Tinggalkan komentar

Agenda Babak Akhir Politik Zionis Global Menuju “ONE WORLD GOVERNMENT”

Musadiq Marhaban
Wacana Ringkas Tentang Agenda Babak Akhir Politik Zionis Global Menuju “ONE WORLD GOVERNMENT”

Salah satu “loop hole” kalau tidak mau dibilang blunder dalam prinsip zionisme global terkait ideologi “one world government” ini adalah siapa yang pada akhirnya nanti yg paling berhak menjabat hirarki pimpinan tertinggi?

Konsep “one world government” yang zionisme global gaungkan sejak awal 90an itu merupakan konsekuensi—yang sebenarnya absurd dan sangat dipaksakan—dari upaya mereka untuk menduplikasi sistem Pemerintahan Ilahi yang universal-mesianik.

Ketika “one world government” masih berupa konsep, saya kira semua elemen zionis global di tingkatan regional tentu masih bisa sepakat dan menerima kenyataan bahwa pada akhirnya nanti, jabatan pimpinan tertinggi itu akan dijalankan secara koletif alias bersama-sama. Untuk menyederhanakan pandangan “one world government” zionis global ini coba bayangkan klan-klan mafia yang sudah memiliki kekuasaan dan kekayaan lalu bertemu untuk menyepakati dibentuknya sebuah sistem induk kekuasaan. Secara kertas dan teori, iya tentu saja tawaran ini menarik karena antara klan mafia satu dan yang lainnya terkesan akan saling melindungi klan mafia lainnya. Akan tetapi, karena sandaran logis dari “one world government” itu sendiri baru bisa direalisasikan dengan menghilangkan pemerintahan-pemerintahan yang sifatnya regional dan terbatas, maka untuk merealisasikan hal tersebut, opsi yang paling mungkin mrk bs lakukan adalah sebagai berikut:

Opsi pertama: Masing-masing pemerintah dari sebuah negara yang sudah dikuasai oleh zionis melakukan “political suicide” dengan cara mencairkan sistem pemerintahan di negaranya masing-masing. Agenda dalam melakukan hal ini bisa beragam dan mmg bs dilakukan. Tapi bila hal ini dilakukan bersama-sama, maka peluang bagi pembentukan “one world government” itu sendiri jadi mustahil, sebab kekuasaan para zion di masing-masing negara tersebut otomatis sudah lenyap. Pada kondisi spt itu, nilai valas, sistem perdagangan dan jalur diplomasi pun misalnya sudah mustahil bisa terjadi. Di samping itu, mereka juga sadar bahwa tidak semua kekuatan zionis di suatu negara memiliki pengaruh yang sama. Artinya, akan ada negara yang ketika mau di “dissolved” pemerintahannya malah gagal dan berpeluang menjadi pemerintahan yang bersih dari zionis. Bila hal ini terjadi maka upaya ke arah “One World Government” akhirnya semakin jauh dari harapan.

Opsi kedua: Negara yang sudah dikuasai zionis menghancurkan negara lainnya yang sebenarnya sudah dikuasai oleh zionis juga alias saling memangsa. Tapi opsi ini pun mustahil pada akhirnya, karena bila negara A yang sudah dikuasai oleh zionis mengeliminir negara B yang juga sudah dikuasai oleh zionis, maka peluang para zion di negara B untuk mengarahkan bangsa di negara itu ke induk pemerintahan zionis global spt yang diharapkan pun menjadi semakin sulit karena para Zion di negara B sudah tidak berkuasa lagi. Selain itu, peluang bagi munculnya perlawanan dari negara B ke negara A pun bisa saja terjadi. Sebab, bila negara B pemerintahannya punah, misalnya, maka para zion di negara B sudah tidak berkuasa lagi.

Opsi ketiga: opsi ini merupakan penjabaran dari opsi pertama dan kedua. Artinya, persoalan inti pada dua opsi di atas adalah tentang bagaimana cara menghancurkan sebuah sistem negara yang sudah berjalan selama bertahun-tahun dan juga telah dikuasai oleh zionis, tapi setelah kehancurannya masih bisa diarahkan ke satu induk pemerintahan zionis global dengan sistem koletif di satu tempat akhir. Mungkin pertanyaan lainnya disini: mengapa harus di satu tempat? Hal ini lagi-lagi merupakan konsekuensi dari sistem Pemerintahan Ilahi yang universal-mesianik. Penjabaran ini akan lebih panjang, tapi kita akan abaikan dulu utk sementara waktu, mengingat keterbatasan ruang untuk mebahasa hal ini.
Melalui opsi ketiga, mereka menemukan sebuah cara yang lebih luwes, yaitu: tanpa negara A harus terlibat secara langsung dalam proses menghancurkan sistem pemerintahan di negara B yang sebenarnya sudah sama-sama dikuasai oleh zionis—tentu saja sesuai dengan tingkat pengaruhnya masing-masing, tapi elemen kekuasaan di negara B juga harus dipecah menjadi dua—atau lebih—yang mana kedua belah yang seolah-olah terpecah dan saling berlawanan itu sebenarnya adalah sama-sama bagian dari zionis global juga. Secara teori ini gampang, tapi secara praktek jelas sulit, tapi dengan perjalanan waktu yang panjang selama ini maka pihak zionis telah berhasil membuat banyak cloning ideologi dalam semua tingkat, baik itu agama ataupun ideologi-ideologi masonik lainnya.

Dengan membenturkan dua ideologi yang sebenarnya sama-sama zionis di dalam sistem pemerintahan negara B yang ingin dihancurkan tersebut, maka peluang bagi kehancuran sistem pemerintahan yang telah berjalan di negara B itu pada akhirnya akan berpeluang jatuh ke kelompok zionis juga. Sementara peran negara A dan beberapa negara lainnya yang pada hakekatnya adalah pemerintahan zionis-zionis juga, maka mereka akan memainkan skenario yang sama antara satu dan yang lain, seperti melakukan pro-kontra dukungan yang tujuannya adalah untuk menjamin bahwa bila sistem pemerintahan di negara B telah benar-benar hancur, maka tidak boleh lagi ada kekuatan pemerintahan baru yang berdaulat secara penuh di negara B tersebut, tapi sebuah pemerintahan transisi yang bisa diarahkan menuju “one world government’ pada saatnya nanti. Singkatnya, saya sebut pola ketiga ini sebagai permainan antara menanamkan keputusasaan dan membangun harapan, alias “zionist game of hope and dispair or vice versa”.

Problem utama dari menjalankan agenda opsi pertama, kedua maupun ketiga adalah adanya keterbatasan waktu. Kalau proses ini bergulir, maka prosesnya tidak boleh lolos satu dekade, sebab biaya menjalankan dan merawat proses efek domino ini akan memakan biaya yang besar. Artinya, peluang pemerintahan induk zionis global yang diharapkan itu malah bangkrut menjadi lebih besar dibandingkan suksesnya.

Walhasil, penjabaran detailnya cukup panjang di kepala saya, tapi belum sempat saya runut secara sistematis dan masih perlu diverifikasi ulang dan disempurnakan serta barangkali didisukusikan lagi, tapi saya kira demikianlah sedikit wacana yang saya bisa sampaikan dalam kesempatan ini dalam upaya membangun pola akhir dari upaya zionis menuju “one world government’ yg memang mustahil akan terjadi. Tulisan ini juga merupakan hasil pengamatan pribadi seputar berbagai peristiwa politik yang terjadi belakangan ini di berbagai belahan dunia, terutama Afghanistan, Syria, Mesir, Libya, Tunisia, Yaman, Malaysia dan Indonesia.

Wallahu’alam bisshawab.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Atlantis in the Java Sea

A scientific effort to match Plato’s narrative location for Atlantis

sembrani

bertukar ide, melampaui mimpi bersama

Nurul Wirda

Semerbak Mawar yang dengan senang hati memancarkan Cahayanya

aawanto

The greatest WordPress.com site in all the land!

Covert Geopolitics

Beyond the Smoke & Mirrors

Catatan Harta Amanah Soekarno

as good as possible for as many as possible

Women Terrace

to say something that i never talk before

Kanzunqalam's Blog

AKAL tanpa WAHYU, akan berbuah, IMAN tanpa ILMU

Cahayapelangi

Cakrawala, menapaki kehidupan nusantara & dunia

religiku

hacking the religion

SANGKAN PARANING DUMADI

Just another WordPress.com site

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

%d blogger menyukai ini: