Tinggalkan komentar

CANDI BOROBUDUR warisan luhur bangsa

CANDI BOROBUDUR warisan luhur bangsa Indonesia

renee_borobudur01281

Arca Budha Candi Borobudur dan Bukit Manoreh courtesy ©2008 Renee Scipio

http://ariesaksono.wordpress.com/2008/01/12/candi-borobudur/

Candi Borobudur merupakan candi Budha, terletak di desa Borobudur kabupaten Magelang, Jawa Tengah, dibangun oleh Raja Samaratungga, salah satu raja kerajaan Mataram Kuno, keturunan Wangsa Syailendra. Nama Borobudur merupakan gabungan dari kata Bara dan Budur. Bara dari bahasa Sansekerta berarti kompleks candi atau biara. Sedangkan Budur berasal dari kata Beduhur yang berarti di atas, dengan demikian Borobudur berarti Biara di atas bukit. Sementara menurut sumber lain berarti sebuah gunung yang berteras-teras (budhara), sementara sumber lainnya mengatakan Borobudur berarti biara yang terletak di tempat tinggi.

borobudur_arie_0237

Stupa Candi Borobudur ©2009 arie saksono

Bangunan Borobudur berbentuk punden berundak terdiri dari 10 tingkat, berukuran 123 x 123 meter. Tingginya 42 meter sebelum direnovasi dan 34,5 meter setelah direnovasi karena tingkat paling bawah digunakan sebagai penahan. Candi Budha ini memiliki 1460 relief dan 504 stupa Budha di kompleksnya. Enam tingkat paling bawah berbentuk bujur sangkar dan tiga tingkat di atasnya berbentuk lingkaran dan satu tingkat tertinggi yang berupa stupa Budha yang menghadap ke arah barat.

http://unesdoc.unesco.org/images/0002/000200/020097E.pdf

http://www.borobudur.tv/survey_1.htm

Setiap tingkatan melambangkan tahapan kehidupan manusia. Sesuai mahzab Budha Mahayana, setiap orang yang ingin mencapai tingkat sebagai Budha mesti melalui setiap tingkatan kehidupan tersebut.

  • Kamadhatu, bagian dasar Borobudur, melambangkan manusia yang masih terikat nafsu.
  • Rupadhatu, empat tingkat di atasnya, melambangkan manusia yang telah dapat membebaskan diri dari nafsu namun masih terikat rupa dan bentuk. Pada tingkat tersebut, patung Budha diletakkan terbuka.
  • Arupadhatu, tiga tingkat di atasnya dimana Budha diletakkan di dalam stupa yang berlubang-lubang. Melambangkan manusia yang telah terbebas dari nafsu, rupa, dan bentuk.
  • Arupa, bagian paling atas yang melambangkan nirwana, tempat Budha bersemayam.

Setiap tingkatan memiliki relief-relief yang akan terbaca secara runtut berjalan searah jarum jam (arah kiri dari pintu masuk candi). Pada reliefnya Borobudur bercerita tentang suatu kisah yang sangat melegenda, bermacam-macam isi ceritanya, antara lain ada relief-relief tentang wiracarita Ramayana, ada pula relief-relief cerita jātaka. Selain itu, terdapat pula relief yang menggambarkan kondisi masyarakat saat itu. Misalnya, relief tentang aktivitas petani yang mencerminkan tentang kemajuan sistem pertanian saat itu dan relief kapal layar merupakan representasi dari kemajuan pelayaran yang waktu itu berpusat di Bergotta (Semarang).

borobudur_arie_0232

Salah satu relief pada Candi Borobudur ©2009 arie saksono

Keseluruhan relief yang ada di candi Borobudur mencerminkan ajaran sang Budha. Seorang budhis asal India bernama Atisha, pada abad ke 10, pernah berkunjung ke candi yang dibangun 3 abad sebelum Angkor Wat di Kamboja dan 4 abad sebelum Katedral Agung di Eropa ini. Berkat mengunjungi Borobudur dan berbekal naskah ajaran Budha dari Serlingpa (salah satu raja Kerajaan Sriwijaya), Atisha mampu mengembangkan ajaran Budha. Ia menjadi kepala biara Vikramasila dan mengajari orang Tibet tentang cara mempraktekkan Dharma. Enam naskah dari Serlingpa pun diringkas menjadi sebuah inti ajaran disebut “The Lamp for the Path to Enlightenment” atau yang lebih dikenal dengan nama Bodhipathapradipa.

renee_borobudur01981

Arca Budha - Dharmacakra Mudra courtesy ©2008 Renee Scipio

Salah satu pertanyaan yang kini belum terjawab tentang Borobudur adalah bagaimana kondisi sekitar candi ketika dibangun dan mengapa candi itu ditemukan dalam keadaan terkubur. Beberapa mengatakan Borobudur awalnya berdiri dikelilingii rawa kemudian terpendam karena letusan Merapi. Hal tersebut berdasarkan prasasti Kalkutta bertuliskan ‘Amawa’ berarti lautan susu. Kata itu yang kemudian diartikan sebagai lahar Merapi, kemungkinan Borobudur tertimbun lahar dingin Merapi. Desa-desa sekitar Borobudur, seperti Karanganyar dan Wanurejo terdapat aktivitas warga membuat kerajinan. Selain itu, puncak watu Kendil merupakan tempat ideal untuk memandang panorama Borobudur dari atas. Gempa 27 Mei 2006 lalu tidak berdampak sama sekali pada Borobudur sehingga bangunan candi tersebut masih dapat dikunjungi.

Sejarah Candi Borobudur

Sekitar tiga ratus tahun lampau, tempat candi ini berada masih berupa hutan belukar yang oleh penduduk sekitarnya disebut Redi Borobudur. Untuk pertama kalinya, nama Borobudur diketahui dari naskah Negarakertagama karya Mpu Prapanca pada tahun 1365 Masehi, disebutkan tentang biara di Budur. Kemudian pada Naskah Babad Tanah Jawi (1709-1710) ada berita tentang Mas Dana, seorang pemberontak terhadap Raja Paku Buwono I, yang tertangkap di Redi Borobudur dan dijatuhi hukuman mati. Kemudian pada tahun 1758, tercetus berita tentang seorang pangeran dari Yogyakarta, yakni Pangeran Monconagoro, yang berminat melihat arca seorang ksatria yang terkurung dalam sangkar.

borobudur_arie_0234

Arca Budha dalam relung Candi Borobudur ©2009 arie saksono

Arca Budha dalam relung Candi Borobudur ©2009 arie saksono

Pada tahun 1814, Thomas Stamford Raffles mendapat berita dari bawahannya tentang adanya bukit yang dipenuhi dengan batu-batu berukir. Berdasarkan berita itu Raffles mengutus Cornelius, seorang pengagum seni dan sejarah, untuk membersihkan bukit itu. Setelah dibersihkan selama dua bulan dengan bantuan 200 orang penduduk, bangunan candi semakin jelas dan pemugaran dilanjutkan pada 1825. Pada 1834, Residen Kedu membersihkan candi lagi, dan tahun 1842 stupa candi ditinjau untuk penelitian lebih lanjut.

Nama Borobudur

Mengenai nama Borobudur sendiri banyak ahli purbakala yang menafsirkannya, di antaranya Prof. Dr. Poerbotjoroko menerangkan bahwa kata Borobudur berasal dari dua kata Bhoro dan Budur. Bhoro berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti bihara atau asrama, sedangkan kata Budur merujuk pada kata yang berasal dari Bali Beduhur yang berarti di atas. Pendapat ini dikuatkan oleh Prof. Dr. WF. Stutterheim yang berpendapat bahwa Borobudur berarti Bihara di atas sebuah bukit.

Prof. JG. De Casparis mendasarkan pada Prasasti Karang Tengah yang menyebutkan tahun pendirian bangunan ini, yaitu Tahun Sangkala: rasa sagara kstidhara, atau tahun Caka 746 (824 Masehi), atau pada masa Wangsa Syailendra yang mengagungkan Dewa Indra. Dalam prasasti didapatlah nama Bhumisambharabhudhara yang berarti tempat pemujaan para nenek moyang bagi arwah-arwah leluhurnya. Bagaimana pergeseran kata itu terjadi menjadi Borobudur? Hal ini terjadi karena faktor pengucapan masyarakat setempat.

Pembangunan Candi Borobudur

Candi Borobudur dibuat pada masa Wangsa Syailendra yang Buddhis di bawah kepemimpinan Raja Samarotthungga. Arsitektur yang menciptakan candi, berdasarkan tuturan masyarakat bernama Gunadharma. Pembangunan candi itu selesai pada tahun 847 M. Menurut prasasti Kulrak (784M) pembuatan candi ini dibantu oleh seorang guru dari Ghandadwipa (Bengalore) bernama Kumaragacya yang sangat dihormati, dan seorang pangeran dari Kashmir bernama Visvawarman sebagai penasihat yang ahli dalam ajaran Buddis Tantra Vajrayana. Pembangunan candi ini dimulai pada masa Maha Raja Dananjaya yang bergelar Sri Sanggramadananjaya, dilanjutkan oleh putranya, Samarotthungga, dan oleh cucu perempuannya, Dyah Ayu Pramodhawardhani.

Sebelum dipugar, Candi Borobudur hanya berupa reruntuhan seperti halnya artefak-artefak candi yang baru ditemukan. Pemugaran selanjutnya oleh Cornelius pada masa Raffles maupun Residen Hatmann, setelah itu periode selanjutnya dilakukan pada 1907-1911 oleh Theodorus van Erp yang membangun kembali susunan bentuk candi dari reruntuhan karena dimakan zaman sampai kepada bentuk sekarang. Van Erp sebetulnya seorang ahli teknik bangunan Genie Militer dengan pangkat letnan satu, tetapi kemudian tertarik untuk meneliti dan mempelajari seluk-beluk Candi Borobudur, mulai falsafahnya sampai kepada ajaran-ajaran yang dikandungnya. Untuk itu dia mencoba melakukan studi banding selama beberapa tahun di India. Ia juga pergi ke Sri Langka untuk melihat susunan bangunan puncak stupa Sanchi di Kandy, sampai akhirnya van Erp menemukan bentuk Candi Borobudur. Sedangkan mengenai landasan falsafah dan agamanya ditemukan oleh Stutterheim dan NJ. Krom, yakni tentang ajaran Buddha Dharma dengan aliran Mahayana-Yogacara dan ada kecenderungan pula bercampur dengan aliran Tantrayana-Vajrayana.

Penelitian terhadap susunan bangunan candi dan falsafah yang dibawanya tentunya membutuhkan waktu yang tidak sedikit, apalagi kalau dihubung-hubungkan dengan bangunan-bangunan candi lainnya yang masih satu rumpun. Seperti halnya antara Candi Borobudur dengan Candi Pawon dan Candi Mendut yang secara geografis berada pada satu jalur.

Materi Candi Borobudur

Candi Borobudur merupakan candi terbesar kedua setelah Candi Ankor Wat di Kamboja. Luas bangunan Candi Borobudur 15.129 m2 yang tersusun dari 55.000 m3 batu, dari 2 juta potongan batu-batuan. Ukuran batu rata-rata 25 cm X 10 cm X 15 cm. Panjang potongan batu secara keseluruhan 500 km dengan berat keseluruhan batu 1,3 juta ton. Dinding-dinding Candi Borobudur dikelilingi oleh gambar-gambar atau relief yang merupakan satu rangkaian cerita yang terususun dalam 1.460 panel. Panjang panel masing-masing 2 meter. Jika rangkaian relief itu dibentangkan maka kurang lebih panjang relief seluruhnya 3 km. Jumlah tingkat ada sepuluh, tingkat 1-6 berbentuk bujur sangkar, sedangkan tingkat 7-10 berbentuk bundar. Arca yang terdapat di seluruh bangunan candi berjumlah 504 buah. Tinggi candi dari permukaan tanah sampai ujung stupa induk dulunya 42 meter, namun sekarang tinggal 34,5 meter setelah tersambar petir.

Stupa Candi Borobudur ©2009 arie saksono

Menurut hasil penyelidikan seorang antropolog-etnolog Austria, Robert von Heine Geldern, nenek moyang bangsa Indonesia sudah mengenal tata budaya pada zaman Neolithic dan Megalithic yang berasal dari Vietnam Selatan dan Kamboja. Pada zaman Megalithic itu nenek moyang bangsa Indonesia membuat makam leluhurnya sekaligus tempat pemujaan berupa bangunan piramida bersusun, semakin ke atas semakin kecil. Salah satunya yang ditemukan di Lebak Sibedug Leuwiliang Bogor Jawa Barat. Bangunan serupa juga terdapat di Candi Sukuh di dekat Solo, juga Candi Borobudur. Kalau kita lihat dari kejauhan, Borobudur akan tampak seperti susunan bangunan berundak atau semacam piramida dan sebuah stupa. Berbeda dengan piramida raksasa di Mesir dan Piramida Teotihuacan di Meksiko Candi Borobudur merupakan versi lain bangunan piramida. Piramida Borobudur berupa kepunden berundak yang tidak akan ditemukan di daerah dan negara manapun, termasuk di India. Hal tersebut merupakan salah satu kelebihan Candi Borobudur yang merupakan kekhasan arsitektur Budhis di Indonesia.

Misteri seputar Candi Borobudur

Sampai saat ini ada beberapa hal yang masih menjadi bahan misteri seputar berdirinya Candi Borobudur, misalnya dalam hal susunan batu, cara mengangkut batu dari daerah asal sampai ke tempat tujuan, apakah batu-batu itu sudah dalam ukuran yang dikehendaki atau masih berupa bentuk asli batu gunung, berapa lama proses pemotongan batu-batu itu sampai pada ukuran yang dikehendaki, bagaimana cara menaikan batu-batu itu dari dasar halaman candi sampai ke puncak, alat derek apakah yang dipergunakan?. Gambar relief, apakah batu-batu itu sesudah bergambar lalu dipasang, atau batu dalam keadaan polos baru dipahat untuk digambar. Dan mulai dari bagian mana gambar itu dipahat, dari atas ke bawah atau dari bawah ke atas? masih banyak lagi misteri yang belum terungkap secara ilmiah, terutama tentang ruang yang ditemukan pada stupa induk candi dan patung Budha, di pusat atau zenith candi dalam stupa terbesar, diduga dulu ada sebuah patung penggambaran Adibuddha yang tidak sempurna yang hingga kini masih menjadi misteri.

sir-thomas-raffles
Sir Thomas Stamford Raffles

Kronologis Penemuan dan pemugaran Borobudur

  • 1814 – Sir Thomas Stamford Raffles, Gubernur Jenderal Britania Raya di Jawa, mendengar adanya penemuan benda purbakala di desa Borobudur. Raffles memerintahkan H.C. Cornelius untuk menyelidiki lokasi penemuan, berupa bukit yang dipenuhi semak belukar.
  • 1873 – monografi pertama tentang candi diterbitkan.
  • 1900 – pemerintahan Hindia Belanda menetapkan sebuah panitia pemugaran dan perawatan candi Borobudur.
  • 1907 – Theodoor van Erp memimpin pemugaran hingga tahun 1911.
  • 1926 – Borobudur dipugar kembali, tapi terhenti pada tahun 1940 akibat krisis malaise dan Perang Dunia II.
  • 1956 – pemerintah Indonesia meminta bantuan UNESCO. Prof. Dr. C. Coremans datang ke Indonesia dari Belgia untuk meneliti sebab-sebab kerusakan Borobudur.
  • 1963 – pemerintah Indonesia mengeluarkan surat keputusan untuk memugar Borobudur, tapi berantakan setelah terjadi peristiwa G-30-S.
  • 1968 – pada konferensi-15 di Perancis, UNESCO setuju untuk memberi bantuan untuk menyelamatkan Borobudur.
  • 1971 – pemerintah Indonesia membentuk badan pemugaran Borobudur yang diketuai Prof.Ir.Roosseno.
  • 1972 – International Consultative Committee dibentuk dengan melibatkan berbagai negara dan Roosseno sebagai ketuanya. Komite yang disponsori UNESCO menyediakan 5 juta dolar Amerika Serikat dari biaya pemugaran 7.750 juta dolar Amerika Serikat. Sisanya ditanggung Indonesia.
  • 10 Agustus 1973 – Presiden Soeharto meresmikan dimulainya pemugaran Borobudur; pemugaran selesai pada tahun 1984
  • 21 Januari 1985 – terjadi serangan bom yang merusakkan beberapa stupa pada candi Borobudur yang kemudian segera diperbaiki kembali.
  • 1991 – Borobudur ditetapkan sebagai Warisan Dunia UNESCO.

©2008 arie saksono

Sumber:

  • Soekmono, R. DR., Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia 2, Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 1973.
  • Ismail Kusmayadi, “Harta Karun Itu Bernama Candi Borobudur”, Pikiran Rakyat Cyber Media, Sabtu, 02 Juli 2005.
  • Soekmono, R. DR., Candi Borobudur – Pusaka Budaya Umat Manusia , Jakarta: Pustaka Jaya, 1978.
  • Berbagai sumber lain:

BOROBUDUR : ANCIENT CEREMONIAL CENTER

by Richadiana Kartakusuma

Struktur Borobudur

Candi Borobudur: Candi Borobudur berbentuk punden berundak, yang terdiri dari enam tingkat berbentuk bujur sangkar, tiga tingkat berbentuk bundar melingkar dan sebuah stupa utama sebagai puncaknya. Selain itu tersebar di semua tingkat-tingkatannya beberapa stupa.

Borobudur yang bertingkat sepuluh menggambarkan secara jelas filsafat mazhab Mahayana. bagaikan sebuah kitab, Borobudur menggambarkan sepuluh tingkatan Bodhisattva yang harus dilalui untuk mencapai kesempurnaan menjadi Buddha.

Bagian kaki Borobudur melambangkan Kamadhatu, yaitu dunia yang masih dikuasai oleh kama atau “nafsu rendah”. Bagian ini sebagian besar tertutup oleh tumpukan batu yang diduga dibuat untuk memperkuat konstruksi candi. Pada bagian yang tertutup struktur tambahan ini terdapat 120 panel cerita Kammawibhangga. Sebagian kecil struktur tambahan itu disisihkan sehingga orang masih dapat melihat relief pada bagian ini.

Empat lantai dengan dinding berelief di atasnya oleh para ahli dinamakan Rupadhatu. Lantainya berbentuk persegi. Rupadhatu adalah dunia yang sudah dapat membebaskan diri dari nafsu, tetapi masih terikat oleh rupa dan bentuk. Tingkatan ini melambangkan alam antara yakni, antara alam bawah dan alam atas. Pada bagian Rupadhatu ini patung-patung Buddha terdapat pada ceruk-ceruk dinding di atas ballustrade atau selasar.

Mulai lantai kelima hingga ketujuh dindingnya tidak berelief. Tingkatan ini dinamakan Arupadhatu (yang berarti tidak berupa atau tidak berwujud). Denah lantai berbentuk lingkaran. Tingkatan ini melambangkan alam atas, di mana manusia sudah bebas dari segala keinginan dan ikatan bentuk dan rupa, namun belum mencapai nirwana. Patung-patung Buddha ditempatkan di dalam stupa yang ditutup berlubang-lubang seperti dalam kurungan. Dari luar patung-patung itu masih tampak samar-samar.

Stupa-stupa di Borobudur: Tingkatan tertinggi yang menggambarkan ketiadaan wujud dilambangkan berupa stupa yang terbesar dan tertinggi. Stupa digambarkan polos tanpa lubang-lubang. Di dalam stupa terbesar ini, diduga dulu ada sebuah patung penggambaran Adibuddha. Patung yang diduga berasal dari stupa terbesar ini kini diletakkan dalam sebuah museum arkeologi, beberapa ratus meter dari candi Borobudur. Patung ini dikenal dengan nama unfinished Buddha.

Di masa lalu, beberapa patung Buddha bersama dengan 30 batu dengan relief, dua patung singa, beberapa batu berbentuk kala, tangga dan gerbang dikirimkan kepada Raja Thailand, Chulalongkorn yang mengunjungi Hindia Belanda (kini Indonesia) pada tahun 1896 sebagai hadiah dari pemerintah Hindia Belanda ketika itu.

Borobudur tidak memiliki ruang-ruang pemujaan seperti candi-candi lain. Yang ada ialah lorong-lorong panjang yang merupakan jalan sempit. Lorong-lorong dibatasi dinding mengelilingi candi tingkat demi tingkat. Di lorong-lorong inilah umat Buddha diperkirakan melakukan upacara berjalan kaki mengelilingi candi ke arah kanan. Bentuk bangunan tanpa ruangan dan struktur bertingkat-tingkat ini diduga merupakan perkembangan dari bentuk punden berundak, yang merupakan bentuk arsitektur asli dari masa prasejarah Indonesia. Struktur Borobudur bila dilihat dari atas membentuk struktur mandala.

Relief: Di setiap tingkatan dipahat relief-relief pada dinding candi. Relief-relief ini dibaca sesuai arah jarum jam atau disebut mapradaksina dalam bahasa Jawa Kuna yang berasal dari bahasa Sansekerta daksina yang artinya ialah timur. Relief-relief ini bermacam-macam isi ceritanya, antara lain ada relief-relief tentang wiracarita Ramayana. Ada pula relief-relief cerita jātaka.

Pembacaan cerita-cerita relief ini senantiasa dimulai, dan berakhir pada pintu gerbang sisi timur disetiap tingkatnya, mulainya disebelah kiri dan berakhir disebelah kanan pintu gerbang itu. Maka secara nyata bahwa sebelah timur adalah tangga naik yang sesungguhnya (utama) dan menuju puncak candi, artinya bahwa candi menghadap ke timur meskipun sisi-sisi lainnya serupa benar. Adapun susunan dan pembagian relief cerita pada dinding dan langkan candi , adalah sbb:

Karmawibhangga: Salah satu ukiran Karmawibhangga di dinding candi Borobudur (lantai 0 sudut tenggara) Sesuai dengan makna simbolis pada kaki candi, relief yang menghiasi dinding batur yang terselubung tersebut, menggambar-kan hukum karma. Deretan relief tersebut bukan merupakan cerita seri (serial), tetapi pada setiap pigura menggambar-kan suatu cerita yang mempunyai korelasi sebab akibat.

Relief tersebut tidak saja memberi gambaran terhadap perbuatan tercela manusia disertai dengan hukuman yang akan diperolehnya, tetapi juga perbuatan baik manusia dan pahala. Secara keseluruhan merupakan penggambaran kehidupan manusia dalam lingkaran lahir-hidup-mati (samsara) yang tidak pernah berakhir, dan oleh agaman Budha rantai tersebutlah yang diakhiri untu menuju kesempurnaan.

Lalitawistara: Merupakan penggambaran riwayat Sang Buddha dalam deretan relief-relief (tetapi bukan merupakan riwayat yang lengkap ) yang dimulai dari turunnya Sang Buddha dari sorga Tusita, dan berakhir dengan wejangan pertama di Taman Rusa dekat kota Banaras. Relief ini berderet dari tangga pada sisi sebelah selatan, setelah melampui deretan relief sebanyak 27 pigura yang dimulai dari tangga sisi timur.

Ke 27 pigura tersebut menggambarkan kesibukan, baik di sorga maupun di dunia, sebagai persiapan untuk menyambut hadirnya penjelmaan terakhir Sang Bodhisattwa selaku calon Buddha. Relief tersebut menggambarkan lahirnya Sang Buddha di arcapada ini sebagai Pangeran Siddhartha, putra Raja Suddhodana dan Permaisuri Maya dari Negeri Kapilawastu. Relief tersebut berjumlah 120 pigura, yang berakhir dengan wejangan pertama, yang secara simbolis dinyatakan sebagai Pemutaran Roda Dharma, ajaran Sang Buddha di sebut dharma yang juga berarti “hukum” sedangkan dharma dilambangkan sebagai roda.

Jataka dan Awadana: Jataka adalah cerita tentang Sang Buddha sebelum dilahirkan sebagai Pangeran Siddharta. Isinya merupakan pokok penonjolan perbuatan baik, yang membedakan Sang Bodhisattwa dari mahluk lain manapun juga. Sesungguhnya, pengumpulan jasa / perbuatan baik merupakan tahapan persiapan dalam usaha menuju keringkat ke buddhaan.

Sedangkan Awadana, pada dasarnya hampir sama dengan Jataka akan tetapi pelakunya bukan Sang Bodhisattwa, melainkan orang lain dan ceritanya dihimpun dalam kitab Diwyawadana yang berarti perbuatan mulia kedewaan, dan kitab Awadanasataka atau seratus cerita Awadana. Pada relief candi Borobudur jataka dan awadana, diperlakukan sama, artinya keduanya terdapat dalam deretan yang sama tanpa dibedakan. Himpunan yang paling terkenal dari kehidupan Sang Bodhisattwa adalah Jatakamala atau untaian cerita Jataka, karya penyair Aryasura dan jang hidup dalam abad ke-4 Masehi.

Gandawyuha: Merupakan deretan relief menghiasi dinding lorong ke 2,adalah cerita Sudhana yang berkelana tanpa mengenal lelah dalam usahanya mencari Pengetahuan Tertinggi tentang Kebenaran Sejati oleh Sudhana. Penggambarannya dalam 460 pigura didasarkan pada kitab suci Buddha Mahayana yang berjudul Gandawyuha, dan untuk bagian penutupnya berdasarkan cerita kitab lainnya yaitu Bhadracari.

Tahapan pembangunan Borobudur

  1. Tahap pertama: Masa pembangunan Borobudur tidak diketahui pasti (diperkirakan antara 750 dan 850 M). Pada awalnya dibangun tata susun bertingkat. Sepertinya dirancang sebagai piramida berundak. tetapi kemudian diubah. Sebagai bukti ada tata susun yang dibongkar.
  2. Tahap kedua: Pondasi Borobudur diperlebar, ditambah dengan dua undak persegi dan satu undak lingkaran yang langsung diberikan stupa induk besar.
  3. Tahap ketiga: Undak atas lingkaran dengan stupa induk besar dibongkar dan dihilangkan dan diganti tiga undak lingkaran. Stupa-stupa dibangun pada puncak undak-undak ini dengan satu stupa besar di tengahnya.
  4. Tahap keempat: Ada perubahan kecil seperti pembuatan relief perubahan tangga dan lengkung atas pintu

Penemuan dan pemugaran Borobudur

  • 1814 – Sir Thomas Stamford Raffles, Gubernur Jenderal Britania Raya di Jawa, mendengar adanya penemuan benda purbakala di desa Borobudur. Raffles memerintahkan H.C. Cornelius untuk menyelidiki lokasi penemuan, berupa bukit yang dipenuhi semak belukar.
  • 1873 – monografi pertama tentang candi diterbitkan.
  • 1900 – pemerintahan Hindia Belanda menetapkan sebuah panitia pemugaran dan perawatan candi Borobudur.
  • 1907 – Theodoor van Erp memimpin pemugaran hingga tahun 1911.
  • 1926 – Borobudur dipugar kembali, tapi terhenti pada tahun 1940 akibat krisis malaise dan Perang Dunia II.
  • 1956 – pemerintah Indonesia meminta bantuan UNESCO. Prof. Dr. C. Coremans datang ke Indonesia dari Belgia untuk meneliti sebab-sebab kerusakan Borobudur.
  • 1963 – pemerintah Indonesia mengeluarkan surat keputusan untuk memugar Borobudur, tapi berantakan setelah terjadi peristiwa G-30-S.
  • 1968 – pada konferensi-15 di Perancis, UNESCO setuju untuk memberi bantuan untuk menyelamatkan Borobudur.
  • 1971 – pemerintah Indonesia membentuk badan pemugaran Borobudur yang diketuai Prof.Ir.Roosseno.

Batu peringatan pemugaran candi Borobudur dengan bantuan UNESCO

  • 1972 – International Consultative Committee dibentuk dengan melibatkan berbagai negara dan Roosseno sebagai ketuanya. Komite yang disponsori UNESCO menyediakan 5 juta dolar Amerika Serikat dari biaya pemugaran 7.750 juta dolar Amerika Serikat. Sisanya ditanggung Indonesia.
  • 10 Agustus 1973 – Presiden Soeharto meresmikan dimulainya pemugaran Borobudur; pemugaran selesai pada tahun 1984
  • 21 Januari 1985 – terjadi serangan bom yang merusakkan beberapa stupa pada candi Borobudur yang kemudian segera diperbaiki kembali.
  • 1991 – Borobudur ditetapkan sebagai Warisan Dunia UNESCO
  • 26 FEBRUARI 1983

Sang budha tegak kembali borobudur untuk apa

DUA buah derek raksasa, yang tahunan mengungguli tinggi candi, telah disingkirkan. Peti-peti kayu, yang tadinya berserakan, juga tak tampak lagi. Sejak awal 1983, pekerjaan di seputar candi Borobudur tinggal mematut-matuti lingkungan agar tampak rapi dan bersih. Kantor proyek dibersihkan dan dicat kembali. Juga pendapa besar dibenahi untuk pameran. Pekan lalu, menjelang candi memasuki upacara purna pugar 23 Februari sebuah Stasiun Bumi Kecil dipasang di dekat kantor proyek. Sebuah prasasti peresmian mendapat elusan tangan terakhir, sementara pohon hias mulai ditata di sekelilingnya. Secara keseluruhan, candi tampak bersih. Dinding-dindingnya telah tegak kembali. Tubuh sang Budha yang tadinya penuh panu (lichen) kini tampak lebih berseri. Ada 4.814 batu pengganti baru (replacing stones) yang membantu memperkokoh candi. Semuanya diberi tanda putih untuk membedakan batu asli lama. Batu pengganti ini cuma sekitar 4% dari seluruh jumlah batu candi yang dibongkar: 29.000 m3. Tetapi relief atau pancuran berukir yang tidak bisa diselamatkan lagi terpaksa harus ditambal dengan batu polos bersegi demi kokohnya bangunan. Di beberapa sela-sela batu, tampak timah hitam lempengan menyembul sebagai landasan penyaring air. Setelah dipugar, cantikkah Borobudur kini? Dr. Soekmono yang empunya kera tertegun. Lebih dari 10 tahun dia “bergaul” dengan candi ini. Ahli purbakala yang biasa mempunyai motto ngawula watu (mengabdi kepada batu) ini menarik napas panjang. Ketika peresmian purna pugar tinggal 7 hari lagi, keluar perasaannya. “Saya kaget. Saya agak kecewa,” katanya pada TEMPO. Dia berpendapat bahwa jenggreng (postur) Borobudur kini berbeda. “Romantiknya kini tak ada lagi. Warnanya berubah.” Sebelum dipugar, warna Borobudur hitam, bercampur abu-abu keputihan karena dia berpanu. “Kini jadi polycolour,” kata Dr. Soekmono lagi. Ada kuning, ada warna pucat lainnya. Mungkin ini akibat kerja beberapa peneliti lain. Sebab untuk memperjelas pemotretan, dipakai bahan pewarna, oker kuning. Sejak pertama kali Borobudur ditemukan, niat untuk memugarnya telah tercetus. Tetapi selalu tertunda dan terputus. Di samping itu, Borobudur banyak mengundang ahli-ahli purbakala dan mereka selalu berusaha mendokumentasikan candi agung ini. Terutama reliefnya yang indah. Tahun 1885, J.W. Ijzerman berhasil mengungkapkan 200 relief yang selama ini tertutup di kaki candi terbawah. Hal-hal yang baik dan buruk, masalah hukum akibat perbuatan manusia, semua tertera dengan apiknya dalam Karmawibhanggo. Lima tahun berikutnya, pemerintah Hindia Belanda menetapkan sebuah panitia pemugaran dan perawatan Borobudur. Mulai 1907-1911, Theodore van Erp mengadakan pemugaran. Pertama kali yang terbesar dalan sejarah hidupnya candi itu kembali. Pemugaran berikutnya, 1926-1940, tetap tertunda-tunda. Ada maleise, ada perang. Tahun 1960, pemerintah Indonesia mencanangkan bahwa candi berada dalam keadaan yang sangat kritis. Saat itu telah dipikirkan bagaimana caranya menghidupkan Borobudur 1000 tahun lagi. Karya van Erp dilakukan secara tambal sulam saja. Kemudian keluar SK pemerintah berikut penyediaan anggaran khusus, di tahun 1963. Pemugaran juga tidak jalan karena laju inflasi yang menderas dari peristiwa G30S di tahun 1965. Tahun 1966, pemugaran yang baru dalam tahap penelitian dihentikan sama sekali karena ketiadaan biaya. Dalam kongres Orientalist ke-27 di AS, 1967, keluar keputusan agar Borobudur segera diselamatkan. Tahun berikutnya muncul dua orang ahli dari UNESCO untuk mengadakan penelitian di tempat. Tahun 1972, rencana kerja yang lebih terpadu telah rampung dibuat. Tanggal 10 Agustus 1973, Presiden Soeharto meresmikan dimulainya pemugaran secara sungguhan. Ketua Pelaksana Pembangunan Candi, Prof. Ir. Roosseno waktu itu mengatakan bahwa memugar Borobudur harus alon-alon angger kelakon. Lambat asal bisa terlaksana. Nyatanya baru bisa rampung 10 tahun kemudian. Ada beberapa sebab mengapa Borobudur menderita kerusakan. Peruma-tama, fondamen candi cuma sebuah bukit kecil yang tidak kuat menyangga beban berat ratusan ribu m3 batu. Lagi pula cara membuat fondasi cuma terdiri dari tanah uruk dan bingkah-bingkah batu, padahal Desa Borobudur termasuk daerah gempa. Selain itu batu-batunya tidak padat (porous) sehingga mudah aus. Lebih-lebih teriknya matahari di kawasan tropis ini. Musuh yang paling utama lainnya ialah air. Di musim hujan, guyuran hujan rata-rata sampai 100 mm per hari. Sehingga batu gunung jenis andesit ini bagaikan karet spons yang gemar mengisap air. Permukaan batu, terutama lekukan ukiran, menjadi geripis. Suatu proses fisiko-kimiawi dan biologi telah terjadi. Batu menjadi berpanu (lichen, algea, moss) atau berbisul (pustula). Sejak semula, maksud pemugaran ini bukan untuk tujuan persembahyangan umat Budha. “Borobudur adalah sebuah dead monument,” kata Dirjen Kebudayaan Departemen P&K Prof. Dr. Haryati Soebadio. Menurut dia, apa yang dimaksud dengan living monument adalah bangunan kuno yang masih berfungsi. “Borobudur adalah benteng kebudayaan yang harus dipertahankan,” demikian Soekmono. Ahli sejarah Prof. Dr. Sartono Kartodirdjo menganggap candi ini sebagai “indikator dari derajat integrasi masyarakat.” Dorongan untuk mendirikan candi sebesar itu memerlukan terpadunya kekuasaan politik, sosial, kultural dan religi yang membuahi sebuah solidaritas meluas. Walaupun biayanya besar (“biaya dalam arti luas, yaitu ekonomi, sosial politik”), Borobudur bukan sekadar proyek mercu suar, tetapi suatu pertanda surplusnya keadaan ekonomi. Dataran antara Kali Elo dan Progo tempat candi itu berdiri, adalah dataran yang subur. Tentang tenaga kerja, Sartono mengingatkan hal kedudukan raja waktu itu. Raja adalah wakil dewa di bumi. Sehingga kerik aji (mobilisasi umum) adalah lumrah. Rakyat rela menyediakan tenaganya, rakyat rela dikenakan pajak untuk dan demi Borobudur. Dasar yang kukuh lainnya ialah penghayatan agama. “Semua itu menunjang kekuasaan politik raja, di samping kemampuan teknologi,” ujar Sartono. Karena itu, monumen bersejarah ini harus dipugar. Tahun 1975-1976, barulah dimulai pembongkaran 6 tingkat penampang persegi candi. Dimulai dari sisi utara dan selatan, kemudian menyusul sisi lainnya. Hasil restorasi van Erp cukup sempurna sehingga 4 tingkat berikutnya — bagian candi yang penuh stupa — dirasa cukup kuat dan tak perlu dibongkar. Pencatatan, pemotretan batu-batu yang akan dibongkar, pembongkaran, pemindahan batu ke lokasi tertentu, pengecoran fondasi beton, membersihkan batu dengan aneka zat pembersih kimiawi dan pekerjaan yang rumit dan memerlukan ketelitian tinggi, segera dimulai. Ada sekitar 300.000 batu yang harus dibongkar. Atau 29.000 m2 batu harus dicatat dan dipotret dari berbagai sisi dan posisi. Selain itu ada sekitar 10.000 batu yang berserakan bertahuntahun lamanya, harus pula disetel dicocokkan ke candi. Selain itu, sekitar 6.000 m3 batu dinyatakan “sakit” dan memerlukan perawatan khusus. Penyakit tiap sisi candi sangat erat hubungannya dengan keadaan cuaca. Pada sisi timur, kerusakan biologis, kecil. Tetapi besar kerusakan karena kemis, endapan garam yang menimbulkan proses kimia. Oker kuning yang dipakai van Erp ternyata menimbulkan kerusakan kemis. Tetapi sinar matahari cukup banyak, sehingga batu di sisi timur cukup kering. Kerusakan di sisi selatan, karena kurang mendapat sinar matahari (matahari di Borobudur ternyata lebih banyak berada di utara), terjadi kerusakan biologis. Demikian pula sisi utara dan barat, karena kelembaban rata-rata sampai 90%. Batu-batu yang dirumahsakitkan ini disikat dengan sikat ijuk. Ada pula yang harus dikorek pelan-pelan dengan jarum. Setelah bersih, batu kemudian diguyur dengan pasta, kemudian dicopot, diberi zat pembersih kimiawi dan terakhir dimasukkan ke ruang hampa udara. Proses itu memerlukan waktu dua minggu untuk setiap batu. Kemudian pekerjaan melompat ke hal rumit lainnya. Bagaikan anak kecil bermain dengan jigsaw puzzle, tidak banyak berbeda dengan menata kembali batu-batu candi ke tempat semu!a. Tetapi dalam jumlah yang ratusan ribu. Untung ada komputer. Lewat alat ultra modern ini, tiap batu dicatat. Komputer juga bertindak sebagai kontrol manajemen pekerjaan. Setiap kali dia memberikan tanda kemajuan perencanaan kerja. Bahkan ia mengingatkan mana pekerjaan yang akan menghasilkan keterlambatan atau kemajuan. Tugas komputer yang ketiga dan tersulit ialah menjodohkan batu ke asalnya. Terutama untuk mencocokkan tubuh-tubuh Budha yang tanpa kepala dengan kepala-kepala Budha yang tadinya berserakan. Menjodoh-jodohkan kepala Budha dengan tubuhnya ini telah dilakukan sejak 1969 Bermula dilakukan cara yang paling sederhana tapi cukup merepotkan. Yaitu dengan membawa kepala Budha yang beratnya sekitar 15 kg ke sekitar 280 patung Budha tanpa kepala. Tentu cara ini paling tidak efektif. Tahun 1973, kemudian dicoba dengan membuat cetakan dari sebagian leher pada kepala. Seorang pegawai purbakala kemudian berkeliling mencari leher lain yang jodoh. Hasilnya pun tak banyak. Tahun 1975, “kami mencoba menawarkan jasa kami,” kata Vijay K. Khandelwal, insinyur IBM Australia yang khusus diproyeksikan untuk Borobudur. Semula para arkeolog angkat bahu. Prof. Roosseno juga turut bertanya: “Apa yang bisa dilakukan oleh sebuah komputer?” Khandelwal terus terang juga angkat bahu. G. Sumariyono, Kepala Pemasaran IBM, orang yang pertama kali mempunyai ide ingin membantu Borobudur dengan komputer, juga geleng kepala. Selama 6 bulan pertama, pihak IBM mencoba mencari-cari pekerjaan. Komputerisasi pekerja terlalu kecil. Proyek Borobudur cuma memakai tenaga sekitar 700 orang. Di bidang lain seperti penyelidikan tanah, foto dan bagian lainnya, kurang efektif. Akhirnya IBM bisa dipakai untuk mencatat data, perencanaan dan menjodohkan letak semula batu. Meskipun Khandelwal dan teman-temannya bekerja sampai tahun 1977 saja, masuknya komputer di proyek pemugaran ini merupakan katalisator semangat kerja. Kewalahan kerja yang dicatat komputer menjadi mengecil, karena jauh sebelumnya teknologi modern ini telah memberi tanda peringatan. “Kalau dijumlah dalam bentuk uang,” kata Khandelwal, “tidak berarti sama sekali.” Tetapi jasa yang lebih besar adalah dilatihnya sekitar 30 orang tamatan SMA setempat tentang bagaimana menggunakan komputer. Pemakaian komputer untuk bidang arkeologi memang bukan pertama kali di Borobudur. Sebelumnya, UNESCO telah menerapkan komputer di proyek Abu Simbel, patung raksasa di zaman Mesir berfiraun. Ketika bendungan Aswan dibuat, Abu Simbel ini terendam air dan berhasil dinaikkan. Tetapi tidak ada laporan tertulis yang kemudian bisa dikaji. Untuk proyek Borobudur, paling sedikit ada 3 buku laporan tentang hal ini. Dalam hal ini, aplikasi komputer dapat diandalkan. Cuma dalam menjodoh-jodohkan kepala Budha, komputer harus berhadapan dengan faktor alami. Sebab kalau batu sudah aus, komputer kehilangan kemampuannya. Khandelwal mengatakan bahwa sampai Mei 1977, cuma ada 6 kepala Budha yang menurut dugaan komputer cocok. “Tapi kata akhir ada di tangan arkeolog,” ujarnya. “Kami cuma memberikan data yang di mata awam tampaknya juga jodoh.” Tapi tidak jodoh di pikiran dan perasaan ahli purbakala. Di sinilah muncul konflik antara Ilmu Eksakta dan Ilmu Sosial. Menurut Khandelwal, kalau batu-batu itu dicocokkan secara manual — tanpa bantuan komputer — “seluruh pekerjaan akan selesai dalam waktu 70 tahun,” ujarnya. “Ah, saya rasa, tanpa kami-kami ini, Borobudur sekarang belum selesai,” kata Ahmad Kahardi, 69 tahun, seorang tukang setel batu. Sebanyak 20 orang seperti Pak Ahmad dipekerjakan di proyek ini dengan gaji rata-rata Rp 1.200 per hari. Bermula dari tukang angkat batu-batu candi, mereka kemudian diminta membantu menerapkan kembalinya batu ke tempat semula. Dan jadilah mereka pekerja dengan pengalaman di atas 20 tahunan. “Pengalaman kami karena terbiasa,” kata Abdul Kamari, “sebab batu yang tidak jodoh itu akan terasa di perasaan dan tangan kami.” Mereka bekerja tanpa melihat foto. Juga tidak memahami jalan ceritera yang ada di relief. Dan semuanya berpendapat bahwa memugar candi Prambanan lebih mudah ketimbang Borobudur. Prambanan lebih gampang dicocokkan, sementara di Borobudur batu dan patung-patungnya banyak yang sama. Belum lagi harus dicocokkan dengan salah satu dari empat sisi candi asal batu tersebut. Tidak jarang, seharian penuh mereka tidak bisa menjodohkan batu. “Di saat itulah, kami tidak enak makan dan tidur,” kata Wakijo, 72 tahun. Secara resmi, pemugarannya selesai Februari ini. Cuma 10 tahun, sedangkan pemugaran gugusan Loro Jonggrang di Prambanan telah menelan waktu 35 tahun (1918-1953). Perkiraan biaya semula, cuma US$ 7,75 juta (1973). Sejak semulaUNESCO menyanggupi akan menyumbang sebesar US$ 6 juta. Kenyataannya, seluruh pembiayaan untuk menolong kemusnahan Borobudur ini menja di US$ 25 juta. UNESCO sampai 31 Juli 1982, telah berhasil mengumpulkan dana sebesar US$ 6.500.630. Uang ini adalah hasil kampanye UNESCO lewat radio, film, prangko, poster dan pameran Borobudur di seantero negeri. Jepang sebagai negara penyumbang terbesar (US$ 1.150 ribu) dari 23 negara. Penyumbang terkecil adalah Cyprus (US$ 484,80). Selain itu ada pula penyumbang swasta seperti American Committee for Borobudur (US$ 1.280.036) dan Japanese Association for the Restoration of Borobudur (US$ 10.296,20). Pemerintah Indonesia ternyata membiayai 75% dari seluruh biaya pemugaran. Ditambah lagi dengan biaya peresmian yang kabarnya menelan biaya ratusan juta rupiah. Mahal? Rupanya memang tidak ada batas harga untuk suatu karya besar bersejarah seperti Borobudur. Selain itu banyak pula “hasil sampingan” yang menguntungkan. “Kami telah belajar cara-cara konservasi,” ujar Samidi Kepala Sektor Kemiko-arkeologi. Kini ada sekitar 40 kemiko-arkeolog yang tersebar di berbagai museum di Indonesia. Asal muasal mereka belajar ya ketika Borobudur dipugar. Kini Indonesia menjadi pusat studi konservasi monumen untuk kawasan ASEAN. Hasil sampingan lainnya selama pemugaran Borobudur ialah ditemukannya sejumlah gerabah yang diperkirakan alat upacara, ribuan stupika dari tanah liat, lempeng perak, timah hitam dan emas. Temuan itu didapat di pelataran depan pendapa. Mungkin dulu ada semacarn padepokan, karena tampak bekas fondasi meskipun hanya sebagian. Lempengan dengan tulisan Pallawa itu ternyata catatan mantra-mantra. “Tampaknya di bagian selatan dan barat candi digunakan sebagai tempat upacara pemujaan,” kata Drs. Boechori, epigraph dari FSUI. Masalah lain, apa tindakan selanjutnya kalau Borobudur telah dipugar? “Perawatan,” jawab Soekmono cepat. Reaksi dari disembuhkannya batu-batu yang sakit perlu pula diteliti. Samidi menyatakan paling tidak harus ada 70 orang yang merawat candi. Selain laboratorium, nanti ada pula pusat studi Borobudur. “Dan itulah saatnya saya menulis dan mencoba menyingkap misteri Borobudur,” kata Soekmono. Menurut bekas Kurator Borobudur dan Prambanan Drs. Harsono, ceritera yang ada di relief Borobudur baru berhasil diungkapkan 20% saja. Lepas dari masalah penelitian ilmiah itu, Soekmono berkata mantap: “Batas kemampuan manusia itu jelas ada. Secara maksimal, kita cuma memperlambat kemusnahan Borobudur.”


“Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo” Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-3916160

Download versi digitalnya :
1. iPad : melalui aplikasi Scoop. Klik disini
2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini 
3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini 

Terima Kasih.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Atlantis in the Java Sea

A scientific effort to match Plato’s narrative location for Atlantis

Sembrani

Membahas ISU-ISU Penting bagi Anak Bangsa, Berbagi Ide, dan Saling Cinta

Wirdanova

+62811-813-1917

aawanto

The greatest WordPress.com site in all the land!

Covert Geopolitics

Beyond the Smoke & Mirrors

Catatan Harta Amanah Soekarno

as good as possible for as many as possible

Modesty - Women Terrace

My Mind in Words and Pictures

Kanzunqalam's Blog

AKAL tanpa WAHYU, akan berbuah, IMAN tanpa ILMU

Cahayapelangi

Cakrawala, menapaki kehidupan nusantara & dunia

religiku

hacking the religion

SANGKAN PARANING DUMADI

Just another WordPress.com site

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

%d blogger menyukai ini: