Tinggalkan komentar

PURNAWARMAN RAJA MENDUNIA

Yuddy Aditiawan

PURNAWARMAN RAJA MENDUNIA 

oleh Hejang Hadian Ridwan

Apa ada yang berkeberatan? Jangan berkeberatan dulu karena itu yang ditulis di dalam isi prasasti Ciaruten. Mendunia tidak berarti seluruh dunia, tapi lebih tepat artinya bahwa Raja Purnawarman mempunyai daerah kekuasaan yang luas, tidak hanya Tarumanagara, bisa jadi seluruh nusantara yang kita kenal sekarang.

Kemudian simbol-simbol pada prasati Ciaruteun berupa simbol lebah, teratai dan laba-laba mempunyai makna yang sangat luas. Pertama. Sepasang lebah mengenai sistem kehidupan berbangsa dan bernegara. Kedua. Teratai, mengenai sistem kehidupan beragama dalam masyarakat pada masa itu. Ketiga, Laba-laba, tepatnya jaring laba-laba, ini menganai sistem pertahanan negara. Tentu semuanya dimaksud pada masa Kerajaan Tarumanagara.

Data simbol-simbol tersebut diatas terdapat pada batu prasasti Ci-Aruteun, ditemukan pada aliran sungai Ci-Aruteun, seratus meter dari pertemuan sungai tersebut dengan Ci-Sadane, namun pada tahun 1981 prasasti diangkat dan diletakkan di dalam cungkup. Prasasti ini ditandai sebagai peninggalan Kerajaan Tarumanagara, berhuruf Palawa dan bahasa Sanskerta. Isinya adalah puisi empat baris, yang berbunyi:
vikkrantasyavanipateh shrimatah purnavarmmanah tarumanagararendrasya vishnoriva padadvayam

Terjemahannya menurut Vogel:
Kedua (jejak) telapak kaki yang seperti (telapak kaki) Wisnu ini kepunyaan raja dunia yang gagah berani yang termashur, Purnawarman penguasa Tarumanagara.

Selain tulisan, terdapat juga gambar sepasang “padatala” (telapak kaki), yang menunjukkan tanda kekuasaan. Ukiran bendera dan sepasang lebah dengan jelas ditatahkan pada batu prasasti, terdapat juga ukiran kepala gajah bermahkota teratai. Demikian pula tentang ukiran sepasang tanda di depan telapak kaki ada yang diperkirakan sebagai lambang laba-laba, bisa juga matahari kembar atau kombinasi surya-candra (matahari dan bulan), bisa juga campuran keduanya.

http://menguaktabirsejarah.blogspot.com/2012/06/purnawarman-raja-mendunia-i.html

PURNAWARMAN RAJA MENDUNIA
ANALISA SIMBOL LEBAH, TERATAI DAN LABA-LABA
Pertama tentang lebah. Coba pembaca resapi, renungkan dan pikirkan dari uraian tentang lebah. Seandainya simbol sepasang lebah itu bertujuan untuk memberikan informasi mengenai sistem kehidupan berbangsa dan bernegara dalam kerajaan Tarumanagara, artinya Kerajaan Tarumanagara sudah mengalami peradaban begitu maju luar biasa. Sempurna sebagai sebuah bangsa dan negara dalam tata dan aturan yang mereka miliki serta konsep kehidupam semua elemen didalamnya. Tidak termasuk katagori peradaban terbelakang, kuno atau bahkan purba malah sangat maju.

Mereka sudah mampu menerapkan sistem kehidupan normal yang hampir sama dengan kehidupan kita sekarang, bahkan kalau benar-benar sifat kehidupan itu sesuai dengan sifat lebah diatas secara faktual dan nilai, mereka jauh beradab dari kita sekarang. Nilai-nilai disini maksudnya tidak dipengaruhi dan bukan berbicara masalah tehnologi.

Wajar seandainya Kerajaan Tarumanagara menjadi idola, contoh, dan sumber inspirasi bangsa-bangsa lain. Disegani, ditakuti atau bahkan dijadikan induk bagi kerajaan-kerajaan yang lainnya. Mempunyai tingkat kehidupan sosial dan budaya yang sudah sangat teratur dan tersusun sistematis. Biasanya bangsa seperti ini adalah bangsa yang besar, dihargai dan disegani pada masanya. Lihat kembali poin-poin tentang lebah. Penulis merasa relevansinya  tidak perlu dijabarkan atau dijelaskan lagi, penulis yakin pembaca bisa memaknainya secara sempurna.
Kedua tentang Teratai. Ini merupakan simbolisasi dari nilai-nilai spiritual, religius, yang berkembang dalam kehidupan berkenegaraan di Kerajaan Tarumanagara. Memberikan tanda atau informasi kepada kita bahwa masyarakat Tarumanagara sebagian besar masyarakatnya yang sudah memiliki kepercayaan kepada Sang Pencipta atau beragama, tidak lagi animisme, walaupun pada kenyataannya mungkin saja masih ada aliran kepercayaan animisme. Bukan pada masa itu, masa sekarang pun penulis yakin masih ada kalau berbicara masalah animisme, khusus di negara kita ya! Jangan melebar kemana-mana.
Bukankah agama berasal dari bahasa sansekerta? “a” berarti tidak, “gama” berarti kacau. Karena digabung jadi pengertian agama mengadung arti kata “tidak kacau” artinya orang beragama adalah orang yang hidupnya tidak kacau. Masyarakat beragama adalah masyarakat yang tidak kacau, masyarakat yang sudah patuh dan taat terhadap aturan yang diajarkan dan dibimbing oleh nilai-nilai kepercayaannya yang dianut, ada pola keteraturan dalam bermasyarakat dalam hal ini.
Jelas sudah! Bahwa Kerajaan Tarumanagara adalah kerajaaan yang beragama, kerajaan yang hidup berdasarkan nilai-nilai kepercayaan yang meraka jalankan. Inilah yang menjadi ciri bahwa Kerajaan Tarumnagara sudah mempunyai peradaban yang tinggi.
Dan mohon atau harap pembaca ingat pula! Bahwa setiap pemeluk (atau umat) agama yang hidup pada masa mendekati kelahiran atau kemunculan agama tersebut cenderung lebih bisa menjiwai secara nilai-nilai psikologis dan prakteknya. Ya atau Tidak? (dijawab “atau” supaya aman hehehe). Ssttt!…ini berlaku loh untuk semua agama atau kepercayaan manapun. Artinya secara penerapan nilai-nilai keagamaan, tentunya mereka lebih baik dari masa sesudahnya. Apa masa sekarang termasuk “masa sesudahnya”? masa gitu aja harus penulis jawab sendiri hehehe. Lihat diri pribadi dan lingkungan sekitar kita, bandingkan dengan masa awal kemunculan agama atau kepercayaan yang kita anut. Pasti pertanyaan diatas dapat terjawab dengan sempurna.
Ketiga tentang laba-laba. Penulis memaknai uraian tentang laba-laba diatas yaitu bahwa Tarumanagara sebagai sebuah negara atau kerajaan yang sudah terbentuk menjadi sebuah bangsa yang berdaulat, tentunya untuk mempertahankan kedaulatanya perlu sistem pertahanan negara yang kuat seandainya ingin tetap disebut sebagai sebuah negara. Tanpa itu, dalam waktu cepat Tarumanagara akan wassalam, tamat! Jangan harap bisa terus berdiri.
Simbolisasi laba-laba yang mau disampaikan adalah sebuah simbol yang berisikan nilai filosofis terhadap pertahanan negara yang menggunakan sistem jaring laba-laba.
Sistem pertahanan negara yang mempunyai sifat elastis, pleksibel, kuat dan perangkap mematikan serta daya tahan luar biasa bahkan nilai-nilai sportif pun ada alias fair play atau kesatria, juga kelihatan dalam hal ini simbol jaring laba-laba digabung dengan sifat lebah, alhasil akan memenuhi sekali kriteria “art of war” yang diajarkan Tsun Shu, ahli strategi perang masa kerajaan China, sebagai mana uraian tentang laba-laba dan lebah sebelumnya. Kalau penasaran baca lagi tentang uraian mengenai jaring laba-laba dan lebah diatas, adakalanya menyerang dengan ganas dan cepat, tapi adakalanya bertahan total tapi membuat pihak lawan tidak berdaya.
Tapi dari uraian diatas juga disebutkan bahwa jaring laba-laba harus selalu di maintaince atau dipelihara. Tentunya ini sangat logis dan alamiah, segala sesuatu pun tidak ada yang kekal kalau berhadapan dengan sang waktu dan kondisi alam yang mempengaruhinya. Pemeliharaan yang dilakukan adalah dengan terus melakukan evaluasi terus menerus dan selalu meningkatan kemampuan diri misal dari sisi tehnologinya. Jangan lupa yang satu ini yaitu yang paling utama adalah semangat masyarakat kerajaannya yang harus terus dijaga, ditingkatkan, dipupuk dan selalu ditempa sehingga semangat bela negara tetap kokoh, karena itu rohnya. Dan ini sangat tergantung raja dan perangkatnyalah yang mampu melakukan pemelihara tersebut, kewajiban sebagai penguasa atau pemerintah setempat.
Sungguh kerajaan Tarumanagara mempunyai konsep filosofi yang sangat luar biasa untuk sistem pertahanan negaranya. Apakah saat sekarang masih relavan? Konsep ini keliahatanya berlaku sepanjang masa. Ini adalah warisan dari peradaban jaman dahulu kala, ini pun jika kita mampu memaknainya, teramat berharga nilai-nilai yang diwarisankan kepada kita, walau dalam bentuk simbol, kewajiban kitalah untuk menggali dan mendalaminya.
Baca lagi tentang lebah, walau tanpa catatan mereka mampu mengingat dengan sempurna  Ibarat orang tuna netra tapi mereka terlatih dengan indra lain untuk menggantikan fungsi penglihatanya. Dengan demikian walaupun menurut peradaban saat ini keliahatan tidak mungkin, tapi kenyataannya seperti itu, kehidupan bernegara dapat dijalankan dengan apik. Makanya pada masa lampau setiap catatan undang-undang dan peraturan bernegara yang diberlakukuan untuk seluruh masyarakatnya cukup dengan berupa syair. Syair itulah pengganti dari catatan dalam kehidupan pada saat itu, dan itu lebih paten, bisa dihapal dan dicerna masyarakatnya, dan itu sangat efektif. Bandingkan dengan kehidupan masa kini. Siapa diantara kita yang hapal KUHAP atau peraturan perundangan lainya? padahal sudah dicatat dan dibukukan.
PURNAWARMAN RAJA MENDUNIA
KEDUA TENTANG TERATAI (TERATAI=PADMA)
Karena kerajaan Tarumanagara adalah kerajaan beragama Hindu, maka bahasan tentang teratai akan dilakuan dalam kontek agama Hindu juga, sumber materinya berasal dari kitab-kitab Upanisad. Kitab-kitab itu kurang lebih menyatakan bahwa dalam agama Hindu ada banyak sekali media yang digunakan sebagai sarana untuk memuja Sang Pencipta, salah satunya adalah Padmasana, Di Padmasanalah Sang Pencipta itu disthanakan.
Kata Padmasana berasal dari bahasa Sansekerta yaitu dari kata Padma yang artinya teratai dan Asana artinya sikap duduk atau tempat duduk. Jadi Padmasana berarti tempat duduk yang berbentuk teratai. Oleh sebab itu pelinggih (Bangunan Pura) yang paling utama disebut Padmasana. Bangunan ini pada bagian bawahnya berbentuk kembang teratai, di atas kembang teratai inilah bangunan Padmasana didirikan. Bunga teratai itu simbol dari tempat duduk atau berdirinya dewa-dewa. Mengapa dipilih bunga teratai? Karena bunga teratai mempunyai kelainan dengan bunga-bunga pada umumnya. Di antaranya sebagai berikut:
  • Bunga teratai akar dan pangkalnya tumbuh di dalam lumpur, batangnya berada di air dan bunganya berada di atas air. Dengan demikian bunga teratai hidup di tiga alam yaitu alam lumpur, air, dan udara. Di dalam, ajaran agama Hindu Hyang Widhi disebutkan bertahta di atas tiga alam ini, sebagai penguasa Tri Bhuwana yaitu alam Bhur, Bwah, dan Swah. Hidup bunga teratai di dalam tiga alam inilah yang diidentikkan dengan Bhur, Bwah, dan Swah sehingga bunga teratai bisa dianggap simbol Tri Bhuwana.
  • Bunga teratai walaupun hidup di lumpur yang busuk dan hidup di air tetap berbau harum dan tidak basah oleh air. Sebab itu maka bunga teratai dianggap sebagai lambang kesucian, bebas dan ketidakterikatan. Ida Sang Hyang Widhi walaupun Beliau menciptakan dunia dan berada di dunia, Beliau bebas dan ketidak terikatan dunia. Kesamaan ini menyebabkan bunga teratai sebagai simbol sthana Hyang Widhi.
  • Bunga teratai mempunyai tangkai bunga yang lurus dan pangkal yang berada dalam lumpur sampai ke sari bunganya yang berada di atas air. Sesuatu yang lurus itu biasanya dipakai sebagai simbol yang baik.
  • Meskipun bunga daun (kelopak daun) bunga teratai itu lebih dari delapan kelopak, tetapi di dalam mythologi selalu dilukiskan bahwa daun kelopak bunga teratai itu berjumlah delapan, dengan tepung sari di tengah sebagai simbol Hyang Widhi yang menguasai seluruh penjuru mata angin dikenal dengan gelar Dewata Nawa Sanggha, terdiri dari Dewa Iswara, Maheswara, Brahma, Rudra, Mahadewa, Sangkara, Wisnu, Sambu, dan Siwa.
Demikianlah beberapa hal keistimewaan bunga teratai sehingga dipakai simbol dari linggih atau sthana Hyang Widhi. Padmasana pada hakekatnya adalah merupakan simbol dari bumi ini atau Bhuwana Agung (alam semesta) karena alam semestalah merupakan sthana Hyang Widhi di dunia ini. Untuk merealisasikannya maka diwujudkanlah dalam bentuk Padmasana. Hal ini dapat diketahui dari perlengkapan Padmasana tersebut yaitu:
  1. Bedawang Nala yang dililit oleh dua ekor Naga. Bedawang Nala adalah simbol dasar dari Bhuwana Agung maupun Bhuana Alit. Konon katanya di dasar bumi ini ada Bedawang Nala yang dililit oleh ular naga sehingga Bedawang Nala itu tidak bisa bergerak. jika naga itu terbuai atau tidur maka Bedawang Nala itu akan menggerakkan tubuhnya sehingga menimbulkan gempa. Binatang apa sebenarnya Bedawang Nala itu ? Di dalam lukisan arsitektur Bali Bedawang itu selalu dilukiskan sebagai penyu atau kura-kura yang kepalanya mengeluarkan api. Kata nala yang berasal dari kata anala (sanskrit) yang artinya api. Di dalam lontar Adi Parwa, Brahmanda Purana maupun Agastya Parwa, Badawang Nala itu dilukiskan sebagai Bedawang api yang berkepala kuda yang meminum air di lautan. jika kita hubungkan dengan pengetahuan geologi maka yang dimaksud dengan Bedawang Nala rupa-rupanya adalah magma api yang ada di kerak bumi. Jika magma itu bergerak maka akan menimbulkan gempa tektonik. Jika terjadi letusan gunung berapi maka lahar yang mengalir keluar tampak seperti kepala kuda yang menyala.
  2. Burung Garuda yang dilukiskan di belakang Padmasana, Simbol apakah Garuda itu? Gambar garuda ini ada hubungannya dengan cerita Sang Garuda yang terdapat di dalam Adi Parwa. Inti ceritanya adalah Sang Garuda yang mampu membebaskan dirinya dari ibunya Sang Winata dari perbudakan Sang Kadru dan anaknya. Dengan tebusan berupa tirta amerta yang diperolehnya dari Dewa Wisnu setelah Sang Garuda bersedia menjadi kendaraan Dewa Wisnu. Jadi Garuda itu tidak lain adalah simbol manusia yang mencari pembebasan dari perbudakan benda-benda duniawi. Apakah manusia bisa membebaskan diri dari perbudakan benda-benda material/duniawi? Jawabannya adalah Tirta Amerta. Apa yang dimaksud dengan Amerta itu? Amerta artinya tidak mati-mati atau keabadian, Siapa yang tidak bisa mati hanya Tuhan! Barang siapa yang telah bisa mencapai Tuhan mereka tidak lagi terikat oleh kemelekatan benda-benda duniawi ini, mereka bebas dari perbudakan benda, mereka mencapai moksa (kebebasan).
  3. Angsa juga dilukiskan dibelakang Padmasana tepatnya di atas burung Garuda. Wujud Angsa itu selalu diwujudkan dengan sayapnya yang mengepak-ngepak. Menurut lontar “Indik Tetandingan” wujud angsa dengan sayap mengepak itu adalah simbol dari ardha candra, windu, dan nada. Kedua sayap yang mengepak menggambarkan ardha candra, windu, dan nada. Kedua sayap yang mengepak menggambarkan ardha candra, kepala angsa menggambarkan windu, dan mulut atau cocor angsa menggambarkan nada. Sumber yang lain dijumpai di dalam Upanisad yang menyebutkan: “Atma yang ingin bersatu dengan Brahman itu seperti burung angsa yang mengepak-ngepakkan sayapnya”. Maka kesimpulannya lukisan Angsa pada Padmasana adalah simbol manusia yang ingin kembali kepada Sang Hyang Widhi, yang juga disebutkan amoring acintiya.
  4. Naga Taksaka yang digambarkan pada Singhasana yang berbentuk menyerupai kursi. Naga Taksaka itu dipakai untuk menghiasi kedua tangan dan kedua kursi itu. Demi untuk kepentingan keindahan (seni rupanya) Naga Taksaka (yang bersayap) itu dilukiskan dua ekor. Naga Taksaka adalah merupakan simbol dari lapisan terakhir dari bumi yang juga membungkus kulit bumi tetapi selalu bergerak yaitu udara yang mengambil tempat di angkasa atau melambangkan / atmosfier bumi.
  5. Acintya yang dilukiskan di Singhasana Padmasana. Acintya mempunyai arti tak terpikirkan. Dengan demikian Acintya adalah simbol bahwa Tuhan itu tak terpikirkan. Dalam kitab-kitab Upanisad menyatakan bahwa Tuhan itu sangat sulit diberikan batasan, sebab batasan cendrung mempersempit dari pengertian Tuhan Yang Maha Agung itu. “Neti-neti”, bukan itu, bukan ini?
KETIGA TENTANG LABA-LABA (JARING LABA_LABA)
Jaring laba-laba terbuat dari benang-benang kerangka penahan-beban dan benang-benang spiral penangkap berlapiskan zat perekat yang diletakkan di atasnya, serta benang-benang pengikat yang menyatukan kesemuanya. Benang-benang spiral penangkap tidak sepenuhnya terikat pada benang-benang perancah. Dengan ikatan seperti ini, makin banyak korban bergerak makin terjerat ia pada jaring. Saat melekat ke seluruh tubuh serangga korban, benang-benang penangkap secara berangsur-angsur kehilangan elastisitasnya, dan semakin kuat serta semakin kaku. Karenanya, korban terperangkap dan tak dapat bergerak. Setelah itu, bagai paket makanan hidup, mangsa yang terbungkus benang-benang perancah alot ini tak memiliki pilihan lain kecuali menanti kedatangan laba-laba untuk melakukan serangan terakhir.
Daya Redam dan kejut Jaring Laba-laba
Untuk menjadi perangkap yang efektif, jaring laba-laba tidak cukup hanya bersifat lengket atau terbuat dari benang-benang dengan karakteristik yang berbeda-beda. Misalnya, jaring tersebut harus dirancang sedemikian rupa sehingga dapat menangkap serangga yang sedang terbang. Jika kita andaikan serangga yang tertangkap jaring sebagai peluru kendali, maka menghentikan serangganya saja tidak lah cukup. Mangsa yang tertangkap jaring harus dibuat tidak bergerak sehingga laba-laba dapat mendekatinya dan menggigitnya. Menangkap peluru kendali dan menghentikannya bukan lah pekerjaan yang mudah.
Selain kuat, benang-benang yang membentuk jaring laba-laba juga elastik. Namun tingkat elastisitasnya pada masing-masing daerah berbeda. Elastisitas ini penting untuk alasan-alasan berikut ini:
  1. Jika tingkat elastisitasnya lebih rendah dari yang diperlukan, serangga yang terbang menuju jaring akan terpental balik seperti menubruk sebuah pegas yang keras.
  2. Jika tingkat elastisitasnya lebih tinggi dari yang diperlukan, serangga akan memolorkan jaring, benang-benang lengket akan menempel satu sama lain dan jaring tersebut akan kehilangan bentuknya.
  3. Pengaruh angin telah masuk dalam perhitungan elastisitas benang. Jadi, jaring yang teregang oleh angin dapat kembali ke bentuk semula.
  4. Tingkat elastisitas juga sangat berhubungan dengan benda yang melekat pada jaring. Sebagai contoh, jika jaring melekat pada tumbuhan, elastisitasnya harus mampu menyerap setiap gerakan yang disebabkan tumbuhan tersebut.
  5. Benang-benang penangkap yang terjalin berbentuk spiral letaknya saling berdekatan satu dengan lainnya. Ayunan kecilpun dapat saling melekatkan satu dengan lainnya, dan menyebabkan celah-celah pada medan perangkap. Itulah sebabnya benang-benang penangkap yang lengket dan berelastisitas tinggi ini terletak di atas benang-benang kering yang berelastisitas rendah. Ini untuk mencegah potensi terbentuknya celah untuk lolos.
Seperti telah kita lihat, pada setiap segi jaring dapat kita lihat suatu keajaiban struktural dan ini yang menciptakan sifat redam-kejut pada jaringnya.
Pemeliharan Jaring laba-laba
Jaring laba-laba memerlukan pengurusan yang terus menerus, karena bagian spiral lengketnya bisa rusak oleh hujan atau oleh gerakan mangsa yang berusaha lolos. Lebih dari itu, debu yang menempel pada jaring dapat merusak daya lekat benang-benang spiral.
Bergantung pada letaknya, dalam waktu yang singkat – 24 jam, sebuah jaring bisa kehilangan sifat-sifat yang membuatnya mampu menangkap serangga. Karena alasan inilah, jaring dibongkar secara berkala dan dibangun kembali. Laba-laba makan dan mencerna benang-benang jaring yang dibongkarnya. Ia menggunakan asam-asam amino dari benang yang dicernanya untuk membangun jaring yang baru. (Bilim ve Teknik Görsel Bilim ve Teknik Ansiklopedisi (Science and Technology Gorsel Science and Technology Encyclopedia), p. 1090).
Peringatan Kepada Burung dan Penyamaran
Laba-laba cenderung membangun jaringnya, yang demikian berharga baginya, di tempat yang sunyi. Alasannya adalah untuk menghindari kerusakan oleh binatang-binatang atau oleh kondisi-kondisi alam. Laba-laba menggunakan cara-cara yang menarik untuk melindungi jaring-jaring mereka. Salah satu yang paling menarik adalah jaring laba-laba Argiope di Amerika Tengah. Laba-laba ini meletakkan marka-marka zigzag putih mengkilat pada jaringnya. Marka-marka ini untuk memperingatkan burung agar tidak terbang kedalam jaring. Laba-laba ini juga menggunakan marka-marka ini untuk bersembunyi di belakangnya. Ia menanti di belakang marka-marka ini agar mangsa tidak melihatnya.
Laba-laba telah menggunakan model-model ini di seluruh dunia sejak pertama kali mereka muncul. Laba-laba, seperti mahluk hidup lainnya, berbuat hanya berdasarkan inspirasi dan tuntutan situasi yang ada dan sebagai cara untuk bertahan hidup. Belajar dari sifat dan kehidupan laba-laba, Inilah merupakan fitrah setiap mahluk hidup yang dianugrahkan Tuhan segala kelebihan dan kekurangannya sesuai dengan kondisi kehidupan yang dihadapainya.
Mengenai kekuatan jaring laba-laba Tempo.CoBoston mengungkapkan bahwa para ilmuwan di Amerika Serikat berhasil menemukan jawaban mengapa jaring laba-laba mampu menahan kekuatan besar. Mereka mengklaim temuan ini dapat digunakan untuk membantu merancang bahan berkekuatan super generasi baru.
Menurut para ilmuwan, kekuatan luar biasa jaring laba-laba tidak hanya disebabkan bahan baku benang sutra yang memang alot, tapi juga desain rumit jaring itu sendiri.
Markus Buehler dari Massachusetts Institute of Technology di Boston mengatakan, kekuatan sesungguhnya dari jaring laba-laba tidak terletak pada benang sutra penyusunnya. “Tapi pada perubahan sifat mekanis ketika ada yang mengenai jaring itu,” ujar dia.
Struktur kompleks jaring berperan penting. Ketika salah satu untaian benang putus atau rusak, misalnya, kekuatan keseluruhan jaring laba-laba justru semakin meningkat. Menurut Buehler, pembuatan jaring menyita sebagian besar energi laba-laba sehingga hewan itu butuh desain yang mencegah perbaikan besar ketika jaring rusak.
Para ilmuwan juga menemukan benang sutra pada jaring laba-laba memiliki kemampuan untuk menjadi lunak atau kaku, tergantung seberapa besar beban yang mengenainya. “Ini tidak seperti serat alami atau buatan manusia lainnya,” kata Buehler lagi.
Para ilmuwan membandingkan benang sutra laba-laba dengan tiga bahan lain sebagai pembuat jaring. Ternyata, sutra laba-laba enam kali lebih tahan terhadap kerusakan ketika tertimpa ranting jatuh atau angin kencang.
Begitu pula ketika diberi beban tambahan. Hanya satu jalinan benang sutra laba-laba yang rusak. Dengan kerusakan minim itu, laba-laba hanya perlu melakukan perbaikan kecil pada jaringnya setiap ada kerusakan daripada membuat jaring baru.
Yang juga mengejutkan, ketika para peneliti mengurangi beban hingga 10 persen dari berbagai titik pada jaring laba-laba, jaring tersebut malah 10 persen lebih kuat. Menurut penelitian ini, benang sutra laba-laba lima kali lebih kuat daripada benang serupa yang terbuat dari baja.
Penelitian terbaru yang dipublikasikan dalam Jurnal Nature, Jumat, 3 Februari 2012, ini menemukan, jaring laba-laba mengandung dua jenis benang sutra. Jenis pertama adalah benang sutra kaku dan kering yang merentang seperti jari-jari dari titik pusat ke tepian jaring.
Jenis kedua adalah benang sutra yang lebih tipis dan lengket, disebut “sutra lengket”. Benang jenis kedua ini disusun melingkar, menempel pada jari-jari sutra kering. Sutra lengket juga berguna untuk menjebak mangsa yang menyangkut di  jaring laba-laba itu.
Tambahan. Berita kompas malahan menyebutkan bahwa Shigeyoshi Osaki, ilmuwan dari Nara Medical University, Kashihara, Jepang, menyulap benang jaring laba-laba menjadi dawai biola. Hasil inovasinya dipublikasikan di jurnal Physical Review Lettersyang akan segera terbit bulan ini.
Untuk membuatnya, Osaki memanen benang dari 300 ekor laba-laba spesies Nephila maculata. Ilmuwan merangkai 3000-5000 helai benang untuk membuat satu buntalan benang yang lebih besar. Tiga buntalan benang kemudian disatukan untuk membentuk dawai.
Uji kekuatan kemudian dilakukan untuk memastikan agar dawai yang dihasilkan tak putus ketika dimainkan. Hasil ujicoba membuktikan bahwa dawai dari jaring laba-laba lebih kuat dibanding dawai bahan nilon.
Studi menggunakan mikroskop elektron menunjukkan bahwa selain berbentuk silinder sempurna, susunan material dawai juga sangat sempurna sehingga tidak menyisakan rongga. Hal ini mendukung kekuatan dawai dan menciptakan suara yang lebih baik.
“Beberapa pemain biola profesional mengatakan bahwa dawai dari jaring laba-laba ini menghasilkan warna nada yang lebih baik, menghasilkan musik yang benar-benar baru,” kata Osaki seperti dikutip situs BBC.
Sumber:
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Atlantis in the Java Sea

A scientific effort to match Plato’s narrative location for Atlantis

sembrani

bertukar ide, melampaui mimpi bersama

Nurul Wirda

0812-8267-9182

aawanto

The greatest WordPress.com site in all the land!

Covert Geopolitics

Beyond the Smoke & Mirrors

Catatan Harta Amanah Soekarno

as good as possible for as many as possible

Women Terrace

to say something that i never talk before

Kanzunqalam's Blog

AKAL tanpa WAHYU, akan berbuah, IMAN tanpa ILMU

Cahayapelangi

Cakrawala, menapaki kehidupan nusantara & dunia

religiku

hacking the religion

SANGKAN PARANING DUMADI

Just another WordPress.com site

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

%d blogger menyukai ini: