Tinggalkan komentar

Kearifan Lokal Bugis (Kerajaan Wajo)

Andi Arief Dua
BELAJARLAH MENCAPAI WAJO
Bangsa kita dianggap memiliki kebiasaaan negatif seperti pemalas, tidak bermental baja, gampang diadu domba, mental jajahan, konsumtif, tak percaya diri dll. Sejumlah analis kehilangan akal untuk menjawab Apakah sesungguhnya yang mampui merubah kebiasaan itu.

Sesungguhnya banyak contoh suku bangsa kita yang menolak pasrah. Bugis , di sulawesi selatan miliki tradisi kuat melawan Hal yang tidak jelas dan Hal yang tidak dipahami. jangan pasrah pada Anu temmanessae sibawa Anu tenripahangnge.

Masyarakat Bugis masa lalu percaya, prilaku pemimpin, sistem dan etos (pendorong kualitas) akan menentukan kondisi kehidupan dan kebiasaan baru mereka. Menurut tradisi bugis, “Lele buluu tellele abiasang, naekia lelemoo abiasangengnge, abiasang toopa palelei“. Artinya Gunung dapat berpindah tapi kebiasaan tidak dapat berpindah, namun kebiasaan dapat berpindah jika kebiasaan pula yang memindahkannya.


Pendorong kualitas utama manusia Bugis yang disebut juga “sulapa’ eppa’” (segi empat). Keempat kualitas atau sifat merupakan modalitas yang harus dimiliki setiap pemimpin. panrita (bijak dan jujur), warani (berani), macca (cerdas) dan sugi (kaya).

Seperti halnya konsep resi, batara guru dll, Sejarah Bugis memberi peran kuat pada kelompoc cerdik cendikia sebagai motor perubahan. mereka disebut to-panrita. Kelompok manusia jujur dan cerdas di berbagai bidang yang dikonsentrasikan dan menghasilkan produk dari mulai sistem sosial/hukum sampai pada teknologi transportasi, bangunan, pertahanan dll.

Menurut Matulada, “Kualitas dan kapasitas utama to-panrita bisa disimpulkan dari paseng (petuah) Ma’danrengngè ri Majauleng yang bernama La Tenritau:Aja’ nasalaiko acca sibawa lempu” (Milikilah kecerdasan dan kejujuran kapan saja). Yang dimaksud La Tenritau dengan acca adalah kemampuan mengerjakan semua pekerjaan dan menjawab semua pertanyaan serta kecakapan berkata-kata baik, logis dan lemah lembut sehingga menimbulkan kesan baik pada orang lain. Sementara lempu’ adalah pola pikir dan prilaku yang selalu benar, tabiat baik dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Esa”

Tidak heran jika pernah ada peradaban idaman yang sangat maju saat Kerajaan Wajo miklki filosof dan cendekia besar yang legendaris bernama La Tiringeng yang memberikan fondasi kuat berkembangnya peradaban. Di antara sekian banyak petuah, ada satu hal yang jika kita tarik ke level negara masih relevan yaitu, “Napoallebirengngi to Wajoè, maradèkaè, na malempu, na mapaccing ri gau’ salaè, marèso mappalaong, na maparekki ri warang-paranna”. Artinya Orang Wajo mulia karena mereka memiliki kebebasan, kejujuran, kesucian dari prilaku buruk, kerajinan bekerja, dan memelihara harta benda.

Puncaknya Peradaban hebat Wajo saat dipimpin Arung Matoa Wajo ke-4 Puang Ri Maggalatung yang juga brilyan, salah satu faktor penting yang membawa Wajo mencapai puncak adalah harmoni antara penguasa (Puang Ri Maggalatung) dan cendekiawan atau to-panrita.

Menurut beberapa kisah, di era Puang Ri Maggalatung yang benar-benar berdaulat, kuat dan disegani. Ada prinsip yang menggema dan menggambarkan hebatnya peradaban wajo; “Maradèka to Wajo’è, najajiang alèna maradèka, tanaèmi ata, naia to makkètanaè maradèka maneng, ade’ assamaturusennami napopuang.”. ArtinyaOrang Wajo itu merdeka dan dilahirkan merdeka. Hanya tanah yang menjadi budak sementara manusia yang hidup di atasnya adalah merdeka.

Digambarkan oleh beberapa sejarawan berdasarkan penelitian naskah-naskah, di Era gemilang ini sampai mampu memberikan jaminan pada yang masih belum muncul ke dunia. para bayi-bayi yang belum terlahir sudah diurus dan bukan lagi menjadi tanggung jawab orang tuanya. Kebijakan Puang Ri Maggalatung disebutkan “Ri laleng tampu’ mupi namaradèka to Wajo’è.”. artinya Bahkan semenjak masih dalam kandungan, orang-orang Wajo sudah merdeka

Menariknya. Bugis memiliki tradisi pencatatan yang luar biasa dan sudah mengenal berbagai ilmu pengetahuan seperti yang terkumpul dalam ribuan naskah berbagai bentuk. Seperti Ribuan naskah Sunda, jawa dll yang menggambarkan dahsyatnya produk budaya kaum cendeikia. Puluhan ribu naskah para cendekia tidak mungkin hasil karya sedikit orang. Kita bisa berhipotesa kaum cendikia juga ada dalam jumlah besar.

Sebagaimana konsep Resi ratu dan datu di peradaban sundaland (hipotesa), Bugis juga bisa disimpulkan memang istimewa. jauh sebelum eropa punya sistem pemerintahan demokrasi yang tertata paska feodalisme, Wajo sudah pernah sukses mempraktekkannya. Mekanisme check and balance sebagai ciri utama demokrasi sudah lebih dulu ditempuh peradaban Wajo. Berbeda dengan feodalisme turun temurun, Wajo miliki raja atau pemimpin yang disebut arung matoa Wajo bukan diwarisan tetapi dipilih oleh Arung Patappuloe [40 bangsawan utama], lembaga semacam DPR).

Mengingat kebesaran Bugis, yang menjadi persepsi kini adalah berpetualang ke mana-mana, mendiami areal dekat pantai, transportasi perahu dan posturnya macho. Dimana bangunan berpilar yang menjadi tradisi bangunan hebatnya. Sebuah buku menyebutnya pilar bugis sepanjang masa.

  • Dini Setyowati Izin share
  • Faisol Afero Negeri ini harus dikembalikan pada budaya, adat-istiadat dan jati diri bangsanya. Demokrasi yg kita anut sekarang sdh berseberangan dgn demokrasi asli indonesia: musyawarah-mufakat. Contoh: Arung Pattapuloe di Bugis, tuanku datuk/wali nagari di minangkabau, dlsbnya semacam dewan adat di suku2 bangsa Indonesia. Hal utama kenapa Jepang dan China menjadi negara besar/ negara maju, krna mereka tetap menjunjung adat-istiadat dan budaya asli mereka; meskipun di jaman modern dan teknologi tinggi saat ini. Sdh bermunculan kesadaran anak-bangsa dan warga negara ttg ini, melalui ormas, paguyuban, komunitas seni-budaya, dll. Kita nantikan political will pemerintah syah dan penyelenggara negara. Ingat prestasi gemilang jaman Sriwijaya, jaman Majapahit dlsbnya. Negara kuat karena ada pemerintahan yg kuat!!! Pemerintahan yg kuat lahir dari pemimpin2 yg kuat dan amanah. Salam Restorasi!!!
    3 hours ago · Like · 2
  • To Ogi Jangan lupa dgn kitab sakral masyarakat Bugis, La Galigo. Salah satu teks sastra terpanjang di dunia. La Galigo adalah sebuah epik mitos dari peradaban Bugis berisi tentang penciptaan dan asal-usul manusia. Ditulis dgn huruf Lontara Bugis kuno, setebal 6000 halaman dgn 300.000 baris teks. Itupun masih banyak lg penggalan kisah dari La Galigo yg masih hilang
  • Chaedar Saleh saya sangat sepakat dengan bang Andi, budaya orang2 laut yang kala melaut tak ragu walau titik tujuan tak terlihat, semata keyakinan bahwa “ada tempat mendarat disana, maju terus!”. sayang sekali, dari ribuan anggota DPR/D yang digaji dengan dana rakyat itu, berapa banyak yang, maaf, “tercerahkan”? yang merasa cukup berijazah slta, lalu sering2 aja study banding
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Atlantis in the Java Sea

A scientific effort to match Plato’s narrative location for Atlantis

sembrani

bertukar ide, melampaui mimpi bersama

Nurul Wirda

Semerbak Mawar yang dengan senang hati memancarkan Cahayanya

aawanto

The greatest WordPress.com site in all the land!

Covert Geopolitics

Beyond the Smoke & Mirrors

Catatan Harta Amanah Soekarno

as good as possible for as many as possible

Women Terrace

to say something that i never talk before

Kanzunqalam's Blog

AKAL tanpa WAHYU, akan berbuah, IMAN tanpa ILMU

Cahayapelangi

Cakrawala, menapaki kehidupan nusantara & dunia

religiku

hacking the religion

SANGKAN PARANING DUMADI

Just another WordPress.com site

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

%d blogger menyukai ini: