Tinggalkan komentar

Syarat S-1 buat Capres Masih Kurang Cukup

S1 Sebagai Syarat Capres 2009 Dinilai Belum Cukup
30/08/2008 02:47

Perdebatan tentang syarat capres-cawapres minimal berpendidikan Sarjana (Strata 1), masih menjadi polemik..Beberapa Fraksi di DPR RI antara lain. F-PAN, F- PDS dan F- PKS secara tegas mengusulkan syarat capres minimal S-1 ini dimaksudkan untuk menghargai proses pendidikan anak bangsa. Selain itu juga sebagai jawaban atas tantangan persoalan bangsa yang semakin kompleks dewasa ini.

Sementara itu F-PDIP yang sejak awal tidak menyetujui syarat S-1 tersebut, didukung F-PG, F-KB, F-PPP, F-PD dan F-PBR tetap mengusulkan minimal lulusan SLTA atau sederajat. Alasan mereka pendidikan bukanlah satu-satunya ukuran kecakapan seseorang menjadi pemimpin. Penolakan terhadap persyaratan sarjana untuk para calon presiden (capres) oleh beberapa parpol, bisa dipahami sebagai kekhawatiran dari pribadi atau kelompok partai politik yang tokohnya bukan sarjana (S-1) yang nampaknya akan menutup kemungkinan kesempatan untuk menjadi presiden pada Pemilu 2009 Menurut Kandidat Magister Filsafat Islam dari Islamic College for Advanced Studies (ICAS) Universitas Paramadina , Ahmad Samantho al-Husaini, jelas bahwa aspirasi persyaratan capres minimal sarjana itu adalah sesuatu hal yang sangat logis dan wajar.

Menurutnya, tuntutan reformasi bangsa, persaingan ekonomi, politik global dan tantangan kemandirian kemerdekaan bangsa ini, jelas membutuhkan pemimpin negara Indonesia yang cerdas, cendikia, arif dan bijaksana. “Tidak mungkin nasib bangsa Indonesia yang besar dengan kekayaan alam yang melimpah dan kompleksitas sosial budaya ekonomi, pemeliharan dan pembangunan ilmu pengetahuan dan teknologi, agama dan peradabannya ini diserahkan urusannya kepada orang yang pendidikannya rendah, bodoh alias kurang terdidik, atau S-1 saja tidak lulus.” jelas Ahmad Samantho.

Dia melanjutkan, ambisi dan nafsu untuk berkuasa seringkali membutakan akal sehat dan pertimbangan pikiran yang waras. Namun demikian, walaupun syarat ini cukup baik menurutnya, syarat minimal sarjana saja belumlah mencukupi kelayakan untuk calon presiden RI masa yang akan datang.

“Marilah kita kembali menengok nilai-nilai luhur dan standar moral, filosofis, ideologis Pancasila. Mumpung Pancasila masih kita akui dan kita terima sebagai dasar negara, landasan filosofis dan ideologis bangsa dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia. Seperti sila ke-4 Pancasila, secara jelas memberikan tuntunan dan pedoman bagi bangsa kita untuk membangung sistem kepemipinan politik kerakyatannya.”

Dari sila ke-4 Pancasila tersebut menurutnya, jelas tersurat dan tersirat bahwa rakyat Indonesia harus dipimpin oleh tokoh atau figur yang memiliki persyaratan hikmah kebijaksanaan dalam mekanisme demokrasi permusyawaratan dan perwakilan. Memang tampaknya prinsip dan persyaratan hikmah kebijaksanaan berdasarkan Pancasila ini dia katakan, selama ini kurang mendapat perhatian dan pembahasan mendalam dari para pemikir dan negarawan kita. “Padahal ini adalah salah satu prinsip pokok landasan fisolofis, ideologis bersama sila-sila lainnya dalam Pancasila,” selorohnya.

Pertanyaan yang mendasar menurutnya, apakah hikmah kebijaksanaan dapat lahir dari kebodohan dan kurangnya pendidikan? Jelas dia katakan itu tidak mungkin. Karena hikmah kebijaksanaan hanya akan lahir dari figur yang memiliki jiwa dan pikiran yang sehat, terdidik dengan baik, cerdas, arif, bijaksana, adil dan berwawasan luas. Maka syarat pendidikan minimal sarjana (S-1) menurutnya hanyalah persyaratan penting minimal untuk syarat utama lainnya yaitu memiliki hikmah kebijaksanaan.

Semua orang dia katakan memiliki kesempatan yang sama untuk menjadikan dirinya mampu mengemban tugas pemerintahan yang kompleks. Tetapi dia tegaskan hanya orang-orang yang memiliki kecakapan saja yang boleh menjadi penguasa. “Pejabat-pejabat pemerintahan seharusnya dipilih bukan melalui pemungutan suara, juga bukan melalui klik rahasia yang dengan diam-diam menggunakan alasan yang seolah-olah demokratis, tetapi berdasarkan kemampuan para calon,” jelas Ahmad Samantho.

Lebih lanjut dia jelaskan, bahwa orang tak boleh menduduki jabatan tinggi terkecuali lebih dulu dia pernah menduduki jabatan yang lebih rendah. “Inilah demokrasi yang sebenarnya,” selorohnya. Suatu demokrasi yang menurutnya seratus kali lebih jujur dan lebih efektif dibanding demokrasi yang hanya berdasarkan pemungutan suara.

Untuk itu dia katakan, berdasarkan sila ke-4 Pancasila, dapat ditarik pemahaman bahwa Negara Republik Indonesia yang berasaskan Pancasila adalah negara hukum, bukan semata-mata negara kekuasaan. Lalu semua aturan hukum serta kekuasaan para hakim dan pemerintahan terhadap rakyat yang dibuat oleh badan legislatif haruslah selalu berdasarkan dan dipimpin oleh hikmah kearifan dan kebijaksanan, berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, Persatuan Indonesia serta Keadilan Sosial bagi seluruh Rakyat Indonesia.

“Semua figur pelaksana badan legislatif, eksekutif dan yudikatif di Indonesia selayaknya adalah mereka yang memiliki kualifikasi kearifan al-Hakim atau ahli hikmah. Syarat minimal kesarjanaan, hanyalah satu pintu masuk utama untuk mendapatkan kualifikasi al-Hikmah tadi, yaitu kearifan berdasarkan penguasaan ilmu pengetahuan dan falsafah yang tercerahkan dengan ajaran agama-agama Ketuhanan,” jelasnya.

Untuk itu figur yang paling berilmu, yang paling arif dan bijaksana, serta yang paling memahami dan mengamalkan al-Hikmahlah menurutnya, yang layak menjadi pemimpin bangsa Indonesia di masa yang akan datang. “Hanya dengan mengamalkan prinsip Pancasila dengan kepemimpinan al-Hikmah inilah maka Insya-Allah negara dan bangsa kita akan dapat mencapai cita-cita kemerdekaannya, sebagaimana tersurat dalam Pembukaan UUD 1945.” M.TAUFIK RAKHMANTO (Tabloid Minguan Parlemen)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Atlantis in the Java Sea

A scientific effort to match Plato’s narrative location for Atlantis

sembrani

bertukar ide, melampaui mimpi bersama

Nurul Wirda

0812-8267-9182

aawanto

The greatest WordPress.com site in all the land!

Covert Geopolitics

Beyond the Smoke & Mirrors

Catatan Harta Amanah Soekarno

as good as possible for as many as possible

Women Terrace

to say something that i never talk before

Kanzunqalam's Blog

AKAL tanpa WAHYU, akan berbuah, IMAN tanpa ILMU

Cahayapelangi

Cakrawala, menapaki kehidupan nusantara & dunia

religiku

hacking the religion

SANGKAN PARANING DUMADI

Just another WordPress.com site

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

%d blogger menyukai ini: