3 Komentar

BENARKAH PERADABAN MANUSIA BARU BERKEMBANG SEJAK SEKITAR 10.000 TAHUN LALU?

Oki Oktariadi Wilayah priangan………ada apa dng Sunda………mungkinkah fenomena gunung padang sebagai pertanda agar kita tidak lupa sejarah…….tidak lupa dng kebesaran masa lalu yg lebih lalu lagi……….
Danny Hilman Natawidjaja

BENARKAH PERADABAN MANUSIA BARU BERKEMBANG SEJAK SEKITAR 10.000 TAHUN LALU?

3d570-gunungpadang2Banyak yang meyakini atau menelan saja dogma ilmu pengetahuan bahwa peradaban dunia sekarang adalah peradaban manusia satu-satunya yang baru berkembang sejak sekitar 10.000 tahun lalu. Sebelum itu diyakini masih zaman primitif , manusia hidup di alam dan gua-gua sebagai para pemburu dan peramu (“hunterers and gatherers”). Atas keyakinan inilah seorang arkeolog senior ketika diwawancara METRO TV bersikukuh bahwa “impossible” ada produk peradaban tinggi di dunia yang usianya lebih tua dari Piramid Giza (~5000 tahun lalu) dan Budaya Mesopotamia (6000 tahun lalu) apalagi di Indonesia, dan berseloroh bahwa kalaupun ada maka yang buat harus mahluk UFO. Anehnya, sejalan dengan dogma ini dunia ilmiah mengakui bahwa tidak bisa memahami fenomena budaya hebat kuno seperti Piramid Giza dan “punden berundak” Machu Pichu.

Sampai sekarang belum ada penjelasan tuntas dari dunia ilmiah mainstream tentang bagaimana membuat piramid dan buat apa? Dengan enteng dunia hanya menyebutkan peninggalan-peninggalan kuno tersebut sebagai ‘keajaiban dunia’ (sebuah ungkapan implisit bahwa pengetahuan sejarah sekarang tidak bisa menjelaskannya). Akhirnya, pembuatan piramid oleh kalangan tertentu sering dikaitkan dengan keberadaan UFO, sedangkan para ilmuwan spanyol yang dulu meneliti Machu Pichu akhirnya frustasi dan menyimpulkan bahwa bangunan itu dibuat dengan bantuan setan. Kebingungan dunia ilmiah tentang sejarah peradaban manusia bertambah ketika dalam dua tahun terakhir ini di Gobekli Tepe, wilayah Turki ditemukan situs bangunan dari lempeng batu granit berukir dibawah sebuah bukit yang hebat dan besar berumur 11.600 tahun lalu ( http://www.gobeklitepe.info/ ) yang kondisinya dalam keadaan sudah ditimbun dengan sengaja oleh manusia pada sekitar 9000 tahun lalu. Namun para arkeolog yang tidak mau melawan dogma masih saja bilang walaupun gagap bahwa yang membuat monumen hebat dan menimbunnya itu adalah para “hunters and gatherers”. Untuk apa monumen Gobekli Tepe dibuat, itupun tidak diketahui pasti, namun seperti jawaban klise umumnya dikatakan adalah untuk tempat pemujaan. Umur Situs Gunung Padang dari lapisan tertuanya kelihatannya se-zaman dengan Gobekli Tepe ini. Hasil carbon dating dari tanah timbunan setebal 7 meteran di atas Situs Gunung Padang juga mengindikasikan umur sekitar 9000-an tahun lalu. Satu kesesuaian kronologi yang yang sangat menarik.

Yang kelihatannya jarang disimak atau difikirkan serius adalah fakta ilmiah bahwa spesies manusia modern (yang fisiknya persis seperti kita) sudah ada sejak sekitar 200.000 tahun lalu (fakta fossil), atau paling tidak sejak 140.000 tahun lalu (fakta analisa genetika-DNA). Artinya, apabila benar peradaban baru berkembang sejak 10.000 tahun lalu maka pertanyaan ilmiahnya: kenapa selama 130-190.000 tahun sebelumnya tidak berkembang? Mustahil orang hanya leha-leha saja di gua-gua, puas dengan main-main batu. Untuk yang senang dunia religi bisa juga direnungkan: “Benarkah Sang Khalik membiarkan mahluk paling sempurnanya untuk hidup sia-sia sekian lamanya”? Lebih konyol lagi dibanyak buku-buku literatur diajarkan bahwa Nabi Adam itu baru ada di Bumi setelah 10.000 tahun lalu, entah apa dasarnya. Kalau hal itu benar maka manusia sebelum Adam itu apa? Atau umat siapa? Apabila ada yang berargumen bahwa sebelum 10.000 tahun itu belum menjadi ‘manusia sempurna’ atau mahluk pra-manusia maka itu jelas mengada-ada karena kontradiktif dengan pengetahuan mainstream saat ini yang meyakini bahwa mahluk pra-manusia itu sudah punah sebelum 200.000 tahun lalu bukan sebelum 10.000 tahun lalu. Agama sebaliknya malah mengajarkan bahwa peradaban manusia sudah maju sejak dahulu kala tapi berkali-kali hancur oleh bencana katastrofi dahsyat seperti seperti dilustrasikan dalam kisah Nabi Nuh, Kaum Tsamud (Nabi Shaleh), Kaum Aad (Nabi Hud) dll. Sejarah geologi tentang letusan Toba sekitar 70.000 tahun mengajar kita bahwa populasi dunia hancur total mendekati punah lalu. Kisah Nabi Nuh juga mengatakan hal yang sama karena bencana banjir besar. Sayangnya dalam kitab suci memang tidak dikatakan waktu dan tempat kejadiannya, namun kalau saya disuruh untuk meletakkan kapan terjadinya banjir besar Nabi Nuh maka kemungkinan besar kejadiannya sebelum 8000 tahun lalu, karena setelah itu dalam sejarah geologi tidak ada lagi banjir besar yang melanda dunia.

Jadi, anti-thesis dari thesis bahwa perkembangan peradaban manusia itu baru sejak 10.000 tahun lalu adalah bahwa: “peradaban manusia itu sudah berkali-kali maju tapi berkali-kali pula hancur karena bencana besar sehingga umat setelahnya kembali membangun peradaban dari awal ”. Hal yang sama dikatakan dalam Naskah Critias-nya Plato. Tidak akan ada loncatan dalam perkembangan Ilmu pengetahuan apabila tidak ada temuan baru yang belum ada. Setiap temuan baru yang kontradiktif dengan pengetahuan yang ada akan selalu menuai kontroversi. Namun alangkah baiknya apabila kontroversi itu disampaikan ke masyarakat dengan benar, sehingga berguna dalam rangka memasyarakatkan budaya riset dan mencerdaskan bangsa. Data bawah permukaan dan analisa riset yang mengindikasikan adanya bangunan di bawah permukaan tidak sepantasnya di sejajarkan hanya dengan opini dan imajinasi ahli tanpa didukung data. Dengan kata lain, pihak yang berkeyakinan bahwa di bawah permukaan situs tidak ada lapisan peradaban harus juga didukung oleh data tidak dinyatakan “out of the blue” atau bahkan malah dengan arogan menuduh pihak lain tidak melakukan riset dengan benar. Isyu ‘kontroversi semu’ tidak membantu riset menjadi lebih seru, tajam dan komprehensif sebaliknya malah menjadi kontra-produktif. Kecuali kalau memang demikian tujuannya. Wallahualam.

  • Pon S. Purajatnika Inna nahnu waz alni zikra wa innallahu lahaafiduuun
  • Rahmawan Helmi Hand made . .or . . . columnar joint (?)Harus di bedakan – “umur” :
    (1) bangunan, atau
    (2) batuanSemen . . atau tuff

    Karena tidak mustahil, bangunan yang ada memang sudah ada kemudian terjadi beberapa bencana alam (periode tektonik / vulkanik) sehingga tertutupi secara alami.

    Perpektif riset biasanya akan bias, apabila terdapat perbedaan kepentingan, atau faktor x yang lain, menyangkut “sponsor”.

  • Didin Kusdian Kosasih mendebarkan, membuat penasaran, dan saya percaya, ini sesuatu yang baru yang perlu terus diterima dengan hati dan pikiran jernih
  • Eko Wiwid Arengga yang tidak mungkin di dunia ini hanya satu.makan kepala sendiri..dan perlu di tegaskan lagi. kami menolak jika kami mempunyai leleuhur nenek moyang UFO, leluhur kami adalah para Nabi..dan orang-orang yang di kasih kecerdasan tinggi oleh TUHAN..jadi jika ada yang beranggapan situs Gunung Padang dibuat oleh UFO sama halnya menggap kami keturunan dari UFO
  • Adhizz Adhitya bismillah,, lanjut terus pak..
    kami dukung sepenuhnya..
  • Uussega Us perlahan tapi pasti , bekerja dgn lebih teliti , penuh ke ikhlasan , buang EGO masing2 , hindari DULU BERPOLEMIK . timbulkan kebersamaan dalam satu tekad UNTUK MENGUNGKAP SESUATU DEMI KEJAYAAN NUSA BANGSA DAN NEGARA , JUGA UNT SELURUH PERADABAN UMAT MANUSIA DI PLANET BUMI INI . Dan jgn lupa setiap saat unt ” BERDO,A dan MEMINTA IZIN NYA DARI PEMILIK ALAM SEMESTA INI. — kalau hal tsb dilakukan , maka PASTI SUATU SAAT ” MISTERI SITUS GN PADANG ITU ” AKAN MEMBERIKAN JAWABAN NYA ” .. Amiinn ..
  • Ok Taufik ijin copas kang
  • Andi Hilnadi jika kita merasa hidup dr awal peradaban manusia kita akan tahu jalur cerita dan akan kita sebarkan kepada anak cucu. akan tetapi kita baru hidup di jaman sekarang dan secara otomatis ingin mengetahui peradaban manusia pertama kita HARUS meneliti secara seksama dan benar agar kita bisa cerita kepada anak cucunya
  • Andi Hilnadi APA kah PERADABAN manusia terdahulu sama dengan PERADABAN manusia sekarang ? TENTU TIDAK
  • Abhisekh Agus Timex Saya rasa tidak mungkin Alloh Yang Mahakuasa yg menciptakan jagad raya ini hanya utk manusia sekarang yg sok intelek .. Jelas kita tdk sendirian .. Banyak bergantian silih datang mengukir peradaban dipenjuru bumi … Jejak2nya masih jelas , salah satunya gunung padang ,sadahurip ,lalakon menanti utk dibangkitkan kembali melalui riset2 dari peneliti anak bangsa
  • Rahmawan Helmi Sebagai perbandingan coba buka time line-nya british encyclopedia . . . disana dijelaskan bahwa . . mereka mengakui adam itu manusia pertama . . ada skala waktunya . . sampai pada 1 Masehi dimulainya tahun Almasih 2013 . . .dst
  • Awang Satyana Perdebatan Gunung Padang berlanjut, sudah saya duga, semuanya karena hasil pentarikhan umurnya (dating) “mengejutkan”. Dikabarkan bahwa hasil dating karbon-14 yang dilakukan oleh laboratorium geokronologi terpercaya di Miami, US pada “lapisan” Gunung Padang atas material disseminated carbon di dalam “semen” antar bilah megalit pada kedalaman 5-8 meter berkisar 13.000-23.000 tahun yang lalu. Juga very fine grain carbon pada butur2 pasir yang diperkirakan hasil ayakan dari sampel sumur yang dibor di situs menghasilkan umur 11.600 tahun yang lalu, juga disseminated carbon pada tanah urugan yang menutupi pasir ayakan adalah 8600 tahun yang lalu.Semua umur di atas mengagetkan karena semua hasilnya itu jauh lebih tua daripada umur2 prasejarah Indonesia, juga signifikan lebih tua dibandingkan kronologi hasil kebudayaan atau peradaban di dunia yang selama ini kita ketahui. Sebab dengan penanggalan ini, situs Gunung Padang berpotensi menjadi bangunan tertua di dunia. Sebagai perbandingan, piramid-piramid tua di Mesir diduga berasal dari 2.500 hingga 3.000 SM. Atau bandingkan dengan Stonehenge yang diperkirakan berasal dari 3.500 hingga 5.000 SM. Jika dating Gunung Padang benar, maka situs Gunung Padang akan sangat signifikan mengubah konstelasi peradaban duniaPengukuran umur dengan metode karbon-14 pada disseminated karbon itu baik yang dilakukan BATAN maupun Beta Lab di Miami, US itu mungkin benar, dan materi karbonnya juga mungkin benar. Tetapi yang jadi masalah adalah: (1) itu karbon sisa dari mana, organisme yang mati, kebakaran hutan, atau kayu yang dibakar manusia? (2) sampel karbon itu berasal dari lapisan budaya atau lapisan geologi? Maka yang sekarang jadi masalah adalah bukan metode dating-nya sendiri tetapi sample-nya sendiri. Saat ini, menurut hemat saya, sample yang diukur umurnya itu belum kuat sama-sekali sebagai perconto/ sample arkeologi, tetapi iya sebagai sample geologi, maka kalau umurnya tua tak mengherankan. Mengapa umurnya tak jutaan tahun, sebab yang diukur bukan unsur di batu, tetapi disseminated carbon di antaranya.Dengan demikian janganlah terburu2 mengumumkan soal umur Gunung Padang ini sebelum ditemukan karbon hasil lapisan budaya yang jelas, lapisan arkeologi yang jelas. Sebelum ditemukan artefak yang jelas. Masalah terbesarnya ada di sample- nya, bukan di metode penentuan umurnya. Jadi, tak perlulah terburu2 berdebat tentang umur2 peradaban manusia mengacu ke Gunung Padang sebab dating-nya saja belum definitif.

  • Rahmawan Helmi se 7pisan sareung kang Awang Satyana, umur / dating bangunan atau umur batuan ?
  • Danny Hilman Natawidjaja Tujuan dari posting ini justru ingin mengatakan bahwa kontroversi tentang umur peradaban manusia, termasuk di Indonesia, adalah ‘dialektika’ (realita thesis dan anti-thesis) di dunia ilmiah tidak harus mengacu ke Gunung Padang.
    Perdebatan Gunung Padang bukan hanya masalah umur tapi juga fisik bangunan, yaitu apakah lapisan pertama yang kita lihat dipermukaan sebatas di dalam pagar situs di atas bukit atau menyelimuti badan bukit sampai ke bawah, dan apakah hanya di lapisan atas saja atau juga ada bangunan lebih tua di bawah permukaan. Tentang umur, sudah sering kami kemukakan bahwa karbon dating bukan hal yang gampang. Masalah yang dikemukakan Pak Awang tentang kehati-hatian dalam karbon dating termasuk penggunaan “disseminated carbon”pada prinsipnya benar. Namun men-dating lapisan budaya tidak juga harus menggunakan karbon dari unsur budaya tapi bisa dari unsur alamnya. Misalnya, kita bisa menentukan umur suatu bangunan purba dari men-dating umur “paleosoil” (permukaan tanah purbanya), atau menentukan umur termuda dari lapisan geologi yang menutupnya. CONTOH, saya pernah meninjau Situs LIYANGAN di lereng utara Gunung Sindoro, Jawa Tengah dan mengambil sampel arang dari pohon yang terbakar oleh lapisan ‘piro klastik’ (wedus gembel) setebal beberapa meter yang menimbun bangunan situs. Hasil karbon dating dari arang tersebut kisaran umurnya 690 – 880 Kalender Masehi (2 sigma calibration – dilakukan di Lab. BETA ANALYTIC, USA). Karena kami belum ada data apakah pohon terbakar itu se- zaman dengan bangunan situs atau hidup (jauh) setelahnya, maka hasil karbon dating itu hanya umur MINIMUM dari situs, artinya umur Situs Liyangan bisa pada kisaran waktu itu, tapi mungkin juga pada zaman yang (jauh) lebih tua. Jadi apabila dikatakan bahwa Umur Situs Liyangan itu 900 Masehi, saya yakin umur itu terlalu muda. Sama hal nya apabila misalnya nanti ada letusan Gunung Merapi yang sampai ke Borobudur dan menimbunnya, termasuk pepohonan di sekitarnya; Maka ribuan tahun kemudian apabila ada ahli arkeologi/geologi membuat karbon dating dari sampel pohon yang ikut tertimbun itu hasilnya hanya bisa menentukan umur minimum, bukan umur Situs Borobudur.
    Perlu juga dipahami bahwa pergerakan unsur karbon itu sangat terbatas. Karbon-karbon yang berasal dari proses di permukaan (tanaman modern, kebakaran hutan, dll) tidak mudah dibawa air hujan untuk penetrasi sampai ke lapisan di bawah permukaan, umumnya hanya sampai beberapa meter saja. Lebih jauh lagi, analisa karbon dating lebih teliti bisa memisahkan pengotoran unsur karbon masa kini tersebut. Jadi penentuan umur karbon dari lapisan tanah/geologi pada kedalaman 10 meter misalnya untuk menentukan umur lapisan tersebut dengan anggapan bahwa karbon-nya berasal dari unsur biologi ataupun dari kebakaran pada masa diendapkannya lapisan tersebut sah-sah saja. Pendek kata, dapat kami katakan bahwa walaupun belum final, hasil “batch pertama” karbon dating dari berbagai material dan lapisan di berbagai kedalaman, yang sudah memakan biaya puluhan juta rupiah, cukup konsisten dan masuk akal sehingga menurut hemat kami sudah cukup layak untuk dipublikasi. Dalam waktu dekat ini kita akan melakukan lagi karbon dating “batch kedua” sebagai usaha untuk menguji-ulang atau mengkoreksi hasil pertama dengan sampel-sampel yang lebih baik lagi, Insya Allah. Yang jelas, bukan sikap ilmiah yang sehat apabila seorang ahli ber-opini dengan enteng-nya bahwa hasil karbon dating yang kami lakukan tidak benar, seolah-olah hanya dia yang paham karbon dating.
    Berbagai keterbatasan dan kelemahan dari hasil analisa ilmiah itu biasa, kita tidak menutup mata akan hal ini. Siapapun yang berkeahlian dan ingin tahu lebih banyak atau ingin menyumbang pemikirannya tentang hasil-hasil penelitian Gunung Padang dengan senang hati akan kami layani. Demikian juga bagi berbagai pihak yang ingin melanjutkan atau melengkapi penelitian dengan berbagai metoda atau untuk tandingan/kontrol dari penelitian yang sudah dilakukan sangat kami dukung, termasuk juga apabila ada yang ingin melakukan karbon-dating sendiri atau dengan metoda penentuan umur lainnya. Yang kami lawan adalah pihak-pihak yang dengan berbagai cara dan alasan ingin menghentikan jalannya penelitian.
  • Abhisekh Agus Timex dengan adanya riset ini setidaknya perlahan lahan misteri umur bangunan ataupun hal hal lain yg berkaitan akan terkuak .. Perdebatan pasti ada … Itulah seni penelitian2 dan tetap semangat terus karena harapan kita semua ada pada team riset ini
  • Eko Wiwid Arengga perdebatan ini..menarik..dan perlu dibiasakan untuk ilmu pengetahuan…jadi soal perbdaan sampel karbon..menuruts. saya jangan hanya selesai bicara diatas meja.yang ujung-ujungnya.” Copas” data,..saya akan lebih senang kalu perdebatan juga dibarengi..kerja lapangan dan mau melakukan penelitian di Gunung Padang dan saya tidak suka dengan orang yang berupaya nenghentikan riset dengan cara “tendensius” seperti ada ketakutan kalah langkah atau sepertin adanya upanya yang ditutup-tutupi..semoga tidak terjadi..”̮ƗƗɐƗƗɐƗƗɐƗƗɐƗƗɐƗƗɐƗƗɐ”̮ ..pisss..Buat semua..maaf saya bukan ahli geologi atau ahli arkeoloogi dan ahli sejenisnya, mungkin saya hanya ahli waris dari negri ini, tapi saya boleh juga dong..suka dengan adanya riset ulang soal Gunung Padang saya jadi dapat pencerahan..ketimbang sebelumnya gunung padang hanya membisu begitu saja..alias tidak di riset..
    July 21 at 7:57am via mobile · Edited · Unlike · 2
  • Rahmawan Helmi dari komentarnya kita bisa menilai . . . siapa yang berQUALITAS
  • Ummy Latifah cukup mewakili 2 metode dan pandangan yang berbeda…seimbang sama2 berkualitas…perdebatan yang dinamis..
  • Teguh M S Saya pernah bertanya sama pak Awang perihal carbon dating analagi sebuah kaleng sarden di endapan tsunami meulaboh. Semoga saja untuk kasus Gunung Padang diketemukan sisa ikan sardennya atau setidaknya bisa ditelusuri jenis dan tipycal kaleng sardennya sehingga ada pendekatan usia yang lebih valid. Sebagai orang awam saya mah Bravo aja dah,………..
  • Uussega Us PERCAYA DEH .. SUATU SAAT ” PASTI ” . PASTI SEMUANYA AKAN TERUNGKAP ” HAL YG SEBENAR NYA , TTG GN PADANG TSB “. ( dan tdk ada rekayasa karena kepentingan ” EGO ” semata , karena hampir ” SELURUH MATA DAN TELINGA TERTUJU KE SANA ” .
    9 hours ago via mobile · Like · 1
  • Ahmad Yanuana Samantho Penyingkapan melalui penelitian komprehensive multi disiplin atas fakta historis gunung padang adalah upaya yg sangat layak diapresiasi. Upaya dan perjuangan pak Danny
    Hilman, pak Ali Akbar, pak Pon, dkk, bukan untuk kepentingan ego pribadi maupun ego kelompok apalagi ego parpol ttt. Ini adalah upaya yg sangat nasionalistis bahkan berdimensi kemanusiaan universal. Yg justru harus kita pertanyakan nawaitunya adalah justru adalah kaum penentang riset ini dari kalangan ilmuwan berlatar rotary club, lions club dan bbrp media massa yg disetir oleh kepentingan konspirasi neoimperialis zionis, freemasonry, CIA dan illuminati hitam di indonesia. Mengapa mereka begitu ketakutan dan phobia bila keagungan peradaban leluhur nusantara terungkap dan membangkitkan kesadaran nasional publik indonesia baru.
  • Naryana Indra SULITNYA JIKA MANUSIA ITU SUDAH “BERWARNA”, JIKA SUDAH BERWARNA ARTINA SEUMUR HIDUPNYA AKAN TERKUNGKUNG ALIAS TIDAK BEBAS…….
  • Oki Oktariadi Sejak Aryo Santos mengatakan Sundaland itu Atlantis yg hilang dan S. Openheimer mengatakan Sundaland itu Awal Peradaban Manusia, kumudian Danny Hilman cs………mengatakan Gunung Padang yg ada di Sundaland itu sisa sisa peradaban besar……….kontroversi terus berlanjut…….jadi ada apa dng Sundaland dan mengapa para pendahulu geologist begitu suka menyebut sebuah kata ‘SUNDA’ ………namun setelah merdeka nama sunda itu perlahan hilang…….jarang generasi sekarang mengenal yg namanya Sunda Besar dan Sunda Kecil…….malahan orang Sundapun mengecilkan diri terutama setelah Banten menjadi provinsi sendiri banyak yg mengatakan Sunda itu Jawabarat ……….mungkin suatu saat yg tersisa dengan Sunda itu hanya tinggal
    3 minutes ago via mobile · Unlike · 1
Iklan

3 comments on “BENARKAH PERADABAN MANUSIA BARU BERKEMBANG SEJAK SEKITAR 10.000 TAHUN LALU?

  1. Allah Swt dalam penciptaan mahluknya, Malaikat, Iblis dan Manusia (Adam), telah memberikan kelebihan kepada Adam dengan memberikan bekal ilmu pengetahuan. Oleh karenanya Allah memerintahkan para malaikat da iblis untuk bersujud.
    Ini pertanda kehadiran Manusia pertama (Adam dan Hawa) dari sejak awal penciptaan telah memiliki peradaban (ilmu pengetahuan)

    Namun, dalam perjalanan waktu terbukti hingga kini tidak semua peradaban tersebut sampai atau dapat diterima oleh sebagian kecil manusia (suku/kaum). Hal ini bisa kita lihat di Indonesia masih ada manusia yang hidup tak ubahnya seperti zaman pra sejarah sebagaimana kehidupan anak dalam (kubu) di Jambi, sumatera selatan dan Riau, Dayak, Badui Dalam, dan Papua, keturunan Indian dibeberapa negara amerika latin dan benua Afrika.

    Terkait pengembangan opini yang mengkaitkan ada peran UFO/Alien dalam berbagai peradaban sebelum masehi sebagaimana yang dikembangkan/dikampanyekan oleh para peneliti orientalis barat, menurut saya adalah bentuk dari keputusasaan mereka, karena apa yang mereka teliti tidak bisa ditemukan/dijawab oleh Al-kitab, namun bisa terjawab di Al-Quran. Hal ini bisa kita ikuti diberbagai program acara National Geografi dan History jaringan Indovision, yang dalam kajian dan penelitian mereka tidak pernah mau mengambil sumber referensi sebagaimana yang ada dalam al-Qur’an namun secara intens kerab mengambil referensi dari Al-kitab.

    Bagaimanapun, menurut saya umur peradaban sama tua atau dapat dikatakan telah dimulai sejak pertama kali Adam dan Hawa diturunkan ke dunia dalam keadaan telanjang bulat, dan tindakan awal yang dilakukan oleh Adam dan Hawa adalah mencari penutup Aurat mereka sebagai bukti awal nenek moyang manusia tersebut sudah beradab. Setelah mereka bertemu di Padang Arafah, Adam membangun peradaban dengan mengajarkan kaum/keturunan dari anak-anaknya untuk bercocok tanam, berternak, tata cara menikah, dan beribadah kepada Allah SWT.

    ini pendapat saya, kalau ada salah dan kekurangan harap maklum.

  2. Allah Swt dalam penciptaan mahluknya, Malaikat, Iblis dan Manusia (Adam), telah memberikan kelebihan kepada Adam dengan memberikan bekal ilmu pengetahuan. Oleh karenanya Allah memerintahkan para malaikat da iblis untuk bersujud.
    Ini pertanda kehadiran Manusia pertama (Adam dan Hawa) dari sejak awal penciptaan telah memiliki peradaban (ilmu pengetahuan)

    Namun, dalam perjalanan waktu terbukti hingga kini tidak semua peradaban tersebut sampai atau dapat diterima oleh sebagian kecil manusia (suku/kaum). Hal ini bisa kita lihat di Indonesia masih ada manusia yang hidup tak ubahnya seperti zaman pra sejarah sebagaimana kehidupan anak dalam (kubu) di Jambi, sumatera selatan dan Riau, Dayak, Badui Dalam, dan Papua, keturunan Indian dibeberapa negara amerika latin dan benua Afrika.

    Terkait pengembangan opini yang mengkaitkan ada peran UFO/Alien dalam berbagai peradaban sebelum masehi sebagaimana yang dikembangkan/dikampanyekan oleh para peneliti orientalis barat, menurut saya adalah bentuk dari keputusasaan mereka, karena apa yang mereka teliti tidak bisa ditemukan/dijawab oleh Al-kitab, namun bisa terjawab di Al-Quran. Hal ini bisa kita ikuti diberbagai program acara National Geografi dan History jaringan Indovision, yang dalam kajian dan penelitian mereka tidak pernah mau mengambil sumber referensi sebagaimana yang ada dalam al-Qur’an namun secara intens kerab mengambil referensi dari Al-kitab.

    Bagaimanapun, menurut saya umur peradaban sama tua atau dapat dikatakan telah dimulai sejak pertama kali Adam dan Hawa diturunkan ke dunia dalam keadaan telanjang bulat, dan tindakan awal yang dilakukan oleh Adam dan Hawa adalah mencari penutup Aurat mereka sebagai bukti awal nenek moyang manusia tersebut sudah beradab. Setelah mereka bertemu di Padang Arafah, Adam membangun peradaban dengan mengajarkan kaum/keturunan dari anak-anaknya untuk bercocok tanam, berternak, tata cara menikah, dan beribadah kepada Allah SWT.

    ini pendapat saya, kalau ada salah dan kekurangan harap maklum.

  3. SUNDALAND Tidak boleh tidak adalah negri yang penduduknya penghuninya kebanyakan orang sunda berbahasa sunda, seperti England adalah negri dengan penduduknya orang ingris atau berbahasa inggris . Tidak mungkin orang akan menyebut sundaland kalo ternyata penduduknya kebanyakan orang ambon atau orang jawa .

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Atlantis in the Java Sea

A scientific effort to match Plato’s narrative location for Atlantis

sembrani

bertukar ide, melampaui mimpi bersama

Nurul Wirda

0812-8267-9182

aawanto

The greatest WordPress.com site in all the land!

Covert Geopolitics

Beyond the Smoke & Mirrors

Catatan Harta Amanah Soekarno

as good as possible for as many as possible

Women Terrace

to say something that i never talk before

Kanzunqalam's Blog

AKAL tanpa WAHYU, akan berbuah, IMAN tanpa ILMU

Cahayapelangi

Cakrawala, menapaki kehidupan nusantara & dunia

religiku

hacking the religion

SANGKAN PARANING DUMADI

Just another WordPress.com site

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

%d blogger menyukai ini: