Sejarah Syiah (Bagian 1: Bab 1-4), Terjemahan Ahmad Y. Samantho

PENGANTAR

Dengan Nama Allah, Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang

Warisan tak ternilai dari Ahlulbait Nabi (a.s.), sebagaimana yang telah dilestarikan oleh para pengikutnya, merupakan aliran pemikiran komprehensif yang mencakup semua cabang ilmu Islam. Mazhab ini telah menghasilkan banyak ulama brilian yang telah mendapat inspirasi dari  sumber yang kaya dan murni. Mazhab ini juga telah memberikan banyak ulama kepada umat Islam yang mengikuti jejak langkah Ahlulbait Nabi (a.s.), mereka telah melakukan hal yang terbaik dalam membersihkan keraguan yang muncul dari berbagai keyakinan dan arus pemikiran dari dalam maupun dari luar masyarakat Muslim, dan menjawab berbagai persoalan mereka. Selama abad-abad  terakhir, mereka telah memberikan jawaban yang bernalar baik dan mengklarifikasi  persoalan dan keraguan ini.

Demi memenuhi tanggung jawab itu, Majelis Ahlulbait Dunia (ABWA) telah mulai  mempertahankan kesucian ajaran Islam dan kebenaran-kebenarannya yang sering dikaburkan oleh partisan berbagai sekte dan keyakinan, serta oleh berbagai aliran yang memusuhi Islam. Majelis mengikuti jejak langkah Ahlulbait (as) dan murid mazhab pemikiran mereka dalam kesiapannya untuk menghadapi berbagai tantangan ini dan mencoba untuk berada di garda terdepan dalam menyelaraskan kebutuhan berbagai usia.

Berbagai argumen yang terkandung dalam karya-karya Mazhab Ahlulbait (as), memiliki kepentingan yang unik. Hal ini karena kandungannya didasarkan pada sistem keilmuan yang asli dan mempunyai dalil, serta menghindari prasangka dan bias. Hal ini membuat para ulama dan pemikir dapat berargumen dengan cara yang mendatangkan pikiran yang sehat dan sifat manusia yang bermanfaat.

Untuk membantu para pencari kebenaran, Majelis Ahlulbait Dunia telah berupaya menyajikan sebuah fase baru argumentasi yang terkandung dalam studi dan penerjemahan karya-karya penulis kontemporer Syi’ah dan orang-orang yang telah menganut mazhab pemikiran yang luhur ini melalui berkah ilahi.

Majelis ini juga terlibat dalam pencetakan dan penerbitan karya-karya berharga dari ulama terkemuka Syi’ah dari masa sebelumnya, untuk membantu para pencari kebenaran dalam menemukan kebenaran yang telah ditawarkan Mazhab Ahlulbait (as) ke seluruh dunia.

Majelis Ahlul Bait Dunia berharap mendapatkan manfaat dari masukan pendapat para pembaca dan saran serta kritik yang membangun di bidang ini.

Kami juga mengundang para sarjana, penerjemah dan lembaga-lembaga lain untuk membantu kami dalam menyebarkan ajaran Islam yang murni seperti diwartakan oleh Nabi Muhammad (saw).

Kami memohon kepada Allah, Yang Mahatinggi, untuk menerima upaya kita yang rendah hati dan memungkinkan kita untuk meninggikan mereka di bawah naungan Imam al-Mahdi, Khalifah-Nya di bumi (afs).

Kami menyampaikan terima kasih kepada Hujjatul Islam wal Muslimin Syeikh Gulam Husain Muharrami, penulis buku ini,[1] dan Mansur Limba, penerjemahnya. Kami juga berterima kasih kepada rekan-rekan kami yang telah berpartisipasi dalam memproduksi karya ini, terutama staf Dinas Penerjemahan.

Departemen Urusan Budaya

Ahlul Bait (as) World Assembly

PENDAHULUAN

Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang

Segala puji bagi Allah Tuhan Semesta Alam, dan semoga salam dilimpahkan kepada junjungan kita Muhammad dan keluarganya yang suci, dan semoga laknat dilimpahkan kepada musuh-musuh mereka.

 Sejarah  Syi’ah Sebagai Sejarah Mazhab Yang Hidup dan Para Pejuang Pengikutnya

Sejarah Syi’ah (tasyayu’) tidak dapat dipisahkan dari sejarah Islam karena ia merupakan keberlanjutan dari Islam periode kenabian di bawah kepengurusan para khalifah Nabi Islam (saw) – yakni para anggota Ahlul Bait Nabi (a.s.). Lebih dari itu, asal usul istilah Syi’ah dapat ditelusuri kembali kepada Nabi Suci (saw) sendiri.

Inti awal Syi’ah terdiri dari para sahabat besar dan terkemuka dari Nabi Islam (Muhammad saw) yang berdasarkan perintah Nabi (saw), mereka percaya kepada kebijaksanaan kepemimpinan Ali bin Abi Thalib (a.s.) sepeninggal Nabi (saw).

Sepeninggal Nabi Muhammad saw, formasi pemilihan pemimpin di Saqifah dan suasana yang muncul dalam pemilihan khalifah, dalam jejak yang ditempuh kaum Syi’ah berbeda dalam sejarah. Ini karena Syi’ah menuntut kepemimpinan kepada Imam Ali dan tetap berada di sekitar para anggota Ahlul Bait Nabi (a.s.). Dengan  kesulitan abadi dan tantangan itu, mereka tidak meninggalkan cita-cita dan keyakinan mereka. Dengan demikian, mereka tetap menjaga jarak dari urusan pemerintahan yang tak sah, yang menyebabkan mereka menghadapi banyak permusuhan dan tindakan merugikan dari pemerintah saat itu. Meskipun perbedaan pandangan Syi’ah dengan pendukung khalifah de facto adalah, pertama pada persoalan kekhalifahan dan suksesi (pengganti kepemimpinan) Nabi (saw), mereka juga memohon kepada para Imam dari Ahlul Bait (as) – sebagai sumber mata air asli ilmu dan pengajaran Islam – sepeninggal Nabi (saw) untuk menjawab hal-hal yang berkaitan dengan prinsip-prinsip keyakinan (‘aqidah), yurisprudensi hukum (fiqh), hadits, tafsir, dan ilmu Islam lainnya. Seiring waktu, para imam menjadi lebih terkenal di bidang ini, dibandingkan dengan para pengikut khilafah de facto dan kecenderungan jalan intelektual dan budaya yang mengambil jalan  berbeda. Urusan ini sendiri memiliki efek yang menonjol dalam kecenderungan sejarah dan budaya di kaum Syi’ah, yang secara terus menerus melindunginya dari penyimpangan (tahrif) dan berbagai bentuk kemunduran lainnya.

Dalam cahaya kepatuhan terhadap Imam Ahlul Bait dari (as), kaum Syi’ah justru menjadi gudang ilmu pengetahuan Ahlul Bait dan menjadi pewaris spiritual mereka sepanjang sejarah. Budaya kaum Syi’ah selalu menjadi dinamis, subur, produktif, dan otentik yang gemilang, hingga bahkan beberapa lawan mereka telah mengakui fakta ini. Misalnya, Syam ad-Din Muhammad ad-Dahabi (lahir 748H), salah seorang ulama Ahlu-Sunnah terkemuka abad kedelapan (Hijriah) dan (dikenal sentimen anti-Syiahnya) dalam menggambarkan status Aban bin Thaglib, salah seorang murid terkemuka Imam Ja’far ash-Shadiq (a.s.)., dengan pahit mengakui fakta ini dan setelah menuduhnya sebagi pelaku “bid’ah dalam agama” (Syiahisme), akhirnya menyetujui dan memperkenalkan dia sebagai orang yang jujur​​, dan setelah itu beliau menulis:

Kecenderungan kepada  Syiah di antara pengikut kaum agamawan yang saleh dan jujur​​, dan para pengikut mereka, adalah banyak. Dalam kasus penolakan hadist yang mereka riwayatkan, menyebabkan sebagian besar karya-karya yang bersifat kenabian dan hadits akan hilang, dan kejahatan ini cukup serius.[1]

Di sisi lain, seperti mazhab (sekte) lainnya dan maktab (aliran) lainnya, Syi’ah, di sepanjang situasi yang tegang dalam sejarah dan pasang surut yang terjadi, juga tidak luput dari perpecahan internal, yang menimbulkan bahaya besar. Infiltrasi kaum ghulah[2] ke dalam barisan Syi’ah juga telah memperburuk petaka besar ini, terlepas dari adanya penolakan terhadap apa yang terdahulu oleh para Imam Syi’ah (a.s.).

Mengingat latar belakang ini, siapa pun dapat menebak tahap apa dan jalan apa yang akan dilalui kaum Syi’ah selama empat belas abad yang lampau dalam dunia dan lingkungan yang berbeda-beda.

Buku ini, suatu yang relatif komprehensif, tampilan yang anggun dan luwes pada  kenderungan  historis Syi’ahisme, adalah produk upaya tak kenal lelah dan merupakan studi seorang peneliti yang rajin, Hujjatul Islam Syeikh Muhammad Ghulam Husain, dan memiliki banyak manfaat yang lebih menonjol dibandingkan dengan karya-karya sejenis lainnya – yang jumlahnya sayangnya sedikit. Untungnya, kini mendapat perhatian dari pihak berwenang dan akan segera diterbitkan, setelah lulus (dengan nilai baik) sebagai tesis program master. Kami saat ini sedang menunggu karya-karya penting lainnya dari penulis ini.

Mahdi Pishva’i

Qum

Khordad 1380 AHS

Rabiul Awwal 1422 H

Mei-Juni 2001

————

[1]   Ghulam Husain Muharrami, Tarikh-e Tasyayu’ as Aghaz ta Payan-e Ghaybat-e Kubra (Qum: Imam Khomeini Educational and Research Institute, Spring 1382 AHS (2003), 279 pp.

[1]   Shams ad-Din Muhammad ibn Ahmad ad-Dahabi, Mizan al-I’tidal (Beirut, Dar al-Fikr), jld.1, hlm.4.

[2]   Ghulah (tunggalnya, ghali), adalah oang-orang yang menyatakan keimanan mereka kepada Islam tetapi berlebih-lebihan dalam kepercayaan mereka mengenai para nabi atau para Imam, yaitu orang-orang yang percaya bahwa seorang Imam adalah inkarnasi Tuhan. Ini bertentangan dengan asas akidah Islam bahwa Tuhan tidak berinkarnasi kepada siapa pun atau apa pun juga. (Penerjemah)

 

PELAJARAN KESATU

Dalam tulisan ini, saya tidak mengklaim mampu secara luas menelaah dan menganalisa segala sesuatu yang ada hubungannya dengan sejarah Syi’ah. Namun demikian, saya akan berusaha menggunakan referensi dan kutipan yang paling  penting, dan menghadirkan serta menganalisanya secara singkat. Karena ada banyak buku mengenai sejarah dan buku-buku tentang kehidupan para Imam Maksumin[1] (a.s.) dan juga buku-buku tentang hadits dan rijal[2], yang ada hubungannya dengan sejarah Syi’ah, saya membagi referensi-referensi yang berkenaan dengan Syi’ah menjadi dua bagian: (1) referensi khusus dan (2) referensi umum, yang akan kita telaah dalam dua bagian pelajaran.

Referensi Khusus

Dalam pelajaran ini, beberapa referensi mengenai sejarah ajaran Syi’ah telah dikutip. Referensi-referensi ini yang telah diperkenalkan dengan singkat adalah sebagai berikut:

  1. Maqatil al-Talibiyyin;
  2. Ad-Darajat ar-Rafi’ah fi Tabaqat asy-Syi’ah;
  3. A’yan asy-Syi’ah
  4. Tarikh asy-Syi’ah;
  5. Syi’ah dar Tarikh;
  6. Jihad asy-Syi’ah; dan
  7. Tarikh-e Tasyayu’ dar Iran az az Aghaz la Qarn-e Haftum-e Hijri.

1.Maqatil Al-Talibiyyin

Salah satu referensi paling penting yang berhubungan dengan sejrah ajaran Syi’ah adalah kitab Maqatil al-Talibiyyin. Penulisnya, Abul Faraj Ali ibn al-Husain al-Isfahani, lahir pada 284 H di kota Isfahan. Beliau dibesarkan di Bagdad dan dididik di bawah bimbingan para ulama dan kaum terpelajar di sana. Geneologinya dapat ditelusuri ke Bani Umayyah namun beliau adalah seorang Syi’ah (mazhab alawi).[3]

Sebagaimana ditunjukkan dalam judulnya, dengan pertolongan dan kehendak Allah, saya akan memberikan ringkasan reportase mengenai terbunuhnya para keturunan Abu Thalib dari zaman Rasulullah (saw) hingga saat ketika saya mulai menulis kitab ini pada Jumadil Awwal 313 H (Juli-Agustus 925). Ia meliputi orang-orang yang dibunuh dengan melalui makanan dan minuman beracun; orang-orang yang melarikan diri dari penguasa masa itu, bersembunyi di tempat lainnya dan mati di sana; dan orang-orang yang mati pada saat menderita di penjara. Dan dalam menyebutkan mereka, saya mencermati susunan kronologis kematian mereka dan bukan keberuntungan mereka….[4]

Kitab ini secara umum terbagi ke dalam dua bagian. Bagian pertama meliputi periode dari zaman Nabi (saw) sampai berdirinya kekhalifahan Abbasiyah, sementara bagian kedua meliptui periode Abbasiyah.

Meskipun kitab ini hanya berkisar pada kehidupan dan kesyahidan para syuhada di antara keturunan Abi Thalib, termasuk kehidupan para Imam (a.s.), para pemimpin dan tokoh-tokoh terkemudian yang syahid di antara kaum Alawi (keturunan Ali (as) dan para pengikut mereka msing-masing, sebagian dari sejarah Syi’ah dapat diambil dari setiap bagian darinya. Tentunya karena kitab ini lebih berkaitan dengan sejarah politik paham/ajaran Syi’ah, kitab ini kurang bermanfaat jika dibandingkan dengan aspek-aspek lainnya mengenai sejarah ajaran Syi’ah.

2.Ad-Darajat ar-Rafi’ah fi Tabaqat asy-Syi’ah

Penulis kitab ini adalah Sayyid Ali Khan Sirazi yang lahir pada 5 Jumadil Awwal, 1052 H (2 Agustus 1642) di kota suci Medinah di mana beliau dididik di sana. Pada 1068 (1657-8) beliau hijrah ke Hydarabad, India, di mana beliau tinggal selama 48 tahun. Kemudian beliau pergi ke Masyhad, Iran, untuk berziarah ke makam Imam Ridho (a.s.) Selama Pemerintahan Syah Sultan Husain Safawi, beliau pergi ke Isfahan pada 1117 H (1705-6), di sana beliau tinggal selama dua tahun. Setelah itu beliau pergi lagi ke Siraz dan mengikuti pendidikan agama dan manajemen kota.[5]

Kitab Ad-Darajat ar-Rafi’ah fi Tabaqat asy-Syi’ah merupakan salah satu karya ulama Syi’ah papan atas. Meskipun kandungan kitab ini adalah sebuah deskripsi mengenai kondisi Syi’ah dan sejarah mereka, sejarah umum Syi’ahisme juga dapat diambil darinya atas dasar dua alasan. Alasan pertama adalah bahwa kitab ini merupakan telaah mengenai kondisi kaum Syi’ah pada periode dan tempat yang berbeda-beda, sementara alasan lainnya adalah bahwa penulisnya sendiri secara ringkas meliput sejarah Syi’ahisme terutama selama periode tekanan Bani Umayyah. Beliau mengatakan dalam pendahuluannya:

Sadarilah bahwa – semoga Tuhan merahmati anda – dalam setiap zaman dan periode, Syi’ah Amirul Mukminin (a.s.) dan para Imam lainnya (a.s.) di antara keturunan beliau bersembunyi di sudut dan celah, menjauh dari perhatian para penguasa….[6]

Maka, beliau menggambarkan permulaan dari penindasan zaman dinasti Umayyah hingga periode dinasti Abbasiyah.

Kitab ini, sebagaimana dicatat oleh penulis dalam pendahuluannya, disusun dalam 12 bagian. Yakni, beliau menggolongkannya dan kemudian meninjau Syi’ah ke dalam 12 golongan berikutnya: (1) As-Sahabah (Sahabat Nabi (saw); (2) At-Tabi’in (Para Pengikut)[7]; (3) Al-Muhaddits  Alladhi rawii ‘an al-A’immah ath-Thahirin (Para ulama hadits yang meriwayatkan hadits-hadits dari para Imam Suci), (4) Ulama ad-Din (Ulama agama), (5) Al-Hukama wal Mutakallimin (Para Filosof dan Teolog Skolastik), (6) Ulama Al-Arabiyah (Ulama Bahasa Arab), (7) As-Sadah as-Sawfiyah (Orang Awam); (8) Al-Muluk was Salatin (Raja-raja dan Sultan); (9) Al-Umara’ (Para Penguasa); (10) Al-Wasara’ (Para wazir dan Menteri); (11) Asy-Syu’ara (Para Penyair); (12) An-Nisa’ (Kaum Wanita).

Apa yang tersedia begitu jauh dari referensi yang berharga ini adalah golongan pertama, yaitu golongan dari para sahabat dalam bentuk lengkap, bagian dari golongan keempat dan sebagian kecil dari golongan ke-11.

Kitab ini dianggap sebagai referensi paling penting mengenai masalah ajaran Syi’ah di antara para Sahabat dan dalam hal ini, kitab ini juga memiliki makna yang luas. Penulis kitab ini mampu menyusun berbagai pandangan dan pendapat para ulama Syi’ah dan para biografer (rijalliyin) mengenai Syi’ah di antara para Sahabat, dan oleh karenanya, beliau tidak terlalu jauh dalam mengungkapkan berbagai pandangannya, pendapatnya, analisanya dan penyelidikannya sendiri.

3.A’yan Asy-Syi’ah

Penulis kitab yang unik ini adalah seorang ulama dan peneliti besar Syi’ah, almarhum Sayyid Muhsin Amin. Kitab A’yan Asy-Syi’ah, sebagaimana tersirat dalam judulnya, merupakan sebuah kitab mengenai kehidupan dan deskripsi tentang tokoh-tokoh Syi’ah terkemudian. Kitab ini memiliki tiga pendahuluan. Pendahuluan pertama menjelaskan metode penulisan penulis. Pendahuluan dimulai dengan: “Dalam memulai metode saya dalam kitab ini adalah sebagai berikut…” dan setelah itu menjelaskan secara rinci dalam 14 bagian metode penulisannya.

Pendahuluan kedua, sementara itu, adalah mengenai sejarah umum ajaran Syi’ah, yang terdiri dari 12 pembahasan. Pendahuluan ketiga berkenaan dengan referensi-referensi dan para pakar penulis yang digunakan dalam kitab ini.

Pembahasan 1: Arti dan konotasi dari kata Syi’ah; terminology lain Syi’ah; mengkritik pandangan para penulis Ahlus Sunnah mengenai sekte-sekte Syi’ah.

Pembahasan 2: Munculnya Syi’ah dan penyebarannya; Syi’ah di antara para sahabat; Para Sahabat Syi’ah; Pertumbuhan Syi’ah.

Pembahasan 3: Pokok-pokok terhadap beberapa penindasan terhadap Ahlul Bait dan Syi’ah mereka.

Pembahasan 4: Perlakuan zalim  terhadap Syi’ah Ahlul Bait (as).

Pembahasan 5: Serangan tak henti-henti terhadap Ahlul Bait (as).

Pembahasan 6: Banyaknya fitnah terhadap Syi’ah dan ringkasan tentang akidah Syi’ah Ja’fari Itsna Asy’ariyyah.

Pembahasan 7: Faktor-faktor di balik berkembangnya faham Syi’ah di negeri-negeri Muslim.

Pembahasan 8: Kebajikan Ahlul Bait (as) dan pelayanan mereka kepada Islam.

Pembahasan 9: Tentang akidah Syi’ah Imamiyah.

Pembahasan 10: Mengenai ulama Syi’ah, penyair, para pencatat dan penulis serta karya-karya mereka.

Pembahasan 11: Wazir dan menteri, penguasa, hakim dan para sesepuh di antara kaum Syi’ah.

Pembahasan 12: Penyebutan satu per satu kota-kota yang berpenduduk Syi’ah..[8]Tentunya di luar tanggungjawab kami untuk berbicara tentang pentingnya, reputasi dan nilai dari kitab ini. A’yan asy-Syi’ah, layaknya sebuah samudera ilmu sejarah dan informasi yang tidak dapat kita ukur, kuasai, atau takar. Namun kita dapat memanfaatkannya sesuai dengan kadar kemampuan kita. Pengucapan tulisan, kedalaman subyek, pendekatan subyek, susunan topik, penataan logika, dan yang sepertinya, berada di antara hal-hal yang bermanfaat.

Berkenaan dengan pokok-pokok kupasan yang dapat dibuat terhadapnya, masalah-masalah sekunder mungkin tersirat sebagai berikut:

Mengenai pembahasan istilah lain bagi Syi’ah, disebutkan dengan sangat singkat dan hanya nama-nama saja seperti Imamiyah, Muta’awwalah, Qizibasy, Rafidiyah, Ja’fariyah, dan Khassah, disebutkan satu per satuu[9] sedangkan nama-nama yang digunakan kepada Syi’ah lebih dari ini. Hanya dalam abad pertama Hijriah label-label seperti Alawi, Turabi, Husaini, dll., digunakan kepada Syi’ah.

Kupasan lain yang dapat dibuat berkaitan dengan kitab ini sehubungan dengan arti Syi’ah. Para penulis rijal yang Syi’ah, tidak memandang sebagai Syi’ah beberapa orang yang beliau anggap sebagai Syi’ah karena meskipun orang-orang ini adalah Syi’ah dalam pengertian politik, mereka tidak dapat dianggap sebagai Syi’ah dalam pengertian ideologis. Dapat dikatakan bahwa dalam pertikaian politik mereka berada di pihak Ahlul Bait (as), tetapi dalam ruanglingkup akidah, mereka tidak mengambil dari sumber asli ilmu Ahlul Bait (as). Bagian bab yang terpisah dianggap sebagai pembagian dari pembahasan ini, dan pada bagian awal harus dinyatakan kepada siapa label Syi’ah disematkan.

4. Tarikh asy-Syi’ah

Kitab Tarikh asy-Syi’ah, ditulis oleh almarhum Allamah Syeikh Muhammad Husain Muzaffar, adalah salah satu referensi dan pakar penting mengenai sejarah Syi’ah. Kitab ini dicetak ulang berkali-kali, telah diterjemahkan ke dalam bahasa Persia oleh Prof. Sayyid Muhammad Baqir Hujjati. Mendiang Muzaffar meninjau dan membahas dalam 82 bagian sejarah Syi’ahisme dari zaman Nabi (saw) sampai pada masanya sendiri, Secara umum, topik-topik dari kitab ini dapat diringkas dalam tiga bagian: (1) Periode-periode berkembangnya Syi’ahisme, (2) Tempat-tempat berpenduduk Syi’ah, dan (3) Pemerintahan-pemerintahan Syi’ah.

Almarhum Muzaffar menjadi seorang penulis yang handal dan seorang ulama terpelajar yang penanya terampil dan mengalir, dan memiliki kekuatan dan keteguhan yang diperlukan.

Salah satu yang paling bermanfaat dari kitab Tarikh asy-Syi’ah ini adalah keluasannya dalam meninjau kehadiran Syi’ah di seluruh belahan dunia. Kitab ini dapat menjadi salah satu referensi dan pakar paling penting bagi para peneliti yang bergelut dengan sejarah Syi’ahisme dalam setiap periode dan zaman.

Terlepas dari semua manfaat yang ada dalam kitab Tarikh asy-Syiah ini, kitab ini sangat dibutuhkan, namun secara singkat, ia gagal dalam menyajikan kebenaran mutlak kecuali dalam topik-topik seperti makna Syi’ah, zaman tertentu ketika label Syi’ah ditujukan kepada simpatisan Ahlul Bait (a.s.), awal Syi’ahisme dan penyebaran Syi’ahisme, yang berkaitan dengan diskusi utama tentang Syi’ah. Dalam hal ini, beliau terlibat dalam memberikan laporan lengkap, yang sesuai dengan subjek. Almarhum Muzaffar kemudian b erkata dalam pengantar buku ini:

“Saya tidak memiliki tujuan lain selain memberitahukan bahwa Syi’ahisme dimulai pada zaman Penerima Risalah (Muhammad al-Mustafa (saw​​), dan orang-orang Iran serta Ibnu Saba ‘tidak punya peran dalam menemukannya.”

Kekurangan lainnya dari kitab ini yang dapat disebutkan adalah kurangnya karakter keulamaan. Oleh karena tinjauannya yang singkat, penulis yang mulia, telah gagal mengutip dan menganalisa berbagai pandangan yang lain.

Bagian-bagian lain dari kitab ini bergelut dengan pembetukan negara-negara Muslim yang dianggap telah sempurna. Dengan berlalunya waktu, perubahan-perubahan dan perkembangan utama di negeri-negeri Syi’ah terjadi pembahasan dan beberapa darinya tidak bertahan, namun penerjemah yang mulia dari kitab ini tidak membahas beberapa negeri baru dan tidak melakukan penelitian mutakhir. Akibatnya, kitab ini telah diterjemahkan dalam bentuk berupa bagian-bagian yang bersoalan dengan negeri-negeri Syi’ah sehingga menimbulkan kesan kuno.

5.Syi’ah dar Tarikh

Kitab Asy-Syi’ah fi Tarikh (Shi’eh dar Tarikh), ditulis oleh Muhammad Husain Zain Amili, telah diterjemahkan ke dalam bahasa Persia oleh Muhammad Ridha Ata’i dan diterbitkan oleh Astan-e Quds-e Radawi (Pengurus Makam Imam Suci Imam ar-Ridha). Sebagai salah satu pakar tentang sejarah Syi’ah, buku ini terdiri dari lima bab dan bagian penutup:

Bab pertama adalah tentang makna konsep, latar belakang, dan ringkasan dari akidah Syi’ah.

Bab kedua berkaitan dengan sekte dan kelompok yang telah dipisahkan dari Syi’ah.

Bab ketiga meliputi sejarah sepeninggal Nabi (saw) sampai dengan kesyahidan Imam al-Husain (a.s.) dan analisis peristiwa dan kejadian-kejadian selama periode tersebut.

Bab keempat adalah tentang posisi Syi’ah selama masa khalifah Umayyah dan Abbasiyah.

Bab kelima berkenaan dengan penyangkalan Syi’ah (bara’ah) atas sikap berlebihan (ghulu) dan kaum ghulah (kaum yang berlebihan).

Kitab Shi’eh dar Tarikh merupakan sebuah otoritas yang baik mengenai perpecahan di dalam Syi’ah, terutama menganalisa berbagai faktor di balik perpecahan kelompok-kelompok dan sekte-sekte Syi’ah.

Sebagai sebuah buku tentang sejarah Syi’ahisme, buku ini tidak meliput semua topik dan subyek yang berkaitan dengan Syi’ah. Ini karena sekali-sekali pembahasan menyimpang dari subyek Syi’ahisme, meliput subyek seperti mengenai Kaum Khawarijj[10]an sejarah kekhalifahan, yang tidak relevan dengan sejarah Syi’ahisme.

6.Jihad asy-Syi’ah

Referensi lain mengenai sejarah Syi’ah adalah kitab Jihad asy-Syiah (meskipun fokus utamanya adalah berbagai perjuangan dan gerakan bersenjata kaum Syi’ah). Kitab ini ditulis oleh Dr. Samirah Mukhtar al-Laythi, professor universitas di ‘Ain Syams University, Mesir. The Beirut-based Dar al-Jayl sebagai penerbit menerbitkan Jihad asy-Syi’ah pada 1396 H atau tahun 1976 dengan 424 halaman, berukuran 16,2 x 22,9 cm, dan berhard-cover. Setelah pendahuluan, kitab ini telah disusun ke dalam 5 bagian berikut penutup, dan subyeknya adalah jihad kaum Syi’h. Buku ini meninjau dan membahas subyek ini kira-kira hingga akhir abad kedua hijriah. Dengan kata lain, penulis kitab, di satu pihak, berbicara tentang berbagai perjuangan dan gerakan bersenjata Syi’ah melawan Abbasiyah, menyatakan kebangkitan kaum Alawidan berbagai faktor bagi kekalahan mereka, serta membahas peranan gerakan-gerakan Syi’ah dan sekte-sektenya dalam arus sosio-politik serta berbagai kondisi pada periode itu. Pada sisi lain, ia juga menganalisa kebijakan para khalifah terhadap para Imam (a.s.) dan kaum Syi’ah. Berbagai topik tentang sejarah umum Syi’ah dibahas dalam seksi tertentu dari bagian pertamanya yang meliputi topik-topik seperti: Syi’ah dalam kamus; konsep Syi’ah; sejarah munculnya Syi’ah; Jihad kaum Syi’ah di Irak; munculnya sekte Syi’ah; dan Syi’ah Imamiyah. Dalam membahas munculnya Syi’ah ia mengajukan berbagai macam pandangan dan pendapat mengenai sejarah Syi’ah.

Satu masalah yang dapat dikutip berkenaan dengan kitab ini adalah dalam menguraikan “teori politk” pra Imam Suci (a.s.) penulis telah menggambarkannya sebagai “Para Imam sekte Imamiyah.” Sebagai seorang penulis yang bukan Syi’ah, ia telah gagal membedakan dan menjelaskan fondasi pemikiran politik para Imam (a.s.). Oleh karenanya, ia menggambarkan landasan dari Imamah bagi Imam al-Husain (a.s.) sebagai Imamah spiritual dan intelektual, memandang metode mereka berbeda dari metode Amirul Mukminin Imam Hasan dan Imam Husain (a.s.)..

[11]7.Tarikh-e Tasyayyu’ dar Iran az Aghaz ta Qarn-e Haftum-e Hijri

Penulis kitab ini, Rasul Ja’fariyan, termasuk di antara para peneliti Pusat Teologi Islam di Qum. Kitab ini merupakan kitab penelitian yang baik dan istimewa dalam bidangnya, dan adalah salah satu tulisan dan karya sastera terbaik dari penulisnya. Ia juga menjadi salah satu referensi penelitian paling penting mengenai sejarah Syi’ahisme. Kitab ini memiliki informasi dan data sejarah berharga, sehingga buku ini sangat dibutuhkan seorang peneliti dalam menelaah sejarah Syi’ahisme. Di antara manfaat dari kitab ini adalah kaya akan kandungannya. Jika ada kekurangannya, hanyalah menyangkut bentuk dan tampilannya. Misalnya, catatan kaki tidak dicetak dalam cara yang standard dan tehnis. Kekurangan lainnya adalah beberapa subyek seperti kritik atas referensi digunakan dalam buku yang dimasukkan ke dalam subyek-subyek utama, yang menimbulkan kebingungan kepada para pembaca. Tentu saja, akan lebih baik untuk membahasnya dalam bab terpisah dengan kepala judul yang sama, atau setidaknya, mereka harus disebutkan dalam catatan kaki sehingga tidak mengacaukan subyek utamanya.

Pelajaran Kesatu: Ringkasan

Semua kitab sejarah dapat menjadi referensi-referensi yang baik bagi peneliti mengenai sejarah Syi’ahisme. Di antara referensi khusus mengenai sejarah Syi’ahisme adalah sebagai berikut:

1.Maqatil Al-Talibiyyin – mengenai kehidupan keturunan Abu Thalib (Thalibiyyin) yang dibunuh oleh para tiran pada masa mereka masing-masing.

2.Ad-Darajat ar-Rafi’ah fi Tabaqat asy-Syi’ah – sejarah Syi’ah dan bukan sejarah Syi’ahisme, tetapi sebagian dari sejarah Syi’ahisme dapat dipelajari dari tinjauannya atas berbagai kondisi kaum Syi’ah dan juga dari pendahuluannya.

3.A’yan Asy-Syi’ah. Meskipun kitab ini mengenai berbagai kondisi kaum Syi’ah, pendahuluan keduanya mengenai sejarah umum Syi’ahisme.

4. Tarikh asy-Syi’ah.Kitab ini meninjau berbagai periode penyebaran Syi’ah, tempat-tempat berpenduduk Syi’ah, dan negeri-negeri Syi’ah.” (Almarhum Muzaffar)

5.Syi’ah dar Tarikh.Kitab ini menjelaskan makna dan konsep Syi’ah, ajaran-ajaran Syi’ah dan sekte-sektenya.” (Muhammad Husain Zainul Amili)

6.Jihad asy-Syi’ah. Meninjau kebangkitan Syi’ah sampai akhir abad kedua hijriah.

7.Tarikh-e Tasyayyu’ dar Iran az Aghaz ta Qarn-e Haftum-e Hijri. Kitab ini mengandung informasi yang berharga mengenai sejarah Syi’ahisme di Iran, tidak ada peneliti yang tidak membutuhkannya.

Pelajaran Kesatu: Pertanyaan

  1. Berapa jenis referensi untuk meneliti sejarah Syi’ahisme?
  2. Apa subyek dari kitab Maqatil at-Thalibiyyin?
  3. Berikan gambaran singkat mengenai kitab, ad-Darajat ar-Rafi’ah fi Thabaqat asy-Syiah?
  4. Apa hubungan antara kitab A’yan asy-Syi’ah dengan sejarah Syi’ahisme?

PELAJARAN KEDUA

Referensi Umum

Setelah melalui tinjuan umum atas beberapa referensi khusus tentang sejarah Syi’ahisme, kita akan meninjau referensi-referensi umum bagi sejarah ini. Referensi-referensi umum akan berkaitan dengan subyek-subyek sebagai berikut:

  1. Tarikh-e Ummi (Sejarah Umum).;
  2. Zandeginameh-ye Imaman (as) [Biografi para Imams (as)];
  3. Kitab=ha-ye Fitan va Hurub [Kitab tentang Pemberontakan dan Perang];
  4. Kitab-ha-ye Rijal va Tbaqat (Kitab tentang Rijal dan Penggolongan];
  5. Kitab-ha-ye Jughrafiya [Kitab tentang Geografi];
  6. Kitab-ha-ye Akhbar [Kitab tentang Periwayatan]
  7. Kitab-ha-ye Nasab [Kitab tentang Genealogi]
  8. Kitab-ha-ye Hadits [Kitab tentang Hadits]; dan
  9. Kitab-ha-ye Milal va Nihal [Kitab tentang Bangsa-bangsa dan Agama-agama]

1.Sejarah Umum

Dalam tinjauan kitab sejarah Syi’ahisme ini, kitab yang paling luas yang berhubungan dengan sejarah umum abad pertama hijriah dan sejarah kekhalifahan, seperti Tarikh al-Ya’qubi, Murawijj adh-Dhahab, Tarikh ath-Thabari, Al-Kamil fi’I Tarikh, Al-Abr, Al-Imamah was Siyasah, Tarikh al-Khilafa’, Syarh Nahjul Balaghah karya Ibn Abil Hadid, bahkan termasuk penelitian analitis sejarah dan kitab-kitab yang ditulis oleh para penulis kontemporer. Di antara kitab-kitab sejarah umum, saya menggunakan Tarikh al-Ya’qubi dan Murawij ad-Dahab secara mendalam. Dalam dua kitab ini, beberapa peristiwa dan kejadian sejarah telah dicatat secara adil tanpa dipisah-pisah dan tanpa adanya usaha untuk menyembunyikan kebenaran. Ya’qubi telah mengungkapkan dengan rinci penentangan para Sahabat Nabi (saw) dengan khalifah Abu Bakar, mengecam pengelompokan-pengelompokan sepeninggal Nabi (saw)..[12]eliau memulainya sejauh mungkin, dengan menyebutkan peristiwa-peristiwa yang relevan dengan sejarah Syi’ah seperti pada pemerintahan Amirul Mukminin (a.s.)),[13]Sikap Damai Imam al-Hasann[14]a.s.), kesyahidan Hujr bin al-Addii,[15]Amru ibn Hamqq,[16]dan kesyahidan Imam al-Husainn[17]a.s.), lebih kurang menghadirkan kebenaran atas masalah.

Mas’udi juga berada di antara para sejarawan yang tidak memiliki niat menyembunyikan kebenaran. Meskipun beliau hanya sekedar melewatkan peristiwa Saqifah dalam kitab Murawij d-Dhahab dan al-Tanbiyyah wal Asyraf, namun demikian beliau menyebutkan berbagai perbedaan Para Sahabat dan penolakan Bani Hasyim untuk berbaiat kepada Abu Bakar..[18]alam bagian lain dari buku pertama, Mas’udi menulis persoalan Fadakk[19]an membahas dengan detail berbagai peristiwa yang terjadi selama kekhalifahan Amirul Mukminin (a.s.) dan kesyahidan Imam al-Hasan (a.s.)).[20]Beiau menyebutkan nama-nama kaum Syi’ah dan suku-suku mereka dan juga musuh-musuh Ahlul Bait (a.s.) dalam bermacam bagian dalam Murawij ad-Dahab..[21]uga, dalam tahun-tahun sepeninggal para Imam (a.s.), beliau memberikan riwayat hidup singkat mereka..[22]eliau secara khusus merinci kebangkitan kaum Alawi selama abad kedua hijriah..[23]

2.Biografi Para Imam (a.s.)

Di antara kitab-kitab yang relevan dengan kehidupan para Imam (a.s.), kitab Al-Irsyad karya Syeikh Mufid dan Tadkhirah al-Khawas karya Ibn al-Jawzi menduduki tempat khusus. AlIrsyad merupakan otoritas referensi Syi’ah pertama dan paling penting menyangkut dua belas Imam (a.s.). Melihat fakta bahwa sebagian kehidupan Ali (a.s.) juga meliputi kehidupan Nabi (saw), kisah hidup dan sirah Nabi (saw) juga dimasukkan ke dalam kitab ini, terutama berbagai peperangannya di semua wilayah yang menyertakan Ali (a.s.), dengan pengecualian perang Tabuk. Mengenai kitab ini, dapat dikatakan bahwa tidak ada peneliti mengenai sejarah Syi’ahisme dan biografi para Imam Maksumin (a.s.) yang tidak membutuhkannya.

Tadrikhah al-Khawas karya al-Jawzi menduduki tempat penting dan khusus dalam pengertian bahwa biografi para Imam Syi’ah (a.s.) telah diungkapkan melalui bahasa Hanafi dan seorang non-Syi’ah, tetapi tidak ada semacam pengalpaan kebenaran dan penyembunyian kenyataan yang telah terjadi.

3.Kitab tentang Pemberontakan dan Perang

Referensi ini berkecimpung terutama dengan perang yang memiliki kepentingan besar dalam historiografi Muslm. Waq’ah as-Shiffin karya Nashr bin Mazahim al-Munqari (lahir 212 H), yang berkaitan dengan peristiwa dan konfrontasi di Siffin, dapat dianggap sebagai yang tertua di antara kitab-kitab ini. Kitab ini berisi informasi yang berharga mengenai korespondensi antara Ali (a.s.) dan Muawiyah serta berbagai khotbah dan pidato beliau. Informasi berharga mengenai pendapat para sahabat Nabi (saw) tentang Ali dan pengaruh Syi’ahisme di antara suku-suku yang berbeda dapat diperoleh dari bagian yang berbeda dari kitab ini.

Buku AlGhirat, ditulis oleh Ibrahim Tsaqafi al-Kufi (283 H), adalah salah satu referensi lain yang ditulis tentang subjek ini. Buku ini berkaitan dengan berbagai peristiwa yang terjadi selama kekhalifahan Amirul Mukminin (a.s.), dan menyebutkan perampokan dan penjarahan yang dilakukan oleh agen-agen Muawiyah di ranah pemerintah Ali (a.s.). Kondisi dan situasi Syi’ahismei Amirul Mukminin (a.s.) dapat diambil dari berbagai bagian dari buku ini.

Al-Jamal atau Nusrah al-Jamal karya Syeikh al-Mufid, meninjau peristiwa Pertempuran Jamal yang dalam hal ini merupakan satu lagi referensi berharga. Seperti tentang pertempuran pertama Amirul Mukminin (a.s.) selama kekhalifahannya, kitab ini juga menggambarkan kedudukan Ali (a.s.) di antara rakyat Irak sebelum kedatangan beliau di sana.

4.Kitab tentang Rijal dan Penggolongan

Ilm ar-Rijal adalah salah satu ilmu yang disebutkan dalam kaitannya dengan ilmu hadits. Kegunaanya adalah dalam studi rantai penyampaian hadits yang melaluinya berkaitan dengan kisah hidup dan latar belakang para perawi hadits dan revisinya dari para Sahabat Nabi (saw). Dalam rijal Syi’ah, selain para sahabat Nabi (saw), para sahabat Imam maksum (as) juga dibahas. Ilmu rijal dimulai pada abad kedua Hijriah dan terus ada sampai sekarang, setelah mengalami penyempurnaan dengan berlalunya waktu. Beberapa tulisan yang paling terkenal dan terkemuka dari Ahlus Sunnah dalam konteks ini adalah Al-Isti’ab fi ma’rifah al-Asyab, ditulis oleh Ibnu Abdul Barr al-Qurthubi, (463 H), al-Asad Ghabah fi Ma’rifah ash-Shahabah, ditulis oleh Ibnu Atsir Al-Juzzi (630 H), Tarikh Bagdad, ditulis oleh Khatib al-Bagdadi (392-463 H), dan Al-Isabah fi Ma’rifah ash-Shahabah, ditulis oleh Ibnu Hajar al-Isqallani. Demikian pula, rijali paling penting dalam kitab Syi’ah adalah Ikhtibar Ma’rifah ar-Rijal, ditulis oleh Syeikh at-Tusi (385-460 H), Rijal an-Najasi (Fihris Asma ‘asy-Syi’ah Musannif) yang lebih dikenal sebagai Rijal, Kitab al-Burqa, ditulis oleh Ahmad bin Muhamad bin Khalid al-Burqa (280 H), Musyakhah karya Al-Syeikh Shaduq (381 H), al-Ma’alim Ulama karya Ibn Syahr Asyub Mazandarini (488-588 H) , dan Rijal Ibnu Dawud karya Taqi ad-Din Hasan bin Ali bin Dawud al-Hilli (647-707 H). Tentu saja, ilmu rijal telah semakin sempurna di antara kaum Syi’ah dan telah terbagi menjadi berbagai cabang.

Beberapa kitab tentang rijal seperti Asadul Ghabah, Fihrist Syeikh, Rijal an-Najasy, dan Ma’alim al-Ulama telah ditulis dalam bahasa Arab menurut urutan abjad sementara beberapa lainnya seperti Rijal Syeikh dan Rijal al-Burqa telah disusun sesuai dengan penggolongan para Sahabat Nabi (saw) dan Imam (a.s.).

Ada beberapa jenis kitab rijal menurut orang-orang yang dicermati sesuai dengan berbagai klasifikasinya, dan yang paling penting di antara kitab-kitab ini adalah Thabaqat Ibnu Sa’ad.

5.Kitab tentang Geografi

Beberapa kitab geografi adalah catatan tentang perjalanan yang sebagian besar ditulis setelah abad ketiga hijriah. Karena dalam kitab sejarah Syi’ahisme ini telah ditinjau dalam tiga abad pertama Hijriah, beberapa darinya belum begitu banyak digunakan, tetapi kitab-kitab geografi lain yang telah menyajikan dokumen adalah salah satu referensi yang digunakan dalam penelitian ini. Di antaranya, Mu’jam al-Buldan yang digunakan sebagian besar atas dasar kemendalamannya. Penulis buku, Yaqut al-Hamawi, telah memperlakukan Syi’ah dengan bias dengan menyebutkan nama-nama keluarga besar yang ada di Kufah, ia telah gagal menyebutkan salah satu nama dari para ulama besar dan keluarga Syi’ah.

6.Kitab tentang Perawian

Yang dimaksud dengan referensi dan kitab-kitab tentang narasi (akhbar) bukanlah kitab tentang hadits yang berkecimpung di sekitar halal dan haram. Mereka bahkan merujuk kepada kitab-kitab sejarah berdasarkan metode penulisan sejarah selama periode Islam di mana berbagai peristiwa historis dan berita disebutkan dalam bentuk narasi dengan masuknya rantai perawi, yaitu; mengikuti metode para ahli hadits dalam mencatat dan menceritakan peristiwa sejarah. Jenis penulisan sejarah memiliki beberapa ciri penting. Pertama, setiap himpunan berita tentang peristiwa yang terisolasi disebutkan berbeda dari peristiwa-peristiwa lain, dan hal ini menjadi sempurna dengan sendirinya tanpa dikaitkan dengan kabar dan peristiwa lainnya. Kedua, karakteristik sastra juga dapat diamati di dalamnya, yaitu, adakalanya penulis memanfaatkan puisi, kisah-kisah dan perdebatan. Kebanyakan, ciri ini dapat dilihat terutama dalam karya-karya bersifat narasi yang dipengaruhi oleh bentuk narasi Ayyam al-Arab. Atas dasar ini, beberapa peneliti telah menganggap historiografi khabar (berita, laporan, narasi) berasal dari khabar cerita-cerita tentang masa sebelum kedatangan Islam. Ketiga, rantai perawi disebutkan. Pada kenyataannya, metode penulisan sejarah, khususnya selama dua abad pertama Hijriah, kebanyakan menyajikan sumber-sumber primer sejarah. Kumpulan tulisan-tulisan yang penting dari karya-karya tertulis periode Islam melalui metode ini.

Di antara kitab-kitab tentang riwayat (akhbar), Al-Akhbar al-Zubair bin Mu’affaqiyyat karya Zubair ibn Bakkar menduduki tempat khusus. Penulis buku ini, Zubair bin Bakkar,,[24]elain menjadi salah seorang keturunan dari Zubair yang merupakan musuh bebuyutan Ahlul Bait Nabi (a.s.), memiliki hubungan baik dengan Mutawakil, Khalifah Abbasiyah, yang adalah musuh yang gigih Amirul Mukminan (a.s.) dan keturunannya; dia juga menjadi guru dari anak-anaknya dan ditunjuk sebagai hakim di Mekkah..[25]eskipun demikian, informasi yang berharga mengenai para Sahabat Nabi (saw yang) protes terhadap Khalifah Abu Bakar telah dicatat dalam buku ini. Narasi puisi mereka, khususnya, yang mengandung keyakinan mereka pada perwalian (wasayah) Ali (), merupakan sebuah ungkapan protes tersebut.

7.Kitab tentang Geneologi

Di antara kitab-kitab tentang silsilah, Ansab al-Asyraf Karya Baladhuri, yang merupakan referensi terbaik dalam hal ini, digunakan sebagian. Di sisi lain, kitab ini dapat dianggap sebagai salah satu kitab tentang latar belakang (pribadi) – (ahwal). Ini terlepas dari fakta bahwa dalam hal pengetahuan silsilah, kitab Jumharah Ansab al-Arab adalah kitab yang paling komprehensif, yang juga menyajikan penjelasan singkat mengenai deskripsi dari beberapa individu.

Kitab Muntaqilah ath-Thalibiyyin, meninjau migrasi sadat (tunggal dari sayyid) dan keturunan Nabi (saw). Dengan menggunakan berbagai subyeknya, tren Syi’ahisme selama abad pertama Hijriah di negeri-negeri Muslim dapat ditinjau.

8.Kitab tentang Hadits

Serangkaian referensi lainnya tentang sejarah Syi’ahisme termasuk kitab-kitab tentang hadits. Hadits dalam penggunaan Sunni mengacu pada sabda Rasul, tindakan dan pengabsahan diam-diam dari tindakan lainnya, tetapi Syi’ah menganggap Imam maksum (a.s.) sebagaimana juga yang ada pada Nabi (saw), menganggap ucapan mereka, tindakan dan pengabsahan diam-diam mereka sebagai bukti (hujah) juga. Kitab-kitab hadits Ahlul Sunnah seperti Shahih al-Bukhari (194-256 H), Al-Musnad Ahmad ibn Hanbal (164-241 H), dan Al-Mustadrak ‘ala Shahihain Hakim an-Nasayburi (wafat 450 H ) adalah referensi yang baik untuk studi Syi’ahisme di antara para sahabat dan di antara orang shaleh pengikut Amirul Mukminin (a.s.) yang merupakan dasar dari Syi’ahisme.

Kitab-kitab Syi’ah mengenai hadits seperti “empat buku” (Kutub al-Arba’ah), yaitu. Al-Kafi al-Kulayni (wafat 329 H), Man La Yahduruh al-Faqih karya Syeikh ash-Shaduq (wafat 381 H), dan al-Ahkam Tahdib dan Al-Istibsar karya Syeikh at-Tusi (wafat 360 H); dan kitab lainnya seperti Al-Amili, Ghurar al-Fawa’id dan Durar al-Sayyid Murtadha Qala’id (355-436 H), Al-Ihtijaj karya ath-Thabarsi (abad keenam Hijriah), dan ensiklopedia besar tentang hadits, Bihar al-Anwar karya Allamah Majlisi (wafat 1111 H), selain memiliki manfaat dari kitab-kitab Ahlus Sunnah dapat dimanfaatkan dengan merujuk kepada hadits tentang para Imam maksumin (a.s.), untuk mengetahui kaum Syi’ah, tempat tinggal mereka, hubungan sosial mereka, dan cara komunikasi mereka dengan para Imam Maksumin (a.s.).

9.Kitab tentang Bangsa dan Agama

Salah satu referensi dan pakar penulis penting dalam hal ini adalah kitab Al-Milal wa Nihal karya Syahristani (479-548 H). Dalam hal kelengkapan dan ketuaan, kitab ini dianggap sebagai referensi yang baik dan sebagai otoritas acuan peneliti dan ulama. Ini terlepas dari fakta bahwa penulis telah mendekati subjek dengan prasangka. Pada awal buku ini, ia telah mengutip hadits tentang “73 mazhab” dan memperkenalkan Ahlul Sunnah sebagai “mazhab yang selamat”. Dengan demikian, beliau mencoba menyoroti penyebaran “sekte-sekte Syi’ah,” untuk membuktikan bahwa banyaknya”sekte-sekte Syi’ah” adalah bukti kepalsuan dari aliran pemikiran (mazhab) ini. Dia menganggap sekte seperti Mukhtariyah, Baqiriyah, Ja’fariyah, Mufdalah, Nu’maniyah, Hisyamiyah, dan Yunusiyah sebagai “Syi’ah” meskipun sekte ini tidak ada dalam kenyataannya. Demikian pula, dalam kitab Khufat, Maqrizi mengatakan bahwa “sekte-sekte Syi’ah ” totalnya ada 300 sekte, tetapi pada saat pencacahan mereka ia gagal untuk menyebutkan lebih dari 20 sekte.

Di antara kitab tertua dan paling penting tentang bangsa dan agama adalah Al-Maqalat wal Firaq karya al-Asy’ari Qummi dan Firaq asy-Syi’ah karya Nawbakhti. Asy’ari al-Qummi dan Nawbakhti berada di antara ulama Syi’ah yang hidup di paruh kedua abad ketiga Hijriah. Kitab Al-Maqalat wal Firaq dalam hal penyajian informasi, begitu luas dan memiliki kelengkapan yang baik, tetapi subyeknya beragam dengan klasifikasi yang tepat.

Menurut pandangan yang diungkapkan oleh beberapa peneliti, kitab Firaq asy-Syi’ah karya Nawbakhti sebenarnya kitab yang serupa dengan Al-Maqalat wal Firaq.

Pelajaran Kedua: Ringkasan

Referensi umum untuk sejarah Syi’ahisme adalah sebagai berikut:
• Kitab-kitab tentang sejarah umum, yang telah ditulis di abad pertama Hijriah, dan di antaranya Murawij Adh-Dhahab dan Tarikh al-Ya’qubi, menempati tempat khusus;

• Kitab tentang biografi para Imam (a.s.) seperti Al-Irsyad karya Syeikh Mufid;

• Kitab-kitab tentang pemberontakan dan perang seperti Waq’ah as-Shiffin;

• Kitab-kitab tentang rijal dan penggolongan serta kitab yang ditulis tentang latar belakang (pribadi) – (ahwal);

• Kitab-kitab tentang geografi catatan perjalanan dan sejarah kota;

• Kitab-kitab tentang riwayat yang sama dalam bentuk dengan penulisan sejarah pertama;

• Kitab silsilah seperti Jumharah Ashab al-Arab, dan

• Kitab-kitab tentang hadits serta kitab-kitab tentang bangsa dan agama.

Pelajaran Kedua: Pertanyaan

  1. Di antara kitab-kitab tentang sejarah umum, sebutkan kitab-kitab terdahulu yang bergelut dengan sejarah Syi’ahisme?
  2. Jelaskan secara singkat kitab Al-Irsyad dan Tadkhirah al-Khawas?
  3.  Jenis kitab apa Waqi’ah as-Shiffin?
  4. Jelaskan secara singkat kitab tentang rijal?
  5. Berapa banyak jenis kitab tentang geografi?
  6. Apa saja ciri yang menonjol dari kitab tentang riwayat (akhbar)?
  7. Nama dua kitab tentang silsilah (geneologi)
  8. Apa hubungan antara kitab tentang hadits dan sejarah bangsa dan agama?
  9. Apa judul dari salah satu kitab terpenting yang ditulis mengenai bangsa dan agama?

[1]   Maksumin, orang-orang yang memiliki kwalitas Ismah (Suci dari Dosa), Lihat hal.67, yaitu Nabi Fatimah dan dua belas imam suci. Lihat juga A Brief History of the Fourteen Infallibles (Tehran: WOFIS); Sayyid Murtadha al-Askari. The Twelve Successors of the Holy Prophet (s), http://www.al-Islam.org/twelve. (Penerjemah)

[2]   Rijal atau Il mar-Rijal adalah cabang dari ilmu hadits yang ada kaitannya dengan biografi para penyampai atau perawi hadits. (Penerjemah)

[3]   Ssyyid Ahmad Saqar, “Intoduction to Maqatil at-Talibiyyin“, Edisi kedua (Qum: Mansyurat asy-Syarif ar-Radi, 1416 H, hlm.5.

[4]   Abul Faraj Ali ibn al-Husain al-Isfahani, Maqatil atTalibyyin, edisi kedua (Qum: Mansyurat asy-Syarif ar-Rhadhi, 1416 H, hlm.24.

[5]   Sayyid Ali Jan asy-Syirazi, ad-Darajat ar-Rafi’ah fi Tabaqat asy-Syi’ah (Beirut: Mu’assasah al-Wafa’), hlm.3-5).

[6]   Ibid., hlm.5.

[7]   Tabi’in (Pengikut atau Pelanjut) merujuk kepada generasi kedua kaum Muslimin yang datang setelah generasi para Sahabat, yang tidak mengenal Nabi (saw) tetapi mengenal para sahabat. (Penerjemah)

[8]   Sayyid Muhsin Amin, A’yan asy-Syi’ah (Beirut: Dar at-Ta’aruf Lil Matbu’at, n.d.) jld.1, hlm.18-209.

[9]   Ibid., hlm.20-21.

[10]   Khawarij (orang yang ingkar) adalah sekelompok orang yang menganggap dirinya suci, Muslim yang berpikiran sempit yang asal mulanya adalah para pengikut Imam Ali (a.s.) dan ikut berperang bersama beliau pada perang Shiffin (perang melawan Muawiyah). Mulanya mereka mendukung arbitrasi (penengahan masalah), memaksa Imam Ali (a.s.) untuk menerimanya; namun kemudian mereka menentangnya dengan dalih bahwa karena Tuhanlah satu-satunya penengah yang benar, Imam Ali dan orang-orang yang sepakat bersama beliau dalam arbitrasi bukan saja salah, tetapi juga kafir. Oleh karenanya mereka tidak lagi berhubungan dengan Imam Ali dan pendukungnya. Sekembali Imam Ali ke Irak dari Shiffin, kelompok ini keluar dari pasukan Imam dan mendirikan tenda-tenda di tepi sungai Nahrawan dimana mereka mulai menteror orang-orang yang mereka anggap kafir. Imam Ali-lah yang pertamakali mampu menghadapi mereka dan membujuk beberapa dari mereka untuk menghentikan permusuhan mereka. Namun akhirnya beliau terpaksa mengangkat senjata melawan mereka. Pada tahun 659 beliau menyerang pasukan mereka di bawah panji Abdullah ibn Wahhab al-Rasibi di Nahrawan dan nyaris memusnahkan mereka. Nahrawan adalah perang ketiga yang dilancarkan Imam Ali (a.s.) terhadap musuh-musuhnya. (Penerjemah)

[11]   Ssamirah Mukhtar al-Laythi, Jihad asy-Syi’ah (Beirut: Dar al-Jayl, 1396 H), hlm.36.

[12]   Ahmad ibn Abi Ya’qub ibn Wadih, Tarikh al-Ya’qubi (Qum: Manshurat sdy-Syarif ar-Radi, 1414 H, jld.2, hlm.123-126).

[13]   Ibid., hlm.178-179.

[14]   Ibid., hlm.214-215.

[15]   Ibid., hlm.230-231.

[16]   Ibid., hlm.231-232.

[17]   Ibid., hlm.243-246.

[18]   Ali ibn al-Husain Mas’udi, Murawij ad-Dahab (Beirut: Masyurat Mu’assasah Al-A’lami Lil Mathu’at, 1411 H, jld.2, hlm.316; Al-Tanbiyyah wal Asraf (Kairo: Dar as-Sawi Lil Tab wa Nasr wa Ta’lif, n.d.), hlm.427.

[19]   Murawij ad-Dahab, jld.3, hlm.262.

[20]   Ibid., jld.2, hlm.246-266.

[21]   Ibid., jld.3, hlm.59, 74.

[22]   Ibid., hlm.180, 243, 313, 388.

[23]   Ibid., hlm.324-326, 358.

[24]   Al-Hafiz Abubakkar Ahmad ibn Ali Khatib al-Bagdadi, Tarikh Bagdad (Mesir: Matba’ah as-Sa’adah, 1349 H), jld.8, hlm.467)

[25]   Ibn Nadim, Al-Fihrist (Beirut: Dar al-Ma’rifah, n.d.), hlm.160.

BAB 2

Cara Kemunculan Syi’ah

Pelajaran Ketiga

“Syi’ah” dalam Kamus dan Al-Quran

Kata “Syi’ah” dalam kamus ditarik dari akar kata syai’a yang berarti pengawalan (musyai’ah), kemenangan dan keberanian (syuja’ah).[1] Kata ini juga ditujukan kepada para pengikut dan pendukung sebagaimana secara umum digunakan kepada para pengikut dan pendukung Ali (a.s.)[2] Sebagaimana Azhari katakan: “Syi’ah merujuk kepada sekelompok orang yang mencintai keturunan (itrah) dan anak-cucu Nabi (saw).”[3]

Ibnu Khaldun berkata:

Sadarilah bahwa Syi’ah dalam kamus berarti ‘pengikut’ dan ‘pendukung’, dan dalam bahasa fuqaha dan teolog skolastik (mutakallimin) masa lalu dan sekarang, kata ini ditujukan kepada para pengikut Ali dan keturunannya.[4]

Tetapi Syahristani membatasi ruanglingkup definisi kata “Syi’ah” dengan mengatakan:

‘Syi’ah’ merujuk kepada orang-orang yang mengikuti Ali saja dan beriman kepada Imamahnya serta kekhalifahannya didasarkan pada wahyu (nass), dan mereka berkata: ‘Imamah tidak akan melampauinya kecuali (dilakukan) melalui kezaliman (zulum).[5]

Ada banyak juga di dalam Al-Quran dimana kata “Syi’ah” berkonotasi “pengikut” dan “pendukung” seperti:

Sesunguhnya Ibrahim (a.s.) berada di antara para pengikut (Syi’ah)nya.”[6]

Dan ayat:

Orang-orang dari pengikut (Syi’ah)nya (Musa) meminta pertolongannya melawan orang yang berada di antara musuh-musuhnya.”[7]

Kata “Syi’ah” juga disebutkan dalam hadits-hadits Nabi dengan arti “para pengkiut” dan “pendukung Ali (a.s.)”.[8]

“Syi’ah” dalam referensi-referensi kaum Syi’ah tidak lebih dari memiliki satu arti dan konsepsi, yaitu beriman kepada suksesi Ali (a.s.) dan sebelas keturunannya dimana tiada perubahan yang pernah terjadi sejak wafatnya Nabi (saw) hingga okultasi kecil (ghaib sugra). Karena Syi’ah paruh kedua abad ketiga Hijriah beriman kepada keduabelas Imam (a.s.), para perintis Syi’ah di antara para Sahabat Nabi (saw) yang juga percaya kepada urusan ini karena mereka telah diberitahukan nama-nama para Imam ini dari hadits-hadits Nabi (saw).[9]

Meskipun banyak dari Syi’ah tidak memiliki akses ke hadits ini karena suasana tekananyang diberlakukan oleh penguasa tiran, apa yang diwajibkan (bagi mereka) adalah mengenali Imam zaman masing-masing. Sebagaimana Nabi Suci (saw) berkata: “Dia yang mati tanpa mengenal Imamzamannya, meninggal dalam keadaan jahiliyah.”[10] Dengan demikian, kita dapat melihat bahwa ketika Imam ash-Shadiq (as) mencapai syahid, Zurarah yang sudah tua mengirim putranya, Ubayd, untuk menanyakan tentang penerus dari Imam ash-Shadiq (a.s.). Namun sebelum Ubayd mampu kembali ke Kufah, Zurarah, yang hampir mati, memegang salinan Al-Quran dan berkata: “Ya Allah! Jadilah saksiku bahwa aku bersaksi kepada Imamah dari orang yang telah ditunjuk dalam Quran ini. “[11]

Tentu saja, dengan berlalunya waktu, makna dan konsep Syi’ah mengasumsikan bentuk eksplisit dan ruang lingkup yang ditentukan. Dengan demikian, para Imam maksum (a.s.) telah menganggap mereka yang diidentifikasi dengan sekte dan akidah yang keliru sebagai berada di luar lingkaran Syi’ah, seperti Syeikh at-Tusi meriwayatkan dari Hamran bin A’in:

Aku bertanya kepada Imam al-Baqir (a.s.): “Apakah aku sungguh-sungguh di antara Syi’ahmu?” Imam (a.s.) menjawab: “Ya, kamu berada di antara Syi’ah kami di dunia ini dan di akhirat, dan nama-nama Syi’ah dan ayah-ayah mereka ditulis bagi kami. Kenapa, apa ada orang-orang yang berpaling dari kami?” Aku menjawab: “Semoga aku menjadi tebusanmu! Apakah mungkin bagi seseorang yang telah menjadi Syi’ahmu dan memiliki ilmu darimu tentang kebenaran, dan setelah itu berpaling darimu?” Imam (a.s.) berkata: “Ya, Wahai Hamran! Kamu tidak akan mengalaminya.”

Hamzah az-Zayyat yang adalah salah seorang perawi hadits ini kemudian berkata:

Mengenai hadits ini kami mengadakan diskusi dan kami tidak mampu memahami arti dari perkataan Imam (a.s.). Oleh karenanya, aku menulis surat kepada Imam ar-Ridha (a.s.) (mengenai ini). Imam (a.s.) berkata: “Imam ash-Shadiq (a.s.) sedang merujuk kepada Waqifiyyah (sekte yang sesat).”[12]

Karena alasan inilah dalam bahasa percakapan para penulis rijal Syi’ah, label Syi’ah hanya ditujukan kepada Syi’ah yang beriman kepada dua belas Imam (a.s.) dan dalam bahasa fuqaha, mereka terkadang digambarkan sebagai “para sahabat kami” (ashabuna) atau “para sahabat Imami” (ashabuna al-Imamiyah). Dan orang-orang yang telah cenderung kepada sekte yang tersesat dan menyimpang dari jalan Syi’ahisme telah digambarkan dengan label-label seperti Fathi, Waqifi, Nawusi, dll. dan jika pernah ada nama-nama beberapa di antara mereka disebutkan dalam kitab-kitab rijal Syi’ah, alasannya adalah mereka telah meriwayatkan hadits-hadits ini sebelum mereka tersesat, seperti nama-nama sejumlah perawi Sunni yang telah meriwayatkan dari para Imam Maksumin (a.s.) yang telah disebutkan dalam kitab-kitab tersebut.

Para ulama Sunni dan para penulis rijal, walau bagaimana pun, telah menggunakan kata Syi’ah dalam pengertian yang lebih luas, dan mereka telah menggunakannya kepada semua sekte yang telah terpisah dari tubuh Syi’ah dan bahkan kepada kaum Ghulah juga.

Di samping itu, mereka juga merujuk kepada orang-orang yang mencintai dan mengagumi Ahlul bait (a.s.) sebagai “Syi’ah”. Padahal ada beberapa orang-orang yang tidak memiliki semacam keimanan kepada kemaksuman (ismah) dan Imamah Ahlul Bait (a.s.), seperti Sufyan ats-Tsauri, seorang rektor (mufti) di Irak yang mengeluarkan fatwa berdasarkan Ahlus Sunnah, tetapi Ibn al-Qutaybah telah memasukkan beliau ke dalam daftar Syi’ah.[13] Mengenai Syafi’I, yang adalah pendiri salah satu dari empat mazhab fiqih Sunni, Ibn Nadim berkata:

“Syafi’i Syi’ah (tasyayu’) ekstrim .”[14]

Tentu saja selama abad kedua dan ketiga Hijriah, di samping Syi’ah Imami, kaum Zaidii merupakan jumlah terbesar dari Syi’ah. Mereka lebih Syi’ah dalam pengertian politik ketimbang ideologis, karena dalam istilah fiqih, mereka bukanlah para pengikut fiqih Ja’fari, namun mereka para pengikut fiqih Hanafi.[15] Dari sudut pandang prinsip ideologis juga, sebagaimana diriwayatkan oleh Syahristani, “Karena konon, Zaid adalah murid dari Wasil ibn Atha’, pendiri mazhab Mu’tazilah dan telah belajar darinya ajaran-ajaran mazhab Mu’tazilah.”

Oleh karena itu, kaum Zaidiyah adalah Mu’tazilah dalam ilmu ushul. Karena alasan inilah mereka menganggap sebagai boleh (jayiz) Imamah dari orang yang berhak (mafdul) dalam keberadaan orang yang lebih berhak (afdal) dan dalam pada itu mereka menghormati Dua Syeikh (Syaikhain) – (Abu Bakar dan Umar).[16] Dalam pengertian akidah, mereka lebih dekat kepada Ahlus Sunnah, sebagaimana Ibn Qutaibah mengatakan: “Di antara sekte (Syi’ah) rafidi, Zaidiyah kurang ekstrim (tidak terlalu berlebih-lebihan).”[17]

Karena alasan inilah kebangkitan Muhammad Nafs az-Zakiyyah – salah seorang pemimpin Zaidiyah – dipuji oleh beberapa fuqaha Ahlus Sunnah, dan sebagaimana diriwayatkan oleh Waqidi, Abu Bakar ibn Sirah,[18] Ibn Ajlan,[19] dan Abdullah ibn Ja’far[20] – berada di antara ulama muhadditsun maktab Madinah dan dari mereka Waqidi sendiri telah meriwayatkan hadits – terlibat dalam kebangkitan Muhammad Nafs az-Zakiyyah. Juga, Syahristani mengatakan: “Abu Hanifah berada di antara para pengikut Muhammad Nafs az-Zakiyyah.”[21]

Kaum Mu’tazilah dari Basrah juga sepakat dengan kebangkitan Muhammad dan berdasarkan riwayat Abul Faraj Isfahani, “Sekelompok Mu’tazilah di Basrah seperti Wasil ibn Ata’ dan Amru Ibn Ubaid telah berbaiat kepadanya.”[22]

Karenanya, kaum Zaidiyah dapat dianggap Syi’ah hanya dari sudut pandang politik kendati mereka percaya kepada keutamaan para keturunan Fatimah (a.s.).

Pelajaran Ketiga: Ringkasan

Syi’ah menurut kamus, merujuk kepada para pengikut dan pendukung Ali (as). Dalam referensi-referensi Syi;ah, “Syi’ah” tidak lebih dari memiliki satu arti, yaitu percaya kepada suksesi (tongkat estafet kepemimpinan) Ali (a.s.) dan sebelas keturunannya. Para Imam Maksumin memandang orang-orang yang diidentifikasi sebagai sekte-sekte yang tersesat sebagai di luar dari lingkaran Syi’ah, namun para ulama Sunni dan penulis rijal telah menggunakan kata Syi’ah dalam pengertian lebih luas dan mereka menggunakan label Syi’ah kepada semua sekte yang telah terpisah dari tubuh Syi’ahisme dan juga para pengagum keturunan Nabi (a.s.). Tentu saja, selama abad kedua dan ketiga hijriah, di samping Syi’ah Imami, kaum Zaidi telah dianggap oleh mereka sebagai jumlah kaum Syi’ah terbesar.

Pelajaran Ketiga: Pertanyaan

  1. Dalam kamus, apa arti kata “Syi’ah”? Jelaskan.
  2. Apa arti dan konotasi dari kata “Syi’ah” dalam referensi-referensi Syi’ah?
  3. Apakah orang-orang yang diidentifikasi sebagai sekte yang tersesat dianggap sebagai “Syi’ah” oleh para Imam Maksumin (a.s.)? Jelaskan.
  4. Bagaimana ulama Sunni mendefinisikan kata “Syi’ah”?
  5. Sekte mana yang lebih sama dengan Syi’ah dalam sudut pandang politik? Kenapa?

Pelajaran Keempat

Asal Usul Syi’ahisme

Berbagai macam pandangan telah diungkapkan berkenaan dengan asal usul dan awal mula Syi’ahisme, tetapi secara umum, pandangan-pandangan ini dapat dibagi ke dalam dua bagian:

  1. Para penulis dan peneliti yang percaya Syi’ahisme tercipta setelah wafatnya Nabi (saw) dan yang mereka sendiri dapat dikelompokkan lagi ke dalam sub-kelompok berikut:
  2. Orang-orang yang percaya bahwa Syi’ahisme muncul selama hari Saqifah – hari ketika sekelompok Sahabat terkemuka secara eksplisit berkata: “Ali adalah orang yang berhak menduduki Imamah dan khilafah.”[23]
  3. Orang-orang yang memandang kemunculan Syi’ah ada hubungannya dengan babak akhir dari kekhalifahan Utsman, menghubungkan berbagai pandangan tentang Abdullah ibn Saba’ pada periode ini, dengan awal mula Syi’ahisme.[24]
  4. Orang-orang yang percaya bahwa Syi’ah telah muncul pada hari Fitnah ad-Dar (hari ketika khalifah ketiga terbunuh). Oleh karena itu, maka, para pengikut Ali (a.s.) yang sangat Syi;ah yang menentang apa yang disebut “Utsmani”; orang-orang yang mencari-cari pembunuh Utsman. Sebagaimana Ibn an-Nadim tulis:

Ketika Thalhah dan Zubair menentang Ali dan tiada yang dapat meyakinkan meeka kecuali membalas pembunuh Utsman, sedangkan Ali juga ingin memerangi mereka untuk menegakkan kebenaran, pada hari itu orang-orang yang mengikuti beliau dinamakan “Syi’ah” dan beliau sendiri menggambarkan mereka: “Mereka adalah Syi’ahku.”[25]

Ibn Abdur Rabbih al-Andalus juga mengatakan: “Syi’ah adalah orang-orang yang memandang Ali utama dari Utsman.”[26]

  1. Orang-orang yang percaya Syi’ah muncul setelah berkuasa (masa khalifah keempat, Ali), hingga kesyahidan Ali (a.s.).[27]
  2. Orang-orang yang menghubungkan asal usul Syi’ahisme dengan peristiwa Karbala dan kesyahidan Imam Husein (a.s.).[28]
  3. Para peneliti yang berpendapat bahwa Syi’ahisme dapat ditandai dari periode Rasulullah (saw). Sebagian dari semua ulama Syi’ah.[29] Beberapa dari ulama Sunni juga berpegang pada kepercayaan ini, seperti Muhammad Kird Ali – salah seorang ulama Sunni terkemuka – mengatakan: “Sejumlah sahabat selama zaman Nabi (saw) dikenal sebagai Syi’ah Ali.”[30]

Mengingat berbagai pandangan yang dihadirkan sejauh ini, dapat dikatakan bahwa peristiwa Saqifah, babak akhir dari kekhalifahan Utsman, Perang Jamal, kekuasaan Ali (a.s.) dan berbagai peristiwa di Karbala, merupakan fase-fase berbagai peristiwa yang telah mempengaruhi sejarah Syi’ahisme. Meskipun keberadaan seseorang yang bernama Abdullah ibn Saba’ meragukan, terbentuknya Syi’ahisme pada tahap-tahap ini tampaknya tidak benar karena saat menelaah hadits Nabi, kita akan menemukan bahwa istilah “Syi’ah” telah digunakan oleh Rasulullah, Muhammad al-Mustafa (saw), kepada para simpatisan Ali (a.s.) sebelum semua peristiwa tersebut terjadi, sebagaimana banyak tercatat dalam hadits, beberapa darinya akan kami kutip di bawah ini.

Semua hadits ini diterima oleh Ahlul Sunnah sebagai otentik dan telah tercatat dalam referensi-referensi hadits mereka. Ambillah contoh, hadits yang telah dicatat oleh Suyuti – salah seorang mufassir Qur’an dari Sunni – dari Nabi (saw) mengomentari ayat:

Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal shaleh – mereka adalah sebaik-baiknya makhluk.”[31]

Di antaranya ada hadits ini dari Nabi (saw) ketika beliau berkata:

“Demi Dia yang diriku ada di tanganNya! Sesungguhnya, orang ini (Ali) dan Syi’ahnya akan dijamin bebas pada Hari Kebangkitan.”[32]

Nabi Suci (saw) berkata kepada Ali (a.s.): “Allah telah engampuni dosa-dosa Syi’ahmu dan para pengikut Syi’ahmu.”[33]

Nabi (saw) juga berkata kepada Ali (a.s.): “Kamu dan pengikutmu akan bertemu (pada Hari Kebangkitan) di Telaga Kautsar sementara minum darinya dan wajah-wajah mereka bercahaya, sebaliknya musuh-musuhmu akan bertemu denganku sementara mereka kehausan dan terantai.”[34]

Berkenaan dengan hadits mengenai kebajikan Ali (a.s.), Nabi Suci (saw) berkata kepada puteri beliau Fatimah (a.s.): “Ya Fatimah! Ali dan Syi’ahnya adalah orang-orang yang terselamatkan pada hari kemudian.”[35]

Demikian juga, Rasulullah (saw) berkata: “Ya Ali! Dosa-dosamu dan juga dosa-dosa keturunanmu, Syi’ahmu dan para pengikut Syi’ahmu telah diampuni…”[36]

Lagi, Rasulullah (saw) berkata: “Ya Ali! Selama Hari Kebangkitan, aku akan berpegang teguh kepada Allah sementara engkau akan berpegang teguh kepadaku; keturunanmu akan berpegang teguh kepadamu; dan Syi’ah keturunanmu akan berpegang teguh kepada mereka.”[37]

Lagi Nabi (saw) berkata kepada Ali (a.s.): Di akhirat, di antara semua orang, engkau adalah orang yang paling dekat denganku… dan kaum Syi’ah ada di atas mimbar bercahaya…”[38]

Ibn al-Abbad meriwayatkan bahwa Jibrail (a.s.) memberi kabar bahwa Ali (a.s.) dan Syi’ahnya akan masuk ke dalam surga bersama Muhammad (saw).”[39]

Salman al-Farsi meriwayatkan bahwa Rasul Termulia (saw) berkata kepada Ali (a.s.):

Ya Ali, Pakailah cincin di tangan kananmu sehingga bersama orang-orang yang paling dekat (muqarrabin).” Ali (a.s.) bertanya: “Siapakah orang-orang yang paling dekat?” Belau  (saw) menjawab: “Jibril dan Mikail.” Ali (a.s.) bertanya lagi: “Cincin yang mana yang akan kupakai?” Beliau (saw) menjawab: “Cincin yang batunya adalah akik merah karena akik adalah kesaksian bahwa seseorang telah mengakui dan menerima kehambaan ilahi (ubudiyah), kenabianku (nubuwah), perwalianmu (wisayah), dan keturunanmu, Imamah. Para pengikutmu adalah penghuni Surga dan tempat kediaman Syi’ahmu adalah Taman Firdaus (Jannah al-Firdaws).[40]

Rasul Termulia (saw) berkata lagi: “Delapan puluh ribu dari umatku akan dimasukkan ke dalam surga tanpa diperhtungkan (hisab).” Ali (a.s.) bertanya, “Siapakah mereka?” Beliau (saw) menjawab: “Mereka adalah Syi’ahmu dan kamu adalah Imam mereka.”[41]

Annas bin Malik meriwayatkan dari Nabi Suci (saw):

Jibril berkata kepadaku: “Allah Yang Maha Tinggi mencintai ali sehingga tidak terungkap kepada malaikat mana pun. Sebagaimana tasbih (memuliakan Allah) yang diucapkan, Allah menciptakan para malaikat untuk meminta ampunan bagi para pengagum dan Syi’ah Ali hingga Hari Kebangkitan.”[42]

Jabir ibn Abdillah al-Anshari meriwayatkan bahwa Nabi (saw) berkata: “Demi Tuhan yang mengutusku dengan kebenaran sebagai Nabi! Para malaikat sering memohon ampunan bagi Ali dan mereka mengasihinya dan Syi’ahnya seperti yang seorang ayah lakukan (terhadap anaknya).”[43]

Ali sendiri meriwayatkan bahwa Nabi (saw) berkata: “Wahai Ali! Berilah kabar gembira kepada Syi’ahmu bahwa aku adalah syafi’ mereka pada Hari Kebangkitan – hari ketika tiada harta atau juga anak-anak yang bermanfaat melainkan syafaatku.”[44]

Nabi Suci (saw) berkata kepada Ali (a.s.): Empat orang pertama yang masuk surga adalah aku, kamu, Hasan, dan Husain; keturunan kami berada di belakang kami; pasangan kami berada di belakang keturunan kami, dan Syi’ah kami berada di sebelah kanan dan kiri kami.”[45]

Akhirnya, kebanyakan di antara kalangan Muhaditsin dan sejarawan Sunni seperti Ibn al-Jawzi, Balazuri, Syeikh Sulaiman al-Qanduzi al-Hanafi, Khwarazmim dan as-Suyuti, telah meriwayatkan bahwa Rasulullah (saw) berkata sementara ditujukan kepada Ali (a.s.): “Sesungguhnya, orang ini (Ali) dan Syi’ahnya akan terjamin selamat pada hari Kebangkitan.”[46]

Bahkan ada hadits-hadits yang tercatat dari Rasulullah (saw) mengenai beberapa Syi’ah dan apa yang menarik di sini adalah hadits ini diriwayatkan oleh lawan-lawan Syi’ah! Misalnya, ada sebuah hadits tentang Hujr ibn Adi al-Kindi yang diriwayatkan oleh Aisyah. Ketika Muawiyah melaksanakan Haji setelah membunuh Hujr dan para sahabatnya dan datang ke Medinah. Aisyah berkata kepada Muawiyah:

Wahai Muawiyah! Dimanakah kesabaranmu pada saat membunuh Hujr dan sahabat-sahabatnya? Sadarilah bahwa aku mendengar Rasulullah (saw) berkata: “Ada sekelompok orang yang akan dibunuh di sebuah tempat bernama Marj Adhra’ yang baginya Allah dan para penghuni surga akan dipenuhi dengan murka.”[47]

Karena hadits ini tak dapat dipungkiri dan telah diriwayatkan kaum muhaditsin Sunni, beberapa penulis Sunni telah menafsirkannya secara tidak adil. Misalnya, Ibn Abil Hadid berkata:

Apa yang dimaksud dengan Syi’ah dalam banyak hadits yang telah memberikan kabar gembira tentang Surga, adalah orang-orang yang percaya kepada keutamaan dan keunggulan Ali (a.s.) di atas yang lainnya. Karena alasan ini, ulama Mu’tazilah kami telah menulis di dalam kitab-kitab dan risalah mereka, “Kami benar-benar Syi’ah dan pernyataan ini lebih dekat dengan kenyataan dan lebih dekat dengan kebenaran.”[48]

Juga, dalam kitab as-Sawa’iq al-Mahriqah fi Radd ‘ala Ahlul Bid’ah wa Zindiqah, yang merupakan kitab menolak keyakinan dan akidah Syi’ah, mengutip hadits ini, Haitami berkata:

Apa yang dimaksud dengan Syi’ah dalam hadits ini adalah Syi’ah yang tidak lagi ada. Ia merujuk kepada keturunan dan para pengikut Ali yang tidak terkena bid’ah atau melaknat dan mencaci maki para Sahabat Nabi (saw).[49]

Dalam menjawabnya, almarhum Muzaffar berkata:

Aneh bila Ibn Hajar membayangkan apa yang dimaksud Syi’ah di sini adalah Ahlus Sunnah! Dan saya tidak mengetahui apakah alasan di balik ini adalah keserupaan antara “Syi’ah” dan “Sunni”. Atau, karena dua sekte ini identik. Atau, karena alasan bahwa Ahlus Sunnah mengikuti dan mencintai keluarga Nabi (saw) lebih daripada yang dilakukan Syi’ah![50]

Almarhum Kasful Ghita’ juga mengatakan: “Dengan menggunakan istilah “Syi’ah” kepada Syi’ah Ali (a.s.), arti dari Syi’ah dapat dipahami karena selain kelompok ini, tidak ada Syi’ah yang lain.”[51]

Keberadaan istilah “Syi’ah” dalam hadits dan perkataan-perkataan Nabi (saw) jelas dan tak dapat ditolak, dan dengan adanya penafsiran-penafsiran yang tidak adil ini, mereka ingin menyembunyikan kebenaran, namun pada akhirnya mereka tidak membohongi siapa pun kecuali diri mereka sendiri. Ini terutama menimbang fakta bahwa konotasi “Syi’ah” telah diklarifikasi selama zaman Nabi (saw) dan sejumlah Sahabat terkenal pada masa itu sebagai “Syi’ah Ali”.[52]

Para sahabat Nabi (saw) juga merujuk pengikut Ali (a.s.) sebagai “Syi’ah”. Hasyim Marqal kemudian menulis mengenai seseorang bernama “Mahal Ibn al-Khalifah at-Ta’I”: “Wahai Amirul Mukminin! Dia berada di antara Syi’ahmu.”[53] Kaum Syi’ah sendiri dulu memanggil satu sama lain dengan sebutan Syi’ah. Sebagaimana Syeikh Mufid riwayatkan, beberapa orang datang kepada Ali (a.s.) dan berkata: “Wahai Amirul Mukminin! Kami berada di antara Syi’ahmu.” Kembali beliau (a.s.) berkata: “Wajah-wajah Syi’ahku pucat karena tidak tidur di waktu malam dan mata mereka kuyu karena menangis…”[54]

Dalam banyak kesempatan, Hazrat Ali (a.s.) sendiri, sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, pernah menggunakan kata “Syi’ah” kepada para pengikutnya. Misalnya, ketika beliau mendengar kabar kesyahidan beebrapa Syi’ahnya di Basrah di tangan Thalhah dan Zubair, beliau (a.s.) mengutuk kedua orang ini dan berkata: “Ya Allah! Meeka telah membunuh Syi’ahku. Bunuhlah juga mereka.”[55]

Bahkan lawan-lawan Ali (a.s.) pernah merujuk kepada para pengikutnya sebagai “Syi’ah”, seperti apa yang Aisyah, Thalhah, dan Zubair katakan selama percakapan mereka dalam perjalanan dari Mekkah ke Irak: “Kami akan pergi ke Basrah dan menyingkirkan gubernur (amil) Ali dan membunuh Syi’ahnya.”[56]

Dalam banyak kasus, kebenaran Syi’ah, yang adalah kecintaan dan persahabatan dengan Ali (a.s.) dan memandang beliau lebih utama (dari yang lain), telah ada sejak zaman Nabi (saw). Beliau (saw) pernah memerintahkan umat dalam khotbahnya untuk mengikuti Ali dan keluarganya, sebagaimana diungkapkan dalam sebuah event di Ghadir Khum. Sebagaimana Ibn Abil Hadid katakan: “Kabar ini telah diriwayatkan oleh muhaditsun, tidak ada orang yang didakwa rafa dan tasyayu’ dan mereka bahkan tidak percaya kepada keutamaan dan keunggulan Ali (a.s.) di atas yang lain.”[57]

Sekarang kami akan mengutip beberapa hadits. Buraidah Aslami berkata:

Rasulullah (saw) berkata: “Allah, Yang Maha Tinggi, telah memerintahkanku untuk mencintai empat orang dan berkata kepadaku bahwa Dia juga mencintai mereka.” Mereka bertanya, “Ya Rasulullah! Sebutkanlah nama-nama mereka.” Beliau (saw) berkata tiga kali: “Ali dan kemudian Abu Zar, Miqdad dan Salman.”[58]

Ath-Thabari meriwayatkan bahwa dalam perjalanan Perang Uhud, Rasul Termulia (saw) berkata: “Ali adalah dariku dan aku darinya.”[59]

Telah diriwayatkan atas wewenang Ummu Salamah: “Ketika Rasulullah (saw) marah, tidak ada yang berani berbicara kecuali Ali.”[60]

Sa’ad bin Abi Waqqas meriwayatkan bahwa Rasul Termulia (saw) berkata: “Barangsiapa mencintai Ali, mencintaiku dan barangsiapa mencintaiku, mencintai Allah. Juga, barangsiapa memusuhi Ali, adalah memusuhiku, dan barangsiapa memusuhiku, memusuhi Allah.”[61]

Ibn al-Jawzi meriwayatkan bahwa Nabi Islam (saw) berkata: “Wahai Ali! Engkau adalah pemisah antara surga dan neraka. Ddan engkau akan membuka pintu surge dan memasukinya tanpa perhitungan.”[62]

Khwarazmi meriwayatkan dalam al-Manaqib atas wewenang Ibn al-Abbas bahwa Nabi Suci (saw) berkata:

Ketika aku dibawa naik ke langit (mikraj), aku melihat tulisan pada gerbang langit:

La ilaha illallah, Muhammad Rasulullah, Aliyyin Habib Allah, Al-Hasan wal Husain Sifwat Allah, Fatimah Ummat Allah, ‘ala mabghaduhum la’nat Allah.[63]

Zubair ibn Bakkar – yang termasuk di antara cucu Zubair dan diketahui menyimpang dari Amirul Mukminin (a.s.) – telah meriwayatkan bahwa Rasul Termulia (saw) berkata: “Aku memerintahkan kepada siapa saja yang percaya kepada Allah dan menegaskan risalahku untuk mencintai Ali ibn Abi Thalib dan mengakui perwaliannya (wilayah). Barangsiapa yang mencintainya, mencintaiku dan barangsiapa yang mencintaiku, mencintai Allah.”[64]

Ibn Abil Hadid meriwayatkan atas wewenang Zaid ibn al-Arqam bahwa Rasul Termulia (saw) berkata: “Aku akan membimbingmu kepada sesuatu yang jika diketahui olehmu, kamu tidak akan pernah tersesat. Walimu dan Imammu adalah Ali ibn Abi Thalib. Kenalilah dia sebagaimana Jibril memberitahukanku tentangnya.”

Setelah meriwayatkan hadits ini Ibn Abil Hadid kemudian berkata:

Jika mereka mengatakan, “Ini adalah hujah eksplisit bagi Imamah (Imam Ali), bagaimana kemudian kaum Mu’tazilah menyelesaikan masalah ini? Dalam menjawab, kami katakana: Mungkin yang Nabi (saw) maksudkan bahwa Ali adalah Imam mereka dalam fatwa-fatwa agama dan ahkam (hukum) dan tidak dalam khilafah. Demikian juga, apa yang kami kutip dalam penjelasan pernyataan-pernyataan besar dan terkemudian tokoh-tokoh Mu’tazilah dapat menjadi jawaban, intinya sebagai berikut: Imamah dan khilafah milik Ali dengan syarat bahwa dia akan menunjukkan kecenderungan kepadanya dan memerangi yang lain baginya. Sebagaiman dia melepaskannya kepada seseorang dan berdiam diri, kami menerima perwalian (wilayah) dari yang lain dan percaya kepada keabsahan khilafahnya. Sebagaimana Amirul Mukminin tidak bangkit menentang terhadap ketiga khalifah, tidak mencabut pedang dan menyerukan kepada manusia untuk menentang ketiga khalifah, maka berarti dia telah menyetujui khalifah-khalifah mereka. Berdasarkan pada ini kami menerima mereka dan percaya pada kesucian mereka, kebaikan dan keshalehan mereka. Jika dia memerintahkan memerangi mereka dan menyeru kepada umat untuk melawan mereka, maka kami percaya kepada pelanggaran mereka, penyimpangan dan kesesatan mereka.[65]

Pelajaran Keempat: Ringkasan

Beberapa penulis memandang Syi’ahisme telah muncul pada hari Saqifah, sedangkan yang lain memandang pada babak akhir dari kekhalifahan Utsman bin Affan. Kelompok ketiga percaya bahwa Syi’ahisme muncul setelah pembunuhan Utsman, sementara kelompok keempat mengatakan bahwa Syi’ahisme terlahir setelah kesyahidan Imam Ali (a.s.). Kelompok kelima berpendapat bahwa Syi’ahisme terbentuk setelah peristiwa Karbala.

Sebagian dari ulama Syi’ah secara keseluruhan, beberapa dari ulama Sunni seperti Muhammad Kird Ali mengatakan bahwa akar dari kemunculan Syi’ahisme adalah selama hasa hidup Rasulullah (saw) dan adalah Rasulullah (saw) yang pertamakali menggunakan istilah “Syi’ah” kepada para sahabat Ali (a.s.).

Sejumlah Sahabat Nabi (saw) juga dikenal selama masa itu sebagai “Syi’ah Ali” (a.s.).

Di amping itu, Syi’ahisme merupakan kecintaan dan persahabatan kepada Ali (a.s.) yang untuk ini Nabi (saw) telah perintahkan kepada para Sahabatnya pada berbagai kesempatan.

Pelajaran Keempat: Pertanyaan

  1. Berapa banyak pandangan yang diungkapkan mengenai kemunculan Syi’ahisme? Jelaskan.
  2. Siapakah orang pertama yang menggunakan sebutan “Syi’ah” terhadap para sahabat Ali (a.s.)?
  3. Tulislah dua hadits dari Rasulullah (saw) mengenai Syi’ah.
  4. Apa kata Ibn Abil Hadid mengenai hadits yang berkaitan dengan Syi’ah?
  5. Apa pendapat Ibn hajar al-Haitami berkenaan dengan hadits yang berhubungan dengan Syi’ah?
  6. Apakah kebenaran dari Syi’ahisme?
  7. Tulislah pendapat Ibn Abil Hadid mengenai hadits yang diriwayatkan oleh Zaid ibn al-Arqam.

 

Pelajaran Kelima

Istilah Lain Bagi “Syi’ah”

Setelah masa kekhalifahan Amirul Mukminin (a.s.) dan berkembangnya Syi’ahisme, selain nama “Syi’ah”, sebutan lain seperti Alawi, Imamah, Husayniyah, Itsna As’ariyah, Khassah, Ja’fari, Thurabi, dan Rafidi lambat laun digunakan terhadap para sahabat keluarga Nabi (saw). Meskipunpara pengikut  Ahlul Bait (a.s.) secara keseluruhan disebut “Syi’ah” sebagaimana biasanya, sebutan dan julukan ini juga digunakan kepada kaum Syi’ah pada berbagai kesempatan.

Adakalanya musuh-musuh Syi’ah juga memberikan julukan tertentu terhadap Syi’ah dengan maksud meremehkan dan merendahkan mereka. Selama masa Muawiyah, misalnya, Bani Umayyah dan orang-orang Syam[66] menggunakan julukan “Abu Turab” (secara harfiah, “Bapak Bumi/Tanah”) bagi Ali (a.s.) di antara semua julukan dan ejekan mereka dan mereka memanggil kaum Syi’ah sebagai “Turabis”. Setelah Perang Siffin dan kekhalifahan Ali (a.s.), setiapkali Muawiyah ingin mengutus Abdullah ibn Hadrami ke Basrah, dia akan memeri perintah mengenai suku-suku tetapi menyangkut suku Rabi’ah, Muawiyah berkata: “Biarkan saja Rabi’ah karena mereka semua adalah turabis.”[67] Menurut Mas’udi, Abu Mikhnaf yang memiliki sebuah buku berjudul Akhbar at-Turabiyyin, darinya beliau meriwayatkan peristiwa Ayn al-Warad.[68]

Ditujukan kepada mereka, musuh-musuh Syi’ah menggunakan label “Rafidi” dan dalam banyak kasus, sitiap kali mereka ingin menuduh seseorang yang meninggalkan agama, mereka akan mencapnya sebagai rafidi, sebagaimana asy-Syafi’I katakan:

Jika mencintai keturunan Muhammad adalah Rafidi, dua dunia (manusia dan jin) oleh karenanya akan menjadi saksi bahwa Aku sebenarnya rafidi.[69]

Telah tercatat dalam sejarah bahwa setelah kebangkitan Zaid ibn Ali, kaum Syi’ah kemudian dinamakan Rafidi. Syahristani menulis:

Ketika kaum Syi’ah Kufah belajar dari Zaid ibn Ali bahwa beliau tidak mendeklarasikan keingkaran terhadap dua syeikh (syekhain); Abu Bakar dan Umar, dan memandang boleh Imamah atas orang yang berhak (mafdul) dalam keberadaan orang yang lebih berhak (afdal), mereka mereka meninggalkannya. Oleh karena itu, mereka kemudian didentifikasi sebagai Rafidi karena rafd berarti “meninggalkan”.[70]

Mengenai label “Alawi”, Sayyid Muhsin berkata:

Setelah pembunuhan Utsman dan konfrontasi antara Muawiyah dan Ali (a.s.), para pendukung dan pengikut Muawiyah dijuluki “Utsmani” karena mereka mencintai Utsman dan bermusuhan kepada Ali (a.s.). Di samping “Syi’ah”, para pengikut Ali juga disebut “Alawi”, dan praktek ini berlangsung sampai akhir kekuasaan Umayyah. Selama periode Abbasiyah, label “Utsmani” dan “Alawi” dicabut dan hanya “Syi’ah” dan “Sunni” yang digunakan.[71]

“Imami” merupakan istilah lain yang digunakan kepada Syiah yang secara umum tidak bersesuaian dengan kaum Zaidi. Sebagaimana Ibn Khaldun tulis:

Beberapa Syi;ah percaya dalam hadits-hadits yang jelas memperkuat dalil bahwa Imamah semata pada pribadi Ali dan setelahnya juga akan diwariskan kepada keturunannya. Mereka adalah Imamiyah yang tidak suka terhadap dua syeikh (syeikhain); (Abu Bakar dan Umar), karena tidak memandang Ali lebih utama dan tidak berbaiat kepadanya. Mereka tidak menerima Imamah Abu Bakar dan Umar. Syi’ah lainnya percaya bahwa Allah tidak menunjuk orang tertentu tetapi menggambarkan ciri-ciri Imam yang mana cocok dengan kepribadian Ali dan orang-orang yang berada dalam kekeliruan tidak mengakui ini. Mereka tidak memaki dua syeikh itu dan mereka adalah Zaidis.[72]

Meninjau syair-syair keselamatan dari para pendukung dan sahabat Imam Husain (a.s.), dapat dibedakan bahwa setelah kesyahidannya, Syi’ahnya dan para pendukungnya juga disebut “Husyainis”. Dalam banyak syair mereka, mereka memperkenalkan diri mereka sebagai “Husaynis” atau “agama Husain”.[73] Dalam hal ini, Ibn Abd Rabbih kemudian berkata: “Di antara rafidis ada Husayniyyah dan mereka adalah para sahabat Ibrahim al-Asytar yang telah menjelajahi lorong-lorong Kufah sambil meneriakkan: Ya litharat al-Husayn!” Mereka dinamakan Husayniyyah.”[74]

Sementara itu, istilah “Qat’iyyah” (harfiah: ketegasan) ditujukan kepada Syiah setelah kesyahidan Imam Musa al-Kazim (a.s.) yang tidak bersesuaian dengan kaum Waqifiyyah. Dapat dikatakan bahwa mereka yakin dan tegas berkaitan dengan kesyahidan Imam al-Kazim (a.s.) dan percaya kepada Imamah Imam ar-Ridha (a.s.) serta Imam-imam setelahnya, sebaliknya kaum Waqifiyyah tidak yakin akan kematian Imam al-Kazim (a.s.).[75]

Saat ini, label ”Ja’fariyyah digunakan kepada Syi’ah lebih berdasar pada fiqih mereka yang tidak selaras dengan empat mazhab fiqih Sunni. Alasan untuk istilah ini adalah fiqih Syi’ah mengambil bentuk melalui Imam Ja’far ash-Shadiq (a.s.) dibanding dengan semua Imam (a.s.) dan kebanyakan hadits-hadits mengenai fiqih kami diriwayatkan oleh beliau (a.s.). Meskipun demikian, berkenaan dengan syair yang kami miliki dari Sayyid Humayri, dapat dipahami bahwa hanya atas dasar fiqih selama periode Imam ash-Shadiq (a.s.) istilah ini digunakan kepada Syi’ah, tetapi istilah ini juga telah digunakan kepada mereka dalam pengertian prinsip-prinsip agama (ushul) yang tidak bersesuaian dengan sekte-sekte lain. Syair Humayri adalah sebagai berikut:

Dengan Nama Allah, Aku menjadi seorang Ja’fari, dan Allah Maha Besar.[76]

Dengan menjadi seorang Ja’fari, Sayyid Humayri merujuk kepada perjalanan yang benar dari Syi’ah Imamiyah yang tidak bersesuaian dengan Kaysaniyyah.

Status Ali (a.s.) Di Antara Para Sahabat

Amirul Mukminin Ali (a.s.) menduduki posisi khusus di antara para Sahabat Nabi (saw). Mas’udi berkata:

Dalam pengertian kebaikan dan keutamaan yang dimiliki para Sahabat Nabi (saw), seperti yang lebih diutamakan dalam Islam; hijrah; menolong Nabi; kekerabatan dengan beliau; qina’ah; pengorbanan (ithar); ilmu tentang Kitabullah; jihad; wara’; zuhud; qada’; fiqih; dsb., Ali memiliki andil yang berlimpah dan kesenangan yang sempurna. Inilah sebagian dari fakta bahwa beebrapa kebaikan yang dimiliki oleh beliau saja, seperti persaudaraan Nabi dan pernyataan-pernyataan Nabi seperti: “Engkau bagiku seperti Harun bagi Musa,” “Barangsiapa yang menganggap aku maula’, Ali juga maula’nya. Ya Allah! Tolonglah orang yang menolongnya dan musuhilah orang yang memusuhinya”; dan juga doa Nabi untuk beliau; ketika Annas membawakan masakan burung kepada Nabi (saw), beliau berkata: “Ya Allah! Biarlah makhluk yang paling dicintai (setelahnya) datang agar ikut makan bersamaku.” Lalu Ali datang dan ikut makan bersama Nabi. Inilah sementara kebaikan-kebaikan yang tidak dimiliki para Sahabat lainnya.[77]

Di antara Bani Hasyim, Ali (a.s.) juga orang yang paling dekat dengan Nabi (saw). Beliau dibesarkan di dalam rumah Nabi (saw) dan di bawah pendidikannya.[78] Beliau (a.s.) tidur di ranjang Nabi (saw) pada malam hijrah, mengembalikan milik-milik kepada para pemilik yang dipercayakan kepada Nabi (saw) dan bergabung dengan Nabi (saw) di Medinah.[79]

Yang terpenting di antara semua ini adalah, posisi Ali (a.s.) dalam Islam. Rasul Termulia (saw) menetapkan posisi ini pada permulaan sekali misi Kenabian.

Ketika Nabi menerima perintah dari Allah untuk memanggil sahabat dan keluarganyanya; di dalam majelis hanya Ali yang siap membantu dan menyertai Nabi Suci (saw). Maka dalam majelis itu, Rasul Termulia (saw) mengumumkan di hadapan orang-orang tua di antara para kerabat beliau bahwa Ali adalah wali dari kehendaknya (wasi), duta (wazir), khalifah, dan pengganti, meskipun beliau yang paling muda di antara orang-orang yang hadir.[80]

Nabi Suci (saw) memberitahukan kepada para Sahabatnya pada beebrapa kesempatan mengenai status dan kedudukan Ali (a.s.), memperingatkan mereka untuk mengakui kedudukan beliau. Nabi Suci (saw) mewaspadai sikap mereka terhadap Ali (a.s.) terutama setelah berkembangnya Islam ketika banyak individu-individu dengan bermacam-macam motif ikut dalam barisan Muslimin. Hal ini terutama berkaitan dengan kaum Quraisy yang kedengkiannya terhadap Bani Hasyim telah diperjelas oleh mereka. Ibn Syahr Asyub kemudian meriwayatkan atas otoritas Umar ibn al-Khattab:

Aku pernah menjengkelkan Ali, suatu ketika Nabi datang kepadaku dan berkata: “Engkau menjengkelkan Ali wahai Umar!” Aku berkata: “Aku berlindung kepada Allah dari menjengkelkan Rasulullah!” Beliau berkata: “Engkau menjengkelkan Ali dan orang yang menjengkelkan dia, (berarti) menjengkelkanku.”

Mus’ab ibn Sa’ad telah meriwayatkan dari ayahnya, Sa’ad ibn Abi Waqqas, bahwa: “Aku dan orang lain berada di mesjid dan kami sedang memaki Ali. Dengan murka Nabi datang kepada kami dan berkata: Kenapa kalian menjengkelkanku? Barangsiapa yang menjengkelkan Ali, (berarti) menjengkelkanku.”[81]

Haythami telah meriwayatkan:

Buraydah al-Aslami, yang adalah salah seorang di antara orang-orang yang pergi ke Yaman di bawah Panglima Ali, berkata: “Aku kembali ke Medinah lebih dulu dari pasukan. Orang-orang bertanya kepadaku: “Ada kabar apa?” Aku berkata: “Ada kabar. Allah membuat kaum Muslimin menang.” Mereka bertanya: “Kenapa kamu kembali lebih dulu (dari rombongan pasukan)?” Aku berkata: “Ali telah menentapkan seorang wanita (hasil pampas an perang) bagi dirinya. Aku datang untuk memberitahukan kepada Nabi tentangnya…” Ketika Nabi diberitahu, beliau jengkel dan berkata: “Kenapa ada orang-orang yang merendahkan Ali? Siapa pun yang mencari kesalahann Ali, (berarti) mencari kesalahanku. Siapa saja yang berpisah dari Ali, telah berpisah dariku. Ali dariku dan aku darinya. Dia telah diciptakan dari esensiku dan aku dari esensi Ibrahim meski aku lebih utama dari Ibrahim… Wahai Buraydah! Tidakkah kamu tahu bahwa Ali lebih berhak lebih dari seoramng wanita pampas an? Dia adalah walimu setelah aku.[82]

Ibn Shar Asyub juga meriwayatkan hadits serupa dari Muhadditsun Sunni seperti Tirmizi, Abu Na’im. Al-Bukhari, dan Musalli.[83]

Karena, Ali (a.s.) telah memperoleh kehormatan khusus di antara para Sahabat. Lagi, Ibn Syahr Asyub telah meriwayatkan dari Annas ibn Malik:

Selama zaman Nabi (saw), setiap kali kami ingin mengetahui apakah orang tertentu nakal atau tidak, kami akan mengetahui dengan cara mengujinya dari Ali bin Abi Thalib. Setelah perang Khaybar, setiap lelaki akan memeluk anaknya dan pergi. Jika kebetulan dia melihat Ali, dia akan menunjuk ke Ali dengan tangan anaknya dan bertanya: “Apakah kamu suka dengan orang ini?” Jka si anak berkata, “Ya”, dia (ayahnya) akan mencium anaknya dan jika si anak berkata, “Tidak,” dia (ayahnya) akan menurunkan anaknya dan berkata, “Pergilah ke ibumu!” Ubadah ibn Samit juga berkata: “Kami dulu menguji anak-anak kami dengan kecintaan kepada Ali ibn Abi Thalib. Jika kami menemukan di antara mereka tidak menyukai beliau, kami akan ketahui bahwa dia tidak akan pernah menjadi orang yang lurus.”[84]

Selama tahun-tahun terakhir kehidupan Nabi (saw), isu posisi Ali (a.s.) lebih santer sedemikian rupa sehingga sebutan wasi (wakil kehendak seseorang) menjadi salah satu sebutan baginya yang dikenal luas, yang diterima oleh sahabat-sahabat maupun musuh-musuhnya terutama setelah Nabi (saw) berkata kepada Ali (a.s.) sebelum pergi dalam perang Tabuk:

“Engkau bagiku seperti Harun bagi Musa dengan hanya satu perbedaan, tidak ada lagi Nabi setelah aku.”[85]

Dalam perjalanan Haji Wada’ (Haji terkahir) di Mina dan di Arafah juga, Nabi Suci (saw) memberitahukan kepada ummatnya dalam beberapa khotbahnya mengenai dua belas orang yang akan menjadi penggantinya dan semuanya dari Bani Hasyim. Akhirnya, sekembali dari Mekkah di Ghadir Khum, beliau (saw) menerima perintah dari Allah untuk mengumumkan suksesi bagi Ali (a.s.) kepada semua Muslimin. Beliau memerintahkan kaum Muslimin untuk berhenti dan membuat mimbar yang terbuat dari sadel unta, beliau menyampaikan sebuah khotbah yang panjang. Lalu beliau berkata:

Barangsiapa yang menjadikan aku Maula, maka Ali juga Maulanya. Ya Allah! Engkau jadikanlah teman orang yang menjadi temannya (Ali) dan Engkau jadikanlah musuh orang yang menjadi musuhnya. Tolonglah orang yang menolongnya dan musuhilah orang yang memusuhinya.

Kemudian beliau meminta kepada umat untuk berbaiat kepada Ali (a.s.). Allamah al-Amini telah memberikan penjelasan yang komprehensif mengenai subyek ini dalam jilid pertama bukunya, Al-Gadhir.

Dengan cara seperti ini, Rasulullah (saw) menegaskan identitas penggantinya kepada umatnya. Maka, publik berpendapat bahwa sepeninggal Nabi (saw), Ali (a.s.) maju (sebagai pemimpin kaum Muslimin). Dalam hal ini, Zubayr ibn Bakkar berkata: “Semua Muhajirin[86] dan Anshar[87] tidak meragukan bahwa Ali akan menjadi khalifah dan maula’ atas berbagai urusan setelah Rasulullah (saw).”[88]

Subyek ini sedemikian jelas dalam syair-syair yang telah dicatat dari masa Saqifah dan syair-syair ini memperlihatkan tingkat penyimpangan (distorsi) yang lebih kecil yang pernah terjadi dalam puisi. Uthbah ibn Abi Lahab membawakan syair ini setelah peristiwa Saqifah dan pelantikan Abu Bakkar:

Aku tidak membayangkan bahwa kekhalifahan akan dirampas dari Bani Hasyim dan terhempas dari Abul Hasan (Ali).

Bukankah dia orang pertama yang shalat menghadap kiblat dan yang paling berilmu tentang Al-Quran dan Sunnah?

Dialah orang yang terakhir melihat wajah Nabi: Jibril membantu memandikannya dan mengkafaninya (Nabi).

Mereka tidak berpifir tentang apa yang dia miliki dan apa yang mereka miliki; sebaliknya di dalam suatu kaum tiada seoang pun yang memiliki kebaikannya.

Apa yang membuat mereka merampas (hak) darinya? Katakanlah bahwa kehilangan kami ini adalah yang paling busuk dari segala kehilangan!

Setelah Uthbah membawakan puisi ini, Ali (a.s.) memintanya untuk tidak membacakannya lagi dan berkata: “Bagi kami keamanan agama lebih penting daripada apa pun juga.”[89]

Ibn Abi Abrah juga berkata:

Terimakasih kepada Dia Yang memuliakan yang terpuji. Perselisihan tidak ada lagi dan kesetiaan diberikan kepada Shiddiq (Abu Bakar).

Kami berkata: “Ali adalah pemilik kekhalifahan; kami juga senang dengan Umar; namun yang terbaik di antara mereka dalam hal ini adalah yang tua (Abu Bakar)!”[90]

Selama masa perselisihan antara kaum Anshar dan Quraisy yang telah merebak pada peristiwa Saqifah, Amru ibn al-As telah berbicara menentang Anshar. Ddalam menjawabnya, Nu’man ibn al-Ajlan – salah seorang penyair Anshar – membacakan sebuah syair yang berisikan tentang hak Ali (a.s.):

Katakan kepada Quraisy: “Kami adalah pasukan Penakluk Mekkah dan Perang Hunayn dan barisan Badr!”

 Kalian berkata bahwa penunjukkan Sa’ad atas kekhalifahan itu tidak sah, tetapi penunjukkan kalian ‘Atiq ibn Uthman, Abu Bakar itu sah.

 (Dan kalian berkata): Abu Bakar adalah orang yang (mengemban) tugas ini dan dapat melaksanakannya, tetapi Ali adalah orang yang paling berhak di antara manusia atas kekhalifahan.

 Kami ada di sisi Ali dan dialah orangnya untuk tugas ini, tetapi kalian tidak memahaminya, wahai Amru!

 Orang ini (Ali), dengan pertolongan Allah, menyeru (kita) kepada petunjuk, dan melarang keonaran, penindasan dan kejahatan.

 Dialah wakil kehendak (wasi) al-Mustafa sang Nabi, sepupunya, dan pembunuh para jawara kafirin dan kesesatan (dalalah)![91]

Dengan maksud berterimakasih kepada Fadl ibn al-Abbas yang berada di bawah perintah Ali (a.s.), telah membela Anshar, Hassan ibn Tsabit membacakan syair ini:

Semoga Allah memberikan ganjaran kepada Abul Hasan bagi kami sebagai ganjarannya ada di tangannya. Namun, siapakah yang menyamai Abul Hasan (Ali)?

 Mengenainya, engkau adalah anggota, engkau adalah sesepuh Quraisy. Dadamu luas dan hatimu teruji (suci dan tulus).

 Engkau memelihara apa yang Rasulullah perintahkan kepada kami. Selainmu, siapa lagi yang dapat menjadi yang paling utama baginya, dan dan siapa yang bisa?

 Bukankah engkau saudaranya dalam petunjuk dan wasinya dari kehendaknya, dan di antara mereka, (engkau) yang paling berilmu tentang Kitab dan Sunnah?[92]

Pada awalnya, Abu Sufyan menentang instisusi (Abu Bakar) sebagai khalifah dan membela Amirul Mukminin (a.s.). Dalam hal ini ada sebagian khotbah yang ia sampaikan. Ia juga menggubah syair berikut:

Wahai Bani Hasyim! Jangan izinkan orang lain terlibat dalam urusan kalian terutama Taym ibn Murrah atau Adi.[93]

 Urusan kekhalifahan milikmu seorang dan hanyalah Abul Hasan Ali orangnya.[94]

Akhirnya, pada hari Ghadir Khum, seorang penyair Nabi, Hasan ibn Tsabit, meminta izin kepada Rasulullah (saw) untuk mengisahkan peristiwa Ghadir dalam syairnya, dan kemudian dia membacakannya:

Nabi mereka menyeru mereka pada hari Ghadir Khum, kini, dengarkanlah seruan Nabi!

Jibril membawa sebuah pesan dari Allah bahwa Engkau berada di bawah lindungan Allah; janganlah dipatahkan.”

Sampaikanlah apa yang telah diwahyukan Allah, Tuhan mereka, dan di sini janganlah takut kepada musuh.

Dia mengangkat Ali bersamanya; sementara dia mengangkat tangan Ali dengan tangannya, dia mengumumkan dengan suara yang keras.

Lalu dia berkata kepada umat: “Siapakah maula kalian dan wali kalian? Lalu tanpa menunjukkan ketakpedulian mereka berkata:

“Tuhanmu adalah maula kami dan engkau adalah wali kami, dan tiada seorang di antara kami hari ini yang tidak mematuhimu.”

Lalu dia berkata: “Berdirilah wahai Ali! Karena aku sesungguhnya senang (bila) engkau adalah Imam dan pembimbing setelah aku.”

(Dia lalu berkata): “Oleh karenanya, barangsiapa yang menganggap aku maula, Ali adalah maulanya juga. Semoga kalian menjadi para pendukung mereka yang benar!”

Lalu dia berdoa, dengan berkata: “Ya Allah! Jadikanlah sahabat orang-orang yang menjadi sahabatnya (Ali), dan jadikanlah musuh orang-orang yang memusuhinya.

Maka, Duhai Allah! Tolonglah para pendukungnya sebagaimana mereka menolong Imam petunjuk yang menyerupai bulan di waktu malam yang gelap.”[95]

Sebagaimana jelas dalam syair ini, dalam merekam khotbah Nabi Islam (saw) mengenai Ali (a.s.), Hasan telah menyebutnya Imam, wali dan hadi (pembimbing), yang dengan jelas menetapkan kepemimpinan dan sesepuh umat.

Ya, kaum Muslimin tidak membayangkan bahwa setelah Nabi Suci (saw) wafat, seseorang akan menandingi Ali (a.s.) atas persoalan kekhalifahan dan suksesi kepada Nabi (saw). Sebagaimana Muawiyah menulis dalam menjawab surat Muhamamd ibn Abu Bakar:

Kami dan ayahmu selama periode Rasulullah (saw) pernah menganggap ketataan kepada putra Abu Thalib sebagai bijaksana bagi kami dan keutamaan-keutamaannya tidak tersembunyi dari kami. Setelah Nabi (saw) wafat, ayahmu dan Umar adalah orang-orang pertama yang menginjak-injak posisinya dan menyeru umat untuk bersumpah setia kepada mereka.[96]

Inilah kenapa orang-orang yang tidak berada di Medinah selama bulan-bulan terakhir kehidupan Nabi (saw) dan tidak tahu-menahu akan adanya maker – seperti Khalid ibn Sa’ad dan Abu Sufyan – merasa terguncang ketika kembali ke Medinah, setelah Nabi (saw) wafat, melihat Abu Bakar duduk di  ‘kursi’ Nabi (saw) seraya memperkenalkan dirinya sebagai khalifah Nabi (saw).[97] Bahkan Abu Sufyan – ketika diakembali dari sebuah perjalanan dan melihat situasi seperti ini – datang kepada kepada Abbas ibn Abdul Muthalib dan Ali (a.s.) serta meminta kepada mereka untuk memberontak agar mendapatkan kembali hak-hak mereka, tetapi mereka menolaknya.[98] Tentu saja Abu Sufyan tidak punya niat dalam gerakan ini.

Kesimpulannya, meskipun mayoritas sahabat Nabi (saw) mengakui kekhalifahan Abu Bakar secara resmi, mereka tidak melupakan Ali (a.s.) sebagai orang yang paling berhak (afdal). Setiapkali beliau berada di mesjid, tidak ada yang tahu kecuali beliau yang mengeluarkan fatwa tentang berbagai persoalan agama sebagaimana mereka menganggapnya sebagai “aqdi’ul-ummah” (qadinya umat) seperti ditetapkan oleh Rasul Termulia (saw).[99] Umar pernah berkata: “Semoga Allah melarang hari itu ketika sebuah masalah muncul dan Abul Hasan tidak hadir.”[100]  Sebagaimana dia berkata kepada para Sahabt Nabi (saw): “Setiapkali Ali berada di mesjid, tiada seorang pun kecuali beliau yang memiliki hak untuk mengeluarkan fatwa agama.”[101]

Meskipun setelah Nabi (saw) wafat, Ali (a.s.)tidak mampu memperoleh kekuatan politik, kebajikan dan kehormatannya diriwayatkan oleh para Sahabat Nabi (saw) yang sama. Ibn Haythami – yang adalah salah seorang ulama Sunni yang kukuh – memandang jumlah para perawi hadits mengenai peristiwa Ghadir Khum ada 30 orang di antara para Sahabat.[102] Tetapi Ibn Shahr Asyub telah menghitung ada 80 perawi hadits mengenai Ghadir di antara para Sahabat.[103]

Sementara itu, almarhum Allamah Amini telah menghitung para peraw hadits tentang Ghadir dari para Sahabat adalah: Abu Hurairah; Abu Laila al-Anshari; Abu Zainab al-Anshari; Abu Fudalah al-Anshari; Abu Qudamah al-Anshari; Abu Umra ibn Amru ibn Muhsin al-Anshari; Abul Haitam ibn Tayyihan; Abu Ra’fi; Abu Dha’ib; Abu Bakr ibn Abi Quhafah; Usamah ibn Zaid; Uba ibn Ka’ab; As’adibn Zurarah al-Anshari; Asma’ binti Umais; Ummu Salamah; Ummu Hani; Abu Hamzah Anas ibn Malik al-Anshari; Bara’ ibn Azib; Zubaidah Aslami; Abu Sa’id Tsabut ibn Wadi’ah al-Anshari; Jabir ibn Sumairah; Jabir ibn Abdullah al-Anshari; Jublah ibn Amru al-Anshari; Jabir ibn Mut’am al-Qursyi; Jarir ibn Abdullah Bajli; Abu Zar Jundab ibn Junadah; Abu Junaidah al-Anshari; Hubbah ibn Jawin Arni; Habasyi ibn Junadah as-Saluli; Habib ibn Badil ibn Warqa’ Khaza’I; Huzaifah ibn Asid Ghaffari; Abu Ayyub Khalid ibn Zaid al-Anshari; Khalid ibn Walid al-Makhzumi; Khuzaimah ibn Tsabit; Abu Syarih Khuwailid ibn Amru Khaza’I; Ra’fa’ah ibn Abdul Munzir al-Anshari; Zubair ibn Awwam; Zaid ibnul Arqam; Zaid ibn Tsabit; Zaid ibn Yazid al-Anshari; Zaid ibn Abdullah al-Anshari; Saad ibn Abi Waqqas; Sa’ad ibn Junadah; Salmah in Amru ibn Aku’; Samrah ibn Jundab; Sahl ibn Hanif; Sahl Sa’ad al-Anshari, Ssadi ibn Ajlan; Ddamirah al-Asadi; Thalhah ibn Ubaidullah; Amir ibn Amir; Amir ibn Laila; Amir ibn Laila a;-Ghaffari; Amir ibn Watsilah; Aisyah binti Abu Bakar; Abbas ibn Abdul Muthalib; Abdrurrahman ibn Abdurrabih al-Anshari; Abdurrahman ibn Auf al-Qursyi; Abdurrahman ibn Ya’mur ad-Daila; Abdullah ibn Abi abdul al-Atsar al-Makzumi; Abdullah ibn Badil; Abdullah ibn Basyir; Abdullah ibn Tsabit al-Anshari; Abdullah ibn Ja’far al-Hasyimi; Abdullah ibn Huntab al-Qursyi; Abdullah ibn Rabi’ah; Abdullah ibn al-Abbas; Abdullah ibn Abi ‘Awi; Abdullah ibn Umar; Abdullah ibn Mas’ud; Abdullah ibn Yamil; Utsman ibn Affan; Ubaid ibn Azib al-Anshari; Abu Tarif Adi ibn Hatam; Atiyyah ibn Basar; Uqbah ibn Amir; Ali ibn Abi Thalib; Ammar ibn Yasir; Umarah al-Khazraji; Amru ibn al-As; Amru ibn Murrah Jahni; Fatimah binti Rasulullah (a.s.); Fatimah binti Hamzah; Umar ibn Abi Salmah; Umran ibn Hasin al-Khaza’I; Amru ibn Humq al-Khaza’I; Amru ibn Syarahil; Qais ibn Tsabit al-Anshari; Qais ibn Sa’ad al-Anshari; Ka’ab ibn Ujrah al-Anshari; Malik ibn Huwairats al-Laithi; Miqdad ibn Amru; Najiyah ibn Amru; al-Khaza’i Abu Burzah Fadlah ibn Utbah Aslami; Nu’man ibn Ajlan al-Anshari; Hasyim Marqal; Wasyi ibn Harb; Wahhab ibn Hamzah; Abu Huzaifah; Wahhab ibn Abdullah; dan Yu’la ibn Murrah.[104] Di antara para perawi hadits Al-Ghadir yang bermusuhan dengan Ali (a.s.) – seperti Abu Bakr, Umar, Utsman, Thalhah, Abdurrahman ibn Auf; Zaid ibn Tsabit; Usamah ibn Zaid; Hassan ibn Tsabit; Khalid ibn Walid; dan Aisyah – dapat juga dimasukkan. Bahkan para Sahabat ini yang adakalanya tidak sepakat dengan beliau, membela beliau dalam memerangi musuh beliau. Misalnya, Sa’ad ibn Abi Waqqas – yang berada di antara orang-orang yang memilih demi kepentingan Utsman dan melawan Ali di antara 6 dewan setelah kematian Umar, dan tidak menjalin kerjasama dengan Ali selama kekhalifahan beliau serta lebih suka bersikap netral – beliau berkata dalam pembicaraanya dengan Muawiyah:

“Engkau melawan dan memerangi seseorang yang lebih berhak daripada engkau untuk kekhalifahan.” Muawiyah bertanya: “Kenapa?” Beliau menjawab: “Ssatu alaannya adalah Rasulullah (saw) berkata mengenainya: ‘Barangsiapa yang (memandang) aku maula’, maka Ali maula’nya juga. Ya Allah! Jadikanlah teman orang-orang yang berteman dengannya (Ali), dan jadikanlah musuh orang-orang yang memusuhinya,’ dan alasan lainnya adalah kebajikan dan keutamaannya.”[105]

Demikian juga, Abdullah, putera Amru ibn al-As, bersama ayahnya berada dalam pasukan Muawiyah. Ketika Ammar ibn Yasir terbunuh dan kepalanya dibawa di hadapan Muawiyah, dua orang saling berselisih menyatakan telah membunuh Ammar. Abdullah berkata:

“Lebih baik bagi kalian berdua saling melepaskan haknya karena aku telah mendengar Rasulullah (saw) berkata: “Ammar akan dibunuh oleh seorang kelompok tiran.” Muawiyah jengkel dan berkata: “Jadi apa yang mau dia kerjakan di sini?!” Abdullah menjawab: “Sejak Rasulullah (saw) memerintahkanku untuk mematuhi ayahku, aku di sini bersamamu, tetapi tidak akan berperang.”

Kehadiran Ammar dalam barisan Amirul Mukminin (a.s.), dan pembunuhnya telah digambarkan oleh Rasulullah (saw) sebagai kelompok tiran selama periode kekacauan, merupakan sebuah kesaksian yang jelas terhadap kebenaran Ali (a.s.) sedemikian rupa sehingga bahkan putera Amru ibn al-As pun mengakuinya.

Pelajaran Kelima: Ringkasan

Setelah masa Kekhalifahan Amirul Mukminin Ali (a.s.), sebutan-sebutan lain juga ditujukan kepada kaum Syi’ah. Label-label yang merendahkan seperti rafidi dan Thurabi digunakan oleh musuh-musuh Syi’ah dengan tujuan menghina mereka. Beberapa label lainnya seperti Alawi, Imami, Husainiyyah, Itsna As’ariyah, Khassah, dan Ja’fari juga digunakan untuk mereka.

Ali (a.s.) telah memiliki kedudukan terkemuka di antara para Sahabat Nabi (saw0 dan menjadi seseorang yang paling dekat dengan Nabi (saw) di antara Banu Hasyim. Beliau dibesarkan dalam rumah Nabi (saw), dan yang terpenting dari semuanya, Rasul Termulia (saw) telah menunjuknya sebagai wazir dan khalifa, dan umatnya menyadarinya.

Pelajaran Kelima: Pertanyaan

  1. Secara singkat buatlah daftar istilah-istilah yang digunakan untuk merujuk kepada Syi’ah?
  2. Apa label-label yang digunakan musuh Syi’ah terhadap kaum Syi’ah?
  3. Kenapa kaum Syi’ah disebut Alawi atau Ja’fari?
  4. Apa pernyataan Mas’udi mengenai kedudukan Ali (a.s.)?
  5. Berapa banyak perawi hadits mengenai al-Ghadir di antara para Sahabat Nabi (saw)?
  6. Masalah apa yang digambarkan dalam syair-syair yang dibacakan pada peristiwa Saqifah?
  7. Bagaimana posisi para Sahabat dalam memperlakukan Ali (a.s.)?

Pelajaran Keenam

Peranan Kaum Quraisy Dalam Peristiwa Saqifah

Terlepas dari peristiwa di Ghadir Khum dan berbagai usaha Nabi bagi suksesi Ali (a.s.). terjadi pengumpulan orang di Saqifah. Perintah Allah tidak dijalankan dan keluarga Nabi (saw) terkurung di rumah. Dalam peristiwa ini, peranan Quraisy harus diungkap. Karena kaum Quraisy adalah orang-orang yang ingin dan berhasil menginjak-injak hak keturunan Nabi (saw). Dalam banyak kesempatan, Amirul Mukminin Ali (a.s.) menekankan tindakan-tindakan penindasan dan kezaliman kaum Quraisy dan berbagai usaha mereka dalam memperoleh akses menuju kekhalifahan.[106] Dalam salah satu surat-menyurat dengan Muawiyah, Imam al-Hasan (a.s.) juga menggambarkan dengan detail peranan kaum Quraisy dalam peristiwa Saqifah, berkata:

Setelah Nabi (saw) wafat, kaum Quraisy memandang diri mereka sebagai suku dan yang paling dekat dengan beliau, dan dengan hujjah ini, mereka mengesampingkan suku Arab lainnya dan mengambil alih urusan kekhalifahan. Ketika kami, Ahlul Bait Muhammad (saw), menyodorkan dalil kepada mereka, mereka tidak besikap adil kepada kami dan mereka merampas hak kami.[107]

Imam al-Baqir (a.s.) juga berkata kepada salah seorang sahabatnya:

Apa yang harus kami katakan mengenai penindasan zalim kaum Quraisy terhadap kami, dan Syi’ah kami serta para pendukung kami? Rasulullah (saw) wafat sementara mereka bertanya, “Siapakah yang paling utama di antara manusia?” Namun begitu kaum Quraisy berpaling dari kami hingga mereka mengubah perjalanan kekhalifahan. Mereka menggunakan argumen menentang Anshar dan mengambil tampuk kekhalifahan satu demi satu. Ketika dikembalikan kepada kami, mereka melanggar sumpah setia mereka dan memerangi kami…[108]

Walau demikian, kaum Quraisy telah bersikap seperti ini  sejak dahulu, sehingga umat tahu mereka akan mengambil hak kekhalifahan. Atas dasar ini, kaum Anshar bergegas ke Saqifah untuk mencegah kaum Quraisy lebih dulu menduduki tampuk kekuasaan karena mereka adalah orang-orang monopolistik.

Alasan Di Balik Permusuhan Kaum Quraisy terhadap Keluarga Nabi (saw)

Sekarang pertanyaan ini disodorkan: Kenapa kaum Quraisy bersikap permusuhan terhadap keluarga Nabi (saw)? Bukankah mereka menerima agama mereka dan kehidupan duniawi mereka kepada keluarga ini? Bukankah melalui berkah dari keluarga ini mereka mencapai keselamatan dari kekalahan total? Dalam menjawab pertanyaan ini, kami akan menunjukkan beberapa poin:

1.Ambisi Kaum Quraisy Terhadap Kepemimpinan

Selama periode Jahiliyah kaum Quraisy telah memiliki kedudukan mulia di antara orang-orang Arab di jazirah Arabia. Dalam hal ini, Abul Faraj al-Isfahani berkata: Suku-suku Arab memandang kaum Quraisy lebih unggul dalam segala hal kecuali syair.”[109] Status ini dicapai melalui dua cara:

a.Masalah Ekonomi

Dari Masa Hasyim, Kakek buyut Nabi (saw), kaum Quraisy telah mulai berdagang dengan negeri-negeri tetangga seperti Yaman, Syam, Palestina, Irak, dan Abesinia. Para ningrat Quraisy telah menumpuk kekayaan legendaries di bawah usaha dagang ini.[110] Allah Yang Maha Tinggi menggambarkan perniagaan ini sebagai sumber kesejahteraan dan kesenangan kaum Quraisy, dengan mengatakan:

“(Dalam mensyukuri) solidaritas di antara kaum Quraisy, solidaritas mereka selama perjalanan di musim dingin dan musim panas, membiarkan mereka menyembah Tuhan di Rumah ini, yang telah memberi makan mereka (dan menyelamatkan mereka) dari lapar, dan menenangkan mereka dari rasa takut.”[111]

b.Kedudukan Spiritual

Dikarenakan keberadaan Ka’bah, tempat ziarah suku-suku arab dalam wilayah mereka, kaum Quraisy menduduki posisi spiritual khusus di antara orang-orang Arab. Terutama setelah peristiwa Pasukan Gajah dan kalahnya Abrahah,[112] kemuliian kaum Quraisy, para penjaga Ka’bah, kemudian meningkat dan peristiwa ini berubah menjadi keberuntungan bagi mereka. Mereka menyebut diri mereka sebagai Al Allah (Keluarga Allah), Jiran Allah (Tetangga Allah) dan Sakkan Haram Allah (Penduduk Rumah Allah) dan dengan berlaku demikian, mereka menggabung posisi keagamaan mereka.[113]

Karenanya, atas dasar merasa kuat, kaum Quraisy cenderung kepada eksklusifitas, dan mereka berusaha membuktikan superioritas mereka. Sejak Mekkah menjadi semacam ibukota bagi orang-orang Arab, dan banyak warga Semenanjung Arab datang dan pergi ke sana, kaum Quraisy memaksakan adat istiadat dan tradisi mereka kepada orang-orang yang datang ke Mekkah. Satu misal mengenai pakaian yang digunakan ketika mengelilingi Ka’bah (thawaf), para peziarah perlu membelinya dari mereka.[114] Oleh karena itu, setiap kali mereka rasakan, selama datangnya Rasul Termulia, ajaran-ajaran Islam tidak sesuai dengan rasa eksklusifitas dan superioritas mereka, mereka pun menahan diri dari menerima ajaran-ajaran dan dengan berapi-api mereka menentang aturan-aturan ini dengan segala daya mereka serta menggunakan segala upaya untuk meniadakan Islam. Namun kehendak Allah lain, dan pada akhirnya, Dia memenangkan NabiNya (saw) di atas mereka. Dari tahun ke-8 setelah hijrah, sejumlah kaum ningrat Quraisy pergi ke Medinah dan menyertai rombongan kaum Muslimin, tetapi mereka tidak menghapus sikap permusuhan mereka. Misalnya, Hakam ibn Abil ‘As pernah mengejek Nabi (saw) dan oleh sebab itu Rasulullah (saw) membuangnya ke Tha’if.[115] Karena kaum Quraisy tidak mampu mengkonfrontir Nabi (saw), mereka menyusun makar baru dan kali ini menentang penggantinya. Sekali lagi, Umar berkata kepada Abbas: “Orang-orang Arab tidak menginginkan nubuwwah (kenabian) dan kekhalifahan hanya karena terbatas pada Bani Hasyim.”[116]

Kaum Quraisy juga berkata:

Jika siapa saja dari Banu Hasyim menduduki tampuk kekhalifahan, khalifah tidak pernah tergelincir keluar dari keluar dari keluarga ini dan ia tidak akan pernah terlepas dari kami. Tetapi jika yang bukan anggota Banu Hasyim yang mendudukinya, ia akan berkisar di antara kami dan dibebani kepada kami semua.[117]

Orang-orang pada masa itu juga menyadari mentalitas kaum Quraisy. Sebagaimana diriwayatkan oleh Bara’ ibn Azib, “Aku bersimpati kepada keluarga Banu Hasyim. Ketika Nabi (saw) wafat, aku merasa takut kalau kaum Quraisy berpikir mengambil alih kekhalifahan dari Banu Hasyim dan aku tak bicara untuk memahaminya.”[118]

Persetujuan kaum Quraisy atas kekhalifahan Abu Bakar dan Umar dimotivasi demi keuntungan mereka masing-masing. Karena, pada saat kematiannya, Abu Bakar mengatakan sejumlah Quraisy yang datang untuk mendukungnya: “Saya tahu bahwa masing-masing kalian membayangkan bahwa kekhalifahan akan menjadi milik beliau, tetapi aku memilih yang terbaik di antara kalian.”[119]

Ibn Abil Hadid berkata: “Quraisy tidak suka dengan pemanjangan (tongkat estafet kekuasaan) ke Umar dan Umar menyadari persoalan ini dan dia tidak mengizinkan mereka keluar dari Medinah.”[120]

 

2.Persaingan dan Kedengkian Kesukuan

Salah satu pusaran mengerikan di antara struktur suku-suku adalah perebutan sengit di antara mereka, dan Allah Yang Maha Tinggi menunjukkan persoalan ini dalam beberapa surah Al-Quran seperti Surah at-Takatsur[121] dan Surah as-Saba’.[122]  Sejak masa jahiliyyah sudah ada perebutan kekusaan di antara Banu Hasyim dan suku-suku Quraisy. Padsa peristiwa penggalian sumur Zamzam oleh Abdul Muthalib, seluruh suku Quraisy  berkumpul menentang Bani Hasyim dan mereka tidak siap untuk mengizinkan kemuliaan menggali sumur Zamzam hanya ada di pihak Abdul Muthalib saja.[123] Oleh karena itu, Abu Jahal berkata:

Kami bersaing dengan Banu Hasyim atas kepemilikan kemuliaan (martabat). Mereka memberi orang makanan, kami pun memberi makan mereka. Mereka memberi hewan kendaraan kepada orang; kami pun memberikan. Mereka memberi uang; kami juga memberi. Hal ini sampai membuat kami bersaing ketat satu sama lain, dan kami menjadi seperti dua ekor kuda balap. Lalu mereka berkata: “Muncul dari antara kami seorang nabi yang menerima wahyu dari langit.” Sekarang, bagamana bisa kami bersaing dengannya? Demi Allah! Kami tidak akan pernah percaya kepadanya atau mengakuinya.[124]

Umayyah ibn Abi Salt, salah seorang ningrat dan orang besar dari Tha’if dan salah seorang Hunafa,[125] tidak memeluk Islam karena alasan serupa. Selama bertahun-tahun, dia telah menunggu nabi yang dijanjikan yang akan datang. Namun dia menunggu demi untuk memperoleh posisi ini bagi dirinya. Setelah mengetahui awal misi Nabi (saw), dia menahan diri dari mengikuti beliau mengingat  alasan untuk ini adalah malu terhadap kaum wanita Tsaqif. Ia berkata: “Sudah lama aku berkata kepada mereka: ‘Aku akan menjadi seorang nabi yang dijanjikan.’ Sekarang, bagaimana bisa aku memberi kesaksian kepada mereka melihat aku mengikuti seseorang yang lebih muda dari Banu Abdul Manaf (tertuju kepada Nabi (saw)?”[126]

Namun demikian, meskipun kehendak dan kedengkian mereka, Allah membimbing NabiNya (saw) kepada kemenangan yang menghancurkan gengsi mereka. Setelah tahun ke-8 hijrah, ketika banyak kaum ningrat Quraisy berhijrah ke Medinah, kejengkelan dan kedengkian mereka kepada keluarga Nabi (saw) kebanyakan akibat dari dorongan kaum “Muslim baru” (masuk Islam setelah Mekkah ditaklukkan) ini.

Ibn Sa’ad telah meriwayatkan:

Salah seorang Muhajirin berkata berulangkali kepada Abbas ibn Abdul Muthalib “Ayahmu Abdul Muthalib dan Ghaitalah, peramal wanita Banu Sahm, kedua-duanya berada dalam api (neraka). Akhirnya, Abbas marah dan menamparnya. Akibatnya hidungnya berdarah. Orang itu datang kepada Nabi (saw) dan mengeluh mengenai Abbas. Rasulullah (saw) pun bertanya kepada Abbas pamannya untuk menjelaskan dan Abbas menunduk. Setelah itu, Nabi (saw) berkata kepada orang itu: “Kenapa kamu menjengkelkannya?”[127]

Disebabkan kedudukan khususnya, Ali (a.s.) dicemburui oleh mereka. Imam al-Baqir (a.s.) berkata: “Setiapkali Nabi Suci (saw) menyebutkan kebaikan-kebaikan Ali (a.s.) atau membacakan ayat al-Quran yang diwahyukan mengenai beliau, beebrapa di antara orang-orang yang berada di majelis berdiri dan pergi.”[128]

Karenanya Nabi (saw) telah berulangkali telah memaklumat: “Barangsiapa yang dengki terhadap Ali, dengki terhadapku dan barangsiapa yang dengki terhadapku adalah kafir.”[129]

Bahkan selama masa Nabi (saw), beberapa orang mengungkapkan kedengkian mereka dan secara aktif menjengkelkan dan mengganggu Ali (a.s.) Berkaitan dengan ini, Sa’ad ibn Abi Waqqas kemudian meriwayatkan: “Orang lain dan aku berada di mesjid dan kami memaki Ali. Sambil marah Nabi (saw) datang kepada kami dan berkata: ‘Kanapa kalian menjengkelkanku? Barangsiapa yang menjengkelkan Ali, menjengkelkanku.”[130]

3.Kedengkian Quraisy Terhadap Ali

Akhirnya, alasan terpenting bagi perendahan kepada Ali (a.s.) adalah sikap oposisi dan permusuhan terhadap beliau, sebab mereka telah banyak menderita kerugian dari beliau, dalam berbagai peperangan selama zaman Nabi (saw), Ali (a.s.) telah membunuh ayah-ayah mereka, saudara-saudara mereka dan kerabat mereka yang kafir. Sebagaimana Ya’qubi tulis mengenai berbagai peristiwa pada hari-hari permulaan kekhalifahan Ali (a.s.):

Semua orang bersumpah setia (bai’at) kepada beliau kecuali tiga orang di antara Quraisy: Marwan ibn al-Hakam, Sa’ad ibn al-As, dan Walid ibn Uqbah. Atas nama mereka, Walid berkata kepada Amirul Mukminin (a.s.): “Engkau telah melemparkan pukulan terhadap kami semua. Engkau telah memenggal ayahku setelah (Perang) Badr. Engkau membunuh ayah Sa’id dalam perang dan sewaktu ayah Marwan kembali ke Medinah,[131] engkau mengeluh kepada Utsman.”[132]

Demikian juga, selama kekhalifahan Ali, Ubaidillah ibn Umar meminta kepada Imam Hasan (a.s.) untuk mengunjunginya dan beliau pun membuat janji pertemuan. Ketika Imam Hasan (a.s.) mengunjunginya, ia berkata: “Ayahmu telah menimbulkan pukulan terhadap orang pertama dan terakhir kaum Quraisy dan orang-orang memusuhinya. Bantulah aku untuk menghentikannya dan mendatangkan dia demi keuntungannya.”[133]

Para pesaing Ali (a.s.) juga menyulut api kebencian Quraisy ini terhadap beliau untuk kemudian mengambil keuntungan darinya. Misalnya, Umar ibn al-Khattab berkata kepada Sa’ad ibn al-As: “Engkau memandangku dengan cara seperti itu seolah aku membunuh ayahmu. Tetapi tidak, Ali ibn Abi Thalib-lah yang telah membunuhnya!”[134]

Setelah menerima pukulan fatal di tangan Ibn Muljam, Ali (a.s.) sendiri menunjukkan besarnya permusuhan kaum Quraisy terhadap beliau dalam sebaris syairnya:

“Quraisy ingin membunuhku, tetapi mereka tidak berhasil melakukannya.”[135]

Pelajaran Keenam: Ringkasan

Peranan kaum Quraisy dalam peristiwa Saqifah tidak dapat diabaikan. Karena kaum Quraisy adalah orang-orang yang dapat mensejajarkan diiri mereka dengan hak keturunan Nabi (saw). Pada banyak kesempatan, Amirul Mukminin (a.s.) menunjukkan berbagai perlakuan buruk yang belau alami dari kaum Quraisy. Permusuhan Quraisy terhadap keluarga Nabi (saw) dimotivasi oleh hal berikut:

  1. Ambisi Quraisy terhaap kepemimpinan yang membisiki mereka untuk menolak menerima undangan beliau untuk menerimanya tidak konsisten dengan kepemimpinan mereka.
  2. Adanya persaingan antara Banu Hasyim dan seluruh suku Quraisy dan kedengkian Quraisy terhaap Banu Hasyim.
  3. Permusuhan Quraisy terhadap Ali (a.s.) dikarenakan adanya pukulan berat terhadap mereka.

Pelajaran Keenam: Pertanyaan

  1. Apa peran kaum Quraisy dalam peristiwa Saqifah?
  2. Apa alasan di balik permusuhan Quraisy terhadap keluarga Nabi (saw)?
  3. Jelaskan persaingan dan kedengkian kesukuan.
  4. Apa dasar dari permusuhan Quraisy terhadap Ali (a.s.)?

Pelajaran Ketujuh

Diamnya Amiriul Mukminin Ali (a.s.)

Sekarang mari kita meninjau kenapa setelah peristiwa Saqifah dan permulaan dari kekuasaan Abu Bakar, Ali (a.s.) tidak menuntut atas klaim haknya yang tak dapat disangkal lagi, dan kenapa setelah memperoleh keyakinan atas ketidakberhasilan beberapa bulan melalui argumentasi dan hujjah,beliau tidak berusaha untuk berjuang mengangkat senjata. Mengingat kenyataan bahwa sejumpah Sahabat Terkemuka Nabi (saw) merupakan para pendukung setia beliau dan dalam pada itu kaum Muslimin pada umumnya tidak menentangnya, dapat dikatakan secara umum bahwa Amirul Mukminin Ali (a.s.) mempertimbangkan kepentingan Islam dan umat Islam serta lebih condong untuk berdiam diri. Sebagaimana belau (a.s.) katakana dalam khotbah beliau Khutbah asy-Syaqsyaqiyyah:

Aku memasang tirai terhadap kekhalifahan dan melepaskan diriku darinya. Kemudian aku mulai berpikir apakah aku harus menyerang atau dengan tenang memikul kegelapan yang membutakan kesengsaraan dimana yang baru tumbuh tampak suram dan pemuda tumbuh menjadi tua dan orang beriman bertindak di bawah ketegangan sampai dia menemui Allah (pada kematiannya). Aku menemukan bahwa kesabaran sesudah itu adalah lebih bijaksana. Maka aku pun memakai kesabaran meskipun ada tusukan di mata dan penyumpabatan nafas (pembuluh) di tenggorokan. Aku memperhatikan perampasan atas warisanku…[136]

Tentunya dengan melihat perkataan Ali (a.s.), faktor sekunder lainnya mengenai diamnya beliau dapat ditunjukkan:

1.Perselisihan Di Antara Kaum Muslimin

Amirul Mukminin (a.s.) berkata:

Ketika Allah mengambil jiwa NabiNya, kaum Quraisy dengan egosentris memandang diri mereka lebih utama dari kami dan merampas – yang lebih berhak bagi kepemimpinan ummat – dari hak-hak kami. Namun aku melihat bahwa kesabaran dan ketabahan dalam urusan ini lebih baik daripada pertikaian kaum Muslimin dan penumpahan darah mereka. Adalah karena orang-orang yang baru saja memeluk Islam dan agama adalah seperti kulit kambing yang bersimbah susu berbusa dan orang-orang yang sedikit melempem serta sembrono yang akan merusaknya serta perbedaan paling sepele akan membolak-baliknya.[137]

2.Bahaya Yang Ditimbulkan Kaum Yang Berpaling (Murtadin)

Setelah Nabi (saw) wafat, sejumlah besar suku Arab yang telah memeluk Islam selama tahun-tahun terakhir kehidupan Nabi (saw), berpaling dari agama mereka dan menjadi murtad, dan bahaya ini dengan serius selalu mengancam Medinah. Karenanya, agar tidak melemahkan pemerintahan di Medinah di hadapan mereka, Ali (a.s.) terpaksa berdiam diri. Ali (a.s.):

Aku bersumpah kepada Alah bahwa pada saat yang genting ini bahkan tak dapat dibayangkan bahwa orang-orang Arab akan merampas kursi kekhalifahan dari keluarga dan keturunan Nabi (a.s.) dan mereka akan bersumpah setia bagi kekhalifahan kepada orang lain. Pada setiap tahap, aku menjauhkan diri dari perjuangan atas supremasi dan kekuatan politik sampai aku menemukan orang-orang pembuat bid’ah telah terang-terangan membuat bid’ah dan berusaha untuk merusak dan meruntuhkan agama yang diajarkan oleh Nabi Suci (saw). Aku merasa khawatir akan hal itu, bahkan setelah melihat dan mengakui (adanya) kebathilan, jika aku berdiri menolong Islam dan kaum Muslimin hal ini akan menjadi petaka yang lebih besar bagiku dibanding otoritasku dan kekuasaanku yang hilang di atas kalian, yang hanyalah urusan hidup yang bersifat sementara dan singkat. Oleh karenanya, aku berdiri di tengah sapuan gelombang pembaharuan dan perpecahan awan-awan gelap bid’ah yang bertebaran, kebatilan dan perpecahan hancur dan agama terselamatkan.[138]

Imam Hasan (a.s.) juga menulis sebuah surat kepada Muawiyah: “Karena kami takut bahwa kaum munafik dan golongan Arab lainnya memberikan pukulan kepada Islam, kami tidak mengetahui hak kami.”[139]

Bahkan sejumlah orang-orang yang di dalam hatinya iman tidak masuk, sebagaimana disaksikan oleh Al-Quran, dan telah menerima Islam secara terpaksa, sebagaimana dituntut oleh kemunafikan batin mereka, mereka tidak menerima perwalian (wilayah) Amirul Mukminin (a.s.). Mereka bahkan mengeluh tentang perwalian selama masa hidup Nabi (saw). Pada komentarnya atas ayat Quran, “Seorang penanya meminta ditimpakan hukuman,”[140] Thabarsi telah meriwayatkan dari Imam Shadiq (a.s.):

Setelah peristiwa Ghadir Khum, seorang Arab nomadik dengan nama Nu’man ibn al-Harits datang kepada Nabi (saw) dan berkata: “Engkau telah memerintahkan kami untuk bersaksi bahwa tidak ada dewa kecuali Allah dan bahwa engkau adalah Rasul Allah. Engkau telah memerintahkan kami untuk melaksanakan jihad, puasa, shalat dan membayar zakat dan kami patuhi. Tetapi engkau tidak puas dengan semua ini dan engkau mengangkat sepupumu dengan tanganmu dan memaksanya atas kami sebagai maula dengan mengatakan, ‘Ali adalah maula yang darinya aku maulanya.’ Apakah pembebanan ini dari Allah atau dari engkau?” Rasulullah (saw) berkata: “Demi Allah yang adalah satu-satunya dewa! Ini dari Alah, Yang Maha Kuasa dan Maha Mulia.” Mendengar jawaban ini Nu’man ibn al-Harits berpaling dan melangkah menuju untanya seraya berkata, “Ya Allah! Jika yang dikatakan Muhammad itu benar, maka jatuhkanlah sebuah batu dari langit atas kami yang sangat menyakitkan dan menyiksa.” Belum sampai ke untanya, Allah menjatuhkan sebuah batu kepadanya dan menghantam kepalanya, menembus ke tubuh dan membuatnya terkapar mati. Adalah karena peristiwa ini Allah Yang Maha Tinggi menurunkan ayat ini.[141]

Dalam peristiwa Saqifah, orang-orang seperti ini juga berdampingan dengan kaum Quraisy. Sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Mikhnaf, sejumlah Arab nomadic, yang pergi ke sekitar Medinah untuk berbagai transaksi dan tinggal di Medinah setelah kewafatan Nabi (saw), mempunyai peran fisik yang menonjol dalam mendesak umat untuk bersumpah setia kepada Abu Bakar.[142]

3.Keamanan Keturunan Nabi (saw)

Pewaris asli Nabi (saw) dan pengikut setia agama adalah anggota keluarga Nabi (saw). Mereka adalah sekutu Al-Quran, legasi sekunder Nabi (saw) dan penafsir hukum-hukum agama dan mereka menunjukkan kepada umat kemurnian dan kesejatian Islam setelah Nabi (saw) wafat. Memusnahkan mereka akan berarti kerugian yang tak ada gantinya. Amirul Mukminin (a.s.) berkata:

“Lalu aku melihat dan menemukan bahwa tidak ada pendukung bagiku kecuali keluargaku (ahlul bait), maka menahan diri dari menjerumuskan mereka kepada kematian.”[143]

Pembentukan Politik Konkrit Syi’ah Setelah Peristiwa Saqifah

Meskipun Ali (a.s.) menjauhkan dirinya dari urusan politik dengan terbentuknya Saqifah, Syi’ah dalam bentuk kelompok khusus berikut orientasi politik tertentu pula terbentuk setelah peristiwa Saqifah dan secara kolektif maupun individu membela hak Ali (a.s.). Mereka pertama-tama berkumpul di rumah Fatimah (a.s.) dan menolak memberikan baiat kepada Abu Bakar sebagaimana mereka menghadapi serangan gencar dari para arsitek Saqifah.[144] Tetapi karena Ali (a.s.) tidak suka dengan tindakan sembarangan melawan mereka demi menjaga Islam, beliau menantang mereka berdebat dan berargumentasi. Bara’ ibn Azib kemudian meriwayatkan:

Aku kehilangan berbagai perkara mengenai Saqifah. Sebagaiman aku pergi ke Mesjid Nabi (saw), aku melihat Miqdad, Ubadah ibn Samit, Salman al-Farisi, Abu Zar, Huzaifah dan Abul Haitam ibn Tayyiham sedang berbicara tentang peristiwa yang terjadi setelah wafatnya Nabi (saw). Beliau pergi bersama ke rumah Ubay ibn Ka’ab yang berkata bahwa pandangannya sama dengan apa pun yang Huzaifah akan katakan.[145]

Akhirnya, pada hari jumat Syi’ah Ali (a.s.) pergi ke Mesjid Nabi untuk berdebat dan mengutuk Abu Bakar. Dalam hal ini, Thabarsi kemudian meriwayatkan:

Aban ibn Taglib bertanya kepada Imam Shadiq (a.s.), “Semoga aku menjadi tebusanmu! Ketika Abu Bakar duduk di tempat Rasulullah (saw), apa ada orang yang memperotesnya?” Imam (a.s.) berkata: “Ya, ada dua belas orang di antara Muhajirin dan Anshar, seperti Ibn Sa’id, Salman al-Farsi, Abu Zar, Miqdad, Ammar, Buraidah Aslami, Abul Haitam ibn Tayyiham, Sahl ibn Hanif, Utsman ibn Hanif, Khuzaimah ibn Tsabit, Zu’ah Syahadatain, Ubay ibn Ka’ab, dan Abu Ayub al-Anshari. Mereka berkumpul di tempat tertentu dan membahas peristiwa di Saqifah da memikirkan solusinya. Beberapa orang berkata: “Kami akan pergi ke mesjid dan menurunkan Abu Bakar dari mimbar. Beberapa orang lainnya tidak setuju dengan gagasan ini, menimbang hal ini tidak dianjurkan. Kemudian mereka menemui Ali (a.s.) dan berkata: “Kami akan pergi dan menurunkan Abu Bakar dari mimbar.” Imam (a.s.) berkata: “Mereka banyak. Begtu anda ke sana dengan niat ini dan bertindak sembarangan, mereka akan datang dan berkata: “Kalian bersumpah setia, jika tidak, kami akan membunuh kalian.” Maka, kalian harus pergi menemuinya dan katakana kepadanya apa yang kalian telah dengar dari Rasulullah (saw) dan ini adalah segala hujjah”. Mereka pun pergi ke mesjid dan orang pertama di antara mereka yang berbicara adalah Khalid ibn Sa’ad al-Umawi yang berkata: “Wahai Abu Bakar! Engkau menyadari bahwa setelah Perang Banu Nadir, Nabi Suci (a.s.) berkata: “Kalian harus tahu dan jaga kehendakku. Setelah aku, Ali akan menjadi khalifahku dan penggantiku di antara kalian. Tuhanku telah memerintahkanku.” Setelah dia, Salman berdiri dan membuat pernyataannya yang terkenal dalam bahasa Persia: “Kardid nakardid.”[146] Setelah argumentasi mereka, Abu Bakar turun dari mimbar, pulang ke rumah dan tidak keluar rumah selama tiga hari sampai suatu ketika Khalid ibn Walid, Salim Mawla Abu Huzaifah dan Mu’az ibn Jabal datang bersama yang lainnya ke rumah Abu Bakar dan memberinya kekuatan kehendak. Umar ikut bersama rombongan ini ke gerbang mesjd dan berkata: “Wahai Syi’ah dan para pendukung Ali! Sadarilah bahwa jika kalian mengucapkan kata-kata seperti ini lagi, aku akan penggal kalian!”[147]

Demikian juga, sejumlah kaum Syi’ah di antara para Sahabat yang, pada saat Nabi (saw) wafat, sedang berada dalam sebuah misi di luar Medinah, seperti Khalid ibn Sa’id dan dua saudaranya, Abdan dan Amru, memprotes Abu Bakar sekembalinya mereka dari misi mereka. Sebagai tanda dari protes dari ketiga bersaudara ini tidak melanjutkan fungsi mereka yaitu mengumpulkan zakat, mereka berkata: “Kami tidak akan bekerja bagi orang lain sepeninggal Nabi (saw).”[148]

Tertuju kepada Ali (a.s.), Khalid ibn Sa’id berkata: “Majulah sehingga aku dapat memberi bai’atku kepadamu karena engkau adalah orang yang paling berhak dalam kedudukan Muhammad (saw).”[149]

Sepanjang 25 tahun tiga kekuasaan tiga khalifah, Syi’ah di antara para shabat selalu memperkenalkan Ali (a.s.) sebagai khalifah dan Amirul Mukminin yang sebenarnya. Abdullah ibn Mas’ud berkata: Berdasarkan Al-Quran ada empat khalifah, yaitu Adam, Daud, Harun dan Ali.”[150]

Barangsiapa yang ingin bersaksi Amirul Mukminin yang sesungguhnya, akan menemui Ali.”[151]

Harits ibn Hazraj, pemegang panji dari kaum Anshar dalam berbagai Peperangan bersama Nabi (saw), meriwayatkan bahwa Nabi Suci (saw) berkata kepada Ali (a.s.), “Para penghuni langit telah menyebutmu ‘Amirul Mukminin.’”[152]

Ya’qubi menulis:

Setelah enam orang dewan diajukan oleh Umar dan pemilihan Utsman, beebrapa dari mereka condong kepada Ali dan berbicara menentang Utsman. Orang tertentu kemudan bercerita: Aku memasuki Mesjid Nabi. Aku melihat seseorang sedang duduk berpangku lutut dengan tidak sabar seolah dia sedang memikul seluruh dunia, dan setelah dibawa oleh mereka, dia berkata orang-orang: “Betapa mengejutkannya kaum Quraisy! Mereka mengambil kekhalifahan dari keluarga Nabi (saw) sementara di antara keluarga ini adalah orang yang pertama beriman, sepupu Rasul Allah, yang paling terpelajar dan berilmu di antara manusia mengenai agama Allah, dan yang paling berwawasan di antara manusia kepada jalan yang benar dan Jalan yang Lurus (Sirat Mustaqim). Mereka mengambil kekhalifahan dari Imam petunjuk, pembimbing (mahdi), suci (tahir) dan murni (naqi) dan tujuan mereka bukan untuk mereformasi umat dan keagamaan. Mereka lebih condong ke dunia daripada akhirat.” Perawi berkata: “Aku mendekati dan bertanya kepadanya: ‘Semoga Allah merahmatimu! Siapakah kamu?’ Dia berkata: “Aku adalah Miqdad ibn Amru dan orang itu (yang aku maksudkan) adalah Ali ibn Abi Thalib.” Aku berkata: ‘Engkau memicu pemberontakan dan aku akan menolongmu.’ Miqdad berkata: “Puteraku, pekerjaan ini tidak dapat dilakukan dengan hanya dengan satu atau dua orang saja.”[153]

Selama kekhalifahan Utsman, Abu Zar al-Ghaffari juga berdiri di pintu Mesjid Nabi (saw) dan berkata:

Barangsiapa yang mengenalku telah mengakuiku dan barangsiapa yang tidak mengenalku maka seharusnya mengetahui bahwa aku adalah Jundab ibn Junadah, Abu Zar al-Ghaffari…. Muhammad (saw) adalah penwaris ilmu Adam (a.s.) dan semua kebajikan para Nabin (a.s.) dan Ali ibn Abi Thalib (a.s.). Wahai orang-orang yang mengacaukan dan menyimpangkan umat sepeninggal Nabi (saw)! Sadarilah bahwa jika kalian mengutamakan seseorang yang telah diutamakan oleh Allah dan telah ditetapkan perwalian (walayah) atas keluarga Nabi kalian, rahmat dari atas dan bawah akan tercurahkan atas kalian dan setiap masalah kalian ingin kalian (dapatkan) informasinya akan diperoleh dari mereka dari Kitab Allah dan Sunnah Nabi. Tetapi sekarang, kalian melakukan sesuatu yang lain, kalian akan lihat akibat dari apa yang telah kalian lakukan.[154]

Ya, kelompok Syi’ah pertama dan pembentukannya telah dipelopori oleh para Sahabat terkemuka Nabi (saw) dan melalui mereka Syi’ah dari Sahabat ini, Syi’ahisme dilanjutkan kepada generasi berikutnya (Tabi’in). Dan atas dasar berbagai usaha mereka akhirnya kekuasaan Utsman berakhir, dari sudut pandang politik, inilah landasan bagi terbukanya kekhalifahan Ali (a.s.)..

Pelajaran Ketujuh: Ringkasan

  1. Mengabaikan haknya dan berdiam diri demi kepentingan Islam. Menimbang berbagai pernyataannya dalam hal ini, faktor-faktor berikut dapat diidentifikasi:
  2. Perselisihan di antara kaum Muslimin;
  3. Bahaya yang ditimbulkan oleh kaum yang berpaling (murtadin), dan
  4. Keamanan Keturunan Nabi (a.s.).
  5. Setelah peristiwa Saqifah, Syi’ah terbentuk sebagai sebuah kelompok khusus berikut orientasi politik khusus pula, dan mereka baik secara individu maupun kolektif membela hak Ali (a.s.).

Mereka berkumpul di rumah Fatimah (a.s.), mengingatkan Abu Bakar di dalam Mesjid, dan selama jangka waktu 25 tahun lamanya, mereka secara terus menerus memperkenalkan Ali (a.s.) sebagai khalifah sesungguhnya kepada manusia.

Pelajaran Ketujuh: Pertanyaan

  1. Buatkan daftar alasan-alasan bagi diamnya Amirul Mukminin (a.s.)
  2. Setelah peristiwa Saqifah, pada tahap yang bagaimana kaum Syi’ah berada?

Pelajaran Kedelapan

Syi’ah Di Antara Para Sahabat

Telah kami katakana sebelumnya bahwa orang pertama yang dinamakan para pengikut Ali (a.s.) sebagai “Syi’ah” adalah sang penerima wahyu ilahi, Muhammad al-Mustafa (saw). Selama zaman Nabi Suci (saw) sejumlah Sahabatnya dikenal sebagai “Syi’ah Ali”. Dalam Khafat asy-Syam, Muhammad Kird Ali menulis:

Selama periode Nabi Suci (saw), sejumlah Sahabat besar dikenal karena persahabat dan pertemanan dengan Ali seperti Salman al-Farsi yang berkata: “Kami bersumpah setia kepada Rasulullah (saw) (saw) bahwa kami akan menjadi pemberi selamat di antara kaum Muslimin dan bahwa kami mengikuti dan melindungi Ali ibn Abi Thalib”; dan Abu Sa’a’d al-Khurdi juga mengatakan: “Kami diperintahkan kepada lima perkara, yang darinya manusia bertindak berdasarkan yang empat namun telah meninggalkan yang satu darinya.” Dia ditanya: “Apa yang empat itu?” Dia menjawab: “Shalat, zakat, puasa di bulan Rhamadan, dan Hajji.” Dia ditanya lagi: “Apakah satu perkara yang manusia tinggalkan?” Dia menjawab: “Wilayah Ali ibn Abi Thalib.” Orang itu bertanya: “Apakah ini juga wajib seperti kewajiban yang lainnya?” (Di antara kaum Syi’ah) juga ada Abu Dzar al-Ghiffari, Ammar ibn Yasir, Khdiqah ibn Yaman, Khuzaymah ibn Tsabit Zuzy-Syahadatain, Abu Ayyub al-Anshari, Khalid ibn Sa’id, dan Qais ibn Sa’ad.[155]

Mengenai Syi’ah perintis, Ibn Abil Hadid juga mengatakan:

Berbicara mengenai keutamaan Ali adalah sebuah masalah lama yang di dalamnya sejumlah besar Sahat dan Pengikut (tabi’in) percayai. Di antara para Sahabat ada Ammar, Miqdad, Abu Zar, Salman, Jabir, Ubay bin Ka’ab, Huzaifah, Buraidah, Abu Ayyub, Shal ibn Hunaif, Utsman ibn Tufail, Amir ibn Wathilah, Abbas ibn abdul Muthalib, dan semua anggota Bani Hasyim serta Bani Muthalib. Pada awalnya, Zubair juga percaya kepada keutamaan Ali. Mereka berjumlah sedikit dari kalangan Bani Umayyah, seperti Khalid ibn Sa’id dan sesudah itu Umar ibn Abdul Aziz.[156]

Dalam ad-Darajat ar-Rafi’ah fi Thabaqat asy-Syi’ah, Sayyid Ali Khan asy-Syirazi telah membagi kaum Syi’ah di antara para Sahabat. Beliau pertama-tama menyebutkan para anggota Bani Hasyim dan setelah itu Syi’ah lainya di antara para Sahabat. Dalam bagian pertama berkaitan dengan para Sahabat Syi’ah di antara para anggota Bani Hasyim, sebagaimana dinyatakan:

Abu Thalib, Abbas ibn Abdul Muthalib, Abdullah ibn al-Abbas, Fadl ibn al-Abbas, Ubaidullah ibn al-Abbas, Qithm ibn al-Abbas, Abdurrahman ibn al-Abbas, Tamam ibn al-Abbas, Aqil ibn Abi Thalib, Abu Sofyan ibn Harith ibn Abdul Muthalib, Nawfal ibn Harith ibn Abdul Muthalib, Abdullah ibn Zubair ibn Abdul Muthalib, Abdullah ibn Ja’far, Awn ibn Ja’far, Muhammad ibn Ja’far, Rabi’ah ibn Harits ibn Abdul Muthalib, Tufail ibn Harits ibn Abdul Muthalib, Mughairah ibn Nawfal ibn Harits ibn Abdul Muthalib, Abbas ibn Utbah ibn Abi Lahab, Abdul Muthalib ibn Rabi’ah ibn Harits ibn Abdul Muthalib, dan Ja’far ibn Abi Sofyan ibn Harits ibn Abdul Muthalib.[157]

Dalam bagian kedua (Syi’ah non Bani Hasyim di antara para Sahabat), Sayyid Ali Khan telah mencatat:

Amr ibn Abi Salmah, Salman al-Farsi, Miqdad ibn Aswad, Abu Zar al-Ghiffari, Ammar ibn Yasir, Huzaifah ibn Yaman, Khzaimah ibn Tsabit, Abu Ayyub al-Anshari, Abul Haitam Malik ibn Tayyihan, Ubay ibn Ka’ab, Sa’ad ibn Ubadah, Qais ibn Sa’ad, Sa’ad ibn Sa’ad ibn Ubadah, Abu Qutadah al-Anshari, Uday ibn Hatam, Ubadah ibn Samit, Bilal ibn Rubah, Abul Humara, Abu Rafi’ Hasyim ibn Utbah ibn Abi Waqqas; Utsman ibn Hunaif, Sahl ibn Hunaif, Hakim ibn Jablah al-Adwi, Khalid ibn Sa’id ibn al-As, Walid ibn Jabir Talim at-Ta’I, Sa’ad ibn Malik ibn Sinan, Bara’ ibn Malik al-Anshari, Ibn Hasib Aslami, Ka’ab ibn Amru al-Anshari, Rafa’ah ibn Rafi al-Anshari, Malik ibn Rabi’ah Sa’idi, Uqbah ibn Umar ibn Tsalabah al-Anshari, Hind ibn Abi Halah at-Tamimi, Ju’dah ibn Hubayrah, Abu Umrah al-Anshari, Mas’ud ibn Al-Aus, Ndlah ibn Ubayd, Abu Burzah Aslami, Mardas ibn Malik Aslami, Musur ibn Syidad Fahri, Abdullah ibn Budayl al-Khaza’I, Hujr ibn Adi al-Kindi, Amru ibn al-Arqam, an Bara ibn Azib Aust.[158]

Penulis Rijal al-Burqa juga telah menyebutkan Syi’ah dan para pendukung Ali di antara para Sahabat Nabi (saw) dalam bagian tertentu dari kitabnya, yakni:

Salman, Miqdad, Abu Zar, dan Amar, dan setelah empat orang ini, Abu Layla, Syabir, Abu Umrah al-Anshari, dan Abu Sinan al-Anshari, dan setelah ini ada empat nama, Jabir ibn Abdullah al-Anshari, Abu Sa’id al-Anshari yang namanya adalah Sa’ad ibn Malik al-Khazrajj; Abu Ayyub al-Anshari, Buraidah ibn Hasib Aslami, Abdurrahman ibn Qays yang julukannya adalah Ssafinah Rakib Asad, Abdullah ibn Ssalam, Abbas ibn Abdul Muthalib, Abdullah ibn al-Abbas, Abdullah ibn Ja’far, Mughairah ibn Nawfal ibn Harits ibn Abdul Muthalib, Huzaifah al-Yaman yang termasuk di antara kaum Anshar; Usamah ibn Zaid, Annas ibn Malik, Abul Humra’, Bara ibn Azib al-Anshari, dan Arafah Azdi.[159]

Sejumlah ulama Syi’ah dan rijali percaya bahwa kaum Syi’ah di antara para Sahabat lebih dari jumlah tersebut. Misalnya, Syeikh al-Mufid memandang semua Sahabat yang telah bersumpah setia kepada Ali (a.s.) di Medinah khususnya Sahabat-sahabat yang menyertai beliau dalam berbagai peperangan sebagai termasuk di antara Syi’ah dan orang-orang yang percaya kepada Imamahnya. Dalam Perang Jamal, seribu lima ratus Sahabat ikut (bersama beliau).[160]

Kemudian tercatat dalam Rijal Kasyi:

Di antara para Sahabat perintis yang mengikuti jalan kebenaran dan percaya kepada Imamah Amirul Mukminin Ali (a.s.) adalah sbb.: Abul Haitam ibn Tayyihan, Abu Ayyub, Khuzaimah ibn Tsabit, Jabir ibn Abdullah, Zaid ibn Arqam, Abu Sa’id Sahl ibn Hunaif, Bara’ ibn Malik, Utsman ibn Hunaif, Ubadah ibn Samit, dan setelah mereka adalah Qays ibn Sa’ad, Uday ibn Hatam, Amru ibn Hamq, Umran in Hasin, Buraydah Aslami, dan yang lainnya digambarkan sebagai “Basarun Katsir” (orang banyak).[161]

Dalam catatan kecil Rijal Kasyi mengenai definisi dan penjelasan istilah “basaran katsir”, almarhum Mirdamad berkata: “Artinya banyak orang di antara para sahabat terkemka dan para pengikut terkemudian (tabi’in).[162]

Sayyid Muhsin juga mengatakan:

Sadarilah bahwa banyak di antara para Sahabat yang percaya kepada Imamah Amirul Mukminin (a.s.) (sehingga) untuk menghitungnya tidaklah mungkin bagi kita dan para perawi hadits memiliki konsensus pendapat bahwa kebanyakan para Sahabt yang menyertai dan mendampingi Amirul Mukminin (a.s.) dalam berbagai peperangan.[163]

Dalam salah surat beliau kepada Muawiyah, Muhammad ibn Abu Bakar memperkenalkan kehadiran para Sahabat Nabi (saw) di pihak Ali (a.s.) sebagai salah satu tanda akan kebenaran beliau (a.s.).[164]

Muhammad ibn Abi Huzaifah, seorang pendukung setia Ali (a.s.) yang adalah sepupu (dari pihak ibu) dari Muawiyah, dan memperlihatkan persahabatan dengan Ali (a.s.) menderita di dalam penjara Muawiyah dan akhirnya mati di sana, dalam salah satu pembicaraannya dengan Muawiyah, ia berkata:

Dari saat aku mengenalmu, baik selama periode jahiliyah atau selama datangnya Islam, engkau tidak pernah berubah dan Islam tidak ‘nyambung” denganmu. Dan salah satu manifestasi dari fakta ini bahwa engkau melaknatku karena aku mencintai Ali kendati kenyataannya, semua asketik dan para ahli ibadah di kalangan Muhajirin dn Anshar bersahat dngan beliau, sedangkan mereka yang bersahabat denganmu adalah orang-orang murtad dan munafik.[165]

Tentu saja, tidak semua orang yang terdaftar dalam pasukan Amirul Mukminin (a.s.) adalah Syi’ah. Tetapi sejak beliau menjabat sebagai khalifah, mereka menyertai beliau (a.s.). Pernyataan ini dapat dikatakan benar berkaitan dengan orang-orang yang lainnya, karena para Sahabat yang menyertai beliau (a.s.) elalu membantu Imam (a.s.) dalam membuktikan kebenaran beliau (a.s.). Sebagaimana Salim ibn Qays meriwayatkan:

Amirul Mukminin (a.s.) menaiki mimbar di Siffin dan setiap orang termasuk Muhajirin dan Anshar termasuk dalam pasukan yang berkumpul di sekitar mimbar. Imam memuji dan memuliakan Allah dan kemudian berkata: “Wahai manusia! Kebaikan dan keutamaanku melebihi dari apa yang dapat dihitung. Cukup dapat dikatakan bahwa ketika Rasul Allah (saw) ditanya tentang ayat, “Dan orang-orang yang terkemuka dalah orang-orang yang terkemuka; mereka adalah orang-orang yang mendekatkan (kepada Allah).”[166] Beliau (saw) berkata: “Allah telah menurunkan ayat ini mengenai para nabi dan para pengganti mereka (aulia). Aku lebih utama daripada semua nabi dan rasul dan penggantiku (wasi) Ali ibn Abi Thalib adalah yang paling terkemuka di antara para pengganti (wasi).” Pada saat itu, tujuh puluh orang dari para Sahabat yang berpartisipasi dalam Perang Badr, yang kebanyakan adalah dari kalangan Anshar, berdiri dan bersaksi bahwa mereka telah mendengar hal serupa dari Rasulullah (saw).[167]

Pelajaran Delapan: Ringkasan

Syi’ah perintis adalah para Sahabat Nabi terkemuka. Muhammad Kird  Ali dalam Khafat asy-Syam telah mencatat bahwa sejumlah Sahabat dikenal sebagai “Syi’ah Ali” selama masa hidup Nabi (saw).

Sayyid Ali Khan asy-Syarazi dalam Ad-Darajat ar-Rafi’ah fi Tabaqat asy-Syi’ah telah meninjau kaum Syi’ah di antara para Sahabat dalam dua bagian: Para Sahabat Syi’ah di antara Banu Hasyim, dan para Sahabat Syi’ah yang bukan anggota Banu Hasyim.

Penulis Rijal al-Burqa juga telah membagi bagian tertentu dari kitabnya mengenai para pendukung Ali (a.s.) di antara para Sahabat Nabi (a.s.).

Dalam Al-Jamal, Syeikh al-Mufid memandang semua sahabat yang menyertai dan mendampingi Ali (a.s.) dalam berbagai peperangan beliau sebagai Syi’ah.

Dalam Rijal Kasyi, setelah menyebutkan satu per satu kaum Syi’ah di antara para Sahabat, Syeikh at-Tusi kemudian mengatakan: “Sejumlah besar orang percaya kepada Imamah Ali (a.s.).”

Para pendukung Amirul Mukminin (a.s.) juga menunjukkan kepada Muawiyah hadirnya para Sahabat Nabi (saw) di pihak Ali (a.s.) sebagai salah satu indikasi akan kebenarannya.

Pelajaran Kedelapan: Pertanyaan

  1. Jelaskan sesuatu tentang Syi’ah di antara para Sahabat.
  2. Berapa banyak Sahabat yang hadir di pihak Ali (a.s.) pada perang Jamal (unta)?

[1] Misalnya dalam puisi:

“Sungguh, lelaki Khazraji mempunyai hati yang berani dan tidak takut dalam melaksanakan tugas besar.” Al-Khalil ibn Ahmad Al-Farahidi, Tariib Kitab Al-Ain (Tehran: Instisyarat-e ASweh, n.d.) jld.2, hlm.960.

[2] Firuz Abadi, Qamus al-Lughah (Litografi), hlm.332.

[3] Abu Faid as-Sayyid Murtadha al-Husainy al-Wasifi al-Zaidi al-Hanafi, Taj al-‘Arus, jld.11, hlm.257.

[4] Abdul Rahman ibn Muhammad Ibn Khaldun, Al-Muqaddimah (Beirut: Dar Ihya’ at-Turath al-Arabi, 1408 H), hlm.196)

[5] Syahristani, Kitab al-Milal wa Nihal (Qum: Mansyurat asy-Syarif ar-Radi, 1364 H), jld.1, hlm.131.

[6] Surah ash-Shaffat 37:83.

[7] Surah al-Qasas 28:15.

[8] Kami akan mengutip hadits-hadits ini dalam bab selanjutnya.

[9] Ibn Hajar al-Haitami, salah seorang ulama Sunni menyebutkan hadits tentang duabelas Imam, dan berkaitan dengan keotentikannya beliau menyatakan memiliki konsensus pendapat sebagaimana diriwayatkan melalui berbagai sanad. Maka beliau memulai menafsirkan dengan mengutip hadits berisi pernyataan-pernyataan yang bertentangan dengan cendikiawan dan ulama Ahlus Sunnah; pada akhirnya beliau gagal mencapai kesimpulan yang tegas. Misalnya, Qadi Iyad al-Yahsubi berkata: “Mungkin ini artinya dua belas khalifah yang adalah para penguasa selama periode kekhalifahan yang agung dan kejayaan Islam, yakni sampai pemerintahan Walid bin Yazid.” Yang lainnya berkata: “Hadits ini merujuk kepada dua belas khalifah dalam kebenaran yang akan berkuasa sampai Hari Kiamat, beberapa pemerintahannya telah berlalu, seperti pemerintahan Khulafa ar-Rashidin, Imam Hasan, Muawiyah, Abdullah ibn Zubair, Umar ibn Abdul Aziz, dan Mahdi al-Abbas. Dua lagi akan datang, Salah seorang dari mereka adalah Imam Mahdi dari Ahlul Bait (a.s.).” Beberapa ulama juga telah menafsirkan hadits tentang dua belas Imam merujuk kepada dua belas Imam, dimana setelah Imam Mahdi (afs), maka enam lagi akan datang yang berasal dari keturunan Imam Hasan (a.s.), sementara lima lainnya berasal dari keturunan Imam Husain (a.s.). As-Syawa’iq al-Muhriqah, edisi kedua (Kairo: Maktabah al-Qahirah, 1385 H), hlm.20-21.

[10] Al-Kulayni, Ushul al-Kafi, cetakan kelima (Tehran: Dar al-Kutub alIslamiyah, 1363 H), jld.1, hlm.377.

[11] Syeikh at-Tusi, Ikhtiyar Ma’rifah ar-Rijal (Qum: Mu’assasah Al al-Bayt Li Abya’ at-Turath, (1404 H), jld1, hlm.371.

[12] Ibid., jld.2, hlm.763.

[13] Ibn al-Qutaibah, Al-Ma’arif, edisi pertama (Qum: Mansyurat asy-Syarif ar-Radi, 1410 H), hlm.624.

[14] Ibn an-Nadim, Al-Fihrist (Beirut: ar al-Ma’rifah Lil Matbu’at wa an-Nasr, n.d.), hlm.295.

[15] Syahristani, al-Milal wa Nihal (Qum: Mansyurat asy-Syarif ar-Radi, 1364 H), jld.1, hlm.143.

[16] Ibid., hlm.138.

[17] Ibn al-Qutaibah, Al-Ma’arif, hlm.623.

[18] Abul Faraj al-Isfahani, Maqatil at-Talibiyyin, edisi kedua (Qum: Mansyurat asy-Syarih ar-Radi, 1416 H), hlm.251.

[19] Ibid., hlm.254.

[20] Ibid., hlm.256.

[21] Syahristani, Al-Milal wa Nihal (Qum: Mansyurat asy-Syarif ar-Radi, 1364 H), jld.1, hlm.140.

[22] Abul faraj al-Isfahani, Maqatil at-Talibiyyin, hlm.258.

[23] Ya’qubi berkata: Sejumlah sahabat terkemuka menolak memberikan baiat kepada Abu Bakar dan berkata: “Ali adalah orang yang paling berhak dalam urusan Khilafah.” Tarikh Al-Ya’qubi (Qum: Mansyurat asy-Syarif ar-Radi, 1414 H), jld.2, hlm.124.

[24] Samrah Mukhtar al-Laithi, Jihad asy-Syi’ah (Beirut: Dar al-Jayl, 1396 H), hlm.25.

[25] Ibn an-Nadim, Al-Fihrist (Beirut: Dar al-Ma’rifah, n.d.), hlm.249.

[26] Ahmad ibn Muhammad ibn Abdur Rabbih al-Andalus, Al-Aqd al-Farid (Beirut: Dar Ihya at-Turaith al-Atrabi, 1409 H), jld.2, hlm.230.

[27] Abu Mansur Abdul Qadir ibn Thahir ibn Muhamamd al-Bagdadi, Al-Firaq bayn al-Firaq (Kairo: n.p., 1397 H), hlm.134.

[28][28] Samirah Mukhtar al-Laythi, Jihad asy-Syi’ah, hlm.35, mengutip Bernard Lewis, Ushul al-Ismailiyyah (The Principles of Ismailiyyah), hlm.84.

[29] Ja’far Ksyful Githa’, Difa az Haqqaniyat-e Syi’eh (Dalam Mempertahankan Kebenaran Syi’ah), terj. Ghulam Hasan Muharrami, edisi pertama (n.p., Mu’minin, 1378 H), hlm.48; Muhammad Husayn Zayn Amili, asy-Syi’ah fil Tarikh, terj. Muhammad Ridha Ata’I, edisi kedua (Masyhad: Bunyad-e Pazhuhesh-ha-ye Islami-ye Astan Quds-e Radawi, 1375 H), hlm.34.

[30] Muhammad Kird Ali, Khafat asy-Syam, edisi ketiga (Damaskus: Maktabah an-Nuri, 1403 H/1983, jld.6, hlm.245.

[31] Surah al-Bayyinah 98:7.

[32] Jalal adiDin Suyuti, ad-Durr al-Manstsur fil Tafsir bil Ma’thir (Qum: Mansyurat Maktabah Ayatullah al-Uzma al-Mar’asyi an-Najafi, 1404 H), jld.6, hlm.379.

[33] Ibn Hajar al-Haitami al-Makki, Sawa’iq al-Muhriqah, edisi kedua (Kairo: Maktabah al-Qahirah, 1385 H), hlm.232.

[34] Ibid., Nur ad-Din Ali ibn Abibakr al-Haytami, Majma’ az-Zawa’id (Beirut: Dar al-Fikr Lil Taba’ah wan Nasr wat Tauzi, 1414 H) jld.9, hlm.177.

[35] Akhtab Khawarazm, Al-Manaqib (Najaf: Mansyurat al-Matba’ah al-Haydariyah, 1385 H), hlm.206.

[36] Ibid., hlm.209, Syeikh Sulayman al-Qanduzi al-Hanafi, Yanabi al-Mawwaddah, edisi pertama (Beirut: Mansyrat Mu’assasah al-A’lami Lil Matbu’at, 1418 H), jld.1, hlm.302.

[37] Akhtab Khwarazm, Al-Manaqib, hlm.210.

[38] Ibid., jld.188, hlm.158.

[39] Ibid., bab.19, hadits 329, hlm.322.

[40] Ibid., hlm.234.

[41] Ibid., hlm.235.

[42] Syeikh Sulaiman al-Qanduzi al-Hanafi, Yanabi al-Mawaddah, hlm.301.

[43] Ibid.

[44] Ibid., hlm.302.

[45] Nur ad-Din Ali ibn Abibakr al-Haytami, Majma’ az-Zawa’id, hlm.178.

[46] Ibn al-Jawzi, Tadhkirah al-Khawas (Najaf: Mansyurat al-Matba’ah al-Haydariyah, 1383 H), hlm.54; Ahmad ibn Yahya ibn Jabir Balazuri, Insab al-Asyraf, diteliti oleh Muhammad Baqir Mahmudi (Beirut: Muassasah al-A’lami lil Matbu’at, 1349 H), jld.2, hlm.182; Syeikh Sulaiman al-Qanduzi al-Hanafi, Yanabi al-Mawaddah, edisi pertama (Beirut: Mansyurat Mu’assasah al-a’alami Lil Matbu’at, 1418 H), jld.1, hlm.301; Akhtab Khwarazm, Al-Manaqib (Najaf: Mansyurat al-Matbu’at al-Haydariyyah, 1385 H0, hlm.206, Jalal adiDin Suyuti, ad-Durr al-Mantsur fi Tafsir Bil Ma’thir (Qum: Mansyurat Maktabah Ayatullah al-Uzma al-Mar’asyi an-Najafi, 1404 H), jld.6, hlm.379.

[47] Ibn Wadih, Tarikh al-Ya’qubi (Qum: Mansyurat asy-Syarif ar-Radi, 1414 H), jld.2, hlm.231.

[48] Ibn Abil Hadid, Syarah Nahjul Balaghah (Beirut: Dar Ihya at-Turath al-Arabi, n.d.), jld.20, hlm.226.

[49] Ahmad Ibn Hajar haitami al-Makki, as-Sawa’iq al-Muhriqah fi Radd ala Ahlul Bid’ah wa Zindiqah (Kairo: Maktabah al-Qahirah, 1384 H), hlm.232.

[50] Muhammad Husain Muzaffar, Tarikh asy-Syi’ah (Qum: Mansyurati Maktabah Basirah, b.d.), hlm.5.

[51] Ja’far Kasyful Ghita’, Difa az Haqqaniyyat-e Syi’eh (Dalam Mempertahankan Kebenaran Syi’ah), terj. Ghulam Hasan Muharrami, edsi pertama (n.p: Mu’minin, 1378 H), hlm.48-49).

[52] Sa’ad ibn Abdullah Al-Asy’ari kemudian mengatakan dalam hal ini: “Sekte pertama adalah Syi’ah dan ia adalah sekte Ali bin Abi Thalib (a.s.) yang dinamakan “Syi’ah Ali” selama zaman Nabi Suci (saw) dan setelah wafatnya Nabi (saw) mereka dikenal memiliki kepercayaan kepada Imamah beliau. Di antara mereka adalah Miqdad Aswad al-Kindi, Salman al-Farisi, Abu Zar, dan Ammar bin Yasir. Mereka lebih cenderung taat kepada satu beliau daripada hal lainnya dan mereka mengikuti beliau. Ada juga yang lainnya yang kecenderungannya adalah keselarasan dengan Ali bin Abi Thalib dan mereka adalah kelompok pertama dari umat ini yang dinamakan “Syi’ah”, karena, Syi’ah sebagai sebuah sebutan merupakan istilah lama, seperti Syi’ah Nuh, Ibrahim, Musa, Isa, dan nabi-nabi lainnya.” Al-Maqalat wal Firaq, edisi kedua (Tehran: Markaz-e Insharat-e Ilmi va Farhang, 1360 H), hlm.3.

[53] Muhamamd ibn Muhammad ibn Nu’man (Syeikh Mufid), Al-Jamal, edisi kedua (Qum: Maktab al-Ulum al-Islami (Central Publication), 1416 H), hlm.243.

[54] Muhamamd ibn Muhammad ibn Nu’man (Syeikh Mufid), Al-Irsyad, terj. Muhammad Baqir Sa’di Khurasani, edisi kedua (Tehran: Kitabfurushi-ye Islamiyah, 1376 H), hlm.285.

[55] Syeikh al-Mufid, Al-Jamal, hlm.285.

[56] Ibid., hlm.235.

[57] Ibn Abil Hadid, Syarah Nahjul Balaghah (Beirut: Dar Ihya at-Turath al-Arabi, n.d.), jld.2, hlm.349).

[58] Ibn Hajar al-Haitami al-Makki, Sawa’iq Al-Muhriqah, edisi kedua (Kairo: Maktabah al-Qahirah, 1385 H), hlm.122.

[59] Tarikh ath-Thabari, edisi ketiga (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 1408 H), jld.2, hlm.65.

[60] Ibn Hajar al-Haitami al-Makki, Sawa’iq al-Muhriqah, hlm.123.

[61] Ibid.

[62] Sahl ibn al-Jawzi, Tadkhirah al-Khawas (Najaf: Mansyurat al-Matba’ah al-Haydariyah, 1383 H), hlm.209.

[63] Akhtab Khwarazmi, Al-Manaqib (Najaf: Mansyurat al-Matba’ah al-Haydariyah, 1385 H), hlm.214.

[64] Zubair ibn Bakkar, al-Akhbar al-Muwaffaqiyyii, diteliti oleh Dr. Sami Makki al-‘Ani (Qum: Mansyurat asy-Syarif ar-Radi, 1416 H), hlm.312.

[65] Ibn Abil Hadid, Syarah Nahjul Balaghah, edisi pertama (Beirut: Ddar Ihya at-Turath al-Arabi, 1378 H), jld.3, hlm.98.

[66] Syam atau Shamat; hingga lima abad yang lalu, termasuk Suriah sekarang ini, Libanon dan sebagian Yordania dan Palestina. Kemudian menjadi ibukota kekhalifahan Umayyah.

[67] Ahmad ibn Yahya ibn Ja’far Balazuri, Insab al-Asyraf, diteliti oleh Muhammad Baqir Mahmudi (Beirut: Muassasah al-A’lami Lil Matbu’ah, 1394 H), jld.2, hlm.423.

[68] Ali ibn Husain ibn ali Mas’udi, Murawij ad-Dahabi (Beirut: Mansyurat Muassasah al-A’lami Lil Matbu’at, 1411 H), jld.3, hlm.110.

[69][69] Haitami al-Makki, as-Sawa’iq al-Muhriqah, hlm.123; Sayyid Muhsin Amin, A’yan asy-Syi’ah (Beirut: Dar at-Ta’aruf Lil Matbu’at, n.d.), jld.1, hlm.21.

[70] Syahristani, Kitab al-Milal wa Nihal (Qum: Mansyurat asy-Syarif ar-Radi, 1364 H), jld.1, hlm.139.

[71] Sayyid Muhsin Amin, A’yan asy-Syi’ah, jld.1, hlm.19.

[72] Abdurrahman ibn Muhammad ibn Khaldun, al-Mukaddimah (Beirut: Dar Ihya at-Turath al-Arabi, 1408 H), hlm.197.

[73] Ibn Shahr Asyub Mazandarani, Manaqib Ali Abi Thalib (Qum: Muassasah Intisyarat-e Allameh, n.d.), jld.4, hlm.102.

[74] Ibn Abd Rabbih, Ahmad ibn Muhammad, Al-Aqal al-Farid, Beirut: Dar Ihya at-Turath al-Arabi, 1409 H.

[75] Syahristani, Kitab al-Milal wa Nihal, hlm.150.

[76] Ali ibn Husain ibn Ali Mas’udi, Murawij ad-Dhahab (Beirut: Mansyurat Muassasah al-A’lami Lil Matbu’at, 1411 H), jld.3, hlm.92.

[77] Ibid., jld.2, hlm.446.

[78] Ali ibn Husain, Abul Faraj al-Isfahani, Maqatil at-Thalibiyyin (Qum; Mansyurat asy-Syarif ar-Radi, 1416 H), hlm.41.

[79] Ali ibn Husain Ali Mas’udi, Murawij ad-Dahab, hlm.294.

[80] Muhammad Hadi Yusufi Gharawi, Mawsu’ah at-Tarikh Islami, edisi pertama (Qum: Majma al-Fikr al-Islami, 1417 H), jld.1, hlm.410.

[81] Ibn Shar Asyub Mazandarani, Manaqib Al Abi Thalib, jld.3, hlm.211. (penerj.)

[82] Hafiz Nur ad-Din Ali Abibakr Haytami, Majma’ az-Zawa’id (Beirut: Dar al-Fikr Lil Tiba’ah wa Nasyr wa Tawzi, 1414 H), jld.9, hlm.173.

[83] Ibn Syahr Asyub, Manaqib Al Abi Thalib, hlm.211-212.

[84] Ibid., hlm.207.

[85] Tarikh ath-Thabari, jld.2, hlm.62-63; Tarikh al-Kamil, jld.2, hlm.40-41; Musnad Ahmad ibn Hanbal, jld.1, hlm.111; Ibn Abil Hadid,Syarah Nahjul Balaghah, jld.13, hlm.210-212.

[86] Muhajirin (Imigran): Kaum Muslimin Mekkah yang ikut bersama Nabi (saw) dalam hijrah ke Medinah. (Penerj.)

[87] Anshar (Para Penolong): Kaum Muslimin Medinah yang mengundang kaum Muslimin Mekkah untuk hijrah ke Medinah. (Penerje.).

[88] Zubayr ibn Bakkar, Al-Akhbar al-Muwaffaqiyah (Qum: Mansyurat asy-Syarif ar-Radi, 1416 H), lm.580.

[89] Zubair ibn Bakkar, al-Akhbar al-Muwaffaqiyah, hlm.581.

[90] Ibid., hlm.580.

[91] Ibid., hlm.592.

[92] Ahhmad ibn Abi Ya’qub abn Wadih, Tarikh al-Ya’qubi, edisi pertama (Qum: Mansyurat asy-Syarif ar-Radi, 1414 H), jld.2, hlm.128.

[93] Taym adalah sukunya abu Bakar, sedangkan Adi adalah sukunya Umar.

[94] Tarikh al-Ya’qubi, jld.2, hlm.126.

[95] Abdul Husain Amini, al-Ghadir fil Kitab was Sunnah wal Adab (Tehran: Dar al-Kitab al-Islamiyah, 1366 H), jld.1, hlm.11, jld.2, hlm.39. Lihat juga Khwarazmi al-Maliki, hlm.20, ganji Syafi’I, Kifayah ath-Thalib, hlm.170. dan lain-lainnya. (Penerj.)

[96] Ahmad ib Yahya ibn Jabir Balazuri, Insan al-Asyraf (Beirut: Muassasah al-A’lami Lil Matbu’at, 1394 H), jld.2, hlm.396.

[97] Tarikh al-Ya’qubi, jld.2, hlm.126.

[98] ‘Izz ad-Din Abul Hasan Ali ibn Muhammad Abil Kiram ibn Athir, Asadul Ghbbal fi Ma’rifah as-Sahabah (Beirut: Dar Ihya at-Turath l-Arabi, n.d.), jld.3, hlm.12, Tarikh al-Ya’qubi, jld.2, hlm.126.

[99] Balazuri, Insab al-Asraf, jld.2, hlm.97.

[100] Ibn Abil Hadid, Syarah Nahjul balaghah (Beirut: Dar Ihya at-Turath al-arabi, 1378 H), jld.1, hlm.18.

[101] Ibid.

[102] Sawa’iq al-Muhriqah (Karo: Maktabah al-Qahirah, 1385, 1385 H), hlm.122.

[103] Manaqib Al Abi Thalib (Qum: Muassaseh-ye Inthisharat-e Allameh, d.d.), jld.3, hlm.25-26.

[104] Abdul Husain Amini, Al-Ghadir fil Kitab wa Sunnah wal Adab, jld.1, hlm.14-16.

[105] Balazuri, Insab al-Asyraf, jld.2, hlm.109; Akhtab Khwarazmi, Al-Manaqib (Najaf: Mansyurat al-Mutba’ah al-Haidariyyah, 1385 H), hlm.59-60.

[106] Misalnya, dalam khotbah 170 Nahjul Balaghah, Imam Ali (a.s.) berkata: :Ya Allahku! Aku mencari pertolonganmu terhadap kaum Quraisy dan orang-orang yang membantu mereka, karena mereka mengingkari (hak-hak) kekerabatanku, telah merendahkan kedudukan tinggiku, dan bersatu dalam menentangku dalam urusan (kekhalifahan) yang adalah hakku, dan mereka berkata, “Ketahuilah bahwa sebenarnya kamu memilikinya dan kamu boleh jadi meninggalkannya.” Nahjul Balaghah (Faid al-Islam), hlm.555.

Demikian juga, dalam menjawab surat saudaranya, Aqil,Imam Ali (a.s.) berkata: “Jangan hiraukan sikap kaum Quraisy. Membicarakan ketidakpercayaan mereka, permusuhan mereka kepada Islam, perlawanan mereka dari jalan Allah dan hasrat mereka untuk membahayakanku, adalah membuang-buang waktu saja. Karena dengan suara bulat mereka menentang Nabi Suci (saw). Semoga Allah menghukum mereka atas dosa-dosa mereka! Mereka bahkan tidak mempertimbangkan hubungan yang ada antara mereka dan aku. Mereka telah merampasku dari tanah putera ibuku.” Ibid., Surat 36, hlm.974.

[107] Abul Faraj al-Isfahani, Maqatil ath-Thalibiyyah (Qum: Mansyurat asy-Syarif ar-Radi, 1416 H), hlm.65.

[108] Kitab Salim ibn Qais al-Amiri (Beirut: Mansyurat Dar al-Funun, 1400 H), hlm.108; as-Sayyid Ali Khan asy-Syirazi, ad-Darajat ar-Rafi’ah fi Thabaqat asy-Syi’ah (Beirut: Mu’assasah al-Wafa’, n.d.), hlm.5.

[109] Ali Ibn Husain Abul Faraj al-Isfahani, al-Aghani (Berut: Dar Ihya at-Turath al-Arabi, n.d.), jld.1, hlm.74.

[110] Mahdi Pishva’i, Tarikh-e Islam az Jahiliyat ta Hajjah al-Wida’ (1) (Arak: Islamic Azad University (Arak Branch, n.d.), hlm.50-51.

[111] Surah al-Quraisy, 106:1-4.

[112] Lihat Surah al-Fil, 105 dan komentarnya. (Penerj.)

[113] Mahdi Pishva’I, Tarikh-e Islam az Jahilliyat ta Hujjah al-Wida’ (1), hlm.52.

[114] Muhammad ibn Sa’ad, at-Thabaqat al-Kubra (Beirut: Dar Sadir, 1405 H), jld.1, hlm.72.

[115] Izz ad-Din Abul Hasan Ali ibn Muhammad Abil Kiram ibn Athir, Asad al-Ghabbah fiMa’riqah as-Sahabah (Beirut: Dar Ihya at-Turath al-Arabi, n.d.), jld.2, hlm.34.

[116] Ibn Abil Hadid, Syarah Nahjul Balaghah (Beirut: Dar Ihya at-Turath al-Arabi, 1378 H), jld.1, hlm.194.

[117] Ibid.

[118] Ibid., jld.2, hlm.51.

[119] Ibid., jld.1, hlm.310.

[120] Ibid., jld.2, hlm.159.

[121] Surah at-Takatsur, 102:1-2:

“Persaingan mengacaukan kalian bahkan sampai kalian mengunjungi liang kubur.”

[122] Surah as-Saba’, 34:35-37:

“Dan mereka berkata: ‘Kami lebih besar dalam kekayaan dan anak-anak, dan kami tidak akan dihukum!’ Katakanlah, ‘Sesungguhnya Tuhanku memperluas ketetapannya kepada siapa saja yang Dia kehendaki dan Dia meringankannya, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.’ Bukan kekayaanmu, bukan juga anak-anakmu, yang akan mendekatkanmu kepada kedekatan Kami, melainkan orang-orang yang beriman dan beramal shaleh.”

[123] Ibn Hasyim, as-Sirah an-Nabawiyyah (Beirut: Dar al-Ma’rifah, n.d.), jld.1, hlm.143-144.

[124] Ibid.

[125] Hunafa (Hanif): Orang-orang Arab selama masa jahiliyyah yang tidak menyembah berhala-berhala. (Penerj.)

[126] Abu Muhammad Abdullah ibn Muslim ibn al-Qutaibah, Al-Ma’arif, edis pertama (Qum: Mansyurat asy-Syarif ar-Rida, 1415 H), 60; Mahdi Pishva’i. Tarikh-e Islam az Jahiliyyat ta Hujjah al-Wida’ (Arak: Islamic Azad University (Arak: Branch, n.d.), hlm.88.

[127] Muhammad ibn Sa’ad, ath-Thabaqat al-Kubra, jld.4, hlm.24.

[128] Ibn Sahr Asyub, Mazzandarani, Manaqib Al Abi Thalib (Qum: Mu’assasah Intisyarat=e Allameh, n.d.), jld.3, hlm.214.

[129] Ibid., hlm.213-214.

[130] Ibid., hlm.211.

[131] Dikarenakan luka perasaannya, ayah Marwan, Hakam ibn al-As, ada di antara barisan Banu Umayyah, orang yang telah diusir dari Medinah atas perintah Nabi (saw). Selama kekhalifahan Utsman, kerabatnya itu diperbolehkannya kembali ke Medinah dan berkumpul di seputar Utsman. Untuk detailnya lihat Mustadrak al-Hakim  jld.4, hlm.481; Tafsir Ibn Katsir, jld.4, hlm.159, Tafsir al-Kabir, jld.7, hlm.491; Asad al-Ghabbah Ibn Atsir, jld.2, hlm.34; Annihayah Ibn Atsir (Mesir), jld.3, hlm.23; Syarah Nahjul Balaghah, jld.2, hlm.55; Tafsir Nasyaburi pada catatan kecil Thabari, jld.26, hlm.13, Sawa’iq al-Muhriqah, hlm.108. (penerj.)

[132] Ahmad ibn Ya’qub ibn Wadih, Tarikh al-Ya’qubi, edsi pertama (Qum: Mansyurat asy-Syarif ar-Radi, 1414 H), jld.2, hlm.178.

[133] Ibn Abil Hadid, Syarah Nahjul Balaghah, jld.1, hlm.498.

[134] Muhammad ibn Sa’ad, ath-Thabaqat al-Kubra, jld.5, hlm.220.

[135] Ibn Shahr Asyub Mazzandarani, Manaqib Al Abi Thalib, jld.1, hlm.312.

[136] Nahjul Balaghah (Faidul Islam), Khotbah asy-Syaqsyaqiyah).

[137] Ibn Abil Hadid, Syarah Nahjul Balaghah, jld.1, hlm.308.

[138] Nahjul Balaghah (Faidul Islam), Surat 62.

[139] Ali ibn al-Husain Abul Faraj al-Isfahani, Maqatil ath-Thalibiyyin (Qum: Mansyurat asy-Syarif ar-Radi, 1416 H), hlm.65.

[140] Surah al-Ma’arij, 70:1.

[141] Abi Ali al-Fadl ibn al-Hasan Thabarsi, Majma al-Bayan, edisi kedua (Beirut: Dar al-Ma’rifah Li Tiba’ah wa Nasyr, 1408 H), jld.10, hlm.530.

[142] Muhammad ibn Muhammad ibn an-Nu’man Mufid, Al-Jamal, edisi kedua (Qum: Mktab al-A’lam al-Islam (Central Publication), 1416 H), hlm.118-119.

[143] Nahjul Balaghah (Faidul Islam), Khotbah 26.

[144] Ahmad ibn Abi Ya’qub ibn Wadih, Tarikh al-Ya’qubi, edisi pertama (Qum: Mansyurat asy-Syarif ar-Radi, 1414 H), jld.2, hlm.126.

[145] Ibn Abil Hadid, Syarah Nahjul Balaghah, jld.2, hlm.51.

[146] Kardid nakardid; Secara harfiah, “Kamu kerjakan, kamu tidak.” Yaitu: “Kamu menentapkan kekhalifahan tetapi kamu tidak melakukan hal yang benar.”

[147] Abu Mansur Ahmad ibn Ali ibn Abi Thalib Thabarsi, Al-Ihtijaj, (Tehran: Intisyarat-e Usweh n.d.), Jld.1, hlm.186-200.

[148] Izz Abil Hasan Ali ibn Muhammad Abil Kiram Ibn Atsir, Asadul Ghabah fi Ma’rifah ash-Shahabah (Beirut: Dar Ihya ath-Thurat al-Arabi, n.d.), jld.2, hlm.83.

[149] [149] Ahmad ibn Abi Ya’qub ibn Wadih, Tarikh al-Ya’qubi, edisi pertama (Beirut: Mansyurat Muassasah al-A’lami lil Matbu’at, 1413 H), jld.2, hlm.11.

[150] Mengenai Adam (a.s.), Allah Yang Maha Tinggi berkata: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” Surah al-Baqarah 2:30. Mengenai Daud (a.s.), Allah Yang Maha Tinggi menyatakan: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikanmu seorang khalifah di muka bumi.” Surah Shad 38:26. Berkenaan dengan Harun (a.s.), Allah Yang Maha Tinggi berkata melalui lidah Musa (a.s.): “Jadilah penggantiku di antara umatku.” Surah al-A’raf 7:142. Sebagaimana memandang Ali (a.s.), Allah Yang Maha Tinggi, berkata: “Allah menjanjikan orang-orang di antara kamu yang elah beriman dan beramal shaleh bahwa Dia sesungguhnya akan menjadikan mereka para pengganti di muka bumi, sebagaimana Dia menjadikan orang-orang sebelum mereka pengganti.” Surah an-Nur 24:55. Ibn Syahr Ashab Mazandarani, Manaqib Al Abi Thalib (Beirut: Dar al-Adwa, 1405 H), jld.3, hlm.77-78.

[151] Ahmad ibn Yahya ibn Jabir Balazuri, Insab al-Asraf (Beirut: Muassasah al-A’lami Li Matbu’at, 1394 H), jld.3, hlm.115.

[152] Ibn Syahr Ashad Mazandarani, Manqib Al Abi Thalib (Qum: Muassasah Intisyarat-e Allameh, n.d.), jld.3, hlm.54.

[153] Ibn Wadih, Tarikh al-Ya’qubi, jld.2, hlm.57.

[154] Ibid., hlm.67.

[155] Muhammad Kird Ali, Khfat asy-Syam, edisi ketiga (Damaskus: Maktabah an-Nuri, 1403 H), jld.6, hlm.245.

[156] Ibn Abil Hadid, Syarah Nahjul Balaghah (Beirut: Dar Ihya ath-Thurat al-Arabi, 1378 H), jld.2, hlm.221-222.

[157] Sayyid Ali Khan asy-Syrazi, ad-Darajat ar-Rafi’ah fi Thabaqat asy-Syi’ah (Beirut: Mu’assasah al-Wafa’, n.d.), hlm.41-197.

[158] Ibid., hlm.197-455.

[159] Ahmad ibn Muhammad ibn Khalid Burqa, Rijal al-Burqa (n.p.; Muassasah al-Qayyum, n.d.), hlm.31-39.

[160] Muhammad ibn Muhammad ibn an-Nu’man Syeikh al-Mufid, Al-Jamal, edisi kedua (Qum: Maktab al-A’lami al-Islami (Publication Center), 1416 H), hlm.109-110.

[161] Abi Ja’far Muhammad ibn al-Hasan ibn Ali Syeikh at-Tusi, Ikhtiar Ma’rifah ar-Rijal (Rijal Kasyi) (Qum: Muassasah Al Bayit at-Turats, 1404 H), jld.1, hlm.1, hlm.181-188.

[162] Ibid., hlm.188.

[163]  Sayyid Muhsin Amin, A’yan asy-Syi’ah (Beirut: Mansyurat Muassasah al-A’lami Lil Matbu’at, 1394 H), jld.2, hlm.395.

.

[164] Ahmad ibn Yahya ibn Jabir Balazui, Insab al-Asyraf (Beirut: Mansyurat Muassasah al-A’lami Lil Matbuat, 1394 H), jld.2, hlm.395.

[165] Syeikh at-Tusi, Ikhtiyar Ma’rifah ar-Rijal (Rijal Kasyi), hlm.278.

[166] Surah al-Waqi’ah, 56:10-11.

[167] Salim ibn Qays al-Amiri (Beirut: Mansyur Dar al-Funun Lil Taba’ah w Nasyr wal Tawzi: Intisyarat-e Usweh, n.d.), jld.1, hlm.472.

BAB TIGA

Periode-periode Perkembangan Historis Syi’ah

Pelajaran Kesembilan

1.Syi’ah Selama Periode Pertama Empat Khalifah

Syi’ah selama pemerintahan tiga khalifah pertama, yaitu Abu Bakar, Umar dan Utsman, memiliki ciri tersendiri yang dapat diungkapkan dengan cara berikut:

  1. Selama pemerintahan ketiga khalifah ini, kaum Syi’ah mengalami banyak tekanan dengan kekecualian hari-hari awal setelah peristiwa Saqifah. Bahkan dapat dikatakan bahwa banyak kaum Syi’ah tersingkir dari posisi-posisi kunci atas dasar mereka itu Syi’ah.[1]
  2. Setelah peristiwa Saqifah yang menyebabkan terjadinya dikotomi menyangkut persoalan kepemimpinan atas kaum Muslimin dan mengarah kepada pembagian kaum Muslimin ke dalam dua golongan utama, Ahlus Sunnah yang merujuk kepada khalifah-khalifah pada masa itu mengenai ilmu pengetahuan, fiqih, ideologi, dan masalah-masalah lainnya, sebaliknya Syi’ah, merujuk kepada Ali (a.s.).

Praktek kaum Syi’ah yang merujuk kepada Ali (a.s.) menyangkut persoalan-persoalan ilmu pengetahuan, fiqih, dan ilmu-ilmu Islam lainnya pada umumnya, berlanjut dengan para Imam (a.s.) setelah syahidnya Ali (a.s.). Alasan di balik perbedaan Sunni-Syi’ah dalam hal fiqih, hadits, tafsir Qur’an, kalam (teologi skolastik), di antara yang lain-lainnya adalah fakta bahwa otoritas-otoritas rujukan di antara kedua golongan ini berbeda dan terbedakan satu sama lain.

  1. Sebagaimana Ali (a.s.) dari jauh membina kerjasama tak resmi di bidang politik dan militer dengan para khalifah masa itu sejauh berkaitan dengan perlindungan atas berbagai kepentingan mulia Islam,[2] sejumlah Syi’ah terkemuka di antara para Sahabat juga menerima posisi militer dan politik melalui persetujuan Imam Ali (a.s.). Misalnya, Fadl Abbas – sepupu Ali (a.s.) dan pembela selama peristiwa di Saqifah – menduduki posisi militer dalam pasukan Syam dan wafat pada 18 H di Palestina.[3]

Huzaifah dan Salman menjadi Gubernur Mada’in secara bergiliran.[4] Ammar ibn Yasir ditunjuk oleh khalifah kedua sebagai gubernur Kufah setelah berakhir masa jabatan Sa’ad ibn Abi Waqqas.[5] Hasyim Mirqal, yang adalah salah seorang Syi’ah yang ikhlas terhadap Amirul Mukminin (a.s.) dan syahid dalam perang Siffin di pihak Imam (a.s.),[6] menjadi salah seorang panglima selama periode tiga khalifah dan menaklukkan Azerbaijan pada 22 H.[7] Utsman ibn Hunaif dan Huzaifah ibn Yaman ditugaskan oleh Umar untuk mengukur tanah-tanah di Irak.[8]

Abdullah ibn Badil ibn Waraqa’ al-Khaza’i, salah seorang Syi’ah Amirul Mukminin (a.s.) yang puteranya adalah salah seorang syahid pertama dalam Perang Jamal (Unta),[9] adalah salah seorang panglima militer dan menaklukkan Isfahan dan Hamedan.[10]

Demikian juga, orang-orang seperti Jarir ibn Abdullah Bajalli[11] dan Qurzah ibn Qa’ab al-Anshari[12] yang termasuk di antara orang-orang terkemuka Amirul Mukminin (a.s.) selama periode tiga khalifah. Jarir menaklukkan wilayah Kufah[13] dan menjadi gubernur Hamedan selama pemerintahan Utsman.[14] Qurzah ibn Ka’ab al-Anshari juga menaklukkan Syahr-e Rey selama periode Umar ibn al-Khattab.[15]

Manifestasi Syi’ahisme Selama Kekhalifahan Ali (a.s.)

Meskipun akar dari Syi’ahisme dapat ditandai kembali ke zaman Nabi (saw), manifestasinya muncul setelah terbunuhnya Utsman dan setelah kekhalifahan Ali (a.s.). Selama periode ini garis demarkasi menjadi jelas karena para pendukung Ali (a.s.) dan pengikutnya secara terang-terangan mendeklarasikan dan mengungkapkan kesyi’ahan mereka. Syeikh al-Mufid meriwayatkan:

Sekelompok orang datang kepada Ali dan berkata: “Wahai Amirul Mukminin! Kami berada di antara Syi’ahmu.” Imam (a.s.) memandangi dengan cermat wajah-wajah mereka dan berkata: “Tetapi kenapa aku tidak melihat air muka Syi’ah pada kalian” Mereka bertanya: “Wahai Amirul Mukminin! Bagaimanakah air muka orang Syi’ah itu?” Beliau (a.s.) berkata: “Wajah-wajah mereka pucat-pasi karena terlalu banyak beribadah di malam hari; mata mereka lemah-kuyu karena banyak menangis; punggung mereka membungkuk karena terlalu lama berdiri dalam shalat; perut mereka bisa sampai ke punggung mereka karena banyak berpuasa; dan debu kerendahan hati dan kerendahan telah bernaung dalam (diri) mereka.”[16]

Juga, syair-syair yang dibacakan selama kekhalifahan Imam Ali (a.s.) dimana Ali (a.s.) telah digambarkan sebagai orang yang berhak dan pengganti, serta pemimpin sepeninggal Nabi (saw). Sebagaimana Qays ibn Sa’ad mengatakan:

Ali adalah Imam kami dan Imam yang lainnya. Quran diturunkan untuk tujuan ini.[17]

Khuzaiman Ibn Tsabit Zus Syahadatain berkata:

Semoga aku menjadi tebusan Ali! Dialah Imam umat, cahaya ciptaan dan suaka orang-orang yang mengenal Allah.

Dialah pengganti Nabi, suami Batul Fatimah). Imam ciptaan, dan pancaran matahari.

Dialah Imam ciptaan dan memberi shadaqah cincinnya sewaktu dalam keadaan ruku’ dan betapa baik amal yang dia kerjakan!

Allah Yang Maha Tinggi, menjadikannya lebih utama dari yang lain dan mewahyukan Surah “Hal ata” mengenainya.[18]

Dalam beberapa syair, Syi’ah Imam (a.s.) juga memperkenalkan diri mereka kepada agama Ali (a.s.). Misalnya, sementara tampil dalam duel melawan seseorang bernama Amru ibn Yatstribi dari antara pasukan Jamal selama perang Jamal, Ammar ibn Yasir membacakan:

Wahai Ibn Yatstribi! Jangan tinggalkan medan perang sehingga kami dapat memerangmu di atas agama Ali. Aku bersumpah kepada Rumah Allah bahwa kami adalah orang-orang terkemuka bagi Nabi.[19]

Bahkan musuh-musuh dan lawan pun menggunakan deskripsi yang sama bagi Syi’ah. Misalnya, dalam sebuah syair, dengan bangga membunuh para pendukung Ali (a.s.), Amru ibn Yatstribi berkata:

Jika engkau tidak mengenalku, akulah Ibn Yatstribi, pembunuh Ilba dan Hind al-Jamali[20]. Aku juga pembunuh Ibn Sawhan bagi kejahatan mengikuti agama Ali.

2.Syi’ah Selama Periode Kekhalifahan Umayyah

Periode kekhalifahan Umayyah adalah masa paling sulit bagi kaum Syi’ah, mulai dari 40 H hingga 132 H. Semua khalifah Umayyah dengan pengecualian Umar ibn Abdul Aziz, bersumpah sebagai musuh-musuh Syi’ah. Tentu saja, setelah khalifah Hisyam Bani Umayyah dipenuhi dengan berbagai pemberontakan dari dalam dan gerakan Abbasiyyah serta tindakan-tindakan kejam terhadap kaum Syi’ah menjadi berkurang. Para khalifah Umayyah tinggal di Syam, ibukota penguasa Umayyah, dan banyak kasus, para penguasa mengangkat kebijakan pertumpahan darah berkaitan dengan wilayah-wilayah yang berpenduduk Syi’ah, memberikan tekanan kepada kaum Syi’ah. Di antara semua musuh, adalah penguasa-penguasa Umayyah yang paling berfokus kepada Syi’ah dan dengan tak kenal ampun menjengkelkan dan mengganggu mereka, Ubaydullah ibn Ziyad dan Hajjaj ibn Yusuf adalah yang paling terkenal kekejamannya di antara mereka.

Ibn Abil Hadid, ulama Sunni terkenal menulis:

Dimana pun mereka berada, Syi’ah dibunuhi. Umayyah memutilasi tangan dan kaki orang-orang yang diduga Syi’ah. Siapa saja yang tercatat karena kecintaannya dan hubungannya dengan keluarga Nabi, akan dipenjarakan, hak miliknya akan dirampas, atau rumahnya akan dihancurkan. Tekanan dan pembatasan ditimpakan kepada kaum Syi’ah hingga mencapai titik dimana tuntunan persahabatan dengan Ali dianggap sebagai lebih buruk dari dakwaan kufur dan kafir, menjalankan hukuman penggal.

Dalam mengangkat kebijakan yang keji ini, kondisi kehidupan bagi orang-orang Kufah adalah yang paling buruk karena Kufah adalah ibukota Syi’ah pada masa itu.

Muawiyah menunjuk Ziyad ibn Sumayyah sebagai penguasa Kufah dan setelah itu mengangkatnya sebagai gubernur Basrah. Ziyad suatu ketika (pernah) berada dalam barisan pendukung Ali dan dia tahu betul siapa saja mereka. Dia mengejar kaum Syi’ah dan mendapatkan mereka di sudut dan celah mana pun mereka bersembunyi. Dia membunuh mereka, mengancam mereka, memutilasi tangan dan kaki mereka, membutakan mata mereka, menggantung mereka di pohon kurma, dan membuang mereka dari Irak sejauh mungkin sehingga tidak ada seorang pun yang dikenal sebagai Syi’ah di Irak.[21]

Abul Faraj Abdurrahman ibn Ali ibn al-Jawzi berkata:

Ketika sejumlah Syi’ah memprotes Ziyad, yang menyampaikan khotbah-khotbah dari mimbar, dia memerintahkan memutilasi tangan dan kaki delapan puluh orang. Dia mengumpulkan orang-orang di mesjid  dan meminta mereka untuk mengutuk Ali dan jika ada orang yang menolak melakukannya, Ziyad akan memerintahkan agar rumah orang itu dirobohkan.[22]

Ziyad, yang berkuasa selama enam bulan di Kufah dan enam bulan berikutnya di Basrah secara bergantian, mengangkat Samurah ibn Jundab sebagai Bupatinya di Basrah, sehingga dia dapat mengawasi kota tersebut selama ketidakhadirannya. Selama masa itu, Samurah telah membunuh 8000 orang. Ziyad berkata kepadanya: “Apakah engkau tidak takut kalau engkau telah membunuh orang tak berdosa di antara mereka?” Ia menjawab: “Bahkan jika aku harus membunuh dua kali orang yang itu juga, aku tidak takut melakukannya.”[23]

Abu Suwar Adwi berkata: “Suatu pagi Samurah (membunuh) 47 orang di antara kerabat, semuanya para penghafal Al-Quran (hafiz).”[24]

Muawiyah dalam sebuah perintah kepada pejabat dan pegawainya, menulis bahwa mereka tidak boleh meneirma kesaksian bahkan dari salah seorang Syi’ah Ali (a.s.) atau anggota keluarganya. Dalam instruksi yang lain, Muawiyah menulis:

Jika dua orang akan memberikan kesaksian bahwa orang tertentu berada di antara sahabat Ali dan keluarganya, namanya harus dihapus dari catatan baitul mal dan gaji serta upah tetapnya harus dipotong.[25]

Setelah menaklukkan Mekkah dan Medinah, Hajjaj ibn Yusuf, agen Umayyah yang kejam dan haus darah, diangkat oleh khalifah Umayyah Abdul Malik ibn Marwan sebagai gubernur Irak, pusat kota perkumpulan Syi’ah. Dengan menutupi kepala dan wajahnya, Hajjaj memasuki mesjid Kufah dengan menyamar. Dia melewati sebarisan shaf jamaah dan menaiki mimbar. Ia diam beberapa saat. Bisik desus-desus pun mulai terdengar di antara hadirin. Seseorang berkata, “Dialah penguasa baru.” Yang lainnya berkata, “Lempari saja dia dengan batu.” Banyak juga yang berkata, “Jangan, dengarkan saja apa yang akan dia katakan.” Ketika kehebohan mulai hening, dia membuka penutup wajahnya dan menyampaikan beberapa kalimat, dia menakut-nakuti hadirin sehingga batu-batu kecil yang ada di tangan orang-orang yang siap melemparinya pun secara spontan berjatuhan di atas tanah. Pada awal pidatonya dia berkata:

Wahai orang-orang Kufah! Telah bertahun-tahun kalian mengalami kerusuhan, fitnah (petaka) dan pembangkangan sebagai slogan kalian. Aku dapat melihat kepala-kepala yang serupa dengan buah-buah matang yang harus dipisahkan dari tubuhnya. Aku akan menetak kepala-kepala kalian sehingga kalian akan menemukan jalan kepada ketundukan.[26]

Hajjaj menjalankan kekuasaannya dengan teror di seluruh Irak dan daerah distrik timur serta secara zalim membunuhi tokoh-tokoh terkemuka Kufah dan orang-orang shalehnya.

Mas’udi kemudian menulis tentang kejahatan-kejahatan Hajjaj:

Hajjaj berkuasa selama dua puluh tahun dan jumlah orang-orang yang dibunuhi selama periode ini dengan pedang orang-orangnya atau yang disiksa mencapai 120.000 orang. Mereka tidak termasuk orang-orang yang dibunuh oleh pasukan Hajjaj di medan laga dalam melawannya.[27]

Pada waktu kematian Hajjaj, ada 50.000 orang pria dan 30.000 orang wanita yang merana di dalam penjaranya yang terkenal keji. Di antara mereka ada 11.000 yang telanjang. Hajjaj memenjarakan pria dan wanita dalam satu sel. Penjaranya tanpa atap. Karenanya, para tawanan tidak aman dari sengatan panas matahari atau dinginnya hujan dan musim dingin.[28] Kaum Syi’ah biasanya menjadi korban pemenjaraan, penyiksaan, penganiayaan, dan pembunuhan Hajjaj. Sebaik-baiknya bukti yang mencerminkan keadaan yang menyedihkan kaum Syi’ah selama periode Umayyah dan intensitas tekanan dalam kebijakan Umayyah dikeluhkan oleh kaum Syi’ah kepada Imam as-Sajjad (a.s.) berkaitan dengan penindasan dan tirani yang dilakukan terhadap mereka. Almarhum Majlisi meriwayatkan:

Kaum Syiah datang kepada Imam Zainal Abidin (a.s.) mengeluhkan tentang tekanan dan pengekangan, berkata: “Wahai putera Rasul Allah! Kami telah diusir dari kota-kota kami dan telah dimusnahkan dengan pembunuhan yang keji. Mereka mengutuk Amirul Mukminin (Ali) (a.s.) di kota-kota dan juga di mesjid Rasulullah (saw) dan di atas mimbar. Tiada seorang pun mencegahnya dan jika ada di antara kami yang memprotes, mereka akan berkata, “Inilah turabi (Syi’ah), mereka akan melaporkan kepada penguasa, menulisi surat kepadanya bahwa ini itu telah mengatakan sesuatu yang baik tentang Abu Turab (Imam Ali a.s.). Kemudian penguasa akan memerintahkan mereka untuk memukul orang itu, memenjarakannya dan akhirnya membunuhnya.”[29]

Pelajaran Kesembilan: Ringkasan

Setelah peristiwa Saqifah, kaum Syi’ah merujuk kepada para Imam suci (a.s.) berkaitan dengan ilmu pengetahuan, fiqih, dan persoalan-persoalan ideologis. Meskipun mereka bekerja sama dengan para khalifah pada masa itu, demi selaras dengan kepentingan Islam, banyak di antara mereka juga yang tersingkir dari kedudukan administrative.

Selama kekhalifahan Amirul Mukminin (a.s.), ungkapan Syi’ahisme merupakan salah satu ciri yang menonjol dari kaum Syi’ah.

Periode kekuasaan Umayyah merupakan salah satu masa paling sulit bagi kaum Syi’ah. Semua khalifah, dengan pengecualian Umar ibn Abdul Aziz, telah bersumpah memusuhi Syi’ah, dan wilayah-wilayah berpopulasi Syi’ah menjadi sasaran gubernur-gubernur haus darah yang sedang berkuasa kala itu.

Pelajaran Kesembilan: Pertanyaan

  1. Apa ciri khusus dari kaum Syi’ah selama pemerintahan tiga khalifah pertama?
  2. Apa ciri yang menonjol dari kaum Syi’ah selama kekhalifahan Ali (a.s.)?
  3. Bagaimana kondisi kaum Syi;ah selama kekuasaan Umayyah?

Pelajaran Kesepuluh

Berkembangnya Syi’ahisme Selama Periode Kekhalifahan Umayyah

Terlepas dari pengekangan dan penindasan bengis yang dilancarkan terhadap kaum Syi’ah selama kekuasaan Umayyah, berkembangnya Syi’ahisme berlanjut tak terbendung. Alasan di balik ini adalah keadaan penindasan terhadap keluarga Nabi (saw) yang mendorong umat secara emosional condong kepada mereka, menyebabkan individu-individu baru secara terus-menerus memeluk keyakinan Syi’ahisme. Poin ini sepenuhnya mengemuka selama akhir kekuasaan Umayyah. Berkembangnya Syi’ahisme selama kekuasaan Umayyah telah mengambil beberapa tahapan, tiap-tiap tahap memiliki ciri tersendiri. Seluruh tahapan ini dapat dibagi sebagai berikut:

  1. Dari 40 H sampai 61 H [periode Imam al-Hasan (a.s.)] dan Imam al-Husain (a.s.);
  2. Dari 61 H sampai kira-kira 110 H [periode Imam as-Sajjad dan Imam al-Baqir (a.s.)]; dan
  3. Dari 110 H sampai 132 H, yaitu akhir dari kekuasaan Umayyah [periode Imam ash-Shadiq (a.s.)].

a.Periode Imam al-Hasan dan Imam al-Husain (a.s.)

Dari masa Amirul Mukminin (a.s.), Syi’ah secara lambat laun terbentuk ke dalam kelompok khusus dan barisan Syi’ah menjadi sangat mencolok.

Atas dasar ini, dalam perjanjian damai dengan Muawiyah, Imam al-Hasan (a.s.) menetapkan jaminan Syi’ah atas keamanan ayahnya sebagai salah satu pasal perjanjian damai tersebut, dan tidak ada yang dapat memprotes mereka.[30] Lambat laun kaum Syi’ah mendidik diri mereka untuk menerima bahwa ketaatan kepada Imam tidak bergantung pada genggaman kekuasaan Imam (a.s.) sepenuhnya. Karenanya, ketika umat bersumpah setia kepada Imam al-Hasan (a.s.), beliau memberi syarat kepada mereka untuk mematuhi beliau baik dalam masa perang maupun damai.

Demikian juga, dijelaskan bahwa Imamah tidak harus sama dengan kekuasaan dan bahwa seorang penguasa tiran seperti Muawiyah tidak dapat menjadi Imam, ketaatan kepada beliau adalah wajib. Misalnya, dalam khotbah yang beliau sampaikan di mesjid Kufah setelah perjanjian atas desakan dan dalam kehadiran Muawiyah, Imam al-Hasan (a.s.) berkata:

Khalifah adalah orang yang mempraktekkan Kitabullah dan Sunnah Nabi (saw), dan orang yang mempraktekkan kezaliman tidak dapat menjadi khalifah. Dia lebih merupakan seorang raja yang mengendalikan sebuah kerajaan. Dia akan menikmati periode yang singkat dan setelah itu, kenikmatannya akan berkurang dan dia pasti akan dipanggil untuk dihisab (diperhitungkan).[31]

Di antara ciri yang menonjol dari masyarakat Syi’ah pada tahap ini adalah persatuan dan solidaritas di antara mereka, yang muncul dari kedudukan para pemimpin Syi’ah. Hingga Imam al-Husain (a.s.) syahid, kita tidak dapat melihat adanya keterpecah-belahan di antara kaum Syi’ah. Imam al-Hasan (a.s.) dan al-Husain (a.s.) memiliki kedudukan khusus dalam pandangan kaum Muslimin yang tiada pernah dicapai seorang Imam maksum pun setelah mereka. Mereka adalah keturunan Nabi (saw) yang berkedudukan kuat. Selama perang Shiffin, ketika melihat Imam al-Hasan (a.s.) maju ke medan laga, Amirul Mukminin (a.s.) berkata:

“Kembalikan anak muda ini ke sisiku, kalau-kalu dia menyebabkan keruntuhanku, karena aku tidak berniat untuk mengirim keduanya (al-Hasan dan al-Husain) menuju kematian, kalau-kalau garis keturunan Nabi (saw) terputus oleh kematian mereka.”[32]

Imam al-Hasan dan al-Husain (a.s.) juga menduduki kedudukan terhormat di antara para Sahabat Nabi (a.s.). Fakta ini termanifestasi dalam pembaiatan umat kepada Imam al-Hasan (a.s.) dimana para Sahabat Nabi (saw) menerima kekhalifahannya dan tidak ada yang memprotes. Karenanya, selama kekhalifahan Imam al-Hasan (a.s.) kita tidak dapat melihat adanya masalah (dengan pengertian keabsahannya yang sedang ditantang), kecuali dari Syam. Ketika Imam (a.s.) mengakhiri sebuah perjanjian damai dan ingin meninggalkan Kufah untuk kembali ke Medinah, umat pun menangis sedalam-dalamnya. Di Medinah juga, kedudukannya jelas, menurut laporan seorang Quraisy kepada Muawiyah. Ddalam laporannya kepada Muawiyah, seorang lelaki Quraisy menulis:

Wahai Amirul Mukminin! Hasan menunaikan shalat subuhnya di mesjid dan dia tetap dalam keadaan bersujud sampai matahari terbit. Lalu dia bersandar ke salah satu tiang mesjid dan siapa saja dapat memanfaatkan pelayanannya serta berbicara kepadanya sampai terbitnya matahari (di siang hari). Dia melaksanakan shalat dua rakaat, berdiri, keluar, berbicara tentang keadaan isteri-isteri Nabi (saw), dan setelah itu kembali ke rumahnya.[33]

Imam al-Husain (a.s.), seperti saudaranya yang terkemuka, menduduki kedudukan sangat terhormat sehingga bahkan Abdullah ibn Zubair, musuh bebuyutan Ahlul Bait (a.s.), tidak dapat mengingkari martabat Imam Husain (a.s.). Sewaktu Imam (a.s.) masih berada di Mekkah, umat tidak memberikan perhatian kepada Zubair yang sedang berusaha menghentikan kemajuan kampanye beliau. Maka, ia menginginkan Imam (a.s.) agar meninggalkan Mekkah sesegera mungkin. Ia berkata kepada Imam Husain (a.s.): “Jika aku memiliki kedudukan serupa denganmu di Irak, aku akan segera bergegas ke sana.”[34]

Martabat Imam (a.s.) sedemikian rupa sehingga penolakan beliau untuk berbaiat kepada khalifah membuat pemerintahan Yazid dipertanyakan. Karena alasan inilah pihak penguasa memaksanya untuk berbaiat.

Kedua pribadi ini menempati kemuliaan dan kehormatan seperti ini di antara Banu Hasyim sehingga tidak hanya tidak ada seorang pun dari Bani Hasyim peroleh dalam hak kepemimpinan mereka selama masa hidup mereka, tetapi juga tiada seorang pun yang dapat bahkan menuntut menjadi sesepuh Bani Hasyim. Ketika Imam Hasan (a.s.) wafat dikarenakan pengaruh racun yang diberikan Muawiyah, Abdullah ibn Abbas kemudian berada di Syam. Muawiyah berkata kepadanya: “Ibnu Abbas, Hasan (telah) mati dan engkau menjadi sesepuh Banu Hasyim.” Ibn Abbas berkata: “Selama masih ada Husain, bukan aku.”[35]

Bahkan ibn Abbas, terlepas dari kedudukan intelektual dan politiknya, menjadi seorang perawi hadits dan penafsir al-Quran dan, menurut kaum Sunni, bahkan lebih tinggi dari Imam Hasan dan Imam Husain (a.s.), menawarkan pelayanannya kepada mereka. Maka diriwayatkan dalam dokumen Ibn Abi Ziyad:

Ibn al-Abbas menyiapkan kuda-kuda kendaraan Hasan dan Husain, merawat sanggurdinya hingga mereka mengendarainya. Aku berkata: “Kenapa engkau merawat sanggurdi kuda untuk mereka, padahal engkau lebih tua dari mereka?” Beliau berkata: “Bodoh kamu! Tidakkah kamu tahu siapa mereka? Mereka adalah putera-putera Rasulullah. Bukankah sebuah kemuliaan besar bahwa Allah telah memberi kesempatan kepadaku untuk merawat sanggurdi ini untuk mereka?”[36]

Pengaruh Kuat Gerakan Karbala Atas Penyebaran Syi’ahisme

Setelah kesyahidan Imam Husain (a.s.), kaum Syi’ah mengalami kehilangan kunci para pendukung mereka, adalah kehilangan harapan yang sangat ditakutkan dalam sebuah barisan perlawanan melawan musuh. Dengan terjadinya peristiwa Asyura yang mengoyak-oyak hati, gerakan Syi’ah menerima pukulan yang menghancurkan dalam periode yang sangat singkat. Begitu kabar peristiwa ini tersebar di wilayah-wilayah Muslim, terutama di Irak dan Hijaz, rasa takut yang akut merambah komunitas Syi’ah. Oleh karenanyalah semakin kuat pula Yazid bersiteguh untuk mengukuhkan kekuasaannya bahkan sampai membunuh putera Nabi (saw), menjadikan para sandera wanita-wanita dan anak-anaknya, dan tidak akan mengendurkan kejahatannya untuk memperkuat sendi-sendi pemerintahannya.

Pengaruh dari rasa takut yang mengental ini sangatlah jelas di Kufah dan Medinah, dan ditambah dengan tragedy Hirrah serta pembantaian tak kenal ampun ‘Gerakan Medinah’ yang termasyhur itu oleh pasukan Yazid. Penindasan keji di wilayah-wilayah berpenduduk Syi’ah di Irak dan Hijaz, terutama di Kufah dan Medinah, memporakporandakan keterpaduan dan formasi kaum Syi’ah. Dalam menggambarkan kondisi yang menyedihkan ini, Imam Shadiq (a.s.) berkata: “Setelah kesyahidan Imam Husain (a.s.), umat berpencar dari sekeliling keluarga Nabi (saw) kecuali tiga orang; yaitu Abu Khalid Kabuli, Yahya ibn Umm at-Tawil dan Jabir ibn Mut’am.”[37]

Dalam menggambarkan periode ini, sejarawan Mas’udi juga mengatakan: “Ali ibn al-Husain memikul Imamah dengan diam-diam melalui taqiyah total pada masa yang sulit.”[38]

Keadaan ini berlangsung sampai akhir kekuasaan Yazid. Setelah kematian Yazid, gerakan-gerakan Syi’ah dimulai dan berlanjut sampai kekuasaan Umayyah  stabil selama kekhalifahan Abdul Malik. Periode ini merupakan kesempatan yang baik bagi perkembangan Syi’ahisme.

Salah satu gebrakan penting dari gerakan Karbala adalah delegitimasi kekuasaan Umayyah dalam opini public. Kekejian pemerintah mencapai satu titik dimana kedudukan kekhalifahan berada dalam derajat yang paling rendah dan umat tidak lagi memandangnya sebagai sebuah lembaga suci. Syair di bawah ini disampaikan ke kuburan Yazid di Hawarin dalam mengungkapkan kekejian ini:

Wahai kuburan yang ada di kota Hawarin! Yang terburuk di antara manusia ada padamu![39]

Pada waktu itu, dengan pengecualian penduduk Syam, kaum Muslimin – baik Sunni maupun Syi’ah – menentang kekhalifahan Umayyah dan sering terjadi pemberontakan-pemberontakan dari kalangan Sunni maupun Syi’ah.[40] Ya’qubi kemudian menulis:

Abdul Malik ibn Marwan menulis (surat) kepada gubernurnya Hajjaj ibn Yusuf: “Jangan susahkan kami dengan menumpahkan darah keturunan keluarga Abu Thalib karena kami melihat nasib yang menimpa Sofyani (keturunan Abu Sofyan) sebagai akibat pembunuhan yang mereka lakukan.”[41]

Akhirnya, darah Imam Husain (a.s.) menghancurkan istana Bani Umayyah. Muqaddas berkata: “Sebagaimana Allah melihat penindasan dan kezaliman Umayyah terhadap keluarga Nabi (saw), Dia mengumpulkan sebuah pasukan dari arah yang berbeda-beda dari Khurasan dan mengirim mereka di kegelapan malam.”[42]

Sementara itu, keadaan penindasan atas Imam Husain (a.s.) dan para syuhada di Karbala mengungkapkan kecintaan kepada keturunan Nabi (saw) di hati umat dan memperkuat kedudukan mereka sebagai para keturunan Nabi (saw) dan para pelindung sejati Islam. Banyak kebangkitan selama periode Umayyah terjadi atas nama dan demi membalas darah mereka, revolusi pun muncul dengan slogan, “Ya litharat al-Husain” (Wahai para penolong Husain). Bahkan kebangkitan seseorang seperti Ibn Asy’at di Sistan[43] muncul atas nama Hasan al-Mutsanna [putera Imam Hasan (a.s.)].[44] Atas dasar ini hadits mengenai Imam al-Mahdi (.s.) sebagai sang penuntut balas (muntaqam) keturunan Muhammad (saw) mengemuka.[45] Umat sedang menanti-nantikan sang penuntut balas melawan Umayyah[46] dan karena tidak sabar berada di puncak penantiannya, mereka terkadang menempelkan nama “Mahdi” kepada para pemmpin gerakan dan kebangkitan.[47] Sementara itu, para Imam suci (a.s.) dan keturunan Nabi (a.s.) tetap menghidupkan ingatan dan kenangan akan para syuhada Karbala. Setiap kali ingin meminum air, Imam as-Sajjad (a.s.) meneteskan air mata sedalam-dalamnya pada saat melihat ke air. Ketika ditanya alasannya atas ini, beliau (a.s.) berkata:

Bagaimana aku tidak bisa menangis ketika air dibebaskan dari hewan-hewan liar dan binatang-binatang pemangsa di gurun, tetapi hal ini disangkal ayahku?” Suatu hari, seorang budak Imam (a.s.) berkata: “Tidak adakah akhir dari penderitaanmu?” Imam (a.s.) berkata: “Celakah kamu! Ya’qub (a.s.), yang karena kehilangan hanya satu dari dua belas puteranya, banyak menangis selama keberpisahan mereka hingga matanya buta dan dikarenakan penderitaannya punggungnya membungkuk, padahal puteranya masih hidup. Tetapi aku yang adalah saksi pembunuhan atas ayahku, saudara-saudaraku, paman-pamanku dan 18 orang di antara kerabatku yang mayatnya berhamburan di atas tanah. Maka, bagaimana mungkin derita dan kesedihanku akan berakhir?”[48]

Imam ash-Shadiq (a.s.) mendorong para penyair untuk membacakan syair mereka sebagai ratapan kepada Imam Husain (a.s.) dengan berkata: “Barangsiapa yang terus membacakan puisi tentang al-Husain (a.s.) dan mendorong umat untuk menangis, surge akan diwajibkan atasnya dan dosa-dosanya akan diampuni.”[49]

Dalam cara demikian Imam Husain (a.s.) menjadi simbol Syi’ahisme. Karenanya, dalam banyak halaman sejarah semasa periode khalifah Mutawakkil, kunjungan (ziyarah) ke makam Imam (a.s.) diharamkan.[50]

Pelajaran Kesepuluh: Ringkasan

  1. Bagaimana tahapan berkembangnya Syi’ahisme selama periode Umayyah?
  2. Apa ciri yang menonjol dari Syi’ah selama periode Imam Hasan dan Imam Husain (a.s.)?
  3. Apa gebrakan gerakan Karbala pada penyebaran Syi’ahisme?

Pelajaran Kesebelas

b.Periode Imam as-Sajjad (a.s.)

Periode Imam as-Sajjad (a.s.) dapat dibagi ke dalam dua tahapan:

Tahap pertama meliputi peristiwa-peristiwa kesyahidan Imam Husain (a.s.), guncangnya kekuasaan Umayyah dan terakhir adalah akhir dari kekuasaan Sofyani (keturunan Abu Sofyan) dan suksesi terhadap kekuasaan Marwani (keturunan Marwan ibn al-Hakam), pergolakan internal  di antara kubu Umayyah dan keterlibatan mereka dengan berbagai kebangkitan dan pemberontakan sampai masa stabilisasi kekuasaan Marwani. Tahap kedua meliputi masa kegubernuran Hajjaj ibn Yusuf dan kekalahan Abdullah ibn Zubair[51] di Mekkah sampai permulaan gerakan Abbasiyyah, yang juga merupakan periode khusus Imamah Imam al-Baqir (a.s.).

Setelah kesyahidan Imam Husain (a.s.), kubu Umayyah di satu pihak, yang bergulat dengan berbagai kebangkitan penduduk Irak dan Hijaz, dan di lain pihak mengalami perjuangan internal. Pemerintahan Yazid tidak berlangsung lama. Yazid mati pada 64 H setelah tiga tahun berkuasa.

Setelah Yazid, Muawiyah ibn Yazid puteranya, mengambil alih kekuasaan. Ia berkuasa tidak lama dan segera turun dari kursi kekhalifahan dan tak lama kemudian mati.[52] Bersamaan dengan kematiannya, pertikaian internal di antara kubu Umayyah dimulai. Mas’udi menggambarkan peristiwa ini setelah kematian Muawiyah II yang mengindikasikan adanya perebutan dan persaingan di antara kubu Umayyah terhadap kepemimpinan, sebagaimana diriwayatkan:

Muawiyah (II) mati pada usia 22 tahun dan dikuburkan di Damaskus. Dengan ambisi yang membara untuk menjadi khalifah berikutnya, Walid ibn Utbah ibn Abi Sofyan segera tampil mengimami shalat jenazah Muawiyah (II), namun bahkan sebelum menyelesaikan shalatnya ia menerima pukulan fatal dan terbunuh. Lalu Utsman ibn Utbah ibn Abu Sofyan mengimami shalat baginya, tetapi ia pun tidak disetujui oleh mereka ketika menduduki kursi kekhalifahan. Maka, ia terpaksa pergi ke Mekkah dan bergabung dengan Ibn Zubair.[53]

Tiga tahun belum berlalu ketika kekuasan Sofyani segera berakhir. Kebanyakan seluruh penduduk wilayah Muslim termasuk sejumlah sesepuh Umayyah dan gubernur-gubernur seperti Dahaq ibn Qays dan Nu’man ibn Basyir telah condong ke kubu Ibn Zubair. Pada saat inilah Ibn Zubair mengusir penduduk pro Umayyah keluar dari Medinah termasuk Marwan. Kubu Umayyah hengkang ke Syam dan karena tidak ada khalifah di Damaskus, Umayyah memilih Marwan sebagai khalifah, diikuti oleh Khalid ibn Yazid dan setelahnya Amru ibn Sa’id sebagai penggantinya. Suatu ketika Marwan menyingkirkan Khalid ibn Yazid dan mengangkat puteranya, Abdul Malik sebagai penggantinya. Atas alasan ini, ibu dari Khalid yang dinikahi Marwan meracuni Marwan yang membunuhnya. Abdul Malik pun menyingkirkan Amru ibn Sa’id dan sebagai penggantinya ia mengangkat puteranya sebagai putera mahkotanya.[54]

Sementara itu, kubu Umayyah dicengkeram berbagai pemberontakan dan kebangkitan. Kehebohan ini dapat dibagi ke dalam dua jenis ciri: Jenis pertama adalah kebangkitan-kebangkitan tanpa dukungan Syi’ah. Kebangkitan Hirrah dan pemberontakan Ibn Zubair termasuk dalam jenis ini. Hakikat dari pemberontakan Ibn Zubair jelas-jelas dipelopori oleh pemimpin pemberontak, Abdullah ibn Zubair yang adalah musuh bebuyutan keturunan Nabi (saw). Ia menyimpan dendam ini di dalam hatinya karena kekalahan yang ia alami (dalam perang Jamal) dan hal-hal lainnya, termasuk ayahnya, Zubair, menderita kekalahan dalam perang Jamal (unta) dan berbagai peristiwa yang membuntutinya. Saudaranya, Mus’ab, condong ke Syi’ah dan menikahi puteri dari Imam Husain (a.s.), Sakinah.[55] Karenanya, kampanyenya memperoleh momentum di Irak dan kaum Syi’ah Irak menyertainya dalam melawan kubu Umayyah. Setelah Mukhtar Ibrahim al-Asytar bergabung dengannya dan ia terbunuh di sampingnya.

Kebangkitan Hirrah[56] juga bukan sokongan Syi’ah dan Imam as-Sajjad (a.s.) tidak ikut campur di dalamnya. Ketika Muslim ibn Uqbah meminta baiat dari penduduk Medinah, memaksa mereka untuk bersumpah setia kepadanya, seperti budak-budak, kepada khalifah  Umayyah (Yazid), ia menyejajarkan dirinya demi menghormati Imam Sajjad (a.s.) dan tidak mengeluh terhadap Imam (a.s.) yang tidak berbaiat kepadanya.[57]

Kebangkitan lainnya mendapat sokongan dari Syi’ah.

Kebangkitan Kaum Syi’ah

Kebangkitan tawwabun (orang-orang yang bertaubat), dan kebangkitan Mukhtar merupakan kebangkitan kaum Syi’ah. Wilayah dua kebangkitan ini ada di Irak, Kufah khususnya, dan unsur-unsur barisan inti kaum Syi’ah Amirul Mukminin (a.s.). Dalam pasukan Mukhtar, Syi’ah non-Arab juga dapat termasuk di dalamnya.

Tiada keraguan tentang hakikat dari kebangkitan tawwabun. Kebangkitan ini didasarkan pada motif yang benar dan mencari syahadah, ia tidak mempunyai tujuan lain selain membalas darah Imam Husain (a.s.) dan menghapus dosa mereka karena tidak ikut menolong Imam (a.s.) yang terbunuh saat memerangi para pembunuhnya. Setelah meninggalkan Kufah, tawwabun menuju Karbala, mendatangi kuburan Imam Husain (a.s.) untuk berziarah dan mengawali gerakan mereka dari sana, mereka berkata:

Ya Allah! Kami tidak membantu putera Nabi (saw). Ampunilah dosa-dosa masa lalu kami dan terimalah taubat kami. Curahkanlah rahmat atas jiwa Husain (a.s.) dan orang-orang shalehnya serta para pengagumnya yang syahid. Kami bersaksi bahwa kami percaya kepada apa pun yang membuat Imam Husain (a.s.) terbunuh. Ya Allah! Jika Engkau tidak mengampuni dosa-dosa kami dan tidak memasukkan kami di dalam timbangan rahmat dan ampunan, kami akan terjerumus ke dalam neraka dan keburukan.[58]

Setibanya Muslim ibn Aqil di Kufah, Mukhtar bekerja sama dengannya. Tetapi karena kerjasama ini, Mukhtar ditawan dan dipenjarakan oleh Ubaydullah ibn Ziyad. Setelah peristiwa Asyura beliau dibebaskan melalui perantara dan petisi dari Abdullah ibn Umar, iparnya (suami dari adik perempuannya). Beliau tiba di Kufah pada 64 H dan setelah gerakan tawwabun, beliau memulai gerakannya dengan menggunakan slogan, “Ya litharat al-Husain” (Wahai para penolong Husain). Beliau mampu mengumpulkan kaum Syi’ah, terutama yang non-Arab, di sekeliling beliau. Dengan kekuatan ini, beliau menghukum para pembunuh Imam Husain (a.s.) atas apa yang telah mereka lakukan, sehingga dalam sehari mampu membunuh 280 penjahat itu dan menghancurkan rumah-rumah orang-orang yang melarikan diri dari barisan Muhammad ibn Asy’ath. Dan sebaliknya, beliau memperbaiki rumah Hujr ibn Addy, seorang pendukung Ali (a.s.) yang dihancurkan Muawiyah.[59]

Pandangan yang bertolak-belakang mengenai Mukhtar telah diungkapkan. Beberapa memandangnya sebagai Syi’ah sejati, sedangkan yang lainnya mengatakan bahwa beliau seorang pendusta. Ibn Dawud mengatakan mengenai Mukhtar di dalam kitabnya tentang rijal:

Mukhtar adalah putera dari Abu Abid ats-Tsaqafi. Beberapa ‘ulama’ Syi’ah telah menuduhnya Kaysyaniyyah dan dalam hal ini, mereka telah mengutip penolakan Imam Sajjad (a.s.) atas pemberiannya. Namun ini tidak dapat dijadikan alasan untuk menolak beliau dikarenakan Imam al-Baqir (a.s.) telah berkata tentangnya: “Janganlah berbicara buruk tentang Mukhtar karena beliau membunuh para pembunuh kami, tidak mengizinkan darah kami tertumpah secara tak terhormat, memberi puteri-puteri kami pernikahan, dan pada masa sulit beliau menyumbangkan harta di antara kami.

Ketika Abul Hakam, putera Mukhtar, datang kepada Imam Baqir (a.s.), Imam menunjukkan rasa hormat yang besar kepadanya. Abul Hakam bertanya tentang ayahnya dengan berkata: “Orang-orang sedang membicarakan ayahku, tetapi apa pun itu, pandanganmu menjadi patokannya.” Pada saat itu Imam (a.s.) memuji Mukhtar dan berdoa kepada Allah untuk merahmatinya dengan berkata: “Maha Mulia Allah! Ayahku berkata bahwa kasih-sayang ibuku adalah dari kekayaan yang Mukhtar berikan kepada ayahku.”

Dan Imam (a.s.) berulangkali berkata: “Semoga Allah merahmati ayahmu! Dia tidak mengizinkan hak kami diinjak-injak. Dia membunuh para pembunuh kami dan tidak mengizinkan darah kami tertumpah secara tidak terhormat.”

Imam ash-Shadiq (a.s.) juga berkata: Dalam keluarga kami ada seorang wanita yang tidak bersisir dan inai (pohon pacar) untuk rambutnya sampai Mukhtar mengirimkan kepala-kepala para pembunuh Husain (a.s.).”

Telah diriwayatkan bahwa ketika Mukhtar mengirim kepala terkutuk Ubaydullah ibn Ziyad kepada Imam as-Sajjad (a.s.), Imam (a.s.) bersujud dan memanjatkan doa kebajikan bagi Mukhtar.[60]

Sementara itu, riwayat-riwayat yang telah disampaikan untuk mencela Mukhtar adalah buatan musuh.

Berkaitan dengan dakwaan aliran Kaysaniyyah terhadap Mukhtar dan perannya yang diduga keras pencipta sekte Kaysaniyyah, sementara membela Mukhtar dan menolak tuduhan terhadapnya, Ayatullah al-Khu’i menulis:

Beberapa ulama Sunni mengkaitkan Mukhtar dengan sekte Kaysyaniyyah dan ini merupakan pernyataan yang sangat keliru karena Muhammad al-Hanafiyyah tidak pernah mengklaim Imamah bagi dirinya karena Mukhtar menyeru umat untuk mengakui Imamahnya. Mukhtar lebih dulu terbunuh sebelum Muhammad al-Hanafiyyah wafat dan sekte Kaysyaniyyah muncul setelah kematian Muhammad al-Hanafiyyah. Tetapi berkaitan dengan fakta bahwa mereka menganggap Mukhtar sebagai “Kaysan” (bukan karena beliau mengikuti sekte Kaysyaniyyah), yang mengakui bahwa julukan ini layak baginya. Alasannya dapat dilacak ke riwayat serupa yang dapat dipertanyakan, dari Amirul Mukminin (a.s.) yang diduga keras telah berkata: “Wahai Kays! Wahai Kays! Kemudian beliau dipanggil, “Kaysan.”[61]

Stabilisasi Kekuasaan Keturunan Marwan (Periode Pengekangan)

Sebagaimana disebutkan sebelumnya, fase kedua dari periode Imam as-Sajjad (a.s.) adalah stabilisasi kekuasaan Marwani (Keturunan Marwan ibn Hakam). Setelah terbunuhnya Abdullah ibn Zubair pada 73 H,[62] klan Marwan menstabilkan kekuasaannya sendiri, dan di jalan ini, mereka mengambil keuntungan dari orang-orang yang terkenal bobrok seperti Hajjaj ibn Yusuf yang tidak pernah lepas dari segala perbuatan kejinya dalam memusnahkan lawannya. Dia bahkan yang menghujani Ka’bah melalui lontaran batu-batu berapi. Dia membunuhi musuh-musuh Umayyah, baik Syi’ah maupun non-Syi’ah, dimana pun mereka ditemukan. Kebangkitan Ibn Asy’ath yang melawannya pada tahun 80 H tidak memperoleh apa-apa,[63] dan kelaliman Hajjaj menyelimuti seluruh Hijaz dan Irak sampai 95 H.[64] Imam as-Sajjad (a.s.) hidup selama periode itu, menyampaikan ilmu Islam dan Syi’ah serta ajaran-ajarannya melalui doa-doa. Selama periode itu, kaum Syi’ah merupakan para buronan, merana di penjara, dibunuh di tangan Hajjaj, atau melaksanakan taqiyah total dengan menyembunyikan iman mereka yang sesungguhnya. Karenanya, umat tidak mempunyai keberanian untuk mendekati Imam as-Sajjad (a.s.), dan para pendukung terdekatnya sangatlah sedikit. Almarhum Majlisi kemudian meriwayatkan: “Hajjaj ibn Yusuf membunuh Sa’id ibn Jubair karena ada hubungan dengan Imam as-Sajjad (a.s.).”[65] Tentu saja, selama masa itu, atas dasar tekanan yang dilancarkan terhadap kaum Syi’ah, mereka hijrah ke berbagai wilayah Muslim dan menjadi agen-agen penyebaran Syi’ahisme. Selama periode yang sama, beberapa Syi’ah di Kufah hijrah ke daerah-daerah seputar Qum, menetap di sana dan menyebarkan Syi’ahisme di tempat itu.[66]

Periode awal Imamah Imam al-Baqir (a.s.) juga bertepatan dengan kekuasaan lalim Umayyah. Pada waktu itu, Hisyam ibn Abdul Malik, seorang khalifah otoritatif dan zalim, memanggil Imam al-Baqir (a.s.) bersama puteranya, Imam ash-Shadiq (a.s.) ke Syam. Ia tidak lalai untuk menjengkelkan dan menyakiti hati mereka.[67] Selama pemerintahannya, Zaid ibn Ali ibn al-Husain merintis kebangkitan dan mati syahid. Meskipun pengekangan dan tekanan terus dihujamkan terhadap kaum Syi’ah, ada kalanya berkurang pada masa kekhalifahan Umar ibn Abdul Aziz, namun masa pemerintahannya berlangsung singkat. Setelah dua tahun lebih berkuasa, ia mati dengan cara yang mencurigakan.

Tentunya Bani Umayyah tidak pernah mampu memadamkan cahaya kebenaran melalui tekanan dan kekangan, dan gagal menghapus kebajikan dan keutamaan Amirul Mukminin (a.s.) dari benak umat, dan itulah kehendak Allah. Dalam hal ini Ibn Abil Hadid mengatakan:

Jika Allah Yang Maha Tinggi tidak menganugerahkan kepemimpinan kepada orang ini (Ali), bahkan satu saja hadits mengenai kebajikan dan keutamaan beliau tidak akan pernah diriwayatkan karena Bani Marwan begitu keras sehubungan dengan para perawi berbagai kebajikan beliau.[68]

Pelajaran Kesebelas: Ringkasan

Periode Imam as-Sajjad (a.s.) dapat dibagi ke dalam dua tahap. Tahap pertama meliputi ketidakstabilan kekuasaan Umayyah, jatuhnya Sofyani (keturunan Abu Sofyan) dan munculnya Bani Marwan (keturunan Marwan ibn al-Hakam). Dan tahap kedua meliputi stabilisasi kekuasaan Marwani.

Selama tahap pertama, Umayyah bergulat dengan kebangkitan kaum Syi’ah dan non-Syi’ah di Hijaz dan Irak.

Tahap kedua dimulai dengan terbunuhnya Abdullah ibn Zubair pada 73 H dimana Bani Umayyah menggunakan orang-orang celaka seperti Hajjaj ibn Yusuf sebagai sebuah tawaran untuk melestarikan cengkraman mereka.

Pelajaran Kesebelas: Pertanyaan

  1. Terbagi ke dalam berapa tahapkah periode Imam as-Sajjad (a.s.)?
  2. Berapa jenis kebangkitan yang terjadi selama periode Imam as-Sajjad (a.s.)?
  3. Gambarkan periode pengekangan dan kestabilan kekuasaan Marwan.

Pelajaran Kedua Belas

Permulaan Kampanye Abbasiyyah dan Pengaruhnya Atas Perkembangan Syi’ahisme

Kampanye Abbasiyyah dimulai pada 111 H.[69] Di satu pihak, masa ini mengkontribusi peluang berkembangnya Syi’ahisme di berbagai wilayah dunia Muslim, dan di lain pihak, berbagai tindakan pengekangan Bani Umayyah kian berkurang. Akibatnya, kaum Syi’ah mampu menarik nafas panjang. Selama periode ini, para Imam Maksumin (a.s.) berfokus kepada pengajaran fiqih, dasar-dasar ilmu skolastik, dan Syi’ahisme memasuki tahap baru.

Secara umum, selama periode Umayyah tidak ada perpecahan di antara keturunan Ali (a.s.) dan keturunan Abbas ibn Abdul Muthalib dan tidak ada pertikaian di antara mereka. Dalam hal ini Sayyid Muhsin Amin mengatakan: “Keturunan Ali (a.s.) dan keturunan Abbas selama kekuasaan Umayyah menapak jalan yang sama. Orang-orang yang membantu mereka yang dikenal sebagai Syi’ah keturunan Muhammad (saw), mempercayai mereka sebagai lebih memenuhi syarat menduduki kekhalifahan dibandingkan dengan Bani Umayyah. Selama periode ini tidak ada perbedaan dalam hal pendapat keagamaan di antara keturunan Ali (a.s.) dan keturunan Abbas. Namun ketika Bani Abbas berkuasa, setan menabur benih perpecahan di antara mereka dan keturunan Ali (a.s.), dan mereka pun melakukan sejumlah tindakan penindasan terhadap keturunan Ali (a.s.).[70] Atas dasar ini, para jurkam (juru kampanye) menyeru umat untuk menyenangkan hati keturunan Muammad (saw) sambil menceritakan keadaan penindasan yang dialami keturunan Nabi (saw). Abul Faraj al-Isfahani mengatakan:

Setelah terbunuhnya Walid ibn Yazid dan munculnya perselisihan di antara Bani Marwan (keturunan Marwan ibn al-Hakam), para jurkam dan propagandis Bani Hasyim pergi ke berbagai tempat, dan hal pertama yang mereka ungkapkan adalah keutamaan Ali ibn bi Thalib dan keturunannya. Dikatakan kepada umat: “Bagaimana bisa Bani Umayyah berusaha membunuh dan menyingkirkan keturunan Ali?”[71]

Akibatnya, selama periode ini Syi’ahisme berkembang pesat. Bahan hadits yang berhubungan dengan Hazrat Mahdi (a.f.s.) menyebar secara cepat di antara penduduk berbagai wilayah. Khurasan merupakan lingkungan utama kegiatan para jurkam Abbasiyyah. Atas dasar inilah jumlah kaum Syi’ah bertambah secara cepat hingga batas tertentu, sebagaimana diriwayatkan oleh Ya’qubi:

Setelah kesyahidan Zaid ibn Ali ibn Husain pada 121 H, Syi’ah di Khurasan diteror dan diguncang. Kaum Syi’ah mempublikasikan ajaran mereka. Banyak jurkam Abbasiyyah yang mengadakan pendekatan terhadap mereka dan menceritakan berbagai kejahatan yang dilakukan Bani Umayyah terhadap keluarga Nabi (saw). Masalah dan kabar ini ditanamkan kepada warga di setiap kota di Khurasan oleh para jurkam Abbasiyyah yang pergi ke sana dan berbagai impian serta aspirasi dalam hal ini (mulai) tampak dan kitab-kitab diajarkan.[72]

Mas’udi juga meriwayatkan sebuah subyek yang mengungkapkan berkembangnya dan merambahnya Syi’ahisme di Khurasan. Kemudian beliau menulis: “Pada 125 H ketika Yahya ibn Zaid terbunuh di Juzjan, orang memberi nama semua bayi laki-laki mereka yang lahir pada tahun itu dengan nama Yahya.”[73]

Pengaruh Bani Abbas di Khurasan sangat besar, sebagaimana dikatakan Abul Faraj sewaktu menyatakan riwayat Abdullah ibn Muhammad ibn Ali ibn Abi Thalib:

Syi’ah Khurasan mengira bahwa Abdullah adalah pewaris ayahnya Muhammad al-Hanafiyah dan dialah Imam, dan menunjuk Muhammad ibn Ali ibn Abdullah ibn al-Abbas sebagai penggantinya, dan pengganti Muhammad, Ibrahim, adalah Imam yang darinya Imamah meluas sampai ke Bani Abbas melalui (sistem) pewarisan.[74]

Karenanya, sebagian besar tentara Bani Umayyah terbentuk oleh orang-orang Khurasan. Dalam hal ini Muqaddas mengatakan:

Sebagaimana Allah melihat penindasan dan kezaliman Bani Umayyah terhadap keluarga Nabi (saw), Dia mengumpulkan tentara dari berbagai daerah Khurasan dan mengirimnya kepada mereka pada kegelapan malam. Selama kedatangan al-Mahdi kian bertambah harapan penduduk Khurasan.[75]

Atas dasar Ahlul Bait Nabi (a.s.) memiliki kedudukan yang menonjol di antara manusia sehingga setelah kemenangan Bani Abbas, seseorang bernama Syark ibn Syeikh al-Mahdi di Bukhara merintis kebangkitan dikarenakan tindakan-tindakan zalim kaum Abbasiyyah terhadap keturunan Nabi (saw), dengan mengatakan: “Kami tidak memberikan baiat kepada mereka bagi kami untuk melakukan penindasan, menumpahkan darah manusia secara zalim dan melakukan tindakan-tindakan yang bertentangan dengan kebenaran.” Ia ditahan dan kemudian dibunuh oleh Abu Muslim.[76]

1.Syi’ahisme Selama Periode Imam al-Baqir dan Imam ash-Shadiq (a.s.)

Periode kedua Imamah Imam Muhammad al-Baqir (a.s.) dan periode awal Imamah Imam Ja’far ash-Shadiq (a.s.) bertepatan dengan berbagai kampanye kaum Abbasiyyah dan kebangkitan kaum Alawi seperti yang dilancarkan Zaid ibn Ali, Yahya ibn Zaid, dan Abdulah ibn Muawiyah – salah seorang cucu Ja’far ibn Abi Thalib al-Tayyar[77] – dan kemunculan Abu Muslim al-Khurasani sebagai wakil jurkam Bani Abbas di Khurasan dalam menghasut umat menentang kubu Umayyah.[78] Sementara itu, Bani Umayyah mengalami pertikaian internal dan berbagai masalah di antara pendukung mereka karena adanya perselisihan yang serius antara orang Mudiris dan Yamanis di antara para pendukung Umayyah dalam ruang lingkup (perebutan) pengaruh masing-masing.[79] Pergolakan dan kecamuk ini membuat Bani Umayyah lalai terhadap Syi’ah. Karenanya, Syi’ah mampu menarik nafas panjang; istirahat dari taqiyyah total, menggorganisir kembali diri mereka, dan membina kembali hubungan dengan para pemimpin mereka. Pada periode inilah umat berpaling kepada Imam al-Baqir (a.s.) untuk memanfaatkan berkah yang telah bertahun-tahun terputus dari mereka. Imam (a.s.) bangkit untuk menghidupkan sekolah (maqtab) Ahlul Bait (a.s.). Beliau (a.s.) sibuk dalam memberikan bimbingan dan pencerahan umat melalui majelis-majelis pengkajian di Medinah dan Mesjid Nabi khususnya. Beliau dijadikan rujukan yang memiliki otoritas atas umat, memecahkan berbagai masalah sains dan fiqih, pandangan beliau dijadikan hujjah bagi mereka. Qays ibn Rabi meriwayatkan bahwa ia bertanya kepada Abu Ishaq tentang menyeka sandal (sewaktu berwudu) dan Abu Ishaq berkata:

Seperti orang lainnya, aku menyepa sandalku (dalam berwudu) sampai suatu ketika aku bertemu dengan seseorang dari Bani Hasyim yang serupa denganku yang tidak pernah bertemu sebelumnya. Aku bertanya kepadanya tentang masalah menyeka sandal (dalam berwudu). Dia melarangku dari melakukannya, dengan mengatakan: “Amirul Mukminin tidak melakukannya.” Sejak saat itu, aku berhenti melakukannya.

Qays ibn Rabi juga berkata: “Setelah mendengar pernyataan ini aku juga berhenti menyeka sandalku (dalam berwudu).”

Orang tertentu dari kalangan Khawarij datang kepada Imam al-Baqir (a.s.). Tertuju kepada Imam (a.s.) dia berkata: “Wahai Abu Ja’far! Apa yang kamu sembah?” Imam (a.s.) menjawab: “Allah.” Orang itu bertanya: “Dapatkah kamu melihatNya?” Imam (a.s.) menjawab: “Ya, tetapi pandangan tidak dapat menyaksikanNya sedangkan hati dengan kebenaran iman dapat melihatNya. Dia tidak dapat dibandingkan melalui analogi (qiyas). Dia tidak dapat dirasakan melalui indera. Dia tidak seperti manusia…” Orang Khawarij itu pun meninggalkan Imam (a.s.) seraya berkata: “Allah Maha Mengetahui kepada siapa Dia mempercayakan risalahNya.”

Para ulama seperti Amru ibn Ubayd, Tawus al-Yamani, Hasan al-Basri, dan Nafi’ Mawla ibn Umar pernah merujuk kepada Imam (a.s.) untuk memecahkan berbagai masalah dan persoalan sains dan fiqih.[80]

Ketika Imam (a.s) tiba di Mekkah, warga bergegas mendatanginya untuk mengajukan pertanyaan mengenai berbagai masalah yang berhubungan dengan halal dan haram, menimbang adanya kesempatan memperoleh hikmah dari Imam (a.s.) dan sebagai sarana menambah ilmu. Imam al-Baqir (a.s.) mengajar di majelis-majelis yang dihadiri tidak hanya oleh para pelajar tetapi juga para ulama di masa itu.[81] Ketika Hisyam ibn Abdul Malik tiba di Mekkah untuk berhaji, ia menyaksikan majelis-majelis pengkajian ini yang merupakan sebuah kesempatan baginya. Ia mengutus seseorang untuk bertanya kepada Imam (a.s.) mengenai apakah manusia pada Hari Pengadilan (mahsyar) akan makan. Ddalam menjawabnya Imam (a.s.) berkata: “Pada Hari Pengadilan ada sebuah pohon yang buahnya akan dimakan oleh manusia dan sungai-sungai yang airnya diminum manusia sehingga merasakan kemudahan bagi perhitungan.” Hisyam kembali mengutus orang itu untuk bertanya kepada Imam (a.s.): “Apakah manusia mempunyai waktu untuk makan dan minum?” Imam (a.s.) berkata: “Bahkan di neraka aka nada kesempatan untuk makan dan minum, para penghuni neraka juga akan meminta air dan kemurahan Allah lainnya.”

Zurarah (ibn A’yan) berkata:

Aku bersama Imam al-Baqir (a.s.) sedang duduk di sebelah Ka’bah, sementara Imam (a.s.) sedang menghadap Ka’bah. Imam (a.s.) berkata: “Melihat Ka’bah sesungguhnya perbuatan ibadah.” Lalu orang tertentu (dari Bajilah) datang dan berkata: “Ka’ab al-Ahbar pernah berkata: “Ka’bah bersujud ke Biara Yerussalem setiap hari.” Imam (a.s.) berkata kepada orang itu: “Menurutmu bagaimana tentang yang Ka’ab katakan?” Orang itu menjawab: “Ka’ab berkata benar.” Imam (a.s.) merasa terusik dan menjawabnya dengan berkata: “Tidak, kamu berdusta dan Ka’ab juga berdusta.”[82]

Para ulama besar, fuqaha (ahli fiqih) dan para ulama hadits (muhaditsun), yang dididik di bawah bimbingan Imam (a.s.), seperti Zurarah ibn A’yan yang tentangnya Imam Shadiq (a.s.) berkata: “Jika bukan karena Zurarah, ada kemungkinan hadits-hadits dari ayahku hilang selamanya.”[83]

Muhammad ibn Muslim mendengar tiga puluh ribu hadits dari Imam al-Baqir (a.s.).[84] Ulama lainnya yang belajar dari Imam (a.s.) adalah Abu Basyir yang tentangnya Imam Shadiq (a.s.) berkata: “Jika bukan karena mereka, karya-karya kenabian (nubuwah) akan musnah dan using.”[85]

Tokoh-tokoh terkemuka lainnya seperti Yazid ibn Muawiyah al-Ajali, Jabir ibn Yazid, Hamran ibn A’yan, dan Hisyam ibn Salim adalah di antara orang-orang yang dididik dalam maktab Imam (a.s.).

Di samping para ulama Syi’ah, banyak ulama Sunni pun belajar di bawah bimbingan Imam (a.s.) dan meriwayatkan hadits atas otoritas Imam (a.s.). Sebagaimana Sabt ibn al-Jawzi katakan: “(Imam) Ja’far pernah meriwayatkan hadits dari Nabi (saw) dari ayahnya.” Karenanya, sejumlah pengikut (tabi’in) seperti Ata’ ibn Abi Rubah, Sofyan ats-Tsauri, Malik ibn Annas (pendiri mazhab Maliki), Syu’bah, dan Abu Ayyub Sijistani, telah meriwayatkan hadits dari Imam (a.s.).[86]

Selain itu, ribuan orang terpelajar dalam ilmu fiqih dan hadits mencapai kemajuan dalam maktab Imam (a.s.) dan hadits beliau berkembang jauh dan luas sehingga Jabir al-Ju’fi, yang adalah seorang muhaddits besar, telah meriwayatkan tujuh puluh ribu hadits atas otoritas Imam (a.s.).[87] Keadaan seperti ini berlangsung hingga Imam al-Baqir mencapai kesyahidan pada 7 Zulhijjah 114 H.[88]

Universitas Imam ash-Shadiq (a.s.)

Mengingat situasi politik yang kondusif yang sedang berlaku, Imam Ja’far ash-Shadiq (a.s.) mengikuti gerakan keilmuan ayahnya, mendirikan unversitas besar dan pusat pengajaran yang berhorison jauh dan luas. Syeikh al-Mufid berkata:

Ilmu Imam (a.s.) telah sedemikian luasnya sehingga menjadi termasyhur di berbagai kalangan dan kemasyuhurannya merambah ke setiap celah dan sudut. Tiada keturunan Nabi saw) yang menandinginya (dalam hal ini) yang ilmu dan pengajarannya telah sedemikian luas tersebar.[89]

Amir Ali kemudian menulis tentang Imam (a.s.):

Diskusi-diskusi dan perdebatan filsafat di semua pusat Islam menjadi berkembang luas dan bimbingan serta instruksi yang diberikan dalam hal ini hanya dimungkin oleh universitas yang telah dibangun di Medinah di bawah pengawasan Hazrat Shadiq, cucu mulia Hazrat Ali. Beliau menjadi seorang ulama besar dengan pandangan-pandangannya yang jitu, pemahamannya yang mendalam, dan benar-benar memahami dalam segala cabang ilmu pada masanya. Sebenarnya, dialah pendiri akademi rasional dalam Islam.[90]

Karenanya, orang-orang yang adalah para pecinta ilmu dan haus akan makrifat Muhammadan (saw) berdatangan dari berbagai belahan dunia Muslim menuju Imam (a.s.), dan menimba dari mata air pengetahuan serta kebijaksanaan yang berlimpah. Sayyid Ilahil berkata: “Di Kufah, Basrah, Wasit, dan Hijaz, orang-orang dari setiap suku mengirim anak-anak mereka ke Ja’far ibn Muhammad. Kebanyakan orang-orang Arab dan Persia, Qum khususnya, datang kepadanya.”[91]

Dalam al-Mu’tabar-nya, almarhum Muhaqqiq (al-Hili) kemudian menulis:

Selama periode Imam ash-Shadiq (a.s.), berbagai cabang ilmu yang disampaikan darinya mencengangkan para pemikir besar. Sekelompok orang berjumlah sekitar empat ribu ulama rijal telah meriwayatkan hadits darinya, dan melalui ajaran-ajarannya sejumlah besar orang di berbagai ilmu pengetahuan mencapai keunggulan hingga batas tertentu sehingga jawaban-jawabannya kepada berbagai pertanyaan mereka disusun ke dalam empat ratus kitab (musannafat), yang dinamakan “Usul”.[92]

Dalam kitabnya, Zikra, Syahidul Awwal juga berkata: Empat ribu orang dari Irak, Hijaz, Khurasan, dan Syam menuliskan jawaban-jawaban Abu Abdullah Imam ash-Shadiq (a.s.).”[93]

Dengan cara demikian, para pencari dan pecinta ilmu dan pengajaran menerima dari Imam (a.s.). Para ulama terkemuka dalam berbagai cabang ilmu kewahyuan (naqli) dan rasional (aqli) pada masa itu, seperti Hisyam ibn Hakam, Muhammad ibn Muslim, Aban ibn Taghlib, Hisyam ibn Ssalim, Mukmin Taq, Mufaddhal ibn Umar, Jabir ibn Hayyan, dll., dididik di bawah naungannya.

Kompilasi mereka yang dikenal sebagai Usul Arba’ami’ah, merupakan dasar dari empat kitab Syi’ah mengenai hadits, yaitu Al-Kafi, Man La Yahdarah al-Faqih, At-Tahzaib, dan Al-Istibsar.

Murid-murid Imam Ja’far ash-Shadiq (a.s.) tidak semuanya Syi’ah, karena kebanyakan ulama Sunni pada masa itu juga belajar di bawah bimbingannya. Ibn Hajar al-Haytami, seorang penulis Sunni, dalam hal ini menulis: “Tokok-tokoh terkemuka (dalam ilmu fiqih dan hadits) seperti Yahya ibn Sa’ad, Ibn Jarih, Malik, Sofyan ats-Tsauri, Sofyan ibn Uyainah, Abu Hanifah, Sya’bi, dan Ayyub Sijistani, telah meriwayatkan hadits atas otoritas Imam (a.s.).[94]

Abu Hanifah pendiri mazhab Hanafi telah berkata:

Suatu ketika aku mengunjungi Ja’far ibn Muhammad. Aku melihat beliau dalam tiga kondisi: ketika beliau sedang shalat, dalam keadaan berpuasa, atau sedang membaca Al-Quran. Aku tidak pernah melihat beliau meriwayatkan hadits tanpa melaksanakan wudu.[95] Orang yang mengungguli Ja’far ibn Muhammad dalam ilmu, ibadah dan keshalehan tidak dilihat oleh mata siapa pun, didengar oleh telinga siapa pun, atau dirasakan oleh hati siapa pun juga.[96]

Majelis-majleis pengajaran Imam (a.s.) dihadiri orang-orang yang kemudian mendirikan mazhab-mazhab fiqih yang tampil sebagai para filosof, dan juga dihadiri murid-murid filsafat dari jauh dan luas. Setelah mempelajari ilmu pengetahuan dari Imam mereka, mereka kembali ke negeri masing-masing dan mengadakan majelis-majelis taklim sendiri-sendiri. Kaum Muslimin berkumpul mengelilingi mereka dan pada gilirannya mereka menanamkan ajaran-ajaran Ahlul Bait (a.s.) dalam mempropagandakan Syi’ahisme. Ketika Aban ibn Taghlib mendatangi Mesjid Nabi, orang-orang menyediakan tempat baginya di sebuah tiang untuk bersandar, dan dia akan meriwayatkan hadits kepada mereka. Imam ash-Shadiq (a.s.) berkata kepadanya: “Duduklah di mesjid Medinah dan keluarkan fatwa-fatwa kepada umat, karena aku menyukai orang-orang sepertimu terlihat di antara Syi’ahku.”

Aban adalah orang pertama yang telah menulis sesuatu mengenai ilmu pengetahuan tentang Al-Quran (ulum al-Quran) dan dia juga sangat memahami hadits sehingga dia duduk di Mesjid Nabi dan orang-orang pun datang untuk bertanya kepadanya. Melalui berbagai gaya bicaranya, dia menjawab mereka dan menanamkan hadits-hadits tentang Ahlul Bait (a.s.) kepada mereka.[97] Dalam Mizan al-I’tidal, adh-Dhahabi kemudian mengatakan mengenainya: “Jika hadits dari orang-orang seperti Aban yang dituduh Syi’ah ditolak, sebagian besar karya Kenabian akan hilang.”[98]

Abu Khalid al-Kabuli berkata: “Aku melihat Abu Ja’far Mu’min Taq duduk di Mesjid Nabi sementara warga Medinah berkumpul mengelilinginya dan melontarkan pertanyaan-pertanyaan mereka mengenai masa’il dan dia akan menjawab mereka.[99]

Syi’ahisme selama periode itu sedemikian pesat berkembang sehingga beberapa orang, dalam rangka memperoleh status sosial di antara umat, berusaha memalsukan hadits-hadits dari para Imam (a.s.) untuk menarik perhatian umat dengan menafsirkan hadits-hadits demi kepentingan mereka sendiri. Misalnya, Imam ash-Shadiq (a.s.) – dalam menjawab salah seorang sahabat bernama Fayd ibn Mukhtar yang bertanya tentang alasan di balik kontradiksi dalam hadits – kemudian berkata: “Orang-orang ini tidak mencari keridhoan Allah dalam meriwayatkan hadits dan dalam mengungkapkan berbagai pandangan kami. Sebenarnya mereka mencari dunia dan masing-masing dari mereka bercita-cita menjadi pemimpin.”[100]

Pelajaran Keduabelas: Ringkasan

Kampanye Abbasiyyah dimulai pada 111 H. Selama masa itu, tidak ada pembagian antara keturunan Ali (Alawi) dan keturunan Abbas ibn Abdul Muthalib (Abbasiyah). Bani Umayyah sibuk menghambat kebangkitan Abbasiyyah sebagai akibat dari berkembangnya Syi’ahisme. Imam al-Baqir dan Imam ash-Shadiq (a.s.) dalam kesempatan ini mendidik murid-murid mereka membangun Universitas Ja’fari, dan banyak para fuqaha dan teolog skolastik (mutakallimun) menimba ilmu dari kedua pribadi ini. Syeikh al-Mufid memandang jumlah murid Imam Shadiq (a.s.) ada empat ribu orang.

Pelajaran Keduabelas: Pertanyaan

  1. Bagaimana pengaruh kampanye Abbasiyyah atas berkembangnya Syi’ahisme?
  2. Apa kecenderungan (trend) Syi’ahisme selama periode Imam al-Baqir dan Imam ash-Shadiq (a.s.)?
  3. Bagaimana Imam Shadiq (a.s.) mengambil keuntungan atas kesempatan yang ada?

Pelajaran Ketiga Belas

3.Syi’ah Selama Periode Kekhalifahan Abbasiyyah

Syi’ahisme dari permulaan periode Abbasiyyah (132 H) sampai akhir dari okultasi kecil (ghaibah sugra) –[329]- merupakan periode yang lebih lama dibandingkan dengan periode Umayyah. Kaum Syi’ah terpencar-pencar ke titik-titik terjauh daratan Muslim yang luas. Misalnya, sebuah keluhan menyangkut khalifah Abbasiyyah Harun ar-Rasyid menentang Imam Musa al-Kazim (a.s.) dalam penerimaan khums[101] dari timur dan barat.[102] Ketika Imam Ali ar-Rida (a.s.) tiba di Naysabur, dua orang penjaga hadits bernama Abu Zar’ah ar-Razi dan Muhammad ibn Aslam at-Tusi datang kepada Imam (a.s.) bersama sekelompok pencari ilmu yang tak terhitung jumlahnya dan meminta beliau menemui mereka. Imam (a.s.) menemui mereka, di dalam majelis-majelis taklim, untuk meriwayatkan silsilah adh-dhahab hadits. Hadits ini tercatat dalam 20 ribu kitab oleh penulis yang berbeda-beda.[103]

Demikian juga, Imam ar-Ridha (a.s.) menjawab khalifah Abbasiyyah al-Makmun yang berharap banyak dari beliau setelah menerima secara terpaksa menjadi putera mahkotanya, berkata: “…Urusan (pewarisan) ini tidak menambah kesenangan bagiku. Ketika aku berada di Medinah, pemotongan tangan pencuri dilaksanakan di timur dan barat.”[104]

Juga, pengakuan faqih Sunni, Ibn Abi Dawud yang merupakan musuh bebuyutan dan lawan kaum Syi’ah, adalah penting di sini. Mengikuti pilihan khalifah Abbasiyyah Muktasim atas pandangan Imam al-Jawab (a.s.) ketimbang fuqaha Sunni mengenai pemotongan tangan pencuri, Ibn Abi Dawud secara pribadi mengingatkan khalifah yang dihadiri orang-orang istana, para gubernur, para menteri, dan juru tulis, dia lebih suka kepada pandangan seseorang yang Imamahnya diakui oleh sebagian ummah ketimbang pandangan semua ulama dari majelisnya.[105] Syi’ahisme bahkan telah merambah ke jajaran gubernur dan pejabat teras penguasa Abbasiyyah. Sebagaimana Yahya ibn Harthamah meriwayatkan:

Khalifah Abbasiyyah Mutawakkil mengutusku ke Medinah untuk memanggil Imam al-Hadi (a.s.). Ketika aku tiba bersama Imam di Baghdad, aku menemui Ishaq ibn Ibrahim at-Tahiri, gubernur Baghdad. Dia berkata kepadaku: “Wahai Yahya! Orang ini adalah putera Rasul Allah (saw). Kamu juga mengenal Mutawakkil. Jika kamu menghasut Mutawikkil untuk membunuhnya, ini sama saja dengan mendeklarasikan permusuhan dengan Rasul Allah (saw).” Aku berkata: “Aku tidak melihat apa pun padanya kecuali kebaikan.” Setelah itu aku menuju Samarra. Ketika tiba di sana, pertama-tama aku menemui Wasif Turki.[106] Dia juga berkata kepadaku: “Bahkan jika satu helai rambut saja dicabut dari orang ini, aku akan memanggilmu untuk diperhitungkan.”[107]

Dalam jilid pertama kitabnya, Sayyid Muhsin Amin telah mengidentifikasi sejumlah negarawan Abbasiyyah yang Syi’ah, seperti Abu Salmah Khalal,[108] wazir pertama khalifah Abbasiyyah yang disebut Wazir Keluarga Nabi (wazir al Muhammad); Abu Bukhair Asadi al-Basri, salah seorang gubernur terkemuka. Dan emir-emir selama khalifah Abbasiyyah al-Mansur; Muhammad ibn Asy’ath, wazir Harun ar-Rasyid, yang mengenainya ada sebuah kisah selama penawanan Imam al-Kazim (a.s.) yang mentayangkan keberadaannya sebagai seorang Syi’ah; Ali ibn Yaqtain, salah seorang wazir khalifah Harun; Ya’qub ibn Dawud, wazir Abbasiyyah al-Mahdi; dan Thahir ibn Husain Khaza’I, gubernur Khurasan atas nama Makmun dan penakluk Baghdad yang atas dasar ini Hasan ibn Sahl tidak mengutusnya ke Perang Abis Saraya.[109]

Di antara hakim-hakim Syi’ah adalah Syarik ibn Abdullah an-Nakha’i, seorang hakim Kufah, dan Waqidi, sejarawan termasyur, juga seorang hakim selama masa kekhalifahan al-Makmun.[110]

Syi’ahisme berkembang pesat bahkan dalam lingkungan pengaruh Abbasiyyah yang dianggap sebagai ancaman bagi mereka. Misalnya, selama prosesi pemakaman Imam al-Kazim (a.s.), Sulaiman ibn Mansur paman dari Harun, turut serta dalam pemakamannya dengan kaki telanjang dalam rangka memadamkan murka kaum Syi’ah yang telah membentuk sebuah majelis yang mengesankan.[111] Juga, ketika Imam al-Jawad (a.s.) mencapai syahadah dan mereka hendak menguburkannya secara diam-diam, kaum Syi’ah diberitahu tentangnya. Dipersenjatai dengan pedang dua belas ribu orang keluar dan memakamkan Imam (a.s.) dengan hormat dan kemuliaan.[112] Selama kesyahidan Imam al-Hadi (a.s.) ada juga sejumlah besar Syi’ah dan meluasnya tangisan dan ratapan sehingga Abasiyyah terpaksa menguburkannya di dalam area rumahnya.[113] Setelah periode Imam ar-Ridha, para khalifah Abbasiyyah begitu hati-hati dan penuh hormat memperlakukan para Imam maksumun (a.s.) agar tidak menghadapi kemurkaan kaum Syi’ah. Karenanya, selama pemerintahan Harun, Imam ar-Ridha menikmati kebebasan dan beliau mampu menghadiri berbagai aktifitas keilmuan dan budaya kaum Syi’ah, bahkan mendeklarasikan secara terang-terangan Imamahnya dan menghentikan praktek taqiyyah, untuk mendiskusikan dan berbincang dengan para pengikut mazhab-mazhab dan agama lainnya, serta meyakinkan beberapa di antara mereka. Sebagaimana Asy’ari al-Qummi meriwayatkan: “Selama masa Imam al-Kazim dan Imam ar-Ridha (a.s.) sejumlah agamawan Sunni dan Zaidi memeluk Syi’ahisme dan mengakui Imamah kedua Imam ini.”[114]

Beberapa khalifah Abbasiyyah telah berusaha memonitor para Imam suci (a.s.) dengan tujuan mengontrol mereka. Ketika para Imam (a.s.) diminta untuk pindah ke Medinah, para khalifah berusaha sebaik-baiknya untuk tidak mengizinkan para Imam (a.s.) pergi melewati daerah-daerah berpenduduk Syi’ah. Berkenaan dengan ini, menurut perintah al-Makmun mereka membawa Imam ar-Ridha (a.s.) ke Marv melalui rute Basrah-Ahwaz-Fars dan tidak melewati rute Kufah-Jabal-Qum yang berpenduduk Syi’ah.[115] Sebagaimana diriwayatkan Ya’qubi, ketika Imam al-Hadi (a.s.) dibawa ke Samarra atas perintah khalifah Abbasiyyah Mutawakkil, bani Abbas yang menyertai Imam singgah dulu sebelum melewati Baghdad di malam hari agar sampai ke Samarra, karena begitu mereka sampai di dekat Baghdad, mereka memperhatikan ada sejumlah besar warga yang sedang menunggu untuk bertemu dengan Imam (a.s.).[116]

Sejak kaum Syi’ah berpencar-pencar melintasi berbagai wilayah dan tempat-tempat terpencil selama periode Abbasiyyah, para Imam suci (a.s.) mendirikan lembaga-lembaga perwakilan sebagai mandat, mengangkat para wakil dan mandat di wilayah dan kota yang berbeda-beda sebagai sarana komunikasi antara mereka dengan kaum Syi’ah.

Persoalan Syi’ah dimulai pada masa Imam ash-Shadiq (a.s.). Ketika aparat khalifah memperoleh cengkeraman lebih kuat atas para Imam suci (a.s.) yang membuat akses kaum Syi;ah ke Imam zaman mereka yang kian bermasalah, lembaga mandate dan peranan para wakil Imam kian menonjol. Ini kemudian tercatat dalam kitab Tarikh-e Asr-e Ghaybat (Sejarah Okultasi Kecil): “Yang terpenting dari semuanya adalah peningkatan dan berkembangnya lembaga penyamaran perwakilan – sebuah lembaga yang didirikan selama masa Imam ash-Shadiq (a.s.) dan setelah itu berkembang selama masa Askariyyin.”[117]

Dalam hal ini Professor Pishva’I menulis:

Kondisi-kondisi kritis para Imam Syi’ah selama periode Abbasiyyah mendorong mereka untuk mencari cara-cara baru untuk membangun dan menjalin hubungan dengan para pengikut mereka. Cara-cara baru ini tiada lain kecuali jaringan komunikasi dari perwakilan dan pengangkatan para wakil Imam dan orang-orang kepercayaannya di berbagai wilayah. Fungsi utama dari lembaga ini adalah pemungutan Khums, zakat, nazar, dan hadiah dari berbagai wilayah melalui para wakil dan mengirimkannya kepada Imam dan juga bagi Imam untuk menjawab berbagai persoalan ideologis dan hukum serta persoalan-persoalan kaum Syi’ah dan justifikasi politik mereka melalui para wakil Imam. Lembaga ini memiliki peranan penting dalam meningkatkan berbagai tujuan para Imam.[118]

Tempat-tempat dimana para Imam Maksumin (a.s.) memiliki wakil-wakil dan mandat adalah Kufah, Basrah, Baghdad, Qum, Wasit, Ahwaz, Hamedan, Sistan, Bast, Rey, Hijaz, Yaman, Mesir, dan Mada’in.[119]

Syi’ahisme selama abad ke-4 H berkembang dari timur hingga barat dunia Muslim dan berada di puncak perkembangan dan pertumbuhan besar-besaran yang tidak pernah dialami sebelumnya. Menyangkut fakta ini, Muqaddasi memberikan daftar kota-kota berpenduduk Syi’ah di daratan Muslim selama abad itu. Maka, kita akan mengutip fakta ini dari kitabnya. Di salah satu halaman dalam kitabnya, dia mengatakan bahwa banyak di antara para hakim di Yaman, pesisir Mekkah dan Sahar adalah Mu’tazilah dan Syi’ah.[120]

Oleh karenanya, Syi’ahisme sedmikian pesat berkembang di Jazirah Arab.[121] Mengenai penduduk Basrah, dapat dikatakan bahwa “Kebanyakan pendudukan Basrah adalah (penganut) Qadiri, Syi’ah, Mu’tazilah, dan Hanbali.”[122] Selama abad itu, orang-orang Kufah, dengan kekecualian Kinasah, telah menjadi Syi’ah.[123] Ada juga beberapa Syi’ah di distrik Musul.[124] Orng-orang Nablus, Quds, dan sebagian besar Oman, adalah Syi’ah.[125] Orang-orang pedesaan bagian atas Fustat dan Sandra adalah Syi’ah.[126] Di wilayah sepanjang sungai Indus dan warga kota Multan adalah Syi’ah, dan fakta ini terbukti dari azan dan iqamah mereka.[127] Di Ahwaz konflik antara Sunni dan Syi’ah selalu mengarah kepada peperangan.[128]

Merujuk kepada kekuasaan Buyid dan Fatimiyah di Mesir, Maqrizi menulis:

Mazhab Syi’ah Rafidi berkembang di Maroko, Syam, Diyar Bakr, Kufah, Basrah, Baghdad, seluruh Iraq, Khurasan, Transoxian,[129] dan juga Hijaz, Yaman dan Bahrain, dan di sana terjadi konflik di antara mereka (Syi’ah) dan Sunni sebagai akibat dari tak terhitungnya orang-orang yang terbunuh.[130]

Selama abad itu, ada sejumlah besar Syi’ah bahkan di Baghdad, ibukota kekhalifahan Abbasiyyah hingga wilayah tertentu sehingga mereka dapat menyelengarakan seremoni duka pada hari asy-Syura. Sebagaimana Ibn Katsir katakan: Kaum Sunni tidak memiliki keberanian untuk menghentikan seremoni ini karena banyaknya jumlah penganut Syi’ah dan dukungan dari Pemerintahan Buyid kepada mereka.”[131]

Selama waktu itu, landasan bagi perjuangan kaum Syi’ah terbentang luas karena banyak wilayah-wilayah Muslim berada di bawah para penguasa Syi’ah. Di utara Iran, Gilan dan Mazandaran, kaum Alawi Tabaristan berkuasa. Di Mesir ada Fatimiyyah, di Yaman ada Zaidiyyah, dan di utara Iraq serta Suriah ada Hamadaniyyah, dan di Iran dan Irak Buyid sedang dalam kendali kekuasaan. Tentu saja, selama periode beberapa khalifah Abbasiyyah seperti al-Mahdi, al-Amin, al-Makmun, al-Muktasim, al-Watiq, dan al-Muntasir, gerakan kaum Syi’ah agak bebas. Setidaknya, selama masa para khalifah ini tekanan-tekanan pada masa sebelumnya berkurang. Sebagaimana diriwayatkan Ya’qubi, Khalifah Abbasiyyah al-Mahdi telah membebaskan Syi’ah dan Thalibiyyin (keturunan Abi Thalib).[132] Pemerintahan al-Amin secara tidak sadar mengurangi penindasan dan permusuhannya terhadap kaum Syi’ah selama periode lima tahun lamanya, kebanyakan karena al-Amin lebih suka bersenang-senang dan bertikai dengan saudaranya, al-Makmun. Khalifah-khalifah Abbasiyyah; al-Makmun, al-Muktasim, al-Watiq, dan al-Muktadad lebih condong ke Syi’ah, namun al-Mutawakkil adalah salah seorang musuh alot keturunan Nabi (saw) dan Syi’ah mereka. Meskipun kaum Syi’ah berada di luar pengawasannya selama pemerintahannya, namun ia melarang mengunjungi makam Imam Husain (a.s.).[133]

Ibn Atsir berkata:

Mutawakkil menganggap para khalifah terdahulu sebagai musuh-musuhnya, seperti al-Makmun, al-Muktasim dan al-Watiq yang mengungkapkan kecintaannya kepada Ali dan keturunannya. Orang-orang seperti Ali ibn Juhm (seorang penair dari Syam), Umar ibn Faraj, Abu Samj – salah seorang keturunan Marwan ibn Abi Hafsah dan para simpatisan bani Umayyah – dan Abdullah ibn Muhammad ibn Dawud Hasyimi yang dianggap sebagai Nasibi serta musuh Ali (a.s.), adalah para sahabat karib dan sejawatnya.[134]

Selama periode Nasibi, para penyair non-reliji telah berani membacakan puisi-puisi yang menentang para keturunan Nabi (saw) agar mereka bisa lebih dekat dengan lingkungan al-Mutawakkil. Tetapi pengganti Mutawakkil, al-Muntasir, mengambil kebijakan berlawanan dan memberi kebebasan kepada kaum Syi’ah, merenovasi makam Imam Husain (a.s.) dan menghapus larangan menziarahinya.[135] Oleh karenanya, Bahtari, seorang penyair selama periodenya kemudian berkata:

Sesungguhnya, Ali dibandingkan Umar lebih dekat kepadamu dan dia lebih suci.[136]

Pengawasan Abbasiyyah Atas Para Pemimpin Syi’ah

Sampai 329 H, kekuasaan Abbasiyyah pada umumnya mengalami dua periode: kekuasaan para wazir dan pejabat Iran, dan banyaknya tentara (berkebangsaan) Turki. Meskipun selama periode aparat-aparat khalifah yang Turkis adalah lemah dan kebanyakan masa para khalifah Abbasiyyah menjadi alat di tangan para panglima Turki, maka kebijakan umum pemerintahan adalah anti Syi’ah. Menimbang meningkatnya secara besar-besaran penganut Syi’ah selama periode Abbasiyyah, kebijakan para khalifah Abbasiyyah memperketat pengawasan mereka terhadap para pemimpin Syi’ah. Beberapa dari mereka, seperti al-Mansur, al-Hadi, ar-Rasyid, dan al-Mutawakkil adalah penguasa lalim, kejam dan haus darah. Yang lainnya, seperti al-Mahdi, al-Makmun, dan al-Watiq tidak mengikuti para pendahulu mereka, dan selama pemerintahan mereka kaum Syi’ah agak bernafas lega. Ketika khalifah al-Mansur merasakan marabahaya yang dilancarkan oleh Muhammad Nafs al-Zakiyyah dan saudaranya Ibrahim, ia menahan dan memenjarakan ayahnya, saudara-saudaranya, dan paman-pamannya.[137] Al-Mansur memanggil Imam ash-Shadiq (a.s.) ke pengadilan berulangkali dengan maksud membunuh Imam (a.s.) namun kehendak Allah berjalan lain.[138] Para khalifah Abbasiyyah sebaik mungkin untuk menyingkirkan para pemimpin Syi’ah yang merupakan saingan mereka, bahkan al-Mansur memberikan uang dan mengutus Ibn al-Muhajir ke Medinah untuk menemui Abdullah ibn al-Hasan, Imam ash-Shadiq (a.s.) dan sejumlah Alawi lainnya, dan mengatakan kepada mereka bahwa sejumlah uang datang dari kaum Syi’ah Khurasan, ini kiriman dan terimalah. Imam ash-Shadiq (a.s.) mengingatkannya bahwa Imam mengetahui dia diutus oleh al-Mansur dan meminta kepadanya agar mengembalikannya kepada al-Mansur: “Kaum Alawi baru saja mengalami kekuasaan Marwani dan mereka kesusahan. Jangan perdaya dan tipu mereka.”[139]

Asad Haydar berkata: “Dalam mengambil dalih untuk melenyapkan Imam ash-Shadiq (a.s.), al-Mansur terpaksa mengambil jalan dengan segala cara; ia menulis surat kepada Imam dengan menggunakan nama-nama Syi’ah yang belakangan dan mengirimi barang-barang kepada Imam dengan nama Syi’ahnya. Namun Mansur tidak berhasil dengan segala cara ini.”[140]

Ketika al-Mansur mendengar kesyahidan Imam ash-Shadiq (a.s.), ia menulis surat untuk gubernur Medinah, Muhammad ibn Sulaiman: “Dalam perkara Ja’far ibn Muhammad, tunjuklah seseorang pelaksana dari kehendaknya, tangkap dia dan penggal kepalanya.” Dalam menjawab surat al-Mansur, gubernur Medinah kemudian menulis: “Ja’far ibn Muhammad telah menunjuk lima orang sebagai pelaksana kehendaknya: Abu Ja’far Mansur, Muhammad ibn Sulaiman, Abdullah, Musa, dan Hamidah.” Kemudian Mansur berkata: “Mereka tidak bisa dibunuh.”[141]

Khalifah al-Mahdi tidak seperti ayahnya yang tidak kenal ampun terhadap kaum Alawi dan Syi’ah. Ya’qubi menulis: “Segera setelah al-Mahdi menduduki kursi kekhalifahan, ia memerintahkan untuk membebaskan kaum Alawi yang dipenjarakan.”[142]

Karenanya, tidak pernah terjadi kebangkitan kaum Alawi selama pemerintahannya. Abul Faraj Isfahani menyebutkan hanya dua orang yang mati selama periode al-Mahdi. Salah seorang darinya adalah Ali ibn al-Abbas, sedang yang lainnya adalah Isa ibn az-Zaid yang selalu sembunyi-sembunyi dan hidup dalam persembunyian selama masa al-Mansur.[143]

Selama pemerintahan al-Hadi, terkanan kuat ditimpakan terhadap tokoh-tokoh Alawi dan Syi’ah. Sebagaimana Ya’qubi menulis:

Hadi gigih dalam memperlakukan Syi’ah dan Thalibi secara keji, menteror mereka secara ekstrim. Ia membatasi hak yang diberikan Mahdi kepada mereka dan menulis surat kepada gubernur-gubernur dan para penguasa berbagai wilayah dan kota untuk mengejar dan menangkap kaum Thalibi.[144]

Dalam memprotes perbuatan salah para khalifah, Husain ibn Ali, yang adalah keturunan al-Husain (Syahid Fakh), melancarkan perlawanan. Dalam perang ini sebagian besar pasukan Husain yang terdiri dari kaum Alawi mati terbunuh.[145] Peperangan ini menimbulkan tekanan kuat terhadap Imam al-Kazim (a.s.). Khalifah al-Hadi mengancam Imam dan berkata: “Demi Allah! Husain (Syahid Fakh) melancarkan perlawanan terhadapku atas perintah Musa ibn Ja’far dan dia mematuhinya. Ini karena tiada seorang pun yang bisa menjadi Imam dan pemimpin keluarga ini kecuali Musa ibn Ja’far. Semoga Allah membunuhku jika aku membiarkannya hidup.”[146]

Namun khlifah gagal melaksanakan ancamannya dikarenakan ajal telah terlebih dahulu menjemputnya. Selama abad kedua hijriah, Harun ar-Rasyid dipandang sebagai khalifah paling kejam terhadap kaum Alawi dan para pemimpin Syi’ah setelah al-Mansur. Harun lalim sehubungan dengan kaum Alawi dan memperlakukan mereka dengan keji. Tanpa kenal ampun dia membunuh Yahya ibn Abdullah, saudara dari Muhammad Nafs az-Zakiyyah, di dalam penjara setelah memberinya pengampunan. Demikian juga, ada sebuah cerita tercatat dalam Uyun Akhbar ar-Rida yang menggambarkan kekejian Harun ar-Rasyid. Hamid ibn Quhtabah at-Ta’at at-Tusi meriwayatkan:

Suatu malam Harun memanggilku dan memerintahkanku: “Ambillah pedang ini dan jalankan perintah budak ini.” Budak itu membawaku ke depan pintu sebuah rumah yang tertutup. Dia membuka pintu. Ada tiga kamar dan sebuah sumur di rumah itu. Dia membuka kamar pertama dan meminta kepada dua puluh orang sayyid (keturunan Nabi) yang berambut panjang dan bergelombang untuk keluar. Muda dan tua dapat terlihat di antara mereka. Dia mengikat kelompok ini dengan rantai dan belenggu. Budak Harun itu pun berkata kepadaku: “Perintah Amirul Mukminin (Harun) untukmu adalah membunuh mereka.” Mereka dari keturunan Ali (a.s.) dan Fatimah (a.s.). Aku membunuh mereka satu per satu dan budak itu menjebloskan mayat mereka berikut kepalanya ke dalam sumur. Kemudian aku membuka pintu kamar kedua. Di kamar itu ada dua puluh orang lagi dari keturunan Ali dan Fatimah. Aku perlakukan mereka sebagaimana terhadap dua puluh orang sebelumnya. Setelah itu, sang budak membuka pintu kamar ketiga yang di dalamnya terdapat dua puluh orang sayyid lagi. Mereka juga menemui nasib seperti keempatpuluh orang sebelumnya melalui tanganku. Tinggallah seorang tua yang menatap padaku dan berkata: “Wahai penjahat! Semoga Allah meniadakanmu! Pada Hari Pengadilan, alasan apa yang engkau miliki di hadapan leluhurku Rasul Allah (saw). Pada saat itu tanganku gemetar. Sang budak menatapku dengan marah dan mengancamku. Aku pun membunuh lelaki tua itu dan budak itu menjatuhkan mayatnya ke dalam sumur.[147]

Akhirnya, meskipun mengakui kedudukan Imam, Harun ar-Rasyid tetap menangkap dan memenjarakan Imam al-Kazim (a.s.) dan pada akhirnya syahid melalui racun.[148]

Setelah kesyahidan Imam al-Kazim (a.s.), Harun ar-Rasyid mengutus panglimanya yang bernama Juludi ke Medinah untuk menjarah rumah-rumah para keturunan Abu Thalib, melucuti pakaian wanitanya dan hanya meninggalkan satu pakaian saja bagi setiap wanita. Imam ar-Ridha (a.s.) berdiri di depan pintu dan memerintahkan wanita-wanita itu untuk mengambil pakaian mereka.[149]

Makmun menjadi khalifah yang paling cerdas di antara para khalifah Abbasiyyah dengan merencanakan metode baru dalam mengawasi para pemimpin dan Imam Syi’ah serta memonitor para Imam maksumin (a.s.). Tepatnya salah satu tujuan utama al-Makmun adalah mengangkat Imam ar-Ridha sebagai putera mahkotanya. Dengan cara serupa, Makmun mengambil kebijakan ini dalam bentuk berbeda ketika berurusan dengan Imam al-Jawad (a.s.). Dia memberikan puterinya untuk dinikahi Imam sehingga dia dapat memonitor berbagai aktifitas Imam di Medinah. Para khalifah setelah Makmun mengambil metode serupa dan memaksa para Imam maksumin (a.s.) untuk tinggal di ibukota kekhalifahan. Bahkan Imam kesepuluh dan kesebelas (a.s.) menjadi terkenal sebagai ‘Askariyyin’, karena tinggal di Samarra yang merupakan kota militer.

Pelajaran Ketiga Belas: Ringkasan

Syi’ahisme berkembang lebih cepat selama periode Abbasiyyah ketibang selama periode Umayyah. Selama periode itu, kaum Syi’ah di timur dan barat wilayah Muslim yang luas. Selama masa itu, telah menemukan jalan di antara para negarawan, hakim dan panglima militer. Bahkan di Baghdad yang merupakan ibu kota kekhalifahan Abbasiyyah dan pengaruhnya, Syi’ah, atas dasar jumlah mereka yang banyak, menjadi ancaman yang serius bagi Abbasiyyah.

Untuk alasan ini para khalifah berusaha sebaik mungkin untuk memonitor dan mengawasi para Imam Syi’ah. Karenaya, dari masa Imam ar-Ridha (a.s.) mereka memaksa para Imam suci (a.s.) untuk tinggal di ibukota kekhalifahan.

Dikarenakan berpencarnya kaum Syi’ah di berbagai negeri selama periode ini, para Imam suci (as.) menggunakan lembaga perwakilan (wikalah).

Akhirnya, Syi’ahisme mencapai puncak pertumbuhan dan perkembangannya selama abad keempat. Selama periode ini ketika pemerintahan Zaidi dan Isma’ili, Buyid dan Hamdani berkuasa.

Tentu saja, para khalifah Abbasiyyah berbeda antara satu dengan yang lainnya dalah hal perlakukan mereka terhadap kaum Syi’ah. Al-Mansur, Harun dan al-Mutawakkil berada di antara para khalifah yang paling kejam perlakuannya terhadap Syi’ah.

Pelajaran Ketiga Belas: Pertanyaan

  1. Bagaimana perkembangan Syi’ahisme selama periode Abbasiyyah? Dan peran apa yang dimainkan oleh lembaga perwakilan (wikalah)?
  2. Gambarkan secara singkat Syi’ahisme selama abad keempat.
  3. Apakah para khalifah Abbasiyyah berbeda antara satu dengan yang lain dalam hal perlakuannya terhadap Syi’ah?
  4. Apa kebijakan para khalifah Abbasiyyah dalam mengawasi kaum Syi’ah?

Pelajaran Keempat Belas

Alasan Di Balik Berkembangnya Syi’ah

Selama Periode Kekhalifahan Abbasiyyah

Syi’ahisme mengalami perluasan yang pesat selama periode kekhalifahan Abbasiyyah. Fakta ini memiliki beberapa alasan dan faktor, beberapa darinya sebagai berikut:

1.Kaum Hasyimi dan Alawi Selama Periode Kekhalifahan Umayyah

Selama periode Umayyah, kaum Hasyimi – termasuk Abbasiyyah dan Alawi – bersatu, dan dari masa Hasyimi ketika berbagai kampanye Abbasiyyah dimulai dan berkoordinasi dengan kebangkitan Zaid dan puteranya, Yahya, mereka memulai tugas-tugas mereka berdasarkan pada Syi’ahisme. Sebagaimana Abul Faraj al-Isfahani katakan:

Ketika Walid ibn Yazid, khalifah Umayyah, terbunuh, dan ada ketidaksepakatan antara bani Marwani, para propagandis Hasyimi dan jurkam mereka pergi ke distrik-distrik (wilayah pedesaan) dan hal pertama yang mereka ungkapkan adalah keutamaan Ali ibn abi Thalib dan keturunannya dan juga ketertindasan mereka.

Khalifah Abbasiyyah al-Mansur merupakan salah seorang perawi pertama hadits al-Ghadir.[150] Karenanya, ketika beberapa pasukan Abbasiyyah melihat bahwa kebijakan Abbasiyyah berpaling menentang Alawi, mereka tidak menerimanya dan menentang Abbasiyyah. Misalnya, Abu Salma Khalal, yang merupakan jurkam terkemuka Abbasiyyah di Irak,[151] dibunuh oleh Abbasiyyah atas dasar kecondongannya ke kaum Alawi.[152] Meskipun orang ini bukan Syi’ah secara ideologis, kecondongannya ke keluarga Nabi (saw) tidak dapat diingkari terutama karena beliau berasal dari suku Hamdan dan warga Kufah.[153]

Di antara suku Qahtani, suku Hamdan yang menonjol dalam artian kecondongan mereka kepada Syi’ahisme. Karenanya, Sayyid Muhsin Amin telah menganggapnya (Abu Salmah) sebagai salah seorang wazir Syi’ah.[154] Bahkan Abbasiyyah sendiri pada awalnya tidak urung dari mengungkapkan kecintaan mereka kepada keturunan Nabi (saw):

Ketika kepala Marwan ibn Muhammad, khlifah terkhir Umayyah, dibawa ke hadapan Abul Abbas as-Safah, ia melakukan sujud lama. Lalu ia bangkit dan berkata: “Segala puji bagi Allah yang membuat kami menang atasmu. Sekarang, aku tidak merasa khawatir apabila aku mati demi al-Husain, saudara-saudaranya dan sahabat-sahabatnya. Aku membunuh dua ratus kaum Umayyah. Demi sepupuku, Zaid ibn Ali, aku membakar tulang belulang Hasyim. Demi saudaraku, Ibrahim, aku membunuh Marwan.[155]

Setelah stabil kekuasaan Abbasiyyah, di satu sisi terjadi perselisihan di antara mereka, dan keturunan Nabi (a.s.) serta Syi’ah mereka di sisi lain. Dari masa khalifah Abbasiyyah al-Mansur, Abbasiyyah mengambil sikap dan kebijakan Umayyah terhadap keturunan Nabi (a.s.). Sebenarnya, mereka melampaui Umayyah dalam permusuhan mereka terhadap keturunan Nabi (a.s.).

2.Akhir Dari Kekhalifahan Umayyah dan Suksesi Kekuasaan Abbasiyyah

Akhir periode Umayyah, naiknya kekuasaan Abbasiyyah, dan berbagai pertikaian serta konflik di antara mereka merupakan kesempatan baik bagi Imam Baqir dan Imam ash-Shadiq (a.s.) untuk mempropagandakan ajaran-ajaran Syi’ahisme seluas-luasnya. Ini terutama benar dalam perkara Imam Shadiq (a.s.) yang mendidik murid-muridnya di berbagai bidang dan ilmu yang berbeda-beda. Banyak ulama terkemuka seperti Hasyim ibn al-Hakam, Muhammad ibn Muslim, Abdan ibn Taghlib, Hisyam ibn Salim, Mukmin Taq, Mufaddal ibn Umar, Jabir ibn Hayyan, dan yang lainnya, dididik oleh Imam (a.s.). Menurut Syeikh Mufid, sahabat-sahabat mereka semua totalnya berjumlah kira-kira empat ribu orang. Mereka datang kepada Imam ash-Shadiq (a.s.) dari berbagai belahan wilayah Muslim, membawa rahmat dan menghapus berbagai keraguan dan kesangsian. Murid-murid Imam terpencar-pencar melintasi berbagai kota dan wilayah dan sewajarnya mereka memainkan peranan penting dalam perkembangan Syi’ahisme ke beragam wilayah yang mereka capai.

3.Migrasi Kaum Alawi

Salah satu faktor terpenting yang terlibat dalam perkembangan Syi’ahisme selama periode Abbasiyyah adalah migrasi kaum saddat dan Alawi melintasi berbagai bagian wilayah Muslim. Kebanyakan di antara mereka tidak beriman melainkan kepada Syia’hisme. Meskipun di antara mereka memliki kecondongan kepada Zaidiyyah sedemikian rupa sehingga, menurut beberapa sumber, bahkan di antara kaum saddat adalah Nasibi,[156] dapat dinyatakan juga kebanyakan secara keseluruhan mayoritas mereka adalah Syi’ah, berbagai penderitaan mereka di tangan pemerintah-pemerintahan anti-Syi’ah secara jelas memperkuat anggapan ini.

Kaum saddat berpencar di berbagai wilayah Muslim, mulai dari Tanssoxiana dan India sampai Afrika. Meskipun migrasi ini telah dimulai dari masa Hajjaj (ibn Yusuf), mereka diperlancar selama periode Abbasiyyah yang disertai dengan berbagai kebangkitan kaum Alawi yang berakhir dengan kegagalan-kegagalan. Utara Iran dan wilayah-wilayah yang sulit dicapai seperti Gilan dan Mazandarani dan juga daerah-daerah pegunungan dan yang sukar dijangkau seperti Khurasan dianggap sebagai tempat-tempat yang aman bagi kaum Alawi. Untuk pertama kalinya selama masa Harun ar-Rasyid , Yahya ibn Abdullah al-Hasani pergi ke Mazandarani yang kemudian dinamakan Tabaristan. Kendati mereka memegang kekuasaan dan berjalan dengan baik dalam pekerjaannya, melalui wazirnya Fadl ibn Yahya yang membawa sepucuk surat, Harun mampu meyakinkannya untuk mengakhiri perjanjian damai.[157] Banyak kaum Alawi yang menetap di sana sepeninggalnya dan Syi’ahisme berkembang di sana hari demi hari. Orang-orang memeluk Islam melalui kaum Alawi sedemikian rupa sehingga selama paruh kedua abad ketiga H, kaum Alawi berkuasa di Tabaristan yang didirikan oleh Hasan ibn Zaid al-Alawi. Pada saat itu, Tabaristan dianggap sebagai tempat yang kondusif bagi kaum saddat sebagaimana dikatakan Ibn Asfandiyar:

…Pada saat itu, begitu banyak kaum Alawi dan saddat Hasyimiyyah, penduduk daerah-daerah perbatasan Syam, Iraq, pergi mengunjungi beliau. Sesungguhnya beliau memiliki begitu banyak otoritas di sana sehingga setiapkali beliau hendak bepergian, tiga ratus kaum Alawi yang dipersenjatai pedang akan mengiringi beliau.[158]

Ketika Imam ar-Ridha (a.s.) ditunjuk oleh Makmun sebagai putera mahkotanya, saudara-saudaranya serta para kerabat Imam pergi ke Iran. Sebagaimana Mar’asyi menulis:

Dikarenakan desas-desus pewarisan yang disebarkan oleh al-Makmun mengenai Imam (a.s.), banyak kaum saddat datang ke sini (Iran) dan Imam memiliki dua puluh satu saudara. Kelompok saudara Imam ini dan putera-putera (mereka) terdiri dari saddat Hasani dan Husaini tiba di pedesaan Rey (Tehran lama) dan Iraq.

Dan sebagaimana yang mereka dengar dari penghianatan Makmun terhadap Hazrat Ridha, mereka pun mencari tempat berlindung di pegunungan Daylamistan dan Tabaristan. Beberapa di antara mereka mati syahid dan kuburan serta makam mereka terkenal dan sejak penduduk Mazandaran langsung Syi’ah ketika mereka memeluk Islam serta percaya kepada keutamaan keturunan Nabi (saw), kaum saddat memperoleh kehormatan yang tinggi di sana.[159]

Setelah gagalnya kebangkitan Syahid Fakh, Husain ibn Ali al-Hasani selama masa kekhalifahan Abbasiyyah al-Hadi, Idris ibn Abdullah, saudara dari Muhammad Nafs az-Zakiyyah, pergi ke Afrika. Orang berbondong-bondong mengelilinginya dan mengangkatnya ke tampuk kekuasaan Idrisi di Maghrib. Meskipun segera setelah itu dia diracuni oleh agen-agen Abbasiyyah, putera-puteranya berkuasa di sana selama satu periode, sekitar satu abad.[160] Karenanya, kaum saddat akrab dengan sebutan penyelesaian. Atas dasar ini khalifah Abbasiyyah, Mutawakkil, menulis sepucuk surat kepada gubernur Mesir guna meminta dia untuk mengusir kaum saddat Alawi dengan bayaran 30 dinar untuk setiap pria dan 15 dinar untuk setiap wanita. Mereka dipindahkan ke Irak dan dari sana mereka pun dikirim ke Medinah.[161] Muntarsir juga menulis surat berikut kepada gubernur Mesir: “Tidak ada Alawi yang dapat memiliki kekayaan; dia tidak dapat mengendarai kuda; dia tidak dapat berpindah dari ibukota; dan dia tidak dapat memiliki lebih daripada satu pelayan.”[162]

Alawi dapat dengan mudah menduduki kedudukan terkemuka di antara manusia hingga batas tertentu sehingga mereka dapat menghirup udara kemuliaan dalam menentang otoritas yang sedang berkuasa. Sebagaimana Mas’udi meriwayatkan, “Sekitar 270 H, salah seorang Thalibi bernama Ahmad ibn Abdullah melancarkan pergolakan di wilayah Sa’id di Mesir. Namun pada akhirnya dia dikalahkan dan dibunuh oleh Ahmad ibn Tulun.”[163]

Dengan cara demikian, kaum Alawi merupakan tantangan paling penting bagi kekhalifahan Abbasiyyah. Pada 284 H khalifah Abbasiyyah al-Mu’tadad memutuskan untuk mengeluarkan fatwa agar Muawiyyah dilaknat di mimbar-mimbar. Dalam hal ini, dia menulis sebuah perintah namun wazirnya memperingatkannya akan adanya huru-hara. Mu’tadad berkata: “Aku akan mengacungkan pedangku di tengah mereka.” Wazirnya menjawab:

Maka, apa yang akan kita lakukan dengan Thalibi yang hadir di mana-mana, dan kepadanya orang-orang bersimpati karena kecintaan mereke kepada keturunan Nabi (saw)? Perintahmu ini akan memuji dan menerima mereka, dan bila orang-orang mendengarnya, mereka akan semakin bersimpati kepada mereka (kaum Thalibi).[164]

Kaum Alawi dihormati oleh penduduk di setiap wilayah yang mereka huni. Atas dasar ini bahwa setelah kematian mereka, penduduk pun akan membangun kuburan dan makam yang indah dikarena mereka selalu dekat dengannya (kaum Alawi) selama masa hidup mereka. Ketika Muhammad ibn Qasim al-Alawi pergi ke Khurasan selama kekhalifahan Mu’tasim, sekitar sekitar empat ribu orang berkumpul mengelilingi beliau setelah hanya satu periode singkat dan memondokkannya di dlaam sebuah benteng yang hebat.[165]

Di satu sisi, kaum Alawi pada umumnya orang-orang yang baik dan shaleh, sedang pihak perampas, para penguasa Umayyah dan Abbasiyyah sudah menjadi rahasia umum. Di lain pihak, penindasan yang dialami kaum Alawi membuat mereka menduduki tempat khusus di hati umat. Sebagaimana Mas’udi meriwayatkan, “Selama tahun ketika Yahya ibn Zaid syahid, setiap bayi yang lahir di Khurasan diberi nama Yahya atau Zaid.”[166]

Alasan Di Balik Emigrasi Kaum Saddat (Sayyid-sayyid)

Tiga faktor yang dapat diidentifikasi berkaitan dengan migrasi dan berpencarnya kaum saddat di berbagai bagian wilayah Muslim; (a) kalahnya kebangkitan kaum Alawi; (b) tekanan yang ditimpakan oleh agen-agen pemerintah; dan (c) keberadaan peluang yang baik untuk berhijrah.

(a)-Kalahnya Kebangkitan Alawi

Sebagai akibat dari kalahnya berbagai kebangkitan yang dilancarkan kaum Alawi, mereka tidak dapat bermukim di Iraq dan Hijaz yang merupakan jalan masuk menuju ibukota kekhalifahan, dan mereka terpaksa pergi ke tempat-tempat terpencil dan setelah itu menyelamatkan diri mereka. Sebagaimana Mas’udi katakana mengenai berpencar-pencarnya saudara-saudara Muhammad Nafs Zakiyyah,

Saudara-saudara dan anak-anak Muhammad Nafs az-Zakiyyah berkembang melintasi -beda negeri dan menyerukan umat untuk menerima kepemimpinan mereka. Puteranya, Ali ibn Muhammad, pergi ke Mesir dimana dia dibunuh (di sana). Puteranya yang lain, Abdullah pergi ke Khurasan dimana dia dipenjarakan dan setelah itu mati di penjara. Putera ketiganya, Hasan, pergi ke Yaman dimana dia dihalang-halangi dan mati di sana. Saudaranya, Musa, pergi ke Mesopotamia. Saudaranya, Yahya, pergi ke Rey dan setelah itu ke Tabaristan. Saudaranya yang lain, Idris, pergi ke Maghrib dan penduduk berkumpul di belakangnya…[167]

(b)-Tekanan Yang Ditimpakan Oleh Agen-agen Pemerintah

Di wilayah Hijaz dan Iraq yang dekat dengan ibukota, kaum Alawi terus-menerus berada di bawah tekanan yang ditimpakan oleh agen-agen pemerintah. Sebagaimana diriwayatkan oleh Mas’udi, perjalanan Muhammad ibn Qasim al-Alawi dari Kufah ke Khurasan menghadapi tekanan yang dilakukan oleh agen-agen khalifah Abbasiyyah Muktasim.[168]

(c)-Adanya Keadaan Yang Menguntungkan

Faktor lainnya atas hijrahnya kaum Alawi adalah adanya peluang yang menyenangkan dan sikap sosial mereka yang baik di wilayah-wilayah seperti Qum dan Tabaristan.

Pelajaran Keempat Belas: Ringkasan

Alasan dan faktor-faktor di balik berkembangnya Syi’ahisme selama periode Abbasiyyah adalah sebagai berikut:

1. Bani Hasyimi – meliputi Abbasiyyah dan Alawi – bersatu hingga al-Mansur dan hal pertama yang diungkapkan oleh para jurkam Abbasiyyah adalah keutamaan Ali (a.s.).

2. Selama masa konfrontasi berdarah antara Bani Umayyah dan Bani Abbasiyyah, merupakan kesempatan yang baik bagi Imam al-Baqir dan Imam ash-Shadiq (a.s.) untuk melancarkan berbagai aktifitasnya dalam mempropagandakan asas-asas Syi’ahisme.

3. Faktor penting lainnya bagi berkembangnya Syi’ahisme adalah migrasinya kaum saddat dan Alawi dan berpencar-pencarnya mereka ke berbagai wilayah Muslim yang berbeda-beda. Kaum saddat berkembang di sebagian besar wilayah Muslim mulai dari Transoxiana dan India sampai Afrika.

Penduduk Tabaristan adalah di antara orang-orang yang memeluk Islam melalui kaum saddat Husaini dan otomatis langsung menjadi Syi’ah.

Pelajaran Keempat Belas: Pertanyaan

  1. Sejumlah faktor yang meningkatkan jumlah kaum Syi’ah selama periode Abbasiyyah.
  2. Apa pengaruh migrasinya kaum Alawi atas berkembangnya Syi’ahisme?
  3. Apa alasan di balik migrasinya kaum Alawi?

[1] Misalnya, ketika Abu Bakar semula menunjuk Khalid ibn Sa’id sebagai panglima di Perang Syam, Umar berkata padanya: “Apakah engkau telah melupakan penolakan Khalid untuk berbaiat kepadamu dan solidaritasnya dengan Bani Hasyim? Aku tidak berpikir bahwa pantas baginya untuk dijadikan sebagai panglima.” Karenanya, Abu Bakar menarik kembali keputusannya dalam mengangkat Khalid sebagai panglima dan menunjuk orang lain sebagai gantinya. Ahmad ibn Abi Ya’qub ibn Wadih, Tarikh al-Ya’qubi, edisi pertama (Qum: Mansyurat asy-Syarif ar-Radi, 1414 H), jld.2, hlm.133.

[2] Misalnya, kita dapat mengutip rekomendasi Ali (a.s.) kepada Abu Bakar mengenai pengiriman pasukan ke Syam (Ibn Wadih, Tarikh al-Ya’qubi, jld.2, hlm.133) dan perintahnya kepada Umar ketika beliau dikonsultasikan oleh sang khalifah mengenai rencana bagi dirinya untuk pergi berperang melawan Romawi Timur. Imam (a.s.) berkata: “Ketika engkau maju melawan musuh dan bertempur dengan mereka dan mendapatkan kesulitan, tiada tempat berlindung bagi kaum Muslimin selain kota-kota terpencil, tiada juga tempat bagi mereka akan kembali. Oleh karena itu, engkau harus mengirim orang yang berpengalaman dan mengutus bersamanya orang-orang berprestasi baik yang memiliki niat yang baik pula. Jika Allah memberikan engkau kemenangan, maka inilah apa yang engkau inginkan. Jika sebaliknya, engkau akan memberikan dukungan bagi orang-orang dan tempat kembali bagi kaum Muslimin.” (Nahjul Balaghah, Khotbah 134). Juga, ketika Umar berkonsultasi kepada Imam (a.s.) mengenai khalifahnya sendiri yang ikut serta dalam Perang Persia, beliau (a.s.) berkata: “Engkau harus tetap seperti poros bagi mereka (orang-orang Arab), dan bersama (bantuan) orang-orang Arab berputar dan menjadi akar mereka. Hindari perang, karena jika engkau meninggalkan tempat ini orang-orang Arab akan menyerangmu dari segala sisi dan arah sampai tempat-tempat tak terjaga tertinggal di belakangmu akan menjadi lebih penting dibanding orang-orang yang ada di hadapanmu. Jika orang-orang Persia melihatmu besok akan berkata: “Dia adalah akar (ketua) Arabia. JIka kita menghilang bersamanya, kita akan berada dalam kedamaian.” Dengan cara ini, ini akan mempertinggi semangat mereka melawanmu dan fokus mereka mengarah kepadamu.” (Nahjul Balaghah, Khotbah 146)

[3] Ibn Wadih, Tarikh al-Ya’qubi, jld.2, hlm.151.

[4] Ali Ibn Husain ibn Ali Mas’udi, Murawij ad-Dahab (Beirut: Mansyurat Muassasah al-A’lami Lil Matbu’at, 1411 H), jld.2, hlm.323.

[5] Ibn Wadih, Tarikh al-Ya’qubi, jld.2, hlm.155.

[6] Mas’udi, Murawij ad-Dahab, jld.2, hlm.401.

[7] Ibn Wadih, Tarikh al-Ya’qubi, jld.2, hlm.156.

[8] Ibid., hlm.152.

[9] Muhammad ibn Muhammad ibn an-Nu’man Syeikh al-Mufid, Al-Jamal, edisi kedua (Qum: Maktab al-A’lami al-Islami (Publication Center), 1416 H, hlm.342.

[10] Ibn Wadih, Tarikh al-Ya’qubi, jld.2, hlm.157.

[11] Ahmad ibn Yahya ibn Jabir Balazuri, Insab al-Asyraf (Beirut: Mansyurat Muassasah al-A’lami Lil Matbu’at, 1394 H), jld.2, hlm.275.

[12] Izz ad-Din Abul Hasan Ali ibn Muhammad Abil Kiram ibn Atsir, Asadul Ghabah fi Ma’rifah as-Shahabah (Beirut: Dar Ihya at-Turath al-Arabi, n.d.), jld.4, hlm.202.

[13] Ibn Wadih, Tarikh al-Ya’qubi, jld.2, hlm.143.

[14] Abu Muhammad Abdullah ibn Muslim ibn al-Qutaybah, al-Ma’arif, edisi pertama 9Qum: Mansyurat asy-Syarif ar-Radi, 1415 H), hlm.586.

[15] Ibn Wadih, Tarikh al-Ya’qubi, jld.2, hlm.154.

[16] Syeikh al-Mufid, Al-Irsyad, terj. Muhammad Baqir Sa’idi Khurasani, edisi kedua (Tehran: Kitabfurushi-ye Islamiyyeh, 1376 H), hlm.227-228).

[17] Ibn Syahr Asyub Mazandarani, Manaqib Al Abi Thalib 9Qum: Muassasah Intisyarat-e Allameh, n.d.), jld.3, hlm.28.

[18] Ibid. hlm.6.

[19] Syeikh al-Mufid, Al-Jamal, edisi kedua (Qum: Maktab al-A’lam al-Islami (Publication Center), 1416 H), hlm.346.

[20] Ilba dan Hind al-Jamali ada di antara para pendukung dan Syi’ah Ali (a.s.).

[21] Ibn Abil Hadid, Syarah Nahjul Balaghah (Kairo: Dar Ihya al-Kutub al-Arabi, 1961), hlm.43-45.

[22] Abul Faraj Abdurrahman ibn Ali Ibn al-Jawzi, Al-Muntazim fi Tarikh al-Umam wal Muluk, edisi pertama (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 1412 H), jld.5, hlm.227.

[23] Muhammad ibn Jarir ath-Thabari, Tarikh al-Umam wal Muluk (Beirut: Dar al-Qamus al-Hadits, n.d.), jld.6, hlm.132.

[24] Ibid.

[25] Ibn Abil Hadid, Syarah Nahjul Balaghah jld.1, hlm.45.

[26] Zubair ibn Bakkar, Al-Akhbar al-Muwafiqiyyah (Qum: Mansyurat asy-Syarif ar-Radi, 1416 H), hlm.99, Ja’far Syahidi, Tarikh Tahlili-ye Islam ta Payan-e Umawi (Sebuah Analitis Sejarah Islam hingga Akhir Kekuasaan Ummayyah), (Tehran: University Press Center, 1363 H), hlm.184., Mahdi Pisva’I, Sireh-ye Fisvayan, Edisi kedelapan, Qum: Muassasah-ye Tahqiqati va Ta’limati-ye Imam Sadiq (a.s.), 1378 H), hlm.246.

[27] Ali ibn Husain ibn Ali Mas’udi, Murawwij ad-Dhahab (Beirut: Mansyurat Muassasah al-A’lami Lil Matbu’at, 1411 H), jld.3, hlm.187.

[28] Ibid.

[29] Muhammad Bagir (Allamah) Majlisi, Bihar al-Anwar, edisi kedua (Tehran: al-Maktabah al-Islamiyah, 1394 H), jld.46, hlm.275.

[30] Ibn Syahr Asyub Mazandarani, Manaqib Al Abi Thalib (Qum: Muassasah Intisyarat-e Allameh, n.d.), jld.4, hlm.33.

[31] Ali ibn Husain Abul Faraj al-Isfahani, Maqatil ath-Thalibiyyin (Qum: Mansyurat asy-Sarif ar-Radi, 1416 H), hlm.82.

[32] Nahjul Balaghah, Khotbah 167, hlm.660.

[33] Ahmad ibn Yahya ibn Jabir Balazuri, Insab al-Asraf (Beirut: Mansyurat Muassasah al-A’lami Lil Matbu’at, 1394 H), jld.3, hlm.21.

[34] Ahmad ibn Muhammad ibn Abdur Rabih al-Andalusi, Al-Aqd al-Farid (Beirut: Dar Ihya at-Turath al-Arabi, 1409 H), jld.4, hlm.366.

[35] Ali ibn Husain in Ali Mas’udi, Murawij ad-Dahab (Beirut: Mansyurat Muassasah al-A’lami Lil Matbu’at, 1411 H), jld.3, hlm.9.

[36] Ibn Syahr Asyub Mazandarani, Manaqib Al Abi Thalib, jld.3, hlm.400.

[37] Abi Ja’far Muhammad ibn al-Hasan ibn Ali (Syeikh Tusi, Ikhtiyar Ma’rifah ar-Rijal (Rijal Kasyi) (Qum: Muassasah Al al-Bait at-Turath, 1404 H), jld.1, hlm.338.

[38] Itsbat al-Wasyiyyah, edisi keempat (Najaf: al-Matba’ah al-Haydariyyah, 1373 H), hlm.167.

[39] Mas’udi, Marawij Ad-Dahab, jld.3, hlm.65.

[40] Ibid., hlm.81-99.

[41] Ahmad ibn Abi Ya’qub ibn Wadih, Tarikh al-Ya’qubi, edisi pertama (Qum: Mansyurat asy-Syarif ar-Radi, 1414 H), jld.2, hlm.304.

[42] Muqaddas, Ahsan at-Taqasim fi Ma’rifah al-Aqalim, terj. Dr. Ali Naqi Manzawi (n.p.: Syirkat-e Mu’allifan va Mutarjiman-e Iran, n.d.), jld.2, hlm.426-427.

[43] Abdur Rahman ibn Muhammad ibn Asy’ath diangkat sebagai penguasa Sistan oleh Hajjaj ibn Yusuf. Sistan adalah perbatasan yang memisahkan kaum Muslimin dari kaum Hindu dan kaum Muslimin di sana bertikai dengan para penguasa Hindu. Atas dasar permusuhannya dengan Abdurrahman, Hajjaj melihat adanya komplotan untuk menyingkirkannya. Sewaktu dia diberitahu mengenai komplotan ini, Abdurrahman memberontak terhadapnya pada tahun 82 H. Karena massa muak terhadap Hajjajm banyak penduduk Basrah dan Kufah menyertainya. Sejumlah besar pembaca Quran (qari) di Kufah dan Syi’ah ada di antara orang-orang yang ikut bangkit. Dengan cara demikian, dia meninggalkan Sistan menuju Iraq. Tujuannya adalah memecat Hajjaj dan setelah itu memecat Abdul Malik dari kekhalifahannya juga. Dia mengalahkan pasukan Hajjaj dan maju sampai ke Kufah. Sebagaimana bahaya yang dia hadapi semakin serius, Abdul Malik mengirim serombongan pasukan besar dari Syam untuk membantu Hajjaj. Pasukan Syam pun menaklukkan Ibn Asy’ath di sebuah daerah bernama Dayr al-Jamajam sekitar 42 kilometer dari Kufah. Dia lari ke India dan berlindung kepada salah seorang penguasa di sana. Namun pada akhirnya dia dibunuh oleh agen-agen Hajjaj. Mas’udi, Murawwij ad-Dahab, jld.3, hlm.148; Syahab ad-Din Abi Abdullah al-Faraj al-Isfahani, Maqatil at-Thalibiyyin, hlm.216.

[44] Ibn Anbah, Umdah at-Thalib fi Insab Al Abi Thalib (Qum: Intisyarat ar-Rida, n.d.), hlm.100.

[45] Abul Faraj al-Isfahani, Maqatil at-Thalibiyyin, hlm.216.

[46] Ya’qubi meriwayatkan: Dalam menjawab keluhan seseorang bernama Amir ibn Wallah yang upahnya dipotong oleh pemerintah, Umar ibn Abdul Aziz selama pemerintahannya berkata: “Telah diceritakan kepadaku bahwa engkau tidak menghunus pedangmu, mengasah tombakmu, dan menyiapkan busur dan anak panahmu, dan engkau menanti-nantikan kedatangan Imam al-Qa’im. Tetaplah menantikan sehingga suatu saat beliau muncul, beliau akan mengeluarkan upahmu.” Ya’qubi, Tarikh al-Ya’qubi, jld.2, hlm.307.

[47] Abul Faraj al-Isfahani, Maqatil at-Thalibiyyin, hlm.210.

[48] Muhammad Baqir (Allamah) Majlisi, Bihar al-Anwar 9Tehran: Al-Maktabah al-Islamiyyah, 1394 H), jld.46, hlm.275.

[49] Syeikh at-Tusi, Ikhtiyar Ma’rifah ar-Rijal (Rijal Kasyi), jld.2, hlm.574.

[50] Abu Ja’far Muhammad ibn Jarir ath-Thabari, Tarikh ath-Thabari, edisi kedua (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1408 H), jld.5, hlm.312.

[51] Kekuasaan Abdullah ibn Zubair di Mekkah – dari masa penolakannya untuk berbaiat kepada Yazid dan seruannya kepada umat untuk berbaris di belakangnya sampai 72 H ketika beliau terbunuh di tangan pasukan Hajjaj – berakhir selama 12 tahun. Ibn Abdul Rabih menyebutkannya dalam kitab Al-Aqd al-Farid sebagai masa kekacauan Ibn Zubair.

Setelah kematian Muawiyah, ketika gubernur Medinah meminta kepada Ibn Zubair untuk berbaiat kepada Yazid, dia pergi ke Mekkah berbarengan dengan keberangkatan Imam Husain (a.s.) yang juga menolak baiat kepada Yazid. Di Mekkah umat tidak memberi banyak perhatian kepadanya. Karenanya, tidak dalam keridoan Imam Husain (a.s.) untuk berada di Mekkah. Oleh karenanya dia berkata kepada Imam (a.s.): “Jika aku ini engkau, yang diundang oleh mereka, aku akan pergi ke Irak.” Setelah kesyahidan Imam Husain (a.s.), dia mengangkat panji perlawanan terhadap Yazid. Karenanya, pada 62 H Yazid mengutus Muslim ibn Uqbah bersama pasukannya untuk menekan kebangkitan penduduk Medinah dan setelah itu mereka ke Mekkah. Namun setelah peristiwa Hirrah, Muslim mati dalam perjalanan ke Mekkah. Hasin ibn Numair, penggantinya, tiba di Mekkah bersama pasukan Syam dan pada 64 H menghujani Mekkah dengan batu-batu berapi hingga membakar kain penutup Ka’bah. Selama kecamuk perang, kabar tentang kematian Yazid tersebar di Mekkah yang melemahkan semangat pasukan Syam. Hasin menasehati Ibn Zubair untuk berbaiat kepadanya, membawanya ke Syam dan mendudukkannya di kursi kekuasaan. Ibn Zubair merelakan tawaran ini. Setelah kematian Yazid, semua wilayah Muslim, dengan kekecualian Yordania, memberikan baiat kepada Ibn Zubair sebagai khalifah dan mengakui pemerintahannya (di Mekkah). Maka kubu Umayyah di pihak Marwan memasangnya sebagai khalifah. Dia pada gilirannya menyingkirkan semua orang yang menentangnya di Syam di sepanjang jalannya menuju tampuk kekuasaan dan setelah dia, puteranya, Abdul Malik menjadi khalifah. Setelah mengalahkan Mus’ab ibn Zubair, saudara dari Abdullah ibn Zubair, Abdul Malik mengutus Hajjaj ibn Yusuf dari Irak ke Mekkah untuk menekan Abdullah. Suatu ketika Hajjaj menyerbu Mekkah, memasang ketapel (pelontar) di puncak gunung Abu Qubays dan menghancurkan kota Mekkah serta Ka’bah dengan menghujaninya dengan batu. Dalam perang ini para pendukung Abdullah ibn Zubair meninggalkannya, tetapi Abdullah tetap melawan hingga akhirnya terbunuh. Dengan cara demikian tugas Abdullah ibn Zubair segera berakhir setelah 12 tahun berkuasa di Mekkah. Ahmad ibn Muhammad ibn Abi Rabih al-Andalusi, Al-Aqd Al-Farid (Beirut: Dar Ihya at-Turath al-Arabi, 1409 H), jld.4, hlm.366; Ali ibn Husain ibn Ali Mas’udi, Marawij ad-Dhahab Ja’far Sahidi, Tarikh-e Tahlil-ye Islam ta Payan-e Umawi (An Analytical History of Islam till the End of Umayyad Rule), edisi keenam (Tehran: Markaz-e Nasyr-e Daneshgahi, 1365 H), hlm.183.

[52] Ibid., hlm.183.

[53] Mas’udi, Murawwij ad-Dhahab, jld.3, hlm.85-86.

[54] Ibid.

[55] Abu Muhammad Abdullah ibn Muslim ibn al-Qutaybah, Al-Ma’arif, edisi pertama (Qum: Mansyurat asy-Syarif ar-Radi, 1415 H), hlm.214.

[56] Kebangkitan Hirrah terjadi pada 62 H. Mas’udi menelusuri alasan dan sumber darinya adalah ketidaksukaan umat terhadap praktek-praktek sesat Yazid dan kesyahidan Imam Husain (a.s.). Di Medinah yang merupakan pusat hunian para kerabat Nabi (saw), para Sahabat dan para Pengikut (tabi’in), umat pun tergugah. Gubernur Medinah, Utsman ibn Muhammad ibn Abi Sofyan, yang adalah seorang pemuda belum dewasa dan sembarangan, mengutus sekelompok orang terkemuka Medinah dalam mewakili penduduk Medinah ke Damaskus untuk secara pribadi menemui Yazid dan menerima anugerah darinya sekembali ke Medinah, mereka dapat mendorong penduduk Medinah untuk menyerah kepada penguasa.

Sesuai dengan rancangan ini, Utsman mengirim ke Damaskus sebuah delegasi yang terdiri dari tokoh-tokoh terkemuka seperti Abdullah ibn Hanzalah Ghasil al-Mala’ikah. Dikarenakan ia tidak memiliki pendidikan Islam atau kebijakan yang pantas dan layak, Yazid, tanpa hambatan melestarikan tindakan-tindakan sewenang-wenang dan asusila di hadapan mereka, kendati ia memberi mereka sambutan berlebih-lebihan dan masing-masing diberi hadiah terlebih dahulu dan jubah kehormatan dengan harapan mereka akan memuji-mujinya sekembali ke Medinah. Semua tindakan ini, mendapat efek yang bertentangan. Sekembali ke Medinah, mereka mengumumkan di depan warga bahwa mereka telah dihadirkan ke hadapan seseorang yang tidak mempunyai agama, minum khamar, bermain musik dan rebana, bermain dengan anjing, serta asyik bersama pelesir hingga larut malam, sementara itu para musisi dan perempuan-perempuan penyanyinya bermainan mata dengan orang-orang di sekelilingnya. Tertuju kepada penduduk Medinah, para anggota delegasi itu berkata: “Sekarang, bersaksilah bahwa kami memecatnya (Yazid) dari urusan kekhalifahan.”

Abdullah ibn Hanzalah berkata: “Aku telah dihadirkan di hadapan seseorang yang bertentangan dengan orang-orang yang berperang dengan dukungan putera-putera yang aku miliki, bahkan jika tidak ada seorang pun yang mau membantuku. Dia memberiku pemberian dan hadiah-hadiah, dan mensejajarkan diri untuk menghormatiku, tetapi aku menerima pemberian dan hadiah-hadiah ini hanya untuk tujuan menghabiskannya untuk berkampanye dalam menentangnya.”

Mengikuti kecondongan ini, penduduk Medinah memberikan baiat mereka kepada Abdullah ibn Hanzalah dan mengusir dari kota Medinah semua pendukung Umayyah yang tinggal di sana.

Menerima kabar ini, Yazid mengutus ke Medinah Muslim ibn Uqbah, yang adalah orang paling berpengalaman  dan termasuk di antara pendukung Umayyah, bersama dengan sepasukan besar tentara. Yazid memerintahkan kepadanya: “Beri mereka tenggang waktu selama tiga hari. Jika mereka tidak mau menyerah, perangi mereka. Begitu engkau meraih kemenangan, jarah apa saja yang mereka miliki selama tiga hari dan sisakan untuk para prajurit.”

Pasukan Syam menyerbu Medinah dan perang berdarah antara kedua golongan terjadi. Akhirnya, penduduk Medinah dikalahkan dan para pemimpinnya dibunuh. Muslim ibn Uqbah memerintahkan pembantaian atas penduduk Medinah selama tiga hari. Pasukan Syam melakukan kejahatan yang pena pun akan malu untuk menggambarkannya. Karena kejahatan ini, Muslim memperoleh julukan “musrif” (sang penghambur). Setelah mengakhiri pembunuhan dan penjarahan, Muslim menerima baiat sumpah setia sebagai para budak bagi Yazid. Ibn Abdul Rabih al-Andalusi, Al-Aqd al-Farid, jld.4, hlm.363; Ahmad ibn Abi Ya’qub ibn Wadih, Tarikh al-Ya’qubi, jld.2, hlm.250; Mas’udi, Murawwij adh-Dhahab, jld.3, hlm.82; Izz ad-Din Abul Hasan Ali Ibn Muhammad Abil Karim ibn Atsir,Al-Kamil fi Tarikh (Beirut: Dar Sadir, 1402 H), jld.4, hlm.102-103, 255-256.

[57] Ahmad ibn Dawud Abu Hanifah ad-Daynuri, Akhbar at-Tuwal (Qum: Mansyurat asy-Syarif ar-Rida, n.d.), hlm.266.

[58] Ibn Atsir, Al-Kamil fi Tarikh, jld.4, hlm.158-186.

[59] Akhtab Khawarazmi, Maqtal al-Husain (Qum: Mansyurat al-Mufid, n.d.), jld.2, hlm.202.

[60] Rijal ibn Dawud 9Qum: Mansyurat ar-Radi, n.d.), hlm.277.

[61] Sayyid Abul Qasim al-Khu’I, Mu’jam Rijal al-Hadits (Beirut: Dar Ihya at-Tarikh al-arabi, n.d.), jld.18, hlm.102-193.

[62] Ibn Wadih, Tarikh al-Ya’qubi, jld.2, hlm.267.

[63] Pada 80 H Hajjaj mengangkat Abdurahman ibn Asy’ath sebagai gubernur Sistan dan Zabulistan, kendati Hajjaj menyimpan dendam terhadap Asy’ath, Hajjaj memerintahkan Asy’ath untuk mengusir Ratbil yang telah menyerang Sistan. Abdurrahman pun pergi ke sana, mengirim bala tentara untuk menekan para agresor, memulihkan keadaan, dan menertibkan Sistan. Setelah itu, karena Hajjaj kurang menyukainya, Hajjaj kembali memerintahkan Abdurrahman untuk menghadapi musuh lainnya. Ibn Asy’ath dan pasukannya menafsirkannya sebagai bentuk makar dari Hajjaj bagi mereka agar terbunuh di tangan musuh. Maka mereka pun menentang Hajjaj dan malah pergi menuju Irak. Di Khuzistan terjadi konfrontasi antara pasukan Hajjaj dan mereka. Pasukan Hajjaj pada awalnya dikalahkan dan sesudah itu Abdurrahman sanggup tiba di Irak dan menduduki Kufah. Kebanyakan di antara sesepuh Basrah juga berkerja sama dengannya. Hajjaj mencari bantuan dari Abdul Malik (Khalifah Umayyah yang berpusat di Damaskus). Bala tentara dari Syam dikirim kepadanya, sesampainya pasukan ini, Hajjaj kembali menuju medan laga. Dalam pertempuran yang dahsyat ini, yang kemudian dikenal sebagai “Peristiwa Dayr al-Jumajum”, rakyat Kufah dan Basrah termasuk para hafiz Quran, turut membantu Abdurrahman atas dasar permusuhan mereka terhadap Hajjaj, Rombongan putera Abdurrahman sedemikian besarnya sehingga membuat Abdul Malik sangat khawatir, ia mengirim pesan ke rakyat Irak mengenai niatnya menyingkirkan Hajjaj jika hal itu yang sedang mereka tuntut. Walau bagaimana pun rakyat Irak tidak menerima jalur kompromi Abdul Malik. Dengan demikian, ia menyatakan perang terhadap mereka, memperdaya para panglima perang Ibn Asy’ath. Suatu malam ia melancarkan serangan mendadak yang menghancurkan pasukan Asy’ath. Karenanya, Asy’ath terpaksa melarikan diri dan mencari suaka kepada Ratbil. Kemudian Ratbil pun membunuhnya, berkaitan dengan hadiah dan perjanjian yang dibuatnya dengan Hajjaj. Ratbil mengirim kepala Asy’ath ke Hajjaj. Mas’udi, Murawwij adh-Dhahab, jld.3, hlm.148-149; Syahidi, Tarikh-e Tahlil-ye Islam ta Payan-e Umawi (An Analytical History of Islam till the End of Umayyad Rule), hlm.185-186.

[64] Mas’udi, Murrawij adh-Dhahab, jld.3, hlm.187.

[65] Abi Ja’far ibn al-Hasan ibn Ali (Syeikh) at-Tusi, Ikhtiyar Ma’rifah ar-Rijal (Rijal Kasyi) (Qum: Muassasah Al al-Bayt at-Turath, 1404 H0 jld.1, hlm.335.

[66] Syahab ad-Din Abi Abdullah Yaqut Hamwi, Mu’jam al-Buldan, edisi pertama (Beirut: Dar Ihya at-Turath al-Arabi, 1417 H), jld.7, hlm.88.

[67] Abu Ja’far Muhammad ibn Jarir ibn Rustam ath-Thabari, Dala’il al-Imamah (Najaf: Mansyurat al-Matbu’at al-Haydariyyah, 1383 H), hlm.105.

[68] Muhammad Abduh, Syarah Nahjul Balaghah (Kairo: Dar Ihya al-Kutub al-Arabiyah, n.d.), jld.4, hlm.73.

[69] Ahmad ibn Abi Ya’qub ibn Wadih, Tarikh al-Ya’qubi, edisi pertama (Qum: Mansyurat adh-Dhahab asy-Syarif ar-Radi, 1414 H), jld.2, hlm.319.

[70] Sayyid Muhsin Amin, A’yan asy-Syi’ah (Beirut: Dar at-Ta’aruf lil Matbu’at, n.d.), jld.1, hlm.19.

[71] Ali ibn al-Husain Abul Faraj al-Isfahani, Maqatil at-Thalibiyyin (Qum: Mansyurat asy-Syarif ar-Radi, 1416 H), hlm.207.

[72] Ibn Wadih, Tarikh al-Ya’qubi, jld.2, hlm.326.

[73] Ali Ibn Husain ibn Ali Mas’udi, Murawwij adh-Dhahab (Beirut: Mansyurat Muassasah al-A’lami Lil Matbu’at, 1411 H), jld.3, hlm.236.

[74] Abul Faraj al-Isfahani, Maqatil ath-Thalibiyyin, hlm.133.

[75] Abdullah Muhammad ibn Ahmad Muqaddas, Ahsan at-Taqasim fi Ma’rifah al-Aqalim, terj. Dr. Ali Naqi Manzawi (n.p.: Syirkat-e Mu’allifan va Mutarjiman-e Iran, 1361 H), jld.2, hlm.426-427.

[76] Ibn Wadih, Tarikh al-Ya’qubi, jld.2, hlm.345.

[77] Abul Faraj al-Isfahani, Maqatil ath-Thalibiyyin, jld.2, hlm.345.

[78] Ibn Wadih, Tarikh al-Ya’qubi, jld.2, hlm.332.

[79] Ibid., hlm.333.

[80] Asad haydar, Al-Imam ash-Shadiq wal Mazahib al-Arba’ah, edisi kedua (Beirut: Dar al-Kutub al-Arabiyyah, 1390 H), jld.1, hlm.452-453.

[81] Allamah Muhammad Baqir Majlisi, Bihar al-Anwar, edisi kedua (Teheran: al-Maktabah al-Islamiyah, 1394 H), jld.46, hlm.255.

[82] Ibid.

[83] Abi Ja’far Muhammad ibn al-Hasan ibn Ali (Syeikh) at-Tusi, Ikhtiyar Ma’rifah ar-Rijal (Rijal Kasyi) (Qum: Muassasah Al al-Bayt at-Turath, 1404 H), jld.1, hlm.345.

[84] Ibid., hlm.386.

[85] Ibid., hlm.398.

[86] Sabt ibn al-Jawzi, Tazkhirah al-Khawas (Qum: Mansyrat asy-Syarif ar-Radi, 1376 H/1418 H), hlm.311.

[87] Muhammad Husain Muzaffar, Tarikh asy-Syi’ah (Qum: Mansyurat Maktabah Basyirah, n.d.

[88] Abi Ja’far Nuhammad ibn Ya’qub ibn Ishaq Kulaini, Usul Kafi (Teheran: Dar al-Kutub al-Islamiyah, 1363 H), jld.1, hlm.472.

[89] Syeikh Muhammad ibn Muhammad ibn an-Nu’man al-Mufid, al-Irsyad, terj. Muhammad Baqir Sa’idi Khurasani, edisi kedua (Teheran: Kitabfurusyi-ye Islamiyyeh, 1376 H), hlm.525.

[90] Amir Ali, Tarikh-e Gharb va Islam (History of the West and Islam), terj.Fakhr Da’I Gilani, edisi ketiga, Tehran: Intisyarat-e Ganjineh, 1366 H), hlm.213.

[91] Asad Haydar, Al-Imam Ash-Shadiq wal Mazahib al-Arba’ah, edisi ketiga (Beirut: Dar al-Kutub al-Arabiya, 1403 H).

[92] Abul Qasim Ja’far ibn al-Hasan ibn Yahya ibn Sa’id Muhaqqiq al-Hilli, Al-Mu’tabar (Litografi), hlm.4-5.

[93] Muhammad ibn Makki Syahid al-Awwal, Zikra (Litografi), hlm.6.

[94] Ahmad ibn Hajar Haythami al-Makki, As-Sawa’iq al-Mahriqah fi Radd ala Ahl al-Bid’ah waz-Zindiqah, edisi kedua (Kairo: Maktabah al-Qahirah, 1385 H), hlm.201.

[95] Syahab ad-Din ibn Ali Ibn Hajar al-Asqalani, Tahzib at-Tahzib, edisi pertama (Beirut: Dar al-Fikr, 1404 H), jld.1, hlm.88.

[96] Asad haydar, Al-Imam ash-Shadiq wal Mazahib al-Arba’ah, jld.1, hlm.53.

[97] Ibid., jld.1, hlm.55.

[98] Syam ad-Din Muhammad ibn Ahmad adh-Dhahabi, Mizan al-I’tidal (Beirut: Dar al-Ma’rifah, n.d.), jld.1, hlm.4.

[99] Syeikh at-Tusi, Ikhtiyar Ma’rifah ar-Rijal (Rijal Kasyi), jld.2, hlm.581.

[100] Ibid., jld.1, hlm.347.

[101] Khums secara harafiah berarti seperlima. Menurut mazhab fiqih Syi’ah, pajak seperlima ini wajib dipungut dari setiap Muslim dewasa yang secara finansial mapan dan berkelebihan dalam pendapatannya di luar tabungan tahunannya, netto keuntungan komersialnya, dan semua barang yang bergerak atau tidak bergerak yang tidak sepadan dengan berbagai kebutuhan dan status sosial seseorang. Khums dibagi ke dalam dua bagian yang sama: Bagian Imam-imam maksumun (a.s.) dan bagian sayid-sayid/sadat (keturunan Nabi saw) – saham as-Sadat. Maka, bagian Imam adalah dibayarkan kepada Imam yang masih hidup, dan dalam periode okultasi sekarang ini, kepada mujtahid yang paling terpelajar yang adalah marja’I taqlid. Bagian khums separuhnya lagi adalah bagian sayid-sayid/sadat, yang diberikan kepada sayid-sayid shaleh yang berkekurangan akan sumber daya selama hidupnya setahun disesuaikan dengan berbagai macam status mereka. Untuk informasi lebih jauh, lihat Sayyid Muhammad Rizvi, Khums: An Islamic Tax, http://www.al-islam.org/beliefs/practices/khums.htm] Penerj.

[102] Syeikh al-Mufid, Al-Irsyad, terj. Muhammad Baqir Sa’idi Khurasani, edisi kedua (Tehran: Kitabfurusyi-ye Islamiyeh, 1376 H), hlm.581.

[103] Syeikh Shaduq, Uyun Akhbar ar-Ridha, (Qum: n.p., 1377 H), jld.2, hlm.135.

[104] Allamah Majlisi, Biharul Anwar, edisi kedua (Tehran: Al-Maktabah al-Islamiyah, 1358 H), jld.49, hlm.155.

[105] Ibid., jld.50, hlm.6.

[106] Wasif Turki: salah seorang panglima perang asal Turki.

[107] Ali ibn Husain ibn Ali Mas’udi, Murawwij adh-Dhahab, edisi pertama (Beirut: Mansyurat Muasasah al-A’lami Lil Matbu’at, 1411 H), jld.4, hlm.183.

[108] Tentu saja beebrapa otoritas berpendapat bahwa jika buktinya membuktikan Abu Salmah sebagai seorang Syi’ah adalah sebuah surat yang ditujukan kepada Imam Shadiq (a.s.) mengenai usulan atas kekhalifahan, ini tampaknya bukan bukti yang cukup kuat karena mereka menganggapnya sebagai gerakan politik semata. Lihat Mahdi Pishva’I, Sireh-ye Psihvayan, edisi kedelapan (Qum: Muassasah-ye Tahqiqati va Ta’limati-ye Imam Shadiq (a.s.), 1378 H), hlm.378.

[109] Sayyid Muhsin Amin, A’yan asy-Syi’ah (Beirut: Dar at-Ta’aruf Lil Matbu’at, n.d.), jld.1, hlm.191.

[110] Ibid., hlm.192-193. Tentunya keberadaan Waqidi sebagai Syi’ah menjadi masalah yang diperdebatkan di antara para ulama.

[111] Ibid., hlm.29.

[112] Asad haydar, al-Imam ash-Shadiq wal Mazahib al-Arba’ah, edisi kedua (Beirut: Dar al-Kutub al-Arabiyah, 1390 H), jld.1, hlm.226.

[113] Ahmad ibn Abi Ya’qub ibn Wadih, Tarikh al-Ya’qubi, Edisi pertama (Qum: Mansyurat asy-Syarif ar-Radi, 1414 H), jld.2, hlm.484.

[114] Sa’ad ibn Abdullah al-Qummi Asy’ari, al-Maqalat wal Firaq, edisi kedua (Tehran: Markaz-e Intisyarat Ilmi wa Farhangi, 1360 H), hlm.94.

[115] Lihat: Sireh-ye Pishvayan , hlm.478.

[116] Tarikh al-Ya’qubi, jld.2, hlm.503.

[117] Sayyid Majid Pur Aqa’I, Tarikh-e Asr-e Ghaybat (Qum: Markaz-e Jahani-ye Ulum-e Islami, n.d.), hlm.84.

[118] Sireh-ye Pishvayan, hlm.573.

[119] Lihat: Rijal-e Najasy (Qum: Daftar-e Nashr-e Farhang-e Islami, 1404 H), hlm.344, 797-800, 825, 847.

[120] Abu Abdullah Muhammad ibn Ahmad Muqaddasi, Ahsan at-Taqasim fi Ma’rifah al-Aqalim, terj. Dr. Ali Naqi Manzawi (n.p.:Syirkat-e Mu’allifan va Mutarjiman-e Iran, 1361 H), jld.1, hlm.136.

[121] Ibid., hlm.144.

[122] Ibid., hlm.175.

[123] Ibid., hlm.174.

[124] Ibid., hlm.200.

[125] Ibid., hlm.220.

[126] Ibid., hlm.286.

[127] Ibid., hlm.jld.2, hlm.707.

[128] Ibid., hlm.623.

[129] Transoxiana [mawara’un-nahr (melampauai sungai (Oxus)], sekarang ini bernama Uzbekistan. (Penerj.)

[130] Taqi ad-Din Abi al-Abbas Ahmad ibn Ali Maqrizi, Al-Mawa’iz wal I’tibar bi Zikr al-Khufut wal Atsar (terkenal sebagai Al-Khutat al-Maqriziyyah), edisi pertama (Beirut: Dar al-Kutub al-Islamiyyah, 1418 H), jld.4, hlm.191.

[131] Al-Bidayah wa Nihayah (Beirut: 1966), jld.11, hlm.243.

[132] Tarikh al-Ya’qubi, jld.2, hlm.404.

[133] Abu Ja’far Muhammad ibn Jarir ibn Rustam ath-Thabari, Tarikh ath-Thabari, edisi kedua (Beirut: Dar al-Kutub al-Islamiyyah, 1408 H), jld.5, hlm.312.

[134] Ibn Atsir, Al-Kamil fi Tarikh (Beirut: Dar Sadir, 1402 H), jld.7, hlm.56.

[135] Murawwij adh-Dhahab, jld.4, hlm.147.

[136] Ibid.

[137] Ibid., jld.3, hlm.324.

[138] Ibn al-Jawzi meriwayatkan: Ketika Mansur tiba di Medinah dari Mekkah, ia berkata kepada Rabi’ Hajab, “Panggil Ja’far ibn Muhammad. Semoga Allah membunuhku jika aku gagal membunuhnya.” Rabi’ terlambat memanggil Imam. Akhirnya dengan desakan al-Mansur, Rabi’ memanggil Imam. Ketika Imam hadir, perlahan beliau memindahkan kemenyannya. Kemudian beliau menghampiri al-Mansur dan memberinya salam. Mansur berkata: “Wahai musuh Allah! Semoga Allah meniadakanmu! Apakah engkau ingin mengacaukan kekuasaanku? Semoga Allah membunuhku jika aku tidak membunuhmu!”

Imam Shadiq (a.s.) berkata: Nabi Sulaiman berkuasa namun dia bersyukur kepada Allah. Nabi Ayyub menderita namun dia tetap bersabar. Nabi Yusuf ditindas namun dia mau memaafkan. Engkau pengganti mereka, lebih pantas bagimu untuk menyamai mereka (para Nabi).”

Al-Mansur merunduk dan menengadahkan kepalanya kembali dan berkata: “Engkau adalah salah seorang dari kami yang paling dekat dalam kekeluargaan.” Lalu dia memeluk Imam (a.s.), mempersilahkannya duduk di sebelahnya dan asyik berbincang dengannya (a.s.). Kemudian dia berkata: “Sekarang juga bawakan hadiah dan pakaian untuk Ja’far ibn Muhammad dan biarkan dia pergi.”

Ketika Imam (a.s.) pergi, Rabi’ mengikutinya dan berkata: “Aku telah membelamu selama tiga hari, bertindak sekedarnya dan berhati-hati. Ketika engkau menemuinya, aku melihat engkau dengan tenang mengucapkan sesuatu, dan Mansur gagal membahayakanmu. Karena aku sedang bekerja dengan penguasa, aku membutuhkan doa itu. Betapa aku berharap engkau mengajarkannya kepadaku.

Imam (a.s.) berkata: “Ucapkanlah:

“Ya Allah, Lindungilah aku dengan mataMu yang tidak tidur dan melalui kekuatan yang bebas dari kejahatan, lindungilah aku dari berbagai penderitaan; karena Engkau adalah sumber dari harapanku. Ya Allah! Engkau telah memberikan berkah yang berlimpah kepadaku, yang baginya aku tidak mensyukurinya. Maka, janganlah Engkau ambil dariku berkah-berkah ini dan dalam banyak kesempatan Engkau telah menimpakan kepadaku bencana yang kepadanya aku menunjukkan sedikit kesabaran. Engkau membebaskanku. Ya Allah! Aku mencari perlindungan dalam dukunganMu dan kekuatan perlindungan dari kejahatannya dan aku mencari perlindungan kepadaMu dari kejahatannya.”

Tazkirah al-Khawas (Najaf al-Asraf: Mansyurat al-Matba’ah al-Haydariyyah wa Maktabah, 1383 H), hlm.344.

[139] Ibn Syahr Asyub Mazandarani, Manaqib Al Abi Thalib (Qum: Muassasah Intisyarat-e Allameh, n.d.), jld.4, hlm.220.

[140] Al-Imam ash-Shadiq wal Mazahib al-Arba’ah, edisi ketiga (1403 H), jld.1, hlm.46.

[141] Abi Ali al-Fadl ibn al-Hasan Thabarsi, I’lam al-wara bi A’lam al-Huda (Qum: Muassasah Al al-Bayt at-Turath, 1417 H), jld.2 hlm.13.

[142] Tarikh al-Ya’qubi, jld.2, hlm.394.

[143][143] Ali ibn al-Husain Abul Faraj al-Isfahani, Maqatil ath-Thalibiyyin (Qum: Mansyurat asy-Syarif ar-Radi, 1416 H), hlm.342-361.

[144] Tarikh al-Ya’qubi, hlm.404.

[145] Maqatil al-Thalibiyyin, hlm.366.

[146] Bihar al-Anwar, jld.48, hlm.151.

[147] Uyun Akhbar ar-Rida, (Qum: Dar al-Ilm, 1377 H), hlm.109.

[148] I’lam al-Wara bi A’lam al-Huda, jld.2, hlm.34.

[149] A’yan asy-Syi’ah, hlm.29.

[150] Ali ibn al-Husain Abul Faraj al-Isfahani, Maqatil ath-Thalibiyyin (Qum: Mansyurat Asy-Syarif ar-Radi, 1416 H), hlm.207.

[151] Khatib Baghdadi, Tarikh Baghdad, edisi pertama (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1417 H), jld.12, hlm.340.

[152] Setelah kematian Imam Ibrahim, Abu Salmah Khalal yang adalah jurkam terkemuka di Irak dan kemudian menjadi wazir Safah, berpaling menentang Abbasiyyah. Kemudian, ia menulis surat kepada tiga tokoh terkemuka kaum Alawi: Ja’far ibn Muhammad ash-Shadiq (a.s.), Abdullah ibn Hasan ibn Hasan ibn Ali (a.s.), dan Amr ibn al-Asyraf ibn Zaid al-Abidin dan mempercayakan surat ini kepada salah seorang temannya dengan perintah demikian: “Pertama-tama pergilah ke Ja’far ibn Muhammad ash-Shadiq (a.s.) dan dia harus menerimanya, lalu berikan dua surat lagi kepada yang lain. Dan jika dia tidak menerima, kamu temui Abdullah Mahd, dan jika dia tidak menerimanya juga, kamu harus menemui Amr.

Utusan Abu Salmah pertama pergi ke Imam Ja’far ibn Muhammad ash-Shadiq (a.s.) dan memberikan surat Abu Salmah kepada Imam (a.s.). Hazrat Shadiq (a.s.) berkata: “Apa urusan kami dengan Abu Salmah yang adalah pengikut (Syi’ah) dari yang lain?” Utusan itu menjawab: “Sebaiknya bacalah surat itu.” Imam ash-Shadiq (a.s.) meminta utusan itu untuk mengambilkannya lampu. Kemudian Imam menaruh surat itu di atas lampu dan terbakar! Utusan itu bertanya: “Tidak akankah engkau menjawabnya?” Imam menjawab: “Jawabannya apa yang engkau lihat!”

Setelah itu, utusan Abu Salmah pergi ke Abdullah ibn Hasan dan memberikan surat itu kepadanya. Segera setelah Abdullah selesai membacanya, ia menciumnya dan segera pergi ke Imam Shadiq (a.s.) dan berkata: “Surat ini yang diterima melalui salah seorang Syi’ah kita dari Khurasan adalah dari Abu Salmah yang mengajak kita menuju kekhalifahan. Imam berkata kepada Abdullah: “Sejak kapan orang-orang Khurasan menjadi Syi’ahmu? Sudahkah engkau mengirim Abu Muslim kepada mereka? Apakah engkau mengenal di antara mereka? Engkau tidak mengnal mereka dan mereka tidak mengenalmu, bagaimana mereka menjadi Syi’ahmu?” Abdullah berkata: “Pernyataanmu menunjukkan pendapatmu mengenai masalah ini.” Imam berkata: “Allah Maha Mengetahui bahwa aku mewajibkan diriku untuk mengharapkan kebaikan bagi setiap Muslim. Bagaimana bisa aku tidak berbuat demikian terhadap kalian? Wahai Abdullah! Menjauhlah dari ambisi-ambisi keliru ini, dan engkau harus tahu bahwa pemerintahan ini akan tetap berada di tangan Abbasiyyah dan surat serupa telah dikirim kepadaku.” Karena merasa tidak enak, Abdullah pun pergi meninggalkan Imam ash-Shadiq (a.s.).

Amr ibn Zaid al-Abidin juga bersikap serupa terhadap surat Abu Salmah. Dia menolak menerimanya dan berkata: “Aku tidak mengenal pengirim surat ini, kepada siapa aku harus menjawab.”

Lihat Ibn Taqtaqi, Al-Fakhri (Beirut: Dar Sadir, 1368 H), hlm.154; Ali ibn al-Husain Mas’udi, Murawwij adh-Dhahab (Beirut: Mansyurat Muassasah al-A’lami Lil Matbu’at, 1411 H), jld.4, hlm.280.

[153] Sayyid Muhsin Amin, A’yan asy-Syi’ah (Beirut: Dar at-Ta’aruf Lil Matbu’at, n.d.), jld.1, hlm.190.

[154] Ibid.

[155] Murawwij adh-Dhahab, jld.4, hlm.283-284.

[156] Ibn Anbah, Umdah ath-Thalib (Najaf, Majba’ah al-haydariyyah, 1961), hld.71, 200, 253.

[157] Maqatil at-Thalibiyyin, hlm.389-395.

[158] Mar’asyi, Tarikh Tabaristan wa Rawayan (Tehran: Nasyr-e Kostareh, 1363 H), hlm.290.

[159] Ibid., hlm.277-278.

[160] Maqatil ath-Thalibiyyin, hlm.406, 409.

[161] Adam Smitch, Tamaddun-e Islami dar Qarn-e Chaharum-e Hijri (Peradaban Islamdi Abad Keempat Hijiriah), terj. Ali Ridha Ddakawati Qaragzelti (Tehran: Meassaseh-ye Intisyarat-e Amir Kabir, 1364 H), hlm.83, mengutip dari Kindi, Al-Walah wal Qadah, hlm.198.

[162] Ibid., mengutip dari Al-Walah wal Qadah, hlm.203-204.

[163] Marawwij adh-Dhahab, jld.4, hlm.326.

[164] Abu Ja’far Muhammad ibn Jarir ibn Rustam ath-Thabari, edisi kedua (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1408 H), jld.5, hlm.620-625.

[165] Murawwij adh-Dhahab, jld.4, hlm.60.

[166] Ibid., jld.3, hlm.236.

[167] Ibid., jld.3, hlm.236.

[168] Ibid., jld.4, hlm.60.

Iklan
Atlantis in the Java Sea

A scientific effort to match Plato’s narrative location for Atlantis

sembrani

bertukar ide, melampaui mimpi bersama

Nurul Wirda

0812-8267-9182

aawanto

The greatest WordPress.com site in all the land!

Covert Geopolitics

Beyond the Smoke & Mirrors

Catatan Harta Amanah Soekarno

as good as possible for as many as possible

Women Terrace

to say something that i never talk before

Kanzunqalam's Blog

AKAL tanpa WAHYU, akan berbuah, IMAN tanpa ILMU

Cahayapelangi

Cakrawala, menapaki kehidupan nusantara & dunia

religiku

hacking the religion

SANGKAN PARANING DUMADI

Just another WordPress.com site

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

%d blogger menyukai ini: