6 Komentar

Rakeyan dari Sancang dari Sunda Mitra Syayiddina Ali Bin Abi Thalib

Rakeyan dari Sancang (Dok .Salakanagara)

Sinopsis,
Menjelang tahun milenium, sejarawan Sunda Ir H. Dudung Fathirrohman mendapat informasi dari seorang Ulama Mesir, bahwa Khulafaur Rasyiddin Sayidina Ali bin Abi Thalib RA dalam pertempuran menalukkan Cyprus, Tripoli dan Afrika Utara, serta dalam membangun kekuasaan Muslim di Iran, Afghanistan dan Sind (644-650 M) mendapatkan bantuan dari seorang tokoh asal Asia Timur Jauh (Javadvipa).

Sebelum informasi itu ada oleh naskah kuno Pangeran Wangsakerta, orang itu ditulis sebagai putra raja Tarumanagara ke VIII Kertawarman (561-628 M), yang bernama Rakeyan Sancang. Namun karena anak dari isteri ke-tiga (bernama Wwang Amet Samidha ) yang berasal dari luar kerajaan (tidak resmi) putri seorang pencari kayu bakar, oleh kalangan istana Rakeyan Sancang tidak diakui sebagai keluarga kerajaan. Dengan kekecewaan mendalam dan dendam yang membara, Rakeyan Sancang menempa diri membangun kekuatan dengan cara bertapa dan berkerabat dengan segala kesaktian “para penghuni” di hutan Sancang yang sejak dahulu kala dikenal wiwit dan angker.

Dalam kalangan istana kerajaan, Kertawarman diakui memiliki dua orang isteri, isteri pertama dari Calankayana, dan istri yang kedua berasal janda beranak satu dari Svarnadvipa, namun dari semua perkawinan itu tidak memiliki anak sehingga mengangkat anak dari isteri yg berasal dari Svarnadvipa itu, yag bernama Brajagiri dan kemudian diakuinya sebagai anaknya sendiri.

Rakeyan Sancang (anak kandung dari isteri di luar kerajaan), dalam hal ini bukanlah Rakeyan Santang (Kian Santang) Putra Jayadewata (Siliwangi) yang selama ini anggapan masyarakat umum sebagai orang yang pernah bersua dan beradu kekuatan dengan Sayidina Ali. Rakeyan Sancang yang dimaksud disini merupakan anak dari raja Tarumanagara ke VIII Prabu Kertawarman, dari hasil perkawinannya dengan gadis desa putri seorang pencari kayu bakar di daerah hutan Sancang (Selatan Garut).

Rakeyan merupakan gelar bangsawan kerajaan Sunda, yang pada masa kini dapat disejajarkan dengan pangeran akan tetapi belum dapat dikategorikan sebagai putra mahkota.

Dalam kisah ini menceritakan bagaimana Islam telah masuk ke tatar Sunda (Garut), melebihi daerah-daerah lain di Nusantara karena dari angka tahun berkuasanya Kertawarman di kerajaan Tarumanagara dan keberadaan Rakeyan Sancang, dapat disimpulkan bahwa peristiwa ini terjadi bersamaan dengan masa ke-Nabian Rasulullah SAW dan kekhalifahan Sayidina Ali bin Abi Thalib RA.****

6 comments on “Rakeyan dari Sancang dari Sunda Mitra Syayiddina Ali Bin Abi Thalib

  1. aduh…… mana cerita komplitnya bos… dah penasaran dari tadi nehgh…

  2. KALO BOLEH TAHU INI BERITA BERSUMBER DARI MANA? APAKAH ITU BETUL ADANYA?

  3. LIHAT BLOG SAYA ( TATANGKALAN_3RUT.BLOGSPOT.COM)

  4. MAF SALAH INI YG BENER, TENTANG KRITERIA CALON PEMIMPIN 2014 MENURUT UGA WANGSIT SILIWANGI & JAYA BAYA (tatangkalan3rut.blogspot.com)

  5. DALAM SEBUAH RIWAYAT DIKATAKAN BAHWA SALAH SATU GOLONGAN PEMBELA IMAM MAHDI AS ( KETURUNAN SAYIDINA ALI BIN ABI THOLIB ) DI AKHIR ZAMAN YANG BERASAL DARI NEGERI YAMAN ADALAH KETURUNAN PEMBELA AMIRUL MU’MININ ALI BIN ABI THOLIB SAAT ITU, YAITU BANGSA YAMAN DARI BANI HAMADANI ( SUKU AL HAUTHI -SKRG ? ). LALU BAGAIMANA DENGAN ORANG GARUT DAN JAWA BARAT – KETURUNAN DAN KERABAT RAKYAN SANCANG – AKANKAH MENJADI PEMBELA IMAM MAHDI DI AKHIR ZAMAN SEBAGAIMANA PEMBELAAN RAKYAN SANCANG TERHADAP SAYYIDINA ALI BIBN ABI THOLIB ?

  6. bocah tua nakal:
    Ada kisah yang juga menarik soal pengejaran Kian Santang terhadap Prabu Siliwangi dari web garut.go.id Berikut ringkasannya

    Berdasarkan sumber tradisi Garut diceriterakan Kean Santang di Islam- kan oleh Syaidina Ali (Ali bin Abi Thalib) dan memiliki pedang Nabi Besar Muhammad SAW.
    Dari keterangan itu, kita dihadapkan pada kebingungan luar biasa seperti Prabu Siliwangi hidup pada abad ke 15-16 M atau menjadi penguasa Pakuan Padjadjaran pada 1482-1521 M, sedangkan Ali bin Abi Thalib hidup pada zaman Rasulallah yakni permulaan tahun Hijrah atau abad ke-6 M (579 M).

    Maka, rentang waktu 10 abad itu tidak masuk akal, terlebih lagi adanya anggapan bahwa Prabu Siliwangi menentang Islam, padaghal istrinya Islam.

    Namun berdasarkan informasi terbaru dari tokoh Ulama Mesir yang dikemukakan kepada Ir H. Dudung Fathirrohman menyatakan, Ali bin Abi Thalib dalam pertempuran menalukkan Cyprus, Tripoli dan Afrika Utara, serta dalam membangun kekuasaan Muslim di Iran, Afghanistan dan Sind (644-650 M) mendapatkan bantuan dari seorang tokoh asal Asia Timur Jauh.

    Maka jika meneliti naskah Pangeran Wangsakerta besar kemungkinan Tokoh dari Asia Timur Jauh itu adalah Prabu Kretawarman (561-628 M) Maharaja Tarumanagara generasi VIII yang memiliki dua orang putri, pertama Putri dari Calankayana, dan istri yang kedua berasal dari Sumatera tidak memiliki anak sehingga menangkat anak kemudian diakuinya sebagai anaknya sendiri bernama Brajagiri.

    Kretawarman merasa dirinya mandul, tahta Kerajaan diwariskan kepada adiknya Prabu Sudawarman padahal sesungguhnya tanpa disadari sempat memiliki keturunan dari anak seorang pencari kayu bakar (wwang amet samidha) Ki Prangdami bersama istrinya Nyi Sembada tinggal di dekat hutan Sancang di tepi Sungai Cikaengan Pesisir Pantai selatan Garut.

    Putrinya Setiawati dinikahi Kretawarman yang hanya digaulinya selama sepuluh hari, setelah itu ditinggalkan dan mungkin dilupakan.

    Setiawati merasa dirinya dari kasta sundra, tidak mampu menuntut kepada suaminya seorang Maharaja, ketika mengandung berita kehamilannya tidak pernah dilaporkan kepada suaminya hingga melahirkan anak laki-laki yang ketika melahirkan meninggal dunia.

    Anaknya oleh Ki Parangdami dipanggil Rakeyan mengingat keturunan seorang Raja, kelak Rakeyan dari Sancang itu pada usia 50 tahun pergi ke tanah suci hanya untuk menjajal kemampuan “kanuragan” Syaidina Ali(42) yang dikabarkan memiliki kesaktian ilmu perang/ ilmu berkelahi yang tinggi.

    Sumber lainnya menyebutkan (640 M) Rakeyan Sancang tidak sempat berkelahi dengan Syaidina Ali namun menyatakan kalah akibat tidak mampu mencabut tongkat Syaidina Ali yang hanya menancap di tanah berpasir.

    Sejak itulah Rakeyan Sancang menyatakan dirinya masuk Islam kemudian meneruskan berguru kepada Syaidina Ali.

    Di pesisir selatan wilayah Tarumanagara (Cilauteureun, Leuweung / hutan Sancang dan gunung Nagara) secara perlahan Islam diperkenalkan oleh Rakeyan Sancang yang ketika itu yang mau menerima Islam sedikit sekali.

    Upaya Rakeyan Sancang menyebarkan Islam terdengar oleh Prabu Sudawarman (Saat itu semua raja Kertanegara juga disebut Siliwangi), yang dinilai bisa mengganggu stabilitas pemerintahan, timbulah pertempuran yang ketika itu Senapati Brajagiri (anak angkat Sang Kretawarman) turut memimpin pasukan.

    Rakeyan Sancang unggul, Prabu Sudawarman sempat melarikan diri yang dikejar Rakeyan Sancang, tapi tusuk konde Rakeyan Sancang jatuh pertempuran terhenti kemudian mereka saling menceriterakan silsilah sehingga ada pengakuan Rakeyan Sancang anak Sang Kretawarman.

    Peristiwa tersebut berkembang menjadi ceritera dari mulut ke mulut yang menyatakan Kean Santang mengejar Prabu Siliwangi untuk di Islam-kan.

    Kisah Rakeyan Sancang itupun setelah sepuluh abad kemudian terungkap kembali, ketika Walangsungsang dari Cirebon menyusuri sungai Cimanuk sampai ke hulu sungai kemudian menemukan pedang yang disebut-sebut sebagai pedang Nabi Muhammad SAW, pedang itu milik Rakeyan Santang atau Kean Santang, pemberian Ali bin Abi Thalib ketika membantu Ali dalam peperangan menagakkan Syariat Islam,

    Walahualam

    anolles:
    ::) ::) ummm 10 abad yang ya jaraknya….
    lalu kang gimana ma kisah yang konon ceritanya prabu siliwangi (entah prabu yang mana mengingat siliwangi hanyalah gelar) memiliki 3 anak…. rakyean santang, lara santang dan walangsungsang…
    trus kan kemudian larasantang sendiri adalah anak dari nyisubang larang. lara santang berniat menyusul kepergian kakanya rakyean santang namun kemudian di perjalanan beliau nikah dengan syekh maulana akbhar dari gujarat dan memiliki anak waliaullah Sunan gunung Jati.

    emmpp apakah ada pengulangan penokohan kisah antara rakyean sancang di abad ke 6 dengan kyean santang kakak larasantang yang hidup 10 abad berikutnya….

    atau emang ini kisah berbeda mengingat santang dan sancang jelas berbeda hanya saja apa yang menjadi tujuan kyean santang pergi dari kerajaan dan pada text wangsit siliwangi yang di ucapkan sesaat sebelum beliau muksa itu terjadi dialog antara siapa??

    oya… sedikit informasi yang anol terima dari sodara bangsa jin (abi Banen seorang tabib dari kerajaan lingga sirna) yang sempet komunikasi dikit. kalo jelmaan harimau yang sering di sebut2 prabu siliwangi itu adalah piaraannya sang prabu dari jenis Jin yang bernama si jabrang… mohon untuk di mengerti biaar kita tidak terjebak dalam syirik. sangprabu adalah tokoh sama halnya seperti kita manusia.. beliau sudah meninggal sesuai dengan qada dan qadarnya sang pencipta. hanya saja bangsa Jin memiliki umur jauh lebih panjang dari bangsa manusia….
    Jali Jengki:
    Seperti yang saya bilang dimuka, banyak versi tuturan lisan. Adapun literatur yang berkaitan banyak sekali ditemukan pada naskah-naskah kuno, mengapa demikian? karena masyarakat Sunda lebih banyak meninggalkan naskah kuno ketimbang candi sebagaimana banyak di jumpai di daerah timur. Naskah kuno yang berkaitan dengan cerita Raja-raja Pajajaran adalah Babad Pajajaran, Wangsakerta (Pustaka rajya-rajya I BhumiNusantara-Negara Kretabhumi), Babad Klayan, Purwaka Caruban Nagari, Babad Misteri Kabut Caringin Kurung dan banyak lagi….

    Benar Silihwangi (Silih-Wangi) adalah gelar sebagai penerus Prabu Linggabuwana yang dijuluki Prabu Wangi karena gugur secara satria di Bubat, hal ini dapat kita lihat dalam Wangsakerta (RRBN:21)

    “Kawalya ta wwang Sunda lawan ika wwang Carbon mwang sakweh ira wwang Jawa Kulwan anyebuta Prabhu Siliwangi raja Pajajaran. Dadyeka dudu ngaran swaraga nira”.

    (Hanya orang Sunda dan orang Cirebon serta semua orang Jawa Barat yang menyebut Prabu Siliwangi raja Pajajaran. Jadi nama itu bukan nama pribadinya)

    Kalau gelar Silihwangi yg orang tua dari Pangeran Cakrabuwana, Rara Santang, Pangeran Sangara (Rakean Santang) menurut NK 1.2:21 adalah Pangeran Jayadewata/Raden Pamanah Rasa/Ki Sunu yang mendapat dua gelar karena mewariskan dua kerajaan Sunda-Galuh. Dari Galuh Surawisesa bergelar Prabu Guru Dewataprana, kedua Sri Baduga Maharaja Ratu (H)aji di Pakuan Pajajaran Sri Sang Ratu Dewata (gelar ini pernah pula dipakai oleh Prabu Linggabuwana/Prabu Wangi). Ini yang dianggap Raja pertama Pajajaran.

    Rakeyan Sancang-Rakeyan Santang adalah orang yang berbeda, jadi menurut saya tidak ada pengulangan baik cerita maupun napak tilas.

    Kalau menurut Babad Klayan pupuh keduapuluh empat berdasar tuturan lisan, Harimau merupakan ungkapan siloka kata-kata Sunan Gunung Jati yang selanjutnya berkembang sedemikian rupa dalam masyarakat.

    Banyak juga cerita seperti mas Anol bilang tentang peliharaan jin berbentuk harimau ini, berpulang bagaimana kita saja menyikapinya.

    Tabe’

    duyungson:
    berbagi cerita agak ngelantur sedikit..
    kmrn saya beli novel ttg Prabu Siliwangi (saya gak inget judul tepatnya & penulisnya) di Gramedia, agak berharap bisa menemukan cerita yg bersumber dari naskah2 kuno, setelah ditilik sumbernya malah terselip: sahabatsilat.com & silatindonesia.com.. :)
    mungkinkah penulisnya member SS juga?

    Pangeran Muda:
    bagus tuh novel…malahan ada nyebut-nyebut gulung maungnya..

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

aawanto

The greatest WordPress.com site in all the land!

Towards Emancipation

Freedom, ...our responsiblity.

Catatan Safari ANS

Terlambat Satu Detik Kerugian Satu Milyar

Women Terrace

to say something that i never talk before

Kanzunqalam's Blog

AKAL tanpa WAHYU, akan berbuah, IMAN tanpa ILMU

Cahayapelangi

Cakrawala, menapaki kehidupan nusantara & dunia

religiku

hacking the religion

SANGKAN PARANING DUMADI

Just another WordPress.com site

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 5.465 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: