Tinggalkan komentar

ISLAM, ESTETIKA DAN SENI

ISLAM, ESTETIKA DAN SENI

Share

Today at 12:57am
ISLAM, ESTETIKA DAN SENI

Abdul Hadi W. M.

I

Estetika (aesthetics), sesuai dengan makna etimologisnya, ialah pengetahuan tentang obyek-obyek penikmatan indera. Karya manusia yang dimaksudkan sebagai obyek penikmatan indera adalah karya seni. Sebagai cabang ilmu dan falsafah, estetika sering disamakan dengan teori seni, kritik seni dan falsafah keindahan. Tidak jarang juga disebut teori keindahan. Sebagai kritik seni yang dikaji dalam estetika ialah kriteria yang dapat dijadikan dasar penilaian terhadap karya seni. Dalam menetapkan kriteria itu juga diperhatikan wawasan atau pandangan estetik yang mendasari sebuah hasil ciptaan.


Dalam pengertian tersebut estetika membicarakan obyek-obyek estetik, kualitas karya seni serta pengaruhnya terhadap jiwa manusia, yaitu perasaan, imaginasi, alam pikiran dan intuisi. Apabila yang dibicarakan sebuah karya yang berhubungan dengan bentuk spiritualitas dan agama tertentu, mestilah dijelaskan sejauh mana pemahaman dan penghayatan si pencipta terhadap bentuk spiritualitas dan agama tersebut, atau gagasan serta pengalaman religius apa yang disajikan dalam karyanya.
Estetika juga sering diartikan sebagai kaedah atau metode menilai karya seni untuk keperluan seni itu sendiri dan disiplin di luar seni. Misalnya etika, agama, ideologi, politik dan kebudayaan. Tinjauan terhadap nilai seni suatu karya disebut tinjauan instrinsik dan tinjuan berdasarkan etika, agama, ideologi dan sosiologi disebut tinjauan ekstrinsik. Namun sebaiknya kedua bentuk penilaian itu digabung karena karya seni pertama-tama ialah karya seni, bukan uraian tentang moral, fiqih, falsafah, ideologi atau masyarakat.

II

Dalam tradisi kecendekiawanan Islam ada dua golongan yang paling memberi perhatian terhadap persoalan seni dan estetika yaitu para Filosof, Budayawan dan Sufi. Seni dan estetika dianggap penting sebagai pemberi asas dan arah bagi perkembangan kebudayaan, sekaligus mempunyai peranan dalam perkembangan kebudayaan. Keperluan akan teknologi tertentu sering didorong oleh tuntutan perkembangan seni seperti seni tulis, arsitektur dan seni lukis. Misalnya teknologi penjilidan buku, pencetakan, pembuatan bahan pewarna dan lain-lain.

Seni juga ikut memajukan perkembangan ekonomi dan perdagangan. Perdagangan orang Islam di masa lalu berkembang berkat keperluan akan barang-barang seni, seperti perabot rumah tangga, keramik, ukir-ukiran dan tekstil yang indah dan bagus. Di Jawa perkembangan industri batik tidak terlepas dari tuntutan akan kain batik yang memiliki kualitas artistik.Karena besarnya pengaruh seni terhadap moral, perkembangan jiwa dan pikiran manusia maka, tidak dapat tidak, menjadikan masalah estetika sangat penting.

III
Para Filosof dan Sufi lazim merujukkan masalah yang berhubungan dengan estetika dengan beberapa ayat mutasyabihat al-Qur`an, karena pandangan al-Qur`an tentang estetika kebanyakan diisyaratkan dalam ayat-ayat mutasyabihat. Misalnya berkenaan dengan Hadis yang menyatakan “Tuhan Maha Indah (jamal) dan mencintai keindahan”, atau “Sebagian puisi itu menyesatkan dan sebagian lagi merupakan hikmah”.

Istilah atau kata-kata keindahan (jamal) seperti termaktub dalam Hadis di atas dikaitkan dengan istilah-istilah konseptual dan estetis dalam beberapa ayat al-Qur`an seperti:
(1) Dialah yang Awal dan yang Akhir, yang Zahir dan yang Batin (Huwal
awwalu wal-akhiru wazhh-zhahiru wal-bathinu, QS 57:3); (2) Segala sesuatu akan lenyap kecuali Wajah Tuhan (Kullu man `alayha fanin wa-yabqa wajhu rabbika, QS 55:29); (3) Kemana pun kau memandang akan nampak wajah Allah (ayna-ma tuwallu fa-tsamma wajhullahi, QS 2:115); (4) Dalam alam semesta dan diri manusia terbentang ayat-ayat-Nya; dan masih banyak lagi.
Sebagai Yang Zahir Tuhan dapat dijadikan perenungan estetis dam perenungan tersebut disarankan membawa kita kepada bentuk-bentuk keindahan dan kebenaran yang lebih hakiki atau lebih tinggi. Sebagaimana bentuk spiritualitas Islam, estetika dalam Islam merupakan perjalanan dari bentuk-bentuk (surah) menuju hakikat segala bentuk (ma`na) darimana manusia berasal. Memang alam tradisi Islam estetika dikaitkan dengan metafisika atau ontologi, pengetahuan dan pemahaman tentang wujud dan peringkat-peringkatnya dari yang zahir sampai kepada yang batin. Karya seni di sini dipahami sebagai manifestasi estetika yang paling tinggi yang diharapkan dapat membawa penikmatnya pada tingkat kearifan yang lebih tinggi. Atau dapat mendorong manusia melakukan pendakian dari Yang Zahir menuju Yang Batin, dari alam tasybih, yaitu alam bentuk-bentuk dan gejala-gejala yang dapat dicerna indera, menuju alam tanzih yaitu alam transendental yang menuntut tajamnya penglihatan kalbu.
Yang Zahir dari hakikat Tuhan dalam Q 2:115 dinyatakan sebagai Wajah-Nya (wajhu) dan wajah-Nya yang indah itu sering diiendetikan dengan sifat-sifat dan pekerjaan-Nya yang indah di dunia ciptaan. Pada tahapan awal keindahan ilahi ini dapat ditangkap oleh panca indera (pengalaman empiris), tetapi dalam kelanjutannya akal pikiran dan penglihatan rohani manusia juga terlibat. Wajah-Nya yang Zahir itu dinyatakan juga sebagai ayat-ayat-Nya atau tanda-tanda-Nya yang menakjubkan, isyarat-isyarat-Nya yang mewartakan adanya sesuatu yang tidak kelihatan dalam alam kenyataan. Sesuatu yang tidak terlihat itu, yang ada di dalam isyarat=Nya, ialah al-hikmah-Nya yang tersembunyi dari penglihatan zahir.
Wajah Tuhan yang Maha Indah itu juga terangkum dalam dua sifat kembar Tuhan dalam kalimah Bismillah al-rahman al-rahim. Sifat Tuhan yang maha indah dan merupakan Wajah atau Penampakan-Nya ialah al-rahman dan al-rahim. Inti kedua kata itu apabila dikenakan kepada Tuhan ialah Cinta dan Rahmah. Akar kata al-rahman dan al-rahim sama dengan akar kata al-rahmah. Dengan demikian keindahan karya Tuhan dapat dilihat pada besarnya cinta Tuhan kepada ciptaan-Nya.
Dalam menilai karya seni Islam asas ini sangat penting. Cinta dalam diri atau pada manusia, sebagai penghasil karya seni, ialah kecenderungannya akan keimanan, ketaqwaan, kebahagiaan dan hasratnya untuk menegakkan kebaikan dan menentang segala bentuk keburukan, kejahilan, kedhaliman dan ketakadilan. Seni dalam pandangan ini tidak lain ialah suatu bentuk ibadah, pengabdian kepada Yang Haqq.
Dalam surat al-Nur diterangkan bahwa Tuhan mengumpamakan diri sebagai cahaya di atas cahaya. Cahaya ialah perumpamaan yang sangat indah dan tepat terhadap wujud Tuhan yang Batin itu. Cahaya merujuk kepada ilmu atau hikmah, sebab seperti ilmu dan hikmah cahaya menerangi manusia dalam kegelapan, memberi petunjuk menuju kebenaran. Cahaya juga merujuk kepada moral atau akhlaq yang mulia.
Berdasarkan penggambaran cahaya yang berperingkat-peringkat di alam kewujudan ini, dari kewujudan yang paling tinggi hingga kewujudan yang paling rendah, dari yang tanzih (transenden) hingga yang tasybih (immanen), maka keindahan juga dipandang berperingkat-peringkat. Semaakin dekat kearifan yang dicetuskan karya seni dengan hakekat kebenaran tertinggi. semakin indah pula karya tersebut.
Dengan mengikuti pembagian Imam al-Ghazali, kita dapat membagi keindahan sesuai peringkatnya sebagai berikut:
1. Keindahan inderawi dan nafsani (sensual), disebut juga keindahan lahir.
2. Keindahan imaginatif dan emotif.
3. Keindahan aqliyah atau rasional.
4. Keindahan ruhaniyah atau `irfani.
5. Keindahan ilahiyah atau transendental.
Seorang seniman melahirkan karyanya untuk membawa naik penikmatnya dari tatanan lahir keindahan menuju tatanan keindahan yang lebih tinggi yang ada di atasnya. Semakin tinggi tatanan keindahan yang disajikan sebuah karya seni, maka semakin dekat pula ia dengan hakekat wujud.

IV
Lebih jauh susunan atau urutan keindahan seperti telah dikemukakan juga sesuai dengan susunan sarana kejiwaan manusia dalam kaitannya dengan peringkat kebenaran dan hakekat yang dicapai melalui masing-masing sarana kejiwaan tersebut. Keindahan pribadi manusia dan segala sesuatu yang ada dalam kehidupan dan di alam dunia juga tersusun seperti itu peringkatnya, yaitu dalam kaitannya dengan penerimaan masing-masing sarana kejiwaan manusia. Begitu pula hanya dengan mutu karya seni.

Keindahan alam misalnya dapat dicerap atau dinikmati oleh anak-anak sebagaimana oleh orang dewasa. Keindahan alam bermanfaat karena dapat mendatangkan kesehatan kepada jiwa. Begitu pula halnya lukisan yang menyajikan gambar pemandangan alam. Tetapi terdapat keindahan sensual atau inderawi yang tidak membawa banyak manfaat seperti gambar cabul atau erotik, bahkan lebih banyak mudaratnya walaupun dapat dinikmati baik oleh anak muda maupun orang dewasa.
Berbeda dengan keindahan yang hanya dapat dicerap oleh sarana kejiwaan yang lebih tinggi dari pancaindera, yaitu imaginasi dan perasaan. Misalnya musik yang membawa pada kenangan tertentu di masa lalu, atau lukisan yang tidak menyajikan gambaran seperti lukisan naturalistis. Karya seni dalam lingkup ini penerimaannya sepenuhnya tergantung pada tingkat kepekaan rasa dan kesanggupan imaginasi seseorang.
Yang dimaksud dengan keindahan rasional ialah keindahan yang tidak sepenuhnya dapat dicerap oleh pancaindera, perasaan dan imaginasi, tetapi memerlukan perenungan dan pemikiran akal. Misalnya sebuah novel atau puisi yang mengandung gagasan dan pemikiran tertentu.
Keindahan euhaniyah dan `irfani (mistikal) dapat dilihat dalam pribadi Nabi. Nabi merupakan pribadi yang indah bukan semata-mata disebabkan kesempurnaan jasmani dan pengetahuannya tentang agama dan dunia, tetapi terutama karena akhlaqnya yang mulia dan tingkat makrifatnya yang tinggi.
Pengaruh cara memandang keindahan dan peringkat-peringkatnya nampak dalam penghargaan Islam terhadap berbagai bentuk karya seni. Seni kaligrafi, ragam hias tetumbuhan dan lukisan geometris menempati tempat istimewa, sedangkan lukisan realisme dan naturalisme tidak begitu diistemewakan. Seni kaligrafi dan lukisan geometri sepenuhnya merupakan hasil abstraksi dan imaginasi manusia. Bentuk-bentuk yang disajikan di dalamnya tidak ditiru dari alam, namun benar-benar dicipta dan direkayasa oleh manusia menurut kemampuan akalnya. Seni dekoratif tetumbuhan juga demikian. Walaupun bertitik tolak dari apa yang terdapat dalam alam, namun hasilnya lebih merupakan buah dari kerja pikiran dan imaginasi manusia.
Lebih daripada itu bentuk-bentuk seni di atas bersumber dari al-Qur`an. Seni kaligrafi muncul untuk menuliskan teks-teks suci secara tepat dan indah agar menarik perhatian dan dapat membawa penikmat dekat kepada sumber otentik dari teks suci. Kecintaan orang Islam pada kitab suci al-Qur`an mendorong pesatnya perkembangan seni kaligrafi dan menjadikan kaligrafi sebagai simbol utama seni Islam dan perwujudan paling istimewa daripada estetika Islam.
Seni dekoratif dapat dirujuk kepada gambaran al-Qur`an tentang surga yang merupakan tempat untuk orang-orang yang taqwa, banyak beramal saleh dan mengingat Tuhan. Citra sorga juga dikaitkan dengan keadaan jiwa mutmainah seseorang yang telah mencapai tahapan keimanan dan ketaqawaan yang tinggi. Surga digambarkan sebagai taman dipenuhi pepoponan rindang, lebat buahnya. Di dalamnya mengalir sungai yang airnya jernih. Corak dan struktur seni petamanan Islam diilhami oleh lukisan al-Qur`an tentang surga. Seni hias tetumbuhan (arabesque) dalam tradisi Islam juga berkaitan dengan gambaran al-Qur`an tentang surga, sekaligus sebagai pembebasan dari keterkungkungan seniman terhadap wujud formal dunia material.

V

Sikarang kita bahas hubungan estetika dan seni dengan gambar dunia (weltanschauung atau worldview). Secara sepintas telah digambarkan kecenderungan estetika dalam Islam. Yaitu kuatnya sikap penolakan meniru obyek luar secara realistis dan naturalistis. Sikap ini ada kaitannya dengan sikap Islam yang anti-berhala atau ikonoklastis. Pada saat yang sama sikap tersebut timbul dari dorongan untuk memberikan perhatian pada kreativitas pikiran dan imaginasi, dan keengganan untuk semata-mata melayani hasil pengamatan indera.

Tentang sikap ikonoklastis atau anti-berhala, Jalaluddin Rumi (1207-1273 M) menyatakan dalam sebuah sajaknya, lebih kurang terjemahannya sebagai berikut:

Aku seorang pelukis, pencipta gambar
Setiap saat kulukis rupa yang elok dan indah.
Namun apabila Kau datang
Kulebur semua itu tanpa ada yang tinggal sedikit pun.
Kupanggil ratusan bayang-bayang
Kuhembuskan roh ke dalam jisim mereka.
Apabila bayang-bayang-Mu kusaksikan
Kulempar mereka semua ke dalam api yang menyala.

(dari Diwan-i- Shamsi Tabriz)

Manusia memang cenderung menyukai bentuk-bentuk luar dan memberhalakan keindahan zahir atau lahiriyah. Tetapi apabila seseoang telah dianugerahi cahaya Tauhid maka segala bentuk kesyirikan yang bertunas dalam dirinya akan dapat dibersihkan. Penciptaan karya seni dalam Islam dengan bentuk-bentuknya yang anti-ikonografis dan wataknya sebagai manifestasi zikir serta puji-pujian kepada Yang Satu, adalah ungkapan penyucian diri dari segala bentuk berhala alam bendawi. Sekaligus untuk menyatakan bahwa martabat manusia tak ditentukan oleh kemahirannya meniru bentuk-bentuk lahir kehidupan, melainkan oleh kreativitas imaginasi dan akal pikirannya.

Berikut ini akan dipaparkan beberapa hal menyangkut Gambaran Dunia (weltanschauung) yang disajikan al-Qur`an dan pengaruhnya terhadap estetika, khususnya karya sastra dan seni rupa.
Pertama, dalam al-Qur`an dinyatakan bahwa alam semesta, juga pribadi manusia di mana ayat-ayat-Nya terbentang, diumpamakan sebagai Kitab agung atau sebuah karya sastra yang ditulis oleh Sang Pencipta dengan kalam-Nya di atas lembaran terpelihara (lawhu`l-mahfudz). Gambaran seperti itu jelas mendorong perkembangan sastra, penulisan kitab, seni kaligrafi dan perbukuan.
Kedua, telah dinyatakan bahwa menurut al-Qur`an Tuhan meletakkan ayat-ayat-Nya atau tanda-tanda-Nya yang menakjubkan di alam semesta dan dalam diri manusia. Ayat-ayat Tuhan dalam alam semesta berupa berbagai fenomena alam, peristiwa-peristiwa sosial dan sejarah. Dalam diri manusia ialah akal pikiran, imaginasi dan fakultas kerohanian lain.
Berdasarkan pandangan di atas pula paara Sufi memberikan beberapa pembagian peranan atau fungsi karya seni.
(1) Fungsi seni ialah untuk tawajjud, yaitu membawa penikmat mencapai keadaan jiwa yang damai (mutmainah) dan menyatu dengan keabadian dari Yang Abadi. Ini dikemukakan antara lain oleh Imam al-Ghazali;
(2) Fungsi seni yang lain, sebagaimana dikemukakan Ruzbihan al-Baqli (abad ke-13 M) ialah tajarrud, yaitu pembebasan jiwa dari alam benda melalui sesuatu yang berasal dari alam benda itu sendiri. Misalnya suara, bunyi-bunyian, gambar, lukisan dan kata-kata.
(3) Fungsi seni yang lain lagi ialah tadzkiya al-nafs, yaitu penyucian diri dari pemberhalaan terhadap bentuk-bentuk melalui bentuk-bentuk itu sendiri.Ini dinyatakan antara lain oleh Jalaluddin Rumi, sebagaimana terekam dalam sajaknya yang telah dikutip;
(4) Fungsi seni yang lain pula ialah untuk menyampaikan hikmah, yaitu kearifan yang dapat membantu kita bersikap adil dan benar terhadap Tuhan, sesama manusia, lingkungan sosial, alam tempat kita hidup dan diri kita sendiri. Banyak dikemukakan para filosof dan sastrawan seperti Ibn al-Muqaffa’, al-Jahiz, Ibn Sina, Abu `Ala al-Ma`arri, Abu al-`Atahiyah dan Mulla Sa’adi;
(5) Seni juga berfungsi sebagai sarana efektif menyebarkan gagasan, pengetahuan, informasi yang berguna bagi kehidupan seperti pengetahuan dan informasi berkenaan sejarah, geografi, hukum, undang-undang, adab, pemerintahan, politik, ekonomi dan gagasan keagamaan. Para ilmuwan, ahli adab, ulama fiqih dan usuluddin, serta ahli tasawuf berpegang pada pendapat ini;
(6) Karya seni juga dicipta untuk menyampaikan puji-pujian kepada Yang Satu.

VII
Saya ingin memberi catatan di sini bahwa dalam sejarah seni rupa Islam terdapat perwujudan estetika Islam yang sering dilupakan, yaitu lukisan miniatur. Berbeda dengan seni kaligrafi, arabesk dan lukisan geometri, lukisan miniatur menghadirkan gambar figuratif.

Lukisan miniatur lahir dari keperluan memberi ilustrasi pada buku-buku ilmu pengetahuan, sastra dan sejarah. Sebenarnya tradisi ini telah tumbuh sejak zaman Bani Umayyah dan Abbasiyah pada abad ke-8 dan 9 M. Namun karena banyak manuskrip yang memuat lukisan-lukisan itu hilang, maka bukti-bukti dari perkembangan seni lukis Islam dari abad-abad itu hanya sedikit yang dijumpai.
Sebab-sebab hilangnya bukti itu antara lain ialah terbakarnya Perpustakaan Bani Fathimiyah di Kairo pada abad ke-11 M yang memusnahkan seluruh bangunan dan isinya, padahal dalam perpustakaan ini disimpan ribuan manuskrip dari abad ke-8, 9 dan 10 M yang memuat banyak ilustrasi.
Kebanyakan bukti tentang perkembangan seni lukis Islam itu berasal dari manuskrip abad ke-12 dan 13 M. Di situ dapat kita lihat beberapa ciri awal seni lukis Islam, wawasan estetikanya dan kecenderungannya, yang sudah pasti sangat berpengaruh bagi perkembangan selanjutnya. Saya ingin memberi contoh lukisan yang terdapat dalam beberapa manuskrip yang memuat teks-teks ilmu pengetahuan dan sastra seperti Kitab al-Tsabita (Kitab Tentang Astronomi), Kitab al- Diriyaq (terjemahan buku Galenus tentang kedokteran), Kitab al-Baytara karangan Ibn al-Ahnaf ditulis pada tahun 1210-1215 M; Khalilah wa Dimnah karangan Ibn al-Muqaffa`, cerita berbingkai, salinan dibuat pada tahun 1215 M; Kitab al-Aghani, kitab tentang musik dan nyanyian karangan Abu al-Faraj al-Isfahani, salinan dibuat pada akhir abad ke-12 M.
Lukisan-lukisan dalam manuskrip-manuskrip tersebut menarik karena gambar figur pada umumnya ditampilkan statik, tidak ada gerak dan dua dimensi. Pelukis Muslim berusaha menekan ketegangan antara estetika Yunani dan estetika Islam. Estetika Yunani didasarkan pada prinsip “Ars imitatur naturam (seni meniru alam), sedangkan estetika Islam menolak naturalisme. Menarik juga membandingkan lukisan dalam Kitab al-Tsabita yang dipengaruhi lukisan Cina, dengan lukisan Cina dalam kitab astronomi Cina abad ke-10 karangan Chang Sheng-Yu. Lukisan dalam buku karangan Chang Sheng-Yu sepenuhnya merupakan tiruan alam, sedangkan dalam Kitab al-Tsabita tidak ada unsur peniruan alam.
Secara garis besar ciri-ciri lukisan karya seniman Muslim itu ialah: (1) Figur statik, tidak ada gerak; (2) Namun ada watak individual pada setiap figur yang digambar. Dengan demikian yang ditekankan di sini bukan penampakan zahir dari figur tetapi sifat-sifatnya; (3) Terdapat banyak motif seni dekoratif atau arabesk, yang ditambahkan untuk menggambarkan bahwa manusia hanya dapat hidup di dalam alam atau lingkungan alam; (4) Warna dibuat bukan untuk meniru warna alam, tetapi untuk menciptakan keselarasan dalam ruang tertentu; (5) Ruang dibuat vertikal dari atas ke bawah dengan garis spiral. Pada akhirnya yang menentukan kualitas lukisan itu ialah tatanan geometrisnya.
Agar lebih jelas saya kemukakan saja kecenderungan dan watak seni lukis Islam melalui gambaran sebagai berikut:
Pertama. Orang Islam sangat mencintai al-Qur`an. Hal ini sebagaimana telah dikemukakan sangat mempengaruhi tumbuhnya seni kaligrafi. Keindahan dan pesona bahasa al-Qur`an membuat seniman Muslim bergairah menghadirkankata-kata suci dalam bentuk tulisan indah (khat). Kecintaan terhadap seni khat ini mempengaruhi esensi seni lukis Islam, yaitu bagaimana seorang pelukis membuat garis yang kuat, warna yang mempesona dan mendatangkan kemabokan spiritual, membuat coretan yang tegas, pasti dan sekligus ekspresif dan bermakna. Maka garis dan coretan menjadi hal yang penting dalam seni lukis Islam. Pandangan ini lebih jauh mempengaruhi kecintaan pada lukisan geometri. Dalam lukisan geometri benar-benar diterapkan hakekat seni lukis, yang tidak lain ialah garis dan inti garis ialah titik.
Kedua. Islam mempunyai komitmen besar terhadap sejarah. Bagi pelukis Muslim alam hanya menarik sebagai latar belakang kehidupan manusia. Sebab tanpa manusia alam tidak ada artinya apa-apa. Berlainan dengan sejarah. Sejarah benar-benar melibatkan peranan manusia. Maka itu peperangan, naik turunnya suatu dinasti atau rezim pemerintahan, penghancuran dan pembangunan kota, pelayaran ke tempat jauh, dan peristiwa-peristiwa bersejarah lain — mendapat perhatian besar pelukis dan sastrawan Muslim. Tidak heran apabila drama dan peristiwa kemanusiaan menempati kedudukan istimewa sebagai obyek estetik dalam tradisi Islam.
Cakrawala, gunung, lembah, sungai, lautan dan lain-lain yang banyak dijumpai dalam lukisan Cina, tidak banyak dijumpai dalam lukisan Islam. Sebagai gantinya dalam lukisan Islam ialah seringnya taman ditampilkan, sebab taman melibatkan manusia dalam kehadirannya dan taman merupakan replika surga, yang melambangkan jiwa yang damai. Namun demikian gambar alam, sebagai taman atau latar belakang suatu peristiwa kemanusiaan, dalam lukisan Islam lebih mengesankan dibanding gambar alam dalam lukisan Belanda atau Perancis modern yang awal.
Ketiga. Pelukis Islam tidak memperhatikan perspektif, kecuali lukisan pada zaman pemerintahan Jahangir akhir abad ke-17 di India Mughal yang dipengaruhi lukisan Belanda dan Belgia. Karena itu jarang ditemui lukisan tiga dimensi dalam Islam. Alasannya: jauh dan dekat sama saja. Orang yang berada di tempat lebih jauh kadang digambar lebih besar dibanding orang yang berada lebih dekat. Bagi seniman Muslim: Waktu dan keabadian merupakan dua faset penting dalam kehidupan manusia.
Tidak ada dikotomi antara waktu (beserta perubahannya) dan keabadian. Pelukis Muslim tidak perlu mencipta waktu khayali dalam usahanya memuaskan kerinduan pada keabadian. Yang penting bagaimana mencipta keabadian di luar waktu. Tak heran pelukis Muslim selalu berusaha menggabungkan semua dimensi ruang dan waktu dalam kesatuan tunggal. Begitu pula penceritaan yang terdapat dalam al-Qur`an.
Keempat. Pelukis Muslim menolak kegelapan. Lukisan mereka penuh limpahan cahaya dan warna cerah. Tidak ada bayangan gelap dalam lukisan. Gelap bukan esensi waktu dan ruang, melainkan sesuatu yang ditambahkan untuk menegaskan keberadaan cahaya terang. Lagi pula kegelapan ialah lambang keputusasaan sedangkan agama Islam menganjurkan pemeluknya menolak keputusasaan. Kegelapan juga lambang kedhaliman, diskriminasi dan egosentrisme.
Kelima. Lukisan Islam ialah ekpresi dari gagasan dan perasaan tunggal: Cinta. Semua detail dari obyek diserap dan dibuat untuk menghasilkan nuansa perasaan halus. Pohon dan bunga digambar namun tidak sampai memenuhi seluruh latar, sebab ia hadir hanya untuk memberi tambahan bagi melodi dan irama kehidupan yang terus mengalir.Karena merupakan ekspresi dari semangat dan perasaan tunggal yaitu cinta(`isyq) maka lukisan Islam mempunyai kecenderungan sufistik. Maksudnya setiap obyek dalam alam dihadirkan sebagai manifestasi dari ilmu dan cinta Tuhan yang tidak terhingga.
Keenam. Lukisan Islam merupakan ilustrasi terhadap teks atau wacana. Baik teks atau wacana sastra, ilmu pengetahuan dan sejarah. Fungsi seperti itu sama dengan fungsi alam yang merupakan ilustrasi terhadap firman Tuhan.
Ketujuh. Setiap waktu seniman Muslim mendengar perintah “Kun fayakun!” dalam berbagai perubahan yang terjadi di sekitarnya. Kata-kata “Kun fayakun!” ini setiap kali menerjemahkan diri dalam peristiwa alam dan sejarah. Karena itu mesti diupayakan menjadikan gambaran peristiwa kehidupan dan sejarah sebagai tangga naik untuk membaca hikmah dan pesan moral yang dikandungnya.
Kedelapan. Dunia ini ialah ayat-ayat-Nya atau logos dalam jasad zahir dan dalam gerakan transubstansial (al-harakah al-jawhariyah) yaitu perjalanan menuju atau melalui substansi kehidupan. Kesadaran seorang Muslim berakar dalam keinsyafan bahwa antara kata-kata dan fakta atau kenyataan terdapat hubungan timbal balik dan saling memberi makna. Maka dalam lukisan Islam sering dihadirkan rangkaian kaligrafi berisi ayat al-Qur`an, Hadis, pepatah, puisi dan lain sebagainya.
Demikian uraian ringkas tentang estetika Islam dan manifestasinya dalam ungkapan artistik seni.

Daftar Pustaka

Abdul Hadi W. M. (2000) Islam: Cakrawala Estetik dan Budaya. Jakarta: Pustaka
Firdaus.

Boyle, A. ed. (1988) The Cambridge History of Iran, Vol. 5. Cambridge: Cambridge
University Press.

Burkhard, Titus (1991). “The Spirituality of Islamic Art”. Dalam S. H. Nasr (ed.)
Islami Spirituality. London: Routledge & Kegan Paul (506-527).

Ferrier (1989). The Arts of Persia. New Haven and London: Yale University Press.

Al-Ghazali, Imam (1984). Kimia Kebahagiaan. Terj. Tim Mizan. Bandung: Mizan.

Hossein Nasr, Seyyed (1987). Islamic Art and Spirituality. Cambridge: Golgonoza
Press.
Reza Araste (1974). Rumi, The Persian, The Sufi. London: Routledge and Kegan
Paul.

Imam al-Ghazali (wafat 1111 M), ulama, filosof dan sufi terkemuka. Pemikirannya tentang estetika dapat dibaca dalam bukunya Kimiya-i Sa’ada (Kimia Kebahagiaan) dan Misykat al-Anwar (Misykat Cahaya-cahaya).
Pintu gerbang masjid di Tajikistan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Atlantis in the Java Sea

A scientific effort to match Plato’s narrative location for Atlantis

Sembrani

Membahas ISU-ISU Penting bagi Anak Bangsa, Berbagi Ide, dan Saling Cinta

Wirdanova

+62811-813-1917

aawanto

The greatest WordPress.com site in all the land!

Covert Geopolitics

Beyond the Smoke & Mirrors

Catatan Harta Amanah Soekarno

as good as possible for as many as possible

Modesty - Women Terrace

My Mind in Words and Pictures

Kanzunqalam's Blog

AKAL tanpa WAHYU, akan berbuah, IMAN tanpa ILMU

Cahayapelangi

Cakrawala, menapaki kehidupan nusantara & dunia

religiku

hacking the religion

SANGKAN PARANING DUMADI

Just another WordPress.com site

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

%d blogger menyukai ini: