2 Komentar

The Suma Oriental, Tome Pires: ISLES DE LA SONDE (KEPULAUAN SUNDA)

Gambar : ISLES DE LA SONDE (KEPULAUAN SUNDA) peta yang dibuat Porugis abad 16: The Suma Oriental, Tome Pires, Surawisesa (1521 -1535) adalah putera sekaligus pengganti Sri Baduga Maharaja (Prabu Siliwangi) sebagai pewaris tahta kerajaan sunda yang terkenal PAJAJARAN.

Dari sumber dokumen Portugis maupun Nagara Kretabhumi memberitahukan bahwa tokoh… ini pernah diutus ayahnya (Sri Baduga) untuk menghubungi Alfonso d’Albuquerque di Malaka. Dari catatan dokumen Portugis ia disebut dengan “Ratu Sangiang” dalam Kretabhumi disebut “sang kumara Ratu Sanghyang ya ta sang Prabu Shurawisesa. Surawisesa pergi ke Malaka dua kali tahun 1512 dan 1521. Hasil kunjungan yang pertama ialah kunjungan penjajagan atau kunjungan balasan dari pihak Portugis dengan 4 buah kapal dalam tahun 1513 yang diikuti oleh Tome Pires.
Hasil kunjungan yang kedua adalah kedatangan utusan Portugis ke ibukota Pakuan, perutusan ini dipimpin oleh Hendrik de Leme.

Tome Pires menulis catatan perjalanan itu yang kemudian dibukukan dengan Judul “The Suma Oriental” (terjemahan Armando Cortesao) London, 1944. dari tulisan inilah banyak kita dapatkan informasi menarik ,salah satunya adalah informasi mengenai Kerajaan Pajajaran, ibukota Pakuan dan mengenai Prabu Sri Baduga Maharaja, raja Pajajaran yang terkenal.

Pada tahun 1513 Tome Pires menghimpun tulisan keadaan dan kelengkapan kota Pakuan dari pelabuhan Sunda Kelapa: “The city where the king is most of the yearis the great city of DAYO. The city has well-built houses of palm leaf and wood. They say that the king’s house has`three hundreds and thirty wooden pilars as thick as wine cask, and five fathoms high and beautiful timberwork on the top of the pillars and very well-built house.

“Kota tempat raja berada sepanjang tahun adalah kota besar yang disebut DAYO(Dayeuh). Kota itu mempunyai rumah rumah yang indah dari daun palem dan kayu. Mereka mengatakan bahwa rumah raja mempunyai 330 pilar sebesar tong anggur dan tingginya 5 fathom(9,14 meter) dan terdapat ukiran kayu yang indah pada puncak pilar itu dan sebuah rumah yang sangat indah”

Perutusan

Portugis yang mengunjungi Pakuan dalam pertengahan Agustus 1522 untuk memenuhi undangan Surawisesa, putera serta pengganti Sri baduga mencatat bahwa penduduk Pakuan kira kira 50.000 orang( belum termasuk penduduk sekitar kota)

Tome Pires juga mencatat kemajuan pada jaman Sri Baduga: ”The Kingdom of Sunda is justly governed; they are true men”. (Kerajaan Sunda diperintah dengan adil; mereka adalah orang orang jujur)  juga diberitakan bahwa bahwa kegiatan perdagangan Sunda dengan Malaka sampai ke Kepulauan Maladewa (Afrika) dan produksi lada yang mencapai hasil 1000 bahar setahun, bahkan hasil tamarin (asem) cukup untuk mengisi muatan seribu buah kapal dan perdagangan kuda jenis pariaman mencapai 4 ribu ekor setahun.

Demikian informasi yang dapat kita ketahui mengenai situasi masa lalu termasuk situasi masa lalu kota yang kita sebut “Bogor” sekarang. Menurut Pustaka Nusantara III/I dan Krethabumi I/2 “ Pajajaran/Kota Pakuan lenyap pada tanggal 11 bagian terang bulan Wesaka tahun 1501 Saka atau tanggal 8 mei 1579 Masehi akibat serbuan Maulana Yusuf(cicit Sri Baduga Maharaja) dari Kesultanan Banten.

Waktu antara Pajajara sirna sampai “ditemukan” kembali oleh ekspedisi VOC yang dipimpin oleh Scipio (1703)berlangsung kira kira seratus tahun.. Kota kerajaan yang pernah berpenghuni 50.000 orang ini ditemukan olah team ekspedisi Scipio sebagai” puing yang diselimuti oleh hutan tua” (“geheel met out bosch begroeijt zijnde).

Dimanakah Kota Pakuan Pajajaran? (IV)

Selasa, Juni 11, 2013, by  Avid Rollick Septiana 

SEBAGAI pusat kerajaan, kota Pakuan didesain untuk tidak mudah diserang musuh.  Dan ini terbukti bahwa balatentara Banten dengan kekuatan besar pun harus berkali-kali melakukan serangan sebelum akhirnya dapat menjebol benteng Pakuan.  Padahal saat itu kekuatan milter Pakuan sudah sangat lemah karena kepemimpinan yang bobrok.  Ini bisa tergambar dari cerita yang diurai di Naskah Parahyangan. Bahkan ada versi yang mengatakan bahwa jebolnya benteng bukan disebabkan oleh hebatnya militer lawan, tetapi karena pengkhianatan.

Tangguhnya Pakuan dikarenakan kota ini dikelilingi oleh benteng alam berupa tebing-tebing sungai yang terjal di ketiga sisinya. Hanya bagian tenggara batas kota tersebut berlahan datar. Pada bagian ini pula ditemukan sisa benteng kota yang paling besar. Penduduk Lawanggintung yang diwawancara Pleyte menyebut sisa benteng ini “Kuta Maneuh”.  Jadi untuk menaklukkan kota, selain harus menghadapi para prajurit Pajajaran yang gagah perkasa, juga harus menghadapi benteng alam yang sulit untuk dilalui pada saat itu.

Penelitian Saleh Danasasmita menemukan bahwa benteng Kota Pakuan berawal dari Lawangsaketeng yang pernah dipertanyakan Pleyte.  Lawang Saketeng, menurut Coolsma, dapat diartikan sebagai pintu gerbang lipat yang dijaga dalam dan luarnya. Kampung Lawangsaketeng sendiri tidak terletak tepat pada bekas lokasi gerbang.

Benteng pada tempat ini terletak pada tepi Kampung Cincaw yang menurun terjal ke ujung lembah Cipakancilan yang kemudian bersambung dengan tebing Gang Beton di sebelah Bioskop Rangga Gading.  Setelah menyilang Jalan Suryakencana, membelok ke tenggara sejajar dengan jalan tersebut. Deretan pertokoan antara Jalan Suryakencana dengan Jalan Roda di bagian ini sampai ke Gardu Tinggi sebenarnya didirikan pada bekas fondasi benteng.

Selanjutnya benteng tersebut mengikuti puncak lembah Ciliwung. Deretan kios dekat simpangan Jalan Siliwangi – Jalan Batutulis juga didirikan pada bekas pondasi benteng. Di bagian ini benteng tersebut bertemu dengan benteng Kota Dalam yang membentang sampai ke Jero Kuta Wetan dan Dereded. Benteng luar berlanjut sepanjang puncak lereng Ci Liwung melewati kompleks perkantoran PAM, lalu menyilang Jalan Raya Pajajaran, pada perbatasan kota, membelok lurus ke barat daya menembus Jalan Siliwangi (di sini dahulu terdapat gerbang), terus memanjang sampai Kampung Lawang Gintung.

Di Kampung Lawanggintung benteng ini bersambung dengan benteng alam yaitu puncak tebing Cipaku yang curam sampai di lokasi Stasiun Kereta Api Batutulis. Dari sini, batas Kota Pakuan membentang sepanjang jalur rel kereta api sampai di tebing Cipakancilan setelah melewati lokasi Jembatan Bondongan. Tebing Cipakancilan memisakan ujung benteng dengan benteng pada tebing Kampung Cincaw.

Tentu sudah banyak perubahan yang terjadi.  Jadi gambaran yang disampaikan Saleh di atas bisa saja sudah berubah jauh.  Saya sendiri mencoba menerjemahkan sketsa batas-batas kota pakuan yang disampaikan oleh beliau melalui Google Earth.  Hasilnya adalah sebagai berikut:

Peta Pakuan
Peta Pakuan

DARI hasil  ketekunan Saleh Danasasmita dalam mengulik hal ihwal Pakuan seperti yang dijelaskan sebelumnya, kita mendapatkan gambaran mengenai letak dan batas-batas kota Pakuan.

Ini penting karena banyak persepsi salah yang berkembang di masyarakat.  Misalnya tentang mitos bahwa Prabu Siliwangi tilem (menghilang) bersama seluruh kerajaannya.  Mungkin ini disebabkan karena tidak seperti kerajaan-kerajaan di Jawa, reruntuhan Pakuan hampir tidak tersisa. Juga tentang mitos yang mengatakan bahwa balatentara kerajaan Pajajaran yang berubah menjadi harimau, terjawab.

Kembali ke batas-batas kota Pakuan, dari paparan Saleh diketahui bahwa:
  1. Kota Pakuan dikelilingi oleh benteng alam berupa tebing-tebing sungai yang terjal di ketiga sisinya.  Selain itu untuk melindungi kota juga dibangun benteng-benteng buatan.
  2. Hanya bagian tenggara batas kota tersebut berlahan datar. Pada bagian ini pula ditemukan sisa benteng kota yang paling besar.
  3. Benteng Kota Pakuan meliputi daerah Lawang Saketeng.  Benteng pada tempat ini terletak pada tepi Kampung Cincaw.
  4. Benteng kemudian menurun terjal ke ujung lembah Cipakancilan selanjutnya bersambung dengan tebing Gang Beton di sebelah Bioskop “Rangga Gading”.
  5. Kemudian menyilang Jl. Suryakencana, membelok ke tenggara sejajar dengan jalan tersebut.
  6. Deretan pertokoan antara Jl. Suryakencana dengan Jl. Roda di bagian in sampai ke Gardu Tinggi, sebenarnya didirikan pada bekas pondasi benteng.
  7. Selanjutnya benteng mengikuti puncak lembah Ciliwung. Deretan kios dekat simpangan Jl. Siliwangi – Jl. Batutulis juga didirikan pada bekas pondasi benteng.
  8. Di bagian ini benteng tersebut bertemu dengan benteng Kota Dalam yang membentang sampai ke Jero Kuta Wetan dan Dereded.
  9. Benteng luar berlanjut sepanjang puncak lereng Ciliwung melewati kompleks perkantoran PAM, lalu menyiang Jl. Raya Pajajaran, pada perbatasan kota,
  10. Selanjutnya embelok lurus ke barat daya menembus Jl. Siliwangi (di sini dahulu terdapat gerbang), terus memanjang sampai Kampung Lawang Gintung.
  11. Di Kampung Lawang Gintung, benteng ini bersambung dengan “benteng alam” yaitu puncak tebing Cipaku yang curam sampai di lokasi Stasiun Kereta Api Batutulis.
  12. Dari sini, batas Kota Pakuan membentang sepanjang jalur rel kereta api sampai di tebing Cipakancilan setelah melewati lokasi Jembatan Bondongan.
  13. Tebing Cipakancilan memisahkan “ujung benteng” dengan “benteng” pada tebing Kampung Cincaw.
Berikut gambar-gambar yang saya olah Google Earth:
Dilihat dari gerbang Lawang Saketeng di utara/barat laut.  Kota Pakuan dilindungi oleh bukit2 terjal.
Dari arah gerbang Lawang Gintung di selatan/tenggara yang relatif datar.  Di sini ditemukan benteng yang paling besar.
Tebing Cipaku yang terjal.  Melindungi kota Pakuan dari serangan musuh dari selatan/barat daya.
Dari arah barat laut.  Tebing di sisi barat menyulitkan gerak musuh yang menyerang.
Dari arah Empang, seperti jalur kedatangan van Riebeck, terlihat Pakuan berada di datarang tinggi.
Tebing sebelah timur yang curam ke arah Ci(ha)liwung.

Sumber:

http://www.rollickiana.com/2013/06/dimanakah-kota-pakuan-pajajaran-iv.html

 

Iklan

2 comments on “The Suma Oriental, Tome Pires: ISLES DE LA SONDE (KEPULAUAN SUNDA)

  1. sayaang banget gambarnya gk kelihatan pdhl itu untuk tugas aku kak 😦

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Atlantis in the Java Sea

A scientific effort to match Plato’s narrative location for Atlantis

sembrani

bertukar ide, melampaui mimpi bersama

Nurul Wirda

Semerbak Mawar yang dengan senang hati memancarkan Cahayanya

aawanto

The greatest WordPress.com site in all the land!

Covert Geopolitics

Beyond the Smoke & Mirrors

Catatan Harta Amanah Soekarno

as good as possible for as many as possible

Women Terrace

to say something that i never talk before

Kanzunqalam's Blog

AKAL tanpa WAHYU, akan berbuah, IMAN tanpa ILMU

Cahayapelangi

Cakrawala, menapaki kehidupan nusantara & dunia

religiku

hacking the religion

SANGKAN PARANING DUMADI

Just another WordPress.com site

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

%d blogger menyukai ini: