4 Komentar

Sinetron Sembilan Wali di TV Indosiar : Sejarah yang Tergadai

Sinetron Sembilan Wali di TV Indosiar : Sejarah yang Tergadai

Lintan Wetan Seorang pemikir bebas http://sejarah.kompasiana.com/2012/07/17/sinetron-sembilan-wali-sejarah-yang-tergadai/

HL | 17 July 2012 | 05:26Dibaca: 107   Komentar: 3   1 dari 1 Kompasianer menilai aktual
1342489850631292391

Menjelang bulan Ramadhan, sudah menjadi tradisi stasiun TV akan berebut menampilkan acara-acara bertema religi. Tidak salah, tetapi budaya “lebay” ini terkesan justru menafikkan kemurnian arti bulan yang penuh damai dan rahmat. Ibarat para penjaja makanan berebut menjajakan makanan untuk berbuka puasa di pinggir jalan, stasiun-statisun TV nasional juga mulai berebut mengkomersilkan bulan Ramadhan dengan berbagai tayangan yang bertema religi. Lebih-lebih motif komersil ini sering melahirkan bentuk-bentuk acara yang “kebablasan”.

Sebut saja sebuah sinetron religi bertajuk “Sembilan Wali” yang baru tayang beberapa episode di sebuah stasiun TV swasta nasional. Awalnya saya berharap sinetron ini akan memberi guyuran rohaniah dengan sajian sejarah abad 14-15 di Nusantara yang dapat dipetik hikmahnya. Namun nyatanya yang tersaji adalah sinetron dengan kualitas acak adut dan kisah sejarah yang kacau balau. Tapi saya tidak terlalu kaget sebab rumah produksi sinetron ini adalah produsen yang sama dari Sinetron Tutur Tinular Versi 2011 yang telah sukses mengacak-acak kisah asli Tutur Tinular berikut juga timeline sejarah yang melatar belakanginya.

Tidak gampang untuk mengangkat sebuah kisah sejarah dalam bentuk film. Tentu perlu kerja keras, perlu sebuah analisa sejarah yang dapat dipertanggung jawabkan kepada publik dan dedikasi kepada sejarah itu sendiri secara jujur dan objektif. Tapi tampaknya sikap seperti ini sudah sirna dalam dunia perfilman nasional. Tampaknya siapapun pemilik modal bisa dengan bebas membuat film sejarah dengan semau-maunya, yang penting banyak pemirsanya, tinggi rating programnya dan banyak iklannya yang berarti juga banyak keuntungan yang mengalir. Gayung bersambut dengan sikap masyarakat, termasuk pemerintah yang tampaknya sudah tidak peduli lagi pada sejarah nasional, terserah mau diplintir-plintir seperti apapun.

Sinetron Sembilan Wali memang tampaknya dibuat untuk memanjakan umat Islam sebagai agama mayoritas. Bahkan ada kesan seperti “cari muka” tanpa peduli menabrak rambu-rambu sejarah yang ada. Alasannya untuk syiar, biarpun ceritanya tidak punya dasar historis. Pertanyaan yang muncul adalah apakah alasan syiar dapat menghalalkan segala cara yang ditempuh, apalagi sampai mengacak-acak sejarah? Apakah sebuah tujuan yang mulia harus diraih dengan cara-cara yang murahan? Saya rasa tidak seharusnya demikian.

1342477497712810734

Dalam sinetron tersebut dikisahkan tokoh Sunan Kalijaga sebagai sosok yang sempurna, tampan, berbudi luhur, sakti, dan steril dari intrik politik. Demikian pula sosok Raden Patah dan para wali yang lainnya yang digambarkan sebagai sosok super suci dan steril dari intrik politik. Kesultanan Demak Bintoro digambarkan sebagai kesultanan yang bersih dan cinta damai. Berbeda dengan Kerajaan Majapahit yang digambarkan sedemikian bobroknya, berisi orang-orang yang suka berperang, kejam, penuh intrik politik dan memusuhi agama Islam serta memerangi para wali. Dalam sebuah script adegan bahkan dengan nyata-nyata seorang perwira Majapahit yang berwajah beringas mengatakan bahwa mereka harus memusnahkan wali karena mau mengganti kepercayaan lama dengan agama Islam. Apa maksudnya kepercayaan lama? Apakah ini mengacu pada agama Hindu-Buddha yang merupakan agama masyarakat Majapahit? Apakah script ini dibuat tanpa pertimbangan dapat menimbulkan isu-isu SARA?

Dan di atas semua itu, pertanyaan yang muncul adalah: Benarkah semua kisah sejarah ini?

Sebelum kita melangkah jauh mengupas kisah sejarah, maka marilah terlebih dulu menata hati kita menjadi insan yang jujur pada sejarah. Perlu kebesaran hati untuk bersikap jujur pada sejarah, sepahit apapun itu. Kejujuran pada sejarah, adalah modal dasar untuk menata peradaban bangsa di masa depan. Dengan bersikap jujur, maka kita akan mengakui hal-hal yang baik, begitu pula hal-hal yang buruk, lalu mengambil hikmahnya untuk mengayun langkah ke depan.

Kisah tentang Sembilan Wali dilatarbelakangi oleh keruntuhan Kerajaan Majapahit dan bangkitnya Kesultanan Demak sebagai kerajaan Islam pertama di Jawa. Beberapa sumber sejarah tertulis antara lain: Babad Tanah Jawi, Serat Kanda, Kitab Darmogandhul, Kronik China Sam Po Kong jelas menunjukkan adanya kudeta Demak atas Majapahit yang didukung oleh para Wali. Termasuk konflik berdarah Syeh Siti Jenar, konflik Trah Demak dengan Trah Pengging, dan perang Kesultanan Giri Kedaton versus Kesultanan Pajang, yang terasa sampai sekarang dengan simbolisasi kaum Putihan dan Abangan. Justru tidak ada bukti bahwa pada Jaman Majapahit, kaum Islam dimusuhi apalagi para wali diperangi, diburu untuk dibunuh. Kerajaan Majapahit adalah kerajaan yang sangat toleran pada keberagaman sesuai dengan slogan Bhineka Tunggal Ika. Hal ini terbukti dari eksistensi Kesultanan Malaka dan Pasai yang dibiarkan hidup berkembang dengan kultur agama Islam di bawah naungan payung Majapahit.

Dalam Sinetron Sembilan Wali berkali-kali ditayangkan Sunan Kalijaga diburu dan hendak dibunuh oleh pemerintah Majapahit, namun agar tidak kelihatan terlalu vulgar maka pihak Majapahit disamarkan dalam bentuk kerajaan-kerajaan kecil bernama Mojoagung dan Wengker yang saling bertikai dan menjadikan para wali serta Kesultanan Demak sebagai korban politik. Hal ini sungguh sangat tidak berdasar pada fakta sejarah. Sebuah interpretasi yang ngawur dan semau gue. Memang benar bahwa pada masa itu terjadi perang saudara di Majapahit, khususnya Majapahit Kulon (Pusat) dengan Majapahit Wetan (Blambangan) yang dikenal dengan Perang Paregreg (1404-1406). Perang ini berakibat melemahnya kekuatan pusat Majapahit Kulon sehingga banyak kerajaan-kerajaan kecil yang mulai melepaskan diri secara diam-diam dari naungan Majapahit. Tapi tidak ada catatan sejarah tentang perang antara Mojoagung dan Wengker.

Tidak jelas daerah mana yang dimaksud Mojoagung ini, tapi di jaman sekarang kita mengenal Mojoagung adalah sebuah kecamatan di sebelah Kecamatan Trowulan, pusat pemerintahan Majapahit dulu. Jarak Trowulan-Mojoagung hanya sekitar 5 km. Kalau benar begitu, berarti Kerajaan Mojoagung ada di pusat Kerajaan Majapahit Kulon, sehingga Kerajaan Mojoagung dan Majapahit tentu saling tumpang tindih. Sangat janggal dan aneh. Sedangkan Wengker adalah negara bawahan Majapahit di kawasan Probolinggo sekarang. Tidak pernah diceritakan Wengker berperang melawan Majapahit pusat, apalagi Mojoagung yang tidak jelas kerajaan apa dan dimana. Memang Wengker adalah kawasan tempat pelarian para pejabat Majapahit yang mengundurkan diri karena tidak puas dengan pemerintahan Prabu Kertabhumi (Brawijaya V) karena terlalu dikendalikan oleh permaisurinya yaitu Putri Champa (Dwarawati).

Memang pernah ada peristiwa penyerangan prajurit Majapahit pada rombongan pendatang dari Tiongkok yang dipimpin Laksamana Cheng Ho, seorang perwira muslim dari Suku Hui Chi, yang berakibat tewasnya 170 orang anggota rombongan. Hal itu terjadi karena kecelakaan atau penyerangan salah sasaran akibat kekacauan Perang Paregreg. Atas kecelakaan itu, Prabu Wikramawardhana meminta maaf dan harus didenda ganti rugi 60.000 tahil. Sampai 1408 ia baru bisa mengangsur 10.000 tahil saja. Akhirnya, Kaisar Yung Lo membebaskan denda tersebut karena kasihan. Peristiwa ini dicatat Ma Huan (sekretaris Cheng Ho) dalam bukunya, Ying-ya-sheng-lan.

Jadi sekali lagi tidak ada catatan sejarah yang menyebutkan pasukan Majapahit menyerang, memburu, bahkan membunuh para wali dan umat Islam yang kala itu mayoritas adalah orang-orang China Selatan. Perang yang terjadi adalah perang saudara Majapahit Kulon dan Majapahit Wetan. Juga tidak ada catatan tentang Perang Wengker versus Mojoagung. Sinetron Sembilan Wali jelas mengada-ada, maksudnya ingin mengagungkan para wali tapi kebablasan sampai membuat kebohongan sejarah.

Adalah seorang pejabat Demang Kutu di wilayah Wengker bernama Ki Ageng Kutu yang mengkritik Prabu Brawijaya dengan menciptakan tradisi Tari Reog Ponorogo, dimana Prabu Kertabhumi digambarkan seperti macan banci yang dikangkangi seorang wanita, sedangkan para warok adalah gambaran panglima militer Majapahit yang marah pada penari-penari banci yaitu gambaran prajurit-prajurit Majapahit yang kekuatannya mlempem seperti banci. Sikap Ki Ageng Kutu ini justru mengundang amarah Kesultanan Demak, sehingga Demak menyerang wilayah Ki Ageng Kutu dengan pasukan yang dipimpin oleh Batoro Katong, adik Raden Patah atas rekomendasi dari Sunan Kalijaga dan Kiai Muslim. Terjadi pertempuran sengit antara prajurit Ki Ageng Kutu dengan prajurit Batoro Kathong, tetapi Ki Ageng Kutu dan prajuritnya berhasil dipukul mundur hingga ke Gunung Bacin. Peristiwa bersejarah ini tercatat dalam Babad Ponorogo.

Masyarakat Malaysia bahkan mengakui fakta sejarah kudeta Demak atas Majapahit dari Hikayat Hang Tuah tentang Putri Gunung Ledang, yang tidak lain adalah Retno Dumilah, adik dari Pangeran Handayaningrat – Bupati Pengging, suami dari Retno Pembayun – putri Prabu Kertabhumi. Retno Dumilah melarikan diri ke Malaka akibat serangan Demak ke Majapahit sekaligus menemui kekasihnya Hang Tuah, pahlawan Malaka yang termasyur.

Fakta sejarah yang harusnya diakui secara jujur adalah bahwa Kesultanan Demak, di bawah pimpinan Raden Patah atas rekomendasi walisongo telah melakukan kudeta terhadap Majapahit. Raden Patah dan para wali selain sebagai penyebar agama Islam, namun juga memiliki manuver politik untuk membawa Demak menjadi penguasa Nusantara, khususnya Jawa. Hal ini terbukti dari pertikaian para wali dengan Syeh Siti Jenar beserta muridnya Kebo Kenongo yang berakhir dengan hukuman mati. Kisah ini tercatat dalam Serat Centhini dan Serat Cabolek.

Pada akhirnya tulisan ini mengajak kita sekalian untuk bersikap ksatria, berkata ya di atas ya, tidak di atas tidak. Akuilah baik sebagai baik, buruk sebagai buruk. Bukankah sikap ini yang diteladankan oleh Rasulullah Nabi Muhammad SAW

“Agar Allah memberikan balasan kepada yang jujur karena kejujurannya dan mengazab orang munafiq jika ia menghendakinya.” (QS. al-ahzab: 24)

Hanya dengan kejujuran pada sejarah di masa lalu, maka kita dapat mengevaluasi diri dan menata diri masa depan bangsa. Sebagaimana ucapan Bung Karno: “Jangan pernah melupakan sejarah jika ingin menjadi bangsa yang besar

About these ads

4 comments on “Sinetron Sembilan Wali di TV Indosiar : Sejarah yang Tergadai

  1. Mas Lintan,
    Saya setuju dengan paparan Mas mengenai “ngaconya” tayangan sinetron Sembilan Wali produksi Gentabuana Paramita ini. Tiada pembelajaran sejarah di sini, sehingga tidak memberikan tambahan ilmu samasekali. Bahkan “dakwah” agamanya sendiri sangat dangkal, tidak memberikan siraman rohani sedikitpun. Sangat berbeda dengan serial Wali Songo yang pernah tayang di tahun 2003, meskipun masih dari PH yang sama, saya masih mendapat tambahan pengetahuan sejarah.
    Hal yang sama juga terjadi dengan tayangan sinetron Raden Kian Santang di stasiun MNC, yang seharusnya bisa banyak memberikan pengetahuan sejarah syiar Islam di Tatar Sunda, pada masa Kerajaan Pajajaran, justru sebaliknya, sangatlah mengecewakan.
    Hanya saja dalam tulisan di atas, menurut saya Mas Lintan kurang bersikap netral, dan jelas-jelas mengagung-agungkan Majapahit sebagai kerajaan ideal di Nusantara yang tidak memiliki noda sedikitpun. Masalah toleransi antar beragama, saya pun setuju karena selain umat Hindu dan Buddha hidup berdampingan (selain bersinkretis), kaum Muslim pun bisa hidup tenang di Majapahit, terbukti dari beberapa makam Islam yang ditemukan. Kebetulan saya tidak mendalami sejarah secara detail, hanya secara garis besar, namun saya pikir cukup untuk memberikan ilustrasi dalam kepala saya. Dan saya setuju bahwa Majapahit adalah imperium besar Nusantara yang memang patut kita banggakan, sama halnya dengan Dinasti Ming kebanggaan China, Imperium Romawi kebanggaan Eropa, Kesultanan Ottoman kebanggan Turki, dsb.
    Namun kita lupa banyak fakta sejarah mengisahkan pada kita bahwa Majapahit sendiri – seperti Demak dalam tulisan di atas – dibangun setelah menumbangkan, mengkudeta kekuasaan sebelumnya (Kediri), dibantu pihak asing (Dinasti Yuan), dengan berbagai siasat dan tipu daya.
    Disusul banyaknya pemberontakan dalam Majapahit sejak tahun-tahun awal berdirinya (Ranggalawe, Sora, Nambi, Kuti) sebagai penanda ketidakpuasan dari dalam, intrik-intrik yang terjadi terus menerus, perang saudara Paregreg, juga tragedi Bubat dengan Sunda (meskipun ini masih diperdebatkan). Majapahit juga sebuah imperium yang ekspansionis dan militeristik, sehingga mampu memperluas kekuasaannya hingga wilayah Nusantara yang kita kenal. Pada akhirnya Majapahit memang kropos dari dalam karena perpecahan, intrik-intrik para pejabat korup, perebutan warisan, serangan negara-negara kecil, dsb. Semua terjadi setelah mengalami kejayaan dan kemakmuran yang membuat manusianya lambat laun menjadi terlena.
    Saya juga sadar betul bahwa dalam sejarah Kasultanan Demak juga banyak sekali terjadi intrik dan konflik, pertumpahan darah, justifikasi melalui agama, dan sebagainya, seperti yang sudah Mas paparkan di atas..
    Jadi yang hendak saya sampaikan sebenarnya adalah jika kita mengamati sejarah kerajaan-kerajaan di dunia, tidak ada yang terlepas dari intrik politik dan perebutan kekuasaan, ekspansi militeristik, penindasan, superiority-complex, juga kebobrokan moral, kebejatan, korupsi dan sebagainya. Tiap kekuasaan pasti mengalami pasang surut, ada kebangkitan, ada masa puncak dan keemasan, yang membuat manusianya menjadi nyaman dan terlena, kemudian diikuti kemunduran, kejatuhan hingga keruntuhan dan masa tergelapnya. Semua ini adalah keniscayaan sejarah, suka atau tak suka. Dalam hal ini Majapahit dan Demak tidak terkecuali, apapun ideologi dan sistem keyakinan yang dianut dan dijalankannya.
    Majapahit memang diambil alih Demak, tapi kebobrokannyalah yang membuatnya runtuh “sirna ilang kertaning bhumi”.
    Mohon maaf jika banyak kekurangan detail dari data sejarah, karena yang saya tekankan lebih pada hakikat sejarah kekuasaan.
    Terima kasih.

  2. Sebaikknya jangan bertengkar ah.. Islam diciptakan sudah terbukti dengan gamblang memamkmurkan ARAB SAUDI.. maka kalau ingin makmur kayak ARAB SAUDI kenapa takut dengan ISLAM.. kan.. yang penting sekarang kalian rajin bekerja, berdo’a, menabung dan jangan lupa Naik Haji… Uang anda sangant bermafaat untuk DEVISA, PENGINAPAN, CATERING anda selama perjalanan HAJI.. Artinya kencing berak di negeri sendiri… ada berkah bawalah ke negeri orang.. sisanya NIKMATI kelaparan berkepanjangan di negeri sendiri.. PUASA itu untuk di SURGA kan..???

  3. Hebat postingannya bos ijin copy sebagian ya?…

  4. Zeq yth.,…..
    Cepat koreksi tulisan anda, kalau tidak ingin terjadi sesuatu dalam hidup anda….. saya hanya mengingatkan. Sudah banyak contoh nyata yang pernah saya saksikan….. sama seperti anda bahkan ada yang lebih keras dan ada yang lebih lembut….. tetapi dapat kehidupan yang sama…sempit.

    Itulah bisnis media yang penting laku, ada duitnya tidak perduli dengan dampak yang akan di tanggung oleh masyarakat luas. Seolah-olah media sebagai alat dari kekuasaan atau alat pengendali massa atas yang diinginkan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Catatan Safari ANS

Terlambat Satu Detik Kerugian Satu Milyar

Women Terrace

Where is women can feel free

Kanzunqalam's Blog

AKAL tanpa WAHYU, akan berbuah, IMAN tanpa ILMU

Cahayapelangi

Cakrawala, menapaki kehidupan nusantara & dunia

religiku

hacking the religion

SANGKAN PARANING DUMADI

Just another WordPress.com site

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 4.953 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: