8 Komentar

Nabi telah “menyaksikan” Nusantara yang penuh berkah dan kebangkitannya di Masa Depan

Nabi telah “menyaksikan” Nusantara yang penuh berkah dan kebangkitannya di Masa Depan

Nabi Menyaksikan Indonesia, Dulu dan Sekarang

February 25th, 2009 at 10:25am

by Arief Rahman
Cirebon, 23 Februari 2009

Seorang budayawan dan ulama Nurcholish Madjid mencatat ada indikasi sejak zaman Nabi Sulaiman bahwa Arab mengimpor kapur untuk dibuat minuman tonic dari Barus (orang-orang Melayu di wilayah sumatera) sehingga menjadi perumpamaan kehidupan surgawi yang di abadikan dalam Al-Qur’an (wayusqauna biha ka’san kana mizajuha kafura).

Perdagangan Kafur/Kapur Barus Nusantara Jadul

Ada sebuah ayat dalam Al-Qur’an yang cukup menarik perhatian saya. Dalam surah al-A’raaf ayat 96 difirmankan, “Walau anna ahlal-quraa aamanuu wattaqau lafatahnaa `alaihim barakaatim minas-samaa’ i wal-ardhi” (jika para penduduk desa/kota beriman dan bertakwa, niscaya Allah akan membukakan keberkahan dari langit dan bumi). Hemat saya, sepertinya ayat ini tidak ditujukan kepada orang-orang Arab waktu itu yang menjadi pendengar Nabi Saw. Benar, memang Al-Qur’an itu bagi seluruh umat manusia, tetapi ayat ini secara khusus sedang membicarakan suatu kaum tertentu. Suatu bangsa yang telah mengenal peradaban yang tinggi, yang telah berbudaya, yang mengenal suatu sistem pemerintahan yang telah tertata.

Pohon KAPUR/KAFURA BARUS

Yang mendapatkan penekanan di ayat tersebut —menurut K.H. Maemun Zubair, salah seorang sesepuh Nahdlatul Ulama— adalah ahlal-quraa, yang artinya para penduduk desa/Kota. Ini menarik sekali, menurut saya penduduk “desa” atau “nagari” ini banyak sekali di Indonesia. Saat ini desa di Indonesia saja sudah mencapai ribuan jumlahnya. Bagaimana dengan di Jazirah Arab saat itu? Menurut Kiai Sepuh itu dalam ceramahnya pada puncak Haul Pesantren Buntet Cirebon 11/03/2006, “Di Arab tidak ada desa. Adanya (waktu turun ayat itu) adalah suku Badui yang hidupnya (nomaden) seperti tawon, kalau kepala sukunya pindah mereka ikut pindah. Makanya, ayat ini untuk Indonesia”.

Jadi jelas pengertian desa yang menetapkan diri selamanya di suatu wilayah hukum, tidak sama dengan nomaden. Sebuah desa, dalam sistem pemerintahan Indonesia adalah tatanan kemasyarakatan yang diberi kewenangan mengatur dirinya sendiri sesuai budaya setempat, berbeda dengan kelurahan. Sebuah kelurahan tidak mengatur dirinya sendiri. Ia setidaknya tidak mengikatkan hukum pada tradisi dan adat istiadat yang kental seperti pada sebuah desa. Di Cirebon misalnya, kepala desa lazim disebut Kuwu. Ia bukan seorang pegawai negeri, tapi yang dituakan, yang dihormati dan dinobatkan oleh warganya. Berbeda dengan kelurahan, seorang Lurah diangkat oleh pemerintahan yang lebih tinggi, ia seorang pegawai negeri.

Nomaden itu pola hidup berpindah-pindah, tidak menetap di suatu tempat. Jadi budaya yang mapan tidak tercipta dalam hidup nomaden seperti ini. Hukum yang berlaku masih sangat sederhana, seringkali kepala suku memerintah secara sewenang-wenang dan despotik a La Genghis Khan. Nomaden itu boleh dibilang pola hidup yang masih primitif bila dinilai orang modern saat ini.

Nampak dalam ayat itu, Baginda Nabi memiliki visi yang jauh sekali. Seolah-olah Nabi ingin menyampaikan pesan kepada pengikutnya yang masih nomaden itu suatu ketika mereka mampu memiliki sistem pemerintahan yang tertata, yang beradab dan berbudaya.. yaitu masyarakat desa, masyarakat berbudaya yang beriman dan bertakwa, seperti disebut dalam ayat itu. Dan, kriteria desa seperti itu adanya di bumi Nusantara yang masuk peradaban besar Shind/Indies. Kenapa? Karena Nabi sendiri bersabda,”belajarlah sampai ke negeri Shind”.

Amat logis, Nabi akan menganjurkan orang belajar ke negeri-negeri yang maju, yang pantas dijadikan teladan. Mungkin dalam pandangan Nabi, negeri Shind adalah negeri yang mendapat berkah dari langit dan bumi, sehinga pantas dicontohi oleh para pengikutnya.

*Di kala Barat masih hidup di gua-gua, di kala Arab masih mukim di tenda-tenda, bangsa kita sudah mengekspor rempah-rempahnya dengan maskapai sendiri ke Afrika dan tempat2 lainnya di belahan dunia.*

Ada juga hadis dari Ibu Aisyah ra bahwa saat haji perpisahan, tahallul dan ihram, tubuh Nabi diolesi Dzarirah (bedak wangi dari Shind/Indies) . Di sini tidak semata-mata Nabi menggunakan term ahlal-quraa, jika ia belum pernah melihat rupa desa atau nagari atau negeri sebelumnya. Mungkin saat berdagang semasa muda, Nabi pernah singgah di desa-desa di wilayah peradaban Shind.

Nabi ingin mewujudkan masyarakat madani, atau dengan kata lain, penguatan masyarakat sipil (civil society) seperti yang pernah ia saksikan di Shind selama perjalanan berdagang. Jangan lagi terjebak dalam konsep iman dan takwa yang formalistik ritual model agama tertentu, tetapi benar-benar diwujudkan dalam kesalehan sosial, dalam kasih terhadap umat manusia yang satu adanya sehingga tertata kehidupan yang damai, aman, tentram dan sejahtera (maslahah ‘ammah atau bonum commune).

Saya meyakini ayat dalam surah al-A’raaf ini relevan dengan bangsa Indonesia sejak turunnya yang kali pertama hingga kini. Utamanya bagi orang-orang awam di grass root yang hidup di desa-desa. Sekarang yang penting adalah desanya. Kunci keberkahan adalah desa, dan desa tidak lepas dari kehidupan budaya. Desa, menurut saya adalah cagar budaya. Hatta setiap desa punya adat istiadat dan tradisi yang khas, namun mirip-mirip karena masih dalam lautan budaya Nusantara. Budaya bangsa kita adalah suka hidup dalam damai. Apresiatif terhadap perbedaan. Kekerasan bukanlah budaya kita.

Sekarang terlihat jelas ada upaya kelompok agama yang mencuci otak warga bangsa ini hingga ke pelosok desa supaya ingkar budaya sendiri. Itu bertentangan dengan visi Nabi di atas.

*Mengingkari budaya, menolak kebhinekaan berarti mendustakan ayat-ayat Tuhan* adalah suatu perbuatan yang niscaya mengundang azab seperti disebutkan dalam surah Al-A’raaf berikutnya, “wa laakin kadzdzabuu fa akhadznaahum bimaa kaanuu yaksibuun”.

Nabi tidak menolak tradisi di Arab seperti tradisi thawaf, haji, puasa, dan lain-lain yang lazim diselenggarakan orang-orang Arab jauh sebelum kenabiannya. Nabi mengapresiasinya sebagaimana difirmankan, “wa kadzalika anzalnahu hukman `rabiyan (demikianlah Aku turunkan Al-Qur’an itu kepadanya berupa hukum-hukum yang telah berlaku dalam masyarakat Arab).

Sejarah mencatat, bangsa kita menerima masuknya agama-agama manapun tanpa melalui perang dan paksaan. Begitu pun Islam, orang-orang Indonesia menerima agama ini dengan damai. Mereka ini yadkhuluna fi dinillahi afwaja. Bahkan kini Islam menjadi agama mayoritas. Islam menyebar secara gegantis lewat pesantren-pesantren kita yang menjadi ciri khas Islam di Indonesia. Bandingkan dengan Dinasti Moghul di India. Sudah beratus tahun dinasti ini berkuasa, toh tetap gagal menjadikan Islam sebagai mayoritas di sana.

Orang-orang Indonesia masuk Islam pada masa akhir-akhir. Islam menyebar ke Maroko, Tunisia dan Asia pada abad ke-7. Islam masuk pertama kali ke Aceh pada abad ini, tetapi tidak berkembang. Justru Islam berkembangnya di Jawa pada akhir abad ke-15 atau ke-16 hingga menyebar ke seluruh Nusantara. Ini dilakukan dengan cara-cara pendidikan pesantren. Untuk pertama kalinya adalah pesantren Ampel Dento, yang serambi masjidnya bukan model Arab, melainkan mengadopsi Pendopo Brawijaya.

Apa yang diteladankan Sunan Ampel dengan pesantrennya itu, adalah Islam yang mengapresiasi budaya kita sendiri, tanpa harus meniru-niru Arab. Sehingga Islam bisa tersebar dengan damai, tanpa menyakiti awam di desa-desa karena tercerabut dari akar budayanya. Masjid yang dibangun Sunan Kudus juga mirip bangunan Pura, tempat suci agama Hindu.

Di Cirebon, masih ditemukan kantor-kantor instansi pemerintah dan masjid yang dibangun gapura di halamannya mengadopsi arsitektur candi. Islam di Jawa tidak disebarkan dengan sebentuk representasi Islam radikal a la Wahhabi seperti yang dilakukan kaum Padri di Sumatra yang mengakibatkan pertumpahan darah. Tradisi pesantren di Jawa mengajarkan cara-cara damai dalam beragama selaras dengan budaya Nusantara, tidak dengan kekerasan.

Iman dan takwa dalam al-A’raaf ayat 96 itu tidak dimaknai secara eksklusif milik orang beragama resmi Islam saja tapi inklusif. Islam yang dipakai adalah maknanya yang generik, yaitu kedamaian, kepasrahan total kepada Tuhan dan seterusnya. Apapun agama dan kepercayaannya, asalkan ia beriman dan bertakwa, artinya melakoni agama atau kepercayaannya dalam hidup sehari-hari itulah yang bisa mendatangkan berkah. Saling memperkuat dengan ayat al-A’raaf di atas, maka dalam surah al-Maidah (5:66) difirmankan: “Dan sekiranya mereka mengikuti ajaran Taurat dan Injil serta segala yang diturunkan dari Tuhan kepada mereka, niscaya mereka akan menikmati kesenangan dari setiap penjuru.”

Di ayat lain Allah berfirman dalam surah al-Baqarah ayat 62, “Orang-orang beriman (orang-orang Muslim), Yahudi, Kristen, dan Shabi’in yang percaya kepada Allah dan hari kiamat, serta melakukan amal kebajikan akan beroleh ganjaran dari Tuhan mereka. Tidak ada yang harus mereka khawatirkan, dan mereka tidak akan berduka”. (Catatan saya: terjemahan Shabi’in versi Depag adalah orang-orang yang mengikuti syariat nabi-nabi zaman dahulu atau yang menyembah bintang atau dewa-dewa). Pengertian iman dan takwa semacam ini (yaitu percaya kepada Allah, hari kiamat dan beramal kebajikan tak penting agama formalnya apa) kiranya yang dimaksudkan dalam surah al-A’raaf ayat 96 tersebut yang bisa menghadirkan keberkahan di muka bumi.

Itulah keunikan dan kearifan bangsa Indonesia yang telah terkenal sejak dulu kendati bersentuhan dengan beragam agama, namun tetap mengapresiasi dan tidak mengingkari budayanya sendiri. Kekerasan agama yang terjadi di Sumatra karena kaum Padri menolak budaya, mereka merujuk kekerasan budaya Arab.

Wali Songo yang di kemudian hari terperangkap politik kekuasaan akhirnya kembali —meminjam ejekan penulis Wedhatama di abad ke-19— “anggubel sarengat” model Arab hingga berujung pada tragedi berdarah di Jawa. Wali Songo yang dibutakan oleh kekuasaan akhirnya lupa bahwa saat Islam baru lahir, budaya kita telah mapan, telah punya desa-desa sebagai cagar budaya yang banyak jumlahnya. Mereka lupa bahwa paradigma luar tak bisa dipaksakan terhadap agama.

Tidak hanya Islam, agama manapun berkembang di negara-negara yang berbeda dengan cara-cara yang berbeda pula. Leif Manger misalnya melihat agama bukan persoalan hitam putih, bukan persoalan tunggal, milik Timur Tengah, tetapi Islam dimungkinkan melakukan dialektika yang dinamis. Antara Islam dalam kategori universal dengan lokalitas dimana ia hidup. Hal ini dikarenakan sekalipun Islam memiliki karakter universal, ia juga merupakan produk dari pergulatan dengan konteks lokal, dengan budaya setempat.

Dalam landasan budaya Nusantara inilah bangsa Indonesia yang majemuk bisa duduk bersama, itulah implementasi iman dan takwa. Jika bangsa ini bisa duduk bersama tanpa membedakan latar belakang dalam landasan budaya, maka hujan berkah tanpa diharapkan pun akan datang dengan sendirinya seperti disitir dalam surah al-A’raaf tersebut. Luar biasa, di masa lalu sepertinya Baginda Nabi telah “menyaksikan” Nusantara yang penuh berkah. Berabad-abad yang lalu, Nabi pun telah “melihat” kebangkitan Indonesia di masa depan.

Kebangkitan yang dimaksud adalah kebangkitan wajah agama yang moderat (wasatha). Kebangkitan itu adalah kebangkitan budhi (kesadaran), seperti dibilang Guru Besar dari Sumatra, Dharmakirti seribu tahun lalu. Kebangkitan itu adalah kebangkitan esensi agama-agama yang berwajah ramah, yang hormat pada Ibu Pertiwi.

Pemahaman “Islam”, “iman dan takwa” yang demikian luar biasa ini, kendati bangsa Indonesia memeluk “Islam” pada masa-masa akhir zaman persebaran Islam, karuan saja membuat Nabi Saw berdecak kagum, “A’jabu iimanan ummatin awakhiri ummati laa yudrikuunii walaa yaraaka ashaabii” (sungguh mengagumkan keimanan umat akhir zaman, yang tidak ada di zamanku dan para sahabatku

sumber : http://blog.alfisatria.com/

Rerefensi lain tentang Kapur barus:

http://inibanda.blogspot.com/2009/09/kota-barus-dan-hubungan-perdagangan.html

  • You, Ali HZAmalia KautsarahPohon Jati Emas and 34 others like this.
    • Dody Samsudin terlalu hiperbola, tidak ada bukti ilmiahnya ayat tersebut merujuk ke Indonesia, itu hanya pengandai2an saja dari para Liberalis

      September 22 at 4:54pm · Like
    • Mark as Spam

      Loew Paul Baca di link ini pa : http://www.facebook.com/groups/bangsa.bumi/doc/138915742872479/

      September 28 at 3:27pm · Like ·  1
    • Mark as Spam

      AgusRoche DistroSunda ‎Dody Samsudin tak terlalu menjadi sebuah yang hiperbolis, bila menganalisa apapun dgn pikiran yg terbuka,… pengandai2an juga bagus di forum group ini, agar mempertajam data analisa,… untuk dijadikan perenungan diri, bukan untuk diharuskan sebagai kajian ilmiah

      October 14 at 10:56pm · Unlike ·  3
    • Mark as Spam

      Syamrizal Chan Subaahanallah….

      October 15 at 1:53pm · Unlike ·  1
    • Abhisekh Agus Timex Kita seharusnya terbuka dg pendapat diatas terutama ketika bangsa lain hidup ditenda bahkan masih primitif kita tlah mampu mengekspor Barus ke Arab ,tentunya kita punya Armada laut utk pengiriman Barus tsb ,hal semacam ini harusnya dikedepan utk memacu kepercayaan diri pd Bangsa kita klo kita pernah Besar dan akan kembali Besar

      October 16 at 9:21pm via mobile · Unlike ·  4
    • Yudhi Anabrang yang jelas bangsa nusantara mayoritas amnesia dgn leluhurnya.. malah leluhur bangsa asing diagung agungkan

      October 17 at 3:38pm · Like ·  3
    • AgusRoche DistroSunda group ini dibikin salah satunya untuk penyembuhan secara bertahap amnesia2 rakyat,…. /// bagi saya, semua leluhur adalah baik sebagai buku pelajaran kita,… tak perlu diskriminasi leluhur lokal maupun luar, karena di tiap bangsa, pasti mempunyai leluhur good guys dan bad guys,… objektifitas diri lah yg musti kita jaga, bukan like-dislike segmen,… itu akan menjadi penyembuhan amnesia yg baik dan benar,…. ini buat diri saya, ///saya ng’fans dengan rasulullah dan prabu siliwangi,… karena saya YAKIN, mereka tak mau dikultuskan sebagai ragawi,… tapi kebijakannya yg ingin dia wariskan,….

      October 18 at 7:52am · Unlike ·  5
    • Bagus Sajiwo saya kira ini hanyalah dilihat dari sudut pandang agama diatas..,sebenarnya seluruh agama bahkan yg menganut keprcayaan kpd Tuhan pun sudah TAHU..,jdi tidak monopoli agama tertentu..

      October 27 at 9:16am via mobile · Unlike ·  1
    • Bagus Sajiwo bagaimana dgn Wahyu Jayabaya..yg sudah SANGAT2 JELAS..dan kisah Sabdo Palon bukan pepesan kosong,,,semua karma sedang berjalan…

      October 27 at 9:17am via mobile · Unlike ·  3
    • Nugroho Yunianto Indonesia ya Indonesia, Arab ya Arab. Yg penting Indonesia jangan sampe keracunan jadi arabpati genah 😀
      Smua diciptain beda2 biar saling kenal mengenal, tidak seharusnya dipaksain seragam.

      October 27 at 9:48am via mobile · Like ·  4
    • Muhammad Hakim yang sering dilupakan orang di Jawa sana, bahwa di Indonesia Timur Islam berkembang lebih dulu daripada di Jawa. Islam masuk melalui Ternate. kesultanan di Ternate lebih tua ketimbang kesultanan di Jawa.

      October 27 at 6:03pm · Unlike ·  1
    • Muhammad Hakim rempah-rempah pun seperti pala, cengkeh, minyak kayu putih, banyak diekspor dari kepulauan Maluku, utamanya oleh para pelaut phoenicia

      October 27 at 6:04pm · Unlike ·  1
    • Dody Pradana Subhanallah,saya setuju, Ini baru islam, toleran dn damai,tidak memaksakan suatu kaum, menghormati budaya,inilah identitas indonesia dg bhineka tunggal ikanya,demokarasi pancasilanya dn nkri sdah final tidak bsa dganggu gugat,gak terima pindah ke afganistan aja atw arab, anehnya kalau ada muslim berpikiran beda dn spt itu malah dsangka antek kafirlah,antek liberallah,zionislah,sungguh lucu,btw salut dg penulisnya

      October 27 at 6:39pm via mobile · Unlike ·  3
    • Tyo Suprapto Setuju dengan mas Nugroho Yunianto, semua berbeda utk saling mengenal dan melengkapi. Penyeragaman hanya akan membuat manusia menjadi hewani. Apalagi penyeragaman ala samawi….

      November 4 at 4:01pm · Like
    • Raditya Wedaswara Sekedar info buat teman2 semua: Ditunggu saja, Sanatana Dharma berdasarkan Kitab Suci Weda yang agung dan kekal akan segera bangkit dan berjaya lagi di bumi Nusantara ini… Semua leluhur2 Kerajaan baik Kerajaan Sriwijaya, Sunda, Kediri, Majapahit, dll; yang membuat pondasi bangsa ini berdasarkan Sanatana Dharma yang agung dan penuh ajaran luhur sedang melihat kita, anak cucu mereka untuk kembali menjadikan Bumi Nusantara ini Gemah Ripah Loh Jinawi Toto Tentrem Kertha Raharja… Apa yang diramalakan oleh Bangsa Maya adalah sinkron (sejalan) dengan apa yang diramalkan leluhur kita yang Agung, Prabhu Jayabhaya, seorang Vaisnava Agung (Pemuja Sri Vishnu)… Bagaimanapun, meskipun Sriwijaya, Majapahit, Sunda, dan Kerajaan2 yang berdasarkan Sanatana Dharma telah tidak ada, tapi masyarakat Indonesia apapun agamanya mayoritas masih bangga akan Kebesaran Kerajaan2 itu… Pembukaan Sea Games kemarin di Palembang yang memperlihatkan akan masa kebesaran Kerajaan Sriwijaya adalah contohnya… Mungkin sementara info ini yang bisa saya sampaikan kepada teman2 sebagai saudara sebangsa dan setanah air… Terima kasih… Om Tad Visnoh Paramam Padam, Sadah Pasyanti Surayaha, Diviva Caksur Atatam, Tad Vipraso Vipanyavo, Jahgrvamsah Samindate, Visnor Yat Paramam Padam… Hari Om Tat Sat… Om Shanti Shanti Shanti Om… Hare Krishna.

      November 12 at 9:46pm · Unlike ·  1
    • Yusuf Maulana untuk Pak Muhammad Hakim, mungkin juga lupa, pada abad ke 7 ada putra mahkota kerajaan Tarumanegara yang membantu Sayidina Ali bi Abu Thalib dalam mengislamkan Afrika Utara dan kembali ke Tanah Jawa menyebarkan Islam, ada datanya di Universitas Al Azhar di Kairo Mesir.
      Yang terpenting adalah seluruh suku bangsa dan kerajaan yang ada di Nuswantara pada saat Islam muncul sudah mengenal adanya Tuhan yang Esa, walaupun dengan sebutan masing-masing, Dan mereka sudah menjalankan apa yang menjadi makna Islam yaitu Keselamatan dan Kedamaian.

      November 12 at 10:07pm · Unlike ·  2
    • Ratnoto Adios ‎Alvina Dumantika…really damn good!sngt inspiratif dn menggugah semangat revitalisasi…scr esensi sy sgt sependpt dgn pemahaman anda….good job…

      November 14 at 7:27pm · Unlike ·  1
    • Satria Dempo Setra satukan sudut pandang..!kesampingkan ego..! LIHAT CAHAYA DENGAN CAHAYA..,jangan meraba-raba dan ikut2an niscaya DIA membimbing-mu pada apa yang kalian cari..jika hijab terbuka maka pertanyaan adalah jawaban.!

      December 5 at 6:34pm via mobile · Unlike ·  1
    • Irski Pujakesuma Urain diatas Baik, hanya kok ada Nabi berdecak kagum (nyambung tidak sih ???????), nabi abat ke berapa-islam masuk tahun berapa, bagaimana hub dengan Sabdo palon ????, sang oenasehat spritual majapajit, mohon di mutakhirkan, tq

      about a minute ago · Like
Iklan

8 comments on “Nabi telah “menyaksikan” Nusantara yang penuh berkah dan kebangkitannya di Masa Depan

  1. Assalamu ‘alaikum ahwan,,,

    sedikit yang saya baca dari artikel tuan, mengingatkan pada asimilasi tradisi islam dengan wisdom lokal,

    Antum manis mengemasnya semoga pembaca bisa menerima faham manca, tapi tak lupa jati diri,,,,,,

    Saya sangat tertarik artikel Atlantis tuan,,,,,dan menunggu kajian ilmiah selanjutnya ,,

    Trimakasih

    Wassalamu ‘alaikum ww

  2. Mohon maaf sebelumnya pak.
    saya masih kurang paham hubungan antara al a’raaf 96 dengan indonesia.
    jikalau benar seperti yang bapak katakan “ayat dalam surah al-A’raaf ini relevan dengan bangsa Indonesia sejak turunnya yang kali pertama hingga kini” berarti bangsa kita bangsa yg cilaka karena di ayat tersebut di katakan “tetapi mereka mendustakan, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.”
    mohon penjelasan lanjutannya karena saya takut salah dalam memahaminya.

    terima kasih

  3. othak athik digathuk2ke…..tapi minimal semakin banyak yang ngakui, Nusantara jauh lebih dulu maju dari Arab…jadi kebalik kalau kita ikut2an Ngarab dan memaksakan nilai2 padang pasir di sini

  4. dulu belum ada pulau pulau, sehingga ketika terjadi pencairan es dikutub kemudian menggenangi dataran rendah hingga yang kelihatan hanyalah puncak puncak gunug, kemudian pada rentang waktu tertentu terjadi penurunan permukaan air laut, sehingga terbentuklah pulau pulau seperti sekarang ini.mengenai komentar tentang jawa sebenarnya dari kata jawi yang artinya peradapan. maka jangan heran kalo ada kemiripan bahasa [ sansekrit] atau tulisan antara jawa dengan thayland, sampai india. bahkan yang disebut kerajaan mataram kuno pun itu bukan dinasti sanjaya atau rakai pikatan yang kemudian mewariskan borobudur, itu adalah mataram ii. yang dimaksud dengan mataram kuno adalah dari kata metarem yang berkedudukan di rembang darai kata metarembang. ketika itupun pulau jawa belum terbentuk, masih belum terjadi penurunan permukaan air laut, masih berupa pulau pulau kecil puncak puncak gunung yang kemudian disebut sunda kecil dan beberapa yang besar disebut sunda besar. secara keseluruhan disebut nuswantoro atau nusantara. jadi dari apa yang saya tulis ini untuk sementara saya berpendapat bahwa atlantis itu masuk akal kalau memang adanya di wilayah indonesia sekarang ini. soal kebenarannya kita tunggu…………….sekalipun tidak akan ada dampak positif bagi negara kita, bahkan bisa jadi sumbeer mala petaka karena indonesia akan jadi ajang perburuan harta karun. minimal negeri kita ini akan diacak acak oleh bangsa asing dengan dalih penelitian tapi yang terjadi adalah pencurian dan perusakan alam. yang ada malah terjadi bencana atlantis ii………………… semoga tidak.

  5. akhirnya, gw paham juga dengan artikel ini…. dulu saya bingung juga kenapa mesti ikut kearabpan…padahal sudah ada tradisinya yg berlaku.. mantaplah ni NUSANTARA…. syukurlah dapat pelajaran lagi.. hehehe

  6. sebelum berkomentar, sebaiknya ukur dulu kepahaman kita mengenai hakikat agama dan budaya, budaya dan agama secara substansial tidak sama, dan bekali diri dulu dengan ilmu secara kaffah.di sini saya melihat masing2 membawa kulturnya sendiri dalam berkomentar.saya mau tanya kepada saudara2, apakah antum ahli tafsir alquran? apakah antum menguasai hadist yang shahih dan menguasai sanad2nya dan juga perawinya? sehingga begitu berani menafsirkan dengan tanpa dasar dan dengan nuansa kekinian? saya harap jangan mendiskripsikan secara ringan dan terlalu universal tanpa mengerti batas-batas yang prinsip dan logis.akibatnya semua hal menjadi rancu dan tampak majemuk, semuanya seperti sama, padahal jelas beda.seperti bangsa ini yang seringkali salah menafsirkan kebhienekaan dan demokrasi atau bahasa sekarang pluralisme? kita harus belajar dan terus belajar mengenai agama dengan berkesinambungan dan konsisten, agar mengerti hakikatnya. kebanyakan penulis sejarah indonesia tidak mempunyai kekuatan dibidangnya, karena mereka menulis dan memahami sesuatu hanya dengan metode studi pustaka, bukan riset.padahal kekuatan suatu bidang ilmu pengetahuan itu adalah riset yang panjang, rumit, detail, mahal, dan melelahkan.untuk itu banyak saya amati, penulis indonesia yang mengatasnamakan mereka sebagai kalangan ‘ilmiah’, hanya berputar disitu2 saja, mandul produktivitas, apalagi kualitas, dan juga tidak inovatif.untuk itu, ketika mereka mencoba menafsirkan suatu pokok masalah, seringkali bukan pada tempatnya.dicampuraduk dengan banyak pandangan yang tanpa sumber yang jelas.tulisan atau artikel ini memang sangat manis kemasannya, tapi saya sama sekali tidak menangkap adanya suatu hubungan yang intens dan juga mendasar antara apa yang ditulis dengan makna yang akan disampaikan dan juga perbandingan2 bahkan sampai pada penafsiran ayat-ayat alquran tersebut, sudah bukan pada tempatnya.terlalu mudah dan sederhana, sehingga kalau tidak jeli, seolah-olah adalah benar. saya berterimakasih karena artikel ini dipostkan, ada sisi positifnya. namun hati2 jika kita menyampaikan sesuatu yang kita sendiri tidak mengerti, nanti multi tafsir.bekalilah diri kita dengan ilmu tersebut.beribadah harus dengan ilmu, dan juga belajar harus dengan ilmu, serta menyampaikan sesuatu harus dengan ilmu, karena kalau tanpa ilmu, kita akan lebih banyak merusak daripada memperbaiki.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Atlantis in the Java Sea

A scientific effort to match Plato’s narrative location for Atlantis

Sembrani

Membahas ISU-ISU Penting bagi Anak Bangsa, Berbagi Ide, dan Saling Cinta

Wirdanova

+62811-813-1917

aawanto

The greatest WordPress.com site in all the land!

Covert Geopolitics

Beyond the Smoke & Mirrors

Catatan Harta Amanah Soekarno

as good as possible for as many as possible

Modesty - Women Terrace

My Mind in Words and Pictures

Kanzunqalam's Blog

AKAL tanpa WAHYU, akan berbuah, IMAN tanpa ILMU

Cahayapelangi

Cakrawala, menapaki kehidupan nusantara & dunia

religiku

hacking the religion

SANGKAN PARANING DUMADI

Just another WordPress.com site

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

%d blogger menyukai ini: