Tinggalkan komentar

Mari Gebuk Ular Kapitalisme !

(Materi Ini ialah Gagasan Pembanding pada Diskusi Panel yang Diselenggarakan oleh Global Future Institute dalam rangka Memperingati Revolusi Iran ke 32, Tanggal 17 Februari 2011, di  Wisma Dariah Building, Suite 402, Jln Iskandarsyah Raya No 7, Jakarta Selatan)


Prakata
BISMILLAAHIRRAHMAANIRRAHIIM.
ASSALAMUALAIKUM WR WB

Yth Ketua Penyelenggara Diskusi Panel, Bpk Moderator,
Yth Bpk Pembicara utama, yakni Profesor Jalaludin Rahmat, dan segenap hadirin peserta diskusi yang berbahagia,

Pertama dan utama sekali, marilah kita panjatkan puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas ridho serta rahmat-Nya, kita masih diberikan kesehatan dan kesempatan untuk hadir pada acara yang mulia ini yaitu Diskusi Panel dalam rangka Memperingati Revolusi Iran ke 32 dan Hikmahnya.

Tak lupa ucapan terimakasih kepada Mas Hendrajit selaku Direktur Eksekutif Global Future Institute, dimana telah mempercayai saya sebagai salah satu pembicara guna mendampingi pembicara utama dalam acara ini yakni Profesor Jalaludin Rahmat.

Bermula dari status di facebook berjudul “Menggebuk Ular Kapitalisme”, ketika dimuat di Website Global Review, tanggal 24 Desember 2010,  ternyata muncul tanggapan dari beberapa teman bahkan berasal dari manca negara (Malaysia dan Amerika Serikat). Dan agaknya, hari ini memaparkan ulang atas apa yang saya cetuskan dan melanjutkan diskusi yang belum usai di dunia maya.

Materi: Menggebuk Ular Kapitalisme

Bung Karno (BK) tidak menyamakan imperialisme dengan pemerintah kolonial. Ia bilang, imperialisme bukanlah pegawai pemerintah, bukan suatu pemerintahan, bukan kekuasaan — bukan pula pribadi atau organisasi apapun. Sebaliknya imperialisme adalah HASRAT BERKUASA yang terwujud dalam sebuah sistem yang memerintah atau mengatur ekonomi dan negara dan orang lain. Lebih dari sekedar suatu institusi, imperialisme merupakan kumpulan dari kekuatan-kekuatan yang kelihatan maupun yang tidak kelihatan. Kapitalis adalah suatu sistem ekonomi yang dikelola oleh sekelompok kecil pemilik modal yang tujuannya memaksimalkan keuntungan, dan kaum kapitalis tak segan-segan untuk mengeksploitasi orang lain.

Dan penjajahan, menurut Taqiyuddin An Nabhani, ialah metode baku kapitalis, maka yang berubah hanya cara dan sarananya!

Ya, BK telah mencermati kapitalisme dan anatominya secara praktis, rinci dan jitu sekira 60-an tahun lalu. Sehingga dari tesis tersebut, melahirkan teori-teori, dan bila dipararelkan dengan tesis An Nabhani maka teori tersebut ternyata cuma sekedar cara dan sarananya saja. Antara lain:

(1) Gonzalo Lira: Menyebut Era Anarkhi Korporasi. Dimana  korporasi tidak perlu mematuhi aturan apapun, sama sekali. Dan aturan yang menghalang akan diupayakan dengan segala cara (termasuk suap bila perlu) supaya bisa direvisi oleh parlemen dan pemerintah. Aturan legal, moral, etika, bahkan keuangan sama sekali tidak relevan bagi korporasi. Semua aturan itu telah dibatalkan demi profit. Satu-satunya yang perlu dipertimbangkan adalah profit. Tidak ada lain. Maka dengan semakin besar sebuah korporasi, semakin besar kebebasan yang dimilikinya untuk berbuat semaunya. Akibatnya banyak korporasi kelas kecil dan menengah terlindas karena tak sanggup bersaing dengan korporasi raksasa;

(2) Rosenau (1981): Menyebut Era Transnasionalisme. Yaitu suatu proses dimana hubungan internasional yang dilaksanakan pemerintah, telah disertai oleh hubungan individu, kelompok dan masyarakat swasta yang dapat memiliki konsekuensi-konsekuensi penting bagi berlangsungnya berbagai peristiwa, Secara detail, transnasional dianggap sebagai suatu masa atau era, dimana hubungan internasional tidak lagi didominasi oleh negara, sebab terdapat pemain lain yakni non negara yang turut memberi warna, bahkan (kemungkinan) lebih kuat “warna”-nya;

(3) John Perkins (2009): Menyebut sebagai Imperium. yakni sistem kekuasaan dipimpin penguasa atau raja yang memiliki kendali atas pemerintah dan media. Mereka tidak dipilih rakyat dan masa jabatannya tidak dibatasi hukum. Bergerak di wilayah antara bisnis dan pemerintahan, mendanai kampanye politik dan media. Dan mereka bisa “menguasai” siapapun yang terpilih dan mengendalikan informasi yang diterima oleh warga. Dan sudah barang tentu, ia bisa menempel pada tataran lokal, regional maupun global;

Itulah “wajah ular kapatalisme” yang dapat dipotret dari beberapa sisi, meski relatif masih banyak ujud lain yang tak terdeteksi — namun akibatnya dirasakan (kesengsaraan) oleh masyarakat. Akhirnya dapat ditarik kesimpulan sementara bahwa :
Keampuhan kapitalisme adalah kekuatan modal. Sehingga watak dasar yang melekat ialah akumulasi modal. Dengan demikian, sebagaimana dikatakan An-Nabhani, PENJAJAHAN MERUPAKAN METODE BAKU di setiap kiprahnya. Itu mutlak. Karena dimanapun dan sampai kapanpun kapitalis berada, niscaya bakal mencari bahan baku semurah-murahnya, lalu mengurai pasar seluas-luasnya”

Kaptalisme seperti ular yang hendak memangsa siapa saja di depannya. Kalau perlu menggunakan “penekanan”. Entah hard power atau soft power, itu sekedar retorika. Tatkala ada perubahan pola penerapan, barangkali cuma cara kemasan dan  sarana yang berbeda. Intinya sama: Menghisap sumber daya  baik alam maupun manusia guna kepentingan akumulasi modal — sebab kekuatan modal adalah puncak kesaktiannya!

Persoalannya kini ialah :”Bagaimana menggebuk ular kapitalisme di berbagai belahan dunia, ketika dari uraian sekilas di atas, kita telah mulai memahami anatominya?”

Semoga catatan diskusi di dunia maya dibawah ini mampu membuka ruang bagi diskusi selanjutnya, dalam rangka menarik hikmah pengalaman yang sudah ada.

Beberapa Tanggapan dan Diskusi di Dunia Maya

(1) Teguh Bujana, tinggal di Malang, Alumni HI Universitas Jember
Saya ingat ungkapan Raucek and Warren : “Political science is being study the human being state” (Yang dipelajari ilmu politik adalah kehidupan bernegara). Termasuk didalamnya adalah hubungan antar lembaga negara, hubungan antar negara/pemerintah dengan negara/pemerintah negara lain, hubungan antar negara dengan warga negara, hubungan antara warga negara dengan warga negara lain dst. Dari definisi diatas berkembang istilah politik menjadi politik ekonomi, politik perdagangan, strategi politik dsb. Mungkin hal yang paling mendekati adalah untuk mencapai suatu tujuan diperlukan suatu strategi politik yang dilandasi oleh faham yang mendasarinya (termasuk faham ekonomi) karena suatu faham akan diyakini kebenarannya sebagai pijakan kebijakan.

Kalau kita melihat sifat ular yang utama adalah ganas, berbisa, liar, mematikan dan buas terutama jika menyantap makanan ditelan habis-habis. Watak ganas, buas seperti itu, ular tidak bisa dilawan oleh kekuatan yang pas-pasan. Sebagai antisipasinya, ular jangan dikasih kesempatan untuk makan dan perlu dihindari dan perlu kita memperkuat diri kita (nasionalisme) agar kebal dan tahan terhadap keganasannya dan bisanya yang mematikan. Apabila terpaksa, kita bisa menyerang dengan cara hit and run.

Dan seperti yang kita ketahui ular segan dan menghindari musuhnya yaitu rajawali/elang/burung garuda. Dan garuda sudah ada di dada kita.Yang perlu diwaspadai adalah garuda harus tetap kuat baik prinsip dan tegas jagan sampai garuda menjadi lapar dan lemah.

(2) Hamid Ghozila, Swasta, Peminat Masalah Global, Berdomisili di Bandung
Yang jelas beberapa negara yang kebal terhadap “ular” itu sudah menerapkan “sistem” yang sedemikian rupa sehingga aman terhadap goncangan dan godaan dari arah manapun. Kalau sudah bicara sistem itu artinya sudah menyeluruh dari semua aspek berbangsa dan bernegara.

Ayo kawan, sudah saatnya kita GO INTERNASIONAL. Matahari – Bulan dan Bumi minggu ini berada dalam satu garis lurus. Intinya : Inilah saatnya KEBANGKITAN jati diri Bangsa Indonesia mulai berkoar di dunia Internasional.

(3) Mohammad Khusnan, Swasta, Tinggal di Solo – Jogjakarta

Sebetulnya Ular sebesar apapun “takut”-nya sama ribuan semut apalagi kalau semut Amazon yang makan dagingnya. Artinya Ular Kapitalisme itu harus dilawan dengan “armada SEMUT” alias KOPERASI yang ribuan jumlahnya. Jadi dia tak akan mempunyai PASAR, tak akan punya bahan baku. Lihat Koperasi di Hungaria, disana kapitalisme tak berkutik akhirnya bermitra SEJAJAR.

(4) Reki Navajo, Wartawan Media Online, Bandar Lampung
Selama oknum-oknum kapitalis masih memiliki peranan sebagai pengambil keputusan dalam sistem (ekonomi, pendidikan, budaya, dll) sebuah negara, maka penjajahan itu akan terus berlangsung. Sistem pemberdayaan SDM kita saja (baik yang konseptor dan pelaksana) sudah di dominasi kapitalis. Perlu peningkatan kesadaran dan perubahan paradigma berpikir dari SDM (konseptor, pengambil keputusan dan pelaksana). Cukup kompleks memang karena setiap sistem saling terkait, tapi saya percaya “puncak dari kesakitan, sejatinya adalah kesembuhan”.

(5) Miranti Serad, Pengusaha, Direktur PT Mitra Investasi Artaperdana (MIA), Tinggal di Jakarta.

Kita mustinya belajar dari Brazil, ketika diembargo, kekuatannya malah bertambah, lihat CVRD-nya dari produsi iron ore, baja, sampai produksi pesawat terbang, embraer, menjadi maskapai terkuat nomor tiga di dunia. Expatriatnya dari mana? Dar IPTN semua. Intinya adalah Maximizing Human Capital. Kita musti berani mengambil langkah. Memaksimalkan potensi “industri Indigeneous” dalam pembangunan Ekonomi Indonesia.

“Industri Indigenous” perannya penting, pemerintah perlu mendesain ulang kebijakan industrialisasi yang integral, dan harus mendukung berkembangnya industri indigenous menjadi “industri yang berkelas dunia”

Mengenai koperasi, kalau dipikir-pikir, Israel tidak lebih besar dari Jawa Barat — sistem koperasinya berjalan dengan baik, model “Kibutz”, menjadikan 1 desa mandiri, dari micro to megacorporation. Kenapa koperasi koperasi kita tdk bisa seperti itu, seharusnya mampu. FDI kita menurun, ekspor tumbuh lamban. Lalu bicara soal pajak, utang, dll jangan jauh-jauh, kalau 10 tahun hasil pendapatan (cukai) industri rokok kretek ditabung, Industri kretek bisa membayar hutang negara. Dan masyarakat bangga terhadap rokok kretek produk Indonesia. Rokok kretek kita terkena diskriminasi dan banyak aliran asing ke LSM dalam negeri. murnikah dana itu? Atau hanya terselip kepentingan industri Rokok Putih?

(6) Triono Akhmad Munib, Mahasiswa HI Universitas Jember
Capitalism is the new imperialism. Jika pada jaman dahulu, negara secara nyata disedot SDA maupun SDM-nya. example: Indonesia oleh Belanda selama 3,5 abad. Namun saat ini imperialisme telah berubah bentuk secara halus, rapi dan menarik bahkan masyarakat pun hampir tidak menyadarinya, example: KFC, Pizza Hut, Coca Cola, dll. Lebih rapi lagi ketika nilai-nilai kapitalis tersebut dbungkus dengan sistem globalisasi saat ini. Semakin kabur saja nilai dasar kapitalis yang busuk sebenarnya.

(7) Daniel S. Moskowitz, Warga Negara Amerika
Sebagian besar masyarakat di Amerika cenderung memuja kaum elit. Sehingga masyarakat Amerika pada hakekatnya mirip dengan bangsa Mesir kuno atau zaman kekaisarah Romawi.  Andaikata masyarakat awam Amerika tidak lagi perduli apa yang dilakukan oleh para elitnya, saya yakin akan tercipta suatu masyarakat Amerika yang jauh lebih berkeadilan. Sehingga pada perkembangannya kebijakan politik luar negerinya pun  akan bisa jauh lebih konstruktif dan mencerminkan kekuatan nyata masyarakat Amerika yang sebenarnya. Sayangnya, kecenderungan saat justru lebih mengkultuskan para elit nya sehingga Amerika masih tetap menjadi kekuatan daya rusak di muka bumi.

(8) Kazi Mahmood, Pemimpin Redaksi World Future Online, Malaysia
Sebagian besar menyadari sejatinya kapitalisme, namun pada prakteknya telah diterapkan secara meluas di negara-negara berpenduduk Muslim dalam kerangka kebijakan negara kesejahteraan atau yang popular dengan sebutan Welfare State policies. Satu cara yang ampuh untuk mencoba lepas dari jeratan kapitalisme adalah dengan menerapkan kebijakan nasionalisasi yang pada saat yang sama didukung oleh sistem anti monopoli yang cukup solid.

Berbagai negara yang menerapkan kebijakan anti kapitalis kemudian dianggap sebagai negara berhaluan sosialis. Namun yang hendak saya tegaskan di sini adalah, betapa sebagian besar negara-negara bangsa gagal untuk membendung gerak laju kapitalisme akibat watak dasar sistem kapitalisme yang selalu berhasil menciptakan masyarakat yang korup baik di kalangan pemerintahan/rejim maupun para penegak hukum pada khususnya.

Saya meyakini, dan saya kira juga anda semua, bahwa komitmen menerapkan nilai-nilai dan prinsip-prinsip Islam, khususnya di negara-negara berpenduduk muslim, dapat mengerem pertumbuhan kapitalisme. Sebagaimana yang saya tulis dalam buku saya berjudul : The Islamic Inc, penerapan Sistem Ekonomi Islam yang Sejati, akan berhasil membendung kapitalisme.

Karena di dalam prinsip-prinsip Islam di dalamnya melekat sebuah sistem ekonomi yang bertumpu pada kehendak bebas dan sekaligus komitmen mendukung kebijakan-kebijakan yang berbasis kesejahteraan bagi komunitas bisnis dan bagi rakyat banyak pada umumnya. Beberapa gagasan saya terkait isu ini bisa anda dalami lebih lanjut di http://wfol.tv/.

Simpulan (sementara) Diskusi dan Rekomendasi

A. Simpulan (sementara) Diskusi

Dari uraian di atas dapat dijelaskan bahwa kapitalis sebagai ideologi mempunyai ciri dan watak yang khas yaitu AKUMULASI MODAL, sehingga INTI dari pola dan methoda operasional ideologi tersebut cenderung:

(1) mencari bahan baku semurah-murahnya di berbagai belahan dunia; dan;

(2) mencari, mengurai dan menciptakan pasar seluas-luasnya dengan  dengan berbagai cara;

Dan sampai kapanpun, dimanapun — para pelaku kapitalisme akan mempertahankan pola dan methoda tadi, dan seandainya berubah (mungkin) cuma cara dan sarananya saja, oleh sebab MODAL merupakan tujuan sekaligus merupakan “puncak kesaktian” ideologi tersebut.

Yang sering terjadi, kita tidak meyadari perubahan pola dan metode gerakan kapitalisme global. Begitu halus serta canggih, sehingga lepas dari pengamatan sekeliling bahkan terkadang kita sendiri “terperangkap” lalu menganggapnya sebagai budaya bahkan gaya hidup dsb. Sungguh celaka.

Di atas telah digambarkan, cara itu dapat berupa konsep, seperti Era Anarkhie-nya Gonzalo Lira dengan dogma “too big too fail” (terlalu besar untuk jatuh), atau di Indonesia dikenal dengan istilah “dampak sistemik”. Lalu konsep Imperium-nya John Perkins dan Era Transnasioanl-nya Rosenau, dimana penggabungan dari teori Perkins dan Rosenau bisa dijelaskan bahwa dibenarkan aktor-aktor non negara bermain pada tataran global. Dalam praktek sehari-harinya aktor non negara tadi berupa Multinational Corporotions (MNCs), seperti korporasi-korporasi raksasa yang menggurita dan jaringan individual mengglobal — yang posisinya tak sekedar berdampingan dengan negera (beyond the state) tetapi juga di atas negara (above the state) – oleh karena mampu mempengaruhi suatu kebijakan pemerintah dan mengubah aturan negara (UU).

Ya, cara dan sarana dari methode penjajahan tersebut bisa masuk ke semua bidang garapan dengan berbagai perwujudannya. Misalnya pada keseharian melalui cita rasa dan gaya hidup kaum muda serta anak — dimana keberhasilan bisa dilihat dari indikasi ketika anak-anak lokal lebih menyukai pizza hut, coca-cola, mc donal daripada cendol, atau mendoan, pecel dan sebagainya. Pada panggung hiburan melalui tokoh kartun dan tokoh imajener lainnya, seperti Batman, Superman, Rambo, Popeye dan lain-lain, hingga lupa ada Si Pitung, Joko Umbaran, Joko Tingkir dan seterusnya.

Dan pada top level concept melalui ketata-negaraan via kerangka kebijakan yang diterapkan secara meluas, seperti teori welfare state policies (Kazi Mahood, Malaysia), melalui Volk Organization Company (VOC) – Otonomi Daerah – atau dengan tata cara demokrasi pilihan (coblosan) langsung, atau pada jajaran kelompok negara di sekitar Jalur Sutra adalah Provincial Reconstruction Team (PRT) yang mengatas-namakan gerakan rakyat, reformasi dan banyak lagi.

Di Indonesia, dalam tataran strategis para MNCs masuk melalui kebijakan, UU dan bahkan amandemen UUD 1945. Misalnya rencana kebijakan pemerintah mewajibkan pertamax pada kendaraan dan mobil tahun tertentu adalah indikasi adanya “intervensi” aktor non negara pada tataran pengambil kebijakan khususnya kelompok MNCs bidang perminyakan.

Yang mencolok ialah perubanan UU Penanaman Modal Asing (PMA), meski banyak yang lainnya. Di zaman Bung Karno (BK), pihak asing hanya boleh memliki saham 5 % saja. Akan tetapi tatkala BK lengser pihak asing boleh memliki saham 49 % (1968), bahkan sekarang ini asing sudah bisa memiliki saham hingga 95 %. Gila. Kalau merujuk pada pasal 33 UUD 1945 – itu sama dan sebangun dengan menjual isi negara kepada asing dengan tata cara konstitusional. Saya menyebutnya sebagai permainan biadab dilakukan dengan tata cara seolah-olah beradab!

Yang sangat menyakitkan lagi ialah “Gerakan Reformasi” yang awalnya berslogan memperbaiki laju bangsa ini ke depan, ternyata telah mengubah UUD.  Agaknya proses yang bergulir bukanlah amandemen, akan tetapi  MENGGANTI total. Walaupun hasilnya dikatakan oleh yang pro sebagai UUD 1945 hasil amandemen, tetapi faktanya oleh banyak pihak disebut bukan sebagai amandemen, tetapi penggantian UUD 1945 dengan UUD Baru tahun 2002.

Secara konkrit memang terjadi perubahan drastis. Jika struktur UUD 1945 asli terdiri atas : Pembukaan, Batang Tubuh dan Penjelasan. Akan tetapi hasil amandemen, hanya Pembukaan yang dipertahankan, sedang Batang Tubuh telah mengalami perubahan signifikan bahkan sistematiknya juga mengalami perubahan mendasar.

B. Rekomendasi

Merujuk pada judul dan uraian di atas, dapat direkomendasikan bahwa “menggebuk ular“ kapitalisme dengan berbagai ujud dan bentuk serta cara dan kemasannya. Maka sesuai pesanan Direktur Eksekutif GFI Bpk Hendrajit Idem, diusahakan upaya mematahkan tersebut versi Indonesia agar bisa dijadikan rujukan dan sumbangsih pemikiran pada negara dan bangsa yang terlanjur tergulung badai kapitalisme global.

Namun sebelum melangkah jauh mengurai cara dan teknik menggebuk kapitalisme, sebaiknya kita breakdown doeloe model KEMANDIRIAN ala Iran yang bisa dijadikan pondasi dan landasan. Mengapa demikian, oleh karena tanpa kemandirian, maka omong kosong suatu bangsa dan negara mampu mematahkan jaringan kapitalisme di dunia.

Ya, kemandirian atau independensi dalam rangka menghadapi kapitalisme merupakan kata kunci agar sebuah negara bangsa bisa menolak dari pengaruh dan cengkramannya. Akan tetapi kemandirian suatu bangsa, bukanlah ujug-ujug – menurut Hendrajit Idem (2010), ia bisa diraih melalui tiga pilar, antara lain :
(1) kuatnya independensi pemimpin bangsa,  (2) dukungan masyarakat terhadap pemimpinnya, dan (3) ketahanan nasional;

Mengapa Republik Islam Iran sebagai teladan, oleh sebab bangsa tersebut memiliki ketiga pilar di atas, dan ternyata mempunyai daya tahan melawan hegemoni dan embargo kapitalis AS selama sekian dekade, bahkan kini justru semakin banyak kemajuan di berbagai bidang. Sementara di lain pihak, apa yang dimiliki Iran — ada di Indonesia, tetapi hal-hal yang dimiliki Indonesia — banyak yang tidak ada di Iran. Tapi mengapa bangsa ini seperti tak bergeming dan diam seribu bahasa ketika berhadapan dengan jaringan ular kapitalisme. Retorikanya : Apakah Indonesia punya tiga pilar kemandirian sebagaimana diurai di atas?

Kemandirian bukanlah akhir, tapi sebatas pondasi dan landasan. Karena setelah tahap KEMANDIRAN dicapai seperti Iran, barulah kita melangkah kepada steps berikutnya yaitu mematahkan ular kapaitalis global. Atau bisa langkah-langkah tersebut dilakukan secara serempak dengan intensitas berbeda, artinya tanpa harus menunggu sempurnanya tahap kemandirian. Namun demikian, kemandirian suatu bangsa adalah mutlak dalam rangka mematahkan jerat-jerat kapitalis dengan berbagai modusnya.

(1) Tahap I : Hancurkan doeloe METODE-nya

Ada dua methode kapitalis yang lazim. Pertama, mencari bahan baku semurah-murahnya dan kedua, mengurai pasar seluas-luasnya. Hal ini bisa dimulai dengan memberdayakan KOPERASI, selaku soko guru perekonomian Indonesia yang kini cuma terngiang dengan maraknya berbagai instutisi-institusi modern di daerah. Jujur saja, bahwa lembaga koperasi seperti dianggap sejarah masa lalu bangsa ini. Setidaknya dengan maraknya koperasi-koperasi di nusantara niscaya bakal mempersempit ruang gerak methode kapitalis yang berintikan mencari bahan baku murah dan hasrat menciptakan pasar seluas-luasnya. Meski pada tahapan ini masih belm mampu menahan gerak laju korporasi raksasa sekelas Freeport, ExxonMobile, Chevron dan lain-lain yang bergerak di bidang minyak dan pertambangan.

(2) Tahap II : Lumpuhkan Man Power atau Tenaga Ahlinya.

Yang dimaksud man power atau tenaga ahli disini bukanlah jajaran think-thank (kelompok pemikir, konseptor dll) di belakang Top Manajemen, melainkan jajaran operator di belakang kelancaran methoda pada tahap I. Siapa mereka? Agaknya kita perlu menengok sebentar methode penjajahan negera kapitalis AS di dunia. Ya, metode favorit AS memang invasi milter — karena selain cepat menguasai daerah jajaran (meluasnya pasar), juga bisa mengeruk bahan baku sesuka hati. Tetapi semenjak invasinya di Iraq dan Afghanistan “terkendala” bahkan mengakibatkan menurunnya hegemoni dan krisis ekonomi negara yang berdampak pada krisis global – AS mulai mengubah penjajahan dengan menggunakan cara lama yaitu Provincial Reconstruction Team (PRT). Yaitu melalui provinsi atau tingkat nasional memberdayakan tokoh-tokoh masyarakat. (Baca tulisan saya di http://www.theglobal-review.com soal PRT). Agaknya inilah yang dimaksud dengan jaringan man power yakni para komprador atau antek-anteknya kapitalis yang mempunyai status sosial,  tetapi “power”-nya digunakan untuk menjual daerah bahkan negaranya sendiri. Istilah agak familiar untuk sebutan komprador kalangan akademis adalah pelacur-pelacur intelektual.

(3) Tahap III : Hancurkan dan Ganti Total Mesinnya.

Mesin yang dimaksudkan disini ialah sistem, organisasi, lembaga, perusahaan, parpol dan sebagainya yang berkiblat atau berorientasi pada kepentingan asing daripada kepentingan nasional. Jujur saja, bahwa banyak UU dan kebijakan pemerintah dan negara berpihak kepada mereka, sebagai contoh riil ialah perubahan UU PMA tentang kepemilikan saham asing sebagaimana diurai di atas, diduga adalah peran besar para korporasi raksasa yang beroperasi di Indonesia. Maka menghancurkan mesin mereka, kita dapat mencontoh apa yang terjadi di Kuba, Venezuela dan sebagainya – yaitu dengan menasionalisasi semua perusahaan asing yang mengeksploitasi hajat dan kepentingan orang banyak (rakyat).
Sekian – Terimakasih

)* Pemapar ialah Anggota Tim Riset di Global Future Institute, Jakarta, Indonesia

MAKALAH DISKUSI PANEL
“32 Tahun Revolusi Iran dan Hikmahnya bagi Indonesia dan Negara-negara Berkembang”

—————
M Arief Pranoto
Penulis adalah Research Associate Global Future Institute (GFI)

Sumber: The Global Review

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Atlantis in the Java Sea

A scientific effort to match Plato’s narrative location for Atlantis

sembrani

bertukar ide, melampaui mimpi bersama

Nurul Wirda

Semerbak Mawar yang dengan senang hati memancarkan Cahayanya

aawanto

The greatest WordPress.com site in all the land!

Covert Geopolitics

Beyond the Smoke & Mirrors

Catatan Harta Amanah Soekarno

as good as possible for as many as possible

Women Terrace

to say something that i never talk before

Kanzunqalam's Blog

AKAL tanpa WAHYU, akan berbuah, IMAN tanpa ILMU

Cahayapelangi

Cakrawala, menapaki kehidupan nusantara & dunia

religiku

hacking the religion

SANGKAN PARANING DUMADI

Just another WordPress.com site

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

%d blogger menyukai ini: