4 Komentar

Sistem Ekonomi Berkeadilan ala Ahmadi Nejad

sumber :
http://indonesian.irib.ir/index.php?option=com_content&view=article&id=21845&Itemid=103

Oleh: Purkon HidayatAhmadinejad seorang diri adalah sebuah media, begitu Prof.
Maulana berujar.

Presiden Iran ini menggegerkan dunia dengan pidato lugasnya di berbagai even
nasional dan internasional.

Baru-baru ini, pria brewok kurus itu berpidato keras dalam konferensi peninjauan  ulang Traktat Non-proliferasi Nuklir (NPT) mengenai solusi mewujudkan dunia tanpa senjata nuklir. Tentu saja, Ahmadinejad harus menanggung berbagai  resikonya.

Seperti dugaan sebelumnya, sejumlah negara adidaya seperti AS, Inggris dan
beberapa negara Barat lainnya walk out dari ruang sidang saat presiden Iran
berpidato. Bukan hanya di luar negeri, Ahmadinejad pun dikecam kaum terdidik
mapan Iran sebagai tidak becus berdiplomasi. Bahkan, dengan sinis mereka
berkata, “Lelaki ini bikin malu kami saja, in mard abero ma ra mibare.”
Beberapa bulan lalu, saat memasuki kantor Dekan fakultas ekonomi sebuah
universitas negeri paling bergengsi di Iran, yang terletak dua ratus meter dari
kantor Kedutaan Besar Republik Indonesia, saya mendengar obrolan lirih bernada sinis, “Pemerintah tidak becus mengurusi ekonomi negara ini, daulate ma namitune iqtishade kesvar ra idareh kune.” Di perguruan tinggi inilah para ekonom Iran jebolan universitas Barat berdiskusi dan mencetak para ekonom dalam negeri.

Mereka adalah para pengajar dan penulis terkemuka di bidang ekonomi mikro, makro  dan studi ekonomi pembangunan. Sebagaimana pendidikan ekonomi yang mereka adopsi dari Barat, resep-resep yang ditawarkan masih berkutat pada arus mainstrem ekonomi dunia. Bahkan, seorang profesor ekonomi lulusan Barat yang saya temui di kantornya mengajukan pertanyaan bernada mengejek, “Apa bedanya ekonomi Islam  dengan kapitalisme?” Bukan sekali, saya menyaksikan pakar moneter Iran ini  menyerang kebijakan pemerintah di televisi Iran sendiri.
Kali ini, resep ekonomi para ekonomi senior tidak laku di masa Ahmadinejad.
Padahal, mereka adalah dokter ekonomi Iran yang senantiasa didengar resep
ekonominya pada periode Rafsanjani dan Khatami.Tidak mengherankan, pada pilpres Iran lalu, bersama kaum borjuis sebagian dari mereka berkumpul mengelilingi Mir  Hossein Mousavi, kandidat presiden yang gagal itu.

Sepertinya Ahmadinejad kapok dengan resep-resep para ekonom papan atas Iran ini.  Sekitar lima tahun lalu, koran terkemuka Iran, Kayhan memuat kontroversi  mengenai ide saham adalat (saham keadilan) yang digulirkan tim ekonomi  Ahmadinejad.

Para penentang yang sebagian besar jebolan universitas terkemuka di Barat,
mencibir saham adalat tidak memiliki model di dunia. Sebaliknya, Ahmadinejad dan timnya membalas dengan pertanyaan yang menohok. Haruskah segala yang kita lakukan mengikuti model mainstream? Sampai kapan kita akan terus menjadi  pengekor. Sejatinya, kitalah yang harus menjadi model bagi negara lain.
Dengan spirit inilah, tim ekonomi Ahmadinejad merancang reformasi ekonomi Iran.

Tim ekonomi Ahmadinejad adalah para ekonom yang dibantu pakar disiplin lain dari seluruh penjuru Iran. Bahkan tidak tanggung-tanggung, mantan walikota Tehran ini  merekrut ulama yang mendalami ekonomi dan para akademisi dari universitas di  daerah.

Pada saat Mullah konglomerat semacam Rafsanjani memimpin Iran dan Akhon reformis  seperti Khatami menjadi Presiden, nama-nama tim ekonomi Ahmadinejad ini hanya
terdengar sayup-sayup ditelan hingar-bingar nama ekonom lulusan Barat dan
universitas terkemuka Iran.
Ahmadinejad tidak ambil pusing. Menurut mantan walikota Ardabil itu, tidak ada
perbedaan antara lulusan ekonomi Harvard maupun universitas di pelosok Iran.
Baginya, yang penting gagasan ekonom itu cemerlang secara teoritis dan praktis.
Jebolan teknik sipil Universitas Ilm va Sanat ini berupaya menerapkan pesan Imam
Ali, “lihatlah isi, jangan melihat siapa yang berbicara.”
Dari sejarah, Ahmadinejad mempelajari pasang surut perekonomian berbagai negara
dunia. Negara-negara yang kaya sumber daya alamnya dan sebagian besar negara
muslim, adalah negara yang terpinggirkan secara ekonomi dan politik. Bahkan di
segala sektor mereka harus mengekor titah adidaya global.
Tampaknya, Ahmadinejad memahami pesan Naomi Klien. Carut marut ekonomi Indonesia
tidak bisa dilepaskan dari peran vital Mafia Barkeley yang menggurita tahun
1960-an.

Tiga belas tahun kemudian, anak didik Friedman yang kembali ke tanah airnya
berhasil mengubah Chile yang menganut ekonomi sosial menjadi kapitalis. Presiden
Chile, Salvador Allende yang mengusung ekonomi kerakyatan, yang mirip dengan
prakarsa Hatta di Indonesia, digulingkan oleh Jenderal Augusto Pinochet dukungan
CIA. Buntutnya, Chile terperangkap utang dan kekuasaan asing akibat resep dosis
tinggi para ekonom Friedmanis yang menguasai negara itu.

Lalu, apa yang sedang diperjuangkan tim ekonomi Ahmadinejad? Ekonomi yang mereka
tawarkan dan telah dijalankan saat ini, memprioritaskan kemandirian ekonomi dan
desentralisasi pembangunan berbasis keadilan. Untuk itu, pemerintah menggalakan
pembangunan sektor industri utama supaya Iran bisa memenuhi kebutuhannya sendiri
dan tidak menengadahkan tangan ke negara lain.
Saat ini, pemerintah Iran sedang getol-getolnya membenahi dan melengkapi
Infrastruktur di daerah. Berbagai pabrik dibangun di daerah untuk menyuplai
kebutuhan komoditas dalam negeri. Untuk meminimalisasi defisit anggaran yang
membengkak akibat lonjakan pembangunan industri di negara ini, Ahmadinejad
menerapkan subsidi terarah, terutama subsisi BBM. Baginya, orang-orang kaya
tidak layak disubsidi, selama kemiskinan masih gentayangan di negeri ini.
Di level internasional, Iran meneriakan reformasi sistem ekonomi dunia. Di mata
Ahmadinejad, Kapitalisme dan Welfare State gagal membawa dunia pada
kesejahteraan yang adil. Krisis ekonomi global adalah buah getir keserakahan
para kapitalis.
Saat ini, Iran menekankan urgensi restrukturisasi tata kelola dunia yang adil
dalam bentuk kelembagaan baru. Di sektor ekonomi, Iran berupaya mengarahkan arus
global saat ini menuju titik keseimbangan baru dengan mengakhiri unilateralisme
adi daya global semacam Amerika Serikat.
Bagi Ahmadinejad, krisis ekonomi global tidak terjadi spontan, tapi akumulasi
dari kebijakan keliru yang berpangkal pada kebobrokan sistem ekonomi
kapitalisme.
Ahmadinejad tahu persis peringatan lampu merah ekonom peraih hadiah nobel tahun
1993, Douglass C. North. Dalam artikelnya, Economic Performance Through Time,
North mengingatkan, mekanisme pasar bukan interaksi bebas antara supply dan
demand semata. Namun juga diatur oleh perangkat keras dan lunak.

Sebuah mekanisme pasar diatur oleh perangkat keras berupaya tata kelola, hukum
dan konstitusi. Selain itu juga dikendalikan oleh norma, perilaku, konvensi
serta perangkat lunak lainnya. Gagasan North ini sebenarnya mengamini usulan
Joseph Schumpeter mengenai urgensi perombakan ekonomi yang mengarah pada
perbaikan sistem ekonomi.
Bagi Ahmadinejad, perangkat keras dan lunak sistem ekonomi global itulah yang
harus diperbaiki saat ini. Ketiga sistem ekonomi yang pernah menguasai dunia
harus diganti. Masa berlaku kapitalisme, Sosialisme dan Walfare State
kadaluarsa.

Lalu, adakah sistem model keempat setelah kegagalan Walfare Statenya, yang
pernah menyelamatkan AS dari depresi ekonomi 1930? Apabila kita tanyakan pada
Ahmadinejad, tentu ia akan mengatakan ada, dan ekonomi Islam yang tengah
diterapkan saat ini di Iran adalah gelombang keempat.
mungkinkah ide ini hanya isapan jempol belaka.Ternyata tidak, Iran menunjukkan
kelajuan signifikan di berbagai sektor. Di bidang ekonomi, dana Moneter
Internasional (IMF) memasukan Iran sebagai 18 negara ekonomi terkuat di Dunia.
Di sektor sains dan teknologi, Iran melesat mengejar ketertinggalannya selama
ini. Institute for Scientific Information (ISI) melaporkan, Iran menyabet
peringkat pertama secara global dalam hal laju pertumbuhan output. ISI
menegaskan, Iran meningkatkan hasil penerbitan akademis hampir sepuluh kali
lipat dari 1996 hingga 2004.
Selain itu, perusahaan riset Kanada Science-Metrix baru-baru ini menempatkan
Iran di peringkat teratas dunia dalam hal pertumbuhan dalam produktivitas ilmiah
dengan indeks pertumbuhan 14,4. Di bawah tekanan sanksi, Ahmadinejad menyerukan
kemandirian sebagai modal utama kemajuan suatu negara. Iran membuktikannya
kepada dunia.

About these ads

4 comments on “Sistem Ekonomi Berkeadilan ala Ahmadi Nejad

  1. Kalau di Indonesia, yang segalanya serba ada, baik SDA maupun SDM, maka dengan bermodalkan sistem Gotong Goyong atau Kerja Bakti, semua bakal kedapatan manfaatnya dalam memenuhi kebutuhan sehari2. Tanpa melibatkan uang di dalamnya.
    Ibarat masyarakat di pedesaan yang ingin pesta gado2, rujak, what ever, dengan ber-Gotong Royong atau Kerja Bakti, itu dapat diwujudkan dan membawa kebahagiaan semua penduduk desa. Asalkan semua mau bekerja.
    Indonesia laksana desa tersebut, hanya “mainan”nya bukan lagi kelas gado-gado dan rujak, kalau perlu bikin pesawat terbang atau yang lebih dari itu. Soal kebutuhan dasar, itu harusnya sudah selesai.

    Tinggal bagaimana manusia2nya… pada “doyan” nggak dengan Kerja Bakti seperti ini??? :D

  2. DR. Syeih Ahmadinejad memang Hero…
    Mudah2an Indonesia segera mempunyai sosok pemimpin yg seperti ini..

  3. negara indonesia yang notabenenya mayoritas Islam fanatik, seharusnya memberlakukan juga sistem ekonomi islam agar “BALDATUN TAYYIBATUN WARABBUN GAFUR” bisa diraih. amin…
    hidup pejuang syariat Islam….
    hidup umat islam indonesia, bersatulah menyambut seruan para pejuang syariat tersebut…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Catatan Safari ANS

Terlambat Satu Detik Kerugian Satu Milyar

Women Terrace

Where is women can feel free

Kanzunqalam's Blog

AKAL tanpa WAHYU, akan berbuah, IMAN tanpa ILMU

Cahayapelangi

Cakrawala, menapaki kehidupan nusantara & dunia

religiku

hacking the religion

SANGKAN PARANING DUMADI

Just another WordPress.com site

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 4.954 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: