Tinggalkan komentar

Hikmah Sufi 2

HIKMAH, GAGASAN CINTA DAN ANEKDOT

DALAM SASTRA SUFI (2)

Oleh Abdul Hadi W. M.

Cinta adalah kecenderungan kuat akan sesuatu, dan karena kuatnya kecenderungan terhadap sesuatu, ia tidak memberi tempat kepada sesuatu yang lain. Teori Sufi tentang Cinta secara historis bermula pada masa Rabi`ah al-Adawiyah abad ke-2 H/ ke-8 M. Istilah yang digunakan ialah mahabbah. Menurut al-Hujwiri (abad ke-10 M) dalam kitab Kasyf al-Mahjub perkataan mahabbah dikembangkan dari akar kata hubb dan hibb. Hubb ialah kendi berisi air penuh, sehingga tak memberi lagi tempat pada air yang lainnya. Hibb ialah bibit tanaman yang unggul, yang walaupun ditanam di tanah yang kering kerontang akan tumbuh dengan uletnya. Seperti kendi penuh air dan bibit tanaman unggul itulah kira-kira pengertian cinta yang sejati.

Walau sebagai gagasan rohani nampak bersahaja, namun cinta memiliki makna yang luas dan kompleks. Ia merupakan gabungan dari bermacam perasaan dan menimbulkan berbagai keadaan jiwa. Inilah yang membuat para sastrawan, khususnya penulis sufi, terdorong menciptakan banyak kisah perumpamaan sebagaimana telah dicontohkan. Dalam Hikmat al-Awlya’ Abu Nu`aym al-Isfahani (abad ke-12) mengatakan lebih kurang, “ Hati seorang `arif ialah sarang cinta, dan hati seorang pencinta berahi adalah sarang kerinduan (syawq), dan hati seorang yang rindu ialah sarang kedekatan (uns, yi. kedekatan dengan kekasih).”

Rabi`ah mengatakan bahwa cinta merupakan landasan ketaatan dan ketakwaan kepada Tuhan. Ini dinyatakan dalam sebuah sajaknya yang dijadikan rujukan utama para Sufi yang kemudian. Tutur Rabi`ah:

Kucintai Kau dengan dua cinta:

Cinta untuk kepentingan diriku

Dan cinta sebab Kau patut dicintai.

Dalam mengingat-Mu kubuang yang lain.

Cinta sebab Kau patut dicinta

Karena Kaucampakkan hijab dan tabir

Hingga aku dapat memandang-Mu

Segala pujian untukku tak kuperlukan

Semua pujian hanya untuk-Mu semata.

Imam al-Ghazali memberi komentar terhadap pernyataan Rabi`ah itu, “Mungkin yang

dimaksud dia dengan cinta untuk diriku ialah cinta kepada Allah karena kebaikan serta kurnia

yang dilimpahkan oleh-Nya…sedang cinta kepada Allah sebab Dia patut dicinta ialah cinta

disebabkan keindahan (jamal) dan keagungan-Nya menyingkapkan diri kepada mata batinnya.

Dan cinta kedua inilah yang merupakan cinta paling luhur dan dalam, serta merupakan suatu

kelezatan (iltizat) dalam menyaksikan keindahan Tuhan.” (Taswuf Yang Tertindas, 2001:42).

Mungkin penjelasan yang lebih rinci tampak pada pernyataan Harits al-Muhasibi (w. 857 M): ”Apabila cinta telah teguh dalam hati seorang hamba, maka tak ada tempat untuk mengingat orang atau iblis atau sorga atau neraka, tidak pula ingat sesuatu apa kecuali Kekasih dan Kemurahan-Nya. Cinta ilahi secara hakiki merupakan pencerahan kalbu sebab merasa senang memperoleh kedekatan dengan Kekasih disebabkan cinta, dalam keheningan, menerbitkan kemenangan dan hati pencinta dikuasai oleh perasaan karib dengan-Nya, dan apabila keheningan berpadu dengan terwujudnya hubungan rahasia dengan Kekasih, kesenangan dan hubungan rahasia itu akan mengalahkan pikiran sehingga ia tidak lagi menyibukkan diri dengan ini dan itu yang tidak bermanfaat.” (Smith 1972, 19).

Dalam menguraikan cinta sebagai kecenderungan atau gejala jiwa yang penting dan dominan dalam diri manusia, beberapa Sufi menggubah kisah-kisah percintaan biasa sebagai perumpamaan, khususnya keadaan-keadaan jiwa yang dialami seorang pencinta dan pengaruh keadaan-keadaan tersebut terhadap tindakan dan perbuatan seseorang. Dalam Gita Suluk Latri (awal abad ke-16 M) Sunan Bonang sebagai contoh menggambarkan betapa keadaan jiwa seorang pencinta yang sedang menunggu kekasihnya. Semakin malam hatinya semakin rindu dan berlimpah khayalan, serta bertambah-tambah pula berahinya. Namun kekasihnya belum menampakkan tanda-tanda akan datang. Ketika kekasihnya datang, ia hanyut dalam percintaan sehingga lupa segala-galanya selain si dia. Jiwa sepenuhnya diserahkan kepada kekasihnya. Ia hanyut dibawa ombak keasyikan menuju lautan wujud tak terhingga.

Dalam Suluk Jebeng Sunan Bonang melukiskan pencapaian tinggi seorang pencinta di jalan cinta:

Akhir ilmu sempurna

Bagai api berkobar

Hanya bara dan nyala kelihatan

Hanya kilatan cahaya

Terhalang asap

Sering pula cinta merupakan keadaan yang diperoleh tanpa diharapkan. Fariduddin al- `Attar misalnya menggambarkan dalam kisah “Percintaan Putri Raja dengan Hamba Sahayanya” (dalam Mantiq al-Tayr): Seorang putri raja yang cantik jelita jatuh hati kepada seorang hamba sahaya yang pernah dilihatnya ketika sedang berjalan-jalan di luar istana. Agar tidak diketahui banyak orang, putri raja menyuruh dayang-dayangnya merayu hamba sahaya tersebut. Pada suatu malam hamba sahaya itu berhasil diberi minuman yang memabukkan hingga tak sadarkan diri. Lalu secara diam-diam hamba itu dibawa oleh dayang-dayang ke tempat sang putri. Dalam keadaan tak sadar hamba tersebut dihidangi makanan dan minuman lezat, lagu-lagu dan tarian wanita yang cantik bagaikan di sorga. Pada saat itulah sang putri mencumbu hamba sahaya tersebut, sehingga keduanya sampai ke puncak berahinya. Keesokan harinya hamba sahaya itu menceritakan pengalaman yang musykil itu kepada teman-temannya. Ia menyatakan sudah lupa di mana tempatnya, bagaimana keadaan yang dialaminya, sebab semuanya berlangsung antara sadar dan tak sadar.

Dalam kisah itu `Attar ingin mengisahkan bahwa cinta sebagai pengalaman kejiwaan dan kerohanian bersifat pribadi dan sukar diceritakan. Dia membawa manusia berjalan antara keadaan sadar dan tak sadar. Seperti orang yang sedang memikirkan atau membayangkan sesuatu atau seseorang. Andaikan sesuatu atau seseorang itu ada di dunia nyata, tetap apa yang dipikirkannya itu setengahnya merupakan realitas dan setengahnya lagi imaginasi, buah pikiran dan angan-angannya sendiri.

Adapun kisah yang dipaparkan `Attar itu diambil dari kenyataan, yaitu praktek kaum Assasin (sempalan gerakan Ismailiyah atau Syiah Imam Tujuh) pimpinan Hasan al-Sabah. Dalam mencari pengikut yang fanatik, kaum Assasin menggunakan praktek-praktek seperti dalam kisah `Attar itu, yaitu penggunaan obat bius dan ritual membaiat calon pengikut dengan tari-tarian eksotik dan erotik. Dengan demikian seorang pengikut sekte itu seakan-akan berada di sorga. Seperti pengikut kaum Assasin itulah sebenarnya keadaan jiwa yang dialami seorang pencinta yang berahi: berjalan antara alam sadar dan alam tak sadar, antara realitas dan imaginasi.

Hamzah Fansuri, penyair Sufi terbesar di kepulauan Melayu Nusantara, mengekspressikan gagasan cinta ilahi dan keindahan Tuhan yang menimbulkan rasa cinta, dengan menggunakan citraan ide (idea image) anthromorfis, tetapi dia bukan penganut faham anthromorfisme dalam teologi sebagaimana sering dituduhkan. Dalam syairnya di bawah ini dia melukiskan penampakan Cinta Ilahi melalui citraan ide yang membayangkan keindahan aneka ragam di alam ciptaan. Ini sebagai bukti bahwa cinta Tuhan kepada segala sesuatu tak tertandingi. Melalui keindahan barang ciptaan-Nya yang berbagai-bagai itu Dia menyembunyikan kehadiran-Nya. Orang yang penglihatan hatinya terang tahu, bahwa walaupun Dia tak tampak, namun kehadiran-Nya dirasakan di mana-mana. Seperti dikemukakan dalam al-Qur`an (2:115): ”Ayna-ma tuwallu fa-tsamma wajh Allah” (Kemana pun kau memandang akan tampak wajah Allah). Namun penglihatan orang menjadi kabur, disebabkan ingkar terhadap Yang Gaib atau cintanya yang berlebihan pada dunia, sehingga di luar itu dianggapnya tak ada dunia yang tak kalah baik. Tutur Hamzah Fansuri:

Subhana Allah terlalu kamil

Menjadikan insan `alim dan jahil

Dengan hamba-Nya da’im Ia washil

Itubah mahbub (Kekasih) bernama adil

Mahbubmu itu tiada berlawan

Lagi `alim lagi bangsawan

Kasihnya banyak lagi gunawan

Olehnya itu beta tertawan

Bersunting bunga lagi bermalai

Kainnya warna berbagai-bagai

Tahu ber(sem)bunyi di dalam sakai (hamba)

Olehnya itu orang terlalai

Ingat-ingat kau lalu lalang

Berlekas-lekas jangan kau mamang

Suluh Muhammad yogya kau pasang

Supaya salim jalanmu datang

Rumahnya `ali berpatam birai

Lakunya bijak sempurna bisai

Tudungnya halus terlalu pingai

Da’im ber(sem)bunyi di balik tirai

Jika sungguh kau `asyiq dan mabuk

Memakai khandi pergi menjaluk

Ke dalam pagar yogya kau masuk

Berang ghayr (yang selain) Allah sekalian kau amuk

Berjalan engkau rajin-rajin

Mencari guru tahu kan batin

Yogya kau tuntut jalan yang amin

Supaya dapat lekas kau kawin

Berahimu da’im akan orang kaya

Manakan dapat tiada berbahaya

`Ajib sekali akan hati sahaya

Hendak berdekap dengan Mulia Raya

Tiada kau tahu akan karmamu

Terlalu ghurur (berkhayal) dengan hartamu

Nafsu dan setan da’im sertamu

`Asyiq dan mabuk bukan kerjamu

Hamzah miskin (faqr) hina dan karam

Bermain mata dengan Rabb al-`Alam

Selamnya sangat terlalu dalam

Seperti mayat sudah tertanam

(Ikat-ikatan II naskah Jakarta ML. 83)

Dalam syair-syairnya Hamzah Fansuri, sebagaimana Fakhrudin Iraqi penulis Sufi Persia abad ke-14, menyatakan bahwa Cinta Ilahi merupakan Wujud dan Wajah Tuhan yang hanya nampak kepada penglihatan batin seorang hamba. Ia tidak mengambil rupa jasmani, tetapi dalam rupa sifat-sifat-Nya Yang Maha Pengasih (al-rahman) dan Maha Penyayang (al-rahim). Rupa cinta semacam itu dinyatakan dalam kalimat Basmalah. Cinta Tuhan yang rahman dan rahim itulah yang menggerakkan kehidupan alam semesta. Rahman adalah Cinta yang esensial (dzatiyah) dan meliputi (muhit) segala sesuatu , artinya dilimpahkan kepada segala makhluq dan seluruh umat manusia. Rahim adalah cinta yang wajib, artinya wajib diberikan kepada orang-orang terpilih yang dicintai atau disayangi. Tutur Hamzah Fansuri:

Rahman itulah yang bernama Wujud

Keadaan Tuhan yang sedia ma`bud

Kenyataan Islam Nasrani dan Yahud

Dari rahman itulah sekalian mawujud

(Ikat-ikatan II Naskah Leiden Cod. Or. 2016).

Cinta yang didamba Sufi bukan hanya al-rahman, yang diperuntukkan kepada siapa saja, tetapi terutama al-rahim yang lebih khusus dan spesifik, seperti cinta seorang ibu kepada anaknya, sebab dari rahim ibulah anak tersebut dilahirkan.

Pada akhirnya saya ingin menutup pembicaraan ini dengan mengemukakan Gita Suluk Latri yang ditulis oleh Sufi dari Jawa abad ke-16, Sunan Bonang alias Makhdum Ibrahim. Suluk yang ditulis dalam pupuh wirangrong itu menggambarkan seorang `asyiq (pencinta) yang gelisah menunggu kedatangan kekasihnya. Semakin malam si pencinta semakin berahi, sedang kekasihnya belum juga datang. Tatkala kekasihnya datang, maka ia pun lupa segala-galanya selain Dia dan kemudian sepenuhnya menyerahkan diri ke dalam dekapan kekasihnya. Selama pertemuan berlangsung pencintaa hanyut (kahanyutan) dibawa ombak menuju lautan (wujud) yang tak terhingga. Sunan Bonang mengumpamakan kedekatan manusia dengan Tuhan seperti kedekatan gema dengan suara darimana gema itu berasal. Manusia, yang merupakan gambaran-Nya, adalah gema yang bergaung di alam penciptaan dan asalnya adalah suara atau perintah “Kun fayakun” Tuhan.

Baiklah saya akhiri tulisan ini dengan mengutip beberapa ruba’i (kwatrin) Iqbal, yang mengungkapnya luasnya aspek dan dimensi cinta:

Musik cinta menemukan intrumennya pada manusia

Rahasia ia singgap, satu semata dirinya

Tuhan mencipta dunia, manusia menjadikannya indah

Manusia adalah kerabat kerja dan sahabat Tuhan

Awal dan akhir dunia ini – bukan ini

Yang kucari, namun rahasia-rahasianya

Sebab aku adalah diriku, jika kebenaran tersingkap

Aku akan kehilangan rasa tak pasti

Apa gunanya kalbu dalam dada, tanyamu

Akal yang dianugerahi rasa oleh Tuhan

Jika rasa hidup maka kalbumu hidup pula

Jika tidak, ia berubah menjadi debu

Akal berkata dengan congkak, Dia tak tampak

Namun mata yang khusyuk tetap terjerat

Antara harap dan cemas. Gunung Sinai masih tegak

Dan dalam diri manusia selalu ada Musa

Cuma gereja, masjid, kuil, rumah berhala

Kau bangun – lambang-lambang penghambaanmu

Tak pernah dalam hati kau bangun dirimu

Hingga kau tak bisa menjadi utusan merdeka

(”Tulip dari Sinai” dalam Payam-i Mashriq, bagian awal)

Inti permasalahan yang ingin diungkapkan dalam pembicaraan ini tercakup dalam sajak Iqbal tersebut. Cinta dan pencarian diri merupakan dua hal penting dalam membangun wawasan keagamaan dan peradaban yang segar, namun sering kita abaikan. Diri yang dimaksud di sini ialah seluruh potensi kerohanian kita sebagai manusia, yang bila diberdayakan benar-benar akan memungkinkan kita menjadi khalifah Tuhan di atas bumi dan hamba-Nya dalam arti sebenarnya. Potensi kerohanian itu diringkas oleh Iqbal sebagai akal pikiran dan kalbu; pengetahuan dan cinta; ilmu dan iman.

Jakarta 14 Agustus 2001

Rujukan

Abdul Hadi W. M. Kembali ke Akar, Kembali ke Sumber. Jakarta: Pustaka Firdaus, 1999.

———————- Tasawuf Yang Tertindas: Kajian Hermeneutik Terhadap Karya-karya

Hamzah Fansuri. Jakarta: Paramadina, 2001.

V. I. Braginsky. Yang Indah, Yang Berfaedah dan Kamal: Sejarah Sastra Melayu Dalam

Abad ke-7-19 M. Jakarta: INIS, 1996.

—————— ”Perpaduan Etika dan Estetika Sastra Dalam Hikayat Melayu Zaman Islam

(Hikayat Maharaja Ali)” Kertas kerja Seminar Teori Sastra Islam: Kaedah dan

Penerapannya. Putrajaya Selangor, Malaysia, 26-28 September 2000.

E. G. A. Browne. A Literary History of Persia. Vol. II. Cambridge: Cambridge University

Press, 1928-30.

Muhammad Iqbal. Pesan Dari Timur. Terjemahan Payam-i Mashriq oleh M. Hadi Husain.

Lahore: Iqbal Academy, 1977.

S. H. Nadeem. A Critical Apreciation of Arabic Mystical Poetry. Lahore: Islamic Book

Service, 1979.

R. A. Nicholson. The Mathnawi of Jalalu’ ddin Rumi. 6 vols. London: Luzac & Co. Ltd.,

1977.

Osman Haji Khalid. Kesusasteraan Arab Zaman Abasiah. Andalus dan Zaman Modern.

Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka, 1997.

Annemarie Schimmel. Mystical Dimensions of Islam Chapel Hill: The University of North

Caroline Press, 1981.

Margareth Smith. Reading from the Mystics of Islam. London: Luzac & Co. Ltd., 1972.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Atlantis in the Java Sea

A scientific effort to match Plato’s narrative location for Atlantis

Sembrani

Membahas ISU-ISU Penting bagi Anak Bangsa, Berbagi Ide, dan Saling Cinta

Wirdanova

+62811-813-1917

aawanto

The greatest WordPress.com site in all the land!

Covert Geopolitics

Beyond the Smoke & Mirrors

Catatan Harta Amanah Soekarno

as good as possible for as many as possible

Modesty - Women Terrace

My Mind in Words and Pictures

Kanzunqalam's Blog

AKAL tanpa WAHYU, akan berbuah, IMAN tanpa ILMU

Cahayapelangi

Cakrawala, menapaki kehidupan nusantara & dunia

religiku

hacking the religion

SANGKAN PARANING DUMADI

Just another WordPress.com site

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

%d blogger menyukai ini: