

Kecerdasan ini memang tidak “disadari” (“sadar” dalam pengertian akal yang sistematikanya dikelola oleh rasionalisme positif), tetapi ia eksis atau mengendap begitu saja dalam diri kita. Kita umumnya, tidak hanya tidak “menyadari”, tetapi juga tidak “mengetahui” karena kecerdasan itu sejak kanak kita tutupi (cover) dengan satu bentuk kultur/adab dengan kecerdasan yang sangat lain/berbeda. Kultur/adab kontinental yang kita internalisasi sejak PAUD hingga posdoktoral.

Kapasitas dan kapabilitas dari kecerdasan tradisional ini, jika tidak seimbang, saya kira, lebih ampuh ketimbang kecerdasan rasional modern. Kapabilitasnya dalam mengidentifikasi masalah, menemukan substansi, mengkreasi solusinya yang inovatif, dan mengimplementasikannya dalam praksis (kebijakan) hidup sehari-hari. Kecerdasan ini tidak bermain di atas meja, dalam angka-angka, eksposisi ilmiah atau simpulan-simpulan spekulatif yang reduksionistik, sebagaimana hasil riset-riset sejumlah laboratorium sosial.

Kapasitas mental

Kecerdasan tradisional Jokowi membutuhkan telinga, mata, hidung, peraba, hingga bulu tengkuk yang meremang, darah yang menggejolak, atau jiwa yang empatik untuk melahirkan gereget bagi sebuah finding tentang—katakanlah—substansi dari sebuah masalah. Karena itu, menurut saya, tanpa blusukan, Jokowi tak bisa berbuat banyak, bahkan akan menjadi “bukan apa-apa”, selain seorang penguasa dan takhta belaka. Kecerdasan semacam ini mengintegrasikan beberapa bagian fundamen manusia yang selama ini dilupakan bahkan dinafikan oleh adagium klasik cogito ergo sum, yakni badan dan perasaan (jiwa, nurani, dan lain-lain). Kecerdasan ini membuktikan bahwa bukan hanya “aku berpikir”, tetapi juga “aku merasa” dan “aku bermetabolisme” adalah penanda dasar atau argumen fundamental dari esksitensi, dari adanya: “aku”.

Kecerdasan holistik atau komprehensif, yang didaur dari kultur/adab tradisional/primordial inilah yang saya kira dimaksud oleh Jokowi dalam term kontroversial itu: mental. Pandirnya, dalam seruan ini, bukan kapasitas akali yang perlu diubah dan dikembangbiakkan, tetapi justru kapasitas itu harus dikendalikan, dan sebaliknya kapasitas “mental” (dalam signifikansi valuatif seperti terjelas di atas) yang dibutuhkan, tidak hanya sebagai penyeimbang dari kemajuan rasionalisme positif, tetapi juga untuk mengoreksi kekeliruan-kekeliruan (fallacies) dari produk budaya oksidental itu.

Dengan cara berpikir ini, cara berpikir yang tidak dikerangkeng atau dikurung dalam boks logosentrisme european—yang celakanya sudah dianggap given oleh umumnya kaum terpelajar Indonesia—inilah kita akan dapat memafhumi bahwa “revolusi mental” yang dimaksud tak lain adalah sebuah abstraksi atau—boleh jadi—transendensi dari figur Jokowi sendiri. Dari abstraksi ini, sebaiknya kita tidak berharap berlebihan kepada Jokowi untuk mengkreasi istilah atau term-term ilmiah-populer yang bisa mengangkut semua pemahamannya tentang dunia kawruh, tentang ngelmu dadi kalaku, tentang hakikat dan eksistensi dari bagian fundamental–bahkan ilahiah—manusia yang selama ini ditelantarkan pemikiran modern: rasa (batin/spirit) dan tubuh.

Karena itu, saya menulis ini untuk mendahului perkiraan saya akan munculnya serangan cukup mematikan (yang syukurnya belum dilakukan) dari lawan atau pesaing Jokowi terkait dengan “revolusi mental” ini. Serangan yang hanya berisi dua pertanyaan: “Apa dan siapa yang dimaksud, atau contoh dari revolusi mental itu?” dan “Apa Anda sendiri (Jokowi) sudah melakukan revolusi itu sehingga Anda punya posisi untuk mengimbau atau memerintah orang lain melakukan hal yang sama?” Saya perhitungkan, penyerang dengan dua pertanyaan di atas akan mendapatkan kemenangan, setidaknya secara retorik. Namun, kemenangan retorika bukankah hasil tertinggi dari kerja/upaya politik? Karena di situlah sesungguhnya suara juga kekuasaan diperoleh. Karena itu, sangat tak fair jika kita menuntut Jokowi menjelaskan satu hal yang memang dalam bahasa ilmiah tak pernah dan tidak bisa dijelaskan, bahkan bagi kecerdasan tradisional itu sendiri mungkin tidak perlu dijelaskan, tetapi dibuktikan.

Lahir Jokowi lain

Di titik inilah, urgensi dari pemikiran trendi ini memiliki posisi argumen fundamentalnya. Revolusi mental, sekali lagi, tidak akan dapat diselenggarakan hingga ke tingkat praktis atau kebijakan politis jika hanya mengacu pada perhitungan-perhitungan akali yang diproduksi sekumpulan ahli ilmu sosial (sosiologi, psikologi, statistik, manajemen, politik, dan sebagainya). Ia juga harus menyertakan yang kita sebut—dan salah tafsirkan—dengan kearifan lokal, bukan sekadar “kearifan” melainkan juga gugusan pengetahuan yang luas, kaya, dan dalam dari tradisi/adab lokal yang dibangun dan dikembangkan oleh etnik dan ratusan subetnik di seluruh persada negeri, bukan hanya ratusan, melainkan ribuan tahun selama ini.

Kita harus melahirkan Jokowi-Jokowi lain sebanyaknya. Karena Jokowi yang bukan mantan pengusaha mebel itu banyak sekali, mungkin 230 juta lebih jumlahnya. Jokowi yang presiden terpilih sebenarnya tidaklah terlalu istimewa karena banyak potensi “Jokowi” sejenis yang bisa jadi lebih genial dari presiden terpilih. Keutamaan dari presiden baru ini cuma satu: ia mengetahui kecerdasan itu dan mampu mengaktualisasikannya. Inilah kemampuan “mental” yang sangat langka.

Bayangkan jika, tak usah 230 juta, tetapi 230.000 saja, satu per mil saja, yang mampu berevolusi mental menjadi “Jokowi”? Saya tak bermimpi, tetapi saya “yakin” (ini bukan term ilmiah) tak ada bangsa mana pun mampu menaklukkan, bahkan menyaingi bangsa ini. Bagaimana menyaingi apalagi menaklukkan sebuah bangsa yang dalam sejarahnya mampu melahirkan lebih dari 350 etnik/sukubangsa, lebih dari 400 bahasa—setengahnya diakui PBB/UNESCO—yang hingga kini tak satu pun orientalis atau indonesianis mampu memahami secara penuh dan komprehensif?

Bagaimana semua itu bisa dilaksanakan, direncanakan? Tentu saja itu rahasia kecil karena itu porsi tim Jokowi dan pokja-pokjanya untuk merumuskan. Dan satu imperasi dalam perumusan ini: semestinya ia dilakukan oleh mereka yang sudah lebih dulu (mampu dan mau) melakukan revolusi mental itu pada dirinya sendiri, menjadi manusia yang hidup tidak hanya mengandalkan rasionalisme-positif-materialistiknya. Yang selalu terjerat dalam perhitungan-perhitungan praktis, pragmatis, dan cenderung oportunistis, sebagaimana para teknokrat pemerintahan-pemerintahan sebelumnya.

Bagaimana mungkin sebuah revolusi dalam jenis ini, dirancang, diatur, dan dioperasikan oleh mereka yang justru belum terevolusi mentalnya? Apakah kita hendak memainkan dusta atau dunia yang virtual-artifisial? Jokowi, tuan dan puan, saya kita tidak berdusta, dan bukan makhluk artifisial.

(Radhar Panca Dahana, Budayawan)

Artikel ini sudah tayang di Harian Kompas edisi 17 Oktober 2014.


Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:

Editor : Tri Wahono
Sumber : KOMPAS CETAK

7 comments on “Salah tafsir thd Revolusi Mental Jokowi,

  1. Jj Rizal Pagi ini diminta Metro TV bantu memahami Jokowi di banding presiden-presiden sebelumnya. Saya rasa itu hal yang sukar dilakukan karena Jokowi tidak memiliki kecerdasan rasio sebagaimana Habibie, Gusdur apalagi Sukarno. Bahwa banyak pihak mengidentifikasi dirinya dengan Sukarno itu justru keliru besar. Jokowi bukan orator dengan kepiawaian bahasa dalam arti luas. Ia tidak mampu merumuskan ideologi. Ia bukan pembaca yang kuat. Membawa-bawa agar Jokowi menjadi Sukarno adalah kedunguan, bahkan membunuh kekuatan karakter dan kecerdasannya yang khas. Jokowi adalah presiden dengan kekuatan kecerdasan budi. Inilah hal yang paling menawan dari dia. Kita ingat reformasi 1998 memuncak pada 20 Mei, hari yang dirayakan untuk mengenang Budi Utomo. Ini adalah organisasi perintis nasionalisme Indonesia–terlepas dari polemik ini perayaan yang keliru–tetapi pengutamaan budi adalah unsur utamanya. Soeharto, figur yang menjadi sasaran utama gerakan reformasi, selama puluhan tahun menjajah Indonesia bertopeng dan beretorika budi yang palsu. Begitulah gerakan reformasi adalah gerakan mencari kekuatan budi yang punah oleh 32 tahun Soeharto. Jawaban dari itu adalah demokratisasi sebab hanya dengan itulah jalan untuk figur-figur dengan kekuatan budi muncul, tetapi yang hadir sebaliknya. Krisis moral justru melanda dari presiden ke presiden. Orang lalu mulai mengoreksi bahwa gelar pendidikan yang berlapis-lapis berkorelasi dengan budi. Ternyata tidak. Itu tipuan. Lantas rindu figur dengan kecerdasan budi pun menggebu, bergelora. Persetan dengan gelar, wajah, kekayaan. Dalam konteks inilah Jokowi menjadi istimewa. Jokowi menjadi muara rindu yang menggerakkan ratusan, ribuan, jutaan manusia-manusia yang bosan dengan topeng kepalsuan untuk balik belajar menjadi manusia sejatinya yang mengutamakan budi. Semoga Jokowi mampu terus menjaga kecerdasan budinya.
    Pagi ini diminta Metro TV bantu memahami Jokowi di banding presiden-presiden sebelumnya. Saya rasa itu hal yang sukar dilakukan karena Jokowi tidak memiliki kecerdasan rasio sebagaimana Habibie, Gusdur apalagi Sukarno. Bahwa banyak pihak mengidentifikasi dirinya dengan Sukarno itu justru keliru besar. Jokowi bukan orator dengan kepiawaian bahasa dalam arti luas. Ia tidak mampu merumuskan ideologi. Ia bukan pembaca yang kuat. Membawa-bawa agar Jokowi menjadi Sukarno adalah kedunguan, bahkan membunuh kekuatan karakter dan kecerdasannya yang khas. Jokowi adalah presiden dengan kekuatan kecerdasan budi. Inilah hal yang paling menawan dari dia. Kita ingat reformasi 1998 memuncak pada 20 Mei, hari yang dirayakan untuk mengenang Budi Utomo. Ini adalah organisasi perintis nasionalisme Indonesia–terlepas dari polemik ini perayaan yang keliru–tetapi pengutamaan budi adalah unsur utamanya. Soeharto, figur yang menjadi sasaran utama gerakan reformasi, selama puluhan tahun menjajah Indonesia bertopeng dan beretorika budi yang palsu. Begitulah gerakan reformasi adalah gerakan mencari kekuatan budi yang punah oleh 32 tahun Soeharto. Jawaban dari itu adalah demokratisasi sebab hanya dengan itulah jalan untuk figur-figur dengan kekuatan budi muncul, tetapi yang hadir sebaliknya. Krisis moral justru melanda dari presiden ke presiden. Orang lalu mulai mengoreksi bahwa gelar pendidikan yang berlapis-lapis berkorelasi dengan budi. Ternyata tidak. Itu tipuan. Lantas rindu figur dengan kecerdasan budi pun menggebu, bergelora. Persetan dengan gelar, wajah, kekayaan. Dalam konteks inilah Jokowi menjadi istimewa. Jokowi menjadi muara rindu yang menggerakkan ratusan, ribuan, jutaan manusia-manusia yang bosan dengan topeng kepalsuan untuk balik belajar menjadi manusia sejatinya yang mengutamakan budi. Semoga Jokowi mampu terus menjaga kecerdasan budinya.
    Ahmad Yanuana Samantho
    SukaSuka · · Bagikan · 50456104

  2. Merdeka.com – Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo tak mau sembarangan menerima bantuan pihak asing yang mengaku ingin membantu. Jokowi tak mau didikte.

    Terakhir, Jokowi menolak bantuan dari Amerika Serikat yang ditawarkan Dubes AS untuk Indonesia, Scot Marciel. AS mengaku ingin membantu Jokowi menata kampung deret di Kampung Muara Bahari, Tanjung Priok, Jakarta Utara.

    “Kita sudah ditawarkan bantuan oleh pihak Kedubes, tapi saat ini kita belum butuh apapun, masih kita tangani melalui anggaran yang ada,” ujar Jokowi, Rabu (5/6).

    Jokowi memang tak mau diatur asing. Sebelumnya, dia juga menolak bantuan dari bank dunia. Bank Dunia rencananya akan meminjamkan Rp 1,2 triliun. Namu karena prosedur peminjamannya dipersulit, Jokowi enggan menuruti keinginan Bank Dunia tersebut.

    “Kalau emang masih rumit, kita bisa pakai APBD. Saya enggak mau diatur-atur terlalu banyak kayak gitu, mau pinjem saja kok rumit begitu,” jelas Jokowi.

    Jokowi terinspirasi sosok Soekarno yang tak pernah mau didikte asing. Mantan wali kota Solo ini memang mengidolakan Soekarno.

    Berikut ketegasan Soekarno yang tak mau didikte asing.

  3. 1.Go to Hell with Your Aid
    Figure terkait
    Jokowi
    Berita Jokowi
    Joko Widodo
    Berita Joko Widodo
    Merdeka.com – Soekarno juga pernah menolak mentah-mentah bantuan dari Amerika Serikat. Saat itu, Soekarno melihat ada niat terselubung Amerika yang waktu itu menginginkan diberangusnya paham komunis dari Asia.

    Soekarno yang berjanji tak mau meminta-minta dari negara lain bahkan menilai Amerika ‘riya’ jika memberi bantuan. Sehingga menyebabkan negara penerima bantuan kehilangan muka. Menyikapi hal ini Soekarno langsung mengatakan,

    “Go to Hell with Your Aid! Persetan dengan bantuanmu! lautan dollar tak akan dapat merebut hati kami” teriak Soekarno dalam buku Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat yang ditulis Cindy Adams.

  4. 2.Keluar dari PBB
    Figure terkait
    Jokowi
    Berita Jokowi
    Joko Widodo
    Berita Joko Widodo
    Merdeka.com – Indonesia pernah keluar dari keanggotaan Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB). Saat itu Indonesia sedang konfrontasi dengan Malaysia. Tetapi PBB malah mengangkat Malaysia menjadi anggota Dewan Keamanan PBB.

    Soekarno merasa PBB tidak akan netral membela Indonesia. Soekarno pun menyatakan sikap. Lebih baik terkucil daripada melihat ketidakadilan.

    Tahun 1964 Soekarno sudah memberikan ultimatum agar PBB lebih memihak nega-negara dunia ketiga, tetapi tak diindahkan. Maka sikap Soekarno tegas.

    Tanggal 7 Januari 1965 dalam rapat raksasa di hadapan puluhan ribu rakyat, Presiden Soekarno menyatakan Republik Indonesia keluar dari Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB).

  5. Figure terkait
    Jokowi
    Berita Jokowi
    Joko Widodo
    Berita Joko Widodo
    Merdeka.com – Dwight Eisenhower, presiden Amerika dibuat terperangah oleh Soekarno yang notabenenya cuma pemimpin negara baru. Saat kunjungan Soekarno ke Amerika pada tahun 1960.

    Soekarno merasa tersinggung pasalnya tidak seperti layaknya pemimpin negara lain, kedatangan Soekarno tak dijemput dan disambut Presiden Eisenhower. Kemarahan Soekarno memuncak ketika dia merasa dibiarkan menunggu berjam-jam oleh Eisenhower di gedung putih.

    “Aku bicara pada protokol apakah aku harus menunggu lebih lama lagi? bila demikian aku akan pergi sekarang juga. lalu orang itu pucat dan memohon untuk menunggu sebentar. Dia pun lari ke dalam, keluarlah Eisenhower,” jelas Soekarno dalam buku Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat yang ditulis Cindy Adams.

    Para pejabat AS pun kebingungan. Mereka sibuk meminta maaf dan meminta Soekarno tinggal. Eisenhower pun segera keluar menemui Soekarno. Pada pertemuan berikutnya, Eisenhower menjadi lebih ramah. Soekarno berani, padahal Eisenhower adalah Jenderal AS panglima perang dunia ke II yang membuat sekutu menang melawan Jerma

  6. 4.Tak mau jadi bangsa budak
    Figure terkait
    Jokowi
    Berita Jokowi
    Joko Widodo
    Berita Joko Widodo
    Merdeka.com – Kala itu, Bung Karno bercita-cita agar Indonesia menjadi bangsa yang berdiri di kaki sendiri atau berdikari. Indonesia tidak boleh menjadi budak bangsa lain. Karenanya, Indonesia pantang meminta-minta kepada negara lain.

    “Kita bangsa besar, kita bukan bangsa tempe. Kita tidak akan mengemis, kita tidak akan minta-minta apalagi jika bantuan-bantuan itu diembel-embeli dengan syarat ini syarat itu. Lebih baik makan gaplek tetapi merdeka, dari pada makan bistik tetapi budak,” kata Bung Karno saat berpidato pada HUT Proklamasi Kemerdekaan RI tahun 1963.

    Sikap anti-perbudakan yang dimiliki Bung Karno juga ditunjukkan dengan sikap anti-imperialisme. Bung Karno kala itu bahkan sudah memprediksi imperialisme akan berkembang menjadi neo-imperialisme di bidang ekonomi.

    Imperialisme adalah sebuah isme yang menghalalkan negara besar memegang kendali atas pemerintahan negara lain atau daerah. Salah satu akibat imperialisme di bidang ekonomi adalah negara besar pemilik modal akan semakin kaya dan menjadi pusat kekayaan sementara negara yang dikuasainya semakin miskin. Hal ini akan mengakibatkan negara tersebut menjadi budak negara besar dari segi ketergantungan ekonomi alias penjajahan gaya baru.

  7. 5.Tolak modal asing kuasai Indonesia
    Figure terkait
    Jokowi
    Berita Jokowi
    Joko Widodo
    Berita Joko Widodo
    Merdeka.com – Presiden Soekarno tahu kapitalisme pertambangan akan menerkam Indonesia bulat-bulat. Maka sejak awal Soekarno tak mau ada pemodal asing berkuasa. Dia menolak saat para pengusaha Amerika Serikat hendak membuka usaha tambang di Papua.

    Kekuasaan Soekarno berakhir setelah peristiwa 30 September. Jenderal Soeharto memulai rezim baru. Setelah dilantik, Soeharto segera meneken pengesahan Undang-undang Penanaman Modal Asing pada 1967. Freepot menjadi perusahaan asing pertama yang kontraknya ditandatangani Soeharto.

    Sejak itulah Freeport mengeruk kekayaan alam Papua.

    Berdasarkan laporan keuangan Freeport McMoran, total penjualan emas Freeport sebanyak 1,01 juta ons (31,6 ton) emas dan 3,6 miliar pon ( 1,8 juta ton) tembaga. Penjualan tembaga asal Indonesia menyumbang seperlima penjualan komoditas sejenis bagi perusahaan induknya.

    Laba Freeport naik sekitar 16 persen pada kuartal keempat tahun lalu menjadi USD 743 juta (Rp 7,2 triliun). Total pendapatan juga meningkat menjadi USD 4,51 miliar dari USD 4,16 miliar pada periode sama tahun sebelumnya.

    Ironisnya, Freeport hanya memberikan royalti satu persen dari hasil penjualan emas dan 3,75 persen masing-masing untuk tembaga dan perak. Kewajiban terbilang sangat rendah dibanding keuntungan diperoleh Freepo

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

sembrani

bertukar ide, melampaui mimpi bersama

Nurul Wirda

Semerbak Mawar yang dengan senang hati memancarkan Cahayanya

aawanto

The greatest WordPress.com site in all the land!

Covert Geopolitics

Beyond the Smoke & Mirrors

Catatan Harta Amanah Soekarno

as good as possible for as many as possible

Women Terrace

to say something that i never talk before

Kanzunqalam's Blog

AKAL tanpa WAHYU, akan berbuah, IMAN tanpa ILMU

Cahayapelangi

Cakrawala, menapaki kehidupan nusantara & dunia

religiku

hacking the religion

SANGKAN PARANING DUMADI

Just another WordPress.com site

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

%d blogger menyukai ini: