1 Komentar

Telah Wafat “Guru Arifin” kita: Omar Hasyem

Abdul Hadi WM

Sat, Jan 24, 2009 at 3:22

PM Reply-To: SuaraHati@yahoogroups.com

hadiwm@yahoo.com

abduhadiwm

coverbukuohasemSaya sangat berduka atas wafat Ustadz Omar Hashem. Saya telah sering membaca buku-bukunya sejak akhir 1960an. Saya sangat menyukai percikan pemikirannya, walaupun disampaikan secara populer. Ketika itu saya masih kuliah di Fakultas Filsafat UGM. Kampus masih phobia untuk mengajarkan pemikiran, kearifan dan hikmah yang berasal dari sumber Islam atau dari khazanah intelektual Islam.

o-hashem1Saya juga berbahagia karena pada tahun 1971 bertemu dengan adik almarhum Fuad Hashem yang berpulang ke rahmatulllah terlebih dulu. Kami bersahabat sampai tahun 1973 dengan Fuad Hashem karena sama-sama menjadi redaktur Mingguan Mahasiswa Indonesia di Bandung. Karangan penulis seperti Hamka, Abu Bakar Aceh, Omar Hashem, Bachrum Rangkuti, dan lain-lain bagaikan tetesan embun yang menyejukkan. Semoga arwah beliah diterima di sisi Allah s.w.r. Amin.

Saya juga mengharapkan kaum terpelajar Islam sekarang tidak melupakan sumbangan pemikir pendahulunya. Pemikiran dan sumbangan mereka hendaknya selalu dihadirkan dalam perbincangan yang berkenaan dengan sejarah tradisi intelektual Islam di Indonesia, sesuai bidangnya. HOS Coktroaminoto, Agus Salim, Mohamad Natsir, Hamka, Hasybi as-Siddiqieu, Abu Bakar Aceh, Bachrum Rangkuti, Omar Amin Husein, Ali Audah, Omar Hashem, Nurcholis Madjid, dan para pendahulu yang lain harus senantiasa diingat oleh generasi muda Islam sekarang ini dan dibincangkan lagi jika tidak kehilangan akar sejarah intelektual dan budaya.

Begitu pula pemikiran cendekiawan, ulama, sufi, sastrawan dan budayawan Muslim Nusantara lama seperti Hamzah Fansuri, Sunan Bonang, Bukhari al-Jauhari, Sunan Gunung Jati, Syamsudin Sumatrani, Nuruddin al-Raniri, Abdul Rauf Singel, Yusuf Makassar, Syekh Arsyad Al-Banjari, Abdul Samad al-Falimbangi, Syekh Nawawi Banten, Syekh Khalil Bangkalan, Raja Ali Haji, Amir Hamzah, dan lain sebagainya.

Ahmad Samantho wrote:

“Untuk mengenang Al-Marhum dan mengambil hikmah daripadanya, silahkan baca lebih lanjut tulisan Pak Abdul hadi WM di bawah ini yang berjudul  HAKIKAT RUH.”

Salam. — Pada Jum, 23/1/09, ahmadsahidin@ymail.com menulis: Dari: ahmadsahidin@ymail.com Topik: [SuaraHati] Penulis O. Hashem Wafat Kepada: SuaraHati@yahoogroups.com Tanggal: Jumat, 23 Januari, 2009, 9:17 PM

O. Hashem Wafat Innalillahi wa inna ilahi raajiun. Habib Ustadz Omar Hashem (O. Hashem) telah wafat di usia 74 tahun pada hari Sabtu, 24 Januari 2009, pukul 9:40 pagi di Rumah Sakit MMC, Jakarta. Yaa Allah, ampuni kesalahan beliau dan terimahlah amal perbuatannya. Yaa Ilahi, gabungkanlah beliau bersama Nabi Muhammad dan keluarganya yang Engkau sucikan. Amin yaa rabbal alamin.

CATATAN:

O. Hashem merupakan penulis produktif dan dokter yang bermukim di Lampung. Beliau lahir di Gorontalo tahun 1936. Karya-karya beliau yang sudah terbit:

1. Rohani Jasmani dan Kesehatan

2. Keesaan Tuhan

3. Marxisme dan Agama

4. Menaklukkan dunia Islam

5. Jawaban lengkap kepada Prof. Dr. Verkuyl

6. Saqifah

7. Syi’ah ditolak, Syi’ah dicari

8. Kisah Perjalanan Haji Nabi Muhammad saw

9. Darah dan Airmata

10.Muhammad dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru

11.Wanita dalam Islam dan Kristen

12.Sembahyang dalam Islam dan Kristen

13.Nahjul Balaghah

14.Perkawinan Dini (buku ini dalam penulisan, isinya mengisahkan pernikahan Rasulullah saww dan Aisyah binti Abubakar) BAGI yang membutuhkan alamat

O.Hashem: Jl. Ratna 26 Perum Taman Buana Persada Blok D-4 Jatikramat Jatibening. Telp: 021-84996774 dan 081546055777.

HAKIKAT RUH

(Mengenang Ustadz Omar Hashem)

Abdul Hadi W. M.

Adalah biasa kita menyebut orang yang mati dengan kata telah meninggal dunia dan berpulang ke rahmat Allah. Ketika maut sudah mencabut nyawanya kita menyebutnya menghembuskan nafas terakhir. Dua kata terakhir ‘nyawanya dicabut’ dan ‘menghembuskan nafas terakhir’ sudah kita pahami. Tetapi dua perkataan pertama perlu direnungi. Jika kita mengatakan orang yang mati ‘meninggal dunia’ artinya dunia ini yang ditinggalkan untuk melanjutkan perjalanan ke tempat lain. Tubuhnya ditanam dalam liang lahat, sedangkan yang meninggalkan dunia adalah ruhnya. Dalam perkataan ‘berpulang ke rahmat Allah’ juga demikian. Sebab kepulangan merupakan suatu perjalanan untuk kembali ke tempat asal dari mana ia datang di dunia ini. Dalam perkataan ini tersirat makna bahwa kematian bukan merupakan akhir perjalanan hidup seseorang. Keberadaan badan kasar atau jasmaninya memang berakhir, tetapi substansi lain dari keberadaan manusia belum berakhir. Itulah ruh.

Karena mengenal hakikat ruh penting bagi seorang yang beriman kepada Tuhan, izinkanlah saya bicara tentang hakikat ruh sebagaimana dipahami ahli-ahli tasawuf, ‘irfan dan ulama yang menguasai ilmu keruhanian (spiritualitas), karena ilmu merekalah yang paling kompeten membicarakan masalah ruh. Tetapi sebelumnya saya akan memetik tiga pantun Melayu seperti berikut:

Pulau Pandan jauh di tengah

Di balik pulau angsa dua

Hancur badan dikandung tanah

Budi baik dikenang jua

Pisang emas dibawa berlayar

Masak sebiji di dalam peti

Hutang emas bisa dibayar

Hutang budi dibawa mati

Sarung Bugis jadikan selimut

Dibawa orang dari Bintan

Sudah tertulis di Lawhul Mahfud

Di dunia ini kita berkawan

Isi dua pantun Melayu ini jelas. Badan kita tidak pergi ke mana-mana ketika kita meninggal dunia. Ia ditanam dalam tanah dan akan hancur di dalamnya. Tetapi budi baiknya akan dikenang dan apabila semasa hidupnya seseorang berhutang budi kepada seseorang, maka hutang itu akan dibawa pula bersama kepergiannya ke alam barzakh. Saya ingat pada ucapan seorang wali sufi terkenal abad ke-15 dari pulau Jawa, Makhdum Ibrahim al-Samarakandi alias Sunan Bonang. Ketika beliau ditanya seorang muridnya, apa yang sebenarnya dimiliki manusia setelah dia mati? Sunan Bonang menjawab: “Setelah manusia mati maka tubuhnya menjadi milik ulat dan cacing, sedangkan ruh atau jiwanya adalah milik Tuhan. Milik yang masih tinggal padanya ialah amal ibadah dan amal salehnya. Adapun pengetahuannya akan menjadi milik orang-orang yang masih hidup. Yang terakhir inilah, amal baik dan pengetahuannya, yang akan dikenang.”

Hidup manusia sebenarnya adalah sebuah perjalanan panjang. Maulana Bukhari al-Jauhari, seorang cendekiawan sufi Melayu abad ke-16 pernah mengatakan dalam kitabnya Taj al-Salatin (Mahkota Raja-raja, 1603): “Hidup manusia adalah perjalanan dari Yang abadi menuju Yang Abadi, dari keabadian menuju keabadian.” Perjalanannya itu begitu panjangnya dan ada enam tempat perhentian yang harus dilalui. Pertama, sulbi , yaitu ketika manusia masih berupa benih dalam angan-angan orang tuanya dan roh belum ditiupkan oleh Sang Khaliq ke dalam tubuh jasmaninya. Kedua, rahim ibu. Di sini ia tinggal selama lebih kurang sembilan bulan sebagai calon jabang bayi. Ketiga, alam dunia tempat manusia berikhtiar dan berbakti untuk agama, nusa dan bangsa. Keempat, alam kubur. Kelima, hari kiamat, tempat amal baik dan buruknya ditimbang. Keenam, sorga atau neraka jahanam tempatnya yang kekal.

Alam dunia merupakan perhentian yang penting. Oleh karena itu manusia wajib mengenal dirinya dan dunia tempatnya tinggal itu. “Jalan di hadapan kita sebelum tiba saatnya menempati alam kubur itu teramat jauh dan sukar. Bekal untuk dibawa pulang ke tempat yang abadi tidak dapat dicari di tempat lain kecuali di dunia ini. Kendaraan umurnya tidak dapat dihemat sebab akan berlalu dan manusia tidak mengetahui betapa satu hembusan nafasnya seperti tapak kaki di jalan dan sehari seperti sebuah padang gurun yang luas… dan satu hembusan nafas yang dihela dari hidupnya seperti sebuah batu yang dibongkar dari rumah kehidupan dan setiap nafas pastilah membinasakan rumah umurnya…”

Oleh karena kehidupan di dunia harus dipelihara sebaik-baiknya. Dengan apa? Dengan amal ibadah dan amal saleh. Syekh Hamzah Fansuri, sufi Melayu abad ke-16 dari Aceh, menulis dalam syairnya:

Hidup dalam dunia upama dagang

Datang musim kita ‘kan pulang

La tasta`khiruna sa`atan lagi `kan datang

Mencari makrifat Allah jangan kepalang

Pepatah mengatakan, “Barang siapa mengenal dirinya akan mengenal Tuhannya’. Artinya jika orang ingin mengenal asal-usul kejadiannya, ia harus mengenal hakikat dirinya terlebih dulu. Dari mana ia dating, mengapa ia dating ke dunia, dan ke mana kelak pergi pada akhirnya jika maut mencabut nyawanya. Oleh karena itu Syekh Hamzah Fansuri menulis dalam syairnya:

Kenali dirimu hai anak dagang

Jadikan markab (kapal) tempat berpulang

Kemudi tinggal jangan kaugoyang

Supaya dapat dekat kau pulang

Di geladak kapal yogya kau jails (duduk)

Sauhmu da’im baikkan habis

Rubing syariat yogya kaulabis

Supaya jangan markabmu palis

Hakikat Ruh : Pengetahuan tentang keberadaan ruh bersifat intuitif (dharuri). Demikian diungkapkan oleh Syekh Ali Uthman al-Hujwiri, seorang sufi abad ke-11 M dari Herat, Afghanistan sekarang. Yaitu dalam Kasyfu Mahjub sebuah risalah tasawuf tertua dalam bahasa Persia. Menurut sufi agung itu akal pikiran tidak sanggup memahami sifat dan keberadaannya. Para ulama dan orang arif menjelaskan dengan cara tertentu yang berbeda-beda. Sumber penjelasan mereka ialah al-Qur’an, yang berisi petunjuk-Nya dan keterangan yang diwahyukan kepada rasul-Nya yang terakhir, Nabi Muhammad s.a.w. Suatu ketika datangnya seorang utusan Yahudi bernama Nadhir bin Harits menemui Nabi dan menanyakan hakikat serta sifat ruh. Turun wahyu kepada beliau (Q 17:87): “Mereka menanyakan kepadamu tentang ruh. Katakan, ruh itu termasuk urusan Allah (yaitu yang dicipta mengikuti perintah-Nya).” Berdasarkan firman Allah s.w.t., Rasulullah bersabda, “Ruh-ruh itu bagaikan tentara. Mereka yang satu sama lain saling mengenal akan sepakat, sedangkan yang tidak saling mengenal akan berselisih atau bertikai.”

Ada banyak pandangan tentang ruh. Ada sebagian yang berpendapat bahwa ruh adalah kehidupan yang menyebabkan badan menjadi hidup. Ini terutama sekali dikemukakan oleh para filosof skolastik. Para filosof ini memandang ruh sebagai `arad, yaitu aksiden atau kejadian yang ditimbulkan oleh sebab-sebab tertentu yang sifatnya sementara. Disebabkan perintah Tuhan ia bertugas memelihara badan supaya hidup. Adanya ruh menyebabkan seluruh anggota tubuh mengalami persatuan, bergerak, saling berhubungan dan timbul kejadian-kejadian lain yang serupa sehingga badan berubah dari keadaan satu ke keadaan lain.

Pendapat ini kurang diterima oleh orang arif dan ulama terpandang yang pengetahuannya luas. Sebagian dari mereka berpendapat bahwa ruh bukanlah kejadian dan bukan kehidupan. Namun dalam kenyataan, kehidupan tidak akan ada tanpa ruh dan ruh tidak akan ada tanpa badan. Dengan itu ruh dan badan sama-sama dijadikan dan kemudian disatukan. Keduanya, selama manusia hidup di dunia, tidak terpisahkan. Keduanya tak terpisahkan seperti rasa sakit dan pengetahuan tentang sakit. Menurut pandangan ini ruh itu bersifat aksiden seperti kehidupan. Artinya merupakan kejadian yang punya kelanjutan yang berbeda dari badan, namun keberlanjutannya itu sama dengan hakikat kehidupan itu sendiri.

Sebagian besar sufi dan ahli `irfan berpendapat bahwa ruh itu adalah substansi (zat) yang halus dan bukan sifat (attribut). Selama ia berkaitan dengan badan, Tuhan menciptakan kehidupan dalam badan. Kehidupan manusia adalah sifat atau keadaan, dan dengan keadaan dan sifat itu manusia itu hidup. Tetapi ruh tersimpan dalam badan dan dapat dipisahkan ketika manusia masih hidup, misalnya ketika seseorang sedang tidur. Bilamana ruh meninggalkan badan, akal pikiran dan pengetahuan manusia tidak ada lagi dalam dirinya. Sebagaimana dikatakan Nabi Muhammad s.a.w., “Ruh-ruh para syahid itu berada dalam tembolok burung.” Dengan demikian ruh adalah substansi (zat halus). Ia juga adalah tentara (junud), yaitu pasukan dalam tubuh yang bergerak mengikuti perintah Yang Maha Kuasa. Tentara yang disebut ruh itu baqa (kekal) dalam perintah dan pengetahuan Tuhan. Aksiden atau kejadian tidak kekal sebab tidak berdiri sendiri.

Dapat disimpulkan bahwa ruh adalah jasad halus (jismi latif) yang dating dan pergi mengikuti perintah Tuhan. Orang yang meninggal dunia dengan demikian ruhnya mendapat perintah dari Tuhan untuk meninggalkan tubuhnya. Karena itu orang mati dikatakan meninggal atau meninggalkan dunia, dan yang meninggalkan dunia ialah ruhnya, sebab tubuhnya tidak meninggalkan dunia. Paa malam Mi`raj ketika Nabi Muhammad s.a.w melihat dan bertemu Nabi Adam, Ibrahim, Yusuf, Musa, Harun, dan Isa a.s., yang dilihat adalah ruh-ruh mereka, yaitu jisim halus mereka bukan badan kasar mereka.

Kalau saja ruh itu suatu aksiden atau kejadian sesaat, tentu ia tidak berdiri sendiri sebegitu rupa hingga bisa dilihat melaluisi visi keruhanian yang terang. Karena ruh memerlukan tempat dalam zat, sedangkan zat itu sifatnya khatif (kasar), maka ruh itu ialah jumlah aksiden-aksiden yang memiliki tempat yaitu zat. Dengan kata lain ia merupakan jisim halus, yang hanya dapat disaksikan oleh orang yang memiliki visi keruhanian yang terang. Yang ruhani hanya bisa dipahami oleh akal ruhani, namun kehadirannya dapat dirasakan pula oleh akal pikiran dan panca indera. Di sini para sufi dan ahli irfan meyakini bahwa ruh itu adalah halus keadaannya dan berjasad (jasim). Karena berjasad maka ia bisa dilihat, yaitu dengan mata akal atau mata kalbu (chasm-i dil).

Akan tetapi sangat disayangkan pandangan sufi atau ahli `irfan itu sering dicampur adukkan dengan kepercayaan kaum zindiq dan kepercayaan-kepercayaan lain di luar Islam yang bertentangan dengan ajaran Islam. Seperti kepercayaan-kepercayaan yang berkembang di India, Tibet, Cina dan Persia Kuna. Juga sekte-sekte Kristen tertentu yang menyimpang dari ajaran Isa Almasih. Kesengajaan itu tidak jarang dilakukan untuk mengucilkan tasawuf atau `irfan dari Islam, dan memandangnya bahwa bentuk kearifan atau disiplin kerohanian yang disebut tasawuf atau `irfan tidak ada sangput pautnya dengan Islam.

Aliran kepercayaan yang disebut zindiq dalam sejarah Islam awal ialah Qaramitah dan Ismailiyah atau Batiniyah. Mereka memandang bahwa ruh itu kekal sejak awal kejadiannya (qadim), berdiri sendiri dan bebas, serta merupakan agen tunggal yang menguasai obyek-obyek di alam dunia. Karena itu tidak jarang ruh seperti itu dipuja sebagai dewa, ruh halus, ruh kudus, dan lain-lain sebutan yang anekaragam. Ruh-ruh halus itu dipandang bergerak bebas dan dapat menyelamatkan manusia serta tidak bisa ditundukkan oleh Tuhan.

Dari kepercayaan seperti itu lahir paham seperti tanasukh (metempsychosis) dan hulul (inkarnasi, penitisan). Faham tanasukhiyyat meyakini bahwa ruh seseorang dapat berpindah ke badan orang lain ketika seseorang masih hidup maupun sesudah seseorang itu maninggal dunia. Karena ruh dipandang qadim atau kekal sejak awal kejadian dan independent, maka ia bisa pindah ke badan seseorang yang ia kehendaki. Misalnya kepercayaan bahwa ruh pemimpin Buddhisme di Tibet yang dapat pindah ke dalam badan seorang anak kecil yang dipilih untuk menjadi calon Dalai Lama.

Begitu juga kepercayaan bahwa ruh seorang pemimpin seperti Bung Karno dapat pindah ke tubuh seorang pemimpin sebuah aliran kepercayaan seperti pendiri aliran Satrio Piningit Meteng Bawono di Depok, yang beberapa waktu lalu berhasil digrebeg oleh polisi. Pemimpin aliran ini lebih jauh malah meyakini dirinya adalah penjelmaan Tuhan. Jadi tidak berbeda dengan penimpin aliran Salamullah yang meyakini dirinya penjelmaan Jibril. Dalam sejarah Islam, kepercayaan yang menyimpang dari Islam seperti itu tampak pada aliran Ismailiyah atau Batiniyah. Untuk mencari legitimasi dari Islam, mereka meyakini bahwa tujuh nabi orang Islam (Nuh, Ibrahim, Yusuf, Musa, Daud, Isa, dan Muhammad s.a.w) adalah penjelmaan Tuhan. Sedangkan ruh imam mereka pindah dari imam satu ke imam berikutnya

Sedangkan kaum hululiyah (mereka yang berpaham hulul) mempercayai bahwa ruh seseorang yang sudah meninggal bisa menitis atau menjelma menjadi pribadi berbeda. Ini diyakini kaum Qaramaitah seperti juga Ismailiyah. Mereka meyakini bahwa ruh yang berkemampuan menitis ialah pendiri sekte tersebut. Dalam keyakinan ini jelas ruh tidak lagi dipandang sebagai makhluq atau ciptaan Allah yang segala geraknya dapat diawasi dan dikendilkan oleh Yang Maha Kuasa. Kesalahan lain dari anggapan seperti itu ialah bahwa keberadaan ruh-ruh itu mendahului perintah Tuhan untuk menciptakan makhluq-makhluq. Dari sudut pandang Islam jelas pandangan seperti itu tidak benar.

Dalam pandangan Islam yang benar, ruh itu dicipta oleh Tuhan mendahului penciptaan badan, kemudian setelah badan mulai dibentuk maka ruh dihembuskan ke dalam badan. Melalui persatuan ruh dan badan, Tuhan menciptakan kehidupan melalui ketentuan (takdir)-Nya. Syekh Ali Uthman al-Hujwiri kepada seorang pemimpin kaum Zindiq, “Adakah ruh berdiri sendiri atau berdiri dengan sesuatu yang lain?” Pemimpin Zindiq itu menjawab, bahwa ruh itu mandiri. “Kalau demikian, alam apa tempat ruh itu hidup dan mengada? Tuhan ia hidup dalam Tuhan atau di luar Tuhan?” Pertanyaan itu tidak dijawab oleh pemimpin Zindiq itu karena mereka memang ingin menyebarkan keraguan di antara orang beriman.

Jika jawabnya ialah bahwa ruh hidup dalam Tuhan atau memperoleh kehidupan dari Tuhan maka jelas ia tergantung kepada Tuhan yang menciptakannya dan hanya atas kehendak-Nya, maka berarti ia tidak konsisten dengan pendiriannya. Jika jawabnya ialah bahwa ruh itu itu mandiri, maka di alam kewujudan itu terdapat dua Wujud yang menguasai obyek-obyek di alam semesta. Kepercayaan ini bertentangan dengan Islam yang mengakui bahwa tuhan sajalah wujud hakiki di dunia. Wujud lain, seperti ruh, tak bisa berbuat sekehendak hati tanpa dikehendaki oleh-Nya.

Demikian telah kita ketahui ketidaksamaan ajaran hulul (inkarnasi) dengan Tauhid, dari mana seluruh ajaran tasawuf dan `irfan yang sejati bertolak. Menurut prinsip Tauhid, sifat Tuhan yang qadim (kekal sejak sedia kala dan selamanya) tidak mungkin menjadi sifat ciptaan-Nya, seperti kemahakuasaan-Nya dan ketaktergantungan-Nya kepada wujud lain selain dari Diri-Nya. Sebagai yang qadim, Tuhan kekal dan ada dengan sendiri-Nya. Dia tidak ada kaitan dengan yang tidak qadim termasuk ruh, dalam arti tidak ada kaitan substansi dan zat, serta keadaan dan sifat. Kata-kata muhit (meliputi) dalam al-Qur’an yang dikenakan kepada Tuhan, yaitu Tuhan meliputi segala sesuatu, adalah meliputi dengan ilmu-Nya, dengan nur atau petunjuk (al-huda)-Nya, dengan al-rahman dan al-rahim, atau kasih sayang alias Cinta-Nya.

Di sini kata-kata meliputi tidak mengandung arti adanya persenyawaan atau percampuran. Ilmu-Nya ialah pengetahuan tentang segala sesuatu yang ada dalam Diri-Nya, bukan dalam diri obyek-obyek yang diketahui oleh-Nya. Artinya Tuhan mengetahui segala sesuatu berkenaan dengan keberadaan dan kecenderungan makhluq-makhluq-Nya, serta dapat mengendalikan sesuai kehendak-Nya serta memerintahkan bagaimana makhluq-Nya, termasuk ruh, harus bergerak. Begitu pula apabila dikatakan Tuhan meliputi dengan sifat-sifat-Nya, tidak berarti sifat-sifat-Nya itu menjadi milik segala yang diliputi termasuk ruh manusia.

Oleh karena itu ajaran sufi tentang ittihad (persatuan mistis) tidak dapat disamakan dengan ajaran hulul (inkarnasi), dan ajaran sufi tentang fana’ (arti harfiahnya hapus) tidak sama dengan ajaran tentang mungkinya terjadinya keleburan ruh atau jiwa manusia dengan Tuhan. Ittihad ialah keadaan hati di mana seseorang merasa seakan berada dekat dengan kasih-sayang-Nya dan merasa tidak terpisah atau terlepas dari pengawasan dan kasih-sayang-Nya. Karena itu ia merasa terikat kepada perintah dan larangan-Nya. Keadaan hati itu seperti mendatangkan rasa tenteram, aman, dan damai, serta menumbuhkan keyakinan yang kuat akan pertolongan-Nya.

Untuk membedakan ajaran sufi tentang ittihad dengan ajaran aliran kebatinan tentang hulul, Sunan Bonang mengatakan dalam Suluk Wujil:

Ingatlah Wujil, berhati-hatilah!

Hidup di dunia ini

Jangan ceroboh dan gegabah

Sadarilah bahwa engkau

Bukan Yang Haqq

Dan Yang Haqq bukan dirimu

Orang yang mengenal dirinya

Akan mengenal Tuhan

Asal-usul segala kejadian

Itulah jalan menuju makrifat

Pada bagian lain dari suluknya Sunan Bonang mengatakan:

(14)

Apakah zikir yang benar?

Dengar, walau siang malam kau berzikir

Jika tidak dibimbing petunjuk-Nya

Tidak sempurna zikirmu

Zikir sejati tahu bagaimana

Datang dan perginya jiwa

Melalui jiwa itulah Yang Ada

Memperlihatkan hidup lewat yang empat

(15)

Yang empat ialah tanah atau bumi

Lalu api, udara, dan air

Ketika Allah mencipta Adam

Ke dalamnya dilengkapi

Anasir ruhani yang empat pula:

Kahar, jalal, jamal dan kamal

Begitulah kaitan ruh dan badan

Dapat keduanya dikenal

Melalui muncul dan hilangnya

Dari sifat-sifatnya

(16)

Anasir tanah melahirkan

Kedewasaan dan keremajaan

Apa dan di mana kedewasaan

Dan keremajaan? Di mana letak

Kedewasaan dalam keremajaan?

Api melahirkan kekuatan

Juga kelemahan

Namun di mana letak

Kekuatan dalam kelemahan?

(17)

Sifat udara meliputi ada dan tiada

Di dalam tiada, di mana letak ada?

Di dalam ada, di mana tempat tiada?

Air dua sifatnya: mati dan hidup

Di mana letak mati dalam hidup?

Di mana letak hidup dalam mati?

Ke mana hidup pergi

Ketika mati datang?

Jika tak tahu

Kau akan sesat jalan

Sedangkan arti hakiki dari perkataan fana’ ialah hapusnya jiwa (nafs) dari segala yang merintangi kemungkinannya untuk merubah keadaannya dari kecenderungan buruk kepada kecenderungan baik, dan dengan demikian seseorang menemukan dirinya yang hakiki yang bersifat ruhaniah. Jadi fana’ berarti hapusnya diri yang hina (hawa nafsu) atau diri jasmani dalam diri ruhani. Fana’ adalah proses perubahan keadaan hati manusia dari kecendrungan untuk mengingkari yang ruhaniah ke arah kecenderungan untuk karib dengan Tuhan, yang merupakan Kekasih (mahbub)-nya yang sejati.

Bukankah telah dikatakan bahwa ruh berada di bawah perintah Tuhan (`amr rabbi) dan karenanya tidak bisa memerintah atau mengendalikan obyek-obyek sekehendak hatinya apabila Tuhan tidak menghendaki. Memang tidak mudah menjelaskan hakikat ruh. Tetapi perbedaan keyakinan tentang ruh telah memberikan banyak implikasi terhadap perbedaan ajaran Islam, termasuk ajaran tasawuf dan `irfan yang bersumber dari Islam, dengan ajaran agama lain beserta bentuk-bentuk mistisisme atau spiritualitasnya seperti Hindu, Buddha, Syamanisme, dan aliran-aliran Kristen tertentu seperti kaum mileniaris, serta berbagai aliran sesat yang muncul dalam sejarah Islam seperti Qaramitah, Ismailiyah, Baha`i, Daraziyah (Druze), Yazidiyah, dan lain sebagainya. Aliran-aliran ini yang punya kaitan dengan aliran-aliran serupa dalam Hindu, Buddhisme, Kristen, Manuisme, Zoroaster, dan lain sebagainya.

Perbedaan keyakinan tentang hakikat ruh itu pula yang menyebabkan eskatologi yang lahir dari kepercayaan-kepercayaan tersebut berbeda dari eskatologi yang lahir dalam Islam. Misalnya berkenaan dengan siapa dan bagaimana Imam Mahdi (pemimpin yang memperoleh petunjuk Tuhan) atau Juru Selamat muncul di muka bumi. Kepercayaan mengenai hari akhir dan tanda-tandanya yang disingkapkan itu disebut eskatologi apokaliptik. Dalam Islam disebut mahdawiyat (dari kata Mahdi). Karena luasnya pengertian yang dikandung oleh ajaran mahdawiyat ini, diperlukan waktu lain yang lebih lapang untuk menguraikannya.

Penampakan ruh yang merupakan jisim halus (jism-i latif) tidak bertentangan hakikat ruh sebagaimana diyakini Islam, tetapi tidak merupakan inkarnasi atau perpindahan ruh. Kisah tujuh penghuni gua yang setelah ditidurkan selama 307 tahun dan dihidupkan kembali oleh Yang Maha Kuasa, sebagaimana dikisahkan dalam al-Qur’an (Surah al-Kahfi) adalah contohnya. Jika peristiwa itu tidak penting, khususnya sebagai sesuatu yang mengandung hikmah dan bukti tentang keagungan Allah, tidak mungkin kisah penghuni gua atau al-kahfi itu akan diceritakan dalam kitab suci.

Jakarta 29 Januari 2009

One comment on “Telah Wafat “Guru Arifin” kita: Omar Hasyem

  1. hellooo.. artikel nya bagus2 thanks n salam kenal ya..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Atlantis in the Java Sea

A scientific effort to match Plato’s narrative location for Atlantis

Sembrani

Membahas ISU-ISU Penting bagi Anak Bangsa, Berbagi Ide, dan Saling Cinta

Wirdanova

+62811-813-1917

aawanto

The greatest WordPress.com site in all the land!

Covert Geopolitics

Beyond the Smoke & Mirrors

Catatan Harta Amanah Soekarno

as good as possible for as many as possible

Modesty - Women Terrace

My Mind in Words and Pictures

Kanzunqalam's Blog

AKAL tanpa WAHYU, akan berbuah, IMAN tanpa ILMU

Cahayapelangi

Cakrawala, menapaki kehidupan nusantara & dunia

religiku

hacking the religion

SANGKAN PARANING DUMADI

Just another WordPress.com site

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

%d blogger menyukai ini: