1 Komentar

Membedakan Pengalaman Rohani Sejati dan Gangguan Jiwa

Minggu, 23 Januari 2011 | 08:24:39 WITA | 364 HITS
Dari Seminar Nasional Neuroteologi dan Pengalaman Rohani Berbasis Otak
Membedakan Pengalaman Rohani Sejati dan Gangguan Jiwa

AKBAR HAMDAN/FAJAR
PARADIGMA BARU. Prof Husni Tanra (kanan) bersama KH Prof Dr Jalaluddin Rahmat saat membahas neuroteologi dan pengalaman rohani berbasis otak di gedung BMDI, Sabtu, 22 Januari. 

SELAMA berabad-abad, peneliti terus berupaya memahami hubungan otak dan teologi, atau antara pikiran dan agama.

LAPORAN: Akbar Hamdan

DALAM perjalanan memahami hubungan otak dan teologi, ada hasil yang cukup mencengangkan. Seseorang yang mengalami gangguan jiwa, ternyata juga bisa merasakan pengalaman rohani layaknya seseorang yang telah menjalani latihan spritualitas selama bertahun-tahun.
“Begitu banyak perspektif pengalaman keberagamaan yang ditelaah secara mendalam. Namun pengalaman keberagamaan dari perspektif neurologi, nyaris tidak dilirik, khususnya dari kalangan agamawan itu sendiri,” kata KH Prof Jalaluddin Rahmat saat mengawali seminar nasional “Neuroteologi dan Pengalaman Rohani Berbasis Otak: Membedakan Pengalaman Rohani Sejati dan Gangguan Kejiwaan”, di Gedung BMDI, Sabtu 22 Januari.

Jalaluddin Rahmat yang akrab disapa Kang Jalal itu lantas memutarkan sebuah acara reality show yang menampilkan ahli anatomi syaraf bernama dr Jill Bolte Taylor. Taylor bercerita tentang sebuah pengalaman rohani yang luar biasa, yang justru dia dapatkan saat mengalami serangan stroke pada 10 Desember 1996. Kala itu, Taylor bukannya panik, tapi merasakan kedamaian yang luar biasa.

Dia mengaku menyaksikan pemandangan-pemandangan spektakuler yang mungkin hanya bisa didapatkan dari cerita-cerita fantasi. Dalam keadaan strokenya itu, Taylor menyatakan telah menyaksikan realitas sejati, di mana dirinya telah berubah menjadi energi dan bergabung dengan semesta.

Dari hasil penelitian, stroke yang dialami Taylor itu akibat adanya kerusakan pada belahan otak kirinya. Otak bagian kiri berfungsi yang menyimpan memori, menganalisa, kritis, stress, cemas dan sejenisnya. Peneliti memastikan saat stroke, otak kiri Taylor benar-benar “mati” dan hanya otak kanannya yang berfungsi. Sementara otak kanan inilah yang berfungsi merasakan kedamaian dan ketenangan batin.

Yang menakjubkan, setelah sembuh dari stroke, Taylor mengaku masih mampu mengalami pengalaman rohani yang luar biasa itu. Dia tinggal fokus memikirkan tuhan dan beberapa saat dia akan berjumpa kembali dengan realitas abadi.

Kang Jalal melanjutkan, jauh sebelum pengakuan Taylor yang mengejutkan dunia itu, masyarakat di masa lalu sempat meyakini orang-orang yang mengalami epilepsi mampu berkomunikasi dengan alam roh. Bahkan, sejumlah tokoh agama dan spiritual sempat dicap menderita halusinasi epilepsi.

Hubungan antara kerusakan otak dan pengalaman rohani inilah yang akhirnya semakin mempertajam keyakinan mereka, bahwa tuhan itu adalah ciptaan otak.

“Golongan ini tidak percaya adanya roh, jiwa atau mind. Pokoknya mind itu hanya ada dalam otak.

Bahkan kata mereka, kita bisa menciptakan pengalaman beragama dengan mengontrol otak. Di dunia kedokteran dewasa ini, malah ada obat tertentu yang bisa memicu perasaan khusyuk seseorang. Dengan zat kimia tertentu, seseorang bisa saja mengalami kehadiran tuhan,” urai pakar komunikasi yang kini mendalami neurologi dan psikologi itu.

Hingga akhirnya, seorang peneliti bernama Andrew Newberg yang kelak menjadi pendiri neuroteologi, berhasil mematahkan hipotesa para peneliti anti tuhan itu. Kata Kang Jalal, bersama rekan-rekannya dan ditunjang peralatan pemindai otak yang canggih, Alper meneliti secara luas orang-orang yang dikenal saleh dan religius dari berbagai latar belakang agama. Hasilnya pun sangat berbeda dengan yang ditemukan peneliti sebelumnya.

Alper yang kemudian  menandaskan, “Kami tidak percaya bahwa pengalaman mistis yang sejati bisa dijelaskan sebagai hasil dari halusinasi epilepsi, atau sebagai akibat halusinasi spontan karena pengaruh obat-obatan, rasa sakit, kelelahan fisik, tekanan emosional maupun gangguan pada indra. Secara sederhana, halusinasi, apapun sumbernya, tidak akan bisa memberikan pengalaman kepada pikiran sebagaimana yang bisa diyakini pada pengalaman spiritual mistis.”

Pengalaman Sejati

Kang Jalal menjelaskan, dalam Islam, ibadah dan berzikir bisa mengantarkan seorang hamba pada kondisi yang damai dan menenangkan. Namun dia mengingatkan, dalam Islam sendiri ada sebagian kelompok yang sangat sulit mengalami pengalaman spritual yang sejati karena paradigmanya sendiri.

Kang Jalal yang juga Ketua Dewan Syura Pengurus Pusat (PP) Ikatan Jamaah Ahlulbait Indonesia (IJABI) ini menyinggung kelompok tertentu itu lebih sering menonjolkan sifat Allah swt yang keras, sangat berat siksaannya dan segala macam yang menakutkan. Bahkan kelompok ini tidak segan-segan mengusung kekerasan atas nama Islam.

Padahal menurut penelitian mutakhir, otak merupakan organ tubuh yang bisa disegarkan melalui latihan-latihan zikir, ibadah, bahkan perenungan dalam bentuk meditasi. “Saat Anda lebih mengingat Allah yang maha pengasih, penyayang, pengampun, atau sifat-sifat Jamaliyah dalam istilah sufi, maka Anda akan merasakan kedamaian dan ketenangan. Otak Anda akan mengalami perbaikan yang luar biasa,” ujarnya.

Sebaliknya, membebani otak dengan membayangkan Tuhan yang serba menakutkan, bahwa hanya kelompoknya yang benar dan yang lain salah, bisa saja memperburuk kualitas otak. “Anutlah pemahaman agama seperti itu, dan saya yakin kalian akan mengalami kerusakan otak dalam tempo sesingkat-singkatnya,” canda Kang Jalal.

Menurut Kang Jalal, untuk membedakan mana pengalaman rohani sejati dan gangguan kejiwaan, bisa dijelaskan dari perilaku yang bersangkutan. Pria berkacamata ini menjelaskan, orang dengan pengalaman rohani sejati, jiwanya akan selalu diliputi perasaan cinta kasih pada semua orang.

Namun jika pengalaman rohani itu karena gangguan kejiwaan, maka yang bersangkutan biasanya merasa paling suci, memandang orang di sekitarnya sebagai penjahat dan pendosa.

About these ads

One comment on “Membedakan Pengalaman Rohani Sejati dan Gangguan Jiwa

  1. True story, seorang psikiater yang membuka klinik, pernah berpesan kepada mantan pasiennya, bahwa jika dia — si mantan pasien — bisa merekomendasikan atau membawa pasien baru, maka akan ada KOMISI perharinya selama pasien baru itu nginep di kliniknya.

    *No Comment* ;D

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Catatan Safari ANS

Terlambat Satu Detik Kerugian Satu Milyar

Women Terrace

Where is women can feel free

Kanzunqalam's Blog

AKAL tanpa WAHYU, akan berbuah, IMAN tanpa ILMU

Cahayapelangi

Cakrawala, menapaki kehidupan nusantara & dunia

religiku

hacking the religion

SANGKAN PARANING DUMADI

Just another WordPress.com site

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 4.954 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: