19 Komentar

Budak Angon di Ramalan Satrio Piningit Ronggowarsito

Ramalan Satrio Piningit Ronggowarsito

trio Lelono Topo Ngrame, Satrio Hamong Tuwuh, Satrio Boyong Pambukaning Gapuro, Satrio Pinandhito Sinisihan Wahyu. Berkenaan dengan itu, banyak kalangan yang kemudian mencoba menafsirkan ke-tujuh Satrio Piningit itu adalah sebagai berikut :

  1. SATRIO KINUNJORO MURWO KUNCORO.Tokoh pemimpin yang akrab dengan penjara (Kinunjoro), yang akan membebaskan bangsa ini dari belenggu keterpenjaraan dan akan kemudian menjadi tokoh pemimpin yang sangat tersohor diseluruh jagad (Murwo Kuncoro). Tokoh yang dimaksud ini ditafsirkan sebagaiSoekarno, Proklamator dan Presiden Pertama Republik Indonesia yang juga Pemimpin Besar Revolusi dan pemimpin Rezim Orde Lama. Berkuasa tahun 1945-1967.
  2. SATRIO MUKTI WIBOWO KESANDUNG KESAMPAR.Tokoh pemimpin yang berharta dunia (Mukti) juga berwibawa/ditakuti (Wibowo), namun akan mengalami suatu keadaan selalu dipersalahkan, serba buruk dan juga selalu dikaitkan dengan segala keburukan / kesalahan (Kesandung Kesampar). Tokoh yang dimaksud ini ditafsirkan sebagai Soeharto, Presiden Kedua Republik Indonesia dan pemimpin Rezim Orde Baru yang ditakuti. Berkuasa tahun 1967-1998.
  3. SATRIO JINUMPUT SUMELA ATUR.Tokoh pemimpin yang diangkat/terpungut (Jinumput) akan tetapi hanya dalam masa jeda atau transisi atau sekedar menyelingi saja (Sumela Atur). Tokoh yang dimaksud ini ditafsirkan sebagai BJ Habibie, Presiden Ketiga Republik Indonesia. Berkuasa tahun 1998-1999.
  4. SATRIO LELONO TAPA NGRAME.Tokoh pemimpin yang suka mengembara / keliling dunia (Lelono) akan tetapi dia juga seseorang yang mempunyai tingkat kejiwaan Religius yang cukup / Rohaniawan (Tapa Ngrame). Tokoh yang dimaksud ini ditafsirkan sebagai KH. Abdurrahman Wahid, Presiden Keempat Republik Indonesia. Berkuasa tahun 1999-2000.
  5. SATRIO PININGIT HAMONG TUWUH.Tokoh pemimpin yang muncul membawa kharisma keturunan dari moyangnya (Hamong Tuwuh). Tokoh yang dimaksud ini ditafsirkan sebagai Megawati Soekarnoputri, Presiden Kelima Republik Indonesia. Berkuasa tahun 2000-2004.
  6. SATRIO BOYONG PAMBUKANING GAPURO.Tokoh pemimpin yang berpindah tempat (Boyong) dan akan menjadi peletak dasar sebagai pembuka gerbang menuju tercapainya zaman keemasan (Pambukaning Gapuro). Banyak pihak yang menyakini tafsir dari tokoh yang dimaksud ini adalah Susilo Bambang Yudhoyono. Ia akan selamat memimpin bangsa ini dengan baik manakala mau dan mampumensinergikan dengan kekuatan Sang Satria Piningit atau setidaknya dengan seorang spiritualis sejati satria piningit yang hanya memikirkan kemaslahatan bagi seluruh rakyat Indonesia sehingga gerbang mercusuar dunia akan mulai terkuak. Mengandalkan para birokrat dan teknokrat saja tak akan mampu menyelenggarakan pemerintahan dengan baik. Ancaman bencana alam, disintegrasi bangsa dan anarkhisme seiring prahara yang terus terjadi akan memandulkan kebijakan yang diambil.
  7. SATRIO PINANDITO SINISIHAN WAHYU.Tokoh pemimpin yang amat sangat Religius sampai-sampai digambarkan bagaikan seorang Resi Begawan (Pinandito) dan akan senantiasa bertindak atas dasar hukum / petunjuk Allah SWT (Sinisihan Wahyu). Dengan selalu bersandar hanya kepada Allah SWT, Insya Allah, bangsa ini akan mencapai zaman keemasan yang sejati.

Selain masing-masing satrio itu menjadi ciri-ciri dari masing-masing pemimpin NKRI pada setiap masanya, ternyata tujuh satrio piningit itu melambangkan tujuh sifat yang menyatu di dalam diri seorang pandhita yang telah kita tahu adalah Putra Betara Indra yang juga Budak Angon seperti telah diungkap di atas. Berikut ini adalah sifat-sifat “Satrio Piningit” sejati hasil bedah hakekat bapak Budi Marhaen terhadap apa yang telah ditulis oleh R.Ng. Ronggowarsito :

  1. Satrio Kinunjoro Murwo Kuncoromelambangkan orang yang sepanjang hidupnya terpenjara namun namanya harum mewangi. Sifat ini hanya dimi­liki oleh orang yang telah menguasai Artadaya (ma’rifat sebenar-benar ma’rifat). Diberikan anugerah kewaskitaan atau kesaktian oleh Allah SWT, namun tidak pernah menampakkan kesaktiannya itu. Jadi sifat ini melambangkan orang berilmu yang amat sangat tawadhu’.
  2. Satrio Mukti Wibowo Kesandung Kesamparmelambangkan orang yang kaya akan ilmu dan berwibawa, namun hidupnya kesandung kesampar, artinya penderitaan dan pengorbanan telah menjadi teman hidupnya yang setia. Tidak terkecuali fitnah dan caci maki selalu menyertainya. Semua itu dihadapinya dengan penuh kesabaran, ikhlas dan tawakal.
  3. Satrio Jinumput Sumelo Aturmelambangkan orang yang terpilih oleh Allah SWT guna melaksanakan perintah-perintah-Nya dan menjalankan missi-Nya. Hal ini dibuktikan dengan pemberian anugerah-Nya berupa ilmu laduni kepada orang tersebut.
  4. Satrio Lelono Topo Ngramemelambangkan orang yang sepanjang hidupnya melakukan perjalanan spiritual dengan melakukan tasawuf hidup (tapaning ngaurip). Bersikap zuhud dan selalu membantu (tetulung) kepada orang-orang yang dirundung kesulitan dan kesusahan dalam hidupnya.
  5. Satrio Hamong Tuwuhmelambangkan orang yang memiliki dan membawa kharisma leluhur suci serta memiliki tuah karena itu selalu mendapatkan pengayoman dan petunjuk dari Allah SWT. Dalam budaya Jawa orang tersebut biasanya ditandai dengan wasilah memegang pusaka tertentu sebagai perlambangnya.
  6. Satrio Boyong Pambukaning Gapuromelambangkan orang yang melakukan hijrah dari suatu tempat ke tempat lain yang diberkahi Allah SWT atas petunjuk-Nya. Hakekat hijrah ini adalah sebagai perlambang diri menuju pada kesempurnaan hidup (kasampurnaning ngaurip). Dalam kaitan ini maka tempat yang ditunjuk itu adalah Lebak Cawéné = Gunung Perahu = Semarang Tembayat.
  7. Satrio Pinandhito Sinisihan Wahyumelambangkan orang yang memiliki enam sifat di atas. Sehingga orang tersebut digambarkan sebagai seorang pinandhita atau alim yang selalu mendapatkan petunjuk dari Allah SWT. Maka hakekat Satrio Pinandhito Sinisihan Wahyu adalah utusan Allah SWT atau bisa dikatakan seorang Aulia (waliyullah).

Serat Kalatidha Ronggowarsito

Guna memperlengkapi wacana kita tentang sifat dan karakter “Satrio Piningit” yang telah diurai di atas, ada baik­nya kita cermati pula Serat Kalatidha karya Ronggowarsito yang tertuang dalam Serat Centhini jilid IV (karya Susuhunan Pakubuwono V) pada Pupuh 257 dan 258. Kutipan berikut ini menggambarkan situasi jaman yang terjadi dan akhirnya muncul sang Satrio yang dinanti :

Pupuh 257 (tembang 28 s/d 44) :

Wong agunge padha jail kurang tutur, marma jeng pamasa, tanpa paramarteng dasih, dene datan ana wahyu kang sanyata.

  • Para pemimpinnya berhati jahil, bicaranya ngawur, tidak bisa dipercaya dan tidak ada wahyu yang sejati.

Keh wahyuning eblislanat kang tamurun, apangling kang jalma, dumrunuh salin sumalin, wong wadon kang sirna wiwirangira.

  • Wahyu yang turun adalah wahyu dari iblis dan sulit bagi kita untuk membedakannya, para wanitanya banyak yang kehilangan rasa malu.

Tanpa kangen mring mitra sadulur, tanna warta nyata, akeh wong mlarat mawarni, daya deye kalamun tyase nalangsa.

  • Rasa persaudaraan meluntur, tidak saling memberi berita dan banyak orang miskin beraneka macam yang sangat menyedihkan kehidupannya.

Krep paprangan, sujana kapontit nurut, durjana susila dadra andadi, akeh maling malandang marang ing marga.

  • Banyak peperangan yang melibatkan para penjahat, kejahatan / perampokan dan pemerkosaan makin menjadi-jadi dan banyak pencuri malang melintang di jalan-jalan.

Bandhol tulus, mendhosol rinamu puguh, krep grahana surya, kalawan grahana sasi, jawah lindhu gelap cleret warsa.

  • Alampun ikut terpengaruh dengan banyak terjadi gerhana matahari dan bulan, hujan abu dan gempa bumi.

Prahara gung, salah mangsa dresing surur, agung prang rusuhan, mungsuhe boya katawis, tangeh lamun tentreming wardaya.

  • Angin ribut dan salah musim, banyak terjadi kerusuhan seperti perang yang tidak ketahuan mana musuhnya yang menyebabkan tidak mungkin ada rasa tenteram di hati.

Dalajading praja kawuryan wus suwung, lebur pangreh tata, karana tanpa palupi, pan wus tilar silastuti titi tata.

  • Kewibawaan negara tidak ada lagi, semua tata tertib, keamanan, dan aturan telah ditinggalkan.

Pra sujana, sarjana satemah kelu, klulun Kalathida, tidhem tandhaning dumadi, hardayengrat dening karoban rubeda.

  • Para penjahat maupun para pemimpin tidak sadar apa yang diperbuat dan selalu menimbulkan masalah / kesulitan.

Sitipati, nareprabu utamestu, papatih nindhita, pra nayaka tyas basuki, panekare becik-becik cakrak-cakrak.

  • Para pemimpin mengatakan seolah-olah bahwa semua berjalan dengan baik padahal hanya sekedar menutupi keadaan yang jelek.

Nging tan dadya, paliyasing Kalabendu, mandar sangking dadra, rubeda angrubedi, beda-beda hardaning wong sanagara.

  • Yang menjadi pertanda zaman Kalabendu, makin lama makin menjadi kesulitan yang sangat, dan berbeda-beda tingkah laku / pendapat orang se-negara.

Katatangi tangising mardawa-lagu, kwilet tays duhkita, kataman ring reh wirangi, dening angupaya sandi samurana.

  • Disertai dengan tangis dan kedukaan yang mendalam, walaupun kemungkinan dicemooh, mencoba untuk melihat tanda-tanda yang tersembunyi dalam peristiwa ini.

Anaruwung, mangimur saniberike, menceng pangupaya, ing pamrih melok pakolih, temah suha ing karsa tanpa wiweka.

  • Berupaya tanpa pamrih.

Ing Paniti sastra wawarah, sung pemut, ing zaman musibat, wong ambeg jatmika kontit, kang mangkono yen niteni lamampahan.

  • Memberikan peringatan pada zaman yang kalut dengan bijaksana, begitu agar kejadiannya / yang akan terjadi bisa jadi peringatan.

Nawung krida, kang menangi jaman gemblung, iya jaman edan, ewuh aya kang pambudi, yen meluwa edan yekti nora tahan.

  • Untuk dibuktikan, akan mengalami jaman gila, yaitu zaman edan, sulit untuk mengambil sikap, apabila ikut gila/edan tidak tahan.

Yen tan melu, anglakoni wus tartamtu, boya keduman, melik kalling donya iki, satemahe kaliren wekasane.

  • Apabila tidak ikut menjalani, tidak kebagian untuk memiliki harta benda, yang akhirnya bisa kelaparan.

Wus dilalah, karsane kang Among tuwuh, kang lali kabegjan, ananging sayektineki, luwih begja kang eling lawan waspada.

  • Sudah kepastian, atas kehendak Allah SWT, yang lupa untuk mengejar keberuntungan, tapi yang sebetulnya, lebih beruntung yang tetap ingat dan waspada (dalam perbuatan berbudi baik dan luhur).

Wektu iku, wus parek wekasanipun, jaman Kaladuka, sirnaning ratu amargi, wawan-wawan kalawan memaronira.

Pada saat itu sudah dekat berakhirnya zaman Kaladuka.

Pupuh 258 (tembang 1 s/d 7) :

Saka marmaning Hayang Sukma, jaman Kalabendu sirna, sinalinan jamanira, mulyaning jenengan nata, ing kono raharjanira, karaton ing tanah Jawa, mamalaning bumi sirna, sirep dur angkaramurka.

  • Atas izin Allah SWT, zaman Kalabendu hilang, berganti zaman dimana tanah Jawa/Indonesia menjadi makmur, hilang kutukan bumi dan angkara murkapun mereda.

Marga sinapih rawuhnya, nata ginaib sanyata, wiji wijiling utama, ingaranan naranata, kang kapisan karanya, adenge tanpa sarana, nagdam makduming srinata, sonya rutikedatonnya.

  • Kedatangan pemimpin baru tidak terduga, seperti muncul secara gaib, yang mempunyai sifat-sifat utama.

Lire sepi tanpa srana, ora ana kara-kara, duk masih keneker Sukma, kasampar kasandhung rata, keh wong katambehan ika, karsaning Sukma kinarya, salin alamnya, jumeneng sri pandhita.

  • Datangnya tanpa sarana apa-apa, tidak pernah menonjol sebelumnya, pada saat masih muda, banyak mengalami halangan dalam hidupnya, yang oleh izin Allah SWT, akan menjadi pemimpin yang berbudi luhur.

Luwih adil paraarta, lumuh maring branaarta, nama Sultan Erucakra, tanpa sangakan rawuhira, tan ngadu bala manungsa, mung sirollah prajuritnya, tungguling dhikir kewala, mungsuh rerep sirep sirna.

  • Mempunyai sifat adil, tidak tertarik dengan harta benda, bernama Sultan Erucakra (pemimpin yang memiliki wahyu), tidak ketahuan asal kedatangannya, tidak mengandalkan bala bantuan manusia, hanya sirullah prajuritnya (pasukan Allah) dan senjatanya adalah se-mata2 dzikir, musuh semua bisa dikalahkan.

Tumpes tapis tan na mangga, krana panjenengan nata, amrih kartaning nagara, harjaning jagat sadaya, dhahare jroning sawarsa, denwangeni katahhira, pitung reyal ika, tan karsa lamun luwiha.

  • Semua musuhnya dimusnahkan oleh sang pemimpin demi kesejahteraan negara, dan kemakmuran semuanya, hidupnya sederhana, tidak mau melebihi, penghasilan yang diterima.

Bumi sakjung pajegira, amung sadinar sawarsa, sawah sewu pametunya, suwang ing dalem sadina, wus resik nir apa-apa, marmaning wong cilik samya, ayem enake tysira, dene murah sandhang teda.

  • Pajak orang kecil sangat rendah nilainya, orang kecil hidup tentram, murah sandang dan pangan.

Tan na dursila durjana, padha martobat nalangas, wedi willating nata, adil asing paramarta, bumi pethik akukutha, parek lan kali Katangga, ing sajroning bubak wana, penjenenganin sang nata.

  • Tidak ada penjahat, semuanya sudah bertobat, takut dengan kewibawaan sang pemimpin yang sangat adil dan bijaksana.

Dari gambaran yang tertulis di dalam Serat Kalatidha di atas, maka kita akan mendapatkan gambaran yang sama dengan apa yang sedang terjadi saat ini. Percaya atau tidak, kenyataannya semua yang telah digambarkan para leluhur nusantara ini telah terjadi dan sedang berlangsung serta insya allah akan terjadi, baik lambat ataupun cepat. Karena apa yang telah dituangkan para leluhur kita dalam bentuk karya sastra adalah hasil “olah batin” ataupun “perjalanan spiritual” beliau-beliau di dalam menangkap lambang-lambang-Nya di alam nyata maupun gaib. Inilah yang diistilahkan dalam kawruh jawa sebagai Sastrajendra Hayuningrat (sastra tanpa wujud – papan tanpa tulis, tulis tanpa papan). Sehingga dalam mengungkapkannya penuh dengan perlambang (pasemon ataupun sanepan). Semuanya hanya ingin mengingatkan kita anak cucu leluhur nusantara ini untuk senantiasa Eling dan Waspada

Iklan

19 comments on “Budak Angon di Ramalan Satrio Piningit Ronggowarsito

  1. Satria Piningit =
    Bisa personal,
    Bisa komunitas..

    Sambil menunggu, mari kita terus mencari… ;))

  2. Indonesia susah majunya kalau rakyatnya masih percaya sama ramalan!

  3. Kemuliaan Satria Piningit Yang Datang
    60:1 Bangkitlah, menjadi teranglah, sebab terang Satria Piningit datang, dan kemuliaan TUHAN terbit atas Satria Piningit.
    60:2 Sebab sesungguhnya, kegelapan menutupi bumi, dan kekelaman menutupi bangsa-bangsa; tetapi Terang TUHAN terbit atas Satria Piningit, dan kemuliaan-Nya menjadi nyata atas Satria Piningit.
    60:3 Bangsa-bangsa berduyun-duyun datang kepada Terang Satria Piningit, dan raja-raja kepada cahaya yang terbit dari Satria Piningit.
    60:4 Angkatlah muka dan lihatlah ke sekeliling, mereka semua datang berhimpun kepada Satria Piningit; anak laki-laki datang dari jauh, dan anak perempuan digendong.
    60:5 Pada waktu itu Satria Piningit heran melihat dan berseri-seri, Satria Piningit tercengang dan berbesar hati, sebab kelimpahan dari seberang laut beralih kepada Satria Piningit, dan kekayaan bangsa-bangsa datang kepada Satria Piningit.
    60:6 Sejumlah besar unta menutupi daerah Satria Piningit, unta-unta muda. Mereka semua datang, membawa emas dan kemenyan, serta memberitakan perbuatan masyhur TUHAN.
    60:7 Segala kambing domba berhimpun kepada Satria Piningit, domba jantan Nebayot tersedia untuk ibadah; semua dipersembahkan di atas mezbah sebagai korban yang berkenan, dan semarakkan negeri keagungan TUHAN.
    60:8 Siapakah mereka ini yang melayang seperti awan dan seperti burung merpati ke pintu kandangnya?
    60:9 Sungguh, Satria Piningit lah yang dinanti-nantikan pulau-pulau yang jauh; kapal-kapal berlayar di depan untuk membawa anak-anak bangsa dari jauh, perak dan emas dibawa serta, untuk nama TUHAN, Allah , dan oleh karena Yang Mahakudus, sebab Tuhan mengagungkan Satria Piningit.
    60:10 Orang-orang asing membangun tembok , dan raja-raja mereka melayani Satria Piningit; sebab dalam murka TUHAN telah menghajar Satria Piningit, namun TUHAN telah berkenan untuk mengasihani Satria Piningit
    60:11 Pintu-pintu gerbang terbuka senantiasa, baik siang maupun malam tidak tertutup, supaya orang dapat membawa kekayaan bangsa-bangsa kepada Satria Piningit, sedang raja-raja mereka ikut digiring sebagai tawanan.
    60:12 Sungguh, bangsa dan kerajaan yang tidak mau mengabdi kepada Satria Piningit lenyap; bangsa-bangsa itu dirusakbinasakan.
    60:13 Kemuliaan pepohonan, yaitu pohon sanobar, pohon berangan dan pohon cemara, dibawa bersama-sama kepada Satria Piningit, untuk semarakkan tempat Bait Kudus, sebab TUHAN hendak memuliakan tempat kaki Satria Piningit berjejak.
    60:14 Orang-orang yang menindas Satria Piningit datang kepada Satria Piningit dan tunduk, dan semua orang yang menista Satria Piningit sujud sembah telapak kaki Satria Piningit; mereka sebutkan Satria Piningit ” Kekasih TUHAN”, ” Indonesia milik Yang Mahakudus, Allah Bangsa.”
    60:15 Sebagai ganti keadaan Satria Piningit dahulu, ketika Satria Piningit ditinggalkan, dibenci dan tidak disinggahi seorangpun, sekarang TUHAN membuat Satria Piningit menjadi kebanggaan abadi, menjadi kegirangan turun-temurun.
    60:16 Satria Piningit mengisap susu bangsa-bangsa dan meminum susu kerajaan-kerajaan maka Satria Piningit mengetahui, bahwa TUHAN, Juruselamat Satria Piningit, dan Penebus Satria Piningit, Yang Mahakuasa, Allah Bangsa.
    60:17 Sebagai ganti tembaga TUHAN membawa emas, dan sebagai ganti besi TUHAN membawa perak; TUHAN memberikan damai sejahtera dan keadilan yang melindungi dan mengatur kehidupan..
    60:18 Tidak ada lagi kabar tentang perbuatan kekerasan di negeri Satria Piningit, tentang kebinasaan atau keruntuhan di daerah Satria Piningit; Satria Piningit disebut “Tembok Selamat” dan”Pintu Gerbang Pujian”.
    60:19 Bagi Satria Piningit matahari tidak lagi menjadi penerang pada siang hari dan cahaya bulan tidak lagi memberi terang pada malam hari, tetapi TUHAN menjadi penerang abadi bagi Satria Piningit dan Allah menjadi keagungan Satria Piningit.
    60:20 Bagi Satria Piningit ada matahari yang tidak pernah terbenam dan bulan yang tidak surut, sebab TUHAN menjadi penerang abadi bagi Satria Piningit, dan hari perkabungan berakhir.
    60:21 Penduduk Satria Piningit semua orang benar, mereka memiliki negeri untuk selamanya; mereka sebagai cangkokan yang tertanam sendiri untuk memperlihatkan keagungan TUHAN.
    60:22 Yang paling kecil menjadi kaum yang besar, dan yang paling lemah menjadi bangsa yang kuat; TUHAN melaksanakan dengan segera pada waktunya

  4. terus satrionya pergi ke pasar dengan menaiki elang besar dan bertarung dengan ular naga saat perjalanan pulang,,

  5. Satria Piningit Adalah Imam Yang Lebih Tinggi daripada Imam Lain
    7:11 Karena itu, andaikata oleh imamat telah tercapai kesempurnaan–sebab karena imamat itu umat telah menerima Hukum Imamat -apakah sebab masih perlu seorang lain ditetapkan menjadi Imam Besar menurut peraturan Melkisedek dan yang tentang Imam Besar tidak dikatakan menurut hukum imamat manusia?
    7:12 Sebab, jikalau imamat berubah, dengan sendiri akan berubah pula hukum imamat manusia itu.
    7:18 Memang suatu hukum yang dikeluarkan dahulu dibatalkan, kalau hukum itu tidak mempunyai kekuatan dan karena itu tidak berguna,
    7:13 Sebab Imam Besar, yang dimaksudkan di sini, termasuk dari suku lain; dari suku ini tidak ada seorangpun yang pernah melayani.
    7:14 Sebab telah diketahui semua orang, bahwa Imam Besar berasal dari suku Jawa dan mengenai suku itu Musa tidak pernah mengatakan suatu apapun tentang imam-imam.
    7:15 Dan hal itu jauh lebih nyata lagi, jikalau ditetapkan seorang Imam Besar menurut cara Melkisedek,
    7:16 yang menjadi Imam Besar bukan berdasarkan hukum imamat manusia, tetapi berdasarkan hidup yang tidak dapat binasa.
    7:17 Sebab tentang Satria Piningit diberi kesaksian: “Engkau adalah Imam untuk selamanya, menurut peraturan Melkisedek.”
    7:19 –sebab Hukum Imamat Taurat sama sekali tidak membawa kesempurnaan –tetapi sekarang timbul pengharapan yang lebih baik, yang mendekatkan manusia kepada Allah.
    7:20 Dan sama seperti hal ini tidak terjadi tanpa sumpah–memang Satria Piningit telah menjadi Imam tanpa sumpah,
    7:21 tetapi Satria Piningit dengan disumpah, diucapkan oleh Tuhan yang berfirman kepada-Nya: “Tuhan telah bersumpah dan Tuhan tidak sesal: Satria Piningit adalah Imam untuk selamanya” –
    7:22 demikianlah Satria Piningit adalah jaminan dari suatu perjanjian Imamat yang lebih kuat.
    7:23 Dan dalam jumlah yang besar mereka dukung Satria Piningit yang telah menjadi Imam Besar, karena mereka dicegah dari maut untuk itu Satria Piningit tetap menjabat Imam Besar.
    7:24 Tetapi, karena Satria Piningit tetap selamanya, Imamat Satria Piningit tidak dapat beralih kepada orang lain, sehingga Imamat Satria Piningit seumur langit
    7:25 Karena itu Satria Piningit sanggup juga selamatkan dengan sempurna semua orang yang oleh Satria Piningit datang kepada Allah. Sebab Satria Piningit hidup senantiasa untuk menjadi Pengantara mereka.
    7:26 Sebab Imam Besar yang demikianlah yang diperlukan: yaitu yang saleh, tanpa salah, tanpa noda yang terpisah dari orang bernoda dan lebih tinggi dari pada tingkat kuasa apapun,
    7:27 yang tidak seperti imam lain, yang setiap hari harus mempersembahkan korban untuk diri sendiri dan sesudah itu barulah untuk umatnya, beda hal itu dengan yang telah dilakukan Satria Piningit satu kali untuk selamanya, ketika Satria Piningit mempersembahkan diri sendiri sebagai Imam Besar.
    7:28 Sebab Hukum Imamat Taurat menetapkan orang yang diliputi Tuhan menjadi Imam Besar, tetapi sumpah, yang diucapkan kemudian dari pada Hukum Imamat Taurat, menetapkan Anak Allah, Satria Piningit yang telah menjadi sempurna sampai selamanya. Amiin!

  6. Ya

  7. Firman Yang Telah Menjadi Satria Piningit
    1:1 Pada mula adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah.
    1:2 Satria Piningit pada mula bersama-sama dengan Allah .
    1:3 Segala sesuatu dijadikan oleh Allah dan tanpa Allah tidak ada suatupun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan.
    1:4 Dalam Allah ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia .
    1:5 Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasai.
    1:6 Datanglah Firman Allah bernama Alkitab;
    1:7 Alkitab datang sebagai saksi untuk memberi kesaksian tentang terang itu, supaya oleh Alkitab semua orang menjadi percaya.
    1:8 Alkitab bukan terang itu, tetapi Alkitab harus memberi kesaksian tentang terang itu.
    1:9 Terang yang sesungguhnya, yang menerangi setiap orang, sedang datang ke dalam dunia.
    1:10 Satria Piningit telah ada di dalam dunia dan dunia dijadikan oleh Allah, tetapi dunia tidak mengenal Satria Piningit.
    1:11 Satria Piningit datang kepada milik kepunyaan sendiri, tetapi orang-orang kepunyaan itu tidak menerima Satria Piningit.
    1:12 Tetapi semua orang yang menerima Satria Piningit diberi kuasa supaya menjadi anak-anak terang, yaitu mereka yang percaya dalam nama Satria Piningit;
    1:13 orang yang diperanakkan bukan dari darah atau dari daging, bukan pula secara jasmani oleh keinginan manusiawi, melainkan dari Allah.
    1:14 Firman itu telah menjadi Satria Piningit, dan diam di antara manusia, dan manusia telah melihat kemuliaan Allah, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada Satria Piningit sebagai Anak Tunggal Allah, penuh kasih karunia dan kebenaran.
    1:15 Alkitab memberi kesaksian tentang Satria Piningit dan berseru,bunyi Alkitab: “Inilah Satria Piningit, yang dimaksudkan ketika Alkitab berbunyi: Kemudian dari pada Alkitab akan datang Satria Piningit yang telah mendahului Alkitab, sebab Satria Piningit telah ada sebelum Alkitab.”
    1:16 Karena dari kepenuhan Satria Piningit, manusia semua telah menerima kasih karunia demi kasih karunia;
    1:18 Tidak seorangpun yang pernah melihat Allah; tetapi Anak Tunggal Allah, yang ada di pangkuan Allah, Satria Piningitlah yang dinyatakan Alkitab.
    1:17 sebab hukum Taurat diberikan oleh Musa, tetapi kasih karunia dan kebenaran datang oleh Yesus Kristus.
    26:13 Yesus berkata kepada mu:” Sesungguhnya di mana saja Alkitab Injil ini diberitakan di seluruh dunia, apa yang dilakukan Satria Piningit ini akan disebut juga untuk mengingat Satria Piningit.” (Matius)

  8. […] di dalam penggunaannya jadi wajar bila ada beberapa kata atau lafal yang harus dikuasai dahulu (ingatlah kata Ronggowarsito dalam serat Kalatidha pupuh 258 tembang ke 4 :”senjatanya zikir&#8…). Untuk itu latihan menggunakan juga mengendalikan mukjizat itu tidak bisa dilakukan di bumi yang […]

  9. ???

  10. Jokowi dong org nya!(satrioPinandhitoSinisihanWahyu)
    udah dilantik jd RI-1 pd 20.10.14. YA KAN!?

  11. […] akan terjadi perang agung (huru hara) sebagai puncak kesengsaraan di zaman Kalabendu. Tapi dalam serat Kalatidha Ronggowarsito pupuh 258 tembang 1 disebutkan : “atas izin Allah SWT zaman Kalabendu hilang berganti zaman dimana tanah Jawa […]

  12. […] Sinisihan Wahyu yang artinya pemimpin yang religius dan bertindak menurut wahyu. Sementara dalam Serat Kalatidha Ronggowarsito pupuh 258 tembang 4 menyebut Sultan Herucokro “senjatanya zikir”. Sedangkan dalam ramalan 7 raja Samagama […]

  13. […] seperti “Tensihan, Pikolo, Karin, Mr. Popo, Vegeta dll. Keadaan ini sama dengan bunyi dalam Serta Kalatidha Ronggowarsito Pupuh 258 tembang ke 5 yaitu “mung sirollah prajuritnya” Artinya balanya makhluk halus ciptaan Allah […]

  14. […] Al-Qur’an. Zikir atas ayat-ayat dalam Al-Qur’an itulah jawabannya. Hal ini sesuai dengan bunyi tembang ke 4 pupuh 258 Serat Kalatidha Ronggowarsito yaitu “senjatanya zikir […]

  15. Salam 666 (The Great Beast), can anybody find me somebody to love?

  16. SATRIO PINANDITO SINISIHAN WAHYU.Tokoh pemimpin yang alim, polos, sederhana, serta Religius (Pinandito) dan akan senantiasa bertindak atas dasar hukum / petunjuk dari tokoh di atasnya (sinisihan wahyu)……….

  17. kalian yg liat tulisan saya INI!!! artiin setiap nama orang yg kalian anggap punya sifat & sikap kepemimpinan hebat dan adil yg pernah kalian lihat lalu ramalkan. trmasuk nama kalian sendiri. Truuuzzz kalo kalian cerdas kalian akan tau maksudnya knp saya suruh sperti itu… hahahahahahahahahahahahahaha

  18. yang masih perokok atau akan jdi perokok jangan komentari saya yaaaa…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Atlantis in the Java Sea

A scientific effort to match Plato’s narrative location for Atlantis

sembrani

bertukar ide, melampaui mimpi bersama

Nurul Wirda

0812-8267-9182

aawanto

The greatest WordPress.com site in all the land!

Covert Geopolitics

Beyond the Smoke & Mirrors

Catatan Harta Amanah Soekarno

as good as possible for as many as possible

Women Terrace

to say something that i never talk before

Kanzunqalam's Blog

AKAL tanpa WAHYU, akan berbuah, IMAN tanpa ILMU

Cahayapelangi

Cakrawala, menapaki kehidupan nusantara & dunia

religiku

hacking the religion

SANGKAN PARANING DUMADI

Just another WordPress.com site

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

%d blogger menyukai ini: