Tinggalkan komentar

DEKLARASI CIKINI 2009: Dari temu Akbar Mufakat Budaya Indonesia

Setelah melalui rangkaian pertemuan, selama kurang lebih tiga bulan terakhir, dan diikuti oleh banyak nama yang selama ini dikenal sebagai artis atau selebritis, akhirnya disepakati terbentuknya Mufakat Kebudayaan. Semacam satu forum atau medium pertemuan hati dan pikiran tidak formal dari para artis/entertainer yang memiliki renungan, kegelisahan, atau gagasan di seputar peran kebudayaan/kesenian/seniman dalam kehidupan kita secara praktis maupun idealistis.

Pada hari Minggu, 26 Juli 2009, di Tea Addict Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, pukul 14.30, Mufakat Kebudayaan menyampaikan hasil renungan, gagasan atau ideal bersama mereka di depan masyarakat pers, untuk dapat disampaikan pada semua pihak yang berkepentingan secara luas. Renungan yang tertuang dalam “Maklumat Juli 2009” itu adalah satu imbauan, ajakan, juga tawaran pada penyelenggara negara, elite bangsa dan masyarakat luas seumumnya, untuk pada intinya: menempatkan kerja (proses, dinamika maupun produk) kebudayaan sebagai pertimbangan dasar (fundamen) dalam cara kita hidup mengantisipasi kekinian dan masa depan.

Hadir pada acara itu, di samping sekitar 70 wartawan dari berbagai jenis media, para seniman, artis/entertainer pendukung, seperti: Yockie Soeryo Prayogo, Sys Ns, Radhar Panca Dahana, Iwan Fals, Erros Djarot, Aspar Paturusi, Ray Sahetapy, Happy Salma, Marcella Zellianty, Amoroso Katamsi, Keenan Nasution, Bella Saphira, Yenny Rahman, Mat Solar, Sujiwo Tejo, Keenan Nasution, Yana Julio, Indro Warkop, Eet Syahranie, dll.

Beberapa artis yang pernah datang dalam pertemuan-pertemuan sebelumnya, seperti Maya Hasan, Ratih Sang, Glen Fredly, Ivan Slank, grup Coklat, dll., karena jadual yang tak bisa ditolak tak mampu hadir. Namun bersama beberapa seniman/artis yang sebenarnya sudah berkomitmen atau melaju datang ke lokasi acara tapi akhirnya terhalang (seperti: Rano Karno, Angelina Sondakh, Rieke Dia Pitaloka, Aning Katamsi, Iga Mawarni, Nurul Arifin, dan banyak lainnya) mereka tetap kuat mendukung “Maklumat” juga aksi-aksi yang akan mengikutinya.

Acara dibuka oleh pesembah-acara Happy Salma dengan sebuah introduksi pendek tentang asal-muasal Mufakat Kebudayaan dan “Mufakat Juli 2009”. Dilanjutkan dengan menyanyikan “Indonesia Raya” bersama di bawah pimpinan Amoroso Katamsi, lalu gambaran singkat tentang renungan dan gagasan para seniman/artis yang berkumpul disusul pembacaan “Maklumat Juli 2009” oleh Radhar Panca Dahana yang diikuti oleh semua seniman/artis dengan menyebut namanya sendiri-sendiri sebagai penanda/pendukung “Maklumat” mewakili masyarakat seni-budaya secara luas.

Formalitas acara sederhana itu pun ditutup dengan menyanyikan bersama lagu “Maju Tak Gentar” yang dipimpin oleh Iwan Fals dan Sujiwo Tejo. Setelah itu acara yang lebih santai berupa tanya jawab dengan para wartawan. Seperti biasa, pertanyaan-pertanyaan normatif diajukan oleh pers yang dijawab dengan lugas oleh para seniman/artis. Sys Ns dan Aspar misalnya menyatakan bahwa “Maklumat” ini tidak memiliki tujuan praktis/pragmatis dalam arti hasrat temporer untuk yang dilandasi oleh kepentingan-kepentingan sempit secara politis atau ekonomis.

Sementara Radhar coba menjelaskan upaya kolektif para seniman/artis –yang diharap nantinya didukung pula oleh budayawan atau masyarakat pelaku budaya lainnya—ini, ditujukan untuk mengubah atau setidaknya menggeser cara berpikir para pengambil keputusan/kebijakan, juga elite bangsa secara umum, untuk melihat kebudayaan sebagai problem solver bukan problem maker. Bukan sebagai alat atau eksploatan dari kepentingan politik dan industri, tapi justru sebagai dasar peneguh dari kekuatan-kekuatan itu.

Perubahan kesadaran itu, disambung oleh Amoroso antara lain, yang diharapkan dapat mengajak kita bersama –semua pemangku kepentingan—untuk mempertimbangkan kembali cara-cara kita hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Dalam arti praktis, seperti ditanya wartawan, ia dapat diimplementasi oleh regulasi-regulasi yang ditelurkan parlemen yang mendukung kerja-kerja kebudayaan. Begitupun pemerintahan eksektutif dapat menyiapkan dan menyediakan infrastruktur yang memadai untuk terselenggaranya proses kerja serta produk-produk kebudayaan yang bermutu tinggi.

Bagi kalangan bisnis/usaha, para seniman –baik musik, film, dan sastra misalnya—berharap dapat dibangun sebuah arsitektur industri lokal yang dapat mengoptimalisasi kekuatan seni/budaya sebagai senjata ampuh untuk bicara di tingkat dunia. Bukan sistem atau arsitektur sebagaimana yang berlaku sekarang, dimana para artis/seniman ditempatkan begitu minor, bahkan menjadi sapi perah, dari cara dan kontrak kerja yang semuanya diadopsi atau disalin dari luar negeri. Adopsi dan penyalinan yang ternyata, menurut Yana Julio dan Yockie, dimanipulir sehingga melenyapkan unsur fairness, rasa keadilan, dan respek pada produsen kebudayaan itu sendiri.

Di bagian lain, Sujiwo Tejo memberi tantangan gagasan yang menggugat “kekinian” Pancasila sebagai ideologi bangsa, hingga larik-larik “Indonesia Raya” yang menurutnya justru memberi jarak dengan rakyat yang justru ingin diwakilinya. Iwan Fals, dengan cara sederhana, membayangkan negeri ini dapat menjadi rumah yang indah, leluasa, dan apresiatif dimana budaya-budaya etnik dari sabang hingga mereka dapat diekspresikan dan dikembangkan secara terbuka dan maksimal di hadapan masyarakatnya.

Sedangkan Erros Djarot berbagi pikiran dengan menawarkan kemungkinan seniman/artis juga terlibat dalam praksis pengambilan kebijakan politis, yang tidak harus selalu dalam makna partisan, tapi juga dalam proses-proses mekanisme pengambilan kebijakan secara umum.

Paska-Maklumat

Dalam perbincangan seusai acara public expose itu, para seniman/artis bersepakat kuat untuk melanjutkan usaha ini dengan kegiatan-kegiatan yang memperdalam dan memperkuat, baik gagasan maupun aksinya. Secara umum ia terbagi dalam tiga kegiatan: pertama, kegiatan pragmatis dalam melakukan pendekatan yang elegan, bermartabat dan setara dengan para pengambil kebijakan, terutama di kalangan eksekutif dan legislatif –disusul dengan kalangan-kalangan lain—untuk implementasi praktis dari ajakan dan tawaran gagasan yang sudah dilontarkan.

Hal awal bisa dilakukan dengan memenuhi permintaan Yenny Rahman, yang telah menjelaskan panjang lebar permasalahannya, untuk datang pada dengar-pendapat dengan Komisi X DPR untuk membicarakan UU Perfilman yang sudah belasan tahun tertunda. Tujuannya tidak hanya untuk mengakomodasi gagasan atau aspirasi masyarakat seniman film, tapi juga mengajak para anggota DPR untuk melihat kebudayaan dengan perspektif atau landasan paradigmatik yang berbeda.

Kegiatan kedua dilakukan secara eksprsif-artistik, yakni tetap menjalankan tugas dan fitrah kita sebagai seorang seniman untuk menghasilkan karya-karya yang baik, yang secara khusus dapat mendukung perluasan, diseminasi atau sosialisasi gagasan/ideal dari “Maklumat”. Dalam kegiatan ini, Yockie dan Sys akan merancang sebuah pertunjukan kolektif, berupa pagelaran musik semacam Woodstock yang akan dapat diikuti oleh masyarakat luas sebagai sebuah pesta bersama.

Dan kegiatan ketiga akan ditujukan sebagai bentuk olah intelektual, dimana kerjasama akan dilakukan bersama dengan pelaku budaya/seni/ilmu lainnya, intersektoral. Di sini para artis/entertainer berharap dapat telibat kerja dengan teman-teman dari cabang kesenian lain, para pemikir budaya, budayawan, dan aktivis kebudayaan lainnya. Tujuan utamanya antara lain –seperti diharapkan Mat Solar dan Indro Warkop—mendapatkan sebuah landasan pemikiran/intelektual untuk berbagai konsep dan terminologi yang sudah dicuatkan dalam “Maklumat” maupun dalam public expose di atas.

Untuk itu, Radhar –dan teman-teman Federasi Teater Indonesia (FTI) serta Bale Sastra Kecapi (BSK)—akan coba mengoordinasikan dan menyinergikan semua kerja di atas. Menciptakan kontak dan konsolidasi dengan bagian-bagian kebudayaan lain, menyiapkan administrasinya (untuk sementara menggunakan sekretariat FTI dan BSK, tercantum di halaman bawah), pendokumentasian, komunikasi, hingga penyusunan out-line atau desain dasar pemikiran-pemikiran kolektif yang mungkin dihasilkan.

Untuk menjaga besi tetap panas untuk ditempa, disepakati pula untuk membuat pertemuan berkala, dengan waktu yang ditentukan pada saat pertemuan terakhir, dan tempat sesuai ketersediaan (siapa pun boleh menawarkan). Fasilitas pendukung: bantingan. Pertemuan terdekat setelah ini adalah hari Minggu, 2 Agustus 2009, di Bubur Corner, teras Restoran Mirasari Kemang, Jl. Kemang Timur (perempatan McD belok kanan, 300m-an depan Gedung 28, pas di jalan bercabang, sebelah kiri, ada turunan, banyak pohon rimbun, parkir luas, harga bubur Rp 25 – Rp 30.000,-, awas ada kadal lompat dari kanan..)

Tabik. Si yu et sande.

 

Mufakat Budaya

Deklarasi Cikini 2009

 

Mukadimah

Apa yang terjadi di Indonesia masa kini, adalah kebingungan dan kekeliruan yang akut di semua level dan elemen kehidupan kita. Hal itu diakibatkan oleh peran negara, cq pemerintah, yang terlampau dominan dan menafikan publik dalam semua proses pengambilan keputusan. Praksis kekuasaan seperti itu merupakan produk dari sebuah pendekatan kebudayaan yang dilandasi oleh cara berpikir yang agraris, orientasi kedaratan atau kontinental. Orientasi dan tradisi berpikir semacam ini sesungguhnya adalah hasil kolonialisme sejak abad 17 oleh bangsa-bangsa Eropa, lebih tepat lagi sejak masa kolonialisme purba, yang dilakukan India (bangsa Arya) sejak permulaan Masehi.

Kolonialisme itu melakukan satu proses pembudayaan melalui cara mencangkokkan (transplantasi kultural) khasanah simbolik dan sistem nilai pihak kolonial pada penduduk setempat. Satu proses yang membuat semua perangkat kehidupan –seperti politik, hukum, ekonomi, agama, pendidikan, sains, dan sebagainya—ditempatkan dan dimanfaatkan untuk melayani kepentingan kekuasaan semata. Semua hal tersebut jelas mengingkari bukan hanya fakta historis bahwa bangsa-bangsa di nusantara ini berjaya dan disegani dunia karena budaya maritimnya, sejak lebih dari 5.000 tahun SM, tapi juga daya hidup tradisinya yang memiliki kemampuan teruji untuk tetap berkembang, melakukan proses pertukaran budaya yang konstruktif dan mutualistis, dengan karakter dasarnya yang toleran, terbuka dan egaliter.

Deklarasi

 

Karena itu, kami yang tergabung dalam Temu Akbar Mufakat Budaya yang bersidang dan berbincang, mufakat mendeklarasikan hal-hal berikut:

  1. Menolak (dan mendesak dihentikannya) proses-proses berkebudayaan –dengan implikasinya dalam kehidupan hukum, politik ekonomi dan seterusnya—yang dilakukan dengan cara mencangkokkan begitu saja sistem nilai asing ke dalam kehidupan rakyat Indonesia di semua dimensinya.
  2. Mengembalikan cara-cara kita bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, termasuk di dalamnya tradisi kekuasaan serta praksis politik, pada kearifan bangsa-bangsa di kepulauan ini yang telah berkembang dan teruji lebih dari 5.000 tahun.
  3. Keberadaan adab modern yang dipenetrasi kolonialime dan globalisme hingga di tingkat kognitif, memori hingga kemampuan imajinatif kita –termasuk sains dan teknologi– tidak lebih untuk memperkaya, mempertinggi nilai tambah, dan mengakselerasi kekuatan kultural negeri ini. Semua itu harus berlangsung lewat kearifan dan tradisi sebagaimana dimaksud di atas.
  4. Dengan tradisi dan kearifan itulah kebudayaan nasional kita dibangun sebagai mosaik yang terus menjadi dari seluruh elemen sub etnik di nusantara ini, dan seharusnya tumbuh secara alamiah –bersama interaksinya dengan kenyataan mutakhir—hingga dapat menjadi sebuah identitas bernama: Indonesia. Manusia, sebagai pelaku terpenting dari proses itu, merupakan entitas yang kongruen dengan jati diri bangsanya, yakni: makhluk budaya yang secara personal maupun komunal memiliki hak setara dengan institusi apa pun dalam berkontribusi bagi gerak pembangunan yang ada.
  5. Untuk tugas-tugas kebangsaan itu, rakyat secara menyeluruh harus difasilitasi ruang gerak maupun ekspresinya untuk dapat menemukan sebuah imajinasi kolektif yang baru, dimana Indonesia sesungguhnya mendapat fondasi keberadaannya yangejati.

Cikini, Jakarta Pusat, 28 Oktober 2009.

Tertanda,

01.  Radhar Panca Dahana

02.  Teuku Kemal Fasya

03.  Donny Gahral Adian

04.  Yasraf Amir Piliang

05.  Jaleswari Pramowardhani

06.  Prof. Abu Hamid

07.  Edy Utama

08.  Tisna Sanjaya

09.  Ferdinand Marisan

10.  Prof. Mochtar Naim

11.  Dedi Gumelar

12.  Rizaldi Siagian

13.  Soegeng Sarjadi

14.  Sukardi Rinakit

15.  Jansen H Sinamo

16.  Prof. Taufik Abdullah

17.  Ade Armando

18.  Ratih Sang

19.  Sys NS

20.  Ray Sahetapy

21.  Yudi latif

22.  Yockie Soeryoprayogos

23.  Rocky Gerung

24.  Dr.Bustami Rahman

25.  Nungky Nirmala

26.  Tjia May On

27.  Arbi Sanit

28.  Rahman Arge

29.  Prof. Eko Budiharjo

30.  Pontjo Sutowo

31.  Aspar Paturisi

32.  Imelda Sari

33.  Dr.Setyanto P. Santosa

34.  Agus Pambagyo

35.  Bambang Widodo Umar

36.  Prof. Bambang Pranowo

37.  Dolorosa Sinaga

38.  Edwin Partogi

39.  Sri Adiningsih

40.  Dr. Taufik Hidayat

41.  Mayjen Heryadi

42. Tubagus Andre

43.  Rosihan Anwar

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

sembrani

bertukar ide, melampaui mimpi bersama

Nurul Wirda

Semerbak Mawar yang dengan senang hati memancarkan Cahayanya

aawanto

The greatest WordPress.com site in all the land!

Covert Geopolitics

Beyond the Smoke & Mirrors

Catatan Harta Amanah Soekarno

as good as possible for as many as possible

Women Terrace

to say something that i never talk before

Kanzunqalam's Blog

AKAL tanpa WAHYU, akan berbuah, IMAN tanpa ILMU

Cahayapelangi

Cakrawala, menapaki kehidupan nusantara & dunia

religiku

hacking the religion

SANGKAN PARANING DUMADI

Just another WordPress.com site

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

%d blogger menyukai ini: