Tinggalkan komentar

Wawancara Frithjof Schuon

Wawancara Frithjof Schuon

Share

Monday, June 14, 2010 at 3:24am

Wawancara

Frithjof Schuon: Pertanyaan dan Jawaban

I. Spiritualitas

Pertanyaan (T): Anda telah menulis lebih dari dua puluh buku mengenai agama dan spiritualitas. Buku pertama Anda berjudul The Transcendent Unity of Religions (Kesatuan Transendensi Agama-Agama). Bagaimana seseorang seharusnya memahami kesatuan ini?

Frithjof Schuon (FS): Titik awal kami adalah pengakuan atas fakta bahwa terdapat anekaragam agama yang saling mengeksklusikan satu sama lain. Hal ini dapat berarti bahwa satu agama adalah benar dan semua yang lain adalah salah; bisa juga berarti bahwa semuanya adalah salah. Pada kenyataannya, hal itu berarti semuanya benar, [tapi] tidak pada eksklusifisme dogmatis mereka, melainkan pada kesepakatan signifikansi batin mereka, yang bertepatan dengan metafisika murni, atau dalam kata lain, dengan philosophia perennis.

T: Bagaimana kita tahu bahwa makna metafisika ini adalah kebenaran?

FS: Perspektif metafisika didasarkan pada intuisi intelektual, yang dengan sifat mendasarnya adalah mutlak atau sempurna lantaran intuisi intelektual merupakan suatu visi dari intelek murni, sedangkan filsafat profan beroperasi hanya dengan menggunakan nalar, oleh karena itu dengan asumsi dan kesimpulan logis.

T: Apakah intelektual murni ini adalah dasar agama?

FS: Perspektif keagamaan, dogmatik atau teologi adalah berdasarkan wahyu; tujuan utamanya adalah, tidak untuk menjelaskan sifat dasar sesuatu atau prinsip-prinsip universal, melainkan untuk menyelamatkan manusia dari dosa dan kutukan, dan juga, untuk membangun sebuah keseimbangan realitas sosial.

T.: Jika kita memiliki agama, yang menyelamatkan kita, mengapa kita juga memerlukan metafisika?

FS: Hal itu dikarenakan metafisika memenuhi kebutuhan bakat intelektualitas manusia. Kebenaran metafisika tidak hanya menyoroti pikiran kita, melainkan metafisika juga menembus keseluruhan diri kita; oleh sebab itu, metafisika jauh melampaui filsafat dalam pengertian kata biasanya.

T: Pada tingkat spiritual, apa yang dibutuhkan setiap manusia?

FS: Tiga hal: kebenaran, praktik spiritual, moral. Kemurnian dan ketersingkapan kebenaran serupa dengan metafisika; dogma-dogma keagamaan adalah simbol-simbol kebenaran metafisika; pemahaman mendalam mengenai simbolisme agama adalah esoterisme. Metafisika murni tersembunyi di dalam tiap agama.

T.: Dan bagaimana dengan praktik spiritual?

FS: Praktik spiritual pada dasarnya adalah doa. Ada tiga bentuk doa: pertama, doa kanonikal, misalnya Doa Bapa; kedua, doa pribadi, doa yang terbaik dari model ini adalah yang diberikan oleh Mazmur; ketiga, doa kontemplatif dari hati; ini adalah spiritualitas mistikal, yang memerlukan kondisi tertentu. Kisah dari “Ziarah Orang Rusia” menawarkan suatu citra mengenai hal tersebut; juga teks Hindu mengenai japa-yoga, doa atau permohonan metodikal.

T.: Dan bagaimana dengan moral?

FS: Hal ini adalah, setelah kebenaran dan praktik spiritual, dimensi ketiga dari kehidupan spiritual. Di satu sisi, moral berarti suatu perilaku layak, sehat dan kemurahan hati; pada sisi lain, moral berarti keindahan jiwa, oleh karena itu ia adalah kemuliaan intrinsik. Tanpa kualitas ini, doktrin dan praktik spiritual akan menjadi sia-sia.

T: Anda sebelumnya menyebutkan intuisi intelektual. Apakah setiap manusia tidak memiliki fakultas ini?

FS: Ya dan tidak. Pada prinsipnya, setiap manusia memiliki kemampuan inteleksi, karena alasan sederhana bahwa manusia adalah manusia; tetapi dalam kenyataannya, intuisi intelektual—“mata hati”— tersembunyi tak tersentuh, boleh dikatakan, lantaran degenerasi dari spesies manusia. Jadi kita dapat mengatakan bahwa intelektual murni adalah suatu anugerah dan bukan fakultas [pengetahuan] manusia pada umumnya.

T: Apakah mungkin untuk mengembangkan intuisi puncak ini?

FS: Tidak ada kebutuhan untuk mengembangkannya. Manusia dapat diselamatkan oleh iman semata. Akan tetapi, suatu yang jelas bahwa pribadi saleh atau kontemplatif memiliki intuisi lebih kuat daripada pribadi duniawi.

II. Seni

T: Apa pendapat Anda mengenai peranan seni dalam eksistensi spiritual manusia?

FS: Kita dapat mengatakan bahwa setelah moral, seni –dalam pengertian seluas-luasnya dari kata itu—merupakan suatu dimensi alamiah dan niscaya dari kondisi manusia. Plato berkata, “Keindahan adalah kemegahan dari kebenaran.” Jadi, bisa kita katakan bahwa seni—termasuk keahlian—adalah suatu proyeksi kebenaran dan keindahan pada dunia bentuk; itu adalah ipso facto suatu proyeksi arketip-arketip. Dan hal itu pada dasarnya adalah suatu eksteriorisasi dalam melihat suatu interiorisasi; seni tidak berarti penyebaran, teta[i berarti konsentrasi, kembali ke jalan Tuhan. Setiap peradaban tradisional telah menciptakan suatu kerangka keindahan: suatu alam, secara ekologis diperlukan di kitaran kehidupan spiritual.

T: Apa kriteria untuk mengetahui nilai sebuah karya seni, pada tingkat inspirasinya?

FS: Arketip-arketip seni sakral adalah inspirasi-inspirasi selestial ; semua karya seni lain menarik inspirasi mereka dari personalitas spiritual sang seniman. Kriteria untuk mengetahui nilai sebuah karya seni adalah: isi karya seni, modus ekspresi dan teknik serta gayanya.

T: Adakah kriteria yang berbeda untuk berbagai jenis seni: lukisan, patung, tari, musik, puisi, arsitektur?

FS: Tidak, kriteria tersebut tidak berbeda untuk berbagai jenis seni.

T: Dengan keindahan, ada satu yang mungkin disebut suatu elemen ambigu, karena keindahan dapat menghasilkan kebesaran diri duniawi atau sebaliknya untuk mengingat Yang Ilahi. Apakah ini mengenai seni tertentu—musik, puisi dan tari, misalnya—yang membuat elemen ambigu tersebut lebih terasa di dalamnya?

FS: Lukisan dan patung adalah suatu cara yang lebih serebral dan objektif daripada puisi, musik dan tari, yang lebih psikis dan subyektif; sehingga elemen ambigu tersebut lebih dirasakan di tiga seni ini.

T: Bisakah seseorang mengatakan bahwa konsep Hindu darshan merupakan suatu aplikasi dalam pengalaman seni dan keindahan?

FS: Tentu saja, konsep Hindu darshan berlaku untuk setiap pengalaman estetika atau artistik; tapi dalam hal ini juga melibatkan persepsi mental dan auditif, tidak hanya visi.

T: Bisakah seseorang mengatakan bahwa ada hubungan alamiah antara keindahan dalam arti seluas-luasnya dan esoterisme?

FS: Ya, terdapat hubungan antara keindahan dan esoterisme, lantaran “Keindahan adalah kemegahan dari Kebenaran.” Seni tradisional adalah esoterik, bukan eksoterik. Eksoterik tertarik pada moral, bukan keindahan; bahkan bisa terjadi bahwa eksoterisme bertentangan dengan keindahan, lantaran adanya prasangka moralistik.

T: Bisakah dibenarkan untuk mengatakan bahwa esoterisme memiliki hak-hak tertentu dalam hal seni dan keindahan yang mentransendensikan batasan dan larangan yang ditetapkan oleh pelbagai eksoterisme?

FS: Pada prinsipnya, esoterisme memiliki hak-hak tertentu yang mentrandensikan larangan-larangan eksoterisme, tetapi pada kenyataannya, esoterisme jarang dapat menggunakan hak tersebut. Namun, hal itu telah terjadi, misalnya, dalam kasus tarian darwis atau lukisan-lukisan Tibet yang mengesankan tanpa malu.

T: Selain “seni murni”, ada—di Jepang, misalnya—seni mengatur bunga, upacara teh, bahkan seni beladiri, yang (atau pada awalnya) dikenal sebagai manifestasi-manifestasi suatu keadaan spiritual. Bagaimana hal itu bisa dipahami seperti itu bahwa suatu aktivitas harian seperti mempersiapkan teh bisa menjadi wahana suatu berkah spiritual?

FS: Seni Zen—seperti Upacara Teh –menjelaskan cara tertentu dari tatacara tindakan Buddha, atau bisalah kita katakan: Manusia Primordial; Buddha tidak pernah memiliki pedang, tetapi jika dia memiliki pedang, dia akan melakukannya seperti seorang Master Zen. Bertindak seperti Buddha—bahkan di tingkat seperti mempersiapkan teh—berarti: untuk mengasimilasikan sesuatu dari Alam-Buddha; itu adalah pintu terbuka kepada Pencerahan.

T: Seni modern tidaklah tradisional. Apakah ini berarti bahwa karya seni modern niscaya buruk?

FS: Tidak, lantaran karya seni modern—modern dalam pengertian luasnya—mungkin memanifestasikan kualitas-kualitas yang berbeda, baik itu pada isi serta proses berseni dan juga sang seniman. Beberapa karya-karya tradisional buruk, dan beberapa karya-karya nontradisional bagus.

T: Apa yang dimaksud dengan seni bagi seniman itu sendiri?

FS: Karena membuat karya seni luhur, sang seniman bekarya demi jiwanya sendiri; dengan cara, dia menciptakan arketip miliknya sendiri. Oleh karena itu, praktik setiap seni merupakan suatu cara atau jalan realisasi-diri, baik itu secara prinsip maupun faktanya. Dengan subjek tidak penting atau bahkan negatif, seniman barangkali tetap tidak terpengaruh, namun dengan subjek yang luhur dan sangat mendalam, dia bekarya dengan hatinya.

III. Primordialitas

T: Buku Anda, The Feathered Sun, memperlihatkan minat Anda pada orang Indian Amerika. Apa yang membuat Anda tertarik dengan hal tersebut?

FS: Kaum Indian Merah—dan khususnya orang Indian Plains –memiliki banyak kesamaan dengan para samurai Jepang, yang sangat sering mempraktikkan spiritualitas Zen; berbicara secara moral dan estetik, Indian Plains adalah salah satu kaum atau masyarakat paling memesona di dunia. Adalah suatu kesalahan besar abad ke-19 yang membedakan hanya antara “orang beradab” dan “orang tidak beradab”; terdapat pembedaan lain yang jauh lebih riil dan penting, karena jelas bahwa “peradaban” dalam pengertian biasanya bukanlah nilai tertinggi dari umat manusia, dan juga bahwa istilah “tidak beradab” tidak sesuai untuk orang Indian. Apa yang membuat bernilai seseorang itu bukanlah kultur atau praktik duniawinya atau juga inteligensi penemuannya, melainkan sikapnya dalam menghadapi Yang Absolut; dan orang yang memiliki pemahaman akan Yang Absolut tidak pernah lupa akan hubungan antara manusia dan Alam, karena Alam adalah asal-usul kita, tanah air alamiah kita dan Pesan Tuhan paling jelas. Bagi sejarawan Arab, Ibn Khaldun, kondisi peradaban yang paling alamiah adalah keseimbangan antara anggota suku nomadik Arab dan penghuni kota, yang berarti antara orang-orang nomad dan penghuni tetap; antara anak-anak Alam yang sehat dan mereka yang mewakili elaborasi nilai-nilai kultural.

T: Buku seni Anda, The Feathered Sun, dan khususnya Images of Primordial and Mystic Beauty berurusan dengan misteri ketelanjangan sakral. Bisakah Anda menjelaskan makna perspektif ini dalam beberapa kata?

FS: Ketelanjangan sakral—yang memainkan peranan penting tidak hanya dengan orang Hindu tetapi juga dengan orang Indian Merah—didasarkan pada persesuaian analogi antara “sisi paling luar” dan “sisi paling dalam”: sehingga tubuh terlihat sebagai “hati yang tereksteriorkan”, dan hati untuk bagiannya “menyerap” karena hal itu merupakan proyeksi badaniah; “pertemuan ekstrem”. Dikatakan, di India, ketelanjangan tersebut menyokong penerangan pengaruh spiritual; dan juga bahwa ketelanjangan feminin yang khususnya dimanifestasikan Lakshmi dan konsekuensinya memiliki efek bermanfaat pada kitarannya. Dalam suatu cara yang samasekali umum, ekspresi-ekspresi ketelanjangan—dan yang hampir teraktualkan—kembali kepada esensi, asal, arketip, sehingga sampai pada keadaan selestial: “Dan lantaran hal itu, telanjang, saya menari,” seperti yang dikatakan Lala Yogishvari, perempuan suci agung Kashmir, setelah menemukan Diri Ilahi di dalam hatinya. Untuk memastikan, di dalam ketelanjangan terdapat ambiguitas de facto lantaran sifat dasar nafsu manusia; tapi tidak hanya terdapat sifat dasar nafsu, melainkan juga terdapat anugerah kontemplasitivitas yang dapat menetralkan hal itu, sebagaimana yang terjadi, dengan tepat contoh itu [disebut] dengan “ketelanjangan sakral”; dengan cara yang sama, terdapat tidak hanya bujukan dari apa yang terlihat, juga terdapat transparansi fenomena metafisis yang mengizinkan seseorang untuk merasakan esennsi arketipal melalui pengalaman sensorik. St. Nonnos, tatkala dia melihat St. Pelagia memasuki kolam pembaptisan dengan telanjang, memuji Tuhan karena mengenalkan keindahan manusia tidak hanya pada suatu peristiwa kejatuhan, melainkan juga pada suatu peristiwa kenaikan menuju Tuhan.

IV. Pesan

T: Apa yang akan menjadi pesan Anda untuk orang-orang pada umumnya?

FS: Doa. Menjadi manusia berarti menjadi terkoneksikan dengan Tuhan. Kehidupan tidak memiliki makna tanpa ini. Doa dan keindahan, tentu saja; karena kita hidup di antara bentuk-bentuk dan tidak mengawang. Keindahan jiwa pertama, dan kemudian keindahan simbol-simbol di sekitar kita.

T: Anda telah bicara mengenai metafisika. Apa isi utama dari filsafat perennial itu?

FS: Metafisika pada esensinya berarti: pemahaman mendalam antara Yang Riil dan yang tampak, atau yang ilusif; dalam istilah Vedantic: Atma dan Maya; Yang Ilahi dan kosmik. Metafisika juga memfokuskan pada akar-akar Maya di dalam Atma,—ini adalah Personifikasi Ilahi, penciptaan dan penyingkapan Tuhan—dan kemudian dengan proyeksi Atma ke dalam Maya—ini berarti bahwa segala sesuatu itu positif atau baik di dunia. Dan ini adalah esensial: metafisika mensyaratkan asimilasi pengetahuan intelektual, psikis dan moral; kearifan mensyaratkan konsentrasi, kontemplasi dan kesatuan atau kemanunggalan. Oleh karena itu, teori metafisika bukanlah suatu filsafat dalam pengertian modern; metafisika secara esensial adalah sakral. Pemahaman sakral merupakan suatu kualifikasi yang sangat diperlukan untuk realisasi metafisikalitas, karena hal tersebut diperuntukan setiap jalan spiritual. Bagi Indian Merah, seperti juga untuk Hindu, segala sesuatu di alam adalah suci; [untuk] hal ini, manusia modern harus belajar, lantaran merupakan permasalahan ekologi dalam pengertian katanya yang luas. Apa yang pertama diperlukan, adalah doa; dan kemudian kembali ke Alam! Seseorang bisa berkeberatan bahwa hal itu terlalu terlambat; saat ini, setiap orang bertanggung jawab atas apa yang dia perbuat—bukan bertanggung jawab atas perbuatan orang lain—lantaran setiap orang berdiri di hadapan Tuhan dan dapat melakukan apa yang dipinta untuk kekekalan jiwanya. Langkah pertama kembali ke Alam merupakan kemartabatan; martabat dari bentuk dan perilaku; hal ini menciptakan iklim yang dalam doa-doa terasa di rumah, lantaran kemartabatan mengambil bagian Kebenaran yang tak berubah.

:: [terjemahan Indonesia, 2008] ::

Sumber dari: Blog-Hikmah Perennial Institute

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Atlantis in the Java Sea

A scientific effort to match Plato’s narrative location for Atlantis

Sembrani

Membahas ISU-ISU Penting bagi Anak Bangsa, Berbagi Ide, dan Saling Cinta

Wirdanova

+62811-813-1917

aawanto

The greatest WordPress.com site in all the land!

Covert Geopolitics

Beyond the Smoke & Mirrors

Catatan Harta Amanah Soekarno

as good as possible for as many as possible

Modesty - Women Terrace

My Mind in Words and Pictures

Kanzunqalam's Blog

AKAL tanpa WAHYU, akan berbuah, IMAN tanpa ILMU

Cahayapelangi

Cakrawala, menapaki kehidupan nusantara & dunia

religiku

hacking the religion

SANGKAN PARANING DUMADI

Just another WordPress.com site

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

%d blogger menyukai ini: