3 Komentar

Situs Megalitikum Arca (Salaka) Domas

http://bagja2000.multiply.com/photos/album/42/Arca_Domas_-_Cibalay_Mencari_Jejak_Pajajaran#

MUNDINGLAYA DI KUSUMAH

Mundinglaya Dikusumah

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Mundinglaya Dikusumah adalah cerita rakyat dari masyarakat Sunda. Cerita rakyat tersebut menceritakan kehidupan seorang pangeran yang kemudian diangkat menjadi raja saat Prabu Siliwangi memerintah kerajaan tersebut. Kerajaan Sunda sendiri sering disebut oleh orang Sunda sebagai Pajajaran (nama ibukota kerajaan) setelah Cirebon dan Banten memisahkan diri dari kerajaan tersebut.

Sumber Cerita rakyat ini berasal dari tradisi lisan orang Sunda yang disebut cerita pantun, yang kemudian ditulis dalam bentuk buku oleh para penulis Sunda baik dalam Bahasa Sunda maupun Bahasa Indonesia).[1] karya-karya roman yang mengadopsi cerita pantun Mundinglaya Dikusumah di antaranyaPasini Jangji di Muaraberes karya Rohmat Tasdik Al-Garuti (dalam tiga bahasa: Sunda, Indonesia, dan Inggris)

Rangkuman- Prabu Siliwangi memiliki dua orang istri yaitu Nyimas Tejamantri dan Nyimas Padmawati yang menjadi permaisuri.

Dari Nyimas Tejamantri, Prabu Silihwangi mendapat seorang anak yaitu pangeran Guru Gantangan. Sedangkan dari permaisuri Nyimas Padmawati, raja memperoleh anak yang diberi nama Mundinglaya. Beda umur antara pangeran Guru Gantangan dan pangeran Mundinglaya sangat jauh. Saat pangeran Guru Gantangan ditunjuk jadi bupati di Kutabarang dan sudah menikah, Mundinglaya masih anak-anak.

Karena tidak mempunyai anak, pangeran Guru Gantangan memungut anak dan diberi nama Sunten Jaya. Guru Gantangan juga tertarik untuk merawat Mundinglaya sebagai anaknya. Saat pangeran Guru Gantangan meminta Mundinglaya dari permaisuri Nyimas Padmawati, permaisuri memberikannya karena mengetahui bahwa pangeran Guru Gantangan sangat menyayangi pangeran Mundinglaya.

Saat pangeran Mundinglaya dewasa, pangeran Guru Gantangan lebih menyayangi pangeran Mundinglaya daripada pangeran Sunten Jaya. Hal ini disebabkan perbedaan karakter yang sangat jauh antara pangeran Mundinglaya dan pangeran Sunten Jaya. Pangeran Mundinglaya selain rupawan juga baik budi pekertinya sedangkan keponakannya sifatnya angkuh dan manja.

Hal ini sangat membuat iri pangeran Sunten Jaya. Terlebih lagi ibunya juga sangat menyayangi pangeran Mundinglaya.

Hanya saja perhatian istri pangeran Guru Gantangan kepada pangeran Mundinglaya sangat berlebihan sehingga membuat pangeran Guru Gantangan cemburu. Akhirnya pangeran Mundinglaya dijebloskan kedalam penjara oleh saudara tirinya itu dengan alasan bahwa pangeran Mundinglaya mengganggu kehormatan wanita.

Keputusan ini menjadikan mayarakat dan bangsawan Pajajaran terpecah dua, ada yang menyetujui dan ada yang menentang keputusan tersebut sehingga mengancam ketentraman kerajaan kearah permusuhan antar saudara.

Pada saat yang gawat ini, terjadi sesuatu yang aneh. Pada suatu malam, permaisuri Nyimas Padmawati bermimpi aneh. Dalam tidurnya, permaisuri melihat tujuh guriang, yaitu mahluk yang tinggal di puncak gunung. Di antara mereka ada yang membawa jimat yang disebut Layang Salaka Domas. Permaisuri mendengar perkataan guriang yang membawa jimat tersebut: “Pajajaran akan tenteram hanya jika seorang kesatria dapat mengambilnya dari Jabaning Langit.”

Segera setelah bangun pada pagi harinya, permaisuri menceritakan mimpi itu kepada raja. Prabu silihwangi sangat tertarik oleh mimpi permaisuri dan segera meminta seluruh rakyat juga bangsawan, termasuk pangeran Guru Gantangan dan pangeran Sunten Jaya, untuk berkumpul di depan halaman istana untuk membahas mimpinya permaisuri.

Setelah seluruhnya berkumpul, raja berkata: “Adakah seorang kesatria yang berani pergi ke Jabaning Langit untuk mengambil jimat Layang salaka domas?”

Senyap! Tidak ada suara yang terdengar. Pangeran Sunten Jaya pun tidak mengeluarkan suaranya. Dia takut akan barhadapan dengan Jonggrang Kalapitung, seorang raksasa berbahaya yang selalu menghalangi jalan ke puncak gunung. Setelah beberapa saat, patih Lengser angkat bicara: “Paduka,” dia berkata, “setiap orang telah mendengarkan apa yang disampaikan paduka, kecuali masih ada satu orang yang belum mendengarkannya. Dia berada dalam penjara. Paduka belum menanyainya.

Dia adalah pangeran Mundinglaya.” Mendengar ini, raja memerintahkan agar pangeran Mundinglaya dibawa menghadap. Patih Lengser kemudian meminta izin pangeran guru Gantangan untuk melepaskan pangeran Mundinglaya.

Saat pangeran Mundinglaya sudah berada di hadapannya, raja berkata: “Mundinglaya, maukah ananda mengambil jimat layang salaka domas, yang diperlukan untuk mencegah negara dari kehancuran akibat malapetaka?” Karena layang salaka domas penting bagi keselamatan negara, ananda akan pergi mencarinya, ayah,” kata pangeran Mundinglaya.

Prabu Silihwangi sangat senang mendengar jawaban ini. Demikian juga masyarakat dan para bangsawan. Bagi pangeran Mundinglaya, tugas ini juga berarti kebebasan jika dia berhasil mendapatkan layang salaka domas. Sementara bagi pangeran Sunten Jaya ini berarti menyingkirkan musuhnya, karena dia yakin bahwa pamannya akan dibunuh oleh Jonggrang Kalapitung. “Kakek,” kata pangeran Sunten Jaya, “dia adalah seorang tahanan, jika kakek membiarkannya pergi sekarang, tidak akan ada jaminan bahwa dia akan kembali.”

“Apa yang cucunda usulkan, Sunten Jaya?”

“Jika dia tidak kembali setelah sebulan, penjarakan kanjeng ibu Padmawati dalam istana.” Masyarakat dan bangsawan kaget mendengar permintaan ini. Prabu Silihwangi berbalik kepada pangeran Mundinglaya: “Bagaimana menurutmu?”

”Ananda akan kembali dalam sebulan dan setuju dengan usulan Sunten Jaya.”

Dalam beberap minggu, pangeran Mundinglaya diajari oleh patih Lengser ilmu perang dan cara menggunakan berbagai senjata sebagai bersiapan untuk menghadapi rintangan yang akan ditemui selama perjalanan ke Jabaning Langit. Kemudian pangeran Mundinglaya meninggalkan Pajajaran. Karena dia tidak pernah keluar dari ibukota tersebut, pangeran Mundinglaya tidak mengetahui jalan ke Jabaning Langit. Dengan berserah diri kepada Tuhan yang Maha Kuasa, sang pangeran pergi melewati berbagai hutan lebat untuk menemukan Jabaning Langit dan bertemu dengan para guriang.

Dalam perjalanan, pangeran Mundinglaya melewati kerajaan kecil Muara Beres (atau Tanjung Barat) yang merupakan bawahan dari Pajajaran. Disana pangeran Mundinglaya bertemu dan jatuh hati dengan putri kerajaan yang bernama Dewi Kania atau Dewi Kinawati. Mereka saling berjanji akan bertemu lagi setelah pangeran Mundinglaya berhasil menjalankan tugas dari Prabu silihwangi untuk memperoleh jimat layang salaka domas.

Pangeran Mundinglaya meneruskan perjalanannya. Tiba-tiba di tengah perjalanan dia dicegat oleh raksasa Janggrang Kalapitung yang berdiri di depannya. “Mengapa kamu memasuki wilayahku? Apakah kamu menyerahkan diri sebagai santapanku?”

“Coba saja kalau bisa!” jawab pangeran Mundinglaya dengan tenang. Jonggrang Kalapitung menubruknya tapi pangeran Mundinglaya berkelit.

Berkali-kali si raksasa menyerang pangeran Mundinlaya, tapi lagi dan lagi jatuh ke tanah sampai akhirnya kehabisan napas. Dengan kerisnya, pangeran Mundinglaya mengancam musuhnya:

“Katakan dimana Jabaning Langit?”

“Di dalam dirimu.” Berpikiran bahwa si raksasa berbohong, pangeran Mundinglaya menekankan keris lebih dalam ke leher si raksasa. “Jangan berbohong! Di manakah Jabaning Langit?”

“Di dalam hatimu.” Setelah itu, pangeran Mundinglaya melepaskan raksasa tersebut, sambil berkata: “Aku membebaskanmu, tapi jangan ganggu rakyat Pajajaran lagi.” Jonggrang Kalapitung menuruti dan berterima kasih kepada pangeran Mundinglaya dan meninggalkan Pajajaran selamanya.

Ketika dia pergi, pangeran Mundinglaya menemukan suatu tempat untuk beristirahat dan berdoa meminta tolong kepada tuhan yang Maha Esa untuk diberikan jalan. Suatu hari dia merasakan seolah-olah terangkat dari tempatnya dan terbang ke suatu tempat yang sangat terang.

Di sana dia diterima oleh tujuh guriang, mahluk-mahluk supranatural yang menjaga Layang Salaka Domas. Mereka bertanya kepada pangeran Mundinglaya mengapa berani datang ke Jabaning Langit.

“Tujuanku datang ke sini adalah untuk mengambil Layang Salaka Domas yang diperlukan oleh negaraku sebagai obat untuk mencegah permusuhan antar saudara. Akan banyak orang menderita dan mati memperebutkan yang tidak jelas.”

“Kami menghargaimu, pangeran Mundinglaya, tapi kami tidak dapat memberimu Layang Salaka Domas karena ini bukan untuk manusia. Bagaimana kalau pemberian lain sebagai hadiah untukmu? Misalnya seorang putri cantik atau kesejahteraan, atau kami dapat menjadikanmu manusia tersuci di dunia?”

“Aku tidak memerlukan semua itu, jika rakyat Pajajaran terlibat dalam perang.”

“Kalau begitu, kamu harus merebutnya setelah mengalahkan kami.” Maka terjadilah perkelahian. Karena para guriang sangat kuat, pangeran Mundinglaya terjatuh dan meninggal. Segera setelah itu, muncul mahluk supranatural lainnya, yaitu Nyi Pohaci yang menampakkan diri dan menghidupkan kembali pangeran Mundinglaya. Pangeran Munding Laya bersiap kembali untuk bertempur dengan para guriang.

“Tida perlu ada lagi pertempuran, karena engkau telah menunjukkan sifatmu yang sebenarnya,” kata salah satu dari tujuh guriang, “jujur, tidak tamak. Engkau mempunyai hak untuk membawa Layang Salaka Domas.” Dan dia kemudian memberikannya kepada pangeran Mundinglaya.

Pangeran Mundinglaya sangat bergembira dan mengucapkan terima kasih. Dia juga berterima kasih kepada Nyi Pohaci atas bantuannya. Dengan dipandu oleh tujuh guriang yang kemudian menyebut diri mereka sebagai Gumarang Tunggal, pangeran Mundinglaya pergi pulang ke Pajajaran.

Di Pajajaran, pangeran sunten Jaya mengganggu ketentraman permaisuri. Kepada Prabu Silihwangi, pangeran Sunten Jaya mengatakan bahwa permaisuri sebenarnya tidak bermimpi, bahwa dia berdusta untuk membebaskan putranya dari penjara. Dengan demikian, dia membujuk Prabu Silihwangi untuk menghukum mati permaisuri.

Pangeran Sunten Jaya bahkan lebih jauh berniat untuk mengganggu ketentraman Dewi Kinawati di Muara Beres dengan menceritakan bahwa pangeran Mundinglaya telah dibunuh oleh Jonggrang Kalapitung. Tentara digelar untuk mendatangi kerajaan itu. Pada saat yang gawat tersebut, pangeran Mundinglaya beserta ajudannya telah sampai ke Pajajaran. Mereka senang dan berteriak kegirangan. Pangeran Sunten Jaya dan pengikutnya diusir.

Setelah itu. Prabu Silihwangi menobatkan pangeran Mundinglaya sebagai raja Pajajaran menggantikannya dengan gelar Mundinglaya Dikusumah.

Tidak lama setelah itu, Mundinglaya Dikusumah menikahi Dewi Kinawati dan menjadikannya sebagai permaisuri dan Pajajaran menjadi negara yang adil makmur dan aman.

SUMBER: http://id.wikipedia.org/wiki/Mundinglaya_Dikusumah

MUNDINGLAYA DI KUSUMAH

http://kandaga-caritapantun.blogspot.com/2010/05/mundinglaya-di-kusumah.html

Prabu Siliwangi menjadi raja di Pajajaran, patihnya Kidang kancana dan jaksanya Gelap Nyawang, tinggi besar dan sakti. Prabu Siliwangi bertapa di gunung Hambalang karena ia ingin mendapat putra bungsu, bahkan mendapat putri, yaitu: Nyi Padma Wati, putra Pohaci Wiri Manggay dari kahyangan.

Waktu permaisuri mengandung menginginkan honje, lalu raja menyuruh Lengser mencarinya ke negara Kuta Pandak, di babakan Muara Beres. Dari Geger malela, putra Rangga malela di Muara Beres di dapatnya honje delapan pasak, yang ditukarnya dengan uang delapan katon.

Waktu itu di Muara beres, Nyi Gambir Wangi juga tengah mengidam, sama menginginkan honje, tetapi honje sudah dijual kepada utusan raja Pajajaran.

Lengser Muara Beres dititahkan mengembalikan uang empat katon, akan penukar honje empat pasak yang diinginkan. Karena Lengser Pajajaran tidak mau memberikannya, mereka berdua lalu berperang habis-habisan memperebutkan honje. Tak ada yang kalah, kemudian dilerai oleh Gajah Siluman dari Karang Siluman. Honje harus dibagi sama banyak, dengan perjanjian bahwa bila kedua bayi itu sudah dewasa harus dikawinkan.

Waktu Nyi Gambir Wangi menginginkan terung pahit yang ingin dimakannya berbagi dengan Padma Wati, Prabu Siliwangi mencarikannya. Terung itu dibelah dua oleh Patih Gelap Nyawang, sesudahnya, raja bersabda kepada rakyatnya, bahwa bayi yang masih dalam kandungan itu sudah dikawinkan, menjadi jodohnya sebelum dilahirkan.

Nyi Padma Wati dari Gunung Gumuruh melahirkan putra laki-laki, diberi nama Munding Laya Di Kusuma, sedang Nyi Gambir Wangi melahirkan anak perempuan, diberi nama Nyi Dewi Asri.

Prabu Guru Gantangan di negara Kuta Barang ingin berputera, lalu Mundinglaya oleh istrinya (Ratna Inten) dijadikan putra angkat. Tetapi lama-kelamaan, karena Mundinglaya sangat gagah dan sakti serta tampan tiada taranya, menjadi takut direbut kekuasaanya, lalu Mundinglaya dipenjara besi.

Ua Mundinglaya ialah Jaksa Seda Kawasa, Aria Patih Sagara, Gelap Nyawang dan Kidang Pananjung, mempunyai firasat, lalu Mundinglaya di susul ke Kuta Barang. Prabu Guru Gantangan dimarahi mereka, karena menyiksa Munding Laya, akan tetapi dibiarkannya Munding Laya dipenjara, supaya belajar prihatin. Kejadian itu tidak dikabarkan kepada Padma Wati dan raja Pajajaran.

Pohaci Wiru Mananggay mengirimkan impian kepada Padma Wati, dia bermimpi mendapat Lalayang Kancana milik Guring Tujuh di Sorong Kancana, suaranya ada di jabaning langit (di angkasa). Padma Wati menyampaikan mimpi itu kepada raja. Waktu disaembarakan kepada putra dan para punggawa semua, tak ada yang sanggup mencarinya. Oleh karena itu Padma Wati yang memimpikannya harus membuktikannya, kalau tidak akan dipenggal lehernya.

Nyi Padma Wati teringat kepada putranya, Mundinglaya, lalu Gelap Nyawang dan Kidang Pananjung, menjemputnya ke Kuta barang. Mundinglaya yang dipenjara besi dan dibuang ke dasar Leuwi Sipatahunan diambil oleh kedua uanya, lalu dibawa ke Pajajaran.

Mundinglaya sanggup mencari Lalayang Kancana, lalu berangkat disertai patih negara, yaitu Jaksa Seda Kawasa, Gelap Nyawang, Kidang Pananjung Patih Ratna Jaya dan Prabu Liman Sanjaya, pamuk dari Gunung Gumuruh serta Lengsernya.

Dengan perahu kancana ciptaan Kidang Pananjung mereka berlayar melalui Leuwi Sipatahunan dan bangawan Cihaliwung. Sampailah di lubuk Muara Beres, lalu singgah, karena Mundinglaya ingin menemui tunangannya, Dewi Asri. Sesudah menceritakan maksud kepergiannya, Mundinglaya meneruskan perjalanannya. Di Sangiang Cadas Patenggang semua pengantarnya ditinggalkan di bawah perahu.

Dalam perjalanan, di sebuah hutan belantara, Mundinglaya bertemu dengan Yaksa Mayuta. Mundinglaya dikunah, lalu ditelannya, masuk ke dalam perutnya. Setelah mengambil ajimat raksasa di langit-langit mulutnya yang kemudian ditelannya, Mundinglaya bertambah sakti, lalu ke luar dari perut Yaksa Mayuta, kemudian diperanginya. Yaksa Mayuta dapat dikalahkan, kemudian Mundinglaya meneruskan perjalanan ke langit, lalu menemui neneknya di kahyangan untuk meminta Lalayang Kancana yang dimimpikan ibunya.

Oleh neneknya Wiru Mananggay, Mundinglaya diperintahkan menjadi angin, supaya dapat menerbangkan Lalayang Kancana, angin putting beliung menerbangkan Lalayang Kancana, lalu disusul oleh Guriang Tujuh. Guriang Tujuh memerangi Mundinglaya sampai meninggal oleh keris mereka. Sukma Mundinglaya keluar dari jasadnya, lalu mengipasi sambil memanterakannya supaya hidup kembali.

Prabu Guru Gantangan yang disebut juga Prabu Nangkoda di negara Kuta Barang, mempunyai putra kukutan, yaitu : Sunten Jaya, Demang Rangga Kasonten, Aria Disonten, Dewi Ratna Kancana. Sunten Jaya diperintahkan melamar Dewi Asri, karena mendengar bahwa Mundinglaya sudah meninggal oleh Guriang Tujuh.

Sunten jaya yang angkuh dan berperangai buruk bersama saudaranya pergi ke Muara beres meminang Dewi Asri kepada kakaknya Raden Geger Malela. Dewi Asri tidak mau menerima lamaran Sunten Jaya, karena merasa sudah dipertunangkan dengan Mundinglaya. Tetapi karena dipaksa dia menerima pinangan itu, tetapi dengan syarat Sunten Jaya harus memenuhi segala permintaannya, diantaranya sebuah negara dengan segala isinya.

Sunten Jaya marah, karena permintaan itu tak mungkin dipenuhinya, tetapi oleh Prabu Nangkoda permintaan itu disetujuinya, lalu ia membawa harta benda dua puluh lima kapal beserta punggawa bala rakyatnya yang akan membangun negara. Tetapi pembangunan negara itu kacau balau, karena salah urus dehingga tidak selesai-selesai. Akhirnya Gambir Wangi juga turut menolong menciptakan negara dengan kesaktiannya. Dewi Asri yang dipaksa menikah dengan Sunten Jaya membuat ulah, dengan tujuan supaya pernikahan itu batal.

Mundinglaya yang sudah hidup kembali, dan sedang bertapa mendapat ilapat dengan impian buruk, ia bermimpi kapalnya diserang topan, tiangnya patah, kapalpun pecah dan karam di laut. Dia ingat kepada tunangannya. Waktu dilihatnya tabir mimpi tampak olehnya Dewi Asri akan dinikahkan dengan Sunten Jaya.

Mundinglaya berpamitan kepada neneknya, Pohaci Wiru Mananggay, ia diberi hadiah buli-buli berisi air cikahuripan (air yang dapat menghidupkan kembali orang yang telah mati) dan keris pusaka. Mundinglaya turun dari jabaning langit dengan membawa Lalayang Kancana, disertai oleh Munding Sangkala Wisesa (penjelmaan Guriang Tujuh yang dikalahkannya). Sampai di Sangiang Cadas Patenggang, menjemput uanya.

Mundinglaya dengan para pengantarnya lalu berlayar. Sesampainya di Leuwi daun, Munding Sangkala Wisesa dimantrai oleh Kidang Pananjung supaya tidur, sehingga ia tidak akan membuat onar. Sampailah mereka di Batu Tulis.

Dewi Asri mempunyai firasat akan kedatangan Mundinglaya lalu menciptakan bantal menjadi dirinya, kemudian ia minta ijin kepada ibunya untuk bersiram di jamban larangan. Di sungai ditemuinya Mundinglaya, lalu dia naik perahu kancana dan bercengkramalah mereka.

Munding Sangkala Wisesa dibangunkan dari tidurnya, lalu disuruh pergi ke Muara Beres. Di Leuwi Langgong bertemu dengan prajurit yang sedang menghadang kedatangan Mundinglaya. Semua nya bubar karena takut oleh Munding Sangkala Wisesa. Patih Halang Barat yang melawan Munding sangkala Wisesa diamuknya, demikian pula semua punggawa dan pamuk.

Guru Gantangan pun yang sedang mengadakan pesta diamuknya, sampai rakyat berlarian. Kemudian kepada Raden Geger Malaka dikatakannya dia mencari saudaranya, Mundinglaya. Oleh Geger malela diaku, lalu dibawa ke keraton. Mundinglaya dan dewi Asri bersama-sama pergi ke Muara Beres, sambil mengadakan arak-arakan. Sampai di keraton lalu naik ke papanggungan kancana, dan bersantap bersama.

Sunten Jaya akhirnya mengetahui, bahwa dirinya telah ditipu. Dia naik papanggungan akan memerangi Mundinglaya, tapi kena mantra Mundinglaya, sehingga menjadi tidak berdaya. Dewi Asri dan Mundinglaya lalu menikah.

Sementara itu Jaksa pajajaran, demang Patih Rangga gading, Ua Murugul Mantri Agung dan Ua Purwa Kalih, datang ke Muara Beres, melihat yang menikah dan akan melerai pertengkaran.

Sunten jaya datang meminta kembali harta bendanya yang duapuluh lima kapal. Rangga gading bertanya, siapa yang mula-mula melamar Dewi Asri, rakyat Kuta barang dan Pajajaran memihak kepada Sunten Jaya, lalu mengatakan bahwa Sunten Jayalah yang melamar terlebih dahulu.

Tapi Patih Gajah Siluman dari Karang Siluman menyuruh Lengser Pajajaran menceritakan asal muasal hubungan Mundinglaya dan Dewi Asri, akhirnya semua rakyat Muara Beres dan pajajaran mengetahui bahwa Mundinglaya dan dewi Asri telah dijodohkan ketika mereka masih dalam kandungan.

Sunten Jaya harus mengalah, karena marah dan dibantu oleh saudara-saudranya ia menantang perang. Semua  dilawan oleh Munding Sangkala Wisesa, dan akhirnya semua dapat dikalahkan dan menyatakan takluk.

Mundinglaya berbahagia, menjadi pengantin baru yang kaya raya. Dia dijadikan raja muda, berprameswarikan Dewi Asri dan Ante Kancana (adik Sunten Jaya).

About these ads

3 comments on “Situs Megalitikum Arca (Salaka) Domas

  1. SELAMAT BELAJAR SEJARAH KEHIDUPAN BANI ADAMA YANG SEBENARNYA. MENUJU UMAT YANG ROHMATAN LIL ALAMIIN DAN MENDAPAT AMPUNAN ALLOH. AMIIN SIP SULTON ZES 007 ZHUNDA LEMURIAN AS SAMAWATI WAL ARDHI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Catatan Safari ANS

Terlambat Satu Detik Kerugian Satu Milyar

Women Terrace

Where is women can feel free

Kanzunqalam's Blog

AKAL tanpa WAHYU, akan berbuah, IMAN tanpa ILMU

Cahayapelangi

Cakrawala, menapaki kehidupan nusantara & dunia

religiku

hacking the religion

SANGKAN PARANING DUMADI

Just another WordPress.com site

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 4.956 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: