33 Komentar

BENARKAH SUNDALAND ITU ATLANTIS YANG HILANG?

BENARKAH SUNDALAND ITU ATLANTIS YANG HILANG?

(Pandangan dari Sisi Geologi dan Peluang dari Spekulasi Ilmiah)

Oleh : Oki Oktariadi[*] (oki@plg.esdm.go.id)

benua Sunda Land”Peradaban Atlantis yang hilang” hingga kini barangkali hanyalah sebuah mitos mengingat belum ditemukannya bukti-bukti yang kuat tentang keberadaannya. Mitos itu  pertama kali dicetuskan oleh seorang akhli filsafat terkenal dari Yunani, Plato (427 – 347 SM), dalam bukunya ”Critias dan Timaeus”. Disebutkan oleh Plato  bahwa terdapat awal peradaban yang disebut Benua Atlantis; para penduduknya dianggap sebagai dewa, makhluk luar angkasa, atau bangsa superior; benua itu kemudian hilang,  tenggelam secara perlahan-lahan karena serangkaian bencana, termasuk gempa bumi.

Selama lebih dari 2000 tahun, Atlantis yang hilang telah menjadi dongeng.  Tetapi sejak abad pertengahan, kisah Atlantis menjadi populer di dunia Barat. Banyak ilmuwan Barat secara diam-diam meyakini kemungkinan keberadaannya.  Di antara para ilmuwan itu banyak  yang menganggap bahwa Atlantis terletak di Samudra Atlantis, bahkan ada yang menganggap Atlantis terletak di Benua Amerika sampai Timur Tengah. Penelitian pun dilakukan di wilayah-wilayah tersebut. Akan tetapi,  kebanyakan peneliti itu  tidak memberikan bukti atau telaah yang cukup. Sebagian besar dari mereka hanya mengira-ngira. .

Hanya beberapa tempat di bumi yang keadaannya memiliki persayaratan untuk dapat diduga sebagai Atlantis sebagaimana dilukiskan oleh Plato lebih dari 20 abad yang lalu. Akan tetapi Samudera Atlantik tidak termasuk wilayah yang memenuhi persyaratan itu. Para peneliti masa kini malahan menunjuk Sundaland (Indonesia bagian barat hingga ke semenanjung Malaysia dan Thailand) sebagai Benua Atlantis yang hilang dan merupakan awal peradaban manusia

.

Fenomen Atlantis dan awal peradaban selalu merupakan impian para peneliti di dunia untuk membuktikan dan menjadikannya penemuan ilmiah sepanjang masa. Apakah pandangan geologi memberi petunjuk yang kuat terhadap kemungkinan ditemukannya Atlantis yang hilang itu? Apabila jawabannya negatif, apakah peluang yang dapat ditangkap dari perdebatan ada tidaknya Atlantis dan kemungkinan lokasinya di wilayah Indonesia?.


PENDAHULUAN

”Mitos” atau cerita tentang benua Atlantis yang hilang pertama kali dicetuskan oleh seorang filosof terkenal dari Yunani  bernama Plato (427 – 347 SM) dalam bukunya berujudl Critias and Timaeus. Penduduknya dianggap dewa, makhluk luar angkasa atau bangsa superior. Plato berpendapat bahwa peradaban dari para peghuni benua Atlantis yang hilang itulah sebagai sumber peradaban manusia saat ini.

Hampir semua tulisan tentang sejarah peradaban menempatkan Asia Tenggara sebagai kawasan ‘pinggiran’. Kawasan yang kebudayaannya dapat subur berkembang hanya karena imbas migrasi manusia atau riak-riak difusi budaya dari pusat-pusat peradaban lain, baik yang berpusat di Mesir, Cina, maupun India. Pemahaman tersebut mengacu pada teori yang dianut saat ini yang  mengemukakan bahwa pada Jaman Es paling akhir yang dialami bumi terjadi sekitar 10.000 sampai 8.000 tahun yang lalu mempengaruhi migrasi spesies manusia.

Jaman Es terakhir ini dikenal dengan nama periode Younger Dryas. Pada saat ini, manusia telah menyebar ke berbagai penjuru bumi berkat ditemukannya cara membuat api 12.000 tahun yang lalu. Dalam kurun empat ribu tahun itu, manusia telah bergerak dari kampung halamannya di padang rumput Afrika Timur ke utara, menyusuri padang rumput purba yang kini dikenal sebagai Afrasia.

Padang rumput purba ini membentang dari pegunungan Kenya di selatan, menyusuri Arabia, dan berakhir di pegunungan Ural di utara. Jaman Es tidak mempengaruhi mereka karena kebekuan itu hanya terjadi di bagian paling utara bumi sehingga iklim di daerah tropik-subtropik justru menjadi sangat nyaman. Adanya api membuat banyak masyarakat manusia betah berada di padang rumput Afrasia ini.

Maka, ketika para ilmuwan barat berspekulasi tentang keberadaan benua Atlantis yang hilang, mereka mengasumsikan bahwa lokasinya terdapat di belahan bumi Barat, di sekitar laut Atlantik, atau paling jauh di sekitar Timur Tengah sekarang. Penelitian untuk menemukan sisa Atlantis pun banyak dilakukan di kawasan-kawasan tersebut. Namun di akhir dasawarsa 1990, kontroversi tentang letak Atlantis yang hilang muluai muncul berkaitan dengan pendapat dua orang peneliti, yaitu: Oppenheimer (1999) dan Santos (2005).

KONTROVERSI DAN REKONTRUKSI OPPENHEIMER

Kontroversi tentang sumber peradaban dunia muncul sejak diterbitkannya buku Eden The East (1999) oleh  Oppenheimer, Dokter ahli genetik yang banyak mempelajari sejarah peradaban. Ia berpendapat bahwa Paparan Sunda (Sundaland) adalah merupakan  cikal bakal peradaban kuno atau dalam bahasa agama sebagai Taman Eden. Istilah ini diserap dari kata dalam bahasa Ibrani Gan Eden. Dalam bahasa Indonesia disebut Firdaus yang diserap dari kata Persia “Pairidaeza” yang arti sebenarnya adalah Taman.

Menurut Oppenheimer,  munculnya peradaban di Mesopotamia, Lembah Sungai Indus, dan Cina justru dipicu oleh kedatangan para migran dari Asia Tenggara. Landasan argumennya adalah etnografi, arkeologi, osenografi, mitologi, analisa DNA, dan linguistik. Ia mengemukakan bahwa di wilayah Sundaland sudah ada peradaban yang menjadi leluhur peradaban Timur Tengah 6.000 tahun silam. Suatu ketika datang banjir besar yang menyebabkan penduduk Sundaland berimigrasi ke barat yaitu ke Asia, Jepang, serta Pasifik. Mereka adalah leluhur Austronesia.

Gambar 1. Buku Eden The East

(Oppenheimer, 1999)

Rekonstruksi Oppenheimer diawali dari saat berakhirnya puncak Jaman Es (Last Glacial Maximum) sekitar 20.000 tahun yang lalu. Ketika itu, muka air laut masih sekitar 150 m di bawah muka air laut sekarang. Kepulauan Indonesia bagian barat masih bergabung dengan benua Asia menjadi dataran luas yang dikenal sebagai Sundaland. Namun, ketika bumi memanas, timbunan es yang ada di kutub meleleh dan mengakibatkan banjir besar yang melanda dataran rendah di berbagai penjuru dunia.

Data geologi dan oseanografi mencatat setidaknya ada tiga banjir besar yang terjadi yaitu pada sekitar 14.000, 11.000, dan 8,000 tahun yang lalu. Banjir besar yang terakhir bahkan menaikkan muka air laut hingga 5-10 meter lebih tinggi dari yang sekarang. Wilayah yang paling parah dilanda banjir adalah Paparan Sunda dan pantai Cina Selatan. Sundaland malah menjadi pulau-pulau yang terpisah, antara lain Kalimantan, Jawa, Bali, dan Sumatera. Padahal, waktu itu kawasan ini sudah cukup padat dihuni manusia prasejarah yang berpenghidupan sebagai petani dan nelayan.

Bagi Oppenheimer, kisah ‘Banjir Nuh’ atau ‘Benua Atlantis yang hilang’ tidak lain adalah rekaman budaya yang mengabadikan fenomena alam dahsyat ini. Di kawasan Asia Tenggara, kisah atau legenda seperti ini juga masih tersebar luas di antara masyarakat tradisional, namun belum ada yang meneliti keterkaitan legenda dengan  fenomena Taman Eden.

BENUA ATLANTIS MENURUT ARYSO SANTOS

Kontroversi dari Oppenheimer seolah dikuatkan oleh pendapat Aryso Santos. Profesor asal Brazil ini menegaskan bahwa Atlantis yang hilang sebagaimana cerita Plato itu adalah wilayah yang sekarang disebut Indonesia. Pendapat itu muncul setelah ia melakukan penelitian selama 30 tahun yang menghasilkan buku Atlantis, The Lost Continent Finally Found, The Definitifve Localization of Plato’s Lost Civilization (2005). Santos dalam bukunya tersebut menampilkan 33 perbandingan, seperti luas wilayah, cuaca, kekayaan alam, gunung berapi, dan cara bertani, yang akhirnya menyimpulkan bahwa Atlantis itu adalah Sundaland (Indonesia bagian Barat).

Santos menetapkan bahwa pada masa lalu Atlantis merupakan benua yang membentang dari bagian selatan India, Sri Langka, dan Indonesia bagian Barat meliputi Sumatra, Kalimantan, Jawa dan terus ke arah timur. Wilayah Indonesia bagian barat sekarang sebagai pusatnya. Di wilayah itu terdapat puluhan gunung berapi aktif dan dikelilingi oleh samudera yang menyatu bernama Orientale, terdiri dari Samudera Hindia dan Samudera Pasifik.

Argumen Santos tersebut didukung banyak arkeolog Amerika Serikat bahkan mereka meyakini bahwa benua Atlantis adalah sebuah pulau besar bernama Sundaland, suatu wilayah yang kini ditempati Sumatra, Jawa dan Kalimantan. Sekitar 11.600 tahun silam, benua itu tenggelam diterjang banjir besar seiring berakhirnya zaman es.

Gambar 2. Wilayah Sundaland (Indonesia bagian Barat dalam buku Santos (2005)

Menurut Plato, Atlantis merupakan benua yang hilang akibat letusan gunung berapi yang secara bersamaan meletus dan mencairnya Lapisan Es yang pada masa itu sebagian besar benua masih diliputi oleh Lapisan-lapisan Es. Maka tenggelamlah sebagian benua tersebut.

Santos berpendapat bahwa meletus-nya berpuluh-puluh gunung berapi secara bersamaan tergambarkan pada wilayah Indonesia (dulu). Letusan gunung api yang dimaksud di antaranya letusan gunung Meru di India Selatan, letusan gunung berapi di Sumatera yang membentuk Danau Toba, dan letusan gunung Semeru/Mahameru di Jawa Timur. Letusan yang paling dahsyat di kemudian hari adalah letusan Gunung Tambora di Sumbawa yang memecah bagian-bagian pulau di Nusa Tenggara dan Gunung Krakatau (Krakatoa) yang memecah bagian Sumatera dan Jawa membentuk Selat Sunda (Catatan : tulisan Santos ini perlu diklarifikasi dan untuk sementara dikutip di sini sebagai apa yang diketahui Santos).

Berbeda dengan Plato, Santos tidak setuju mengenai lokasi Atlantis yang dianggap terletak di lautan Atlantik. Ilmuwan Brazil itu berargumentasi, bahwa letusan berbagai gunung berapi menyebabkan lapisan es mencair dan mengalir ke samudera sehingga luasnya bertambah. Air dan lumpur berasal dari abu gunung berapi tersebut membebani samudera dan dasarnya sehingga mengakibatkan tekanan luar biasa kepada kulit bumi di dasar samudera, terutama pada pantai benua. Tekanan ini mengakibatkan gempa. Gempa ini diperkuat lagi oleh gunung-gunung yang meletus kemudian secara beruntun dan menimbulkan gelombang tsunami yang dahsyat. Santos menamakannya Heinrich Events. Catatan : pernyataan Santos ini disajikan seperti apa adanya dan tidak merupakan pendapat penulis.

Namun, ada beberapa keadaan masa kini yang antara Plato dan Santos sependapat yakni pertama, bahwa lokasi benua yang tenggelam itu adalah Atlantis dan oleh Santos dipastikan sebagai wilayah Republik Indonesia. Kedua, jumlah atau panjangnya mata rantai gunung berapi di Indonesia, diantaranya ialah: Kerinci, Talang, Krakatoa, Malabar, Galunggung, Pangrango, Merapi, Merbabu, Semeru, Bromo, Agung, Rinjani. Sebagian dari gunung itu telah atau sedang aktif kembali.

Dalam usaha mengemukakan pendapat, tampak Plato telah melakukan dua kekhilafan, pertama mengenai bentuk/posisi bumi yang katanya datar. Kedua, mengenai letak benua Atlantis yang katanya berada di Samudera Atlantik yang ditentang oleh Santos. Penelitian oleh para akhli Amerika Serikat di wilayah Atlantik terbukti tidak berhasil menemukan bekas-bekas benua yang hilang itu. Oleh karena itu tidaklah semena-mena ada peribahasa yang berkata, “Amicus Plato, sed magis amica veritas.” Artinya,”Saya senang kepada Plato tetapi saya lebih senang kepada kebenaran.”

Atlantis memang misterius, dan karenanya menjadi salah satu tujuan utama arkeologi di dunia. Jika Atlantis ditemukan, maka penemuan tersebut bisa jadi akan menjadi salah satu penemuan terbesar sepanjang masa.

PANDANGAN GEOLOGI

Pendekatan ilmu geologi untuk mengungkap fenomena hilangnya Benua Atlantis dan awal peradaban kuno, dapat ditinjau dari dua sudut pandang yaitu pendekatan tektonik lempeng dan kejadian zaman es.

Wilayah Indonesia dihasilkan oleh evolusi dan pemusatan lempeng kontinental Eurasia, lempeng lautan Pasifik, dan lempeng Australia Lautan Hindia (Hamilton, 1979). umumnya disepakati bahwa pengaturan fisiografi kepulauan Indonesia dikuasai oleh daerah paparan kontinen, letak daerah Sundaland di barat, daerah paparan Sahul atau Arafura di timur. Intervensi area meliputi suatu daerah kompleks secara geologi dari busur kepulauan, dan cekungan laut dalam (van Bemmelen, 1949).

Kedua area paparan memberikan beberapa persamaan dari inti-inti kontinen yang stabil ke separuh barat dan timur kepulauan. Area paparan Sunda menunjukkan perkembangan bagian tenggara di bawah permukaan air dari lempeng kontinen Eurasia dan terdiri dari Semenanjung Malaya, hampir seluruh Sumatra, Jawa dan Kalimantan, Laut Jawa dan bagian selatan Laut China Selatan.

Tatanan tektonik Indonesia bagian Barat merupakan bagian dari sistim kepulauan vulkanik akibat interaksi penyusupan Lempeng Hindia- Australia di Selatan Indonesia. Interaksi lempeng yang berupa jalur tumbukan (subduction zone) tersebut memanjang mulai dari kepulauan Tanimbar sebelah barat Sumatera, Jawa sampai ke kepulauan Nusa Tenggara di sebelah Timur. Hasilnya adalah terbentuknya busur gunung api (magmatic arc).

Gambar 3. Rekonstruksi Tektonik Lempeng di Wilayah Asia Tenggara (Hall, 2002). Garis merah adalah batas wilayah yang dikenal sebagai Sundaland

Rekontruksi tektonik lempeng tersebut akhirnya dapat menerangkan pelbagai gejala geologi dan memahami pendapat Santos, yang menyakini  Wilayah Indonesia memiliki korelasi dengan anggapan Plato yang menyatakan bahwa tembok Atlantis terbungkus emas, perak, perunggu, timah dan tembaga, seperti terdapatnya mineral berharga tersebut pada jalur magmatik di Indonesia. Hingga saat ini, hanya beberapa tempat di dunia yang merupakan produsen timah utama. Salah satunya disebut Kepulauan Timah dan Logam, bernama Tashish, Tartessos dan nama lain yang menurut Santos (2005) tidak lain adalah Indonesia. Jika Plato benar, maka Atlantis sesungguhnya adalah Indonesia.

Selain menunjukan kekayaan sumberdaya mineral, fenomena tektonik lempeng tersebut menyebabkan munculnya titik-titik pusat gempa, barisan gunung api aktif (bagian dari Ring of Fire dunia),  dan banyaknya komplek patahan (sesar) besar, tersebar di Sumatera, Jawa, Nusa Tenggara dan Indonesia bagian timur. Pemunculan gunungapi aktif, titik-titik gempa bumi dan kompleks patahan yang begitu besar, seperti sesar Semangko (Great Semangko Fault membujur dari Aceh sampai teluk Semangko di Lampung) memperlihatkan tingkat kerawanan yang begitu besar. Menurut Kertapati (2006), karakteristik gempabumi di daerah Busur Sunda pada umumnya diikuti tsunami.

Para peneliti masa kini  terutama  Santos (2005) dan sebagian peneliti Amerika Serikat memiliki kenyakinan bahwa gejala kerawanan bencana geologi wilayah Indonesia adalah sesuai dengan anggapan Plato yang menyatakan bahwa Benua Atlantis telah hilang akibat letusan gunung berapi yang bersamaan.

Pendekatan lain akan keberadaan Benua Atlantis dan awal peradaban manusia (hancurnya Taman Eden) adalah kejadian Zaman Es. Pada zaman Es suhu atau iklim bumi turun dahsyat dan menyebabkan peningkatan  pembentukan es di kutub dan gletser gunung. Secara geologis, Zaman Es sering digunakan untuk merujuk kepada waktu lapisan Es di belahan bumi utara dan selatan; dengan definisi ini kita masih dalam Zaman Es. Secara awam untuk waktu 4 juta tahun ke belakang, definisi Zaman Es digunakan untuk merujuk kepada waktu yang lebih dingin dengan tutupan Es yang luas di seluruh benua Amerika Utara dan Eropa.

Penyebab terjadinya Zaman Es antara lain adalah terjadinya proses pendinginan aerosol yang sering menimpa planet bumi. Dampak ikutan dari peristiwa Zaman Es adalah penurunan muka laut. Letusan gunung api dapat menerangkan berakhirnya Zaman Es pada skala kecil dan  teori kepunahan Dinosaurus dapat menerangkan akhir Zaman Es pada skala besar.

Gambar 4. Penyebaran es di belahan bumi utara pada masa Pleistosen (USGS, 2005)

Dari sudut pandang di atas, Zaman Es terakhir dimulai sekitar 20.000 tahun yang lalu dan berakhir kira-kira 10.000 tahun lalu atau pada awal kala Holocene (akhir Pleistocene). Proses pelelehan Es di zaman ini berlangsung relatif lama dan beberapa ahli membuktikan proses ini berakhir sekitar 6.000 tahun yang lalu.

Pada Zaman Es, pemukaan air laut jauh lebih rendah daripada sekarang, karena banyak air yang tersedot karena membeku di daerah kutub. Kala itu Laut China Selatan kering, sehingga kepulauan Nusantara barat tergabung dengan daratan Asia Tenggara. Sementara itu pulau Papua juga tergabung dengan benua Australia.

Ketika terjadi peristiwa pelelehan Es tersebut maka terjadi penenggelaman daratan yang luas. Oleh karena itu gelombang migrasi manusia dari/ke Nusantara mulai terjadi. Walaupun belum ditemukan situs pemukiman purba, sejumlah titik diperkirakan sempat menjadi tempat tinggal manusia purba Indonesia sebelum mulai menyeberang selat sempit menuju lokasi berikutnya (Hantoro, 2001).

Tempat-tempat itu dapat dianggap sebagai awal pemukiman pantai di Indonesia. Seiring naiknya paras muka laut, yang mencapai puncaknya pada zaman Holosen ± 6.000 tahun dengan kondisi muka laut  ± 3 m lebih tinggi dari muka laut sekarang, lokasi-lokasi tersebut juga bergeser ke tempat yang lebih tinggi masuk ke hulu sungai.

Berkembangnya budaya manusia, pola berpindah, berburu dan meramu (hasil) hutan lambat laun berubah menjadi penetap, beternak dan berladang serta menyimpan dan bertukar hasil dengan kelompok lain. Kemampuan berlayar dan menguasai navigasi samudera yang sudah lebih baik, memungkinkan beberapa suku bangsa Indonesia mampu menyeberangi Samudra Hindia ke Afrika dengan memanfaatkan pengetahuan cuaca dan astronomi. Dengan kondisi tersebut tidak berlebihan Oppenheimer beranggapan bahwa  Taman Eden berada di wilayah Sundaland.

Taman Eden hancur akibat air bah yang memporak-porandakan dan mengubur sebagian besar hutan-hutan maupun taman-taman sebelumnya. Bahkan sebagian besar dari permukaan bumi ini telah tenggelam dan berada dibawah permukaan laut, Jadi pendapat Oppenheimer memiliki kemiripan dengan akhir Zaman Es yang menenggelamkan sebagian daratan Sundaland.

MENANGKAP PELUANG

Pendapat Oppenheimer (1999) dan Santos (2005) bagi sebagian para peneliti adalah kontroversial dan mengada-ada. Tentu  kritik ini adalah hal yang wajar dalam pengembangan ilmu untuk mendapatkan kebenaran. Beberapa tahun ke belakang pendapat yang paling banyak diterima adalah seperti yang dikemukakan oleh Kircher (1669) bahwa Atlantis itu berada di tengah-tengah Samudera Atlantik sendiri, dan tempat yang paling meyakinkan adalah Pulau Thera di Laut Aegea, sebelah timur Laut Tengah.

Pulau Thera yang dikenal pula sebagai Santorini adalah pulau gunung api yang terletak di sebelah utara Pulau Kreta. Sekira 1.500 SM, sebuah letusan gunung api yang dahsyat mengubur dan menenggelamkan kebudayaan Minoan. Hasil galian arkeologis menunjukkan bahwa kebudayaan Minoan merupakan kebudayaan yang sangat maju di Eropa pada zaman itu, namun demikian sampai saat ini belum ada kesepakatan di mana lokasi Atlantis yang sebenarnya. Setiap teori memiliki pendukung masing-masing yang biasanya sangat fanatik dan bahkan bisa saja Atlantis hanya ada dalam pemikiran Plato.

Perlu diketahui pula bahwa kandidat lokasi Atlantis bukan hanya Indonesia, banyak kandidat lainnya antara lain : Andalusia, Pulau Kreta, Santorini, Tanjung Spartel, Siprus, Malta, Ponza, Sardinia, Troy, Tantali, Antartika, Kepulauan Azores, Karibia, Bolivia, Meksiko, Laut Hitam, Kepulauan Britania, India, Srilanka, Irlandia, Kuba, Finlandia, Laut Utara, Laut Azov, Estremadura dan hasil penelitian  terbaru oleh Kimura’s (2007) yaitu menemukan  beberapa monument batu dibawah perairan Yonaguni, Jepang yang diduga  sisa-sisa dari peradaban Atlantis atau Lemuria.

Gambar 5. Monument Batu yang berhasil ditemukan dibawah perairan Yonaguni, Jepang, (Spiegel Distribution TV, 2000)

PELUANG PENGEMBANGAN ILMU

Adalah fakta bahwa saat ini berkembang  pendapat yang menjadikan Indonesia sebagai wilayah yang dianggap ahli waris Atlantis yang hilang. Untuk itu kita harus bersyukur dan membuat kita tidak rendah diri di dalam pergaulan internasional, sebab Atlantis pada masanya adalah merupakan pusat peradaban dunia yang misterius. Bagi para arkeolog atau oceanografer moderen, Atlantis  merupakan obyek menarik terutama soal teka-teki di mana sebetulnya lokasi benua tersebut dan karenanya menjadi salah satu tujuan utama arkeologi dunia. Jika Atlantis ditemukan, maka penemuan tersebut bisa jadi akan menjadi salah satu penemuan terbesar sepanjang masa.

Perkembangan fenomena ini menyebabkan Indonesia menjadi lebih dikenal di dunia internasional khususnya di antara para peneliti di berbagai bidang yang terkait. Oleh karena itu Pemerintah Indonesia perlu menangkap peluang ini dalam rangka meningkatkan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Peluang ini penting dan jangan sampai diambil oleh pihak lain.

Kondisi ini mengingatkan pada  Sarmast (2003), seorang arsitek Amerika keturunan Persia yang mengklaim telah menemukan Atlantis dan menyebutkan bahwa Atlantis dan Taman Firdaus adalah sama. Sarmast menunjukkan bahwa Laut Mediteranian adalah lokasi Atlantis, tepatnya sebelah tenggara Cyprus dan terkubur sedalam 1500 meter di dalam air.  ‘Penemuan’ Sarmast, menjadikan kunjungan wisatawan ke Cyprus melonjak tajam. Para penyandang hibah dana penelitian Sarmast, seperti editor, produser film, agen media dll mendapat keuntungan besar. Mereka seolah berkeyakinan bahwa jika Sarmast benar, maka mereka akan terkenal; dan jika tidak, mereka telah mengantungi uang yang sangat besar dari para sponsor.

Santos (2005) dan  seorang arkeolog Cyprus sendiri yaitu Flurentzos dalam artikel berjudul : ”Statement on the alleged discovery of atlantis off Cyprus” (Santos, 2003) memang menolak penemuan Sarmast. Mereka sependapat dengan Plato dan menyatakan secara tegas bahwa Atlantis berada di luar Laut Mediterania. Pernyataan ini didukung oleh Morisseau (2003) seorang ahli geologis Perancis yang tinggal di pulau Cyprus. Ia menyatakan tidak berhubungan sama sekali dengan fakta geologis. Bahkan Morisseau menantang Sarmast untuk melakukan debat terbuka. Namun demikian, usaha Sarmast  untuk membuktikan bahwa Atlantis yang hilang itu terletak di Cyprus telah menjadikan kawasan Cyprus dan sekitarnya pada suatu waktu tertentu dibanjiri oleh wisatawan ilmiah dan mampu mendatangkan kapital cukup berasal dari para sponsor dan wisatawan ilmiah tersebut.

Gambar 6. Peta Atlantis menurut Kircher (1669). Pada peta tersebut, Atlantis terletak di tengah Samudra Atlantik.

Demikian juga dengan letak Taman Eden, sudah banyak yang melakukan penelitian mulai dari agamawan sampai para ahli sejarah maupun ahli geologi jaman sekarang. Ada yang menduga letak Taman Eden berada di Mesir, di Mongolia, di Turki, di India, di Irak dsb-nya, tetapi tidak ada yang bisa memastikannya.

Penelitian yang cukup konprehensif berkenaan dengan Taman Eden diantaranya dilakukan oleh Zarins (1983) dari Southwest Missouri State University di Springfield.  Ia telah mengadakan penelitian lebih dari 10 tahun untuk mengungkapkan rahasia di mana letaknya Taman Eden. Ia menyelidiki foto-foto dari satelit dan berdasarkan hasil penelitiannya ternyata Taman Eden itu telah tenggelam dan sekarang berada di bawah permukaan laut di teluk Persia.

Gambar 7.  Taman Eden menurut Zarins (1983)

Hingga saat ini, letak dari Atlantis dan Taman Eden masih menjadi sebuah kontroversi, namun berdasarkan bukti arkeologis dan beberapa teori yang dikemukakan oleh para peneliti, menunjukkan kemungkinan peradaban tersebut berlokasi di Samudera Pasifik (disekitar Indonesia sekarang). Ini menjadi tantangan para peneliti Indonesia untuk menggali lebih jauh, walaupun banyak juga yang skeptis, beranggapan bahwa Atlantis dan Taman Eden tidak pernah ada di muka bumi ini.

PENUTUP

Peluang pengembangan ilmu sebenarnya telah direalisasikan oleh LIPI melalui gelaran ‘International Symposium on The Dispersal of Austronesian and the Ethnogeneses of the People in Indonesia Archipelago, 28-30 Juni 2005 yang lalu. Salah satu tema dalam gelaran tersebut menyangkut  banyak temuan penting soal penyebaran dan asal usul manusia dalam dua dekade terakhir.  Salah satu temuan penting dari hasil penelitian yang dipresentasikan dalam simposium tersebut adalah hipotesa adanya sebuah pulau yang sangat besar terletak di Laut Cina Selatan yang kemudian tenggelam setelah Zaman Es.

Menurut Jenny (2005), hipotesa itu berdasarkan pada kajian ilmiah seiring makin mutakhirnya pengetahuan tentang arkeologi molekuler. Salah satu pulau penting yang tersisa dari benua Atlantis jika memang benar, adalah Pulau Natuna, Riau. Berdasarkan kajian biomolekuler, penduduk asli Natuna diketahui memiliki gen yang mirip dengan bangsa Austronesia tertua. Bangsa Austronesia diyakini memiliki tingkat kebudayaan tinggi, seperti bayangan tentang bangsa Atlantis yang disebut-sebut dalam mitos Plato.

Ketika Zaman Es berakhir, yang ditandai tenggelamnya ‘benua Atlantis’, bangsa Austronesia menyebar ke berbagai penjuru. Mereka lalu menciptakan keragaman budaya dan bahasa pada masyarakat lokal yang disinggahinya. Dalam tempo cepat yakni pada 3.500 sampai 5.000 tahun lampau kebudayaan ini telah menyebar. Kini rumpun Austronesia menempati separuh muka bumi.

Dari berbagai pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa asal usul Taman Eden (manusia modern) dan hilangnya benua Atlantis sangat berkaitan dengan kondisi geologi khususnya aktivitas tektonik lempeng  dan peristiwa Zaman Es. Perubahan iklim yang drastik di dunia, menyebabkan  berubahnya muka laut, kehidupan binatang dan tumbuh-tumbuhan.

Zaman Es memberi ruang yang besar kepada perkembangan peradaban manusia yang amat besar di Sundaland. Pada saat itu suhu bumi amat dingin, kebanyakan air  dalam keadaan membeku dan membentuk glasier. Oleh karena itu kebanyakan kawasan bumi tidak sesuai untuk didiami kecuali di kawasan khatulistiwa yang lebih panas.

Di antara kawasan ini adalah wilayah Sundaland dan Paparan Sahul serta kawasan di sekitarnya yang memiliki banyak gunung api aktif yang memberikan kesuburan tanah. Dengan demikian keduanya memiliki tingkat kenyamanan tinggi untuk berkembangnya  peradaban manusia.

Adapun wilayah lainnya tidak cukup memiliki kenyamanan berkembangnya peradaban, karena semua air dalam keadaan membeku yang membentuk lapisan es yang tebal.  Akibatnya, muka laut turun hingga 200 kaki dari muka laut sekarang.

Wilayah Sundaland yang memiliki iklim tropika dan memiliki kondisi tanah subur, menunjukkan tingkat keleluasaan untuk didiami. Kemungkinan pusat peradaban adalah berada antara Semenanjung Malaysia dan Kalimantan, tepatnya sekitar Kepulauan Natuna (sekitar laut China Selatan) atau pada Zaman Es tersebut merupakan muara Sungai yang sangat besar yang mengalir di Selat Malaka menuju laut China Selatan sekarang. Anak-anak sungai dari sungai raksasa tersebut adalah sungai-sungai besar yang berada di Pulau Sumatera, dan Pulau Kalimantan bagian Barat dan Utara.

Gambar 8. Pola aliran sungai purba di daratan paparan tepian kontinen Sunda (Hantoro, 2007).

Kemungkinan kedua adalah Muara Sungai Sunda yang mengalir di Laut Jawa menuju Samudera Hindia melalui Selat Lombok. Hulu dan anak-anak sungai terutama berasal dari Sumatera bagian Selatan, seluruh Pulau Jawa, dan Pulau kalimantan bagian Selatan.

Oleh karena itu klaim bahwa awal peradaban manusia berada di wilayah Mediterian patut dipertanyakan. Sebab pada masa itu kondisi iklim sangat dingin dan beku, lapisan salju di wilayah Eropa dapat menjangkau hingga 1 km tebalnya dari permukaan bumi. Keadaan di Eropa dan Mesir pada masa itu adalah sama seperti apa yang ada di kawasan Artik dan Antartika sekarang ini.

Kawasan Sundaland pada saat itu walaupun memiliki suhu paling dingin sekalipun, tetap dapat didiami dan menjadi kawasan bercocok tanam kerena terletak di sekitar garisan khatulistiwa. Lebih menarik lagi, dengan muka laut yang lebih rendah, pada masa itu Sundaland adalah satu daratan benua yang menyatu dengan Asia dan terbentang membentuk kawasan yang amat luas dan datar. Apabila bumi menjadi semakin panas dan sebagian daratan Sundaland tenggelam daerah ini tetap dapat didiami dan tetap subur.

Di sisi lain kenyamanan iklim dan potensi sumberdaya alam yang dimiliki wilayah Sundaland, juga dibayangi oleh kerawanan bencana geologi yang begitu besar akibat pergerakan lempeng benua seperti yang dirasakan saat ini. Kejadian gempabumi, letusan gunung api, tanah longsor dan tsunami yang terjadi di masa kini juga terjadi di masa lampau dengan intensitas yang lebih tinggi seperti letusan Gunung Toba, Gunung Sunda dan gunung api lainnya yang belum terungkap dalam penelitian geologi.

Instansi yang terkait diharapkan dapat berperan menangkap peluang dalam mengembangkan ilmu pengetahuan untuk mengungkap fenomena Sundaland sebagai Benua Atlantis yang hilang maupun sebagai Taman Eden. Paling tidak peranan instansi tersebut dapat memperoleh temuan-temuan awal (hipothesis) yang mampu mengundang minat penelitian dunia untuk melakukan riset yang komprehensif dan berkesinambungan..

Keberhasilan langkah upaya mengungkap suatu fenomena alam akan membuka peluang pengembangan berbagai sektor diantaranya adalah sektor pariwisata. Kemampuan manajemen kepariwisataan yang baik, suatu kegiatan penelitian berskala internasional artinya hipotesis penelitian yang dibangun dapat mempengaruhi wilayah dunia lainnya, akan berpotensi  menjadi kegiatan wisata ilmiah yang dapat menghasilkan devisa negara andalan dan basis ekonomi masyarakat seperti yang telah dinikmati oleh Mesir, Yunani, Cyprus dll.

Ucapan Terima Kasih—Terima kasih penulis sampaikan kepada:

1)       Prof. Dr. Ir. Adjat Sudradjat, M.Sc atas saran dan koreksinya.

2)       Ir. Oman Abdurahman atas review dan editing keseluruhan isi tulisan.


[*] Penulis adalah peserta Program Doktor Pengembangan Kewilayahan di Universitas Padjadjaran Bandung.

Kiriman 1
1 balasan
Cahya Prihatna (Australia) menulispada 15 Mei 2009 jam 20:40
Sampurasun…

Sebelumnya kepada Kang Fanny kalau tulisan ini tidak relevan dengan tema discussion forum ini, mohon dihapus.

Saya sudah membaca artikel ilmiah dari Stephen Oppenheimer dan koleganya tentang penyebaran manusia di Asia Tenggara pada jaman pasca jaman es. Saya tertarik dengan artikel tersebut karena saya melihat ada keterkaitan antara bukti ilmiah pola penyebaran manusia di Sundaland berdasarkan bukti genetik dan kemungkinan penyebaran ajaran Sundayana (menurut saya). Sebelumnya, saya tuliskan dulu kesimpulan yang saya bisa tarik dari artikel tersebut sebagai berikut:

1. berdasarkan bukti genetik mitokondria, bahwa telah terjadi migrasi dan percampuran materi genetik di antara populasi manusia di Asia Tenggara dan Asia Besar yang bila dirunut berdasarkan variasi genetik mitokondria, asal muasalnya adalah dari Asia Tenggara terutama Indonesia

2. informasi dari analisis variasi genetik mitokondria menyatakan bahwa penyebaran manusia dari Indonesian archipelago terjadi setelah jaman es berakhir (waktu di mana es mencair secara besar-besaran) yang terjadi dimulai pada kurun waktu 35,000 tahun yang lalu dan berlanjut hingga 15,000-7,000 tahun yang lalu. Migrasi terjadi karena hampir separuh daratan di Sundaland tergenang air laut (yang akhirnya sekarang jadi kepulauan Indonesia). Untuk mengukur waktu sejarah, selain berdasarkan bukti-bukti seperti artefak, pola kebudayaan, bahasa, dan lain-lain, DNA (materi genetik) juga bisa digunakan sebagai chronometer (perunut waktu).

Dari kesimpulan di atas, saya mempunyai hipotesis (CEUKENG) bahwa mungkin pada waktu itulah ajaran Sundayana menyebar ke arah utara (ke selatan, ke Australia, sepertinya tidak mungkin), dan dugaan saya pintu gerbangnya adalah selat Malaka (mungkin waktu itu Malaysia dan Sumatera masih bersatu, ataupun kalau sudah terpisah manusia pada waktu itu sudah bisa menggunakan alat transportasi laut). Mungkin itulah sebabnya ada ajaran Hindu di India, Shinto di Jepang, dan sebagainya seperti yang dipostulatkan oleh Kang Lucky. Menurut saya ini masuk akal (logis) bahwa adanya penyebaran ajaran tersebut karena adanya perubahan iklim, banyak daratan yang terendam sehingga orang-orang harus bermigrasi, dan terjadilah asimilasi atau akulturasi, selain itu juga karena bangsa kita bukan bangsa penjajah (keur naon ngajajah, di nagara urang mah geus sagala aya). MALAH AYEUNA URANG NU DIJAJAH, IRONIS. JADI (CEUKENG), bangsa urang teh geus dedeg di alam dunya ieu geus sakitu lila na, tangtuna oge pasti dibarengan ku kabudayaan anu maju, ajaran anu adi luhung.

Neda dihapunten bilih aya kalepatan, mangga ka para kasepuhan…


33 comments on “BENARKAH SUNDALAND ITU ATLANTIS YANG HILANG?

  1. Alhamdulillah, saya bersyukur dengan penemuan ini, semoga penemuan para ilmuwan ini menjadi semakin benar dengan data dan bukti geologi dan peninggalan bukti sejarah, peradaban dan segala hikmah kemuliaannya. Semoga Rakyat Indinesia dan tanah air Indonesia raya menjadi semakin nyata dan dalam kesatuan yang utuh bersatu. Semoga akhlak manusia Indonesia semakin luhur mulia, militan dan berani menegakkan kebenaran hakiki yang dibimbing dengan ajaran mulia dari Pemilik Alam Semesta Maha Mulia dengan ajaran dan Petunjuk Mulia Agung bagi kejayaan umat manusia semesta. Semoga Keadilan dan Kemakmuran bagi segenap rakyat Indonesia dan umat manusia semesta yang seutuhnya. Amin. Wass

  2. Sundaland…..??? bukannya lebih condong k pulau sumatra atau semenanjung malaysia?????

    • Ya, begitulah para geolog menamai anak benua yang mempersatukan pulau jawa, kalimantan, sumatra, dan semenanjung malaysia, entah apa pertimbanganya. mungkin karena sunda atau sundayana itulah ras tertua di benua itu.

  3. Saya pernah menonton liputan National Geographic mengenai Atlantis ini. Lokasinya diperkirakan di Pulau Thera, Laut Aegea, Yunani. Letusan Gunung Santorini di pulau ini yang terjadi kira-kira pada tahun 1628 SM telah mengakibatkan kehancuran pulau ini dan hanya tersisa sedikit (mirip letusan Gunung Krakatau). Kalo melihat masa hidup Plato, mungkin lebih masuk akal bila Plato mengambil kisah Atlantis dari inspirasi dongeng-dongeng seputar letusan Santorini. Nusantara di masa Plato mungkin belum dikenal di masyarakat Yunani/Eropa. Terlebih lagi apabila mengingat Last Glacial Maximum berakhir kira-kira 10 ribu tahun yang lalu. Jaraknya sangat jauh dari masa hidup (> 9 ribu tahun) dan letak hidup Plato (> 10 ribu km).

  4. kalau dilihat karakter manusia sunda, sangat memungkinkan kalau karakter seperti ini adalah selaras dengan karakter kaum atlantis yang sering di visualisasikan di film/ cerita sci-fi …
    tinggal bukti2 ilmiah dan bukti materi nyata yg dapat menegaskan hal ini. sementara hal itu belum ditemukan, manusia sunda akan tetap lestari dengan sikap yg ber karakter, bijak terhadap sesama,dsb
    walaupun saat ini pergeseran nilai semakin mengurangi karakter ini ,terutama di generasi mudanya.
    benar atau tidaknya sundaland=atlantis, karakter sunda yg asah asih asuh, selayaknya menjadi penyembuh dari keadaan indonesia yg menuju kehancuran kepribadian positifnya.
    rampes,…

  5. Berarti orang atlantis itu sebangsa dewa atau jin kali,coba nanya Nabi Khidir,atau kyai semar,pasti taueun geura,tp kok gak di sebut 2 di alquran sbgai pembelajaran ya,berarti bukan ras manusia ya,krn bisa telepati secara bathin,yg bisa elmu sprti itu,biasanya bukan manusia atuh

  6. Alhamdulillah, semoga tulisan ini banyak menjadi itibar dan bahan tafakur kita semua….
    Masih banyak Misteri di Nusantara Indonesia ini yang menarik untuk diteliti, yang riil terjadi di dekat kepulauan riau (kepri) , tempat saya, adalah fenomena hewan laut Gajah Mina yang terdampar di pantai Daik Lingga, Kab. Lingga Provinsi Kepri, ada analisa bahwa hewan ini sering terdampar akibat gempa/ erupsi Gunung berapi di bawah laut, hewan tersebut berfisiologis seperti Gajah mempunyai kuping dan belalai besar, gading dan bentuk tubuh yang besar, bedanya kaki mereka seperti penyu, karakter mereka suka ngamuk kalo ketemu ama nelayan yang suka mencari ikan di Lubuk2 tertentu , dimana mereka sering membuat pusaran / gelombang besar, kejadian ini merupakan hal yang sudah sering dan diketahui oleh masyarakat lama tepian pantai di sekitar kepri. dan sampai dengan saat ini fenomena tersebut masih terjadi. namun ketika Pemkab Daik Lingga melalui dinas pariwisata memberikan rekomendasi untuk mengeksplorasi Gajah Mina di lautan kepada LIPI, namun karena satu dan banyak hal, LIPI belum mengeluarkan statement klarifikasi bahwa Gajah Mina itu apakah hewan / mahluk yang di kategorikan seperti apa binomium nomenklaturnya spesies ini, apakah hewan punah / dilindungi/ langka dsb???. mungkin apabila hal ini diteliti lebih lanjut akan banyak membantu misteri lainnya seperti atlantis, lochness monster, dll.
    Maha besar Allah yang telah membuat perairan di muka bumi ini leih banyak dari daratannya, dan tubuh kita sendiri telah membuktikan kebenarannya secara hakiki dan ainul yaqin.
    jazakallah khairan katsiraa…..

  7. Kabar Bencana kehancuran akibat letusan gunung & kehancuran benua Atlantis yg dimuat di Alqur’an

    QS. Luqman (31) : 32
    Dan apabila mereka dilamun ombak yang besar seperti gunung, mereka menyeru Allah dengan memurnikan ketaatan kepada kepada-Nya maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai di daratan, lalu sebagian mereka tetap menempuh jalan yang lurus. Dan tidak ada yang mengingkari ayat-ayat Kami selain orang-orang yang tidak setia lagi ingkar.

    QS. al-Qari’ah (101) : 5
    dan gunung-gunung adalah seperti bulu yang dihambur-hamburkan.

    QS. at-Takwir (81) : 3
    dan apabila gunung! Gunung dihancurkan.

    QS. al-Mursalat (77) : 10
    dan apabila gunung-gunung telah dihancurkan menjadi debu.

    QS. al-Muzzammil (73) : 14
    Pada hari bumi dan gunung-gunung bergoncangan, dan menjadilah gunung-gunung itu tumpukan-tumpukan pasir yang berterbangan.

    QS. al-Haqqah (69) : 14
    dan diangkatlah bumi dan gunung-gunung, lalu dibenturkan keduanya sekali bentur.

    Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezkinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduk)nya mengingkari nimat-nimat Allah; karena itu Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat. (QS. 16:112)

    Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (suatu mentaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya. (QS. 17:16)

    Maka apakah kamu merasa aman (dari hukuman Tuhan) yang menjungkir balikkan sebagian daratan bersama kamu atau Dia meniupkan (angin keras yang membawa) batu-batu kecil? Dan kamu tidak akan mendapat seorang pelindung pun bagi kamu.
    QS. al-Isra’ (17) : 68

    Atau apakah kamu merasa aman dari dikembalikan-Nya kamu ke laut sekali lagi, lalu Dia meniupkan atas kamu angin taupan dan ditenggelamkan-Nya kamu disebabkan kekafiranmu. Dan kamu tidak akan mendapat seorang penolongpun dalam hal ini terhadap (siksaan) Kami.
    QS. al-Isra’ (17) : 69

    Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.
    QS. al-Isra’ (17) : 70

    Maka dimusnahkanlah mereka oleh suara yang mengguntur dengan hak dan Kami jadikan mereka (sebagai) sampah banjir, maka kebinasaanlah bagi orang-orang yang zalim itu.
    QS. al-Mu’minun (23) : 41

    Kemudian Kami ciptakan sesudah mereka umat-umat yang lain.
    QS. al-Mu’minun (23) : 42

    Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al-Quran itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman. (QS. 12:111)

    Maha benar Allah dgn sgala firmanNya…

  8. […] BENARKAH SUNDALAND ITU ATLANTIS YANG HILANG? […]

  9. menurut saya,tidak ada salah nya kalau kita percaya dengan mitos tersebut.seprti dalam hal yang tergambar,di sna tampak ada seperti pulau sumatra,mungkin saja hal ini benar bahwa Indonesia adalah atlantis yang hilang

  10. sundaland is indonesia? kemungkinan saya prcaya,, apalagi sbg orang sunda, kita tentunya hrus melestarikan kbudayaan sunda agar tidak hilang ditelan zaman.
    ada berbagai teori yg saling berkaitan yg menyatakan tentang taman firdaus, benua lemuria(atlantis), kisah nabi sulaiman, ratu saba, kisah nabi nuh. yg mungkin terdapat di Nusantara. … wow,,, keren donk …. semoga saja para pemerintah dapat insyaf agar tidak korupsi lagi. semoga bangsa ini kembali pada kejayaan di masa lalu dan dapat menjadi bangsa yang memiliki kembali peradaban yg tinggi.

  11. terima kasih atas`artikelnya yg sangat membantu kami kaum muda mengetahui sejarah dari negeri kita ini, mudah mudahan benua Atlantis itu benar Indonesia dan kami generasi penerus dapat menerima manfaatnya demi kemakmuran negeri ini.

  12. Segala kejadian diambil hikmahnya,dan buat sebagai pelajaran. Intinya penduduk negeri agar semua selamat tebarkan benih cinta kasih, tidak hanya pada manusia itu sendiri, namun juga kepada alam lingkungan kita sekitar. Hakikatnya bila kita berbuat baik terhadap sekitar lingkungan kita, adalah kita berbuat baik bagi diri kita sendiri.
    Marilah kita jaga lingkungan kita, berilah kehidupan pada alam, dan alampun akan memberikan kehidupan kepada kita. Dan bila kita merusaknya balasan alam akanlebih hebat

  13. Semoga benua Atlantis itu benar Indonesia. Mari kita jaga NKRI ini, supaya bisa kita teruskan untuk anak cucu kita. Terima kasih atas artikelnya.

  14. saya yakin bgt kalo sundaland itu tepatnya ada di kota Karawang – JAwa Barat, kalo gak percaya buktikan sendiri.

  15. Alhamdulillah, ditemukan artikal ini. saya bukan seorang yg terpelajar tapi saya penggemar sejarah dan sedang mencari dan meneliti asal usul kesultanan dari ratau sini.
    Jika benar Benua Atlantis terletak di rantau sini (Asia Tenggara, meliputi Indonesia, Malaysia, Filipina, Thailand, Vietnam, Kambodia dan beberapa negara lg.), memang ada teorinya.
    Kita kena kaji sejarah kesultanan yg telah lenyap. Antaranya kerajaan Champa di Vietnam Gangga Negara di Malaysia, Merong Mahawangsa di Kedah & Siam, Sriwijaya di Indonesia dan Apakah kerajaan yg wujud sebelum itu?
    Wasalam.

  16. Punten kang bade ngiring nimbrung akh….
    INDONESIA mah sanes benua ATLANTIS anu hilang kang, tapi saleresna mah INDONESIA asal na mah ti IZLAN LEMURIA suku bangsa na ZHUNNDA.
    mantak na dina kajian boh dina peta internasional ge di sebatna sundaland ( paparan SUNDA ).
    teras dina widang tekhnology na ari Bangsa ZHUNNDA LEMURIA mah ber basis tina CAI ( HYDROGEN ) sual na eta tekhnology teh kalintang aman sareng bersih tina polusi atanapi radiasi.
    sedeng bangsa ATLANTIS mah teknology na teh nganggo ISOTOP ( NUCLEAR ) anu tos kantenan eta mah ngandung radiasi sareng seueur limbah na.
    NUHUN.

  17. untuk mengurangkan gejala murtad ,dalam agama islam sangat istimewa ,satu perkataan yaitu buka kulit tampaklah isi ,jadi bila agama islam yang di ajarkan kepada masyarakat ,seperti ajaran yang sebenar /yang asal ,yaitu ,sebar luaskan ciri ciri ulama pewaris nabi,dalam masyarakat ,inilah cara istimewa mendidik masyarakat ,ciri ciri ulama pewaris nabi , 1 tidak mintak upah / bayaran di atas dakwah yang di buatnya . 2 guru / rujukanya ulama ini ,langsung kepada allah taala dan rasulnya serta kesepakatan alim ulama , dalam negara / luar negara. di dalam memutuskan hukum / uandang undang dalam hal ehwal agama islam ……..

  18. ibu bahasa judulnya ,= tiada bunyi tiada huruf ,yang jelasnya terjadi mengapa ia terjadi , sebab ia di jadikan , ya siapa yang menjadikan , yang menjadikan , yaitu yang terbesar sekali daripada seluruh alam ini , itulah allah subhanahuataala ,tuhan yang esa / tuhan yang satu , jadi cara mana mau melihat tuhan yang begitu besar , ya lihat saja pada diri sendiri serta kenalilah dahulu diri sendiri , kalau tidak kenal diri sendiri , kemungkinan mengenal allah , agak mustahil sama sekali

  19. asal tiga raja di wiayah nusantara .Ketiga asal keturunan itu direpresentasikan dalam pemerintahan Rajo Tigo Selo:
    • Rajo Adat dipegang oleh Dinasti Gunung Marapi, berkedudukan di Buo, bersemayam di Istana Ateh Ujuang di Balai Janggo
    • Rajo Ibadat dipegang oleh Dinasti Sriwijaya, berkedudukan di Swarnapura (Sumpur Kudus), bersemayam di Istana Ikua Rumpuik di Kampuang Tangah
    • Rajo Alam dipegang oleh Dinasti Dharmasraya, berkedudukan di Pagaruyung, bersemayam Istana Balai Rabaa di Gudam
    Ketiga raja memelihara persatuan dengan saling mengawinkan keturunannya satu sama lain. Rajo Tigo Selo merupakan sebuah institusi tertinggi yang disebut Limbago Rajo. Di bawahnya terdapat dewan menteri yang disebut Basa Ampek Balai.

  20. Sumber dalam Istana Pagaruyung (Tambo Pagaruyung) memiliki sebuah keyakinan bahwa asal muasal Kerajaan Pagaruyung adalah berbentuk penggabungan atau fusi dari 3 keturunan (3 kerajaan) yang sudah ada sebelumnya. Ketiga kerajaan itu adalah:
    • Dinasti Kerajaan Gunung Marapi (Keturunan Ninik Sri Maharaja Diraja)
    • Dinasti Kerajaan Dharmasraya (Wangsa Mauli) di hulu Batanghari
    • Dinasti Kerajaan Sriwijaya (Wangsa Syailendra) yang menyingkir setelah ditaklukkan raja Rajendra dari Chola Mandala
    2. Galundi Nan Baselo
    Sri Maharaja Diraja turun sedikit ke bawah dari puncak Gunung Merapi membuat tempat di Galundi Nan Baselo. Lebih ke baruh lagi belum dapat ditempuh karena lembah-lembah masih digenangi air, dan kaki bukit ditutupi oleh hutan rimba raya yang lebat. Mula-mula dibuatlah beberapa buah taratak. Kemudian diangsur-angsur membuka tanah untuk dijadikan huma dan ladang. Teratak-teratak itu makin lama makin ramai, lalu tumbuh menjadi dusun, dan Galundi Nan Baselo menjadi ramai.
    Sri Maharaja Diraja menyuruh membuat sumur untuk masing-masing isterinya mengambil air. Ada sumur yang dibuat ditempat yang banyak agam tumbuh dan pada tempat yang ditumbuhi kumbuh, sejenis tumbuh-tumbuhan untuk membuat tikar, karung, kembut dsb. Ada pula ditempat yang agak datar. Ditengah-tengah daerah itu mengalir sebuah sungai bernama Batang Bengkawas. Karena sungai itulah lembah Batang Bengkawas menjadi subur sekali.
    Beratus-ratus tahun kemudian setelah Sri Maharaja Diraja wafat, bertebaranlah anak cucunya kemana-mana, berombongan mencari tanah-tanah baru untuk dibuka, karena air telah menyusut pula. Dalam tambo dikatakan “Tatkalo bumi barambuang naiak, aia basintak turun”.
    Keturunan Sri Maharaja Diraja dengan “si Harimau Campa” yang bersumur ditumbuhi agam berangkat ke dataran tinggi yang kemudian bernama “Luhak Agam” (luhak = sumur). Disana mereka membuka tanah-tanah baru. Huma dan teruka-teruka baru dikerjakan dengan sekuat tenaga. Bandar-bandar untuk mengairi sawah-sawah dikerjakan dengan sebaik-baiknya.
    Keturunan “Kambing Hutan” membuka tanah-tanah baru pula di daerah-daerah Gunung Sago, yang kemudian diberi nama “Luhak 50 Koto” (Payakumbuh) dari luhak yang banyak ditumbuhi kumbuh.
    Keturunan “Anjing yang Mualim” ke Kubang Tigo Baleh (Solok), keturunan “Kucing Siam” ke Candung-Lasi dan anak-anak raja beserta keturunannya dari si Anak Raja bermukim tetap di Luhak Tanah Datar. Lalu mulailah pembangunan semesta membabat hutan belukar, membuka tanah, mencencang melateh, meneruka, membuat ladang, mendirikan teratak, membangun dusun, koto dan kampung.
    Adalah Baginda Dewang Sari Deowano yang mempunyai permaisuri Tuan Puti Rani Dewi (ibu kandung Dewang Sari Megowano) mengambil putri dari Aceh sebagai istrinya yang kedua. Baginda ini dalam pesta pernikahan di Aceh, banyak memberi hadiah kepada pembesar dan masyarakat di Aceh. Karena harta benda yang dibawa sudah habis, dipinjamlah mas kawin yang sudah diserahkan kepada sang istri yakni Putri Kemala (Tuan Puti Gumalo). Karena emas kawin itu sudah diserahkan kepada Baitul Mal Kesultanan Aceh, maka kepada Baitul Mal itulah dilakukan peminjaman. Raja berjanji akan membayar begitu sampai di Pagaruyung. Tetapi apa, dan bagaimana pelaksanaannya ?
    Baginda mungkin karena lupa, tak kunjung membayarnya. Ketika Putri Kumalo (Guma lo) menyerahkan surat tagihannya dari Baitul Mal, raja merasa tersinggung. Terjadi perteng karan, yang mengakibatkan diceraikannya Putri Keumala oleh Baginda. Sang Putri meninggal kan istana dan pergi ke Luak Agam. Di Koto Gadang (Luak Agam) Sang Putri tinggal dengan be berapa orang pengiringnya dan mengajar wanita-wanita disini menyulam menerawang. Sultan Aceh amat marah. Lantas utusan di kirim menjeput Putri Keumala. Setelah putri itu sampai di ibu kota Kerajaan Aceh, pasukan Aceh pun bergerak dan menguasai Bandar Muar dan Pariaman. Di Bandar Muar ditempatkan seorang “Teuku” sebagai Khalifah Sulthan, atau pengganti atau wakil Sultan. Sejak waktu itu Bandar Muar dikenal dengan nama Bandar Kha lifah. Namun lebih populer dengan nama “Kampuang Teuku” dan bagi penduduk disebut “kam puang Tiku”. Itulah asal-usul nama “Tiku”.
    Dari sini dikerahkan pasukan untuk merebut ibu kota Pagaruyung. Namun cepat dicegah oleh Pamuncak Alam Kerajaan Minangkabau Dewang Ranggowano (anak dari Raja Dewang Ramowano dengan Puti Reno Salendang Cayo). Dewang Ranggowano juga menjadi Raja Sungai Tarab dengan gelar Datuak Bandaharo Putieh yang sekaligus juga menjadi Pucuek Bulek Urek Tunggang Kelarasan Koto Piliang. Read the rest of this entry »
    Urang Campa adalah sebutan bagi komunitas Campa dalam bahasa mereka sendiri. Sedangkan di Malaysia mereka disebut sebagai Melayu Champa. Pada awalnya mereka adalah penganut Hindu Shiwa dan kemudian beralih ke Islam sejak abad ke 13, sezaman dengan perkembangan Islam di Nusantara. Asal muasal orang Champa menurut penelitian adalah masyarakat Melayu-Polinesia yang mendiami Kepulauan Nusantara pada abad sebelum Masehi.
    Sepanjang sejarahnya yang selama 1.5 Millennium (192 M – 1832 M), bangsa ini telah menempuh kejayaan dan kehancuran. Dan sekarang bisa dikatakan punah, karena sudah tidak memiliki tanah air lagi dan anak cucunya yang sekira 500,000 an orang tersebar di delapan negara (Kamboja, Vietnam, Malaysia, Indonesia, USA, Thailand, Laos dan Perancis).
    Dari Awal Sampai Puncak Kejayaan
    Catatan sejarah Cina mencatat kemunculan Kerajaan Champa pada tahun 192 M, yang pada saat itu mereka sebut sebagai Lin Yi. Sejatinya Champa adalah sebentuk Konfederasi Kota yang terdiri dari:

  21. Dari Awal Sampai Puncak Kejayaan
    Catatan sejarah Cina mencatat kemunculan Kerajaan Champa pada tahun 192 M, yang pada saat itu mereka sebut sebagai Lin Yi. Sejatinya Champa adalah sebentuk Konfederasi Kota yang terdiri dari:
    • Inderapura (ibukota Champa dari 875 M -1000 M)
    • Amaravati
    • Vijaya (ibukota Champa dari 1000 M – 1471 M)
    • Kauthara, dan
    • Panduranga
    Beberapa ahli sejarah berpendapat, kebudayaan Champa setidaknya dipengaruhi oleh unsur-unsur Cina, India, Khmer dan Jawa. Pada masa pra 1471 M, Hindu Shiwa adalah agama resmi negara, dan Sansekerta adalah tulisan resmi yang diwujudkan dalam prasasti-prasasti dan maklumat negara. Walaupun beraksara Sansekerta, bahasa yang digunakan tidak melulu Sansekerta, karena banyak ditemukan prasasti dengan dua bahasa, yaitu Sansekerta dan Champa. Agama Buddha Mahayana pernah juga menjadi agama resmi negara pada masa pemerintahan Raja Indrawarman II pada tahun 875 M. Saat itu ibukota berada di Inderapura.
    Bangsa Champa adalah bangsa pedagang yang pada masa kejayaannya menguasai jalur perdagangan sutera dan rempah-rempah antara Cina, Nusantara, India dan Persia. Umumnya mereka adalah pedagang perantara.
    Bangsa Khmer secara tradisional adalah pesaing Bangsa Champa, walaupun demikian kedua kerajaan ternyata saling mempengaruhi dan keluarga bangsawannya sering pula kawin mawin. Champa juga menjalin hubungan yang cukup dekat dengan dinasti raja-raja yang berkuasa di Nusantara, seperti Sriwijaya dan Majapahit. Dalam salah satu keterangan disebut Kertanegara, Raja Majapahit memperistri Putri Champa.
    Bangsa Champa juga tersebar sampai ke Acheh dan Minangkabau. Bahkan bahasa Champa mempengaruhi Bahasa Aceh yang dituturkan di Pesisir Utara dan Pesisir Timur Aceh. Bangsa Champa juga merupakan bangsa yang menganut adat matrilineal, sama seperti yang diamalkan orang Minangkabau saat ini. Read the rest of this entry »

  22. Salah satu periode kegelapan dalam Lintasan Sejarah Sumatera adalah masa antara abad pertama sampai abad kelima Masehi. Catatan sejarah dari Cina pertama kali muncul pada tahun 645 M dimana Kerajaan Malayu (Minanga) mengirim utusan ke Cina (catatan Wang Pu). Pada rentang tahun 1 M – 644 M praktis tidak ada catatan Cina yang menyebut daerah sekitar Sumatera.
    Meskipun demikian ada catatan-catatan tentang daerah di laut selatan (Kepulauan Nusantara) yang mengirim utusannya ke Cina pada rentang 441 M – 563 M. Daerah yang disebut itu adalah Kerajaan Koying dan Kerajaan Kantoli.
    Diluar catatan sejarah ada pula dua kerajaan yang disebut-sebut pernah ada di Sumatera sebelum tahun 500 M yaitu Kerajaan Kandis yang beribukota di Istana Dhamna dan Kerajaan Koto Alang. Sumber cerita tentang kedua kerajaan itu adalah Tombo Lubuk Jambi. Untuk sementara kita tinggalkan pembahasan yang sifatnya ahistoris dan legendaris dan fokus pada dua kerajaan pertama yaitu Kerajaan Koying dan Kerajaan Kantoli.
    Kerajaan Koying
    Keberadaan Kerajaan Koying diidentifikasi berdasarkan catatan yang dibuat oleh K’ang-tai dan Wan-chen dari Dinasti Wu (229-280) tentang adanya negeri Koying. Tentang negeri ini juga dimuat dalam Ensiklopedia T’ung-tien yang ditulis oleh Tu-yu (375-412) dan disalin oleh Ma-tu-an-lin dalam ensiklopedia Wen-hsien-t’ung-k’ao (Wolters 1967: 51).http://mozaikminang.files.wordpress.com/2011/11/krakatau-mf8481.jpg

  23. Dari Awal Sampai Puncak Kejayaan
    Catatan sejarah Cina mencatat kemunculan Kerajaan Champa pada tahun 192 M, yang pada saat itu mereka sebut sebagai Lin Yi. Sejatinya Champa adalah sebentuk Konfederasi Kota yang terdiri dari:
    • Inderapura (ibukota Champa dari 875 M -1000 M)
    • Amaravati
    • Vijaya (ibukota Champa dari 1000 M – 1471 M)
    • Kauthara, dan
    • Panduranga
    Beberapa ahli sejarah berpendapat, kebudayaan Champa setidaknya dipengaruhi oleh unsur-unsur Cina, India, Khmer dan Jawa. Pada masa pra 1471 M, Hindu Shiwa adalah agama resmi negara, dan Sansekerta adalah tulisan resmi yang diwujudkan dalam prasasti-prasasti dan maklumat negara. Walaupun beraksara Sansekerta, bahasa yang digunakan tidak melulu Sansekerta, karena banyak ditemukan prasasti dengan dua bahasa, yaitu Sansekerta dan Champa. Agama Buddha Mahayana pernah juga menjadi agama resmi negara pada masa pemerintahan Raja Indrawarman II pada tahun 875 M. Saat itu ibukota berada di Inderapura.
    Bangsa Champa adalah bangsa pedagang yang pada masa kejayaannya menguasai jalur perdagangan sutera dan rempah-rempah antara Cina, Nusantara, India dan Persia. Umumnya mereka adalah pedagang perantara.
    Bangsa Khmer secara tradisional adalah pesaing Bangsa Champa, walaupun demikian kedua kerajaan ternyata saling mempengaruhi dan keluarga bangsawannya sering pula kawin mawin. Champa juga menjalin hubungan yang cukup dekat dengan dinasti raja-raja yang berkuasa di Nusantara, seperti Sriwijaya dan Majapahit. Dalam salah satu keterangan disebut Kertanegara, Raja Majapahit memperistri Putri Champa.

  24. Pembentukan Nagari Dalam Kelarasan
    Untuk dapat membumikan kekuasaannya secara fisik di Alam Minangkabau, falsafah pemerintahan kedua kelarasan tentu tidak hanya berhenti dalam tataran ide. Ia harus wujud dalam bentuk pemerintahan sebenarnya yaitu Nagari.
    Seperti disebut diatas untuk terbentuknya sebuah nagari, maka syaratnya adalah didirikan oleh minimal empat suku, tentu saja pada awal nagari tersebut berdiri suku-suku nya harus dari payung kelarasan yang sama.
    Susunan masyarakat dalam Nagari dari kecil ke besar adalah sebagai berikut:
    Paruik, yaitu sebuah keluarga besar dari suku yang sama
    Jurai, yaitu perkembangan keluarga besar seiring bertambahnya populasi
    Suku, perkembangan selanjutnya dari jurai yang dapat tinggal menyebar dalam nagari.
    Kampung, yaitu kelompok rumah gadang yang didirikan oleh orang sesuku, misal Kampung Jambak, Kampung Bendang.
    Sedangkan dalam hal pembangunan sebuah nagari akan melewati fase taratak, dusun, koto dan kemudian nagari setelah cukup semua alat kelengkapannya (balai, musajik, labuah, tapian dll).
    Persebaran Nagari Berdasarkan Kelarasan
    Nagari-nagari, meskipun merupakan anggota salah satu kelarasan (kecuali Lareh Nan Panjang), pada kenyataannya tidak lah harus mengelompok dalam satu wilayah geografis tertentu. Mirip dengan area pemilihan dalam Sistem Pemilu Indonesia, dua daerah yang bertetangga bisa saja memiliki afiliasi politik yang berbeda. Persebaran yang heterogen ini terjadi juga di ketiga Luhak yang ada di Minangkabau.
    • Luhak Tanah Datar, yang masuk dalam Kelarasan Bodi Caniago adalah Limo Kaum XII Koto dan Sambilan Koto Didalam, sedangkan wilayah Kelarasan Koto Piliang adalah Sungai Tarab Salapan Batua dan Batipuah Sapuluah Koto.
    • Luhak Agam, yang masuk dalam Kelarasan Bodi Caniago adalah Kurai, Banuhampu, Lasi, Bukit Batabuah, Kubang Putiah, Ujuang Guguak, Canduang, Koto Laweh, Tabek Panjang, Sungai Janiah, Cingkariang, Padang Luar dll. Sedangkan wilayah Kelarasan Koto Piliang adalah Ampek Ampek Angkek (Sianok, Koto Gadang, Guguk, Tabek Sarojo, Sarik, Sungai Puar, Batagak, Batu Palano, Lambah, Panampung, Biaro, Balai Gurah, Kamang Bukit, Salo, Magek)
    • Luhak Limo Puluah Koto, mayoritas nagari adalah anggota Kelarasan Bodi Caniago, kecuali : Koto Nan Gadang, Aia Tabik, Gantiang, Sitanang dan Situjuah, dimana terdapat rajo-rajo pada kelima nagari tersebut.
    Sedangkan wilayah yang masuk dalam Lareh Nan Panjang adalah : Guguak Sikaladi, Pariangan, Padang Panjang, Sialahan, Simabua, Galogandang Turawan, Balimbiang.
    Di wilayah rantau nagari-nagari umumnya akan mengikuti kelarasan dari nagari-nagari tempat asal pendiri nagari tersebut. Walaupun demikian di kemudian hari pendatang dari suku-suku yang tidak se-kelarasan dapat tinggal dan menetap (malakok) di nagari-nagari yang pada awalnya didirikan oleh kelarasan yang berbeda, tentunya dengan mengikut aturan awal nagari.

  25. yang penting ilmu pengetahuan saya suka ini….ayo gali lagi….

  26. sebagai orang sunda…dan leluhurnya bangsa lemuria, tentu mempunyai pusaka ato teknologi tingkat super duper canggih n harat yang sanat berlimpah..alangkah baiknya teknologi/ilmu pengetahuan tingkat tinggi n harta berlimpah tersebut jangan dikeluarkan sekarang…bisa bahaya bisa2 dirampok n di garong sama antek 2 yahudi, yang notabene orang qta sendiri, keluarkannya pas generasi ke 2 ato ke tiga aja…insya Alloh Nusantara aman…biarkan penjahat2/koruptor/musuh negara musnah dulu …salam persaudraan urang sunda jaya

  27. tambahan: mereka tidak akan tau n tidak mau tau tentang pusaka/teknologi n harta berlimpah qta…jadi syukur lah…amin..

  28. Atlantis datang dari Laut Atlantik, didepan selat Gibraltar, menyerang Eropa dan Asia Minor:

    “.. For these histories tell of a mighty power which unprovoked made an expedition against the whole of Europe and Asia Minor, and to which your city put an end. This power came forth out of the ATLANTIC OCEAN, for in those days the ocean was navigable; and there was an island situated in front of the straits which are by you called the PILLARS OF HERACLES; the island was larger than Libya and Asia Minor put together” [Timaeus, 24]

  29. Atlantis tenggelam dalam sehari-semalam karena gempa:

    “… But afterwards there occurred violent earthquakes and floods; and in single day and night of misfortune all your warlike men in a body sank into the earth, and the island of Atlantis in like manner disappeared in the depths of the sea.” [Timaeus,25]

  30. Mungkinkah Atlantis, Sundaland, dan Lemuria adalah sebuah term yang berbeda? Mungkin benar adanya bahwa nusantara ini adalah dulunya berperadaban besar. Harusnya saat ini juga Indonesia menjadi negara besar. Saya kira kenapa begitu kayanya negeri ini sehingga imperialisme melancarkan serangan yang dahsyat ke negeri ini beberapa abad yang lalu. Apakah mereka begitu iri dengan negeri kita ini sehingga semena-mena menjajah?
    Wallahu A’lam. Allah Maha Mengetahui dan Menyaksikan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Atlantis in the Java Sea

A scientific effort to match Plato’s narrative location for Atlantis

Sembrani

Membahas ISU-ISU Penting bagi Anak Bangsa, Berbagi Ide, dan Saling Cinta

Wirdanova

+62811-813-1917

aawanto

The greatest WordPress.com site in all the land!

Covert Geopolitics

Beyond the Smoke & Mirrors

Catatan Harta Amanah Soekarno

as good as possible for as many as possible

Modesty - Women Terrace

My Mind in Words and Pictures

Kanzunqalam's Blog

AKAL tanpa WAHYU, akan berbuah, IMAN tanpa ILMU

Cahayapelangi

Cakrawala, menapaki kehidupan nusantara & dunia

religiku

hacking the religion

SANGKAN PARANING DUMADI

Just another WordPress.com site

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

%d blogger menyukai ini: