4 Komentar

MASIH RELEVANKAH AJARAN SYEKH SITI JENAR DEWASA INI?

Oleh: Ir. Achmad Chodjim, MM*

* Ir. Achmad Chodjim adalah penulis buku Syekh Siti jenar: Makna Kematian 
(jilid 1), Syekh Siti Jenar: Makrifat dan Makna Kehidupan (jilid 2) dan 
Mistik dan Makrifat Sunan Kalijaga.

Disampaikan pada seminar budaya “culture and Indonesianess” dengan tema 
“Agama Ageming Aji”. Di Hotel Indonesia Kempinski – Grand Indonesia, 19  Mei 2009

Note :
Assalamualaikum WW,
Salam sejahtera kami ucapkan kepada sahabat semua, rekan seperjalanan. ..

Sahabat arif billah,

Berikut ini akan saya kirimkan hasil Silaturahim PersaudaraaanUniversal, yang juga dihadiri rekan-rekan dari Spiritual Indonesia, Gantharwa dan Berkas Cahaya Kesadaran (BCK), dan beberapa praktisi spiritual dari masyarakat setempat, yang diadakan di kediaman Ustadz Achmad Chodjim (21/5) kemarin…

Tulisan yang saya hidangkan sebagai santapan rohani ini sudah mendapat persetujuan sang penulis untuk saya kirimkan kepada sahabat semua. Semoga berkenan, dan tulisannya menjadikan sebagai amal untuk pencerahan kita bersama.

Salam,
Ferry Djajaprana
———— ——— —

Oleh: Ir. Achmad Chodjim, MM*
Seri 1 & 2 dari 4

Tema seminar/sarasehan budaya hari ini adalah agama ageming aji, yaitu agama sebagai nilai-nilai luhur yang menjadi landasan hidup bangsa Indonesia, sesuai dengan sila pertama pada Pancasila, Ketuhanan Yang Maha Esa. Agama dalam bingkai ageming aji bukanlah agama dalam arti golongan atau agama sebagai organisasi (organized religion), tetapi agama sebagai basis moralitas dan perilaku manusia. Agama dalam arti ini pernah menjadi polemik dan perang wacana di Kepulauan Nusantara –karena Indonesia belum lahir– dan tepatnya di P. Jawa pada pertengahan abad ke-15 hingga pertengahan abad ke-16.

Tokoh sentral dalam polemik dan perang wacana pada masa itu adalah Syekh Siti Jenar atau dikenal dengan nama Syekh Lemah Abang. Dia seorang guru dan pelaku spiritual yang mengajarkan agama sebagai jalan hidup dan bukan sekedar sebagai kepercayaan. Meskipun Syekh seorang muslim, tetapi ajarannya menarik berbagai pemeluk agama dan kepercayaan yang ada waktu itu. Mereka yang belajar dan menjadi murid Syekh berasal dari berbagai kalangan, baik kalangan elite –yaitu para adipati– maupun rakyat biasa. Mereka berasal dari pemeluk Hindu, Biddha, Syiwa-Buddha, Islam, dan pemeluk kepercayaan yang berkembang di Jawa waktu itu.

Apa yang diajarkan oleh Syekh Siti Jenar sehingga daya tarik ajarannya luar biasa dan menyebabkan penguasa Kesultanan Demak Bintara kegerahan waktu itu? Yang diajarkan sebenarnya bukanlah hal yang asing bagi mereka yang hidup di Kep. Nusantara waktu itu. Yang diajarkan adalah paham MKG (Manunggaling Kawula Gusti), yaitu satunya hamba dengan Tuhan. Paham ini sudah ada di agama Hindu dan Buddha yang sebelum berdirinya Kesultanan Demak, dipeluk oleh mayoritas penduduk Nusantara. Paham ini diikuti oleh kalangan sufi dalam agama Islam. Bahkan, mereka yang dikenal sebagai anggota Walisanga juga berpaham MKG. Padahal, berdasarkan sejarah Walisanga yang bergelar sunan itu adalah pendukung dan penasehat Sultan Demak di zaman itu.

Meskipun Walisanga dan Syekh Siti Jenar sepaham, tetapi pada tataran implementasinya dalam kehidupan berbeda. Bagi Siti Jenar, MKG merupakan landasan, jalan dan alat untuk menjadikan manusia merdeka sejati. MKG menggerakkan manusia untuk menjadi dirinya sendiri, menjadikan manusia yang memiliki kepribadian. Inilah inti dari MKG yang diajarkan oleh Syekh Siti Jenar. Tentu pikiran semacam ini melompat terlalu jauh ke depan pada zamannya. Jangankan pada masa 500 tahun yang lalu, dewasa ini saja sebagian besar orang tidak hidup sebagai pribadi, tetapi hidup berdasarkan pikiran orang lain.i Sedangkan MKG yang diajarkan oleh Walisanga lebih bersifat teoritis, dan tidak memberikan implikasi nyata dalam kehidupan masyarakat.

Ajaran MKG Siti Jenar mendobrak feodalisme yang tumbuh subur pada masa itu, sedangkan Walisanga justru melanggengkan sistem feodalisme. Syekh membangkitkan kesetaraan antara kawula (rakyat) dengan rajanya (Gusti). Walisanga melestarikan sistem rakyat menyembah raja. Syekh membebaskan orang dari belenggu ketakhayulan dan pikiran picik, sedangkan Walisanga malah menjadikan agama dan kepercayaan sebagai alat kekuasaan.

Puncak pertarungan paham berakhir ketika Sultan Patah memerintahkan Walisanga untuk menghentikan kegiatan mengajar Syekh dan pengikutnya dihancurkan. Untung tak dapat diraih malang tak dapat ditolak, kata peribahasa. Ajaran Syekh Siti Jenar dipadamkan –meski demikian, ajaran SSJ tetap berjalan dan disampaikan secara sembunyi-sembunyi. Rakyat patuh kepada raja secara pasif, sedangkan kalangan elite berebut kekuasaan. Akibatnya, umur kerajaan tak ada yang panjang, Demak jatuh disusul dengan berdirinya Pajang, dan dalam satu generasi saja Pajang hilang dan muncul Mataram.

Karena rakyat bodoh dan elite kerajaan berebut kekuasaan, makaMataram hanya dalam kurun waktu 50 tahun berdiri sudah goyah karena adanya infiltrasi VOC, yang akhirnya Mataram menjadi negara taklukan VOC. Hal ini saya sampaikan dalam seminar/sarasehan ini agar dapat menjadi pelajaran bagi bangsa Indonesia. Dengan memperhatikan kembali ajaran Syekh Siti Jenar kita akan dididik untuk menjadi manusia merdeka, sehingga siap untuk menahan gangguan dan ancaman asing agar bangsa Indonesia tidak terus-menerus terjajah oleh negara lain dalam segala bentuknya.

Ajaran Pokok Syekh Siti Jenar

Sebagaimana dituturkan di atas, manusia hidup di atas bangunan opini atau 
pendapat orang lain. Pada umumnya manusia tidak mengetahui hakikat 
hidupnya sendiri, dan tidak mengetahui dengan pasti apa yang akan terjadi
pada dirinya. Pikiran sebagian besar orang merupakan pendapat orang lain, 
sehingga kita berbicara menggunakan bahasa orang lain. Mereka yang 
berpengaruhlah yang telah menanamkan pengaruhnya yang berupa bahasa, 
perilaku, pendapat, dan sebagainya untuk membangun identitas tunggal.

Adalah Kierkegaard seorang filosof Barat yang menyatakan bahwa sekelompok  besar orang selalu menghilangkan identitas pribadi. Oleh karena itu, sebagian besar orang yang beragama (memeluk agama resmi) biasa melakukan  ritual dan menjalankan apa yang biasa dilakukan atau diharapkan oleh orang lain, tanpa penghayatan pribadi apa yang dilakukankannya.

Kebanyakan orang  hidup dalam kedangkalan dan formalisme kosong, dan demikianlah yang terjadi sehingga seluruh generasi terjebak dipinggiran akal budi yang berlumpur. Inilah yang menyebabkan roda kemajuan berhenti berputar.[i]

Pendapat sebagai hasil olah pikir manusia berkembang terus, dan bila 
pemikiran seseorang, suatu golongan atau bangsa mandek, maka ia akan 
terlindas oleh perubahan yang terjadi di dunia ini. Bangsa yang pemikirannya terlindas atau tertinggal akan menemui banyak masalah dalam hidupnya, dan kenyataan itu bisa kita saksikan dewasa ini. Perhatikanlah apa yang terjadi pada negara-negara tidak maju atau sedang berkembang! 

Kemiskinan, kebodohan, mutu kesehatan yang rendah, serta rusaknya 
lingkungan hidup merupakan bukti mandeknya pemikiran.

Tanpa berpikir manusia tidaklah sama dengan hewan, tetapi malah lebih 
buruk daripada kehidupan hewan. Bila hewan lapar, maka secara naluri akan 
tertuntun menuju sumber makanan, tetapi tanpa berpikir untuk mencari makan manusia akan mengalami kematian. Oleh karena itu, manusia berandai-andai, dan perlu berasumsi. Manusia berusaha menggunakan akal-pikirannya untuk menciptakan nilai tambah pada segala sesuatu yang ada di sekitarnya. 

Berbagai benda diberi nilai atau “aji” sesuai dengan tingkat kelangkaannya.Pendapat apabila sudah diterima oleh suatu kelompok orang maka akan menjadi kebenaran bagi kelompok itu. Meskipun kitab-kitab suci dalam 

berbagai agama dikategorikan sebagai wahyu dan bukan pendapat, tetapi 
dalam implementasinya tetap menggunakan olah pikir alias pendapat. Dan,
pendapat tentunya dimaksudkan untuk menyamankan, memudahkan, dan 
menimbulkan kesejahteraan umat. Itulah pendapat yang diperlukan!

Jadi, bukan kebenaran hakiki atau kebenaran harfiah suatu pendapat yang 
perlu diperhatikan. Yang perlu diperhatikan adalah apakah pendapat itu 
bisa digunakan untuk menimbulkan kesejahteraan dan kebahagiaan bagi umat manusia, minimal bagi mereka yang meyakini pendapat itu. Dan, yang perlu kita tolak adalah pendapat yang menimbulkan kezaliman, kesengsaraan dan kriminalitas bagi manusia.

Nah, ajaran pokok yang pertama dari Syekh Siti Jenar adalah tidak 
mengabsolutkan pendapat. Pendapat boleh diperdebatkan, akan tetapi 
pendapat tidak untuk melindas pendapat orang lain. Munculnya berbagai 
mazhab dalam berbagai agama di dunia membuktikan bahwa ajaran agama pasca pendirinya sebenarnya merupakan pendapat yang dikembangkan dari ajaran asal agama itu. Jadi, kebenaran pendapat adalah kebenaran yang dibangun atas akseptabilitas masyarakat atau komunitas tempat pendapat itu berkembang.

Ajaran pokok yang kedua adalah menjadi manusia hakiki, yaitu manusia yang 
merupakan perwujudan dari hak, kemandirian, dan kodrat.

Hak. Kebanyakan kita berpendapat bahwa kita harus mendahulukan kewajiban daripada hak. Perhatikanlah para pejabat kita selalu menuntut rakyat untuk  menjalankan kewajibannya dulu sebelum mendapatkan haknya. Warga dituntut membayar pajak, mematuhi undang-undang dan peraturan yang ditentukan oleh para elite politik, dan melaksanakan berbagai macam kepatuhan. Menurut  Syekh Siti Jenar, harus ada hak hidup lebih dulu. Inilah kebenaran! Tak ada kewajiban apa pun yang bisa diberikan kepada seorang bayi yang baru dilahirkan. Oleh karena itu, begitu seorang bayi manusia dilahirkan semua hak-haknya sebagai manusia harus dipenuhi terlebih dahulu.

Tidak peduli ia dilahirkan di keluarga kaya atau miskin, hak memperoleh 
pengasuhan, perawatan, penjagaan, perlindungan, dan mendapatkan pendidikan harus dipenuhi. Hak-hak tersebut dipenuhi agar ia menjadi manusia yang dapat menjalankan kewajibannya sebagai anggota keluarga, masyarakat, dan negara. Dengan cara itu akhirnya ia menjadi manusia hakiki, manusia sebenarnya yang dapat berkiprah dalam kehidupan nyata, baik sebagai pribadi maupun warga sebuah negara. Salah satu unsur untuk menjadi manusia yang hidup merdeka terpenuhi.

Kemandirian. Pemenuhan hak dan kewajiban barulah tahap awal untuk menjadi manusia hakiki. Tahap berikutnya adalah mendidik, mengajar, dan melatihnya  agar bisa menjadi manusia yang hidup mandiri. Ia harus diarahkan agar mampu hidup yang tidak tergantung pada orang lain. Dengan demikian, kehidupan mandiri akan tercapai bila terjadi kesalingtergantunga n antar anggota masyarakat dan sekaligus kemerdekaan (interdependence and 
independence) .

Perhatikanlah keadaan ekonomi masyarakat Indonesia sekarang ini. Kita amat sangat tergantung pada bantuan atau hutang luar negeri. Negara yang 
dilimpahi kekayaan alam yang luar biasa ini justru dihisap oleh negara-negara maju di dunia ini. Setiap bayi yang dilahirkan yang seharusnya merupakan aset negara, ternyata tumbuh menjadi manusia-manusia pencari kerja dan bahkan menjadi beban negara. Hal ini disebabkan terjadinya manusia-manusia yang tergantung pada orang lain. Hubungan yang terjadi adalah hubungan orang-orang lemah dengan orang-orang kuat. Yang lemah merasa sangat memerlukan yang kuat, sedangkan yang kuat berbuat
tidak semena-mena terhadap mereka yang lemah.

Akibat dari keadaan tersebut tambah tahun pengangguran akan semakin 
bertambah besar. Yang menjadi gantungan relatif tetap, sedangkan yang 
menggatungkan diri bertambah banyak. Terjadi relasi yang tidak seimbang, 
sehingga kehidupan masyarakat menjadi rawan.

Kodrat. Inilah unsur berikutnya yang menopang asas hak dan kemandirian
dalam kehidupan masyarakat. Kodrat pada manusia merupakan kuasa pribadi. 

Kodrat tidak didapat dari luar diri. Dengan demikian kodrat tidak berasal 
dari pelatihan dan pendididikan. Tetapi kodrat harus diberikan ruang yang 
kondusif agar suatu bentuk kemampuan khusus yang dianugerahkan pada setiap orang bisa terwujud. Dalam hal ini, pelatihan akan meningkatkan kualitas kodrat yang dimiliki seseorang.

Dalam psikologi kodrat dapat dikatakan hampir sama dengan talenta. Bila 
seseorang tidak diberikan kesempatan untuk dapat mengaktualisasikan 
dirinya, maka kodratnya kemungkinan besar tak akan terwujud. Padahal, 
kodrat yang ada pada diri seseorang itulah yang bisa menjadi sarana untuk 
memperoleh keuntungan bagi dirinya. Bila setiap orang bisa mewujudkan 
kodratnya, maka akan terwujud hubungan yang saling memberikan dan 
sekaligus saling membutuhkan. Setiap orang akan memiliki nilai tawar bagi 
orang lain.

Harmonisasi dan ikatan antar warga negara akan menguat bila sebagian besar 
penduduknya bisa mewujudkan ketiga unsur manusia hakiki tersebut. 
Keragaman masyarakat pun kecil dan kesenjangan ekonomi dapat dinihilkan. 
Akhirnya jati diri manusia akan muncul dengan sendirinya, dan kita akan 
menjadi bangsa yang kokoh dan tidak mudah diprovokasi.

Bersambung ke seri 3/4

*) Ir. Achmad Chodjim MM, adalah penulis buku “Syekh Siti jenar: Makna Kematian (jilid 1)“Syekh Siti Jenar: Makrifat dan Makna Kehidupan (jilid 2) dan “Mistik dan Makrifat Sunan Kalijaga.

4 comments on “MASIH RELEVANKAH AJARAN SYEKH SITI JENAR DEWASA INI?

  1. bang seri selanjutnya kpan ditulis ???

  2. di tunggu seri lanjutannya bang adi

  3. bang ahmad maksudnya,sorry.. =P

  4. Surga Tempat Bercahaya di Dalam Alam Keabadian Kisah Nyata Seorang Manusia yang Telah Mencapainya

    Sebuah kisah nyata yang sangat berharga sebagai motivasi manusia untuk mendapatkan kebahagiaan sesungguhnya di alam cahaya.

    Selengkapnya : http://m.kompasiana.com/pengetahuankebenaranbertuhan/surga-tempat-bercahaya-di-dalam-alam-keabadian-kisah-nyata-seorang-manusia-yang-telah-mencapainya_58501db90323bd421fdddd30

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Atlantis in the Java Sea

A scientific effort to match Plato’s narrative location for Atlantis

Sembrani

Membahas ISU-ISU Penting bagi Anak Bangsa, Berbagi Ide, dan Saling Cinta

Wirdanova

+62811-813-1917

aawanto

The greatest WordPress.com site in all the land!

Covert Geopolitics

Beyond the Smoke & Mirrors

Catatan Harta Amanah Soekarno

as good as possible for as many as possible

Modesty - Women Terrace

My Mind in Words and Pictures

Kanzunqalam's Blog

AKAL tanpa WAHYU, akan berbuah, IMAN tanpa ILMU

Cahayapelangi

Cakrawala, menapaki kehidupan nusantara & dunia

religiku

hacking the religion

SANGKAN PARANING DUMADI

Just another WordPress.com site

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

%d blogger menyukai ini: