Tinggalkan komentar

Pancasila: Sebuah Ideologi Rasional

Oleh: Amiroel

Kekawatiran bahwa Pancasila telah diabaikan dan tidak lagi menjadi pembahasan serta diskusi publik mulai menyeruak. Paling tidak, begitulah menurut Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) RI Prof. Dr. Moh. Mahfud MD, di mana banyak pejabat negara yang tidak lagi menempatkanPancasila sebagai salah satu landasan dalam sebuah kebijakan. Kondisi ini sangat berbahaya kalau Pancasila tidak lagi menjadi perekat kebangsaan dan sebagai dasar negara yang kuat…. (Kedaulatan Rakyat, Minggu 31 Mei 2009).


Memang harus diakui kondisi saat ini teramat kontras jika dibandingkan dengan jaman Or-ba, ketika Pancasila tertanam sedemikian kuatnya di benak publik. Bahkan pada saat itu suara-suara berbeda yang ditengarai menyimpang dari Pancasila bisa dituding sebagai tidak Pancasilais sekaligus beresiko dituduh subversif. Namun mengkomparasikan pemaham an kita tentang Pancasila di era yang berbeda ini tidak lantas memberikan gambaran bahwa pada era Or-ba manusia Indonesia jauh lebih Pancasilais daripada era tahun 2000-an. Malahanpatut disinyalir sejak kemerdekaan RI ––secara substantif–– bangsa Indonesia sebenarnya telah gagal untuk benar-benar sampai pada pemahaman utuh mengenai Pancasila (teori-praksis) sebagai sebuah ideologi.

Memang benar, jika akhir-akhir ini Pancasila diabaikan. Namun pemahaman secara membabi-buta hingga sampai kepada sakralisasi, dogmatisme, penuh mitos dan pendewaan seperti jaman Or-ba, tetap saja menyesatkan bangsa ini hingga jatuh ke dalam kategori tidak Pancasilais pula. Kenapa bisa begitu?! Bangsa ini sejatinya belum pernah berhasil menjadi bangsa yang Pancasilais, selagi dalam perjalanan sejarah berbangsa dan bernegaranya tak pernah terbebas dari tarik-menarik antara dua kutub besar: Kalau tidak terlalu ke kiri, maka haluannya terlalu ke kanan. Ke kiri sampai hampir masuk ke jurang komunisme dan ke kanan hingga menjadi sangat kapitalis. Pancasila yang diabaikan membuat sistem yang dianut jauh dari Pancasila, sedangkan sakralisasi Pancasila yang berlebihan justru membuat Pancasila menjadi terlalu abstrak. Sementara dalam implementasinya sama-sama jauh dari nilai-nilai luhur Pancasila yang sesungguhnya.

Kegagalan-kegagalan yang berulang ini membuat Pancasila tidak lebih sebagai jargon-jargon muluk dengan kesenjangan menganga terhadap realitas. Sebagai sebuah konsep, Pancasila menjadi terlalu sempurna namun tak pernah berhasil diimplementasikan ke wilayah kongkrit. Pancasila pernah menjadi sumber teror dan ketakutan yang bisa membuat orang dipenjara, di sisi lain (seperti saat ini) Pancasila justru disingkirkan jauh-jauh dan kita menjadi bangsa yang lebih kapitalis daripada bangsa-bangsa yang melahirkan kapitalisme!

Tentu saja kegagalan ini selayaknya membuat kita berintrospeksi. Semuanya harus diletakkan pada porsinya. Pancasila bukanlah kumpulan nilai-nilai kosong, bukan pula kumpulan ayat-ayat penuh dogma. Harus ada pemahaman baru dengan semangat baru yang lebih masuk akal.

Salah satu tawaran ide pendekatan baru terhadap Pancasila adalah: Memandang Pancasila dengan cara pandang rasional. Pada level rakyat, maka rakyat sejatinya terus-menerus dicerdaskan dan digiring untuk memahami Pancasila melalui pendekatan rasional ini. Sehingga perlu penjelasan memadai kepada mereka tentang sebuah logika berpikir: Bahwa Pancasila adalah sebuah sistem buatan bangsa ini untuk melindungi kepentingan mereka.

Orang harus dibiasakan untuk memahami, bahwa relasi antara individu-masyarakat -bangsa terhadap ideologi Pancasila adalah sebuahrelasi ‘kebutuhan’. Orang membutuhkan Pancasila karena membutuhkan sebuah sistem jitu yang bisa membebaskan mereka dari penindasan. Orang membutuhkan Pancasila karena ekonomi kerakyatan yang berlandaskan Pancasila akan mengentaskan mereka dari belenggu kemiskinan dengan konsep pemerataan yang berkeadilan. Orang membutuhkan Pancasila karena kebutuhan akan pentingnya sebuah ideologi moderat yang mampu mengayomi semua golongan, sehingga mempersatukan seluruh elemen bangsa ini menjadi persatuan satu bangsa yang kuat sekaligus berdaulat. Demikian seterusnya, yang pada pokoknya memberikan gambaran kongkrit bahwa Pancasila merupakan ideologi yang dibutuhkan oleh semua orang (Indonesia) sebagai hasil dari ciptaan bangsa sendiri untuk mengatur diri-sendiri pula.

Maka selayaknya para pemikir menciptakan sistem-sistem yang mengatur perikehi dupan berbangsa dan bernegara dengan mengacu pada nilai-nilai luhur yang terkandung dalam Pancasila tersebut. Misalnya dari sudut politik, harus diciptakan sistem berdemokrasi yang kian matang, dst. Dalam bidang ekonomi perlu elaborasi lebih detail, termasuk ke wilayah praksis tentang pola ekonomi yang berazaskan Pancasila. Misalnya jika ekonomi kerakyatan dinilai sebagai manifestasi ekonomi Pancasila, maka para ekonom-teknokrat perlu merumuskan secara detail sistem ekonomi tersebut sampai ke tingkat implementasi yang riil. Sehingga kian bisa dibedakan mana ekonomi yang benar-benar Pancasilais dan mana yang murni neo-liberal atau minimal pseudo-Pancasilais.

Pada akhirnya, Pancasila sebagai sebuah ideologi rasional bukanlah semata-mata menjadi objek filsafat yang idealistik. Tetapi lebih dari itu, dalam kacamata rasional maka Pancasila yang abstrak harus bertransformasi ke wilayah kongkrit. Alhasil Pancasila an-sich adalahkongkrit. Maka tak perlu lagi ada seorang pejabat negara yang merasa gusar saat dituduh sebagai seorang neo-liberal, sejauh dia bisa membuktikan dengan argumentasi logis-rasional sistem ekonomi yang dia anut apakah sesuai dengan amanah Pancasila atau tidak. Sebab jika sistem ekonomi yang berlaku ternyata hanyalah wujud implementasi tanpa reserve structural adjustment konsensus Washington semata, maka semua bantahan tadi menjadi gugur. Bagaimanapun juga, orang yang menggunakan rasio tidak mudah ditipu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Atlantis in the Java Sea

A scientific effort to match Plato’s narrative location for Atlantis

Sembrani

Membahas ISU-ISU Penting bagi Anak Bangsa, Berbagi Ide, dan Saling Cinta

Wirdanova

+62811-813-1917

aawanto

The greatest WordPress.com site in all the land!

Covert Geopolitics

Beyond the Smoke & Mirrors

Catatan Harta Amanah Soekarno

as good as possible for as many as possible

Modesty - Women Terrace

My Mind in Words and Pictures

Kanzunqalam's Blog

AKAL tanpa WAHYU, akan berbuah, IMAN tanpa ILMU

Cahayapelangi

Cakrawala, menapaki kehidupan nusantara & dunia

religiku

hacking the religion

SANGKAN PARANING DUMADI

Just another WordPress.com site

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

%d blogger menyukai ini: