3 Komentar

Mobil Hemat Energi Buatan Anak Bangsa Indonesia: Mhs ITB

Mobil CIKAL Hemat Energi buatan Mahasiswa ITB 2010

http://mobilcikal.itb.ac.id/Site_2/Blog/Blog.html

Institut Teknologi Bandung meluncurkan tiga kendaraan hemat energi bernama Rajawali, Cikal dan Heave-Exia di Bandung, Senin (26/4). Ketiga mobil tersebut akan berpartisipasi dalam kompetisi Shell Eco-Marathon Asia yg akan dilaksanakan pada Juli 2010 di Sirkuit Sepang, Malaysia.

Ananta Bagas, team leader tim Rajawali mengatakan konsep mobil-mobil ini telah dipikirkan sejak Juli 2009.
Mobil Rajawali menggunakan mesin 35 cc dan berbahan bakar etanol.

Bentuk kendaraan terinspirasi dari bentuk tetesan air yg aerodinamis. “Rajawali dapat melaju hingga 50-60 kilometer per jam dan menghabiskan biaya sebesar 50 juta,” ujar Ananta Bagas.

Sedangkan Teuku Naraski Zahari, team leader Mobil Cikal mengungkapkan Mobil Cikal menggunakan mesin 125 cc dan menghabiskan biaya 40 juta. Mobil Cikal dapat melaju hingga 40 kilometer per jam.

Menurut Elingselasri, team leader Mobil Heave-Exia, Heave menghabiskan biaya 25 juta dan dapat melaju hingga 36 km/jam. Mobil Heave menggunakan mesin Kanzen 80 cc yg telah dimodifikasi.

Dia menambahkan, konsumsi bahan bakar mobil Heave Exia masih 1:200 km. Namun, dirinya optimistis pada Juli nanti bisa mendongkrak konsumsi mobil hingga 1:3.200 km . Menurutnya, rekor mobil saat ini baru 1:5.385 km. “Kami akan terus memperbaiki mesin dan body akan direkonstruksi ulang sebelum dibawa serta dalam lomba,” ujarnya.

Rektor ITB Akhmaloka menuturkan, ITB selalu berkonsentrasi dalam bidang sains, teknologi, dan seni. utk itu, anggota tim mobil Cikal, mobil Heave–Exia, dan mobil Rajawali diharapkan dapat menjawab tantangan ketiga bidang tersebut. “ITB mendukung inisiatif dan usaha keras setiap mahasiswa dalam mempersiapkan kendaraan mereka,” kata dia. tvone

ITB Buat Tiga Mobil Hemat Energi

Selasa, 27 April 2010 | 04:32 WIB

Bandung, Kompas – Mahasiswa Institut Teknologi Bandung mengembangkan tiga mobil hemat bahan bakar dan ramah lingkungan untuk ikut serta dalam ”Kompetisi Shell Eco-Marathon 2010” di Sirkuit Sepang, Malaysia, 8-10 Juli. Mereka akan bersaing dengan 112 tim dari 12 negara, seperti Jepang, China, Singapura, dan India.

Mereka terbagi dalam tiga kelompok. Tim HEAVe-Exia dan Rajawali turun di kelas ”Future Concept”. Adapun CikaL turun di ”Urban Concept”. Tiap-tiap kelompok pesertanya 12-17 orang.

Manajer Tim Rajawali, Ananta Bagas (22), saat peluncuran tiga mobil ini di Kampus ITB, Senin (26/4), mengatakan, timnya mengusung mesin pemotong rumput Honda GX 35 cc dengan modifikasi karburator injeksi. Selain itu, diterapkan juga teknologi bearing keramik untuk meminimalkan gesekan roda sehingga putaran mesin tidak banyak memerlukan bahan bakar. Pengurangan gesekan juga dilakukan pada sistem kopling. Jika umumnya menggunakan kopling gesek, Rajawali mengembangkan kopling magnet aplikasi dari mesin pendingin udara. Seluruh badan kendaraan menggunakan serat fiber ringan.

”Hasilnya mobil seberat 50 kilogram dengan 1 penumpang yang mampu melaju 30 kilometer per jam dengan kebutuhan bensin 1 liter bensin oktan 95 untuk 1.000-1.500 km,” ujarnya.

Untuk kategori yang sama, Tim HEAVe-Exia mengembangkan mobil hemat bahan bakar ramah lingkungan. Kepala Divisi Mesin Tim HEAVe-Exia, Bentang Arief Budiman (21), mengatakan, konsep ramah lingkungan menggunakan bahan bakar metanol dan anyaman bambu sebagai pelapis badan mobil. Untuk mengemat bahan bakar, mesinnya menggunakan Kanzen 80 cc berbahan etanol serta meminimalkan penggunaan material logam. ”Berat 48 kg tanpa penumpang dan 100 kg dengan seorang penumpang,” ujar Bentang.

Kehidupan sehari-hari

Sementara itu, konsep yang diusung CikaL berbeda dari dua kelompok lain karena harus bisa digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Manajer Tim CikaL, Teuku Naraski Zahari (22), mengatakan, tidak seperti dua kendaraan lain yang menggunakan tiga roda, panitia mengharuskan kelas ”Urban Concept” menggunakan empat roda.

Untuk mewujudkannya, CikaL membangun badan kendaraan lebih besar dengan 2,5 m x 1,2 m x 1,2 m bermesin 125 cc dengan modifikasi sistem pembakaran injeksi dan drive by wire. Jika sebelumnya katup injektor dioperasikan mesin, CikaL menggunakan sistem elektronik menggunakan kabel sebagai penggerak utama. Gunanya untuk mengoptimalkan suhu, meringankan putaran mesin, dan meringankan berat kendaraan. CikaL menargetkan mobilnya menggunakan 1 liter bensin untuk menempuh 200 km dengan maksimal dua penumpang.

Rektor ITB Ahmaloka mengatakan, ketiga mobil ini seakan menjawab tantangan dunia otomotif masa depan. (CHE)

http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/04/27/04325627/itb.buat.tiga.mobil.hemat.energi

http://www.dikti.go.id/index.php?option=com_content&view=article&id=1423:itb-buat-tiga-mobil-hemat-energi&catid=69:berita-terkait&Itemid=196


Mobil heave-exia, cikal, dan rajawali – mobil buatan mahasiswa indonesia

Judul Artikel Blog: Mobil heave-exia, cikal, dan rajawali – mobil buatan mahasiswa indonesia Diposkan oleh andrio on Minggu, 02 Mei 2010

Sejumlah mahasiswa Institut Teknologi Bandung berhasil menciptakan tiga purwarupa atau prototipe mobil hemat energi. Mobil ini mampu menempuh jarak 1.000 kilometer hanya dengan satu liter bahan bakar premium. Ketiga prototipe mobil hemat energi itu diluncurkan di kawasan kampus ITB, Senin (26/4).

Nama ketiga mobil itu pun unik, yakni Cikal, Rajawali, dan Heave. Cikal dan Rajawali masing-masing hanya memiliki bobot 80 kilogram. Didesain dengan konsep futuristik Cikal dan Rajawali juga menggunakan bahan bambu sebagai bagian dari rangkanya. Hanya dengan satu liter bahan bakar premium mobil hybrid ini mampu menempuh jarak 1.000 kilometer dengan kecepatan maksimal 40 kilometer per jam.

Sementara jenis mobil hybrid lainnya, yakni Heave yang menggunakan ethanol sebagai penggerak mesinnya juga memiliki kemampuan yang nyaris serupa dengan Cikal dan Rajawali. Setelah melalui proses pengujian faktor keselamatan dan uji emisi serta tenaga, rencananya ketiga mobil hybrid itu akan diikut sertakan dalam kompetisi mobil Eco Marathon di Sepang, Malaysia, Juli mendatang.

sumber = http://tekno.liputan6.com/berita/201004/274386/Mahasiswa.ITB.Ciptakan.Mobil.Hemat.Energi Label:

CIKAL SIAP JAJAL S RKUIT SEPANG

03 May 2010

Mobil concept mahasiswa ITB ini dirancang mampuberjalan sejauh 200 kilometer dengan 1 liter bensin.

Dua pengemudi bergantian menaiki Cikal. Mobil dengan tinggi 1,2 meter tersebut meluncur di Jalan Ganesha, kampus Institut Teknologi Bandung (ITB). Sekitar 100 mahasiswa bertepuk tangan setelah Cikal mampu menjalankan tugasnya.

Senin siang pekan lalu, mobil mini yang diberi nama Cikal itu memang melakukan uji coba. Mobil rancangan 18 mahasiswa ITB ini akan ikut lomba Shell Eco-Mara-thon tingkat Asia di Sepang, Malaysia, Juli mendatang. Cikal, yang bentuknya mirip teti-kus (mouse), adalah satu dari empat wakil tim mahasiswa Indonesia yang turun di kategori Urban Concept. Selain mengandalkan bentuk mobil, tujuan akhir lomba itu adalah mencari kendaraan yang paling irit bahan bakar.

“Target kami 200 kilometer dengan 1 liter bensin,” kata Project Manager Teuku Na-raski Zahari Jacoeb. Target itu tak terlalu muluk. Rekor lomba yang sama di wilayah Eropa berhasil mencapai 400 kilometer dengan 1 liter bensin. Tapi melihat rekor di wilayah Amerika yang sudah berjalan 10 tahun, kata mahasiswa Teknik Elektro itu, rekornya baru mencapai 189 kilometer. Mengintip kekuatan di Asia, “Singapura, yang pernah ikut lomba, cuma 100-an kilometer,” ujarnya.

Untuk penghematan dan efisiensi bahan bakar, Cikal memulainyadari pembuatan badan mobil yang ringan. Berdesain stylish, aerodinamis, dan ergonomis, mereka membungkus mobil dengan serat karbon agar kuat. Rangkanya terbuat dari bahan aluminium dan kaca mobil terbuat dari akrilik. Pengerjaan itu mereka serahkan ke dua bengkel mobil di Bandung.Panjang mobil itu 2,5 meter, dengan lebar dan tinggi masing-masing 1,2 meter. Bobot kendaraan bercat putih itu sekitar 120 kilogram. Bandingkan dengan sepeda motor, yang seberat 103 kilogram.

Desain Cikal yang murni rancangan sendiri terinspirasi oleh beberapa city car yang ada di pasarmemang kompak dan dapat memenuhi karakteristik yang sangat dibutuhkan untuk mencapai efisiensibahan bakar,” ujar Raski, panggilannya sehari-hari.Konsep itu belum bisa dipakai untuk produksi mobil secara massal. Bodi dari serat karbon, misalnya, harganya bisa empat kali lipat. Sedangkan sasis dari aluminium rawan rusak ketika terjadi tabrakan.Sesuai dengan aturan lomba, yang mewajibkan lebar ban tak boleh lebih dari 80 milimeter, Cikal memakai empat roda sepeda motor berukuran 16 inci. Veig-nya sengaja dipilih dari bahan ringan, yaitu aluminium, yang banyak dijual di pasar.Kendaraan yang hanya dinaiki seorang pengemudi itu menempatkan kemudi di tengah kabin. “Supaya nanti beban dan kerja mesin kendaraan lebih merata,” kata Raski. Selam itu, untuk menghindari aus roda di bagian tertentu saja atau sasis melenting.

Rencananya, tim memasang Andrie Kartamihardja sebagai pengemudi. Berat tubuh ketua divisi manufaktur itu kini 68 kilogram atau mendekati bobot minimal 70 kilogram. Kekurangannyaakan dipenuhi oleh perlengkapan balap seberat 2 kilogram.Mesin dan roda penggerak mereka tempatkan di bagian belakang mobil. Ajie Revy, Nurmala Rusydi, dan Bismi Madjid, di bagian mesin, memodifikasi sistem injeksi mesin sepeda motor Honda 125 cc. Mereka membuat sendiri modul kontrol mesinnya. “Supaya pengaturan bahan bakarnya lebih optimal, kami pakai beberapa macam sensor. Suplai bahan bakarnya botuh berapa, akan disesuaikan dengan putaran mesin, oksigen yang masuk, dan lain-lain,” kata Raski. Dengan menggunakan sistem itu, rasio pasokan udara dan bahan bakar akan sesuai dengan beban mesin, sehingga penggunaan bahan bakar lebih efisien.

Selain itu, mereka memodifikasi sistem drive by wire dengan sensor elektrik. Ketika pedal gas ditekan, prosesor komputer langsung bekerja mengatur katup pasokan udara. “Kalau ini, gas akan dihitung dari berbagai parameter, seperti putaran mesin dan kadar oksigen. Supaya presisi dan lebih optimal pasokan udaranya,” Raski menjelaskan. Sistem itu, kata dia, merupakan keunggulan Cikal dibanding tim lain.Agar bisa lebih irit bensin, kendaraan berharga Rp 180 juta itu nantinya dipacu sesuai dengan kecepatan ekonomis, yaitu 40-50 kilometer per jam. Nilai im hampir dua kali lipat dari kecepatan minimal lomba. “Strategi mengemudi akan sangat menghindari penggunaan rem. Untuk itu, kami juga sedang mempelajari racing line yang tepat di Sirkuit Sepang,” katanya.

Cikal memang produk kerja keroyo-kan. Konsep mobil ini lahir setahun lalu oleh lima mahasiswa ITB. Atas inisiasi Adinda Aulia nova, mahasiswa Jurusan Aeronotika Astronotika, jumlah anggota bertambah jadi 12 orang dari berbagai jurusan, seperti Teknik Mesin, Elektro, dan Desain Interior. “Kriterianya berkomitmen dan memiliki passion terhadap dunia otomotif,” kata Raski.Bermodal awal US$ 2,000 dari panitia Eco-Shell, tim bekerja sesuai dengan pembagian divisi sejak April 2009. Konsep desainnya adalah kendaraan urban lightweight yang stylish. Di sela kuliah yang padat dan kebutuhan dana besar, mereka terus melanjutkan proyek. Dana digalang dari para alumnus.Upaya mereka tidak sia-sia. Produksi mobil yang memakan dana Rp 180 juta itu berhasil melaju di Jalan Ganesha. Mereka kini menyempurnakan Cikal agar dapat ngebut di sirkuit Sepang.

Senin, 26/04/2010 16:20:53 WIB

ITB luncurkan mobil irit 3.200 km/liter

Oleh: Ajijah

BANDUNG (Bisnis.com): Institut Teknologi Bandung (ITB) meluncurkan tiga unit mobil prototip ramah lingkungan dan irit bahan bakar yaitu 1 liter untuk jarak tempuh 3.200 km.

Manajer Tim Rajawali Ananta Bagas mengatakan mobil ciptaan timnya akan bersaing dengan tim lainnya dari 12 negara di Asia dalam kompetisi Shell Eco-Marathon di Malaysia pada Juli.

Shell Eco-Marathon merupakan ajang kompetisi kendaraan untuk menempuh jarak terjauh dengan bahan bakar minimum. Selain dengan kompetitor luar negeri, mobil tim ITB ini akan bersaing juga dengan mobil ciptaan tim Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Universitas Indonesia, dan Universitas Gadjah Mada.

“Untuk mengikuti Shell Eco-Marathon, ITB mengembangkan tiga mobil hemat bahan bakar dan ramah lingkungan, serta menggunakan teknologi baru yang belum pernah diterapkan,” katanya di sela-sela peluncuran hari ini.

Dua mobil yaitu mobil kelas masa depan (kelas Future Concept) yang dikembangkan Tim Exia dan Rajawali, sedangkan di kelas mobil urban (Urban Concept) dikembangkan Tim Cikal.

Untuk mobil Rajawali, lanjutnya, timnya mengadopsi mesin pemotong rumput Honda GX 35 cc dengan modifikasi karburator injeksi, dan teknologi bearing keramik untuk meminimalkan gesekan roda.

Selain itu, mobil berkonsep masa depan tersebut menggunakan satu silinder berkekuatan 1,1 horse power, sedangkan untuk ban menggunakan ban sepeda ukuran 16 inchi.

Untuk rangka bodi luar, mobil yang memiliki bobot 50 kg tersebut menggunakan bahan carbon fiber. “Teknologi bearing inilah yang menjadikan mobil ini irit bahan bakar, satu liter cukup untuk menempuh jarak 3.200 km atau tiga kali bolak-balik Jakarta Surabaya,” jelasnya.

Ananta menjelaskan untuk mengemudikan mobil Rajawali tersebut, pengemudi harus berada dalam posisi rebah di dalam ruang kemudi mobil. “Untuk mengoperasikannya, tinggal menggunakan pedal kanan yang berfungsi untuk rem depan dan pedal kiri berfungsi sebagai rem belakang. Untuk gas, tinggal ditekan di tuas kemudi,” jelasnya.

Ketua Tim Exia ITB Elingselastri mengatakan mobil hemat bahan bakar dan ramah lingkungan ciptaannya menggunakan bahan bakar ethanol 100%. Selain itu, timnya menggunakan serat bambu sebagai pelapis bodi mobil.

“Mobil ini dinamakan Heave, merupakan kendaraan prototip tiga roda dengan satu penumpang, menggunakan struktur ringan,” katanya.

Adapun mobil Cikal mengusung konsep modern sesuai dengan kehidupan perkotaan saat ini yang serba praktis. Mobil ini menggunakan bahan bakar bensin dengan oktan 95.(yn)

Sumber : http://web.bisnis.com/senggang/iptek/1id177425.html

Mobil Hemat BBM ala Mahasiswa

Senin, 10 Mei 2010

Berbekal satu liter bensin, tiga mobil ciptaan mahasiswa ITB bisa menempuh jarak hingga 200 km. Namun, hingga saat ini, tim muda tersebut masih terus berupaya menemukan formula terbaik agar mobil ciptaan mereka bisa lebih hemat BBM lagi.

Dunia otomotif saat ini masih sangat bergantung pada energi fosil. Meski banyak upaya dilakukan untuk mencari penggantinya, seperti penggunaan tenaga surya, bioetanol, atau biogas, kebergantungan pada energi fosil masih sangat tinggi.

Lantaran masih belum bisa meninggalkan energi tersebut, upaya penghematan merupakan pilihan yang tidak bisa dihindari.

Meski begitu, penggunaan energi fosil yang boros harus dicari jalan keluarnya karena tidak ramah lingkungan.

Borosnya konsumsi bahan bakar ditengarai karena pembakaran mesin belum berjalan sempurna, sehingga banyak energi terbuang percuma lantaran tidak efi siennya pembakaran dan kurangnya teknologi sensor pembakaran.

Bukan hanya masalah mesin, penggunaan material besi dan tongkrongan mobil yang besar membuatnya menjadi berat. Diperlukan mesin dengan kapasitas besar agar mobil mampu berjalan sesuai harapan. Namun, pada dasarnya, ada beberapa faktor yang mesti diperhatikan agar kendaraan bisa irit bahan bakar.

Faktor itu, menurut Djoko Suharto, dosen Fakultas Teknik Mesin Institut Teknologi Bandung (ITB), antara lain terkait hambatan angin, bahan material bodi, dan rangkanya yang ringan.

Juga menyangkut gaya gesek pada poros roda, mesin dan roda yang harus dikurangi, dan melakukan modifikasi pada mesin.

Nah, keikutsertaan mahasiswa ITB dalam Shell Eco-Marathon— sebuah ajang untuk mencari kendaraan hemat BBM—sepertinya bisa menjadi inspirator dan pijakan bagi dunia otomotif di Tanah Air.

Tiga mobil konsep yang mereka perkenalkan bisa menjadi cerminan betapa kendaraan saat ini begitu boros energi.

Ketiga mobil konsep mahasiswa itu yakni Rajawali, Heave- Exia, dan Cikal, terbilang irit ketimbang mobil-mobil yang ada di jalanan saat ini.

Bukan hanya karena bentuknya yang mungil dan bodinya yang aerodinamis. Perubahan pada material dan komponennya dengan teknologi terkini membuat ketiga mobil tersebut bisa menghemat energi.

Jika dibandingkan dengan mobil-mobil yang brseliweran di jalan-jalan Ibu Kota, tentu saja buah karya anak-anak muda ITB tersebut jauh di atas. Dalam sebuah percobaan, dengan satu liter BBM, Toyota Avanza bisa menempuh jarak 10,75 hingga 14,87 km.

Sedangkan Rajawali buatan anak-anak Teknik Mesin dan Teknik Material ITB, dengan satu liter BBM dapat menempuh perjalanan sejauh 120 km. Dikatakan Ananta Bagas, Manajer Tim Rajawali, mobilnya masih kalah jauh dari Sapu Angin buatan Institut Teknologi Surabaya yang diluncurkan Januari lalu.

Sementara kompetitor Rajawali dalam ajang Shell Eco-Marathon dikabarkan dapat menempuh perjalanan hingga seribu km hanya dengan satu liter bensin.

“Kekurangan kita waktu itu masih konsentrasi pada mesin, belum sampai bodi,” ucap Bagas. Rajawali sendiri ditergetkan dapat menempuh jarak 1.000 km lebih hanya dengan satu liter bensin agar mampu berkompetisi dengan pesaing di ajang yang diikuti banyak mahasiswa dari banyak negara di Sirkuit Sepang Malaysia, Juli nanti.

Rajawali yang dikendarai dalam posisi terlentang ini memiliki panjang 2,7 meter, lebar 0,75 meter, dan tinggi 0,75 meter, dengan berat kosong 50 kg. Bisa sedemikian ringan karena bodi kendaraan tersebut dibuat dari serat karbon.

Jika dilihat lebih jauh, bentuk bodi mobil tersebut mirip kecebong, yaitu bagian ekornya mengecil. Bodinya sengaja dibuat seperti itu agar aero drag atau hambatan anginnya semakin rendah.

Namun, hingga saat ini, soal bobot masih menjadi perhatian utama, sehingga tim terus melakukan uji coba untuk mencari yang paling pas. Sedangkan mesinnya, mobil beroda tiga ini memanfaatkan mesin pemotong rumput dengan kapasitas 35 cc.

Karena masih belum puas dengan hasil uji coba, tim pun mengubah mesinnya menjadi sistem injeksi Electronic Control Unit (ECU) agar bahan bakarnya, yakni jenis Shell 95, dapat lebih irit.

Kurangi Gesekan Sementara itu, agar mampu menggelinding pada as roda digunakan bearing keramik merek SKF.

Bola-bola bearing yang terbuat dari keramik ini dipercaya dapat mengurangi gaya gesek hingga 40 persen.

Bukan hanya pada bearing teknologi terkini yang diadopsi untuk mengurangi koefi siensi gesek, untuk rodanya menggunakan jenis Michelin.

Roda dengan ukuran 20 inci ini dinilai memiliki koefi sien hambatan gelinding yang rendah, yakni hanya 0,00081 atau 13,5 persen lebih rendah dari ban sepeda.

Selain Rajawali, tim ITB lainnya ialah Heave Exia. Kendaraan tersebut lebih irit lagi karena mampu menembus 200 km untuk satu liter bahan bakarnya. Namun, menurut manajer tim Elingselasri, prestasi tersebut masih belum memuaskan mereka.

“Kami akan sedikit melakukan perubahan pada bodi mesin agar dapat menembus angin dan semakin irit,” terang dia.

Untuk bagian bodinya, tim berencana menyempurnakan bentuk dan kehalusan permukaannya. Sedangkan pada mesin, mereka masih memodifikasi karburator agar tetesannya lebih irit lagi.

Eling mengatakan pada dasarnya teknologi Heave sama seperti Rajawali, yakni kendaraan prototipe beroda tiga dengan satu penumpang.

Bedanya, pada bodi Heave memiliki panjang 3,1 meter, lebar 0,75 meter, dan tinggi 0,77 meter. Bodi Heave yang juga dibuat mirip kecebong diharapakan mampu menembus angin dengan sempurna.

Memang, agar kompetitif, Heave didesain dengan bentuk aerodinamis dan menggunakan struktur bahan ringan.

Tidak mau kalah dengan Rajawali, Heave memiliki aneka material yang dapat membuat mobil mampu menggelinding menembus angin. Bahkan mobil ini ditambah material bambu yang ringan pada bahan serat karbonnya.

Berbeda dengan Rajawali, Heave menggunakan mesin motor Kanzen berkapasitas 80 cc dengan bahan bakar etanol. Sesuai persayaratan, mobil ini memang dirancang untuk mengonsumsi bahan bakar etanol 100 persen.

Untuk bearing-nya, Heave juga menggunakan keramik dari NSK Jepang, sesuai dengan ukuran mesin dan poros as. mereka juga menggunakan ban Michelin ukuran 18 inci, atau dua inci lebih kecil dari Rajawali.

Konsep Urban Jika Rajawali dan Heave Exia mengusung mobil prototipe, lain halnya dengan Cikal. Mobil ini lebih mengedepankan urban concept.

Cikal didesain dapat memenuhi tuntutan hidup bergaya modern sesuai dengan kehidupan perkotaan saat ini yang serbapraktis, namun tetap detail. Dari segi bentuk, Cikal mendekati bentuk mobil nyata, yakni empat roda. Lihat saja bodinya yang memiliki panjang 2,5 meter, lebar 1,2 meter, dan tinggi 1,2 meter.

Dengan bobot 120 kg, Cikal masih terbilang ringan. Pasalnya, mobil ini dibuat dari baja aluminium untuk bagian rangkanya, sedangkan bodi dari serat karbon murni. Dengan bobot seberat itu, Cikal mampu menempuh jarak sekitar 150 km untuk 1 liter BBM jenis Shell 95.

Targetnya, dengan satu liter, mobil tersebut dapat mencapai 200 km pada lomba nanti. Cikal dirancang dengan daya tampung penumpang hingga 190 kilogram, dan menggunakan mesin 125 cc.

Mobil ini juga dilengkapi dengan pelindung kepala. Lantaran bentuknya yang imut, mobil ini dirancang hanya untuk satu orang penumpang.
hay/L-3

Si Hemat Energi Buatan ITB

Para perancang mobil hemat energi ini bermimpi suatu saat karya mereka akan diproduksi massal.

Melaju di atas jalan raya yang rata dan tidak menanjak, di tengah kepadatan kendaraan, dengan bahan bakar yang tidak boros. Boleh jadi, itulah yang terpatri dalam benak sejumlah mahasiswa Institut Pertanian Bogor (ITB), saat merancang prototipe mobil hemat energi yang diberi nama Cikal. Kendaraan yang dirancang menggunakan urban concept ini, menargetkan satu liter bahan bakar untuk jarak tempuh sejauh 200 kilometer.

Sesuai dengan nama mobilnya, tim Cikal yang terdiri dari 14 orang mahasiswa ITB ini, merancang kendaraan tersebut menggunakan mesin yang mampu menghemat bahan bakar. Ketua tim ini, Teuku Naraski Zahari mengatakan, desain dan gaya modern sesuai dengan gaya hidup perkotaan yang ingin serba praktis, mengilhami mereka untuk mendesain mobil Cikal.

Naraski menjelaskan, body kendaraan terbuat dari carbon fiber dengan rangka utama alumunium yang ringan dan kuat. Cikal dirancang dengan daya tampung penumpang hingga 190 kilogram dan menggunakan mesin 125 cc. Tim Cikal menggunakan juga roll bar yang berfungsi sebagai penahan kepala pengemudi saat mobil terbalik. Roll bar mampu menahan berat hingga 70 kilogram. Karena bentuknya yang imut, kendaraan ini dirancang hanya untuk satu orang penumpang saja.

Sedangkan bahan bakar yang digunakan, menurut Narazki, adalah gasoline 95 atau pertamax. “Komponen komponen mesin dan pemakaian mesin 125 cc dengan teknologi drive by wire, secara langsung mampu menghemat bahan bakar,” ujar Narazki.

Prototipe Cikal sudah dirancang sejak Februrari 2010 lalu. Narazki dan kawan-kawannya mengakui, sudah mengeluarkan biaya sekitar Rp 70 juta untuk memproduksi mobil mini tersebut. Tak hanya Cikal. Masih ada dua prototipe kendaraan hemat energi lainnya yang dirancang oleh sekelompok mahasiswa ITB. Dua kendaraan lainnya, diberi nama Rajawali dan HEAVe-EXIAyang dirancang untuk tipe futuristic prototype.

Tiga kendaraan yang dirancang oleh mahasiswa ITB tersebut, untuk menjawab tantangan sebuah kompetisi Shell Eco-marathon (SEM) yang mengharuskan sebuah rancangan kendaraan yang bisa menempuh jarak tertentu dengan konsumsi bahan bakar minimal.

Mobil tim Rajawali, dirancang untuk mampu menempuh jarak maksimal 40 kilometer per jam. Mobil ini menggunakan rangka utama dari duralumin yang ringan dan lebih kuat dibanding alumunium. Ketua tim Rajawali, Ananta Bagas mengatakan, duralumin di bagian belakang dibalut dengan teknologi terbaru, carbon fiber yang ringan dan kuat.

Keselamatan penumpang juga menjadi perhatian para perancangnya. Ini ditunjukkan dengan penyediaan safety belt, pakaian pengemudi yang menggunakan bahan tahan api, dan tabung pemadam kebakaran. Satu transmisi gigi, menurut Ananta, digunakan untuk mengantisipasi kecelakaan saat pengemudi memindahkan kopling. “Transmisi gigi lebih dari satu akan menghilangkan daya dan menjadi tidak efektif,” ujar Ananta.

Untuk pemakaian mesin, kendaraan ini mengadopsi mesin pemotong rumput Honda GX 35 cc. Mereka hanya memodifikasi karburator injeksi, ECU {Electronic Control Unit), dan teknologi bearing keramik untuk meminimalkan gesekan roda yang masih dianggap terlalu berat dan besar. “Rencananya, daya akan dikurangi lagi sehingga lebih irit,” ujar Ananta.

Mobil yang dirancang sejak Juli 2009 lalu ini, memakai bahan bakar Pertamax. Saat ini, kendaraan tersebut baru bisa memenuhi satu liter untuk jarak tempuh 1.000 kilometer. Namun, target jangka panjangnya akan disempurnakan sehingga bisa mencapai satu liter untuk 3.200 kilometer.

Proses pembuatan mobil yang menghabiskan dana sebesar Rp 50 juta ini, mampu menampung beban pengemudi 75 kilogram. Kompetisi SEM sendiri mensyaratkan kemampuan daya tampung beban adalah 50 kilogram. Namun Ananta mengatakan, cukup sulit dalam manajemen manusia untuk mengaplikasikan desain yang detail.

Selain Tim Rajawali, Tim HEAVe-EXIA juga menggunakan kategori futuristic prototype. Bedanya, jika Rajawali menggunakan bahan bakar pertamax, maka HEAVe-EXIA menggunakan Ethanol 100 persen yang rendah emisi. “Ethanol mudah didapat meskipun lebih mahal,” kata Elingselasri, ketua Tim HEAVe-EXIA.

Kendaraan yang didesain dengan tiga roda ini, mampu menahan beban satu penumpang seberat 55 kilogram. Adapun mesin yang digunakan merupakan modifikasi mesin kanzen 80 cc. Menurut Elingselasri, mereka bekerja sama dengan Kanzen Motor Indonesia untuk penyediaan mesin. Sedangkan body kendaraan mengombinasikarvcarbon fiber, serat kaca, dan serat bambu dengan rangka dari bahan stainless steel setebalsatu mili.

Menurut Elingselasri, serat karbon berfungsi sebagai penguat baja. Sedangkan serat kaca sudah biasa digunakan dalam komposisi bodi kendaraan. Eling mengatakan, serat karbon cukup mahal sehingga tidak seluruh body kendaraan menggunakannya. Sementara serat bambu sulit digunakan, namun memiliki potensi kekuatan yang sama.

Tim dengan jumlah 10 mahasiswa ini hanya mengeluarkan dana sebesar Rp 25 juta untuk proses pembuatan. Elingselasri mengungkapkan, mobil ini ditargetkan mampu menempuh jarak 1.000 kilometer per liter. Standar keamanan pada mobil HEAVe-EXIA sudah disediakan Fire Resistance, jarak antara kaki dan roll bar, sedangkan safety belt dalam tahap modifikasi. “Fitur-fitur dalam modifikasi mobil difokuskan pada optimalisasi body dan mesin mobil,” ujarnya. Sumber: http://bataviase.co.id/node/191211

Jumat 30/04/2010 10:54 WIB
Mobil Produk Mahasiswa ITB
Terhemat dan Siap Bersaing di Asia

BANDUNG | DNA – Tiga kendaraan hemat buatan mahasiswa ITB akan bersaing dengan 112 tim dari 11 negara lainnya dalam ajang Shell Eco Marathon (SEM) Asia, 8-10 Juli 2010 di Sepang,Malaysia. Dari Indonesia, selain ITB, Universitas Gajah Mada (UGM) mengirimkan 1 jenis, Institut Teknologi Surabaya (ITS) 1 jenis, dan Universitas Indonesia (UI) rencananya 3 jenis kendaraan hemat.

Ketiga kendaraan produk mahasiswa ITB tersebut dibuat tim Cikal, Rajawali, dan Heave-Exia. Kendaraan ini sengaja dibuat untuk mengikuti kompetisi tingkat Asia . Cikal akan berlaga di kategori Urban Concept, sementara Rajawali dan Heave-Exia akan bertanding di kategori Futuristic Prototype.

Menejer Tim Cikal, Teuku Naraski Zahari menjelaskan, untuk membuat kendaraan yang berkonsep urban ini timnya telah meneliti sejak Juli 2009. Sejak awal hingga menjadi sebuah kendaraan, tim Cikal ini telah mengeluarkan dana sebesar Rp 70 juta. Namun, biaya yang dikeluarkan ini akan terus bertambah karena kendaraan tim Cikal akan diperbaiki.

“Konsepnya, kendaraan yang hemat energi yang berbahan bakar bensin dan juga ringan,” tandas Naraski pada wartawan di Aula Timur ITB.

Naraski menambahkan, bahwa kendaraan tim Cikal ini belum diuji coba secara mendetail karena kampus ITB terbatas, sehingga belum berani mencoba kecepatannya dan berapa kilometer bensin yang diperlukan. Namun ditargetkan 1 liter bensin bisa digunakan untuk jarak tempuh 200 kilometer.

“Urban konsep ini untuk bisa digunakan sehari-hari, jadi desainnya mirip mobil biasa. Kalau futuristic prototype dikonsepkan untuk bahan bakar yang seirit-iritnya,” tandas Naraski.

Sementara itu menurut Menejer Tim Rajawali, Ananta Bagas Rinanta, kendaraan didesain hanya untuk satu orang, yakni pengemudi. Karena didesain untuk lomba maka ada regulasi yang ditentukan, seperti berat badan pengemudi untuk futuristic prototype maksimal 53 kilogram, sedangkan Cikal yang berlaga di kategori Urban Concept maksimal pengemudinya 70 kilogram. Mobil ini bisa menempuh 1.000-1.500 km untuk setiap liter bensin, sehingga diperkirakan bakal menjadi mobil terhemat dibandingkan dengan mobil buatan tim lainnya dari ITS, UGM dan UI.

“Struktur bodi kendaraan kami merupakan full carbon fibre. Kami menggunakan mesim pemotong rumput yang dicustom lagi,” ujar Ananta sambil ditambahkan mesinnya berkapasitas 35 cc dan bisa melaju hingga 40-50 kilometer.

Kemudian menurut tim Heave-Exia, Elingselasri, baru bisa menempuh 36 kilometer. Namun, kendaraan beroda tiga ini akan terus mengalami modifikasi hingga perlombaan nanti. Diakuinya, kendaraan ini baru dibuat saat ini karena baru ada medianya yakni perlombaan Shell Eco-Marathon Asia.

Kompetisi Shell Eco Marathon ini, tambah Naraki, akan diikuti 112 tim dari 12 negara di Asia. Dari Indonesia ada 8 tim yang akan mengikutinya yakni ITB 3 tim, UI 3 tim, ITS 1 tim dan UGM 1 tim. Lomba tingkat Asia ini baru pertama kali diselenggarakan.

Senin, 26 April 2010

Teknologi

ITB Luncurkan Mobil Hemat Energi

Bandung: Institut Teknologi Bandung (ITB) meluncurkan tiga kendaraan hemat energi hasil karya mahasiswa. Mobil-mobil tersebut akan berpartisipasi dalam kompetisi Shell Eco-Marathon Asia yang akan dilaksanakan pada Juli 2010 di Sirkuit Sepang, Malaysia.

Ketiga mobil tersebut dinamai Rajawali, Cikal dan Heave-Exia. Ananta Bagas, team leader tim Rajawali mengatakan konsep mobil-mobil ini telah dipikirkan sejak Juli 2009. Rajawali menggunakan mesin 35 cc dan berbahan bakar etanol. Bentuk kendaraan terinspirasi dari bentuk tetesan air yang aerodinamis.

“Rajawali dapat melaju hingga 50-60 kilometer per jam dan menghabiskan biaya sebesar 50 juta,” ujar Ananta Bagas kepada wartawan di ITB, Bandung, 26 April 2010.

Sedangkan Teuku Naraski Zahari, team leader Cikal mengungkapkan Cikal menggunakan mesin 125 cc dan menghabiskan biaya 40 juta. Cikal dapat melaju hingga 40 kilometer per jam.

Menurut Elingselasri, team leader Heave-Exia, Heave menghabiskan biaya 25 juta dan dapat melaju hingga 36 km/jam. Heave menggunakan mesin Kanzen 80 cc yang telah dimodifikasi.
Dia menambahkan, konsumsi bahan bakar mobil Heave Exia masih 1:200 km. Namun, dirinya optimistis pada Juli nanti bisa mendongkrak konsumsi mobil hingga 1:3.200 km. Menurutnya, rekor mobil saat ini baru 1:5.385 km.

“Kami akan terus memperbaiki mesin dan body akan direkonstruksi ulang sebelum dibawa serta dalam lomba,” ujarnya.

Rektor ITB Akhmaloka menuturkan, ITB selalu berkonsentrasi dalam bidang sains, teknologi, dan seni. Untuk itu, anggota tim Cikal, Heave –Exia, dan Rajawali diharapkan dapat menjawab tantangan ketiga bidang tersebut. “ITB mendukung inisiatif dan usaha keras setiap mahasiswa dalam mempersiapkan kendaraan mereka,” kata dia.

zonaindo.com

Selasa 27 April 2010
ITB Buat Tiga Mobil Hemat Energi

http://www.ristek.go.id/index.php?module=News%20News&id=5798

Mahasiswa Institut Teknologi Bandung mengembangkan tiga mobil hemat bahan bakar dan ramah lingkungan untuk ikut serta dalam ”Kompetisi Shell Eco-Marathon 2010” di Sirkuit Sepang, Malaysia, 8-10 Juli. Mereka akan bersaing dengan 112 tim dari 12 negara, seperti Jepang, China, Singapura, dan India.

Mereka terbagi dalam tiga kelompok. Tim HEAVe-Exia dan Rajawali turun di kelas ”Future Concept”. Adapun CikaL turun di ”Urban Concept”. Tiap-tiap kelompok pesertanya 12-17 orang.

Manajer Tim Rajawali, Ananta Bagas (22), saat peluncuran tiga mobil ini di Kampus ITB, Senin (26/4), mengatakan, timnya mengusung mesin pemotong rumput Honda GX 35 cc dengan modifikasi karburator injeksi. Selain itu, diterapkan juga teknologi bearing keramik untuk meminimalkan gesekan roda sehingga putaran mesin tidak banyak memerlukan bahan bakar. Pengurangan gesekan juga dilakukan pada sistem kopling. Jika umumnya menggunakan kopling gesek, Rajawali mengembangkan kopling magnet aplikasi dari mesin pendingin udara. Seluruh badan kendaraan menggunakan serat fiber ringan.

”Hasilnya mobil seberat 50 kilogram dengan 1 penumpang yang mampu melaju 30 kilometer per jam dengan kebutuhan bensin 1 liter bensin oktan 95 untuk 1.000-1.500 km,” ujarnya.

Untuk kategori yang sama, Tim HEAVe-Exia mengembangkan mobil hemat bahan bakar ramah lingkungan. Kepala Divisi Mesin Tim HEAVe-Exia, Bentang Arief Budiman (21), mengatakan, konsep ramah lingkungan menggunakan bahan bakar metanol dan anyaman bambu sebagai pelapis badan mobil. Untuk mengemat bahan bakar, mesinnya menggunakan Kanzen 80 cc berbahan etanol serta meminimalkan penggunaan material logam. ”Berat 48 kg tanpa penumpang dan 100 kg dengan seorang penumpang,” ujar Bentang.

Kehidupan sehari-hari

Sementara itu, konsep yang diusung CikaL berbeda dari dua kelompok lain karena harus bisa digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Manajer Tim CikaL, Teuku Naraski Zahari (22), mengatakan, tidak seperti dua kendaraan lain yang menggunakan tiga roda, panitia mengharuskan kelas ”Urban Concept” menggunakan empat roda.

Untuk mewujudkannya, CikaL membangun badan kendaraan lebih besar dengan 2,5 m x 1,2 m x 1,2 m bermesin 125 cc dengan modifikasi sistem pembakaran injeksi dan drive by wire. Jika sebelumnya katup injektor dioperasikan mesin, CikaL menggunakan sistem elektronik menggunakan kabel sebagai penggerak utama. Gunanya untuk mengoptimalkan suhu, meringankan putaran mesin, dan meringankan berat kendaraan. CikaL menargetkan mobilnya menggunakan 1 liter bensin untuk menempuh 200 km dengan maksimal dua penumpang.

Rektor ITB Ahmaloka mengatakan, ketiga mobil ini seakan menjawab tantangan dunia otomotif masa depan. (kompas.com/ humasristek)

3 comments on “Mobil Hemat Energi Buatan Anak Bangsa Indonesia: Mhs ITB

  1. Pemuda Indonesia yang berbakat dengan hasil karyanya ini mampu membawa nama baik bangsa Indonesia. Sebenarnya kita mampu menciptakan karya dengan didukung semangat yang kuat, pengetahuan, dan yang terpenting modal dari pemerintah untuk membiayai semuanya. Semoga di masa datang ada sepeda motor yang hemat bahan bakar dan ramah lingkungan yang mudah dijangkau masyarakat.

  2. PRODUK YANG BAGGUUSSS Kebanggaan indonesia…
    HanyaBeberapa Kelamahan Produk Buatan Bangsa Indonesia Yang Membuat Orang Kurang Menggermari…:
    1.Kalau dah laris Pasti Naik
    2.Kurang Meyakinkan Apakah Produk DALAM negeri ini Bakal Lanjut Atau Hanya setengah setengah aja dikarenakan Kurangnya para Pendukung nya Materil..jadi yang sudah Terlanjur
    Beli Produk INI pun Bakal Kebingungan Kemana Akan Mencari Baik itu Suku cadang nya ..atau dikatakan Mobil Gagal Produk..yeaa Ujung ujungnyakan PEmbeli Jadi Malu makainya.
    Kebanyakan Lah sdh Produk Indonesi Selalu TYerjadi apa Yang Telah Tsb Diatas…Maaf Ini Cuma masukan..Berjuang Terus Indonesiaa jgn Setengah Hati..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Atlantis in the Java Sea

A scientific effort to match Plato’s narrative location for Atlantis

Sembrani

Membahas ISU-ISU Penting bagi Anak Bangsa, Berbagi Ide, dan Saling Cinta

Wirdanova

+62811-813-1917

aawanto

The greatest WordPress.com site in all the land!

Covert Geopolitics

Beyond the Smoke & Mirrors

Catatan Harta Amanah Soekarno

as good as possible for as many as possible

Modesty - Women Terrace

My Mind in Words and Pictures

Kanzunqalam's Blog

AKAL tanpa WAHYU, akan berbuah, IMAN tanpa ILMU

Cahayapelangi

Cakrawala, menapaki kehidupan nusantara & dunia

religiku

hacking the religion

SANGKAN PARANING DUMADI

Just another WordPress.com site

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

%d blogger menyukai ini: