3 Komentar

Hubungan Kekhalifahan Islam dengan Nusantara : Wali Songo adalah Utusan Khilafah-

-Hubungan Khilafah dengan Nusantara : Wali Songo adalah Utusan Khilafah-

Di samping penerapan syariah Islam, hubungan Nusantara dengan Khilafah Islam pun terjalin. Pada tahun 100 H (718 M) Raja Sriwijaya Jambi yang bernama Srindravarman mengirim surat kepada Khalifah Umar bin Abdul Aziz dari Khilafah Bani Umayyah. Sang Raja meminta dikirimi dai yang bisa menjelaskan Islam kepadanya. Dua tahun kemudian, yakni tahun 720 M, Raja Srindravarman, yang semula Hindu, masuk Islam. Sriwijaya Jambi pun dikenal dengan nama Sribuza Islam. (Ayzumardi Azra, 2005).

Sebagian pengemban dakwah Islam juga merupakan utusan langsung yang dikirim oleh Khalifah melalui amilnya. Tahun 808H/1404M adalah awal kali ulama utusan Khalifah Muhammad I ke Pulau Jawa (yang kelak dikenal dengan nama Walisongo). Setiap periode ada utusan yang tetap dan ada pula yang diganti. Pengiriman ini dilakukan selama lima periode. (Rahimsyah, Kisah Wali Songo, t.t., Karya Agung Surabaya, hlm. 6).

Bernard Lewis (2004) menyebutkan bahwa pada tahun 1563 penguasa Muslim di Aceh mengirim seorang utusan ke Istanbul untuk meminta bantuan melawan Portugis. Dikirimlah 19 kapal perang dan sejumlah kapal lainnya pengangkut persenjataan dan persediaan; sekalipun hanya satu atau dua kapal yang tiba di Aceh.

Hubungan ini tampak pula dalam penganugerahan gelar-gelar kehormatan. Abdul Qadir dari Kesultanan Banten, misalnya, tahun 1048 H (1638 M) dianugerahi gelar Sultan Abulmafakir Mahmud Abdul Kadir oleh Syarif Zaid, Syarif Makkah saat itu. Pangeran Rangsang dari Kesultanan Mataram memperoleh gelar sultan dari Syarif Makkah tahun 1051 H (1641 M) dengan gelar, Sultan Abdullah Muhammad Maulana Matarami. (Ensiklopedia Tematik Dunia Islam Asia Tenggara, 2002). Bahkan Banten sejak awal memang menganggap dirinya sebagai Kerajaan Islam, dan tentunya termasuk Dar al-Islam yang ada di bawah kepemimpinan Khalifah Turki Utsmani di Istanbul. (Ensiklopedia Tematis Dunia Islam, Struktur Politik dan Ulama: Kesultanan Banten, 2002).

Selain itu, Snouck Hurgrounye, sebagaimana yang dikutip oleh Deliar Noer, mengungkapkan bahwa rakyat kebanyakan pada umumnya di Indonesia, melihat stambol (Istanbul, ibukota Khalifah Usmaniyah) senantiasa sebagai kedudukan seorang raja semua orang Mukmin dan tetap (dipandang) sebagai raja dari segala raja di dunia. (Deliar Noer, 1991).

Penjajah Belanda Menghapuskan Jejak Itu

Pada masa penjajahan, Belanda berupaya menghapuskan penerapan syariah Islam oleh hampir seluruh kesultanan Islam di Indonesia. Salah satu langkah penting yang dilakukan Belanda adalah menyusupkan pemikiran dan politik sekular melalui Snouck Hurgronye. Dia menyatakan dengan tegas bahwa musuh kolonialisme bukanlah Islam sebagai agama. (H. Aqib Suminto, 1986).

Dari pandangan Snouck tersebut penjajah Belanda kemudian berupaya melemahkan dan menghancurkan Islam dengan 3 cara. Pertama: memberangus politik dan institusi politik/pemerintahan Islam. Dihapuslah kesultanan Islam. Contohnya adalah Banten. Sejak Belanda menguasai Batavia, Kesultanan Islam Banten langsung diserang dan dihancurkan. Seluruh penerapan Islam dicabut, lalu diganti dengan peraturan kolonial.

Kedua: melalui kerjasama raja/sultan dengan penjajah Belanda. Hal ini tampak di Kerajaan Islam Demak. Pelaksanaan syariah Islam bergantung pada sikap sultannya. Di Kerajaan Mataram, misalnya, penerapan Islam mulai menurun sejak Kerajaan Mataram dipimpin Amangkurat I yang bekerjasama dengan Belanda.

Ketiga: dengan menyebar para orientalis yang dipelihara oleh pemerintah penjajah. Pemerintah Belanda membuat Kantoor voor Inlandsche zaken yang lebih terkenal dengan kantor agama (penasihat pemerintah dalam masalah pribumi). Kantor ini bertugas membuat ordonansi (UU) yang mengebiri dan menghancurkan Islam. Salah satu pimpinannya adalah Snouck Hurgronye. Dikeluarkanlah: Ordonansi Peradilan Agama tahun 1882, yang dimaksudkan agar politik tidak mencampuri urusan agama (sekularisasi); Ordonansi Pendidikan, yang menempatkan Islam sebagai saingan yang harus dihadapi; Ordonansi Guru tahun 1905 yang mewajibkan setiap guru agama Islam memiliki izin; Ordonansi Sekolah Liar tahun 1880 dan 1923, yang merupakan percobaan untuk membunuh sekolah-sekolah Islam. Sekolah Islam didudukkan sebagai sekolah liar. (H. Aqib Suminto, 1986).

Demikianlah, syariah Islam mulai diganti oleh penjajah Belanda dengan hukum-hukum sekular. Hukum-hukum sekular ini terus berlangsung hingga sekarang. Walhasil, tidak salah jika dikatakan bahwa hukum-hukum yang berlaku di negeri ini saat ini merupakan warisan dari penjajah; sesuatu yang justru seharusnya dienyahkan oleh kaum Muslim, sebagaimana mereka dulu berhasil mengenyahkan sang penjajah: Belanda.

http://empires-islam.blogspot.com/2012/10/hubungan-khilafah-dengan-nusantara-wali.html (05)

Note__________________
Silahkan Tag Atau Klik Bagikan Pada Teman2 juga Grup Anda Sebagai Matarantai Dakwah Dan Amal Pahala Kebaikan…

Ikuti tag artikel, tips2 dan warta kami lainnya.. Cara untuk bisa mentag, anda harus menyukai halaman “SDDC” terlebih dahulu, lalu klik tandai teman2 anda..:

=>https://www.facebook.com/sinarilahdunia

TERIMAKASIH N SALAM UKHUWAH

— with Rosihon Anwar and 39 others.

-Hubungan Khilafah dengan Nusantara : Wali Songo adalah Utusan Khilafah-

Di samping penerapan syariah Islam, hubungan Nusantara dengan Khilafah Islam pun terjalin. Pada tahun 100 H (718 M) Raja Sriwijaya Jambi yang bernama Srindravarman mengirim surat kepada Khalifah Umar bin Abdul Aziz dari Khilafah Bani Umayyah. Sang Raja meminta dikirimi dai yang bisa menjelaskan Islam kepadanya. Dua tahun kemudian, yakni tahun 720 M, Raja Srindravarman, yang semula Hindu, masuk Islam. Sriwijaya Jambi pun dikenal dengan nama Sribuza Islam. (Ayzumardi Azra, 2005).

Sebagian pengemban dakwah Islam juga merupakan utusan langsung yang dikirim oleh Khalifah melalui amilnya. Tahun 808H/1404M adalah awal kali ulama utusan Khalifah Muhammad I ke Pulau Jawa (yang kelak dikenal dengan nama Walisongo). Setiap periode ada utusan yang tetap dan ada pula yang diganti. Pengiriman ini dilakukan selama lima periode. (Rahimsyah, Kisah Wali Songo, t.t., Karya Agung Surabaya, hlm. 6).

Bernard Lewis (2004) menyebutkan bahwa pada tahun 1563 penguasa Muslim di Aceh mengirim seorang utusan ke Istanbul untuk meminta bantuan melawan Portugis. Dikirimlah 19 kapal perang dan sejumlah kapal lainnya pengangkut persenjataan dan persediaan; sekalipun hanya satu atau dua kapal yang tiba di Aceh.

Hubungan ini tampak pula dalam penganugerahan gelar-gelar kehormatan. Abdul Qadir dari Kesultanan Banten, misalnya, tahun 1048 H (1638 M) dianugerahi gelar Sultan Abulmafakir Mahmud Abdul Kadir oleh Syarif Zaid, Syarif Makkah saat itu. Pangeran Rangsang dari Kesultanan Mataram memperoleh gelar sultan dari Syarif Makkah tahun 1051 H (1641 M) dengan gelar, Sultan Abdullah Muhammad Maulana Matarami. (Ensiklopedia Tematik Dunia Islam Asia Tenggara, 2002). Bahkan Banten sejak awal memang menganggap dirinya sebagai Kerajaan Islam, dan tentunya termasuk Dar al-Islam yang ada di bawah kepemimpinan Khalifah Turki Utsmani di Istanbul. (Ensiklopedia Tematis Dunia Islam, Struktur Politik dan Ulama: Kesultanan Banten, 2002).

Selain itu, Snouck Hurgrounye, sebagaimana yang dikutip oleh Deliar Noer, mengungkapkan bahwa rakyat kebanyakan pada umumnya di Indonesia, melihat stambol (Istanbul, ibukota Khalifah Usmaniyah) senantiasa sebagai kedudukan seorang raja semua orang Mukmin dan tetap (dipandang) sebagai raja dari segala raja di dunia. (Deliar Noer, 1991).

Penjajah Belanda Menghapuskan Jejak Itu

Pada masa penjajahan, Belanda berupaya menghapuskan penerapan syariah Islam oleh hampir seluruh kesultanan Islam di Indonesia. Salah satu langkah penting yang dilakukan Belanda adalah menyusupkan pemikiran dan politik sekular melalui Snouck Hurgronye. Dia menyatakan dengan tegas bahwa musuh kolonialisme bukanlah Islam sebagai agama. (H. Aqib Suminto, 1986).

Dari pandangan Snouck tersebut penjajah Belanda kemudian berupaya melemahkan dan menghancurkan Islam dengan 3 cara. Pertama: memberangus politik dan institusi politik/pemerintahan Islam. Dihapuslah kesultanan Islam. Contohnya adalah Banten. Sejak Belanda menguasai Batavia, Kesultanan Islam Banten langsung diserang dan dihancurkan. Seluruh penerapan Islam dicabut, lalu diganti dengan peraturan kolonial.

Kedua: melalui kerjasama raja/sultan dengan penjajah Belanda. Hal ini tampak di Kerajaan Islam Demak. Pelaksanaan syariah Islam bergantung pada sikap sultannya. Di Kerajaan Mataram, misalnya, penerapan Islam mulai menurun sejak Kerajaan Mataram dipimpin Amangkurat I yang bekerjasama dengan Belanda.

Ketiga: dengan menyebar para orientalis yang dipelihara oleh pemerintah penjajah. Pemerintah Belanda membuat Kantoor voor Inlandsche zaken yang lebih terkenal dengan kantor agama (penasihat pemerintah dalam masalah pribumi). Kantor ini bertugas membuat ordonansi (UU) yang mengebiri dan menghancurkan Islam. Salah satu pimpinannya adalah Snouck Hurgronye. Dikeluarkanlah: Ordonansi Peradilan Agama tahun 1882, yang dimaksudkan agar politik tidak mencampuri urusan agama (sekularisasi); Ordonansi Pendidikan, yang menempatkan Islam sebagai saingan yang harus dihadapi; Ordonansi Guru tahun 1905 yang mewajibkan setiap guru agama Islam memiliki izin; Ordonansi Sekolah Liar tahun 1880 dan 1923, yang merupakan percobaan untuk membunuh sekolah-sekolah Islam. Sekolah Islam didudukkan sebagai sekolah liar. (H. Aqib Suminto, 1986).

Demikianlah, syariah Islam mulai diganti oleh penjajah Belanda dengan hukum-hukum sekular. Hukum-hukum sekular ini terus berlangsung hingga sekarang. Walhasil, tidak salah jika dikatakan bahwa hukum-hukum yang berlaku di negeri ini saat ini merupakan warisan dari penjajah; sesuatu yang justru seharusnya dienyahkan oleh kaum Muslim, sebagaimana mereka dulu berhasil mengenyahkan sang penjajah: Belanda. 

http://empires-islam.blogspot.com/2012/10/hubungan-khilafah-dengan-nusantara-wali.html (05)

Note__________________
Silahkan Tag Atau Klik Bagikan Pada Teman2 juga Grup Anda Sebagai Matarantai Dakwah Dan Amal Pahala Kebaikan...

Ikuti tag artikel, tips2 dan warta kami lainnya.. Cara untuk bisa mentag, anda harus menyukai halaman "SDDC" terlebih dahulu, lalu klik tandai teman2 anda..:

=>https://www.facebook.com/sinarilahdunia

TERIMAKASIH N SALAM UKHUWAH

3 comments on “Hubungan Kekhalifahan Islam dengan Nusantara : Wali Songo adalah Utusan Khilafah-

  1. Sy kurang sependapat dgn argumen yg mengatakan/berpendapat semua yg berasal dr barat/org2 kafir & yahudi hrs dienyahkan. Kita hrs hati2 skali melihat mslh ini dgn bijaksana, jgn sampai menimbulkan percikan/gesekan antar anak bangsa.

    Seperti diketahui bersama kecemerlangan Islam dr jmn Rasullulah-sahabat hingga dpt menaklukan belahan benua lain adalah krn peranan pemimpinnya yg amanah & jujur, menghormati kelompok lain non Islam maupun dlm Islam sendiri yg berlainan mahzab. Menjalankannya secara nyata dlm keseharian.Menganggap apalagi berusaha memaksakan kehendak khilafah akan dpt menyelesaikan semua masalah umat sangat prematur & tdk bijak. Sebuah sistem kenegaraan, kemasyarakatan, politik yg baik menjadi mubazir, sia2 jika para pemimpinnya tdk amanah & jujur, masyarakat jd skeptis & akhirnya bisa anarkhis, spt saat ini terjadi di negara2 muslim yg tengah bertikai/ atau tepatnya diadu domba kepentingan2 yg anti dgn Islam yg Rahmatan Lil Alamin, bkn Islam yg bengis, suka perang, merasa paling suci, benar & menggangap yg bkn kelompoknya adalah musuh yg hrs diperangi, bukan ini yg diinginkan Allah SWT, Rasullulah & utusan2nya yg lain.

    Al Quran sendiri dlm surat Al Hujurat ayat 13, menegaskan keniscayaan keberagaman, bahwa manusia itu ditakdirkan hidup bersuku2, berbangsa2, berbeda adat istiadat, suku, agamanya. Hanya mrk2 yg bertaqwalah yg beruntung krn sesuai dgn intisari kandungan Al Quran & ahlak Rasullulah sendiri. Keberagaman disini jg hrs dipahami sempurna dlm khasanah pergaulan sosial kemasyarakatan, berbangsa & bernegara. Ada Ukhuwah Islamiyah, Ukhuwah Wathaniyah & Ukhuwah Jabarriyah. Semuanya hrs beriringan agar sinergi dgn perbedaan yg sunatullah td.

    Mengakui Islam sbg sebuah solusi yg
    Rahmatan Lil Alamin tp kelakuan & pola pikir sempit akan berdampak kontra produktif dgn dakwah spt yg Rasullulah ajarkan, sangat berbahaya krn akan dgn mudah diadu domba mrk2 yg antipati dgn nilai2 Islam yg suci menghargai manusia sebagai ciptaan & wujud kasih sayang-Nya. Negeri2 muslim di timteng, afrika utara, mesir, tunisia, suriah, irak, afghanistan contoh2 kongkrit sebuah sistem yg tdk berjalan efektif krn peranan pemimpin yg tdk amanah & jujur td. Tdk mengayomi kelompok2 lain yg exist, berusaha memaksakan kehendaknya & ini yg paling berbahaya menganggap kelompoknya sendiri yg paling benar, menafikan/memberangus kelompok lain. Semoga kita semua lebih arif & bijaksana menghargai saudara2 kita sebangsa. Wallahualam

  2. Di samping kewajiban individual, ada juga kewajiban dalam bermasyarakat dan kewajiban bagi para pemimpin muslim. Jika sholat adalah kewajiban bagi setiap muslim, hukum syariah juga adalah kewajiban. Tetapi yang dibebankan untuk menerapkan syariah adalah pemimpin, karena ia-lah yang memegang kekuasaan. Tanpa syariah, perintah Allah tidak secara sempurna ditaati. Sedangkan dalam Al Qur’an diperintahkan oleh Allah agar manusia menerapkan hukum Islam secara sempurna:
    “Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kamu semuanya kedalam Islam secara kaffah, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaithan. Sesungguhnya dia itu musuh yang nyata bagimu.”
    (Qs. al-Baqarah 2:208)
    Karena itu saya sangat setuju agar hukum-hukum warisan Belanda yang tidak cocok untuk diikuti umat Islam agar dihapuskan.
    Kita telah mengetahui bahwa para pendahulu kita yang membuat maju peradaban Islam adalah orang-orang yang menerapkan Islam secara keseluruhan.
    Masalahnya sekarang, masyarakat belum semua paham hal ini, pemerintah pun belum, apalagi menerapkan syariah? Hasil tidak bisa sesuai harapan. Tugas kitalah, orang-orang yang sudah paham untuk menyebarkan pemahaman baik ini, melalui wadah-wadah, organisasi Islam yang menyeru dengan cara yang baik pula.
    Jika umat telah menerapkan semua perintah Allah dengan sempurna atau dengan kata lain jika umat telah semuanya beriman dan bertakwa, maka Allah akan melimpahkan karunia-Nya pada seluruh umat. Inilah kunci keberhasilan umat muslim pada zaman Rasulullah dan khulafa setelah beliau.
    “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (7: 96)

    Wallahu a’lam.

  3. Sebenarnya Walisongo datang ke Nusantara adalah ingin membuktikan bahwa bani Jawi yang diwakili Ken Turah istrinya Ibrahim AS ke tiga (petilasannya: Ken Arok, Ken Dedes, Ken Uma) yang menurunkan rasul kita ini, berasal dari Nusantara itu, berada di suatu daerah dengan sangat kaya, ramah, sejuk yang dikenal sebagai budaya nusantara wkwkwk
    Singkatnya mau belajar dari kita lahhh, bukan dibalik hehhheeeee

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

sembrani

bertukar ide, melampaui mimpi bersama

Nurul Wirda

Semerbak Mawar yang dengan senang hati memancarkan Cahayanya

aawanto

The greatest WordPress.com site in all the land!

Covert Geopolitics

Beyond the Smoke & Mirrors

Catatan Harta Amanah Soekarno

as good as possible for as many as possible

Women Terrace

to say something that i never talk before

Kanzunqalam's Blog

AKAL tanpa WAHYU, akan berbuah, IMAN tanpa ILMU

Cahayapelangi

Cakrawala, menapaki kehidupan nusantara & dunia

religiku

hacking the religion

SANGKAN PARANING DUMADI

Just another WordPress.com site

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

%d blogger menyukai ini: