72 Komentar

KERAJAAN KANDIS “ATLANTIS NUSANTARA”

KERAJAAN KANDIS “ATLANTIS NUSANTARA”
ANTARA CERITA DAN FAKTA
(Sebuah Hipotesa Lokasi Awal Peradaban di Indonesia)

MAKALAH SEMINAR

Oleh:
PEBRI MAHMUD AL HAMIDI

MEI 2009

RINGKASAN

Nenek moyang bangsa Indonesia diduga kuat oleh para Arkeolog adalah ras Austronesia. Ras ini mendarat di Kepulauan Nusantara, dan memulai peradaban neolitik. Bukti arkeologi menunjukkan bahwa budaya neolitik dimulai sekitar 5000 tahun lalu di kepulauan Nusantara. Bersamaan dengan budaya baru ini bukti antropologi menunjukkan muncul juga manusia dengan ciri fisik Mongoloid. Populasi Mongoloid ini menyebar di kawasan Nusantara sekitar 5000 sampai 3000 tahun lalu dengan membawa bahasa Austronesia dan teknologi pertanian.

Di Nusantara saat ini paling tidak terdapat 50 populasi etnik Mongoloid yang mendiaminya. Budaya dan bahasa mereka tergolong dalam satu keluarga atau filum bahasa, yaitu bahasa-bahasa Austronesia yang menunjukkan mereka berasal dari satu nenek moyang. Lalu dari manakah populasi Austronesia ini berasal dan daerah manakah pertama kalinya mereka huni di Nusantara ini? Sebuah pertanyaan yang belum terjawab oleh riset sejarah selama ini. Salah satu pendekatan yang dapat dilakukan adalah pengkajian dan analisis yang komprehensif tentang bukti sejarah yang ada dan menelusuri hubungan historis suatu daerah dengan daerah lainnya. Metode yang digunakan adalah mengumpulkan cerita/tombo yang ada di masyarakat dan penelusuran fakta yang mendukung tombo tersebut.

Kerajaan tertua di Pulau Jawa berdasarkan bukti arkeologis adalah kerajaan Salakanegara dibangun abad ke-2 Masehi yang terletak di Pantai Teluk Lada, Pandeglang Banten. Diduga kuat mereka berimigrasi dari Sumatra. Sedangkan Kerajaan tertua di Sumatra adalah kerajaan Melayu Jambi (Chu-po), yaitu Koying (abad 2 M), Tupo (abad ke 3 M), dan Kuntala/Kantoli (abad ke 5 M). Menurut cerita/tombo adat Lubuk Jambi yang diwarisi dari leluhur mengatakan bahwa disinilah lubuk (asal) orang Jambi, oleh karena itu daerah ini bernama Lubuk Jambi. Dalam tombo juga disebutkan di daerah ini terdapat sebuah istana kerajaan Kandis yang sudah lama hilang. Istana itu dinamakan istana Dhamna, berada di puncak bukit yang dikelilingi oleh sungai yang jernih. Penelusuran peninggalan kerajaan ini telah dilakukan selama 7 bulan (September 2008-April 2009), dan telah menemukan lokasi, artefak, dan puing-puing  yang diduga kuat sebagai peninggalan Kandis dengan ciri-ciri lokasi mirip dengan sketsa Plato (347 SM) tentang Atlantis. Namun penemuan ini perlu dilakukan penelitian arkeologis lebih lanjut.


PENDAHULUAN

Nusantara merupakan sebutan untuk negara kepulauan yang terletak di kepulauan Indonesia saat ini. Catatan bangsa Tionghoa menamakan kepulauan ini dengan Nan-hai yang berarti Kepulauan Laut Selatan. Catatan kuno bangsa India menamainya Dwipantara yang berarti Kepulauan Tanah Seberang, yang diturunkan dari kata Sanskerta dwipa (pulau) dan antara (luar, seberang) dan disebut juga dengan Swarnadwiva (pulau emas, yaitu Sumatra sekarang). Bangsa Arab menyebut daerah ini dengan Jaza’ir al-Jawi (Kepulauan Jawa).

Migrasi manusia purba masuk ke wilayah Nusantara terjadi para rentang waktu antara 100.000 sampai 160.000 tahun yang lalu sebagai bagian dari migrasi manusia purba “out of Africa“. Ras Austolomelanesia (Papua) memasuki kawasan ini ketika masih bergabung dengan daratan Asia kemudian bergerak ke timur, sisa tengkoraknya ditemukan di gua Braholo (Yogyakarata), gua Babi dan gua Niah (Kalimantan). Selanjutnya kira-kira 2000 tahun sebelum Masehi, perpindahan besar-besaran masuk ke kepulauan Nusantara (imigrasi) dilakukan oleh ras Austronesia dari Yunan dan mereka menjadi nenek moyang suku-suku di wilayah Nusantara bagian barat. Mereka datang dalam 2 gelombang kedatangan yaitu sekitar tahun 2.500 SM dan 1.500 SM (Wikipedia, 2009).

Bangsa nenek moyang ini telah memiliki peradaban yang cukup baik, mereka paham cara bertani yang lebih baik, ilmu pelayaran bahkan astronomi. Mereka juga sudah memiliki sistem tata pemerintahan sederhana serta memiliki pemimpin (raja kecil). Kedatangan imigran dari India pada abad-abad akhir Sebelum Masehi memperkenalkan kepada mereka sistem tata pemerintahan yang lebih maju (kerajaan).

Kepulauan Nusantara saat ini paling tidak ada 50 populasi etnik yang mendiaminya, dengan karakteristik budaya dan bahasa tersendiri. Sebagian besar dari populasi ini dengan cirri fisik Mongoloid, mempunyai bahasa yang tergolong dalam satu keluarga atau filum bahasa. Bahasa mereka merupakan bahasa-bahasa Austronesia yang menunjukkan mereka berasal dari satu nenek moyang. Sedangkan di Indonesia bagian timur terdapat satu populasi dengan bahasa-bahasa yang tergolong dalam berbagai bahasa Papua.

Pusat Arkeologi Nasional telah berhasil meneliti kerangka berumur 2000-3000 tahun, yaitu penelitian DNA purba dari situs Plawangan di Jawa Tengah dan Gilimanuk Bali. Penelitian itu menunjukkan bahwa manusia Indonesia yang hidup di kedua situs tersebut telah berkerabat secara genetik sejak 2000-3000 tahun lalu. Pada kenyataannya hingga sekarang populasi manusia Bali dan Jawa masih memiliki kekerabatan genetik yang erat hingga sekarang.

Hasil penelitian Alan Wilson tentang asal usul manusia di Amerika Serikat (1980-an) menunjukkan bahwa manusia modern berasal dari Afrika sekitar 150.000-200.000 tahun lampau dengan kesimpulan bahwa hanya ada satu pohon filogenetik DNA mitokondria, yaitu Afrika. Hasil penelitian ini melemahkan teori bahwa manusia modern berkembang di beberapa penjuru dunia secara terpisah (multi origin). Oleh karena itu tidak ada kaitannya manusia purba yang fosilnya ditemukan diberbagai situs di Jawa (homo erectus, homo soloensis, mojokertensis) dan di Cina (Peking Man) dengan perkembangan manusia modern (homo sapiens) di Asia Timur. Manusia purba ini yang hidup sejuta tahun yang lalu merupakan missing link dalam evolusi. Saat homo sapiens mendarat di Kepulauan Nusantara, pulau Sumatra, Jawa dan Kalimantan masih tergabung dengan daratan Asia sebagai sub-benua Sundaland. Sedangkan pulau Papua saat itu masih menjadi satu dengan benua Australia sebagai Sahulland.

Teori kedua yang bertentangan dengan teori imigrasi Austronesia dari Yunan dan India adalah teori Harry Truman. Teori ini mengatakan bahwa nenek moyang bangsa Austronesia berasal dari dataran Sunda-Land yang tenggelam pada zaman es (era pleistosen). Populasi ini peradabannya sudah maju, mereka bermigrasi hingga ke Asia daratan hingga ke Mesopotamia, mempengaruhi penduduk lokal dan mengembangkan peradaban. Pendapat ini diperkuat oleh Umar Anggara Jenny, mengatakan bahwa Austronesia sebagai rumpun bahasa yang merupakan sebuah fenomena besar dalam sejarah manusia. Rumpun ini memiliki sebaran yang paling luas, mencakup lebih dari 1.200 bahasa yang tersebar dari Madagaskar di barat hingga Pulau Paskah di Timur. Bahasa tersebut kini dituturkan oleh lebih dari 300 juta orang. Pendapat Umar Anggara Jenny dan Harry Truman tentang sebaran dan pengaruh bahasa dan bangsa Austronesia ini juga dibenarkan oleh Abdul Hadi WM (Samantho, 2009).

Teori awal peradaban manusia berada di dataran Paparan Sunda (Sunda-Land) juga dikemukan oleh Santos (2005). Santos menerapkan analisis filologis (ilmu kebahasaan), antropologis dan arkeologis. Hasil analisis dari reflief bangunan dan artefak bersejarah seperti piramida di Mesir,  kuil-kuil suci peninggalan peradaban Maya dan Aztec, peninggalan peradaban Mohenjodaro dan Harrapa, serta analisis geografis (seperti luas wilayah, iklim, sumberdaya alam, gunung berapi, dan cara bertani) menunjukkan bahwa sistem terasisasi sawah yang khas Indonesia ialah bentuk yang diadopsi oleh Candi Borobudur, Piramida di Mesir, dan bangunan kuno Aztec di Meksiko. Setelah melakukan penelitian selama 30 tahun Santos menyimpulkan bahwa Sunda Land merupakan pusat peradaban yang maju ribuan tahun silam yang dikenal dengan Benua Atlantis.

Dari kedua teori tentang asal usul manusia yang mendiami Nusantara ini, benua Sunda-Land merupakan benang merahnya. Pendekatan analisis filologis, antropologis dan arkeologis dari kerajaan Nusantara kuno serta analisis hubungan keterkaitan satu dengan lainnya kemungkinan besar akan menyingkap kegelapan masa lalu Nusantara. Penelitian ini bertujuan untuk menelusuri peradaban awal Nusantara yang diduga adalah kerajaan Kandis.

TINJAUAN PUSTAKA

Nusantara dalam Lintasan Sejarah

Kepulauan Nusantara telah melintasi sejarah berabad-abad lamanya. Sejarah Nusantara ini dapat dikelompokkan menjadi lima fase, yaitu zaman pra sejarah, zaman Hindu/Budha, zaman Islam, zaman Kolonial, dan zaman kemerdekaan. Kalau dirunut perjalanan sejarah tersebut zaman kemerdekaan, kolonial, dan zaman Islam mempunyai bukti sejarah yang jelas dan tidak perlu diperdebatkan. Zaman Hindu/Budha juga telah ditemukan bukti sejarah walaupun tidak sejelas zaman setelahnya. Zaman sebelum Hindu/Budha masih dalam teka-teki besar, maka dalam menjawab ketidakjelasan ini dapat dilakukan dengan analisa keterkaitan antar kerajaan. Urutan tahun berdiri kerajaan di Indonesia dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel 1. Kerajaan di Indonesia berdasarkan tahun berdirinya

No Nama Kerajaan Lokasi Situs PerkiraanTahun Berdiri
1. Kerajaan Kandis* Lubuk Jambi, Riau Sebelum Masehi
2. Kerajaan Melayu Jambi Jambi Abad ke-2 M
3. Kerajaan Salakanegara Pandeglang, Banten 150 M
4. Kepaksian Skala Brak Kuno Gunung Pesagi, Lampung Abad ke-3 M
5. Kerajaan Kutai Muara Kaman, Kaltim Abad ke-4 M
6. Kerajaan Tarumanegara Banten Abad ke-4 M
7. Kerajaan Koto Alang Lubuk Jambi, Riau Abad ke-4 M
8. Kerajaan Barus Barus, Sumatra Utara Abad ke-6 M
9. Kerajaan Kalingga Jepara, Jawa Tengah Abad ke-6 M
10. Kerajaan Kanjuruhan Malang, Jawa Timur Abad ke-6 M
11. Kerajaan Sunda Banten-Jawa Barat 669 M
12. Kerajaan Sriwijaya Palembang, Sumsel Abad ke-7 M
13. Kerajaan Sabak Muara Btg. Hari, Jambi 730 M
14. Kerajaan Sunda Galuh Banten-Jawa Barat 735 M
15. Kerajaan Tulang Bawang Lampung 771 M
16. Kerajaan Medang Jawa Tengah 820 M
17. Kerajaan Perlak Peureulak, Aceh Timur 840 M
18. Kerajaan Bedahulu Bali 882 M
19. Kerajaan Pajajaran Bogor, Jawa Barat 923 M
20. Kerajaan Kahuripan Jawa Timur 1009 M
21. Kerajaan Janggala Sidoarjo, Jawa Timur 1042 M
22. Kerajaan Kadiri/Panjalu Kediri, Jawa Timur 1042 M
23. Kerajaan Tidung Tarakan, Kalimantan Timur 1076 M
24. Kerajaan Singasari Jawa Timur 1222 M
25. Kesultanan Ternate Ternate, Maluku 1257 M
26. Kesultanan Samudra Pasai Aceh Utara 1267 M
27. Kerajaan Aru/Haru Pantai Timur, Sumatra Utara 1282 M
28. Kerajaan Majapahit Jawa Timur 1293 M
29. Kerajaan Indragiri Indragiri, Riau 1298 M
30. Kerajaan Panjalu Ciamis Gunung Sawal, Jawa Barat Abad ke-13 M
31. Kesultanan Kutai Kutai, Kalimantan Timur Abad ke-13 M
32. Kerajaan Dharmasraya Jambi 1341 M
33. Kerajaan Pagaruyung Batu Sangkar, Sumbar 1347 M
34. Kesultanan Aceh Banda Aceh 1360 M
35. Kesultanan Pajang Jawa Tengah 1365 M
36. Kesultanan Bone Bone, Sulawesi Selatan 1392 M
37. Kesultanan Buton Buton Abad ke-13 M
38. Kesultanan Malaka Malaka 1402 M
39. Kerajaan Tanjung Pura Kalimantan Barat 1425 M
40. Kesultanan Berau Berau 1432 M
41. Kerajaan Wajo Wajo, Sulawesi Selatan 1450 M
42. Kerajaan Tanah Hitu Ambon, Maluku 1470 M
43. Kesultanan Demak Demak, Jawa Tengah 1478 M
44. Kerajaan Inderapura Pesisir Selatan, Sumbar 1500-an M
45. Kesultanan Pasir/Sadurangas Pasir, Kalimantan Selatan 1516 M
46. Kerajaan Blambangan Banyuwangi, Jawa Timur 1520-an M
47. Kesultanan Tidore Tidore, Maluku Utara 1521 M
48. Kerajaan Sumedang Larang Jawa Barat 1521 M
49. Kesultanan Bacan Bacan, Maluku 1521 M
50. Kesultanan Banten Banten 1524 M
51. Kesultanan Banjar Kalimantan Selatan 1526 M
52. Kesultanan Cirebon Jawa Barat 1527 M
53. Kesultan Sambas Sambas, Kalimantan Barat 1590-an M
54. Kesultanan Asahan Asahan 1630 M
55. Kesultanan Bima Bima 1640 M
56. Kerajaan Adonara Adonara, Jawa Barat 1650 M
57. Kesultanan Gowa Goa, Makasar 1666 M
58. Kesultanan Deli Deli, Sumatra Utara 1669 M
59. Kesultanan Palembang Palembang 1675 M
60. Kerajaan Kota Waringin Kalimantan Tengah 1679 M
61. Kesultanan Serdang Serdang, Sumatra Utara 1723 M
62. Kesultanan Siak Sri Indrapura Siak, Riau 1723 M
63. Kasunanan Surakarta Solo, Jawa Tengah 1745 M
64. Kesltn. Ngayogyakarto Hadiningrat Yogyakarta 1755 M
65. Praja Mangkunegaran Jawa Tengah-Yogyakarta 1757 M
66. Kesultanan Pontianak Kalimantan Barat 1771 M
67. Kerajaan Pagatan Tanah Bumbu, Kalsel 1775 M
68. Kesultanan Pelalawan Pelalawan, Riau 1811 M
69. Kadipaten Pakualaman Yogyakarta 1813 M
70. Kesultanan Sambaliung Gunung Tabur 1810 M
71. Kesultanan Gunung Tabur Gunung Tabur 1820 M
72. Kesultanan Riau Lingga Lingga, Riau 1824 M
73. Kesultanan Trumon Sumatra Utara 1831 M
74. Kerajaan Amanatum NTT 1832 M
75. Kesultanan Langkat Sumatra Utara 1877 M
76. Republik Indonesia Kepulauan Nusantara 17-8-1945
Sumber: http://www.wikipedia.com (dengan olahan), *Tahun berdiri berdasarkan tombo adat

Dalam catatan sejarah terdapat informasi yang terputus antara zaman pra sejarah dengan zaman Hindu/Budha. Namun dari Tabel 1 diatas dapat diperoleh gambaran bahwa peradaban Nusantara kuno bermula di Sumatra bagian tengah dan ujung barat pulau Jawa. Dari abad ke-1 sampai abad ke-4 daerah yang dihuni meliputi Jambi (kerajaan Melayu Tua), Lampung (Kepaksian Skala Brak Kuno), dan Banten (kerajaan Salakanegara). Untuk mengetahui peradaban awal Nusantara kemungkinan besar dapat diketahui melalui analisa keterkaitan tiga kerajaan tersebut.

Kerajaan Melayu Tua di Jambi

Di daerah Jambi terdapat tiga kerajaan Melayu tua yaitu, Koying, Tupo, dan Kantoli. Kerajaan Koying terdapat dalam catatan Cina yang dibuat oleh K’ang-tai dan Wan-chen dari wangsa Wu (222-208) tentang adanya negeri Koying. Tentang negeri ini juga dimuat dalam ensiklopedi T’ung-tien yang ditulis oleh Tu-yu (375-812) dan disalin oleh Ma-tu-an-lin dalam ensiklopedi Wen-hsien-t’ung-k’ao. Diterangkan bahwa di kerajaan Koying terdapat gunung api dan kedudukannya 5.000 li di timur Chu-po (Jambi). Di utara Koying ada gunung api dan di sebelah selatannya ada sebuah teluk bernama Wen. Dalam teluk itu ada pulau bernama P’u-lei atau Pulau. Penduduk yang mendiami pulau itu semuanya telanjang bulat, lelaki maupun perempuan, dengan kulit berwarna hitam kelam, giginya putih-putih dan matanya merah. Melihat warna kulitnya kemungkinan besar penduduk P’u-lei itu bukan termasuk rumpun Proto-Negrito atau Melayu Tua yang sebelumnya menghuni daratan Sumatera (Wikipedia, 2009).

Menurut data Cina Koying telah melakukan perdagangan dalam abad ke 3 M juga di Pasemah wilayah Sumatra Selatan dan Ranau wilayah Lampung telah ditemukan petunjuk adanya aktivitas perdagangan yang dilakukan oleh Tonkin atau Tongkin dan Vietnam atau Fu-nan dalam abad itu juga. Malahan keramik hasil zaman dinasti Han (abad ke 2 SM sampai abad ke 2 M) di temukan di wilayah Sumatera tertentu.

Adanya kemungkinan penyebaran berbagai negeri di Sumatera Tengah hingga Palembang di Selatan dan Sungai Tungkal di utara digambarkan oleh Obdeyn (1942), namun dalam gambar itu kedudukan negeri Koying tidak ada. Jika benar Koying berada di sebelah timur Tupo atau Thu-po, Tchu-po, Chu-po dan kedudukannya di muara pertemuan dua sungai, maka ada dua tempat yang demikian yakni Muara Sabak Zabaq, Djaba, Djawa, Jawa dan Muara Tembesi atau Fo-ts’I, San-fo-tsi’, Che-li-fo-che sebelum seroang sampai di Jambi Tchan-pie, Sanfin, Melayur, Moloyu, Malalyu. Dengan demikian seolah-olah perpindahan Kerajaan Malayu Kuno pra-Sriwijaya bergeser dari arah barat ke timur mengikuti pendangkalan Teluk Wen yang disebabkan oleh sedimen terbawa oleh sungai terutama Batang Tembesi. Hubungan dagang secara langsung terjadi dalam perdagangan dengan negeri-negeri di luar di sekitar Teluk Wen dan Selat Malaka maka besar kemungkinan negeri Koying berada di sekitar Alam Kerinci.

Keberadaan Koying yang pernah dikenal di manca negara sampai abad ke 5 M sudah tidak kedengaran lagi. Diperkirakan setelah Koying melepaskan kekuasaanya atas kerajaan Kuntala, kejayaan pemerintahan Koying secara perlahan-lahan menghilang. Koying yang selama ini tersohor sebagai salah satu negara nusantara pemasok komoditi perdagangan manca negara sudah tidak disebut-sebut lagi. Keadaan seperti ini sebenarnya tidak dialami Koying saja, karena kerajaan lain pun yang pernah jaya semasa itu banyak pula yang mengalami nasib yang sama.

Namun yang jelas, di wilayah Alam Kerinci sebelum atau sekitar permulaan abad masehi telah terdapat sebuah pemerintahan berdaulat yang diakui keberadaanya oleh negeri Cina yang disebut dengan negeri Koying atau kerajaan Koying.

Kerajaan Kepaksian Sekala Brak

Sekala Brak adalah sebuah kerajaandi kaki Gunung Pesagi (gunung tertinggi di Lampung) yang menjadi cikal-bakal suku bangsa/etnis Lampung saat ini. Asal usul bangsa Lampung adalah dari Sekala Brak yaitu sebuah Kerajaan yang letaknya di dataran Belalau, sebelah selatan Danau Ranau yang secara administratif kini berada di Kabupaten Lampung Barat. Dari dataran Sekala Brak inilah bangsa Lampung menyebar ke setiap penjuru dengan mengikuti aliran Way atau sungai-sungai yaitu Way Komring, Way Kanan, Way Semangka, Way Seputih, Way Sekampung dan Way Tulang Bawang beserta anak sungainya, sehingga meliputi dataran Lampung dan Palembang serta Pantai Banten.

Dalam catatan Kitab Tiongkok kuno yang disalin oleh Groenevelt kedalam bahasa Inggris bahwa antara tahun 454 dan 464 Masehi disebutkan kisah sebuah Kerajaan Kendali yang terletak di antara pulau Jawa dan Kamboja. Hal ini membuktikan bahwa pada abad ke 3 telah berdiri Kerajaan Sekala Brak Kuno yang belum diketahui secara pasti kapan mulai berdirinya. Kerajaan Sekala Brak menjalin kerjasama perdagangan antar pulau dengan Kerajaan Kerajaan lain di Nusantara dan bahkan dengan India dan Negeri Cina.

Kerajaan Salakanegara

Kerajaan Salakanagara (Salaka=Perak) atau Rajatapura termasuk kerajaan Hindu. Ceritanya atau sumbernya tercantum pada Naskah Wangsakerta. Kerajaan ini dibangun tahun 130 Masehi yang terletak di pantai Teluk Lada (wilayah Kabupaten Pandeglang, Banten). Raja pertamanya yaitu Dewawarman yang memiliki gelar Prabu Darmalokapala Dewawarman Haji Rakja Gapura Sagara yang memerintah sampai tahun 168 M.

Dalam Babad suku Sunda, Kota Perak ini sebelumnya diperintah oleh tokoh Aki Tirem Sang Aki Luhur Mulya atau Aki Tirem, waktu itu kota ini namanya Pulasari. Aki Tirem menikahkan putrinya yang bernama Pohaci Larasati dengan Dewawarman. Dewawarman ini sebenarnya Pangeran yang asalnya dari negri Palawa di India Selatan. Daerah kekuasaan kerajaan ini meliputi semua pesisir selat Sunda yaitu pesisir Pandeglang, Banten ke arah timur sampai Agrabintapura (Gunung Padang, Cianjur), juga sampai selat Sunda hingga Krakatau atau Apuynusa (Nusa api) dan sampai pesisir selatan Swarnabumi (pulau Sumatra). Ada juga dugaan bahwa kota Argyre yang ditemukannya Claudius Ptolemalus tahun 150 M itu kota Perak atau Salaknagara ini. Dalam berita Cina dari dinasti Han, ada catatan dari raja Tiao-Pien (Tiao=Dewa, Pien=Warman) dari kerajaan Yehtiao atau Jawa, mengirim utusan/duta ke Cina tahun 132 M.

Mitologi Minangkabau

Orang Minangkabau mengakui bahwa mereka merupakan keturunan Raja Iskandar Zulqarnaen (Alexandre the Great) Raja Macedonia yang hidup 354-323 SM. Dia seorang raja yang sangat besar dalam sejarah dunia. Sejarahnya merupakan sejarah yang penuh dengan penaklukan daerah timur dan barat yang tiada taranya. Dia berkeinginan untuk menggabungkan kebudayaan barat dengan kebudayaan timur.

Dalam Tambo disebutkan bahwa Iskandar Zulkarnain mempunyai tiga anak, yaitu Maharajo Alif, Maharajo Dipang, dan Maharajo Dirajo. Maharajo Alif menjadi raja di Benua Ruhun (Romawi), Maharajo Dipang menjadi raja di negeri Cina, sedangkan Maharajo Dirajo menjadi raja di Pulau Emas (Sumatera).

Kalau kita melihat kalimat-kalimat tambo sendiri, maka dikatakan sebagai berikut: “…Tatkala maso dahulu, batigo rajo naiek nobat, nan surang Maharajo Alif, nan pai ka banda Ruhum, nan surang Maharajo Dipang nan pai ka Nagari Cino, nan surang Maharajo Dirajo manapek ka pulau ameh nan ko…” (pada masa dahulu kala, ada tiga orang yang naik tahta kerajaan, seorang bernama Maharaja Alif yang pergi ke negeri Ruhum (Eropa), yang seorang Maharajo Dipang yang pergi ke negeri Cina, dan seorang lagi bernama Maharajo Dirajo yang menepat ke pulau Sumatera).

Dalam versi lain diceritakan, seorang penguasa di negeri Ruhum (Rum) mempunyai seorang putri yang sangat cantik. Iskandar Zulkarnain menikah dengan putri tersebut. Dengan putri itu Iskandar mendapat tiga orang putra, yaitu Maharaja Alif, Maharaja Depang, dan Maharaja Diraja. Setelah ketiganya dewasa Iskandar berwasiat kepada ketiga putranya sambil menunjuk-nunjuk seakan-akan memberitahukan ke arah itulah mereka nanti harus berangkat melanjutkan kekuasaannya. Kepada Maharaja Alif ditunjuk kearah Ruhum, Maharaja Depang negeri Cina, Maharaja Diraja ke Pulau Emas (Nusantara).

Setelah Raja Iskandar wafat, ketiga putranya berangkat menuju daerah yang ditunjukkan oleh ayahnya. Maharaja Diraja membawa mahkota yang bernama “mahkota senggahana”, Maharaja Depang membawa senjata bernama “jurpa tujuh menggang”, Maharaja Alif membawa senjata bernama “keris sempana ganjah iris” dan lela yang tiga pucuk. Sepucuk jatuh ke bumi dan sepucuk kembali ke asalnya jadi mustika dan geliga dan sebuah pedang yang bernama sabilullah.

Berlayarlah bahtera yang membawa ketiga orang putra itu ke arah timur, menuju pulau Langkapuri. Setibanya di dekat pulau Sailan ketiga saudara itu berpisah, Maharaja Depang terus ke Negeri Cina, Maharaja Alif kembali ke negeri Ruhum, dan Maharaja Diraja melanjutkan pelayaran ke tenggara menuju sebuah pulau yang bernama Jawa Alkibri atau disebut juga dengan Pulau Emas (Andalas atau Sumatra sekarang). Setelah lama berlayar kelihatanlah puncak gunung merapi sebesar telur itik, maka ditujukan bahtera kesana dan berlabuh didekat puncak gunung itu. Seiring menyusutnya air laut mereka berkembang di sana.

Dari keterangan Tambo itu tidak ada dikatakan angka tahunnya hanya dengan istilah “Masa dahulu kala” itulah yang memberikan petunjuk kepada kita bahwa kejadian itu sudah berlangsung sangat lama sekali, sedangkan waktu yang mencakup zaman dahulu kala itu sangat banyak sekali dan tidak ada kepastiannya. Kita hanya akan bertanya-tanya atau menduga-duga dengan tidak akan mendapat jawaban yang pasti. Di kerajaan Romawi atau Cina memang ada sejarah raja-raja yang besar, tetapi raja mana yang dimaksudkan oleh Tambo tidak kita ketahui. Dalam hal ini rupanya Tambo Alam Minangkabau tidak mementingkan angka tahun selain dari mementingkan kebesaran kemasyuran nama-nama rajanya.

Mitologi Lubuk Jambi[2]

Pulau Perca adalah salah satu sebutan dari nama Pulau Sumatera sekarang. Pulau ini telah berganti-ganti nama sesuai dengan perkembangan zaman. Diperkirakan pulau ini dahulunya merupakan satu benua yang terhampar luas di bagian selatan belahan bumi. Karena perubahan pergerakan kulit bumi, maka ada benua-benua yang tenggelam ke dasar lautan dan timbul pulau-pulau yang berserakan. Pulau Perca ini timbul terputus-putus berjejer dari utara ke selatan yang dibatasi oleh laut. Pada waktu itu Pulau Sumatera bagaikan guntingan kain sehingga pulau ini diberi nama Pulau Perca. Pulau Sumatera telah melintasi sejarah berabad-abad lamanya dengan beberapa kali pergantian nama yaitu: Pulau Perca, Pulau Emas (Swarnabumi), Pulau Andalas dan terakhir Pulau Sumatra.

Pulau Perca terletak berdampingan dengan Semenanjung Malaka yang dibatasi oleh Selat Malaka dibagian Timur dan Samudra Hindia sebelah barat sebagai pembatas dengan Benua Afrika. Pulau Perca berdekatan dengan Semenanjung Malaka, maka daerah yang dihuni manusia pertama kalinya berada di Pantai Timur Pulau Perca karena lebih mudah dijangkau dari pada Pantai bagian barat. Pulau Perca yang timbul merupakan Bukit Barisan yang berjejer dari utara ke selatan, dan yang paling dekat dengan Semenanjung Malaka adalah Bukit Barisan yang berada di Kabupaten Kuantan Singingi sekarang, tepatnya adalah Bukit Bakau yang bertalian dengan Bukit Betabuh dan Bukit Selasih (sekarang berada dalam wilayah Kenagorian Koto Lubuk Jambi Gajah Tunggal, Kecamatan Kuantan Mudik, Kabupaten Kuantan Singingi, Propinsi Riau), sedangkan daratan yang rendah masih berada di bawah permukaan laut.

Nenek moyang Lubuk Jambi diyakini berasal dari keturunan waliyullah Raja Iskandar Zulkarnain. Tiga orang putra Iskandar Zulkarnain yang bernama Maharaja Alif, Maharaja Depang dan Maharaja Diraja berpencar mencari daerah baru. Maharaja Alif ke Banda Ruhum, Maharaja Depang ke Bandar Cina dan Maharaja Diraja ke Pulau Emas (Sumatra). Ketika berlabuh di Pulau Emas, Maharaja Diraja dan rombongannya mendirikan sebuah kerajaan yang dinamakan dengan Kerajaan Kandis yang berlokasi di Bukit Bakar/Bukit Bakau. Daerah ini merupakan daerah yang hijau dan subur yang dikelilingi oleh sungai yang jernih.

Maharaja Diraja sesampainya di Bukit Bakau membangun sebuah istana yang megah yang dinamakan dengan Istana Dhamna. Putra Maharaja Diraja bernama Darmaswara dengan gelar Mangkuto Maharaja Diraja (Putra Mahkota Maharaja Diraja) dan gelar lainnya adalah Datuk Rajo Tunggal (lebih akrab dipanggil). Datuk Rajo Tunggal memiliki senjata kebesaran yaitu keris berhulu kepala burung garuda yang sampai saat ini masih dipegang oleh Danial gelar Datuk Mangkuto Maharajo Dirajo. Datuk Rajo Tunggal menikah dengan putri yang cantik jelita yang bernama Bunda Pertiwi. Bunda Pertiwi bersaudara dengan Bunda Darah Putih. Bunda Darah Putih yang tua dan Bunda Pertiwi yang bungsu. Setelah Maharaja Diraja wafat, Datuk Rajo tunggal menjadi raja di kerajaan Kandis. Bunda Darah Putih dipersunting oleh Datuk Bandaro Hitam. Lambang kerajaan Kandis adalah sepasang bunga raya berwarna merah dan putih.

Kehidupan ekonomi kerajaan Kandis ini adalah dari hasil hutan seperti damar, rotan, dan sarang burung layang-layang, dan dari hasil bumi seperti emas dan perak. Daerah kerajaan Kandis kaya akan emas, sehingga Rajo Tunggal memerintahkan untuk membuat tambang emas di kaki Bukit Bakar yang dikenal dengan tambang titah, artinya tambang emas yang dibuat berdasarkan titah raja. Sampai saat ini bekas peninggalan tambang ini masih dinamakan dengan tambang titah.

Hasil hutan dan hasil bumi Kandis diperdagangkan ke Semenanjung Melayu oleh Mentri Perdagangan Dt. Bandaro Hitam dengan memakai ojung atau kapal kayu. Dari Malaka ke Kandis membawa barang-barang kebutuhan kerajaan dan masyarakat. Demikianlah hubungan perdagangan antara Kandis dan Malaka sampai Kandis mencapai puncak kejayaannya. Mentri perdagangan Kerajaan Kandis yang bolak-balik ke Semenanjung Malaka membawa barang dagangan dan menikah dengan orang Malaka. Sebagai orang pertama yang menjalin hubungan perdagangan dengan Malaka dan meninggalkan cerita Kerajaan Kandis dengan Istana Dhamna kepada anak istrinya di Semenanjung Melayu.

Dt. Rajo Tunggal memerintah dengan adil dan bijaksana. Pada puncak kejayaannya terjadilah perebutan kekuasaan oleh bawahan Raja yang ingin berkuasa sehingga terjadi fitnah dan hasutan. Orang-orang yang merasa mampu dan berpengaruh berangsur-angsur pindah dari Bukit Bakar ke tempat lain di antaranya ke Bukit Selasih dan akhirnya  berdirilah kerajaan Kancil Putih di Bukit Selasih tersebut.

Air laut semakin surut sehingga daerah Kuantan makin banyak yang timbul. Kemudian berdiri pula kerajaan Koto Alang di Botung (Desa Sangau sekarang) dengan Raja Aur Kuning sebagai Rajanya. Penyebaran penduduk Kandis ini ke berbagai tempat yang telah timbul dari permukaan laut, sehingga berdiri juga Kerajaan Puti Pinang Masak/Pinang Merah di daerah Pantai (Lubuk Ramo sekarang). Kemudian juga berdiri Kerajaan Dang Tuanku di Singingi dan kerajaan Imbang Jayo di Koto Baru (Singingi Hilir sekarang).

Dengan berdirinya kerajaan-kerajaan baru, maka mulailah terjadi perebutan wilayah kekuasaan yang akhirnya timbul peperangan antar kerajaan. Kerajaan Koto Alang memerangi kerajaan Kancil Putih, setelah itu kerajaan Kandis memerangi kerajaan Koto Alang dan dikalahkan oleh Kandis. Kerajaan Koto Alang tidak mau diperintah oleh Kandis, sehingga Raja Aur Kuning pindah ke daerah Jambi, sedangkan Patih dan Temenggung pindah ke Merapi.

Kepindahan Raja Aur Kuning ke daerah Jambi menyebabkan Sungai yang mengalir di samping kerajaan Koto Alang diberi nama Sungai Salo, artinya Raja Bukak Selo (buka sila) karena kalah dalam peperangan. Sedangkan Patih dan Temenggung lari ke Gunung Merapi (Sumatra Barat) di mana keduanya mengukir sejarah Sumatra Barat, dengan berganti nama Patih menjadi Dt. Perpatih nan Sabatang dan Temenggung berganti nama menjadi Dt. Ketemenggungan.

Tidak lama kemudian, pembesar-pembesar kerajaan Kandis mati terbunuh diserang oleh Raja Sintong dari Cina belakang, dengan ekspedisinya dikenal dengan ekspedisi Sintong. Tempat berlabuhnya kapal Raja Sintong, dinamakan dengan Sintonga. Setelah mengalahkan Kandis, Raja Sintong beserta prajuritnya melanjutkan perjalanan ke Jambi. Setelah kalah perang pemuka kerajaan Kandis berkumpul di Bukit Bakar, kecemasan akan serangan musuh, maka mereka sepakat untuk menyembunyikan Istana Dhamna dengan melakukan sumpah. Sejak itulah Istana Dhamna hilang, dan mereka memindahkan pusat kerajaan Kandis ke Dusun Tuo (Teluk Kuantan sekarang).

METODOLOGI PENELITIAN

Penelitian ini dikelompkkan menjadi dua, yaitu penelitian pendahuluan dan penelitian lanjutan. Penelitian pendahuluan terdiri dari mengumpulkan cerita/tombo/mitologi di daerah Lubuk Jambi dengan melakukan wawancara dengan pemangku adat setempat. Kemudian melakukan analisis topografi untuk mencari titik lokasi yang diduga kuat sebagai lokasi kerajaan. Tahap berikutnya adalah melakukan ekspedisi/pencarian lokasi. Penelitian lanjutan adalah penelitian arkeologis untuk membuktikan kebenaran cerita/tombo. Data yang didapatkan di lokasi dianalisis dan dicari keterkaitannya dengan bukti sejarah dan cerita di daerah sekitarnya (Jambi dan Minangkabau). Penelitian pendahuluan mulai dilaksanakan pada bulan September 2008 sampai April 2009, sementara penelitian lanjutan belum dilaksanakan karena keterbatasan sumberdaya.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Deskripsi Lokasi Kerajaan Kandis

Analisis topografi yang dilakukan pada peta satelit yang diambil dari google earth, ditemukan lokasi yang dicirikan di dalam tombo/cerita (bukit yang dikelilingi oleh sungai). Daerah tersebut berada pada titik 0042’58 LS dan 101020’14 BT (Gambar 1) atau berada hampir di titik tengah pulau Sumatra (perbatasan Sumatra Barat dan Riau). Lokasinya berada di tengah hutan adat Lubuk Jambi, oleh pemerintah dijadikan sebagai kawasan hutan lindung yang dinamakan dengan hutan lindung Bukit Betabuh. Jarak lokasi dari jalan lintas tengah Sumatra lebih kurang 10 km ke arah barat, dengan topografi perbukitan.

Lokasi kandis atlantis

 

 

 

 

 

 

Gambar 1 Hipotesa Lokasi Istana Dhamna

Pencarian lokasi/ekspedisi dilakukan dengan peralatan navigasi darat sederhana, yaitu menggunakan peta, kompas, dan teropong binokuler. Pada lokasi yang dituju, ditemukan hal-hal yang mencirikan bukit tersebut sebagai peninggalan peradaban manusia. Lebih kurang 2 km sebelum Bukit  Bakar ditemukan batu karst/karang laut yang berjejer, batu ini diduga sebagai pagar lingkar luar kerajaan (Gambar 2)

1

Gambar 2 Batu Karst yang diduga sebagai pagar lingkar luar kerajaan

Pada bukit yang dikelilingi oleh sungai yang sangat jernih, pada bagian puncaknya ditemukan batu karst yang memenuhi puncak bukit (Gambar 3). Batu karst itu pada lereng bagian timur dan utara tersingkap, sedangkan lereng selatan dan barat tertimbun. Lereng tenggara ditemukan seperti tiang batu yang diduga bekas menara istana (Gambar 4).

2

 

Gambar 3 Batu Karst yang memenuhi puncak bukit

Gambar 4 Tiang batu yang diduga bekas menara istana

Pada lereng timur bukit sebelah atas kira-kira 1200 m dari sungai ditemukan mulut goa yang diduga pintu istana, akan tetapi pintu ini pada bagian dalam sudah tertutup oleh reruntuhan batu. Pintu goa ini tingginya 5 meter dengan ruangan di dalamnya sejauh 3 meter, dan dalam goa tersebut terlihat seperti ada ruangan besar di dalamnya namun sudah tertutup (Gambar 5).5

Gambar 5 Mulut goa yang diduga pintu masuk istana

Pada lereng bukit bagian selatan sampai ke barat ditemukan teras sebanyak tiga tingkat, diduga bekas cincin air (Gambar 6), sementara lereng utara sampai timur sangat curam dan terlihat seperti terjadi erosi yang parah. Teras ini lebarnya rata-rata 4 m, jarak antara sungai dengan teras pertama kira-kira 200 m, teras pertama dengan teras kedua kira-kira 400 m, teras kedua dengan teras ketiga kira-kira 500 m dan panjang lereng diperkirakan 1500 m. Berdasarkan analisa di peta bukit ini dari timur ke barat berdiameter 3000 m, dan dari utara ke selatan berdiameter 3000 m, beda elevasi antara sungai dengan puncak bukit 245 m. Pada lereng barat daya, kira-kira pada ketinggian lereng 800 m ditemukan mata air yang mengalir deras. Ukuran ini berdasarkan perkiraan di lapangan dan  pengukuran di peta satelit. Untuk mendapatkan ukuran sebenarnya perlu pengukuran dilapangan.

Gambar 6  Teras yang diduga bekas cincin air

Gambar 7 Sketsa Lokasi situs kerajaan KandisTitik Lokasi Kandis

Melihat ciri-ciri atau karakter lokasi, lokasi ini sangat mirip dengan sketsa kerajaan Atlantis yang ditulis dalam mitologi Yunani “Timeus dan Critias” karya Plato (360 SM). Mitologi ini menyebutkan “Poseidon mengukir gunung tempat kekasihnya tinggal menjadi istana dan menutupnya dengan tiga parit bundar yang lebarnya meningkat, bervariasi dari satu sampai tiga stadia dan terpisah oleh cincin tanah yang besarnya sebanding”. Bangsa Atlantis lalu membangun jembatan ke arah utara dari pegunungan, membuat rute menuju sisa pulau. Mereka menggali kanal besar ke laut, dan di samping jembatan, dibuat gua menuju cincin batu sehingga kapal dapat lewat dan masuk ke kota di sekitar pegunungan; mereka membuat dermaga dari tembok batu parit. Setiap jalan masuk ke kota dijaga oleh gerbang dan menara, dan tembok mengelilingi setiap cincin kota. Tembok didirikan dari bebatuan merah, putih dan hitam yang berasal dari parit, dan dilapisi oleh kuningan, timah dan orichalcum (perunggu atau kuningan). Ada kemiripan mitologi ini dengan mitologi yang ada di Lubuk Jambi.

Gambar 8 Perspektif Istana Dhamna menggunakan Sketsa Kerajaan AtlantisPerspektif

Ini hanya sebuah dugaan yang belum dibuktikan secara ilmiah, oleh karena itu perlu dilakukan penelitian lebih lanjut. Survei arkeologi yang dilakukan ke lokasi belum bisa menyimpulkan lokasi ini sebagai peninggalan kerajaan karena belum cukup barang bukti untuk menyimpulkan seperti itu. Namun sudah dapat dipastikan bahwa daerah tersebut pernah dihuni atau disinggahi manusia dulunya.

Analisa Mitologi Minangkabau vs Mitologi Lubuk Jambi

Terlepas dari benar tidaknya sebuah mitologi, kesamaan cerita dalam mitos tersebut akan mengantarkan pada suatu titik terang. Tambo Minangkabau begitu indah didengar ketika pesta nikah kawin dalam bentuk pepatah adat menunjukkan kegemilangan masa lalu. Tambo Minangkabau dan Tombo Lubuk Jambi, dua cerita yang bertolak belakang. Minangkabau mengatakan bahwa nenek moyangnya adalah Sultan Maharaja Diraja putra Iskandar Zulkarnain yang berlabuh di puncak gunung merapi. Air laut semakin surut keturunan Maharaja Diraja berkembang di sana hingga menyebar kebeberapa daerah di Sumatra. Lain halnya dengan tambo Lubuk Jambi, tambo itu mengatakan bahwa nenek moyangnya adalah Maharaja Diraja putra Iskandar Zulkarnain, berlabuh di Bukit Bakar dan membangun peradaban di sana. Dari Lubuk Jambi keturunan-keturunannya menyebar ke Minangkabau dan Jambi. Namun tambo tidak menyebutkan tahun. Itulah sebabnya daerah ini dinamakan Lubuk Jambi yang berarti asalnya (lubuk) orang-orang Jambi. Menurut ceritanya, Kandis sejak kalah perang dalam ekspedisi Sintong dan penyembunyian peradaban mereka ceritanya disampaikan secara rahasia dari generasi ke generasi oleh Penghulu Adat atau dikenal dalam istilahnya ”Rahasio Penghulu”. Namun kebenaran cerita rahasia ini perlu dibuktikan.

Dari kedua tambo tersebut di atas, dapat ditarik benang merah yaitu ”sama-sama menyebutkan bahwa nenek moyang mereka adalah  Iskandar Zulkarnain”. Tapi dalam catatan sejarah yang diketahui Iskandar Zulkarnain (Alexander the Great/ Alexander Agung) tidak mempunyai keturunan.

Plato-Atlantis-Iskandar Zulkarnain-Kandis

Plato, filosof kelahiran Yunani (Greek philosopher)  yang hidup 427-347 Sebelum Masehi (SM). Plato adalah salah seorang murid Socrates, filosof arif bijaksana, yang kemudian mati diracun oleh penguasa Athena yang zalim pada tahun 399 SM. Plato sering bertualang, termasuk perjalanannya ke Mesir. Pada tahun 387 SM dia mendirikan Academy di Athena, sebuah sekolah ilmu pengetahuan dan filsafat, yang kemudian menjadi model buat universitas moderen. Murid yang terkenal dari Academy tersebut adalah Aristoteles yang ajarannya punya pengaruh yang hebat terhadap filsafat sampai saat ini.

Dengan adanya Academy, banyak karya Plato yang terselamatkan. Kebanyakan karya tulisnya berbentuk surat-surat dan dialog-dialog, yang paling terkenal mungkin adalah Republic. Karya tulisnya mencakup subjek yang terentang dari ilmu pengetahuan sampai kepada kebahagiaan, dari politik hingga ilmu alam. Dua dari dialognya “Timeus dan Critias” memuat satu-satunya referensi orisinil tentang pulau Atlantis.

Bagaimana hubungannya dengan Iskandar Zulkarnain, Iskandar adalah anak dari Raja Makedonia, Fillipus II. Ketika berumur 13 tahun, Raja Filipus mempekerjakan filsuf Yunani terkenal, Aristoteles, untuk menjadi guru pribadi bagi Iskandar. Dalam tiga tahun, Aristoteles mengajarkan berbagai hal serta mendorong Iskandar untuk mencintai ilmu pengetahuan, kedokteran, dan filosofi.

Iskandar Zulkarnain murid dari Aristoteles, dan Aristoteles murid dari Plato. Dari hubungan ini dapat diduga bahwa keturunan Iskandar Zulkarnain yang sampai ke Lubuk Jambi terinspirasi untuk membangun sebuah peradaban/Negara yang ideal seperti Atlantis. Maka mereka membangun sebuah istana dhamna “sebuah replika Atlantis”. Namun semua ini masih perlu pengkajian yang lebih mendalam.

KESIMPULAN

Dari penelitian pendahuluan ini dapat disimpulkan sebagai berikut:

  1. Bukit yang terletak pada 0042’58 LS dan 101020’14 BT diduga sebagai situs peninggalan Kandis yang dimaksudkan didalam tombo/cerita adat.
  2. Kerajaan Kandis diduga sebagai peradaban awal di nusantara.
  3. Kerajaan Kandis merupakan replika dari kerajaan Atlantis yang hilang.

Kesimpulan ini masih bersifat dugaan atau hipotesa untuk melakukan penelitian selanjutnya. Oleh karena itu penelitian arkeologis akan menjawab kebenaran dugaan dan kebenaran tombo/mitos yang ada ditengah-tengah masyarakat.

UCAPAN TERIMA KASIH

Penulis mengucapkan terima kasih kepada Pemangku Adat Kenogorian Lubuk Jambi Gajah Tunggal (Mahmud Sulaiman Dt. Tomo, Syamsinar Dt. Rajo Suaro, Danial Dt. Mangkuto Maharajo Dirajo, Sualis Dt. Paduko Tuan, dan Hardimansyah Dt. Gonto Sembilan), Drs. Sukarman, Mistazul Hanim, Nurdin Yakub Dt. Tambaro, Abdul Aziz Dt. Dano, Bastian Dt. Paduko Sinaro, Ramli Dt. Meloan, Marjalis Dt. Rajo Bandaro, dan Syaiful Dt. Paduko. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada Meutia Hestina, Apriwan Bandaro, dan teman-teman yang membantu penulis dalam ekspedisi: Mudarman, bang Sosmedi, Yogie, Nepriadi, Zeswandi, bang Izul, Diris, Ikos, dan Yusran. Mas Sam dan Erli terima kasih atas informasinya.

DAFTAR PUSTAKA

Datoek Toeah. 1976. Tambo Alam Minangkabau. Pustaka Indonesia. Bukit Tinggi.

Graves, E. E. 2007. Asal-usul Elite Minangkabau Modern. Yayasan Obor Indonesia. Jakarta.

Hall, D. G. E. tanpa tahun. Sejarah Asia Tenggara. Usaha Nasional. Surabaya.

Kristy, R (Ed). 2007. Alexander the Great. Gramedia. Jakarta.

Kristy, R (Ed). 2006. Plato Pemikir Etika dan Metafisika. Gramedia. Jakarta.

Marsden, W. 2008. Sejarah Sumatra. Komunitas Bambu. Depok.

Olthof, W.L. 2008. Babad Tanah Jawi. Penerbit Narasi. Yogyakarta.

Samantho, A. Y. 2009. Misteri Negara Atlantis mulai tersingkap?. Majalah Madina Jakarta. Terbit Mei 2009.

Suwardi MS. 2008. Dari Melayu ke Indonesia. Penerbit Pustaka Pelajar Yogyakarta.

Wikipedia. Ensiklopedi Bebas. http://wikipedia.org.


[1]Koordinator Tim Penelusuran Peninggalan Kerajaan Kandis di Lubuk Jambi Negeri Gajah Tunggal, Kecamatan Kuantan Mudik Kabupaten Kuantan Singingi Propinsi Riau

[2] Dikumpulkan dari cerita yang diwarisi secara turun temurun oleh Penghulu Adat Lubuk Jambi

Iklan

72 comments on “KERAJAAN KANDIS “ATLANTIS NUSANTARA”

  1. Berdasarkan penelitian Robert Blust (1999), juga hasil investigasi Austronesian Basic Vocabulary Database (2008), dari 10 cabang bahasa Austronesia, 9 cabang bahasa Austronesia terdapat di Pulau Formosa (Taiwan) sementara sisanya yang 1 cabang yaitu Melayu-Polinesia tersebar dari Madagaskar sampai Pulau Paskah dan dari Pulau Luzon sampai Selandia Baru. Ini mengimplikasikan rumpun bahasa Austronesia berasal dari Taiwan baru kemudian menyebar ke seputar Pasifik.

  2. BUNG PEBRI MAHMUD AL HAMIDI !
    Makalah anda adalah sesuatu yang baru bagi awam dan saya unjuk salut kepada anda. Akan tetapi ada beberapa ganjalan atas paparan anda tentang kaitan Kerajaan Kandis dengan Atlantis yang diceritakan Plato dalam Cretias dan Timeus.

    Apakah anda lupa bahwa Plato menceritakan Atlantis exist 9000 tahun sebelum masa Plato, atau kira-kira 11.400 tahun lalu? Penelusuran terbaru tentang Atlantis memang mengarah ke Pulau Sumatra, tetapi paparan anda tentang Kerajaan Kandis sebagai replika Atlantis hanya beberapa kecocokan saja, padahal ada puluhan check list yang harus disesuaikan untuk fokus kepada pendekatannya.

    Mitologi2 yang anda paparkan sangat sedikit kaitannya dengan cerita Atlantis, justru yang fokus adalah bahwa penguasa Atlantis disebutkan memiliki 5 pasang garis keturunan, belum lagi ukiran2 dan ciri-ciri fisik lainnya.

    Masih sangat banyak clue yang harus disesuaikan untuk mengarahkan Atlantis berada di salah satu wilayah di Pulau Sumatra sebelum membuat kesimpulan hipotetik. Walau demikian, makalah ini cukup menarik untuk menjadi wacana yang diminati orang. Selamat mencari…

    • Mungkin saja cerita Atlantis juga banyak didengar oleh orang2 Indonesia pada jaman dahulu, sehingga mereka ingin coba meniru dan akhirnya membuat replika seperti Atlantis.

      Satu lagi yang saya bingung, pernah baca di internet bahwa ada utusan dari China yg mengatakan bahwa, kerajaan Tulang Bawang sudah ada sejak abad ke 3M. Tapi di tabel dlm cerita ini kok bisa menjadi 771M?

      Dalam cerita yg lain juga mengatakan bahwa kerajaan Tulang Bawang adalah kerajaan yg pernah berjaya pada masa Hindu dan sudah ada sebelum munculnya kebesaran kerajaan Sriwijaya, bahkan katanya kerajaan Sriwijaya merupakan bentuk federasi dari kerajaan Tulang Bawang dan kerajaan Melayu Jambi, dari cerita ini mendukung ttg kerajaan Tulang Bawang sudah ada sejak abad 3M.

      Mudah-mudahan ada yg berkenan menjelaskan ttg hal ini atau berbagi informasi ttg kerajaan Tulang Bawang. Saya ingin sekali banyak mendapatkan informasi sejarah kerajaan Tulang Bawang, karena saya berasal dari daerah Tulang Bawang.

  3. Kerajaan Salakanagara (Salaka=Perak) atau Rajatapura termasuk kerajaan Hindu. Ceritanya atau sumbernya tercantum pada Naskah Wangsakerta. Kerajaan ini dibangun tahun 130 Masehi yang terletak di pantai Teluk Lada (wilayah Kabupaten Pandeglang, Banten). Raja pertamanya yaitu Dewawarman yang memiliki gelar Prabu Darmalokapala Dewawarman Haji Rakja Gapura Sagara yang memerintah sampai tahun 168 M.

    Paragrap diatas saya petik dari artikel; yang menjadi pertanyaan adalah; Apakah rajanya yang memerintah tahun 130 – 168 anda sebut seorang haji? sementara Islam mulai berkembang di tahun 1 Hijrah adalah tahun 622 Masehi. Atau apakah anda ada salah ketik mengenai tahun yang seharusnya disebut tahun Hijrah (130 H – 168 H). Coba anda telusuri lagi sumber anda supaya tiak menjadi sejarah asal-asalan di makalah anda?

  4. Ulasan saudara tentang Kerajaan Kandis sebagai replika Atlantis hanya beberapa kecocokan saja namun itu tidak boleh dijadikan acuan untuk menjeneralisasi semua suku budaya di kepulauan nusantara itu sama. Di Timor tidak ada sangkut pautnya dengan kajian saudara dan memang tidak ada hubungan ko.Mitologi2 yang saudara sajikan sangat tidak ada kaitannya dengan cerita Atlantis, apalagi dengan wilayah Indonesia Timur seperti Timor, Molukas, Papua, sulawesi dan pulau-pulau lainya. Kelihatannya anda sedang bermimpi dan silahkan anda bermimpi tetapi jangan terbuai mimpi-mimpi disiang bolong. Sumber nya mana ……………???????????????

  5. Tulisan yang bagus Pak, mohon izin share dan copy paste Pak utk menambah wawasan saya dan teman2. Terimakasih.

  6. Tak Tau mau mengatakan apa, memang luar biasa, yang perlu di tindak lanjuti adalah sosialisasi kepada masyarakat. terutama masyarakat kuantan singingi sendiri yang banaayk tidak mengatahui..dan perlu di patenkan ke dunia internasional

  7. mohon izin share ya pak.. menarik sekali pembahasannya…

  8. Artikel yang menarik, terutama dengan menghangatnya hasil analisis Atlantis oleh Prof. Santos. Mudah2an analisis Prof. Santos mengenai Atlantis ini menggugah kita untuk lebih semangat, lebih bangga dan tentunya ini semua untuk kemajuan negeri kita Indonesia.
    Indonesia super power………………….
    Ada masukan saja untuk tulisan ini mengenai Alexander/Iskandar Zulkarnain. Beberapa tulisan mengatakan bahwa Iskandar Zulkarnaen yang ada di Al Quran itu beda dengan Iskandar/Aleksander Zulkarnaen di Yunani.
    Oleh karena itu boleh jadi hikayat tetua kita dari Minangkabau dan Jambi bahwa mereka keturunan Iskandar Zulkarnaen tidak salah, karena boleh jadi bukan Iskandar Zulkarnaen zaman Yunani, tetapi yang lain, yang ada pada Al Quran.
    Terima kasih.

  9. Bagus sekali informasinya, selama ini kerajaan kandis tidak pernah diungkit dalam literatur pelajaran sekolah, yang saya tahu kandis itu merupakan daerah kabupaten di Provinsi Riau, letaknya antara rumbai dan duri (kampung halaman saya). Kita patut bangga jika benar atlantis itu adalah sundaland, berarti moyang kita orang hebat. Sayang sekali sekarang kita sedang terpuruk. tapi begitulah hidup, patah tumbuh hilang berganti….

    numpang copas ya….

    http://th3-3city.blogspot.com

  10. Saya adalah generasi ke-4 Sultan Bulungan yang Terakhir, Sultan M.M.Djalaluddin dari Kerajaan Bulungan Kalimantan Timur. Sedikit koreksi untuk daftar kerajaan diatas. Kerajaan Tidung tidak ada….kecuali bila legenda tangkuban perahu diakui sebagai sejarah. Yang ada adalah Kerajaan Bulungan, dapat dibuktikan dengan adanya makam dan situs eks istana (Istana musnah dalam peristiwa pembantaian massal oleh TNI pd th 1965) Kerajaan Belanda juga mencatat adanya kerajaan Bulungan. Mohon agar daftar diatas di koreksi agar tidak terjadi penyimpangan sejarah.

  11. Ada beberapa comentator yang masih keberatan tapi itu menjadi suport untuk lebih giat lagi mencari sumber sebagai jawaban atas clue.. tapi dengan berani meneliti dan membuka wacana itu akan serta merta mengundang semua arkeolog dunia mencari tau juga…..

    Good Job Pak…
    Ijin Copas..

  12. salu kok buat bung pebri maslah benar tdk…mash perlu harus di periksa…..soalnya ini mslah sejarah…dan makalah andasudah diterbitkan dlam bentk buku……kalo ini sampe salah ……anda telah ,merubah salah…tp hebat buat anda

  13. Boleh nimbrung nih,..? Yang pasti,..wilayah kita Indonesia adalah Surga,.berarti dari jaman dahulu kala Nusantara kita ini,.sudah di datangi dan di duduki oleh,.orang asing. yaitu Iskandar muda. bisa saja iskandar muda datng ke nusantara karena cerita Arisroteles mengenai benua emas,.ato Andalas,.ato memurut Pluto Atlantis. di mana Pluto mempunyai murid Aristoteles dan Iskandar Zulkarnaen adalah murid yang di tunjuk langsung sang raja untuk menjadi penasehat anaknya yaitu raja Iskandar Zulkarnaen. tentu yang jadi pertanyaan adalah apa di saat Iskandar Zulkarnaen datang ke wilayah Nusantara apa di sana sudah ada penghuninya,..? klo ya,..ya itu keturunan asli Indonesia.

  14. Mohon diralat tentang tahun tahun berdirinya Kerajaan Tulang Bawang Lampung, karena menurut cerita pengembara I-Tsing dan Tom Pires, kerajaan Tulang Bawang telah berdiri sejak abad ke-3, lebih dahulu berdiri sebelum Kerajaan Sriwijaya di Palembang.

  15. Yang HAQ akan kembali kepada yang HAQ sedang yang bathil akan binasa (buka saja Alqur’an), sebenarnya mereka para ahli kitab (terutama leluhur Israel) sangat percaya & mengerti tentang sejarah dunia ini tapi mereka mengingkari (menutupi), lantas bagaimana dengan Islam (silahkan segera pelajari alquran, seperti israel) pasti akan lebih paham, kalau masih bingung/susah, pelajari saja sejarah Indonesia minimal dari tahun 1945-1955 disana masih ada kesimpang siuran sejarah tentang Darus Islam (DI/TII) & PKI. Kenapa bisa ada DI/TII (atau yang dikenal sekarang NII) & PKI apa hanya karena perebutan kekuasan atau ada unsur antek penjajah?
    Yang pasti Indonesia ini akan dipimpin oleh mereka yang memakai Alquran yaitu NEGARA ISLAM INDONESIA (NII) dengan bentuk REPUBLIK, yang memiliki bukti nyata dalam bentuk Pembangunan Modern (sekarang sudah berdiri megah, tapi sering ditutupi kegiatannya oleh pemerintah Republik Indonesia), ciri kegiatannya adalah pembangunan ekonomi & pendidikan (tidak mengajak pada hal yang berbau anarkis, sporadis)

    • Masuk akal, saya setuju dengan pendapat muslim. dari beberapa artikel yang saya baca kelihatannya memang menuju kearah sana, Bahwa Indonesia akan dipimpin oleh pemerintahan yang mengunakan Al-Quran dan Al-Hadist sebagai panduan Undang2 (sama seperti zaman Rasulullah). hanya saja “The New World Order” berusaha untuk mencegah supaya hal itu tidak terjadi, karena mereka tahu tentang sejarah dan ramalan2 yang akan terjadi. Mereka memutar balikan sejarah & “membutakan” orang2.

  16. Kerajaan Adonara, di Pulau Adonara Kabupaten Flores Timur, Prov NTT. Data yang bersumber dari mana bahwa berlokasi Jawa Barat?

  17. maaf pak, saya mau ikut mengkoreksi sedikit, seperti halnya komentator2 diatas, memang banyak kesalahan penulisan baik tahun maupun lokasi kerajaan2 di daftar yang anda buat, seperti tulang bawang, kemudian anda juga salah menuliskan lokasi taruma negara, karena taruma negara bukan di banten tapi di jawa barat, taruma negara tidak berada di wilayah tangerang saat ini, tapi antara karawang dan bekasi, munkin anda bisa mendalami dengan menelitinya lebih dulu…terima kasih…

  18. wah wah wah nampaknya semakin menarik untuk dikaji sejarah nusantara ini, salut untuk penulis & para commentator yang sudah ikut andil dalam penelusuran sejarah nenek moyang kita. . .
    Ya walaupun masih banyak ketidaksempurnaan dalam penulisan yang dipaparkan tetapi harus menjadi tantangan bersama untuk mengungkap sejarah yang telah digelapkan oleh orang2 tertentu yang tidak menginginkan bangsa ini besar & maju.
    Nah makanya untuk penulis saya sarankan untuk lebih teliti lagi dalam menyajikan data2nya jangan sampai ada kesalahan tahun & tempat (biar gag dibilang asal-asalan) karena bisa berakibat fatal dalam pengungkapan fakta sejarah yang sebenarnya. Dan untuk para commentator juga jangan cuma bisanya ngomong doang, tapi buat juga dong tulisan yang kualitasnya bisa lebih baik dari ini.
    Yang penting penelusuran sejarah tidak berhenti sampai disini teman2.
    Sukses for All. . .

  19. Maaf Daftar diatas kurang, Kerajaan Luwu Periode I di Sulawesi telah berdiri SM jauh sebelum ada kerajaan di Nusantara, Kerajaan Luwu Periode II sekitar abad 7 M dengan Raja I Simpurussiang. Silahkan baca artikel “Sureq I Lagaligo” karya sastra Luwu terpanjang dan kitab tertua sastra karya manusia didunia. oleh Prof. A. Kern (Antropolog Belanda 1800-an) mensejajarkan dengan kitab Yunani Kuno dangan Mahabarata. Supaya lengkap khasanah budaya dan sejarah kita, dan tidak menutup kemungkinan justru di Luwu lah Pusat Atlantis itu. Anehnya Sejarah Luwu dengan kebesarannya justru sangat dikenal di Dunia dibanding sejarawan di Indonesia. Jadi perlu ada pelurusan sejarah, terlalu banyak sejarah di Indonesia yang diputarbalikkan. sekedar info.

    • wah, itu yang membuat saya juga penasaran,. Saya belum baca dan belum punya buku Sureq I Lagaligo itu. Apakah Bapak bisa membantu saya untuk mendapat buku itu atau copynya? Ada kemungkinan besar Atlantis itu di Sulawesi, sebab beberapa sarjana yang menelitinya, misalnya Oppenheimer, mengidikasikan bahwa peradaban EDen in The East itu berada di sekitar pantai Timur Sunda Land (Sulawesi & Kalimantan Timur, atau di NTT-NTB ?

  20. Historis. ”Kerajaan timor yang hilang”
    ”KING OF WEST TIMOR”
    sesungguhnya………..:Moyang kerajaan timor datang dari india belangkang (madagaskar) sudah ber juta-juta tahun yang lalu, mereka datang di pulau timor perahunya bersandar di tempat yang bernama fatu kopan/bahtera nuh yang sekarang di kenal niki-niki dan mereka mendiami di tempat bernama tunbestua/niki-niki sampai abad ke 8/9 mereka berpindah ke kupang ada dua tempat yang pertama kantor bupati kupang dan yang ke 2 gunung taibenu’ dan mreka berpindah dari tunbestua/niki-niki mereka mengangkat nubatonis menjadi raja di tempat itu dan menjaga kerajaan itu. dan sesampainya di kupang lalu berpindah ke amarasi oekabiti/oebaki dan mendirikan kerajaan timor terakir di hutan larangan amarasi sampai sekarang ini tempatnya bernama kopan taimetan. dan sebelum mereka berpindah ke amarasi di abad ke 12 dan 13 mereka mengangkat taibenu menjadi raja di tempat itu agar dapat menjaganya peninggalan kerajaan timor.
    kaisar kerajaan timor dan 2 orang raja yang pertama kali di west timor :
    kaesar kerajaan timor namanya KOPAN TAIMETAN’ dia mempunyai 2 orang raja yang bernama Usif Natun (amanatun) ke 2 Usif Nuban (amanuban). dan Usif natun adalan raja bagian barat pulau timor dan raja amanuban bagian timur pulau timor, dan raja amanatun ini adalah raja yang terkenal paling jahat dan ilmunya sangat tinggi dan perhiasannya terbuat dari emas, dan kalau raja amanuban ini raja yang suka merangkul (baeik) dan 1 kaisar dan 2 raja ini lah yang sebenarnya.
    Masa penjajahan belanda……..
    kerajaan timor yang pertama kali menentang kerajaan belanda keturunan kaisar timor yang bernama Kaisar Nepkeo/amarasi dia lah panglima perang ke 3 dari kerajaan timor, maka dari itu belanda membentuk kerajaan2 kecil di pulau timor agar menghilangkan keturunan kaisar timor sehingga pengikut kaisar timor di bantai belanda habis-habisan di penjara imigran kupang sekarang ini (jembatan selam) sehingga yang melindungi kaisar timor ini dari belanda dengan memutarbalikan fakta dari seorang tamukung amarasi yang bernama ELISA NUBATONIS/TAINNESU’ sehingga belanda tak lagi mencari kaisar timor dengan sebutan KETURUNAN KEO’kalau di jaman belanda sebut keo di bantai ! ternyata masih tertinggal 1 orang yang ber nama RUBEN KEO/RAISTANIS/NEPARASI. jadi di tahun 1719 kaisar TIMOTIUS KEO/TANIS/TAINNEPA keturunan ke 4 dari kaesar timor menyerahkan tongkat kerajaannya ke raja amarasi ke 2 KORO.
    Sisilah keturunan KAISAR KOPAN TAIMETAN1. KAISAR KOPAN TAIMETAN 2. KAISAR KEO 3. KAISAR NEPKEO/AMARASI (makanya amarasi jadi namanya) 4. KAISAR TIMOTIUS KEO/TANIS/TAINNEPA 5. RUBEN KEO/RAISTANIS/NEPARASI 6. SIMON PETRUS KEO
    Daerah kekuasaan kerajaan timor sampai ke madagaskar.

  21. Artikel yang sangat bagus. Lanjutkan dengan karya2 bagus lainnya. Hidup Nusantara!

  22. KERAJAAN ATLANTIS BERIBUKOTA DI SEKITAR NTT, NTB, MALUKU, SULAWESI !!!
    Oppenheimer, mengidikasikan bahwa peradaban EDen in The East itu berada di sekitar pantai Timur Sunda Land (Sulawesi & Kalimantan Timur, atau di NTT-NTB ? Seperti dikoreksi oleh Bapa Ahmad Samantho di atas itu, sesungguhnya Taman Eden ada di wilayah Maluku, Sulawesi, NTB, NTT sesuai ditunjukan Garis Wallace-Weber, sebagai wilayah Tengah pembagi fauna-flora ke dataran Sunda (Barat) dan ke dataran Sahul (Timur). Wilayah ini juga yang menjadi pembagi lautan pada musim tertentu , Pusat Pusaran di Laut Banda: yakni membagi laut ke perairan lautan Pasifik dan Lautan Hindia

    Juga menjadi gerbang untuk berlayar ke Timur maupun berlayar ke Barat, maupun berlayar dari wilayah Selatan dunia ke wilayah Utara dunia, yakni dari selatan, Timur gerbangnya ada di laut Sawu (antara pulau Timor, Sumba,..menyusur ke dalam Pulau Flores dan Kepulauan Solor: adonara, solor, lembata, alor) masuk melalui selat ombai (Alor), terus Laut Banda menyusur terus ke laut diantara Kepulaun Maluku)…terus ke Barat Amerika melalui Lautan Pasifik, atau juga ke Kutub Utara Dunia. Serta berbagai ciri-ciri atlantis lain, GAJAH, membuat perahu layar, wewangian Cendana, Emas, rempah-rempah, sabuk gunung api, mitos tentang Garuda sebagai pesawat angkasa, karakter laut bercincin, selat-selat sempit di kepulauan Solor dan perairan yang berbahaya, sehingga pelaut/pelayar yang belum biasa tidak mungkin menembus perairan itu untuk ke sebuah samudra atau dunia baru. Tata peradaban Salib Atlantis (Arysio Santos) yang dielaborasi dari gagasan filsuf kesohor Plato tentang sebuah tata susunan masyarakat yang telah berperadaban tinggi, dan itu menjadi Ibu Kandung Peradaban Dunia, itu selama ini diperaktekan suku bangsa Lamaholot, chususnya di Pulau Adonara.

  23. […] ‘alam bi shawab. Lebih lanjut silahkan baca makalah pimpinan team ekspedisi Kandis itu di : https://ahmadsamantho.wordpress.com/2009/06/22/kerajaan-kandis-“atlantis-nusantara”/ Namun terlepas dari benar tidaknya pengakuan mereka, ada juga beberapa pihak yang mengaitkan […]

  24. asal mula orang flores dari mana………..!

  25. Maridup: Haji itu dari aji (sangsekerta), bukan dari Haji b. Arab/Islam.

  26. Hakusamada Hidiralasifa Lawabima Sangkalasifa “Dimana pusat logamulia di situ pintu ehmasa kini.Haka hukumuma takdira jalani siralasira”.

  27. Kerajaan mataram hindu di jateng/jogja kagak ada ceritanya??

  28. […] ‘alam bi shawab. Lebih lanjut silahkan baca makalah pimpinan team ekspedisi Kandis itu di : https://ahmadsamantho.wordpress.com/2009/06/22/kerajaan-kandis-“atlantis-nusantara”/ Namun terlepas dari benar tidaknya pengakuan mereka, ada juga beberapa pihak yang mengaitkan […]

  29. […] [1]Koordinator Tim Penelusuran Peninggalan Kerajaan Kandis di Lubuk Jambi Negeri Gajah Tunggal, Kecamatan Kuantan Mudik Kabupaten Kuantan Singingi Propinsi Riau […]

  30. salah satu candi yg ada di Rokan Hilir Riau adalah candi SINTONG, apakah ada hubungannya dengan maharaja SINTONGA yg menyerang kerajaan KANDIS

  31. […] NEO-LIBERALISME RINTNTIS NUSANTARA” […]

  32. Di Sumatera Selatan banyak terdapat peninggalan megalith di sekitar Gunung Dempo. Adakah penelitian yang lebih mendalam mengenai peradaban masa lalu di sekitar Gunung Dempo, Sumatera Selatan?

  33. Mohon tetap melakukan penelitian ini supaya semua misteri ini dapat terbuka oleh kita

  34. bangsa Nusantara/antaranusa/antarabangsa wilayah ketuanan minang kabau ,bapucuak sabana bulek baurek sabana tunggang,dan bahasa minang kabau /bahasa Melayulah yang merupakan induk bagi bahasa serumpun yang terdapat di Nusantara ini.Taraf ini hanya dapat dicapai setelah mengalami perkembangan budaya beberapa abad lamanya. Beliau sampai pada satu kesimpulan bahawa:) Orang Melayu itu tidak berasal dari mana-mana, tetapi malah merupakan induk
    yang menyebar ke tempat lain.
    ( Bahasa minang kabau/melayu/klon dari bahasa arab,jadi bahasa arab merupakan bahasa tertua di dunia yang bermula dari dalam surga lagi,seterusnya di ikuti dengan bahasa isyarat,1 bahasa arab,2 bahasa minang kabau/bahasa melayu seterusnya bahasa isyarat, ialah bahasa tertua dan bahasa induk daripada bahasa yang lain.

    Sutan Takdir Alisjahbana, ketika menyampaikan Syarahan Umum di Universiti Sains Malaysia (Julai 1987) menggelar bangsa yang berkulit coklat yang hidup di Asia Tenggara, iaitu Thailand Selatan, Malaysia, Singapura, Indonesia, Brunei, dan Filipina Selatan sebagai bangsa Melayu yang berasal daripada rumpun bangsa yang satu. Mereka bukan sahaja mempunyai persamaan kulit bahkan persamaan bentuk dan RUPA anggota badan .Pendapat lain yang tidak mengakui bahawa orang Melayu ini berasal dari daratan Asia mengatakan bahawa pada Zaman Kuarter atau Kala Wurn bermula dengan Zaman Ais Besar sekitar dua juta sehingga lima ratus ribu tahun yang lalu. Zaman ini berakhir dengan mencairnya ais secara perlahan-lahan dan air laut menggenangi dataran rendah. Dataran tinggi menjadi pulau. Ada pulau yang besar dan ada pulau yang kecil. Pemisahan di antara satu daratan dengan daratan yang lain berlaku juga kerana berlakunya letusan gunung berapi atau gempa bumi. Pada masa inilah Semenanjung Tanah Melayu berpisah dengan yang lain sehingga kemudian dikenali sebagai Pulau Sumatera, Pulau Jawa, Pulau Kalimantan, dan pulau lain di Indonesia.Kajian Kern berdasarkan bukti Etnolinguistik memperlihatkan bahawa persamaan perkataan tersebut hanya terdapat di alam Nusantara dengan pengertian yang lebih luas dan perkataan tersebut tidak pula ditemui di daratan Asia Tengah. Ini menunjukkan bahawa penutur bahasa ini tentulah berpusat di tepi pantai yang strategik yang membuat mereka mudah membawa bahasa tersebut ke barat, iaitu Madagaskar dan ke timur hingga ke Pulau Easter di Lautan Pasifik.

    Secara khusus, penyebaran bahasa Melayu itu dapat dilihat di sepanjang pantai timur Pulau Sumatera, di sepanjang pantai barat Semenanjung Tanah Melayu; di Pulau Jawa terdapat dialek Jakarta (Melayu-Betawi), bahasa Melayu Kampung di Bali, bahasa Melayu di Kalimantan Barat, bahasa Melayu Banjar di Kalimantan Barat dan Selatan, Sabah, Sarawak, dan bahasa Melayu di Pulau Seram.
    Pendapat Marsden bahawa bahasa Melayu yang termasuk rumpun bahasa Nusantara serumpun dengan rumpun bahasa Mikronesia, Melanesia, dan Polinesia dengan induknya bahasa Austronesia secara tidak langsung memperlihatkan adanya kekerabatan dua bahasa tersebut yang tidak ditemui di Asia Tengah. Penyebaran bahasa Austronesia juga terlihat hanya bahagian pesisir pantai timur (Lautan Pasifik), pantai barat (Lautan Hindi), dan Selatan Asia (kawasan Nusantara) sahaja dan ia tidak masuk ke wilayah Asia Tengah.Jika ditinjau dari sudut ilmu kaji purba pula, penemuan tengkorak yang terdapat di Nusantara ini memberi petunjuk bahawa manusia telah lama ada di sini. Penemuan tersebut di antara lain ialah:1. Pithecanthropus Mojokerto (Jawa), yang kini berusia kira-kira 670,000 tahun.
    2. Pithecanthropus Trinil (Jawa), kira-kira 600,000 tahun.
    3. Manusia Wajak (Jawa), kira-kira 210,000 tahun.

    Jika tiga fosil tersebut dibandingkan dengan fosil Manusia Peking atau Sinanthropus Pekinensis (China) yang hanya berusia kira-kira 550,000 tahun terlihat bahawa manusia purba lebih selesa hidup dan beranak-pinak berdekatan dengan Khatulistiwa. Hal ini diperkuat lagi dengan penemuan fosil tengkorak manusia yang terdapat di Afrika yang dinamai Zinjanthropus yang berusia 1,750,000 tahun. Beberapa hujah ini menambah kukuh kesimpulan Gorys Keraf di atas yang menyatakan bahawa nenek moyang bangsa Melayu ini tentulah sudah sedia ada di Kepulauan Melayu yang menggunakan bahasa keluarga Nusantara.
    Masih ada soalan yang belum terjawab, iaitu jika betul bangsa Melayu ini sememangnya berasal dari Alam Melayu ini, sebelum itu dari manakah asal mereka? Pendapat orang Minangkabau di Sumatera Barat bahawa keturunan mereka ada hubungan dengan pengikut Nabi Nuh, iaitu bangsa Ark yang mendarat di muara Sungai Jambi dan Palembang semasa berlakunya banjir besar seperti yang diungkapkan oleh W. Marsden (1812) masih boleh dipertikaikan.
    Yang agak berkemungkinan disusurgaluri ialah dari salasilah Nabi Nuh daripada tiga anaknya, iaitu Ham, Yafit, dan Sam. Dikatakan bahawa Ham berpindah ke Afrika yang keturunannya kemudian disebut Negro berkulit hitam, Yafit berpindah ke Eropah yang kemudian dikenali sebagai bangsa kulit putih, dan Sam tinggal di Asia menurunkan bangsa kulit kuning langsat. Putera kepada Sam ialah Nabi Hud yang tinggal di negeri Ahqaf yang terletak di antara Yaman dan Oman. Mungkinkah keturunan Nabi Hud yang tinggal di tepi laut, yang sudah sedia jadi pelaut, menyebar ke Pulau Madagaskar di Lautan Hindi hingga ke Hawaii di Lautan Pasifik lebih mempunyai kemungkinan menurunkan bangsa Melayu? Dahulu di Minangkabau tidak memiliki hukum positif, yang ada hanya hukum rimba ” Siapo Kuek Siapo malendo, siapo tinggi siapo manimpo” kemudian oleh dua orang bijak iaitu Datuak Katumanggungan dan Datuak Parpatiah nan Sabatang membuat sebuah perangkat Hukum Adat dan Suku agar diperoleh Perdamaian dalam Nagari dimana “nan lamah dilinduangi dan keadilan bagi semua anak negeri. Agar mudah mengawasinya dibuatlah ukuran untuk baik atau buruk suatu tindakan atau perbuatan “Di ukua jo jangko, dibarih jo balabeh, dicupak jo gantang, dibungka jo naraco, disuri jo banang”. Minangkabau adalah nama bagi suatu etnis yang terdapat di Indonesia dengan budaya, bahasa, kawasan dan suku bangsa dengan nama yang sama juga ,Dahulu di Minangkabau tidak memiliki hukum positif, yang ada hanya hukum rimba ” Siapo Kuek Siapo malendo, siapo tinggi siapo manimpo” kemudian oleh dua orang bijak iaitu Datuak Katumanggungan dan Datuak Parpatiah nan Sabatang membuat sebuah perangkat Hukum Adat dan Suku agar diperoleh Perdamaian dalam Nagari dimana “nan lamah dilinduangi dan keadilan bagi semua anak negeri. Agar mudah mengawasinya dibuatlah ukuran untuk baik atau buruk suatu tindakan atau perbuatan “Di ukua jo jangko, dibarih jo balabeh, dicupak jo gantang, dibungka jo naraco, disuri jo banang”. Minangkabau adalah nama bagi suatu etnis yang terdapat di Indonesia dengan budaya, bahasa, kawasan dan suku bangsa dengan nama yang sama juga .Pendahulu2 kita niniak muyang urang Minang dari satu generasi ke generasi berikutnya yang semakin berkembang itu selalu menganjurkan anak kemenakan nya untuk membuka areal baru membentuk taratak selanjutnya jika semakin ramai anak cucu tersebut dibentuk pulalah jorong jo kampung-dusun/desa jo nagari, disusun sesuai ketentuan iaitu minimum sudah ada “nan ba kaampek suku”, walaupun selalu berpindah2 dari satu wilayah ke wilayah lain dan selanjutnya menetap di kantong2 daerah yang lahannya subur dan ikan nya banyak untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik dan sejahtera dalam rangka mancarikan “nasi nan sasuok, pungguang nan tak basaok dan ameh nan sakauik” namun muyang2 kita itu tetap menjalin hubungan dengan daerah asal yang disebut dalam ketentuan adat:
    – Jauah cinto mancinto
    – Dakek jalang manjalang
    – Jauah mancari suku
    – Dakek mancari indu (induak)
    Namun demikian ketentuan adat yang pokok iaitu ” Basuku bakeh ibu, babangso bakeh bapak” tidak akan hilang begitu saja “indak lakang dek paneh, indak ka lapuak dek hujan” itulah warisan yang diterima dari nenek moyang setiap Generasi Anak Suku Bangsa Minangkabau dimanapun dia beradaL.keturunan Melayu berasal dari Minangkabau? kajian DNA.Keturunan Melayu berasal dari Minangkabau, manakala keturunan minangkabau, cina dan jepun asalnya adalah adik-beradik. (asalnya dahulu sudah ada tulis dalam buku Tambo Minangkabau dan juga Sejarah Melayu karangan asal Tun Sri Lanang, sekarang diperkuatkan lagi dengan penemuan artifak purba dan kajian DNA)

    <– keris purba dijumpai di wilayah Okinawa, Jepun.
    sumber rujukan rasmi kajian DNA itu : https://yentown.us/wp-content/uploads/137/1.pdf
    penerangan lengkap kajian DNA itu : http://humpopgenfudan.cn/p/A/A1.pdf
    • Data di atas membuktikan, raja minang kabau /kerajaan pagaruyung/,raja sedaulat dunia,tuan raja di asia timur ,sudah selayaknya masyrakat dunia seluruhnya beraja kepada raja minang kabau.sebagai pewaris raja islam ,dari keluarga junjungan besar nabi Muhammad S A W ,nabi dan rasul,penghulu seluruh alam .
    • Post Last Edit by hack3line at 5-2-2011 17:01

    Keturunan Melayu berasal dari Minangkabau, manakala keturunan minangkabau, cina dan jepun asalnya adalah adik-beradik. (asalnya dahulu sudah ada tulis dalam buku Tambo Minangkabau dan juga Sejarah Melayu karangan asal Tun Sri Lanang, sekarang diperkuatkan lagi dengan penemuan artifak purba dan kajian DNA)

    <– keris purba dijumpai di wilayah Okinawa, Jepun.

    This recent study is massive and involved a 40-institution, multi-national (though largely Asian) research team that sampled DNA from over 70 populations throughout Asia. The paper used genetic markers called single-nucleotide polymorphisms (SNPs) which are differences in the chemical ‘lettering’ of DNA, in order to infer patterns of ancestry. And whilst the techniques used were esoteric, this collective pan-Asian effort had an aim close to everyone’s hearts: to recover the lost memory of where we came from.

    "Thus, it is relevant that in a study published just this week in the influential journal Science, the Han Chinese (and other East Asians) have been shown to have originally come from Southeast Asia. Instead of being natives of China, the Han Chinese were in fact immigrants who descended from mainland and island Southeast Asia, the latter historically known as the Malay Archipelago."
    sumber rujukan rasmi kajian DNA itu : https://yentown.us/wp-content/uploads/137/1.pdf
    penerangan lengkap kajian DNA itu : http://humpopgenfudan.cn/p/A/A1.pdf
    • Data di atas membuktikan, raja minang kabau /kerajaan pagaruyung/,raja sedaulat dunia,tuan raja di asia timur ,sudah selayaknya masyrakat dunia seluruhnya beraja kepada raja minang kabau.sebagai pewaris raja islam ,dari keluarga junjungan besar nabi Muhammad S A W ,nabi dan rasul,penghulu seluruh alam .

    universiti yang terlibat dalam kajian DNA yang membuktikan bahawa bangsa di timur Asia itu berasal dari DNA Melayu
    1) Chinese National Human Genome Center, Shanghai, CHINA
    2) Institute of Genomics and Integrative Biology, New Delhi,
    3) University of Tokyo, JAPAN
    4) Center for Genome Science, Korea National Institute of Health, Seoul, KOREA
    5) Universiti Sains Malaysia, Kubang Kerian, Kelantan, MALAYSIA
    6) Genome Institute of SINGAPORE
    7) Institute of Biomedical Sciences, Academia Sinica, Taipei, TAIWAN
    8) Affymetrix, Inc. USA

    antara lambang utama kebesaran keturunan diraja Melaka ialah pemakaian potoh naga, sekarang naga menjadi lambang rasmi kerajaan negara cina.

    Sepasang gelang emas berkepala naga,
    POTOH BERNAGA hiasan Paduka Seri,
    Bertambah gagahlah Duli Yang Maha Mulia
    Disarungkan ke lengan kanan dan kiri,
    Di istiadat rasmi kebesaran negara,
    Potoh sebagai lambang kebesaran duli.

    ayat di dalam buku Sulalatus Salatin karangan asal Tun Sri Lanang, pengakuan maharaja cina bahawa keturunan diraja Melayu Melaka dan keturunan diraja cina adalah dari keturunan yang sama.
    “Surat di bawah cerpu raja langit, datang ke atas mahkota raja Melaka. Kita dengar raja Melaka raja besar, sebab itulah maka kita hendak bersahabat, berkasih-kasihan dengan raja Melaka, kerana kita pun daripada anak cucu Raja Iskandar Zul-karnain, sebangsa juga dengan raja Melaka, kerana tiadalah ada dalam alam dunia ini raja-raja yang besar daripada kita. Tiada siapa pun tahu akan bilangan rakyat kita; maka daripada sebuah rumah sebilah jarum kita pintak. Itulah jarumnya sarat sebuah pilau kita kirimkan ke Melaka.’’

    ayat Sultan Mansur Shah kepad raja di Jepun..

    DAFTAR PUSTAKA
    Datoek Toeah. 1976. Tambo Alam Minangkabau. Pustaka Indonesia. Bukit Tinggi.

    Graves, E. E. 2007. Asal-usul Elite Minangkabau Modern. Yayasan Obor Indonesia. Jakarta.

    Hall, D. G. E. tanpa tahun. Sejarah Asia Tenggara. Usaha Nasional. Surabaya.

    Kristy, R (Ed). 2007. Alexander the Great. Gramedia. Jakarta.

    Kristy, R (Ed). 2006. Plato Pemikir Etika dan Metafisika. Gramedia. Jakarta.

    Marsden, W. 2008. Sejarah Sumatra. Komunitas Bambu. Depok.

    Olthof, W.L. 2008. Babad Tanah Jawi. Penerbit Narasi. Yogyakarta.

    Samantho, A. Y. 2009. Misteri Negara Atlantis mulai tersingkap?. Majalah Madina Jakarta. Terbit Mei 2009.

    Suwardi MS. 2008. Dari Melayu ke Indonesia. Penerbit Pustaka Pelajar Yogyakarta.

    Wikipedia. Ensiklopedi Bebas. http://wikipedia.org.

    Disadur dari buku "Kato Pusako"
    Elok ranahnyo Minangkabau
    Rupo karambia tinggi tinggi
    Cando rumpuik gantie gantielan
    Rupo pinangnyo linggayuran
    Bukik baririk kiri kanan
    Gunuang Marapi jo Singgalang
    Tandikek jo gunuang Sago
    Pasaman jo gunuang Talang
    Aianyo janiah ikannyo jinak
    Laweh alamnyo bakeh tagak
    Sawah batumpuak di nan data
    Ladang babidang di nan lereang
    Sawah bajanjang banda buatan
    Sawah ladang labuah nan pasa
    Taranak kambang padi manjadi
    Buah jaguang maampai suto
    Padi masak jaguang maupiah
    Lah masak padi disawah
    Padi diladang manguniang pulo
    Ladang tabu amnyintak rueh
    Pisang badukuang ditandannyo
    Antimun mangarang bungo
    Batang labu marangtang tali
    Buah taruang ayun ayunan
    Buah lado manbintang timue
    Buah kacang taji tajian
    Anak rancak minantu malin
    Sajak durian ditakuak rajo
    Sialang balantak basi
    Buayo nan putiah daguak
    Sirangkak nan badangkang
    Sampai taratak aia hitam
    Sampai riak nan badabua
    Sampai kabateh indrapuro
    Sampai ka siak indragiri
    Hinggo sipisak pisau hanyuik
    Sampai sikilang aia bangih.
    dima asa titiak palito
    Dibaliak telong nan batali
    Dimano asa niniak kito
    Dari lereang gunuang marapi
    Di galundi nan baselo
    Dakek bukik siguntang guntang
    Di sinan lurah satungka banang
    Sinan lurah ndak baraia
    disinan bukik ndak barangin
    Sinanlah banta barayun
    Disinan batu hamparan putiah
    Panakiak pisau sirauik
    Ambiak galah batang lintabuang
    Salodang ambiak ka nyiru
    Nan satitiak jadikan lauik
    Nan sakapa jadikan gunuang
    Alam takambang jadikan guru
    Bungka ganok manahan cubo
    Ameh batu manahan uji
    Naraco pantang bapaliang
    Anak nagari sakato hati
    Satapak bapantang suruik
    Salangkah pantang kumbali
    ado pun kasadonyo kito di Minangkabau
    Nan disungkuik langik nan ditanai bumi
    Nan saedaran kuliliang gunuang marapi
    Nan mahuni daerah bagian baraik
    Samato lah banamo pulau andaleh
    Bapandirian bak kato nan tuo tuo
    Pulai juo nan batingkek naiak
    Maninggakan rueh jo buku
    Manusia nan bapangkek turun
    Maninggakan adaik jo limbago
    Gajah mati maninggakan gadiang
    Harimau mati maninggakan balang
    Manusia mati maninggakan jaso
    Lah jadi kabiasaan bagi kito
    Rantau nan barajo
    Luhak nan bapanghulu
    Lah dibiasokan pulo dek adaik kito
    Adaik nagari nagari nan batuo
    Mambuang sagalo nan Buruak
    Mamakai sagalo nan baiak
    Nan sasuai pulo jo kato nabi
    Malarang urang babuek jahek
    Manyuruah urang babuek baiak
    Mulai sajak maso dahulu
    Sampai pulo pado maso kini
    Sajak samulo sumua di gali
    Sajak mulo nagari dihuni
    Adaik dipakai, syarak nan lazim
    Duo hukum nan lah digunokan
    Hukum adaik jo hukum Syarak.
    (KP
    Pidato Pasambahan Adat
    BATAGAK GALA PANGHULU
    Bismillahirrahmaanir Rahim. Assalamua’alaikum Wr, Wb.
    Mintak ampun hambo kapado Allah, maaf dimintak ka nan banyak, niniak mamak jo panghulu, nan gadang basa batuah, nan ba pucuak sabana bulek, nan ba urek sabana tunggang, alim ulamo jo tuanku, cadiak pandai pagaran kokoh, dubalang jo ampang limo, jo manti pagawai adat, nan mudo arih budiman, bundo kanduang samo di dalam.
    Manyurek di ateh pintu, mangarang di tapak tangan, malompek nak basitumpu, mancancang nak balandasan, di Datuak ___(anu)___ tibonyo sambah. Sakali hambo manyambah, sapatah rundiang nan lalu, walau datuak surang nan disambah, batin bakeh sagalo panghulu, ujuiknyo sambah ka nan banyak, sa ujuik sambah jo simpuah.
    Apolah nan ka ambo pasambahkan. Sijoroang manggali lambah, mamakai baju biludu gandum, kok tadorong ambo manyambah, sakali gawa baribu ampun.
    Gulamo mudiak ka hulu, mati disemba ikan tilan, kanailah anak bada balang, pusako niniak dahulu, lai babuhue bakanakan, kini manjadi undang-undang, nan satitiak bapantang hilang, nan sabarih bapantang lupo, sampai kini bapakai juo.
    Takalo maso daulu, dimusim maso saisuak, katiko langik basintak ka ateh, katiko bumi basintak turun, sajak kudo mangunyah loyang, sarasah sa pulau paco, salembang sa lubuak agam, asa solok duo salayo, tigo padang ampek kumpani, limo jo adat Minangkabau, asa mulo kalau dikaji.
    Dek warih jawek ba jawek, pusako tolong batolong, sampai sakarang iko kini, nan soko turun tamurun, pusako jawek bajawek, iyo di alam Minangkabau.
    Sajak dari sirangkak nan badangkang, buayo putiah daguak, sampai kapintu rajo hilie, durian ditakuak rajo. Sapisak pisau hanyuik, sialang balantak buai, dakek aie babaliak mudiak. Sailiran batang bangkaweh, sampai sikilang aie bangih, hinggo ombak nan badabua, pasisia banda sapuluah, hinggo taratak batu hitam, sampai ka tanjuang batu simalidu.
    Di dalam luak nan tigo, sarato rantau jo pasisie. Nan tuo tanah data, nan bungsu luak 50, nan tangah luak agam.
    Nan manuruik bari jo balabehnyo, nan banamo luak tanah data, iyo nan babatu bungo satangkai, nan basungai bakayu tarok, nan bakampuang di baliak labuah, nan banamo dusun tuo, balimo kaum disinan, sambilan koto didalam, duo baleh koto dilua.
    Nan banamo luak Agam, iyo nan saliliek gunuang marapi, nan saedaran gunuang pasaman, sajajaran gunuang singgalang, jo sarato gunuang tandikek, sahinggo lado salah mudiak, sahinggo dusun tongga hilie.
    Baitupun luak 50, dari sikokoh pinang tuo, sahinggo sapisak pisau hanyuik, sialang balantak basi, sahinggo sasauak sungai rimbang.
    Dek niniak moyang maso itu, dibuek dusun jo taratak, sabalun ba koto ba nagari, sawah gadang satampang banieh, makanan urang tigo luak, sarato rumah dengan tanggo.
    Dek lamo musim bajalan, alam batambah leba juo, urang batambah kambang pulo, dibuek adat dikarang undang, disusun tangkai ciek-ciek, dibuhua dikabek arek, dipakukan katiang panjang.
    Dibuek adat ampek rupo, partamo suri tuladan, kaduo ukua dengan jangko, katigo barih jo balabeh, ka ampek cupak dengan gantang. Dikarang undang nan ampek, undang luak dengan rantau. Luak dibari ba panghulu, kok rantau diagieh barajo. Nan sokonyo turun tamurun, pusakonya jawek-bajawek, sampai sakarang iko kini.
    Urang padang mahanyuah banang, dikumpa mako dilipek, dilipek lalu dipatigo. Kok dirantang namuahnyo panjang, elok dikumpa nak nyo singkek, singkek sakiro sapaguno. Ujuik sambah buah rundiangan, nyato tawalak ka ukuran, tabayang barih balabeh, bana bak andai kato bida, dek curiang barih dahulu, dek andai pusako lamo, kok basiang di nan tumbuah, jikok manimbang din an ado, tumbuah sarupo iko kini.
    Ramo-ramo si kumbang jati, ketik endah pulang ba kudo, patah tumbuah hilang baganti, pusako lamo baitu juo.
    Biriek-biriek tabang ka samak, dari samak ka halaman, patahsayok tabang baranti, tasuo di tanah bato. Dari niniek turun ka mamak, dari mamak ka kamanakan, patah tumbuah hilang bag anti, pusako dibao dek nan mudo.
    Adat pulai bapangkek naiek, maninggakan rueh dengan buku, manusia bapangkek turun, maninggakana adat jo pusako. Mati datuak baganti datuak, nan gala tatap bak samulo.
    Tantangan wajah sarupo iko, lah bulek aie ka pambuluah, lah bulek kato ka mufakat, bulek lah bulieh digolekkan, pipieh lah buliah dilayangkan. Tibo di adat lah ba isi, kok limbago lah batuang, kok tanduak samo ditanam kok darah samo dikacau, kok dagiang samo dilapah. Manuruik adat nan bapakai, kok ketek babari namo, lah gadang babari gala. Dek ketek banamo ____ si anu ____, kini bagala Datuak ______________ si anu_____.
    Tantangan limbago na baitu, dek ketek banamo ____si anu_________, kini bagala Datuak ____si anu______, iyo nak samo kito sahamparan, samo sahilie jo samudiak. Kok utang nan ka mambayie, kok piutang nan ka manarimokan, kok kusuik nan ka manyalasai, jikok karuah nan ka manjaniahi.
    Nak bahimbaukan di pakan na rami, dilewakan di labuah nan goleang, kapado urang di nagari.
    Marabah sadundun dengan balam, sikok barulang pamandi, sambah sadundun dengan salam, kato harap dibunisi, sakian sajo sambah pado datuak.
    Filosofi Lumuik Hanyuik dan Sejarah Bangsa dan pengembaraan masyarakat Minangkabau
    October 24, 2009 in Hasil Budaya, Hipotesa, Interpretasi, Tarikh
    Lumuik Hanyuik adalah salah satu motif ukiran Minangkabau yang diturunkan dari motif Gandara Scrolls, sebuah warisan budaya yang telah ikut mencatat perjalanan sejarah masyarakat Minangkabau. Dalam khazanah kebudayaan Minangkabau, sebuah motif ukiran bukan hanya sebuah hasil budaya berkesenian yang tanpa makna. Ada sebuah filosofi di balik hasil karya itu, ada latar belakang sejarah yang disimpan didalamnya.
    Motif ukiran Lumuik Hanyuik
    Syair berikut ini menggambarkan latar filosofi dari motif Lumuik Hanyuik :

    Aka lapuak gagangnyo lapuak
    Hiduik nan indak mamiliah tampek
    Asa lai lambah, inyo lah tumbuah
    Dalam aia bagagang juo

    Aia hilia lumuik pun hilia
    Walau tasalek di ruang batu
    Baguba babondong-bondong
    Aia bapasang lumuik bapiuah
    Namun hiduik bapantang mati

    Baitu untuangnyo lumuik
    Indak mancari tampek diam
    Hanyo manompang jo aia hilia
    Indak mamiliah tampek tumbuah
    Asa kasampai ka muaro
    Usah cameh badan kahanyuik

    Baguru kito kalumuik
    Alam takambang jadi guru
    Lahianyo lumuik nan disabuik
    Bathinnyo Adat Minangkabau

    Dilariak di papan tapi
    Ukiran rumah nan di lua
    Gambaran adat hiasan alam
    Pusako salamonyo
    Demikianlah, sebuah motif ukiran dengan gamblang menceritakan perjalanan sejarah orang-orang yang mendirikan Kebudayaan Minangkabau. Entah darimana mereka datang, entah sudah berapa daerah yang mereka lalui, entah sudah berapa lautan yang mereka seberangi dan entah sudah berapa pegunungan yang mereka daki.
    Pengaruh Kerajaan Inderapura
    Pengaruh Kerajaan Inderapura amat luas. Bandaro Harun (Harunsyah Sultan Bengawan), ke Brunei (1625) disebut ayah Dato Godan salah seorang leluhur Dipetuan Sultan Haji Hasanal Bolkiah Mu’izzadin Waddaulah. Rajo Putih Inderapura ke Natal dan mendirikan Kerajaan Lingga Pura di sana kemudian dikenal leluhur dari Sutan Syahrir dan Sutan Takdir Alisjahbana (Putri Bulkis Alisjahbana, 1996:43-44). Dari asal Puti Inderapura pindah ke Mukomuko dan Bintuhan, terbuka pula tabir rahasia adanya hubungan Megawati Sukarno Putri dengan Kesultanan Inderapura, ketika event pemberian gelar Puti (dari Mukomuko dan Bintuhan dulu bagian dari Kesultanan Inderapura) kepadanya di Bengkulu tahun 2001. Taufik Kemas dalam acara itu memakai tutup kepala dari Bintuhan kemudian memakai yang dari Mukomuko (Agus Yusuf dari Sutan Aminullah, 2003).
    1984 Alam Takambang Jadi Guru: Jakarta
    (Sumber : Minangkabau Tanah Pusaka – Tambo Minangkabau)CERITA NAGA SIKATI MUNO.Kerajaan Pertama di Gunung Marapi
    October 25, 2009 in Mitos, Tambo
    1. Maharaja yang Bermahkota
    Dikatakan pula oleh Tambo, bahwa dalam pelayaran putera-putera Raja Iskandar Zulkarnain tiga bersaudara, dekat pulau Sailan mahkota emas mereka jatuh ke dalam laut. Sekalian orang pandai selam telah diperintahkan untuk mengambilnya. Tetapi tidak berhasil, karena mahkota itu dipalut oleh ular bidai di dasar laut. Cati Bilang Pandai memanggil seorang pandai mas. Tukang mas itu diperintahkannya untuk membuat sebuah mahkota yang serupa. Setelah mahkota itu selesai dengan pertolongan sebuah alat yang mereka namakan “void(0) camin taruih” untuk dapat menirunya dengan sempurna. Setelah selesai tukang yang membuatnya pun dibunuh, agar rahasia tidak terbongkar dan jangan dapat ditiru lagi.
    Waktu Sri Maharaja Diraja terbangun, mahkota itu diambilnya dan dikenakannya diatas kepalanya. Ketika pangeran yang berdua lagi terbangun bukan main sakit hati mereka melihat mahkota itu sudah dikuasai oleh si bungsu. Maka terjadilah pertengkaran, sehingga akhirnya mereka terpisah.
    Sri Maharaja Alif meneruskan pelayarannya ke Barat. Ia mendarat di Tanah Rum. Sri Maharaja Dipang membelok ke Timur, memerintah negeri Cina dan menaklukkan negeri Jepang.
    2. Galundi Nan Baselo
    Sri Maharaja Diraja turun sedikit ke bawah dari puncak Gunung Merapi membuat tempat di Galundi Nan Baselo. Lebih ke baruh lagi belum dapat ditempuh karena lembah-lembah masih digenangi air, dan kaki bukit ditutupi oleh hutan rimba raya yang lebat. Mula-mula dibuatlah beberapa buah taratak. Kemudian diangsur-angsur membuka tanah untuk dijadikan huma dan ladang. Teratak-teratak itu makin lama makin ramai, lalu tumbuh menjadi dusun, dan Galundi Nan Baselo menjadi ramai.
    Sri Maharaja Diraja menyuruh membuat sumur untuk masing-masing isterinya mengambil air. Ada sumur yang dibuat ditempat yang banyak agam tumbuh dan pada tempat yang ditumbuhi kumbuh, sejenis tumbuh-tumbuhan untuk membuat tikar, karung, kembut dsb. Ada pula ditempat yang agak datar. Ditengah-tengah daerah itu mengalir sebuah sungai bernama Batang Bengkawas. Karena sungai itulah lembah Batang Bengkawas menjadi subur sekali.
    Beratus-ratus tahun kemudian setelah Sri Maharaja Diraja wafat, bertebaranlah anak cucunya kemana-mana, berombongan mencari tanah-tanah baru untuk dibuka, karena air telah menyusut pula. Dalam tambo dikatakan “Tatkalo bumi barambuang naiak, aia basintak turun”.
    Keturunan Sri Maharaja Diraja dengan “si Harimau Campa” yang bersumur ditumbuhi agam berangkat ke dataran tinggi yang kemudian bernama “Luhak Agam” (luhak = sumur). Disana mereka membuka tanah-tanah baru. Huma dan teruka-teruka baru dikerjakan dengan sekuat tenaga. Bandar-bandar untuk mengairi sawah-sawah dikerjakan dengan sebaik-baiknya.
    Keturunan “Kambing Hutan” membuka tanah-tanah baru pula di daerah-daerah Gunung Sago, yang kemudian diberi nama “Luhak 50 Koto” (Payakumbuh) dari luhak yang banyak ditumbuhi kumbuh.
    Keturunan “Anjing yang Mualim” ke Kubang Tigo Baleh (Solok), keturunan “Kucing Siam” ke Candung-Lasi dan anak-anak raja beserta keturunannya dari si Anak Raja bermukim tetap di Luhak Tanah Datar. Lalu mulailah pembangunan semesta membabat hutan belukar, membuka tanah, mencencang melateh, meneruka, membuat ladang, mendirikan teratak, membangun dusun, koto dan kampung.
    3. Kedatangan Sang Sapurba
    Tersebutlah kisah seorang raja bernama Sang Sapurba. Di dalam tambo dikatakan “datanglah ruso dari lauik”. Kabarnya dia sangat kaya bergelar Raja Natan Sang Sita Sangkala dari tanah Hindu. Dia mempunyai mahkota emas yang berumbai-umbai dihiasai dengan mutiara, bertatahkan permata berkilauan dan ratna mutu manikam.
    Mula-mula ia datang dari tanah Hindu. Ia mendarat di Bukit Siguntang Maha Meru dekat Palembang. Disana dia jadi menantu raja Lebar Daun. Dari perkawinannya di Palembang itu dia memperoleh empat orang anak, dua laki-laki yaitu Sang Nila Utama, Sang Maniaka; dua perempuan yaitu Cendera Dewi dan Bilal Daun.
    Pada satu hari Sang Sapurba ingin hendak berlayar menduduki Sungai Indragiri. Setelah lama berlayar, naiklah dia ke darat, akhirnya sampai di Galundi Nan Baselo. Waktu itu yang berkuasa di Galundi Nan Baselo ialah Suri Dirajo, seorang dari keturunan Sri Maharaja Diraja. Suri Diraja tekenal dengan ilmunya yang tinggi, ia bertarak di gua Gunung Merapi. Karena ilmunya yang tinggi dan pengetahuannya yang dalam, ia jadi raja yang sangat dihormati dan disenangi oleh penduduk Galundi Nan Baselo dan di segenap daerah. Ia juga bergelar Sri Maharaja Diraja, gelar yang dijadikan gelar keturunan raja-raja Gunung Merapi.
    Anak negeri terheran-heran melihat kedatangan Sang Sapurba yang serba mewah dan gagah. Orang banyak menggelarinya “Rusa Emas”, karena mahkotanya yang bercabang-cabang. Oleh karena kecerdikan Suri Dirajo, Sang Sapurba dijadikan semenda, dikawinkan dengan adiknya bernama Indo Julito. Sang Sapurba adalah seorang Hindu yang beragama Hindu. Dia menyembah berhala. Lalu diadakan tempat beribadat di suatu tempat. Tempat ini sampai sekarang masih bernama Pariangan (per-Hiyang-an = tempat menyembah Hiyang / Dewa). Dan disitu juga terdapat sebuah candi buatan dari tanah tempat orang-orang Hindu beribadat. Ada juga yang mengatakan tempat itu adalah tempat beriang-riang.
    4. Raja yang Hanya Sebagai Lambang
    Sang Sapurba lalu dirajakan dengan memangku gelar Sri Maharaja Diraja juga. Tetapi yang memegang kendali kuasa pemerintahan tetap Suri Dirajo sebagai orang tua, sedangkan sang sapurba hanya sebagai lambang.
    Untuk raja dengan permaisurinya dibuatkan istana “Balairung Panjang” tempatnya juga memerintah. Istana ini konon kabarnya terbuat dari : tonggaknya teras jelatang, perannya akar lundang, disana terdapat tabuh dari batang pulut-pulut dan gendangnya dari batang seleguri, getangnya jangat tuma, mempunyai cenang dan gung, tikar daun hilalang dsb.
    Karena Pariangan makin lama makin ramai juga Sang Sapurba pindah ke tempat yang baru di Batu Gedang. Seorang hulubalang yang diperintahkan melihat-lihat tanah-tanah baru membawa pedang yang panjang. Banyak orang kampung yang mengikutinya. Mereka menuju ke arah sebelah kanan Pariangan. Terdapatlah tanah yang baik, lalu dimulai menebang kayu-kayuan dan membuka tanah-tanah baru. Selama bekerja hulubalang itu menyandarkan pedang yang panjang itu pada sebuah batu yang besar. Banyak sekali orang yang pindah ke tempat yang baru itu. Mereka berkampung disitu, dan kampung baru tempat menyandarkan pedang yang panjang itu, sampai sekarang masih bernama Padang Panjang.
    Lama kelamaan Padang Panjang itu jadi ramai sekali. Dengan demikian Pariangan dengan Padang Panjang menjadi sebuah negeri, negeri pertama di seedaran Gunung Merapi di seluruh Batang Bengkawas, yaitu negeri Pariangan Padang Panjang. Untuk kelancaran pemerintahan perlu diangkat orang-orang yang akan memerintah dibawah raja. Lalu bermufakatlah raja dengan orang-orang cerdik pandai. Ditanam dua orang untuk Pariangan dan dua orang pula untuk Padang Panjang. Masing-masing diberi pangkat “penghulu” dan bergelar “Datuk”. • Dt. Bandaro Kayo dan Dt. Seri Maharajo untuk Pariangan • Dt. Maharajo Basa dan Dt. Sutan Maharajo Basa untuk Padang Panjang. Orang-orang yang berempat itulah yang mula-mula sekali dijadikan penghulu di daerah itu. Untuk rapat dibuat Balai Adat. Itulah balai pertama yang asal sebelum bernama Minangkabau di Pariangan.
    5. Sikati Muno
    Seorang orang jahat yang datang dari negeri seberang tiba pula di daerah itu. Karena tubuhnya yang besar dan tinggi bagai raksasa ia digelari orang naga “Sikati Muno” yang keluar dari kawah Gunung Merapi.
    Rakyat sangat kepadanya dan didongengkan mereka, bahwa naga itu tubuhnya besar dan panjangnya ada 60 depa dan kulitnya keras. Ia membawa bencana besar yang tidak terperikan lagi oleh penduduk. Kerjanya merampok dan telah merusak kampung-kampung dan dusun-dusun. Padi dan sawah diladang habis dibinasakannya. Orang telah banyak yang dibunuhnya, laki-laki, perempuan dan gadis-gadis dikorbankannya. Keempat penghulu dari Pariangan-padang Panjang diutus Suri Drajo menghadap Sang Sapurba di Batu Gedang tentang kekacauan yang ditimbuklan oleh Sikati Muno. Untuk menjaga prestisenya sebagai seorang semenda, Sang Sapurba lalu pergi memerangi Sikati Muno. Pertarungan hebat pun terjadi berhari-hari lamanya. Pedang Sang Sapurba sumbing-sumbing sebanyak seratus sembilan puluh. Akhirnya naga Sikati Muno itu mati dibunuh oleh Sang Sapurba dengan sebilah keris. Keris tersebut dinamakan “Keris Sikati Muno”, keris bertuah, tak diujung pangkal mengena, jejak ditikam mati juga.
    Sejak itu amanlah negeri Pariangan-Padang Panjang, dan semakin lama semakin bertambah ramai. Oleh sebab itu Sang Sapurba memerintahkan lagi mencari tanah-tanah baru. Pada suatu hari raja sendiri pergi keluar, melihat-lihat daerah yang baik dijadikan negeri. Dia berangkat bersama-sama dengan pengiring-pengiringnya. Ia sampai pada suatu tempat mata air yang jernih keluar dari bawah pohon tarab. Sang Sapurba berpikir, tanah itu tentu akan subur sekali dan baik dijadikan negeri. Lalu diperintahkannyalah membuka tanah-tanah baru ditempat itu. Sampai sekarang tanah itu dinamakan Sungai Tarab. Kemudian hari jadi termasyhur, tempat kedudukan “Pamuncak Koto Piliang” Dt. Bandaharo di Sungai Tarab. Selain itu raja menemui pula setangkai kembang teratai di daerah itu, kembang yang jadi pujaan bagi orang-orang Hindu. Raja menyuruh mendirikan sebuah istana di tempat itu. Setelah istana itu siap raja lalu pindah bertahta dari Pariangan-Padang Panjang ke tempat yang baru itu, yang kemudian dinamakan negeri Bungo Satangkai, negeri yang kedua sesudah Pariangan-Padang Panjang

  35. iya jika dari manusia yang mengetahui dari hal hukum yang asal/islam di ikuti mengetahui ilmu semasa yang hak dan yang batal marangkumi bab syariat ,tariqat ,haqiqat dan makrifat ,lagi mengetahui siapa yang ada di surga dan siapa yang ada di neraka ,bukankah surga dan neraka itu dah sedia dari lama dulu lagi yang telah berpenghuni sejak ianya di ciptakan lagi,kelulusan serta pengetahuan ini mau di letakkan sarjana apa ya

  36. minang kabau tempat asalnya undang undang serta hukum alam, yang di ciptakan yang tertuang dari pada surga,sebelum di sempurnakan dengan kedatangan undang undang serta hukum yang terkandung dalam agama islam ,yang dibawakan oleh junjungan besar nabi muhammad s a w,imam, para nabi serta penghulu segala rasul,utusan tuhan/allah taala, berupa kitab suci al qur an dan kitab hadis rasulullah s a w ,sebagai rahmat untuk seluruh alam,dalam bentuk filosof alam takambang jadi guru,suatu fisafat yang dikenal pasti pada awal tamadun umat manusia ,yang akan di pakai dari awal zaman sampai akhir zaman,tertuang dalam bentuk ,kata dan peribahasa,tak lapuk karena hujan dan rusak sebab panas,zaman bertukar,masa berganti,inilah 2 kitab sumber hukum serta undang undang yang tidak akan habis rahasianya ,selama lamanya sampai bila bila dan,sepanjang masa.Lumuik Hanyuik adalah salah satu motif ukiran Minangkabau yang diturunkan dari motif Gandara Scrolls, sebuah warisan budaya yang telah ikut mencatat perjalanan sejarah masyarakat Minangkabau. Dalam khazanah kebudayaan Minangkabau, sebuah motif ukiran bukan hanya sebuah hasil budaya berkesenian yang tanpa makna. Ada sebuah filosofi di balik hasil karya itu, ada latar belakang sejarah yang disimpan didalamnya.
    Motif ukiran Lumuik Hanyuik
    Syair berikut ini menggambarkan latar filosofi dari motif Lumuik Hanyuik :

    Aka lapuak gagangnyo lapuak
    Hiduik nan indak mamiliah tampek
    Asa lai lambah, inyo lah tumbuah
    Dalam aia bagagang juo

    Aia hilia lumuik pun hilia
    Walau tasalek di ruang batu
    Baguba babondong-bondong
    Aia bapasang lumuik bapiuah
    Namun hiduik bapantang mati

    Baitu untuangnyo lumuik
    Indak mancari tampek diam
    Hanyo manompang jo aia hilia
    Indak mamiliah tampek tumbuah
    Asa kasampai ka muaro
    Usah cameh badan kahanyuik

    Baguru kito kalumuik
    Alam takambang jadi guru
    Lahianyo lumuik nan disabuik
    Bathinnyo pusako, Adat Minangkabau

    Dilariak di papan tapi
    Ukiran rumah nan di lua
    Gambaran adat hiasan alam
    Pusako salamonyo
    APUANG APUANG SITINJAU LAUIK TAMPAK NAGARI PANDAKIAN JIKOK UNTUANG ADEN SEPERTI LUMUIK HANYUIK ALUN TAU ADEN KA TETAP DIAM.

    • Bawa bertaubat saudara…menurut hisaf Al Quran sejak dari Nabi Adam, manusia pertama dijadikan Allah SAW diturunkan ke bumi hingga sekarang dikirakan hanya dalam 10 ribu tahun. Menurut para ilmuan Islam berlandaskan fakta Al Quran: TAMADUN MANUSIA BERMULA DARI ZAMAN NABI IDRIS AS, baginda diutus pada kaum Nabi Syits jurai Qabil, putera Adam AS. Nabi Idris AS dilahirkan di MUnaf/Mempis dan digelar Hurmus Al Haramisah, manakala kaumnya dipanggil kaum HurMUs atu MU atau dikalangan KAFIRUN LAKNATULLAH dikenali sebagai kaum LeMUria. Nabi Allah Idris dikurniakan Allah SAW dengan berbagai kebijaksanaan antaranya: Mahir mengukir segala jenis batu permata dan kristal, bijak mengira dan mengukur, pandai menulis dan berfalsafah, pandai menjahit serta yang paling utama berpengetahuan tinggi dalam ilmu astronomi. Baginda bertanggung jawab meletakkan 4 Raja di4 penjuru dunia dengan 4 bentuk muka bumi dan cuaca serta 4 jenis daratan termasuk dataran bawah yang rata rata dihuni oleh kaum MU dataran rendah, dataran atas dan dataran bukit. Di zaman Nabi Idris AS juga telah terdapat 72 jenis bahasa dan pecahan kaum serta telah menggambarkan 188 buah kota. Kaum MU bertukar menjadi angkuh, sombong, bongkak, mungkar dan kufur…berkesudahannya dengan dibinasakan Allah dengan banjir besar di zaman Nabi Allah Nuh AS. Maka dari kejadian banjir tersebut bermulalah terpisahnya 72 pecahan kaum dan bahasa berkenaan diberpuluh ribu pulau, tanah besar dan benua benua. Antara yang terpisah adalah kaum dataran bukit atau KAUM MALA diberbelas ribu pulau dan tanah besar yang secara nyatanya telah mempunyai asas bahasa sendiri sebelum ditamadunkan oleh penutur bahasa Indo-Iran dan Indo-Ayan yang sezaman dengan penutur bahasa MALAYO dengan AGAMA HANIF melalui JALAN SUTERA. Campuran bahasa Indo-Iran, Indo-Aryan dan Malayo Austronesia kemudiannya diserap kedalam bahasa Sanskrit dan menjadi IBU kepada bahasa Sanskrit. Setelah Kerajaan Miritim diperkenalkan AGAMA HANIF dan BAHASA CAMPURAN INDO-IRAN, INDO-AYAN dan MALAYO AUSTRONESIAN diperkenalkan pula dikalangan kaum MALA yang lainnya terpisah diberbelas ribu pulau. MENYENTUH MENGENAI KAUM AAD atau ATLANTIS pula, akibat juga dari kemungkaran dan kekufuran yang dilakukan turut dibinasakan Allah dengan RIBUT PASIR YANG TERAMAT DINGIN di zaman Nabi Allah Hud AS…terbenam sama sekali di bawah padang pasir…DI MANA LOGISNYA ATLANTIS yang terbenam di padang pasir boleh berada di NUSANTARA??? Apa saudara dan seluruh bumi Indonesia kepingin sangat untuk dibinasakan Allah untuk melengkapkan bilangan ke13 selepas dibinasakan sebanyak 12 kaum sebelumnya???

  37. ADA SIAPA DARI KALANGAN ORANG ISLAM YANG MENGETAHUI BAHWA KESELURUHAN HIDUP INI ADALAH IBADAH ,BAHWA JALAN MENUJU KEPADA ALLAH ITU SEBANYAK NAFAS YANG KELUAR MASUK TUBUH BADAN MAKHLUQ ITU SENDIRI. wajib difahami

  38. asal silat pangean jantan dan batino
    datuak bolang /datuk hang tuah
    kata kunci asal usul datuk hang tuah
    web site
    ASAL MUASAL PENDEKAR KUANTAN
    Pada jaman ± 1500 M Kerajaan Pagar Ruyung masih memeluk agama Hindu pada masa Raja Paku Alam II. Kerajaan Pagar Ruyung adalah kerajaan Minang Kabau yang terbesar dan termansyur pada saat itu. Pada masa itu datanglah penyiar agama Islam ketanah Pagar Ruyung dari Persia yang bernama Syech Burhanudin. Agama islam yang diajarkan oleh Syech Burhanudin awalnya ditolak oleh pihak kerajaan dan masyarakat tetapi Syech Burhanudin selalu melakukan pendekatan-pendekatan dengan penduduk Minang Kabau baik penetrasi melalui budaya tempatan maupun dari rumah kerumah. Syech Burhanudin menyebarkan agama Islam tidak sendirian tetapi dia dibantu oleh murid-muridnya, Malin nan Putiah adalah murid Syech Burhanudin yang terkenal pada saat itu.
    Dalam adat Minang Kabau istri Raja atau permaisuri disebut dengan Bundo Kanduang. Adik kandung perempuan dari Bundo Kanduang bernama Bundo Panjago Adat dan suami dari Bundo Panjago Adat bernama Datuak Panjago Nagori. Akibat Bundo Kanduang tidak memiliki keturunan dengan Raja Paku Alam II maka dia mengangkat anak dari anak Bundo Panjago Adat anak tersebut bernama Siti Hasimah. Siti Hasimah dibesarkan dalam lingkungan relegius dan adat-istiadat Minang Kabau, dia anak kesayangan dari Bundo Kanduang. Siti Hasimah mempunyai guru ngaji bernama Malin nan Putiah, murid dari Syech Burhanudin yang akhirnya Malin nan Putiah tersebut mempersunting Siti Hasimah menjadi istrinya. Perkawinan Siti Hasimah dengan Malin nan Putiah menghasilkan tiga orang keturunan atau pangeran. Anak pertamanya diberi nama Ahmad, anak kedua dengan nama Syarif dan anak ketiga dengan nama Ali. Siti Hasimah belajar silat melalui mimpi, ini didapatkannya karena Penerapan Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah dan nilai-nilai relegius yang diamalkan Siti Hasimah disertai rajin membaca kitab suci Al-Qur’an dan melaksanakan ibadah Sholat wajib dan sholat malam. Siti Hasimah yang dalam sapaan kependekarannya bernama “Inyiak Simah atau Olang Bagegah” mempunyai dua orang saudara kandung yaitu Siti Fatimah dan Siti Halimah serta satu orang saudara angkat yaitu Ismail yang bergelar dengan nama Datuak Bolang.
    Akibat kekacauan yang terjadi didalam kerajaan Pagar Ruyuang maka Inyiak Simah pergi merantau ke hilir daerah Minang Kabau untuk menyebarkan agama Islam, tiga orang putranya dititipkannya dengan pamannya yaitu Datuak Bolang sekaligus belajar ilmu beladiri/silat dengan Datuak Bolang tersebut. Akhir petualangan Inyiak Simah singgah disebuah negeri disalah satu didaerah aliran sungai Kuantan yang pada saat itu negeri tersebut belum ada nama, karena belum ada nama maka Inyiak Simah memberi nama tersebut dengan nama Pangean, nama tersebut terinspirasi dari nama daerah kampung halaman orang tua Inyiak Simah yaitu Pangian diLintau. Dari sinilah dikenal asal muasal nama Pangean dan silat Pangean yang dikenal ke penjuru negeri. Negeri tersebut berada diwilayah Kabupaten Kuantan Singingi, Propinsi Riau.
    Dinegeri baru tersebut Inyiak Simah menetap. Selang beberapa tahun Inyiak Simah merantau hal tersebut menimbulkan kegelisahan dari suaminya Malin nan Putiah, oleh sebab itu Malin nan Putiah mengutus Datuak Bolang dan ketiga anaknya untuk mencari Inyiak Simah. Akhirnya Inyiak Simah bertemu dengan Datuak Bolang, Ahmad, Syarif dan Ali dinegeri Pangean. Di Pangean inilah Inyiak Simah dan anak-anaknya menyusun kekuatan dan mengajarkan Silat kepada anak-anaknya.
    Datuak Malin nan Putiah akhirnya menyusul mencari Inyiak Simah dan anak-anaknya dengan hilir kemelalui sungai Batang Kuantan, pencarian Datuak Malin nan Putiah tidak sia-sia, dia menemukan anak dan istrinya di Pangean. Datuak Malin nan Putiah membujuk istrinya untuk pulang ke Pagar Ruyung tetapi ditolak oleh istrinya karena udah merasa nyaman dan tentram hidup didaerah baru tersebut (red:Pangean), dan pada akhirnya terjadi pertengkaran dan perkelahian antara Inyiak Simah dan Datuak Malin nan Putiah, sebelum berkelahi mereka mengadakan perjanjian yaitu jika Inyiak simah Kalah maka dia bersedia untuk pulang ke Pagar Ruyung dan sebaliknya. Didalam perkelahian itu terucaplah beberapa petuah oleh Inyiak Simah yaitu “ somuik bah iriang tah pijak indak mati alu tah aruang patah tigo, makan abih-abih manyuruak hilang-hilang, ompek ganjial limo gonok” makna petuah tersebut sangat dalam maknanya dan memiliki nilai spritual dalam silat Pangean. Akhirnya pertempuran itu dimenangkan oleh Inyiak Simah dan Malin nan Putiah akhirnya mengikuti keinginan Inyiak Simah dan menetap di Pangean.
    Didalam gelar kepandekaran Ahmad dikenal dengan nama Pendekar Baromban Bosi, dia sebagai seorang yang mengerti dan memahami agama dan hukum adat-istiadat. Syarif dikenal dengan nama pendekar dari Utara yang menyebarkan Silat dan agama islam kearah Utara Pangean dan Ali bergelar Pendekar dari Selatan yang menyebarkan silat dan agama islam kearah selatan Pangean. Sedangkan Datuak Bolang melakukan ekspansi agama islam dan menyebarkan agama Islam kearah Melayu Kepulauan atau Terempak Natuna dan Malaka. Datuak Bolang ini lah yang nantinya bergelar Hang Tuah didaerah perantauan.
    Tanah Pangean terkenal pula dengan persilatannya, nama yang tak asing bagi pesilat di Kuantan. Silat ini diwariskan secara turun temurun. Silat Pangean diajarkan kepada anak dan kemenakan. Dalam gerakan, silat Pangean dikenal dengan gerak lembut dan gemulai. Meski begitu setiap gerakan menyimpan efek yang mematikan. Aliran silat Pangean ada dua jenis yaitu Pangean Bathino yang langsung dwariskan oleh Inyiak Simah dan Pangean jantan yang diwariskan oleh Datuak Bolang. Pangean jantan gerakannya sedikit kasar dan dipergunakan untuk perang atau pasukan terdepan dalam siasat perang adat Pangean, terkadang Pangean Jantan ini banyak disalah gunakan oleh pesilat Pangean kearah kiri atau ketabiat negatif. Sedangkan Pangean bathino gerakannya yang lemah gemulai dan lunak diperuntukan bagi pangeran-pangeran kerajaan atau keturunan raja, aliran Pangean Bathino ini dikenal dengan nama khas sebagai ilmu pangean kebathinan. Jadi Silat Pangean Jantan berasal dari Lintau yang diwariskan oleh Datuak Bolang dan Pangean Bathino berasal dari Pangean saluh satu daerah diKabupaten Kuantan Singingi Propinsi Riau.
    Kini, dalam mencapai tujuan pengembangan silat dan dalam rangka melestarikan kebudayaan masyarakat Pangean, penghulu adat membuka laman silat di samping Mesjid Koto Tinggi Pangean. Sebuah bukit di Pangean yang bernama Bukit Sangkar Puyuh sekarang Koto Tinggi Pangean. Nama bukit ini diambil dari bentuknya yang memang seperti Sangkar Burung Puyuh. Di sini sebuah balai adat didirikan. Selain itu, dalam rangka pemerataan keterampilan silat, para guru silat Pangean memberi izin untuk dibukanya laman silat di masing-masing banjar. Dalam penerapannya, silat Pangean terdiri dari permainan dan pergelutan. Tarian silat sambut menyambut serangan ini sering dimainkan di halaman. Hal ini berbeda dalam pengajaran silat kepada murid tingkat atas yang dilakukan di rumah. Silat didalam rumah ini yang disebut dengan Silat Pangean Kebathinan. Seiring berjalannya waktu silat Pangean mendapat perhatian yang luas. Tidak hanya di rantau Kuantan, tapi mulai dikenal di Indragiri dan daerah Riau lainnya. Bahkan pengaruh silat Pangean juga tumbuh diluar negeri seperti di Negara Malaysia, Singapura dan Pathani Thailand.

    Kerabat diraja Pagaruyung
    Kerajaan Inderapura

    Kerajaan Negeri Sembilan

    Kesultanan Siak Sri Inderapura

    edit

    [sunting] Aparat pemerintahan
    Setelah masuknya Islam, Raja Alam yang berkedudukan di Pagaruyung melaksanakan tugas pemerintahannya dengan bantuan dua orang pembantu utamanya (wakil raja), yaitu Raja Adat yang berkedudukan di Buo, dan Raja Ibadat yang berkedudukan di Sumpur Kudus. Bersama-sama mereka bertiga disebut Rajo Tigo Selo, artinya tiga orang raja yang “bersila” atau bertahta. Raja Adat memutuskan masalah-masalah adat, sedangkan Raja Ibadat mengurus masalah-masalah agama. Bila ada masalah yang tidak selesai barulah dibawa ke Raja Pagaruyung. Istilah lainnya yang digunakan untuk mereka dalam bahasa Minang ialah tigo tungku sajarangan. Untuk sistem pergantian raja di Minangkabau menggunakan sistem patrilineal[38] berbeda dengan sistem waris dan kekerabatan suku yang masih tetap pada sistem matrilineal.[15]
    Selain kedua raja tadi, Raja Alam juga dibantu oleh para pembesar yang disebut Basa Ampek Balai, artinya “empat menteri utama”. Mereka adalah:
    Bandaro yang berkedudukan di Sungai Tarab.
    Makhudum yang berkedudukan di Sumanik.
    Indomo yang berkedudukan di Suruaso.
    Tuan Gadang yang berkedudukan di Batipuh.
    Selain itu dalam menjalankan roda pemerintahan, kerajaan juga mengenal aparat pemerintah yang menjalankan kebijakan dari kerajaan sesuai dengan fungsi masing-masing, yang sebut Langgam nan Tujuah. Mereka terdiri dari:
    Pamuncak Koto Piliang
    Perdamaian Koto Piliang
    Pasak Kungkuang Koto Piliang
    Harimau Campo Koto Piliang
    Camin Taruih Koto Piliang
    Cumati Koto Piliang
    Gajah Tongga Koto Piliang
    Daftar Raja-raja Pagaruyung

  39. raja kerajaan melayu champa namanya tuanku iskandar keluarga serta moyang saya berasal raja pagaruyung keluarga raja ,seorang dari penaung raja raja nusantara,seluruh keluarga melayu /minang kabau semuanya beraja kepada kerajaan raja pagaruyung /raja yang bertanduk sebagai lambang kerajaan dan kekuasaan,sebagai bukti penerus dari iskandar zulkarnein ,sebagai anugerah allah subhanahuataala jua,

  40. duh panjang banget ceritanya,bahasa ada yang dimengerti.

  41. Kalau mau Lebih lengkap Reverensinya maka anda harus masuk keperpustakaan “Luhmz”, dan saya jamin anda akan lebi mengenal Atlantis lebuh jauh. Tetap semangat salam.

  42. penambah wawasan:

    Wassalam,

    Yanuardi


  43. update video Nov 2, 2012. Jejak Sejarah Dibalik Situs di Ranah Pesisir Selatan, Sumatera Barat.
    ————————————————–

    REALITA :
    PENOBATAN SULTAN INDERAPURA KE 35.
    1 Desember 2012, bertempat di Hotel Grand Ina Muara Padang. Tidak kurang dari 20 raja dan sultan se-Nusantara menghadiri penobatan Youdi Prayogo,SE, ME bergelar Sultan Indera Rahimsyah Daulat Sultan Muhammad Syah sebagai Sultan ke-35.
    silahkan baca :

    http://padangmedia.com/1-Berita/77849-Seabad-Lebih-Tenggelam-Kesultanan-Inderapura-Kembali-Bangkit.html

  44. saya, sangat percaya apa yang telah Alloh SWT firmankan kepada malaikat bahwa, Alloh SWT akan menciptakan Manusia Baru (Nabi Adam AS) yang akan menggantikan mahluk seperti manusia baru ini, karenanya mailak bertanya “mengapa tuhanku menciptakan mahluk yang akan membuat pertumpahan darah padahal kami selalui berdzikir bertasbih mensucikan MU, dan dalam firman lain disebutkan bahwa, telah berapa banyak bangsa bangsa kaum kaum yang kami musnahkan karena kesombongan dan kedurhakaan mereka terhadap nikmat Alloh, padahal mereka adalah bangsa bangsa yang hebat dan berpengetahuan tinggi dibanding dengan manusia tahun 2013 sekarang, mereka membuat bangunan bangunan tinggi kokok dan hebat monumental yang mereka kira akan menyelamatkan mereka dari adzab Alloh SWT, contoh bukti nyata bukti kekuasaan Alloh tersebut sekarang terkuak pada bangunan monumental gunung padang 20.000 SM, piramida khufa 4000 SM, nah itulah mahluk yang mirip manusia sekarang (Nabi Adam AS dan keturunannya sekarang), mereka hebat hebat, bisa jadi benar kata plato dan aristoteles bahwa jaman dahulu kala ada bangsa bangsa yang hebat tersebut, sebagaimana Alloh SWT berfirman dalam Al Qu;an, bahwa bangsa tersebut asalnya mengagungkan dan berbhakti kepada Alloh SWT terkenal dengan negeri baldatun toyibatun warobun Ghofur, namun lambat laun terkikis oleh harta dan kekayaan akhirnya lupa pada Alloh SWT dan mereka karena kesombongannya dan kedurhakaannya akhirnya bangsa tersebut diadzab dan dimusnahkan dari muka bumi ini, silahkan periksa surat dan ayat nya dalm dalam hadist Rosululloh Nabi Muhammad SAW banyak diterangkan tentang negeri negeri ini, moohon maaf ada salah kata penulisan mohon koreksi

  45. saya dpt info tentang koordinat’ kerajaan Atlantis ‘yg hilang, di kedalaman 120m di laut indonesia,lbh kurang 15000 thn yg lalu.

  46. Menurut Al Quran terdapat 12 kaum telah dibinasakan Allah SWT antaranya kaum pertama dibinasakan adalah Kaum MU atu Lumeria di zaman Nabi Allah Nuh, kaum dataran bawah beetamadun tinggi, dibinasakn dng banjir besar di empat penjuru dunia, kaum ke dua pula adalah Kaum Aad atau Atlantis di zaman Nabi Allah Hud, dibinasakan dng ribut pasir yg teramat dingin, terbenam sama- sekali dlm padang pasir, manakal kaum ke12 adalah Kaum Saba’ di zaman Nabi Allah Nuh, binasa dlm banjir besar kali ke2, Al Ar di Negara Iram. Jarak tahun antara Nabi Allah Adam dan Siti Hawa, manusia pertama dijadikan Allah untuk mengkhalifahkan bumi hingga ke saat ini mengikut pengkhabaran Al Quran hanya 10 ribu tahun…masakan bro bisa ditemui kerangka atu fosil manusia melebihi beratus ribu tahun..??? Untuk peng sdr keberadaan Bukit Jambi dan Kandis yg di bawah KERAJAAN KEDAH TUA yg menganut AJARAN IBRAHIM, ajaran yang MENTAUHIDkan MAHAPENCIPTA tidak menyembah patung dan berhala masih kekal lagi di KEDAH hingga ke saat ini (rujuk: Tapak Warisan Sungai Batu dan Lembah Bujang, Kedah). 2 daerah Kandis Kdah dan Bukit Jambi Kdah serta KERAJAAN KEDAH TUA hancur dibumi hanguskan oleh gabungan KERAJAAN BUDDHA dan Hindu, Kerajaan Kedah Tua melarikan diri di Kedah Inderagiri sebelum membuka KERAJAAN KEDAH JAMBI membawa Ajaran Ibrahim yg dikembangkan oleh RAJA AGUNG ISKANDAR ZULKARNAEN bersama org kanan baginda BALYA IBNI MALKAN atu NABI ALLAH KHIDIR melalui JALAN SUTERA di Selatan dan Timur India dan Campa sebel bermukim di KEDAH TUA. Bangsa awal MALA yg menerima AJARAN IBRAHIM digelar MALA-UR. UR adalah nama negara kelahiran Nabi Allah Ibrahim dan Raja Agung Iskandar dibawah Kerajaan Cheldina. Tidak ada catatan sejarah yg menyebut Raja Iskandar belayar ke Sumatera mengembangkan AJARAN IBRAHIM, yg pastinya dibawa oleh KERAJAAN KEDAH TUA dan kemudiannya dibawa oleh KERAJAAN CAMPA. Selain dari Kerajaan Kedah Tua, Kerajaan Pahang Tua atu Kuantan Pahang, Terengganu Tua dan Johor Lama juga menerima AJARAN IBRAHIM juga lari ke Sumatera akibat diserang gabungan Kerajaan hinddu buddha. Terdapat 3 Kerajaan awal Bangsa Mala yg tidak menerima Ajaran Ibrahim iaitu KERAJAAN JAWAKA menerima BUDDHA, KERAJAAN GRAHI dan MERDALONG/MEDANG menerima HINDU. Manakala KERAJAAN LANGKASUKA juga akhirnya menerima Ajaran Ibrahim, bertanggung-jawab mengusir JAWAKA, GRAHI dan MEDANG lari ke pulau yg kemudiannya dipanggil pulau Jawa. Yg mana di pulau Sumatera dan Jawa penghuninya masih bercawat diwaktu itu.

  47. anda ingin tau///// tentang atlantis tanyakan saja sama mister alexsander ferguson,alias mister jhon,,,,,, DIA LAH PAWANGNYA ATLANTIS YANG HILANG

  48. apa pun cerita nya..saya yakin semuanya untuk meningkatkan ilmu pengetahuan, bukan untuk mencari kebenaran. sebab kebenaran itu hanya dimiliki Allah SWT…
    salut untuk febri…

  49. teruslah mencari kerajaan atlantis itu demi mencari kebenaran peradaban dimuka bumi ini. sangat betul dan tepat ada kerajaan kandis di jambi. dan ada juga kerajaan dharmaraya di jambi. moga Allah SWT menunjukkan MAHABESARNYA…

  50. Selamat malam.
    Secara umum penjelasannya sangat baik, hanya saja ada sedikit kejanggalan didata, khususnya di periode kerajaan dharmasraya.
    Dalam berbagai sumber bahkan di wikipedia sendiri Kerajaan Dharmasraya eksis sekitar abad XII masehi, paska runtuhnya kerajaan Srivijaya dan masih menurut wikipedia juga, kerajaan dharmasraya runtuh tahun 1260-an masehi. Artinya kerajaan dharmasraya merupakan kerajaan yg sejaman dengan kerajaan Singosari.
    Lantas kerajaan Dharmasraya yg mana yg eksis tahun 1341 masehi seperti yg disebutkan diatas..?

    Mohon dikoreksi kembali tuan.
    Trims

  51. […] KERAJAAN KANDIS “ATLANTIS NUSANTARA” | Bayt al … – KERAJAAN KANDIS “ATLANTIS NUSANTARA” ANTARA CERITA DAN FAKTA (Sebuah Hipotesa Lokasi Awal Peradaban di Indonesia) MAKALAH SEMINAR Oleh: PEBRI …… […]

  52. indonesia indonesia……. kerajaan seumuran jagung dibilang atlantis

  53. atlantis bangsa yg berkemajuan bukan keterbelakangan mental berikir….. emangnya kalian ceritakan udah sesuai yg di katakan plato

  54. menurut saya artikel ini perlu di revisi karena situs di gunung padang cianjur jawabarat merupakan zaman megalitikum.yaitu antara 10.000 tahun – 15.000 tahun SM..dan merupakan peradaban tertua se ASIA …bagaimana mungkin jambi menempati posisi paling awal dalam struktur kerajaan di nusantara…coba anda kaji ulang …hanya sekedar koreksi trimakasih

    koreksi kedua
    Lokasi situs TARUMA NAGARA BUKAN DI BANTEN TAPI DI BANDUNG

  55. pak kalo boleh tau .. dapat refrensi ini dari mana ya
    mohon alamat URL atau nama buku ..
    ini sangata membantu penelitian saya pak.. terimakasih
    bisa di kirim ke email saya pak
    kyantinur@gmail.com

    “Pusat Arkeologi Nasional telah berhasil meneliti kerangka berumur 2000-3000 tahun, yaitu penelitian DNA purba dari situs Plawangan di Jawa Tengah dan Gilimanuk Bali. Penelitian itu menunjukkan bahwa manusia Indonesia yang hidup di kedua situs tersebut telah berkerabat secara genetik sejak 2000-3000 tahun lalu. Pada kenyataannya hingga sekarang populasi manusia Bali dan Jawa masih memiliki kekerabatan genetik yang erat hingga sekarang.”

  56. Makalah Anda bagus. Saya adalah anak yang lahir di daerah kota Kandis kec.dendang kabupaten Tanjung Jabung timur. Setelah membaca beberapa artikel, ini di sebabkan rasa penasaran saya terhadap tempat kelahiran saya. Saya ingin sekali mengajak para arkeolog untuk mendatangi tempat ini, yang memang sudah lama tidak di kunjungi. Apakah ini salah satu peninggalan kerajaan Atlantis yang hilang . Kena dari saya sebelum lahir dan besar di sana jujur saya menjadi saksi, dan keluarga saya adalah banyak menemukan artefak, keramik, ptung,pecahan emas, bahkan batu besar yang akhirnya di bawa ke museum. Kali ada yang tertarik saya rasa rakyat Indonesia akan tahu sejarah sebenarnya, di tempat kelahiran saya tersebut pernah di teliti dan masuk acara TVRI saat itu sekitar tahun 1980an, saat itu saya masih kelas 1 SD. Sayangnya penemuan patung cemas dan penemuan lainya di ambil oleh camat yang katanya akan di pamerkan di Jambi. Tapi barang tersebut di ambil bgtu saja. Kalau ada yang tertarik saya siap untuk menunjukkan tempat tersebut. Ini adalah sejarah yang perlu di ketahui dan di temukan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Atlantis in the Java Sea

A scientific effort to match Plato’s narrative location for Atlantis

sembrani

bertukar ide, melampaui mimpi bersama

Nurul Wirda

Semerbak Mawar yang dengan senang hati memancarkan Cahayanya

aawanto

The greatest WordPress.com site in all the land!

Covert Geopolitics

Beyond the Smoke & Mirrors

Catatan Harta Amanah Soekarno

as good as possible for as many as possible

Women Terrace

to say something that i never talk before

Kanzunqalam's Blog

AKAL tanpa WAHYU, akan berbuah, IMAN tanpa ILMU

Cahayapelangi

Cakrawala, menapaki kehidupan nusantara & dunia

religiku

hacking the religion

SANGKAN PARANING DUMADI

Just another WordPress.com site

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

%d blogger menyukai ini: