Tinggalkan komentar

Syariati: Martir Revolusi yang Altruistik

Syari’ati:

Martir Revolusi yang Altruistik

Reno Ramutu

 

-Tidak semua yang tercerahkan adalah intelektual,

dan tidak semua intelektual peraih gelar akademis

adalah orang yang tercerahkan-.

 

renoazwir21Sejarah pernah mencatat kelahiran dan kehidupan seorang manusia cemerlang yang memiliki semangat membara dalam menentang sesuatu yang hampir tak terjangkau oleh kedua tangannya; rezim Shah Pahlevi. Tapi kita sebagai penerus dari zaman yang terus bergerak ini, dapat membuktikan dan menyaksikan, betapa sesuatu yang samasekali tak terbayangkan dalam benak sekian juta masyarakat Iran kala itu, sejatinya dapat terwujud hanya berbekal spirit dan semangat baja. Syari’ati telah membuktikannya.

 

Militansi Islam yang diperagakan oleh tokoh brilyan ini, bukan seperti yang banyak dilakukan oleh kalangan Islam garis keras yang banyak menebar ancaman kematian di berbagai belahan dunia. Kapan saja mereka mau, satu atau beberapa buah bom bisa meledak. Ghablibnya, senjata yang digunakan Syari’ati juga sama dahsyat dengan mereka. Tapi sasaran utama Syari’ati adalah memorak-porandakan mental rezim tiran, berbekal kecanggihan retorika-propaganda-agitasi dan kejeniusan nalarnya.

Syari’ati memang tak sendirian dalam memerjuangkan haknya sebagai rakyat dan Muslim sejati. Ruhullah Imam Khomeini al-Musawi juga menjadi bagian penting dari Revolusi Iran, tapi berada di jalur yang berbeda. Kita tak bisa mengatakan Syari’ati besar karena usahanya sendiri. Hampir semua tokoh-tokoh mengagumkan yang pernah lahir ke dunia, adalah bentukan dari sekian banyak dukungan moral-spiritual orang-orang yang ada di belakangnya. Terkulminasi dengan baik karena kekuatan jiwa si tokoh sebagai katarsis peradaban. Sehingga tak pelak, ruang-waktu pun menahbiskannya sebagai sosok penting yang harus memikul beban dunia di atas pundaknya. Sendiri.

Selaik Cak Nur di Indonesia, dalam persoalan karya, Syari’ati praktis hanya menelurkan dua buah buku utuh yang ia beri judul “Kavir”[1] (The Salt Desert): sebuah otobiografi dan “Hajj”. Adapun karya yang lain adalah hasil ceramahnya di berbagai universitas dan tempat-tempat tertentu, juga tulisannya yang dikumpulkan dari berbagai media ilmiah. Syari’ati dikenal sebagai tokoh yang memiliki kemampuan berbicara dan menulis yang sama baik. Maka dalam semua produksi intelektualnya, kita dapat menemukan kecenderungan sistematisasi berpikir yang seolah mengalir deras dari alam pikirannya. 

Tanggal 23 November 1933 menjadi saksi bagi kelahirannya di desa Mazinan, di tepian kota Masyhad dan Sabzavar. Di desa inilah pribadinya yang revolusioner berkembang di bawah bimbingan ayah sekaligus guru pertamanya, Muhammad Taqi Syari’ati. Taqi juga seorang ulama yang tidak mengamini kecenderungan tradisionalistik. Ia mencopot turbannya ketika mengajar di sekolah menengah di kota Masyhad. Dari Taqi pula, Syari’ati berkenalan dengan begitu banyak buku di perpustakaan milik sang ayah, yang kelak ia namakan dengan bahasa yang puitis, mata air yang menyegarkan pikiran dan jiwa (Esposito dalam Malaky, 2004: 11).

Kekayaan pemikiran Syari’ati, banyak dicurahkan kepada bidang Filsafat yang mencakup tiga sub-pembahasan; marxisme, eksistensialisme dan etika. Mitologi penciptaan manusia, empat penjara dan cara mengada manusia, tauhid dan tuhan sebagai guru pertama, menjadi bagian paling rigid yang bisa kita temui dalam pemikirannya. Meski sebagian besar hidup Syari’ati dihabiskan untuk kepentingan banyak orang, tapi ia seperti tak kehabisan cara untuk tetap memerkaya dirinya dengan ilmu pengetahuan. Oleh sebab itulah, ia terus menjadi mata air yang kerap memancar, bahkan hingga kini.

Di kota Masyhad tahun 1940, Syari’ati mulai memasuki Sekolah Dasar Negeri yang bukan sekolah agama. Sepuluh tahun kemudian, ia Sekolah Pendidikan Guru selama dua tahun. Enam tahun berselang, ia melanjutkan studinya ke Universitas Masyhad dan mengambil jurusan Sastra. Pada 1959, ia berhasil lulus dengan predikat pertama dengan skripsi seputar On Literary Criticism dari penulis Dr. Mandhur asal Mesir. Di tahun ini pula seharusnya ia mendapatkan beasiswa pascasarjana ke Prancis. Namun karena terhambat oleh beberapa kendala, baru di tahun 1960 Pemerintah Iran memberangkatkannya untuk belajar di Universite de Paris, Sorbonne. Menurut catatan yang ada, ia mengambil dua bidang studi sekaligus, Sosiologi dan sejarah Agama-Agama.

Di masa hijrah inilah, Syari’ati banyak berkenalan dengan disiplin pembelajaran a la Barat. Serba metodis dan sistematis. Hal inilah yang menjadi bentuk kekurangan para intelektual di Timur[2] yang membuat mereka sukar untuk mencuat ke permukaan. Dengan gemblengan itu pulalah, Syari’ati berkesempatan menyebarkan gagasan pemikirannya ke penjuru Eropa. Karena sebagaimana kita ketahui, Prancis adalah ladang pembiakan kaum intelektual kelas dunia. Di kemudian hari, Syari’ati adalah satu di antara mereka. Pemikir yang memang terlahir untuk menjadi Besar.

Selama ia mengembangkan karir intelektualnya di Prancis, Syari’ati ditengarai memiliki kesamaan dengan tiga pemikir handal yang sudah lebih dulu mengukir namanya dalam kancah intelektualisme dunia. Mereka adalah Jean-Paul Sartre, SΦren Kierkegaard dan Nicolas Berdyaev. Tapi sebagai pemikir relijius, tentu Syari’ati tidak melulu harus disamakan dengan ketiganya. Malah dia mengkritik dengan keras hasil pemikiran mereka, terutama Sartre. Menurut Syari’ati, model eksistensi yang digagas oleh Sartre mengandung bahaya laten yang menyebabkan kemerosotan moral-spiritual masyarakat Eropa.

 

Relevansi pemikiran Syari’ati:

  

Dalam memahami eksistensi manusia, Syaria’ti percaya bahwa kita adalah  makhluq yang terdiri dari dua dimensi: Ruh Tuhan dan Tanah. Manusia secara kodrati memang memiliki dua kecenderungan ini, yang sama-sama memiliki kekuatan untuk tarik-menarik. Jika jiwa makhluq dipenuhi oleh lautan spiritual yang kukuh, maka derajatnya akan terus menaik menuju Ruh Tuhan. Asal Primordialnya kali pertama. Namun jika jiwa makhluq lebih tertarik mengikuti kecenderungan substansial pembentuk jism-nya (tanah), maka secara esensial derajatnya pun akan terus merosot ke lembah kehinaan.

Dengan asumsi dua dimensi itu, Syari’ati kemudian membagi manusia ke dalam dua bagian; basyar dan insan. Basyar dapat dipahami sebagai makhluq biologis. Sama dengan sekian banyak ciptaan Tuhan yang lain. Jika ingin mencapai derajat eksistensi yang sesungguhnya, manusia harus menjadi insan. Syari’ati menegaskan bahwa kita adalah insan:becoming (menjadi). Menjadi sebagai konsep eksistensi di sini, bukan sebagaimana yang terpahami di Barat. Konsep ada-menjadi yang lazim di Barat, melulu dimaknai sebagai upaya untuk menguasai dunia di bawah kendali kita, manusia. Sedang menurut Syari’ati, Menjadi di sini diasumsikan untuk satu kewajiban kita kembali kepada Tuhan dalam keadaan sempurna, tepat seperti saat kelahiran kita dulu. Innalillahi wa innailaihi roji’un.

Dalam sebuah ceramah yang pernah disampaikan oleh Syari’ati, ia mengatakan bahwa kata innailaihi agak kurang tepat jika diartikan sebagai “kembali padanya”, atau “kembali menjadi dia”, melainkan kembali pada-Nya dalam kondisi ketakterbatasan. Karena Allah adalah Realitas Absolut, maka kita akan terus menjadi, mengembangkan eksistensi sejauh yang kita sanggup melakoninya. Begitu terus tanpa henti. Berangkat dari ke-menjadi-an inilah, maka konsep Khalifah yang diterangkan oleh al-Quran, menjadi relevan dan koheren menurut Syari’ati. Jika terlahir sebagai pemimpin (moral-spiritual), maka konsekuensi logisnya adalah tak ada alasan bagi kita untuk melanggar kaidah moral universal dan ketentuan syari’at yang telah digariskan oleh Tuhan. Itulah yang membuat kita harus dan wajib menjadi pemimpin bagi diri sendiri dan orang lain. Jika yang satu berhasil dilaksanakan, maka satu yang berikutnya akan menyusul dan berbanding lurus.

Konsep ke-menjadi-an ini, dikaitkan Syari’ati dengan pasasi Albert Camus (1913-1960): “Aku pemberontak maka aku ada”. Pengaitan ini didasari oleh  karakteristik kedua dari insan yang digagas oleh Syari’ati; kemampuan untuk memilih. Sedang dua yang lainnya adalah, kesadaran diri dan kemampuan untuk mencipta. Kemampuan untuk memilih itulah yang kelak akan mengantarkan manusia untuk mencapai maqamat (tahapan) eksistensinya. Atas dasar itu pula, manusia dapat memilih untuk menjadi makhluq moral.

Manusia sebagai makhluq moral, adalah sosok makhluq ideal dalam bentuknya sendiri. Bukan atas perbandingan dengan makhluq yang lain. Karena setiap yang diciptakan oleh Tuhan, pasti dengan dan dalam kesempurnaannya sebagai ciptaan. Jika hal ini ditolak, maka terbantah juga Tuhan dan sekian banyak kreasi-NYA di alam semesta. Berangkat dari spirit inilah, Syari’ati “turun gelanggang”. Ia tak hanya gemar bertarung di kancah akademis dengan membongkar beragam kerancuan ideologi dunia seperti Materialisme, Naturalisme, Eksistensialisme, Pantheisme, Historisisme, Sosiologisme, Biologisme dan Egotisme. Tapi ia juga berani menantang kemungkaran rezim Shah yang berkuasa di masa hidupnya.

Dengan meminjam gagasan Marx yang sadar betul atas kekuatan aksi masa, Syari’ati jauh terlihat lebih revolusioner dibanding dengan para pejuang revolusi yang lain. Meski tak dapat dipungkiri, para pejuang itu juga memiliki elan vital yang sama keras dan kuatnya dengan Syari’ati. Hingga di penghujung hayat, Syari’ati terus menjadi incaran agen rahasia SAVAK bentukan Pahlevi. Demi keselamatan diri dan keluarganya, ia hijrah ke Southampton. Di negeri Ratu Elizabeth inilah, ia ditemukan wafat.

Kini, telah 75 tahun hidup dan pemikiran Syari’ati mewarnai Islam di penjuru dunia. Telah banyak pula karya-karya ilmiah yang lahir untuk merespon pemikirannya ataupun sekadar mencontoh usahanya dalam memerjuangkan hak pribadi sebagai seorang Muslim. Buat saya, Syari’ati tak hanya sekadar pahlawan Revolusi Iran pada 1979, tapi juga pahlawan peradaban yang rela mengorbankan dirinya demi kepentingan sekian banyak orang. Ia bukan hanya seorang penganut Syi’ah yang berusaha “memerahkan” semangatnya dengan darah martir Imam Husein di Karbala, tapi ia juga telah menjelma menjadi altruis sejati.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

pondokindah, november duaempat ‘ribulapan     

 


[1] Nama gurun pasir luas yang meliputi 2/3 dataran tinggi Iran.

[2] Penggunaan istilah Timur-Barat dalam tulisan ini, merujuk pada kecenderungan berpikir kaum intelektual Asia vis a vis Eropa. 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Atlantis in the Java Sea

A scientific effort to match Plato’s narrative location for Atlantis

Sembrani

Berbagi Ide, Saling Cinta

Nurul Wirda

0812-8267-9182

aawanto

The greatest WordPress.com site in all the land!

Covert Geopolitics

Beyond the Smoke & Mirrors

Catatan Harta Amanah Soekarno

as good as possible for as many as possible

Modesty - Women Terrace

My Mind in Words and Pictures

Kanzunqalam's Blog

AKAL tanpa WAHYU, akan berbuah, IMAN tanpa ILMU

Cahayapelangi

Cakrawala, menapaki kehidupan nusantara & dunia

religiku

hacking the religion

SANGKAN PARANING DUMADI

Just another WordPress.com site

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

%d blogger menyukai ini: