1 Komentar

SANG HYANG PATANJALA

SANG HYANG PATANJALA

LQ Hendrawan

by LQ Hendrawan on Monday, April 30, 2012 at 12:19pm ·
 Air Yang Menjadi Prinsip Kehidupan Bangsa Indonesia

Bumi Degha 28 April 2012

Sampurasun,

Masyarakat Jawa Barat mengenal istilah Sang Hyang Pantanjala dari keberadaan cerita Sri Maharaja Guru Resi Prabhu Sindu La Hyang (Sang Hyang Tamblegmeneng) sebagai Raja Kendan. Dalam cerita beliau memiliki 5 orang ‘anak’ yang dikenal sebagai “Panca Ku-Ci-Ka” yang terdiri dari :

-. Sang Hyang Nandiswara

-. Sang Hyang Garga

-. Sang Hyang Purusha

-. Sang Hyang Manisri

-. Sang Hyang Patanjala

Sesuai dengan cara, pola & gaya penyimpanan data yang dilakukan oleh para leluhur bangsa bentuk “personifikasi” atas Sang Hyang Patanjala kerap-kali dianggap sebagai sosok manusia secara biologis…padahal mungkin saja hal tersebut dikemudian hari menjadi “gelar kehormatan” terhadap seseorang, seperti yang diberikan kepada Sang Tritrusta Ra-Hyang Tarusbawa raja Sunda Sembawa.

Patanjala adalah landas pemikiran (konsep) mengenai pengelolaan air yang mucul dari sumber mata-air menuju sungai hingga bermuara di samudra. Hal ini tentu saja berkaitan erat  dengan persoalan 4 inti kehidupan mahluk di bumi (khususnya bagi manusia) : Api, Angin, Air, Tanah.

Pemikiran dalam Pikukuh Sunda mengenai “Ibu Agung / Ibu Pertiwi” rupanya bukan hanya slogan, sebab pada kenyataannya ibu / bumi ini benar-benar “hidup” (bernafas, bergerak dan tubuhnya dialiri berbagai unsur), jadi prinsip kerja tubuh bumi mirip dengan raga manusia atau setidaknya; kondisi bumi ditentukan oleh manusia dan juga sebaliknya kondisi manusia ditentukan oleh bumi (jagat alit – jagat agung).

Patanjala adalah urat-urat air yang mengaliri raga-tubuh Ibu Agung (bumi), dari hulu ke hilir dan kembali berulang, siklus tersebut telah terjadi sejak milyaran tahun yang lalu. Urat-urat bumi yang mengalir dari puncak-puncak gunung turun membawa berbagai mineral dan sari-pati makanan yang dibutuhkan oleh hewan, tumbuhan serta manusia, hingga kelak melahirkan berbagai “peradaban”.

Maka teori yang menyebutkan bahwa seluruh bangsa yang memiliki peradaban adi-luhung berawal dari sungai itu “benar”, seperti : Huang Ho & Yang Tse Kiang, Amazon & Misissipi, Gangga, Nil, Eufrat & Tigris, dsb. Namun demikian tentu semua perkembangan peradaban tersebut harus berlandas dan dipicu oleh ilmu pengetahuan yang luhur (kecerdasan, kebijakan & kebajikan), tanpa hal tersebut mustahil terbangun tatanan peradaban.

Patanjala secara mendasar terbagi dalam 3 kewilayahan yang sangat erat berkaitan dengan “gunung & hutannya”;

1. Wilayah Larangan – Hutan Larangan.

2. Wilayah Tutupan – Hutan Tutupan.

3. Wilayah Baladaheun – Hutan Baladaheun / Hutan Olahan (Perkebunan & Pertanian).

Ketiga wilayah ini harus dijaga dengan baik (terjaga “kesuciannya”), oleh sebab itu sering disebut sebagai “tanah suci” dan wilayah paling sakral (dikeramatkan) disebut sebagai “kabuyutan”(Wilayah Larangan) yang hanya boleh dimasuki oleh orang tertentu saja (*orang ‘suci’), pun jika terjadi kerusakan secara alami.

Maka dari itu setiap wilayah / tanah suci (Hutan Larangan) disebut sebagai Sa-Saka Domasyang ditandai oleh Arca Domas, dan seluruh kesatuan tanah suci disebut Sa-Loka Domas. Sayangnya pengertian istilah dalam suatu kewilayahan tersebut sudah semakin asing terdengar di telinga generasi sekarang sehingga banyak wilayah larangan rusak dan hancur dengan tidak semestinya.

Patanjala pada tubuh manusia setara dengan “aliran darah” yang mengalir dari sirah (hulu / kepala) hingga dampal (telapak kaki), tersumbatnya aliran darah karena ‘kotor / rusak’ dsb. tentu mengakibatkan masalah yang tidak diinginkan seperti “stroke, darah tinggi, jantung, kurang gizi, diabetes dll…dsb (*tanya sama dokter). Maka demikian pula hal nya aliran sungai pada tubuh bumi, jika terjadi “kerusakan” boleh jadi dampak yang ditimbulkan mirip dengan keadaan manusia yang bermasalah pada saluran darahnya… (*belum lagi soal mutu air). Karena manusia dan bumi merupakan dua unsur yang tidak terpisahkan maka; rusaknya lingkungan hidup (Tanah & Air) tentu akan menimbulkan dampak terhadap manusianya… dan proses kerusakan (kehancuran) tersebut sedang terjadi saat ini artinya; jika kita tidak segera berbuat sesuatu terhadap lingkung kehidupan maka sama dengan menunggu pemusnahan masal. (*setidaknya dampak itu akan dirasakan oleh generasi yang akan datang / anak-cucu).

Seluruh bangsa Indonesia yang senyatanya tinggal di Negeri Tirta Dewata ini selayaknya turut berperan serta dalam menyelaraskan kehidupan bagi Tanah & Air di masing-masing wilayah dan pada bidangnya masing-masing (*Perlu tindakan serentak dan bersama dalam memulihkan lingkungan). Turut menanam pohon, hemat air, menjaga kebersihan lingkungan, tidak membuat sampah (sampah kimia & plastik) dll, menghormati dan menjaga kabuyutan di masing-masing wilayah, sertamelakukan segala hal yang berguna bagi percepatan pemulihan tanah & air akan sangat membantu bagi kehidupan manusia sekarang dan yang kelak akan datang.

Patanjala adalah tubuh kita sendiri dan tubuh kita adalah bagian dari Ibu Agung, dalam Pikukuh Sunda mengatakan :

” Tanda-tanda negara subur makmur gemah ripah loh jinawi adalah jika air sungainya dapat langsung diminum”

” Tanda-tanda kebersihan hati-nurani suatu bangsa terukur dari kejernihan air sungainya”

***…air minum yang ada dihadapan kita, yang kita gunakan untuk mandi dan mencuci, air yang telah berjasa memberikan kehidupan kepada raga-tubuh kita sesungguhnya telah berumur jutaan tahun bahkan milyaran tahun… maka sangat wajar jika kita menghormatinya dengan sepenuh hati…

 

Pun Tabe Pun

Mugia Rahayu Sagung Dumadi. LQ Hendrawan

Iklan

One comment on “SANG HYANG PATANJALA

  1. nuhun ,mugia aya panambih kanggo pibekeleun saba ngurus pangauban.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Atlantis in the Java Sea

A scientific effort to match Plato’s narrative location for Atlantis

sembrani

bertukar ide, melampaui mimpi bersama

Nurul Wirda

0812-8267-9182

aawanto

The greatest WordPress.com site in all the land!

Covert Geopolitics

Beyond the Smoke & Mirrors

Catatan Harta Amanah Soekarno

as good as possible for as many as possible

Women Terrace

to say something that i never talk before

Kanzunqalam's Blog

AKAL tanpa WAHYU, akan berbuah, IMAN tanpa ILMU

Cahayapelangi

Cakrawala, menapaki kehidupan nusantara & dunia

religiku

hacking the religion

SANGKAN PARANING DUMADI

Just another WordPress.com site

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

%d blogger menyukai ini: