1 Komentar

Catatatan Perjalanan Geotrek Indonesia Sadahurip Sebuah Wisata alam, Kontroversi dan Kebebasan Berpiki

Catatatan Perjalanan Geotrek Indonesia Sadahurip Sebuah Wisata alam, Kontroversi dan Kebebasan Berpikir.

by Ummy Latifah on Sunday, January 29, 2012 at 9:32pm

Catatatan Perjalanan Geotrek Indonesia Sadahurip  Sebuah Wisata alam Kontroversi dan Kebebasan Berpikir.

Oleh Ummy Latifah

Manusia tidak dipenjara oleh takdir, melainkan dipenjarakan oleh pikirannya sendiri”-          Franklin Delano Roosevelt  (1882-1945) –

Mamat,  Ade dan teman-temannya dengan sigap dan cekatan mengikuti  perjalanan kami komunitas Geotrek  Indonesia menaiki Gunung Sadahuraip. Sepanjang perjalanan Mamat yang berusia 8 tahun dengan gembira bercerita tentang hiruk pikuk  para tamu yang mendatangi Gunung Sadahurip. Mamat dengan cekatan menawarkan sebagai porter kami untuk membawa tas. Mamat mengatakan  sudah biasa menjadi portersejak Gunung Sadahurip diberitakan ada Piramida di dalamnya bahkan  sebagai pengantar logistik orang-orang yang bermalam di Gunung Sadahurip.

Perdebatan dan kontroversi Gunung Sadahurip yang diduga  di dalamnya ada Piramida membawa Komunitas Geotrek Indonesia  berkunjung ke Desa Cisapar di kaki  Gunung Sadahurip yang Indah. Komunitas Geotrek Indonesia bukan berniat mencari Piramid atau menambah sengit perdebatan, namun kami berminat  piknik dan mendiskusikan apa yang sebenarnya terjadi bagaimana hal ini menjadi polemik yang belum selesai.

Perjalanan yang ditempuh   2 jam cukup melelahkan kami, sampai di desa Cisapar kaki gunung Sadahurip kami disambut oleh tatapan ramah penduduk desa yang sudah terbiasa dengan kedatangan para pengujung yang penasaran tentang Piramida. Setelah makan siang Narasumber kami yang biasa disebut Kepala Sekolah Bapak Awang H Satyana (geolog BP Migas) mulai membentangkan poster lengkap tentang struktur Gunung Sadahurip , penelitian Geolistrik dan radar serta gambar tentang tipe-tipe arshitektur Piramida di seluruh dunia. Sebuah penjelasan yang multidisiplin Ilmu dari Bapak Awang H Satyana.

Hal yang menarik dalam kuliah pengantar di kaki gunung Sadahurip adalah bagaimana penjelasan Pak Awang menghipnotis penduduk desa untuk berkumpul  dari mulai ibu-ibu, bapak-bapak dan anak-anak diam membisu, tanpa kita ajak dan dengan serius mendengarkan materi yang diberikan Bapak Kepala Sekolah. Pak Awang menjelaskan aspek  geologi, sejarah dan kearifan lokal dengan bahasa awam dan mudah dimengeriti oleh penduduk desa. Salah seorang penduduk desa membisikan kepada temannya “oh kita nya cara neangan pyramid teh…. Kudu digali heula jeung cang tangtu aya nya…. Oh kitu nya eusina gunung teh” . Sebuah pencerahan bagi kami peserta dan penduduk desa yang sering kali bingung dengan kedatangan para pengunjung.

Lalu apa yang didapatkan komunitas dari perjalanan ke Sadahurip tentu akan saya sampaikan mungkin hanya sebagian materi saja karena sangat banyak ilmu yang kami dapatkan dari Bapak Awang. Pertama mungkinkah ada budaya piramida di Indonesia jawabnya “mungkin dan ada” tetapi kita tidak harus berpikir dengan kerangka Piramida Mesir, karena menurut sejarah budaya Piramida Mesir adalah adalah salah satu bentuk dari model Piramida yang muncul hanya pada satu masa periode pemerintahan Firaaun. Jadi dalam gambar yang di bawa Pak Awang sangat banyak tipe Piramida. Di luar Mesir piramida pun ditemukan di berbagai Negara dengan masa dan bentuk yang berbeda. Misalnya piramida Ziggurat di Persia, piramida Indian Maya di Amerika tengah, Piramida Nsude di Nigeria, PIramida El Castillo-Chichen Itza di Mexico , Nubian di Sudan dan Piramida Hellinikon di Yunani. Bentuk Piramida ini bermacam-manam tetapi menunjukkan kesamaan yang khas, yaitu memusat di puncaknya seperti gunung. Di Indonesia sendiri budaya Piramida dikenal dengan modal punden berundak. Punden berundak adalah suatu variasi step pyramid. Contoh step Pyramid adalah Situs Gunung Padang.

Ketika kami sampai di puncak kami merasakan sebuah suasana psikologis yang berbeda Gunung Sadahurip dikeliling banyak gunung, seperti Gunung Galungung, Talaga Bodas, Rakutak, Gunung Guntur, Gunung Sadakeling. Gunung Sadahurip bagai sebuah pusat  “kosmologi”.  Di puncak Sadahurip Pak Awang membahas filosofi ilmu, membahas banyak fakta dan interpretasi  gunung Sadahurip agar kita  tidak terjebak dalam polemik yang melelahkan dan saling menyerang.

Kontroversi Sadahurip: Dogma dalam Sains, Perdebatan dan Kebebasan Berpikir.

Menurut Pak Awang antara  yang pro bahwa Sadahurip  adalah piramida dan yang pro Gunung api mereka memiliki fakta-fakta sendiri yang bisa diinterpretasikan masing-masing. Namun penelitian Geolistrik yang dilakukan pro piramida dapat menjawab 2 hal piramida atau vulkanik semua belum selesai.

Ada beberapa fakta Sadahurip yang disampaikan Pak Awang  1) Sadahurip merupakan bukit setinggi 1493 meter dpl 2) ia berbentuk piramida 3) beberapa batuan yang tersingkap didindingnya atau yang bertebaran di sekitarnya menunjukan disusun oleh batuan andesit 4) secara geologi regional Sadahurip merupakan jalur dominan gunung api di Jawa Barat 5) tidak dilaporkan keberadaan kawah di puncak atau dindingnya. Fakta-fakta tersebut merupakan faktor penyulit untuk segera ditafsirkan Sadahurip Piramida atau Gunung berapi tidak bisa diselesaikan dengan cepat.

Pembelajaran yang  paling berharga dari materi yang diberikan dari Pak Awang adalah “kebenaran yang telah menjadi mutlak dan menutup semua pintu terhadap kemungkinan lain adalah sebuah dogma. Sain berkembang tidak melalui dogma, sebab ketika dogma mengemukan selesailah sains. Sains berkembang melalui jalan perdebatan. Dari sejarah sains kita melihat bahwa apa yang telah dianggap benar dan telah menjadi teori, ternyata dapat gugur di kemudian hari sekalipun perubahan itu memakan waktu cukup lama puluhan bahkan ratusan tahun.  Biarlah perdebatan berjalan Fakta tak dapat merubah apa pun yang dipikirkan orang, metode penelitian bisa membantu tetapi bisa juga mengelabui. Marilah kita berpikir bebas tanpa terbelenggu dogma”.(pengalan kutipan materi filosofi ilmu dari Awang H Satyana)  Salam Geotrek Indoneisia foto oleh Edwin syahrial.

 

Unlike ·  · Unfollow Post · Share

  • You, Kuswanto Abu Irsyad and 11 others like this.
  • 2 shares
    • Rita Nurmala Tengkiu Ummy Latifah…Love it D’…lanjuut Trowulan – Bromo..Insya Allah….Terima kasih buat Bpk Kep.Sek…Pa Awang..yg tak pernah bosan sharing ilmunya yang luar biasa…Alhamdulillah

      11 hours ago · Like ·  1
    • Winta Adhitia Guspara ketika sesampamianya disana, sebetulnya aku malah sdh gak berpikir tentang piramida atau bukan, yg penting jalan & lihat lokasi, karena disanalah kita akan dapatkan realita.

      11 hours ago · Like ·  2
    • Neti Maulani kereeen t’ummy 🙂 izin share ya?!
      btw, jadi udah ada perkiraan ke bromo-nya kapan?? ;p

      11 hours ago · Like
    • Ummy Latifah bu Rita Nurmala nuhun semangat trip berikut…masWinta Adhitia Gusparabetul banget sebuah realitas… Neti Maulanimangga nuhun,.maret net..

      11 hours ago · Like
    • Neti Maulani tanggalnya belum ada ya teh? pas libur nyepi?

      11 hours ago · Like
    • Ummy Latifah tanggalnya masih menimbang hehe…karena harus survei dulu…siap2 nabung ya lumayan mahal net..

      11 hours ago · Like
    • Neti Maulani baiklaaaah… ^_^v *mengirit mode: ON 😀

      11 hours ago · Like
    • Winta Adhitia Guspara ikut bagi – bagi ya ..

      11 hours ago · Like ·  1
    • Edwin Syahrizal keterbatasan dalam ilmu sejarah menjadikan edwin lebih “melek” kemasan goetrek menginspirasi untuk lebih dapat menggali potensi sejarah Indonesia dan implementasi untuk anak cucu kita … salam nabung to Bromo

      11 hours ago · Like ·  1
    • Winta Adhitia Guspara sepertinya utk ke bromo aku in absentia mbak … sdh banyak bolosnya … hahahhahaha … krna rencanaya saya juga akan ke trowulan & tulung agung pd tgl 10 – 11 feb

      11 hours ago · Like
    • Ummy Latifah ‎Edwin Syahrizal kita harus memaknai perjalanan kita ya dengan berbagai ilmu..mas Winta Adhitia Guspara siap…kita selalu berbagai ilmu.

      11 hours ago · Like
    • Eva Fandora teh Ummy Latifah; seandainya Indonesia, khususnya jawa barat bisa mengembangkan pootensi wisata geo jadi wisata unggulan, pasti singapura kalah, thailand kalah apalagi malaysia…….btw, kayaknya harus mulai dengan memfilmkan aktivitas geotrek dan bukunya teh, supaya dokumentasinya nyata dan kita bisa belajar terus. Sayang banget dengan ilmunya pa awang……

      11 hours ago · Like ·  1
    • Ummy Latifah iya betuh teh Eva Fandora tidak hanya geo tetapi ilmu pak awang yang mendalam dari sisi sejarah, budaya, arkeologi dan kearifan lokal sehingga terasa INdonesia itu hebat…..InsyaAllah…nuhun

      11 hours ago · Like
    • Winta Adhitia Guspara hahaha, mbak ummy ini, mun abdi teh punyanya cuman ilmu ngalamun …

      10 hours ago · Like
    • Ummy Latifah ngpp ilmu ngalamun sama kaya saya…yang penting jangan ilmu santet,,

      10 hours ago · Like
    • Winta Adhitia Guspara hahahhaa … woke sippp ….

      10 hours ago · Like
    • Trizsa Vas sae pisan htrnuhun parantos ditag nya neng Ummy Latifah

      7 hours ago · Like ·  1
    • Feni Afiani tengkyu ciiinnnn!

      6 hours ago · Like ·  1

One comment on “Catatatan Perjalanan Geotrek Indonesia Sadahurip Sebuah Wisata alam, Kontroversi dan Kebebasan Berpiki

  1. silek pangean jantan dan batino .
    asal silat pangean jantan dan batino
    datuak bolang /datuk hang tuah
    kata kunci asal usul datuk hang tuah
    web site
    ASAL MUASAL PENDEKAR KUANTAN
    Pada jaman ± 1500 M Kerajaan Pagar Ruyung masih memeluk agama Hindu pada masa Raja Paku Alam II. Kerajaan Pagar Ruyung adalah kerajaan Minang Kabau yang terbesar dan termansyur pada saat itu. Pada masa itu datanglah penyiar agama Islam dari ulakan pariaman guru pertamanya yang mulia syekh burhanuddin ini, langsung di hantar dari madinah negara arab yang bernama angku yahyuddin /tuanku madinah ,bersama tiga orang pendekar,syamsudin,syabarudin dan basyarudin ,seterusnya menyambung pengjian agama islam di acheh dengan syekh abdurauf singkel/syekh kuala juga di hantar dari madinah ke acheh inilah murid kesayanganya yang bernama Syech Burhanudin. Agama islam yang diajarkan oleh Syech Burhanudin awalnya ditolak oleh pihak kerajaan dan masyarakat tetapi Syech Burhanudin selalu melakukan pendekatan-pendekatan dengan keluarga terdekat serta masyarakat dan penduduk baik penetrasi melalui budaya tempatan maupun dari rumah kerumah. Syech Burhanudin menyebarkan agama Islam tidak sendirian tetapi dia dibantu oleh murid-muridnya,idris majolelo/khatib majolelo ,dan Malin nan Putiah adalah murid Syech Burhanudin yang terkenal pada saat itu.
    Dalam adat Minang Kabau istri Raja atau permaisuri disebut dengan Bundo Kanduang. Adik kandung perempuan dari Bundo Kanduang bernama Bundo Panjago Adat dan suami dari Bundo Panjago Adat bernama Datuak Panjago Nagori. Akibat Bundo Kanduang tidak memiliki keturunan dengan Raja Paku Alam II maka dia mengangkat anak dari anak Bundo Panjago Adat anak tersebut bernama Siti Hasimah. Siti Hasimah dibesarkan dalam lingkungan relegius dan adat-istiadat Minang Kabau, dia anak kesayangan dari Bundo Kanduang. Siti Hasimah mempunyai guru ngaji bernama Malin nan Putiah, murid dari Syech Burhanudin yang akhirnya Malin nan Putiah tersebut mempersunting Siti Hasimah menjadi istrinya. Perkawinan Siti Hasimah dengan Malin nan Putiah menghasilkan tiga orang keturunan atau pangeran. Anak pertamanya diberi nama Ahmad, anak kedua dengan nama Syarif dan anak ketiga dengan nama Ali. Siti Hasimah belajar silat melalui mimpi, ini didapatkannya karena Penerapan Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah dan nilai-nilai relegius yang diamalkan Siti Hasimah disertai rajin membaca kitab suci Al-Qur’an dan melaksanakan ibadah Sholat wajib dan sholat malam. Siti Hasimah yang dalam sapaan kependekarannya bernama “Inyiak Simah atau Olang Bagegah” mempunyai dua orang saudara kandung yaitu Siti Fatimah dan Siti Halimah serta satu orang saudara angkat yaitu Ismail yang bergelar dengan nama Datuak Bolang.
    Akibat kekacauan yang terjadi didalam kerajaan Pagar Ruyuang maka Inyiak Simah pergi merantau ke hilir daerah Minang Kabau untuk menyebarkan agama Islam, tiga orang putranya dititipkannya dengan pamannya yaitu Datuak Bolang sekaligus belajar ilmu beladiri/silat dengan Datuak Bolang tersebut. Akhir petualangan Inyiak Simah singgah disebuah negeri disalah satu didaerah aliran sungai Kuantan yang pada saat itu negeri tersebut belum ada nama, karena belum ada nama maka Inyiak Simah memberi nama tersebut dengan nama Pangean, nama tersebut terinspirasi dari nama daerah kampung halaman orang tua Inyiak Simah yaitu Pangian diLintau. Dari sinilah dikenal asal muasal nama Pangean dan silat Pangean yang dikenal ke penjuru negeri. Negeri tersebut berada diwilayah Kabupaten Kuantan Singingi, Propinsi Riau.
    Dinegeri baru tersebut Inyiak Simah menetap. Selang beberapa tahun Inyiak Simah merantau hal tersebut menimbulkan kegelisahan dari suaminya Malin nan Putiah, oleh sebab itu Malin nan Putiah mengutus Datuak Bolang dan ketiga anaknya untuk mencari Inyiak Simah. Akhirnya Inyiak Simah bertemu dengan Datuak Bolang, Ahmad, Syarif dan Ali dinegeri Pangean. Di Pangean inilah Inyiak Simah dan anak-anaknya menyusun kekuatan dan mengajarkan Silat kepada anak-anaknya.
    Datuak Malin nan Putiah akhirnya menyusul mencari Inyiak Simah dan anak-anaknya dengan hilir kemelalui sungai Batang Kuantan, pencarian Datuak Malin nan Putiah tidak sia-sia, dia menemukan anak dan istrinya di Pangean. Datuak Malin nan Putiah membujuk istrinya untuk pulang ke Pagar Ruyung tetapi ditolak oleh istrinya karena udah merasa nyaman dan tentram hidup didaerah baru tersebut (red:Pangean), dan pada akhirnya terjadi pertengkaran dan perkelahian antara Inyiak Simah dan Datuak Malin nan Putiah, sebelum berkelahi mereka mengadakan perjanjian yaitu jika Inyiak simah Kalah maka dia bersedia untuk pulang ke Pagar Ruyung dan sebaliknya. Didalam perkelahian itu terucaplah beberapa petuah oleh Inyiak Simah yaitu “ somuik bah iriang tah pijak indak mati alu tah aruang patah tigo, makan abih-abih manyuruak hilang-hilang, ompek ganjial limo gonok” makna petuah tersebut sangat dalam maknanya dan memiliki nilai spritual dalam silat Pangean. Akhirnya pertempuran itu dimenangkan oleh Inyiak Simah dan Malin nan Putiah akhirnya mengikuti keinginan Inyiak Simah dan menetap di Pangean.
    Didalam gelar kepandekaran Ahmad dikenal dengan nama Pendekar Baromban Bosi, dia sebagai seorang yang mengerti dan memahami agama dan hukum adat-istiadat. Syarif dikenal dengan nama pendekar dari Utara yang menyebarkan Silat dan agama islam kearah Utara Pangean dan Ali bergelar Pendekar dari Selatan yang menyebarkan silat dan agama islam kearah selatan Pangean. Sedangkan Datuak Bolang melakukan ekspansi agama islam dan menyebarkan agama Islam kearah Melayu Kepulauan atau Terempak Natuna dan Malaka. Datuak Bolang ini lah yang nantinya bergelar Hang Tuah didaerah perantauan.
    Tanah Pangean terkenal pula dengan persilatannya, nama yang tak asing bagi pesilat di Kuantan. Silat ini diwariskan secara turun temurun. Silat Pangean diajarkan kepada anak dan kemenakan. Dalam gerakan, silat Pangean dikenal dengan gerak lembut dan gemulai. Meski begitu setiap gerakan menyimpan efek yang mematikan. Aliran silat Pangean ada dua jenis yaitu Pangean Bathino yang langsung dwariskan oleh Inyiak Simah dan Pangean jantan yang diwariskan oleh Datuak Bolang. Pangean jantan gerakannya sedikit kasar dan dipergunakan untuk perang atau pasukan terdepan dalam siasat perang adat Pangean, terkadang Pangean Jantan ini banyak disalah gunakan oleh pesilat Pangean kearah kiri atau ketabiat negatif. Sedangkan Pangean bathino gerakannya yang lemah gemulai dan lunak diperuntukan bagi pangeran-pangeran kerajaan atau keturunan raja, aliran Pangean Bathino ini dikenal dengan nama khas sebagai ilmu pangean kebathinan. Jadi Silat Pangean Jantan berasal dari Lintau yang diwariskan oleh Datuak Bolang dan Pangean Bathino berasal dari Pangean saluh satu daerah diKabupaten Kuantan Singingi Propinsi Riau.
    Kini, dalam mencapai tujuan pengembangan silat dan dalam rangka melestarikan kebudayaan masyarakat Pangean, penghulu adat membuka laman silat di samping Mesjid Koto Tinggi Pangean. Sebuah bukit di Pangean yang bernama Bukit Sangkar Puyuh sekarang Koto Tinggi Pangean. Nama bukit ini diambil dari bentuknya yang memang seperti Sangkar Burung Puyuh. Di sini sebuah balai adat didirikan. Selain itu, dalam rangka pemerataan keterampilan silat, para guru silat Pangean memberi izin untuk dibukanya laman silat di masing-masing banjar. Dalam penerapannya, silat Pangean terdiri dari permainan dan pergelutan. Tarian silat sambut menyambut serangan ini sering dimainkan di halaman. Hal ini berbeda dalam pengajaran silat kepada murid tingkat atas yang dilakukan di rumah. Silat didalam rumah ini yang disebut dengan Silat Pangean Kebathinan. Seiring berjalannya waktu silat Pangean mendapat perhatian yang luas. Tidak hanya di rantau Kuantan, tapi mulai dikenal di Indragiri dan daerah Riau lainnya. Bahkan pengaruh silat Pangean juga tumbuh diluar negeri seperti di Negara Malaysia, Singapura dan Pathani Thailand.

    Kerabat diraja Pagaruyung
    Kerajaan Inderapura

    Kerajaan Negeri Sembilan

    Kesultanan Siak Sri Inderapura

    edit

    [sunting] Aparat pemerintahan
    Setelah masuknya Islam, Raja Alam yang berkedudukan di Pagaruyung melaksanakan tugas pemerintahannya dengan bantuan dua orang pembantu utamanya (wakil raja), yaitu Raja Adat yang berkedudukan di Buo, dan Raja Ibadat yang berkedudukan di Sumpur Kudus. Bersama-sama mereka bertiga disebut Rajo Tigo Selo, artinya tiga orang raja yang “bersila” atau bertahta. Raja Adat memutuskan masalah-masalah adat, sedangkan Raja Ibadat mengurus masalah-masalah agama. Bila ada masalah yang tidak selesai barulah dibawa ke Raja Pagaruyung. Istilah lainnya yang digunakan untuk mereka dalam bahasa Minang ialah tigo tungku sajarangan. Untuk sistem pergantian raja di Minangkabau menggunakan sistem patrilineal[38] berbeda dengan sistem waris dan kekerabatan suku yang masih tetap pada sistem matrilineal.[15]
    Selain kedua raja tadi, Raja Alam juga dibantu oleh para pembesar yang disebut Basa Ampek Balai, artinya “empat menteri utama”. Mereka adalah:
    Bandaro yang berkedudukan di Sungai Tarab.
    Makhudum yang berkedudukan di Sumanik.
    Indomo yang berkedudukan di Suruaso.
    Tuan Gadang yang berkedudukan di Batipuh.
    Selain itu dalam menjalankan roda pemerintahan, kerajaan juga mengenal aparat pemerintah yang menjalankan kebijakan dari kerajaan sesuai dengan fungsi masing-masing, yang sebut Langgam nan Tujuah. Mereka terdiri dari:
    Pamuncak Koto Piliang
    Perdamaian Koto Piliang
    Pasak Kungkuang Koto Piliang
    Harimau Campo Koto Piliang
    Camin Taruih Koto Piliang
    Cumati Koto Piliang
    Gajah Tongga Koto Piliang
    Daftar Raja-raja Pagaruyung

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Atlantis in the Java Sea

A scientific effort to match Plato’s narrative location for Atlantis

Sembrani

Membahas ISU-ISU Penting bagi Anak Bangsa, Berbagi Ide, dan Saling Cinta

Wirdanova

+62811-813-1917

aawanto

The greatest WordPress.com site in all the land!

Covert Geopolitics

Beyond the Smoke & Mirrors

Catatan Harta Amanah Soekarno

as good as possible for as many as possible

Modesty - Women Terrace

My Mind in Words and Pictures

Kanzunqalam's Blog

AKAL tanpa WAHYU, akan berbuah, IMAN tanpa ILMU

Cahayapelangi

Cakrawala, menapaki kehidupan nusantara & dunia

religiku

hacking the religion

SANGKAN PARANING DUMADI

Just another WordPress.com site

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

%d blogger menyukai ini: