19 Komentar

Bocah Angon menurut Ugo Wangsit Silwangi

Bocah Angon menurut Ugo Wangsit Silwangi

Wangsit Siliwangi :
Suatu saat nanti, apabila tengah malam
terdengar suara minta tolong, nah itu adalah tandanya.

Sosok Satrio Piningit memang masih misterius. Banyak sudah yang mencoba untuk menemukannya dengan caranya sendiri-sendiri. Alhasil ada yang yakin telah menemukannya, bahkan juga ada yang mengaku dirinyalah si Satrio Piningit tersebut. Apabila diteliti maka sosok yang telah ditemukan itu masih bisa diragukan apakah memang dia si calon Ratu Adil ?

Keragu-raguan yang muncul mendorong untuk menelaah dan mempelajari kembali apa yang telah diungkapkan dalam naskah-naskah leluhur mengenai sosok Satrio Piningit sejati. Salah satu naskah yang biasa kita gunakan sebagai rujukan yaitu Ugo Wangsit SiliwangiSiliwangi dalam Ugo Wangsitnya menyebut si calon Ratu Adil dengan sebutan Bocah Angon atau Pemuda Penggembala. Beberapa hal yang disebutkan dalam Ugo Wangsit Siliwangi mengenai Bocah Angon yaitu :1. Suara minta tolong.
Dalam Ugo Wangsit Siliwangi disebutkan “Suatu saat nanti, apabila tengah malam, dari gunung Halimun terdengar suara minta tolong, nah itu adalah tandanya. Semua keturunan kalian dipanggil oleh yang mau menikah di Lebak Cawéné.” Kata “suara minta tolong” sepertinya sama dengan ungkapan Joyoboyo dalam bait 169 yaitu “senang menggoda dan minta secara nista, ketahuilah bahwa itu hanya ujian, jangan dihina, ada keuntungan bagi yang dimintai artinya dilindungi anda sekeluarga“.Bocah Angon di awal kemunculannya akan beraksi melakukan hal-hal sebagai pertanda kedatangannya. Salah satunya adalah meminta tolong kepada orang di sekitar daerah Gunung Halimun. Tidak jelas mengapa dia minta tolong kepada orang lain, apakah dia dalam kesulitan ataukah keperluan lainnya. Yang pasti bila telah terjadi hal demikian berarti itu pertanda akan kemunculannya.

Sementara dikaitkan dengan Ramalan Joyoboyo paba bait 169 disebutkan bila Bocah Angon tersebut “suka minta secara nista sebagai ujian”. Kalimat tersebut mengindikasikan bahwa minta tolong itu hanya sebatas ujian bagi yang dimintai pertolongan. Ujian apakah itu? belum diketahui ujian apa yang suka dilakukan Bocah Angon pada orang. Sebaiknya kita tunggu saja kejadiannya.

2. Mencari sambil melawan, melawan sambil tertawa.
Dalam Ugo Wangsit Siliwangi disebutkan “Suatu saat nanti akan banyak hal yang ditemui, sebagian-sebagian. Sebab terlanjur dilarang oleh Pemimpin Pengganti! Ada yang berani menelusuri terus menerus, tidak mengindahkan larangan, mencari sambil melawan, melawan sambil tertawa. Dialah Anak Gembala.” Kata terlanjur dilarang ini apa maksudnya? Apakah dilarang dalam mengungkap fakta-fakta, ato dilarang meluruskan sejarah? sepertinya masih butuh penafsiran lagi.

Yang pasti Bocah Angon sepertinya tidak peduli dengan larangan pemimpin. Bahkan bukan hanya tidak peduli dengan larangan tersebut, tetapi lebih dari itu Bocah Angon melawan larangan si pemimpin itu sambil tertawa. Tidak bisa dibayangkan bagaimana perasaan si pemimpin bila dilawan sambil tertawa. Bisa-bisa Bocah Angon dalam situasi bahaya nih karena kerjanya selalu melawan sang pemimpin pengganti.

Kata banyak yang ditemui sebagian-sebagian karena terlanjur dilarang pemimpin baru, menunjukkan bahwa yang akan ditemukan masyarakat memang hanya sebagian saja. Oleh karena sebagian saja maka yang ditemukan tersebut belumlah lengkap dan tentunya belum sempurna hasilnya. Tetapi tidak bagi Bocah Angon, dia terus saja mencari sambil melawan. Bisa jadi temuan si Bocah Angon ini kelak merupakan temuan yang paling lengkap dan mendekati kebenaran.

3. Dia gembalakan ranting daun kering dan sisa potongan pohon.
Dalam Ugo Wangsit Siliwangi disebutkan “Apa yang dia gembalakan? Bukan kerbau bukan domba, bukan pula harimau ataupun banteng. Tetapi ranting daun kering dan sisa potongan pohon. Dia terus mencari, mengumpulkan semua yang dia temui. Tapi akan menemui banyak sejarah/kejadian, selesai jaman yang satu datang lagi satu jaman yang jadi sejarah/kejadian baru, setiap jaman membuat sejarah. setiap waktu akan berulang itu dan itu lagi.”

Bocah Angon memiliki kebiasaan mengumpulkan daun dan ranting. Kata daun dan ranting yang disebutkan Ugo Wangsit Siliwangi dalam bahasa asli Sundanya yaitu “Kalakay jeung Tutunggul“. Kalakay merupakan daun lontar yang biasa digunakan oleh orang kita pada jaman dulu kala sebagai lembaran daun untuk menulis. Sementara Tutunggul merupakan ranting pohon yang biasa digunakan orang kita pada jaman dulu kala sebagai pena untuk menulis. Sehingga Kalakay dan Tutunggul bisa diartikan sebagai kertas dan pena.

Si Bocah Angon ini memiliki kegemaran suka menggembalakan kertas dan pena. Dia terus mengumpulkan dan mengumpulkan kedua barang tersebut sebagai gembalaannya. Tidak jelas kenapa dia suka menggembalakan kertas dan pena. Kata mengumpulkan itu berarti kertas dan pena tersebut tidak hanya 1 buah, tetapi jumlahnya banyak dan itu menjadi barang kegemarannya.

Selanjutnya disebutkan “Dia terus mencari, mengumpulkan semua yang dia temui. Tapi akan menemui banyak sejarah/kejadian“. Kalimat tersebut bisa berarti bahwa Bocah Angon menggembalakan kertas dan pena untuk menemukan sejarah dan kejadian. Ntah sejarah dan kejadian apa yang dia kumpulkan, tetapi bisa dimengerti bahwa di Nusantara banyak sekali sejarah yang dirubah, mungkin hal tersebut bisa juga terkait dengan pelurusan sejarah kita.

Dia akan terus mengumpulkan sejarah dan kejadian-kejadian penting tentunya untuk menyelesaikan masalah di Nusantara. Wajar saja bila sejarah ditelusuri karena memang untuk menyelesaikan suatu masalah tidak bisa tidak harus mengetahui awal sejarahnya bagaimana bisa terjadi. Dengan kegemarannya menelusuri sejarah dan kejadian yang dituangkan dalam kertas dan pena tersebut kelak masalah di Nusantara akan bisa dibereskan dengan mudah. Semoga.

4. Rumahnya di ujung sungai yang pintunya setinggi batu.
Dalam Ugo Wangsit Siliwangi disebutkan “lalu mereka mencari anak gembala, yang rumahnya di ujung sungai yang pintunya setinggi batu”. Kata di ujung sungai menunjukkan bahwa rumah Bocah Angon letaknya berada dekat dengan hulu sungai. Siliwangi tidak memberikan gambaran berapa jarak antara rumah dengan sungai tersebut. Bisa jadi hanya beberapa meter dari sungai, tetapi bisa jadi puluhan meter dari sungai.

Siliwangi juga tidak menyebutkan nama dari sungai tersebut sehingga rada menyulitkan untuk menentukan letak sungainya. Di Jawa terdapat banyak sekali sungai membentang dari utara hingga selatan. Dan rata-rata di pinggir sungai terdapat banyak rumah penduduk dan ini tentunya sangat menyulitkan untuk menentukan letak sungainya yang sesuai kata Siliwangi. Namun yang pasti Bocah Angon rumahnya dekat sungai sehingga bila ada yang mengaku dirinya Bocah Angon tetapi rumahnya jauh dari sungai berarti itu tidak sesuai dengan Ugo Wangsit Siliwangi.

Kemudian untuk kata pintunya setinggi batu masih perlu dipertanyakan, apakah atap rumahnya terbuat dari batu? dan juga apakah pintu rumahnya juga terbuat dari batu? kok seperti rumah nenek moyang kita dulu. Bisa jadi demikian tetapi mungkin juga tidak demikian.

Kalimat tersebut bisa dipahami bahwa rumah Bocah Angon tidak hanya 1 lantai, namun bertingkat rumahnya. Hal ini diperkuat dengan ungkapan Joyoboyo pada bait 161 yaitu “berumah seperti Raden Gatotkaca, berupa rumah merpati susun tiga“. Dari ungkapan Joyoboyo menunjukkan ada 3 lantai rumah dari Bocah Angon. Tentunya bukan rumah biasa, bisa jadi rumah tingkat ekonomi menengah atau memang Bocah Angon dari keluarga kaya? belum bisa dipastikan.

Oleh karena untuk membuat suatu rumah yang bertingkat dengan bahan semen untuk lantai 2nya, maka dari bahan semen yang padat otomatis akan membentuk batu yang keras. Sehingga bisa dipahami bila pintu lantai pertama akan setinggi batu (setinggi cor semen lantai 2). Memang kebanyakan rumah orang yang bertingkat pintunya pasti akan setinggi lantai 2, tepat di bawah cor semen yang telah menjadi batu tersebut. Jadi dapat disimpulkan bahwa rumah Bocah Angon memang bertingkat yang pintunya setinggi lantai tingkat 2nya.

5. Tertutupi pohon handeuleum dan hanjuang.
Dalam Ugo Wangsit Siliwangi disebutkan “rumahnya di ujung sungai yang pintunya setinggi batu, yang rimbun oleh pohon handeuleum dan hanjuang”. Kata rimbun oleh pohon Handeuleum dan Hanjuang berarti di depan rumah Bocah Angon terdapat 2 pohon yang sangat subur dan menjadi ciri khas rumahnya. Dalam hal ini hanya disebutkan 2 buah pohon saja, artinya memang hanya ada 2 buah pohon di depan rumahnya sebagai pembeda dari rumah lainnya.

Apabila ditelusuri kedua jenis pohon tersebut dalam istilah bahasa Indonesianya memang belum diketahui apa namanya. Kedua kata tersebut sepertinya bahasa kuno dari daerah Sunda tempat Siliwangi berada. Hingga kini belum ada pihak yang merasa mengetahui kedua jenis pohon tersebut. Bahkan orang-orang asli Sundapun juga mengaku tidak mengetahui kedua jenis pohon itu. Kita tunggu saja kelak akan kita ketahui juga.

Sementara itu beberapa kalangan justru menafsirkan kata Handeuleum dan Hanjuang sebagai simbol saja. Benarkah kedua pohon itu sebenarnya bukan pohon hidup di atas tanah, tetapi sekedar simbol saja? Coba anda lihat kembali Siliwangi menyebut Pemuda Penggembala dengan “Apa yang dia gembalakan? Bukan kerbau bukan domba, bukan pula harimau ataupun banteng. Tetapi ranting daun kering dan sisa potongan pohon.”

Kata pemuda penggembala itu cuma simbol dari Siliwangi. Kemudian simbol tersebut dijelaskan bila yang digembalakan bukan binatang, tetapi daun dan ranting. Sementara kata Handeuleum dan Hanjuang tidak ada kalimat penjelasan selanjutnya. Sehingga kedua kata tersebut dapat dipastikan memang dua buah pohon yang tumbuh di atas tanah. Apabila simbol tentunya Siliwangi akan menjelaskan maksudnya.

6. Pergi bersama pemuda berjanggut.
Dalam Ugo Wangsit Siliwangi disebutkan “Semua mencari tumbal, tapi pemuda gembala sudah tidak ada, sudah pergi bersama pemuda berjanggut, pergi membuka lahan baru di Lebak Cawéné!” Siapakah pemuda berjanggut itu? Penyebutan pemuda berjanggut ini masih perlu dipertanyakan. Apakah pemuda tersebut merupakan kerabat atau keluarga atau teman ataukah pengasuh si Bocah Angon? Belum jelas diketahui karena memang dalam Ugo Wangsit Siliwangi tidak menyinggung mengenai hal tersebut.

Dalam naskah-naskah lain memberitahukan bahwa Ratu Adil memiliki pengasuh yaitu Sabdo Palon. Mungkinkah pemuda berjanggut tersebut adalah Sabdo Palon? Sepertinya tidak karena Sabdo Palon merupakan sosok Jin, sementara penyebutan kata pemuda menunjukkan dia adalah manusia. Jadi pemuda berjanggut bukanlah Sabdo Palon.

Misteri ini masih sulit untuk diungkap yang sebenarnya. Pada saat Bocah Angon masih menjadi sosok yang misteri, pada saat yang sama pula ada sosok lain yaitu pemuda berjanggut yang jati dirinya juga masih misteri. Namun yang pasti pemuda tersebut memiliki janggut dan kelak akan kita ketahui setelah tiba waktu kemunculan Bocah Angon.

7. Pergi membuka lahan baru di Lebak Cawéné!
Dalam Ugo Wangsit Siliwangi disebutkan “Semua mencari tumbal, tapi pemuda gembala sudah tidak ada, sudah pergi bersama pemuda berjanggut, pergi membuka lahan baru di Lebak Cawéné!” Bocah Angon sepertinya tidak akan ditemukan sebelum kemunculannya. Ketika orang-orang sudah menemukan rumahnya yang di ujung sungai, dia telah pergi bersama pemuda berjanggut ke Lebak Cawéné.

Siliwangi tidak menyebutkan kemudian orang-orang akan berhasil menemukan Bocah Angon di Lebak Cawéné setelah gagal menemukan di rumahnya. Tidak ada kalimat tersebut dalam Ugo Wangsit Siliwangi. Karena tidak ada kata itu maka bisa disimpulkan bahwa jarak antara rumah dengan Lebak Cawéné tidak dekat bahkan mungkin sangat jauh.

Siliwangi juga tidak menyebutkan setelah pergi ke Lebak Cawéné si Bocah Angon kemudian kembali lagi ke rumahnya. Karena tidak ada kalimat yang menyebutkan hal tersebut berarti Lebak Cawéné merupakan tempat baru yang ditinggali Bocah Angon setelah rumahnya yang di ujung sungai di tinggal pergi. Apabila Bocah Angon kembali lagi ke rumahnya yang di ujung sungai, maka tentunya Siliwangi akan menyebutnya berhasil ditemukan di rumahnya. Sudah pasti bila orang telah menemukan rumahnya maka akan ditunggui kapan kembalinya. Tetapi ternyata tidak ada kalimat tersebut dalam Ugo Wangsit Siliwangi.

Sampai saat ini belum diketahui dimana letak Lebak Cawéné berada. Dalam peta Jawa maupun peta Indonesia, tidak ada daerah yang diberi nama Lebak Cawéné. Oleh karena namanya yang masih asing inilah maka banyak kalangan menafsirkan menurut keyakinannya masing-masing.

Ada yang menafsirkan Lebak Cawéné berada di lereng sebuah gunung. Ada juga yang mengatakan berada di petilasan Joyoboyo. Yang lain mengatakan berada di tempat yang ada guanya dan sebagainya membuat semakin tidak jelas saja letak Lebak Cawéné dimana. Tetapi apabila anda meyakini sebuah tempat merupakan Lebak Cawéné, maka bisa dipastikan anda akan memaksakan kehendak untuk menentukan 1 orang di daerah tersebut sebagai calon Ratu Adil. Wah jadi kasian pada orangnya kena sasaran.

Ketahuilah bahwa Siliwangi tidak menyebutkan Bocah Angon akan berhasil ditemukan di Lebak Cawéné. Di sisi lain Siliwangi juga tidak memberikan ciri-ciri Lebak Cawéné yang dia katakan sehingga mustahil Lebak Cawéné bisa diketahui sebelum Ratu Adil muncul, kecuali anda lebih sakti dari Siliwangi. Kemampuan sama dengan Siliwangi aja tidak mungkin apalagi lebih tinggi dari Siliwangi, jelas tidak mungkin lagi.

8. Gagak berkoar di dahan mati.
Dalam Ugo Wangsit Siliwangi disebutkan “Semua mencari tumbal, tapi pemuda gembala sudah tidak ada, sudah pergi bersama pemuda berjanggut, pergi membuka lahan baru di Lebak Cawéné! Yang ditemui hanya gagak yang berkoar di dahan mati”. Kata Gagak berkoar mungkinkah memang burung Gagak yang suka berkicau, ataukah itu merupakan simbol saja.

Banyak kemungkinan mengenai Gagak berkoar tersebut. Namun dalam naskah-naskah lain seperti yang diungkap Ronggowarsito dan Joyoboyo bahwa Bocah Angon sebelum menjadi Ratu Adil hidupnya menderita, dia sering dihina oleh orang. Apabila dikaitkan dengan hal tersebut maka Gagak berkoar itu bisa juga diartikan sebagai orang-orang yang suka menghina si Bocah Angon.

Oleh karena hidupnya yang selalu saja dihina orang, maka akhirnya Bocah Angonpun pergi meninggalkan rumahnya. Kemudian dia bersama pemuda berjanggut menuju ke Lebak Cawéné untuk membuka lahan baru disana. Semua mencari tumbal bisa saja diartikan sebagai mencari berita dan ketika yang dicari si Bocah Angon sudah tidak ada, maka tidak bisa tidak mencari berita dari para Gagak yang berkoar tersebut.

9. Ratu Adil sejati.
Dalam Ugo Wangsit Siliwangi disebutkan “Baik lagi semuanya. Negara bersatu kembali. Nusa jaya lagi, sebab berdiri ratu adil, ratu adil yang sejati. Tapi ratu siapa? darimana asalnya sang ratu? Nanti juga kalian akan tahu. Sekarang, cari oleh kalian pemuda gembala.” Kita disuruh Siliwangi untuk mencari Bocah Angon, karena dialah yang kelak akan menjadi Ratu Adil sejati.

Sepertinya SIliwangi bermaksud memberikan pesan untuk berhati-hati dalam mencari Bocah Angon. Hal ini dikarenakan banyak sekali Bocah Angon palsu akan bermunculan di Jawa ini. Kemunculan Bocah Angon palsu bisa jadi karena dukungan orang lain akan dirinya sehingga dipaksa cocok menjadi Ratu Adil, tetapi juga bisa jadi karena terburu-buru meyakini dirinyalah si Bocah Angon.

Lihatlah saat ini telah banyak terdengar dimana-mana dari Jawa bagian barat hingga Jawa bagian timur, orang-orang yang muncul diyakini sebagai Ratu Adil. Bahkan juga bermunculan dimana-mana orang yang mengakui dirinyalah Ratu Adil tersebut. Apabila dimintai bukti maka orang-orang tersebut akan mencocok-cocokkan diri dengan naskah-naskah yang ada untuk meyakinkan orang. Padahal kenyataan tidak semuanya cocok.

Untuk itulah Siliwangi berpesan agar kita mencari Ratu Adil sejati, karena Ratu Adil sejati hanya satu sementara Ratu Adil palsu banyak sekali. Walaupun banyak Ratu Adil palsu, hal itu tidak akan mengubah kepastian munculnya yang asli. Apabila yang asli telah muncul maka semua akan terbukti mana yang asli dan mana yang palsu sesuai kata Siliwangi “Tapi ratu siapa? darimana asalnya sang ratu? Nanti juga kalian akan tahu. Sekarang, cari oleh kalian pemuda gembala.”

Demikianlah beberapa hal mengenai Bocah Angon sesuai yang disebutkan dalam naskah Ugo Wangsit Siliwangi. Siliwangi sengaja tidak begitu jelas menggambarkan si Bocah Angon dalam naskahnya sehingga sangat menyulitkan kita untuk menemukannya. Kesengajaan ini dimengerti karena memang akan banyak pihak-pihak yang tentunya menghalangi kemunculan Ratu Adil dengan berbagai alasannya.

Pada saat Siliwangi tidak memberikan gambaran yang jelas mengenai Bocah Angon. Di waktu yang sama pula kita disuruh untuk mencari si Bocah Angon tersebut, memangnya kita ini terlahir sebagai detektif semua. Namun yang pasti kelak akan diketahui juga mana Ratu Adil palsu dan mana Ratu Adil yang sejati tentunya setelah tiba waktu kemunculannya. Untuk itu baik ditunggu, dicari maupun tidak sama sekali sepertinya hasilnya tetap sama. Waktunya akan segera tiba.

Kontrofersi, Senin 14 Juli 2008
Eddy Corret. http://eddycorret.wordpress.com/2008/07/14/bocah-angon-menurut-ugo-wangsit-siliwangi/

About these ads

19 comments on “Bocah Angon menurut Ugo Wangsit Silwangi

  1. 5. Tertutupi pohon handeuleum dan hanjuang
    sekedar informasi, kalu masyarakat sunda karawang pohon tersebut tidak asing, hanjuang banyak tumbuh di kuburan atau pemakaman, daunnya biasa di gunakan untuk melakukan pemberkatan kpd sesuatu atau seseorang. dengan cara di masukan ke air kendi lalu diciprat-cipratkan.

    • ..benar, berkaitan dgn pohon hanjuang & handeuluem, keduanya sering ditanam orang karena berkhasiat obat, walaupun orang” yg menanam tidak mengetahui nama asli k2 tanaman tsb..coba cari di IPB, Bogor, mungkin ada dan di budidayakan..

      • Dua pohon ini memang terkenal di daerah jabar dan sekitarnya, khususnya hanjuang, bahkan salah satu produk kuliner dari kota bandung menggunakan namanya, yaitu Bandrek Hanjuang (kemarin saya bru beli di Alfamart yg bentuk kemasan). Tapi saya tidak tau kalau pohon itu bisa dibuat obat. Nah, kalau handeuluem saya tau itu bisa dibuat obat, beberapa kerabat meminumnya spt teh saat terkena ambeien, dan sembuh tanpa bekas atau operasi dalam seminggu paling cepat (tergantung parahnya), cukup murah dibanding obat anal paten yg harganya bisa puluhan ribu perkaplet.
        Dan ada benarnya juga dugaan penulis diatas, pohon handeuleum banyak ditanam di daerah raja siliwangi berasal, dahulu mbah saya memperolehnya dari sana, bahkan sudah tersebar dan ditanam para kerabat keluarga yang tinggal di Medan, padang, bali, maluku, banjarmasin, sentani bahkan makasar dan gorontalo (buat obat ambeien murah kata mereka).
        .

    • Ass.wr.wb
      saya mempunyai artian lain tentang rumah “dibirit leuwi” dan “pintu terbuat dari batu” serta “handeuleum dan hanjuan”
      Rumah DIBIRIT LEUWI artinya birit dlm bhs sunda sisi (dlm tubuh manusia bagian pinggul sebelah kiri atau kanan agak ke belakang) jadi bukan artinya di hulu sungai, LEUWI artinya bagian sungai yg terdalam jadi rumah dibirit leuwi artinya bahwa rumah bocah angon tersebut di pinggir sungai yg ada palungnya dan untuk pintu rumah terbuat dari batu artinya bahwa bocah angon untuk saat ini tdk akan diketemukan karena belum waktunya muncul jadi masih terhalang oleh sesuatu yg diartikan dg pintu terbuat dari batu untuk handeuleum dan hanjuang dlm bhs sunda ada istilah teunden di handeuleum sieum tunda di hanjuang siang artinya saat ini bocah angon tsb masih mencari-cari /menuntut ilmu yg diasuh oleh budak anu janggotan (ngorehan) dan hasilnya sebagian dimakan utk dirinya sebagian diberikan utk orang yg membutuhkan saat ini dan sebagian lagi disimpan untuk dipergunakan nanti setelah waktunya tiba jadi arti dari handeuleum dan hanjuang adalah merupakan simpenan dari segala macam ilmu yg akan dibuka/dipakai setelah waktunya tiba nanti setelah gunung gede meletus dan diikuti 7 gunung lain.
      kata gunung gede artinya bahwa diibu kota negara ini akan terjadi kekacauan peperangan antar suku dan lain-lain dan kekacauan tersebut diikuti oleh 7 gunung artinya di 7 pulau terbesar di negri inipun akan terjadi kekacauan yg sama dan saat itulah orang sunda disambat pada minta maaf kepada orang sunda……dan saat inilah akan muncul yg disebut “RATU ADIL/BOCAH ANGON”
      jadi menurut saya bahwa saat ini bocah angon tersebut sudah ada dan sedang di godog dengan berbagai ilmu ; ilmu keagamaan,kebatinan, kenegaraan dll
      seperti dlm UWS : Tutunggul dan kalakay artinya bahwa bocah angon tersebut mempunyai ketetapan dlm bhs sunda “Pamadegan anu kuat teu gideur kanginan teu gedag kalinduan” tdk akan goyah walau kena angin topan dan tdk akan menggeser?pindah walau kena gempa sebesar apapun.
      Kalakay yg artinya daun pohon yg kering tapi masih nempel di pohonnya seperti pd pohon pisang dia sangat pleksibel karena sebagai pengayom tidak ada istilah membedakan sikaya dan simiskin karena mempunyai hak yg sama sebagai warga negara dan perlakuan yg sama dalam segala hal.
      demikian pengertian saya tentang uga wangsit siliwangi mohon maaf apabila ada kata yg tidak tepat dalam mengartikannya
      wassalam
      Eyang kupluk

  2. menurut saya rumahnya diatas bukit ,dibawahnya ada sungai ,jalan dari sungai menuju rumahnya terbuat dari susunan batu yang berundak 3,di timur rumahnya ada pohon kantil dan pule yang sudah berumur ratusan tahun.silahkan di renungkan

  3. Kereta Kumuh si-Jelata

    terlihat gontai sibuta, bukan karena netra…
    namun karena hati tertutup akal, kotor merajalela selera…
    terdengar bising si-tuli, bukan karena rungu…
    namun karena hati tertutup simbol, langkah perkataan berjalan tanpa guru…
    terasakan bungkam si-bisu, bukan karena wicara…
    namun karena hati tertutup buih basa, genggam ujar berbisa tanpa jari makna…

    hai Kumuh, cendikia menghardik jelata tanpa ragu…
    tak ada “track record” terpandang manusia, jangan sok tahu…
    tanpa makhluk “manut” yang lain, beo belantarapun tak akan berbaris setuju…

    wahai gila dunia terpuja, jelata menyapa cendikia berlangkah duta perwira…
    ada “sertifikasi berlogam mulia”, bergunakah kelak dikehidupan rasa…
    bukankah kereta cahaya tak butuh singgasana layaknya tiga raja…
    semata tahta,harta, kuasa diatas keangkuhan agama, negara, dan bangsa…

    wahai cendikia yang ngetop dan dipuja pasukan beo belantara….
    bukankah kereta membawa rupa tanpa pajak isi kepala kusir menyerta…
    bukankah kereta memanggul suara tanpa cambuk kulit kusir berpita warna…
    bukankah kereta menanggung makna tanpa plakat abadi mata kusir berusia…
    lantas mengapa dikau sudi dibelai bayangan nenek moyang berbantal buta rasa…
    lantas mengapa dikau sudi dikejar bayangan nenek moyang bertikar tuli cipta…
    lantas mengapa dikau sudi dipeluk bayangan nenek moyang berguling bisu daya…

    ….
    tiba-tiba kakek tua berbaju putih muncul dihadapan cendikia dan si jelata…
    “hai kakek tua bolehkah aku bertanya…apa maksud kereta yang dikatakan si-jelata”….tanya cendikia…
    ….
    kakek tua menjawab “yang ditanya tidak lebih tau dari yang bertanya”…
    ….
    “ah kakek tua suka becanda…kalau begitu sebutkan kisi-kisinya saja”…tanya cendikia menyela…
    ….
    “kisi-kisi…hm hm…kayak bimbingan belajar saja, bikin kepala manusia isinya hapalan semua…buat apa yaa”…guman kakek tua seraya melanjutkan berkata…
    apabila nama agama lebih diutamakan pengabdinya daripada pencipta detak jantungnya…
    apabila panggilan negara lebih diutamakan pengabdinya daripada pencipta nafas hatinya…
    apabila kebanggaan bangsa lebih diutamakan pengabdinya daripada pencipta nurani akalnya…
    ….
    kemudian secara tiba-tiba kakek tua itu menghilang….
    cendikia lalu menginformasikan pada si jelata, bahwa kakek tua itu “jibril”….
    kontan saja si jelata tertawa terbahak-bahak…sambil berkata :
    sotoy luh…kayak si sape-i yang maen di “ustad potocopi”…

    makanya “cendikia”…agama kok dipakaikan busana HAPALAN….cape deh…
    by the way…tau gak cendikia,kenapa semua ujar dalam ajar menjadi barbar blas , samar dan membias?
    …..
    karena semua orang merasa boleh menyiarkan ajar keteladanan dimana-mana tanpa disertakan garis waktu yang semestinya..

    “laa dhirah walaa dhirarah” itu maknanya “jangan kebanyakan yang menyuarakan dan jangan pula kebanyakan yang mendefinisikan”…
    karena akibatnya yaaa seperti saat ini…OMDO, tapi kagak paham dengan ajar keteladanan yang sesungguhnya…
    bukankah semua ujar dimulai dari yang satu…[qul Huwa Allahu ahad]
    tiada ajar keteladanan jika tidak dimulai dari satu waktu, satu pelaku, dan satu tempat…
    bener gak tuh cendikia…..hehehe

    nama, pelaku dan tempat dalam tulisan ini hanyalah fikri belaka…
    apabila ada kemiripan suasana, maka tanyakanlah sendiri pada nurani anda…
    karena baik si-jelata, cendikia maupun kakek tua, hanyalah perahu kertas berlayar mutiara kata….

    jadikan akal sebagai peredam pikiran yang panas dan keras…
    sehingga hati mampu meretas teduh kertas bersimpul cerdas….

  4. munculah negeri perahu selaksa samudra…
    terbitlah tanah pemangku jagad raya…
    memanggil ki hajar dewantara tuk sebutkan nama…
    dendang kopral jono terhanyut rasa dan bangga didada…
    menjaga titah sejati Sang Utama akan kuasa tanah pusaka…
    yang hingga saat ini tergores dengan tutur INDONESIA…

    dan jangan lagi pohon kurma pendusta menjajah tanah jawwa…
    dan jangan lagi langkah onta kusta menghambat kuda putih ksatria…
    dan jangan lagi kubah durhaka menyamarkan kereta kencana…

    ingatlah bagi pemuka dan pemimpin yang berhati kusta…
    yang berlindung dibalik topeng kata “allah subhanahu wata’ala”…
    yang berlindung menggunakan plakat suara “al quran yang mulia”…
    yang berlindung menggunakan tong kosong “islam” dimulutnya…
    namun memutarbalikan fakta garis cipta semestinya…
    hanya demi seonggok kekuasaan diatas keserakahan manusia…
    Celakalah pemuka dan pemimpin yang berhati penuh noda petaka…

    aku bersihkan nama indonesia dari “maling” yang bertangan perkara dosa..
    dari Negara Kera Raksasa Imitasi atau NKRI dipanggilnya…
    dari Negara Islam Imitasi atau NII dipanggilnya…
    dan dari segala bentuk bangunan ritual yang terpatri diseluruh dunia…
    dari mosque, kuil, wihara, gereja atau apapun mereka bertingkah prahara memuja….
    dari mereka yang mengaku takut tuhan namun sebenarnya takut berketek penguasa…
    dari mereka yang mengaku takut allah namun sebenarnya takut kehilangan harta benda…
    dari mereka yang mengaku takut tuhan allah namun sebenarnya takut kehilangan nama baiknya…

    aku yang berjuang sendiri, dan tetap berdiri sendiri…
    tak pernah takut dengan ancaman artileri berpeluru kendali…
    karena dada sudah terisi asmara arjuna dan srikandi…
    sehingga tahu yang membisikan digua hira pelakunya dahulu orang sini…
    sehingga tahu silent caretaker itu yaa ashabul kaHfi…
    sehingga tahu mendemonstrasikan ajar secara payung fantasi…
    sehingga tahu ujar leluhur mengajarkan budi tanpa pamrih puja-puji…

    sebentar lagi oji anak emak ulang tahun katanya….
    ditanya kisanak yang disana, mau timbal hadiah apa…
    oji tersipu malu tuk mengatakan bentuk apanya…
    ditanya lagi Friday or Saturday terima hadiah istimewanya…
    sementara didalam hati ada dua nama yang sudah lama tertera…
    SPG[NII] dan HP[NKRI] adalah inisial kedua tumbalnya….
    kisanak hanya manggut-manggut waktu merasakannya…
    ngember terus gak ada bukti kan bikin cape jadinya…
    semoga si oji lulus permohonannya, benak kisanak mengiba…
    semoga bangsa besar ini terbebas dari perbudakan penguasa nista…

    lama sengsara mau bilang apa…
    lama dihina mau membela bagaimana…
    karena Nrimo, Cuma itu Ajaran satu-satunya…
    bukankah tiyang waktu adalah penentu segalanya…

    dua benua yang ditemukan jadi ada, kelak akan menjadi kembali tiada…
    batu berkotak hitam yang dipuja di sana akan berserakan sama tanah jadi rata….
    bangunan yang dijaga suara dimana-mana…akan sia-sia jadinya….
    segala kerepotan ritual sungguh jelas menjadi tiada manfaatnya….
    karena mereka sudah lupa, gerangan pemilik kehidupan yang sebenarnya…

    bagi ulama, pastor, pendeta, biksu atau apapun julukannya….
    jika ingin menantang, harap tunjukan tempat pertemuannya….
    dekat sambaran petir, dataran yang disuka rakyat sengsara…
    kalau si sengsara yang menang, ingat petuahnya….
    berbuat baik sesama manusia itu tak memerlukan kata AGAMA!!!…
    karena apa…karena…
    SEMUA AGAMA diseluruh dunia saat ini SAMPAH KOTOR yang nista…

    maka tunggu saja tanggal mainnya….
    sangkakala menuai berita selanjutnya…

    si sengsara tak perlu pencitraan…
    si sengsara hanya menggariskan….
    be yourself…sebab mati tak membawa kawan…[487][1:12][4”3][417kb]

  5. ratu piningit, sinihihing wahyu… (satrio piningit, didampingi wahyu) silahkan artikan sendiri. namanya heru cokro (her: air, cokro: kincir, roda) reff: jongko joyoboyo…. ratu adil: sayidin pranoto gomo (orang terhormat, penata agama)… reff: P yosodipuro, diteruskan putranya ronggo warsito… gitu boss

  6. Kenangan Terindah

    dua tahun yang lalu, saat saya mulai menempuh pendidikan di “institusi tak terlihat”, tempat pembelajaran saya, salah satunya [1]quran.bblm.go.id, dengan tempat pembanding [2]corpus.quran.com

    karena buah jatuh tidak jauh dari pohonnya[19:25], maka saya lebih diterpa cenderung untuk menggunakan yang terdapat pada [1] ”

    mengapa saya seakan harus ke [1] atau [2]?
    karena tidak mungkin “PETUNJUK KEHIDUPAN” direpresentasikan sejajar dengan sekedar tradisi tulisan sejarah manusia atau sekedar terjemahan umumnya saja…yang secara realita tujuan perjalanan tulisannya bisa dirubah dan diubah menurut selera kekuasaan diatas keserakahan manusianya…

    intitusi yang tak terlihat ?
    yaa…saya belajar tidak secara kurikulum penimbaan ilmu ala manusia pada umumnya, yang memiliki tambatan-tata pikir dari manusia juga..

    saya seolah dituntun dan diseret oleh waktu, tidak tahu mau dibawa kemana hubungan “kita”…karena apa? karena .”PETUNJUK KEHIDUPAN” seperti makanan dan minuman, yang disaji dan dikonsumsi disetiap harinya, sehingga “PETUNJUK KEHIDUPAN” tidaklah mungkin diperlakukan seperti HAPALAN…

    jika you adalah saya, dan i adalah kita dalam timba pengetahuan, maka pencapaian “PETUNJUK KEHIDUPAN” seperti lirik lagu :
    where ever you go, what ever you do
    i’ll be right here waiting for you

    atau seperti yang tertera pada [55:26] “fanin”[fa nun ya] atau yang seperti tertera “afnahu” pada jejak perkataan :
    [قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمُرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ]

    [fa nun ya] itu makna timbanya adalah tahapan yang berlanjut prosesnya, atau jika sudah melalui tahap 2, maka yang dikejar selanjutnya tahap 3, bukan kembali ke tahap 1 lagi…atau seperti manusia yang sudah dewasa tidak mungkin kembali ke tahap berpikir balita…

    secara singkat dapat dijelaskan bahwa saat ini saya sudah ditahapan wujud cita-cita dari “PETUNJUK KEHIDUPAN” yaitu tanah suci, tanah pusaka, tanah kelahiran, yang seperti keris mpu gandring yaitu INDONESIA…

    tulisan ini saya buat khusus didedikasikan bagi seseorang yang berada dibalik “quran.bblm.go.id”, ..karena saya juga menghormati keberadaannya atas kehendak waktu…namun saya melihat ia hanya diberi kemampuan sebatas olah tata “akar kata”…tanpa ia menetap lanjut untuk mengetahui dengan siku pemikiran yang semestinya…”apa ,bagaimana” cita cita PETUNJUK KEHIDUPAN atau seni atau beta atau buku yang dicetak oleh beberapa penerbit dengan papan nama “al quran”…

    salam keselamatan, semoga bermanfaat

  7. Bakar saja cetakan Buku Alquran dan terjemahannya!!!

    agar semua manusia sadar dan tahu, dirinya bukan dilahirkan diatas lembaran kertas…
    dan agar semua buku lainnya seperti wedha, tripitaka, bible, injil dst juga diberantas tuntas…
    agar semua manusia bisa kembali waras, setelah diperas pemikiran bertipe miras…
    agar tanduk hati lebih dipangsakan daripada tanduk akal yang meretas efek ganas…

    agar penggembala palsu, yang bergelar “habib” cepat diusir dan dienyahkan dari tanah jawa…
    karena si rizki FPI, si mundzir MR dkk tingkahnya sudah tidak pantas untuk menginjak tanah pusaka…
    agar pemuka, pembesar yang berkendara Agama, kepalsuan ujarnya semakin terbuka…
    karena mana mungkin majikan serba MAHA, diatur pake nama bergelas AGAMA…

    gara-gara papan nama agama dihina, nyawa manusia melayang karenanya…
    gara-gara papan nama negara dihina, nyawa manusia melayang karenanya…
    gara-gara bangunan agama dihina, nyawa manusia melayang karenanya…
    gara-gara bangunan negara dihina, nyawa manusia melayang karenanya…
    gara-gara kultus nama pemuka dihina, nyawa manusia melayang karenanya…
    gara-gara kultus nama pembesar dihina, nyawa manusia melayang karenanya…
    gara-gara hati tidak dipakai, maka akal bertingkah liar dan brutal karenanya…

    Indonesia itu bukan Negara Kesatuan Republik Imitasi…
    Indonesia itu bukan Negara Islam Imitasi…
    Indonesia itu tanah yang suci…
    indonesia itu tanah pusaka…
    indonesia itu pencetus keteladanan bagi seluruh manusia…

    jika aku adalah waktu, dan kau adalah indonesia,
    maka perahu kertas berlayar diatas samudra kata…

    Ku bahagia kau telah terlahir di dunia
    Dan kau ada di antara milyaran manusia
    Dan ku bisa dengan radarku menemukanmu
    Tiada lagi yang mampu berdiri halangi rasaku
    Cintaku padamu…

    saya berdiri tidak memerlukan pengikut, pembela atau bala…
    saya berdiri menantang seluruh pemuka, pembesar yang ada didunia…
    saya tidak takut bila mereka menggunakan kekuatan senjata dan bala tentara…
    karena bagi saya kematian itu sungguh jalan yang sempurna…

    jangan lagi berebut lahan perbatasan atasnama negara maupun agama…
    karena tanah daratan terselenggara bukanlah atas cipta manusia…
    sadarilah asih, sadarlah asah dan sadarkanlah asuh berlaku dengan semestinya…
    semoga dengan contoh tsunami saja, segala sertifikat kepemilikan harta tiada artinya…

    saya ingatkan untuk yang kesekian kalinya…
    siapapun yang masih berdiri diatas AGAMA, apalagi NEGARA…
    ingatlah, hal yang demikian pasti membawa celaka dikehidupan yang disana…
    aturan itu, seharusnya yang dikejar manfaatnya, bukan kerepotan menghormat pembesar aturannya…
    NRIMO itu pasrah terhadap kodrat alam semesta..
    tidak perlu kertas pengetahuan sebagai juru penerangnya…
    cukup gunakan hati yang tiada bertopeng sebagai juru peraganya…

    kerudung dibilang “jilbab”, itu GUOBLOK namanya…
    buku yang dicetak penerbit, dibilang Kitab Suci, itu TUOLOL namanya…
    bangunan yang dibuat akal manusia, dibilang rumah allah, itu IDIOT namanya…
    terlalu sempit dada mereka untuk menerima kodrat hati yang hidup berdasar semesta…
    terlalu sempit akal mereka, karena yang dikejar selalu puji-puja atasnama siapa…
    apakah bayi terlahir sudah dengan pengetahuan nama-nama tuhannya….
    apakah bayi terlahir diwajibkan membaca pengetahuan yang diluar kesanggupannya…
    apakah manusia saat kematian menjelma, akan membawa teori pengetahuan berikut gelarnya…
    lantas kenapa, Guobok, Tuolol, dan Idiot hati selalu dibawa serta masih dipelihara…

    aku bukan panglima, presiden maupun raja…
    karena aku hanya jongos semata abdi Yang Esa…
    karena aku hanya office boy, yang melayani tuan kertas yang disini disana…
    karena aku hanya manusia, yang numpang lewat beralis sementara…
    karena aku diperintah untuk menyeru kepada setubuh cipta yang Esa…
    karena aku diperintah untuk menyeru tali persaudaraan tanpa batas ego manusia…
    karena aku diperintah, dan hanya boleh menjalankannya tanpa perlu banyak tanya…
    walaupun cicak yang dijadikan sebagai penggagas karsa, aku harus terima…

    buku yang dicetak itu hanya sebagai alat deteksi jaman…apakah akan berganti kulitnya?, apakah sudah begitu kotor dunia terlihat dari yang tertera?…atau apakah sudah dilupakan Yang Esa sebab buku perantara itu dipuja semata ego pemuka?

    …seperti apakah rupa buku itu jika yang terlantun tutur santun jawa sandi KALIJAGA…

    Ana kidung rumekso ing wengi| Teguh ayu luputa ing lara| Luput ing bilahi kabeh| Jin setan datan purun| Paneluhan tan ana wani| Miwah panggawe ala| Gunane wong luput| Geni atemahan tirta| Maling arda tan ana ngarah mring kami| Tuju nduduk pan sirna|
    Sakehing lara pan samya bali| Sakeh ngama pan sami miruda| Welas asih pandulune| Sakehing braja luput| Kadi kapuk tiba neng wesi| Sakehing wisa tawa| Sato galak tutut| Kayu aeng lemah sangar| Songing landhak guwaning wong neng lemah miring| Myang pakiponing merak|
    Pagupakaning warak sakalir| Nadyan arca myang segara asat| Temahan rahayu kabeh| Apan sarira ayu| Ingideran kang widadari| Rineksa malaekat| Lan sagung para Rasul| Pinayungan ing Hyang Suksma| Ati Adam utekku Bagindha Esis| Pangucapku ya Musa|
    Napasku Nabi Ngisa linuwih| Nabi Yakub pamiyarsaningwang| Dawud swaraku mangke| Nabi Brahim nyawaku| Nabi Sleman kasekten mami| Nabi Yusup rupengwang| Edris ing rambutku| Bagindha Ngali kulitingwang| Abubakar getih daging Ngumar singgih| Balung Bagindha Ngusman|
    Sungsumingsun Patimah linuwih| Siti Aminah bayuning angga| Ayup ing ususku mangke| Nabi Nuh ing jejantung| Nabi Yunus ing otot mami| Netraku ya Muhammad| Pamuluku Rasul| Pinayungan Adam Kawa| Sampu pepak sakathahe para Nabi| Dadya sarira tunggal|
    Buku itu bukan suci karena mitos, dan bukan mantra magis dimulut belantara sangka…
    yang katanya jika dilagukan dengan ngaji, trus dapat pahala…
    trus kata siapa dapat pahala…
    memangnya pahala itu apa sih….

    Nyanyi lagi ah…

    Perahu kertasku kan melaju
    Membawa surat cinta bagimu
    Kata-kata yang sedikit gila
    Tapi ini adanya

    Perahu kertas mengingatkanku
    Betapa ajaibnya hidup ini
    Mencari-cari tambatan hati
    Kau sahabatku sendiri

    Hidupkan lagi mimpi-mimpi(cinta-cinta) cita-cita
    Yang lama ku pendam sendiri
    Berdua ku bisa percaya…..

    salam cinta, keselamatan, kedamaian dan kesejahteraan bagi hati seluruh manusia

  8. http://filsafat.kompasiana.com/2013/04/23/cinta-persaudaraan-dan-simpati-553765.html

    by the way…
    amar ma’ruf nahi munkar itu diterjemahkan para pendahulu dalam pepatah “dunia tak selebar daun kelor”

  9. Nenek Moyangku sosok Penakluk

    Nenek Moyangku sosok perajut…
    gemar menulis, sluas samudra…
    menjaring badai, tak gentar pena…
    karena hati setia membela…

    Nenek Moyangku sosok penakluk…
    setinggi langit, lakon kisahnya…
    tak pernah takut, dinilai masa…
    karena jujur tiang pembela…

    Nenek moyangku sadarkan penghasut…
    slalu berprinsip satu penyangga…
    walaupun beda, anak tangganya…
    namun berdirinya, satu irama…

    Nenek Moyangku bukan pemaruk…
    slalu ingatkan yang sementara…
    lain digula, lain dimasa…
    yang penting junjung tanah pusaka…

    nenek moyangku mudah berlutut…
    bila pangeran mencambuk angkasa…
    titah bersama berkreta kencana…
    karena hati[sumpah] milik yang ESA…

    nenek moyangku enggan bersujud…
    tolak menyembah lorong yang hampa…
    hitam didahi, tak akan ada…
    karena hati[janji], milik yang ESA…

    nenek moyangku tak pernah takut…
    dengan buatan sangkar logika…
    celoteh gagak anggap biasa…
    karena hati[bakti], milik yang ESA…

    nenek moyangku tak punya hati…
    sudah diambil sama yang siji…
    tak perlu urai, begono begini…
    karena hati, tak suka dipuji…

    nenek moyangku sanes si kacrut…
    nyang gaya jitunya suka katanya…
    with atasnama, slalu mendusta…
    dengan atasnama, prinsip bualnya…

  10. hanjuang… daun andong ( indonesia )… godhong andhong ( jawa )
    berdaun merah
    dapat dibudidayakan dengan stek batang
    ( 1 pohon dapat dikembangbiakkan jadi ratusan tanaman )
    berkhasiat untuk menyembuhkan luka luar maupun dalam,
    luka terbuka maupun luka memar
    ( juga dapat digunakan untuk antibiotik alami )
    .
    handeuleum… daun ungu ( indonesia ) … godhong wungu ( jawa )
    berdaun ungu
    berkhasiat untuk menyembuhkan diabetes ( menurut penelitian terbaru )

  11. hai^^ cuman sekedar meluruskan saja apa yg dimaksud anak gembala, mksdnya “pintu dari batu setinggi badan” bocah angon ini imannya kuat tidak tergoda sama apa pun, maupun harta atau apapun, oh iya jangan sama-samain wangsit siliwangi sama ramalan joyoboyo;) soalnya prabu siliwangi paling gak suka^^ sebenarnya masih banyak arti tentang bocah angon tapi maaf karena belum saatnya nanti gk seru kalau dikasih tau sekarang :D Bye:)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Catatan Safari ANS

Terlambat Satu Detik Kerugian Satu Milyar

Women Terrace

Where is women can feel free

Kanzunqalam's Blog

AKAL tanpa WAHYU, akan berbuah, IMAN tanpa ILMU

Cahayapelangi

Cakrawala, menapaki kehidupan nusantara & dunia

religiku

hacking the religion

SANGKAN PARANING DUMADI

Just another WordPress.com site

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 4.954 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: