4 Komentar

Renaisans Nusantara di Awal Milenium ke-3 ?

Renaisans Nusantara di Awal Milenium ke-3 ?

Oleh: Ahmad Y. Samantho, S.IP, MA, M.Ud


  Bismilahi al-Rahman al-Rahim, Allahuma Shalli ala Muhammad wa alaa ‘Aalii Muhammad wa Ajjil Farojahum.

 

Hari ini, Jum’at, 15 Maret 2013, STFI Sadra dan ICAS-Paramadina Jakarta, telah mulai  menyelenggarakan Studium General yang mengangkat tema: “Format Baru Pemikiran Islam Menuju Renaisans Indonesia” dengan menghadirkan 2 narasumber yang sudah dikenal luas sebagai tokoh pemikir Islam Nusantara, yaitu: Prof.Dr. Azyumardi Azra (Direktur Sekolah Paskasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta), dan Prof.Dr. Seyyed Mofid Hoseini Kouhsari (Direktur ICAS Jakarta & Perwakilan Universitas Islam Internasional al-Mustafa-Iran).

Tema Studium General ini sangatlah menarik, terutama buat saya pribadi. Namun entah apa persisnya yang ada di balik pemikiran para penggagas Studium General tersebut,  namun demikian saya merasa sangat senang dan bergairah dalam menyambut Studium General yang bertema langka dan unik tersebut. Tema tersebut saya pandang sangatlah strategis dan signifikan dalam kancah pemikiran Islam dunia secara global dan secara nasional.

Sebagai insan akademik dan warga komunitas intelektual yang turut dibesarkan dan dibina oleh para pemikir dan intelektual Islam Indonesia dan dunia di Program Magister Filsafat Islam ICAS-Universitas Paramadina, maka saya merasa sangat terpanggil untuk menuliskan gejolak jiwa dan kegelisahan pemikiran saya selama 10 tahun terakhir ini (2003-2013).

Prof. Dr. Azyumardi Azra, sudah dikenal track pemikiran beliau tentang sejarah masuknya Islam di Nusantara dan peran jaringan para ulama di Nusantara sejak abd 16-17 M. Peran Pak Azra ini ini juga sangat menonjol dalam gerakan pemikiran kebangkitan Islam Indonesia, sejak  beliau masih menjadi wartawan majalah Panji Masyarakat tahun 1980-an dan berlanjut era munculnya ICMI bersama para pemikir Islam Indonesia lainnya, seperti almarhum Cak Nur (Prof. Dr. Nurcholis Madjid), Almarhum Dr. Abdurahman Wahid, Dr. Jalaluddin Rakhmat, Dr. Haidar Bagir, dll.

Sementara Prof. Dr. Seyyed Mofid Hosein Kouhsari, mungkin akan mewakili genre tradisi pemikiran ulama-intelektual Islam Persia (Iran), di mana Iran telah terbukti merupakan gudang para pemikir, filosof, ulama dan intelektual Islam Persia sejak Abad-abad Pertengahan (sekitar abad 9-10 M), yang terus berlanjut hingga masa kemenangan Revolusi Islam Iran, melalu serangkaian upaya dan perjuangan para ulama-intelektual Islam Iran seperti Imam Ruhullah Khomeini, Ayatullah Murtadha Mutahhari, Alamah Thabathabaei, dll.

Mungkinkah Renaisans Indonesia ?

Gagasan tentang kemungkinan, peluang atau harapan akan terjadinya Renaisans di Indonesia, sudah tentu pernah dilontarkan oleh beberapa pemikir Islam Indonesia. Seingat saya, ketika saya masih kuliah sebagai mahasiswa program magister Filsafat Islam di ICAS London –Universitas Paramadina tahun 2003, kampus kami pernah membuat sebuah seminar dengan tema Renaisans Islam Indonesia. Pada waktu, para penggagas dan narasumernya adalah Almarhum Cak Nur, Dr. Haidar Bagir, Dr. Jalaluddin Rakhmat dan Ir. Hussein Heriyanto, dll. Kini sebagai salah satu murid mereka, saya pribadi merasa terpanggil dan bertanggung jawab untuk menuangkan pemikiran “orisinil” saya, sebagai sebuah hasil didikan mereka dan juga insight (ilham) yang Allah SWT berikan kepada saya dalam proses pencarian dan petualangan intelektual-spiritual saya.

Berbicara mengenai gerakan renaisans (Renaisance), tentu tak terlepas dari contoh sejarah Renaisance yang terjadi di Eropa (Perancis), sebagai akibat dari kontak budaya dan peradaban yang terjadi antara bangsa-bangsa Eropa dengan Peradaban Islam Timur Tengah (Arab-Persia), sebagai ekses selama dan paska terjadi “Perang Salib / Perang Sabilillah” antara kerajaan-kerajaan Kristen Eropa dengan kerajaan-kerajan Islam Timur Tengah, sekitar abad 10-11 M ( periode 1096 – 1173 M).  Pada saat itu kemudian terjadi kebangkitan kesadaran dan pemikiran intelektual-rasional di Eropa, dan kesadaran serta kebanggaan bangsa Eropa yang merasa dirinya adalah pewaris (Ahli Waris) Peradaban Adiluhung Yunani-Romawi, yang sangat kaya akan pemikiran rasional dan romantisme Peradaban dan Budaya Yunani-Romawi. Dalam proses menuju renaisans Eropa tersebut, sudah tentu peran para ulama dan intelektual peradaban Islam Timur Tengah (Arab dan Persia) sangatlah besar. Karena merekalah yang sebelumnya sangat aktif menggali, penerjemahkan dan mengembangkan warisan pemikiran para filosof Yunani seperti Hermes Trimegistus, Socrates, Plato dan Aritoleteles, dll, ke dalam bahasa Arab.

Kemajuan yang dicapai bangsa-bangsa Barat (Eropa dan Amerika) saat ini adalah sebuah berkah dari kemajuan pemikiran rasional-filosofis Yunani yang ditularkankan melalui dan oleh peradaban Islam Timur Tengah di abad pertengahan kepada murid-murid bangsa Eropa di Cordova dan Sevila di Negri Spanyol Islam. Peradaban Islam Timur tengah abad pertengahan telah menggali, menerjemahkan, melestarikan dan serta mengembangkan lagi produk-produk pemikiran para filosof dan para pemikir Yunani-Romawi, bahkan juga warisan dari pemikiran dan filsafat peradaban besar dunia lainnya, semisal Mesir, Sumeria-Babilonia, Persia, India serta China.

Namun kemudian, setelah masa kejayaan peradaban Islam yang berperan mengangkat kemajuan peradaban Eropa paska Renaisans tersebut, justru terjadi kemunduran budaya dan peradaban umat Islam, akibat konflik politik kekuasaan berkepanjangan dan konflik sektarian serta melemahnya pemikiran rasional di sebagian besar masyarakat umat Islam (Sunni). Namun potensi pemikiran Islam mulia yang agung dan luhur itu masih terjaga baik dan terlestarikan di kalangan sebagian minoritas kalangan para ulama-cendikiawan-intelektual dan filosof Islam Persia-Iran yang umumnya bermazhab Syiah dan sebagian kecil Sunni. Hingga kini, sedang terjadi musim semi kebangkitan pemikiran Islam rasional-religius di Republik Islam Iran, sebagai berkah dari kemenangan gerakan Revolusi Islam Iran sejak tahun 1979. Kemenangan Revolusioner Islam Iran itu masih bertahan dan berkembang dengan baik di Iran, walaupun tekanan dan ancaman hegemonik sisa-sia pengaruh imperialisme-kolonialisme Barat (Amerika dan Eropa) sangatlah kuat menekan bangsa dan negara Republik Islam Iran. Ada semacam renaisance di Iran saat ini.

Lalu bagaimanakah dengan Indonesia atau Nusantara sebagai negeri berpenduduk Muslim terbesar di dunia? Mungkinkah terjadi sebuah gerakan “Renaisans Islam” di Nusantara sebagai sebuah efek ikutan dari semacam “Renaisans Islam” di Iran? Ataukah akan terjadi sebuah “Renaisans yang khas Nusantara” bagi bangsa-bangsa Nusantara (ASEAN) yang di-inisiasi dan dipimpin oleh Muslim Indonesia?  Atau adakah sebab-sebab dan alasan lain yang lebih potensial dan niscaya untuk semacam “Renaisans yang khas Nusantara” di Indonesia, yang tentunya latar belakang sejarah dan budayanya “agak berbeda” dengan bangsa Iran yang “relatif homogen” massa rakyatnya? Indonesia mempunyai realitas khas kebangsaan, kultur budaya dan etnis bangsa Indonesia sangatlah plural, multikultur dan multi agama, walaupun mayoritasnya Muslim (Bhineka Tunggal Ika).

Menurut saya, sebuah renaisans atau kebangkitan kesadaran  baru dan revolusi budaya-peradaban Nusantara-Indonesia hanya akan efektif terjadi (menjadi kenyataan) bila didasari oleh bangkitnya kesadaran murni, dan penemuan kembali jati diri bangsa serta warisan “budaya-peradaban asli” Indonesia (Nusantara). Namun demikian, hal ini tidak berarti menafikan fakta adanya proses interaksi dan akulturasi budaya dari berbagai peradaban besar dunia seperti Hindu Budha India dan Cina, Islam Arab dan Persia, serta Judeo-Christian Eropa-Amerika (Barat) yang berpengaruh dalam periode sejarah tertentu kepada Peradaban Nusantara secara keseluruhan. Tentu saja bisa prasyarat utama ini terpenuhi, maka renaisans Nusantara sangatlah mungkin dan niscaya terjadi di Indonesia.

Ada yang lebih fundamental, radikal dan lebih strategis yang saya temukan saat ini dari hasil penelitian sejarah budaya peradaban Nusantara serta kajian filsafat dan agama-agama dunia. Bahwa bangsa Nusantara (Indonesia) yang kini mayoritas Muslim, tidak hanya sekedar telah diperkaya oleh interaksi dan akuturasi pengaruh budaya  Hindu-Budha dari India dan China, lalu Islam dari Arab dan Persia – bahkan sejak zaman Nabi Muhammad SAW masih hidup dan berdakwah di tanah Arab sana; namun juga peran para kaum Alawiyin Ahlul Bayt Nabi Muhammad SAW beserta para tokoh elite lokal raja-raja dan para sultan se-Nusantara dalam mengislamkan penduduk Nusantara. Bahkan, saya juga menemukan sebab-sebab fundamental, filosofis-mistikal-irfani dari temuan fakta sejarah dan prasejarah Nusantara Kuno puluhan ribu tahun yang lalu. Walaupun, hal ini tentunya masih perlu kajian dan penelitian akademis secara mendalam, komprehensif-holitis multi disiplin keilmuan. Bahkan bila perlu sampai pada tahap penelitian tingkat doktoral (disertasi).

Ide dasar pemikirannya yang –yang masih agak kurang sistemastis metodologis- telah saya tuangkan ke buku yang saya tulis yang berjudul: “Peradaban Atlantis Nusantara, temuan spektakuler yang semakin menguatkan tentang keberadaanya.” Buku itu terbit tahun 2011 dan kini telah terjual habis di pasaran lebih dari 5000 eksemplar dan sdh 2 kali naik cetak .

Peradaban Lemuria & Atlantis Nusantara

Sudah tentu secara jujur harus saya katakan bahwa dasar-dasar pemikiran yang saya tulis dalam buku Peradaban Atlantis Nusantara itu sangatlah terpengaruh oleh pemikiran para pemikir besar dunia. Di pundak merekalah saya saya berusaha bisa duduk menyerap ilmu  dan jiwa (spirit) kepada mereka. Tentu saya harus berterima kasih kepada “Eyang” Hermes Trimegistus (Nabi Idris as.),  kepada “mbah” Plato, kepada Kanjeng Nabi Muhammad SAW, kepada “Eyang” Mulla Sadra, dan “Kakek Murtadha Muthahhari dan “Pun Aki” Imam Khomeini, serta berterima kasih kepada para Guru mulia: Almarhum Prof. Dr. Nurcholis Madjid, Dr. Haidar Bagir, Dr. Jalaluddin Rakhmat. Prof. Abdul Hadi WM, dan Prof. Dr. Kautsar Azhari Noer, Dr. Ir. Hussein Heriyanto. Juga kepada Prof. Dr. Arisyo Nunes Des Santos dan Prof.Dr. Stephen James Oppenheimer, Dr. Radhar Panca Dahana, dll

Intinya, dalam buku ‘Peradaban Atlantis Nusantara’ itu serta dalam beberapa buku lain yang sedang dan akan saya tulis berikutnya, bahwa tanah Nusantara (Indonesia) ini adalah negeri keramat para Nabi Allah SWT, dan negeri suci para Waliyullah, para Wali Kutub, sejak Nabi Adam as, Nabi Idris as (Hermes Trimegistus/Thot/Orisis/Henoch/Mercurius Tri Maksimus), Nabi Nuh as, Nabi Ibrahim as, Nabi Sulaeman, serta para waliyullah dan alawiyin Ahlul Bayt Nubuwwah.

Karena berkah Allah dan sentuhan dakwah merekalah maka negeri Nusantara kini menjadi lahan subur dan tempat habitat Muslim terbesar di Dunia. Alih-alih Nusantara hanyalah merupakan keturunan yang terpengaruh (diberadabkan oleh) peradaban dan budaya Hindu-Budha India dan kemudian Islam Arab-Persia, sejatinya Nusantara adalah tanah air yang subur oleh siraman ajaran kearifan para Nabi Allah periode awal. Nusantara adalah “Eden in The East”. Tanah Surga (swarga) di Timur, tempat awal Nabi Adam as dan keturunannya membangun Induk awal peradaban dunia. Tempat awal tumbuhnya peradaban Vedic (Wedha) Sanatha Dharma yang berkarakter monotheistik. Juga tempat tumbuhnya ajaran kearifan lokal-global Sunda Wiwitan serta Suluk Kejawen Kuno yang berciri ajaran kosmologis monisme eksistensial-epistemologis: “Bhineka Tunggal Ika, Tan Hanna Dharma Mangrwa”.

Nusantara adalah situs bersejarah tempat berkembangnya ajaran budi pekerti luhur dari Sang Budha Sidartha Gautama, yang tak lain adalah tokoh yang sama yang disebut sebagai Nabi Dzul Kifli, kelahiran kota Kafilavastu India, tapi ajarannya justru berkembang subur pada zamannya justru di Nusantara (Sriwijaya) dan Tanah Jawa. Candi monumental Borobudur adalah salah satu bukti nyata warisan ajaran spiritual monotheistik “Budhis-Islami” atau “Islam akhlaki” atau Budhi pekerti luhur Islamis substansial.

Mitos invasi Arya ke India, dan berikutnya Invasi budaya India-Arya ke Nusantara – yang dipaksakan oleh kolonialis-imperialisme Barat – kini mulai banyak dipertanyakan dan dibantah kebenarannya oleh beberapa cendikiawan kelas dunia yang tercerahkan. Mitos superioritas hegemonis Zionisme-Illuminati yang mengatasnamakan Jahudi (Jewish) pun mulai terbantahkan dengan temuan-temuan berbagai fakta dan indikator historis tentang Jejak Peradaban Lemuria dan Atlantis di Nusantara.

Salah satu temuan riset arkeologis terbaru tentang sejarah Situs Purbakala Gunung Padang yang berbentuk Piramidal (punden berundak/Stepping Pyramids) di Cianjur, yang berusia sekitar 24.000 – 30.000 tahun yang lalu, menjadi tonggak penelitian penting tentang keberadaan Peradaban Awal Umat Manusia di Indonesia. Hal ini dan banyak penelitian sejarah Nusantara lainnya, semakin memperkuat thesis Prof. Dr. Santos tentang Lokasi Peradaban Atlantis-nya Plato di Indonesia, dan lokasi Eden (surga) Nabi Adam dan Induk Awal Peradaban umat manusia sedunia di Nusantara oleh Prof. Dr. Stephen James Oppenheimer. Hal ini sangat potensial menjadi titik masuk pertama bagi proses menuju “Renaisans Nusantara” atau “kebangkitan Kesadaran Baru  Pembangunan Kembali Peradaban Indonesia Baru.

Bila bangsa-bangsa Eropa bangkit dan telah mengalami Renaisans-nya berkat informasi dan filsafat ilmu pengatahuan Yunani yang mereka dapatkan melalui jasa para ulama-intelektual Islam Timur Tengah, maka bukan tidak mungkin bila Resainsan Nusantara akan segera terjadi, ketika Bangsa Indonesia dan Nusantara menyadari fakta sejarah dan jati dirinya sebagai pewaris atau ahli waris Induk Peradaban Awal Dunia di Lemuria dan Atlantis Nusantara. Atlantis Nusantara adalah induk yang telah melahirkan dan membina berbagai Peradaban Besar dunia seperti Mohenjo-Daro harrapa India, Mesopotamia, Babylonia, Sumeria, Mesir, Yunani-Romawi, China, Korea dan Jomon –Jepang, Indian Maya, Inca dan Aztek di Amerika Tengah, dll. Atlantis Nusantara adalah habitat awal Manusia Cerdar beriman yang pertama di Dunia bersama para Nabi Allah periode awal: Adam, Idris, Nuh dan Ibrahim. Apalagi bila segala rahasia kearifan filosofis-ideologis serta ilmu pengetahuan-teknologi serta semua aspek Peradaban Lemuria-Atlantis Nusantara telah terkuak melalui penlitian dan penggalian yang inteksif serta ekstensif secara gotong royong oleh berbagai lapisan masyarakat Indonesia.

Hipothesis Syarat Utama Renesans Nusantara

Singkat kata, syarat utama agar bisa terjadinya Renaisans di Nusantara adalah bila mayoritas warga bangsa Indonesia dan bangsa-bangsa Nusantara (ASEAN) dapat kembali menggali dan mengembangkan serta menerapkan ajaran suci filosofis-spiritual para leluhur Nusantara yang terpimpin oleh Hikmah Kebijaksanaan para Nabi Allah dan Waliyullah, serta ajaran para Leluhur suci bangsa Nusantara, sejak Nabi Adam as sampai kepada kepada para ulama awliya Allah para Wali Songo dan para ulama dari kalangan Alawiyyin Ahlu Bayt Nabi Muhammad SAW dan para wali suci pujangga asli Nusantara.

Inti dari warisan falsafah perennial universal Nusantara kuno, yang merupakan intisari ajaran agama-agama dan budaya ilahiyah transendental, dapat menjadi kesadaran baru bangsa Nusantara di awal milenium ketiga ini. Ajaran filosofis Sunda Wiwitan, Suluk Kejawen Kuno, Tradisi Kaharingan Dayak Kalimantan, Epos Ila Galigo Bugis, dll. Adalah beberapa di antara ajaran kearifan lokal Nusantara, yang bila diteliti lebih mendalam, akan menemukan titik temunya dengan ajaran Milah Ibrahimiyah (Brahmana), Wedha (Vedic) Hindu, Budha, Judeo-Christian (Nabi Musa as dan Isa as) serta Islam Muhammadi, dapat menjadi modal dan aset peradaban utama yang dapat mengokohkan fondasi kebangkitan kesadaran baru (Renesans) bangsa Indonesia-Nusantara. Insya-Allah.

Maka landasan filosofis-ideologis Panca Sila menjadi sebuah keniscayaan bagi bangkitnya kesadaran baru berbasis kosmologi-ontologi: “Bhineka Tunggal Ika, Tan Hanna Dharma Mangrwa” (Keberagaman/Pluralitas yang berasal dari dan akan kembali kepada Ketuhanan Yang Maha Esa, Dan “Tiada kebenaran yang mendua”). Inilah spirit “Sangkan Paraning Dhumadi”, akar perennial universal atau Ashalatul Wujud (Principality of Existence) versi Mulla Sadra, dan “Wahadtul Wujud” versi Ibn ‘Arabi. Atau konsep “Manunggaling kawulo lan Gusti” ala Syekh Siti Jenar. Yang kesemuanya akan menjadio basis ontologis epistemologis bagi terwujudnya konsep asli Nusantara sebagai “Sangga Buana”/“Mangku Bumi”/”Paku Buwon”/ “Hamemayu hayuning bawono”. “Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwatining Diyu”.

Tak hanya warisan spiritual ilahiyah asli Nusantara yang harus kita gali dan kembangkan, tetapi juga warisan ilmu pengetahuan teknologi material budaya dan peradaban Nusantara Kuno yang unggul era Lemurian-Atlantis Nusantara, yang dapat menghantarkan Renaisans Nusantara, tetapi juga perkembangan rasionalitas-spiritualitas postmodern Barat dan Timur di Nusantara, menjemput “The Golden Age”“Imam Mahdi” / “Satrio Piningit / “Ratu Adil” / “Bocah Angon”  Milleniarisme Nusantara.

 Wallahu ‘alam Bishawab,

Kalisuren, Jum’at, 15 Maret 2013-03-15,

Ahmad Y. Samantho


Iklan

4 comments on “Renaisans Nusantara di Awal Milenium ke-3 ?

  1. Terimakasih atas kiriman Bapak tsb. di atas, kabar menarik untuk disimak.
    Saya sudah kurang berminat mengikuti seminar-seminar agama, karena tidak ada hal-hal terbaru yang disampaikan. Apalagi cuma wacana-wacana tanpa “actions” sebagai kelanjutannya, sehingga kurang menarik bagi saya sebagai praktisi yang menghargai “peluang amaliah” dan “momentum” ……
    Wassalam,

  2. […] Beryl C. Syamwil Ahmad Yanuana Samantho, ENTAHLAH. Silahkan dipikirkan dan dikaji kelompok khusus. Saya nggak nyandak tuh. Saya hanya melihat kuatnya persoalan ABJAD dengan AGAMAINJIL tidak disebarkan dalam bahasa aslinya, Ibrani – Yahudi, tetapi bahasa LATIN ROMA, mantan penjajah. Dan karena agama KATOLIK benar-benar anti SEMIT, Taurat pun dibuat sendiri berbahasa LATIN dengan nama terjemahannya lagi “Perjanjian Lama”. Seluruh jajahan Kemaharajaan KATOLIK SPANYOL dipaksakan memakai huruf Latin untuk persatuan, tetapi Injil diterjemahkan ke masing-masing bahasa lokal dengan abjad LATIN. Raksasa sekali. Sanggup menggeser abjad Arab-Melayu. 5 minutes ago · Unlike · 1 LINK TERKAIT : https://ahmadsamantho.wordpress.com/2013/03/18/egyptian-and-west-semitic-words-in-sumatras-rejang-culture/ https://ahmadsamantho.wordpress.com/2013/03/19/13185/ https://ahmadsamantho.wordpress.com/2013/03/15/renaisans-nusantara-di-awal-milenium-ke-3/ […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Atlantis in the Java Sea

A scientific effort to match Plato’s narrative location for Atlantis

sembrani

bertukar ide, melampaui mimpi bersama

Nurul Wirda

0812-8267-9182

aawanto

The greatest WordPress.com site in all the land!

Covert Geopolitics

Beyond the Smoke & Mirrors

Catatan Harta Amanah Soekarno

as good as possible for as many as possible

Women Terrace

to say something that i never talk before

Kanzunqalam's Blog

AKAL tanpa WAHYU, akan berbuah, IMAN tanpa ILMU

Cahayapelangi

Cakrawala, menapaki kehidupan nusantara & dunia

religiku

hacking the religion

SANGKAN PARANING DUMADI

Just another WordPress.com site

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

%d blogger menyukai ini: