1 Komentar

APOKALIPTISISME DAN MILLERIANISME

APOKALIPTISISME DAN MILLERIANISME
Bagian II Apokaliptisisme dan Teokrasi Amerika

Abdul Hadi W. M.

Berdasarkan makna etimologisnya seperti yang telah dikemukakan dalam awal tulisan ini, perkataan apokaliptisik bisa diberi arti sebagai “penyingkapan tanda-tanda tersembunyi berkenaan dengan datangnya akhir zaman melalui pewahyuan.” Berbeda dengan pengakuan profetik (nubuwa) terhadap eskatologi yang menggunakan ta’wil atau penafsiran simbolik, pengakuan apokaliptik didasarkan atas penafsiran harfiah terhadap teks-teks suci dalam Perjanjian Lama dan Baru. Karena itu pandangan apokaliptik meyakini bahwa pada akhir zaman peristiwa-peristiwa besar yang tersembunyi, yang akan menimbulkan bencana dan kerusakan total, akan disingkap oleh Tuhan kepada umat manusia.

Teks-teks apokaliptik ini merangkum uraian tentang peristiwa masa depan, dan pada umumnya lahir pada masa-masa terjadinya krisis besar dalam kehidupan politik. Menurut Smithals (2004) tujuannya ialah untuk meneguhkan keyakinan penganut Kristen dengan menyingkap kerusakan yang dilakukan penguasa atau kaum yang dipandang durjana secara religius. Di dalamnya juga terdapat janji kemenangan bagi orang yang beriman (orang Yahudi kepada Messiah yang merupakan keturunan Daud, orang Kristen kepada Isa Almasih).

Kepercayaan semacam ini terdapat dalam semua agama, termasuk Islam, Hindu dan Buddha. Dalam tradisi agama Semit, mula-mula orang Yahudilah yang mengembangkannya dengan mencampurkannya dengan prinsip-prinsip eskatologi Zoroaster dan Gnostisisme Yunani. Titik awal perkembangannya dapat dilacak pada peristiwa dihancurkannya kerajaan Israel oleh Nebukadnesar dari Babylonia pada abad ke-6 SM yang menyebabkan ribuan orang Yahudi dibuang ke Babylon. Pada abad ke-2 SM ketika terjadi Perang Yunani yang menyebabkan mereka gagal mendirikan kerajaan di tanah yang dijanjikan, dan terutama pada pertengahan abad ke-1 SM ketika pasukan Romawi menduduki Palestina (Syria, Yordania, Libanon dan Palestina sekarang), apokaliptisisme Yahudi mencapai kematangan dan menemukan bentuknya yang muktamad (definitif).

Kepercayaan seperti itu tumbuh pula pada masa-masa berikutnya di kalangan orang Kristen dan Islam, karena banyaknya orang Yahudi memeluk agama ini dan memasukkan kepercayaan mereka di kalangan Kristen dan Muslim yang awal. Dalam perkembangannya, apokaliptisisme tidak hanya mengambil corak religius, tetapi tidak jarang bercorak sekular. Terutama setelah zaman Pencerahan pada abad ke-18 di Eropa yang melahirkan paham-paham seperti rasionalisme, humanisme, idealisme, materialisme, evolusionisme, dan lain-lain. Ia juga bisa merupakan pandangan pribadi dan kelompok. Aspek negatif dan positif, serta kekaburan pandangan, kerap berbaur dan lebur dalam kepercayaan ini. Pesimisme dan optimisme bisa pula muncul darinya, tergantung bagaimana orang menyikapi dan menindaklanjuti gagasan-gagasan yang terdapat dalam kepercayaan ini.

Tema tentang apokaliptisisme banyak dijumpai dalam karya sastra dan lukisan, dan pada abad ke-20 dalam film, lagu, tayangan televisi, novel-novel popular dan serius. Di antara film-film apokaliptik termasuk The Day After Tomorrow, Armageddon, The End of Evangelion, The Road Warrior, dan lain-lain. Lagu popular bernada apokaliptik ialah Last Day on Earth (Duran Duran), Progenies of the Great Apocalypse (Dimnu Borgir) dan King of the World (Steely Dan). Novel atau fiksi termasuk serial Left Behind (Tim LaHaye dan Jerry B. Jenkins), Its Only Temporary (Eric Shapiro) dan Survivors (Zion Ben-Jonah).

Ia juga mempengaruhi kehidupan politik, misalnya melalui gerakan Zionisme Kristen yang menggagaskan berdirinya negara Israel pada abad ke-20. Gerakan-gerakan lain yang muncul dari buaian apokaliptisisme di antaranya ialah milleniarisme, pietisme, salvasionisme, messianisme, mahdisme, transhumanisme, dan lain sebagainya. Gerakan-gerakan keagamaan terkenal yang berpegang teguh pada apokaliptisisme selain Zionisme Kristen ialah The Qumran Essenes, The Millerites, The Jehovah’s Witness (Kesaksian Yehova), The Seventh Day Adventist.

Gerakan-gerakan ini pada umumnya melahirkan pandangan hitam putih yang ekstrim. Terlebih apabila menjelma sebagai gerakan politik. Kawan dan lawan, rekan dan musuh dibedakan secara tegas. Musuh selalu dipandang sebagai kelompok yang berada dalam poros kejahatan. Tidak jarang ia melahirkan paham konspirasisme. Dalam pandangan ini lawan boleh dituduh sebagai agen kekuatan jahat yang berkonspirasi dengan agen jahat lain untuk menghancurkan keberadaan kelompok mereka yang berpihak kepada kebaikan seperti demokrasi, pluralisme, kebebasan, dan lain-lain.

Demikian kita lihat betapa kepercayaan eskatologi yang bercorak apokaliptik berakar kuat terutama dalam Protestanisme. Ini tidak mengherankan karena sejak awal Gereja Katholik mengambil sikap kritis terhadap apokaliptisme. Mereka memandang bahwa eskatologi yang terdapat dalam kitab suci dimaksudkan sebagai ajaran untuk mendorong penganut Kristen menyongsong masa depan melalui sakramen. Keselamatan hanya bisa diperoleh setelah manusia mati melalui penyucian diri (purgatory) dan penebusan dosa sewaktu seseorang masih hidup. Sebaliknya panganut apokaliptisisme berpegang pada pendirian bahwa eskatologi kitab suci mengandung makna yang mengharuskan manusia berperan aktif untuk mencapai tujuan yang dimaksud melalui gerakan-gerakan yang mampu merubah keadaan.

Kemenangan gereja Katholik atas kekaisaran Romawi pada abad ke-5 M membuat lunturnya kepercayaan ini di kalangan penganut Kristen di Eropa hingga abad ke-13 M. Tetapi dengan munculnya gerakan reformasi pada abad ke-15 M, dan terutama dengan munculnya Protestanisme pada abad ke-16 M, apokaliptisisme bangkit kembali dan tumbuh subur di kalangan penganut agama Kristen. Kebangkitan itu ditandai antara lain dengan tampilnya sekelompok teolog yang tidak puas terhadap kehidupan agama yang dikuasai Gereja Katholik. Mereka merasakan penguasa gereja berlaku tidak adil dan bertindak sewenang-wenang terhadap tokoh-tokoh gerakan reformasi. Paus yang akan datang malah mereka gambarkan sebagai Antichrist.

Pada masa Reformasi, Martin Luther – pendiri Protetanisme – pernah memaklumkan bahwa akhir zaman sudah dekat. Karena itu dia menyerukan agar kaum pembaru (reformis) segera mengambil langkah tegas untuk menyelamatkan dunia seraya menyongsong datangnya Isa Almasih. Walaupun pada akhir abad ke-16 dan awal abad ke-17 M pengaruh apokaliptisisme ini agak memudar berkat pengaruh humanisme dan rasionalisme, tetapi kelompok-kelompok Kristen fanatik masih berpegang pada dogma tersebut. Misalnya seperti tampak dalam gerakan Anabaptis. Gerakan ini berusaha mendirikan kerajaan Tuhan melalui jalan kekerasan. Dampak buruk dari kepercayaan ini di Jerman telah mendorong lahirnya Article XVII Konfesi Augsburg yang menyatakan bahwa kepercayaan apokaliptik sebenarnya merupakan doktrin agama Yahudi. Karena itu untuk beberapa waktu lamanya kepercayaan apokaliptik menjadi luntur.

Tetapi pada akhir abad ke-18 bersamaan dengan bangkitnya kesadaran akan sejarah, apokaliptisisme tampil kembali dalam pentas keagamaan di Eropa. Ketika itulah lahir apa yang disebut sebagai Teologi Penyelamatan atau Salvasionis. Ajaran kelompok ini didasarkan antara lain pada dua buah buku karangan Hess berjudul Life of Jesus (3 jilid) dan Of the Kingdom of God: An Essay on the Plan of God’s Prarsions and Revelations.

APOKALIPTISISME DI AMERIKA

Di Amerika apokaliptisisme mendapat penerimaan luas lagi di kalangan orang Protestan yang pada umumnya berasal dari negara-negara Anglo Saxon. Pada abad ke-19 M kepercayaan ini melahirkan banyak aliran-aliran keagamaan. Dan berdasarkan kepercayaan apokaliptik ini pulalah salasilah fundamentalism berpucuk dan kepada pendukungnya pula sebutan fundamentalis dinisbahkan.

Menurut Smithals Dictionary of the Hitory of Ideas (2004), berkembangnya apokaliptisisme di Amerika bermula dengan munculnya kelompok Adventis dan gerakan kesaksian Yehova atau Yahwe. Di antara pokok ajaran kelompok ini ialah bahwa seorang yang beriman harus meyakini kehadiran Roh Kudus dalam diri manusia dan kedatangan Isa Almasih untuk kedua kalinya di dunia ini, Kecuali itu ia harus meyakini bahwa isi Bibel itu sepenuhnya benar, karena ia merupakan satu-satunya kitab yang diwahyukan.

Berdasarkan kepercayaan itu William Miller, pendeta yang merintis lahirnya kelompok Adventis pada abad ke-19, meramalkan bahwa Isa Almasih akan turun kembali ke dunia antara tahun 1843-4. Teolog lain Charles T. Russel mengemukakan bahwa Isa Almasih muncul secara rahasia pada tahun 1874 dan akan mulai mewujudkan misinya pada tahun 1914. Berdasarkan pengakuan Russel inilah Gerakan Kesaksian Yehova lahir.

Tetapi kebangkitan akan kepercayaan ini dalam arti sebenarnya bermula pada awal abad ke-20. Yaitu ketika Dwight L. Moody, seorang evangelis atau penginjil terkemuka, menerbitkan serial buku kecil yang diberi judul The Fundamentals pada tahun 1910. Tulisan-tulisannya merupakan tanggapan dan kritik keras terhadap berkembangnya teologi liberal dan sekularisme di AS. Berdasarkan judul serial buku Moody ini sebutan fundamentalisme terhadap gerakan keagamaan radikal diambil.

Pada tahun 1919 sebuah kelompok garis keras dalam Protestanisme muncul pula mendirikan sebuah organisasi diberi nama World’s Christian Fundamentals Association. Setahun kemudian sempalan dari gerakan ini mengumumkan sikap anti modernisme. Curtis Lee Lavis, editor majalah Watchman Examiner (terbitan Gereja Baptis) menyebut kelompok ini sebagai kaum fundamentalis. Dasar-dasar ajaran Moody, yaitu keyakinan terhadap hadinya Roh Kudus dalam diri manusia dan kedatangan kembali Isa Almasih untuk kedua kalinya kelak, lantas dijadikan asas teologi Gereja Baptis.

Namun di antara buku abad ke-20 yang paling berpengaruh ialah Evangelische Kommentare (1968) karangan Moltman. Di situ teolog terkemuka itu menggagaskan sebuah Teologi Harapan, Dalam bukunya itu dia mengajarkan bahwa semua kekuatan Kristen Protestan harus ditumpukan untuk mencapai tujuan apokaliptik sejarah, oleh karena kebangkitan Isa Almasih merupakan tanda berakhirnya dunia dari cengkraman penderitaan, ketakadilan dan kefanaan. Menurut Moltman, “Revolusi sosial disebabkan keadaan tidak adil adalah hasil dari pengamatan yang seksama atas harapan melalui kebangkitan kembali Isa Almasih”.

Tetapi menurut Joel Carpenter, gagasan kaum fundamentalis itu berkembang bukan semata-mata disebabkan penentangannya terhadap modernisme, liberalisme dan sekularisme. Juga bukan semata-mata disebabkan persoalan politik. Terlalu sederhana jika suatu gerakan keagamaan yang besar dan dominan muncul disebabkan paham-paham duniawi yang tidak terlalu sukar ditransformasikan dan diberi sifat keagamaan. Fundamentalisme keagamaan, menurut Carpenter, berakar dalam ide-ide keagamaan yang telah berkembang di Amerika pada abad ke-19. Ia memberi contoh Pantekosta, sebuah aliran keagamaan yang populis dan menonjol pada abad ke-20.

Pantekosta memperoleh banyak pengikut justru karena menekankan pada kepercayaan bahwa Roh Kudus bisa dipanggil hadir ke dalam jiwa seseorang melalui doa-doa dan nyanyian. Aliran ini juga yakin bahwa apabila seseorang telah kerasukan Roh Kudus, maka dapat menjadi sarana untuk menyampaikan apa yang ingin dikemukakan oleh Roh Kudus. Seperti Gereja Baptis, Pantekosta berkembang menjadi gerakan keagamaan besar karena keberhasilan mengumpulkan uang dri setiap jemaahnya, misalnya sepersepuluh dari hasil yang diperoleh dalam bisnis atau pekerjaan lain.

Sepanjang tahun 1920 – 1960 gerakan fundamentalisme mengalami perkembangan yang cukup menakjubkan. Tetapi lebih menakjubkan lagi perkembangannya dalam dasawarsa 1990an, terutama sejak Bush terpilih menjadi presiden AS pada tahun 1998. Daya tarik utamanya adalah apokaliptisisme dan milleniarisme yang diajarkannya. Tetapi Bratcher dalam artikelnya “Doomsday Prophets” (The Voice, 14 Agustus 2006) menyatakan bahwa oleh karena penganut kepercayaan apokaliptik ini beranggapan bahwa kejahatan itu datang dari luar golongan mereka, maka gerakan mereka tidak jarang muncul sebagai gerakan yang egosentris dan arogan, serta merasa bahwa hanya kelompok mereka saja yang benar. Umat atau golongan agama lain dipandangnya sebagai serba jahat dan merupakan sumber utama kerusakan di muka bumi.

Untuk kepuasan diri sendiri, kata Bratcher lagi, Tuhan diminta segera campur tangan melalui doa, sedangkan mereka wajib melakukan persiapan-persiapan yang memadai untuk menyongsong datangnya akhir zaman. Padahal eskatologi yang sebenarnya, kata Bratcher lagi, justru mengajarkan agar kita ini berbuat adil dan benar untuk mencapai keselamatan, serta saling mencintai, tawadduk dan benar-benar tunduk kepada kemauan Tuhan. Kejahatan adalah masalah internal manusia, dan bisa muncul di lingkungan penganut agama atau ideologi apa saja tidak terkecuali Kristen, Yahudi dan Islam.
Apokaliptisisme Yahudi dan Islam

Dalam sejarah agama Yahudi, sebagaimana telah dikemukakan wacana apokaliptisisme tumbuh subur sejak abad ke-6 SM ketika kerajaan Yahudi di Palestina diserbu Babylonia (Iraq sekarang) dan mereka hidup penuh penderitaan dan keputusasaan dalam pembuangannya di kerajaan Nebukadnesar itu. Harapan dan janji kemenangan yang berulang kali disampaikan oleh nabi-nabi mereka, walaupun tidak kunjung terpenuhi akibat hambatan-hambatan politik dan keagamaan, dari waktu ke waktu memperkuat keyakinan mereka bahwa tanah yang dijanjikan dan kedatangan messiah atau juru selamat di Palestina pasti akan terpenuhi juga.

Yang dianggap sebagai peletak dasar apokaliptisisme Yahudi ialah Ezekiel, Jeremiah dan Zefaniah. Ezekiel mengatakan bahwa Tuhan identik dengan wahyu dalam kitab suci. Dengan demikian turunnya wahyu adalah juga merupakan kehadiran Tuhan di tengah umat manusia. Karena pandangan apokaliptik tertulis dalam kitab suci, maka sebenarnya Tuhan sendirilah yang menyingkap tanda-tanda datangnya akhir zaman berikut ketentuan waktunya. Zefaniah mengatakan bahwa Tuhan menjanjikan bagi Bani Israel tanah atau negeri yang di atasnya Messiah akan mendirikan kerajaan yang megah dan membebaskan bangsa Yahudi dari penderitaan.

Meskipun ramalan itu tidak kunjung memperlihatkan kenyataan selama berabad-abad, dan setiap kali direvisi, namun kepercayaan apokaliptik tentang tanah yang dijanjikan itu semakin tertanam jauh dalam lubuk jiwa penganut agama Yahudi. Seperti orang Kristen mereka yakin bahwa messiah akan turun di Palestina dan mendirikan kerajaan Israel di tanah yang dijanjikan itu dengan Yerusalem sebagai ibukotanya. Adapun messiah itu bukan Isa Almasih seperti diyakini penganut agama Kristen, tetapi salah seorang dari keturunan Nabi Daud yang perkasa dan dianugerahi mukjizat oleh Yahwe. Isa Almasih dalam keyakinan orang Yahudi justru adalah Dajjal sang Perusak Agung.

Di bawah pengaruh eskatologi Persia atau Zarathustra, sejarah dipandang bergerak dalam putaran waktu menuju eskatologi apokaliptik, yaitu keadaan penuh kekacauan pada akhir zaman. Ketika itulah Tuhan akan memberi pertolongan kepada bangsa Yahudi dengan dihadirkannya Messiah. Dengan demikian dalam apokaliptisisme Yahudi, sejarah dipandang sebagai sesuatu yang berjalan dan berkembangnya waktu secara linear dengan tujuan tertentu, yaitu membawa bangsa terpilih menuju kemenangan.

Inti apokaliptisisme Yahudi dapat diringkas sebagai berikut: (1) Tuhan mempersiapkan tanah yang dijanjikan; (2) Sebelum janji itu terpenuhi mereka akan mengalami masa-masa sulit disebabkan diaspora dan pengasingan, sebelum akhirnya mereka mengalami zaman baru yang akan menyelamatkan dan membebaskan mereka dari diaspora dan pengasingan; (3) Tuhan akan mengirimkan raja dan pemimpin kuat sebagai juru selamat yang adalah keturunan Nabi Daud; (4) Isa Almasih adalah Antichrist atau Dajjal.

Berdirinya negara Israel adalah wujud nyata dari harapan itu dan sekaligus merupakan persiapan menyambut datangnya Messiah. Jelas sekali, kepercayaan apokaliptik Yahudi bercorak etno-religius. Ibn al-Qayyim, ahli hadis abad ke-11 M, mengatakan bahwa memang sudah sejak lama orang-Yahudi meyakini hal ini. Mereka juga yakin bahwa apabila Messiah mengucapkan doa-doa dan jampi-jampi maka seluruh umat manusia akan tunduk pada bangsa Yahudi, sedangkan yang menentang akan binasa. Dalam kenyataan, menurut Ibn al-Qayyim lagi, orang Nasrani justru meyakini bahwa yang dimaksud Messiah oleh orang Yahudi itu tidak lain adalah Antichrist atau Dajjal.

Dalam Islam, baik Sunni maupun Syiah, kepercayaan akan akhir zaman dan tanda-tandanya juga terdapat. Di kalangan Syiah apokaliptisisme disebut mahdaviyat atau kepercayaan terhadap turunnnya Imam Mahdi. Tetapi sekalipun demikian tidak ada yang cenderung berlebihan seperti dalam keyakinan apokaliptik Kristen. Mereka meyakini bahwa begitu Dajjal –raja diraja keangkaraan dan kedurjanaan – datang, maka dunia akan menyaksikan malapetaka dan kerusakan besar disebabkan perbuatannya. Untuk mencegah marajalelanya Dajjal, Imam Mahdi turun. Peperangan terjadi antara Dajjal dan Imam Mahdi. Ketika peperangan dahsyat terjadi dan pasukan Imam Mahdi kewalahan, Nabi Isa a.s. akan turun untuk menyelamatkan dan membebaskan kaum mukmin. Berbeda dengan eskatologi Kristen yang meramalkan Isa Almasih turun di Bukit Zaitun, eskatologi Islam mengemukakan bahwa Nabi Isa a.s. akan muncul di sebelah timur Damaskus, Syria sekarang.

Sedangkan Dajjal akan muncul di sebelah barat Isfahan (Iran) antara Iraq dan Mesir. Pengikut Dajjal adalah kebanyakan orang Yahudi. Uraian tentang eskatologi dalam Islam secara rinci lebih banyak dikemukakan dalam hadis. Berdasarkan sumber-sumber hadis, penulis Muslim menyusun kitab eskatologi atau karya sastra yang memaparkan tentang eskatologi. Salah satu di antaranya

Ialah Masa’ilu `abdi’l-Lahi `bai Salam `ila’l-Nabi. Kitab ini disadur ke dalam bahasa Melayu pada abad ke-17 di negeri Aceh Darussalam, dengan judul Kitab Seribu Masalah.

Secara simbolik dan imaginatif Dajjal digambarkan sebagai berikut: “Dajal itu turun di negeri Ajam, Ia mengendarai keledai besar. Jika berjalan di tengah laut, kakinya tidak basah. Segala orang kafir , orang yang menyembah berhala, Yahudi, Nasrani, dan segala orang yang durhaka bersujud menyembah Dajal itu. Ia berjalan membawa dua buah bukit, sebuah di sebelah kanannya berisi segala macam kenikmatan dan segala macam perhiasan, makanan, minuman, pakaian, gadis-gadis cantik; sebuah lagi di sebelah kirinya berisi segala macam siksa neraka, ular, kalajengking, dan api yang berkobar-kobar. Siapa yang percaya dan bertuhan kepadanya dimasukkannya ke dalam surganya itu, dan siapa yang tiada mau bertuhan kepadanya dimasukkannya ke dalam nerakanya itu.” (h. 127-133).

Rasail atau wacana apokaliptisisme seperti tampak dalam teks Kitab Seribu Masalah Melayu itu sangat dikenal secara luas oleh kaum Muslimin di seluruh dunia sejak lama, baik di kalangan Muslim Sunni maupun Muslim Syiah. Dewasa ini perbincangan tentangnya dihubungkan dengan dua hal, yaitu gagasan mahdaviyat dan globalisasi. Yang pertama, adalah bentuk apokaliptisisme sebagaimana dipercaya kalangan Syiah di Iran, yaitu keyakinan bahwa sebelum Nabi Isa Almasih turun kembali ke dunia terlebih dahulu ditandai kemunculan Imam Mahdi yang dititahkan memerangi Dajjal. Media internasional, khususnya yang terbit di AS, mengaitkan kepercayaan itu dengan tampilnya Iran di bawah kepemimpinan Ahmadinejad. Perseteruan Iran dengan AS, khususnya dalam era kepemimpinan Bush, ikut menyebar luaskan kepercayaan terhadap keyakinan kaum milleniaris. Lantas jika perang antar agama benar-benar terjadi kelak, siapa yang harus disalahkan? Bush, kaum fundamentalis Kristen, dan Zionis, tentu akan menjawab: Semua itu adalah kesalahan orang Islam, bangsa Palestina, Arab, Iran, Hamas, Hizbullah dan gerakan-gerakan pembebasan lain karena tidak mau berhenti melakukan perlawanan terhadap imperialisme AS dan Zionis.

Januari 2008

One comment on “APOKALIPTISISME DAN MILLERIANISME

  1. hmmmm…. berarti jelas ya alurnya kemana! Anehnya, masih ada saja orang2 kita yang rela ‘nyangkut’ dibawah ‘ketiak’ agenda besar mereka, dan menjadi duri dalam daging bagi saudaranya sendiri!!! kayanya emang benar, dimanapun orang mumin berada, ia selalu berhadapan dengan dua musuh sekaligus; syaitan jin dan manusia disatu sisi, dan sisi gelap dirinya sendiri disisi yang lainnya!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Atlantis in the Java Sea

A scientific effort to match Plato’s narrative location for Atlantis

Sembrani

Membahas ISU-ISU Penting bagi Anak Bangsa, Berbagi Ide, dan Saling Cinta

Wirdanova

+62811-813-1917

aawanto

The greatest WordPress.com site in all the land!

Covert Geopolitics

Beyond the Smoke & Mirrors

Catatan Harta Amanah Soekarno

as good as possible for as many as possible

Modesty - Women Terrace

My Mind in Words and Pictures

Kanzunqalam's Blog

AKAL tanpa WAHYU, akan berbuah, IMAN tanpa ILMU

Cahayapelangi

Cakrawala, menapaki kehidupan nusantara & dunia

religiku

hacking the religion

SANGKAN PARANING DUMADI

Just another WordPress.com site

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

%d blogger menyukai ini: